Lebih Dekat Dengan Heru Johansyah : Kader Gerindra Harus Berjiwa Kesatria

Jangankan darah dan airmata, nyawa pun ia akan berikan untuk menjalankan darma baktinya kepada rakyat, bangsa dan negara. Baginya, selama lambang Garuda masih di dada, sebagai seorang kesatria, ia akan terus berjuang di garis terdepan. Bukan untuk mengejar jabatan, tapi memastikan dirinya adalah seorang satria.

herusItulah tekad Heru Johansyah. Sosok kader Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) yang dipercaya mengemban tugas sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria). Akrab disapa Heru, pria kelahiran Jakarta, 26 April 1977 ini terus mengobarkan semangat jiwa kesatria kepada seluruh kader dari Sabang sampai Merauke. Terlebih menghadapi Pemilu 2014 mendatang.

“Perang telah dimulai, bendera telah dikibarkan, genderang telah ditabuh, saya mengajak teman-teman Satria untuk terus gelorakan semangat perjuangan, semangat pemenangan, tujuan kita sudah dekat. Dibutuhkan kerja keras, keringat yang banyak, materi yang banyak, kekompakan yang kuat untuk memenangkan Partai Gerindra dan menjadikan Prabowo sebagai Presiden RI,” tegasnya.

Jiwa kesatrianya, memang telah nampak sejak usia remaja. Sewaktu kelas 1 SMP, ia berani memutuskan untuk keluar dari rumah dan menetap di padepokan pencak silat. Alasannya cuma satu, sebagai petarung sejati ia tidak mau menyusahkan orangtuanya dan mau hidup mandiri. Heru pun akhirnya mampu survive dan tampil sebagai ‘jawara’ pencak silat dibawah binaan Satria Muda Indonesia (SMI) –sebuah padepokan pencak silat yang didirikan Prabowo Subianto— yang disegani banyak pihak. Di SMI inipula ia digembleng para guru dan seniornya, seperti H Umba dan Sufmi Dasco Ahmad.  “Berkat jasa dan didikan kedua orang itulah, akhirnya saya bisa survive hingga sekarang,” ujarnya yang duduk sebagai Sekretaris PP SMI Komda DKI Jakarta.

Disamping sibuk membina bibit-bibit atlet pencak silat, Heru pun dipercaya untuk melatih tentara dari kesatuan Kopassus, Marinir, Densus Anti Teror, dan masih banyak lagi. Sebelumnya, Heru membantu mengembangkan salah satu perusahaan milik Sufmi Dasco Ahmad, orang yang banyak menempanya baik dalam urusan profesionalitas dunia kerja, organisasi maupun politik.

Keterlibatannya di dunia politik bukanlah datang begitu saja atau sekadar ikut-ikutan terbawa arus euphoria reformasi 1998 silam. Proses panjang dan melelahkan sebagai bagian dari elemen gerakan organisasi kepemudaan membawanya ke dunai politik praktis. Termasuk ketika membesarkan SMI yang didirikan oleh Prabowo Subianto. Puncaknya, ia pun terlibat langsung dalam proses kelahiran Partai Gerindra 2008 lalu. Di partai ini, Heru dipercaya sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra.

Tak lama kemudian, Heru mendapat mandat untuk mendirikan sebuah organisasi kepemudaan di bawah payung Partai Gerindra. Selama tiga hari tiga malam, dengan beberapa teman yang ditunjuk ia pun menggodok konsep organisasi yang bakal dibentuknya. Lalu terbentuklah, sayap dengan nama Satria (Satuan Relawan Indonesia Raya) pada tanggal 30 Mei 2008. “Jadi bukan sekadar ikut-ikutan,” tegasnya.

Menurut Heru, layaknya seorang kesatria dan petarung sejati, kader Satria harus siap di segala medan laga. Heru mengaku bukanlah sosok yang ambisius akan jabatan. Namun karena mendapat tugas dari para seniornya untuk menahkodai Satria, ia pun bertekad untuk membesarkan sayap tertua di partai berlambang kepala burung Garuda itu. “Kita memang belum bisa menyenangkan Partai Gerindra dan Prabowo, tapi kita tahu apa yang dibutuhkan partai dan Prabowo,” kata ayah dua orang anak ini.

