Mohamad Taufik : Gerindra Inspirator Perubahan

Hampir sepanjang perjalanan hidup Mohamad Taufik didedikasikan untuk politik. Insting politik dan ide-ide segarnya selalu membuka jalan saat menemuni kebuntuan. Berkat kepiawaiannya membaca peta politik ibukota, ia pun berhasil mengantarkan pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama (Jokowi-Basuki) duduk sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017 pada pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) DKI Jakarta yang baru saja usai.

dpd dkiPolitisi kawakan ini dikenal terlalu berani menerjang pakem-pakem politik yang ada. Saking beraninya, ia pun kerap dicap macam-macam oleh kawan maupun lawan politiknya. Salah satunya ketika berlangsungnya proses pemilukada DKI Jakarta. Taufik sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia (Gerindra) malah mengusulkan kandidat dari luar partainya sendiri. Sontak tak hanya kader Gerindra yang dibuat tercengang, publik pun mulai berpikir yang tidak-tidak.

Sepertinya Taufik tengah mengajarkan kepada kader dan rakyat bahwa apa yang dilakukannya itu sebagai bentuk perwujudan dari apa yang disebut dengan jauh dari egoisme kepartaian, egoisme sektoral. Meski memang diakui Taufik semua itu mengalami perdebatan yang panjang dan melelahkan. Nyatanya, keputusannya berbuah manis.

”Sepanjang kita bisa meyakinkan kepada kader demi sebuah perubahan, kader Gerindra Jakarta menerima. Tapi ini tidak gampang. Saya itu mungkin dianggap apa ya, oleh temen-teman. Dari sana sini muncul anggapan macam-macam. Ya itu konsekuensi sebagai seorang pemimpin,” ujar pria kelahiran Jakarta, 3 Januari 1957 ini.

Keberanian mantan Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta dalam mengambil sikap politik di luar kebiasaan bukan tanpa perhitungan. Terbukti, jalan yang ditempuhnya membuahkan hasil gemilang. Dukungan publik, kepercayaan warga terhadap pasangan Jokowi-Ahok yang diusungnya meraih kemenangan demi kemenangan. Tidak hanya itu, proses pemilukada DKI membuktikan adanya perubahan sikap berdemokrasi masyarakat Jakarta.

Lantas seperti apa sepak terjangnya yang dianggap sebagai sikap politik di luar kewajaran itu? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Garuda, Taufik secara blak-blakan membeberkan perjalanan hiruk pikuk proses pemilukada DKI Jakarta hingga akhirnya berhasil mendudukkan Jokowi-Ahok sebagai pemimpin Jakarta untuk lima tahun ke depan. Berikut petikan wawancaranya:

Anda disebut-sebut sebagai orang yang berperan penting dalam kesuksesan Jokowi-Ahok, komentarnya?

Saya mengucapkan terimakasih kepada masyarakat yang sudah menentukan pilihannya secara tepat untuk melakukan perubahan di Jakarta. Tidak hanya saya tentunya, ada banyak pihak yang berperan, saya bersama-sama dengan masyarakat mengawal ini.

Menurut Anda, apa arti kemenangan pasangan Jokowi-Ahok dalam pemilukada DKI Jakarta?

Pertama, saya ingin menyampaikan dengan hasil seperti ini berarti ada perubahan sikap berdemokrasi di masyarakat Jakarta. Dengan kemenangan ini ada perubahan yang cukup mendasar dalam proses menggalang pemilih. Inilah arti demokrasi yang sebetulnya, bukan demokrasi yang dibuat-buat. Buktinya, jika pada yang pemilukada sebelumnya, kita menghadirkan massa ke satu tempat dengan berbagai upaya, kemudian baru calon berpidato. Itukan terasa sekali ada pemaksaan, ada sebuah rekayasa. Pada pemilukada di DKI kemarin kita balik, kandidatnya yang mengunjungi. Jangan dikira orang yang dikunjungi itu hanya beberapa gelintir saja tidak berdampak. Mungkin yang yang dikunjungi dan disalami cuma 200 orang, ternyata metode itu menimbulkan snowball effects yang begitu besar di lingkungannya. Karena diyakini dalam politik yang sedikit itu bukan berarti kecil.

