Lebih Dekat Dengan Nuroji : Memperjuangkan Kelompok Tradisional

Sejak tercatat sebagai wakil rakyat, ia masih tetap seperti yang dulu. Sederhana, bersahaja dan acap bicara apa adanya. Selain tetap memilih tinggal di kampung halamannya dibanding tinggal di rumah dinas, ia rela membelah kemacetan jalanan ibukota dari Depok ke Senayan. “Dari sana saya bisa lebih dekat dan merasakan apa yang dirasakan masyarakat,” kata Ir Nuroji, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini.

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 6 NO. URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 6 NO. URUT 1

Di tengah kesibukannya menjalankan tugas sebagai anggota Komisi X, Nuroji juga menyempatkan diri untuk blusukan keluar masuk perkampungan. Maklum, namanya kembali tercatat sebagai calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Gerindra nomor urut wahid untuk daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat 6. Usai menyelesaikan tugas di Senayan, biasanya Nuroji langsung meluncur ke dapil. Terlebih di akhir pekan, hampir sepanjang hari dihabiskan untuk sosialisasi di dapil yang meliputi Kota Depok dan Kota Bekasi.

“Bukan karena saya maju lagi, kemudian rajin turun ke dapil. Aktivitas semacam ini sudah saya lakukan dari dulu. Bukannya saya sombong, tapi hal itu bisa ditanyakan pada masyarakat, siapa yang kerap turun menyerap dan memperjuangkan aspirasi mereka,” ujar pria kelahiran Depok, 9 September 1962 ini.

Kembalinya Nuroji ke ajang perebutan kursi wakil rakyat di dapil Jawa Barat 6 yang hanya menyediakan enam kursi ini bukan tanpa sebab. Memang, awalnya Nuroji menyudahi tugasnya sebagai wakil rakyat. Namun tidak hanya masyarakat yang menjadi konsituennya, partai pun memintanya kembali untuk maju. Bukan itu saja, berdasar survei yang digelarnya, membuktikan bahwa ia masih layak dipilih kembali sebagai wakil rakyat dari dapil Jawa Barat 6. “Hasil survei itu setidaknya membuktikan bahwa tingkat keterpilihan saya masih tinggi,” beber lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang kerap menyuarakan persoalan pendidikan dan budaya ini.

Aktivitas politik Nuroji sendiri sudah berlangsung sejak era orde baru. Kala itu ia bergabung di Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Namun ia memilih mundur dari panggung politik kala kisruh melanda partai itu di tahun 1997. Nuroji lebih memilih kembali bergelut di dunia wartawan. Selang tiga tahun, disamping menjalani profesinya sebagai jurnalis, Nuroji mencoba peruntungan di dunia bisnis dengan membuka beberapa usaha. Sayang,  setelah berjalan lima tahun, dunia usaha itu harus ditinggalkannya. Lagi-lagi ia pun memilih kembali terjun di dunia pers dengan bergabung di Harian Jurnal Nasional pada tahun 2006.

Setahun kemudian, ia diminta untuk menangani Harian Warta Kota. Namun di tahun yang sama, Nuroji juga diajak koleganya, Fadli Zon untuk membidani majalah Tani Merdeka yang diterbitkan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Dari sanalah, Nuroji kerap diminta untuk membantu Komandan Jenderal Koppassus, Prabowo Subianto yang akan mendirikan partai baru. Nasib membawanya kembali ke panggung politik yang sudah ia tinggalkan sepuluh tahun sebelumnya.

“Niat awalnya hanya sekedar membantu, tapi karena ada kesamaan dalam perjuangan yang digariskan saya pun kembali melakoni politik praktis,” ujarnya mengenang.

Akhirnya Nuroji yang dinilai piawai dalam menggalang massa diminta untuk maju sebagai caleg dari Partai Gerindra pada Pemilu 2009 lalu. Meski harus menghadapi lawan politik yang lebih popular Nuroji mampu meraih 25.540 suara. Dengan perolehan suara sebanyak itu, ia melenggang ke Senayan. Nuroji yang awalnya ditugasi di Komisi VI itu kemudian diplot ke Komisi X hingga sekarang.

