Hardiyanto Kenneth : Tampil Apa Adanya, Tanpa Basa Basi

Sikap berani dan gaya bicaranya yang blak-blakan apa adanya tanpa basa-basi menjadi gambaran pengacara muda yang terjun ke dunia politik ini. Ia kerap bersuara keras dan lugas. Bahkan bahasanya sering meledak-ledak dan kadang sedikit nyelekit bagi yang tak suka mendengar substansi pembicaraannya.

proYa, Hardiyanto Kenneth, SH, MH, MM, M.Si, memang dikenal sebagai sosok yang disiplin, pekerja keras, fanatik, loyal, tegas dan memiliki prinsip yang kuat. Namun dibalik itu, Ken, sapaan akrab pemuda peranakan Tionghoa Medan ini adalah pribadi yang sederhana dan pandai bergaul. Beragam kalangan, lintas komunitas suku, ras dan agama dekat dengannya. Tak heran bila pria kelahiran Medan, 13 April 1981 ini diterima dan dipercaya sebagai Bendahara Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Jakarta Barat.

Memang, kiprah politik Ken boleh dibilang baru saat bergabung di Partai Gerindra 2010 lalu. Awalnya seorang teman di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) terlibat dalam obrolan soal partai politik. Sang teman memperkenalkan Ken kepada Rani Mauliani, kader Gerindra yang duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta. Tanpa pikir panjang, peraih gelar Sarjana dan Magister Hukum dari Universitas Esa Unggul Jakarta ini langsung gabung.

“Gerindra adalah partai pertama saya dan tidak ada niat untuk berpaling. Karena visi Gerindra sama dengan visi saya yang ingin membantu dan memberi manfaat buat orang banyak. Padahal waktu itu teman lain mengajak saya untuk gabung ke PKS, PAN dan Demokrat,” ujar lulusan Magister Managemen Univesitas Gajah Mada, Yogyakarta ini.

Diakuinya, loyalitasnya kian kental saat banyak mempelajari manivesto perjuangan Gerindra dan pemikiran Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto. Baginya, sikap tegas, konsistensi dan apa adanya yang ada pada Prabowo telah mempengaruhi jalan pikirannya dalam berpolitik. “Dari dulu sampai sekarang dia tetap konsisten, meski banyak orang yang tidak suka dengannya,” kata ponakan dari tokoh Tionghoa, Anton Medan ini.

Di Pemilu 2014 ini, Ken menjajal kemampuannya maju sebagai calon legislatif (caleg) DPRD DKI Jakarta dari Daerah Pemilihan (Dapil) X Jakarta Barat. Memang pada awalnya, sempat ia diplot satu dapil dengan seniornya, Rani Mauliani.

“Saya tidak mau, karena saya bukan tipe orang penghianat yang lain di mulut lain di hati. Saya lebih senang mengalah dari pada harus dibenturkan dengan senior sendiri, karena saya bukan orang yang kacang lupa kulitnya. Memang saya punya ambisi tapi sifat loyal saya lebih besar, maka saya lebih baik minta mundur kalau satu dapil dengan Ibu Rani,” paparnya yang menilai politik sebagai pembelajaran untuk bisa berbuat baik kepada masyarakat, bangsa dan negara.

Menghadapi Pemilu 2014, suami dari dr Caroline Mulyadi ini, sebagai caleg pemula ia sadar harus rajin menyambangi dapil. Untuk memuluskan ruang geraknya, Ken membentuk simpul-simpul dengan nama Sahabat Kenneth yang tersebar di Kedoya, Kebon Jeruk, dan Taman Sari. Dalam blusukannya, Ken –yang tak sungkan-sungkan memperkenalkan diri sebagai caleg muda Tionghoa itu— mengaku tak mau mengumbar janji kepada calon konstituen. Ken lebih memilih menggarap aksi sosial pendukung program Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan Kartu Jakarta Pintar (KJP).

“Saya tidak maksa orang yang saya bantu untuk memilih saya kelak. Karena bagi saya itu bentuk dari amal saya kepada masyarakat dan bisa dipertanggungjawabkan. Terpilih atau tidak itu urusan Tuhan. Memang usaha-usaha untuk meraih suara tetap saya lakukan,” ujarnya.

Baginya, sebagai kader partai yang berlaga dalam perebutan kursi parlemen bukan sekadar maju saja, tapi harus siap mental dan finansial. Ken masih ingat betul pesan Prabowo bahwa kalau mau jadi kaya jangan masuk Gerindra. Untuk itu, sebelum maju sebagai caleg, ia sudah menyiapkan segala sesuatunya, termasuk harus cuti praktek sebagai pengacara. “Saya tidak nyari penghidupan di partai. Saya juga sudah berjanji kepada Tuhan jika kelak terpilih, kalau saya jadi maling, maka terkutuklah,” janji pengacara muda yang menjalani bisnis jual beli otomotif sembari menunggu proses pencalegan.

Ken lahir dan besar di keluarga sederhana. Saking sederhananya, keluarganya kerap mengalami kesulitan, termasuk soal pendidikan. Kala remaja, ia dikenal sebagai anak nakal. Namun Ken sadar dengan kenakalannya itu makin menyusahkan keluarga dan jalan hidupnya. Dari kondisi itulah, Ken ditempa untuk kuat dan berani. Hingga akhirnya berhasil menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul bahkan meraih magister di bidang hukum dan membuka kantor pengacara sendiri.

Ke depan bila impiannya terwujud, lewat kewenangannya, Ken bertekad ingin menjadikan Jakarta lebih humanis, bermartabat dan lebih mempunyai nilai jual. Sehingga manusia yang ada di Jakarta punya rasa aman, nyaman dan berjalan sesuai sistem. Untuk itu, Ken berpesan kepada masyarakat untuk memilih caleg yang sesuai dengan visi misinya, dan bisa membelanya kelak.

“Jangan memilih caleg yang hanya mulutnya manis, tapi pilihlah yang jujur, terbuka dan apa adanya, karena caleg inilah yang akan membantu dan membela Anda saat dia duduk di parlemen kelak,” pesan peraih magister ilmu Sosial dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ini. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Juli 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Yeni Meliani maju sebagai calon legislatif (caleg) DPRD Provinsi DKI Jakarta dari Partai Gerindra dari  pemilihan (dapil) Jakarta Barat X
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s