Merangkai Kepingan Jiwa yang Telah Patah

Membaca novel yang dibalut dengan kemasan religi, boleh jadi bagi sebagian pembaca berat novel religi akan mengembalikan imajinasinya pada beberapa novel sejenis yang pernah booming di panggung sastra Indonesia. Terlebih ketika beberapa novel diangkat ke layar lebar kian menguatkan cita rasa novel dimaksud, meski terkadang membuahkan komentar beragam dari para pembaca bukunya. Animo masyarakat untuk membaca novel Islami pun tak terelakkan, ratusan judul dan penerbit pun terpajang dietalase toko buku ternama bersanding sejajar dengan karya sastra lainnya.

Satu dari sekian judul novel yang menghadirkan nuansa islami adalah Dua Surga Dalam Cintaku, karya perdana dari Atho Al-Rahman. Memang karya sastra novel yang hadir ditengah-tengah kebangkitan sastra Islam Indonesia menjadi biasa bila tak memiliki kekuatan isi cerita yang menjadi pembedanya. Sosok Atho sendiri, bukanlah penulis biasa. Pasalnya selain berprofesi sebagai jurnalis, rupanya Atho pun jawara dalam mengulik kata-kata fiksi. Kepiawaiannya merangkai kata menjadi kalimat yang mampu mengaduk-aduk perasaan pembaca sudah dikuasainya sejak usia remaja. Namun karena kesibukan, baru dua tahun terakhir ini dunia sastra kembali ia jamah kembali, sambil mengisi waktu luangnya sebagai seorang pemimpin redaksi salah satu harian lokal di bawah bendera Jawa Pos Grup.

Dua Surga Dalam Cintaku, novel perdana yang akhirnya diterbitkan ini menjadi jawaban atas keinginannya untuk membuktikan bahwa ia mampu menunjukkan taji imajinasinya di dunia sastra. Kepiawaiannya mengulik bahasa itu sudah ia tunjukkan lewat judul yang membuat calon pembaca mengernyitkan dahinya saat melihat buku ini. Ditambah lagi dengan ada serangkai kalimat di bawah judul itu ‘Rangkailah Kembali Kepingan Jiwamu yang Telah Patah..!’ menambah penasaran atas novel yang banyak menggandeng public figure sebagai endorsement dari novel setebal 348 halaman ini.

Ada yang menarik dari sosok yang ikut di-endorse di novel karya Atho ini. Ya, novel yang memuat komentar Hj Airin Rachmy Diani, Walikota Tangerang Selatan bukan tanpa sebab atau sekadar gagah-gagahan bahwa penulis dekat dengan sang pejabat. Kiranya, kehadiran walikota berparas cantik sebagai endorser tak lain dan tak bukan untuk mempertegas bahwa setting area dalam novel ini sebagian besar ada di Tangerang Selatan. Disamping itu ada grup band papan atas Wali –yang tak lain personelnya jebolan kampus UIN Jakarta, mantan model top era 90-an Ratih Sang, motivator penutur kesadaran, Nanang Qosim Yusuf serta dosen sastra UIN Jakarta, Prof Dr Syukron Kamil, MA. Tentu saja, kehadiran mereka ada kaitannya dengan isi dari novel yang terdiri dari duapuluh tiga bagian ini, baik secara hubungan personal maupun kelembagaan. (Berita terkait bisa dilihat di Racana UIN Jakarta Bedah Novel)

Cerita dalam novel ini menggunakan alur maju. Inilah yang membuat pembaca tak mau bergeming untuk menyudahi jalannya kisah Arham Maulana –yang menjadi tokoh sentral— dalam novel ini. Selain sosok Arham, tokoh penting lainnya adalah Husna Ruhama dan Zilka. Lewat ketiga tokoh inilah penulis banyak mengumbar kata-kata yang mampu mengaduk-aduk emosi pembaca. Meski memang, kehadiran sosok Amrina Rosyada, mahasiswi yang mampu menawan hati sang tokoh utama, sayang jika tidak disimak. Belum lagi tingkah polah Ali dan Jamil yang sejak awal menghadirkan kekonyolan mampu mewarnai jalannya cerita cinta dua anak manusia yang ada di novel ini.

