Lebih Dekat Dengan Dahlia Bachtiar : Memaksimalkan Peran Politik Perempuan

Berangkat dari kepedulian terhadap kaumnya yang masih dianggap sebagai pemanis belaka, ia memberanikan diri terjun ke dunia politik. Terlebih hingga saat ini peran perempuan di dunia politik belum maksimal. Hak politik perempuan dirasa masih jauh dari kaum laki-laki yang lebih memiliki kekuatan dalam melakoni politik di negeri ini. Politik pun sering dianggap sebagai dunia laki-laki.

dahliaSetidaknya itulah kegundahan yang dirasa oleh Dahlia Bachtiar, SH –akrab disapa Lia. Perempuan kelahiran Balikpapan, 8 Juli 1967 itu tengah menunjukkan kemampuan politiknya di tengah riuh suara politik kaum laki-laki di parlemen yang mendominasi. “Sejatinya, perempuan akan lebih baik memahami persoalan perempuan dan lebih mengerti bagaimana memperjuangkan kepentingan perempuan. Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” tegas perempuan yang terlibat di berbagai aktifitas sosial kemasyarakatan ini.

Menurutnya, selama ini kehadiran perempuan dalam politik masih sebatas sebagai pelengkap persyaratan, penggenap angka kuota dan pemanis belaka. Meski kebijakan hukum telah mengakomodir kepentingan perempuan sebesar 30 persen. Namun faktanya, keberadaan kaum perempuan di panggung politik masih jauh dari harapan. Masih banyak ditemukan kebijakan-kebijakan DPR yang tidak memiliki keberpihakan pada hak dan kepentingan perempuan secara umum. “Untuk itu, penambahan partisipasi perempuan juga harus beriringan dengan peningkatan kualitas politisi perempuan. Di samping itu, pendidikan politik memiliki peran strategis untuk meningkatkan partisipasi politik kaum perempuan,” ujar perempuan bugis Sinjai ini.

Keinginan Lia terjun di dunia politik praktis sudah tertanam sejak usia muda. Kesempatan itu baru datang di 2008 silam. Awalnya, ia diajak istri mantan petinggi militer untuk memimpin sebuah organisasi perempuan di DKI Jakarta di bawah bendera Partai Hanura. Namun, tak sampai setahun, karena kesibukan mengurus keluarga dan usahanya, mantan pramugari ini pun mengundurkan diri.

Rupanya keinginan untuk berbuat sesuatu yang terbaik bagi bangsa dan negara ini kembali membuncah. Gayung pun bersambut, seorang teman mengajaknya untuk ikut mendaftar sebagai calon legislatif (caleg) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada Pemilu 2009. Lia pun tercatat sebagai caleg daerah pemilihan (dapil) 3 DKI Jakarta. Sayang, kerja kerasnya belum membuahkan hasil, perolehan suaranya hanya menempati urutan kedua.

Meski tak berhasil melenggang ke Senayan, Lia tetap konsisten dan komitmen untuk terus ikut memperjuangkan dan menjalankan program aksi Partai Gerindra. Selain itu, Lia pun tercatat sebagai Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra DKI Jakarta. “Meski saya tidak lolos waktu itu, saya tetap konsisten menjaga suara konstituen yang ada di Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu,” ujar ibu dari dua anak ini.

Kini takdir berkata lain, sejak Maret lalu, Lia harus mengisi kursi DPR-RI –yang ditinggalkan pendahulunya— hingga 2014 mendatang, menggantikan posisi Harun Alrasyid. Sesuai pos pendahulunya, Lia pun dimenempati Komisi I yang membidangi pertahanan, intelejen, luar negeri, dan komunikasi dan informatika.

Lantas bagaimana pandangannya terhadap eksistensi perjuangan Kartini dalam hal emansipasi, di saat tidak ada lagi halangan bagi kaum perempuan untuk dapat berperan di segala bidang? Seperti apa pula aktualisasi dari semangat Kartini masa kini? Bagaimana pula ia menilai peran dan keterwakilan perempuan di dunia politik yang kian memanas jelang pemilu nanti. Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda yang menemuinya di galeri Omah Bu Sri di bilangan Jakarta Selatan, lulusan Fakultas Hukum Universitas Jakarta ini memaparkannya. Berikut petikannya:

Bisa diceritakan aktivitas Anda sebelum masuk ke Senayan?

Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sibuk mengurus anak dan usaha kecil-kecilan. Di samping itu saya juga aktif dalam kepengurusan DPD Partai Gerindra DKI Jakarta sebagai Wakil Ketua. Dan sejak sebulan lalu, saya mendapat tugas sebagai anggota DPR pengganti antar waktu menggantikan Pak Harun Alrasyid yang mengundurkan diri.

Bagaimana komentar keluarga ketika Anda mendapat tugas ini?

Syukur alhamdulillah semua mendukungnya, termasuk anak-anak saya. Bagi mereka, ternyata kesibukan saya di Partai Gerindra bukanlah kesibukan biasa, tapi perjuangan demi sebuah perubahan yang lebih baik di negeri ini. Semua itu saya niatkan sebagai ibadah.

Kapan Anda mulai terjun ke politik?

Sejak dulu saya memang mengagumi pemikiran dan ide perjuangan Pak Prabowo Subianto, terlebih, almarhum suami saya seorang tentara Angkatan Darat, tentunya kerap berdiskusi bagaimana dan siapa sosok Prabowo Subianto. Ditambah lagi ketika saya mendengar Pak Prabowo mendirikan Partai Gerindra, dan iklan Gerakan Indonesia Raya yang sering tayang di televisi kian menambah kekaguman saya kepada sang jenderal yang tegas dan berani. Padahal sebelumnya saya juga pernah bergabung di Partai Hanura. Waktu itu saya diajak oleh ibu Uga Wiranto dan dipercaya untuk memimpin organisasi perempuan Hanura untuk DKI Jakarta. Namun itu berjalan tak sampai setahun, saya pun mengundurkan diri.

Di tengah kekaguman itu, saya diajak seorang teman untuk bergabung di Partai Gerindra yang tengah mencari calon anggota legislatif (caleg). Akhirnya saya ikut mendaftar sebagai caleg di daerah pemilihan (dapil) Jakarta 3 yang meliputi Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu. Akhirnya sejak saat itulah saya bertekad untuk ikut berjuang menjadi bagian dari perjuangan Partai Gerindra dengan jadi caleg, meski akhirnya suara saya kurang memenuhi. Tapi sejak Maret lalu, saya dilantik sebagai anggota DPR pengganti antar waktu dari Gerindra. Inilah awal perjuangan saya di Senayan sebagai wakil rakyat.

Apa yang membuat Anda tertarik bergabung dengan Gerindra?

Selain karena sosok Prabowo Subianto, saya melihat dari visi misi dan manivesto perjuangannya, Partai Gerindra menempatkan diri sebagai partai pejuang, gerakan, dan pendobrak. Gerindra, adalah partai yang pertama kali dan satu-satunya mendobrak kebijakan sistim ekonomi yang dianut negara ini, dengan mengusung ekonomi kerakyatan yang sekarang ditiru oleh partai lain. Karena Gerindra itu gerakan dan tidak akan pernah berhenti bergerak, maka kita sebagai kadernya harus bergerak dan terus bergerak.

Kenapa Anda memilih dapil 3 DKI Jakarta?

Saya hidup di Jakarta sejak tahun 1984, paling tidak saya sudah mengenal Jakarta ini sudah hampir 30 tahun. Namun mengenai penempatan kala itu yang menentukan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra, akan tetapi saya memilih dapil 3 DKI Jakarta karena saya melihat di kawasan itu banyak sekali komunitas masyarakat asal Sulawesi Selatan. Dimana saya dan keluarga saya yang berasal dari Sulawesi Selatan pun banyak yang tinggal di daerah itu. Saya melihat, unsur kedaerahan masih kuat, dan ternyata partai pun menempatkan saya di dapil itu.

Apa yang Anda kampanyekan waktu itu?

