Rahayu Saraswati : Panggilan Hati Seorang Perempuan

Terlahir dari keluarga pengusaha, tak lantas membuatnya ikut mengekor apa yang digeluti sang ayah, Hashim Djojohadikusumo. Awalnya, ia lebih memilih mendalami dunia seni peran. Namun lambat laun jiwa wirausaha itu ‘menggelitik’ pikirannya. Perempuan ayu berparas eksotik ini pun  terpanggil mengembangkan usaha Production House dan Event Organizer dan telah berjalan. Dan, di luar kesibukannya, ia masih sempat mendedikasikan waktu, tenaga dan pikirannya untuk mengembangkan sebuah sayap partai Gerindra, yakni Tidar.

Nama Rahayu Saraswati mulai dikenal luas di panggung hiburan setelah memproduksi dan sekaligus ikut membintangi dua film perjuangan bertajuk Merah Putih dan Darah Garuda. Meskipun kedua film itu bukan debutnya sebagai seorang aktris. Jauh sebelum itu, kala usianya baru menginjak 12 tahun, ia sudah menjajal bakat aktingnya di luar negeri. Barulah ketika dara kelahiran Jakarta, 27 Januari 1986 ini memerankan Senja dalam dua film itu publik mengenal sebagai seorang aktris –yang kini aktif pula di panggung politik.

Keterlibatan aktris cantik ini di dunia politik bukan sekadar ikut-ikutan atau hanya karena ia keponakan seorang pendiri partai. Pilihannya untuk ikut terjun ke politik didasari atas panggilan hati, rasa nasionalisme, idealisme yang ditanamkan keluarganya tanpa harus meninggalkan aktivitas keseharian dan profesinya sebagai seorang aktris, entrepreneur sekaligus aktivis sosial. Terlebih untuk para kaumnya yang hingga kini terkadang masih dipandang sebelah mata.

Memang, walau awalnya alergi dengan politik, tapi keprihatinan, frustasi, hingga membuatnya putus asa terhadap sistem yang ada akhirnya membiarkan dirinya bersentuhan dengan politik. Baginya politik bukan sebagai tujuan, tapi sebagai alat untuk merubah kondisi. Walaupun dalam menjalaninya akan selalu terhantam dengan sistem yang ada di negeri ini sebelum sistem itu berubah.

“Suka tidak suka, mau tidak mau, saya harus terjun langsung,” tegasnya.

Sara demikian panggilan akrabnya bergabung di salah satu sayap Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yakni Tunas Indonesia Raya (Tidar). Di Tidar, Sara dipercaya untuk menempati posisi Ketua Bidang Pengembangan Perempuan, Pimpinan Pusat Tidar. Baginya tugas yang diembannya sangat cocok dengan passion-nya selama ini yakni keberpihakan kepada rakyat kecil khususnya kaum perempuan dan anak-anak. Oleh karenanya, ia pun menitikberatkan program kerja yang tak jauh dari tiga hal yakni anti perdagangan manusia, kesehatan ibu dan anak serta pemberdayaan perempuan. “Kegiatan terakhir kami melakukan penyuluhan gizi baik bagi anak-anak balita dan ibu hamil dan menyusui di kawasan kampung Beting, Jakarta Utara,” tegasnya.

Selama ini, menurutnya keterlibatan kaum perempuan di organisasi yang ada di bawah partai politik memang masih kerap didominasi kaum pria. Namun tidak halnya dengan di Tidar, meski komposisinya masih 40 persen, tapi keberadaan kaum perempuan sangat menentukan. “Saya bangga dengan SDM perempuan yang ada di Tidar, kita tidak kalah dengan laki-laku. Kita di sini sama sejajar,” ujar gadis yang aktif bergelut di Yayasan Wadah Titian Harapan ini.

Selain menjalankan program aksi sosial, perempuan Tidar pun tengah menggodok sebuah program pemberdayaan perempuan yang dikemas dalam pemilihan putri Tidar. Tentu saja, program ini tak sekadar saja, disamping dalam rangka menjaring massa pemilih pemula dari kalangan perempuan, tentunya Tidar harus bisa memposisikan keberadaannya sebagai mesin partai dalam rangka pemenangan partai.

“Kita harus tahu apa yang mereka (kaum perempuan remaja) mau, dan kita pun tahu yang partai mau. Tugas kita menggarap yang mereka (partai) tidak bisa menyentuhnya,” ujarnya diplomatis.

Pasalnya menurut  dara yang pernah menimba ilmu di International School of Screen Acting, London ini kehadiran Tidar tak lain adalah menjadi wadah bagi anak muda dalam mengembangkan talenta-talenta yang dimilikinya sekaligus digembleng menjadi calon politikus yang berkualitas. Untuk itu kader Tidar harus lebih militant untuk menghadapi masa depan dan memenangkan Gerindra. Sara pun berharap, Partai Gerindra agar lebih memberikan ruang dan kesempatan serta kepercayaan kepada kaum muda.

Terlebih melihat kondisi kepemimpinan di republik ini, menurut Sara sudah waktunya yang muda mempersiapkan diri jangan sampai tergerus situasi dan kondisi apalagi sekadar mengekor mengikuti arus. Baginya, negeri ini membutuhkan pemimpin yang berpandangan luas, berpikir panjang, tidak sekadar memikirkan jangka waktu saat berkuasa saja. Menurutnya, jawaban atas itu ada pada Pak Prabowo. “Saya percaya beliau akan membawa kemakmuran jangka panjang, walaupun memang di awalnya pasti pahit untuk beberapa orang, tapi yakinlah kedepannya selama 10-20 tahun akan datang ada perubahan,” ujar keponakan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto ini.

Memang, dirinya sempat mempertanyakan kenapa sang paman mau jadi Presiden. “Rupanya rasa kepedulian terhadap nasib bangsa membuat paman bersedi maju para pilpres 2014 nanti. Ngapain sih dia mau mencalonkan jadi presiden, inikah cuma buang-buang uang, kalau mau cari duit dia bisa lebih. Ternyata sistem yang harus dirubah di negeri ini, yang membuat beliau terpanggil,” ucapnya mengakhiri perbincangan di suatu sore. [G]

* Catatan : Artikel ini ditulis dan dimuat di Majalah GARUDA, edisi 15/Maret/2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s