Lebih Dekat Dengan Susi Marleny Bachsin : Harga Mati, Gerindra Menang

Suatu keinginan yang baik, tentu harus dibarengi dengan niat tulus dan kerja keras. Sebab dengan begitu, apa yang dicita-citakan lebih mudah tercapai. Sikap inilah yang dijadikan pedoman hidup oleh Susi Marleny Bacshin, SE. MM, saat memilih terjun ke dunia politik. Maklum, politik Indonesia yang lebih banyak didominasi kaum laki-laki ini, acapkali mengecilkan peran politik kaum perempuan. “ Padahal tak sedikit kaum perempuan ikut berjuang lewat jalur politik untuk negeri ini,” kata wanita yang akrab disapa Donna ini.

CALEG DPR-RI DAPIL BENGKULU NO URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL BENGKULU NO URUT 1

Karena itu, Donna sangat yakin, sebuah perubahan besar akan terjadi dalam suatu negara jika kaum perempuan pun ikut berjuang bersama-sama. Dan, agar bisa terlibat langsung dalam perubahan itu, ia memutuskan terjun ke dunia politik. Tempat dimana ia awalnya masih sangat awam dan canggung. Namun dengan tekad yang bulat dan mau bekerja keras, wanita cantik ini dipercaya memangku jabatan sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah Provinsi Bengkulu, sejak 2010 lalu.

Meski sudah cukup lama mengabdikan diri di partai Gerindra, Donna tak pernah merasa cepat puas dengan apa yang menjadi keberhasilannya. Ia tak sungkang turun dari desa ke desa hanya untuk menyampaikan visi dan misi partai.

“Ini amanat yang besar dari Pak Prabowo yang harus kita pertanggungjawabkan dengan baik dan benar,” kata wanita kelahiran Jakarta, 19 November 1960 ini.

Kini, ia tercatat sebagai calon anggota legislatif (caleg) DPR-RI dari Daerah Pemilihan (dapil) Bengkulu. Meski sebelumnya, ibu tiga anak ini pernah menjadi caleg pada Pemilu 2009, namun kala itu ia belum beruntung. “Dulu maju sebagai caleg bukan tanpa persiapan, tapi memang belum takdirnya. Sekarang saatnya saua membuktikan diri, jika siap meraih suara terbanyak dari masyarakat Bengkulu,” kata Donna yang diprediksi banyak kalangan di Bengkulu akan mampu melenggang ke Senayan.

Bagi masyarakat Bengkulu, namanya sudah tidak asing lagi. Ia dikenal sebagai sosok pemimpin yang sangat mengayomi semua kalangan. Ia kerap menyambangi masyarakat hingga ke pelosok desa. Tak jarang, di sela-sela kunjungannya, ia rela menginap di rumah warga dengan segala keterbatasan fasilitas. Termasuk harus menginap di kendaraan saat dalam perjalanan.

“Pengorbanan ini demi sebuah perubahan yang diusung Gerindra. Atas nama  bangsa dan negara ini,apapun akan saya lakukan. Karena kalau bukan kita siapa lagi? Kalau bukan sekarang kapan lagi? Termasuk menghadapi masyarakat yang sudah trauma dan bersikap antipati terhadap partai politik akibat ulah para caleg yang lalu-lalu saat kampanye dulu,” ujar caleg dengan nomor urut pertama ini.

Karena itu, di momen Pemilu 2014 yang bakal digelar 9 April  2014, ia akan mengerahkan segala kemampuannya untuk meraih suara terbanyak. Tekad itu kian menguat, kala dukungan terus berdatangan dari masyarakat Bengkulu yang menaruh harapan besar pada dirinya. “Harus diakui jika banyak masyarakat menginginkan Pak Prabowo bisa memimpin negeri ini. Saya bilang,  jika ingin presidennya Pak Prabowo, maka pilihlah saya dari Partai Gerindra karena itulah yang akan mengantarkan beliau ke kursi presiden,” papar Donna bersemangat.

