Lebih Dekat Dengan Andi Rudiyanto Asapa : Berjuang Bersama Rakyat

Berani, sederhana, dan bersahaja adalah gambaran Andi Rudiyanto Asapa. Sepak terjangnya kerap memusingkan banyak kalangan, baik saat sebagai advokat maupun kala duduk di kursi birokrat. Ia selalu berada di garda depan memperjuangkan keadilan tanpa gentar dan tak kenal kompromi saat harus melayani, mengayomi, dan membela rakyat. Tak heran bila ia kian disegani banyak kalangan.

CALEG DPR RI DAPIL SULSEL 2 NO URUT 1

CALEG DPR RI DAPIL SULSEL 2 NO URUT 1

Sosok lelaki yang akrab disapa Rudi ini,memang sudah tak asing lagi bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Rekam jejak perjalanan hidupnya, begitumelekat dalam hati masyarakat. Rudi kerap tampil sederhana dan merakyat saat melakukan sosialisasi ke daerah pemilihannya (dapil). Kesederhanaan itu bukan untuk pencitraan, sebab itu sudah menjadi karakter pengacara yang pernah memimpin Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar ini. Sikapnya santai terhadap aturan formal protokoler, namun tetap menjunjung tinggi etika sesama.

Mantan Bupati Sinjai ini memang bukan berangkat dari latar belakang birokrat. Sebelum menjadi bupati pada Juli 2003, lulusan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar ini,acap berhubungan dengan masyarakat, tak terkecuali kaum marginal. Kebiasaan itu berlanjut ketika menjalankan tugasnya sebagai bupati selama dua periode. Rudi dikenal sebagai sosok yang tak segan-segan blusukan siang maupun malam. Saat menjabat bupati Sinjai, ia keluar masuk perkampungan hingga ke pelosok desa untuk mengetahui beragam persoalan yang dihadapi masyarakat atau sekadar menyapa penduduk di wilayahnya.

“Tidak ada perubahan. Tidak ada juga hal yang baru dan perlu diubah. Saya menjadi bupati dengan karakter seperti itu, setelah masa jabatan saya berakhir yah tetap begitu,” ungkap pria kelahiran Gorontalo, 26 Mei 1957 ini.

Selepas tugasnya sebagai Bupati Sinjai, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sulawesi Selatan ini maju sebagai calon anggota (caleg) DPR RI dapil Sulsel 2. Di dapil ini, Rudi akan bersaing ketat dengan  sejumlah anggota DPR-RI sepertiMalkan Amin, Akbar Faisal, Jafar Hafsah, Andi Rio Padjalangi, Halim Kalla, Syamsul Bahri, Andi Taufan Tiro dan Tamsil Linrung.

Rudi maju menjadi caleg bukan sekadar unjuk kekuatan. Ia merasa resah melihat kondisi bangsa yang kian memprihantinkan. Ia menilai masih banyak yang harus dilakukan untuk membenahi negeri ini.

“Apa yang telah saya lakukan saat menjadi bupati belum banyak memberi hasil maksimal. Nah, untuk bisa ikut membenahi itu, mau tidak mau kita harus masuk dalam parlemen,” ujarnya.

Sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Sulsel, beragam terobosan telah ia lakukan. Di samping penguatan program aksi serta manivesto perjuangan partai, lewat Pemilu 2014  ia mencanangkan target sembilan kursi DPR dari provinsi ini. Setidaknya, itulah yang ia sampaikan kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda saat ditemui beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya :

Setelah Anda menyelesaikan tugas sebagai bupati, apa saja aktivitasnya saat?

Selain menjalankan tugas sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Sulsel, saya tetap keliling Sulsel, khususnya dapil 2. Tidak ada perubahan. Sama seperti dulu dengan cara saya sendiri. Sama halnya saat pemilihan gubernur, saya menginap di rumah-rumah masyarakat. Saya bersyukur masih diminta mendatangi mereka dan tinggal beberapa waktu sehingga saya susah payah membagi waktu. Tidak ada perubahan, tidak ada hal yang baru dan perlu diubah. Saya menjadi bupati dengan karakter seperti itu, setelah selesai pun masih seperti dulu.

Bisa diceritakan awal mula Anda bergabung ke Partai Gerindra?

Tahun 2010 Pak Permadi dan Pak Prabowo meminta saya masuk Partai Gerindra. Saya butuh 6 bulan untuk berpikir. Akhirnya dengan bismillah saya masuk dan memimpin Partai Gerindra Sulsel. Nah, yang membuat saya gabung ke partai ini pertama saya melihat visi misi perjuangan Partai Gerindra dan juga komitmen Pak Prabowo untuk kepentingan masyarakat begitu besar. Itu saya pelajari selama enam bulan.

Kedua saya melihat prospek Indonesia, memang ke depan harus ada perubahan, tidak boleh tidak. Kenapa? Karena saya ini sudah merasakan sendiri berada di posisi pemerintahan. Saya tahu bagaimana kelemahan pemerintahan ini. Untuk itu harus ada pemimpin yang baru dan tegas untuk menjalankan roda pemerintahan sehingga NKRI bisa tetap bersatu, masyarakat dan petani kita sejahtera. Tidak seperti itu, hanya masyarakat kota yang sejahtera tapi masyarakat di pelosok desa tidak sejahtera.

Bisa Anda ceritakan bagaimana perkembangan Gerindra di Sulsel menghadapi Pemilu 2014?

Partai Gerindra di Sulsel sangat siap. Seluruh caleg, mulai dari DPRD kabupaten/kota, provinsi dan pusat sudah menjalankan tugasnya masing-masing. Apalagi setelah selesai pembekalan tingkat pusat, maka berikutnya akan dilakukan pembekalan ke tingkat propinsi hingga kabupaten/kota. Selama ini kita biarkan mereka mensosialisasikan diri sebagai caleg.

Semuanya tentu harus memahami dan mengerti, lalu mampu menjelaskan kepada masyarakat tentang 6 Program Aksi Transformasi Bangsa Partai Gerindra. Karena program itu adalah bentuk kontrak politik Partai Gerindra dan Pak Prabowo Subianto kepada masyarakat. Para valeg harus mempelajari dan menerjemahkan dengan baik, lalu menyampaikan ke masyarakat dengan bahasa mudah dipahami.

Apa yang melatarbelakangi Anda maju sebagai caleg?

Menurut sudut pandang saya, kondisi bangsa ini masih banyak yang harus dibenahi. Apa yang telah saya lakukan pada saat menjadi bupati sebagai upaya untuk membenahi bangsa ini belum banyak memberi hasil maksimal. Apalagi kondisi bangsa ini semakin hari semakin memprihatinkan, belum banyak berubah. Agar bisa ikut membenahi, mau tidak mau kita harus masuk dalam parlemen.

Apalagi kalau kita lihat banyak sistem ketatanegaraan yang sudah keluar dari rel. Mulai dari persoalan hukum, sistem pemerintahan, kebijakan pemerintah pusat kepada kepala daerah yang menurut saya memberikan otonomi, tapi tidak sepenuhnya. Bahkan ada menteri yang bilang, otonomi memberikan kepala daerah otoriter, penguasa daerah, tapi semua itu tidak benar dan sangat disayangkan. Karena otonomi daerah yang diberikan itu kerap dibelenggu oleh kebijakan pusat. Semua ini harus kita perbaiki dan benahi secara bersama-sama lewat parlemen.

Lantas apa visi dan misi Anda?

Yang pasti 6 Program Aksi Transformasi Bangsa yang dideklarasikan oleh Ketua Dewan Pembina, Pak Prabowo Subianto. Hal itu adalah bagian dari visi dan misi yang harus dikerjakan oleh seluruh kader secara bersama-sama. Karena keenam program itu dibutuhkan oleh masyarakat, seperti kedaulatan ekonomi. Selama ini ekonomi kita tetap terjajah dengan persoalan kebijakan, pemerintahan yang liberal. Padahal omong kosong bisa membangkitkan ekonomi rakyat kecil kalau ekonomi kita masih menganut sistem liberal. Tak heran bila akses masyarakat kecil untuk mendapat dana bantuan selalu terhalang.

Coba hitung, berapa banyak bank negara yang berpihak pada rakyat kecil. Bisa hitung jari karena saya praktisi di daerah. Jika masyarakat di pedesaan yang mengajukan kredit pasti dipersulit. Sebaliknya, kalau pengusaha yang mau bangun real estate pasti mudah sekali. Ini kan aneh. Inilah yang harus diubah. Kita butuh program transformasi bangsa. Contoh lain, kita ini negara agraris, lahan sawah terbentang luas, tapi petani kita tetap miskin. Pada saat harga pangan naik, seharusnya mereka merdeka, tapi apa yang terjadi, petani tetap miskin. Begitu juga ketika panen, harga anjlok, saat itu juga tidak ada keberpihakan pemerintah yang mau menalangi kerugian mereka. Banyak sekali regulasi yang tidak menguntungkan petani.

Sebagai mantan bupati, seberapa tinggi elektabilitas Anda?

Insya Allah dengan tidak mau mendahului kuasa Tuhan, saya bisa lolos. Karena selama ini saya turun dengan pola saya sendiri, penerimaan dan sikap masyarakat tetap bagus dan baik. Bahkan meski saya sudah dikenal, tapi saya masih tetap mau menginap di rumah-rumah penduduk. Hampir setiap minggu saya turun ke masyarakat yang ada di dapil Sulsel 2 guna menyerap apa yang mereka keluhkan. Apa saja yang mereka inginkan dan harapkan. Memang kebiasaan saya sewaktu menjadi bupati hingga detik ini masih saya lakukan.

Kadang masyarakat mengeluhkan minimnya fasilitas, infrastruktur yang rusak dan sebagainya. Tapi semua itu tidak bisa kita langsung ambil kesimpulan jika bupatinya keliru atau tidak bekerja. Saya paham betul apa yang dihadapi seorang bupati, termasuk kesulitan yang dihadapi. Ini yang akan kita ubah. Hal ini yang akan saya lakukan jika nanti dipercaya duduk di badan legislatif. Salah satunya pola kebijakan pusat terhadap kepala daerah. Saya akan berada di depan dalam perjuangan ini, khususnya dalam hal penganggaran.

Seperti apa karakter pemilih di dapil Sulsel 2?

Di beberapa daerah masih melihat caleg dari sisi kekerabatan, kekeluargaan, silsilah, garis keturunan, dan sebagainya. Tapi yang repot mereka yang pragmatis. Bukan salah mereka bersikap pragmatis, karena ini contoh yang diberikan para pemimpin kita. Tidak dipungkiri karena ini yang dilakukan elite politik, mereka yang mengajarkan masyarakat menjadi pragmatisme. Karena masyarakat dalam kondisi butuh, ya tidak salah kalau mereka terima pemberian itu. Di beberapa daerah memang banyak yang diimingi-imingi, tapi saat ini mereka sedikit terbuka pemikirannya, bahwa mereka terima apa yang diberikan para politisi, tapi masalah pilihan kembali lagi pada hati nuraninya.

Bagaimana upaya Anda untuk mengantisipasi hal itu?

Dalam setiap kesempatan, saya hanya menyampaikan apa yang pernah saya perbuat di Sinjai sebagai bupati. Mereka bisa lihat. Kalau saya dianggap gagal, mereka boleh tidak memilih saya, tapi kalau mereka anggap saya berhasil, Insya Allah apa yang pernah perbuat di Sinjai itu akan saya lakukan juga untuk daerah lainnya. Jadi mereka akan melihat kinerja dan sepak terjang saya selama ini.

Berapa kursi target Gerindra Sulsel?

Saya tidak sesumbar, saya melihat dari kondisi sekarang kita targetkan sembilan kursi. Setiap dapil masing-masing tiga kursi. Kalaupun ada dapil yang hanya meraih dua kursi, bisa ditutupi dari dapil lainnya.

Selama ini kendala apa yang dihadapi?

Yang pertama adalah kesadaran dari kader sendiri, khususnya caleg. Artinya masih banyak caleg krasak-krusuk yang tidak mempunyai basis lalu mengganggu basis caleg lain. Ini akan kita benahi. Kedua, kita tidak sama dengan partai lain yang memiliki amunisi besar, karena keterbatasan kemampuan finansial para caleg. Maka kita harus bermain dengan pola yang efisien dan efektif untuk meraih simpati masyarakat. Tidak hanya pasang baliho, spanduk, stiker lalu tanpa turun ke lapangan menyapa, menyentuh langsung masyarakat. Cara ini akan sejalan dengan target pencapaian, mulai dari DPR kabupaten/kota. Provinsi dan pusat suaranya akan sama.

