Willgo Zainar : Pemimpin Harus Membumi

Jiwa Willgo Zainar terusik ketika melihat kenyataan hidup di tanah kelahirannya, Kota Mataram sebagai ibukota Provinsi Nusa Tenggara Barat, ternyata masih ada masyarakat yang menjual piringnya untuk membeli beras. Tragis sekali. Ia pun tergerak hatinya untuk berbuat sesuatu demi perubahan yang lebih baik.

1780651_770583096302964_1861231279_nSetelah mendapat desakan dan dukungan dari berbagai kalangan dan partai politik, awal tahun 2005, Willgo memberanikan diri maju sebagai calon Wakil Walikota Mataram mendampingi Ridwan Hidayat. Dengan niat untuk ibadah dan berbuat sesuatu manfaat bagi kampung halamanya, ia pun bertekad tidak akan menerima gaji untuk keperluan pribadi, tapi akan disumbangkan untuk beasiswa bagi pelajar yang tidak mampu namun cerdas. “Jangan sampai ada anak di kota ini yang berdiri di bawah terang gemerlapnya lampu hias memegang perutnya, karena lapar,” serunya kala itu.

Meski cita-cita itu kandas, namun tak lantas menyurutkan niat luhurnya itu. Dari pengalaman itulah ia bertekad mendedikasikan waktu, tenaga dan pikirannya untuk berbuat yang terbaik lewat jalur politik. Terlebih lagi, tak lama setelah itu, Kota Mataram dilanda wabah busung lapar yang diumumkan pemerintah pusat di saat program neonisasi di Kota Mataram sedang hebat-habatnya.

Willgo Zainar memang lahir dari keluarga pedagang di Ampenan, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Tak heran bila panggung politik bukanlah dunia bagi keluarganya. Namun cerita politik, kegaduhan pergerakan politik bukan sesuatu yang asing lagi buatnya sejak kecil. Pada masa itu, rumahnya kerap disambangi banyak tamu orangtuanya yang datang dari kalangan pejabat, birokrat, anggota dewan dan politisi pada umumnya. ”Biasanya, kalau tamu datang, saya duduk di samping orangtua atau di bawah kursi hanya untuk mendengar percakapan orangtua saya dan tamu itu,” kenang pria kelahiran Ampenan 28 Oktober 1968.

Kini, sejak Agustus 2012 lalu suami dari Dessy Indrayani ini dikukuhkan oleh Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto, untuk mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Awalnya pada Oktober 2010, Willgo ditugasi sebagai pejabat sementara Ketua DPD. Kemudian pada Juli 2011 ia didapuk sebagai bendahara hingga Agustus 2012. ”Sebagai kader, harus siap menjalankan tugas dan tunduk pada apa yang menjadi ketetapan partai,” ujar lulusan Fakultas Ekonomi, Universitas Mataram ini.

Sebagai seorang pengusaha, seperti apa pemikiran dan terobosan yang dilakukan ayah dari lima orang anak ini dalam menahkodai Partai Gerindra di bumi Mataram? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Garuda, pria yang mengenyam pendidikan International Business and Marketing di Berkeley, California ini memaparkan pengalaman serta pandangannya dalam menjalani aktivitas politiknya di bawah naungan Gerindra. Berikut petikan wawancaranya:

Bisa ceritakan aktifitas keseharian Anda?

Aktifitas keseharian saya selain menjalankan usaha di bidang perbankan, properti dan perdagangan, saya juga meluangkan waktu untuk kegiatan sosial kemasyarakatan dan kepartaian.

Bagaimana awal mula Anda terjun ke dunia politik?

Sekitar awal tahun 2005, saya mendapat tawaran untuk menjadi calon Wakil Walikota Mataram yang diusung oleh beberapa partai untuk mendampingi Ridwan Hidayat. Pada saat itu saya menyatakan pada calon walikota dan masyarakat bahwa bila kelak diamanahi jabatan tersebut, saya tidak akan menerima gaji untuk keperluan pribadi saya, namun akan saya berikan sebagai beasiswa bagi pelajar yang tidak mampu namun cerdas.

Lalu apa yang melatari Anda gabung dengan Gerindra? Bagaimana prosesnya?

Sebelumnya, saya belum mengenal Partai Gerindra. Hanya saja pada saat masa kampanye 2009 lalu, dari sekian iklan di media televisi yang paling saya dan keluarga sukai adalah iklan Pak Prabowo dan Gerindra beserta HKTI. Karena sangat jelas apa visi-misi dan apa yang akan diperjuangkan Pak Prabowo dan Gerindra untuk membawa perubahan bangsa ini ke depan.