Saya dulu mengkampanyekan tentang kesetaraan gender dan hak-hak dasar kaum perempuan. Artinya, mengajak para pemilih di dapil itu, khususnya kaum perempuan untuk memberi kesempatan kepada caleg perempuan untuk lebih banyak berperan. Di samping tentunya apa yang menjadi perjuangan Partai Gerindra dan sosok Prabowo Subianto.

Termasuk untuk Pemilu 2014 nanti?

Iya. Setidaknya meski waktu pemilu 2009 lalu saya tidak terpilih, namun untuk menjaga dan mempertanggungjawabkan suara konstituen, saya tetap melakukan dan terus mensosialisasikan perjuangan Partai Gerindra di dapil tersebut. Dan semoga di 2014 nanti, saya bisa melanjutkan untuk mewakili suara kaum perempuan di parlemen. Selain mengkampanyekan diri dan program ekonomi kerakyatan yang diusung Gerindra, tentunya sosok Prabowo Subianto sebagai calon presiden juga menjadi daya tarik untuk mengajak para pemilih nanti.

Apa yang Anda lakukan setelah menjadi anggota DPR?

Saya masuk di komisi I yang meliputi bidang pertahanan, intelejen, luar negeri, komunikasi dan informatika. Terus terang saya masih harus belajar banyak dengan tugas baru ini. Selain melanjutkan apa yang sudah dan akan dilakukan oleh pendahulu saya tentunya ada banyak hal yang harus saya ikuti. Karena selain sebagai anggota parlemen perempuan, tentunya banyak agenda khusus dalam rangka memperjuangkan hak-hak kaum perempuan juga menjalankan tugas sebagai kader untuk kebijakan-kebijakan partai dan fraksi di Senayan.

Menurut Anda peran perempuan di panggung politik saat ini seperti apa?

Jujur sebagai kaum perempuan, peran perempuan di politik, khusunya di parlemen hingga saat ini masih belum seperti yang diharapkan. Harapan 30 persen misalnya, itu terpenuhi dan bisa mewakili suara kaum perempuan. Tapi saat ini masih hanya keterwakilkan saja dan tak lebih sebagai pelengkap. Dominasi kaum laki-laki masih kuat. Saya berharap di 2014 nanti, kuota itu bisa terpenuhi dulu. Setidaknya jika terpenuhi kita akan mengetahui bagaimana suara perempuan dalam mewarnai kebijakan-kebijakan yang dihasilkan DPR. Apakah masih seperti sebelumnya atau ada perubahan.

Pasalnya, selama ini kadang-kadang martabat kaum perempuan itu dijatuhkan oleh kaumnya sendiri. Jujur perempuan itu memang lebih peka, tapi terkadang lebih mendahulukan perasaan dibanding rasio. Bagaimana kita perempuan bisa bangkit, kadang sesama perempuan saja masih saling cemburu, ego dan masih banyak lagi. Padahal potensi perempuan itu sangat luar biasa, jika diberdayakan. Makanya saya mengajak kaum perempuan khususnya perempuan Gerindra, ayo kita bersatu untuk memperjuangkan hak-hak kita sebagai anak bangsa.

Setelah masuk gedung DPR, suara perempuan di sana seperti apa?

Selain belum seperti yang kita diharapkan juga belum bisa mengimbangi suara laki-laki dalam hal membuat kebijakan. Kehadiran perempuan di parlemen tidak lebih sekadar pelengkap saja. Teriakan perempuan di DPR seperti menyanyi di tengah keramaian, kadang terdengar lalu hilang begitu saja di keramaian. Meski demikian, kaum perempuan harus terus berjuang. Tentunya tidak ada perjuangan yang sia-sia jika dilakukan dengan benar.

Lalu bagaimana dengan kondisi perempuan di Gerindra?

