Lebih Dekat Dengan Nur Iswanto: Berjuang untuk Perubahan

Pamornya sebagai politisi asal Sumatera Selatan kian diperhitungkan. Kepiawaiannya dalam menahkodai partai politik menjadi sebuah parameter keberhasilannya. Meski demikian, ia tetap meyakini bahwa setiap aktivitas politik harus dilandasi kesungguhan hati dan kerja keras. Sepertinya tak ada kata lelah dalam menggeluti panggung politik. Termasuk ketika ia ditunjuk maju sebagai bakal calon Walikota Palembang, Sumatera Selatan.

DSC00053Memang, diakui oleh H Nur Iswanto, SH, MH, bukanlah perkara sulit dalam meraih simpati masyarakat. Bagi pria kelahiran Lahat, 7 November 1961 inilah buah dari perjuangannya yang berliku selama puluhan tahun silam.  ”Meski demikian, saya tidak pernah lelah untuk terus memperjuangkan aspirasi rakyat demi sebuah perubahan,” tegas politisi Senayan yang diamanahi sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Provinsi Sumatera Selatan ini.

Sejak terjun di dunia politik praktis di masa orde baru, Nuris, demikian panggilan akrabnya terus menunjukkan tajinya sebagai seorang politikus. Kepiawaiannya mengantarkan ia duduk sebagai anggota DPRD Sumatera Selatan dua periode. Kemudian ketika didaulat oleh Prabowo Subianto untuk memimpin Partai Gerindra pada 2008, Nuris kembali berhasil mengantarkan dua kader terbaiknya melenggang ke Senayan, ia dan Edhy Prabowo pada Pemilu 2009 lalu.

Baginya, politik itu perjuangan. Perjuangan yang diawali dengan mencari kekuasaan, setelah berkuasa baru bisa merubah keadaan. Tentunya perubahan yang positif. Tanpa berpolitik perjuangan akan percuma. Dan di Gerindra inilah Nuris berjuang demi sebuah perubahan. ”Dalam berpolitik, apapun masalahnya, seberapapun keterbatasannya, kapanpun masanya kalau kita yakin dan dilandasi dengan kesungguhan niat, pasti kita bisa mengatasinya. Karena politik itu perjuangan,” tegasnya.

Termasuk di saat tengah menjalankan tugas sebagai Ketua DPD Partai Gerindra, ayah empat anak ini diminta sebagain besar masyarakat Palembang untuk maju dalam pemilihan walikota (pilwako) Kota Palembang. Tak tanggung-tanggung, perintah pun turun dari Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto untuk merebut Palembang. Semua itu bukan sekadar gagah-gagahan atau unjuk kekuatan Partai Gerindra yang dipimpinnya di bumi sriwijaya, tapi untuk sebuah perubahan yang dimulai dari Kota Palembang sebagai jantung Sumatera Selatan.

Menurutnya, memang dengan kekuatan lima kursi anggota DPRD Kota Palembang, Gerindra masih memerlukan dua kursi lagi untuk memenuhi syarat pencalonannya. Anggota Komisi V DPR-RI ini optimis lewat jaringannya akan bisa mendapatkan dua kursi bahkan lebih. ”Saya rasa dengan melihat pergerakan dan aksi kita selama ini, ada beberapa partai yang siap berkoalisi dengan kita,” tandasnya.

Meski begitu, ia menegaskan kepada semua kadernya untuk terus berjuang bersama meraih simpati dan dukungan semua kalangan dalam gelaran pilwako yang akan berlangsung April 2013 mendatang. Pasalnya menghadapi calon incumbent dan muka-muka lama bukanlah perkara mudah. Untuk itu, ditengah kesibukannya sebagai anggota DPR, Nuris rela bolak balik Jakarta Palembang untuk mensosialisasikan pencalonannya ke pelosok wilayah Palembang. ”Jumat sore sampai Minggu malam saya habiskan waktu untuk sosialisasi di Palembang, Senin pagi saya sudah di Jakarta lagi,” terang anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR ini.

Saat ditemui di ruang kerjanya di komplek Gedung DPR/MPR beberapa waktu lalu, kepada Hayat Fakhrurrozi dari Garuda, lulusan Universitas Palembang ini memaparkan pandangan terhadap kondisi Kota Palembang, perjuangannya membesarkan Partai Gerindra Sumatera Selatan serta kesiapannya menghadapi pesta demokrasi pilwako Kota Palembang. Berikut petikannya:

Bisa diceritakan kondisi Partai Gerindra di Sumatera Selatan (Sumsel) sendiri seperti apa?

Secara umum Partai Gerindra Sumatera Selatan kondisinya baik. Struktur partai dari tingkat DPC, hingga PAC sudah terbentuk. Untuk kota Palembang, setelah saya ditetapkan oleh DPC untuk maju, sejak dua bulan lalu saya lebih fokus di Kota Palembang, namun bukan berarti DPC lain tidak diperhatikan. Khusus di Palembang, struktur partai sudah terbentuk hingga ranting dan anak ranting.

Bisa dijelaskan rencana Anda untuk maju dalam pemilihan walikota Palembang?

Memang benar, saya sebagai ketua DPD diminta oleh DPC Kota Palembang untuk maju dalam pemilihan walikota (pilwako) 2013 mendatang. Pencalonan saya ini sudah disosialisasikan ke DPC dan PAC yang ada di Sumsel. Gerakan kita sudah berjalan sejak dua bulan lalu baik lewat aksi revolusi putih atau kunjungan ke PAC dalam rangka melihat kesiapan mesin-mesin partai untuk menghadapi pilwako ini.

Bagaimana tanggapan masyarakat atas rencana pencalonan Anda?

Sejak ditetapkan untuk maju dan hasil kunjungan saya ke pelosok kampung di Palembang selama dua bulan ini antusias masyarakat begitu besar. Bahkan mereka sudah siap berjuang tidak untuk saya saja, tapi untuk kemenangan Gerindra dan Prabowo Subianto sebagai Presiden pada 2014 mendatang. Kita terus mengumandangkan yel-yel Gerindra Menang, Prabowo Presiden dalam setiap kesempatan.

Hingga saat ini, siapa lawan yang bakal dihadapi dalam pilwako nanti?

Setidaknya hingga saat ini, ada incumbent Wakil Walikota yang tentunya secara penokohan lebih terkenal. Tapi saya dan Partai Gerindra tidak gentar untuk menghadapinya. Lalu ada juga Kepala Dinas Perhubungan yang mencalonkan kembali, meski sudah dua kali ikut pertarungan pilwako tapi kalah, tentunya dia pun tak kalah terkenalnya. Mungkin dalam perkembangannya akan ada nama lain.

Kenapa pilih Walikota Palembang, tidak Gubernur Sumsel?

Sebenarnya ada juga yang menyarankan untuk posisi gubernur, tapi  saya juga harus tahu diri, dan tidak mau muluk-muluk, dengan kondisi dan realitas yang ada. Kalau pun maju di pilgub Sumsel, saya akan ambil posisi wakilnya. Nah, karena saya sudah ditentukan untuk maju di pilwako Palembang maka saya harus fokus. Kalau nanti kita dapatkan Palembang ini, maka ada keuntungan ketika mengusung Prabowo ke depan. Di Kota Palembang Gerindra memiliki ada lima kursi dan juga mata pilihnya 1,3 juta pemilih. Peringkat kedua Kabupaten Muara Enim, dengan lima kursi DPRD dengan jumlah pemilih sebanyak 700.  Untuk itu, kita harus rebut wilayah ini untuk menuju pemilihan Presiden mendatang.

Bisa dijelaskan, kekuatan Partai Gerindra di Palembang sendiri bagaimana?

Bayangkan, sebagai pendatang baru, dari 50 anggota DPRD, kita mampu mendudukkan lima kursi atau satu fraksi. Memang dengan jumlah kursi yang dimiliki itu belum cukup, untuk itu saya masih memerlukan dua kursi lagi agar memenuhi persyaratan. Tentu kita akan koalisi dengan partai lain. Mudah-mudahan dengan gerakan kita orang lain akan mendekat.

Dengan kekuatan itu, sebesar apa peluang yang dimiliki?

