Lebih Dekat Dengan Sabam R : Door to Door Raih Suara Terbanyak

Cita-citanya menjadi tentara. Tapi karena tak mendapat restu sang ayah, cita-cita yang murni itu, ia urungkan. Padahal ia sangat yakin, dengan menjadi tentara ia dapat mengabdi pada negara. Apalagi kata ayahnya, untuk menjadi abdi negara tidak harus menjadi tentara. Terjun ke dunia politik adalah juga salah satu bentuk pengabdian kepada negara. “Padahal sejak kecil, saya sangat ingin menjadi tentara,” kenang Sabam yang sempat ngambek selama enam bulan karena kesal terhadap ayahnya.

CALEG DPR-RI DAPIL LAMPUNG 2 NO URUT 3

CALEG DPR-RI DAPIL LAMPUNG 2 NO URUT 3

Rupanya sang ayah tak ingin Sabam mengikuti jejaknya yang berkarir di militer. Sang ayah lebih ingin, Sabam menjadi seorang politikus. Meski dengan catatan penting, berpolitik harus dengan cara yang benar.  “Sebelum terjun politik, kamu harus bisa mandiri dulu. Persiapkan kebutuhan isi perut. Kalau tidak mandiri, nanti kamu bisa jadi maling,” ucap Sabam meniru pesan ayahnya, sebelum ia memutuskan terjun ke dunia politik. Dan, ayahnya memang benar. Kini ia mulai mengerti dan memahami jika ingin berkorban untuk negara, tidak harus menjadi tentara. “Saya sangat yakin bahwa politik adalah juga suatu bentuk pengabdian pada  bangsa dan negara,” kata pria kelahiran Jakarta, 2 Mei 1980 ini.

Seiring berjalannya waktu, setelah mapan dan mandiri secara ekonomi, ia pun terjun ke dunia politik. Tahun 2008, ia sempat tertarik pada dua partai politik. Sayang, bukan mendapat sambutan baik, ia diminta merogoh kocek yang dalam untuk menjadi kader partai tersebut. Sabam pun mengurungkan niatnya. Bukan karena tak ingin berkorban, tapi ia merasa tidak nyaman berada dalam situasi seperti itu.

Namun di saat yang sama, salah seorang sahabatnya yang kebetulan keponakan Prabowo Subianto mengajaknya bergabung ke partai politik yang bakal meramaikan Pemilu 2009. Setelah mempelajari visi dan misi serta manivesto perjuangan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), ia merasa yakin memilih partai berlambang burung Garuda ini.

“Rupanya partai seperti inilah yang saya cari. Saya yakin tak salah pilih,” kata Sabam yang gemar membaca buku-buku seputar militer, politik dan ekonomi.

Karena usianya yang kala itu baru 28 tahun, ia diminta mengembangkan organisasi sayap Partai Gerindra, khususnya kaum muda. Dan lahirlah sayap kepemudaan Tunas Indonesia Raya (TIDAR).  Di sayap partai ini, Sabam ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal mendampingi Aryo Djojohadikusumo yang menjabat Ketua Umum. “Setidaknya hingga akhir kepengurusan 2015 nanti, usia saya masih masuk dalam kategori usia muda. Tapi setelah itu sudah tak bisa menjadi pengurus karena sudah lebih 35 tahun,” kata pria lajang yang hobi olahraga menembak ini.

Kini, calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Gerindra, lulusan American University ini akan terjun langsung ke daerah pemilihan (dapil)Lampung 2. Dapil ini meliputi tujuh wilayah diantaranya Kabupaten Lampung Utara, Lampung Tengah, Way Kanan, Lampung Timur, Mesuji, Tulang Bawang dan Tulang bawang Barat. Lantas seperti apa yang dilakukan pengusaha restoran ini dalam menghadapi pemilihan legislatif 2014 nanti? Sabam yang ditemui Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda di kantor Pimpinan Pusat Tidar, Jakarta  memaparkan pandangan politiknya dan persiapan menghadapi pesta demokrasi nanti. Berikut petikan wawancaranya:

Apa yang melatari Anda terjun ke politik?

Saya itu sama seperti anak tentara yang lain. Tentara itu memang cita-cita saya. Tapi saya dilarang menjadi tentara. Kata ayah, keadaannya sudah berubah. Untuk bisa mengabdi bukan hanya di tentara saja, tapi bisa juga di partai politik. Gara-gara dilarang itu, saya ngambek selama 6 bulan. Akhirnya saya pilih masuk politik. Tapi untuk keperluan itu, saya diminta mandiri dulu. Belajar cari uang dulu agar bisa mandiri. Orangtua saya bilang, kalau tidak mandiri nanti bisa jadi maling.

Menurut Anda politik itu apa?

Politik itu pengabdian. Membetulkan dan mulia. Kalau kita merasa negara ini sudah baik,  ngapain ikut berpolitik. Tapi karena kondisinya seperti ini, maka berpolitik sebagai bentuk pengabdian. Politik adalah cara untuk mengabdi, memperjuangkan dan membetulkan arah negara. Ada juga yang bilang politik itu kotor, kejam dan sebagainya, tapi saya tidak yakin. Semua kembali pada pribadinya masing-masing, bagaimana cara menyikapinya. Politik itu hal yang mulia, karena memperjuangkan kebaikan dengan cara-cara yang berbeda. Dalam hal ini, saya menganggap arah dan tujuan Partai Gerindra sudah benar sesuai dengan tujuan para pendiri bangsa ini.

