Lebih Dekat Dengan Susi Marleny Bachsin: Gerindra Berjuang untuk Rakyat

Dunia politik acap kali masih dianggap sebagai dunia keras yang hanya dimiliki kaum laki-laki. Karena selama ini politik identik dengan perebutan kekuasaan. Terlebih dominasi laki-laki masih kental dalam struktur sosial dan budaya yang mempengaruhi kekurangaktifan perempuan dalam proses politik dan pengambilan keputusan.

susiAnggapan politik identik dengan laki-laki tidak berlaku bagi Susi Marleny Bachsin, SE, MM. Bagi perempuan cantik dan pemberani ini sejak semula perempuan memiliki kesetaraan dengan laki-laki. Pasalnya, perempuan memiliki kepentingan-kepentingan tertentu yang belum tentu dapat diwakili oleh kaum laki-laki. Baginya panggung politik adalah dunia yang setara milik kaum laki-laki dan perempuan. “Memisahkan perempuan dari politik sama saja memisahkan masyarakat dari lingkungannya. Terlebih undang-undang mengamanatkan keterwakilan perempuan sebesar 30 persen,” tegas perempuan kelahiran Jakarta, 19 November 1960 ini.

Keterlibatannya di panggung politik tak sekadar sebagai pelengkap, atau bahkan pemanis belaka. Lebih dari itu, berkat kepiawaiannya memadukan antara urusan keluarga, bisnis dan politik sungguh patut menjadi motivasi para aktifis perempuan untuk lebih serius terlibat dalam dunia politik. Sejak 2010, ia pun dipercaya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Provinsi Bengkulu. “Saya merupakan satu-satunya perempuan yang diamanahi sebagai ketua DPD. Bukan karena apa-apa tapi atas dasar kinerja saya dalam membesarkan partai ini,” ujar ibu tiga anak ini.

Memang, diakui pada awalnya ia secara tidak sengaja bersinggungan dengan partai politik saat ia mengantarkan seorang teman yang hendak mendaftarkan diri sebagai caleg. Keberadaannya di Partai Gerindra dianggapnya sebagai sebuah takdir. Pasalnya, jauh sebelum itu ia kerap mendapat tawaran dari parpol lain untuk menjadi caleg, tapi dengan tegas ia tolak. “Tapi entah kenapa, ketika saya mengantar seorang teman untuk ikut mencalonkan diri di Partai Gerindra, malah saya tertarik. Bahkan hanya dalam waktu tiga hari saya bisa menyelesaikan semua persyaratan administrasinya yang diperlukan,” kenangnya.

Waktu itu ia pun memilih Bengkulu sebagai daerah pemilihannya. Meski tidak lolos ke Senayan, tak lantas membuatnya menyerah atau mundur. Malah ia bersyukur bahwa ini adalah takdir Allah yang menginginkannya untuk belajar dulu. “Kalau saya duduk di kursi Senayan saat itu mungkin saya tidak bakal ngerti apa-apa, tapi sekarang saya lebih siap dan merasakan langsung beratnya perjuangan,” ujar Donna yang hanya menempati posisi kelima dari empat kursi yang diperebutan dengan meraih sebanyak 30 ribuan suara pada pemilu 2009 lalu.

Kini, kecintaannya pada Gerindra telah mendarahdaging. Betapa tidak, ditengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, dengan penuh rasa tanggungjawab ia menjalankan tugas untuk kemajuan dan kebesaran partai. Bahkan tak jarang ia harus memboyong keluarganya ke Bengkulu ketika ada tugas yang menyita waktu lama. “Saya lebih sering berada di Bengkulu, sementara keluarga di Jakarta. Tapi semua itu saya jalani dengan amanah, dan keluarga pun memahami akan tugas ini,” tandas ibu dari Kara, Dasya dan Zeta ini.

Meski menjabat sebagai orang yang memegang kendali komando partai politik, Donna begitu biasa perempuan cantik ini disapa, tetap tampil ramah dan sederhana. Tak heran bila sosok kepemimpinannya yang lebih menonjolkan sisi keibuan, ia lebih cepat dikenal masyarakat, termasuk di kalangan para pimpinan daerah maupun pusat. Kesederhanaannya bukan sekadar omong kosong belaka. Bukan pula sebatas jargon, pemanis tampilan, atau pencitraan politik, tapi semua konstituennya memberi apresiasi atas kepiawaian dan kinerjanya. Terbukti setiap kunjungan ke pelosok Bengkulu, ia tak segan untuk menginap di kendaraan atau pun di rumah konstituen dengan segala keterbatasan fasilitas.