Kalau tidak punya potensi, saya tidak akan maju. Tapi karena melihat Gerindra punya posisi yang bagus dan sangat solid. Maka ketika ada kader yang siap maju, maka partai ini tidak boleh direntalkan. Pasalnya, kita berhitung kalau orang lain yang maju, kalau mereka kasih duit paling berapa sih? Setelah itu mereka tinggalkan kita, tapi kalau kita bertekad untuk maju, maka kalah memang itu kita yang tanggung. Jadi ngapain kita rentalkan, seperti yang dilakukan banyak partai di luar kita yang merentalkan partainya hanya untuk mendapatkan uang, sementara kaderisasi tidak jalan. Yang penting kita berjuang dulu, harus berani, kalah menang itu urusan nanti.

Program apa yang akan Anda tawarkan kepada masyarakat?

Sebenarnya secara umum, Palembang sudah bagus. Untuk walikota Edi Sentana, saya angkat topi, tapi ini periode terakhir buat dia, ada banyak hal yang harus dibenahi. Contohnya masih banyak rumah yang tidak layak huni, lingkungan yang kumuh, jalan-jalan yang belum bagus, tingkat kemiskinan yang masih tinggi, fasilitas pendidikan yang memprihatinkan, pasar tradisional yang kiat terjepit, pelayanan puskesmas gratis tapi tetap berbiaya mahal, karena akses yang jauh.

Untuk itu kita menawarkan perubahan di setiap bidang. Misalnya, puskesmas yang ada akan kita tingkatkan menjadi puskesmas modern dilengkapi fasilitas rawat inap yang dekat dengan penduduk kampung. Begitu pula dengan kesejahteraan para tenaga medisnya. Lalu bidang pendidikan tidak saja membenahi sekolah yang ambruk, tapi kualitas gurunya harus ditingkatkan, karena banyak sekolah bagus tapi gurunya tidak bagus. Kemudian, keberadaan pasar-pasar tradisional akan kita buat lebih modern sehingga bisa bersaing dengan supermarket yang kian membanjiri Palembang dan mematikan ekonomi rakyat kecil. Begitu juga dengan pembinaan generasi muda di bidang olahraga yang tidak diimbangi dengan fasilitas kapangan olahraga yang kian berkurang dan banyak yang disulap menjadi mal.

Apa yang Anda lakukan dalam sosialisasi ke tengah masyarakat?

Dalam setiap sosialisasi yang saya lakukan setiap Jumat sore hingga Minggu malam selalu tidak sekadar pertemuan saja, tapi sekaligus digabungkan dengan program delapan aksi seperti revolusi putih. Biasanya aksi revolusi putih yang digelar di kampung-kampung dengan sasaran anak-anak dan ibu-ibu hamil ini selalu dihadiri minimal 400-600 orang, bahkan pernah juga sampai 1000 orang yang hadir. Sebelumnya saya juga secara rutin menggelar turnamen bola voli yang sudah memasuki tahun kelima ini, bukan karena saya ingin maju di pilwako saja, tapi saya melihat minat olahraga di perkampungan di Palembang ternyata begitu tinggi. Dari sini kalau kita bina bakat-bakat atlet itu pasti menjadi baik dan tidak hanya terpusat di kota saja, tapi hingga ke pelosok kampung.

Nah dalam rangka sosialisasi menghadapi pilwako ini, saya dan tim memulainya dari pinggiran Palembang dulu, baru setelah itu kita garap wilayah perkotaan. Setidaknya, dalam seminggu ada lima kali revolusi putih. Untuk itu, saya membutuhkan dukungan dari teman-teman DPC, DPD dan DPP dalam menjalankan aksi ini.

Apa yang akan Anda berikan untuk Palembang?

Dengan jumlah penduduk 1,7 juta jiwa dan mata pilih 1,3 juta. Saya tidak mau banyak janji, karena biasanya banyak janji pasti banyak bohongnya. Saya hanya menawarkan perubahan dengan haluan baru, pemimpin baru, semangat baru dan rakyat tak butuh janji, tapi butuh bukti. Dan ini sudah saya lakukan sejak memulai terjun di panggung politik yang mengantarkan saya duduk di DPRD dua periode dan di Senayan ini. Mudah-mudahan ini tidak sekadar slogan yang saya cantumkan di atribuk sosialisasi yang saya buat tapi bisa saya buktikan secara nyata. Dan pada saat saya harus membangun Palembang, jargon ini harus saya buktikan.

Kondisi birokrasi di Palembang sendiri bagaimana?

Secara umum sudah birokrasi pemerintah kota Palembang cukup bagus. Tapi kalau nanti saya memimpin, maka harus lebih bagus lagi. Kalau perilaku KKN di lingkaran birokrasi saya pastikan masih ada, hal ini dibuktikan dengan adanya laporan para pemborong kepada saya bahwa proyek-proyek mereka sudah diambil oleh orang-orang dekat para pejabat birokrasi atau lewat koleganya. Inilah tantangan kita ke depan untuk menciptakan birokrasi yang bersih.

Selain mengandalkan mesin partai, parpol mana yang sudah melirik Anda?

Sampai saat ini memang banyak pihak yang meminta kader Gerindra untuk maju di pilwako Palembang, untuk itu saya maju. Tim hingga saat ini masih mengkaji siapa dan partai mana yang bakal mendampingi saya nanti. Yang jelas saya tidak akan merentalkan partai ini.

Selama ini apakah sudah ada survey tentang tingkat elektabilitas Anda?

Saya dan tim belum melakukan survei. Bagi saya survey itu bukan menjadi patokan seseorang untuk menang, tapi sekadar sebagai rekomendasi saja untuk mencari tahu, sebagai arah dimana titik lemah dan titik kekuatan. Jangan terlalu percaya dengan survei, bisa jadi pada saat survei warga yang menjadi responden hanya kenal dengan orang atau calon dari partai lain.

Bagaimana membagi waktu persiapan pilwako dengan kesibukan Anda di Senayan?

Saya rasa tidak bermasalah, selain pembagian waktu rapat yang berbeda antara komisi, BURT dan keperluan untuk dapil. Selama ini saya selalu pulang setiap Jumat sore untuk keliling ke seluruh dapil di Sumsel. Saya mohon maaf kepada kader-kader di DPC lain, sementara ini kurang diperhatikan. Bukan berarti dilupakan, tapi karena saya lagi fokus di Palembang. Untungnya, tim di setiap DPC sudah solid dan mereka mengerti dengan tugasnya, tinggal mengkondisikan saja.

Menurut Anda kondisi kepemimpinan kita saat ini seperti apa?

Di Sumsel sendiri, kita lihat gubernurnya selain sibuk menyelesaikan tugas juga tengah sibuk maju di DKI. Namun demikian, Gerindra tetap mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang pro rakyat. Meski memang diakui, kepemimpinan saat ini saya anggap amburadul, plintat plintut, ragu-ragu dalam menentukan kebijakan. Untuk itu dengan kebulatan tekad, Gerindra mengusung Prabowo menjadi pemimpin Republik ini.

Sebagai politisi kawakan, menurut Anda, politik itu apa?

Politik itu perjuangan. Di sinilah kita menentukan perjuangan itu bisa atau tidak. Perjuangan diawali dengan mencari kekuasaan, setelah berkuasa baru bisa merubah keadaan. Tentunya yang positif, tanpa berpolitik perjuangan kita omong kosong.

Lalu kondisi politik di gedung parlemen saat ini seperti apa?

Boleh saja dalam persaingan politik Fraksi Gerindra belum diperhitungkan karena jumlahnya sedikit. Tapi, meski sedikit sangat menentukan dan diperhitungkan banyak pihak. Biasanya kalau sidang paripurna, kita menentukan. Sedikit tapi diperhitungkan.

Pesan Anda untuk kader Gerindra Sumsel?