Keberadaan perempuan di Partai Gerindra sudah bagus dan aktif dalam setiap aktivitas politik. Hanya saja sebagai sesama kaum perempuan sebaiknya harus saling mengisi demi terwujudnya cita-cita perjuangan partai. Karena dalam pandangan Pak Prabowo Subianto dan perjuangan Partai Gerindra adalah masalah kaum perempuan menjadi prioritas. Partai Gerindra sebagaimana yang tertuang dalam manivesto perjuangan Gerindra, memperjuangkan kaum perempuan untuk mendapat pengakuan yang sama dengan kaum lak-laku di berbagai bidang kehidupan. Oleh karenanya, bagi Gerindra semakin banyak perempuan berada di sistim politik, semakin berkualitaslah kebijakan yang berkaitan dengan isu perempuan. Bahkan menurut informasi, Gerindra menempatkan 35 persen kuota perempuan dalam Daftar Caleg, melebihi dari yang diminta oleh KPU sebesar 30 persen.

Menurut Anda apa yang dicari perempuan ketika terjun di politik?

Pada dasarnya perempuan yang terjun ke politik itu bagus dalam rangka memperjuangkan hak-haknya. Dalam mengurus keluarga pun pada dasarnya itu aktivitas politik, bagaimana mengatur dan mengelola rumah tangga. Saya sebagai bagian dari perempuan yang terjun ke politik, yang saya cari adalah ibadah untuk memperjuangkan kaum perempuan. Di samping mengamalkan ilmu yang dimiliki saya juga ingin memanfaatkan waktu dengan baik demi sebuah perubahan yang lebih baik. Namun yang jelas untuk memperjuangkan perempuan, tidak mesti jadi anggota parlemen, yang terpenting kaum perempuan harus kompak dan jangan mau dimanfaatkan. Sebagaimana yang disampaikan Pak Prabowo, kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Menurut Anda politik itu apa?

Politik adalah upaya memperbaiki kehidupan suatu masyarakat. Jadi, kalau ingin memperbaiki kehidupan rakyat. Kalau ingin memperbaiki kehidupan sekitar kita sendiri, anak kita, cucu kita, mau tidak mau harus berpolitik. Karena politik itu bagaimana kita mensiasati untuk mencapai satu tujuan yang kita inginkan.

Apa yang menjadikan Anda terjun berpolitik?

Memang pada awalnya, saya yang dididik suami yang militer ingin menjadikan saya sebagai perempuan yang tangguh dan mandiri serta dapat bermanfaat bagi orang banyak. Dari sanalah saya pun berpikiran bahwa saya harus berbuat sesuatu tidak hanya di lingkungan keluarga saja, tapi untuk kepentingan yang lebih besar. Semua itu bisa dilakukan salah satunya dengan terjun ke partai politik. Saya tidak tahu 20 tahun lagi kondisi negara ini akan menjadi seperti apa, jika keadaannya seperti terus. Akhirnya saya pun terjun ke partai. Dan pilihan itu jatuh ke Partai Gerindra. Disamping programnya yang bagus, saya juga melihat sosok figur Prabowo Subianto yang memang cocok untuk memimpin negara ini.

Anda belajar politik dari siapa?

Saya belajar suami saya yang memang tentara dan mengerti dunia politik. Usai mengakhiri karir di militer, dia dikaryakan di Irjen Depdagri, lalu sempat juga menjadi care taker gubernur Bengkulu. Setelah menyelesaikan tugasnya, dia pun bergabung di Partai Bintang Reformasi (PBR) bersama KH Zainuddin MZ. Dari dialah saya mendapatkan banyak hal pelajaran bagaimana berpolitik.

Menurut Anda, eksistensi perjuangan Kartini saat ini seperti apa?

Ibu Raden Ajeng Kartini itu perempuan pejuang. Dia yang memperjuangkan hak-hak perempuan pada jamannya bahwa perempuan itu harus setara dengan laki-laki dalam mendapat hak dasar hidup. Saya setuju, tapi sebagai seorang muslim tentu ada batas-batasnya. Bahwa perempuan itu setara gender dalam hal pemikiran, wawasan dan pengetahuan, karena kalau perempuan tidak bisa menyeimbangkan kondisi jaman, maka bagaimana dengan anak-anaknya kelak. Perempuan berkarir saya setuju, asal tidak meninggalkan kodratnya sebagai perempuan, istri dan ibu dari anak-anak, serta dapat ijin dari suami. Namun faktanya, tak bisa dipungkiri lagi, banyak para perempuan yang tanpa sadar telah keluar dari kodratnya. Padahal sebagai seorang ibu, mengurus anak, mengurus suami dan keluarga itu bagian dari ibadah dan itu sangat mulia. Bagaimana pun laki-laki adalah imam.

