Antara Pilpres, Piala Dunia dan Puasa

Hiruk pikuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014 memang sudah terasa sejak setahun terakhir lalu. Pun dengan gelaran Piala Dunia 2014 di Brasil tak kalah serunya. Apalagi ketika kedua rangkaian momen itu kini bertemu dalam rentang waktu yang sama. Puasa Ramadhan yang tinggal hitungan hari seakan tenggelam di tengah gegap gempitanya dua momen tersebut. 

LOGO PILPRESBetapa tidak, ajang pilpres dengan segala manuver yang dilakukan oleh kedua kubu yang bertarung nyaris menghilangkan ghirah (semangat) umat Islam terhadap datangnya bulan Ramadhan. Rasa hormat, saling menghargai, sopan dan santun dalam aktivitas politik hilang begitu saja diantara simpatisan apalagi tim sukses. Faktanya, yang ada hanya saling serang, caci maki, saling hujat, menjatuhkan satu sama lain dengan berbagai cara. Benar-benar momen politik ini nyaris membunuh rasa tenggangrasa, tepo seliro sesama warga negara.

Gelaran pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung pada 9 Juli mendatang tentu beda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Selain digelar di tengah euforia piala dunia, hari pelaksanaan pencoblosan itu baru memasuki masa sepuluh hari kedua di bulan ramadhan. Akankah berjalan dengan baik dan lancar, serta jauh dari kecurangan, manipulasi dan praktek kotor lainnya? Tidak ada yang bisa menjamin. Bisa jadi, adanya cara-cara jahat, licik dan kotor itu sejatinya sudah berlangsung sejak masa pencapresan bergulir.

Lihat saja, aksi sebagian kalangan yang menjegal majunya salah satu capres dengan masih mempertanyakan track record Prabowo Subianto sudah datang jauh-jauh hari. Bahkan sejak mantan Danjen Kopassus ini diajukan oleh partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) beberapa waktu lalu. Pun ketika Prabowo Subianto – Hatta Rajasa telah ditetapkan sebagai pasangan capres dan cawapres yang berlaga di pilpres tahun ini, upaya penggembosan, pembunuhan karakter dengan cara membuka masa lalu yang dinilai berdarah-darah terus berlangsung. Dan sepertinya upaya ini tidak akan pernah surut.

Padahal, cara-cara yang dilakukan oleh lawan politiknya itu, terlebih bagi mereka yang berstatus sebagai umat Islam, sangat-sangat dilarang oleh ajaran Islam. Entah sadar atau tidak, lupa atau sengaja, mengerti atau tidak mengerti dengan ajaran Islam yang penuh rahmat, bagi mereka sikat bleh, hajar bleh, urusan belakangan. Ingat, bukan karena menjelang bulan puasa saja, apalagi akan ada masa kampanye yang masih dilangsungkan di bulan suci, tapi mustinya berbuat baik, saling amar makruf nahi mungkar itu bukan hanya di ramadhan saja. Sepanjang hidup sebagai umat Islam kita diwajibkan untuk ber-amar makruf nahi mungkar.

Begitu pula dengan piala dunia yang bisa disaksikan secara langsung lewat saluran televisi swasta nasional mengalihkan mata kaum muslimin. Malah mereka lebih menyambutnya dengan penuh gembira, lantaran konon ajang tanding bola sepak ini akan menjadi teman di kala sahur. Apalagi, puncak dari gelaran FIFA itu bakal berlangsung di tengah bulan puasa. Tenggelam sudah bulan ramadhan yang penuh berkah di keramaian ajang empat tahunan ini.

Okelah, piala dunia sekadar hiburan sebagaimana gelaran-gelaran serupa yang ada selama ini. Kalaulah memang, tontonan olahraga yang satu ini mampu memberi semangat umat Islam dalam menunaikan ibadah puasa khususnya di waktu sahur. Akan tetapi apakah tidak akan mengganggu kekhusyuan  ibadah qiyamul lail (sholat malam) , ibadah-ibadah jelang sahur dan atau waktu menjalankan puasa nanti. Memang, selama ini pun masyarakat khususnya umat Islam yang menunaikan ibadah sahur untuk puasa di keesokan hari selalu disuguhkan  tontonan-tontonan tv yang lebih banyak mudharat-nya (keburukan) dibanding manfaat yang didapat.