Saya yakin seluruh pengurus partai dan kader yang di Sumsel mendukung kebijakan ini, tidak hanya dalam bentuk materi tapi dengan moril dan dukungan gerakan lainnya untuk mensosialisasikannya ke bawah. Khususnya kader yang ada di Palembang ataupun di luar itu pasti akan mendukung bahwa saya, Haji Nur Iswanto maju sebagai walikota, untuk itu mohon dibantu. Dan kalau memang menginginkan kesejahteraan pilihlah Gerindra. [G]

H NUR ISWANTO, SH, MH

Tempat tanggal lahir:

Lahat, 7 November 1961

Jabatan:

  • Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sumatera Selatan
  • Anggota Komisi V DPR-RI
  • Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR-RI
  • Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR-RI

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Juni 2012
  • Pada Rabu, 5 Maret 2014, Nur Iswanto meninggal dunia karena sakit jantung.
Advertisements

Membangun dengan Kedaulatan Energi

“Biarkan kekayaan alam kita tetap tersimpan di perut bumi, hingga unsur-unsur Indonesia mampu mengolahnya sendiri.” Ir Soekarno, presiden pertama dan pendiri negeri ini sudah mengingatkan pentingnya mengelola sumber daya alam dari tangan-tangan anak negeri.

https://i2.wp.com/www.wespeaknews.com/wp-content/uploads/2012/09/subianto.jpegBoleh jadi, pesan ini tidak benar-benar diterapkan. Faktanya, Indonesia kini tengah terancam krisis energi. Indonesia pun sudah menjadi negara pengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak. Tentu saja ini akan membawa konsekuensi yang sangat luas. Bahkan sangat mengkhawatirkan dari sisi ekonomi, sosial, politik bahkan pertahanan dan keamanan nasional. Indonesia pun sangat bergantung dan dipengaruhi oleh dinamika fluktuasi harga minyak dunia, seperti yang tengah dihadapi saat ini. Dampak kenaikan harga minyak dunia terutama minyak tanah dan premium bisa berpotensi menimbulkan keresahan konflik sosial. Terlebih bila kondisi pendapatan serta daya beli masyarakat kian menurun.

Ironis memang, Indonesia yang dianugerahi kekayaan alam yang berlimpah namun berada diambang krisis energi. Sepertinya, bangsa ini hanya memperhatikan pemberantasan korupsi, pemilukada yang jujur, dan berbagai isu lainnya, tapi lupa dengan apa yang terjadi di perut bumi pertiwi.  Secara kasar mata, kekayaan negara ini setiap hari terus dikuras dibawa ke luar negeri. Padahal jelas-jelas UUD 1945 Pasal 33 mengamanatkan bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Mestinya, krisis energi nasional ini tidak akan terus berulang jika ada kesungguhan untuk mengatasinya secara mendasar dari penyebab krisis itu sendiri. Krisis energi yang terjadi ini, karena Indonesia hanya mengandalkan BBM yang bersumber dari minyak bumi. Padahal potensi minyak bumi yang berasal dari perut bumi itu ada batasnya dan akan semakin habis, tapi dieksploitasi terus menerus dan habis-habisan. Kini cadangan minyak bumi itu semakin tipis saja, karena Indonesia bukanlah negara yang kaya akan hasil energi fosil. Setidaknya potensi minyak Indonesia tinggal 12 tahun lagi, gas 32 tahun lagi dan batu bara 77 tahun lagi.

Untuk itulah, sebagaimana diamanatkan Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto dalam setiap kesempatan bahwa Gerindra terus dan fokus berjuang mengawal pemerintah dalam menjalankan amanat UUD 1945 pasal 33 ini. “Keinginan kita adalah melihat bangsa Indonesia kuat dan sejahtera,” tegasnya.

Menurut Prabowo, dalam bukunya, Membangun Kembali Indonesia Raya, Haluan Baru menuju Kemakmuran (2009), menegaskan, kelimpahan dan kekayaan sumber daya alam mineral nasional juga belum mampu secara berdaulat dikuasai, dikelola secara mandiri untuk kemakmuran rakyat, atau untuk kemajuan bangsa dan negara. “Pengelolaan sumber daya alam mineral saat ini juga terbatas bahkan terjebak hanya pada ekstrasi atau produksi alamiah dengan pengelolaan sederhana untuk lalu diekspor ke luar negeri,” tulisnya.

Parahnya lagi nilai tambah terbesar dari pengelolaan sumber daya alam mineral ini justru lari dan dinikmati oleh negara-negara atau pelaku usaha asing di luar negeri. Pemerintah bersama pengusaha domestik belum mampu menguasai pengelolaan sumber daya alam mineral nasional untuk kemudian diolah serta dikembangkan industri sekunder yang unggul sehingga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Ditengarai kondisi ini disebabkan oleh pemerintah yang kurang berpihak pada industri sekunder di dalam negeri disertai dengan komitmen yang kuat untuk mengembangkan pengusaha atau pelaku usaha domestik yang unggul, mampu bersaing dengan para pengusaha serta pelaku usaha asing.

Walau telah diperkirakan dan menjadi kenyataan pada kondisi fluktuasi yang menyulitkan, tampaknya pemerintah masih tetap mengandalkan kecukupan bahan bakar minyak dan ketahanan energy nasional pada bahan bakar minyak yang berasal dari fosil. Untuk keperluan energi bagi pembangkit listrik, didiversivikasi kepada batubara, gas dan panas bumi dan air. Pemerintah belum secara sistematis, konsisten juga strategis menyiapkan, merencanakan mengembangkan ketahanan kedaulatan energi nasional dari bahan bakar alternatif baik terbarukan maupun yang berasal dari nabati atau biofuel.

Energi terbarukan

Jauh sebelum pemerintah mencanangkan penghematan energi, Gerindra menawarkan program diversivikasi energi yang termuat dalam 8 program aksi untuk kemakmuran rakyat bidang pangan dan energi. Dalam buku itu, Prabowo menegaskan bahwa negara Indonesia memiliki tanah pertanian yang luas dan cocok untuk budidaya tanaman singkong secara besar-besaran. Luas lahan yang ditanami Ubi Kayu di Indonesia saat ini masih relatif rendah.

Menurut BPS, pada tahun 2008 saja, luas panen Ubi Kayu baru hanya 1,22 juta hektar dengan produksi sekitar 20,8 juta ton. Dan jika setiap satu hektar kebun Singkong mampu menghasilkan Ubi Kayu sebanyak 40 ton per tahun. Sementara setiap satu ton Ubi Kayu akan mengasilkan 0,16 kiloliter bioethanol, maka setiap satu hektar akan menghasilkan 6,4 kiloliter per tahun.

Selain singkong, Aren merupakan salah satu alternatif untuk sumber bahan bakar nabati atau biofuel untuk menghasilkan bioethanol yang sapat menggantikan bahan bakar premium. Aren dapat ditanam di lahanm yang kurang subur atau bahkan lahan kritis, karena tanaman ini relatif tidak membutuhkan air yang banyak, justru sebaliknya aren mampu menyimpan, mempertahankan kondisi air dan tanah tempat tumbuhnya. Sehingga Aren berfungsi sebagai tanaman konservasi tanah dan air serta dapat sebagai tanaman reboisasi. Sifat ini tidak dimiliki oleh tanaman lain sumber bioethanol. Tanaman ini bisa dikembangkan di lahan-lahan yang tersebar di Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Di sisi lain, untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri, Indonesia masih harus mengimpor BBM sebesar kurang lebih 30 persen dari total kebutuhan dalam negeri. Menurut data ESDM nilai impor nasional pada tahun 2007 lebih dari 8,26 miliar dolar atau sekitar Rp 80 triliun. Pemerintah melalui Pertamina pada tahun 2009 saja mengimpor premium sebanyak 55,5 juta barel, solar skitar 73 juta barel serta minyak tanah sebanyak 36 juta barel. Pabrik bioethanol bisa dijalankan untuk jangka waktu lebih dari 20 tahun. ”Dengan begitu, sebanyak 544.527 orang dapat dihidupi setiap tahun untuk selama lebih dari 20 tahun,” tegas Prabowo dalam bukunya.

Apabila target pengurangan dan substitusi impor BBM premium nasional sama dengan target ubi kayu saja, yaitu sebesar 10 persen dari impor, maka diperlukan produksi bioethanol setara dengan 882 juta liter per tahun. Dengan produktivitas 20 ton/hektar/tahun maka diperlukan luas panen perkebunan Aren sebesar 440 ribu hektar setiap tahun. Dengan kata lain untuk menggantikan seluruh impor BBM premium nasional –yang diperkirakan 55,5 juta barel setiap tahun atau setara 8.925 juta liter per tahun— maka diperlukan produksi aren dari perkebunan seluas 4,4 juta hektar setiap tahun.