Seperti apa langkah-langkah dan perjuangannya menjalani tugas sebagai dewan yang sekaligus kembali maju sebagai caleg di dapil yang sama? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, putra asli betawi yang ditemui di ruang kerjanya ini memaparkan. Berikut wawancaranya:

Apa melatarbelakangi Anda maju kembali sebagai caleg?

Tadinya saya sebagai orang yang sudah duduk dan merasakan jadi anggota dewan di Senayan, jujur tidak mau maju lagi. Namun ketika saya berencana seperti itu, kader Partai Gerindra yang selama ini ada di belakang saya kembali mendesak saya untuk maju. Mereka bilang kalau saya tidak maju bagaimana dengan kader yang lagi pada semangat-semangatnya berjuang di bawah bendera Gerindra.

Akhirnya diam-diam saya mengadakan survei soal tingkat elektabilitas saya di dapil dengan menyandingkan beberapa orang baik internal maupun eksternal yang saya perkiraan akan maju sebagai caleg. Setidaknya dengan survei itu akan memberi gambaran seberapa besar tingkat elektabilitas saya di mata masyarakat Kota Bekasi dan Depok. Dari hasil survei itu, ternyata nama saya masih tertinggi, sehingga tidak memalukan kalau maju lagi.

Dan memang, beberapa nama yang saya prediksi itu empat orang caleg diantaranya kini masuk sebagai caleg selain saya ada Derri Derajat, Alwiyah Maulidiyah, dan Habiburahman meski dia diplot di dapil lain. Sebenarnya saya malas untuk nyaleg lagi, karena biayanya besar. Tapi karena DPP Partai Gerindra melalui Sekjen memerintahkan saya untuk maju lagi, ditambah lagi hasil survei itu, akhirnya saya maju lagi.

Bagaimana Anda membagi waktu kerja sebagai dewan dan caleg?

Karena saya Ketua Poksi mau tidak mau saya harus hadir terus sebagai wakil dari fraksi. Senin hingga Kamis saya fokus kerja sebagai anggota dewan di kantor, sorenya saya turun ke dapil. Pada Jumat–Minggu biasanya saya fokus turun ke dapil. Secara teori tidak akan cukup waktu mengingat tinggal enam bulan lagi.

Program apa yang Anda tawarkan?

Saya lebih suka melakukan aksi sosial yang sifatnya massif dan berkelanjutan. Salah satunya yang selama ini saya lakukan adalah pemberian beasiswa kepada siswa dari keluarga kurang mampu yang ada di Kota Depok dan Kota Bekasi. Memang, program ini merupakan bentuk perjuangan saya sebagai anggota Komisi X DPR-RI dalam memperjuangkan masyarakat yang menjadi konstituen. Saya menyalurkan beasiswa untuk sebanyak 20 ribu siswa.

Tentu saja, program ini memiliki mutiple effect yang lumayan. Dari 20 ribu siswa itu kalau kita kalikan 2 (orangtua) maka akan menghasilkan 40 ribu suara. Kalau kita ambil 70 persen saja sudah berapa suara yang kita raih. Beasiswa itu kita salurkan kepada masyarakat umum dan tidak mampu. Dan itu sangat efektif dalam meraih simpati masyarakat, karena kita sudah berjuang demi mereka. Terus terang, masyarakat khususnya Depok dan Bekasi pun pasti menyebut nama saya ketika bicara soal beasiswa.

Kendala apa yang selama ini Anda hadapi?

