Fary Djemy Francis, Konsisten atas Perjuangan

Kepeduliannya kepada masyarakat kecil dan terpencil selalu melandasi pemikirannya untuk Indonesia yang lebih baik. Komitmen dan konsistensi perjuangan sang aktivis ini dalam membangun Indonesia lewat kampung tak pernah pudar. Termasuk di tengah-tengah kesibukannya sebagai wakil rakyat.

https://i2.wp.com/www.mpr.go.id/files/images/2012/06/28/R-250_188-fary-djemi-francis-1340850910.jpgBahkan semangat dan daya juang Ir Fary Djemy Francis, MMA, anggota DPR-RI dari Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini kian berkobar. Komitmen itu ditunjukkan politisi pendatang baru asal daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II –yang meliputi Kabupaten Timor, Sumba, Rote, Subu dan Semau— ini dengan memilih duduk di komisi yang bersinggungan dengan ‘kampung’ yang terpencil dan tertinggal. “Apa yang saya perjuangkan dari dulu hingga nanti akan tetap sama, memberdayakan potensi-potensi yang ada di kampung. Karena dari sanalah Indonesia akan bisa bangkit dan mampu berdiri di atas kaki sendiri,” tegas pria kelahiran Watampone, 7 Februari 1968 ini.

Di gedung wakil rakyat Senayan, Fary kerap bersuara lantang dalam setiap permasalahan bangsa, terlebih yang menyangkut hajat hidup masyarakat kecil. Meski terkadang mau tidak mau harus menelan pil pahit atas segala tindakan dan keputusan para wakil rakyat dalam memutuskan kehidupan bangsa ini. Tindakan Walk Out pada rapat pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012 oleh Badan Anggaran (Banggar) DPR-RI, dimana Fary menjadi salah satu wakil dari Fraksi Gerindra. Pasalnya, ketika itu anggota Banggar lainnya hanya mau membahas masalah subsidi BBM saja. Sementara Fraksi Gerindra berdasarkan analisa dan perhitungan terhadap RAPBN itu agar dibahas secara menyeluruh. “Setelah melalui lobi-lobi ternyata mereka tetap bersikukuh dengan keputusannya dan tidak menganggap keberadaan kami, maka kami melakukan Walk Out,” tegas lulusan Master Management Agribisnis, Institut Pertanian Bogor ini.

Menurutnya, langkah Walk Out itu bukan sekadar gagah-gagahan atau pencitraan belaka, tapi sebagai bentuk komitmen dan konsistensinya dalam memperjuangkan nasib rakyat. Hal itu dilakukan berharap nanti pada saat dibawa ke sidang paripurna peta kekuatan politik akan berubah. “Bagi kami rapat Banggar itu tidak lebih rapat Setgab,” tandas politisi yang kenyang pengalaman dalam memberdayakan masyarakat desa kecil ini.

Setidaknya politisi yang kerap membukukan aktivitasnya sebagai wakil rakyat ini lebih suka menyambangi konstituennya di Nusa Tenggara Timur di saat waktu reses. Karena dalam kesempatan itulah, Fary bisa mengetahui sekaligus menyelami persoalaan riil rakyat kecil. Bahkan meski kedudukannya sebagai seorang pejabat negara, Fary kerap lebih sering memilih bermalam di rumah warga yang tentunya minim akan fasilitas. “Jauh sebelum menjadi anggota DPR, hal serupa sudah lakukan hampir 20 tahun yang lalu,” ujar suami dari Yoca Yohanes ini.

Apa yang dilakukannya itu merupakan bentuk pendidikan politik pada masyarakat. Apalagi yang menjadi konstituennya merupakan daerah ujung timur negeri ini yang jauh dari jangkauan pemerintah pusat. Terlebih pemberdayaan desa, merupakan salah satu dari delapan program aksi Partai Gerindra. “Atas dasar ini pula, saya mau bergabung dan ikut berjuang di Gerindra melalui parlemen,” terang aktivis LSM yang mampu meraih sebanyak 18.332 suara pada pemilu 2009 lalu.

Keterlibatannya di Partai Gerindra bukan sekadar ikut-ikutan atau terbawa euphoria  politik kala itu. Meski memang, diakui dirinya tak terlalu suka dunia politik. Namun ketika mempelajari visi misi dan garis perjuangan serta program aksi yang dicanangkan partai dibawah pembinaan mantan Danjen Kopassus Prabowo Subianto, rasanya ia mendapat tambahan energi dalam perjuangannya selama ini. Maka jadilah, aktivis yang kerap dipercaya sebagai konsultan di beberapa lembaga dunia seperti JICA, GTZ, Plan Unicef, iinet Japan dan Care ini menyatakan kesiapannya maju sebagai calon legislatif di bawah bendera Partai Gerindra.

Rupanya, nyaris tak ada hambatan yang berarti bagi ayah tiga anak ini untuk menuju Senayan. Bekal pengalaman melibatkan diri diberbagai aktivitas pemberdayaan masyarakat dengan masuk kampung keluar kampung menjadi tiket dalam meraih dukungan warga NTT. Dan sejak 1 Oktober 2009, putra daerah NTT itu pun dilantik menjadi anggota DPR-RI dan masuk di Komisi V yang membidangi masalah infrastruktur diantaranya meliputi pekerjaan umum, perhubungan, perumahan rakyat, pembangunan daerah tertinggal, telekomunikasi, BMG dan SAR.

Menurutnya, di komisi ini, ia terus memperjuangkan pembangunan infrastruktur desa yang berbasis tani dan nelayan. Dimana intinya bahwa delapan program aksi Partai Gerindra harus kita amankan dalam rangka membangun Indonesia mulai dari desa. “Jangan sampai daerah tertinggal merasa ditinggal, yang terpencil merasa dikucilkan. Inilah yang terus saya perjuangkan bersama teman-teman di komisi lima, bahwa hak mendapatkan penghidupan yang layak itu menjadi hak setiap warga negara bukan hanya di perkotaan saja,” tegas Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Pemuda Tani HKTI ini.

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA Edisi Mei 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s