Sebagian perbandingan, Brasil telah mengembangkan ethanol selama puluhan tahun, menurut laporan FAO (2009), produksi ethanolnya pada tahun 2007 adalah sebesar 19.000 juta liter. Tantangan dan target ini seharusnya tidak terlalu sulit untuk dicapai dengan kelimpahan sumber daya alam lahan dan tenaga kerja Indonesia.

Bioethanol adalah bahan bakar sejenis dengan premium yang sudah terbukti baik untuk dijadikan bahan bakar kendaraan bermotor setelah dicampur dengan premium yang dihasilkan dari kilang BBM. Dengan target menggantikan impor premium sebagai pencampur premium sebesar 10 persen saja, maka diperlukan tambahan produksi bioethanol sebesar 55,5  juta barel x 10% x 159 liter/barel = 882 juta liter ethanol setiap tahun. Dengan pabrik bioethanol kapasitas 60 ribu kilo liter/tahun, kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan pembangunan 15 unit pabrik bioethanol baru. Dan pembangunan prabrik ini dapat ditingkatkan terus seiring dengan peniungkatan subtitusi premium dengan bioethanol. Dengan asumsi impor premium nasional relatif tetapi, diperlukan 150 unit pabrik bioethanol untuk menggantikan impor premium secara total.

Untuk bisa membangun pabrik bioethanol dengan kapasitas 60 ribu kiloliter per tahun ini dibutuhkan investasi sekitar 44 juta dolar. Jika dengan asumsi Debt/Equity ratio sebasar 70/30 maka modal equity yang diperlukan sebesar 13,2 juta dolar atau Rp 132 miliar (asumsi kurs Rp 10.000). Sehingga untuk membangun pabrik bioethanol sebanyak 15 unit pada tahap awal, diperlukan dana equity dari pemerintah sebesar 198 juta dolar atau Rp 1,98 triliun saja.

Jumlah ini tidak ada artinya bila dibandingkan dengan jumlah devisa yang dihamburkan dan uang subsidi BBM yang dibagikan oleh pemerintah. Dana lain yang diperlukan untuk modal kerja dapat dengan mudah disiapkan oleh pemerintah apabila ada kemauan dan keberpihakan yang kuat. Dengan kemauan politik dan dukungan kebijakan serta penempatan modal pemerintah maka tiap tahun dapat dibangiun 15-20 unit pabrik bioethanol. Alhasil dalam waktu kurang 10 tahun kebutuhan impor premium dapat disubstitusi oleh bioethanol.

http://fansprabowokappi1.files.wordpress.com/2012/12/prabowo-subianto-mimbar.jpg?w=300&h=220Jumlah impor BBM sekitar kurang lebih 350.000 barel per hari tentu akan menguras anggaran dan devisi negara. Terlebih jika dilihat dari data rasio kapasitas kilang/orang/tahun dari beberapa negara menunjukkan bahwa Indonesia termasuk salah satu yang paling rendah dibandingkan dengan negara Asia lainnya, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang. Untuk mengurangi pemborosan, Prabowo dalam buku itu menyarankan alangkah baiknya apabila anggaran dan dana subsidi –baik langsung maupun bantuan tidak langsung— disisihkan sebagian untuk dipakai membangun kilang minyak (refinery plant). Sebagian kecil dana subsidi tersebut hanya sekitar Rp 18 triliun diperkirakan sudah cukup untuk membangun satu kilang minyak.

Setidaknya setelah kilang beroperasi ada dua keuntungan yang dapat diperoleh, yaitu Indonesia dapat mencukupi kebutuhan BBM nasional sehingga ketahanan dan kedaulatan energi nasional dapat meningkat, selain itu dana dari penghematan impor BBM sebesar 1.469.125.000 dolar per tahun dapat dipakai untuk program lain yang lebih bermanfaat untuk bangsa dan negara secara berkesinambungan.

Tidak hanya itu, program pembangunan kilang juga dapat menambah jumlah lapangan kerja baru, menambah pendapatan negara dari pajak, dan menghasilkan produk sampingan naphtha yang merupakan bahan baku industri petrokimia. Dengan ketersediaan bahan baku ini dapat juga dikembangkan lagi industri sekunder dan tersier petrokimia untuk mendukung pengembangan industri premier, sekunder seperti tekstil dan bahan plastik.

Energi listrik alternatif

Disamping itu, untuk keperluan energi listrik, salah satu sumber energi alternatif terbarukan –yang dimiliki negeri ini— yang berpotensi untuk dikembangkan adalah panas bumi (geothermal). Apalagi keberadaan Indonesia di atas sabuk vulkanik yang membentang dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara hingga ke Sulawesi Utara dengan total potensi sumber daya energi panas bumi sebesar 27.000 MW.

Berkait dengan adanya ratifikasi Kyoto Protocol dan komitmen pemerintah RI untuk mengurangi dampak global warming, potensi carbon credit terhadap pengembangan panas bumi di Indonesia menjadikan pengembangan energi panas bumi sangat memungkinkan untuk diwujudkan. Faktanya, jika program pengembangan panas bumi ini diimplementasikan bisa memberi banyak manfaat. Diantaranya kemandirian daerah dalam penyediaan energi yang bersumber dari energi panas bumi di daerah masing-masing. Potensi CER (carbon credit) terkait pemberdayaan energi panas bumi yang ramah lingkungan dapat memberikan pemasukan signifikan bagi negara tiap tahun. Disamping itu terbangunnya infrastruktur daerah untuk lebih meningkatkan perekonomian, terbukanya kesempatan lapangan kerja baru, dan pengembangan teknologi terapan plus inovasi teknologi baru.

Begitu pula dengan budidaya pangan terutama padi menghasilkan produk sisa bermacam-macam, termasuk sekam. Sekam sampai sekarang masih belum dimandaatkan sama sekali kecuali dibakar dan dipakai sedikit sekaliu untuk budidaya jamur.

Padahal potensi produk sekam ini sangat besar. dengan tingkat produksi padi sebsar 63,5 juta ton (2009) maka sekitar 30 persennya adalah berupa sekam atau setara dengan 19 juta ton sekam per tahun.

Berdasarkan informasi dari pabrik pembangkit listrik dari sekam yang telah beroperasi, untuk bisa menghasilkan listrik sebesar 1 MW per tahun hanya dibutuhkan 9.500 ton sekam. Dengan produksi sekam sebesar 19 juta ton, maka potensi produksi listrik bila menggunakan sekam adalah sekitar 2.005 MW. Potensi ini sangat menjanjikan karena dapat dikembangkan dalam ukuran kecil dan sedang di daerah-daerah produsen utama padi nasional.

Sejatinya penghematan energi seharusnya bukan sekadar pemanis di kala kesulitan atau hanya pencitraan. Penghematan energi adalah unsur yang penting dari sebuah kebijakan energi. Penghematan energi menurunkan konsumsi energi dan permintaan energi per kapita, sehingga dapat menutup meningkatnya kebutuhan energi akibat pertumbuhan populasi. Hal ini mengurangi naiknya biaya energi, dan dapat mengurangi kebutuhan pembangkit energi atau impor energi. Berkurangnya permintaan energi dapat memberikan fleksibilitas dalam memilih metode produksi energi.

Jadi jika krisis energi ini terus dibiarkan berlarut-larut, tanpa adanya kemauan politik yang kuat dari pemerintah untuk mengembangkan energy alternatif terbarukan maka hal ini berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi karena dapat menyebabkan tingginya dorongan inflasi dari keperluan bahan bakar minyak. Tingginya biaya produksi sehingga mengurangi daya saing ekonomi nasional, rentannya perekonomian terhadap fluktuasi harga dunia minyak, dan yang paling penting tidak dapat dimanfaatkan kelimpahan sumber daya lahan dan ketersediaan tenaga kerja (banyak penduduk yang menganggur) serta peluang permintaan bahan bakar nabati yang tinggi di dalam negeri, bahkan permintaan cukup tinggi untuk ekspor di pasar dunia. [G]

catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk majalah GARUDA, Edisi Juni 2012

Rani Mauliani: Semua Mata Tertuju Pada Gerindra

Tak pernah terbayang sebelumnya jika keterlibatannya sebagai aktivis sosial membawanya ke dunia politik praktis. Termasuk ketika harus mengemban amanah sebagai wakil rakyat sekaligus menahkodai partai politik salah satu wilayah di ibukota. Semua itu dijalani Rani Mauliani dengan penuh rasa tanggungjawab.

raniKeterlibatannya di dunia politik berawal ketika ia gabung menjadi relawan di Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria) yang ada dibawah bendera Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Menjelang Pemilu 2009, Gerindra membutuhkan caleg perempuan, Rani pun diminta untuk ikut bertarung dalam pesta demokrasi itu. ”Waktu itu saya tidak bisa menolak, terlebih ini perintah langsung dari abang saya,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 10 Februari 1978 ini.