Rupanya ajang piala dunia yang membelah rangkaian pilpres sedikit mencairkan suasana perpolitikan yang kian menegang. Coba lihat, bagaimana para politisi, simpatisan maupun tim sukses di berbagai daerah bisa meredakan suhu politik dengan tontonan ini. Memang, tak dipungkiri hal itu sekedar ‘sandiwara’, sebagai pengisi ‘waktu jeda’ di padatnya jadwal kampanye dan ramainya pemberitaan seputar pilpres. Tapi, upaya saling serang, saling bantah, saling telikung masih tetap kentara tampaknya. Gelaran piala dunia hanya sekadar ‘iklan’ mahal yang boleh jadi tidak semua masyarakat menyukai atau menaruh waktu untuk yang satu ini. Beda dengan momen pilpres yang tidak hanya menjadi konsumsi orang dewasa yang masih punya tenaga, anak-anak kecil hingga para lansia pun ikut meramaikan.

Bagaimana tidak, obrolan piala dunia, pilres dan puasa ini kian menarik karena berbarengan. Kala bercengkrama dengan anak-anak di ruang televisi, beragam komentar mereka lontarkan. Kenapa capres yang itu selalu merasa dijahati padahal kenyataan memang begitu? Atau kapan Indonesia bisa tampil di piala dunia? Apakah tim Garuda Jaya yang dikawal Evan Dimas dan kawan-kawan kelak bisa masuk dalam gelaran FIFA itu? Bahkan bisa jadi saat sahur nanti kita lebih banyak menonton pertandingan bola. Begitu komentar anak-anak di rumah. Lain lagi dengan istri, tidak cukup ketika tengah bercengkrama dengan anak-anak, atau tengah asyik masak, di atas kasur pun masih tetap mengomentari ulah capres yang begitu ambisius hingga lupa dengan janjinya membenahi Jakarta. Belum lagi, harga sembako yang terus melambung, ketersediaan pasokan bahan makanan yang sepertinya dilupakan oleh pejabat pemerintah yang berwenang, karena terlalu sibuk mengurusi pilpres. Ah, rasanya magnet pilpres, piala dunia dan puasa ini begitu kuat saling tarik menarik.

Semoga, apa yang diuraikan diatas dengan apa yang dikhawatirkan itu hanyalah kekhawatiran pribadi saja. Bukan tidak mungkin, ini juga menjadi tantangan bagi pribadi ini dalam menghadapi ketiga momen yang begitu menggoda mata, pikiran dan tenaga untuk selalu ada untuknya.

Advertisements

Apa Kabar Para Caleg?

Pemilihan Umum (Pemilu) anggota legislatif baru saja usai sepekan lalu. Tak dipungkiri, pemerintah menilai pelaksanaan pemungutan suara secara umum berjalan lancar, meski tak sedikit pula yang harus diulang. Setidaknya, pencoblosan ulang dilakukan di 23 provinsi. Ada banyak penyebab yang mengharuskan diulang. Kegaduhan politik pun kian santer terdengar. Panasnya suhu politik semakin meningkat. 

8shofsdfApalagi ketika hasil penghitungan cepat (quict count) sejumlah lembaga survei dirilis di berbagai media massa. Terlebih media elektronik yang langsung mewartakan sejam setelah pemungutan dinyatakan selesai. Harap-harap cemas menggelayuti para pemangku partai politik dan calon legislatif (caleg).

Lalu apa kabar para caleg? Berhasil melenggang ke kursi dewan? atau terpental tak ke pinggiran? Karena seperti pemilu sebelumnya, kali ini peraih suara terbanyaklah yang akan bisa duduk di parlemen. Ada ribuan caleg tengah berharap. Meski angka-angka perolehan yang dirilis sejumlah lembaga survei diklaim mewakili untuk bisa menghitung keterpilihan.

Setelah berjibaku sekuat tenaga untuk bisa mendapat nomor urut, dapil dan lolos masuk dalam daftar calon sementara (DCS). Tentunya mereka berharap cemas untuk bisa tercatat dalam daftar calon tetap (DCT). Tak berhenti di situ, setelah terpampang namanya berikut foto sebagai caleg, mereka harus menyiapkan tenaga dan biaya lebih ekstra lagi. Bersaing di medan perang dalam bingkai sosialisasi, kampanye sebelum dipilih oleh masyarakat di 9 April lalu.