Selama ini terobosan-terobosan terus kita lakukan, membuat  tren Gerindra pun terus meningkat. Tak heran jika Partai Gerindra Sulsel banyak diganggu, baik dari dalam maupun dari luar. Memang, intrik-intrik semacam itu sengaja digulirkan yang bisa saja mengganggu soliditas kader Partai Gerindra Sulsel. Celakanya, banyak teman-teman yang bermain dalam area-area itu. Saya ingatkan kepada mereka bahwa kemenangan kita adalah kemenangan rakyat Sulsel. Kemenangan rakyat Sulsel inilah yang akan mengantarkan target akhir Partai Gerindra di Pemilu 2014 untuk mengantarkan Pak Prabowo sebagai presiden. Setidaknya kita akan mencapai target 24-30 persen, makanya saya pasang target 9 kursi. Andai itu meleset, paling satu atau dua kursi. Saya selama ini melakukan pemetaan, setiap dapil akan merata kursinya. Kalaupun bergeser itu akan saling menutupi.

Jika terpilih nanti, apa yang akan Anda lakukan?

Yang pasti kita akan sukseskan 6 Program Aksi Transformasi Bangsa. Bagaimana caranya kita berjuang di parlemen mulai dari legislasi hingga penganggaran dan pengawasan. Apalagi kalau Ketua Dewan Pembina kita berhasil menduduki kursi kepresidenan, tentu saja ini akan lebih lancar lagi. Saya berharap ini akan terwujud. Karena inilah tujuan akhir dari perjuangan Partai Gerindra di momen Pemilu 2014. Sehingga kita di dewan tinggal mengawal, memperbaiki, apa-apa yang selama ini menjadi kelemahan harus kita ubah.

Yang pertama dilakukan adalah pasti tatib DPR harus kita ubah, karena banyak persoalan muncul. Termasuk pula beberapa undang-undang yang ada juga harus diperbaiki. Sebagai  praktisi hukum, saya menilai apa yang dilakukan DPR selama ini dalam membuat udang-undang bertahun-tahun, bahkan sampai studi banding ke luar negeri, seringkali sia-sia. Bayangkan saja, setelah disahkan DPR, hanya butuh waktu semalam undang-undang itu dibatalkan oleh Mahkamah Konstutusi (MK).

Pertanyaan saya, MK punya dasar tidak, padahal yang berhak membatalkan undang-undang itu adalah rakyat,  diwakili DPR. Inilah yang akan jadi fokus kita. Kita akan buat undang-undang dengan baik sesuai keinginan rakyat, sehingga tidak perlu lagi ada pembatalan. Kalau pun ada masalah DPR lah yang membatalkan bersama pemerintah, bukan lembaga lain. Karena jelas dalam pasal 2 ayat 1, pemerintah bersama DPR membuat undang-undang. Selama ini undang-undang selesai dibuat dengan dana bermilyar-miliyar, tapi hanya dalam hitungan minggu dibatalkan di MK. Jika kondisinya seperti ini, apa yang terjadi di negari ini?.

Selain itu soal anggaran ke daerah yang terlalu berbelit-belit. Ini yang harus diperbaiki, sehingga tidak ada lagi permainan-permainan, sehingga muncul kasus antara Bupati dan DPR, Menteri dan Bupati kongkalikong menyangkut masalah pembagian anggaran. Harusnya APBN sebagai sumber pendanaan pembangunan itu dibagi rata. Bagaimana mereka mengelolanya diserahkan ke daerah masing-masing. Soal kemudian ada penyimpangan, itu kan ada kewenangan kejaksaan dan kepolisan.

Apa pesan dan harapan Anda lewat Pemilu 2014 ini?

Bagi saya, inilah saatnya jika masyrakat Sulsel mau berubah dengan memilih caleg tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga pusat yang punya kapabilitas, kemampuan, yang mampu membawa perubahan bagi rakyat Sulsel sendiri. Jangan lagi tergiur dengan janji-janji yang pada saatnya caleg-caleg janjikan, tapi setelah terpilih tidak datang lagi. Itulah pelajaran yang harus mereka petik dari momen sebelumnya. Bisa jadi mereka dapat 100 ribu rupiah, tapi setelah dipilih tidak datang, lalu pada saat pemilihan berikutnya datang lagi. Rasanya ini bukan saja terjadi di Sulsel, tapi juga di banyak daerah lainnya.[G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Oktober 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Andi Rudiyanto Asapa maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) Sulawasi Selatan 2.
Advertisements

Lebih Dekat Dengan Edy Budiyarso : Perjuangan Amanat Rakyat

Wajah dan namanya, sudah tak asing lagi bagi para pedagang warteg di Jakarta. Maklum sebagai orang Tegal, Edy Budiyarso getol memperjuangkan nasib warung tegal yang tersebar di beberapa sudut ibu kota. Ia menolak tegas penerapan wajib pajak 10 persen bagi Warteg (Warung Tegal) oleh Pemda DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Gerakan perlawanan yang dilakukannya itu memang bukan hal yang luar biasa, tapi sangat berarti bagai para pemilik warteg.

CALEG DPR-RI DAPIL JAWA TENGAH 9 NO URUT 5

CALEG DPR-RI DAPIL JAWA TENGAH 9 NO URUT 5

Putra asli Tegal ini mengaku merasa terpanggil memperjuangkan nasib para pemilik warteg, bukan karena ia putra asli daerah Tegal tapi karena panggilan jiwa. “Saya tak tega melihat nasib penjaja makanan murah yang makin terpinggirkan dengan aturan-aturan dari Pemda DKI,” kata mantan wartawan Majalah Tempo ini. Baginya, perjuangan yang sesungguhnya adalah memperjuangkan nasib masyarakat kecil. “Ikut berjuangan bersama mereka jauh lebih penting dari pada banyak bicara. Apalagi, sebagai rakyat kecil mereka acapkali merasa berjuang sendiri meski punya wakil-wakil di Senayan,” kata Edy.

Pria kelahiran Tegal ini menegaskan, masyarakat Tegal yang berada di perantauan dan di kampung halamannya,  menginginkan ikhtiar perjuangan seperti itu tak berhenti di sini, tapi dilanjutkan agar lebih maksimal.

“Mereka pun meminta saya untuk maju sebagai calon wakil rakyat mereka di Senayan,” ungkap Edy ihwal keinginannnya maju sebagai wakil rakyat.

Bahkan sebagai ungkapan rasa terimakasih para pemilik warteg atas keberhasilan perjuangannya, mereka mendukung sepenuhnya langkah Edy memilih partai Gerindra. “Mereka kecewa dan bosan pada politisi yang hanya pamer muka menjelang pemilu, tapi setelah terpilih menghilang entah kemana,” ungkap penulis buku Warteg Galau: Perjuangan Rakyat Kecil Menolak Pajak Warteg ini.

Wakil Sekretaris Ikatan Keluarga Besar Tegal (IKBT) ini pun mengakui, ia butuh waktu beberapa bulan untuk memutuskan menerima pinangan partai Gerindra. Maklum, ia ingin tahu betul visi dan misi suatu partai sebelum bergabung. Ia tak mau terjun ke politik hanya karena ikut-ikutan, tapi memang sudah panggilan jiwa. “Setelah merasa mantap dengan pilihan hati, memperlajari dan menimbang segala sesuatunya, saya merasa Gerindra yang paling tepat,” papar Sekretaris Jenderal FederasiOrgansasi Pedagang Pasar Indonesia (FOPPI) ini.

Suami dari dr Suprohaita, Sp.A ini mengakuiapa yang diperjuangkanbersama rekan-rekannyaselama ini di IKBT maupun di FOPPI, selaras dengan platform dan manivesto perjuangan Partai Gerindra. ApalagiKetua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto adalah sosok yang sudah teramat dikenalnya jauh-jauh hari sebelum partai ini lahir.

“Sudah beberakali  saya mewawancarai beliau untuk Majalah Tempo. Kebetulan, saya juga menjadi salah satu tim penulis buku tentang Pak Prabowo. Sayang buku itu belum bisa diterbitkan untuk public karena satu dan lain hal,” ucap Edy yang sudah menulis beberapa buku.

Lahir dan dibesarkan di lingkungan pendidik dan pedagang pasar, membuatnya lebih nyaman berada di pasar tradisional ketimbang pasar modern. Karena itu, lewat FOPPI, ayah tiga anak ini kerap memberikan advokasi bagi para pedagang pasar dalam menghadapi beragam masalah. Usai lulus dari bangku SMA, Edy melanjutkan ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Sembari kuliah, di tengah kesibukannya mengelola Lembaga Pers Mahasiswa,ia pun tak canggung menjadi pelayan di sebuah warteg. Sebab dengan begitu,  ia bisa merasakan dan betul, persoalan apa yang dihadapi para pedagang pasar dan pemilik warteg.

Di sela-sela kesibukannya sebagai Produser Eksekutif SINDOTV, Edy yang tengah menempuh magister hukum di Universitas Trisakti Jakarta ini memaparkan pandangan politiknya. Dan, apa yang melatarbelakangi ia maju sebagai caleg DPR-RI dari dapil Jawa Tengah 9 nomor urut 5, kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda. Berikut petikannya:

Bisa diceritakan aktivitas keseharian Anda?

Saya profesional di media. Saat ini saya produser eksekutif di SINDOTV di bawah bendera MNCGrup.Di luar aktifitas itu saya menjabat Sekretaris Jenderal Federasi Organisasi Pedagangan Pasar Indonesia (FOPPI), bersama KH Gus Solah sebagai Dewan Syuro. Kamikerap mengadvokasi persoalan-persoalan yang dihadapi para pedagang pasar tradisional yang tersebar di negeri ini. Saya juga aktif di Ikatan Keluarga Besar Tegal (IKBT) Bahari Ayu.

Apa saja yang telah Anda lakukan?

Lewat organisasi itulah, saya bersama teman-temanmengadvokasi dan memenangkan gugatan pedagang Blok B Tanah Abang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, setelah berjuang selama setahun.Tahun 2010 lalu, saya juga diminta pedagang warteg di Jakarta yang resah dengan rencana penerapan pajak 10 persen bagi warteg. Setelah berjuang bersama segenap elemen masyarakat asal Tegal yang tergabung dalam IKBT, termasuk Bambang Koesoemanto, putra asli Tegal, akhirnya kami berhasil. Kebetulan Bambang adalahdoktor ekonomi dan master perpajakan dari Universitas Illinois, Amerika Serikat,yang bekerja di lingkungan Kementerian Keuangan dengan membentuk tim advokasi bernama Tim Sosialisasi Jaring Pengaman Sosial-IKBT.Peraturan tersebut tidak hanya ditunda, tapi kini dibatalkan oleh Gubernur Jokowi.

Kami pun pernah membantu membebaskan 12 kapal nelayan asal Tegal yang ditahan oleh Polairud Sampit, Kalimantan Barat.Dengan jaringan yang saya miliki baik di lingkungan Kepolisian dan media, kami lebih mudahmelakukan pendekatan soal masalah yang dihadapi para nelayan itu.Berkat bantuan para petinggi yang ada di Polri, akhirnya saya dan temen-teman nelayan yang tadinya mau berdemo tidak jadi, tapi menjemput para nelayan itu di Muara Karang.

Lalu, bisa Anda ceritakan kapan bergabung ke Partai Gerindra?

Sewaktu mencuatnya kasus perseteruan antar warga pribumi Lampung dan Bali, kami mengundang Ahmad Muzani politisi yang mewakili dapil Lampung yang tak lain Sekretaris Jenderal Partai Gerindra sebagai narasumber di acara talkshow.Usai menjadi narasumber, saya berbicara empat mata dengan beliau tentang banyak hal.Salah satunya adalah upaya perlawanan saya soal pajak warteg.Waktu itu, beliau langsung mengajak “kamu bergabung saja di Gerindra biar lebih maksimal perjuangannya.”

Saat itu, saya biasa-biasa saja. Tapi setelah saya mengkaji dan berdiskusi panjang lebar termasuk dengan warga Tegal yang tergabung dalam IKBT, mereka malah medesak saya untuk mengambil kesempatan itu.Lagi-lagi saya butuh waktu dua bulan untuk memutuskan bergabung dengan Gerindra.Hingga pada waktu perekrutan caleg, saya pun mendaftarkan diri di Gerindra.Semua proses saya lalui dan akhirnya saya yang asli putra Tegal dinyatakan lolos sebagai caleg Partai Gerindra nomor urut 5, untuk dapil Jawa Tengah 9.

