Lebih Dekat Dengan Mulyadi : Revolusi Energi Nasional

Kiprahnya di Senayan memang masih terbilang baru, namun sikap kritisnya kerap membuat keteteran para pemangku kebijakan. Sejak dilantik menggantikan sebagai anggota pengganti antar waktu, ia langsung menyuarakan apa yang seharusnya dilakukan seorang wakil rakyat. Tak ayal, keberadaannya sebagai wakil rakyat kian diperhitungkan banyak pihak. Terlebih ketika ia dengan lantang menyuarakan soal revolusi energi nasional.

CALEG DPR RI DAPIL JABAR 5 NO. URUT 6

CALEG DPR RI DAPIL JABAR 5 NO. URUT 6

Dialah Drs Mulyadi MMA, wakil rakyat yang tercatat dalam Komisi VII dari Fraksi Partai Gerindra dikenal sebagai orang pertama yang menggulirkan revolusi energi di gedung Senayan. “Pasalnya kedaulatan energi nasional betul-betul dirongrong oleh sikap-sikap kebijakan dan anggaran yang terlalu kompromis dan sarat retorika. Jadi bagi saya bukan lagi revitalisasi, tapi kita perlu lakukan revolusi energi nasional,” ujar pria kelahiran Bogor, 2 November 1970 yang mengaku kadang teriakannya itu hilang begitu saja ditelan keriuhan pemilih kursi mayoritas parlemen.

Meski demikian, Mulyadi tak patah arang. Malah ia semakin getol memperjuangkan suara rakyat di komisi yang membidangi urusan energi sumber daya mineral, riset dan teknologi serta lingkungan hidup ini. Pasalnya, negara ini terlalu euphoria terhadap sumber energi yang ada di dalam perut bumi. Padahal kekayaan alam di atas bumi jauh lebih besar dibanding yang ada di dalam perut bumi. “Negara ini begitu euphoria mengeksplorasi yang ada di dalam perut bumi secara besar-besaran,” kritik lulusan Univeritas Katholik Parahiyangan Bandung ini.

Menurutnya, apa yang diperjuangkannya selama ini belum maksimal. Di samping keberadaannya di parlemen baru berjalan kurang dari setahun, Mulyadi pun kerap mendapat perlawanan sengit dari rekan-rekan di satu komisi yang beda fraksi. Ia pun sadar untuk mengawal sebuah perubahan memang dibutuhkan keberanian dan niat yang tulus. Apalagi mitra kerja yang ditanganinya itu kerap tersandera banyak kepentingan. Karena itu, Mulyadi memutuskan untuk kembali maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) di daerah pemilihan (dapil) yang sama yakni Jawa Barat 5.

“Saya ingin menjadi bagian dari upaya transformasi bangsa ke arah yang lebih baik yang diperjuangkan Partai Gerindra. Saya ingin menjadi bagian dari gerbong perubahan itu,” ujar caleg nomor urut 6 ini.

Keterlibatan Mulyadi di partai politik bukan sekadar latah atau ikut terbawa euphoria belaka. Awalnya Mulyadi yang kala itu tengah bekerjasama dengan pendiri Partai Gerindra, Prabowo Subianto untuk mendirikan perusahaan penerbangan mengajaknya untuk ikut maju sebagai caleg pada Pemilu 2009. Gayung pun bersambut, sebagai putera daerah Mulyadi mengiyakan ajakan Prabowo untuk ikut bertarung sebagai caleg di dapil Jawa Barat 5 yang meliputi Kabupaten dan Kota Bogor. Sayang, hasil perhitungan KPU, hanya meloloskan satu kursi. Sementara Mulyadi sendiri berada di posisi kedua.