Diawali dengan keinginan Arham untuk ngekos dekat kampus, membuat keluarga hubungan Arham dan ayahnya –yang dalam novel ini memakai nama tokoh Abi— sempat tegang. Namun sepertinya, penulis tidak mau berlarut-larut mengisahkan perseteruan antara anak dan orangtua ini. Di bagian awal ini pula, penulis sedikit menceritakan aktivitas keluarga Arham yang tinggal di kampung Bojong yang konon di setting di daerah Bogor. Sejak awal cerita, penulis dengan jelas menghadirkan dialog antar anak dan orangtua yang menandakan sebuah keluarga yang harmonis dan religious. Figur Abi yang bijak, Umi yang penuh kasih ditambah sosok Fauziyah, gadis remaja adik kandung Arham yang periang.

Acara Launching sekaligus Bedah Novel Dua Surga Dalam Cintaku karya Atho Elrahman bersama Ratihsang, Ray Sahetapi, Prof Syukron Kamil, Dika Resti di Kampus UIN Jakarta, Rabu (16/5).

Kehidupan kampus yang berada di kawasan Ciputat tentu tak jauh berbeda dengan kampus-kampus lainnya di ibukota menjadi setting cerita. Di Ciputat inilah, Arham mengawali hidupnya jauh dari orangtua dan keluarga. Sebulan hidup ngekos di Ciputat,  Arham pun dikejutkan dengan pesan pendek alias SMS dari Husna. Dari sinilah, kisah pergulatan dua hati anak manusia dimulai. Sejak mendapat SMS itu pula, dalam episode berikutnya Arham pun mengalami kegalauan yang amat sangat. Betapa tidak Husna yang tak lain teman kecil itu kini tumbuh dewasa dan mampu menawan hati Arham. Bahkan dalam waktu yang singkat, Arham ditantang untuk menikahi gadis itu.  Di sinilah penulis menujukkan kepiawaiannya dalam meluluhkan hati siapapun. Ya, untaian kata dalam surat Husna untuk calon suaminya, boleh dibilang mewakili perasaan wanita yang tengah mendambakan seorang calon pendamping hidupnya.

Dalam novel ini diceritakan bagaimana sebuah proses bersatunya dua anak manusia yang tak lepas dari campur tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Betapa tidak, hanya dalam waktu singkat pasangan itu akhirnya menikah. Lagi-lagi penulis pun mengisahkan bagaimana pasangan ini menjalani hari-harinya sebagai pengantin baru. Kehidupan suami istri berlandaskan syariah islam begitu detil dijelaskan oleh penulis. Termasuk amalan-amalan sunnah seorang suami dalam menggauli istrinya tak luput dari perhatian penulis (hal.  63).

Pada bagian empat dan lima, kepergian Husna yang mendadak untuk selamanya membuat Arham depresi. Tapi bukan Arham yang digambarkan penulis sebagai muslim taat dan tegar jika terus larut dalam kesedihan. Ia pun bangkit dari kesedihan dan mencoba mencari tahu penyebab kematian istrinya. Kisah sedih yang dialami Arham mampu menguras air mata. Suasana pun berbalik seratus delapan puluh derajat. Selain memuat goresan Husna dalam buku hariannya, penulis mencoba memaparkan istilah-istilah medis seputar penyakit yang diderita Husna.

Sepeninggal Husna, pada babak berikutnya Arham harus kembali bangkit menyelesaikan kuliahnya. Sesampainya di Ciputat, Arham terpesona dengan penampilan sosok wanita cantik yang ditemuinya di depan masjid Fathullah –nama sebuah masjid yang berlokasi di seberang kampus UIN Jakarta. Di episode inilah cerita hubungan antara Arham dan Zilka dimulai. Saling kagum antara kedua anak manusia ini mengisi cerita-cerita selanjutnya. Konflik cerita pun banyak terjadi di babak ini. Mulai dari lika-liku asmara antara Arham dan Zilka yang digambarkan seromantis mungkin tanpa melanggar aturan syar’i hingga hadirnya sosok Erwin yang menjadi masa lalu Zilka. Begitu pula dengan perilaku dan gaya hidup Zilka yang mengundang tanya Arham begitu apik dikemas oleh penulis. Termasuk sosok ‘Harun Palsu’ kembali menyulut ketegangan antara Arham dengan Abi atas kehadiran Zilka di kehidupan Arham.

