Lebih Dekat Dengan Dairul : Tinggalkan PNS, Total di Gerindra

Dibesarkan dalam keluarga birokrat, tak membuatnya berpuas diri. Terbukti, sepanjang karirnya di birokrasi yang ditekuni sejak 1988, sudah dua kali ia mengundurkan diri. Terakhir, 1 Mei lalu, ia melepaskan jabatannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Pertanian dan memilih terjun ke dunia politik. “Saya ingin mengabdi pada masyarakat secara luas melalui jalur politik,” tegas Dairul yang saat menekuni karirnya sebagai pegawai negeri sipil, ia tidak merasakan sesuatau yang berarti dalam hidupnya.

CALEG DPR-RI DAPIL BANTEN 1 NO. URUT 2

CALEG DPR-RI DAPIL BANTEN 1 NO. URUT 2

“Selama menjadi PNS, perjalanan hidup saya seakan kurang berarti,” ungkap pria kelahiran Ujung Pandang, 1 Januari 1971 ini yang maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) DPR-RI Partai Gerindra. Baginya, banyak hal menarik dari aktivitas berpolitik. Selain tantangannya lebih besar, siapapun bisa ikut mengubah bangsa ini lewat jalur politik.

“Bangsa ini sangat bergantung pada siapa yang menunggangi partai politik. Jika diisi orang-orang baik, maka bangsa dan negara ini akan menjadi lebih baik. Tapi sebaliknya, jika diisi orang-orang jahat, jangan salah kalau negara menjadi seperti sekarang ini,” papar kandidat doktor dari Universitas Brawijaya Malang ini.

Sejatinya, keterlibatannya di dunia politik bukan saat ia masuk masa pencalegan saja, tapi sejak remaja. Ia muali terlibat di partai berlambang burung garuda ini, sejak partai ini didirikan. Hanya saat itu ia hanya di belakang layar, karena terikat sebagai PNS. Namun kini, ia menjadi caleg DPR-RI nomor urut 2 dari Daerah Pemilihan (dapil) Banten 1, meliputi Kabupaten Lebak dan Pandeglang.

Tampilnya ayah empat anak ini di bumi para jawara bukan tanpa sebab. Pasalnya, ia dianggap mampu dan lebih mengenal kondisi serta potensi dapil Banten 1 yang terletak di wilayah selatan provinsi ke-28 itu. “ Daerah Banten bagian selatan memang termasuk daerah tertinggal. Inilah yang menjadi tantangan saya untuk berbuat sesuatu agar predikat itu bisa lepas,” ujar politisi yang dipercaya sebagai anggota Dewan Penasehat  DPD Partai Gerindra Provinsi Banten.

Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda yang menemuinya di Jakarta beberapa waktu lalu, Direktur Eksekutif LSAKD (Lembaga Studi Akuntansi Keuangan Daerah) memaparkan aktivitas politiknya menjelang Pemilu 2014. Berikut petikannya:

Bisa ceritakan sejak kapan Anda terjun ke politik?

Saya terlibat di dunia politik sejak remaja. Sejak SMA saya sudah aktif di Golkar, tapi itu karena orangtua saya seorang pamong pemerintahan, mau tidak mau harus mengikuti semua kegiatan waktu itu.

Bisa diceritakan keterlibatan Anda dengan Gerindra?

Beberapa kader militan Partai Gerindra adalah sahabat saya, seperti Budi Heriadi, Gunadi dan Ahmad Muzani. Ketika Gerindra didirikan, saya masih PNS, jadi tidak bisa berbuat banyak, paling hanya membantu di belakang layar. Baru 1 Mei lalu, saya mundur dari PNS agar bisa  total berpartai di Gerindra.

Apa yang memotivasi Anda untuk maju sebagai caleg?

