Mestariyani Habie : Suara Perempuan Penentu Kemenangan

Menjadi politisi memang tidak mudah, apalagi perempuan. Itu disadari Mestariyani Habie. Namun, kiprahnya di parlemen menunjukkan kepada publik bahwa perempuan juga mampu menjalankan amanah politik dengan baik, meski ujiannya luar biasa hebat. Kehadirannya di ranah politik bukan serta merta begitu saja, namun penuh dengan kerja keras dan perjuangan yang melelahkan.

habieSejatinya, tampilnya perempuan di pentas politik bukanlah sebagai kompetitor bagi kaum laki-laki, melainkan sesuatu yang memang seharusnya begitu. Mestariyani, satu dari empat politisi perempuan dari Fraksi Gerindra di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) merasakan itu.

Anggota di Komisi II DPR-RI ini  berpandangan, perempuan adalah sosok istimewa dalam banyak bidang yang berbeda, termasuk keterlibatannya di dalam dunia politik. Sehingga memisahkan perempuan dari politik berarti sama halnya dengan memisahkan masyarakat dari lingkungannya. “Perempuan harus ada keterwakilan, membawa kepentingan, misi, aspirasi, terlebih yang menjadi persoalan kaum perempuan,” ujar perempuan kelahiran Makassar, 23 Januari 1969 ini.

Setidaknya, lanjut Mestariyani –yang biasa disapa Nani ini, partisipasi politik perempuan di dalam parlemen, maupun di struktur organisasi partai politik di Indonesia tak sekadar untuk memenuhi kuota 30 persen. Lebih dari itu, keikutsertaannya di dalam politik diharapkan sebagai upaya mendobrak ketidakadilan gender yang masih melekat dalam kultur bangsa Indonesia. “Karena politik itu proses, strategi dimana tujuannya adalah untuk menyejahterakan bukan menyengsarakan. Dan perlu diingat, suara perempuan penentu kemenangan,” tegas perempuan yang menjabat Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perempuan Indonesia Raya (PP PIRA) sebuah sayap organisasi perempuan di bawah naungan Partai Gerindra.

Keterlibatannya di panggung politik memang tanpa sengaja. Tapi bukan berarti sekadar ikut-ikutan belaka di tengah hingar bingar pesta demokrasi 2009 silam. Setidaknya tawaran untuk gabung di partai politik kala itu datang dari Jusuf Kalla, namun ia tolak. Profesinya sebagai seorang notaris di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) kala itu memang dikenal semua kalangan. Selain sebagai Ketua Ikatan Notaris Indonesia wilayah kawasan Indonesia timur, Nani juga dikenal sebagai notaris yang kerap menggratiskan biaya bagi masyarakat Sulsel yang hendak mendirikan lembaga non profit semisal yayasan.

Suatu ketika, adiknya Irmawatie Habie –yang tinggal di Bogor ikut dalam upaya pendirian Partai Gerindra— meminta bantuannya untuk mencarikan figur calon pengurus di Sulsel. Dengan niat membantu sang adik, ia pun mulai berburu orang-orang yang bakal memimpin Gerindra di Sulsel. Pilihan jatuh pada sahabatnya, Dewi Yasin Limpo, sayang yang bersangkutan sudah dipinang oleh Wiranto untuk memimpin Partai Hanura. Akhirnya, pilihan berikutnya tertuju pada Yuliardi, seorang aktivis HMI Makassar. Karena diburu waktu yang begitu singkat, mau tidak mau Nani pun bersedia didapuk sebagai sekretaris. “Dalam waktu singkat akhirnya kita bisa membentuk kepengurusan DPD dan DPC se Sulsel dan dinyatakan lolos sebagai peserta Pemilu 2009,” tutur ibu dari dua anak ini bersemangat.

Sewaktu pencalegan, sang adik kembali memintanya untuk menggantikan dirinya yang memang mendapatkan posisi pertama untuk daerah pemilihan (dapil) Sulsel 1 yang meliputi Kabupaten Selayar, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa dan Kota Makassar. Setelah menimbang segala sesuatunya, ia pun menyanggupi dan berlaga di Pemilu 2009 di bawah bendera Partai Gerindra. Sejak saat itulah, Nani memberanikan diri untuk terlibat lebih jauh di dunia politik praktis.