Tidak lolos sebagai anggota dewan, Mulyadi kembali menekuni profesi sebelumnya sebagai pengusaha sekaligus pakar dalam bidang pasar modal. Bahkan sebagai pemegang lisensi pasar modal, keberadaanya kerap diincar perusahaan yang berencana go public. Jelang tutup tahun 2012, tiba-tiba Mulyadi dipanggil untuk mengemban tugas sebagai anggota DPR. “Karena ini tugas, maka saya harus mengembannya dengan penuh tanggungjawab,” ujar ayah empat orang anak yang menggantikan posisi Widjono Hardjanto sebagai anggota dewan.

Disamping sibuk menjalankan tugas sebagai wakil rakyat, Mulyadi yang sudah lama membina sebuah pondok pesantren penghafal Al-Quran di daerah Jonggol, Kabupaten Bogor itu kembali bertarung sebagai caleg di dapil yang sama. Seakan tak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada, setiap akhir pekan ia gunakan untuk blusukan dari kampung ke kampung.

“Semoga saya diberi kekuatan untuk menjaga niat dan aktifitas ini, karena bagi saya maju kembali sebagai caleg bukanlah untuk mengejar jabatan, tapi sebagai upaya ikut menjadi bagian dari gerbong perubahan itu,” katanya.

Seperti apa perjuangan dan aktivitasnya sebagai anggota dewan yang kembali maju sebagai caleg. Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda –yang menemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu— mantan Direktur Operasional Cipaganti Grup itu memaparkan. Berikut petikannya:

Bisa ceritakan apa saja yang Anda perjuangkan di gedung parlemen saat ini?

Pada tiga bulan pertama menjalani tugas sebagai anggota dewan, oleh partai saya ditugasi masuk ke Komisi 7. Setelah mempelajari aturan main, tata tertib dewan dan mengikuti rapat-rapat komisi dan fraksi terutama terkait dengan komisi 7, saya bisa menarik kesimpulan bahwa kondisinya begitu memprihatinkan terutama pada tata kelola energi. Kemudian saya juga dipercaya masuk dalam pokja RUU Nagoya Protokol yang membahas pengelolaan sumber daya hayati yang dimiliki Indonesia. Ternyata sumber daya hayati kita bisa dimanfaatkan untuk mendatangkan devisa negara.

Saya makin terbelalak ketika mengetahui selama ini kekayaan alam yang ada di atas bumi ini tidak dikelola secara maksimal. Mustinya kita harus belajar banyak dari China yang lebih memilih memanfaatkan kekayaan alam yang ada di atas bumi dibanding yang ada di dalam perut bumi. Anehnya di Indonesia ternyata banyak pihak asing yang masuk untuk memanfaatkan sumber daya hayati yang ada di atas bumi. Karena itu, saya sampaikan kepada pihak pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup (LH) bahwa dalam hal perijinan ke depannya, bukan hanya soal amdal saja tapi kementerian LH juga harus memastikan daerah tambang baru itu sumber daya hayatinya benar-benar bisa diproteksi terlebih dulu. Makanya saya gulirkan permasalahan tata kelola energi ini bukan sekedar revitalisasi saja tapi menggunakan bahasa revolusi.

Di samping itu saya juga menyampaikan bahwa Kementrian Riset dan Teknologi jangan sampai hanya menjadi kementrian seremonial dan menghabiskan APBN karena selama ini hanya bisa menjadi departemen cost center, belum terlihat apa kontribusinya selama ini? Mustinya menristek harus bisa menciptakan produk atau temuan yang bisa memberi pemasukan negara. Misalnya produk-produk sistem perpajakan yang berbasis IT sehingga mensupport negara dalam meningkatkan pendapatan dari sektor pajak. Jadi selama menjadi anggota DPR, saya sebagai praktisi manajemen yang sudah bertahun-tahun saya melihat adanya tata kelola kebijakan yang tidak maksimal bahkan cenderung tersandera oleh kepentingan-kepentingan sehingga merugikan masyarakat.

Lalu apakah ini yang melatari Anda maju kembali sebagai caleg?