Intinya ingin mengabdi. Agar semuanya berjalan baik, saya harus menyiapkan segala sesuatunya. Utamanya, kebutuhan keluarga jangan sampai terbengkalai. Jika banyak orang maju dengan motivasi mencari uang, saya tidak ingin seperti itu. Karena itu,  saya menyiapkan beberapa usaha yang akan menopang kebutuhan keluarga dengan berbisnis properti di beberapa kota. Jadi ketika nanti terpilih menjadi anggota dewan, sumber kebutuhan keluarga bisa berasal dari sana.

Tahun 2009 kenapa tidak ikut caleg?

Karena waktu itu belum siap. Selain itu, bekal rumah tangga juga belum disiapkan. Dan, saya masih tercatat sebagai pegawai negeri sipil. Kini saya merasa lebih siap. Kalau kita jadi caleg jual ini itu, juga kurang baik. Seperti arahan Pak Prabowo, kalau jadi caleg harus siap mental dan materi.

Kenapa memilih dapil Banten 1, itu kan daerah tertinggal?

Saya memiliki keterikatan historis dengan Banten. Kebetulan keluarga istri dari Banten, dan saya punya banyak jaringan di wilayah Banten selatan. Saya kan termasuk tim perumus lahirnya Provinsi Banten, 17 Oktober 1999 lalu. Selain itu, jaraknya juga cukup dekat dengan Jakarta. Juga ada tantangan tersendiri karena daerah ini dianggap daerah tertinggal, khususnya Banten bagian selatan. Niat saya membangun daerah ini, agar tidak lagi tertinggal. Insya Allah bila ada kesempatan saya berniat mengabdikan diri, paling tidak selama tiga periode untuk kemajuan Banten. Untuk itu, saya pun menyiapkan lahan untuk membangun kantor sekretariat DPC baik di Lebak maupun Pandeglang.

Apa yang Anda dilakukan untuk bisa meraih suara?

Setiap hari saya turun ke dapil, meski keluarga tinggal di Jakarta. Saya terjun langsung ke dapil saya, dan tak sungkan menginap di rumah penduduk.  Rupanya mereka tak perlu banyak bicara soal teori. Mereka lebih konsen dengan urusan perut. Itulah kenyataan yang dihadapi para caleg. Karena dapil Banten 1 meliputi dua kabupaten, maka untuk memudahkan kordinasi saya bentuk dua posko pemenangan di masing-masing kabupaten. Jika terpilih nanti, di kedua kabupaten inilah saya akan membesarkan Partai Gerindra. Saya akan mendirikan kantor sekretariat PAC-nya. Dan kalaupun saya tidak terpilih, rencana itu tetap akan terlaksana.

Program apa saja yang Anda tawarkan ke masyarakat?

Tentunya semua program yang dicanangkan Pak Prabowo. Intinya, program yang berpihak kepada masyarakat luas. Program yang mengedepankan kepentingan rakyat, bukan golongan atau individu.

Seperti apa karakter pemilih di dapil Banten 1?

Saya berkunjung hingga ke pelosok desa, yang mungkin saja masih banyak orang Pandeglang atau Lebak belum pernah ke sana. Misalnya ke Luwidamar, Sobang, Cibaliung dan yang lainnya. Perjalanan saya makin asyik, karena hanya dengan berjalan kaki. Kebetulan saya hobby jalan kaki, jadi tak masalah. Apalagi daerah-daerahnya masih sangat asri. Masyarakat merindukan figur caleg yang mau turun langsung meski harus berjalan kaki. Kata mereka, selama ini belum ada caleg yang mau bertandang, semuanya hanya menyebar baliho. Ada gambar tapi tidak ada orangnya.

Kantong kekuatan Anda di mana saja?

Semua wilayah, hampir merata. Jika semua kader partai bekerja keras, Gerindra bisa meraih dua kursi, meski targetnya hanya satu kursi dari Banten 1. Dan untuk provinsi, setidaknya bisa meraih 4 kursi dari Lebak dan Pandeglang, begitu pula di DPRD kabupaten masing-masing delapan kursi. Karena itu, saya tandem dengan caleg-caleg yang mau bekerja keras.