Donna memang selalu bersemangat dalam mengerjakan segala hal yang berkaitan dengan partainya. Meski ia dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga pengusaha sukses, Donna tak pernah mengeluh jika harus menemui konstituennya di daerah terpencil. Pasalnya, sejak remaja, ia terbiasa hidup mandiri.  Selepas SMA, Donna tak menuntut orang tuanya untuk dikuliahkan, tapi lebih memilih bekerja. “Saya ingin lebih mandiri dan menimba pengalaman untuk bekal hidup kelak di kemudian hari,” kata Donna yang di tengah-tengah beragam kesibukannya, dapat meraih gelar master di bidang manajemen.

Seperti apa perjuangannya dan langkah-langkahnya di sejumlah organisasi sosial ini. Bagaimana kesiapannyamenghadapi pemilihan umum nanti? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, ibu dari tiga anak inimemaparkannya saat ditemui beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Apa yang sudah dilakukan Anda dalam menghadapi Pemilu nanti?

Untuk menghadapi Pemilu yang semakin dekat, seiring dengan dikeluarkannya DCT, saya selaku Ketua DPD Partai Gerindra Bengkulu sudah siap kerja keras. Sebagai caleg saya telah melakukan kordinasi dengan seluruh caleg yang ada, baik tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun pusat. Selain itu, melakukan konsolidasi ke struktur partai hingga tingkat terbawah untuk menyiapkan segala sesuatunya. Termasuk menyiapkan kader-kader terlatih yang akan diterjunkan ke TPS-TPS. Sementara program yang berkaitan dengan sosialisasi sebagai caleg, tentunya tidak lepas dari program aksi yang biasa dilakukan selama ini seperti program revolusi merah (donor darah). Saua juga melakukan konsolidasi di struktural partai dan membentuk tim sukses dari unsur keluarga. Tim ini lebih bersifat kekeluargaan.

Apa motivasi Anda maju sebagai caleg?

Karena saya berasal dari Bengkulu,ketika diminta maju didaerah Bengkulu maka saya bersedia. Jika tidak, mana mungkin saya mau. Sebab jika ditempatkan di dapil lain kemungkinan saya tidak siap. Jadi motivasi utama saya adalah ingin berbuat sesuatu untuk Bengkulu sebagai tanah leluhur saya. Apalagi setelah melihat langsung infrastrukturnya yang karut marut seperti ini.  Pemerataan pembangunan perekonomiannya juga tidak seimbang hanya hanya terpusat di kota, sehingga masyarakat di daerah tertinggal makin sulit berkembang.

Selain itu, yang membuat saya sangat termotivasi adalah  Bengkulu selalu dipimpin oleh orang-orang dari selatan. Walaupun kadangkala mereka kurang bertanggungjawab jika sudah dipercaya sebagai pemimpin. Semoga empat orang yang duduk di Senayan nanti lebih fokus memperhatikan Bengkulu.

Apa visi dan misi Anda sebagai caleg?

Saya sangat ingin mensejahterakan masyarakat Bengkulu. Bukan berarti saya ingin jadi malaikat penolong bagi Bengkulu, tapi saya akan mengembangkan yang sudah baik dan memperbaiki yang belum baik. Seperti infrastruktur yang kurang memadai, pengembangan SDM yang masih tertinggal dan ketimpangan lainnya di Bengkulu. Karena partai kita memiliki 6 Program Aksi, maka saya akan menerjemahkan program itu sesuai apa yang dibutuhkan masyarakat. Saya ingat pesan Pak Prabowo, bahwa kita berjuang  dan berkorban untuk rakyat. Saya akan fokus bagaimana agar bisa tahu betul apa yang dibutuhkan masyarakat Bengkulu.