Sebagaimana yang diutarakan Prof Dr Syukron Kamil, MA dalam komentarnya, bahwa novel yang mengisahkan tokoh yang tidak putus asa dalam mencari karunia cinta ini, penulis dengan tegas memplot Arham sebagai tokoh yang tak kenal menyerah. Usai bersitegang dengan orangtuanya, Arham akhirnya bisa membuktikan keputusannya untuk menikahi Zilka. Episode kehidupan baru pun kembali dijalani Arham.

Tak hanya indahnya bunga-bunga kehidupan yang menghiasi pasangan ini, tapi konflik hubungan suami istri pun kembali dipaparkan penulis. Belum hadirnya momongan serta hadirnya wanita lain dalam kehidupan Arham menjadi pemantik konflik. Termasuk wacana poligami yang menjadi momok bagi kaum hawa, muncul di novel ini. Meski dalam pengakuannya –yang diwakili oleh Arham sang tokoh utama dalam novel ini— pada sebuah obrolan, penulis sejatinya menolak dengan tegas poligami.

Memang hampir bisa ditebak akhir dari cerita novel ini, ketika penulis dengan jelas memaparkan kabar gembira tentang Zilka di dua bagian terakhir. Ya, penulis langsung melesat ke depan dengan rentang waktu yang cukup lama. Agak sulit dituliskan dalam kata-kata memang, bagaimana bahagianya perasaan pasangan yang sudah lama menanti datangnya buah hati. Meski demikian, penulis mampu menuangkannya dalam rangkaian kata-kata serta dialog pasangan suami istri yang tengah dinaungi kebahagiaan.

Sekali lagi membaca novel yang tak jauh dari suasana Ciputat, bagi sebagian orang yang pernah singgah di kawasan padat ini serasa akan mengembalikan kenangan tersendiri. Mulai dari setiap sudut di sekitar lingkungan kampus hingga pusat perbelanjaan di Bintaro –yang berada sekitar lima kilo dari kampus— yang kerap menjadi tempat hang out kawula muda kala itu. Dan memang, penulis sepertinya begitu mengenal jauh setiap kelokan dan persimpangan yang digambarkan di novel ini, meski ceritanya fiktif.

Penasaran dengan kisah lengkapnya? Cerita beralur maju ini patut untuk dibaca bagi mereka yang tengah dilanda kegalauan dalam meneguhkan keyakinan dengan segala keputusan yang dibuat. Terlebih bagi mereka yang tengah mencari jalan keluar dalam merangkai kembali kepingan jiwa yang telah patah. Percayalah bahwa gusti Allah mboten sare (Allah tidak tidur) dan selalu berada bagi orang-orang yang berserah diri kepada-Nya. Membaca prosa ini rasanya tak butuh waktu lama, selain alur cerita maju, penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna setiap orang menjadi kelebihan dari novel karya seorang jurnalis ini.

Secara keseluruhan tampilan cover tak kalah apiknya dengan novel lainnya. Meski memang, agak sedikit mengundang tanya dengan penampilan sosok-sosok –yang ada dalam cover berbalut warna soft— itu siapa mewakili siapa. Ketebalan halaman serta pemilihan huruf yang familiar serta hadirnya quotation dengan desain yang menjadi khas dari Diva Press kian mempercantik tampilan lay out novel ini. Meski diakui, ada halaman yang hilang alias kosong (hal 210), tentunya mengganggu pembaca. Bisa jadi ini ada kesalahan teknis saat proses cetak. Mudah-mudahan kesalahan ini tidak berlaku secara menyeluruh pada buku telah beredar. Semoga. []

Judul :

Dua Surga Dalam Cintaku

Karya:

Atho al-Rahman

Jumlah halaman:

348 hal

Penerbit:

DIVA PRESS, Yogjakarta

Cetakan:

Cetakan pertama, April 2012

* Catatan : Artikel Resensi ini telah dimuat di Harian TANGSEL POS edisi akhir pekan (12-13 Mei 2012) lalu.

