Lebih Dekat Dengan Oo Sutisna : Berjuang Demi Petani

Sebagai seorang petani, ia turut merasakan seperti apa nasib kaum petani selama ini. Saban hari, ia bersentuhan dengan petani gurem yang kondisinya memprihatinkan. Bahwa negeri agraris yang subur seperti Indonesia ini petaninya kian terpinggir adalah sebuah keniscayaan. Dari sanalah, ia paham betul liku-liku perjuangan para petani dalam memenuhi kebutuhan hidup di tengah kebijakan yang sama sekali belum memihak petani.

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 9 NO URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 9 NO URUT 1

Memang, sebagai petani, Oo Sutisna, SH, bukan tergolong petani kelas gurem. Namun sebagai orang yang hampir setiap hari menghabiskan waktu di pematang sawah, ia resah melihat nasib petani yang tak kunjung berubah. Apalagi selama ini belum ada wakil rakyat di Senayan yang benar-benar berangkat dari petani atau nelayan. Tak heran bila kebijakan dunia pertanian tak pernah menyentuh kepentingan kaum petani. Karenanya itu, sejak 2008, pria kelahiran Sumedang, 12 Maret 1952 ini bertekad terjun ke jalur politik praktis sebagai upaya merubah nasib petani yang masih tertindas.

“Sebagai rakyat, sampai hari ini petani masih saja terjerat kemiskinan. Tidak saja dirundung persoalan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tapi kebijakan-kebijakan penguasa yang tak memihak bahkan kerap menindas. Tak hanya itu, Indonesia pun sudah menjadi pasar impor beras,” ungkap petani yang dipercaya  Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, untuk memimpin DPD Partai Gerindra, Provinsi Jawa Barat.

Ia mengakui, tampil di pentas politik bukan sekadar latah atau terbawa arus eforia politik sesaat. Diakui, keterlibatannya di Partai Gerindra, karena ia aktif di Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Ia  sudah lama mengenal sosok Prabowo Subianto jauh sebelum partai berlambang kepala burung garuda lahir. Tak heran bila,saat Prabowo Subiantomemintanya memimpin DPD Partai Gerindra di Jawa Barat, ia langsung menyanggupinya. “Meski saya belum pernah menjadi ketua parpol di tingkat kecamatan sekalipun, tapi karena itu amanat dari Pak Prabowo, maka saya siap mengemban,” ujar Ketua KTNA Jawa Barat ini.

Memang, Oo Sutisna mengenal Prabowo sejak masih aktif di Forum Komunikasi Tani Nelayan Karya, sebuah organisasi bentukan Partai Golkar. Ia tercatat sebagai orang yang mengusung Prabowo pada saat Konvensi Partai Golkar pada 2004. Di tahun yang sama, ia pun berada di barisan petani yang memperjuangkan Prabowo untuk memimpin HKTI. Kini, bersama petani dan segenap kader Partai Gerindra Jawa Barat, ia tengah berjuang untuk meraih suara sebanyak-banyaknya di Pemilu Legislatif 2014 untuk bisa mengusung mantan Danjen Kopassus sebagai calon presiden tanpa koalisi.

“Beliau tahu apa yang rakyat mau. Beliau pemimpin yang mau memikirkan dan menangis dengan apa yang dirasakan petani,” papar calon anggota legislatif (caleg) DPR-RI nomor urut satu dari Daerah Pemilihan (dapil) Jawa Barat 9 ini.

Menurutnya, secara politis keberadaan Jawa Barat dalam percaturan politik nasional sangatlah penting. Terlebih propinsi Jawa Barat penduduknya terbesar. Makanya, tak heran bila di Pemilu 2014, 9 April nanti, ia ditugasi untuk meraih 27 kursi di parlemen. Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah, meski pada Pemilu 2009 lalu ia berhasil mengantarkan empat kadernya duduk di Senayan. Lalu seperti apa langkah-langkah yang dilakukan ayah enam orang anak ini dalam mengemban tugas itu? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, yang menemuinya di tempat tinggalnya yang asri di kawasan Cibiru, Kota Bandung beberapa waktu lalu, ia memaparkan. Berikut petikan wawancaranya:

Bisa Anda ceritakan bagaimana perkembangan Gerindra di Jawa Barat?

Partai Gerindra di Jawa Barat relatif stabil. Jujur saja walaupun ada satu dua DPC yang kurang pergerakannya kita sedang perbaiki. Saya berharap kepada pusat untuk berikan kepercayaan kepada kami yang ada di DPD untuk membina dan mengembangkan Gerindra di wilayah ini. Kita tidak mungkin bunuh diri, kita ingin menang. Pada Pemilu 2009 kemarin mengantar delapan dewan di provinsi dan empat di pusat. Dengan hasil itu Partai Gerindra Jawa Barat berada di posisi kelima. Kita berharap dengan momen terbaik 2014, kita bisa meningkat dan Gerindra menang, Prabowo Presiden.