Perjuangan dan kerja cerdasnya dalam bertarung di daerah pemilihan (dapil) Jakarta Barat mengantarkannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta. Dengan latar belakang dan pengalamannya sebagai aktivis sosial, oleh Partai Gerindra, Rani ditempatkan di Komisi E yang membidangi kesejahteraan rakyat meliputi pendidikan, kesehatan, layanan sosial dan olahraga. Meski menangani banyak hal, ada bidang yang mendapat prioritas tersendiri olehnya yakni layanan kesehatan. “Boleh jadi bidang itu menjadi makanan sehari-hari. Bahkan boleh dibilang saya ini menjadi ikonnya ambulan,” ujar perempuan yang dipercaya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Jakarta Barat ini.

Berangkat dari pengalamannya sebagai aktivis sosial dalam bidang kesehatan, Rani menjadi salah satu pendiri lahirnya Badan Kesehatan Indonesia Raya (Kesira) yang bernaung di DPP Partai Gerindra. Pasalnya, aksi sosial yang dilakukan Ketua DPC Partai Gerindra Jakarta Barat bersama timnya dalam membantu masyarakat miskin kota untuk mendapatkan akses layanan kesehatan itu menjadi pendorong lahirnya Kesira. Maka selain sibuk sebagai anggota dewan, Rani pun harus membagi waktunya mensosialisasikan program kerja Kesira ke seluruh penjuru nusantara.

Sebagai anggota DPRD DKI, ia terus memperjuangkan masalah kesehatan ini, baik dalam hal anggaran maupun aturan main tentang jaminan kesehatan warga DKI Jakarta. Meski demikian, ia tak lantas mengesampingkan bidang yang menjadi tanggungjawabnya. Setidaknya, keberadaan dirinya dan fraksi Gerindra di DPRD DKI meski hanya enam orang anggota kerap menjadi acuan bagi partai lain dalam setiap pengambilan keputusan. Terlebih, diakuinya bahwa dengan caranya yang kerap menjalin kerjasama lintas partai membawa kemashalatan.

“Yang jelas ketika kita sudah mengatasnamakan DPRD, kita harus bekerjasama dalam memperjuangkan nasib rakyat. Karena warga DKI banyak menaruh harapan kepada kita yang mewakili mereka,” ujar lulusan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung ini.

Meski selalu mengaku sebagai anak bawang, namun kinerjanya baik sebagai anggota dewan maupun Ketua DPC selalu mendapat acungan jempol. Pasalnya, lewat caranya yang unik dalam memimpin dan menjalankan tugas sebagai anggota dewan, Rani selalu bisa mengatasi segala persoalan internal maupun yang berkaitan dengan nasib warga Jakarta. Dalam memimpin pun, Rani tidak mempermasalahkan hirarki kepemimpinan baik yang ada di tubuh DPC, PAC maupun Ranting. “Yang jelas kerja nyata, sehingga semua mata akan tertuju pada Gerindra dengan sendirinya,” ujar politisi yang juga duduk sebagai Ketua III Badan Kesira DPP Partai Gerindra.

Selain memperjuangkan delapan program aksi dan pro rakyat, sebagai bagian dari fraksi Gerindra DPRD DKI, Rani terlibat langsung sebagai tim pemenangan Jokowi-Ahok calon guberbur dan wakil gubernur yang diusung PDI-P dan Gerindra yang akan berlaga pada 11 Juli mendatang. Menurutnya, melawan incumbent itu bukan perkara mudah, tapi Rani optimis, perpaduan Jokowi-Ahok mampu mengalahkan mereka. Pasalnya Jakarta tidak sekadar masalah macet, banjir seperti yang digadang-gadangkan pasangan lainnya, tapi lebih dari itu. “Warga Jakarta butuh kenyamanan, keamanan, pekerjaan, kesejahteraan dan itu yang akan kita perjuangkan,” ujar wakil Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan PD SATRIA DKI Jakarta.

Sebagai pimpinan cabang sebuah parpol yang tengah mengusung Jokowi-Ahok tentu berharap besar wilayahnya akan menyumbangkan banyak suara, khususnya dari etnis Tionghoa yang sebelumnya antipasti terhadap pemilu. Dan tentunya ini akan berimbas pada perolehan suara untuk pemilu 2014 mendatang. “Setidaknya, kantong-kantong suara Gerindra yang ada di Jakarta Barat akan mampu memenuhi target tiga sampai lima kursi sebagaimana yang ditargetkan partai pada pemilu 2014 nanti,” tegas seraya memaparkan setiap minggunya ada sekitar 70 orang masuk jadi anggota hanya dari satu orang kader yang menamakan dirinya maniak Gerindra.

Baginya, ketika kaum perempuan menginginkan perubahan, maka harus ada andil di dalamnya. Makanya, sebagai kaum perempuan yang masih dianggap kelas dua harus terjun di dunia politik, tampil ke depan dan berani bicara. “Tapi ingat dengan kodratnya sebagai perempuan,” ujar putri dari pasangan Hj Nany Suryantini – H Rachmad HS ini mengingatkan. [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA Edisi Juni 2012

Lebih Dekat Dengan Susi Marleny Bachsin: Gerindra Berjuang untuk Rakyat

Dunia politik acap kali masih dianggap sebagai dunia keras yang hanya dimiliki kaum laki-laki. Karena selama ini politik identik dengan perebutan kekuasaan. Terlebih dominasi laki-laki masih kental dalam struktur sosial dan budaya yang mempengaruhi kekurangaktifan perempuan dalam proses politik dan pengambilan keputusan.

susiAnggapan politik identik dengan laki-laki tidak berlaku bagi Susi Marleny Bachsin, SE, MM. Bagi perempuan cantik dan pemberani ini sejak semula perempuan memiliki kesetaraan dengan laki-laki. Pasalnya, perempuan memiliki kepentingan-kepentingan tertentu yang belum tentu dapat diwakili oleh kaum laki-laki. Baginya panggung politik adalah dunia yang setara milik kaum laki-laki dan perempuan. “Memisahkan perempuan dari politik sama saja memisahkan masyarakat dari lingkungannya. Terlebih undang-undang mengamanatkan keterwakilan perempuan sebesar 30 persen,” tegas perempuan kelahiran Jakarta, 19 November 1960 ini.

Keterlibatannya di panggung politik tak sekadar sebagai pelengkap, atau bahkan pemanis belaka. Lebih dari itu, berkat kepiawaiannya memadukan antara urusan keluarga, bisnis dan politik sungguh patut menjadi motivasi para aktifis perempuan untuk lebih serius terlibat dalam dunia politik. Sejak 2010, ia pun dipercaya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Provinsi Bengkulu. “Saya merupakan satu-satunya perempuan yang diamanahi sebagai ketua DPD. Bukan karena apa-apa tapi atas dasar kinerja saya dalam membesarkan partai ini,” ujar ibu tiga anak ini.

Memang, diakui pada awalnya ia secara tidak sengaja bersinggungan dengan partai politik saat ia mengantarkan seorang teman yang hendak mendaftarkan diri sebagai caleg. Keberadaannya di Partai Gerindra dianggapnya sebagai sebuah takdir. Pasalnya, jauh sebelum itu ia kerap mendapat tawaran dari parpol lain untuk menjadi caleg, tapi dengan tegas ia tolak. “Tapi entah kenapa, ketika saya mengantar seorang teman untuk ikut mencalonkan diri di Partai Gerindra, malah saya tertarik. Bahkan hanya dalam waktu tiga hari saya bisa menyelesaikan semua persyaratan administrasinya yang diperlukan,” kenangnya.