Tak terbantahkan lagi, betapa repotnya para caleg menyiapkan segala sesuatunya. Siapapun dia. Hanya saja yang membedakan adalah tingkat ketebalan lembaran rupiah sebagai amunisi menghadapi pileg kemarin dan modal sosial yang pernah ditanam, serta tingkat popularitasnya di mata masyarakat. Semua itu bisa terlihat dengan kasat mata. Meski pada akhirnya, pilihan masyarakat itu akan dibuktikan pada saat pencoblosan.

Kerepotan dan kegelisahan kian menjadi ketika pemungutan suara dinyatakan usai. Boleh jadi, caleg tidak sekadar mengawal perolehan suara pribadinya, tapi ada kewajiban menjaga suara partai pula. Dan bisa jadi peperangan berikutnya baik antar caleg maupun partai yang sesungguhnya itu terjadi usai pemungutan suara selesai. Pasalnya, sabotase, penilepan angka-angka hasil penghitungan hingga jual beli suara bukan sekadar isu belaka, tapi memang terjadi. Inilah yang membuat ketar-ketir sekaligus ajang tawar-menawar para caleg. Wani piro?

Sebagai bumbu-bumbu dari hingar bingar politik tak lain adalah tersiarnya caleg-caleg yang stress, lantaran kurang siap menghadapi kenyataan. Peran media massa lewat pemberitaan seputar perilaku caleg, termasuk manuver partai politik dalam menyikapi hasil sementara pemilu kian sedap. Sepertinya, tak ada berita yang begitu nikmat dilahap, selain tingkah polah elite partai dan para calegnya dalam memperebutkan kursi. Meski diakui, aktivitas para caleg dalam mengawal suara tak seheboh waktu kampanye. Karena memang, biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Layaknya perang gerilnya, operasi senyap itu terus merangsek ke penyelenggara pemilu (KPU dan perangkatnya) mulai dari kelurahan, kecamatan, kabupaten hingga pusat.

Semoga apa yang dilakukan para caleg baik yang mungkin diprediksi lolos maupun tidak lolos masih tetap dalam koridornya. Mau bersikap jantan dalam menyikapi hasil dan keputusan yang bakal dikeluarkan lembaga penyelenggaran pemilu (KPU). Meski bisa jadi, keputusan itu dihasilkan dari deal-deal tertentu atai bahkan sebuah kecurangan yang mungkin secara kasat mata tak nampak. Rasanya, tenang bila apa yang diperoleh caleg memang benar-benar itu hasil dari perjuangan yang benar dan sesuai aturan. Dan sejatinya, mereka pun tak merasa tenang ketika apa yang diraihnya itu dilalui atau malah dipenuhi kecurangan. Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui. semoga…

Lama Sudah

Lama sudah blog ini tak di-update seperti sebelumnya. Ya, diakui memang, sejak keluar dari manajemen Globe Media Group (GMG) khususnya untuk penerbitan VIEW magazine –majalah panduan nonton tv berbayar First Media– saya nyaris tak sempat posting. Banyak alasan yang membuat saya hampir melupakan blog ini, meski secara berkala saya kunjungi namun tak ada keinginan untuk memposting sejak saat itu. Padahal bisa saja saya posting satu tulisan atau beberapa artikel yang sudah dipublish di beberapa media, seperti sebelumnya.

Memang, kondisi itu berimbas pada beberapa blog lainnya yang saya bangun. Rupanya keinginan ngeblog kembali datang ketika aktifitas jurnalistik kembali menyibuki diri ini. Saat ini selain ikut mengembangkan majalah internal salah satu partai politik dan majalah internal sebuah LSM, saya pun mencoba menjajal untuk mengasah kemampuan menulis dengan ikut terlibat dalam proyek penulisan beberapa buku. Semoga dengan niatan ini, saya bisa kembali istiqomah menghiasi blog ini. semoga 🙂

Marhaban Ya Ramadhan

Selamat Datang Bulan Ramadhan

Tanpa disadari…

11 bulan banyak kata sudah diucapkan dan dilontarkan, tak semua menyejukkan….

11 bulan banyak perilaku yang sudah dibuat dan diciptakan, tak semua menyenangkan….

