Peta Kekuatan Politik Prabowo

Sampai hari ini Prabowo Subianto adalah calon Presiden RI terpopuler. Namanya kerap disebut di urutan paling atas dalam setiap survei manapun. Prabowo tak sekedar paling dikenal oleh rakyat yang menjadi pemilih pada Pemilu 2014 mendatang, tapi memiliki kekuatan dari segi massa politik.

psPesta demokrasi lima tahunan memang masih lama, tapi hiruk pikuk persiapan ‘perang’ politik jelang 2014 kian terasa. Buktinya, tak sedikit parpol termasuk tokoh politiknya mendeklarasikan diri untuk maju dalam pemilihan presiden (pilpres) mendatang. Meski bisa dipastikan pada akhirnya tawar menawar kekuatan, persekutuan dan dukungan akan mewarnai peta perpolitikan usai pemilihan umum legislatif (pileg) nanti.

Memasuki semester kedua tahun 2012 ini, muncul sejumlah sosok calon presiden yang menjadi perbincangan publik. Salah satunya adalah Prabowo Subianto, Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini memiliki popularitas paling tinggi. Partai Gerindra sendiri telah menetapkan Prabowo Subianto sebagai calon Presiden RI 2014-2019, pada Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Gerindra di Bukit Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pertengahan Maret lalu.

Berdasarkan survei yang dilakukan Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) yang dirilis Rabu, 6 Juni 2012 silam, menunjukkan elektabilitas Prabowo sebagai calon presiden di posisi teratas dengan dukungan 25,8 persen dari total 2.192 responden. Namun perlu diingat, dari pilihan responden, Partai Gerindra yang menjadi kendaraan politik Prabowo, dalam survei ini masih menempati posisi ke empat dengan raihan suara 10,5 persen. Survei sendiri dilakukan di 33 provinsi mencakup 163 kabupaten/kota dengan margin of error 2,09 persen.

Sebelumnya, di awal tahun 2012 Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis) merilis hasil surveinya yang menempatkan figur Prabowo menempati urutan teratas sebagai figur yang disukai publik dengan 16,40 persen dari 1.850 responden. Selain itu, Puskaptis juga merilis bahwa sejumlah tokoh yang masih popular di kalangan masyarakat sampai hari ini. Sebesar 83,35 persen menyebutkan nama Prabowo Subianto. Survei yang menggunakan metode multistage random sampling yang dilakukan sejak Januari hingga Februari 2012 itu digelar di 33 provinsi dengan sampling error 2,5 persen yang terbagi atas 50:50 berdasarkan jenis kelaminnya.

Sementara lembaga survei Indo Barometer, Jaringan Survei Indonesia (JSI) dan Lembaga Survei Indonesia (LSI) menempatkan posisi Prabowo di urutan kedua. Indo Barometer merilis hasil surveinya –yang digelar pada 8-19 Mei 2012— bahwa Partai Gerindra sebagai pengusung Prabowo meraih 9,8 persen dari 1.200 responden. Dengan hasil survei yang dilakukan keempat lembaga itu menunjukkan Partai Gerindra mengalami kemajuan yang signifikan jika dibanding dengan perolehan partai ini di Pemilu 2009 yang hanya 4,46 persen.

Menurut pakar komunikasi politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Hasrullah,  Prabowo jauh lebih memiliki kemampuan memimpin dan berkarakter. Dari segi penampilan dan dalam berargumentasi, Prabowo dinilai sangat meyakinkan. “Prabowo memang sudah waktunya memimpin negeri ini,” paparnya seperti yang dilansir situs republika.co.id beberapa waktu lalu.

Sejatinya, Indonesia membutuhkan pemimpin muda yang mampu mengubah arah. Faktanya peta politik sejak bergulirnya reformasi 14 tahun silam masih didominasi pemain lama. Sementara para aktor reformasi satu per satu mundur ke belakang. Tampilnya Prabowo Subianto ke arena pertarungan kursi RI-1 bukan untuk gagah-gagahan, tapi jawaban atas kerinduan rakyat Indonesia –yang bosan dengan kondisi negeri yang kian tak menentu— akan hadirnya pemimpin yang berkarakter.