Kenapa Anda memilih bergabung dengan partai Gerindra?

Kita melihat dalam situasi dan kondisi negara ini ada yang aneh. Sistem presidensial hasil koalisi, tapi kok dikritisi habis-habisan oleh partai koalisinya sendiri. Kepemimpinan nasional jadi tidak efektif dan tampak keteteran.Sadar atau tidak, rakyat yang jadi korbannya. Belum lagi ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di depan mata. Ketiadaan keberpihakan penguasa kepada rakyatnya.Jadi jangan heran kalau banyak kalangan menilai,seakan-akan rakyat ini menjadi yatim piatu di negerinya sendiri.Sudah tidak punya orangtua, teman sebagai tempat mengadu pun tidak ada.Iniah yang dirasakan rakyat kecil, kaum pinggiran yang kadang menjadi komoditas politik belaka.

Gaya kepemimpinan, keberpihakan kepada petani, nelayan dan rakyat kecil lainnya serta semangat anti korupsi yang terus dikobarkan Pak Prabowo menjadi magnet buat saya untuk bergabung. Belum lagi konsep ekonomi kerakyatan dan integritasnya terhadap bangsa dan negara ini, begitu tinggi.Semua itu saya ketahui dan pelajari jauh sebelum saya bergabung di Gerindra.Beberapa kali saya berkesempatan mewawancarai beliau ketika masih di Tempo termasuk waktu menjadi tim penulis buku beliau.

Sejak kapan Anda bersentuhan dengan dunia politik?

Saya memang masih hijau di politik praktis, meskisudah lama sebagai wartawan politik di Tempo. Dari sana pula saya banyak belajar tentang politik. Bagaimana menjalankan sebuah kebijakan politik dan segala intrik-intriknya.Namun, saya sebagai wartawan investigasi jugamemberitakan banyak skandal-skandalyang ada di negeri ini. Kalau dilihat dari hasilnya,tentu tidak jauh beda dengan apa yang dikerjakan DPR, karena sebagai wartawan saya juga bisa melakukan kontrol sosial. Jadiwartawan itu ibarat politisi tanpa parpol.

Soal politik praktis saya banyak mempelajarinya dari para politisi, parpol maupun pengamat politik. Bahkan saya jadi wartawan politik pada saat kondisi perpolitikan nasional sedang genting-gentingnya. Karena kerap bergaul, bersentuhan dengan para politisi, tak jarang tawaran berdatangan dari para politisi untuk bergabung di partainya.Tapi kebanyakan dari mereka hanya sekadar menawarkan saja, tidak serius, jadi saya pun menanggapinya dengan santai.

Apa motivasi Anda maju sebagai caleg?

Yang jelas, ingin melihat Indonesia lebih maju, lebih baik dan sejahtera.Semua itu bisa terwujud karena kita memiliki potensi untuk maju dan berkembang.Tapi rupanya impian kita selalu diabaikan oleh pemimpin. Contoh kecil, dulu rakyat kecil begitu susah mendapat pelayanan kesehatan, sekarang dengan adanya Kartu Jakarta Sehat  (KJS) semua bisa menikmati layanan itu. Seperti yang dialami seorang balita yang divonis mengalami gagal jantung sejak berusia 1 tahun, tapi baru bisa di operasi di RSCM setelah menunggu 5 tahun saat diberlakukannya KJS. Padahal rumahnya hanya selemparan batu dari RSCM. Hal-hal seperti ini kan membiuat kita sangat miris.

Meski sejak dulu istri saya itu antipati pada politik, tapi ketika saya memutuskan terjun di politik praktis, dia malah mendukung. Sejauh apa yang saya lakukan untuk masyarakat, dia selalu mendukung. Saya maju bukan untuk diri sendiri, tapi buat masyarakat. Kalau untuk diri sendiri, saya rasa sudah cukup, ngapain ke Senayan. Tapi karena ini ada permintaan warga Tegal, kampung halaman sendiri, jadi saya ikhlas. Paling tidak mereka menilai selama ini saya sudah melakukan hal-hal yang kecil, tapi berniali besar untuk menuju perubahan.

Para sesepuh Tegal juga mendesak saya untuk maju,karena selama ini wakil rakyatnya banyak dari daerah lain.Tak heran bila ada budayawan Tegal yang bilang wakil rakyat yang ada selama ini hanya pamer rai, hanya pada saat Pemilu saja, tapi setelah itu mereka jangankan turun melihat saja tidak.Akhirnya pada saat seleksi bacaleg, saya pun meminta di dapil Jateng 9. Saya kan maju atas tapi permintaan warga dan kebetulan  memiliki jaringan di akar rumput di dapil tersebut.

Target Anda?

Menang. Tentu saja agar  bisa mewakili tanah kelahiran demi sebuah perubahan sebagaimana yang dicanangkan Partai Gerindra. Saya lebih fokus menggarap Kabupaten/Kota Tegal saja, karena di Brebes sudah banyak tokoh-tokoh lain yang maju. Setidaknya untuk bisa meraih kursi itu minimal harus meraup suara 75ribu. Mudah-mudahan saya bisa maju. Memang, targetdi dapil Jateng 9 hanya satu kursi, tapi saya melihat Gerindra memiliki potensi untuk mendapat dua kursi.

Bagaimana tanggapan masyarakat yang ada di dapil Anda?

Alhamdulillah, kesadaran mereka untuk memilih wakil rakyat dari kampung sendiri sudah terbangun. Karena mereka mengenal saya, lebih mudah mencari tahu apa-apayang saya lakukan nanti. Mereka bisa menyampaikan apa yang menjadi keinginan mereka kepada orangtua saya, para kyai, guru dan tokoh masyarakat. Yang terjadi selama ini, mereka tidak tahu untuk mengontrol wakilnya kemana? Kalau nanti saya terpilih, mereka tinggal mendatangi rumah saya.

Menurut Anda, politik itu apa?

Politik itu jalan yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kondisi agar menjadi lebih baik.Sejauh ini Partai Gerindra adalah partai politik yang lahir dan berjuang bersama dengan ideologi yang selama ini saya lakukan dan yakini.

Apa harapan Anda?

Mudah-mudahan kami yang sedang berikhtiar ini bisa melaluinya dan menjalankan amanah rakyat. Amanah ini akan saya perjuangkan, meski selama ini saya sudah melakukan apa-apa yang mestinya dilakukan oleh wakil rakyat. Kalau seorang wartawan saja bisa melakukan pendekatan, advokasi,masa sebagai anggota DPR tidak bisa. Malah seharusnya bisa lebih dari apa yang saya lakukan selama ini.

Apa yang akan Anda lakukan jika terpilih nanti?

Bagi saya amanat rakyat inilah yang  harus saya perjuangkan. Selama ini dari delapan kursi yang tersedia, hasil pemilu kemarin hanya dua orang asli putra daerah, tapi tak terdengar apa saja yang telah dilakukan. Bahkan entah kemana, turun ke dapil pun tidak.Tak heran bila masyarakat merasa selalu berjuang sendiri meski punya wakil di Senayan.Kami sadar bahwa saat ini eranya otonomi daerah, yang berujung pada persaingan antar daerah menjadi keniscayaan. Jadi, bagaimana daerah itu bisa bersaing kalau tidak ada wakilnya di Senayan.Tahun 2014 nanti, saya yakin dan percaya, Gerindra pasti menang.[g]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Edy Budiyarso maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 5 dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah 9.

Lebih Dekat Dengan Martin Hutabarat : Konsisten Memberantas Korupsi

Di mata publik sosok Martin Hutabarat sudah tak asing lagi. Komentarnya kerap mengisi media massa pada setiap pemberitaan seputar masalah isu-isupolitik nasional. Terlebih yang terkait dengan berbagai soal garis perjuangan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), ia seringkali tampil terdepan. Hingga detik ini pun ia tetap bersuara lantang. Dan dengan pengalaman politiknya, ia pun makin disegani kawan maupun lawan politiknya.

CALEG DPR-RI DAPIL SUMUT 3 NO. URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL SUMUT 3 NO. URUT 1

Dengan gaya bicara dan pembawaannya yang tenang, Martin kerap menyampaikan kritikan pedas terhadap berbagai kejadian yang menimpa negeri ini. Tak heran bila sosok politisi kawakan ini kerap dijadikan nara sumber oleh media massa. ”Saat ini DPR sebagai lembaga, mengalami banyak perubahan. Setiap anggota bebas bicara karena memang tugasnya untuk mewakili rakyat. Meski kadang kala ada saja yang kebablasan keluar dari jalurnya,” tandas politisi gaek kelahiran Pematang Siantar, 26 November 1951 ini.

Sebagai wakil rakyat, sejak dulu sikap politik Martin tak pernah berubah. Bahkan belum hilang dibenaknya, ketika ia diperingatkan oleh partai karena dianggap terlalu vokal. Kini, kesulitan bebas berbicara sudah tak lagi dialaminya. Pasalnya, dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat, seorang wakil rakyat tidak boleh gentar selagi masih dalam koridor yang berlaku. Apalagi setelah dirinya menjadi bagian dari perjuangan Partai Gerindra.

”Semua itu saya niatkan untuk membela dan memperjuangkan rakyat kecil,” ujarnya.

Dunia politik ditekuninya sejakkuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Keterlibatannya di berbagai aktivitas di dalam maupun di luar kampus, membawanya ke politik praktis. Tahun 1987, Martin tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI periode 1987-1992 dari Golongan Karya. Pada 2008, pria yang pernah duduk sebagai staf BP7 Pusat ini diminta ikut membidani kelahiran Partai Gerindra. Sejak saat itu, Martin memantapkan diri menjadi bagian barisan pejuang politik yang mengusung ekonomi kerakyatan di bawah bendera Partai Gerindra.

Kepiawaianya sebagai politisi ulung terbukti pada Pemilu 2009, ia berhasil melenggang kembali ke Senayan dengan raihan suara sebanyak 16.122 suara dari Daerah Pemilihan (dapil) Sumatera Utara 3. Kini, di tengah kesibukannya menuntaskan tugas sebagai wakil rakyat, Martin kembali dipercaya untuk bertarung di dapil yang sama. Kembalinya politisi kawasan ke dapil yang sama bukan tanpa sebab. Selain untuk menjaga aspirasi dan suara konstituen yang dibangun, Martin dinilai mampu  mendongkrak dan memaksimalkan perolehan suara bagi Gerindra.

”Gerindra memiliki cita-cita membangun kedaulatan ekonomi nasional yang mandiri, pemberantasan korupsi, penegakan hukum, tapi hingga saat ini belum terpenuhi. Untuk itu kita berharap Gerindra bisa lebih besar dan kuat sehingga bisa mewujudkan cita-cita itu. Di samping misi kita untuk bisa meraih minimal 20 persen suara nasional agar bisa mengusung presiden tanpa harus berkoalisi. Karena itulah saya bertekad maju kembali sebagai caleg di dapil yang sama,” tegasnya.

Kesehariannya sebagai anggota DPR, iadipercaya untuk duduk di Komisi III. Juga  menjabat Ketua Fraksi Gerindra MPR-RI dan anggota Badan Legislasi DPR-RI. Walau duduk di Komisi III yang meliputi bidang hukum, tak lantas membuatnya hanya mau mengomentari seputar persoalan yang ada di komisi itu saja. ”Sudah menjadi tugas dan kewajiban kita sebagai anggota DPR untuk menjelaskan apa yang ditanyakan masyarakat kepada kita, karena kita adalah wakil mereka,” tegasnya.

Apa yang disampaikan atas berbagai kejadian di negeri ini bukan sekadar untuk basa-basi belaka. Pandangan dan komentarnya meski terdengar pedas, menurutnya itulah sebagai bentuk kepedulian dan kecintaannya kepada bangsa dan negara ini. Seperti yang disampaikan Martin –yang tengah sibuk blusukan di dapil Sumut 3— kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, tentang apa saja perjuangan yang telah dan akan dilakukannya dalam menghadapi pemilu nanti. Berikut petikan wawancaranya:

Sebagai kader yang sudah duduk di parlemen, bisa diceritakan bagaimana perjuangan Gerindra baik di partai maupun di fraksi?