Selain menghadapi masyarakat yang pragmatis dan apatis juga persaingan yang sengit dalam memperebutkan tiket ke Senayan yang hanya 6 kursi. Bukan saja antar partai, tapi sesama caleg satu partai pun kadang saling sikut, saling jegal, saling kanibal. Jadi kadang kita yang satu partai pun saling kanibal. Padahal saya berkali-kali mengatakan kepada sesama caleg, baik tingkat pusat, daerah, kabupaten/kota untuk saling membagi wilayah sesuai segmentasinya. Misalnya, untuk kawasan perumahan elit saya tidak bakal masuk, saya lebih memilih kelompok tradisional, pasar, tukang sayur, tukang ayam. Meski begitu tidak semua yang masuk segmen itu saya garap. Caleg perempuan mungkin bisa garap kaum ibu-ibu.

Jadi kalau dapil Jabar 6 ini ditargetkan untuk bisa merebut dua kursi, maka sesama caleg Gerindra jangan sampai kanibal seperti yang terjadi selama ini. Bisa-bisa bukannya meraih dua kursi, yang terjadi malah suara Gerindra terbelah-belah dan ini akan merugikan kita semua. Kendala lain adanya aturan KPU yang melarang pemasangan baliho dan lebih mengutamakan tatap muka, padahal tatap muka itu mahal, banyak modal, karena kadang yang dihadapi itu lebih banyak pemilih pragmatis.

Seperti apa karakter pemilih dapil Jabar 6?

Kota Bekasi dan Depok itu lebih banyak kaum urban. Kalau kita datang ke suatu tempat, selalu ditanya bawa apaan. Kalau kita tidak membawa apa-apa, mereka bilang caleg apaan. Beberapa tempat yang saya datangi warganya seperti itu. Padahal saya paling malas datang ke komunitas yang seperti itu. Ongkos untuk setiap kegiatan yang mereka adakan itu tidak kecil dimana semua itu dilimpahkan kepada caleg.

Belum lagi ketika kita datang mereka selalu menyodorkan proposal, mereka bilangnya aspirasi tapi ujung-ujungnya uang. Kalau tidak kita penuhi, mereka nanti mengundang caleg lain. Bahkan meski sudah kita kasih, ada beberapa diantara mereka yang kembali mengundang caleg lain baik yang satu partai maupun partai lain. Nah ini yang saya bilang mahal, dimana KPU menganjurkan para caleg untuk mengadakan sosialisasi tatap muka dibanding dengan menyebar baliho.

Ini yang Anda sebut pemilih pragmatis?

Ya, pemilih semacam ini yang termasuk pragmatis. Biasanya ada di daerah-daerah yang banyak kontrakan. Biasanya setiap ada caleg yang datang, mereka mau kumpul, begitu pula besoknya kalau ada caleg lain mereka juga mau kumpul lagi. Model seperti ini yang kadang membuat caleg tekor. Dan biasanya hal itu tidak hanay terjadi pada caleg-caleg yang belum paham kondisi lapangan dan berpengalaman, caleg incumbent pun sering dimanfaatkan. Termasuk saya sendiri pernah mengalaminya, mereka hanya menginginkan uangnya. Meski kadang akhirnya saya kasih juga apa yang mereka inginkan.

Bagi masyarakat pragmatis seperti ini, prinsipnya tadi, kalau caleg satu bisa ngasih kenapa caleg lain tidak berani kasih. Bahkan saya sempat kesal karena mereka tidak mau menghargai bantuan yang kita berikan. Banyak anggapan seakan-akan kita memanfaatkan masyarakat, padahal merekalah yang memanfaatkan caleg. Menghadapi hal ini alangkah baiknya para caleg mengadakan survei terlebih dulu sebelum turun ke masyarakat yang bakal didatanginya. Pasalnya karakter masyarakat selain pragmatis juga belum tentu mereka memilih. Karena bisa jadi mereka bukan penduduk ber-KTP Depok atau Bekasi.

Bagaimana Anda mengantisipasinya?