Konsep politik Prabowo

Prabowo Subianto dalam bukunya Membangun Kembali Indonesia Raya, Haluan Baru Menuju Kemakmuran (2009) menuangkan pemikirannya bahwa negara kaya dengan sumber daya alam mineral, dan iklim tropis yang mendukung pertumbuhan Indonesia sebagai negara lumbung pangan yang besar, namun rakyatnya miskin. “Hal ini yang saya sebut sebagai paradoks Indonesia,” tulis Prabowo Subianto.

Menurutnya, berdasarkan neraca ekspor impor Indonesia –yang merupakan salah satu tolok ukur untuk menilai kekuatan dan kesehatan ekonomi suatu bangsa— telah terjadi Net Outflow of Wealth dari bangsa Indonesia yaitu arus keluar kekayaan bangsa dan karenanya bangsa Indonesia tidak menikmati akumulasi kekayaan nasional.

Berdasarkan data tahun 1997 sampai dengan 2007, bahkan 2008 terjadi net profit sebagai bangsa yaitu ekspor kita melebihi impor kita rata-rata 25 miliar dolar tiap tahunnya. Tetapi Bank Indonesia mengumumkan pada tahun 2009 cadangan devisa kita selalu berada di kisaran 50 miliar dolar. Berarti terjadi Net Loss of National Wealth sebesar kurang lebih 250 miliar dolar. Artinya, dimana keuntungan dan kekayaan bangsa tidak tinggal di Republik Indonesia.

“Kondisi mendasar inilah yang membuat saya menilai bahwa ada sesuatu yang salah pada sistim perekonomian yang kita anut,” tegasnya.

Telah nyata bahwa liberalisasi dan mekanisme pasar yang dianut selama telah melanggar UUD 1945 pasal 33. Pasalnya, kebijakan liberalisasi dan kapitalisasi sejatinya menyesatkan dan menyengsarakan rakyat Indonesia di negerinya sendiri. Di era reformasi, perekonomian dalam negeri malah cenderung kian parah di dalam jeratan neoliberal. Liberalisasi, kapitalisasi kian nyata menjadi identitas bangsa melalui berbagai produk aturan yang bersifat bebas. Peran pemerintah atau negara selaku regulator makin terkikis dan mau tidak mau harus mengikuti mekanisme pasar bebas. Proteksi atas kekayaan dan kedaulatan negeri pun kian tergerus. Tak pelak, kondisi ini telah menciptakan dominasi asing dalam kelangsungan ekonomi bangsa.

Padahal, sumber pendapatan negara yang berasal dari tanah, air, udara, laut serta tambang, juga semua hasilnya semestinya menjadi milik negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk segenap warna negara sesuai kebutuhan dan haknya. Nyatanya, nyaris semua potensi sumber daya alam itu terkuras dan diserahkan kepada pihak asing. Negeri Indonesia beserta penduduknya pun hanya menjadi penonton dan menjadi pasar yang menggiurkan. Karenanya, diperlukan pemimpin yang mampu meluruskan sistim, merombak sistim yang ada agar rakyat merasakan kebahagiaan hidup dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. “Kita harus berani meninggalkan ataupun mengoreksi sebuah sistim ekonomi yang tidak membawa kemakmuran kepada rakyat banyak,” tegasnya.

Ajakan untuk mengembalikan kesejahteraan yang berlandaskan Pancasila dalam rangka mewujudkan kejayaan Indonesia Raya, maka mau tidak mau harus kembali menjadikan ekonomi kerakyatan sebagai dasar landasan dalam pengembangan ekonomi negara. Tentu, revolusi pemikiran ekonomi kerakyatan harus terus digelorakan untuk menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang terwujud dalam tatanan masyarakat yang adil dan makmur. Dan inilah yang menjadi perjuangan Prabowo dalam membangun kembali Indonesia Raya sebagai haluan baru menuju kemakmuran.

Setidaknya ini pula kekuatan konsep politik Prabowo untuk menghadapi konstelasi politik pada Pemilu 2014 mendatang yang bisa dijadikan jaminan bagi kemenangan Prabowo menuju kursi RI-1. Ekonomi kerakyatan yang terus didengungkan Prabowo lewat berbagai program aksi Partai Gerindra yang dikenal dengan 8 (delapan) program aksi selama ini. Isu ekonomi kerakyatan sudah tak asing lagi, konsep ekonomi kerakyatan yang digerakkan Prabowo dinilai banyak pihak sebagai alternatif politik paling revolusioner untuk mengembalikan penerapan Pasal 33 UUD 1945.

