Lebih Dekat Dengan Abdul Wachid : Momentum Gerindra di Tahun Politik

Dulu ia kerap berteriak di luar pagar Senayan, menyuarakan nasib para petani Tebu. Namun sejak empat tahun silam, takdir berkata lain. Namanya tercatat sebagai anggota DPR-RI. Dari dalam gedung wakil rakyat itulah ia terus bersuara menyampaikan aspirasi anak negeri.

abdwahidDi bawah bendera Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Abdul Wachid (52), terus berjuang di meja parlemen. Jika sebelumnya Wachid dipercaya untuk duduk di Komisi VI yang membidangi perdagangan, perindustrian, investasi, BUMN dan UKM. Sejak setahun silam, ia ditugasi di Komisi IV yang menangani bidang pertanian, pertanahan, kehutanan dan kelautan. Melalui program ekonomi kerakyatan yang diusung Gerindra, Wachid pun bertekad untuk bisa melahirkan kebijakan hukum dan penganggaran yang pro-rakyat.

Memang, keterlibatan pria kelahiran, Jepara 12 Mei 1961 di panggung politik memang terbilang baru. Meski jauh sebelumnya, ia pun acap bersinggungan dengan koleganya yang sudah aktif terlebih dulu di partai politik. Namun sejak menyatakan diri untuk terjun ke ranah politik, pamornya sebagai politisi asal Jawa Tengah kian menonjol. Tak hanya itu, pelopor dan pendiri Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) ini juga dipercaya untuk menahkodai Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Jawa Tengah. ”Saya ini sebelumnya, hanyalah petani tebu yang terus berjuang soal nasib tebu dan gula nasional,” ujar Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah ini.

Kepiawaiannya merangkul para petani Tebu serta aktifitasnya di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dijadikan modal awal Prabowo Subianto, kala memintanya untuk memimpin Gerindra di Jawa Tengah 2008 silam. Ketika itu, di awal Februari 2008, usai memimpin rapat bersama para petani, Wachid dihubungi salah satu sekretaris Prabowo untuk menemuinya di Jakarta. Hari itu juga, ia langsung meluncur ke Jakarta. Setibanya di Jakarta, ia langsung menghadap Prabowo di kantornya di kawasan Bidakara, Jakarta Selatan.

Dalam pertemuan itu Prabowo menyampaikan maksud dan tujuan mengundangnya ke Jakarta. Selain memaparkan rencananya mendirikan partai, Prabowo pun memintanya untuk memimpin partai bentukannya itu di wilayah Jawa Tengah. Wachid pun kaget bukan kepalang. Sekalinya terjun ke panggung politik, langsung mendapat tugas berat. Padahal, diakuinya pengetahuan dunia perpolitikan sama sekali tak dimiliki. ”Tapi saat itu, Pak Prabowo meyakinkan saya, bahwa saya layak memimpin Gerindra di Jawa Tengah,” katanya mengenang pertemuan itu.

Akhirnya Wachid pun tercatat sebagai pendiri dan mengemban tugas untuk mengembangkan partai berlambang kepala burung garuda di Jawa Tengah. Sederet rencana kerja dan aksi politik pun dipersiapkan untuk diterjunkan ke panggung politik. Dalam perjalanannya, ia sempat dilecehkan lawan politiknya. Merasa kepiawaianya dalam menggalang massa disepelekan, ia pun membuat gebrakan dengan menggandeng almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam sebuah kegiatan istigosah yang digelar di Jepara. Rupanya cara ini menarik minat masyarakat, terlebih dihadiri tokoh Nahdlatul Ulama (NU) kharismatik, Gus Dur beserta keluarganya. ”Di panggung itu Abdul Wachid bersanding bersama KH Abdurahman Wahid, membuat warga penasaran, ada apa?” ujarnya.