Pengalaman demi pengalaman tentunya memberi pelajaran bagi saya sendiri. Bukannya trauma atau kapok, tapi biasanya saya lebih membatasi diri, selektif terhadap undangan masyarakat yang kita nilai pasti di belakang ada maunya. Atau kalaupun mereka hanya meminta sumbangan seperti pertandingan bola, saya dengan tegas tidak ikut dalam kegiatan tersebut. Disamping tidak efektif, biaya tinggi, tidak semua orang yang hadir dalam pertandingan itu akan simpati kepada politik. Memang resikonya bisa jadi kita tidak dikenal di komunitas itu. Nah, saya biasanya menggunakan cara konvensional seperti dengan menyebarkan stiker, mendekati kalangan media dan penguatan jaringan.

Saya lebih senang ngobrol kumpul bareng komunitas-komunitas, seperti komunitas seniman, budayawan atau pensiunan. Setidaknya untuk sosialisasi bertatap muka dengan masyarakat, tokoh dan komunitas-komunitas yang ada di dapil Jabar 6, saya rasa sudah lebih dari 120 titik yang saya datangi. Apalagi pemilu 2014 ini selain diikuti hanya 12 partai, persaingan antar caleg dalam satu partai maupun luar partai begitu kuat. Kalau kita saling tubruk, gesekan, atau saling dendam malah itu tidak mengumpulkan suara.

Menurut Anda, siapa saja saingan terberat di dapil 6?

Di samping lawan dari partai lain, dari internal partai yang sekarang maju juga bagus-bagus dan tidak saya anggap enteng. Makanya saya harus lebih ekstra kerja keras dan terus blusukan. Jujur saja berat untuk bisa memperebutkan dua dari enam kursi yang tersedia. Gerindra harus menghadapi partai-partai besar seperti PDIP, Golkar, PKS, dan Demokrat yang selama ini sudah memiliki kursi di Senayan. Jadi, jika masing-masing bisa bertahan dengan satu kursi, maka setidaknya hanya ada satu kursi yang diperebutkan oleh mereka termasuk kita.

Memang seru, meski kadang merasa capek juga. Karena bukan saja menghadapi partai lawan, dari partai sendiri pun bagus-bagus. Berbeda dengan dulu, dimana masyarakat menilai Gerindra sebagai partai baru menjadi alternatif untuk dipilih. Sekarang, selain pamor Gerindra lagi naik, partainya sedikit, calegnya pun berkualitas. Dulu saya bekerja sendiri dan tidak ada tandem sekarang saya tandem dengan beberapa caleg provinsi dan kota sekitar 10-15 orang caleg.

Menghadapi kondisi seperti itu, apa yang Anda lakukan?

Saya memiliki beberapa lapisan strategi, jadi ketika lapisan ini tidak jalan, saya gunakan lapisan yang lain. Tim struktural tidak dapat saya pakai tim lain, ketika tim yang satu tidak jalan maka gunakan tim lain. Kalaupun tim yang ada tidak jalan kita pakai tim komunitas, seperti di Depok ada komunitas Betawi Ngumpul. Lalu di Bekasi ada tim paranormal yang merapat ke saya. Bukan karena saya yang minta tapi mereka yang minta bergabung.

Pesan dan harapan Anda kepada caleg yang terjun di dapil Jabar 6?

Untuk caleg internal, karena kita diberi tugas untuk mencapai target dua kursi, maka harus dicapai dengan tepat dan cerdas. Kita harus bagi tugas, tidak kaku, kita harus fokus ke komunitas sendiri-sendiri. Seperti saya misalnya yang fokus di pasar tradisional tapi tidak semua pedagangnya saya garap. Nah, kalau itu dilakukan secara kordinasi saya rasa Gerindra bisa bisa meraih dua kursi dari dapil Jabar 6. Pemilu 2014 menjadi sulit dan berat karena masing-masing partai yang berlaga setidaknya ada lima partai yang sudah punya modal kursi di parlemen. Sementara yang diperebutkan hanya enam kursi oleh lima partai besar. Apalagi Jawa Barat oleh DPP ditugasi untuk bisa meraih 27 kursi.[G]

Lebih Dekat Dengan Abdul Wachid : Menyuarakan Suara Petani

Semangat dan perjuangannya menyuarakan nasib para petani di meja parlemen tak pernah pudar. Meski kadang harus menelan kekecewaan karena suara lantangnya nyaris tak terdengar dilibas keriuhan suara partai penguasa. Melalui program ekonomi kerakyatan yang terus digelorakan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), ia bertekad untuk bisa melahirkan kebijakan hukum dan penganggaran yang pro-rakyat, khususnya kaum petani.