Kalangan apa yang menjadi sasaran Anda?

Semua lapisan masyarakat yang ada di dapil Banten 1. Mulai dari rakyat biasa sampai tokoh masyarakat, termasuk para jawara. Bahkan saya ajak para jawara ini untuk maju menjadi caleg. Karena disamping disegani, mereka juga bisa menjadi penyalur suara. Tidak heran bila untuk terjun ini ongkosnya besar. Setiap sosialisasi ke dapil, saya selalu dibarengi dengan program aksi sosial berupa pembagian sembako. Karena masalahnya, memang soal perut. Itu yang utama disamping membantu pembenahan infrastruktur pemukiman yang kurang memadai. Meski banyak mengeluarkan dana, saya senang dan ikhlas, karena memang sudah saya siapkan.

Seberapa besar keyakianan Anda untuk terpilih?

Kita harus yakin, kalau kita bisa. Karena kalau bukan kita siapa lagi? Insya Allah terpilih, tinggal garis tangan yang akan berbicara nanti. Disamping sudah mempersiapkan segala sesuatunya, saya pun melakukan sosialisasi jauh-jauh hari sebelum proses pencalegan.

Seperti apa kondisi dapil Banten 1?

Kalau kita lihat memang memprihatinkan. Padahal tidak jauh dari ibukota.  Wilayah Banten selatan ini juga sarat potensi. Dengan kondisi seperti, bagi saya adalah tantangan yang harus dijawab. Saya katakan bahwa kalau saya jadi anggota dewan, saya hanya ambil gaji dan tunjangan. Sementara yang lain seperti dana asprasi itu adalah haknya masyarakat.

Apa pesan Anda untuk kader dan sesama caleg Gerindra?

Yang paling utama kita harus kerja keras dan kerja cerdas. Sekalipun kita kerja keras kalau tidak cerdas, hasilnya tidak maksimal. Kita juga harus waspada dengan menganggap semua lawan politik kita berat sehingga memotivasi untuk terus berjuang. Nah, kalau misalnya ada caleg dari partai lain hebat dan banyak modalnya, tidak lantas membuat kita menyerah tapi harus  dihadapi. Kita harus memenangkan Gerindra. Menjadikan Pak Prabowo sebagai Presiden RI. Kita juga harus mengubah niat jika ingin menjadi anggota dewan. Jangan cari penghasilan tapi pengabdian. Kalau mau cari uang, jangan menjadi politisi. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Dairul maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 2 dari daerah pemilihan (dapil) Banten 1.
Advertisements

7 thoughts on “Lebih Dekat Dengan Dairul : Tinggalkan PNS, Total di Gerindra

  1. INSYAALLA DENGAN NIAT YANG BAIK,AKAN MDAPATKAN TEMPAT YG BAIKPULA DI HATI MASYRAKAT, MAJU TERUS DEMI KEJAYAAN RAKYAT, KAMI BUTUH PEMINPIN YANG BERANI BERBUAT BUKAN BERORASI.

    SEMOGA-DENGAN KEMANPUAN DIBIDANG PEMERINTAHAN YANG DIMILIKI OLEH H.DAIRUL SERTA KOMITMEN YANG TINGGI DAPAT DI AMALKAN SECARA SECARA KONSISTEN.

  2. Pak Haji Selamat Berjuang, memperjuangkan nasib rakyat menuju kehidupan yang lebih baik dan sejahtera. Baik sandang papan pangan dan juga kesehatan jasmani n rohani serta pendidikan dengan jenjang minimal lulus SMA atau SMK.

    Insyallah Karaeng Sukses mengemban sebagai Wakil rakyat Di Senayan 2014 -2019. Saya saksi perjuangan Karaeng melalui kerja keras sejak awal menjadi Manajer Koperasi Intan….PNS….EO….dan Insyaallah tidak berapa lama lagi terpilih anggota Dewan Yth. Amien

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s