Bahkan ketika di penghujung masa kampanye, ia memberanikan diri menggelar kampanye di Simpang Lima Semarang yang kerap menjadi momok partai peserta pemilu jika tak mampu menghadirkan massa. Terbukti hasil kerja kerasnya berbuah manis. Sebanyak 65 kursi DPRD kabupaten/kota diraihnya. Termasuk 9 kursi DPRD Provinsi dan 4 kursi DPR-RI –termasuk untuk dirinya yang mewakili dapil Jawa Tengah 2 dengan raihan sebanyak 45.919 suara.

Lantas setelah duduk sebagai anggota DPR-RI selama empat tahun terakhir ini, apa saja yang dilakukannya? Bagaimana pula perkembangan serta target pencapaian Partai Gerindra Jawa Tengah yang digawanginya dalam menghadapi suksesi 2014. Termasuk kesiapannya dalam menghadapi hajatan demokrasi lokal Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Jawa Tengah yang bakal digelar Mei mendatang? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, saat ditemui di ruang kerjanya, di sela-sela kesibukannya menghadiri dari sidang ke sidang jelang masa reses, ia memaparkannya. Berikut petikannya:

Setelah duduk hampir empat tahun sebagai anggota dewan, bagaimana perasaan Anda?

Kalau dulu saya selalu menyampaikan aspirasi rakyat khususnya petani, hanya di jalanan diluar pagar Senayan lalu teriak-teriak. Setelah masuk hampir empat tahun, saya baru tahu, kondisi bangsa dan negara ini carut marut sekali. Padahal 240 juta rakyat Indonesia mengharapkan satu kepemimpinan dan political will pemerintah yang pro rakyat. Kalau kondisinya terus seperti sekarang ini, saya tidak tahu seperti apa masa depan bangsa ini. Bahkan menurut saya sangat berbahaya yang menimbulkan disintegrasi bangsa.

Bayangkan untuk mengurusi negara yang terdiri dari 2/3 laut ini hanya diatur dengan peraturan menteri (permen) bukan undang-undang, maka kita mendesak adanya undang-undang untuk mengatur kelautan dan isinya. Begitu juga soal perdagangan masih hanya diatur oleh permen padahalkan perdagangan tidak sekadar perdagangan tapi lintas departemen, maka tidak bisa hanya dengan permen, tapi undang-undang. Negara lain pun memiliki undang-undang ini kok.

Jadi apa yang dirasa dengan kondisi seperti itu?

Ya, setelah masuk di Senayan ini begitu ngeri, ditambah lagi di parlemen saat ini Partai Gerindra itu kecil, suaranya kadang tidak didengar karena memang hanya 26 kursi. Jadi istilahnya, kalau partai kecil ya dianggap suaranya juga kecil, keroyokannya kecil. Sementara partai besar ya dorongan dan keroyokannya juga besar. Dalam hal ini, Pak Prabowo terus mengatakan Gerindra harus menang, sehingga pemerintahan berjalan dengan mulus. Jika di parlemen besar kita bisa mengawal, kalau suara di parlemen kecil, bisa-bisa pemerintahannya direcokin terus. Untuk itu, mau tidak mau Gerindra harus mempersiapkan caleg-caleg yang mumpuni dan memiliki kapasitas jika nanti menjadi pemenang pemilu sehingga bisa mengawal kebijakan di parlemen pemerintahan Prabowo sebagai Presiden nanti.

Bisa Anda ceritakan seperti apa perkembangan Partai Gerindra di Jawa Tengah saat ini?

Keberadaan Partai Gerindra di Jawa Tengah saat ini kondisinya relatif kondusif dan tidak begitu bergejolak seperti di daerah lain. Tidak hanya itu, antusiasme masyarakat Jawa Tengah terhadap partai ini semakin meningkat. Struktur kepengurusan hingga tingkat ranting sudah terbentuk. Begitu juga dengan elemen partai lainnya seperti sayap partai dan ormas pendukung, sudah terbentuk secara merata. Mau tidak mau, kalau bicara masalah percaturan politik di negeri ini, maka salah satu tolok ukurnya adalah Jawa Tengah. Alhamdulillah, segenap elemen Partai Gerindra di Jawa Tengah solid untuk mengemban tugas memenangkan Gerindra, pada Pemilu 2014 nanti dan bisa mengusung Prabowo Subianto sebagai Presiden.