Rupanya, seiring berlalunya pemilu, perjuangan berikutnya adalah perebutan sisa satu kursi dari dapil Sulsel 1. Berdasarkan hasil rekap suara, waktu itu ada tiga nama dari tiga partai, salah satunya adalah dia yang berpeluang lolos ke Senayan. Menyikapi polemik yang terjadi, Nani pun memilih bersabar dan menyerahkan urusan itu ke partai. Belakangan juga muncul kisruh SK KPU yang diduga palsu yang dilakukan oleh oknum anggota KPU dan rival politiknya.

Kesabarannya berbuah manis, ia pun dinyatakan berhak melenggang ke Senayan. Pasalnya, berdasarkan sidang Mahkamah Konstitusi, dua rival politiknya terbukti melakukan penggelembungan suara dan yang satu lagi terkait surat keputusan palsu. “Ini semua tidak terlepas dari adanya campur tangan Tuhan,” ujar anggota Badan Legislasi DPR-RI ini.

Sebelum terjun langsung di jalur politik, perempuan anak pertama dari sembilan bersaudara ini mengaku banyak belajar perihal dunia politik dari ibunya. Kala itu dia menjadi ‘tukang ketik’ hasil rapat ibunya sebagai anggota DPRD Kota Makassar. “Sebagai tukang ketik, saya jadi tahu keputusan-keputusan politik yang ada di parlemen. Tak jarang saya juga mengoreksi dan member masukan kepada ibu atas pendapat-pendapat yang ada di draf tersebut,” cerita lulusan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar ini.

Setelah berkantor di Senayan, Nani –yang mempunyai latar belakang profesi sebagai notaris— memilih untuk berada di Komisi II DPR-RI yang membidangi urusan Pemerintahan Dalam Negeri, Aparatur Negara, Otonomi Daerah, dan Agraria. Dan sebagai anggota Baleg DPR-RI, tengah mengawal revisi UU Jabatan Notaris. “Saya milih hal ini karena sesuai kapasitas dan kemampuan saya sebagai notaris. Apalagi saya juga punya konstituen para notaris dan turunannya,” ujar politisi perempuan asal Sulsel yang turut terjun langsung memenangkan pasangan Garuda-Na dalam ajang pemilukada Sulsel 2013 mendatang.

Lantas seperti apa perjuangan dan pemikirannya dalam menjalankan aktivitas politiknya baik di kursi parlemen maupun di tengah masyarakat? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Garuda, politisi asal Sulawesi Selatan ini memaparkannya dengan gamblang saat ditemui di ruang kerjanya di gedung wakil rakyat Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya:

Sejak kapan Anda mengenal politik?

Dunia politik praktis yang saya geluti, ya sejak masuk Gerindra. Tapi mengenal dunia politik, waktu ibu saya menjadi anggota DPRD Kota Makassar. Waktu itu saya selalu menjadi tukang ketiknya ibu. Setiap hasil sidang atau rapat ibu sebagai wakil rakyat setiap hasil sidang rapat. Sebagai tukang ketik, saya jadi tahu keputusan-keputusan politik yang ada di parlemen. Tak jarang saya juga mengoreksi dan memberi masukan kepada ibu atas pendapat-pendapat yang ada di draf tersebut.

Menurut Anda politik itu apa?

Politik itu strategi dalam mencapai tuhuan yang akan dicapainya. Jadi tergantung tujuannya apa? Karena menurut saya politik itu proses, strategi dimana tujuannya adalah untuk menyejahterakan bukan menyengsarakan.

Bisa ceritakan bagaimana awal perjuangan politik praktis Anda?

Perjuangan politik saya boleh dibilang tanpa disengaja, tapi bukan sekadar kebetulan, karena semua itu sudah menjadi takdir Tuhan. Dulu, saya beranggapan bahwa politik itu adalah satu kegiatan untuk kepentingan golongan saja, tentu ini menggiring pemikiran saya bahwa politik itu tidak baik. Seiring berjalannya waktu, saya diajak Pak JK (Jusuf Kalla) untuk bergabung ke Partai Golkar, namun saya menolak. Begitu juga ketika seorang teman mengajaknya untuk masuk ke PAN, saya pun menolaknya. Padahal saya sebagai Ketua INI (Ikatan Notaris Indonesia) wilayah Indonesia Timur bisa saja memanfaatkan peluang itu.