Disamping terus memperjuangkan ekonomi untuk rakyat, sebagai pencerminan dari ekonomi kerakyatan, Gerindra serius mengawal pemberantasan korupsi. Gerindra konsisten di bidang pemberantasan korupsi dan penegakan hukum. Karena hal itu sudah merusak pembangunan dan kepentingan ekonomi nasional. Kita semua konsisten memperjuangkan nilai-nilai ekonomi rakyat. Kita yang ada di parlemen selalu kompak untuk memperjuangkan ekonomi kerakyatan. Kita pun paham dan mengerti bahwa ekonomi kerakyatan itu adalah perjuangan panjang yang tidak bisa dihitung dengan berapa tahun bisa dijalankan.

Untuk itu, kita tetap komitmen untuk membuat kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat kecil.Misalnya membatasi impor yang bertahap,tidak lantas langsung disetop. Harus ada tahapan, jangan malah meningkat seperti sekarang ini. Contoh kecil, sejak awal baik partai maupun fraksi Gerindra tetap ngotot menolak keras soal pembangunan gedung baru DPR, mengkritik pembangunan renovasi rumah dinas anggota DPR dan kebijakan-kebijakan pemerintah lainnya yang dianggap tak sejalan dengan perjuangan. Di fraksi semua kader berada dalam perjuangan itu.

Lantas apa yang melatarbelakangi Anda maju kembali sebagai caleg?

Karena Gerindra itu memiliki cita-cita mau membangun kedaulatan ekonomi nasional yang mandiri, pemberantasan korupsi, penegakan hukum, tapi hingga saat ini cita-cita itu belum terpenuhi.  Untuk itu kita berharap Gerindra bisa lebih besar dan kuat sehingga bisa mewujudkan cita-cita itu. Itulah yang membuat saya bertekad maju kembali sebagai caleg.

Tentu ada perbedaan pemilu 2009 lalu dengan pemilu 2014 nanti?

Tentu berbeda situasi dan kondisinya. Di 2009, mayoritas mengharapkan SBY jadi presiden kembali untuk memimpin di periode berikutnya. Sekarang, semua orang menginginkan SBY berhenti dari kursi kepresidenan agar diganti oleh capres lain yang lebih tegas dan berani. Di sisi lain, infrastrutur partai kini sudah berjalan baik dibanding waktu itu. Kader pun lebih siap dalam menghadapi pesta demokrasi ini.

Lalu seperti apa karaker pemilih yang sekarang?

Sebenarnya sama tidak banyak berubah, masih pragmatis.

Apa yang telah dilakukan Anda?

Sebagai wakil rakyat harus memiliki kepekaan yang tinggi. Sebagai anggota DPR Komisi III, yang menjadi fokus perhatian saya di dapil adalah masalah hukum. Sewaktu ada kasus penembakan Kapolsek di Simalungun, tak berapa lama terjadi, saya datang berdialog dengan masyarakat. Kasus Lapas di Labuhan yang dibakar  mengakibatkan para napi kabur, saya lebih dulu terjun langsung dibanding yang lain. Begitu pula dengan kasus yang terjadi di Lapas Tanjunggusta. Kasus huru-hara di Siantar, saya pun sudah berada di Siantar.

Soal hakim cantik, saya pun datang untuk menggali informasi mengenai karakter dan permasalahan yang bikin heboh itu. Begitu juga ketika bencana meletusnya gunung Sinabung.Meletus jam 4 pagi, sorenya saya sudah berada di sana memberikan hati kita untuk memulihkan dan memberi semangat hidup kepada para pengungsi. Namun sayangnya, yang menjadi kelemahan saya adalah semua kegiatan di dapil itu tidak diekspos, karena saya tidak membawa media.

Apakah tingkat elektabilitas Anda tinggi dan berapa target suara?

Saya sudah dikenal tak hanya di Sumatara Utara saja, tapi di seluruh Indonesia. Masyarakat mengenal saya, karena sepak terjang, kepedulian dan perhatian terhadap masalah-masalah yang terjadi di negeri ini. Mengenai target suara, setidaknya untuk bisa duduk kembali di kursi DPR saya harus mendapat di atas 100 ribu suara. Ini bukan perkara mudah, karena dapil Sumut 3 itu terdiri dari 10 kabupaten/kota.Sangat ketat persaiangannya.

Kenapa Anda kembali memilih di dapil Sumut 3?

Bukan karena sudah merasa dikenal dan nyaman saja di dapil ini. Tapi, untuk memaksimalkan perolehan kursi Gerindra dari wilayah Sumatera Utara. Disamping itu, dapil Sumut 3 adalah tanah kelahiran saya.Di sinilah keluarga saya banyak dikenal orang. Kebetulan orangtua saya pernah bertugas sebagai anggota DPR.Mertua saya mantan bupati tiga periode dan saya mengenal betul karakter para pemilih di kampung halaman.

Program apa saja yang Anda tawarkan kepada masyarakat di dapil Sumut 3?

Saya duduk di Komisi III yang membidangi masalah keamanan, hukum dan HAM. Komisi ini dinilai sebagai komisi yang kering.Saya merasa selalu tertinggal dengan yang lainnya. Tak usah jauh-jauh, untuk dapil yang sama saja, banyak wakil rakyat yang memberi dana kepada ratusan desa-desa, bantuan pada koperasi-koperasi, bantuan hand tractor kepada para petani dan masih banyak lagi. Sedangkan saya hanya bisa membanggakan diri dengan apa yang saya lakukan agar dapil saya aman, polisi penegak hukum dicintai masyarakat, pengadilan tidak minta suap atau hukum berjalan sebagaimana mestinya. Karena cita-cita saya ingin memperbaiki polisi, penegakan hukum, dan kondisi Lapas lebih baik. Yang perlu dicatat bahwa sebenarnya apa yang mereka sumbang,  pada dasarnya juga menggunakan uang pemerintah.

Apa yang membuat Anda masih mau berada partai politik?

Berpolitik untuk membela kepentingan rakyat tidak harus melalui parpol, bisa melalui pers, LSM, ormas, profesi kita atau kegiatan lainnya. Hanya saja karena sistem sekarang mengatur bahwa kekuasan politik di negara ini didominasi oleh parpol, maka kalau kita mau berpolitik, agar kegiatannya efektif dan berhasil, cara yang paling efektif adalah melalui parpol. Tapi tidak boleh hanyut hanya untuk kepentingan parpol itu saja, harus tetap di dalam koridor membela kepentingan rakyat. Berpolitik melalui parpol harus tetap dalam kerangka membela dan memperjuangkan kepentingan rakyat luas.

Lalu apa harapan Anda di Pemilu 2014?

Saya berharap pemilu 2014 ini berjalan secara fair, tidak ada permainan money politic.Rakyat sebagai pemilih pun memilih dengan cerdas.Memilih berdasarkan rekam jejaknya dalam membangun bangsa ini.Bukan atas dasar materi yang ditawarkan banyak caleg. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Martin Hutabarat maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) Sumatera Utara 3.

Lebih Dekat Dengan Prof Suhardi : Mengantarkan Capres Tanpa Koalisi

Kondisi Indonesia semakin memprihatinkan. Bukan saja karena masyarakatnya masih hidup di bawah garis kemiskinan, tapi negeri ini terus dilanda berbagai persoalan sosial.Bencana alam pun datang silih berganti. Kelangsungan dunia politik pun yang kian menambah beban sosial dalam masyarakat. “Semua itu tidak lepas dari perilaku para pemimpin negeri ini. Juga dari hasil pemilu dan termasuk mereka yang memilih golput,” kata Ketua Umum DPP Partai Gerakan Indonesia Raya, Prof Dr Ir Suhardi, M.Sc.

CALEG DPR-RI DAPIL DIY NO. URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL DIY NO. URUT 1

Keresahan itu pula yang membuat pria kelahiran Klaten, 13 Agustus 1952 ini bertekad maju sebagai salah satu calon anggota legislatif dari Partai Gerindra dari dapil Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). ”Masyarakat harus sadar akan pentingnya pendidikan politik dan proses berpikir, agar tidak salah menilai sosok seorang pemimpin yang dipilihnya. Jangan hanya karena dijanjikan sesuatu, lantas memilih seseorang yang nyatanya tak bisa berbuat apa-apa. Masyarakat harus betul-betul paham bahwa nasib bangsa ini berada di tangan mereka dengan cara-cara demokratis,” tegas pakar kehutanan terkenal dengan sebutan profesor telo dan sumpah gandumnya itu.

Meski dunia politik belum lama digelutinya, ia mengaku sedih melihat kondisi politik Indonesia yang tidak lagi menjunjung tinggi asas-asas demokrasi. Ia mengaku agak sulit memahami bagaimana bisa suara rakyat begitu mudahnya dibeli dengan uang.

”Saya terus mengajarkan kepada mereka bahwa pemimpin yang dipercaya, amanah, kopentensi harus diutamakan. Bukan uang yang nilainya sangat kecil. Tapi kondisi di lapangan, seperti masyarakat miskin bisa saja tertarik hanya dengan uang yang sedikit itu,” ujar alumnus College of Forestry, University of the Philippines Los Banos (UPLB), Philipina ini.

Keterlibatannya di panggung politik berawal dari keprihatian dan keresahannya saat menjadi bagian dari pemerintahan itu sendiri. Berbagai pengalaman baik saat di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) maupun di Dewan Ketahanan Pangan Nasional membuatnya frustasi. Akhirnya awal 2007, bersama beberapa rekannya, ia mencoba mendirikan partai politik baru bernama Partai Petani dan Nelayan. Kala itu, Ketua Umum HKTI, Prabowo Subianto masih tercatat anggota Partai Golkar pun diajaknya.

Beberapa waktu kemudian, ia dipanggil Prabowo Subianto untuk membahas rencana pembentukan partai baru. Setelah melewati diskusi panjang, akhirnya Prabowo ikut bergabung, meski masih tetap dibalik layar dan mengganti nama partai menjadi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). ”Saya pun ditunjuk sebagai Ketua Umumnya. Alhamdulillah, hanya dalam waktu dua minggu menjelang penutupan verifikasi partai, Gerindra akhirnya lolos sebagai peserta Pemilu 2009. Sekarang Gerindra pun menjadi peserta pemilu,” tutur mantan salah satu dirjen di Departemen Kehutanan yang rela pensiun dini sebagai pegawai negeri ini.

Kini selain sibuk menahkodai partai berlambang kepala burung garuda, ayah tiga anak ini maju sebagai caleg. Majunya sang Ketua Umum ini, bukan tanpa alasan. Ini didasari bentuk tanggungjawabnyasebagai seorang kader partai politik yang bercita-cita mengantarkan Indonesia menjadi negara yang bermatabat dan mandiri.

”Saya berharap Gerindra bisa maksimal dalam mewujudkan impiannya,” ujarnya.

Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda menemuinya di tengah padatnya jadwal pertemuan dengan beberapa petinggi partai. Lelaki yang selalu tampil sederhana dan bersahaja ini pun memaparkan seputar perkembangan Gerindra dan berbagai langkah yang dilakukannya menghadapi pemilu 2014 nanti. Berikut petikan wawancaranya:

Bisa Anda jelaskan seperti apa perkembangan Gerindra?

Sangat baik, ukurannya jumlah pengurus akan terus kita kembangkan yang tadinya hanya 17 orang. Disamping itu, banyak orang yang mau menjadi pengurus.Kalau dulu jangan kan cari caleg, cari pengurus saja susahnya luar biasa. Dulu cari caleg lima orang dapat dua itu sudah untung, walau masih belum dikatakan berkualitas. Sekarang pengurus sudah terbentuk hingga level paling bawah sekalipun. Bahkan untuk di DKI saja, kita butuh tujuh caleg, yang mendaftar 274 orang. Ini sangat berbeda dengan tahun 2009.Kini posisi kita berbeda, dulu kita tidak punya gubernur, walikota, bupati, sekarang sudah ada di beberapa daerah.

Secara menyeluruh, posisi Gerindra sangat baik, kalau tidak di peringkat dua mungkin satu, walaupun seringkali dikecilkan dalam setiap survey oleh partai-partai besar. Tapi biarlah, yang penting hasil dari kaderisasi kita maksimal dan betul-betul menciptakan kader militan.

Kenapa akhirnya Anda ikut maju sebagai caleg?

Mau tidak mau partai ini harus mendapat kursi sebanyak mungkin. Sehingga semua kader yang punya kepercayaan diri, keyakinan dan siap untuk mendapatkan kursi, harus berjuang untuk mendapatkan kursi yang memadai agar bisa mengantarkan capres tanpa koalisi.