Berdasarkan survei, Partai Gerindra sudah masuk tiga besar dan bersaing ketat dengan PDIP sebagai pemenang pemilu di Jateng. Tak lain tak bukan karena kondisi partai yang kondusif dan pamor Pak Prabowo sebagai orang yang memang berasal dari Jateng. Hingga seluruh pelosok Jateng, sudah mengenal siapa Prabowo.

Apa yang Anda lakukan?

Memang, diakui atau tidak, saya sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah, tentunya dengan posisi ini merupakan pekerjaan rumah yang lumayan berat. Namun berkat adanya jalinan komunikasi aktif yang saya lakukan secara intensif terhadap jajaran pengurus dan kader yang ada di bawah hingga tingkat anak ranting, semuanya masih dalam garis yang sama. Termasuk sayap-sayap partai. Saya rangkul semua, selagi masih bisa diajak bicara, yang penting ada komunikasi.

Setidaknya, saya selaku Ketua DPD yang juga bertugas di Senayan sebagai anggota DPR, maka saya harus rela mondar mandir dari Jakarta ke seluruh wilayah Jawa Tengah. Biasanya, saya Senin hingga Kamis sore ada di Jakarta, jika esoknya Jumat tidak ada kegiatan sidang, maka saya langsung meluncur ke Semarang untuk ngantor di DPD hingga Minggu. Kadang saya ada di daerah pemilihan (dapil) saya di dapil 2, atau keliling memonitoring dan konsolidasi ke daerah. Karena geografis yang luas, ada 35 kabupaten/kota, 573 kecamatan maka dalam hal monitoring, kami membentuk kordinator wilayah (korwil) sebanyak 10 korwil sesuai dengan jumlah dapil yang ada di Jawa Tengah. Bayangkan kalau kita bicara TPS, maka seluruh Jawa Tengah ada sebanyak 62.500 TPS yang harus kita awasi.

Dalam rangka pengawasan, kita juga memanggil para pengurus DPC yang dianggap kurang mampu melaksanakan tugas, tentunya setelah adanya monitoring. Jika memang bermasalah maka setelah ditangani badan etik DPD, memang badan ini tidak serta merta memutuskan, tapi kita serahkan ke majelis etik DPD. Kalau memang sudah tidak mampu lagi, maka nanti majelis etik akan menyerahkan ke badan seleksi organisasi (BSO) untuk pembenahan struktur partai ke depannya.

Selain konsolidasi, apa saja yang Anda lakukan untuk membesarkan Gerindra?

Tentunya, setiap kegiatan yang berkaitan dengan program partai kita adakan. Memang, ada kelemahan di kita, selama ini meski banyak kegiatan tapi tidak semuanya dipublikasikan, sehingga pimpinan pusat kadang sering bertanya mana kegiatannya, padahal media lokal kerap memberitakannya, tapi malah yang internalnya kurang.

Sebagai bentuk kampanye membesarkan Gerindra, kita di Jateng ini, dan mungkin baru ada di Jateng, yang namanya gambar Pak Prabowo mampu menandingi sebaran foto calon presiden lainnya yang tersebar di setiap titik strategis di tiap kabupaten/kota. Memang kami anggarkan di DPD bekerjasama dengan DPC serta para donatur yang berkenan.

Di samping itu kami juga bergerak dengan mendekati para pengusaha untuk bisa membantu kegiatan partai, tentunya sesuai dengan koridor yang berlaku. Faktanya, mereka begitu antusias untuk membantu kegiatan kita, saya lihat mereka begitu ikhlas membantu. Terbukti pada saat Pak Prabowo hadir di Solo, para pengusaha ini minta untuk bisa ketemu untuk mendengarkan pemaparan pandangan Prabowo tentang Indonesia. Hasilnya mereka terkesima bahkan mereka tidak bergeming sedikitpun hingga acara berakhir.