Kedua, dalam proses kampanye, mungkin sebelumnya kita tidak pernah membayangkan ada orang mau mengeluarkan uangnya sendiri. Periode lalu kita harus membuat kaos sebanyak-banyaknya untuk dibagi. Nah, pada proses kampanye kemarin, mereka beli baju sendiri untuk menyatakan diri mendukung sang calon. Sepanjang sejarah pemilu maupun pemilukada saya kira belum pernah ada. Gerakan semacam ini, saya tidak ingin mengatakannya sebagai metode, tapi ini satu gerakan pembangunan demokrasi, rakyat tampak lebih dewasa.

Selain itu, sebenarnya sudah terasa ada gerakan lain di masyarakat dari awal pencalonan. Ketika proses pecalonan digulirkan, tiga hari setelah pendaftaran, Gerindra khususnya membuka tempat pendaftaran tim sukses. Memang, waktu itu harus melalui perdebatan panjang, kenapa tim sukses bukan relawan. Dalam kaitan ini, saya ingin mengatakan kalau tim sukses, orang akan merasakan lebih ada di dalam. Dulu konotasinya kalau tim sukses itu nanti akan meminta dana ini itu dan yang lainnya. Nah, sekarang paradigma itu kita rubah, bahwa dengan menjadi tim sukses mereka merasa ada di dalam. Bahasa ini bisa mempengaruhi kejiwaan seseorang.

Apa yang Anda lakukan waktu itu?

Saya membuat spanduk 5000 untuk pendaftaran yang dipasang di rumah-rumah kader. Pemasangan sekaligu pembukaan pertama secara simbolik dilakukan oleh Ahok di di rumah salah satu kader Gerindra, di kawasan Cempaka Putih.  Waktu itu, yang mendaftar sampai H-4 tercatat ada 900 ribu lebih. Sampai dengan hari pencoblosan, ada 1.000.060 orang. Ini bukan sekadar ngecap, semua itu bisa dijadikan sebagai data base. Karena dalam formulis itu memuat nama, alamat, nomor kontak termasuk siapa saja orang yang direkomendasikan.

Sebenarnya, isi formulir itu sederhana saja. Setelah mengisi dan dikembali, sebagai tanda buktinya, mereka kita kasih stiker untuk ditempel di rumahnya. Meski sesederhana itu mampu memberikan efek yang besar. Memang, kita diakui sebelumnya terjadi perdebatan yang panjang. Ada ketakutan-ketakutan dari para pengurus, namun kita bilang bahwa paradigma lama itu harus kita rubah. Saya ingat betul, waktu itu saya mencetak formulir dan stiker 500 ribu eksemplar. Seiring berjalannya waktu, formulir yang kembali waktu itu hampir satu juta sekitar 900 ribu lebih. Saya ingat betul ujungnya 311. Saking tak percayanya, saya sempat marah pada petugas. Begitu kita cek ternyata memang benar adanya. Rupanya mereka yang mendaftar ini memfotokopi formulir itu lalu mengembalikannya berlembar-lembar.

Waktu itu targetnya berapa?

Targetnya dengan 500 ribu relawan dan dari 500 ribu itu bisa mereferensikan tiga orang saja yang bisa digaet bagi kami sudah cukup  untuk menang di putaran pertama. Kemudian dibarengi dengan pola-pola kampanye yang lebih humanis. Target untuk menang di putaran pertama sudah dapat diprediksi. Terlebih dalam setiap kampanye kita gulirkan bawah Jokowi membangun tanpa menyakiti.

Apa maksud membangun tanpa menyakiti?

Kita sampaikan kepada publik Jakarta bahwa Jokowi kalau mau menata tidak perlu menggusur tapi dengan mendekati warganya, didekati bahkan hal itu dilakukan hampir berulang-ulang hingga orang itu menyadari sendiri untuk melakukan pembenahan diri. Itu yang kita dengungkan kepada publik bahwa pemimpin yang akan datang itu pemimpin yang membangun tanpa menyakiti.

Bisa diceritakan bagaimana akhirnya Gerindra bisa mencalonkan Jokowi dan Ahok?

Perjalanannya panjang. Awalnya waktu itu kita mencalonkan Djan Faridz. Surat rekomendasi sudah keluar baik dari DPD maupun DPP.  Tiba-tiba Djan diangkat jadi menteri. Serta merta akhirnya kita melakukan perubahan, pilihan jatuh pada Nono Sampono. Namun dalam perjalannya tiba-tiba dia (Nono) mau jadi wakilnya Alex Nurdin. Nah, kenapa kita tidak ikut? Karena kita mencalonkan Nono untuk posisi gubernur bukan untuk wakil.