Lalu seperti apa pandangan dan rencana aksi kerja politik Satria menjelang Pemilu 2014 mendatang? Bagaimana pula ia memberi pemahaman kepada publik seputar pandangan negatif terhadap Prabowo Subianto. Dengan penuh semangat, ayah dua anak ini memaparkan kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda yang menemuinya sesaat sebelum bertanding sepak bola di Stadion PSPT Tebet, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya:

Sejauh ini bagaimana perkembangan Satria?

Kalau saya bicara realitas yang ada, ke depan Gerindra menjadi sebuah partai yang mampu berdikari, berdemokrasi, mampu menjadi partai yang diidam-idamkan masyarakat. Partai yang mampu melakukan pembinaan bernegara, berpolitik, berdemokrasi bagi elemen bangsa yang saat ini masih dirasa kurang. Antara Satria dan Gerindra itu melekat, karena bagian tubuh langsung dari Gerindra, bukan ormas yang berafiliasi ke Gerindra. Satria jelas hirarkinya. Kita akan bergerak semaksimal mungkin baik tenaga, pikiran, materi untuk menjadikan Gerindra besar. Gerindra Menang, Prabowo Presiden.

Memang, selama ini kita tahu, Satria tidak bisa menyenangkan partai. Tidak bisa memberikan kesenangan kepada Pak Prabowo, tapi Satria tahu apa yang dibutuhkan partai dan yang dibutuhkan Prabowo. Jangankan darah dan air mata, nyawa pun akan kita berikan. Satria sebagai anak sulung kita akan berikan contoh, kepada adik-adik kita di bawah. Selama lambang garuda masih di dada, kita tetap akan berjuang menjadikan Gerindra menang dan Prabowo Presiden.

Keputusan penting apa yang dihasilkan dari Rakernas 2013 lalu?

Seperti yang kita ketahui, bahwa Rakernas atau Rapat Kerja Nasional sebagai bentuk mekanisme dan tahapan sebuah organisasi. Rakernas kemarin momentumnya berkaitan dengan penentuan anggota daftar calon legislatif (caleg) sementara. Artinya, dalam kesempatan itu kita menyerukan kepada seluruh pimpinan daerah dan kader untuk menjaga potensi kader Satria yang akan maju dalam proses pencalegan. Berbagai strategi bagaimana cara kita mendudukkan kader Satria ke kursi dewan. Dan semua tahapan yang sama sudah kita lakukan di daerah dan cabang.

Perlu diketahui, Satria yang notabene sebagai sayap yang mandiri, dari berdiri sampai sekarang, walau tidak dibiayai partai, kita tetap mandiri. Buktinya kita berhasil menggelar Rakernas dengan biaya swadaya. Disitulah kekuatan Satria, kita mampu tidak hanya membuat tahapan dan mekanisme organisasi sayap partai, tapi juga mandiri berdiri di atas kaki sendiri.

Lalu selama ini dari mana dananya?

Paling ada bantuan dari teman-teman yang sudah sukses secara materi. Seperti pada saat Rakernas kemarin, saya ucapkan terimakasih kepada para Pembina seperti Aji Gutomo, Ahmad Muzani, Sufmi Dasco Ahmad, Dahlia Djalal, Ariza Patria, M Taufik, Agus Jabo dan Debbie Asapa yang telah membantu. Walau tidak besar, itu sangat luar biasa buat kita, karena mereka ini atas nama pribadi. Dan kesuksesan Rakernas kemarin itu karena kerja tim yang solid dan berkat bantuan para Pembina tersebut.

Berapa kader Satria yang maju dalam Pemilu 2014 nanti?

Untuk tingkat provinsi dan kabupaten / kota jumlahnya cukup signifikan. Namun demikian, tidak semua yang mengajukan diri sebagai bakal caleg kita setujui. Kita tidak mau sembarang memilih kader untuk maju. Kalau mereka ngoyo, saya akan larang, dari pada mereka maju tapi tidak dapat suara tentu itu akan jadi beban sendiri untuk kita dan partai. Untuk di DPR-RI, hanya ada 5 kader. Terpilih atau lolos tidaknya menjadi caleg Gerindra itu bukan wewenang kami, tapi DPP.