Tak lama sejak KPU mengumumkan partai peserta Pemilu 2014, beberapa partai yang tidak lolos menyatakan diri untuk bergabung. Adapula politisi lokal yang secara atasnama pribadi hijrah ke kita. Dengan bergabungnya kekuatan ini kita nilai sebagai energi baru, darah segar untuk mendulang suara Gerindra ke depan. Kalau dulu Gerindra, hanya ada 4 kursi di DPR-RI, 9 kursi DPRD Provinsi dan 65 kursi di DPRD kabupaten/kota, maka dengan bergabungnya partai dan pribadi-pribadi yang memiliki massa itu akan mampu mewujudkan target kita pada Pemilu 2014 nanti.

Bagaimana dengan proses pencalegan?

Setelah DPP mengumumkan pendaftaran bakal calon legislatif (bacaleg), tampak sekali antusiasme masyarakat yang mendaftar. Hampir 200 persen dari kuota. Di DPD saja kita butuh 100 caleg, yang mendaftar tercatat 197 orang. Tentu ini harus melalui penyaringan yang ketat. Paling tidak, kita sudah menyampaikan kepada DPD dan DPC dalam hal penyeleksian para bacaleg ini yang kita sebut dengan istilah PDLT (prestasi, dedikasi, loyalitas dan tidak tercela) sebagai patokannya.

Karena berkaca pada pengalaman di 2009 lalu, dimana asal orang mau direkrut jadi caleg, karena memang pada waktu itu susah sekali mengajak orang. Ternyata dalam perjalanannya setelah duduk sebagai anggota dewan, masalah muncul. Ada yang tidak mengerti tugas pokok dan fungsinya, ada yang hanya diam saja, tentu saja ini merepotkan. Bahkan ada yang berpandangan mereka menjadikan partai ini sebagai kendaraan, pragmatisme dan tidak mau tahu soal aturan yang berlaku baik yang tercantum dalam undang-undang maupun aturan partai. Untuk itu mumpung belum terlambat, mustinya DPP mau mendengarkan suara DPD, begitu pula kita di DPD mau mendengarkan suara DPC.

Berapa target di Pemilu 2014 mendatang?

Semula kita menargetkan perolehan suara 15 persen suara nasional. Tapi, sekarang kita target harus mampu meraih lebih dari 20 persen. Bahkan Ketua Dewan Pembina, Prabowo sendiri meminta kita untuk bisa meraih 30 persen. Untuk itu, kami sebagai pengurus DPD bertekad harus mampu meraih di atas 20 persen, agar bisa lolos untuk mengusung Prabowo di pilpres nanti. Setidaknya, dengan kekuatan Gerindra yang ada di daerah kabupaten/kota, dari 10 dapil, saya yakin bisa mendapatkan 15-16 kursi dari 20 persen yang saya targetkan. Artinya ada yang dua, ada yang satu. Tapi, kalau masing-masing dapil dapat meraih 2-3 kursi, maka 20 persen itu bisa diperoleh.

Memang, saat ini sebagian besar dari bacaleg DPR-RI sudah turun ke bawah secara intensif dan sudah merata di setiap dapilnya. Baik itu yang incumbent maupun yang baru calon. Tentunya ini akan menambah aroma ketanya persaingan, ditambah lagi dengan kian mengecilnya jumlah parpol peserta pemilu. Persaingan ketat juga terjadi untuk DPRD kabupaten/kota. Untuk itu saya menginstruksikan ke DPC untuk menyiapkan tiga calon kuat di setiap dapilnya.

Apa yang Anda sampaikan kepada para caleg yang akan berlaga di Pemilu 2014 nanti?