Sekarang perjuangan perempuan itu lebih berat. Disamping mendidik anak dan mengurus segala urusan domestik, seorang perempuan juga harus punya wawasan, pandangan dan pemikiran yang bisa mengikuti jaman. Mulai dari urusan dapur hingga masa depan anak-anak. Terlebih sekarang ini, kesetaraan gender terus digalakkan dan perlakukan sejajar dengan laki-laki begitu besar. maka sebagai kaum perempuan, kita harus bisa berbuat dengan baik apa yang menjadi perjuangan kita, sebagaimana yang dulu dilakukan oleh Kartini.

Jadi apa yang seharusnya dilakukan perempuan?

Dalam rangka menyambut Kartini, kita kaum perempuan, Kartini-Kartini modern harus bisa lebih meningkatkan potensi sehingga menjadi perempuan yang tangguh. Tangguh dalam urusan rumah tangga, tangguh dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Menjadi perempuan-perempuan yang berkualitas sesuai dengan bidangnya.

Setidaknya peran kaum perempuan harus lebih signifikan di berbagai bidang. Salah satunya di bidang politik misalnya, peran perempuan diharapkan tidak terlalu mengandalkan kemurahan Undang-Undang yang mengalokasikan jatah minimal 30 persen bagi anggota legislatif. Akan tetapi, kehadiran perempuan di dunia politik, harus lebih karena kemampuannya yang memang unggul dan layak terpilih sebagai wakil rakyat, sekaligus diharapkan agar lebih mampu menyuarakan dan memperjuangkan aspirasi rakyat, bila dibandingkan dengan kaum pria.

Selain itu, sudah waktunya, untuk menyadarkan kaum perempuan bahwa berkarir bukan semata memperoleh uang agar lebih mandiri, namun juga memperoleh sebuah pengalaman, status sosial, pergaulan dan lain-lain bagi kaum perempuan sendiri, yang amat mungkin bermanfaat dalam proses pendidikan bagi anak-anaknya di rumah. Tentu, pekerjaan yang dimaksud adalah disesuaikan dengan kondisi maing-masing, sesuai dengan kesempatan yang memungkinkan. Saat ini, amat memungkinkan bagi kaum ibu sekalipun untuk dapat melakukan pekerjaan di luar urusan domestiknya, antara lain mengembangkan bisnis rumahan, termasuk dengan mempekerjakan orang lain, atau sekedar aktif dalam kegiatan sosial.

Di samping itu, dalam rangka meningkatnya peran kaum perempuan di segala bidang, harus memperhatikan tetap terjaganya kehormatan dan kemuliaan seorang perempuan. Hal ini amat penting, agar secara sosial kultural kaum perempuan akan lebih dihargai dan disegani oleh kaum laki-laki. Bukan justru sebaliknya, perempuan akan lebih dianggap oleh sebagian mereka, tak lebih dari sekedar sebuah kelebihan fisik. Sebuah bias dan pengingkaran yang nyata atas keluhuran seorang perempuan, bahkan bias terhadap cita-cita Kartini sendiri.

Apa harapan Anda?

Harapan saya bisa menjalankan tugas sebagai anggota wakil rakyat dengan sebaik mungkin dan sesuai yang diharapkan rakyat dan tentunya partai tempat saya bernaung. Kemudian di 2014 nanti, semoga saya kembali diberi kepercayaan oleh masyarakat Jakarta, Partai Gerindra menang, Prabowo jadi presiden, dan negara ini makmur sejahtera seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini. [G]

DAHLIA BACHTIAR, SH

Tempat dan Tanggal Lahir:

Balikpapan, 8 Juli 1967

Jabatan:

  •  Wakil Ketua DPD Partai Gerindra DKI Jakarta
  • Anggota Komisi I DPR-RI

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi April 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Dahlia Bachtiar maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 6 untuk daerah pemilihan (dapil) DKI Jakarta III
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s