Sempat dipandang sebelah mata akan kemampuannya dalam berpolitik karena dianggap orang baru berpolitik, tapi ia tak mau ambil pusing, dengan bekal keyakinan akan kemampuan dan dukungan orang-orang terdekatnya ia pun mampu menepis anggapan miring itu dengan kerja nyata, kerja keras dan komitmen dengan perjuangan. Dan semua itu terbukti dengan kemajuan yang diraihnya secara signifikan.

Terlahir dan dibesarkan di keluarga pengusaha sukses tak lantas dirinya menjelma sebagai anak manja. Anak ketujuh dari delapan bersaudara dari pasangan Moekminin Bachsin dan Noeraini Kuris ini sudah mandiri sejak usia remaja. Usai menyelesaikan bangku sekolah ia tak langsung kuliah tapi menyibukkan diri dengan bekerja. Tapi siapa sangka, di tengah kesibukannya, kini ia pun berhasil menyelesaikan kuliah program magister (S2) di bidang manajemen.

Lantas seperti apa pandangan dan perjuangannya sebagai satu-satunya perempuan yang diamanahi tugas memimpin parpol di tingkat propinsi ini. Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Garuda, perempuan cantik yang tengah digadang-gadangkan banyak kalangan di Bengkulu untuk maju dalam pemilihan walikota Bengkulu September mendatang ini memaparkannya saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bisa Anda ceritakan aktifitas keseharian Anda saat ini?

Saya ini, hanya seorang ibu rumah tangga. Tapi saya mendapat amanah untuk menjalankan tugas sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Bengkulu. Keseharian saya, selain mengurus keluarga, saya tumpahkan untuk Gerindra. Tentunya saya lebih sering berada di Bengkulu, meski keluarga di Jakarta. Di samping menjalankan bisnis yang ada di Jakarta.

Bagaimana Anda mengatur waktunya?

Saya domisili di Bengkulu. Ketika keluarga saya membutuhkan saya, baru saya pulang ke Jakarta. Malah, kadang-kadang keluarga dan anak-anak sering saya ajak ke Bengkulu. Karena ini tanggungjawab saya di partai dan demi jalannya organisasi partai. Mungkin lebih sering berada di Bengkulu.

Kondisi Partai Gerindra di Bengkulu saat ini seperti apa?

Alhamdiulilllah kondisi sekarang semua berjalan sesuai arahan dari pusat. Struktural kepengurusan mulai dari DPD, DPC, hingga DPAC sudah terbentuk. Selain tidak ada gejolak, mesin-mesin partai juga berjalan. Insya allah, tahun ini untuk tingkat ranting sebanyak 1.243 ranting pun bisa terbentuk. Disamping itu soliditas dan loyalitas kader menjelang pemilu 2014 makin kuat. Semua itu bukan sekadar omong kosong, tapi kita buktikan ketika melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah.

Bagaimana kekuatan Partai Gerindra di Bengkulu?

Memang saat ini kekuatan kita hanya satu kursi di DPRD Propinsi, dan tujuh kursi yang tersebar di DPRD kabupaten/kota. Namun setidaknya sejak dua tahun terakhir ini, ada peningkatan yang signifikan. Terlebih setelah adanya pengiriman kader-kader ke Hambalang, mampu membawa perubahan yang luar biasa. Di samping itu, posisi kader yang ada di kursi parlemen pun dipercaya menduduki posisi penting baik itu di komisi, fraksi gabungan maupun di badan kelengkapan dewan lainnya.

Menjelang 2014, strategi apa yang dilakukan Partai Gerindra Bengkulu?

Menjelang pemilu 2014, menggalakkan program KTA-nisasi, sosialisasi partai, dan melaksanakan delapan program aksi ke tengah-tengah masyarakat. Di lapangan sering ditemukan ada orang yang tidak memilih partai tapi mau pilih Prabowo. Tentu saja ini kesempatan bagi Gerindra. Saya tidak melihat Gerindranya tapi Prabowo, tapi yang jelas Prabowo itu rumahnya di Gerindra, jadi sekuat tenaga kita akan terus sosialisaikan Partai Gerindra dan Prabowo. Target ke depan setidaknya bisa meraih satu kursi DPR-RI, dan satu fraksi di DPRD kabupaten/kota.