Majunya Anda atas perintah partai atau kemauan sendiri?

Keinginan sendiri, sebagai bentuk tugas dan tanggungjawab. Meski memang, para kader mempertanyakan kenapa saya maju?Kalau kalah nanti bagaimana?. Katanya, nama besar partai akan malu. Itu kata mereka, tapi hitungan saya itu bisa dilakukan. Perhitungan lainnya adalah jaringan yang selama ini saya bangun di berbagai organisasi.Bisa saja mereka memilih karena jaringan itu, atau karena partai saya, atau karena keluarga saya.  Nah, kalau saya tidak maju, jangan-jangan mereka tidak memilih Gerindra. Ini berarti peluang Gerindra berkurang. Tentu saja, ini akan mengorbankan segala hal, mulai dari finansial, waktu dan tenaga baik untuk keluarga maupun partai harus dibagi-bagi. Jadi ini pun termasuk perjuangan untuk mendapatkan kursi sebanyak-sebanyaknya.

Kenapa Anda memilih dapil DIY?

Saya berada di Jogja sejak 1971.  Sebagai dosen, lalu dipercaya menduduki jabatan mulai dari sekretaris jurusan, dekan hingga sebagai biro perencanaan UGM. Begitu pula di luar kampus, saya sebagai Ketua HKTI dan sejumlah organisasi lainnya yang memiliki basis massa yang tidak kecil. Di samping itu, saya memiliki prestasi yang oleh banyak kalangan dinilai bagus seperti cemara udang yang bisa mengurai tsunami, abrasi. Kemudian konservasi pantai cemplon, hutan wanagama yang terkenal di seluruh dunia. Setidaknya, saya dianggap sebagian hidup saya untuk membangun hutan itu.

Belum lagi sumpah gandum saya sebagai professor telo yang sangat dikenal publik negeri ini. Sehingga saya optimis bisa meraih kursi, meski saingannya berat-berat. Setidaknya di dapil ini ada Hediati Prabowo atau yang dikenal Mba Titi dari Golkar, ada pula Roy Suryo, mantan Bupati Idham Samawi, dan sejumlah incumbent lainnya dari PKS, PAN, Demokrat dan PKB. Memang perjuangan saya luar biasa beratnya, tapi saya sudah melakukan sosialisasi sejak dua tahun lalu. Bahkan saya sudah pernah mengumpulkan para saksi di Gunung Kidul, pelatihan-pelatihan saksi, pelatihan kader jauh sebelumnya. Di samping itu pendekatan teman-teman yang ada di kampus, saya kira masih memiliki kekuatan tersendiri karena saya pernah menjadi bagian dari mereka.

Selama dua tahun sosialisasi, bagaimana respon mereka?

Cukup bagus, nyatanya mereka beramai-ramai mendaftarkan diri menjadi pemilih, menjadi saksi. Kita sudah memiliki daftar pemilih dan saksi dan ini merata tersebar di selruuh wilayah Jogja, sehingga peluang saya tidak terlalu kecil meski berat.

Daerah mana saja yang menjadi sasaran Anda dan targetnya berapa?

Kalau boleh diurut Gunung Kidul, Sleman, Kulonprogo, baru Kota Yogya. Dan untuk bisa meraih kursi, mau tak mau harus bisa meraih kurang dari200 ribu suara.

Program apa yang Anda tawarkan?

Sebetulnya tidak susah.Setiap sosialisasi, saya sampaikan 8 Program Aksi yang kemudian di-improve menjadi 6 Program Aksi.Ini menjadi materi kampanye yang paling utama. Menjelaskan kepada rakyat bahwa dengan 6 program itu,Indonesia bakal makmur dan bermartabat. Saya juga tunjukkan apa yang sudah saya lakukan, dan akan saya lakukan. Bagaimana membangun ekonomi dengan meningkatkan pendapatan masyarakat, sehingga bisa hidup lebih baik. Mulai dari pangan mandiri, ekonomi yang maju, ekonomi kerakyatan dari kekuatan-kekuatan pangan rakyat, energi, ternak, minyak kemiri, dan sebagainya.

Apa visi dan misi Anda?

Pasti akan melakukan sosialisasi 6 Program Aksi Partai Gerindra demi terwujudnya Indonesia yang makmur dan bermartabat. Sedangkan misi saya,membuktikan soal sumpah gandum. Bahwa saya baru akan makan gandum  jika bangsa ini sudah sejahtera, minimal sekaya kerajaan Majapahit waktu itu. Dimana bangsa ini pernah kaya raya seperti yang dialami Majapahit. Kalau hal itu terwujud maka saya baru akan buka puasa makan gandum.

Selama ini kendala yang dihadapi?

Kendala yang paling berarti tentu saja finansial. Saya bukan orang kaya raya, walaupun bukan orang miskin. Tapi kenyataan yang kita hadapi adalah orang-orang pragmatis. Sementara saya sendiri dan Gerindra tengah melawan orang-orang berwatak pragmatisme. Selain kendala finansial yang terbatas, jarak yang sangat luas, dari titik satu ke titik berikutnya bisa memerlukan waktu 6 jam. Tapi ini harus kita lakukan.

Lalu apa langkah antisipasi Anda?

Saya terus mengajarkan kepada bahwa pemimpin yan amanah, kopentensi inilahyang diutamakan.Bukan uang yang mungkin nilainya sangat kecil. Tapi kondisi di lapangan seperti masyarakat miskin saat ini, bisa saja tertarik hanya dengan yang sedikit itu. Tapi saya yakin dengan pendidikan politik yang benar, akan terjadi pembelajaran politik bagi para pemilih.Dan bangsa Indonesia akan lebih dewasa.Itulah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas. Yang terpenting adalah supaya mereka lebih terdidik secara politik dan ekonomi. Selama ini yang sampai ke pada mereka hanya mengharap lebih sedikit, tapi lupa dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Mendapat sesuatu yang sedikit lalu mereka memilih, ini yang berbahaya.

Selain masih ada yang pragmatis, ada dari kalangan terdidik tapi mereka memilih golput. Ini juga berbahaya,  karena golput di Jogja mencapai 50 persen. Golput ditimbulkan akibat ketidakpercayaan mereka kepada pemerintah dan pemimpin hasil pemilu. Sejatinya,ini tugas pemerintah dan partai politik untuk melakukan pendidikan politik hingga ke bawah.  Makanya Gerindra lahir untuk itu, kalau tak diatasi maka negeri ini tidak akan maju. Jika mereka golput, dan pemimpin yang  terpilih tidak bagus maka mereka ikut bertangungjawab. Bahkan saya ultimatum kepada mereka, negara ini bisa hancur jika mereka golput. Orang-orang yang golput itu juga pantas disebut pengecut.

Apa perbedaan antara pemilu lalu dengan yang akan Anda hadapi nanti?

Dulu,murni suarapribadi 24 ribu, ditambah suara partai menjadi 68 ribu.Tapi kenapa malah menjadi 60 ribu saja, inilah yang namanya permainan. Memang itu pengalaman pertama dengan persiapannya serba dadakan.Lagi pula yang tandem saya satu orang untuk tingkat provinsi dan dua orang untuk tingkat kabupaten kota. Saat ini yang tandem dengan saya di provinsi sekitar 15 orang caleg dan DPRD kabupaten/kota sekitar 30 orang bahkan bisa nambah lagi. Sekarang sudah ada pengalaman, jaringan lebih kuat, waktu lebih lama, sehingga peluangnya juga besar meski persaingan luar biasa. Saya tetap semangat dan optimis.

Apa harapan dan pesan Anda untuk para kader?

Minimal bisa meraih 20 persen suara agar pada saat mencalonkan Pak Prabowo menjadi presiden tidak perlu berkoalisi. Bahkan saya sendiri berharap di atas itu, sehingga Gerindra bisa maksimal mewujudkan impiannya. Dengan begituprogram kita bisa berjalan tanpa gangguan. Karena kebijakan harus didukung parlemen yang kuat, kalau lemah percuma, akan diganggu oleh kekuatan lain. Jika ini berhasil, saya akan buka puasa atas sumpah gandum. Pesan saya, mari kita berjuang, tulus dan ikhlas. Karena waktu sudah sempit untuk meraih kemenangan ini, kita tidak usah berpikir lain-lain, selain untuk menang.Bangsa ini harus tampil  bermartabat, sejahtera dan mandiri. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Suhardi maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) DI Yogyakarta.

Lebih Dekat Dengan Ajib Hamdani : Wajib Membesarkan Partai

Benar dan salah, bagai dua sisi mata uang. Sehingga memuliakan kebenaran bukan berarti harus menepikan kesalahan. Seiringanya berjalannya waktu, kebenaran pasti akan teruangkap jua. Inilah yang diyakini Ajib Hamdani, saat memutuskan berhenti menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di usainya yang sangat muda. Meninggalkan pekerjaan yang menjanjikan di Direktorat Jenderal Pajak  itu pun mengundang banyak tanya. Apalagi tak berselang lama, namanya  terdaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Gerindra.

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 11 NO URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 11 NO URUT 1

Namanya memang pernah terkait seputar rekening gendut yang merebak di instansi itu setahun lalu, seiring bergulirnya kasus-kasus yang melilit para punggawa pajak. Kasus itu mencuat ke permukaan setahun setengah setelah ia mundur sebagai pegawai pajak. Namun, setelah ditangani pihak berwajib, isu tak sedap yang menimpanya dinyatakan tidak terbukti. Sejak saat itu pula, wajahnya kerap wara-wiri di layar kaca dan beberapa media cetak nasional lainnya sebagai pengamat perpajakan. Termasuk menjadi saksi ahli di beberapa kasus perpajakan.

Ajib putar haluan. Meski seringkali dimintai tanggapannya tentang persoalan-persoalan pajak, ia lebih tertarik menekuni bisnis properti. Sembari menjalankan bisnisnya, pria kelahiran Magelang, 8 Desember 1980 ini merasa tertantang untuk berbuat untuk negara. Ia merasa yakin, jika terjun ke dunia politik adalah bagian dari pengabdiannya sebagai warga negara.

“Politik adalah pengadian, bukan kepentingan,” tegasnya. Menurutnya, dengan berpolitik ia bisa berbuat lebih bermanfaat bagi masyarakat luas.

Karena itu, ayah empat anak ini tak pernah menyesali jalan hidup yang dipilihnya. pun  bisa memberi manfaat dan berbuat lebih banyak lagi bagi bangsa dan negara ini. “Ketika seseorang menjadi anggota dewan, saya yakin ia akan lebih bermanfaat bagi masyarakat. Sebab,  di sana ada kewenangan legislasi, anggaran, pengawasan,” ujar lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) ini.

Selepas menyeselesaikan kuliahnya di STAN, ia ditempatkan di Kantor Pelayanan PBB (KPPBB) Jakarta Barat Dua. Tahun 2005, ia memilih tugas belajar di Universitas Diponegoro (UNDIP) mengambil Jurusan Ekonomi, Spesialisasi Penilai Properti. Setelah lulus dengan predikat cum laude, ia kembali ke Jakarta dan ditempatkan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jakarta Kelapa Gading sebagai Pelaksana. Namun, dua tahun kemudian ia mengundurkan diri dari PNS.

Meski mengaku sangat prihatin dengan sistem perpajakan Indonesia yang masih kurang ideal, ia lebih memilih menjadi pengusaha ketimbang meneruskan karirnya. Berangkat dari keprihatinan itu pula yang membuatnya bertekad maju sebagai caleg di bawah bendera Gerindra. “Mungkin karena itu saya dipercaya Partai Gerindra untuk ditempatkan di Jabar 11. Paling tidak saya punya bekal pengetahuan dan pengalaman tentang menata keuangan negara serta bagaimana mendesain pajak yang lebih baik,” kata suami dari Ratna Sari ini.

Lantas seperti apa pemikiran dan langkah-langkah yang dilakukannya dalam menghadapi perhelatan pesta demokrasi di 2014 nanti? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, ia memaparkan dengan penuh semangat. Berikut petikannya:

Apa yang membuat Anda terjun ke dunia politik?

