Lebih Dekat Dengan Prof Suhardi : Mengantarkan Capres Tanpa Koalisi

Kondisi Indonesia semakin memprihatinkan. Bukan saja karena masyarakatnya masih hidup di bawah garis kemiskinan, tapi negeri ini terus dilanda berbagai persoalan sosial.Bencana alam pun datang silih berganti. Kelangsungan dunia politik pun yang kian menambah beban sosial dalam masyarakat. “Semua itu tidak lepas dari perilaku para pemimpin negeri ini. Juga dari hasil pemilu dan termasuk mereka yang memilih golput,” kata Ketua Umum DPP Partai Gerakan Indonesia Raya, Prof Dr Ir Suhardi, M.Sc.

CALEG DPR-RI DAPIL DIY NO. URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL DIY NO. URUT 1

Keresahan itu pula yang membuat pria kelahiran Klaten, 13 Agustus 1952 ini bertekad maju sebagai salah satu calon anggota legislatif dari Partai Gerindra dari dapil Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). ”Masyarakat harus sadar akan pentingnya pendidikan politik dan proses berpikir, agar tidak salah menilai sosok seorang pemimpin yang dipilihnya. Jangan hanya karena dijanjikan sesuatu, lantas memilih seseorang yang nyatanya tak bisa berbuat apa-apa. Masyarakat harus betul-betul paham bahwa nasib bangsa ini berada di tangan mereka dengan cara-cara demokratis,” tegas pakar kehutanan terkenal dengan sebutan profesor telo dan sumpah gandumnya itu.

Meski dunia politik belum lama digelutinya, ia mengaku sedih melihat kondisi politik Indonesia yang tidak lagi menjunjung tinggi asas-asas demokrasi. Ia mengaku agak sulit memahami bagaimana bisa suara rakyat begitu mudahnya dibeli dengan uang.

”Saya terus mengajarkan kepada mereka bahwa pemimpin yang dipercaya, amanah, kopentensi harus diutamakan. Bukan uang yang nilainya sangat kecil. Tapi kondisi di lapangan, seperti masyarakat miskin bisa saja tertarik hanya dengan uang yang sedikit itu,” ujar alumnus College of Forestry, University of the Philippines Los Banos (UPLB), Philipina ini.

Keterlibatannya di panggung politik berawal dari keprihatian dan keresahannya saat menjadi bagian dari pemerintahan itu sendiri. Berbagai pengalaman baik saat di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) maupun di Dewan Ketahanan Pangan Nasional membuatnya frustasi. Akhirnya awal 2007, bersama beberapa rekannya, ia mencoba mendirikan partai politik baru bernama Partai Petani dan Nelayan. Kala itu, Ketua Umum HKTI, Prabowo Subianto masih tercatat anggota Partai Golkar pun diajaknya.

Beberapa waktu kemudian, ia dipanggil Prabowo Subianto untuk membahas rencana pembentukan partai baru. Setelah melewati diskusi panjang, akhirnya Prabowo ikut bergabung, meski masih tetap dibalik layar dan mengganti nama partai menjadi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). ”Saya pun ditunjuk sebagai Ketua Umumnya. Alhamdulillah, hanya dalam waktu dua minggu menjelang penutupan verifikasi partai, Gerindra akhirnya lolos sebagai peserta Pemilu 2009. Sekarang Gerindra pun menjadi peserta pemilu,” tutur mantan salah satu dirjen di Departemen Kehutanan yang rela pensiun dini sebagai pegawai negeri ini.

Kini selain sibuk menahkodai partai berlambang kepala burung garuda, ayah tiga anak ini maju sebagai caleg. Majunya sang Ketua Umum ini, bukan tanpa alasan. Ini didasari bentuk tanggungjawabnyasebagai seorang kader partai politik yang bercita-cita mengantarkan Indonesia menjadi negara yang bermatabat dan mandiri.

”Saya berharap Gerindra bisa maksimal dalam mewujudkan impiannya,” ujarnya.

Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda menemuinya di tengah padatnya jadwal pertemuan dengan beberapa petinggi partai. Lelaki yang selalu tampil sederhana dan bersahaja ini pun memaparkan seputar perkembangan Gerindra dan berbagai langkah yang dilakukannya menghadapi pemilu 2014 nanti. Berikut petikan wawancaranya:

Bisa Anda jelaskan seperti apa perkembangan Gerindra?

Sangat baik, ukurannya jumlah pengurus akan terus kita kembangkan yang tadinya hanya 17 orang. Disamping itu, banyak orang yang mau menjadi pengurus.Kalau dulu jangan kan cari caleg, cari pengurus saja susahnya luar biasa. Dulu cari caleg lima orang dapat dua itu sudah untung, walau masih belum dikatakan berkualitas. Sekarang pengurus sudah terbentuk hingga level paling bawah sekalipun. Bahkan untuk di DKI saja, kita butuh tujuh caleg, yang mendaftar 274 orang. Ini sangat berbeda dengan tahun 2009.Kini posisi kita berbeda, dulu kita tidak punya gubernur, walikota, bupati, sekarang sudah ada di beberapa daerah.

