Ida Bagus Putu Sukarta : Mengemban Amanah Rakyat

Keputusannya untuk terjun di dunia politik sempat membuat kaget keluarga besarnya, termasuk sesama pemangku adat di tanah kelahirannya. Terlebih ia berasal dari kaum brahmana yang juga tengah mengemban amanah sebagai salah satu ketua adat banjar di Bali. Namun, karena panggilan jiwa dan rasa tanggungjawabnya sebagai pimpinan adat inilah yang mengantarkannya terjun ke panggung politik praktis.

idabagusIda Bagus Putu Sukarta, SE, MSI, disamping untuk meluruskan pandangan masyarakat terhadap aktivitas politik, keberadaannya di partai politik juga lebih pada sebagai pengontrol di luar lingkar kekuasaan. “Saya ingin mengubah anggapan orang banyak selama ini yang menilai bahwa politik itu kotor, padahal kalau kita memahami tujuannya, ternyata politik itu suatu perbuatan yang mulia. Saya merasa terpanggil untuk memperbaiki image itu,” ujar pria kelahiran Denpasar, 20 Februari 1964 ini.

Tentu saja, tampilnya di panggung politik bukan sekadar gagah-gagahan atau ikut-ikutan belaka. Terlebih ia sendiri berasal dari kalangan brahmana, tentunya tugas dan tanggungjawabnya tak sekadar seperti politisi biasa. Untuk itu, pria yang biasa disapa Gus Karta ini berkomitmen untuk senantiasa menjadi politikus yang berlaku baik, berakhlak mulia dan berpihak kepada rakyat. “Saya yakin kalau kita berbuat seperti itu maka masyarakat pun akan ikut dengan kita. Sehingga lambat laun kesan terhadap politik itu tidak seperti yang dianggap orang selama ini,” tegas Ketua Adat Banjar Buruwan, Sanur, Bali yang didapuk sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Provinsi Bali ini.

Memang, awalnya ketika diminta untuk ikut dalam pencalonan anggota legislatif pada Pemilu 2009 silam, ia tak langsung mengiyakannya. Tawaran itu ia diskusikan dulu dengan keluarga, terutama sang istri. Bahkan ada salah satu partai yang menawarkan dirinya untuk duduk sebagai anggota dewan tanpa harus bersusah payah. Baginya tak masuk akal, karena disamping sistim pemilu yang berbeda, ayah dua anak ini sama sekali tidak tertarik.

Berbeda ketika mendengar Prabowo Subianto, tokoh yang selama ini dikaguminya akan mendirikan partai ia pun tertarik. Setelah mempelajari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Gerindra ia pun merasa terpanggil untuk bergabung. Lantas ia pun diminta untuk mendaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) tingkat DPRD Provinsi Bali pada pemilu 2009. Nama Ida Bagus Putu Sukarta berada di nomor urut 3 dan bersaing dengan 12 orang caleg di dapilnya. Bahkan dari desanya, dia harus bersaing ketat dengan lima caleg yang semuanya tak sekadar sudah berpengalaman tapi merupakan calon incumbent.

Menurutnya, selain berada di nomor urut tiga, sebagai pemula dan partai baru, bisa jadi tidak dilirik bahkan yang ada mungkin rugi kalau menghadapi lawan-lawan yang kuat dari segi finansial maupun massa. Gus Karta tak ambil pusing, baginya yang penting bekerja, bergerak mendekati masyarakat dan komitmen dengan keluarga yang mencapai 150 Kepala Keluarga untuk mendukungnya. Berkat kerja kerasnya, suami dari Ida Ayu Kalpikawati ini berhasil meraih sekitar 9.000 suara yang mengantarkankan ke kursi dewan provinsi. Di kancah parlemen pun pamor Gus Karta dan Partai Gerindra kian bertaji. Meski hanya ada dua kursi, ia terpilih sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali.

Sebagai seorang brahmana yang terjun ke kancah politik tentu memiliki banyak cara dan strategi untuk bisa mendekatkan Gerindra dengan rakyatnya. Terlebih peraih gelar magister di bidang Kepemimpinan dan Politik Hindu dari Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar ini banyak mendapatkan pelajaran hidup dari sang kakek yang menggemblengnya sejak usia anak-anak. Tidak hanya itu, putra pejuang kemerdekaan yang sudah dipercaya sebagai klian adat sejak 2003 lalu, memiliki jaringan yang kuat baik di kalangan masyarakat adat maupun akademisi. Tak heran bila ia berhasil mengawinkan nilai-nilai kearifan lokal dengan manivesto perjuangan Partai Gerindra dalam membesarkan partai berlambang kepala burung garuda ini.

