Surat Noura kepada Fahri

Beginilah orang yang dirundung nestapa. Gambaran diri yang digambarkan gadis yang tengah merindukan sosok lelaki. Betapa merananya sang gadis…

Bagi yang pernah membaca novel atau menonton filmnya “Ayat-ayat Cinta” pasti akan mengembalikan ingatannya pada peristiwa itu. Bagaimana sang gadis bernama Noura begitu merindukan lelaki asal Indonesia Fahri. Pun dengan segala caranya untuk bisa mendapatkan dirinya…

Kepada:
Fahri bin Abdillah, seorang mahasiswa
dari Indonesia yang lembut hatinya dan berbudi mulia

Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh.
Kepadamu kukirimkan salam terindah, salam sejahtera para penghuni surga. Salam yang harumnya melebihi kesturi, sejuknya melebihi embun pagi. Salam hangat sehangat sinar mentari waktu dhuha. Salam suci sesuci air telaga Kautsar yang jika direguk akan menghilangkan dahaga selama-lamanya. Salam penghormatan, kasih dan cinta yang tiada pernah pudar dan berubah dalam segala musim dan peristiwa.

Wahai orang yang lembut hatinya,
Entah dari mana aku mulai dan menyusun kata-kata untuk mengungkapkan segala sedu sedan dan perasaan yang ada di dalam dada. Saat kau baca suratku ini anggaplah aku ada dihadapanmu dan menangis sambil mencium telapak kakimu karena rasa terima kasihku padamu yang tiada taranya.

Wahai orang yang lembut hatinya,
Sejak aku kehilangan rasa aman dan kasih sayang serta merasa sendirian tiada memiliki siapa-siapa kecuali Allah di dalam dada, kaulah orang yang pertama datang memberikan rasa simpatimu dan kasih sayangmu. Aku tahu kau telah menitikkan air mata untukku ketika orang-orang tidak menitikkan air mata untukku.

Wahai orang yang lembut hatinya,
Ketika orang-orang di sekitarku nyaris hilang kepekaan mereka dan masa bodoh dengan apa yang menimpa pada diriku karena mereka diselimuti rasa bosan dan jengkel atas kejadian yang sering berulang menimpa diriku, kau tidak hilang rasa pedulimu. Aku tidak memintamu untuk mengakui hal itu. Karena orang ikhlas tidak akan pernah mau mengingat kebajikan yang telah dilakukannya. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang saat ini kudera dalam relung jiwa.

Wahai orang yang lembut hatinya,
Malam itu aku mengira aku akan jadi gelandangan dan tidak memiliki siapa-siapa. Aku nyaris putus asa. Aku nyaris mau mengetuk pintu neraka dan menjual segala kehormatan diriku karena aku tiada kuat lagi menahan derita. Ketika setan nyaris membalik keteguhan imanku, datanglah Maria menghibur dengan segala kelembutan hatinya. Ia datang bagaikan malaikat Jibril menurunkan hujan pada ladang-ladang yang sedang sekarat menanti kematian. Di kamar Maria aku terharu akan ketulusan hatinya dan keberaniannya. Aku ingin mencium telapak kakinya atas elusan lembut tangannya pada punggungku yang sakit tiada tara. Namun apa yang terjadi Fahri?

Maria malah menangis dan memelukku erat-erat. Dengan jujur ia menceritakan semuanya. Ia sama sekali tidak berani turun dan tidak berniat turun malam itu. Ia telah menutup kedua telinganya dengan segala keributan yang ditimbulkan oleh ayahku yang kejam itu. Dan datanglah permintaanmu melalui sms kepada Maria agar berkenan turun menyeka air mata dukaku. Maria tidak mau. Kau terus memaksanya. Maria tetap tidak mau. Kau mengatakan pada Maria: ‘Kumohon tuturlah dan usaplah air mata. Aku menangis jika ada perempuan menangis. Aku tidak tahan. Kumohon. Andaikan aku halal baginya tentu aku akan turun mengusap air matanya dan membawanya ke tempat yang jauh dari linangan air mata selama-lamanya. Maria tetap tidak mau.” Dia menjawab: “Untuk yang ini jangan paksa aku, Fahri! Aku tidak bisa.” Kemudian dengan nama Isa Al Masih kau memaksa Maria, kau katakan, “Kumohon, demi rasa cintamu pada Al Masih.” Lalu Maria turun dan kau mengawasi dari jendela. Aku tahu semua karena Maria membeberkan semua. Ia memperlihatkan semua kata-katamu yang masih tersimpan dalam handphone-nya. Maria tidak mau aku cium kakinya. Sebab menurut dia sebenarnya yang pantas aku cium kakinya dan kubasahi dengan air mata haruku atas kemuliaan hatinya adalah kau. Sejak itu aku tidak lagi merasa sendiri. Aku merasa ada orang yang menyayangiku. Aku tidak sendirian di muka bumi ini.