Secara menyeluruh, posisi Gerindra sangat baik, kalau tidak di peringkat dua mungkin satu, walaupun seringkali dikecilkan dalam setiap survey oleh partai-partai besar. Tapi biarlah, yang penting hasil dari kaderisasi kita maksimal dan betul-betul menciptakan kader militan.

Kenapa akhirnya Anda ikut maju sebagai caleg?

Mau tidak mau partai ini harus mendapat kursi sebanyak mungkin. Sehingga semua kader yang punya kepercayaan diri, keyakinan dan siap untuk mendapatkan kursi, harus berjuang untuk mendapatkan kursi yang memadai agar bisa mengantarkan capres tanpa koalisi.

Majunya Anda atas perintah partai atau kemauan sendiri?

Keinginan sendiri, sebagai bentuk tugas dan tanggungjawab. Meski memang, para kader mempertanyakan kenapa saya maju?Kalau kalah nanti bagaimana?. Katanya, nama besar partai akan malu. Itu kata mereka, tapi hitungan saya itu bisa dilakukan. Perhitungan lainnya adalah jaringan yang selama ini saya bangun di berbagai organisasi.Bisa saja mereka memilih karena jaringan itu, atau karena partai saya, atau karena keluarga saya.  Nah, kalau saya tidak maju, jangan-jangan mereka tidak memilih Gerindra. Ini berarti peluang Gerindra berkurang. Tentu saja, ini akan mengorbankan segala hal, mulai dari finansial, waktu dan tenaga baik untuk keluarga maupun partai harus dibagi-bagi. Jadi ini pun termasuk perjuangan untuk mendapatkan kursi sebanyak-sebanyaknya.

Kenapa Anda memilih dapil DIY?

Saya berada di Jogja sejak 1971.  Sebagai dosen, lalu dipercaya menduduki jabatan mulai dari sekretaris jurusan, dekan hingga sebagai biro perencanaan UGM. Begitu pula di luar kampus, saya sebagai Ketua HKTI dan sejumlah organisasi lainnya yang memiliki basis massa yang tidak kecil. Di samping itu, saya memiliki prestasi yang oleh banyak kalangan dinilai bagus seperti cemara udang yang bisa mengurai tsunami, abrasi. Kemudian konservasi pantai cemplon, hutan wanagama yang terkenal di seluruh dunia. Setidaknya, saya dianggap sebagian hidup saya untuk membangun hutan itu.

Belum lagi sumpah gandum saya sebagai professor telo yang sangat dikenal publik negeri ini. Sehingga saya optimis bisa meraih kursi, meski saingannya berat-berat. Setidaknya di dapil ini ada Hediati Prabowo atau yang dikenal Mba Titi dari Golkar, ada pula Roy Suryo, mantan Bupati Idham Samawi, dan sejumlah incumbent lainnya dari PKS, PAN, Demokrat dan PKB. Memang perjuangan saya luar biasa beratnya, tapi saya sudah melakukan sosialisasi sejak dua tahun lalu. Bahkan saya sudah pernah mengumpulkan para saksi di Gunung Kidul, pelatihan-pelatihan saksi, pelatihan kader jauh sebelumnya. Di samping itu pendekatan teman-teman yang ada di kampus, saya kira masih memiliki kekuatan tersendiri karena saya pernah menjadi bagian dari mereka.

Selama dua tahun sosialisasi, bagaimana respon mereka?

Cukup bagus, nyatanya mereka beramai-ramai mendaftarkan diri menjadi pemilih, menjadi saksi. Kita sudah memiliki daftar pemilih dan saksi dan ini merata tersebar di selruuh wilayah Jogja, sehingga peluang saya tidak terlalu kecil meski berat.

Daerah mana saja yang menjadi sasaran Anda dan targetnya berapa?

Kalau boleh diurut Gunung Kidul, Sleman, Kulonprogo, baru Kota Yogya. Dan untuk bisa meraih kursi, mau tak mau harus bisa meraih kurang dari200 ribu suara.

Program apa yang Anda tawarkan?

Sebetulnya tidak susah.Setiap sosialisasi, saya sampaikan 8 Program Aksi yang kemudian di-improve menjadi 6 Program Aksi.Ini menjadi materi kampanye yang paling utama. Menjelaskan kepada rakyat bahwa dengan 6 program itu,Indonesia bakal makmur dan bermartabat. Saya juga tunjukkan apa yang sudah saya lakukan, dan akan saya lakukan. Bagaimana membangun ekonomi dengan meningkatkan pendapatan masyarakat, sehingga bisa hidup lebih baik. Mulai dari pangan mandiri, ekonomi yang maju, ekonomi kerakyatan dari kekuatan-kekuatan pangan rakyat, energi, ternak, minyak kemiri, dan sebagainya.