Misi saya sangat jelas. Sebagai orang Bengkulu, ketika saya ditegur soal Bengkulu maka saya harus peduli. Baik buruknya kota ini, harus menjadi tangungjawab saya sebagai orang Bengkulu, jika dipercaya menjadi wakil rakyat dari Bengkulu. Saya ingin sekali melihat masyarakat sejahtera, aman, damai dan lebih mandiri.

Tentunya banyak hikmah yang dipetik dari kegagalan Anda pada pemilu lalu?

Terus terang, dulu saya tidak tahu apa-apa. Saya tidak mengenal daerahnya. Termasuk komunikasi dengan keluarga belum maksimal. Belum lagi saya buta dengan pemetaan daerah danjuga belum siap dana. Dulu, jika tahu caleg lain mengadakan kegiatan di daerah A, saya membalasnya dengan kegiatan yang lebih wah.Walaupun saya menjabat Ketua DPD pun, saya masih buta peta kekuatan politik. Dan pada akhirnya saya harus learning by doing. Untuk Pemilu 2014,  tentu persiapannya sudah lebih matang dan terarah. Kalaupun dana yang disiapkan sama seperti dulu, saya sudah tahu kemana dan digunakan untuk apa saja.

Begitu pula dengan sanak famili yang pada pemilu lalu tidak mengenal saya sebagai saudaranya yang maju sebagai caleg, kini setelah tiga tahun akhirnya mereka tahu. Saya beruntung karena masyarakat Bengkulu dikenal dengan kejujurannya dan prisip yang mereka pegang. Biasanya mereka tahu apa yang kita mau. Sosialisasi lewat baliho-baliho pun masih relevan untuk mengenalkan diri. Termasuk lewat tim keluarga, dimana atribut kampanye dibedakan dengan tim dari partai. Dengan adanya tim keluarga ini, saya bisa memantau kinerja tim partai, begitu juga sebaliknya.

Lalu apa saja yang dihadapi di lapangan saat sosialisasi sebagai caleg?

Lumayan banyak, di antara mereka yang masih ada ikatan kekerabatan kini lebih antusias menyambut saya saat sosialisasi. Bahkan di beberapa daerah yang saya kunjungi ikatan emosionalnya lebih kental. Kebanyakan dari mereka mengatakan keinginannya untuk membantu,  meski pada pemilu yang lalu mereka mendukung salah satu caleg yang kini maju lagi. Mereka bilang kalau dulu membantu si A, sekarang waktunya membatu si B. Artinya kalau dulu mereka dukung caleg lain kini mau memilih saya.

Ketika mengunjungi komunitas yang tergabung di masjid-masjid, saya tidak mengharapkan mereka memberikan suaranya, tapi tanpa diminta pun mereka akan memilih saya. Karena memang itu diluar aktivitas saya di organisasi. Saya berbuat sesuatu walau tidak meminta suara, kalau untuk keperluan masjid tetap akan saya berikan. Namun tidak semua program bisa dilaksanakan, harus disesuaikan dengan kondisi daerah.

Kendala apa yang dihadapi selama sosialisasi ?

Saat berkunjung ke salah satu daerah, ada saluran irigas yang rusak, dan rupanya sudah bertahun-tahun belum juga diperbaiki. Banyak masyarakat yang sudah bosan dengan janji-janji bohong caleg yang dulu.Akhirnya, karena memang saya belum punya kewenangan untuk itu, maka saya hanya bisa menampung aspirasi mereka dan akan menceritakan masalah ini kepada wakil rakyat dari Bengkulu.

Setidaknya apa yang saya lakukan ibarat memberi rintik-rintik hujan. Meski belum bisa menyuburkan tanah dan tanamannya, paling tidak membuat mereka tersenyum dan menaruh harapan besar kepada kita. Jangan sampai rasa trauma mereka terhadap janji-janji caleg pada pemilu dulu kian menjadi dan akhirnya antipati dengan politik. Biasanya, untuk mengantisipasinya saya akan datang kembali dengan menawarkan program lain yang memang sesuai kebutuhan masyarakat daerah itu. Misalnya kita berdayakan potensi kaum ibu-ibu untuk menunjang perekonomian keluarga.