Tak lama kemudian, adik saya, Irmawati Habie yang ikut mendirikan Partai Gerindra waktu itu tengah mencari figur untuk menjadi pemimpin daerah di Sulsel. Lalu dia menghubungi saya untuk minta tawarkan hal itu kepada Dewi Yasin Limpo. Tapi terlambat, ternyata dia sudah gabung dengan Partai Hanura. Bahkan saya juga sempat konsultasi dengan gubernur Syahrul Yasin Limpo untuk keperluan tersebut, ia pun berjanji akan menyodorkan kandidat kalau memang Prabowo Subianto benar-benar ada di belakang Partai Gerindra. Akhirnya hingga menjelang batas akhir, kita belum dapat figur yang bakal memimpin Gerindra Sulsel. Lalu adik saya mengusulkan nama Yuliardi, seorang aktivis HMI. Setelah diskusi akhirnya disepakati Yuliardi sebagai ketua dan saya sekretarisnya, karena memang waktunya sangat mendesak.

Ada benarnya juga pesan orangtua bahwa dimana pun kita berada maka kita harus bisa bermanfaat bagi lingkungan, maka ketika saya menjabat sebagai notaris, maka saya pun menggratiskan masyarakat yang berniat membuat akta yayasan. Dan memang, di Sulsel itu sudah tahu, kalau mau buat akta yayasan, ya datang saja ke Notaris Mestriyani Habie, pasti gratis. Rupanya, mereka yang tersebar di Sulsel yang pernah kita bantu itu membentuk sebuah forum. Mengingat batas waktu verifikasi makin dekat, akhirnya saya menghubungi orang-orang yang tergabung dalam forum yayasan yang saya keluarkan aktanya. Rupanya tanpa saya minta mereka sangat antusias untuk membantu membentuk kepengurusan di tingkat kabupaten/kota. Alhamdulillah Partai Gerindra terbentuk di seluruh kabupaten/kota di Sulsel.

Setelah semua terbentuk, kami pun membawa berkas ke Jakarta. Dalam sebuah pertemuan, Pak Prabowo memberikan arahan bahwa jika Gerindra lolos maka ia akan tinggalkan Golkar. Sejak saat itu, semangat saya kian berkobar untuk membesarkan Gerindra di Sulsel.

Lantas bagaimana pula akhirnya Anda duduk di kursi parlemen Senayan?

Waktu proses pencalegan, saya diminta untuk mengisi posisi nomor urut pertama menggantikan adik saya. Awalnya saya menolak dan berniat hanya untuk membesarkan Gerindra di Sulsel, tapi karena desakan dan adik saya yang memang memberi kesempatan kepada saya untuk lebih terlibat di partai, saya pun memberanikan diri maju. Waktu itu adik saya bilang, kenapa perjuangannya cuma sampai disini, potensi dan kedudukan saya sebagai notaris untuk kawasan Indonesia Timur sudah berada di puncak, sudah saatnya menunjukkan kemampuan ke tahap yang lebih tinggi lagi dengan menjadi wakil rakyat.

Akhirnya nama saya pun terpampang sebagai caleg untuk daerah pemilihan Sulsel 1 yang meliputi Kabupaten Selayar, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa dan Kota Makassar. Seperti halnya para caleg lain, saya pun kembali berjuang turun langsung ke pelosok wilayah dapil 1 dengan tidak lupa memanfaatkan jaringan yang sudah terbentuk sebelumnya. Waktu itu yang ada dalam pikiran saya yang penting berjuang sekuat tenaga, adapun hasilnya saya serahkan kepada Allah. Alhamdulillah akhirnya saya dinyatakan lolos ke Senayan.

Melenggangnya Anda ke Senayan sempat terganjal masalah, bisa diceritakan kenapa?