“Dalam mengembangkan partai, saya banyak mengadopsi kearifan lokal yang begitu luhur,” ujarnya.

Seperti apa nilai-nilai kearifan lokal yang diterapkannya selama ini? Lalu bagaimana pula pandangan politik, perjuangan serta strategi pencapaian yang tengah dirancangnya dalam rangka memenangkan Partai Gerindra di Bali? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Garuda, ayah dari Ida Bagus Yoga Adi Putra dan Ida Ayu Listya Candradevi ini memaparkan saat ditemui di kantor penghubung Pemerintah Propinsi Bali di Jakarta beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya:

Bisa diceritakan bagaimana perkembangan Partai Gerindra di Bali?

Di awal kehadirannya, Gerindra di Bali memang masih kecil tapi sekarang gaungnya sudah luar biasa. Diakui memang, untuk mengajak masyarakat Bali untuk berpolitik agak sulit. Ada banyak kasus di masa lalu yang membuat perpecahan akibat masuknya parpol dalam kegiatan adat masyarakat Bali. Di samping itu di Bali sendiri dikenal dengan adanya dua tata kelola kehidupan bermasyarakat yakni adat dan pemerintahan dinas (desa/kelurahan). Adat sendiri mulai dari Banjar sampai Pekraman. Ada yang terdiri puluhan Banjar dalam satu Pekraman atau dalam satu desa dinas ada satu Pekraman. Nah, kalau kita datang dengan membawa atribut partai pasti ditolak.

Lantas apa yang Anda lakukan menghadapi kondisi seperti itu?

Dalam rangka menarik hati masyarakat Bali untuk mengenalkan Partai Gerindra, saya menerapkan konsep Menyame Braye (saudara) sebagaimana yang dilakukan masyarakat Bali selalu menyebut Menyame Braye pada semua masyarakat yang bukan Bali sekalipun, misalnya Nyame Slam (saudara Islam), Nyame Kristen (saudara Kristen), Nyame Budha (saudara Budha) dan lain-lain.  Nah, konsep inilah yang kita lakukan di Bali, dimana kita berada, ketika ada di masyarakat adat, meski ketua klian itu tidak sekolah sementara kita profesor, doktor, maka tetap kita harus menghormati kedudukan orang itu, baik itu tua umur, tua ilmu, tua pengalaman ya kita tetap harus hormat.

Selain konsep Menyame Braye itu kita juga menekankan kepada para kader bahwa dalam mengembangkan dan memperjuangkan membesarkan partai kita mempunyai tiga landasan. Pertama; Tri Kaye Parisudhe (tiga perbuatan yang menyembuhkan). Inilah landasan ajaran etika agama Hindu yang dipedomani oleh setiap individu guna mencapai kesempurnaan dan kesucian hidupnya, diantaranya; berpikir yang benar, berbicara yang benar dan berbuat yang benar kepada rakyat. Jangan sampai berbohong kepada rakyat. Ini harus dipegang dalam diri kita dengan kuat. Jangan sampai ini hanya slogan. Kedua; Tri Hita Karane, yakni manusia itu harus bakti kepada Tuhan, hormat dengan sesama, hormat dengan alam. Bahkan saking hormatnya, Tuhan pun bisa sering kita manfaatkan. Kita sering mengatasnamakan Tuhan. Ketiga; Tatwam Asi, yakni filosofi   ajaran Hindu yang artinya kamu adalah aku, aku adalah kamu, kamu dan aku adalah sama. Jadi kalau kamu dipukul sakit, saya pun sakit. Artinya jika tidak mau sakit jangan sakiti orang. Ini yang tengah kita lakukan ke masyarakat.

Nah, biasanya yang kita lakukan adalah ketika ada orang meninggal kita datang sana, ikut duka cita, tanpa membawa-bawa partai. Kalau ada gotong royong kita harus hadir tanpa harus mengenakan baju partai, tapi melebur dengan aktivitas adat. Bukan memasukkan partai ke dalam adat itu tapi kita yang masuk ke dalam adat.

Setelah menerapkan konsep itu bagaimana hasilnya?

Berkat kerja keras para kader yang ada di tingkat provinsi, kabupaten/kota, sekarang Partai Gerindra di Bali sudah 100 persen terbentuk hingga ranting. Di kalangan DPRD, saya sering dibilang, saya ini kemana-mana bawa karung, semua diambil. Bagi saya, wong bukan kita yang ngambil tapi mereka masuk sendiri kok.

Animo masyarakat Bali terhadap Gerindra?

Besar sekali, terlebih dengan adanya sosok Pak Prabowo sekalu Ketua Dewan Pembina. Bahkan kami mendapat dukungan dari semua kalangan di Bali baik akademisi maupun pemangku adat. Kebanyakan dari mereka menginginkan Pak Prabowo untuk maju menjadi Presiden RI. Ini tentunya bermanfaat untuk mengangkat partai.