Kaitannya kegagalan dapil Jabar 9 waktu itu kita akui itu semua tak terlepas dari keteledoran partai kita. Kejadian itu menjadi tamparan buat partai dan Pak Prabowo selaku Pembina. Tapi syukur Alhamdulillah kita bisa melewati rintangan itu meski hanya bisa mengirimkan enam dari delapan yang tersedia. Saya mengapresiasi dan hormat atas kinerja tim advokasi yang sudah menyelamatkan dapil Jabar  9. Untuk itu kita harus kerja ekstra keras untuk merebut kursi di dapil ini. Walaupun hanya enam caleg, toh di DPRD provinsi ada sepuluh orang dan kabupaten penuh. Inilah modal dasar kita untuk memperjuangkan sekuat tenaga.

Sebagai Ketua DPD sekaligus caleg, apa saja yang sudah Anda lakukan menghadapi Pemilu 2014?

Kita baru saja pulang dari diklat di Bogor yang diadakan oleh DPP. Tapi sebetulnya, apa yang telah kita lakukan dalam rangka pembekalan untuk caleg kabupaten dan kota se Jawa Barat tidak jauh berbeda. Jika dulu kita menargetkan setiap TPS ada 10 orang kader yang masing-masing kader harus mampu membawa 10 pemilih sehingga diperoleh 100 suara. Namun ketika di Jakarta ada perubahan menjadi 13 pemilih per TPS, sehingga diharapkan akan ada 130 suara.

Sebelumnya, kami pun mengadakan pertemuan sesama caleg tingkat DPR, DPRD provinsi dan kabupaten/kota Jawa Barat dengan para struktur partai mulai dari daerah hingga ranting. Dimana dalam pertemuan itu kita menekankan bahwa Pemilu 2014 adalah momen untuk merebut kekuasaan sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena itu, para caleg harus sampai ke akar rumput hingga ke tiap TPS, sehingga caleg mengetahui peta kekuatan yang ada. Untuk itu, dibutuhkan etos kerja dari para caleg itu sendiri bersama dengan pengurus dari tingkat ranting, cabang hingga daerah turun langsung. Yang penting jangan sombong jadi caleg. Yang sombong itu harusnya pemilih, bagaimana biar mereka mau memilih kita, simpati ke kita.

Yang tak kalah penting adalah saat ini kita terus melakukan tugas kepartaian, yakni memberi pemahaman politik bagi masyarakat. Sejauhmana pemahaman dan kepedulian masyarakat tentang kondisi negara dan bangsa. Kalau kita mendengar pidato Pak Prabowo dalam upayanya mengubah Indonesia ke arah yang lebih baik. Boleh jadi apa yang dikatakan oleh Pak Prabowo sangat irasional di tengah kondisi negara yang seperti ini. Nah, tugas kita sebagai caleg adalah menterjemahkan dengan bahasa masyarakat awam seperti petani, nelayan dan penduduk desa. Seperti misalnya buah apa yang tidak impor, padahal buah apa sih yang tidak bisa ditanam di negeri ini. Mungkin ini yang harus disampaikan oleh caleg kepada masyarakat. Karena tidak semua dari mereka tidak baca Koran, tidak lihat televisi. Jadi sebisa mungkin ini yang harus disampaikan caleg kepada masyarakat.

Lalu bagaimana dengan wakil Jawa Barat yang ada di parlemen?

Kalau saya harus ngomong, meski dekat dengan masyarakat, tapi kurang dekat dengan struktur partai. Mustinya, sekali-kali mereka menginjakkan kakinya ke sekretariat DPD, DPC atau PAC, sehingga mereka tahu perkembangan yang ada dan kita pun mengetahui apa saja yang sudah dilakukan mereka. Jujur saja selama ini belum maksimal, memang itu hak mereka, tapi perjuangan partai itu bukan sekadar perjuangan mereka saja, tapi menjadi perjuangan segenap kader partai secara bersama. Jangan sampai yang tahu hanya mereka sendiri. Karena mereka berangkat dari Partai Gerindra bukan sekonyong-konyong begitu saja.

Kendala-kendala apa saja yang dihadapi di lapangan?

Harus disadari bahwa negeri ini terdiri dari beberapa suku bangsa, agama, latar belakang pendidikan, tingkat ekonomi yang berbeda-beda. Karena itu, kita harus menggunakan berbagai cara sendiri dalam menghadapi masing-masing kelompok tadi. Di samping itu, popularitas partai ini belum sebanding dengan popularitas Pak Prabowo. Ini yang perlu kita dongkrak. Saya punya ambisi bahwa kalau untuk mendukung Pak Prabowo, di Jawa Barat ini pasti sangat kuat. Beliau pemimpin yang tegas, di kalangan militer Jawa Barat masih disegani, sosok orangtuanya masih kental.