Advertisements

Deddy Mizwar: “Untuk insaf pun perlu latihan”

Makin tua makin moncer. Itulah kiranya gambaran yang pas untuk sosok aktor kawakan yang satu ini. Aktingnya selalu menyatu dengan karakter yang dimainkannya baik dalam film, sinetron maupun iklan. Ia pun hadir sebagai penghibur lara para pecinta film kala industri perfilman negeri ini mati suri. Tak heran jika sederet penghargaan telah diraihnya.

Kiamat Sudah Dekat adalah salah satu garapannya yang membuat keluarga Presiden Susilo Bambang Yudoyono tergugah untuk menontonnya. Tak hanya itu, Presiden SBY pun mengundangnya secara khusus ke istana negara. Pun saat film Nagabonar (Jadi) 2 (2007) dirilis, dijadikan tontonan wajib anggota Kabinet Indonesia Bersatu atas rekomendasi Presiden SBY.

Nama Deddy Mizwar (52), pun kian populer ditengah membanjirnya aktor-aktor muda. Bahkan tampak jelas kualitas keaktorannya makin matang. Film Nagabonar (Jadi) 2, adalah bukti kemampuannya ‘melibas’ bintang-bintang muda yang tengah naik daun.

Kini lewat film dan sinetron hasil karyanya tak menggambarkan perilaku manusia secara hitam-putih. Semua karakter-karakter ‘rekaannya’ ditonjolkan begitu manusiawi dan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cerita yang disampaikan begitu  sarat pesan moral, ringan dan menghibur tanpa terkesan menggurui.

Tengok saja, sinetron Lorong Waktu produksi perdana dari Demi Gisela Citra Sinema –rumah produksi miliknya— mampu menembus angka 6 di belakang judul sinetron yang bertutur kisah-kisah sarat hikmah itu. Pun film garapannya Kiamat Sudah Dekat yang akhirnya disinetronkan yang kini telah menembus sekuel ketiga itu tayang di SCTV selama Ramadhan ini. Bahkan masih di stasiun televisi swasta yang sama, Deddy pun menghadirkan sinetron Para Pencari Tuhan bersama tiga personel grup lawak muda Bajaj. Lewat sinetron komedi terbarunya ini, Deddy sang sutradara berpesan, “Ketika manusia dan dunianya tak lagi menerima kita, maka hanya Allah Subhanahu Wata’ala yang masih sudi membuka tangan lebar-lebar.”

Jauh sebelum sinetron religi booming di layar kaca di hampir semua stasiun televisi swasta, di tahun 1990-an aktor kawakan kelahiran, Jakarta 5 Maret 1955 itu sudah memproduksinya lebih dulu. Sebut saja sinetron Mat Angin, Abu Nawas dan Hikayat Pengembara yang dibuat rumah produksi Wibawa Satria Perkasa. Tak dinyana, sinetron garapannya itu mampu bertahan hingga puluhan episode. Sinetron Abu Nawas tayang hingga 52 episode, sementara Hikayat Pengembara berhasil menembus lebih dari 100 episode. Dan lewat sinetron Mat Angin, ia menyabet penghargaan Aktor Terbaik dan sekaligus Sutradara Terbaik dalam ajang FSI 1999.

Lantas apa yang membuat dirinya tergugah untuk memproduksi sinetron atau film yang selalu mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia? “Biasanya setiap ramadhan tiba, banyak bermunculan hiburan yang religius tapi terkadang masih banyak hanya sebatas hiburan tanpa memiliki pesan yang baik,” jawab aktor yang kini menjabat sebagai Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional periode 2006-2009.

