Lebih Dekat Dengan dr Benyamin Paulus Octavianus : Mengobarkan Semangat Para Dokter

Sejatinya, semangat membantu dan jiwa sosialnya sudah tak diragukan lagi. Namun hatinya terusik ketika melihat kondisi bangsa dan ketimpangan hidup begitu jelas di depan mata. Terlebih ajaran hidup untuk Tuhan dan sesama yang ditanamkan orangtua terpatri di dalam dada kian mengobarkan semangat untuk memberi manfaat bagi sesama manusia. Apalagi ikrar janji sucinya sebagai dokter untuk terus mengabdi kepada negeri menjadi panduan hidupnya.

BO KESIRA 001 smallItulah dr Benyamin Paulus Octavianus, Sp. P yang tersentak ketika mendengar jawaban Prabowo Subianto seputar keterlibatannya di dunia politik. Kata-kata Prabowo Subianto –yang tak lain Ketua Dewan Pimpinan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)— di tahun 2009 lalu itu meyakinkan dirinya untuk ikut terjun ke panggung politik. Sejak saat itu pula, Benny sapaan akrabnya menyatakan bersedia bergabung di Partai Gerindra. Oleh Prabowo, dokter ahli penyakit paru-paru itu dipercaya untuk duduk sebagai Ketua Bidang Kesehatan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra.

Pria kelahiran Malang, 13 September 1963 yang kesehariannya berpraktek di Rumah Sakit Cengkareng itu kian tersentak ketika melihat masih banyak rakyat di negeri ini yang tak mendapat akses pelayanan kesehatan. Padahal Negara telah mengalokasikan anggaran begitu besar untuk keperluan itu. Faktor keterbatasan pengetahuan, akses, serta kurangnya sosialisasi menjadi penyebab semua itu. Setidaknya ada sekitar 106 juta penduduk miskin yang mustinya mendapat jaminan kesehatan dari negara.

“Karena di tahun 2012 saja, negara telah mengalokasikan sebesar Rp 8,2 triliun untuk pelayanan kesehatan. Belum lagi anggaran yang ada pada APBD provinsi dan kabupaten/kota,” ujar dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta tahun 1990 itu.

Di saat yang sama, dokter Benny tak jarang mendengar sendiri tangisan dan keluhan masyarakat miskin saat berobat. Kebanyakan mereka mengadu soal rumitnya mengurus surat-surat, birokrasi yang berbelit-belit sampai ketika tiba di rumah sakit masih saja dipersulit.

“Mereka bilang mending mati saja, selesai urusan. Saya bilang kepada mereka jangan putus asa, karena orang miskin itu ditanggung negara, nanti dibantu kader-kader saya. Semua itu terjadi sebelum lahirnya Kesira,” terangnya sembari menegaskan inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Kesira.

Di RS Cengkareng, ia kerap menangani pasien dari kalangan masyarakat miskin di lingkungan Jakarta Barat yang didampingi para relawan yang dikomandoi Rani Mauliani seorang kader Partai Gerindra. “Tidak hanya sekali dua kali atau satu dua orang mereka mendampingi, tapi berkali-kali. Inilah yang membuat saya berpikir, kenapa hal ini tidak bisa dilakukan lebih besar oleh partai politik. Apalagi saya sebagai dokter yang menjadi ketua bidang kesehatan. Dari situlah saya bermimpi kalau hal ini dikolaborasi dengan DPP maka ini akan bisa dilakukan dari Aceh sampai Papua,” ujarnya.

Memang, dokter yang dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga pendidik ini sejak kecil sudah terbiasa terjun di kegiatan sosial. Sejak tahun 1970-an lewat yayasan yang didirikan ayahnya telah membina lebih dari 42 ribu anak asuh. Bahkan tak sedikit dari anak asuh itu sudah menjadi orang-orang yang sukses secara materi dan karir.

“Jadi kalau untuk urusan sosial sudah terbiasa, boleh jadi ngurus Kesira ini lebih gampang daripada ngurus yayasan sendiri. Tapi untuk bisa terjun di Kesira itu harus ada jiwa volunteer, suka dengan kegiatan sosial dan adanya panggilan jiwa,” katanya.