Waktu itu ia pun memilih Bengkulu sebagai daerah pemilihannya. Meski tidak lolos ke Senayan, tak lantas membuatnya menyerah atau mundur. Malah ia bersyukur bahwa ini adalah takdir Allah yang menginginkannya untuk belajar dulu. “Kalau saya duduk di kursi Senayan saat itu mungkin saya tidak bakal ngerti apa-apa, tapi sekarang saya lebih siap dan merasakan langsung beratnya perjuangan,” ujar Donna yang hanya menempati posisi kelima dari empat kursi yang diperebutan dengan meraih sebanyak 30 ribuan suara pada pemilu 2009 lalu.

Kini, kecintaannya pada Gerindra telah mendarahdaging. Betapa tidak, ditengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, dengan penuh rasa tanggungjawab ia menjalankan tugas untuk kemajuan dan kebesaran partai. Bahkan tak jarang ia harus memboyong keluarganya ke Bengkulu ketika ada tugas yang menyita waktu lama. “Saya lebih sering berada di Bengkulu, sementara keluarga di Jakarta. Tapi semua itu saya jalani dengan amanah, dan keluarga pun memahami akan tugas ini,” tandas ibu dari Kara, Dasya dan Zeta ini.

Meski menjabat sebagai orang yang memegang kendali komando partai politik, Donna begitu biasa perempuan cantik ini disapa, tetap tampil ramah dan sederhana. Tak heran bila sosok kepemimpinannya yang lebih menonjolkan sisi keibuan, ia lebih cepat dikenal masyarakat, termasuk di kalangan para pimpinan daerah maupun pusat. Kesederhanaannya bukan sekadar omong kosong belaka. Bukan pula sebatas jargon, pemanis tampilan, atau pencitraan politik, tapi semua konstituennya memberi apresiasi atas kepiawaian dan kinerjanya. Terbukti setiap kunjungan ke pelosok Bengkulu, ia tak segan untuk menginap di kendaraan atau pun di rumah konstituen dengan segala keterbatasan fasilitas.

Sempat dipandang sebelah mata akan kemampuannya dalam berpolitik karena dianggap orang baru berpolitik, tapi ia tak mau ambil pusing, dengan bekal keyakinan akan kemampuan dan dukungan orang-orang terdekatnya ia pun mampu menepis anggapan miring itu dengan kerja nyata, kerja keras dan komitmen dengan perjuangan. Dan semua itu terbukti dengan kemajuan yang diraihnya secara signifikan.

Terlahir dan dibesarkan di keluarga pengusaha sukses tak lantas dirinya menjelma sebagai anak manja. Anak ketujuh dari delapan bersaudara dari pasangan Moekminin Bachsin dan Noeraini Kuris ini sudah mandiri sejak usia remaja. Usai menyelesaikan bangku sekolah ia tak langsung kuliah tapi menyibukkan diri dengan bekerja. Tapi siapa sangka, di tengah kesibukannya, kini ia pun berhasil menyelesaikan kuliah program magister (S2) di bidang manajemen.

Lantas seperti apa pandangan dan perjuangannya sebagai satu-satunya perempuan yang diamanahi tugas memimpin parpol di tingkat propinsi ini. Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Garuda, perempuan cantik yang tengah digadang-gadangkan banyak kalangan di Bengkulu untuk maju dalam pemilihan walikota Bengkulu September mendatang ini memaparkannya saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bisa Anda ceritakan aktifitas keseharian Anda saat ini?

Saya ini, hanya seorang ibu rumah tangga. Tapi saya mendapat amanah untuk menjalankan tugas sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Bengkulu. Keseharian saya, selain mengurus keluarga, saya tumpahkan untuk Gerindra. Tentunya saya lebih sering berada di Bengkulu, meski keluarga di Jakarta. Di samping menjalankan bisnis yang ada di Jakarta.

Bagaimana Anda mengatur waktunya?

Saya domisili di Bengkulu. Ketika keluarga saya membutuhkan saya, baru saya pulang ke Jakarta. Malah, kadang-kadang keluarga dan anak-anak sering saya ajak ke Bengkulu. Karena ini tanggungjawab saya di partai dan demi jalannya organisasi partai. Mungkin lebih sering berada di Bengkulu.

Kondisi Partai Gerindra di Bengkulu saat ini seperti apa?

Alhamdiulilllah kondisi sekarang semua berjalan sesuai arahan dari pusat. Struktural kepengurusan mulai dari DPD, DPC, hingga DPAC sudah terbentuk. Selain tidak ada gejolak, mesin-mesin partai juga berjalan. Insya allah, tahun ini untuk tingkat ranting sebanyak 1.243 ranting pun bisa terbentuk. Disamping itu soliditas dan loyalitas kader menjelang pemilu 2014 makin kuat. Semua itu bukan sekadar omong kosong, tapi kita buktikan ketika melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah.

Bagaimana kekuatan Partai Gerindra di Bengkulu?

Memang saat ini kekuatan kita hanya satu kursi di DPRD Propinsi, dan tujuh kursi yang tersebar di DPRD kabupaten/kota. Namun setidaknya sejak dua tahun terakhir ini, ada peningkatan yang signifikan. Terlebih setelah adanya pengiriman kader-kader ke Hambalang, mampu membawa perubahan yang luar biasa. Di samping itu, posisi kader yang ada di kursi parlemen pun dipercaya menduduki posisi penting baik itu di komisi, fraksi gabungan maupun di badan kelengkapan dewan lainnya.

Menjelang 2014, strategi apa yang dilakukan Partai Gerindra Bengkulu?

Menjelang pemilu 2014, menggalakkan program KTA-nisasi, sosialisasi partai, dan melaksanakan delapan program aksi ke tengah-tengah masyarakat. Di lapangan sering ditemukan ada orang yang tidak memilih partai tapi mau pilih Prabowo. Tentu saja ini kesempatan bagi Gerindra. Saya tidak melihat Gerindranya tapi Prabowo, tapi yang jelas Prabowo itu rumahnya di Gerindra, jadi sekuat tenaga kita akan terus sosialisaikan Partai Gerindra dan Prabowo. Target ke depan setidaknya bisa meraih satu kursi DPR-RI, dan satu fraksi di DPRD kabupaten/kota.

Komentar Anda sebagai perempuan yang terjun di politik?

Jujur sebelumnya saya tidak mengerti apapun tentang politik. Lalu saya learning by doing, ternyata saya punya kemampuan untuk melakukan sesuatu. Buktinya saya sudah dua tahun bisa menahkodai dan masih dipercaya oleh pusat untuk memimpin satu propinsi. Ini sebuah kebanggaan bagi saya. Keterlibatan perempuan itu harus ada, dan saya sebagai satu satunya pimpinan perempuan di Gerindra daerah, tentu caranya berbeda dengan apa yang dilakukan kaum laki-laki. Meski kadang dilihatnya oleh mereka, saya ini banyak pertimbangan dalam memutuskan sesuatu. Itulah sisi keibuan seorang perempuan. Tapi yang jelas saya tidak ada pikiran untuk korupsi.

Sebagai seorang perempuan, bagaimana Partai Gerindra memperlakukan Anda?

Selama ini Partai Gerindra memperlakukan saya sama dengan yang lain. Tidak ada anak emas, atau dininabobokan, atau bahkan dianaktirikan. Memang kita sama dengan yang lainnya harus disiplin dalam menjalankan tugas organisasi kepartaian. Mungkin bisa jadi, antar DPD tentu berbeda perlakuannya, sesuai dengan kemampuan hingga kondisi geografisnya. Pasalnya ada ketua DPD yang juga menempati posisi strategis di daerahnya, seperti merangkap sebagai gubernur, bupati atau tokoh masyarakat. Sementara Bengkulu itu hanya dipimpin oleh seorang perempuan. Tapi jangan salah, Bengkulu itu ditopang oleh orang-orang hebat.

Bisa diceritakan awal mula Anda bergabung ke Partai Gerindra?