Lebih dari itu, menurutnya banyak sinetron berbau agama yang terkesan sangat menggurui, sangat hitam-putih, dan membodohi. Malah, tak sedikit sinetron religi yang sempat menduduki rating teratas dua tahun silam menggambarkan seolah Tuhan begitu kejam pada umatnya yang bersalah. Jiwanya pun berontak, saat melihat perkembangan tayangan televisi swasta yang makin memprihatinkan. “Maraknya pornografi, pornoaksi, kekerasan, dan klenik di teve, membuat hidup kita seperti binatang. Maka saya mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda sebagai alternatifnya,” tandasnya.

Di masa remajanya, ia kerap tampil dari panggung ke panggung teater. Bahkan sekolahnya pun nyaris keteteran. Saking cintanya pada dunia seni peran, putra pasangan Andries Velberg dan Sun’ah lebih memilih keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai negeri pada tahun 1976 untuk bermain film. Dan film Cinta Abadi (1976) arahan sutradara Wahyu Sihombing adalah debutan Deddy di dunia layar lebar.

Tampil apik dalam Cinta Abadi, membuat para produser dan sutradara melirik kepincut untuk mengajaknya bermain film, antara lain Menanti Kelahiran, Hamil Muda, dan Kekasih. “Tapi, setelah periode itu, selama tiga tahun saya tidak mendapat satu tawaran pun. Untunglah, pentas teater masih jalan terus,” kenang aktor yang telah membintangi 73 judul film.

Setelah tahun 1982, Deddy mulai mendapatkan tawaran main film lagi. Ia tampil membintangi Bukan Impian Semusim (1982) arahan sutradara Ami Priyono. Hasil kerja kerasnya, hampir setiap tahun namanya muncul dalam daftar nominasi di ajang Festival Film Indonesia (FFI), meski belum berhasil jadi pemenang. Diantaranya lewat film Bukan Impian Semusim, Sunan Kalijaga (1984), Saat-saat Kau Berbaring di Dadaku (1985) dan Kerikil-Kerikil Tajam (1985) namanya dijagokan sebagai Aktor terbaik.

Dan akhirnya pada ajang FFI 1986, suami dari Giselawati Wiranegara ini berhasil memboyong dua piala citra sekaligus untuk kategori Pemeran Utama Terbaik lewat film Arie Hanggara dan Pemeran Pembantu Terbaik dalam film Opera Jakarta. Selain itu, namanya pun masuk dalam nominasi aktor terbaik dalam film Kejarlah Daku Kau Kutangkap. Konon, hingga saat ini, belum ada aktor dan aktris Indonesia yang mampu menyamai prestasinya itu. Tahun berikutnya di ajang FFI 1987, ia pun berhasil menyabet Aktor Terbaik lewat aktingnya di film Nagabonar.

Meski telah menjadi bagian dari dunia artis yang terkesan glamor, tak membuatnya tenggelam ikut arus sebagaimana kebanyakan artis lainnya. Malah kini kesan alim bak ‘kiai’ lebih melekat pada dirinya. Tak jarang orang menilainya tak sekedar aktor yang mampu berperan sebagai orang alim seperti Haji Husin, Haji Romli hingga Sunan Kalijaga yang diperankannya. Tak ayal, hal ini membuatnya jengah, pasalnya ia mengaku masih dalam proses belajar agama.

Ayah dari Senandung Nacita (20) dan Zulfikar Rakita Dewa (19) terus berkomitmen untuk menghadirkan tontonan yang sarat pesan moral. Selain sebagai bentuk pertanggungjawabannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas profesinya sebagai seorang sineas. Lewat dua sinetronnya Kiamat Sudah Dekat 3 dan Para Pencari Tuhan, Deddy berharap kedua tontonan itu bisa dijadikan pesan untuk umat dalam memperlakukan orang-orang yang tengah dalam kegelapan. Seakan-akan Bang Jack mantan jagal sapi dalam sinetron Para Pencari Tuhan yang tayang di waktu sahur itu ingin menyampaikan bahwa, “Untuk insyaf pun perlu latihan.”

Tulisan ini dimuat di majalah Selatan Edisi Oktober 200

[maaf bila tulisan ini baru diposting setelah setahun diterbitkan… dan kini majalah itupun sudah tidak terbit lagi]