CALEG DPR-RI DAPIL JATENG 2 NO. URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL JATENG 2 NO. URUT 1

Diakuinya selama menjabat sebagai anggota DPR-RI ada banyak hal yang selama ini diperjuangkan Partai Gerindra belum bisa direalisasikan. Karena itulah Abdul Wachid kembali maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) di daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah 2. “Masih banyak ide gagasan program dan perjuangan Partai Gerindra yang belum terealisasi. Apalagi saat ini perwakilan partai kita di parlemen masih kecil, karena itu saya maju kembali,” tegas caleg nomor urut 1 dari dapil Jawa Tengah 2 yang meliputi Demak, Kudus dan Jepara ini.

Keterlibatan pria kelahiran, Jepara 12 Mei 1961 di panggung politik boleh dibilang baru lima tahun. Namun begitu, sepak terjangnya sebagai pejuang politisi tak diragukan lagi. Bahkan sejak diamanahi sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Jawa Tengah, pamor pria yang biasa disapa Wachid ini kian disegani. Wajar memang, sebelum bergelut di dunia politik, nama Wachid sudah dikenal oleh para politisi baik yang ada di pusat maupun Jawa Tengah. Pasalnya, pelopor sekaligus pendiri Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) ini kerap turun sebagai pelaku parlemen jalanan kala memperjuangkan nasib petani.

”Saya ini sebelumnya, hanyalah petani tebu yang terus berjuang soal nasib tebu dan gula nasional hingga harus turun ke jalananan,” ujar anggota Komisi IV yang menangani bidang pertanian, pertanahan, kehutanan dan kelautan ini.

Selain giat memperjuangkan nasib petani tebu, Wachid juga aktif di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).  Ini pula yang menjadi alasan Prabowo Subianto, Ketua Umum HKTI yang memintanya untuk menahkodai Partai Gerindra di Jawa Tengah 2008 silam. Diakuinya, Wachid yang kala itu masih merasa belum menguasai dunia perpolitikan merasa gamang. Namun berbeda dengan Prabowo yang meyakini bahwa dirinya mampu memimpin partai bentukannya di Jawa Tengah. ”Tapi saat itu, Pak Prabowo meyakinkan saya, bahwa saya layak memimpin Gerindra di Jawa Tengah,” ceritanya.

Tampilnya Wachid di pentas politik sempat dipandang sebelah mata oleh lawan politiknya. Namun, berkat semangat dan hubungan sesama jaringan yang kuat, ia tak gentar menghadapi medan politik yang penuh persaingan. Kepiawainnya menggalang massa dari berbagai kalangan, khususnya kaum petani dan sarungan, Wachid berhasil mengguncangkan peta politik Jawa Tengah. Kala itu, bersama almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Wachid berhasil mengumpulkan massa dalam sebuah kegiatan istigosah yang digelar di Jepara dan dihadiri dihadiri tokoh Nahdlatul Ulama (NU) kharismatik, Gus Dur beserta keluarganya. Termasuk ketika masa Pemilu 2009 lalu, Wachid berani menggelar kampanye di Simpang Lima Semarang –yang acap menjadi tolok ukur kebesaran dan popularitas partai di mata warga Jawa Tengah.

Sebagai panglima Partai Gerindra di Jawa Tengah, pada 2009 lalu, Wachid berhasil meraih 65 kursi DPRD kabupaten/kota, 9 kursi DPRD Provinsi dan 4 kursi DPR-RI. Kini, menghadapi Pemilu 2014, partai berlambang kepala burung garuda yang dipimpinnya itu ditargetkan meraih 25 kursi parlemen dari 10 dapil yang ada di Jawa Tengah.