Kemudian kondisi ini kita diskusikan kembali bersama Pak Prabowo, Pak Hashim termasuk Pak Djan sendiri. Akhirnya dalam diskusi itu muncul nama pemilik sekaligus yang mempopulerkan Esemka, siapa lagi kalau bukan Jokowi. Nah, dari sini yang harus diketahui publik bahwa yang meminta Jokowi jadi calon gubernur itu Gerindra. Karena Jokowi sebagai kader PDIP yang sejati, waktu kita menyampaikan hal ini pada dia, Jokowi mengatakan, saya belum ada penugasan tentu tidak bisa memutuskan. Dalam pertemuan itu dia merendah, bahwa dia orang dari daerah dan bisa apa. Karena kita serius, akhirnya kita ajukan ke Pak Prabowo. Karena Pak Prabowo ini pemimpin yang akomodatif, demokratis, dan aspiratif akhirnya menyetujui untuk ditindaklanjuti.

Selanjutnya, Pak Prabowo yang meminta kepada Ibu Megawati, awalnya agak sulit memang. Namun, Pak Prabowo dan Pak Hashim tak henti-hentinya meyakinkan para petinggi PDIP hingga menjelang detik-detik akhir masa pendaftaran calon. Akhirnya hingga menjelang ujung waktu Jokowi pun bersedia. Dalam perjalanannya kita tentu memikirkan juga siapa pendampingnya yang bisa mengimbangi kebaikan Jokowi. Dari berbagai diskusi pertemuan muncul nama Basuki Tjahja Purnama atau yang lebih dikenal dengan Ahok. Setelah melalui penelusuran ke berbagai pihak sampai mengecek bagaimana ketika dia menjadi kepala daerah di daerah Belitong Timur sana. Maka jatuhkan pilihan kita pada nama Ahok. Akhirnya kita sandingkan dengan Jokowi.

Kenapa harus Ahok?

Kita melihat kedua pemimpin ini beda labeling-nya. Jokowi itu humanis, sementara label yang menempel pada Ahok itu jujur. Sederhananya begini, Anda kalau mau nitip uang, maka Ahoklah orangnya, insya Allah uang Anda aman disana. Mungkin awalnya PDIP ragu, soal pengawinan Jokowi dengan Ahok. Saya melihat ada keraguan itu, tapi karena kita sudah punya landasan dan tekad yang kuat, kita diskusikan terus. Jadi jangan dikira kita tidak teliti memilih Ahok. Ternyata Jokowi dan Ahok sama-sama menerima pinangan kita. Maka jadilah pasangan itu. Tidak hanya itu, kita juga sudah siap dengan apa yang akan terjadi. Kita sudah prediksi pasti akan muncul isu SARA jika Jokowi dikawinkan dengan Ahok. Segala sesuatu yang akan terjadi sudah kita prediksi.

Apa pertimbanganya sehingga Gerindra tidak mengusung kader terbaiknya sendiri?

Yang jelas prinsipnya dulu yang harus dipegang. Prinsip perbaikan itu yang dipegang kuat oleh kita. Siapapun dia, kalau dia lebih baik dari kader yang ada silahkan maju dan akan kita dukung. Inilah bentuk perwujudan dari yang kita sebut jauh dari egoisme kepartaian, egiosme sektoral. Memang diakui mengalami perdebatan yang panjang. Tapi sepanjang kita bisa meyakinkan kepada kader demi sebuah perubahan, kader Gerindra Jakarta menerima. Ini tidak gampang. Jangan dikira gampang. Saya itu mungkin dianggap apa ya, oleh temen-teman. Dari sana sini muncul anggapan macam-macam. Ya itu konsekuensi sebagai seorang pemimpin. Waktu itu saya menyatakan siap menerima resikonya. Dimarahin sama Pak Prabowo juga tidak apa-apa, saya sudah siap.

Waktu Anda menyodorkan usulan itu jaminannya apa kepada kader?

Ya labeling tadi. Jokowi itu humanis, Ahok itu jujur. Bahasa sederhananya, kalau Anda mau nitip duit, ke Ahok saja deh, pasti aman. Nah, pemimpin yang humanis itu harus diimbangi dengan sosok yang jujur juga tegas. Ahok itu jujur, tegas. Itulah kebutuhan Jakarta. Memang, sebelumnya di hadapan kader Gerindra Jakarta saya cerita dulu, bahwa kebutuhan Jakarta yang seperti ini. Jakatra ini garang, bisa dibayangkan jika pemimpinnya garang, maka kalau garang sama garang, bisa jadi meleduk. Kita mau ciptakan suasana, pemimpin bisa kok memimpin tanpa menyakiti, maka kegarangan Jakarta akan berkurang. Disamping itu, kepercayaan publik itu hanya bisa kita dapat kalau mereka lihat pemimpinnya jujur, sehingga antara Jokowi dan Ahok ini bisa saling mengisi. Jokowi humanis dan jujur, itu terbukti selama dia memiumpin. Ahok jujur dan tegas itu juga bisa dilihat dari rekam jejaknya.