Jadi pemilih yang menjadi sasaran Anda dari kalangan apa?

Pemilih perempuan menjadi prioritas saya untuk digarap. Berikutnya, pemilih pemula, seperti menggelar kegiatan yang diminati remaja, sepakbola atau olahraga motorcros.

Daerah mana saja yang menjadi fokus Anda untuk mendulang suara?

Saya kan dari wilayah selatan terdiri dari Kabupaten Manaa, Seluma, dan Kaur. Memang di daerah itulah suara terbanyak. Sementara Kabupaten Muko-Muko, memang luas dan banyak kelompok trans-nya hanya saja penyebarannya tidak merata.

Menurut Anda, karakter pemilih di Bengkulu seperti apa?

Masyarakat umum bisa jadi tidak melihat saya sebagai caleg dari Gerindra, tapi melihat Pak Prabowo. Yang jadi tugas bersama adalah bagaimana kita bisa masuk dengan menggunakan kata kunci Prabowo. Paling tidak masyarakat terbagi dalam 40 persen melihat Pak Prabowo, 30 persen melihat Partai Gerindra, kemudian 20 persen lagi karena kedekatan famili, dan sisanya 10 persen merupakan suara mengambang.

Berapa target suara yang akan Anda raih?

Dengan hanya memiliki empat kursi, saya harus meraih 120 ribu suara. Dengan kondisi seperti itu, saya katakan kepada tim kita tidak bisa main-main jika ingin mencapai target. Syukur-syukur dua kursi. Untuk setiap kabupaten/kota minimal kita akan mendudukitiga kursi. Untuk provinsi minimal setiap kabupaten/kota bisa mendudukkan dua kadernya sehingga akan bisa menempati unsur pimpinan. Sementara untuk DPR-RI paling satu kursi harus kita rebut.

Lalu realitas di lapangan seperti apa?

Kekuatan peta politik di Bengkulu, tidak melihat partainya tapi melihat siapa yang back-up dalam kepala daerahnya.Karena keberadaan mereka sangat mempengaruhi pergerakan politik yang ada. Tapi kita tidak takut, karena kita sudah menyiapkan kader yang turun sebagai saksi yang akan mengawal suara di setiap TPS hingga KPU.

Apa pesan Anda untuk para caleg dan kader?

Dalam menghadapi Pemilu nanti, dengan jumlah peserta pemilu yang hanya 12 partai, maka kita tidak bisa main-main. Semua partai pasti menurunkan kader terbaiknya. Siapa saja boleh bergerak tapi tetap satu komando. Kalau memang ada yang kuat maka kita harus men-support dengan sungguh-sungguh. Asal dia mau kerja dengan sungguh-sungguh. Saya sebagai caleg yang memang manusia biasa juga ingin menang dan mengantarkan Gerindra menang pula. Sesama caleg jangan sampai gesekan dengan internal, meskipun itu menjadi sebuah keniscayaan. Karena kita sudah perang, maka harus siap mati. Artinya, meski kita mati tapi kalau tujuan kita Gerindra menang, kenapa tidak. Meski bukan saya yang menang misalnya. Karena semuanya bermuara untuk kemenangan Gerindra dan menjadikan Prabowo Subianto sebagai presiden.

Jika terpilih sebagai anggota dewan, kelak apa yang akan Anda lakukan?

Insya Allah nanti saya akan membangun rumah aspirasi. Tujuan dari rumah aspirasi itu untuk mempermudah kita bekerja dan mempermudah rakyat Bengkulu yang ingin menyampaikan aspirasi, keluhan atau pengaduannya yang nanti akan diteruskan kepada saya.  [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Susi Marleny Bachsin maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) Bengkulu.
Advertisements

2 thoughts on “Lebih Dekat Dengan Susi Marleny Bachsin : Harga Mati, Gerindra Menang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s