Kondisi politik Indonesia seperti apa?

Di tingkat bawah, pendidikan masih kurang. Masih banyak orang yang lapar. Dengan kondisi seperti ini, jika seseorang diberikan hak untuk menentukan masa depan, pada akhirnya mereka memilih berdasarkan pragmatis. Di level atas, juga tidak berbeda jauh. Meski mereka pintar, tapi mengijinkan dirinya untuk dibohongi. Mereka mengijinkan negara ini mengimpor terus dan membuat kebijakan yang tidak berpihak kepada petani. Membiarkan perbankan lebih memilih memberikan kredit pada pengusaha besar dibanding pengusaha kecil. Jadi di bawah transaksional itulah yang membuat politik ini menjadi mahal.

Untuk maju sebagai caleg, selain urusan perut apa lagi yang Anda persiapkan?

Yang utama adalah doa. Mendekatkan diri kepada Tuhan. Yang saya tahu dan dengar, kalau nanti seseorang menjadi anggota dewan, godaannya begitu besar. Jangan sampai pada saat kita berniat terjun ke politik untuk mengubah keadaan, tapi setelah berada di dalam tidak mengubah apa-apa.

Setelah menjadi caleg apa yang Anda lakukan?

Awal Mei saya intensif turun ke dapil. Biasanya setiap minggu, saya empat hari di dapil, sisanya di Jakarta. Dapil Lampung 2 terdiri dari tujuh kabupaten, karena medannya yang luas dan infrastrukturnya memprihatinkan, akhirnya saya lebih fokus menggarap dua kabupaten saja, Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Selatan. Disamping itu ada daerah yang menjadi secondary-nya. Pemetaan ini pun berdasarkan kesepakatan dan arahan dari partai untuk mempermudah operasional para caleg.

Saya melakuan kunjungan door to door, dimulai dengan minta ijin ke aparat desa terlebih dulu. Jika mereka mengijinkan, saya baru masuk. Dalam tatap muka itu, saya membagikan kartu nama saya sendiri dari tangan ke tangan. Di samping itu, sesuai arahan partai, kita sesama caleg membagi wilayah agar lebih fokus di wilayahnya masing-masing.

Apa program yang Anda sampaikan dalam kampanye?

Paling tidak, ketika kampanye saya akan menyampaikan 6 program aksi dan kenapa harus meraih suara sebanyak minimal 20 persen. Malah kalau bisa kita harus bisa 70 persen sehingga jadi single majority. Yang menarik, di dapil itu setiap rumah mereka terpasang stiker Pak Prabowo. Jadi siapapun calegnya, tetap calon presiden yang dikenal adalah Pak Prabowo. Kita tinggal mengingatkan,  jika ingin Pak Prabowo menjadi presiden, maka kita dari Gerindra harus 20 persen. Bahkan di beberapa tempat, nama Pak Prabowo menjadi kata kunci untuk bisa masuk.

Bagaimana karakter pemilih dapil Lampung 2?

Secara umum masyarakatnya sudah terkontaminasi dengan demokrasi yang kebablasan seperti sekarang ini. Mereka pragmatis. Setidaknya berdasarkan survey yang dilakukan, ada sekitar 40 persen menentukan pilihan berdasarkan serangan fajar. Tapi disisi lain, masyarakat di sana mengharapkan dan merindukan calon pemimpin yang mau blusukan. Mereka jenuh dengan calon-calon pemimpin yang tidak turun langsung, tapi hanya melalui spanduk, baliho yang bertebaran di mana-mana. Saya yang bergelut di dunia politik saja, sudah capek melihatnya. Namun demikian yang mau turun door to door itu bukannya tidak ada, tapi jarang.

Pemilih golongan mana yang Anda sasar?

Semuanya jadi sasaran. Selama dia bisa milih, kita dekati untuk bisa mendapat dukungan sebanyak-banyaknya. Karena kita punya niat, kita yang adaptasi kepada mereka. Memang khusus program pemilih pemula atau pemuda, tetap kita jalankan.

Target Anda berapa?

Untuk bisa lolos ke Senayan, setidaknya saya harus meraih 160 ribu suara. Sementara target partai dalam hal ini dua kursi di masing-masing dapil. Tapi semua itu kembali lagi pada teman-teman yang akan bertarung agar bisa berjuang dan bekerja keras sama-sama. Justru kalau bisa semua harus berpikiran dan berjuang hanya ada 1 kursi yang diperebutkan.

Kalau terpilih, apa langkah berikutnya?

Menjadikan Pak Prabowo sebagai Presiden RI. Setelah itu melakukan apa yang diperintahkan partai. Berikutnya mengamankan kebijakan-kebijakan yang dicanangkan Pak Prabowo. Selain mengamankan lewat jalur politik, juga memastikan program itu bisa terlaksana dan sampai tepat sasaran ke konstituen. Memang, menjadi anggota dewan ini sebagai jembatan waktu untuk menuju langkah berikutnya yakni mengabdi di lembaga eksekutif sebagai kepala daerah. Saya tidak masalah di pelosok manapun yang penting mengabdi.

Apa pesan Anda untuk rekan-rekan seperjuangan?

Kepada teman-teman yang berjuang, ayo kita turun secara benar untuk meraih suara terbanyak door to door. Karena memang bangsa ini benar-benar butuh perubahan. Rakyat juga sudah bosan dan lama menunggu perubahan dari reformasi selama ini. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Sabam R  maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 3 dari daerah pemilihan (dapil) Lampung 2.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s