Yang mungkin harus dipikirkan adalah bagaimana menyeimbangkan Pak Prabowo dengan Gerindra. Bagaimana orang-orang yang sebelumnya tidak mau ambil bagian dalam pemilu mau memilih Pak Prabowo. Dan ketika mereka tertarik dengan Prabowo, maka kita katakan kepada mereka, bahwa mau tidak mau untuk bisa mengusung Prabowo,  harus memilih Partai Gerindra. Dan kita butuh 20 persen suara untuk bisa mengusungnya. Bahkan kalau bisa bukan sekadar 20 persen tapi harus lebih,karena dengan demikian kelak parlemen lebih kuat.

Apa latar belakang Anda maju sebagai caleg?

Perlu dimengerti bahwa faktor ketokohan di Jawa Barat ini masih kuat. Jujur saja sebelum memutuskan untuk maju, saya tanyakan ke pada teman-teman DPD apakah saya harus maju ke Jakarta, Provinsi atau diam saja mengurus partai. Akhirnya mereka menginginkan saya maju ke Jakarta. Saya berada di partai ini bukan semata-mata untuk bisa menjadi anggota dewan, tapi saya melihat bahwa bangsa ini akan jauh lebih baik di bawah kepemimpinan Pak Prabowo. Dalam setiap pidatonya, Pak Prabowo selalu mengatakan bahwa ia tidak mau kader-kader yang duduk di dewan nanti yang berperilaku licik, maling, dan korup. Betapa terhormatnya pernyataan itu, dan akhirnya saya bersedia untuk maju sebagai caleg DPR dari Jabar 9. Memang sebagai caleg harus banyak duit untuk operasional di lapangan. Saya tidak suka menghambur-hamburkan hal itu, tapi saya mengajak kepada mereka bahwa apa yang kita lakukan harus bisa memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara ini. Semua orang tahu saya berangkat dari petani.

Dan luar biasa, Pak Prabowo masih mempertahankan orang-orang seperti saya yang berangkat dari komunitas petani. Inilah perjuangan kita bersama para petani dalam mewujudkan kedaulatan pangan sesuai dengan 6 Program Aksi Partai Gerindra. Dan kalaupun Gerindra masih sulit dipasarkan ke masyarakat, insya Allah nama besar Pak Prabowo lebih mudah diterima di masyarakat. Nah, kalau mereka menginginkan Pak Prabowo menjadi pemimpin negara, maka mau tidak mau Gerindra harus menang terlebih dahulu minimal 20 persen. Untuk itu, kita mendorong masyarakat bahwa satu-satunya jalan, ya Partai Gerindra yang harus dicoblos.

 Apa visi dan misi Anda sebagai caleg?

Visi dan misi saya sesuai dengan visi dan misi partai. Misi kita ingin berbuat, mengabdi ke masyarakat dengan sisa umur yang ada. Sepanjang hidup ini apa yang bisa kita baktikan kepada masyarakat bangsa dan negara. Adanya kedaulatan pangan sehingga masyarakat tidak susah makan. Kepastian hukum, terutama terhadap perlakuan hukum terhadap petinggi negara.  Insya Allah, Pak Prabowo akan mampu melaksanakan janjinya yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat. Pak Prabowo kan sudah jenderal, sudah kaya, ngapain coba memimpin partai? Tapi dari situlah kita mengetahui bahwa rasa nasionalisme dan keberpihakannya kepada rakyat kecil melebihi semuanya.

Kenapa Anda memilih dapil Jabar 9?

Saya memilih dapil Jabar 9, karena saya dilahirkan, dibesarkan dan punya usaha di Kabupaten Sumedang yang masuk ke dapil Jabar 9 selain Kabupaten Majalengka dan Subang. Selain itu masyarakat Sumedang, Majalengka dan Subang memiliki kesamaan jalan hidup, sebagai petani dan nelayan. Di Jawa Barat, saya masih dianggap tokoh tani. Saya pun orang yang dipercaya sebagai Ketua KTNA Jabar. Tahun 2009 dulu saya belum berhasil, karena saya memiliki basis besar di sana, maka saya dikembalikan ke dapil ini. Dengan anggapan bahwa tingkat kesulitan yang dihadapi tidak terlalu berat.

Dari tiga kabupaten itu, daerah mana yang jadi fokus Anda garap?

