Yervis M Pakan : Saatnya Memanaskan Mesin Politik

Empat belas tahun silam era reformasi bergulir di negeri ini. Massa bergerak menyuarakan perubahan. Ada yang akhirnya harus mendekam di dalam rumah tahanan. Yervis M Pakan merasakan kondisi itu. Ia sempat mendekam di Rumah Tahanan Salemba sebagai tahanan politik. Tapi ia tak menyesal. Baginya apa yang dilakukan demi sebuah perubahan, demi reformasi.

uervisKala itu Yervis tercatat sebagai aktivis Jaringan Kota (Jarkot) yang bersama sejumlah elemen mahasiswa terus ‘menggugat’ hegemoni orde baru. Sepuluh tahun kemudian, ia pun masih tetap aktif mengadvokasi kaum marginal di kampung halamannya.  Bedanya, kala itu 2009 tengah berlangsung Pemilihan Presiden (Pilpres), Yervis bersama beberapa politisi, termasuk Andi Rudiyanto Asapa membentuk tim Pasopati untuk mengawal pasangan Megawati-Prabowo di bumi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Selesai menjalankan tugas, rupanya ada keinginan dari sejumlah kalangan untuk bergabung ke Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Memang ketika pelantikan tim Pasopati, turut hadir Ketua Umum Partai Gerindra, Suhardi dan Anggota Dewan Pembina, Permadi. Dalam kesempatan itu, Andi Rudiyanto Asapa diminta untuk menahkodai Partai Gerindra di Sulsel. Seiring berjalannya waktu, jelang pelantikan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sulsel, namanya masuk dalam susunan pengurus sebagai Wakil Sekretaris. “Saya membantu Pak Rudi, karena sayalah yang mendorong dia ke Gerindra waktu itu,” ujar pria kelahiran Toraja, 29 Desember 1974 ini.

Sejak saat itu segenap waktu, tenaga dan fikirannya ia curahkan untuk membangun kembali Indonesia Raya khususnya di tanah kelahirannya di bawah panji Gerindra. Di DPD Gerindra Sulsel, ia mendapat tugas untuk mengembangkan dan membina kegiatan kepemudaan. Seakan tak mau kehilangan momen, sebagai aktivis jalanan, Yervis pun mengajak rekan-rekan yang konsen melakukan advokasi kaum marginal di Makassar untuk bergabung ke Gerindra.

Termasuk ketika Gerindra mengawal pasangan Rudi-Nawir (Garudana) dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada)  Sulsel, Yervis pun berada di garda terdepan dalam penggalangan massa. Meski kalah, namun setidaknya menurut Yervis, Garudana telah memberikan pendidikan politik yang luar biasa bagi masyarakat Sulsel. Betapa tidak, menurut Yervis, Gerindra yang hanya memiliki satu kursi di DPRD Sulsel, tapi berani tampil. Berbeda dengan PDIP yang punya 5 kursi, PDK dan PAN yang memiliki 6 kursi, dan PKS 7 kursi harus berkoalisi. “Disamping itu kampanye Garudana juga tidak mengandalkan kekuatan uang dan fasilitas,” tandasnya.

Tentu saja, menurutnya kegagalan itu menjadi cambuk tersendiri bagi dirinya sebagai kader Gerindra Sulsel. Untuk itu, dengan momen ini, ia pun bertekad untuk memaksimalkan mesin-mesin partai pada Pemilu 2014 mendatang. “Kita harus akui mesin politik kita belum bekerja dengan maksimal. Untuk itu, bagi semua kalangan, semua motor politik yang belum panas ini harus full gas pada pileg dan pilpres nanti,” tandas calon legislatif DPRD Provinsi Sulawesi Selatan ini .

Usai menamatkan SMA, Yervis berangkat ke Makassar untuk mengikuti tes UMPTN. Meski lolos, ia tak mengambilnya karena pilihan tersebut tidak bergitu tertarik. Akhirnya ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta dan kuliah di STIK Jakarta. Di kampus itulah dia mengenal dunia parlemen jalanan. Selain tercatat sebagai pengurus senat, Yervis pun bergabung dalam organisasi kemahasiswaan yang kerap turun ke jalanan. Di sana pula ia akhirnya berkenalan dengan para aktivis jalanan lainnya seperti Pius Lustrilanang, Desmond Mahesa –yang kini duduk di DPR-RI di bawah bendera Partai Gerindra.

Di samping itu, Yervis yang aktif di perguruan silat Merpati Putih, pernah dipercaya sebagai instruktur beladiri di beberapa divisi di Kopassus. Di saat itulah ia mengenal sosok Prabowo Subianto yang kala itu memang menjabat sebagai Danjen Kopassus. Baginya, Prabowo itu seorang jenderal yang visioner, berani dan tegas. “Saya sering melihat dia tengah berlari mengelilingi kawasan Cijantung sambil melihat keadaan sekelilingnya,” kenang Yervis yang mengidolakan sosok Prabowo itu.

Selain sibuk di DPD, Yervis juga melakukan pembinaan pada kelompok tani yang ada di tanah kelahirannya Toraja. Lewat kelompok tani itu, ia mengajak petani untuk membudidayakan pembibitan jati putih. Tidak hanya itu, ia juga merangkul para peternak, khususnya ternak Tedong Bonga (Kerbau Belang). Dimana Toraja yang terkenal dengan ritual adat yang memang menggunakan kerbau sebagai ikonnya. Dalam perjalanannya, kegiatan ternak kerbau itu disinergikan dengan pemanfaatan susu kerbau guna mendukung program gerakan revolusi putih yang dicanangkan Gerindra. “Tentunya kegiatan tersebut tak lepas dari perjuangan Gerindra yaitu ekonomi kerakyatan dan program aksi revolusi putih,” ujarnya. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi April 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Yervis M Pakan maju sebagai calon legislatif (caleg) DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari Partai Gerindra 
Advertisements

One thought on “Yervis M Pakan : Saatnya Memanaskan Mesin Politik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s