Jadi dengan pendekatan Menyame Braye selain di kantong-kantong suara Gerindra. Kita juga harus bisa memanfaatkan komponen-komponen partai untuk bergerak dan membesarkan partai. Setiap ada sayap yang datang ke Bali kita akan bentuk seperti PIRA, SATRIA, TIDAR, GEMIRA, KIRA, GEMA SADHANA dan yang lainnya. Kita bentuk dengan kelompoknya masing-masing untuk ikut bergerak.

Khusus untuk PIRA (Perempuan Indonesia Raya), saya sangat antusias sekali untuk dikembangkan. Karena, di setiap kegiatan-kegiatan musik gamelan di Bali misalnya, kalau yang main itu laki-laki, biasanya hanya seberapa yang nonton, tapi kalau kaum perempuan yang main, semua orang nonton mulai dari anak-anak sampai bapak-bapak. Termasuk kegiatan olahraga. Sehingga peran perempuan itu sangat penting. Untuk itu saya tekankan sayap ini untuk terus bergerak. Kalau saya gerakkan sendiri tentu terbatas, saya pun memberikan kewenangan penuh kepada sayap-sayap untuk membentuk hingga ke tingkat ranting. Yang jelas harus tetap berkordinasi dan jangan meng-gerindra-kan orang yang sudah Gerindra.

Bagaimana dengan kondisi kader Gerindra Bali?

Dalam rangka menjaga kebersihan partai dan tetap berjalan sesuai manivesto perjuangan partai, seluruh kader Gerindra Bali berkomitmen untuk tidak main uang. Jika hal itu dilakukan kader, maka tidak akan kita akomodir. Bahkan salah seorang petinggi partai di Bali yang cukup disegani pernah bilang kepada saya, kalau pihaknya tidak takut dengan kader partai besar lainnya, tapi hanya takut dengan kader Gerindra.

Posisi Partai Gerindra di Bali saat ini?

Berdasar hasil pemilu 2009, Partai Gerindra Bali memiliki perwakilan satu orang di DPR-RI, dua orang di DPRD Provinsi dan tujuh orang di DPRD Kabupaten/Kota –yang tersebar di Kota Denpasar dua orang, Kabupaten Klungkung dua orang, Kabupaten Negara dua orang, dan Kabupaten Buleleng satu orang. Dengan perolehan kursi tersebut, Partai Gerindra di Bali berada di posisi empat, meskipun hanya memiliki dua kursi di propinsi.

Lantas berapa target di 2014 nanti?

Kita menargetkan 30 persen suara di Bali. Dan untuk Propinsi dan Kabupaten/Kota menargetkan satu fraksi penuh. Disamping itu kita pun menginginkan untuk mengantarkan Pak Prabowo sebagai calon Presiden tanpa koalisi. Sejatinya, jika semua mesin partai ini bekerja dengan maksimal maka target itu bisa dicapai.

Bagaimana awal mula Anda gabung di Gerindra?

Pertama, melihat sosok Pak Prabowo, sejak dulu kan sudah berprestasi di mata bangsa ini. Karena saya sudah kadung mengagumi ketokohan dan kepemimpinan Pak Prabowo –yang hampir sama dengan kakek saya. Dimana kalau untuk membantu orang, dia berani pinjam uang ke orang. Saya kira Pak Prabowo pantas untuk memimpin bangsa ini, meski mungkin secara materi sudah berkecukupan bahkan lebih. Disamping itu, keluarga saya banyak dari kalangan tentara, sehingga tanpa disadari ikatan jiwa itu sudah menyatu.

Kedua, sebelum masuk, saya baca dan pelajari AD/ART Partai Gerindra lalu saya berdiskusi dengan istri, karena ia mengerti hukum. Akhirnya saya pun membulatkan tekad untuk bergabung di Gerindra. Sebelumnya saya bukanlah kader salah satu partai politik yang ada. Kemudian pada Pemilu 2009 lalu saya mencalonkan diri dan berada di urut nomor 3. Di dapil saya waktu itu ada 12 orang caleg, Gerindra hanya tiga orang. Di desa saya sendiri ada enam orang, termasuk saya sendiri dari Gerindra. Semuanya yang sudah berpengalaman dan semuanya incumbent (Demokrat, Golkar, PNI Marhaen dan PDIP). Tentu saja poisisi saya yang minoritas, bisa jadi tidak dilirik bahkan yang ada mungkin rugi kalau menghadapi lawan-lawan yang kuat dari segi finansial maupun massa. Tapi waktu itu saya tidak berpikir macam-macam yang penting bekerja, bergerak dengan mendekati masyarakat dan komitmen dengan keluarga yang mencapai 150 Kepala Keluarga untuk mendukung saya. Akhirnya saya bisa meraih sekitar 9.000 suara.