Lantas seperti apa perkembangan Badan Kesira yang dibentuknya bersama 150 dokter sejak dua tahun lalu? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda yang menemuinya di Jakarta beberapa waktu lalu, bersama rekan-rekan dokter Kesira lainnya, ayah satu orang anak ini memaparkan aksi-aksi sosial yang dilakukan Kesira. Berikut petikan wawancaranya.

Bisa ceritakan aktivitas keseharian Anda?

Saya ini dokter yang praktek di RS Cengkareng, RS Royal Taruna dan RS Graha Kedoya. Setiap hari Senin sampai Jumat dari jam 7 pagi sampai jam 1 siang saya bertugas sebagai dokter ahli paru-paru di RS Cengkareng. Setelah itu dari jam 2 siang hingga jam 5 sore mengurusi Badan Kesira. Dan baru pada jam 6 sore hingga jam 10 malam saya kembali praktek sebagai dokter. Di akhir pekan Sabtu dan Minggu biasanya saya keliling mengikuti kegiatan Kesira, paling tidak dua kali setiap bulannya.

Kenapa Anda terjun ke dunia politik?

Jadi sebenarnya saya ini kenal Pak Prabowo telebih dulu, baru dikenalkan ke Pak Hashim oleh beliau. Pada 2009 saya bertemu dengan Pak Prabowo. Waktu itu bersama kakak saya dalam sebuah pertemuan saya tanya kenapa beliau ingin jadi presiden. Pak Prabowo jawab panjang lebar, tapi yang membuat saya tersentak dalam pertemuan itu dia bilang, kalau kamu orang-orang baik tidak mau masuk dalam politik, kamu tidak usah berteriak-teriak kenapa bangsa ini seperti ini, seperti itu. Karena kamu tidak mau masuk ke politik yang ada orang-orang jahat yang masuk ke politik. Sejak saat itu, saya bertekad untuk masuk ke politik. Dan kata-kata itu saya tularkan kepada rekan sejawat dan mereka pun berbondong-bondong masuk ke Gerindra.

Bisa jadi, kalau saja saya tidak mengenal lebih jauh Prabowo dan membaca manivesto perjuangan Partai Gerindra, mungkin saya tidak ada di partai ini. Jujur sebelumnya saya tidak pernah terjun ke partai politik. Baru pada tahun 2009, saya memutuskan masuk ke dunia politik. Memang, sosial itu penting, tapi politik juga lebih penting untuk bisa mengubah bangsa ini. Saya ingat betul, waktu itu Pak Prabowo bilang, kalau mau mengubah bangsa ini maka harus rebut kekuasaan lewat politik. Tanpa berpolitik kita tidak bisa mengubah apa-apa hanya bisa berteriak.

Kenapa Anda membentuk badan Kesira?

Saya sebagai Ketua Bidang Kesehatan DPP Partai Gerindra merasa perlu adanya sebuah badan khusus yang menangani bidang kesehatan, maka dibentuklah Badan Kesehatan Indonesia Raya atau lebih dikenal Kesira. Badan ini menjalankan program-program DPP bidang kesehatan. Badan ini bersifat adhoc. Meski memang secara struktural, bisa dibentuk juga oleh pengurus tingkat DPC dan DPD yang ada. Jadi, suatu saat nanti Badan Kesira bisa dibubarkan dan melebur ke dalam kepengurusan DPC/DPD setelah dinyatakan semua mandiri. Setidaknya selama 5 tahun ini kita butuh untuk pematangan dulu.

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) sendiri baru ditandatangani oleh Pak Prabowo selaku Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, pada 2 November 2011. Biasanya sebuah lembaga ketika lahir baru mau menyiapkan segala program, tapi kalau Kesira sejak bulan Juni 2011 sudah melakukan aksi dengan ambulance yang ada, sementara waktu itu struktur organisasinya belum terbentuk, termasuk AD/ART pun belum ada.

Apa yang dilakukan Kesira?