Kemudian sekitar Mei 2010, saya secara khusus datang ke Palembang sebagai Sekretaris DPD HKTI Provinsi NTB untuk bertemu Pak Prabowo sebagai Ketua Umum DPN HKTI yang hadir dalam acara Musda dan pelantikan DPD HKTI Provinsi Sumatera Selatan. Dalam kesempatan itu juga saya mengajukan permohonan pelantikan DPD HKTI NTB pasca Musda. Ternyata di tempat tersebut saya bertemu sahabat lama saya dari Jawa Tengah, Abdul Wachid. Lantas, atas ijin Pak Prabowo, Wachid mengajak saya untuk kembali ke Jakarta bersama satu pesawat dengan Pak Prabowo. Di dalam jet tersebut kami berdiskusi dengan Martin Hutabarat, dimana dia meminta kepada saya jika ingin bantu Pak Prabowo maka sebaiknya dengan dua kaki, di HKTI dan di Gerindra. Martin pun cerita banyak hal tentang cita-cita luhur Pak Prabowo terhadap bangsa ini.

Sekitar Agustus 2010, DPD HKTI Provinsi NTB dilantik dan dihadiri Prabowo, Fadli Zon, Rachmat Pambudi, Martin Hutabarat, Sadar Subagyo, Manimbang dan yang lainnya. Lalu saat di kendaraan, ketika itu saya yang mengemudikannya, Pak Prabowo menanyakan pada saya siapa kira-kira yang akan kita amanahi sebagai Ketua DPD Gerindra NTB. Saya katakan pada beliau, saya tidak mengenal satu pun, tapi kalau teman-teman Gerindra di pusat saya banyak mengenal karena keluarga besar HKTI.

Tepatnya kapan Anda bergabung ke Partai Gerindra?

Saya secara resmi bergabung dengan Partai Gerindra pada 28 Oktober 2010, saat itu saya diamanahi sebagai pejabat sementara Ketua DPD Partai Gerindra NTB sampai Juli 2011. Kemudian, sejak Juli 2011 hingga 29 Agustus 2012 diamanahi sebagai Bendahara DPD. Nah, sejak 30 Agustus 2012 saya kembali diamanahi sebagai Ketua DPD Partai Gerindra NTB.

Setelah gabung di Partai Gerindra, apa tugas Anda?

Sebagai Ketua DPD Partai Gerindra, kewajiban saya untuk melakukan konsolidasi, soliditas dan penguatan organisasi. Pembentukan struktur yang lengkap sampai anak ranting,  merekrut calon legislatif, kader, sampai pada tim saksi dengan sistem multi level  marketing, namun tetap mengedepankan dan memastikan loyalitas dan militansinya pada partai.

Bisa diceritakan seperti apa perkembangan Partai Gerindra di NTB?

Hal yang patut kami syukuri, bahwa kekuatan figur Prabowo sebagai calon presiden terkuat di negeri ini, menjadikan Partai Gerindra sebagai partai yang kecenderungannya semakin diminati dan diperhitungkan oleh masyarakat baik yang paham politik maupun yang awam. Di NTB sendiri, sangat kami rasakan dampaknya sehingga sangat banyak pihak yang ingin bergabung dan mendukung Partai Gerindra, baik dalam struktur dan sayap, pencalegan, kader dan anggota partai. Ini sinyal positif yang harus kami pelihara sebaik-baiknya dengan aksi nyata yang dapat dinikmati masyarakat secara langsung.

Program apa saja yang sudah dan akan dijalankan Partai Gerindra untuk rakyat NTB?

Program yang kami jalankan dan rencanakan tentu mengacu pada 8 program aksi yang ditetapkan partai, antara lain: bidang kesehatan dengan menyediakan pelayanan ambulans 24 jam secara gratis. Revolusi putih di seluruh DPC hingga PAC bahkan sampai Ranting secara berkala. Membuka Klinik Indonesia Raya, ini merupakan klinik Kesira pertama di Indonesia. Kami rencanakan hingga 2013 ini bisa terwujud 20-30 Klinik Indonesia Raya di seluruh wilayah NTB. Pengobatan dan rawat inap gratis bagi kaum dhuafa dan bayar seikhlasnya bagi yang mampu. Dan bulan Desember ini, kita akan launching untuk pelayanan melahirkan dan pemeriksaan ibu dan anak.

Kemudian di bidang ekonomi, saat ini telah bergabung 1600 PKL (pedagang kaki lima) yang telah kita terbitkan KTA-nya. Kita sedang merancang program pembenahan lapak kios/warung berasal dari dana partai, fungsionaris dan caleg serta juga pembuatan grobak untuk pedagang kopi, juice, rokok dan gorengan yang akan kita branding dengan lambang partai dan penyumbang dana. Kami himbau para caleg daripada pasang baliho dengan dana jutaan lebih baik berbuat nyata dengan membantu PKL atau calon pedagang pemula yang mau berusaha. Kami juga membantu alat perbengkelan, pelatihan menjahit gratis dan sebagainya.