Komentar Anda sebagai perempuan yang terjun di politik?

Jujur sebelumnya saya tidak mengerti apapun tentang politik. Lalu saya learning by doing, ternyata saya punya kemampuan untuk melakukan sesuatu. Buktinya saya sudah dua tahun bisa menahkodai dan masih dipercaya oleh pusat untuk memimpin satu propinsi. Ini sebuah kebanggaan bagi saya. Keterlibatan perempuan itu harus ada, dan saya sebagai satu satunya pimpinan perempuan di Gerindra daerah, tentu caranya berbeda dengan apa yang dilakukan kaum laki-laki. Meski kadang dilihatnya oleh mereka, saya ini banyak pertimbangan dalam memutuskan sesuatu. Itulah sisi keibuan seorang perempuan. Tapi yang jelas saya tidak ada pikiran untuk korupsi.

Sebagai seorang perempuan, bagaimana Partai Gerindra memperlakukan Anda?

Selama ini Partai Gerindra memperlakukan saya sama dengan yang lain. Tidak ada anak emas, atau dininabobokan, atau bahkan dianaktirikan. Memang kita sama dengan yang lainnya harus disiplin dalam menjalankan tugas organisasi kepartaian. Mungkin bisa jadi, antar DPD tentu berbeda perlakuannya, sesuai dengan kemampuan hingga kondisi geografisnya. Pasalnya ada ketua DPD yang juga menempati posisi strategis di daerahnya, seperti merangkap sebagai gubernur, bupati atau tokoh masyarakat. Sementara Bengkulu itu hanya dipimpin oleh seorang perempuan. Tapi jangan salah, Bengkulu itu ditopang oleh orang-orang hebat.

Bisa diceritakan awal mula Anda bergabung ke Partai Gerindra?

Awalnya memang tidak sengaja. Tapi saya anggap sudah takdir saya, harus berada di Gerindra. Sebenarnya, jelang pemilu legislatif 2009, saya sudah ditawari menjadi caleg di partai lain, tapi saya menolaknya. Anehnya entah kenapa, ketika saya mengantar seorang teman untuk ikut mencalonkan diri di Partai Gerindra, malah saya tertarik. Dan bahkan hanya dalam waktu tiga hari saya bisa menyelesaikan semua persyaratan administrasinya.

Jadi, waktu itu saya sedang berada di kawasan Pondok Indah untuk keperluan jual beli rumah, ternyata yang punya rumah bilang hanya punya waktu sebentar karena harus ke jalan Brawijaya untuk daftar jadi caleg. Akhirnya saya pun ikut sekalian mengantar dia ke Brawijaya. Sesampainya disana, saya dibujuk, kenapa tidak sekalian ikut daftar saja. Entah kenapa saat itu juga saya merasa ada panggilan hati untuk ikut nyaleg. Lalu saya pun ditempatkan di dapil Bengkulu. Meski memang pada akhirnya tidak lolos ke Senayan, saya hanya bisa mengumpulkan sekitar 30 ribuan suara. Bukan karena saya kurang maksimal tapi memang berdasarkan perhitungan KPU saya menempati posisi ke lima dari empat kursi yang diperebutkan waktu itu.

Apa yang membuat Anda mau terjun ke dunia politik?

Sejak saya memutuskan untuk ikut jadi caleg dari Gerindra, sejak saat itulah Gerindra mendarahdaging dalam diri saya. Harus diakui, setelah saya pelajari lebih dalam sebelum terjun langsung, perjuangan Gerindra benar-benar untuk rakyat. Dan itu terbukti, tidak hanya saya yang terpikat dengan Gerindra, malah sekarang masyarakat sepertinya berbondong-bondong ke Gerindra. Meski bukan karena program yang dicanangkan Gerindranya tapi sosok Prabowo yang membuat masyarakat. Termasuk keluarga besar saya yang memang sama sekali tidak ada yang terjun ke politik. Tapi ketika saya terjun ke partai politik, keluarga semuanya malah mendukung. Bukan karena saya partai yang dipilihnya Gerindra, tapi lebih melihat pada sosok Prabowo Subianto. Anehnya, sekarang ini baik saya maupun keluarga kalau ada orang yang bilang sesuatu tentang Gerindra itu apa gitu, rasanya sensitif banget kita.

Lantas bagaimana awal mula Anda ditunjuk sebagai ketua DPD Bengkulu?