Kesira mempunyai visi yang jelas yakni menjadikan Indonesia sehat dan sejahtera menuju Indonesia raya yang berperikemanusiaan dan bermartabat. Jadi selain bangsa ini sehat dan sejahtera, Indonesia juga harus mampu berperikemanusiaan dan bermartabat. Apa yang Kesira lakukan bukan sekadar membantu atau menolong saja, tapi harus memanusiakan dan tidak menurunkan harga diri, martabat masyarakat yang ditolong. Karena, tujuan dari program sosial ini mewujudkan kepedulian dan keberpihakan kepada masyarakat dalam memperoleh hak kesehatannya sebagai warga negara Indonesia, khususnya masyarakat marginal dan kurang mampu.

Program apa saja yang dijalankan Kesira?

Program yang dijalankan oleh Badan Kesira ada 6 program, diantaranya pendampingan bagi masyarakat miskin dan kurang mampu dalam akses dan mendapatkan hak pelayanan kesehatan. Karenanya, Kesira dilengkapi armada ambulance dan volunteer yang siap mendampingi mulai dari pengurusan surat-surat hingga mendapatkan fasilitas kesehatan. Program berikutnya, tanggap bencana, peningkatan kualitas hidup ibu dan anak, program mental health, menggerakkan revolusi putih dan mendirikan klinik Kesira. Setidaknya, program Kesira tentunya tak lepas dari program aksi Partai Gerindra bidang kesehatan. Termasuk pada momen-momen tertentu seperti lebaran yang baru saja berlalu.

Seperti apa program yang dimaksud momen tertentu?

Salah satunya di momen lebaran kemarin misalnya, DPP Partai Gerindra membentuk Posko Kesehatan sebanyak 200 posko yang dilengkapi ambulance berikut tim medis dan tempat beristirahat di setiap posko di sepanjang jalur mudik untuk melayani dan menemani perjalanan pemudik. Program baksos yang dimulai sejak tanggal 1–15 Agustus itu serentak dilaksanakan di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bagaimana ide pembentukan posko sebanyak itu?

Memang, awal pembentukan posko kesehatan bagi pemudik itu berangkat dari pengalaman tahun sebelumnya. Di para kader di beberapa daerah pada lebaran tahun lalu mendirikan posko di jalur mudik. Kala itu masih menggunakan fasilitas dan tenda seadanya serta beraneka warna tentunya. Akhirnya, kami rancang bentuk tenda dan fasilitas yang harus dilengkapi untuk sebuah posko. Jadi bentuk tenda yang kemarin digunakan itu sudah dirancang setahun lalu. Sebulan menjalang arus mudik berlangsung baru kita koordinasi dengan daerah yang menjadi jalur mudik. Dan percaya atau tidak, pembentukan posko itu telah siap bisa didirikan dalam waktu sebulan saja hanya lewat BBM dan SMS ke setiap Ketua DPD. Kami katakan kepada mereka kita akan membuat posko Gerindra, mereka bilang siap. Padahal waktu itu tenda dan dana belum ada. Inilah hebatnya para kader Gerindra yang rela berkorban tanpa pamrih.

Bisa dibayangkan selain menanggung 50 persen biaya pembuatan tenda, mereka juga siap menanggung biaya operasional selama 14 hari secara mandiri. Setidaknya biaya operasional yang diperlukan setiap poskonya sekitar Rp 10 juta. Buktinya ini berjalan lancar dan sukses. Intinya, Partai Gerindra memiliki kader-kader yang mempunyai nilai kekompakan yang sama, rela berkorban. Padahal DPP hanya membantu biaya pembuatan tenda 50 persennya saja, tapi mereka tidak ada yang ngomel hingga kini, termasuk ketika kami memantau langsung ke lapangan yang dilakukan oleh tim pengawas nasional Badan Kesira.

Kenapa hanya 200 posko?

Pertanyaan ini malah ada wartawan surat kabar nasional yang bertanya bagaimana bisa Gerindra membentuk 200 posko? Saya bilang kepada mereka, inilah spirit yang dimiliki Partai Gerindra dan kader-kadernya yang begitu menggelora. Jangankan 200 posko, 500 posko pun kami siap mendirikan secara serentak dari Aceh hingga Papua. Hanya saja, apakah semuanya akan bermanfaat. Boleh jadi, pada momen natal dan tahun baru nanti kita akan buat 500 posko dari Aceh hingga Papua. Bahkan ada sebagian masyarakat yang meminta posko ini tidak hanya sampai disini. Kami katakan tidak bisa, kita harus tutup tanggal 15 Agustus. Inikan seharusnya kewenangan dinas kesehatan setempat. Ada batasan kewenangan kita sebagai partai politik.