Wahai orang yang lembut hatinya,
Anggaplah saat ini aku sedang mencium kedua telapak kakimu dengan air mata haruku. Kalau kau berkenan dan Tuhan mengizinkan aku ingin jadi abdi dan budakmu dengan penuh rasa cinta. Menjadi abdi dan budak bagi orang shaleh yang takut kepada Allah tiada jauh berbeda rasanya dengan menjadi puteri di istana raja. Orang shaleh selalu memanusiakan manusia dan tidak akan menzhaliminya. Saat ini aku masih dirundung kecemasan dan ketakutan jika ayahku mencariku dan akhirnya menemukanku. Aku takut dijadikan santapan serigala.

Wahai orang yang lembut hatinya,
Sebenarnya aku merasa tiada pantas sedikit pun menuliskan ini semua. Tapi rasa hormat dan cintaku padamu yang tiap detik semakin membesar di dalam dada terus memaksanya dan aku tiada mampu menahannya. Aku sebenarnya merasa tiada pantas mencintaimu tapi apa yang bisa dibuat oleh makhluk dhaif seperti diriku.

Wahai orang yang lembut hatinya,
Dalam hatiku, keinginanku sekarang ini adalah aku ingin halal bagimu. Islam memang telah menghapus perbudakan, tapi demi rasa cintaku padamu yang tiada terkira dalamnya terhunjam di dada aku ingin menjadi budakmu. Budak yang halal bagimu, yang bisa kau seka air matanya, kau belai rambutnya dan kau kecup keningnya. Aku tiada berani berharap lebih dari itu. Sangat tidak pantas bagi gadis miskin yang nista seperti diriku berharap menjadi isterimu. Aku merasa dengan itu aku akan menemukan hidup baru yang jauh dari cambukan, makian, kecemasan, ketakutan dan kehinaan. Yang ada dalam benakku adalah meninggalkan Mesir. Aku sangat mencintai Mesir tanah kelahiranku. Tapi aku merasa tidak bisa hidup tenang dalam satu bumi dengan orang-orang yang sangat membenciku dan selalu menginginkan kesengsaraan, kehancuran dan kehinaan diriku. Meskipun saat ini aku berada di tempat yang tenang dan aman di tengah keluarga Syaikh Ahmad, jauh dari ayah dan dua kakakku yang kejam, tapi aku masih merasa selalu diintai bahaya. Aku takut mereka akan menemukan diriku. Kau tentu tahu di Mesir ini angin dan tembok bisa berbicara.

Wahai orang yang lembut hatinya,
Apakah aku salah menulis ini semua? Segala yang saat ini menderu di dalam dada dan jiwa. Sudah lama aku selalu menanggung nestapa. Hatiku selalu kelam oleh penderitaan. Aku merasa kau datang dengan seberkas cahaya kasih sayang. Belum pernah aku merasakan rasa cinta pada seseorang sekuat rasa cintaku pada dirimu. Aku tidak ingin mengganggu dirimu dengan kenistaan kata-kataku yang tertoreh dalam lembaran kertas ini. Jika ada yang bernuansa dosa semoga Allah mengampuninya. Aku sudah siap seandainya aku harus terbakar oleh panasnya api cinta yang pernah membakar Laila dan Majnun. Biarlah aku jadi Laila yang mati karena kobaran cintanya, namun aku tidak berharap kau jadi Majnun. Kau orang baik, orang baik selalu disertai Allah.

Doakan Allah mengampuni diriku. Maafkan atas kelancanganku.