Saya selalu sampaikan kepada caleg bahwa Pemilu 2014 tidak sama dengan 2009 yang lalu. Kalau dulu 34 partai, kini hanya ada 10 partai. Dulu setiap partai tidak semuanya memiliki saksi di setiap TPS, sehingga suara pun dipermainkan oleh oknum. Hal ini saya ketahui setelah saya duduk sebagai anggota dewan dan mengurus parpol di Jateng. Nah, hal ini tidak akan terjadi lagi, karena 10 partai akan melototi semua suaranya dan terkontrol oleh saksi dari 10 partai itu.

Dan tentunya, dengan hanya 10 partai, dulu sebanyak 6000–7000 suara bisa jadi dewan tingkat kabupaten/kota, kini setidaknya harus meraih 15 ribu suara. Begitu juga dengan provinsi dan DPR-RI, kalau dulu 60-70 ribu bahkan ada yang 50 ribu suara bisa jadi, maka sekarang harus dinaikkan hingga tiga kali lipat.

Momentum saat ini mestinya Gerindra diuntungkan. Disamping keberadaan sosok Prabowo, juga keberadaan Gerindra sebagai partai alternatif yang masih dianggap jujur, bersih dan peduli rakyat. Tapi kita juga tidak tahu setelah 2014 nanti. Semoga hal ini terus terjaga bersih dan tidak tercela dan tidak mengenal pragmatism. Untuk itu, saya juga selalu sampaikan kepada para kader yang maju sebagai caleg maupun politisi dari partai lain yang gabung ke Gerindra harus siap, bahwa di Gerindra tidak mengenal pragmatism, korupsi, dan jangan sekali-sekali main dengan uang. Awas kalau ketahuan, bisa langsung dipecat.

Lantas bagaimana pula perkembangan Pemilukada Jateng yang akan digelar Mei 2013?

Menyangkut masalah pemilihan gubernur dan wakil gubernur (pilgub) Jateng. Sebenarnya Gerindra itu sesuai arahan Ketua Dewan Pembina, kami diminta untuk mencari tokoh yang bersih dan mempunyai kepedulian kepada rakyat dan mau kerjasama dengan partai. Setelah melalui proses panjang, pilihan jatuh pada Ibu Rustriningsih yang saat ini masih menjabat sebagai Wakil Gubernur Jateng. Namun dalam perjalanannya, hingga di akhir batas tanggal 5 Maret, tidak ketemu apa yang menjadi kehendak partai dengan apa yang menjadi kehendak bakal calon. Artinya kami mau tidak mau, tidak melanjutkan proses itu.

Alternatif berikutnya, jatuh pada Hadi Prabowo. Dia seorang birokrat yang kita anggap tahu kondisi Jateng yang memang harus diperbaiki. Maka pilihan kita jatuh pada Hadi Prabowo sebagai calon gubernur. Sementara wakilnya kita serahkan kepada Hadi Prabowo, apakah diambil dari partai pengusung atau dari pilihan dia. Waktu itu ada PKS, PPP, PKNU, PKB dan Hanura, Gerindra. Dengan total 40 kursi dari 100 kursi DPRD Provinsi. Artinya koalisi ini memiliki ada 40 persen kursi. Masing-masing partai mengusulkan calon, tapi Hadi Prabowo lebih memilih Don Murdono sebagai pasangannya. Akhirnya kita sepakati pasangan ini untuk maju sebagai cagub dan cawagub Jateng. Partai Gerindra diberi kesempatan untuk mengomandoi koalisi ini. Saya ditunjuk sebagai ketua kordinator partai koalisi. Disamping itu, ketua tim pemenangan pasangan Hadi Prabowo-Don Murdono juga diserahkan kepada Gerindra, yakni Agus Priyadi.

Target Anda di pilgub Jawa Tengah ini?

Momentum pilgub ini tidak semata-mata untuk pilgub saja, tapi untuk mengukur kekuatan ke depannya. Dengan kata lain inilah momen pemanasan mesin partai menghadapi 2014 nanti. Paling tidak, bila nanti sukses di pilgub ini, kita harapkan ke depan Gerindra akan lebih maksimal dan meraih kemenangan besar. Setidaknya, kalau menang, maka kami lebih enteng lagi mengangkat Gerindra di Jateng dan mengusung Prabowo di pilpres nanti.