Lalu bagaimana perkembangan penyebaran ambulance Kesira?

Badan yang dibentuk oleh DPP Partai Gerindra ini tidak lain untuk menjalankan 6 program aksi Partai Gerindra salah satunya memberikan pelayanan kesehatan yang merata dari Aceh hingga Papua. Terbukti, program penyediaan ambulance sudah berjalan dua tahun. Setidaknya, hingga saat ini ambulance Kesira sebanyak 276 unit yang tersebar di Sumatera 80 unit, di Jawa 120 unit, NTB 8 unit, Sulawesi Selatan 24 unit, begitu juga Provinsi Bali sudah lengkap. Untuk di Kalimantan, Sulawesi dan Maluku, Papua baru beberapa saja. Khusus daerah yang mempunyai mobilitas tinggi dan cakupan yang besar akan kita tambah. DPC Jakarta Barat misalnya, awalnya hanya satu uni, sekarang sudah ada 4 armada terdiri dari satu mobil jenazah dan 3 unit ambulance. Itupun katanya masih kurang.  Dan mulai Agustus akhir hingga Oktober nanti, kami akan menyalurkan kembali sebanyak 150 unit. Jadi sampai akhir tahun nanti setidaknya kita sudah memiliki 427 armada ambulance. Partai mana coba yang punya armada ambulance sebanyak itu?

Bagaimana operasionalnya?

Terus terang, sebenarnya yang berat adalah biaya operasional dan pemeliharaannya. Setidaknya setiap bulan tidak kurang dari Rp 5 juta yang mereka keluarkan untuk operasional, kebutuhan bensin, perawatan mobil dan lainnya. Tapi, apakah mereka mengeluh? Selama ini saya belum pernah mendengar hal itu. Inilah yang membuat kami terharu, bersyukur bahwa jiwa berkorban kader Gerindra untuk rakyat dan bangsa ini tak ternilai.

Bagaimana pula dengan tenaga medis yang sudah bergabung?

Waktu Badan Kesira lahir saja, sudah ada 150 orang dokter, lengkap semua dokter ahli ada. Nah, saat ini Kesira sudah dikawal lebih dari 2600 dokter yang siap bekerja yang memiliki cita-cita dan harapan yang sama untuk mengantarkan Pak Prabowo Subianto menjadi Presiden RI. Bahkan beberapa dokter sering menghubungi saya dan menanyakan kapan Gerindra mengadakan baksos lagi. Seperti di Sumatera Utara, ada dr John Simanjuntak, dokter ahli kandungan yang bisa menghimpun sekitar 100 dokter, bahkan 10 dokter diantaranya tercatat sebagai pemilik rumah sakit yang ada di Sumatera Utara.

Semangat yang sama juga ada di Banten, dr Bambang yang bisa merangkul puluhan dokter bergabung di Kesira. Begitu juga di Jakarta setidaknya ada 400 dokter yang sudah menyatakan diri menjadi relawan. Ini semua bukan karena Badan Kesira itu hebat, tapi ada magnetnya, ada cita-cita, ada mimpi dari para dokter untuk mengubah bangsa ini. Waktu itu, saya ingat betul, ketika saya ajak para dokter dengan menyebutkan nama Partai ini di bawah pimpinan Prabowo, mereka langsung ramai-ramai masuk.

Dan saya yakin, mereka tidak punya kepentingan politik apa-apa, selain harapan itu karena sejatinya dokter itu lebih pada pengabdian. Mereka berharap, kalau negara ini dipimpin oleh Prabowo, maka harapan menjadi negara adidaya dan jaya bisa terwujud. Kenapa mereka, para dokter tidak punya kepentingan politik. Terbukti dari sekian dokter yang jadi pengurus inti Badan Kesira hanya ada tiga dokter yang maju sebagai caleg, itupun dipaksa supaya mau maju. Karena dokter yang lain tidak mau dicalonkan, termasuk saya.

Bisa dijelaskan embrio dari Badan Kesira?