Apa visi dan misi Anda?

Pasti akan melakukan sosialisasi 6 Program Aksi Partai Gerindra demi terwujudnya Indonesia yang makmur dan bermartabat. Sedangkan misi saya,membuktikan soal sumpah gandum. Bahwa saya baru akan makan gandum  jika bangsa ini sudah sejahtera, minimal sekaya kerajaan Majapahit waktu itu. Dimana bangsa ini pernah kaya raya seperti yang dialami Majapahit. Kalau hal itu terwujud maka saya baru akan buka puasa makan gandum.

Selama ini kendala yang dihadapi?

Kendala yang paling berarti tentu saja finansial. Saya bukan orang kaya raya, walaupun bukan orang miskin. Tapi kenyataan yang kita hadapi adalah orang-orang pragmatis. Sementara saya sendiri dan Gerindra tengah melawan orang-orang berwatak pragmatisme. Selain kendala finansial yang terbatas, jarak yang sangat luas, dari titik satu ke titik berikutnya bisa memerlukan waktu 6 jam. Tapi ini harus kita lakukan.

Lalu apa langkah antisipasi Anda?

Saya terus mengajarkan kepada bahwa pemimpin yan amanah, kopentensi inilahyang diutamakan.Bukan uang yang mungkin nilainya sangat kecil. Tapi kondisi di lapangan seperti masyarakat miskin saat ini, bisa saja tertarik hanya dengan yang sedikit itu. Tapi saya yakin dengan pendidikan politik yang benar, akan terjadi pembelajaran politik bagi para pemilih.Dan bangsa Indonesia akan lebih dewasa.Itulah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas. Yang terpenting adalah supaya mereka lebih terdidik secara politik dan ekonomi. Selama ini yang sampai ke pada mereka hanya mengharap lebih sedikit, tapi lupa dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Mendapat sesuatu yang sedikit lalu mereka memilih, ini yang berbahaya.

Selain masih ada yang pragmatis, ada dari kalangan terdidik tapi mereka memilih golput. Ini juga berbahaya,  karena golput di Jogja mencapai 50 persen. Golput ditimbulkan akibat ketidakpercayaan mereka kepada pemerintah dan pemimpin hasil pemilu. Sejatinya,ini tugas pemerintah dan partai politik untuk melakukan pendidikan politik hingga ke bawah.  Makanya Gerindra lahir untuk itu, kalau tak diatasi maka negeri ini tidak akan maju. Jika mereka golput, dan pemimpin yang  terpilih tidak bagus maka mereka ikut bertangungjawab. Bahkan saya ultimatum kepada mereka, negara ini bisa hancur jika mereka golput. Orang-orang yang golput itu juga pantas disebut pengecut.

Apa perbedaan antara pemilu lalu dengan yang akan Anda hadapi nanti?

Dulu,murni suarapribadi 24 ribu, ditambah suara partai menjadi 68 ribu.Tapi kenapa malah menjadi 60 ribu saja, inilah yang namanya permainan. Memang itu pengalaman pertama dengan persiapannya serba dadakan.Lagi pula yang tandem saya satu orang untuk tingkat provinsi dan dua orang untuk tingkat kabupaten kota. Saat ini yang tandem dengan saya di provinsi sekitar 15 orang caleg dan DPRD kabupaten/kota sekitar 30 orang bahkan bisa nambah lagi. Sekarang sudah ada pengalaman, jaringan lebih kuat, waktu lebih lama, sehingga peluangnya juga besar meski persaingan luar biasa. Saya tetap semangat dan optimis.

Apa harapan dan pesan Anda untuk para kader?

Minimal bisa meraih 20 persen suara agar pada saat mencalonkan Pak Prabowo menjadi presiden tidak perlu berkoalisi. Bahkan saya sendiri berharap di atas itu, sehingga Gerindra bisa maksimal mewujudkan impiannya. Dengan begituprogram kita bisa berjalan tanpa gangguan. Karena kebijakan harus didukung parlemen yang kuat, kalau lemah percuma, akan diganggu oleh kekuatan lain. Jika ini berhasil, saya akan buka puasa atas sumpah gandum. Pesan saya, mari kita berjuang, tulus dan ikhlas. Karena waktu sudah sempit untuk meraih kemenangan ini, kita tidak usah berpikir lain-lain, selain untuk menang.Bangsa ini harus tampil  bermartabat, sejahtera dan mandiri. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Suhardi maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) DI Yogyakarta.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s