Ya. Selain saya baru satu tahun, saya juga ingin ikut menjadi bagian dari upaya transformasi bangsa ke arah yang lebih baik yang diperjuangkan Partai Gerindra. Saya ingin menjadi bagian dari gerbong perubahan itu.  Masyarakat pun harus tahu bahwa untuk bisa menjadi bagian dari perubahan itu tidak hanya dengan berkoar-koar, tapi ikut terjun langsung. Apabila Partai Gerindra diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk berkuasa di negeri ini, saya harap dari program aksi yang diusung Partai Gerindra bisa mengakomodir kepentingan bangsa. Saya ingin ikut melihat perubahan dan menjadi bagian dari itu. Hakikat dasarnyanya, saya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak di negeri ini.

Lalu apa visi dan misi Anda?

Kalau visi sebagai seorang yang beragama, karena saya seorang muslim, saya ingat sekali pesan Rasulullah, bahwa orang yang paling baik adalah orang yang bermanfaat untuk banyak orang. Selain itu saya juga betul-betul bisa mempertanggungjawabkan sisa umur saya di hadapan Tuhan. Sementara misi saya adalah pada prinsipnya saya ingin ikut memberikan masukan-masukan dan menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan untuk setiap program dan anggaran negara dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Intinya membawa mengawal transformasi negara yang selama ini tersandera menjadi bebas tanpa kendala.

Kenapa Anda pilih dapil Jawa Barat 5?

Jawa Barat 5 adalah dapil tanah kelahiran saya. Leluhur saya di sana semua. Selama menjadi anggota dewan membuat saya terbelalak bahwa selama ini ada dana di program DPR untuk masyarakat seperti bantuan-bantuan sosial, bantuan infrastruktur, dana aspirasi dan sosialisasi empat pilar bangsa. Dimana selama hidup di lingkungan saya yang menjalankan kegiatan itu membuat masyarakat kaget, bahwa kegiatan seperti itu ada dananya. Lalu selama ini kemana anggarannya? Nah kalau hal itu bisa memberikan kontribusi kepada daerah pemilihan, maka saya pun memanfaatkan hal itu untuk kesejahteraan masyarakat. Jangankan ada anggarannya, sebagai putera daerah, saya bertanggungjawab untuk berbuat sesuatu memajukan dan membangun masyarakat. Atas dasar itu pula saya akhirnya memilih kembali ke dapil yang sama seperti 2009 lalu.

Apa saja yang sudah Anda dilakukan di dapil?

Sebagai anggota DPR PAW (Pengganti Antar Waktu) setelah melakukan kordinasi dengan struktural saya juga melakukan komunikasi dengan anggota dewan yang ada di kabupaten dan provinsi untuk bersinergi dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai anggota. Saya sampaikan bahwa sebagai refresentasi dari partai tentu harus bisa memberikan kontribusi tidak saja kepada masyarakat, tapi juga harus bisa menangani masalah-masalah yang timbul dalam struktur partai. Kemudian karena ekspektasi masyarakat begitu besar terhadap duduknya saya sebagai anggota dewan, saya membuat HMS Center (Haji Mulyadi Syurdi) tapi di lapangan lebih dikenal dengan HMS Strategic. Kita buat organisasinya, programnya dan anggarannya.

Dari proposal yang masuk alhamdulillah selama ini kita bisa mengakomodir berbagai keinginan masyarakat di bidang sosial, keagamaan, dam pemuda. Selama ini kita membina para penghapal Alquran, menggelar tablig akbar rutin bersama KH Arifin Ilham. Festival musik untuk memberikan saluran-saluran bakat anak muda supaya kegiatan mereka positif. Memberikan bantuan bagi korban bencana, bantuan renovasi rumah tidak layak huni. Alhamdulillah proposal yang sudah masuk hampir 90 persen kita akomodir.