Memang benar. Proses sebenarnya, berdasarkan peraturan, rekap suara itu ada yang namanya putaran ketiga. Nah rupanya masih ada sisa satu kursi dari dapil sulsel 1 yang kosong dan berdasarkan perhitungan maka kursi itu milik Gerindra. Memang waktu itu menjadi rebutan Golkar, Hanura dan Gerindra. Ternyata, waktu itu caleg dari Golkar menggelembungkan suara, Hanura juga sama. Pada waktu itu juga muncul SK KPU yang mengangkat Dewi sebagai anggota yang lolos, namun surat SK tersebut disinyalir palsu

Di pihak lain, di Makassar adik saya didatangi seorang professor hukum yang menjadi dosen di UMI Makassar yang sekarang jadi hakim Tipikor. Dia bersedia membantu mengurus permasalahan tersebut ke Mahkamah Konstitusi (MK). Padahal adik saya sudah mengajukan ke KPU, termasuk ke MK, tapi semua pintu sudah ditutup. Lalu lewat profesor itulah bisa terbuka aksesnya hingga ke MK dan akhirnya Ketua MK, Mahfud MD memutuskan bahwa SK itu palsu dan suara itu memang benar semestinya milik saya. Lagi-lagi disini ada campur tangan Tuhan.

Setelah duduk di parlemen, apa tugas Anda?

Sekarang saya duduk di Komisi II dan Badan Legislasi (Baleg) DPR. Memang saya yang minta, sebagai notaris dan PPAT, saya melihat di Komisi II meliputi Pemerintahan Dalam Negeri, Aparatur Negara, Otonomi Daerah, dan Agraria. Kita tahu betapa bobroknya penanganan agraria yang ditangani Badan Pertanahan Nasional, makanya saya ingin memperbaiki dan memberi sesuatu yang memang sesuai kapasitas saya sebagai notaris. Sementara saya masuk ke Baleg, memang itu permintaan saya atas permohonan teman komisi yang ada di Baleg DPR, yang memintanya untuk mengawal revisi Undang-undang Jabatan Notaris. Akhirnya saya direstui fraksi untuk menjadi anggota Baleg, terlebih fraksi pun percaya bahwa saya menguasai dunia kenotariatan dan segala turunannya.

Bagaimana Anda membagi waktu antara urusan keluarga, partai dan parlemen?

Ya sebisa mungkin kita harus bisa mengatur waktu. Segala sesuatunya harus di manage, tapi saya tidak harus kaku. Biasanya saya lihat urgensi dari kegiatan-kegiatan yang akan dijalani mana yang baik untuk diprioritaskan sehingga semua kebagian perhatian. Tapi tidak sekadar datang lalu pergi begitu saja, tetap saya harus mempersiapkan segala sesuatunya ketika mengikuti kegiatan tersebut.

Sebagai pejuang politik perempuan, menurut Anda sudah sejauh mana pergerakan politik perempuan Indonesia?

Pergerakan politik perempuan sekarang sudah lebih baik dibanding periode sebelumnya. Terlebih dengan adanya afirmasi 30 persen kuota perempuan baik di struktural partai politik maupun di parlemen. Sebenarnya inilah peluang dari perempuan untuk berbuat sesuatu atas nama kaumnya. Memang, kita akui masih ada hal-hal yang masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Untuk itu kita harus berperan aktif untuk bisa memberi warna kepada kaum kita sendiri. Perlu diingat, bahwa kemajuan sebuah negara itu bergantung pada generasinya. Nah generasi yang berkualitas itu lahir dari perempuan yang berkualitas pula.

Lantas bagaimana dengan peran Perempuan Indonesia Raya sebagai sayap Partai Gerindra?

Perempuan Indonesia Raya (PIRA) sebagai sayap Partai Gerindra bertekad untuk menjadikan suara perempuan sebagai penentu kemenangan. Peran perempuan akan bisa terlihat dari program-program yang berpihak kepada perempuan dan bisa diberdayakan secara maksimal oleh perempuan itu sendiri. Kita sadar bahwa perempuan itu umumnya punya potensi, cuma belum dioptimalkan secara maksimal. Hal ini bisa dilihat dari perenan perempuan, bisanya kegiatan partai, kemasyarakatan, itu lebih banyak perempuan. Tak heran bila suara perempuan, penentu kemenangan. Termasuk pada kegiatan verifikasi faktual kemarin, kita lebih dari 30 persen perempuan hadir. Secara struktural, PIRA sudah ada di 33 provinsi, dan lebih dari 60 persen sudah hadir di tingkat cabang.

Menurut Anda, sebagai politisi asal Sulawesi Selatan, sosok Andi Rudiyanto Asapa yang kini maju sebagai calon Gubernur Sulsel itu seperti apa?