Kita memiliki daerah unggulan sebagai basis suara yakni Kabupaten Subang dan Sumedang. Yang pasti, di dapil Jabar 9 itu ada 82 kecamatan yang terdiri dari 30 kecamatan di Subang, sedangkan Majalengka dan Sumedang masing-masing 26 kecamatan. Artinya tidak mungkin saya datang ke semua kecamatan setiap desa. Untuk itu saya lebih menguatkan perhatian pada dua daerah itu. Namun demikian, kapasitas saya berbeda dengan caleg lain. Kalau caleg lain tidak datang itu keterlaluan, tapi kalau kita sebagai pengurus di DPD/DPC itu selain mengurus diri sebagai caleg, tapi kita juga mengurus urusan partai yang tidak hanya fokus pada dapil sendiri saja. Beruntunglah para caleg yang tidak duduk di struktur partai karena tidak memikirkan kesibukan itu.

Berapa target Anda?

Saya selalu memohon kepada Allah agar saya diberikan kesempatan untuk mewakili masyarakat Sumedang, Majalengka dan Subang di gedung dewan. Sehingga selain ada wakilnya terlebih dari komunitas petani. Karena selama ini saya belum melihat sosok anggota dewan yang berangkat dari petani sesungguhnya. Itulah ambisi saya untuk memperjuangkan masyarakat petani, nelayan sehingga tidak terus menerus menjadi masyarakat marginal dan menjadi mainan politik saja. Saya tidak ambisi dengan masalah gaji, tapi kita melihat jauh mana keberpihakan saya kelak di dewan kepada petani.

Partai Gerindra menargetkan dapil Jabar 9 untuk bisa meraih dua kursi dari 27 kursi yang ditargetkan untuk Jawa Barat. Melihat kondisi ini maka kita harus bekerja keras, bersama-sama merealisasikan target. Urusan siapa yang jadi itu tergantung pada pergerakannya masing-masing caleg. Setidaknya untuk bisa meraih kursi di dapil Jabar 9,mau tidak mau harus melampaui atau setidaknya mendekati BPP sebesar 289 ribu. Itulah yang harus dipahami oleh caleg dengan memetakan kekuatan tiap TPS dan dapil kecil. Dengan kekuatan yang kita miliki baik yang ada di pusat, provinsi dan kabupaten/kota mudah-mudahan bisa. Artinya yang sudah jadi itu harus jadi kembali, kalau mereka tidak jadi, saya balik tanya apa saja yang telah Anda perbuat selama ini?

Seperti apa karakter pemilih dapil Jabar 9?

Bicara soal kataristik pemilih khususnya dapil Jabar 9 kita tahu sekarang ini bisa disebut jaman edan. Ada yang punya idealisme, ada juga yang pragmatis. Sebut saja, dapil Jabar 9 yang ada di utara tergolong masyarakat pantura memang cukup berat dengan masalah pragmatisme. Jangankan pemilihan legislatif, pemilihan Presiden pun seperti itu. Memang semua ini diawali dari pemilihan-pemilihan kepala desa yang sarat dengan pragmatis. Dan ini bukan hanya menjadi permasalahan bagi kami, tapi partai lain pun sama. Tapi selama ini kita bisa mengantisipasi untuk meminimalisir permasalah ini.

Apa antisipasi Anda menghadapi kondisi seperti itu?

Hubungan emosional dengan masyarakat terus kita jalin. Bagaimana caranya agar kita menjadi bagian dari hidup mereka. Sehingga pada akhirnya, mereka menganggap kita bagian dari hidup mereka. Ini yang wajib dilakukan para caleg. Kita selalu sampaikan kepada masyarakat bahwa Pantura itu lumbung beras nasional, tapi apa tidak terpukul ketika negara kita impor beras. Saya yakin mereka sakit dengan kondisi ini. Karena itu, ketika menghadapi masyarakat yang bergerak di bidang agribisnis, seperti petani, nelayan dan pekebun kita tawarkan 6 Program Aksi Partai Gerindra. Dimana salah satunya adalah program membangun kedaulatan pangan dan energi. Itu bukan semata-mata janji caleg tapi itu janji pemerintah jika nanti Gerindra dipercaya memimpin negeri ini.

Apa harapan dan pesan Anda buat para kader dan caleg?

Harapan kita terhadap caleg, kader partai, mereka harus memahami tentang petunjuk partai mulai dari AD-ART, manivesto perjuangan partai hingga program aksi. Jangan segan-segan untuk turun ke lapangan, jangan sombong, dekati masyarakat sehingga mereka sayang kepada kita. Saya sampaikan terima kasih kepada para simpatisan, kader yang terus mendukung pengurus DPD, DPC dan PAC serta para caleg dalam menjalankan aktivitasnya menjaring suara. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Oktober 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Oo Sutisna maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat 9.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s