Selain itu kita juga lagi berjuang mengakomodasi keinginan masyarakat yang selama ini belum tersaluri listrik. Bayangkan di tahun 2013 ini ada daerah yang hanya berjarak 20 KM dari Cikeas belum mendapat aliran listrik, namanya daerah Kelapanunggal. Begitu juga permohonan masyarakat puncak, yang mengadukan selama ini terganggu dengan keberadaan vila-vila di sana. Saya sampaikan kepada Menteri LH, bahwa kalau Jakarta banjir selalu dibilang kiriman dari Bogor, padahal itu sebenarnya air pulang, dimana setiap akhir pekan, warga Jakarta pemilik vila berduyun-duyun ke puncak lalu buang air disana sehingga suatu saat air itu pulang lagi ke Jakarta.

Program apa saja yang Anda tawarkan?

Tentunya program yang saya tawarkan adalah terkait isu-isu daerah yang selama ini belum maksimal dirasakan oleh masyarakat, seperti layanan kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. Saya berharap bisa mengawal kebijakan anggaran negara dan akan saya arahkan ke dapil saya. Disamping itu, saya juga sudah membangun komunikasi dengan kepala daerah, untuk lebih memberikan prioritas lebih dengan apa yang dibutuhkan masyarakat. Karena dapil ini tidak jauh dari ibukota tentu menjadi barometer nasional dalam hal pelayanan dan pembangunan, mustinya pendidikan, kesehatan dan infrastruktur pun tidak boleh timpang.

Menurut Anda seperti apa karakter pemilih dapil Jabar 5?

Karena saya awalnya bukan orang politik, jadi ketika terjun langsung terasa kaget juga menghadapi kenyataan di lapangan apalagi dengan adanya pasukan tak gentar membela yang bayar. Disamping ada yang idealis tentunya ada juga yang pragmatis, setiap daerah berbeda-beda. Ada yang sudah militan, ada yang masih harus diyakinkan dan ada pula yang tidak bisa diarahkan.

Lalu bagaimana Anda mengantisipasi kelompok pemilih pragmatis?

Saya pikir tinggal edukasi memberikan pemahaman yang baik, bahwa apa yang mereka putuskan bukan saja akan berpengaruh pada kehidupan mereka ke depan tapi bagi anak cucu mereka. Kalau pragmatis masih tetap dipertahankan, maka bukan saja mereka yang rugi tapi anak cucu mereka. Mereka mestinya tidak boleh lagi menyia-nyiakan hak pilih mereka hanya untuk sejumlah uang tapi harus dipertanggungjawabkan. Alhamdulillah di dapil ini sudah mulai bergeser.

Berapa target suara Anda?

Belajar dari 2009 bahwa gambarannya ongkos ke Senayan dalam arti kursi itu memang besar dengan jumlah tertentu. Dari pengalaman itu, kita petakan kekuatan, dari sana kita bagi empat zona untuk target suara. Dimana zona 1, targetnya 30 persen suara. Zona 2, 15 persen suara. Zona 3, menargetkan 5 persen dan zona 4, targetnya hanya 1 persen suara. Tahun 2009 saja, Di zona 1 kita mendapat suara signifikan saya bisa meraup 10 ribu suara dari 90 ribu suara. Sementara zona paling kecil presentasinya itu memang ada caleg dengan pemilih yang militan, tentunya kita tidak akan jor-joran di zona itu karena akan mubasir. DPP sendiri menargetkan dapil Jabar 5 dengan tiga kursi, tentunya selain harus mempertahankan kursi incumbent, harus ada dua kursi yang kita rebut. Bisa jadi itu didapat dari muntahan Demokrat.

Apa yang Anda lakukan untuk mencapai target itu?

Saya mengadakan pembekalan kepada tim pemenangan saya, dengan menghadirkan tim ahli dan struktur partai dan fraksi. Selain menyebarkan atribut seperti oneway stiker, kita juga membuat sistem perekrutan seperti MLM dengan cara membekali kader dengan buku silaturahmi. Kemudian di tingkat TPS kita menerapkan bukan dengan konsep saksi tapi pendamping pemilih. Kita juga menjalankan program tiga tahap, yakni tahu, kenal dan suka. Konsep itu kita terjemahkan dalam aktvitas kegiatan yang disukai masyarakat baik agama, sosial dan silaturahmi. Setidaknya, sudah ada 700 angkot sudah terpasang oneway stiker.