11 bulan banyak keluhan, kebencian, kebohongan menjadi bagian dari diri…

saatnya istirahat dalam perjalanan dunia

saatnya membersihkan jiwa yang berjelaga

saatnya menikmati indahnya kemurahan-Nya

saatnya memahami makna penyucian diri

Selamat menunaikan ibadah puasa, bersama kita leburkan kekhilafan…

Semoga dengan puasa, mempertemukan kita dengan Keagungan Lailatul Qadar

Semoga kita semua menjadi pilihan-Nya untuk dikabulkan doa-doa dan kembali ke fitrah…

Selamat Berpuasa… amiin

Bukan Karena Dia Pamanku

Saban sore selepas Ashar hingga petang rumah kami memang selalu ramai dengan kehadiran anak-anak tetangga yang belajar mengaji pada emak dan mama. Pun dengan selepas magrib giliran remaja dewasa yang datang bersimpuh di lantai beralas tikar. Di ambang sore itu pula –saat kami bercengkrama dengan anak-anak seusianya atau sekedar menyapu halaman, Mang (pak) Mur, pedagang Es Campur lewat menjajakan dagangannya itu.

Dan, setiap dia melewati rumah kami itulah dia berhenti sejenak dan menyuruh kami untuk mengambil 5 mangkok. Pastinya kami bergegas masuk rumah dan kembali dengan menenteng 5 mangkok yang dimintanya itu. Beberapa menit kemudian, mangkok-mangkok itu telah berisi Es Campur yang nikmatnya begitu menggoda. Terlebih kala panas mentari masih terasa menyengat. 5 mangkok berisi Es Campur itu diberikannya gratis.

Apa yang dilakukannya itu boleh dibilang rutin saban hari secara cuma-cuma. Dan anehnya kami tak pernah bosan menikmati Es Campur buatannya itu. Bahkan terkadang, kami pun selalu menyambangi rumahnya untuk membelinya. Tapi, dia selalu menolak setiap kali kami menyodorkan uang seharga Es Campur itu.

Itulah peristiwa 20 tahun silam. Tapi ingatan itu kembali kemuka, ketika sore itu saya tengah asyik ngobrol bareng Emak di beranda depan. Emak yang tengah menikmati rujak, sementara adik-adik tengah bercengkrama dengan teman-temannya. Tentunya kini tidak anak-anak lagi. Ketika Mang Mur melewati rumah dan mendapati kami tengah asyik di beranda depan, saya yang tentunya jarang bertemu dengannya segera menghampirinya sekedar untuk bersalaman sebagai tanda hormat seorang anak kepada orangtua. “Mau Es ga? Ambil Mangkok sana!” ujarnya usai berbasa-basi denganku. Sejurus kemudian, kusuruh adikku untuk mengambil 5 mangkok sesuai permintaanya. Tak lama kemudian mangkok-mangkok berisi Es Campur pun telah siap diseruput kami. Ya, tentu peristiwa itu mengingatkan kami 20 tahun silam kala kami masih bocah ingusan.

Sebelumnya saya tak pernah mengerti kenapa dia selalu memberikan barang dagangannya itu kepada kami secara cuma-cuma? Dan hal itu dilakukan saban hari setiap dia lewat rumah kami. Tapi akhirnya perlahan kami mengerti dengan yang dilakukannya terhadap kami.

Rupanya apa yang dilakukan Mang Mur –yang tak lain adalah Mamang (paman) kami, dimana dia adalah suami dari adik mamak kami– tak lain sekedar untuk berbagi apa yang menjadi barang dagangannya. Padahal jika 5 mangkok itu diminta oleh orang lain tentunya bisa menghasilkan lembaran rupiah. Tapi dia lakukan begitu ikhlas, tanpa pamrih. Bukan karena dia paman kami atau maksud lain, tapi sekedar istiqomah untuk selalu bersedekah. Dia bersedekah dengan apa yang dia punya, yakni Es Campur, meski itu barang dagangannya yang tentunya membutuhkan modal. Dan terlebih hasil jerih payahnya itu tengah dinanti keluarganya di rumah.

Menurutnya, selama ini dia tidak bisa memberikan apa-apa kepada keponakan ataupun kerabat yang lainnya, selain Es Campur buatannya itu. Dia pun ingin hasil usahanya (membuat Es Campur) yang selalu dinanti pelanggannya saban hari itu bisa dirasakan oleh sanak saudaranya. Untuk itu pun rupanya sejak dulu diapun beranggapan bersedekah yang baik itu kepada saudara kerabat terdekat terlebih dahulu, baru orang lain.