Nah, terpilih atau tidak terpilih, kader Satria harus tetap berjiwa besar layaknya seorang kesatria sejati. Kita harus menerima konsekuensi tersebut dan tetap bekerja untuk kemenangan partai. Karena kita adalah anak kandung partai, kepanjangtanganan dari partai. Kita tidak peduli, dia (caleg) orang luar atau dalam, kita akan dukung partai ini. Kita tidak mungkin mendukung salah satu calon, karena kita bukan perahu politik pribadi-pribadi caleg.

Kader Satria itu ya kader Gerindra juga, makanya kita akan terus membesarkan partai. Harus diingat, bahwa fungsi sayap adalah sumber dan lumbung partai. Satria itu organisasi sayap pertama di Gerindra dan memposisikan diri sebagai organisasi pembinaaan. Di situlah letak penggemblengan kader.

Kenapa Anda sendiri tidak maju sebagai caleg?

Itu pertanyaan yang sama yang orang lain tanyakan kepada saya selama ini. Saya pikir biarkan teman-teman yang maju. Kalau saya tidak usah dipikirkan, menjadi anggota legislatif itu tidak mutlak tujuan hidup saya. Saya bisa survive di bidang lain. Saya cukup membina, menciptakan kader yang potensial, kader yang mampu memberikan yang terbaik untuk Gerindra, bangsa dan negaranya. Perlu diketahui, kader Satria yang maju adalah orang yang potensial untuk menang. Kalau tidak menang buat apa, karena yang kita cari adalah kursi.

Memang, saya tahu dan optimis kalau maju, saya bisa meraih kursi, tapi saya mencoba memberikan kesempatan kepada teman-teman. Saya lebih banyak berada di belakang layar.  Yang jelas orang akan tahu bahwa kader-kader yang duduk di legislatif nanti adalah kader terbaik Satria. Kalau saya mau manfaatkan jabatan partai, saya bisa kaya raya. Bahkan beberapa waktu lalu, ada anak seorang petinggi salah satu parpol akan memberikan Rp 20 miliar, tapi saya tolak. Bukan uang yang saya cari. Rakernas pun kita mampu mandiri. Saya berharap Satria lebih diperhatikan dan menjadi organisasi yang menciptakan kader-kader terbaik. Saya tidak suka kader Satria yang melempem.

Lantas apa yang akan dilakukan Satria menghadapi Pemilu 2014?

Gerakan prefentif. Satria melakukan upaya prefentif optimis, percepat gerakan struktural hingga anak ranting. Ini adalah cara untuk meminimalisir, kalau kader Gerindra yang ada di daerah atau yang menjadi caleg itu tidak mau bekerja untuk meraih kursi. Maka kita akan terjun langsung, karena target yang kita inginkan harus lebih dari 150 kursi DPR RI. Karena dengan modal itu, kita akan bisa mengantarkan Pak Prabowo sebagai Presiden RI.

Bagaimana caranya?

Kita sosisialisasi terus. Semua kader Satria bersama Prabowo dan Gerindra, bersama caleg yang ada akan bergerak ke bawah untuk memenangkan Gerindra. Kalaupun caleg itu tidak mau turun, maka kewajiban Satria untuk turun, tanpa harus disuruh. Dukungan Satria tidak kepada salah satu caleg  saja. Dukungan Satria menyeluruh kepada seluruh caleg.

Satria akan mencoblos Partai Gerindra kalau di situ tidak ada kader Satria yang maju. Karena kalau kita mendukung salah satu caleg, nanti yang lain minta didukung juga. Lebih baik seperti itu, daripada ribut. Artinya misalnya di dapil A, targetnya meraih dua kursi, caleg yang satu bukan Satria, dan atau yang kuat hanya satu, yang satunya kurang. Karena target dua kursi, maka kita akan bantu dan mem-back-up caleg yang lemah atau kurang kuat ini. Apa pun yang terjadi suara partai yang banyak, artinya Satria bekerja seperti itu. Satria mendukung partai, tidak dukung caleg, itulah sikap bijak Satria.