Berangkat dari sudut pandang yang sederhana. Seperti halnya saat keluar dari PNS dan menjadi wirausaha. Dulu, istri saya juga merasa nyaman sebagai PNS untuk keluarga kecil kami. Tapi saya ingin lebih bermanfaat bagi masyarakat luas,  dan memutuskan menjadi pengusaha. Lewat usaha ini bisa memberi manfaat bagi banyak orang. Setelah berjalan sekian tahun, saya merasa impact-nya kurang massif. Saya pun berpikir kenapa saya tidak terjun di dunia politik. Bagi saya, ketika seseorang menjadi anggota dewan, maka akan lebih besar lagi manfaat yang akan diberikan, karena di sana ada kewenangan legislasi, anggaran, pengawasan.

Sejak kapan Anda terjun di politik?

Belum lama. Sebelumnya saya sama sekali tidak pernah berkecimpung di dunia politik. Meski saat kuliah saya aktif di organisasi, tapi hanya sekadar ikut berbagai kegiatan kampus. Saat dibirokrasi, di lingkungan Direktorak Jenderal Pajak, saya hanya sebagai pelaksana tugas, yang tidak dituntut berpikir kreatif. Karena itu, ketika tahu tentang manivesto perjuangan, dan program aksi Partai Gerindram saya sangat tertarik.  Saya pun mencoba mendaftarkan diri sebagai bakal calon legislatif di Partai Gerindra. Saya tertarik untuk mengawal dari sisi perpajakan sehingga ke depan Indonesia ini menjadi yang kuat. Mengawal kebijakan melalui sisi anggaran negara.

Apa motivasinya Anda akhirnya ikut mencalonkan diri?

Saya punya latar belakang selama tujuh tahun sebagai PNS Pajak. Karena itu,  saya merasa sangat prihatin mengapa sekian tahun sistem perpajakam kita belum ideal. Bayangkan Tax Ratio kita saat ini sangat memprihatinkan, hanya 12 persen saja. Sangat tidak ideal. Saya berpikir untuk meningkatkan tax ratio tersebut, tapi sulit  terlaksana karena saya hanya pelaksana bukan pengambil keputusan. Kalau mau berbuat lebih, kita harus ada di legislatif.

Apa yang sudah Anda lakukan?

Sebagai caleg, kita harus tahu bagaimana mengenalkan dan mendekatkan masyarakat pada partai. Sebab pemilihan umum legislatif (pileg), konstelasinya berbeda dengan pemilukada. Kalau dalam pileg,  orang akan melihat partai terlebih dahulu  baru siapa calonnya. Berbeda dengan pemilukada yang lebih pada figur. Tugas kita bersama, bagaimana membesarkan nama partai karena tujuannya adalah peraihan kursi partai. Memang tak mudah, karena sistem peraihan suara terbanyak. Karena itu, kanibalisme internal ini harus kita reduksi, mesk menjadi sebuah keniscayaan. Mengenali kultur masyarakat dapil Jabar 11. Kultur mayarakat setiap dapil memiliki local wisdom tersendiri, karena itu kita harus bertemu calon konstituen. Setiap Sabtu dan Minggu, saya pasti menemui mereka.

Bagaimana karakter pemilih masyarakat dapil Jabar 11?

Dari tiga wilayah, satu kota dan dua kabupate, saya melihat ada perbedaan antara masyarakat kota dengan kabupaten. Misalnya, masyarakat Kota Tasikmalaya sudah well educated dan terkontaminasi dengan euphoria demokrasi jadi mereka agak pragmatis. Sementara yang di kabupaten masih lebih mengedepankan ikatan emosional kekerabatan. Namun begitu, kota Tasikmalaya hanya memiliki lebih dari 500 ribu DPT sementara Kabupaten Tasikmalaya sekitar 1,3 juta DPT dan Kabupaten Garut, 1,6 juta DPT.

Program apa yang Anda jalankan  untuk bisa meraih suara nanti?

Sejatinya para caleg jangan sampai terjebak. Program partai haruslah menjadi prioritas utama. Tugas kita adalah membesarkan nama partai. Kita harus fokus ke sana, jangan banyak menebar janji-janji program kerja yang pada saatnya nanti itu menjadi domain eksekutif. Yang jelas kita besarkan partai dan puncaknya pada saat pemilihan Presiden. Kita juga jangan membodoh-bodohi masyarakat dengan membagi-bagi uang.

Saya percaya konstituen sudah cerdas. Kalaupun politik transaksional itu terjadi, memang sudah keniscayaan. Tetapi kita harus reduksi dengan berbagai terobosan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Saya tengah menggaet new voter karena saya yakin mereka bukan golongan yang transaksional. Saya juga berhitung dengan keunggulan yang saya miliki. Karena saya berjiwa muda, maka saya menyasar ke pemilih pemula dengan program yang sesuai. Lalu ada pemilih ibu-ibu atau kalangan tua lainnya, maka saya akan mengkombain dengan para caleg yang di Propinsi maupun caleg kabupaten/kota.

Target Anda di Jabar 11?

Melihat perkembangan yang ada, dengan 10 kursi, targetnya tiga kursi. Setidaknya ada dua kursi bisa diraih. Kalau target pribadi, harus bisa meraih suara minimal 100 ribu suara. Yang menarik bagi saya, kenapa DPP memepercayakan saya di dapil Jabar 11 dan nomor urut 1. Padahal kata banya orang, nomo urut pertama itu sulit. Awalnya memang tidak punya grassroot, tapi setelah melakukan kordinasi dan komunikasi dengan semua elemen di Gerindra, saya tinggal menjalankan program. Saya yakin semuanya bisa tercapai. Meski medannya sama sekali belum kita ketahui sebelumnya. Tapi inilah tantangan saya, target saya memang Gerindra akan leading di Jabar 11. Bukan sekadar jadi, tapi suara Gerindra bisa memimpin.

Daerah mana yang akan menjadi sasaran Anda dalam mendulang suara?

Saya akan berjuang di semua lini. Target utama di Kabupaten Tasikmalaya. Secara pribadi sebagai caleg pada prinsipnya visi saya bukan untuk jadi atau tidak jadi anggota dewan, tapi membesarkan Partai Gerindra. Apakah nanti saya masuk ke Senayan, itu soal lain. Yang penting, saya berusaha kerja dan terus berjuang yang pada akhirnya adalah soal garis tangan saja. Kalau pun tidak jadi, saya akan tetap berjuang di partai ini. Apakah kelak akan ditempatkan atau dipercayakan dimana saja, saya akan sangat senang ketika membicarakan tentang karya untuk masyarakat Indonesia. Termasuk kalau memang berhasil ke Senayan, saya siap untuk ditempatkan di komisi berapa saja, meski begitu saya berharap di komisi XI.

Jika terpilih nanti, apa yang akan Anda lakukan di DPR?

Saya punya obsesi untuk menata pajak lebih baik. Kalau kita punya Dirjen Pajak yang mumpuni, dan punya tim yang lebih konsen menata keuangan negara lebih baik, maka saya yakin Indonesia akan lebih baik. Tidak sampai tiga tahun penerimaan negara bisa mencapai 1500 triliun per tahun. Dan Tax Ratio sebesar 15 persen itu, bukan sesuatu yang tidak mungkin bisa dicapai.

Bagaimana dukungan keluarga?

Pesan orangtua dan keluarga sederhana saja, bahwa istiqomah dalam berjuang dan tawakkal. Itu yang saya  pegang dalam berpolitik. Tujuan saya satu, besarkan Partai Gerindra, dan mengawal 6 Program Aksi Transformasi Bangsa Partai Gerindra.

Apa pesan yang ingin Anda sampaikan?

Besar harapan saya sesama caleg bisa kerjasama dengan baik untuk membesarkan nama Partai Gerindra. Masalah jadi atau tidak, itu nomor dua. Kita akan menjadi bintang iklannya partai, kalau bisa mengusung partai dengan baik. Untuk kader yang ada di struktural, maupun sayap dan ormas, saya sebagai caleg sangat berterimakasih sekali jika kita bersama-sama berkolaborasi dengan baik untuk meraih suara terbanyak.  Mari belajar untuk mengedukasi politik yang lebih sehat dengan baik. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Ajib Hamdani maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) Jabar 11.

Lebih Dekat Dengan Dairul : Tinggalkan PNS, Total di Gerindra

Dibesarkan dalam keluarga birokrat, tak membuatnya berpuas diri. Terbukti, sepanjang karirnya di birokrasi yang ditekuni sejak 1988, sudah dua kali ia mengundurkan diri. Terakhir, 1 Mei lalu, ia melepaskan jabatannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Pertanian dan memilih terjun ke dunia politik. “Saya ingin mengabdi pada masyarakat secara luas melalui jalur politik,” tegas Dairul yang saat menekuni karirnya sebagai pegawai negeri sipil, ia tidak merasakan sesuatau yang berarti dalam hidupnya.

CALEG DPR-RI DAPIL BANTEN 1 NO. URUT 2

CALEG DPR-RI DAPIL BANTEN 1 NO. URUT 2

“Selama menjadi PNS, perjalanan hidup saya seakan kurang berarti,” ungkap pria kelahiran Ujung Pandang, 1 Januari 1971 ini yang maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) DPR-RI Partai Gerindra. Baginya, banyak hal menarik dari aktivitas berpolitik. Selain tantangannya lebih besar, siapapun bisa ikut mengubah bangsa ini lewat jalur politik.

“Bangsa ini sangat bergantung pada siapa yang menunggangi partai politik. Jika diisi orang-orang baik, maka bangsa dan negara ini akan menjadi lebih baik. Tapi sebaliknya, jika diisi orang-orang jahat, jangan salah kalau negara menjadi seperti sekarang ini,” papar kandidat doktor dari Universitas Brawijaya Malang ini.

Sejatinya, keterlibatannya di dunia politik bukan saat ia masuk masa pencalegan saja, tapi sejak remaja. Ia muali terlibat di partai berlambang burung garuda ini, sejak partai ini didirikan. Hanya saat itu ia hanya di belakang layar, karena terikat sebagai PNS. Namun kini, ia menjadi caleg DPR-RI nomor urut 2 dari Daerah Pemilihan (dapil) Banten 1, meliputi Kabupaten Lebak dan Pandeglang.

Tampilnya ayah empat anak ini di bumi para jawara bukan tanpa sebab. Pasalnya, ia dianggap mampu dan lebih mengenal kondisi serta potensi dapil Banten 1 yang terletak di wilayah selatan provinsi ke-28 itu. “ Daerah Banten bagian selatan memang termasuk daerah tertinggal. Inilah yang menjadi tantangan saya untuk berbuat sesuatu agar predikat itu bisa lepas,” ujar politisi yang dipercaya sebagai anggota Dewan Penasehat  DPD Partai Gerindra Provinsi Banten.

Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda yang menemuinya di Jakarta beberapa waktu lalu, Direktur Eksekutif LSAKD (Lembaga Studi Akuntansi Keuangan Daerah) memaparkan aktivitas politiknya menjelang Pemilu 2014. Berikut petikannya:

Bisa ceritakan sejak kapan Anda terjun ke politik?

Saya terlibat di dunia politik sejak remaja. Sejak SMA saya sudah aktif di Golkar, tapi itu karena orangtua saya seorang pamong pemerintahan, mau tidak mau harus mengikuti semua kegiatan waktu itu.

Bisa diceritakan keterlibatan Anda dengan Gerindra?

Beberapa kader militan Partai Gerindra adalah sahabat saya, seperti Budi Heriadi, Gunadi dan Ahmad Muzani. Ketika Gerindra didirikan, saya masih PNS, jadi tidak bisa berbuat banyak, paling hanya membantu di belakang layar. Baru 1 Mei lalu, saya mundur dari PNS agar bisa  total berpartai di Gerindra.

Apa yang memotivasi Anda untuk maju sebagai caleg?

Intinya ingin mengabdi. Agar semuanya berjalan baik, saya harus menyiapkan segala sesuatunya. Utamanya, kebutuhan keluarga jangan sampai terbengkalai. Jika banyak orang maju dengan motivasi mencari uang, saya tidak ingin seperti itu. Karena itu,  saya menyiapkan beberapa usaha yang akan menopang kebutuhan keluarga dengan berbisnis properti di beberapa kota. Jadi ketika nanti terpilih menjadi anggota dewan, sumber kebutuhan keluarga bisa berasal dari sana.

Tahun 2009 kenapa tidak ikut caleg?

Karena waktu itu belum siap. Selain itu, bekal rumah tangga juga belum disiapkan. Dan, saya masih tercatat sebagai pegawai negeri sipil. Kini saya merasa lebih siap. Kalau kita jadi caleg jual ini itu, juga kurang baik. Seperti arahan Pak Prabowo, kalau jadi caleg harus siap mental dan materi.