Di bidang pertanian, kami membantu menyalurkan hand traktor dan juga air bersih untuk petani dan masyarakat umum dari dana aspirasi. Melakukan pelatihan pembuatan pupuk organik cair untuk selanjutnya akan kita berikan secara gratis pada petani melalui Gapoktan-Gapoktan. Kita juga memberikan bantuan mesin tempel untuk nelayan, kerambah, menampung hasil tangkapan ikan nelayan. Selain itu, DPD Partai Gerindra juga memiliki 1080 ekor sapi untuk penggemukan yang bermitra dengan masyarakat petani-peternak maupun yang ada dalam kandang kolektif.

Kita juga tengah merancang bentuk pelatihan dasar kader sejenis di Hambalang. Disamping itu kita akan rekrut anak-anak muda yang akan dilatih baris berbaris, kedisiplinan, bela diri dasar, yang selanjutnya akan bekerjasama dengan Polda NTB agar kader tersebut mendapat sertifikat satpam. Selain mereka kita jadikan kader serta saksi-saksi di TPS nantinya, mereka juga harus diberdayakan sehingga mereka memiliki pekerjaan dan pendapatan, apakah sebagai tenaga keamanan di komplek perumahan, perbankan, hotel, restaurant dan sebagainya.

Selain itu, kita juga kerap melakukan aksi sosial, seperti yang terjadi di Sembelia, daerah konflik di dua kampung yang ada di Bima, termasuk pasca pembakaran kantor Bupati Bima akhir Januari 2012 lalu. Kegiatan rekonsiliasi Bima bersama Gerindra itu masuk dalam rangkaian acara HUT Gerindra Februari lalu dengan melibatkan Walikota Bima, Ketua DPRD Kota Bima dan ribuan masyarakat.

Bagaimana kekuatan Partai Gerindra NTB?

Berdasarkan data keanggotaan Partai Gerindra yang telah memiliki KTA sekitar 20 ribu. Target kami setiap bakal caleg harus mampu memberikan minimal 1000 anggota baru sebagai syarat minimal pencalonan. Semoga ini bisa terwujud sehingga bisa menjaring sekitar 400-500 ribu anggota sebelum Pemilu 2014.

Memang saat ini kita baru memiliki dua orang kader yang duduk sebagai anggota DPRD Provinsi dan 10 orang anggota DPRD dari 10 Kabupaten/Kota yang ada di NTB. Kalau sebelumnya kantong-kantong Partai Gerindra dapat kita lihat dari keterwakilan anggota dewannya yang ada di Kota Mataram, Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Bima, Kabupaten Lombok Barat, Kota Bima, Kabupaten Sumbawa, dan Kabupaten Lombok Timur, maka saat ini kami yakin penyebarannya hampir merata di seluruh NTB termasuk Kabupaten Lombok Tengah, Sumbawa Barat dan Dompu yang saat ini belum memiliki anggota dewan.

Lantas target Partai Gerindra pada Pemilu 2014 mendatang?

Target kami pada 2014 nanti adalah minimal memiliki 30 kursi di DPRD Kabupaten/kota, 6 kursi DPRD Provinsi, dan 2 kursi DPR-RI. Untuk itu, kita akan optimalkan seluruh kekuatan mesin partai, sehingga target tersebut bisa lebih tinggi dari target nasional yang 20 persen, sehingga dapat mengusung Pak Prabowo sebagai calon Presiden RI secara mandiri.

Bagaimana pula peluang Partai Gerindra dalam gelaran pemilukada?

Untuk Pemilukada di NTB dilakukan serentak 13 Mei 2013 yakni pemilihan gubernur Provinsi NTB, pemilihan bupati Kabupaten Lombok Timur dan pemilihan walikota Kota Bima. Insyaallah kader terbaik Partai Gerindra akan ambil bagian apakah sebagai calon Gubernur atau Wakil Gubernur, calon Bupati atau Wakil Bupati dan calon Walikota atau Wakil Walikota. Komunikasi politik sedang kita lakukan dengan partai-partai atau figur lain yang siap maju.

Sebagai partai politik, Gerindra tentunya tidak ingin hanya sebagai partai pengusung kader partai orang lain, namun kita harus berani tampil maju untuk pemanasan mesin partai dan sekaligus mengambil pucuk pemerintahan agar kita bisa melaksanakan 8 program aksi partai sepenuhnya.

Menurut Anda apa politik itu?

Politik itu sesuatu yang luhur sebagai sarana atau cara mendapatkan kekuasaan atau amanah rakyat untuk menyejahterakan dan bukan untuk menyengsarakannya.