Dalam setiap kesempatan, Prabowo selalu mengobarkan semangat rakyat Indonesia untuk mengembalikan kedaulatan ekonomi, kedaulatan energi, kedaulatan pangan dan kedaulatan bangsa ke tangan anak bangsa. Selain itu, gelora serupa pun kerap disampaikan Prabowo lewat iklannya yang memikat banyak kalangan.

“Apabila ada kehendak politik yang keras, kepemimpinan yang tegas dan berani, sesungguhnya bangsa Indonesia bisa keluar dari lingkaran paradoks Indonesia, bahwa kita bisa bangkit menjadi negara makmur,” tandas mantan Danjen Kopassus ini.

Figur yang kuat

Sosok Prabowo sebagai prajurit TNI yang gagah berani kerap menjadi simbol keberanian seorang prajurit. Dari sekian calon kuat presiden, Prabowo lebih dikenal sebagai simbol kebangkitan kaum nasionalis. Kemunculan Prabowo memberi secercah harapan baru bagi rakyat Indonesia yang sudah jenuh dengan janji-janji reformasi dan demokrasi yang ternyata kian menyengsarakan. Bahkan sejak 14 tahun reformasi digulirkan, bangsa Indonesia seakan kehilangan identitas. Kondisi ini bukan berarti rakyat Indonesia anti reformasi dan demokrasi. Tapi sepertinya, kegelisahan rakyat sudah mencapai titik jenuh terbawah.

Disisi lain kerinduan rakyat Indonesia akan kemakmuran, kesejahteraan, ketenangan yang pernah ditoreh Presiden Soeharto memang tak bisa dilupakan begitu saja. Pun dengan kenangan posisi Indonesia sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat di mata dunia dibawah kepemimpinan Soekarno kian menggebu. Figur Prabowo sebagai mantan prajurit dengan segudang prestasi dinilai banyak pihak mampu mengkombinasikan karakter Soeharto dan Soekarno mengantarkan cita-cita luhur tersebut. Meski, tak dipungkiri ada banyak juga pihak yang siap mengganjalnya dengan berbagai isu.

Majunya Prabowo sebagai calon presiden terkuat kian jelas dengan adanya jalinan yang harmonis antara Prabowo dan Megawati Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang pernah bersekutu maju pada pemilu lalu.  Hal ini diperlihatkan lewat persetujuan Mega atas tawaran Prabowo untuk menyandingkan Joko Widodo (Jokowi) kader PDI-P dengan Basuki Tjahya Purnama (Ahok) dalam perebutan kursi gubernur DKI Jakarta –yang berlaga pada 11 Juli ini melawan lima pasangan lainnya termasuk incumbent. Pasalnya, jika pasangan ini berhasil memenangkan Jakarta, maka menjadi modal utama kedua parpol ini untuk kembali bersatu berlaga di pilpres 2014 nanti. Banyak pihak menilai dengan persekutuan ini, tangan Prabowo memiliki kemampuan memelihara kekuatan massa sekaligus kekuatan politik hingga di tingkat akar rumput PDIP dan Gerindra yang selama ini dinilai militan.

Perlu diingat, bahwa dalam demokrasi tak ada beda satu suara seorang intelektual atau suara tukang ojek. Karena kekuatan politik dihitung berdasarkan suara yang masuk. Dan meski tak sedikit pengamat politik yang meyakini kalau langkah Prabowo akan terganjal elektabilitas Partai Gerindra –jika partai berlambang kepala burung garuda itu tak mampu menembus angka ambang batas— yang masih rendah sebagai modal pengusungan presiden. Selain kerja keras mesin-mesin politik Partai Gerindra di setiap lini yang terus bergerak, ada kabar baik datang dari politisi kawakan, Permadi yang mengatakan bahwa Megawati Soekarnoputri berjanji akan mencalonkan Prabowo sebagai presiden pada pilpres 2014 nanti.

Boleh jadi, dari sekian banyak tokoh nasional yang mencalonkan diri sebagai calon presiden RI, tokoh yang benar-benar menawarkan perubahan politik dalam jangka panjang adalah Prabowo Subianto. Pemimpin baru, haluan baru dan harapan baru. [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Juli 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s