Kenapa memilih dapil Banten 1, itu kan daerah tertinggal?

Saya memiliki keterikatan historis dengan Banten. Kebetulan keluarga istri dari Banten, dan saya punya banyak jaringan di wilayah Banten selatan. Saya kan termasuk tim perumus lahirnya Provinsi Banten, 17 Oktober 1999 lalu. Selain itu, jaraknya juga cukup dekat dengan Jakarta. Juga ada tantangan tersendiri karena daerah ini dianggap daerah tertinggal, khususnya Banten bagian selatan. Niat saya membangun daerah ini, agar tidak lagi tertinggal. Insya Allah bila ada kesempatan saya berniat mengabdikan diri, paling tidak selama tiga periode untuk kemajuan Banten. Untuk itu, saya pun menyiapkan lahan untuk membangun kantor sekretariat DPC baik di Lebak maupun Pandeglang.

Apa yang Anda dilakukan untuk bisa meraih suara?

Setiap hari saya turun ke dapil, meski keluarga tinggal di Jakarta. Saya terjun langsung ke dapil saya, dan tak sungkan menginap di rumah penduduk.  Rupanya mereka tak perlu banyak bicara soal teori. Mereka lebih konsen dengan urusan perut. Itulah kenyataan yang dihadapi para caleg. Karena dapil Banten 1 meliputi dua kabupaten, maka untuk memudahkan kordinasi saya bentuk dua posko pemenangan di masing-masing kabupaten. Jika terpilih nanti, di kedua kabupaten inilah saya akan membesarkan Partai Gerindra. Saya akan mendirikan kantor sekretariat PAC-nya. Dan kalaupun saya tidak terpilih, rencana itu tetap akan terlaksana.

Program apa saja yang Anda tawarkan ke masyarakat?

Tentunya semua program yang dicanangkan Pak Prabowo. Intinya, program yang berpihak kepada masyarakat luas. Program yang mengedepankan kepentingan rakyat, bukan golongan atau individu.

Seperti apa karakter pemilih di dapil Banten 1?

Saya berkunjung hingga ke pelosok desa, yang mungkin saja masih banyak orang Pandeglang atau Lebak belum pernah ke sana. Misalnya ke Luwidamar, Sobang, Cibaliung dan yang lainnya. Perjalanan saya makin asyik, karena hanya dengan berjalan kaki. Kebetulan saya hobby jalan kaki, jadi tak masalah. Apalagi daerah-daerahnya masih sangat asri. Masyarakat merindukan figur caleg yang mau turun langsung meski harus berjalan kaki. Kata mereka, selama ini belum ada caleg yang mau bertandang, semuanya hanya menyebar baliho. Ada gambar tapi tidak ada orangnya.

Kantong kekuatan Anda di mana saja?

Semua wilayah, hampir merata. Jika semua kader partai bekerja keras, Gerindra bisa meraih dua kursi, meski targetnya hanya satu kursi dari Banten 1. Dan untuk provinsi, setidaknya bisa meraih 4 kursi dari Lebak dan Pandeglang, begitu pula di DPRD kabupaten masing-masing delapan kursi. Karena itu, saya tandem dengan caleg-caleg yang mau bekerja keras.

Kalangan apa yang menjadi sasaran Anda?

Semua lapisan masyarakat yang ada di dapil Banten 1. Mulai dari rakyat biasa sampai tokoh masyarakat, termasuk para jawara. Bahkan saya ajak para jawara ini untuk maju menjadi caleg. Karena disamping disegani, mereka juga bisa menjadi penyalur suara. Tidak heran bila untuk terjun ini ongkosnya besar. Setiap sosialisasi ke dapil, saya selalu dibarengi dengan program aksi sosial berupa pembagian sembako. Karena masalahnya, memang soal perut. Itu yang utama disamping membantu pembenahan infrastruktur pemukiman yang kurang memadai. Meski banyak mengeluarkan dana, saya senang dan ikhlas, karena memang sudah saya siapkan.

Seberapa besar keyakianan Anda untuk terpilih?

Kita harus yakin, kalau kita bisa. Karena kalau bukan kita siapa lagi? Insya Allah terpilih, tinggal garis tangan yang akan berbicara nanti. Disamping sudah mempersiapkan segala sesuatunya, saya pun melakukan sosialisasi jauh-jauh hari sebelum proses pencalegan.

Seperti apa kondisi dapil Banten 1?

Kalau kita lihat memang memprihatinkan. Padahal tidak jauh dari ibukota.  Wilayah Banten selatan ini juga sarat potensi. Dengan kondisi seperti, bagi saya adalah tantangan yang harus dijawab. Saya katakan bahwa kalau saya jadi anggota dewan, saya hanya ambil gaji dan tunjangan. Sementara yang lain seperti dana asprasi itu adalah haknya masyarakat.

Apa pesan Anda untuk kader dan sesama caleg Gerindra?

Yang paling utama kita harus kerja keras dan kerja cerdas. Sekalipun kita kerja keras kalau tidak cerdas, hasilnya tidak maksimal. Kita juga harus waspada dengan menganggap semua lawan politik kita berat sehingga memotivasi untuk terus berjuang. Nah, kalau misalnya ada caleg dari partai lain hebat dan banyak modalnya, tidak lantas membuat kita menyerah tapi harus  dihadapi. Kita harus memenangkan Gerindra. Menjadikan Pak Prabowo sebagai Presiden RI. Kita juga harus mengubah niat jika ingin menjadi anggota dewan. Jangan cari penghasilan tapi pengabdian. Kalau mau cari uang, jangan menjadi politisi. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Dairul maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 2 dari daerah pemilihan (dapil) Banten 1.

Lebih Dekat Dengan Mulyadi : Revolusi Energi Nasional

Kiprahnya di Senayan memang masih terbilang baru, namun sikap kritisnya kerap membuat keteteran para pemangku kebijakan. Sejak dilantik menggantikan sebagai anggota pengganti antar waktu, ia langsung menyuarakan apa yang seharusnya dilakukan seorang wakil rakyat. Tak ayal, keberadaannya sebagai wakil rakyat kian diperhitungkan banyak pihak. Terlebih ketika ia dengan lantang menyuarakan soal revolusi energi nasional.

CALEG DPR RI DAPIL JABAR 5 NO. URUT 6

CALEG DPR RI DAPIL JABAR 5 NO. URUT 6

Dialah Drs Mulyadi MMA, wakil rakyat yang tercatat dalam Komisi VII dari Fraksi Partai Gerindra dikenal sebagai orang pertama yang menggulirkan revolusi energi di gedung Senayan. “Pasalnya kedaulatan energi nasional betul-betul dirongrong oleh sikap-sikap kebijakan dan anggaran yang terlalu kompromis dan sarat retorika. Jadi bagi saya bukan lagi revitalisasi, tapi kita perlu lakukan revolusi energi nasional,” ujar pria kelahiran Bogor, 2 November 1970 yang mengaku kadang teriakannya itu hilang begitu saja ditelan keriuhan pemilih kursi mayoritas parlemen.

Meski demikian, Mulyadi tak patah arang. Malah ia semakin getol memperjuangkan suara rakyat di komisi yang membidangi urusan energi sumber daya mineral, riset dan teknologi serta lingkungan hidup ini. Pasalnya, negara ini terlalu euphoria terhadap sumber energi yang ada di dalam perut bumi. Padahal kekayaan alam di atas bumi jauh lebih besar dibanding yang ada di dalam perut bumi. “Negara ini begitu euphoria mengeksplorasi yang ada di dalam perut bumi secara besar-besaran,” kritik lulusan Univeritas Katholik Parahiyangan Bandung ini.

Menurutnya, apa yang diperjuangkannya selama ini belum maksimal. Di samping keberadaannya di parlemen baru berjalan kurang dari setahun, Mulyadi pun kerap mendapat perlawanan sengit dari rekan-rekan di satu komisi yang beda fraksi. Ia pun sadar untuk mengawal sebuah perubahan memang dibutuhkan keberanian dan niat yang tulus. Apalagi mitra kerja yang ditanganinya itu kerap tersandera banyak kepentingan. Karena itu, Mulyadi memutuskan untuk kembali maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) di daerah pemilihan (dapil) yang sama yakni Jawa Barat 5.

“Saya ingin menjadi bagian dari upaya transformasi bangsa ke arah yang lebih baik yang diperjuangkan Partai Gerindra. Saya ingin menjadi bagian dari gerbong perubahan itu,” ujar caleg nomor urut 6 ini.

Keterlibatan Mulyadi di partai politik bukan sekadar latah atau ikut terbawa euphoria belaka. Awalnya Mulyadi yang kala itu tengah bekerjasama dengan pendiri Partai Gerindra, Prabowo Subianto untuk mendirikan perusahaan penerbangan mengajaknya untuk ikut maju sebagai caleg pada Pemilu 2009. Gayung pun bersambut, sebagai putera daerah Mulyadi mengiyakan ajakan Prabowo untuk ikut bertarung sebagai caleg di dapil Jawa Barat 5 yang meliputi Kabupaten dan Kota Bogor. Sayang, hasil perhitungan KPU, hanya meloloskan satu kursi. Sementara Mulyadi sendiri berada di posisi kedua.

Tidak lolos sebagai anggota dewan, Mulyadi kembali menekuni profesi sebelumnya sebagai pengusaha sekaligus pakar dalam bidang pasar modal. Bahkan sebagai pemegang lisensi pasar modal, keberadaanya kerap diincar perusahaan yang berencana go public. Jelang tutup tahun 2012, tiba-tiba Mulyadi dipanggil untuk mengemban tugas sebagai anggota DPR. “Karena ini tugas, maka saya harus mengembannya dengan penuh tanggungjawab,” ujar ayah empat orang anak yang menggantikan posisi Widjono Hardjanto sebagai anggota dewan.

Disamping sibuk menjalankan tugas sebagai wakil rakyat, Mulyadi yang sudah lama membina sebuah pondok pesantren penghafal Al-Quran di daerah Jonggol, Kabupaten Bogor itu kembali bertarung sebagai caleg di dapil yang sama. Seakan tak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada, setiap akhir pekan ia gunakan untuk blusukan dari kampung ke kampung.

“Semoga saya diberi kekuatan untuk menjaga niat dan aktifitas ini, karena bagi saya maju kembali sebagai caleg bukanlah untuk mengejar jabatan, tapi sebagai upaya ikut menjadi bagian dari gerbong perubahan itu,” katanya.

Seperti apa perjuangan dan aktivitasnya sebagai anggota dewan yang kembali maju sebagai caleg. Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda –yang menemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu— mantan Direktur Operasional Cipaganti Grup itu memaparkan. Berikut petikannya:

Bisa ceritakan apa saja yang Anda perjuangkan di gedung parlemen saat ini?

Pada tiga bulan pertama menjalani tugas sebagai anggota dewan, oleh partai saya ditugasi masuk ke Komisi 7. Setelah mempelajari aturan main, tata tertib dewan dan mengikuti rapat-rapat komisi dan fraksi terutama terkait dengan komisi 7, saya bisa menarik kesimpulan bahwa kondisinya begitu memprihatinkan terutama pada tata kelola energi. Kemudian saya juga dipercaya masuk dalam pokja RUU Nagoya Protokol yang membahas pengelolaan sumber daya hayati yang dimiliki Indonesia. Ternyata sumber daya hayati kita bisa dimanfaatkan untuk mendatangkan devisa negara.

Saya makin terbelalak ketika mengetahui selama ini kekayaan alam yang ada di atas bumi ini tidak dikelola secara maksimal. Mustinya kita harus belajar banyak dari China yang lebih memilih memanfaatkan kekayaan alam yang ada di atas bumi dibanding yang ada di dalam perut bumi. Anehnya di Indonesia ternyata banyak pihak asing yang masuk untuk memanfaatkan sumber daya hayati yang ada di atas bumi. Karena itu, saya sampaikan kepada pihak pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup (LH) bahwa dalam hal perijinan ke depannya, bukan hanya soal amdal saja tapi kementerian LH juga harus memastikan daerah tambang baru itu sumber daya hayatinya benar-benar bisa diproteksi terlebih dulu. Makanya saya gulirkan permasalahan tata kelola energi ini bukan sekedar revitalisasi saja tapi menggunakan bahasa revolusi.