”Tentu ini pekerjaan yang berat. Karena itu dibutuhkan kerja keras dari semua elemen partai, sehingga bisa mengusung Pak Prabowo Subianto menjadi capres tanpa koalisi,” tegasnya.

Lalu seperti apa yang dilakukan Ketua APTRI dalam mewujudkan target pencapaian yang dibebankannya itu. Di tengah kesibukannya sebagai anggota DPR-RI dan Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah, Wachid memaparkan panjang lebar Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bisa Anda ceritakan perkembangan Partai Gerindra Jawa Tengah saat ini?

Di 2009 lalu,Partai Gerindra Jawa Tengah dengan waktu persiapan yang sangat sempit berhasil mendirikan 35 DPC dan 573 PAC. Kini Jawa Tengah sudah memiliki struktural partai tingkat ranting sebanyak 86 ribu. Dimana masing-masing ranting memiliki kepengurusan sebanyak 17 orang dan sudah berseragam semua pengurusnya. Begitua juga dengan organisasi sayap partai Jawa Tengah boleh dibilang lebih kondusif di banding daerah lain bahkan ada yang sudah merambah hingga ke tingkat desa.

Selama empat tahun di bawah kepemimpinan saya, Alhamdulillah kondusif dan tidak ada gejolak. Kalaupun ada itu hanya selintasan saya dan saya anggap sebagai dinamika politik seperti masalah yang dihadapi Ketua DPC Kota Surakarta yang tersandung hukum, alhamdulillah sudah ada gantinya. Saat ini Partai Gerindra di Jawa Tengah menduduki urutan ketiga, setelah PDIP dan Golkar. Ini bukan kita yang menilai, tapi ini berdasarkan survey yang dilakukan oleh partai lain. Karena itu, semoga dengan kekuatan ini, target 25 kursi yang dibebankan kepada Jawa Tengah bisa terlampaui. Tentu saja mau tidak mau kita harus kerja ektstra keras kalau Partai Gerindra mau menang dan mengusung Pak Prabowo sebagai capres tanpa koalisi.

Apa yang Anda lakukan menghadapi Pemilu 2014?

Untuk menghadapi Pemilu 2014, kami sudah siap dengan dua orang saksi per TPS. Kita juga sudah menyiapkan tenaga TOT saksi yang siap diterjunkan ke semua wilayah. Para caleg tingkat propinsi dan kabupaten/kota sudah kita kumpulkan termasuk caleg DPR-RI semuanya sudah mengikuti diklat yang diadakan beberapa waktu lalu. Meski di tengah kesibukan saya sebagai dewan, sengaja saya mengikuti sampai akhir agar bisa bercengkrama bersama para caleg dari 10 dapil yang ada di Jawa Tengah.

Lantas, apa yang melatarbelakangi Anda maju kembali sebagai caleg?

Sejak menjabat sebagai anggota dewan tahun 2009, sepertinya masih banyak perjuangan kami yang belum terealisasi. Apalagi saat ini perwakilan partai kita di parlemen masih kecil. Jadi banyak ide gagasan program Partai Gerindra yang belum tersalurkan.

Berapa target yang harus diraih?

Jawa Tengah yang memiliki 10 dapil itu ditargetkan oleh partai agar bisa meraih 25 kursi.  Sementara target untuk dapil saya sendiri setidaknya harus mendapatkan dua kursi.Tentunya, target ini diharapkan bisa terealisasi sehingga bisa mengantarkan Pak Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada pilpres 2014 tanpa koalisi dengan partai lain.

Tentunya ada perbedaan antara Pemilu 2009 dengan 2014?

Kondisi politik di Pemilu 2009 dan 2014 tentu sangat berbeda sekali. Saya melihat dari seluruh anggota dewan yang ada di DPR RI saat ini paling banyakhanya 30 persen saja yang akan terpilih kembali di 2014. Sama halnya dengan yang terjadi pada 2009 lalu, dimana banyak anggota dewan yang begitu dilantik tidak terlihat hasil kerja nyatanya. Penyusutan jumlah partai politik pun memainkan peranan penting dalam pemilu mendatang. Pasalnya, masyarakat saat ini sudah bisa menilai caleg mana yang sudah memiliki hasil kerja nyata dan mana yang hanya mengandalkan popularitas saja.