Lantas soal baju kotak-kotak?

Itu idenya Jokowi asli. Saya ingat betul, setalah ditetapkan sebagai calon dan ketika kita sedang berkumpul di kantor DPD PDIP untuk mendaftarkan pasangan ini didampingi Pak Prabowo, dimana waktu itu turun hujan. Beberapa saat mau berangkat, tiba-tiba Jokowi menghampiri saya menayakan dimana Ahok, lalu saya panggil Ahok untuk menemuinya. Kemudian, Jokowi mengeluarkan dua baju kotak-kotak dari kantong kresek hitam. Lalu meminta keduanya mengenakan baju itu.

Awalnya kita tidak menyangka baju bakal menjadi ikon. Waktu itu kita berfikir sederhana saja, mungkin karena hari itu baru saja turun hujan, maka keduanya harus ganti baju atau inikan saat pendaftaran yang barangkali rame, sehingga untuk memudahkan dikenal keduanya harus tampil berbeda dengan para pengiringnya. Saat itu pun yang mengenakan baju kotak-kotak hanya berdua, Jokowi dan Ahok. Tidak ada yang lain.

Kemudian yang membesarkan kotak-kotak jadi ikon kita, ya media. Awalnya ketika itu media bertanya, kenapa Jokowi-Ahok mengenakan baju kotak-kotak, tidak mengenakan baju model A, B atau C sebagaimana yang ditunjukkan lima pasangan lainnya. Rupanya, memang pada era sekarang, motif kotak-kotak di dunia mode lagi ngetren, diakui atau tidak pelaku industri fashion pun menggandrungi kotak-kotak. Hebat itu Jokowi, bisa menciptakan ikon baju.

Disamping itu, yang tak kalah pentingnya bahwa ternyata paradigma yang kita bangun dianggap berani, out off the box, di luar pakem-pakem yang ada, di luar kebiasaan dalam proses pencalonan kepala daerah. Ternyata, pertimbangan di luar kebiasaan itu juga tengah digandrungi oleh publik Jakarta yang ingin perubahan. Sehingga keberanian kita itu disambut positif oleh publik, tidak hanya di Jakarta. Jadi sejalan.

Kalau kita mau jujur, kita mau mengatakan bahwa publik sendirilah yang bergerak. Kemenangan Jokowi-Ahok itu kemenangan publik Jakarta, bukan semata kerja partai. Partai itu mendorong saja, bahwa partai secara infrastruktur itu harus jalan, iya. Itu pasti jalan, karena Gerindra itu perintahnya selalu ditaati.

Apakah konsep kotak-kotak ini bisa ditiru atau ditularkan di daerah lain?

Tidak mungkin. Menurut saya sulit, karena kondisi masyarakat dan situasi daerah itu berbeda. Jadi jangan coba-coba mencontek soal baju kotak-kotak itu. Mungkin di tempat lain bisa jadi tidak cocok. Lain lagi jika kader-kader yang maju di daerah tersebut terinspirasi dengan itu silahkan saja, tidak masalah bagi kami. Hanya saja, maksud saya perlu dikaji terlebih dulu, apa yang terjadi di Jakarta harus disesuaikan dengan yang ada di daerah itu, tidak serta merta meniru begitu saja. Nah, kalau metode kampanye yang dilakukan di pemilukada DKI itu boleh ditiru.

Gerindra itukan bagian dari Panbers, kenapa tidak mengajak gerbong itu?

Panbers (Panitia Bersama) itu Gerindra yang membentuk, Panbers itu Gerindra yang ciptakan. Awalnya untuk mengantisipasi kekuatan politik di Jakarta secara menyeluruh. Maka dalam suatu situasi tertentu, kita galang kekuatan bersama karena kita sedikit, cuma 6 kursi, supaya kita terlihat kuat, maka kita galang fraksi-fraksi yang sedikit. Saya katakan kepada mereka, nasib kita sama kecil, jika kita bersatu maka kita bisa dianggap.