Target kami untuk pilgub adalah menang. Paling tidak 40 persen suara bisa diraih. Selain disokong kekuatan partai pengusung, Hadi juga memiliki tim relawan. Begitu juga dengan Don, sebagai kader PDIP dia juga mengklaim telah mengantongi kekuatan massa PDIP yang tersebar di 29 dari 35 kabupaten/kota. Tak dipungkiri, nama besar ‘Prabowo’ akhirnya menjadi daya tarik tersendiri bagi Hadi Prabowo sebagai calon gubernur yang kita usung. Sehingga kita pun meluncurkan slogan, Hadi Gubernure, Prabowo Presidene.

Dari pemilukada pada 2013 di beberapa daerah, pasangan yang diusung Gerindra kalah, lalu seperti apa strategi Anda nanti?

Pasangan Hadi Prabowo–Don Murdono yang memiliki 40 persen suara parlemen memang akan melawan dua calon hebat. Ada pasangan Bibit Waluyo–Sudijono Sastroatmodjo, calon gubernur incumbent yang kini diusung Partai Golkar, Demokrat dan PAN. Lalu pasangan Ganjar Pranowo–Heru Sudjatmoko dari PDIP. Pasti diantara ketiganya ada kekurangan dan kelebihannya. Kita sudah menyiapkan strategi untuk memenangkan pasangan kita. Setidaknya dengan 40 persen itu, jika bekerja secara bersama dan bekerja keras, maka secara secara teoritis menang, tinggal kekuatan ini harus dijaga dan ditingkatkan. Kuncinya, harus ada komunikasi yang baik, kondisi baik, maka saya yakin menang.

Tentunya, dengan 40 persen dan enam partai pengusung, tidak dipungkiri ada saja kepentingan yang berbeda. Untuk itu harus kita jaga, meramu yang baik dengan partai pengusung maupun dengan calon. Karena basis kita berangkat dari nasionalis religius kalau diramu dengan bagus maka yakin menang. Tapi ini tidak mudah, perlu perjuangan bersama.

Bisa Anda jelasakan seperti apa karakter pemilih di Jawa Tengah?

Karakter pemilih di Jateng ini sangat menonjolkan popularitas, primordialisme dan pragmatis. Ada beberapa daerah yang tingkat pragmatisnya tinggi, ada pula yang tingkat primordialnya tinggi. Jangan lupa Jateng juga sebagai basis Nahdliyin terbesar setelah Jatim. Dan kita juga diuntungkan dengan masuknya PKB dan PKNU dalam koalisi di pilgub ini. Basis NU juga akan menjadi tolok ukur untuk memenangkan pilgub Jateng. Untuk itu pendekatan terus dilakukan oleh Hadi dan Don ke kalangan ulama.

Apa pesan Anda kepada kader dan simpatisan Gerindra Jateng?

Harapan saya, karena 2013 ini tahun politik dan menghadapi Pemilu 2014, maka mulai sekarang kita harus bisa menjaga soliditas di internal kita. Dari sekarang, kita harus bekerja, berjuang untuk memenangkan Pemilu 2014. Terlebih saat ini, dukungan serta animo masyarakat terhadap Gerindra dan Prabowo Subianto terus meningkat. Masyarakat sangat antusias, sangat menerima dan menanti Gerindra. Kalau caleg kita, pengurus kita bisa mengakomodir dan membaca situasi ini, saya yakin besok itu akan lebih meningkat lagi dan menjadi kenyataan. Dengan didasari rasa ikhlas, insya Allah, Tuhan yang Maha Kuasa akan mengabulkan harapan kita. [G]

H. ABDUL WACHID

Tanggal Lahir:

Jepara, 12 Mei 1961

Jabatan:

  • Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah
  • Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI)
  • Wakil Ketua HKTI Provinsi Jawa Tengah
  • Anggota Komisi IV DPR-RI

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Maret 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Abdul Wachid maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah II
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s