Dia itu senior saya sewaktu di kuliah. Saya tahu betul bagaimana dia memimpin. Dan sosok seperti dia, pemimpin yang dicari masyarakat Sulsel. Sudah semakin kelihatan banyak kesadaran, ketertarikan masyarakat untuk mendukung. Karena pasangan Rudi-Nawir itu maju sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur diniatkan sebagai amanah yang harus diperjuangkan. Sementara, dua calon lainnya, saya rasa hanya memperebutkan kekuasaan.

Kalau bicara peluang, secara di atas kertas boleh jadi semua menganggap yang punya peluang besar, ya calon gubernur petahana. Calon IA juga mengklaim kuat dan dapat dukungan di mana-mana, tapi itu belum bisa dibuktikan. Meski kekuatan pasangan Garuda-Na kerap tidak dianggap oleh pasangan lainnya, tapi saya yakin ada campur tangan Tuhan Yang Maha Esa yang gerakannya kian terlihat.

Bagaimana dari segi programnya?

Dari segi program, saya rasa tidak muluk-muluk dan memang itu yang dibutuhkan masyarakat Sulsel. Sebenarnya secara sumber daya manusia, sumber daya alam dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang dimiliki Sulsel sekarang ini sudah sangat mendukung. Insya Allah Pak Rudi bisa menjalankannya. Selama ini yang belum ada dan dipunyai adalah political will seorang pemimpin yang belum 100 persen. Rakyat sulsel itu sudah tahu dari ciri khas kepemimpinan dari Rudiyanto Asapa saat memimpin Kabupaten Sinjai.

Apa rencana berikutnya?

Saya akan menjalankan program-program yang bisa bersinergi dengan gubernur Sulsel, Andi Rudiyanto Asapa tentunya. Insya Allah, di 2014 saya juga diminta lagi untuk maju kembali, selain mendapat perintah untuk berbagi tugas memenangkan Gerindra di Sulsel, saya juga sekaligus memberi penguatan kepada caleg-caleg yang ada di dapil yang sama. Karena selama inikan basis saya ada di dapil sana yang tetap saya jaga.

Menurut Anda seperti apa karakter pemilih Sulsel?

Karakter pemilih Sulsel, sebenarnya tidak terlepas dari karakter orang Sulsel yang memang sebenarnya komitmen dan konsekuen. Tapi tergantung kondisi dan keadaan yang terjadi. Kalau sudah memilih ini, dan senang dengan apa yang dipilihnya maka akan tetap komitmen. Tapi kalau sudah tahu kebobrokannya, maka dengan cepat dia akan tinggalkan dan berpindah ke lain hati.

Saya sendiri hingga sampe sekarang masih mengadakan arisan ibu-ibu yang memang menjadi konstituen saya, kegiatan ini juga diisi dengan menghadirkan guru ngaji, atau saya sendiri hadir untuk memberikan pendidikan politik. Dalam setiap kesempatan saya selalu bilang kepada mereka bahwa kalau mau bagus lingkungannya di sini, maka peran ibu itu yang akan menentukan sendiri. Saya hanya buat di daerah-daerah rawan dengan lawan politik, karena bukan basis kita yang rawan money politic. Sulsel itu basisnya Golkar, tapi sekarang sudah berubah, masyarakat Sulsel tidak lagi lihat partainya tapi lihat figurnya.

Apa pesan untuk konstituen Anda?

Rapatkan barisan suapaya bisa sama satu tujuan untuk mengantarkan Pak Rudiyanto Asapa menjadi gubernur Sulsel. Rapatkan barisan bukan berarti dari luar tidak bisa masuk, tapi kita harus menyatukan langkah menuju tujuan. Dengan begitu saya rasa, Gerindra akan semakin solid dan kuat dalam memenangkan pilgub Sulsel dan Pemilu 2014 mendatang. [G]

MESTARIYANI HABIE, SH

Tempat Tanggal Lahir:

Makassar, 23 Januari 1969

Jabatan:

  • Sekretaris Jenderal PP Perempuan Indonesia Raya (PIRA)
  • Anggota Komisi II DPR-RI Fraksi Gerindra
  • Anggota Badan Legislasi DPR-RI

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Januari 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Mestariyani Habie maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 2 untuk daerah pemilihan (dapil) Sulawesi Selatan I
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s