Awalnya memang tidak sengaja. Tapi saya anggap sudah takdir saya, harus berada di Gerindra. Sebenarnya, jelang pemilu legislatif 2009, saya sudah ditawari menjadi caleg di partai lain, tapi saya menolaknya. Anehnya entah kenapa, ketika saya mengantar seorang teman untuk ikut mencalonkan diri di Partai Gerindra, malah saya tertarik. Dan bahkan hanya dalam waktu tiga hari saya bisa menyelesaikan semua persyaratan administrasinya.

Jadi, waktu itu saya sedang berada di kawasan Pondok Indah untuk keperluan jual beli rumah, ternyata yang punya rumah bilang hanya punya waktu sebentar karena harus ke jalan Brawijaya untuk daftar jadi caleg. Akhirnya saya pun ikut sekalian mengantar dia ke Brawijaya. Sesampainya disana, saya dibujuk, kenapa tidak sekalian ikut daftar saja. Entah kenapa saat itu juga saya merasa ada panggilan hati untuk ikut nyaleg. Lalu saya pun ditempatkan di dapil Bengkulu. Meski memang pada akhirnya tidak lolos ke Senayan, saya hanya bisa mengumpulkan sekitar 30 ribuan suara. Bukan karena saya kurang maksimal tapi memang berdasarkan perhitungan KPU saya menempati posisi ke lima dari empat kursi yang diperebutkan waktu itu.

Apa yang membuat Anda mau terjun ke dunia politik?

Sejak saya memutuskan untuk ikut jadi caleg dari Gerindra, sejak saat itulah Gerindra mendarahdaging dalam diri saya. Harus diakui, setelah saya pelajari lebih dalam sebelum terjun langsung, perjuangan Gerindra benar-benar untuk rakyat. Dan itu terbukti, tidak hanya saya yang terpikat dengan Gerindra, malah sekarang masyarakat sepertinya berbondong-bondong ke Gerindra. Meski bukan karena program yang dicanangkan Gerindranya tapi sosok Prabowo yang membuat masyarakat. Termasuk keluarga besar saya yang memang sama sekali tidak ada yang terjun ke politik. Tapi ketika saya terjun ke partai politik, keluarga semuanya malah mendukung. Bukan karena saya partai yang dipilihnya Gerindra, tapi lebih melihat pada sosok Prabowo Subianto. Anehnya, sekarang ini baik saya maupun keluarga kalau ada orang yang bilang sesuatu tentang Gerindra itu apa gitu, rasanya sensitif banget kita.

Lantas bagaimana awal mula Anda ditunjuk sebagai ketua DPD Bengkulu?

Konon menurut pihak DPP, penunjukan itu lebih pada karena kinerja saya sewaktu pencalegan pada pemilu 2009 lalu. Awalnya, sebagai Pjs (pejabat sementara) menggantikan posisi ketua. Lalu sejak 2010 kemarin, saya pun dikukuhkan sebagai ketua. Mungkin ini takdir Allah, kalau saya duduk di kursi Senayan itu saya tidak bakal ngerti apa-apa, tapi harus belajar dulu. Dengan demikian Allah menunjukkan pada saya untuk belajar dulu baru terjun ke politik praktis. Dan sekarang saya tengah menikmati bagaimana perjuangan di partai politik dengan cara terjun langsung ke masyarakat, mengerti apa yang diinginkan masyarakat, konstituen khususnya dan pada akhirnya saya pun lebih paham serta memahami apa kemauan masyarakat.

Bagaimana Anda dalam menjalankan tugas sebagai ketua DPD?

Awalnya memang masih meraba-raba, tapi lama-lama saya menikmatinya. Bukan karena melihat background-nya, tapi malah saya ikut hanyut sejak kampanye dulu hingga sekarang ketika turun ke bawah. Saya ini easy going. Hampir seluruh pelosok Bengkulu sudah saya kunjungi. Bahkan ke daerah yang harus ditempuh perjalanan darat berjam-jam pun saya lakukan. Termasuk ketika harus bermalam di jalan atau di rumah penduduk yang tidak saya kenal sebelumnya. Saya tidak pernah takut.

Jadi, menurut Anda politik itu apa?

Politik itu melakukan sesuatu untuk rakyat. Siapapun harus berpolitik kalau mau merubah nasib sebuah bangsa. Tapi bukan sekadar menjadi politisi, tapi kita juga harus bisa berpolitik. Sebagaimana arahan dari Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, bahwa kita bukan politisi, tapi kita pejuang untuk mempertahankan NKRI sampai darah penghabisan. Oleh karena itu kita harus tampil kepada rakyat sebagai pembela kebenaran, kejujuran, membela yang lemah, membela semua golongan, karena itu ruh dari partai Gerindra. Itulah yang saya maksud politik itu melakukan sesuatu untuk rakyat.

Apa pandangan Anda dan keluarga terhadap sosok Prabowo?

Yang jelas, pertama beliau terlahir dan dibesarkan di keluarga yang terpelajar. Siapa yang tak mengenal orangtua beliau. Kedua, beliau merupakan sosok pemimpin yang berani, tegas, disiplin tapi bukan diktator dan bukan demokrasi seenaknya saja seperti yang berjalan saat ini. Beliau adalah perpaduan sosok Soekarno dan Soeharto.

Memang seperti apa kondisi kepemimpinan di Indonesia saat ini?

Ya boleh dibilang butut. Saya tidak mengatakan butut ini bukan lima tahun yang lalu, tapi dua tahun terakhir ini. Buktinya banyak kecurangan-kecurangan, ketidakadilan di mana-mana baik tingkat pusat maupun daerah. Perlu diingat, masyarakat kita itu tidak bodoh. Memang mereka kecewa, dan merasa tertindas, tapi tidak punya kekuatan untuk melawan. Untuk itu solusinya kepemimpinan kita harus diganti dengan pemimpin yang tegas, tahu dan mau bekerja untuk melaksanakan tugasnya, dan mendengar kemauan rakyat.

Seperti apa Suka duka dalam memimpin partai?

Yang jelas, saya bisa merangkul semua kalangan. Alhamdulillah selama ini tidak ada gontok-gontokan. Selama ini mereka (pengurus) merasa senang ada ibunya, ada yang menganggap kakak. Kalau yang dukanya, paling gossip, isu-isu sebagai seorang perempuan yang terjun ke dunia politik yang mungkin itu banyak juga dialami oleh teman-teman perempuan lainnya.

Apa pesan untuk para kader Gerindra di Bengkulu?

Tentunya baik saya maupun kader Bengkulu harus terus bekerja keras untuk memenangkan partai, mensosialisasikan partai dan Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Tetap dalam satu barisan, jaga loyalitas dan kekompakan untuk menang di 2014 baik pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. [G]

Nama Lengkap:

Susi Marleny Bachsin, SE, MM

Tempat dan Tanggal Lahir:

Jakarta, 19 November 1960

Jabatan:

Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Bengkulu, 2010 – sekarang

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Mei 2012

Fary Djemy Francis, Konsisten atas Perjuangan

Kepeduliannya kepada masyarakat kecil dan terpencil selalu melandasi pemikirannya untuk Indonesia yang lebih baik. Komitmen dan konsistensi perjuangan sang aktivis ini dalam membangun Indonesia lewat kampung tak pernah pudar. Termasuk di tengah-tengah kesibukannya sebagai wakil rakyat.

https://i2.wp.com/www.mpr.go.id/files/images/2012/06/28/R-250_188-fary-djemi-francis-1340850910.jpgBahkan semangat dan daya juang Ir Fary Djemy Francis, MMA, anggota DPR-RI dari Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini kian berkobar. Komitmen itu ditunjukkan politisi pendatang baru asal daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II –yang meliputi Kabupaten Timor, Sumba, Rote, Subu dan Semau— ini dengan memilih duduk di komisi yang bersinggungan dengan ‘kampung’ yang terpencil dan tertinggal. “Apa yang saya perjuangkan dari dulu hingga nanti akan tetap sama, memberdayakan potensi-potensi yang ada di kampung. Karena dari sanalah Indonesia akan bisa bangkit dan mampu berdiri di atas kaki sendiri,” tegas pria kelahiran Watampone, 7 Februari 1968 ini.