Wassalamu’alaikum,
Yang dirundung nestapa,

Noura

Perangkap Tikus

Di sebuah perkampungan petani yang terletak di lembah hijau hiduplah sepasang suami istri yang mengandalkan kebutuhan hidupnya dari bercocok tanam. Ya, mereka adalah Pak Karta dan Bu Karta yang menempati rumah bilik hanya berdua. Selain bertani, di perkampungan itu hanya Pak Karta yang memelihara hewan ternak ayam, kambing dan sapi masing-masing seekor. Itupun pejantan semua. Maklum tujuan Pak Karta bukan untuk beternak, melainkan sebatas hobi saja. Terkadang ayam jagonya diikutsertakan dalam adu ayam di kampung seberang. Begitu juga dengan kambing bandotnya walaupun tak pernah menang. Namun lain halnya dengan sapi, hewan itu hanya dimanfaatkan tenaganya untuk membajak sepetak sawahnya. Selain hidup pas-pasan, Pak Karta dan Bu Karta juga belum dikaruniai anak seorang pun.

Rumah biliknya yang terletak tepat dipinggir sawah miliknya itu pun nampak sepi, apalagi jika senja tiba yang terdengar hanyalah suara jangkrik atau nyanyian kodok sawah. Maklum perkampungan yang berada di balik pegunungan itu jauh dari kota.

Suatu hari Bu Karta ngomelngomel, gara-gara dapurnya selalu berantakan. “Pasti ini ulah tikus-tikus sialan itu,” gerutunya.

Karena kesal, bu Karta minta dibelikan perangkap tikus pada suaminya. Pak Karta pun segera beranjak ke kota yang jaraknya 50 kilometer dari rumahnya. Sore itu juga Pak Karta menenteng sebuah alat perangkap tikus yang terbuat dari kawat yang dibelinya di pasar. Tak lama kemudian Bu Karta memotong sebagian tempe yang dibelinya di warung sebagai umpan dan dipasangnya di perangakap. Setelah siap perangkap itu diletakkan di tempat yang sering menjadi sasaran tikus.

Saat malam tiba, Tiki dan Tiku, sepasang tikus yang selalu datang ke rumah Pak Karta terkejut melihat ada perangkap yang disiapkan oleh empunya rumah.

“Awas Tiku, jangan ambil tempe itu, nanti kamu terperangkap,” ujar Tiki mengin            gatkan Tiku yang dari tadi mengamati perangkap itu.

“Tapi, sepertinya di dapur ini tidak ada makanan yang bisa kita bawa pulang untuk anak-anak kita?”

“Mungkin belum rezeki kita, ayo kita cari di tempat lain saja,” ajak Tiki.

Akhirnya kedua tikus itu keluar meninggalkan rumah tanpa membawa makanan secuil pun. Padahal malam itu mereka sangat lapar. Ditengah perjalanan mereka bertemu dengan Kobra, si ular berbisa yang selama ini mereka takuti selain predator (pemangsa) lainnya dan manusia. Dengan hati-hati Tiki dan Tiku berjalan jinjit menjauhinya, karena takut dimangsanya. Tanpa diduga Kobra hanya mendesis dan mengatakan bahwa dia tidak akan memangsanya.

Setelah berhasil lolos dari bahaya ular, sebelum keduanya melompati pagar halaman belakang berpasasan dengan Jago milik Bu Karta. Mereka pun berbincang-bincang sejenak.

“Eh… Jago, kenapa sih  Bu Karta, majikanmu itu memasang perangkap buatku. Padalah kami hanya mengambil sisa makanan yang memang sudah dibuang oleh mereka di dapur?”

“Wah, apa pedulinya saya. Yang penting saya tiap hari diberi makanan olehnya,”

“Kok, kamu jawabnya begitu sih. Seharusnya sesama makhluk hidup harus tolong menolong dong,” timpal Tiku sambil meninggalkan Jago.

Tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara gerutukan gigi-gigi kambing yang persis ada di sebelah kandang ayam.

“Dari mana kalian, kok sepertinya lesu gitu?”

“Iya, nih Bu Karta memasang perangkap buat kami, jadinya kami takut untuk mencari sisa-sisa makanan di dapurnya,”

“Takut terperangkap,” sambung Tiki.

“Oh, begitu ya… kasihan deh kalian, makanya jangan suka mencuri makanan orang lain!”

“Bukan… bukan… kami tidak mencurinya, kami hanya mengambil sisa-sisa makanan yang mereka buang ditempat sampah yang ada di dapurnya.”