Bagaimana pula Satria menyikapi adanya kericuhan dalam proses pencalegan?

Itu dinamika politik. Tidak hanya di Gerindra, di partai lain pun sama, begitu adanya. Pertanyaannya, apakah mereka mau bekerja kalau dikasih nomer buncit? Apakah mereka mau bekerja mati-matian untuk meraih kursi? Kalau mereka tidak mau bekerja, maka sekali lagi Satria siap turun untuk meraih suara kursi tersebut.

Apa hal itu berlaku juga dengan sayap lain?

Saya tidak tahu. Saya tidak mau mencampuri dapur orang. Itulah dinamika politik, walaupun ujungnya adalah persaingan. Ada selentingan kabar, kader Satria digagalkan oleh sayap lain, saya tidak peduli, karena itu wewenang penuh DPP. Terpilih tidak terpilihnya, Satria akan terus berjuang dan berjiwa kesatria, sesuai dengan namanya.

Seberapa besar kekuatan kader Satria untuk mendulang suara?

Kekuatan Satria merata di seluruh daerah, tapi memang ada beberapa daerah yang potensial, seperti Jawa Tengah, Sulawasi Tenggara, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan dan Jawa Barat. Yang perlu dicatat adalah semua daerah memiliki potensi sendiri sebagai kekuatan Gerindra. Kalau baca struktural, di pusat lebih dari 100 orang, di daerah minimal 47 kader yang menjadi pengurus, sementara di PC (Pimpinan Cabang kabupaten/kota) minimal 37 orang. Setidaknya orang yang menjabat sebagai pemimpin Satria, itu seorang pemimpin punya massa, dan mereka mau jadi ketua.

Seperti apa kader Satria yang maju sebagai caleg?

Saya bisa jamin, kader Satria cukup kualified, karena semua tahapan di pembinaan sudah kita terapkan. Artinya, kalau sistem kita bagus, maka kader yang maju akan bagus juga. Siapa pun dia, kalau ingin jadi kader maka harus dulu ke sistemnya. Karena yang namanya kader itu, pemimpin massa, dia punya massa, tahu strategi politik, propaganda politik, mekanisme organisasi politik. Kalau sekadar punya KTA, itu anggota biasa.

Dimata Anda, seperti apa sosok Prabowo?

Prabowo seorang negarawan. Kalau bicara berani, tegas ada pada dia. Saya bisa jamin, jiwa nasionalis Prabowo itu lebih dari saya dan orang lain. Maju sebagai calon presiden bukan untuk mencari kekayaan. Karena tanpa jadi presiden pun dia sudah menjadi kaya raya. Seorang Prabowo jangankan diminta hartanya, nyawanya pun akan dia berikan. Saya sebagai pengikit Prabowo, kalau saya punya nyawa dua, saya akan berikan kepada bangsa dan negara

Bagaimana Satria menghilangkan pandangan negatif masyarakat tentang Prabowo?

Saya banyak ditanya soal ini. Hanya saja, selama ini pula orang tidak tahu pembenarannya. Tudingan pelanggar HAM selama ini, itu cuma asumsi saja. Semua itu sudah dipaparkan oleh Pak Fadli Zon. Kalau kita analisa lebih mendalam lagi, kala itu Prabowo bukanlah seorang Panglima TNI yang pada saat kejadian tersebut, semua jenderal tidak ada di tempat. Karena ini ibukota yang punya kewenangan  bukan sekadar setingkat Pangdam tapi Panglima TNI. Dan ternyata kala itu Prabowo yang menanggung seperti itu. Sebagai seorang patriot, sebagai tentara yang punya sapta marga, dia rela pasang badannya, dia dihujat bahkan ditikam dari belakang tetap secara kesatria menghadapi situasi kisruh tersebut. Itulah seharusnya jiwa seorang kesatria.

Apa yang dilakukan Satria?