Konon menurut pihak DPP, penunjukan itu lebih pada karena kinerja saya sewaktu pencalegan pada pemilu 2009 lalu. Awalnya, sebagai Pjs (pejabat sementara) menggantikan posisi ketua. Lalu sejak 2010 kemarin, saya pun dikukuhkan sebagai ketua. Mungkin ini takdir Allah, kalau saya duduk di kursi Senayan itu saya tidak bakal ngerti apa-apa, tapi harus belajar dulu. Dengan demikian Allah menunjukkan pada saya untuk belajar dulu baru terjun ke politik praktis. Dan sekarang saya tengah menikmati bagaimana perjuangan di partai politik dengan cara terjun langsung ke masyarakat, mengerti apa yang diinginkan masyarakat, konstituen khususnya dan pada akhirnya saya pun lebih paham serta memahami apa kemauan masyarakat.

Bagaimana Anda dalam menjalankan tugas sebagai ketua DPD?

Awalnya memang masih meraba-raba, tapi lama-lama saya menikmatinya. Bukan karena melihat background-nya, tapi malah saya ikut hanyut sejak kampanye dulu hingga sekarang ketika turun ke bawah. Saya ini easy going. Hampir seluruh pelosok Bengkulu sudah saya kunjungi. Bahkan ke daerah yang harus ditempuh perjalanan darat berjam-jam pun saya lakukan. Termasuk ketika harus bermalam di jalan atau di rumah penduduk yang tidak saya kenal sebelumnya. Saya tidak pernah takut.

Jadi, menurut Anda politik itu apa?

Politik itu melakukan sesuatu untuk rakyat. Siapapun harus berpolitik kalau mau merubah nasib sebuah bangsa. Tapi bukan sekadar menjadi politisi, tapi kita juga harus bisa berpolitik. Sebagaimana arahan dari Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, bahwa kita bukan politisi, tapi kita pejuang untuk mempertahankan NKRI sampai darah penghabisan. Oleh karena itu kita harus tampil kepada rakyat sebagai pembela kebenaran, kejujuran, membela yang lemah, membela semua golongan, karena itu ruh dari partai Gerindra. Itulah yang saya maksud politik itu melakukan sesuatu untuk rakyat.

Apa pandangan Anda dan keluarga terhadap sosok Prabowo?

Yang jelas, pertama beliau terlahir dan dibesarkan di keluarga yang terpelajar. Siapa yang tak mengenal orangtua beliau. Kedua, beliau merupakan sosok pemimpin yang berani, tegas, disiplin tapi bukan diktator dan bukan demokrasi seenaknya saja seperti yang berjalan saat ini. Beliau adalah perpaduan sosok Soekarno dan Soeharto.

Memang seperti apa kondisi kepemimpinan di Indonesia saat ini?

Ya boleh dibilang butut. Saya tidak mengatakan butut ini bukan lima tahun yang lalu, tapi dua tahun terakhir ini. Buktinya banyak kecurangan-kecurangan, ketidakadilan di mana-mana baik tingkat pusat maupun daerah. Perlu diingat, masyarakat kita itu tidak bodoh. Memang mereka kecewa, dan merasa tertindas, tapi tidak punya kekuatan untuk melawan. Untuk itu solusinya kepemimpinan kita harus diganti dengan pemimpin yang tegas, tahu dan mau bekerja untuk melaksanakan tugasnya, dan mendengar kemauan rakyat.

Seperti apa Suka duka dalam memimpin partai?

Yang jelas, saya bisa merangkul semua kalangan. Alhamdulillah selama ini tidak ada gontok-gontokan. Selama ini mereka (pengurus) merasa senang ada ibunya, ada yang menganggap kakak. Kalau yang dukanya, paling gossip, isu-isu sebagai seorang perempuan yang terjun ke dunia politik yang mungkin itu banyak juga dialami oleh teman-teman perempuan lainnya.

Apa pesan untuk para kader Gerindra di Bengkulu?

Tentunya baik saya maupun kader Bengkulu harus terus bekerja keras untuk memenangkan partai, mensosialisasikan partai dan Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Tetap dalam satu barisan, jaga loyalitas dan kekompakan untuk menang di 2014 baik pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. [G]

Nama Lengkap:

Susi Marleny Bachsin, SE, MM

Tempat dan Tanggal Lahir:

Jakarta, 19 November 1960

Jabatan:

Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Bengkulu, 2010 – sekarang

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Mei 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s