Rupanya obrolan mereka didengar oleh Sapi yang mencoba bangun dari duduknya. Tiki dan Tiku pun mengeluhkan hal yang sama pada Sapi.

“Kenapa, Bu Karta memasang perangkap tikus ya?” tanya Tiku pada sapi yang sedang asyik mengunyah rumput gajah.

“Yang pasti itu untuk menangkap kamu berdua yang sering mengambil makanan yang ada di dapur. Makanya jangan suka mengambil milik orang,” jawab Sapi.

“Maaf kami bukan pencuri, sekali lagi kami bukan pencuri, kami hanya mengambil sisa-sisa makanan yang telah dibuang oleh mereka,” jawab Tiku gemas sambil menarik Tiki untuk bergegas pergi.

Akhirnya kedua tikus itu kembali menemui keluarganya yang telah lama menunggu. Malam itu, keluarga Tiki dan Tiku terpaksa berpuasa. Mereka takut jika semua penduduk memasang perangkap untuknya. Disamping itu mereka pun harus terus waspada terhadap bahaya dari incaran burung hantu yang sewaktu-waktu datang menyambar anak-anak mereka.

Sayup-sayup terdengar Jago berkukuruyuk, tanda pagi akan tiba. Namun tidak seperti biasanya, rumah Pak Karta mendadak rame. Menurut kabar yang beredar, Bu Karta mengalami demam yang cukup tinggi, gara-gara dipatuk ular kobra. Kejadiannya waktu itu, Bu Karta hendak memasak air, tiba-tiba dia kaget setelah mendapati umpan itu berada di luar perangkap. Padahal perangkap itu telah dipasang dengan baik.

“Lha, kok ini bisa… siapa yang mengambil ya… apa iya tikus-tikus itu? Tapi kok tidak terjebak.”

“Aduuuuuhhh… ular sialan,” jeritnya sambil kakinya menendang ember yang ada didepannya.

Rupanya pergelangan tangannya dipatuk ular berbisa yang dari tadi bersembunyi dibalik tutup gentong air.

Bu Karta pun menjerit-jerit memanggil suaminya. Tak lama kemudian tetangga pun berdatangan untuk mengetahui apa yang terjadi dengannya. Tidak lebih dari satu jam Bu Karta akhirnya jatuh pingsan. Panas badannya pun semakin tinggi.

Seperti biasanya untuk memberikan pertolongan, tetangganya menyarankan Pak Karta untuk membuat sop ayam guna menurunkan demam. Tanpa pikir panjang, Pak karta pun segera membawa jago kesayangannya untuk disembelih kemudian dimasak sop ayam.

Setelah tiga hari berlalu demam Bu Karta tidak turun-turun, malah semakin tinggi. Pak Karta makin panik, lebih lagi karena tamu yang menjenguk kondisi istrinya semakin bertambah. Tapi Pak Karta tidak mempunyai apa-apa lagi untuk menjamu tamu yang sedang menjenguk istrinya. Akhirnya sebagai jalan keluarnya Pak Karta menyembelih kambing bandotnya dan dimasak untuk menjamu para tamu dan kerabat yang datang.

Seminggu kemudian, demam Bu Karta bukannya turun malah semakin tinggi dan akhirnya nyawanya tak tertolong lagi. Dia meninggal sebelum dokter dari kota yang dijanjikan kepala desa itu datang membantu.

Tentu saja Pak Karta semakin sedih, selain itu dia panik karena tamu yang datang lebih banyak dari hari-hari sebelumnya. Atas saran kerabatnya, akhirnya Pak Karta pun menyuruh Pak Jana tukang jagal untuk menyembelih Sapi satu-satunya untuk selanjutnya dimasak guna menghormati para pelayat dan keperluan makan ala kadarnya selama tujuh hari peringatan wafatnya Bu Karta.

Mendengar hal itu, Tiki dan Tiku ikut sedih juga. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Selain berserah diri pada sang Pencipta.