Apa yang dilakukan olehnya tak beda pula dengan yang dijalankan orang-orang disekitar kami. Istrinya misal, selalu menawarkan docang (salah satu makanan khas cirebon) kepada kami bila menamu di rumahnya. Pun dengan bibi, mamang dan uwa yang berprofesi ‘berdagang’ hasil olahan sendiri selalu demikian. Tanpa basa-basi mereka selalu menghadiahi tangan ini dengan buah tangan berupa hasil olahan mereka.

Dan jangan heran bila kita semua sering atau paling tidak pernah mengalami hal ini.  Mereka tidak pernah berfikir  bila memberi itu akan merugi. Karena mereka yakin apa yang mereka berikan itu tentu dan pasti besar kecilnya akan dibalas oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Kalaupun bukan untuk dirinya, bisa jadi untuk istri, anak-anaknya atau kerabat yang lain.

Ya memang, jika kita ingin bersedekah, maka bersedekahlah terlebih dahulu kepada kerabat, saudara terdekat kita terlebih pada orangtua. Bukan karena ‘nepotisme’ atau mengsampingkan keberadaan orang lain, tapi memang itulah tuntunan agama.

Jadi jika kita hendak memberi bantuan kepada saudara, kerabat famili kita, usahakan diniatkan itu sebagai sedekah, jangan sampai tidak. Semua itu agar tidak sia-sia dan apa yang kita berikan pun akan menjadi saksi di hari akhir nanti. Tentunya semua itu harus dilandasi dengan  keikhlasan.

Sekedar mengingat masa kanak-kanan dulu, tapi ternyata hal itu masih berlaku hingga dewasa kini, apalagi kami jarang bertemu. Sebulan, tiga bulan hingga setahun mungkin baru bersua.

Terimakasih Mang, atas Es Campurnya…. kupanjatkan doa disetiap seruputan lezatnya Es Campur buatanmu itu. Meski kau tak pernah mengharap. Karena kami tahu semua itu hanya karena mengharap ridlo-Nya atas usahamu.

Wabah Facebooking

originalfacebookingEntah ini sekedar perasaanku saja atau memang semua orang yang terakses dengan dunia maya [internet] merasa pula dijangkiti virus bernama facebook. Dan memang, ternyata ketika bersua dengan rekan kerja di lapangan selalu diburu pertanyaan, “punya facebook? add dong?” Nah lo pertanyaan itu tak sekedar datang dari seseorang teman, namun ketika di tempat lain pun sama. Bahkan saya sempat dibilang ‘tak asik’ rasanya bila tak punya facebook. Pun ketika saya meliput sebuah peluncuran novel dari sang novelis hebat, diantara yang hadir adalah facebooker. Dan salah satu pengundang pun ketika saya tanya, ada hubungan apa dengan si penulis, dia dengan enteng menjawabnya, “saya kenal dengan dia di facebook,” gubrak!!

Seperti tidak kalah kuatnya, facebook pun melanda istriku yang setahu saya tak begitu suka dengan satu dari sekian fasilitas ‘social networking’ dewasa ini. Suatu ketika dia invite saya untuk segera bergabung di facebook, namun lagi-lagi vaksinku begitu kuat untuk menghadapi godaannya untuk segera bergabung. Dan ternyata, ketika dia bersua dengan teman-temannya, perbincangannya tak jauh-jauh dari aktivitas facebooking mereka. Padahal bertelepon pun iya. Huh… lagi-lagi setelah saya googling wajah istriku pun terpampang di facebook, dan memang setelah saya liat di friendlist-nya setengahnya saya kenal dengan baik. Halah…

Kembali dengan teman-temanku di lapangan, lagi-lagi saya dibilang ga gaul, ga uptodate… walah? Padahal secara hari-hari kerja saya memang hampir tak pernah lepas dari akses internet. Dan juga beberapa blog pun sudah saya lahirkan lewat fasilitas Multiply dan WordPress.

Akhirnya apa daya, kini rupanya virus facebook itu telah merasuk ke jemari ini untuk ikut-ikutan menetakkannya sekedar posting yang tidak penting seperti yang sedang anda baca ini. Dan hari ini pun akhirnya saya meng-approve beberapa teman yang me-request. Pun ketika saya masuk ke facebook istri, setelah saya lihat-lihat beberapa barisan temannya saya pun kepincut untuk meng-add-nya sebagai teman… hahahahaha

Nah, bagi yang mau melongok facebook yang dimaksud coba searching di facebook dengan ID:  izoruhai ru

note: image didapat dari pakde gugel