Kita tetap memberikan pemahaman kepada masyarakat yang masih mempertanyakan hal itu. Bahwasannya, tidak seperti itu duduk perkaranya, semua masih gelap. Memang semua orang menyalahkan Prabowo, tapi inilah yang terjadi. Buktinya, hingga saat ini dugaan itu tidak terungkap. Cuma masyarakat masih saja menyelahkan Prabowo. Tapi Pak Prabowo menghadapinya dengan jiwa kesatrianya dan bertanggungjawab. Semata-mata itu untuk kebesaran Gerindra, Prabowo, bangsa dan negara. Kalau bangsa ini dipimpin oleh seorang Prabowo, saya yakin akan kembali ke puncak kejayaan Indonesia sebagai negara dan menjadi macan Asia.

Sebagai kader, saya percaya orang terbaik Prabowo tidak ada di sampingnya. Orang terbaik Prabowo selalu berjuang di garis terdepan. Apakah anda pernah lihat saya bersama Pak Prabowo? Saya tidak menganggap diri saya terbaik, tapi saya mencoba untuk menjadi yang terbaik dengan cara membesarkan partai dan sayap yang saya pimpin, tanpa dibiayai partai, tanpa merepotkan beliau.

Menurut Anda bagaimana kepemimpinan nasional saat ini?

Pemimpin saat ini melempem. Saya kira tidak hanya Gerindra, yang lain juga punya keinginan sama. Siapa yang tidak ingin bangsa ini menuju kebaikan, kemakmuran dan kejayaan. Kalau bicara kekayaan, kita negara kaya. Dengan sumber daya alam yang luar biasa kaya tapi tidak mampu mensejahterakan rakyatnya, tidak mampu membeli alat teknologi. Karena memang semua tergantung pada sikap pemimpinnya. Untuk itu kita butuhkan pemimpin yang mampu, bukan pemimpin yang hanya mementingkan partainya. Politik itukan alat berjuang, tapi kenapa sekarang banyak disalahgunakan.

Pesan untuk kader Satria?

Melihat kondisi bangsa seperti ini, saya mengajak kepada seluruh kader, ayolah kita tetap bersemangat. Apapun yang terjadi, bangsa kita tengah diuji. Ke depan kita menangkan dulu Gerindra, kita menangkan dulu Prabowo. Karena Prabowo tidak akan menutup mata untuk kebaikan bangsanya. Itu yang saya bilang, kalau dia punya sembilan nyawa sekalipun, maka akan diberikan semua untuk kepentingan masyarakat. Bicara harta kekayaan, dia memang kaya. Maka keinginannya, bagaimana caranya masyarakat kita sejahtera. Masa, bangsa lain bisa, kita tidak bisa.

Terus terang, saya berharap Satria juga diperhatikan, karena ini sayap partai bukan ormas. Sayap itu hirarkinya jelas, sifatnya jelas. Dalam pembinaannya minimal ada subsidi, namun demikian, kita tidak berkecil hati. Buktinya, selama 5 tahun, kita bisa bertahan sampai hari ini, walau tidak ada suntikan dana. Nah, ini bentuk loyalitas kita, jusru tidak dibiayai pun Satria menjadi kekuatan yang kuat dan semakin bernapsu untuk membesarkan. Karena sistem yang kita terapkan adalah politik silaturahmi, politik kekeluargaan. Satu sakit, sakit semua. Satu dicubit semua merasakan. Ini yang ada di Satria, makanya KNPI pun geleng-geleng dengan kemandirian Satria. Satria bisa menjadi role model, sebagai organisasi meski tanpa dibiayai partainya, tetap jalan. [G]

HERU JOHANSYAH

Tempat dan Tanggal Lahir:

Jakarta, 12 April 1977

Jabatan:

  • Ketua Umum PP SATRIA
  • Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra
  • Sekretaris PP SMI, Komda DKI Jakarta

Catatan:

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Juni 2013

Advertisements

One thought on “Lebih Dekat Dengan Heru Johansyah : Kader Gerindra Harus Berjiwa Kesatria

  1. Bgmana caranya untuk pembentukan sayap satria d wilayah sulawesi utara ? Klo memang belum ada saya siap untuk membentuk d sulawesi utara,,, apa persyaratan untuk pembentukannya…. Nama saya aldo no hp 089698421112 terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s