Begini, saya kan bekerja di RS Cengkareng. Waktu itu setiap hari saya lihat ada teman-teman relawan yang dikomandani seorang kader yang juga Ketua DPC Partai Gerindra Jakarta Barat, Rani Mauliani yang mengantarkan pasien ke Rumah Sakit dengan ambulance bututnya. Pasien itu berobat ke saya, dokter yang notabene menjadi salah satu Ketua DPP Partai Gerindra bidang kesehatan. Paling tidak, setiap hari ada 10 orang yang mereka tolong dengan bantuan Jamkesda, waktu itu belum ada JKS. Saya sebagai salah satu Ketua DPP, berpikir kenapa hal tersebut tidak bisa dilakukan partai? Akhirnya saya susun program, salah satunya adalah program pendampingan yang saya jadikan sebagai urutan pertama.

Program itu saya sampaikan kepada Pak Hashim Djojohadikusumo dalam sebuah pertemuan makan siang di kawasan Perkantoran Mid Plaza selama enam jam. Boleh jadi itu makan siang terlama buat Pak Hashim dengan tamunya. Dalam pertemuan itu saya paparkan apa yang dikerjakan oleh kader Gerindra Jakarta Barat itu perlu dikembangkan oleh DPP dengan membuat program serupa di Jabodetabek sebagai percontohannya selama tiga bulan. Pada waktu itu, Pak Hashim langsung telepon ke Pak Prabowo. Termask menelepon Rani untuk mengecek kebenarannya dan mendengar langsung dari dia. Lalu saya diminta menemui Pak Prabowo dan Ketua Umum DPP untuk membicarakan langkah selanjutnya. Dalam pertemuan di kawasan Bidakara, Prabowo setuju dengan program itu dan akan menyiapkan 100 ambulance, tapi  kami minta 20 unit dulu, karena khawatir gagal. Ternyata, belum sampai tiga bulan, Pak Prabowo bilang kepada saya, kalau dia sudah pesankan 200 unit ambulance lagi.

Sekarang, apa lagi yang dilakukan Kesira?

Saya sekarang tengah membentuk badan pengawas, kali ini baru ada di Jakarta, untuk tingkat nasional diketuai oleh dr Petri. Kita akan bentuk di seluruh provinsi. Saya sudah mendapatkan beberapa orang untuk di Jawa Tengah, Jatim dan beberapa daerah. Pada dasarnya, mereka memang punya cita-cita yang sama untuk merubah bangsa ini menjadi jaya. Kami juga tengah membicarakan untuk menjadikan para volunteer Kesira ini untuk menjadi tenaga saksi di pileg nanti. Bahkan kami juga tengah merancang kerjasama dengan berbagai elemen sayap Partai Gerindra, dalam menjalankan program aksi. Salah satunya dengan Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria) untuk bisa sinergi dalam hal aksi tanggap bencana, dimana ada Satria disitu ada Kesira.

Menurut Anda, politik itu apa?

Politik itu bisa mengubah bangsa yang tidak karuan menjadi baik, juga sebaliknya politik itu mengubah negara yang maju dan baik menjadi hancur, contohnya negara Yugoslavia. Di Indonesia ini, semangat memecahkan provinsi itu saya rasa lebih pada upaya segelintir orang untuk menjadi penguasa daerah yang pada akhirnya akan membebani anggaran negara. Jadi menurut saya, politik itu alat untuk mengubah segala sesuatu ke arah lebih positif.

Apa pesan Anda untuk kader dan para volenteer?

Gerindra Menang, Prabowo Presiden, Indonesia Jaya bagi kami bukanlah sekedar slogan. Sudah semestinya semua orang yang punya tujuan sama dengan Gerindra berjuang total dan bukan untuk kepentingan personal. Partai Gerindra dengan 6 program aksi itu sudah lengkap, kalau dijalankan dengan benar ini akan mengubah wajah Indonesia. Kita semua punya mimpi menjadikan Indonesia sejahtera dan jaya. [G]

dr BENYAMIN PAULUS OCTAVIANUS, Sp.P

Tempat Tanggal Lahir:

Malang, 13 September 1963

Jabatan:

  • Ketua Bidang Kesehatan DPP Partai Gerindra
  • Ketua Umum Badan Kesehatan Indonesia Raya (Kesira)

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Agustus 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s