Di samping itu saya juga menyampaikan bahwa Kementrian Riset dan Teknologi jangan sampai hanya menjadi kementrian seremonial dan menghabiskan APBN karena selama ini hanya bisa menjadi departemen cost center, belum terlihat apa kontribusinya selama ini? Mustinya menristek harus bisa menciptakan produk atau temuan yang bisa memberi pemasukan negara. Misalnya produk-produk sistem perpajakan yang berbasis IT sehingga mensupport negara dalam meningkatkan pendapatan dari sektor pajak. Jadi selama menjadi anggota DPR, saya sebagai praktisi manajemen yang sudah bertahun-tahun saya melihat adanya tata kelola kebijakan yang tidak maksimal bahkan cenderung tersandera oleh kepentingan-kepentingan sehingga merugikan masyarakat.

Lalu apakah ini yang melatari Anda maju kembali sebagai caleg?

Ya. Selain saya baru satu tahun, saya juga ingin ikut menjadi bagian dari upaya transformasi bangsa ke arah yang lebih baik yang diperjuangkan Partai Gerindra. Saya ingin menjadi bagian dari gerbong perubahan itu.  Masyarakat pun harus tahu bahwa untuk bisa menjadi bagian dari perubahan itu tidak hanya dengan berkoar-koar, tapi ikut terjun langsung. Apabila Partai Gerindra diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk berkuasa di negeri ini, saya harap dari program aksi yang diusung Partai Gerindra bisa mengakomodir kepentingan bangsa. Saya ingin ikut melihat perubahan dan menjadi bagian dari itu. Hakikat dasarnyanya, saya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak di negeri ini.

Lalu apa visi dan misi Anda?

Kalau visi sebagai seorang yang beragama, karena saya seorang muslim, saya ingat sekali pesan Rasulullah, bahwa orang yang paling baik adalah orang yang bermanfaat untuk banyak orang. Selain itu saya juga betul-betul bisa mempertanggungjawabkan sisa umur saya di hadapan Tuhan. Sementara misi saya adalah pada prinsipnya saya ingin ikut memberikan masukan-masukan dan menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan untuk setiap program dan anggaran negara dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Intinya membawa mengawal transformasi negara yang selama ini tersandera menjadi bebas tanpa kendala.

Kenapa Anda pilih dapil Jawa Barat 5?

Jawa Barat 5 adalah dapil tanah kelahiran saya. Leluhur saya di sana semua. Selama menjadi anggota dewan membuat saya terbelalak bahwa selama ini ada dana di program DPR untuk masyarakat seperti bantuan-bantuan sosial, bantuan infrastruktur, dana aspirasi dan sosialisasi empat pilar bangsa. Dimana selama hidup di lingkungan saya yang menjalankan kegiatan itu membuat masyarakat kaget, bahwa kegiatan seperti itu ada dananya. Lalu selama ini kemana anggarannya? Nah kalau hal itu bisa memberikan kontribusi kepada daerah pemilihan, maka saya pun memanfaatkan hal itu untuk kesejahteraan masyarakat. Jangankan ada anggarannya, sebagai putera daerah, saya bertanggungjawab untuk berbuat sesuatu memajukan dan membangun masyarakat. Atas dasar itu pula saya akhirnya memilih kembali ke dapil yang sama seperti 2009 lalu.

Apa saja yang sudah Anda dilakukan di dapil?

Sebagai anggota DPR PAW (Pengganti Antar Waktu) setelah melakukan kordinasi dengan struktural saya juga melakukan komunikasi dengan anggota dewan yang ada di kabupaten dan provinsi untuk bersinergi dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai anggota. Saya sampaikan bahwa sebagai refresentasi dari partai tentu harus bisa memberikan kontribusi tidak saja kepada masyarakat, tapi juga harus bisa menangani masalah-masalah yang timbul dalam struktur partai. Kemudian karena ekspektasi masyarakat begitu besar terhadap duduknya saya sebagai anggota dewan, saya membuat HMS Center (Haji Mulyadi Syurdi) tapi di lapangan lebih dikenal dengan HMS Strategic. Kita buat organisasinya, programnya dan anggarannya.

Dari proposal yang masuk alhamdulillah selama ini kita bisa mengakomodir berbagai keinginan masyarakat di bidang sosial, keagamaan, dam pemuda. Selama ini kita membina para penghapal Alquran, menggelar tablig akbar rutin bersama KH Arifin Ilham. Festival musik untuk memberikan saluran-saluran bakat anak muda supaya kegiatan mereka positif. Memberikan bantuan bagi korban bencana, bantuan renovasi rumah tidak layak huni. Alhamdulillah proposal yang sudah masuk hampir 90 persen kita akomodir.

Selain itu kita juga lagi berjuang mengakomodasi keinginan masyarakat yang selama ini belum tersaluri listrik. Bayangkan di tahun 2013 ini ada daerah yang hanya berjarak 20 KM dari Cikeas belum mendapat aliran listrik, namanya daerah Kelapanunggal. Begitu juga permohonan masyarakat puncak, yang mengadukan selama ini terganggu dengan keberadaan vila-vila di sana. Saya sampaikan kepada Menteri LH, bahwa kalau Jakarta banjir selalu dibilang kiriman dari Bogor, padahal itu sebenarnya air pulang, dimana setiap akhir pekan, warga Jakarta pemilik vila berduyun-duyun ke puncak lalu buang air disana sehingga suatu saat air itu pulang lagi ke Jakarta.

Program apa saja yang Anda tawarkan?

Tentunya program yang saya tawarkan adalah terkait isu-isu daerah yang selama ini belum maksimal dirasakan oleh masyarakat, seperti layanan kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. Saya berharap bisa mengawal kebijakan anggaran negara dan akan saya arahkan ke dapil saya. Disamping itu, saya juga sudah membangun komunikasi dengan kepala daerah, untuk lebih memberikan prioritas lebih dengan apa yang dibutuhkan masyarakat. Karena dapil ini tidak jauh dari ibukota tentu menjadi barometer nasional dalam hal pelayanan dan pembangunan, mustinya pendidikan, kesehatan dan infrastruktur pun tidak boleh timpang.

Menurut Anda seperti apa karakter pemilih dapil Jabar 5?

Karena saya awalnya bukan orang politik, jadi ketika terjun langsung terasa kaget juga menghadapi kenyataan di lapangan apalagi dengan adanya pasukan tak gentar membela yang bayar. Disamping ada yang idealis tentunya ada juga yang pragmatis, setiap daerah berbeda-beda. Ada yang sudah militan, ada yang masih harus diyakinkan dan ada pula yang tidak bisa diarahkan.

Lalu bagaimana Anda mengantisipasi kelompok pemilih pragmatis?

Saya pikir tinggal edukasi memberikan pemahaman yang baik, bahwa apa yang mereka putuskan bukan saja akan berpengaruh pada kehidupan mereka ke depan tapi bagi anak cucu mereka. Kalau pragmatis masih tetap dipertahankan, maka bukan saja mereka yang rugi tapi anak cucu mereka. Mereka mestinya tidak boleh lagi menyia-nyiakan hak pilih mereka hanya untuk sejumlah uang tapi harus dipertanggungjawabkan. Alhamdulillah di dapil ini sudah mulai bergeser.

Berapa target suara Anda?

Belajar dari 2009 bahwa gambarannya ongkos ke Senayan dalam arti kursi itu memang besar dengan jumlah tertentu. Dari pengalaman itu, kita petakan kekuatan, dari sana kita bagi empat zona untuk target suara. Dimana zona 1, targetnya 30 persen suara. Zona 2, 15 persen suara. Zona 3, menargetkan 5 persen dan zona 4, targetnya hanya 1 persen suara. Tahun 2009 saja, Di zona 1 kita mendapat suara signifikan saya bisa meraup 10 ribu suara dari 90 ribu suara. Sementara zona paling kecil presentasinya itu memang ada caleg dengan pemilih yang militan, tentunya kita tidak akan jor-joran di zona itu karena akan mubasir. DPP sendiri menargetkan dapil Jabar 5 dengan tiga kursi, tentunya selain harus mempertahankan kursi incumbent, harus ada dua kursi yang kita rebut. Bisa jadi itu didapat dari muntahan Demokrat.

Apa yang Anda lakukan untuk mencapai target itu?

Saya mengadakan pembekalan kepada tim pemenangan saya, dengan menghadirkan tim ahli dan struktur partai dan fraksi. Selain menyebarkan atribut seperti oneway stiker, kita juga membuat sistem perekrutan seperti MLM dengan cara membekali kader dengan buku silaturahmi. Kemudian di tingkat TPS kita menerapkan bukan dengan konsep saksi tapi pendamping pemilih. Kita juga menjalankan program tiga tahap, yakni tahu, kenal dan suka. Konsep itu kita terjemahkan dalam aktvitas kegiatan yang disukai masyarakat baik agama, sosial dan silaturahmi. Setidaknya, sudah ada 700 angkot sudah terpasang oneway stiker.

Dari sekian daerah yang ada di Jabar 5, daerah mana yang menjadi prioritas?

Daerah yang menjadi prioritas untuk bisa mendulang suara adalah daerah Jonggol. Daerah yang menjadi tanah kelahiran saya itu pada saat 2009 saja, yang tidak saya sentuh sama sekali bisa mendulang 10 ribu suara, makanya sekarang saya lebih fokus di daerah itu.

Ada cerita apa dibalik penempatan Anda di nomor urut 6?

Inilah saatnya saya harus klarifikasi. Karena selama ini banyak yang menanyakan termasuk Bupati Bogor. Saya incumbent putera daerah kok malah ditaroh di nomor urut 6. Saya berbaik sangka saja kepada DPP. Awalnya saya sebagai anggota DPR memang baru berjalan setahun dan belum ada apa-apa atau kurang maksimal. Kemudian pada saat pendaftaran saya konsultasi kepada Sekjen dan fraksi, kalau nanti di DPP akan menimbulkan dinamika yang tinggi saya tidak masuk lagi sebagai caleg pun saya tidak apa-apa. Saya akan tetap berjuang di Partai Gerindra, tentunya diluar struktur.

Tapi saya mendapat informasi bahwa incumben akan masuk kembali, lalu saya mendapat informasi juga bahwa Wakil Ketua Umum Fadli Zon akan maju di dapil yang sama di nomer urut 1. Mendengar hal itu, saya apresiasi sekali, karena beliaukan pendiri. Sehari sebelum penyerahan ke KPU nama saya digeser ke nomer urut 6. Karena hal ini sudah saya antisipasi, maka saya anggap ini sebagai kepercayaan yang besar dari partai kepada saya untuk duduk di nomor urut 6 sesuai dengan nomor urut partai. Semoga hal ini menjadi pertanda istikomah saya dalam berjuang. Saya berpikir positif bahwa partai percaya kepada saya.

Menurut Anda seperti apa Partai Gerindra di dapil Jabar 5?

Karena kapasitas saya sebagai kader non struktural, saya hanya bisa menyarankan bahwa harus diperkuat tentang tujuan dari keberadaan Partai Gerindra sebagai sarana perjuangan masyarakat untuk menjadi sejahtera. Untuk itu harus ada roadmap yang jelas. Saya juga tidak dalam kapasitas yang menilai keberadaan partai, tapi saya hanya bisa memberikan rekomendasi, bahwa partai ini bisa menjadi besar, selama orang-orang yang terlibat dalam partai ini berjiwa besar dan profesional.

Apa pesan dan harapan Anda ?

Tidak hanya ke pemilih tapi kepada para caleg yang satu partai, bahwa luruskan niat, kalau sudah lurus untuk berjuang di partai ini dengan baik. Jangan jadikan jabatan di dewan itu sebagai tujuan. Kalau jadi tujuan saya yakin pasti akan stres. Mau jadi sudah stres, pada saat jadi tambah stres dan mau lepasnya juga stres. Kalau mau jadi harus mengeluarkan banyak biaya, pada saat jadi mereka stres untuk mengembalikan apa yang dikeluarkan, dan pada saat mau lepas juga pasti stres karena seakan merasa kehilangan. Kepada masyarakat dan pemilih lainnya, jangan sia-siakan hak suara, pastikan yang dipilih itu bisa mewakili suara, tinggal melihat rekam jejaknya saja. Jangan sampai menjadikan masyrakat sebagai supir taksi bahwa ketika sudah dibayar untuk mengantar ke tujuan sudah ditinggalkan begitu saja.[G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Oktober 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Mulyadi maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 6 dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat 5.