Diakui atau tidak keberadaan Panbers itu merubah suasana peta politik, ketika gerakan ini terwujud, kekuatan pun berubah. Harus diakui, kita yang memotori bahwa kita inspirator perubahan Jakarta. Termasuk pilihan kita jatuh pada Jokowi-Ahok, itu sebagai bukti bahwa Gerindra itu inspirator perubahan Jakarta.

Kemudian bahwa kita mencalonkan Jokowi dari PDIP yang waktu itu belum masuk Panbers, setelah gagal mencalonkan Djan Farid dan Nono Sampono. Awalnya semua orang Panbers kita kumpulkan untuk menyampaikan keinginan kita, meski pada akhirnya anggota Panbers masing-masing mencalonkan sendiri, ya itu terserah saja. Meski akhirnya berjalan sendiri-sendiri ketika pemilukada kemarin, tapi ada gerakan yang sama dilakukan oleh masing-masing pasangan yakni melawan incumbent waktu itu.

Gerakan mengkritisi DP4, DPS, PNS yang tidak netral itu semua digerakan secara bersama-sama oleh lima pasangan. Itu hasil dari komunikasi politik dari awal. Sehingga ketika kita satukan gerakan itu lebih gampang. Publik Jakarta tentu ingat betul, kubu PKS, Alek-Nono, dan dua pasangan independen menyerang Fauzi habis-habisan. Pasangan incumbent diserang.

Bagaimana prediksi Gerindra saat itu?

Sejak awal, kita sudah prediksi bahwa kita akan masuk putaran kedua. Kita sudah hitung, bahkan kita menang. Tuhan menentukan kemenangan itu. Pada H-3 pencoblosan di putaran pertama, saya dipanggil Pak Prabowo. Dalam pertemuan itu ada Pak Hashim, Jokowi, Ahok dan tim dari PDIP. Saya ditanya Pak Prabowo, bagaimana perhitunganmu? Saya jawab menang. Lalu ditanya lagi, alasannya apa? Saya bilang, berdasarkan perhitungan dari data yang ada di tim, kita menang. Faktanya orang yang mendaftar sebagai tim relawan waktu itu belum sampai 1.000.060 orang, baru hampir 1 juta.

Lalu begitu masuk ke putaran kedua, partai lari semua ke Foke-Nara. Tapi kan tidak bisa serta merta mengajak pemilihnya termasuk elite partainya ikut lari ke sana, karena dari awal pemilih sudah diajak dan terlanjur marah. Faktanya, dari pengakuan beberapa petinggi PKS misalnya, kita tahu bahwa partai ini meski dikenal solid dan loyal, tapi karena sejak awal diajak marah, ya susah untuk meredakannya.

Memang, rakyat yang tergabung di relawan itu yang bergerak, relawan itu pun tercipta sendiri oleh suatu keadaan. Karena kita di luar kebiasaan dan itu yang lagi digandrungi rakyat. Rakyat sendiri loh yang datang, berbagai komunitas masyarakat, bahkan komunitas bencong pun datang ke kita, saya pun kaget. Tentu saja kita tidak bisa membendung, kita hanya memfasilitasi perubahan itu.

Menurut Anda dengan kemenangan ini apa pengaruhnya buat Gerindra?

Pertama, sekali lagi saya ingin katakana bahwa Gerindralah inspirator perubahan Jakarta. Karena Gerindra menjadi inspirator, maka akan punya nilai tersendiri di hati masyarakat Jakarta. Kedua, perlu disadari setelah proses pendaftaran, waktu itu kita kumpulkan seluruh struktur partai, ada sekitar 750 orang di Thamrin City termasuk di dalamnya ada Jokowi dan Ahok. Dalam pertemuan itu kita menyampaikan pernyataan apabila pasangan ini terpilih jadi gubernur dan wakil gubernur Jakarta.

Apa saja pernyataan itu?

Pertama, kita minta harus bisa memberaskan, menuntaskan kemiskinan yang masih tersisa sekitar 300-500 ribu orang. Kedua, kembangkan ekonoimi kerakyatan. Ketiga, bangun komunikasi politik dengan seluruh stakeholder yang ada di Jakarta. Keempat, ini yang unik dan tidak biasa, yakni putuskan segera hubungan beban psikologis, emosional dengan partai pengusung, sehingga kalian bisa bebas tidak ada beban apa-apa, tidak ada utang apa-apa. Lakukan amanah ini, sesuai dengan apa yang kalian dengung-dengungkan di dalam kampanye nanti. Gerindra tidak akan berhenti mengkritisi, meski hanya sedetik sekalipun apa bila kalian menyimpang, kita pun tidak akan berhenti mendorong, mendukung kebijakan yang berpihak pada kesejakteraan rakyat.