Disamping itu, pada 2009 lalu, praktek jual beli suara masih bisa dilakukan karena minimnya pengawasan di tingkat TPS hingga PPS. Namun saya rasa untuk 2014 mendatang hal tersebut mustahil untuk dilakukan karena masing-masing partai memiliki 24 pasang mata saksi yang siap melotot di tiap TPS, berbeda dengan tahun 2009 yang hanya memiliki sedikit sekali saksi di TPS. Nah, dalam waktu yang sudah semakin sempit ini, saya selalu menyempatkan diri untuk turun bersosialiasi di dapil saya, sehingga mereka bisa mengenal saya lebih dekat.

Apa visi dan misi Anda sebagai caleg?

Tentu saja visi dan misi saya tak lepas dari apa yang selama ini menjadi perjuangan Partai Gerindra yang tertuang dalam 6 Program Aksi Transformasi Bangsa Partau Gerindra. Bahkan saya beranggapan para caleg Gerindra sebenarnya lebih dimudahkan dalam menyampaikan visi dan misinya ketika turun ke konstituen. Tanpa harus pusing-pusing memikirkan apa yang bakal dikerjakan, caleg tinggal  baca dan pahami lalu sampaikan saja apa yang ada di 6 Program Aksi tersebut dengan bahasanya masing-masing.

Karena latar belakang saya dari pertanian, saya ingin memperjuangkan apa yang selama ini digembar-gemborkan pemerintah soal swasembada pangan berkelanjutan. Dimana selama ini pemerintah hanya fokus pada beras, jagung, kedelai, gula, dan daging. Padahal ada sumber pangan yang tak kalah dengan yang saya sebut tadi yakni singkong. Untuk itu saya, akan memperjuangkan singkong, karena sebagai negara penghasil singkong terbesar ketiga didunia, hingga saat ini para petani singkong tidak pernah mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Singkong ini, disamping bisa dimakan juga bisa dijadikan bahan dasar untuk bioethanol. Bahan bakar alternatif yang harus kita kembangkan lagi.

Saya juga akan mengembangkan singkong untuk bahan pengganti gandum. Dimana hingga saat ini negara masih mengimpor gandum sebanyak 10 juta ton per tahun. Jika gandum bisa diganti dengan singkong, bisa dibayangkan berapa pemasukan yang bisa negara dapatkan. Dan tentunya akan menyejahterakan petani kita sendiri. Sehingga kita bisa berdiri di atas kaki sendiri, menjadi bangsa mandiri yang tidak tergantung pada bangsa lain.

Disamping itu, cita-cita saya di 2014 mendatang adalah menaikan anggaran pertanian di APBN yang kini hanya 1 persen.Dengan cara ini saya yakin bisa menyejahterakan dan memajukan sektor pertanian. Bagaimana mau swasebada pangan kalau anggarannya kecil sekali. Penambahan anggaran juga dapat digunakan untuk perluasan area pertanian yang setiap tahun selalu tergerus untuk lahan industri atau perumahan. Yang jelas tujuan saya di 2014 hanya dua yaitu memenangkan Gerindra di Pemilu dan Prabowo Subianto sebagai Presiden.

Kenapa Anda kembali memilih dapil Jateng 2?

Saya kembali memilih dapil lama karena disamping saya lahir, dibesarkan dan tinggal di daerah dapil Jateng 2,saat ini saya sebagai Ketua DPD Jawa Tengah sebenarnya bisa saja dan siap ditempatkan di dapil mana saja. Karena ada target yang harus diraih, maka saya yang dulu.  Dapil Jateng 2 itu terdiri dari wilayah yang memiliki lahan pertanian yang luas. Dan memang, saya terpanggil untuk memajukan pertanian di daerah tersebut.