Bagaimana pula kondisi perpolitikan negeri ini?

Kondisi politik saat ini sangat mengkuatirkan dan mengerikan. Politik sebagai alat kekuasaan hanya mementingkan kekayaan diri dan kelompok tertentu saja. Tujuan berbangsa dan bernegara dalam amanat UUD 1945 sudah semakin memudar.  Pertujukan korupsi yang merajalela di kalangan politisi dan birokrasi menjadi konsumsi berita setiap hari yang menjadikan citra politik dan politisi semakin tidak mendapatkan simpati rakyat, bahkan cenderung dianggap sebagai musuh rakyat. Perilaku segelintir politisi busuk seperti ini menjadikan citra politik yang mestinya luhur menjadi terkesan dzalim.

Bagaimana pula menurut Anda kondisi kepemimpinan nasional Republik ini?

Bila mengutip beberapa pendapat dan fakta yang terjadi saat ini, kondisi kepemimpinan nasional benar-benar tengah diuji sehingga memerlukan powerfullman to lead, keberanian, ketegasan dan kearifan dari sosok pemimipin bangsa dengan 1001 persoalan ini. Lihat saja, korupsi merajalela, tawuran di mana-mana, anarkisme, tidak adanya kewibawaan negara dalam menegakan hukum dan keadilan, perseteruan antar lembaga negara dan sebagainya. Melihat hal ini sangat diperlukan semangat kebangsaan dan kenegarawan dari semua elite bangsa untuk menyelesaikan permasalahan bangsa ini bersama.

Jadi, menurut Anda harusnya seperti apa pemimpin nasional itu?

Saya kira pemimpin yang ideal secara umum adalah sosok figur sentral dimana ketauladan ada padanya, kewibawaan dan kharismanya memancar pada dirinya. Pemimpin tersebut sesungguhnya adalah pelayan dan bukan yang dilayani, pemimpin tersebut harus membumi, yang memahami apa yang dibutuhkan rakyatnya. Pemimpin tersebut harus cerdas, amanah, dan tegas. Dan itu ada pada diri Pak Prabowo.

Seperti apa sosok Prabowo di mata Anda?

Sosok Prabowo adalah sosok yang humanis, tegas, rela berkorban, visioner, merah putih, nasionalis dan Pancasilais serta sangat mencintai bangsanya. Beliau sosok yang sangat profesional dan perfectionist, baik saat dinas di militer, di dunia bisnis juga di panggung politik. Beliau menjadi inspirator dan idola saya dalam berpikir, bekerja dan bertindak.

Menjelang Pemilu 2014, peluang Prabowo dan Gerindra seperti apa?

Peluang Pak Prabowo sangat besar sekali menjadi presiden diantara calon-calon lainnya. Harapan yang dititipkan rakyat sangat besar pada beliau untuk melakukan perubahan dan sekaligus peletak dasar sistem pemerintahan yang efektif. Pasalnya sampai saat ini masih mencari letak titik keseimbangan kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif secara proporsional.

Tentunya, popularitas Pak Prabowo secara signifikan berdampak pada citra partai dan pilihan rakyat pada Gerindra di 2014. Tinggal bagaimana kita manfaatkan sisi positif popularitas beliau dengan sebaik-baiknya dalam kemasan program pro-rakyat, serta mampu menjaga amanah rakyat khususnya bagi anggota dewan dan atau pejabat publik dari Partai Gerindra yang merupakan etalase partai kita.

Pesan Anda untuk para kader Gerindra NTB?

Mari kita bangun suasana kepartaian dalam semangat persahabatan dan persaudaraan dengan menjaga soliditas, sinergisitas, kerja keras dan keikhlasan dalam berbuat. Bila ada kekurangan diantara kita, mari sama-sama kita sempurnakan, bila terdapat kelebihan maka jadikan itu sebagai kekuatan kita bersama. Momen terbaik kita adalah 2014, karena itu optimalkan seluruh sumber daya kita untuk mengambil manfaat, jangan sampai kita kehilangan momentum tersebut. [G]

H WILLGO ZAINAR, SE, MBA

Tempat dan Tanggal Lahir:

Ampenan, 25 Oktober 1968

Jabatan:

  • Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Nusa Tenggara Barat
  • Wakil Sekretaris Jenderal DPN HKTI

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Desember 2012

Advertisements

One thought on “Willgo Zainar : Pemimpin Harus Membumi

  1. Asalamu’alaikum….
    Kami Pengurus Pimpinan Pondok Pesanteren Nahdlatyus Shaufiah Wanasaba…
    mengucapakan selamat dan sukses atas keberhasilan Bpk. Ketua DPD grindra NTB..(Wilgo Zainar)…kami tunggu untuk silaturrahmi jigaada waktu bapak…(Pengurus Yayasan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s