Dari sekian daerah yang ada di Jabar 5, daerah mana yang menjadi prioritas?

Daerah yang menjadi prioritas untuk bisa mendulang suara adalah daerah Jonggol. Daerah yang menjadi tanah kelahiran saya itu pada saat 2009 saja, yang tidak saya sentuh sama sekali bisa mendulang 10 ribu suara, makanya sekarang saya lebih fokus di daerah itu.

Ada cerita apa dibalik penempatan Anda di nomor urut 6?

Inilah saatnya saya harus klarifikasi. Karena selama ini banyak yang menanyakan termasuk Bupati Bogor. Saya incumbent putera daerah kok malah ditaroh di nomor urut 6. Saya berbaik sangka saja kepada DPP. Awalnya saya sebagai anggota DPR memang baru berjalan setahun dan belum ada apa-apa atau kurang maksimal. Kemudian pada saat pendaftaran saya konsultasi kepada Sekjen dan fraksi, kalau nanti di DPP akan menimbulkan dinamika yang tinggi saya tidak masuk lagi sebagai caleg pun saya tidak apa-apa. Saya akan tetap berjuang di Partai Gerindra, tentunya diluar struktur.

Tapi saya mendapat informasi bahwa incumben akan masuk kembali, lalu saya mendapat informasi juga bahwa Wakil Ketua Umum Fadli Zon akan maju di dapil yang sama di nomer urut 1. Mendengar hal itu, saya apresiasi sekali, karena beliaukan pendiri. Sehari sebelum penyerahan ke KPU nama saya digeser ke nomer urut 6. Karena hal ini sudah saya antisipasi, maka saya anggap ini sebagai kepercayaan yang besar dari partai kepada saya untuk duduk di nomor urut 6 sesuai dengan nomor urut partai. Semoga hal ini menjadi pertanda istikomah saya dalam berjuang. Saya berpikir positif bahwa partai percaya kepada saya.

Menurut Anda seperti apa Partai Gerindra di dapil Jabar 5?

Karena kapasitas saya sebagai kader non struktural, saya hanya bisa menyarankan bahwa harus diperkuat tentang tujuan dari keberadaan Partai Gerindra sebagai sarana perjuangan masyarakat untuk menjadi sejahtera. Untuk itu harus ada roadmap yang jelas. Saya juga tidak dalam kapasitas yang menilai keberadaan partai, tapi saya hanya bisa memberikan rekomendasi, bahwa partai ini bisa menjadi besar, selama orang-orang yang terlibat dalam partai ini berjiwa besar dan profesional.

Apa pesan dan harapan Anda ?

Tidak hanya ke pemilih tapi kepada para caleg yang satu partai, bahwa luruskan niat, kalau sudah lurus untuk berjuang di partai ini dengan baik. Jangan jadikan jabatan di dewan itu sebagai tujuan. Kalau jadi tujuan saya yakin pasti akan stres. Mau jadi sudah stres, pada saat jadi tambah stres dan mau lepasnya juga stres. Kalau mau jadi harus mengeluarkan banyak biaya, pada saat jadi mereka stres untuk mengembalikan apa yang dikeluarkan, dan pada saat mau lepas juga pasti stres karena seakan merasa kehilangan. Kepada masyarakat dan pemilih lainnya, jangan sia-siakan hak suara, pastikan yang dipilih itu bisa mewakili suara, tinggal melihat rekam jejaknya saja. Jangan sampai menjadikan masyrakat sebagai supir taksi bahwa ketika sudah dibayar untuk mengantar ke tujuan sudah ditinggalkan begitu saja.[G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Oktober 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Mulyadi maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 6 dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat 5.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s