Menurut Anda, politik itu apa?

Dimana-mana ada politik. Politik adalah bagaimana menghilangkan kesengsaraan rakyat. itu tugas seorang politisi, supaya politik itu sesuai dengan apa yang menjadi visi misi partai Gerindra. Makanya tugas kita adalah harus berani berkorban dan berakhlak mulia untuk mengantarkan kesejahteraan rakyat.

Menurut Anda bagaimana kondisi kepemimpinan nasional saat ini?

Semua sudah mengatakan dan bahkan masyarakat awam pun sudah mengatakan bahwa pemimpin negera ini kurang tegas. Saya tidak menyalahkan orangnya, tapi para pembisiknya itu yang kadang membuatnya jadi tak tegas dalam bersikap.

Bagaimana pula kepemimpin lokal Bali?

Sementara ini kalau dilihat dari program-programnya bagus, hanya saja aplikasi ke bawahnya kurang, untuk itu memerlukan orang-orang yang mau bekerja keras. Karena selama ini belum dilaksanakan dengan baik dan belum maksimal, makanya saya tekankan harus orang-orang yang mau menjalankan trikaye parisudhe. Kebutuhan dasar masyarakat Bali itu, kalau sudah jalannya bagus, layanan listrik bagus, air bersih, pendidikan lancar, maka apapun yang dikatakan pemimpin, akan diikuti masyarakat.

Dan saya sebagai pucuk pimpinan partai di Bali harus bisa pegang ajaran itu dan tidak mau diganggu dengan deal-deal transaksional. Sebagai ketua DPD dan wakil ketua DPRD, saya akan teguhkan loyalitas kita, kebersihan kita sebagai seorang politisi, kita akan terus berusaha meski manusia tidak ada yang sempurna.

Secara politis, menurut Anda posisi Bali di mata Indonesia?

Bali bukan saja dikenal di Indonesia tapi sudah internasional. Tak heran bila Bali pun menjadi barometernya politik meski penduduknya sedikit, jumlah pemilihnya kecil dibanding dengan wilayah lain, tapi karena Bali sejak dulu selalu disorot dunia, dan menjadi barometer masyarakat internasional, maka Bali juga menjadi barometer nasional. Jadi kalau Bali sudah memilih orang untuk memimpin negeri ini, maka dunia internasional, apalagi nasional pasti akan ikut.

Menghadapi Pilgub 2013 mendatang langkah apa yang dilakukan Gerindra?

Bukan sekadar untuk menghadapi pemilihan kepala daerah (pilkada) saja yang menjadi fokus kita, tapi dalam rangka membesarkan dan mematangkan kader partai, saat ini kita sedang melakukan penggodokan kader menjadi tokoh dan tokoh menjadi kader Gerindra. Dan di 2013 nanti, ada pemilihan gubernur (pilgub) Bali. Beberapa waktu lalu, nama saya muncul dari 15 orang yang dianggap mampu, bahkan ada partai lain ada yang menominasikan nama saya sebagai calon.

Selain adanya para pengurus DPC kabupaten/kota, kita juga punya orang-orang yang bergerak secara bergerilya ke wilayah-wilayah untuk terus memantau perkembangan Partai Gerindra di seluruh Bali. Alasannya, saya pikir bagaimana kita tahu partai ini besar kalau tidak ada yang memantau, makanya saya tempatkan di setiap wilayah satu orang.

Apa pesan buat kader Gerindra Bali?

Marilah kita berbuat sesuai kemampuan kita, berbuat semaksimal mungkin, masalah hasil itu urusan Tuhan yang menentukan. Karena tak dipungkiri, semua yang masuk partai itukan tidak semua murni, tapi ada saja keinginan lain. Untuk itu saya tekankan kepada kader, siapa yang masuk ke Gerindra dan mau jadi caleg dengan main uang maka buru-burulah keluar dari partai ini. Jangan  menjadi tikus yang menggerogoti kepercayaan rakyat, tapi jadilah kader selalu memikirkan dan mewujudkan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Kalau mau jadi orang kaya jangan masuk partai, tapi jadilah penguasaha. Saya berani bertanggungjawab. [G]

IDA BAGUS PUTU SUKARTA, SE, M.Si

Tempat dan Tanggal Lahir:

Denpasar, 20 Februari 1964

Jabatan:

  • Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Bali
  • Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali
  • Klian Gede Adat Banjar Buruwan Sanur, Bali

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s