Apa saja yang sudah Anda lakukan di dapil?

Sebenarnya, saya sudah melakukan sosialisasi di dapil saya sejak empat tahun lalu. Sejak saya menjabat anggota DPR, setiap hari Kamis sore atau Jumat pagi, saya selalu pulang ke dapil saya untuk mengunjungi dan bersentuhan langsung dengan para konstituen saya. Beragam kegiatan sosial dan pengembangan pertanian serta perikanan sudah saya lakukan di dapil saya. Di daerah Jawa Tengah itu terdapat daerah pertanian yang luas, disamping itu ada dua buah rawa tersebar di Kudus dan Pati yang sejak pasca reformasi kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal dulu keduanya menjadi sumber pengairan bagi para petani di kedua daerah itu. Nah, jika nanti Pak Prabowo menjadi presiden, saya akan ajak beliau untuk mengunjungi daerah tersebut agar bisa mengembalikan masa keemasan dulu yang kini terbengkalai dan belum tergarap dengan benar.

Seperti apa karakter pemilih di dapil Anda?

Konstituen di dapil saya mayoritas adalah masyarakat yang religius dan petani.Kalau karakteristik pemilih pada dasarnya sama saja dengan daerah lain. Disamping ada yang idealis juga pragmatis. Dengan besarnya jumlah pemilih di dapil saya, tentu praktek jual beli suara, politik traksaksional itu sangat memungkinkan terjadi. Semua itu berawal dari kebiasan masyarakat dalam pelaksanaan pilkades (pemilihan kepala desa) dan berlanjut ke pilkada bupati/walikota dan gubernur. Bahkan boleh jadi biaya ongkos politik pilkades di suatu daerah bisa mengalahkan biaya pileg. Walaupun tidak terang-terangan namun saya yakin masih ada beberapa daerah yang masih melakukan hal tersebut. Untuk itu saya selalu melakukan komunikasi intensif dengan dua kalangan itu untuk bisa mengetahui hal-hal apa saja yang perlu dilakukan.

Bagaimana Anda mengantisipasi praktek semacam itu?

Uang bukanlah segala, yang terpenting adalah kerja nyata. Kita turun ke bawah, menyapa rakyat, menyampaikan program aksi serta memberikan hasil nyata. Pada 2009 lalu saya telah membuktikan hal tersebut. Masyarakat yang sadar akan politik pasti akan memahami dan lebih mempercayai caleg yang baik sebelum maupun sudah terpilih tetap berada bersama rakyat.

Apa harapan dan pesan Anda kepada seluruh kader dalam menghadapi 2014?

Menurut saya kader-kader saat masih banyak yang merasa jika mereka terpilih sebagai dewan atas hasil usaha mereka sendiri, itu berlaku baik yang di DPR pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Sehingga banyak yang melupakan unsur kepartaian mereka. Mustinya, mereka harus ingat perjuangan partai selama ini. Banyak yang sudah mulai tidak peduli dengan perjuangan partai. Hal inilah yang harus kita hilangkan. Untuk itu kita terus menguatkan kembali unsur-unsur kepartaian dan mengembalikan nilai-nilai dasar perjuangan partai.

Karena itu, kepada seluruh caleg dari Jawa Tengah, Anda jangan hanya berjuang semata-mata agar terpilih menjadi wakil rakyat. Anda harus melakukan kerja nyata dan lakukan aksi sosial pada masyarakat. Sambil mensosialisasikan visi dan misi partai serta menjabarkan program kerja Anda pada masyarakat. Boleh jadi, hampir sebagian besar masyarakat kita masih belum mengerti mengenai hal-hal tadi. Selain itu jangan hanya mengandalkan tim sukses, namun kita juga harus bisa mengajak para struktural, dari DPD, DPC, PAC hingga Ranting. Dan tentu saja silaturahmi dengan para tokoh masyarakat dan agama harus terus kita lakukan. [G]