Bagaimana antisipasi menghadapi parlemen DKI dalam mengawal Jokowi-Ahok nanti?

Memang diakui, yang harus dikawal adalah politk anggaran, karena politik anggaran adanya di dewan. Makanya kita harus bangun komunikasi dengan semua kalangan termasuk keberadaan Panbers tadi. Sekarang Jokowi ini menjadi gubernur semua kalangan bukan PDIP atau Gerindra. Kalau ada orang masih menyebut itu, berarti dia tidak mengerti. Bahwa Jokowi-Ahok dari PDIP dan Gerindra, itu iya harus diakui, tapi kenapa harus direcokin. Makanya harus dihidupkan lagi Panbers ditambah PDIP. Itu sudah kita bangun, karena saya yakin selama itu untuk kepentingan masyarakat, jangan underestimated dengan DPRD DKI, mereka selalu mendukung semua program yang memihak pada kepentingan masyarakat.

Tugas kita sebagai pengusung membangun komunikasi itu. Jadi belum berhenti tugasnya sebagai pengusung. Kalau mau mikirin sampai detil, komunikasi harus dibangun secara baik. Contoh kongkrit, waktu sebelum menang, usulan program sudah ada dan sudah mau ditandatangani oleh DPRD, kita minta kepada kader kita yang ada disana untuk ditunda hingga ada pelantikan gubernur.

Pasalnya kalau usulan program kerja 2013 itu sudah ditandangani dan ternyata tidak sesuai dengan apa yang Jokowi-Ahok kampanyekan, maka bisa dianggap sebuah penghiatan. Padahal bukannya Jokowi-Ahok tidak mau bekerja sesuai apa yang dijanjikan dalam kampanye, tapi tidak ada anggarannya atau usulan programnya tidak dimasukkan. Ternyata setelah kita komunikasikan, teman-teman dewan menerima dan menunda usulan program itu. Ini bukti awal adanyta komunikasi politik yang baik. Jadi tidak usah kuatir.

Ada anggapan bahwa yang diuntungkan dari kemenangan pemilukada ini Prabowo Subianto, komentar Anda?

Orang yang ngomong begitu tidak mengerti keadaan. Mungkin terdengar sadis komentar saya. Prabowo itu, di Jakarta ini tidak ada pemiliukada pun rating-nya sudah tinggi. Bahkan bisa jadi terbalik keadaanya, Jokowi itu terangkat oleh Prabowo, bukan Prabowo yang diangkat Jokowi. Ini fakta yang harus diakui. Kalau ada orang yang ngomong begini begitu, itu hak orang. Pak Prabowo itu dari survei internal maupun eksternal di Jakarta, elektabilitasnya sudah tinggi. Bahwa soal ada kelompok atau pihak yang mengklaim seperti itu sudah biasa di dalam politik, tidak usah serius menanggapi hal itu.

Apa pesan buat kader Gerindra dengan kemenangan ini?

Ya, kita wajib mengawal tapi bukan berarti mendukung dengan membabi buta. Kalau ini sukses saya yakin ada dampak positifnya untuk partai Gerindra.

Lalu apa yang akan diperjuangkan selanjutnya?

Kita akan membuat tempat pendaftaran tim sukses Prabowo Presiden. Kalau kemarin di 5000 rumah, saya akan lipatgandakan menjadi 10.000 rumah. Semua keperluan itu sudah kita siapkan. Itu tugas partai.

Lantas dalam rangka menghadapi 2014, apa yang Gerindra lakukan?

Gerindra DKI, pada prinsipnya bagaimana memproleh kursi sebanyak-banyaknya. Sehingga bisa mencalonkan Prabowo menjadi presiden dengan tidak terbebani psikologis politik, kurangnya kursi dan kendala-kendala lainnya. Sadar atau tidak, magnitnya Gerindra itu Prabowo, saat ini elektabilitas Prabowo tinggi, sementara Gerindra masih belum sejajar. Untuk itu harus ada perbaikan infrastrutur di berbagai lini, jaringan-jaringan harus tetap terbangun. Kemudian gagasan-gagasan Prabowo harus terus kita sosialisasikan kepada  masayrakat, karena gagasan Prabowo, ya gagasan Gerindra, sehingga akan muncul kepercayaan masyarakat pada Gerindra. [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi November 2012

Advertisements

One thought on “Mohamad Taufik : Gerindra Inspirator Perubahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s