Di gedung wakil rakyat Senayan, Fary kerap bersuara lantang dalam setiap permasalahan bangsa, terlebih yang menyangkut hajat hidup masyarakat kecil. Meski terkadang mau tidak mau harus menelan pil pahit atas segala tindakan dan keputusan para wakil rakyat dalam memutuskan kehidupan bangsa ini. Tindakan Walk Out pada rapat pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012 oleh Badan Anggaran (Banggar) DPR-RI, dimana Fary menjadi salah satu wakil dari Fraksi Gerindra. Pasalnya, ketika itu anggota Banggar lainnya hanya mau membahas masalah subsidi BBM saja. Sementara Fraksi Gerindra berdasarkan analisa dan perhitungan terhadap RAPBN itu agar dibahas secara menyeluruh. “Setelah melalui lobi-lobi ternyata mereka tetap bersikukuh dengan keputusannya dan tidak menganggap keberadaan kami, maka kami melakukan Walk Out,” tegas lulusan Master Management Agribisnis, Institut Pertanian Bogor ini.

Menurutnya, langkah Walk Out itu bukan sekadar gagah-gagahan atau pencitraan belaka, tapi sebagai bentuk komitmen dan konsistensinya dalam memperjuangkan nasib rakyat. Hal itu dilakukan berharap nanti pada saat dibawa ke sidang paripurna peta kekuatan politik akan berubah. “Bagi kami rapat Banggar itu tidak lebih rapat Setgab,” tandas politisi yang kenyang pengalaman dalam memberdayakan masyarakat desa kecil ini.

Setidaknya politisi yang kerap membukukan aktivitasnya sebagai wakil rakyat ini lebih suka menyambangi konstituennya di Nusa Tenggara Timur di saat waktu reses. Karena dalam kesempatan itulah, Fary bisa mengetahui sekaligus menyelami persoalaan riil rakyat kecil. Bahkan meski kedudukannya sebagai seorang pejabat negara, Fary kerap lebih sering memilih bermalam di rumah warga yang tentunya minim akan fasilitas. “Jauh sebelum menjadi anggota DPR, hal serupa sudah lakukan hampir 20 tahun yang lalu,” ujar suami dari Yoca Yohanes ini.

Apa yang dilakukannya itu merupakan bentuk pendidikan politik pada masyarakat. Apalagi yang menjadi konstituennya merupakan daerah ujung timur negeri ini yang jauh dari jangkauan pemerintah pusat. Terlebih pemberdayaan desa, merupakan salah satu dari delapan program aksi Partai Gerindra. “Atas dasar ini pula, saya mau bergabung dan ikut berjuang di Gerindra melalui parlemen,” terang aktivis LSM yang mampu meraih sebanyak 18.332 suara pada pemilu 2009 lalu.

Keterlibatannya di Partai Gerindra bukan sekadar ikut-ikutan atau terbawa euphoria  politik kala itu. Meski memang, diakui dirinya tak terlalu suka dunia politik. Namun ketika mempelajari visi misi dan garis perjuangan serta program aksi yang dicanangkan partai dibawah pembinaan mantan Danjen Kopassus Prabowo Subianto, rasanya ia mendapat tambahan energi dalam perjuangannya selama ini. Maka jadilah, aktivis yang kerap dipercaya sebagai konsultan di beberapa lembaga dunia seperti JICA, GTZ, Plan Unicef, iinet Japan dan Care ini menyatakan kesiapannya maju sebagai calon legislatif di bawah bendera Partai Gerindra.

Rupanya, nyaris tak ada hambatan yang berarti bagi ayah tiga anak ini untuk menuju Senayan. Bekal pengalaman melibatkan diri diberbagai aktivitas pemberdayaan masyarakat dengan masuk kampung keluar kampung menjadi tiket dalam meraih dukungan warga NTT. Dan sejak 1 Oktober 2009, putra daerah NTT itu pun dilantik menjadi anggota DPR-RI dan masuk di Komisi V yang membidangi masalah infrastruktur diantaranya meliputi pekerjaan umum, perhubungan, perumahan rakyat, pembangunan daerah tertinggal, telekomunikasi, BMG dan SAR.

Menurutnya, di komisi ini, ia terus memperjuangkan pembangunan infrastruktur desa yang berbasis tani dan nelayan. Dimana intinya bahwa delapan program aksi Partai Gerindra harus kita amankan dalam rangka membangun Indonesia mulai dari desa. “Jangan sampai daerah tertinggal merasa ditinggal, yang terpencil merasa dikucilkan. Inilah yang terus saya perjuangkan bersama teman-teman di komisi lima, bahwa hak mendapatkan penghidupan yang layak itu menjadi hak setiap warga negara bukan hanya di perkotaan saja,” tegas Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Pemuda Tani HKTI ini.

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA Edisi Mei 2012

Peran Penting Perempuan dalam Politik

Peran perempuan sangat penting bagi Partai Gerindra yang memperjuangkan perubahan bangsa demi menyelamatkan masa depan bangsa. Kaum perempuan adalah mayoritas di Indonesia. Perjuangan untuk kemajuan perempuan diarahkan untuk mendapat pengakuan yang sama dengan kaum laki-laki di berbagai bidang kehidupan. Demikian ditegaskan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto dalam sambutannya pada acara Lokakarya Nasional Perempuan Partai Gerindra, di Jakarta beberapa waktu lalu.

https://i1.wp.com/pbs.twimg.com/media/BAO5EfcCAAALT4Z.jpgMenurut Prabowo kaum perempuanlah yang menjadi penentu masa depan putra putri bangsa Indonesia. Oleh karenanya, perempuan berpolitik dalam kehidupan adalah untuk membangun kehidupan politik yang lebih baik di Indonesia. Hal tersebut merupakan suatu upaya memberikan kesempatan pada perempuan untuk berpartisipasi dalam ranah publik khususnya pada bidang politik, untuk menjadi bagian dari sebuah proses dari sebuah proses demokrasi. “Untuk itu kader perempuan Gerindra harus bisa yakinkan kaumnya, bahwa perubahan hanya bisa datang dari dirinya sendiri. Saya selalu mendukung upaya-upaya dalam pemberdayaan perempuan,” tegasnya.

Sebelum membuka secara resmi Lokakarya yang mengangkat tema Penguatan Peran Politik Perempuan dalam Mewujudkan Kader Partau yang Berkualitas itu, Prabowo Subianto menegaskan semoga aktivitas seperti ini kian memperkokoh semangat kader perempuan Partai Gerindra. “Yakinkan rakyat kita bahwa tahun 2014 harus ada perubahan bagi bangsa Indonesia,” tegas mantan Danjen Kopassus ini yang dilanjutkan dengan pemukulan gong sebagai tanda diresmikannya acara tersebut.

Sebelumnya, dalam sambutannya Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra, Anita Aryani, menegaskan belum maksimalnya kualitas dan kuantitas kader perempuan Partai Gerindra serta representasi perempuan di parlemen baik di DPR-RI maupun DPRD propinsi dan kabupaten/kota adalah sebuah kenyataan yang perlu diperbaiki. “Lokakarya ini sebagai upaya awal dalam membentuk kader perempuan yang berkualitas sebagai wujud kepedulian Partai Gerindra terhadap perjuangan perempuan dalam memperoleh hak-haknya,” ujarnya.

Lokakarya yang berlangsung selama tiga hari (20-22/4) di Hotel Maharani Jakarta itu diikuti sebanyak 120 kader perempuan mewakili 33 DPD dari seluruh Indonesia. Hadir pula dalam kesempatan itu Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prof DR Ir Suhardi, M.Sc, Sekretaris Jendral Ahmad Muzani, anggota DPR-RI Martin Hutabarat dan sejumlah Pengurus Pusat Perempuan Indonesia Raya (PIRA). Disamping itu hadir sejumlah undangan dari aktivis perempuan lintas partai dan perwakilan dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Ida Susilo Wulan.

Setidaknya dalam lokakarya nasional itu, peserta selain mendapatkan pembekalan dari para pakar politik, juga membahas seputar pelatihan kader perempuan yang berlaku di Partai Gerindra. “Hasil dari lokakarya ini akan menjadi acuan penyamaan persepsi seluruh kader perempuan Gerindra dalam upaya kaderisasi kaum perempuan. Sehingga upaya pemenuhan keterwakilan perempuan sebanyak 30 persen baik di parlemen maupun di partai politik bisa terwujud,” pungkas Anita.

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah Garuda, Edisi Mei 2012