Buruk Rupa

Dani dan Nina memang dianggap oleh teman-teman kelasnya, bahkan satu sekolah itu sebagai anak yang buruk rupanya. Kulit wajah dan tubuh Dani berbeda dari kulit normal. Kulitnya bersisik seperti kulit ikan. Nina sendiri walaupun anaknya cantik, tapi kulit wajah dan tubunya ditumbuhi bulu halus begitu lebat seperti binatang singa. Walaupun begitu, kedua anak ini termasuk anak yang pandai dan rajin. Nina berasal dari keluarga berada. Wajar jika tidak ada yang berani usil pada Nina. Lain halnya dengan Dani anak tukang sol sepatu keliling ini selalu merasa minder dengan kondisi tubuhnya. Sehingga selalu menjadi bahan olokan teman-teman sekolahnya. Tapi semangat untuk belajar dan sekolah Dani tidak kalah dengan Nina. Bahkan dia pun harus mencari uang dengan mengamen di pasar guna membiayai sekolahnya.

Siang itu, Nina menyempatkan diri berkunjung ke rumah Dani. Namun yang dicari tidak ada. Nina hanya bertemu adiknya, Dina sedang menunggui ibunya yang terbaring sakit.

“Ibumu kenapa? Terus mana kakakmu? Kok tidak sekolah?” tanya Nina penasaran.

“Kak Dani sedang ngamen di pasar. Kak Dani bilang nanti uangnya untuk membeli obat,” ujar Dina sambil menceritakan asalan dia dan kakaknya tidak sekolah.

Mendengar cerita itu, Nina langsung bergegas menuju Pak Said, sopir keluarga yang selalu mengantar kemanapun dirinya pergi. Tak lama kemudian keduanya kembali masuk ke dalam rumah. Lalu tanpa pikir panjang, Nina menyuruh Pak Said memapah Emak ke dalam mobil.

“Ayo, Pak kita bawa ke rumah sakit, biar papa yang memeriksa penyakit Emak,”

“Kalo begitu, kamu cari kakakmu dan bapak, terus nyusul ke rumah sakit. Emak saya dan pak Said yang bawa. Kamu tahu kan rumah sakitnya?” sambung Nina.

“Tapi… Kak!”

“Sudah! Tidak ada tapi-tapian… nanti emak biar saya dan Pak Said yang urus, oke!”

Di ruang periksa Dokter Dedi yang tak lain papanya Nina tengah memeriksa emak. Dani dan Dina langsung nyelonong masuk ke ruangan.

“Lo, kalian siapa? Oh, pasti kalian temannya Nina ya?”

“Ya, Sus, bagaimana kondisi Emak?” tanya Dani cemas.

“Tenang saja, dokter sedang memeriksanya, silahkan tanyakan pada dokter,” jawab suster.

“Tak usah khawatir. Ibumu tidak apa-apa, hanya demam saja. Untung cepat dibawa ke sini,” ujar dokter itu menenangkan kedua bocah teman sekolah anaknya.

“Terima kasih pak dokter. Nina kamu memang teman yang baik, tidak seperti teman-teman di sekolah yang bisanya hanya mengejek diriku.”

Tak lama kemudian Pak Eman, ayahnya Dani tiba dan ikut berbincang-bincang dengan dokter sambil menunggu obat yang sedang ditebus Pak Said. Akhirnya Emak pun diperbolehkan pulang. Karena arahnya sama, mereka pun pulang bareng. Tak lupa Dokter Dedi pun memberikan obat-obatan yang baru saja ditebus Pak Said di apotik rumah sakit itu.

“Gimana caranya agar teman-teman di sekolah tidak mengejek kita lagi ya Pa?” tanya Nina di sela-sela obrolan mereka dalam perjalanan pulang.

“Gampang kok! Sekrang Nina dan Dani memiliki keahlian apa?”

Dani dan Nina bengong tidak mengerti apa yang dimaksud dengan omongan papanya.

“Kok jadi bengong, kenapa?”

“Baiklah, caranya kalian harus tunjukkan bahwa kalian ini mempunyai kelebihan tersendiri dibanding dengan teman-teman kalian. Nanti mereka tidak akan berani lagi mengejek. Bahkan bisa jadi mereka akan lebih dekat dengan kalian. Bagaimana?”

“Wah… Nina mengerti Pa! Begini saja, suara saya kan lumayan, selain itu saya juga bisa menari balet. Sedangkan Dani, dia mahir memetik gitar bahkan memainkan biola. Gimana?”

“Ya, kalau begitu bagaimana kalau pada acara perpisahan kakak kelas kalian nanti kamu dan Dani tampil di panggung?”

“Tapi… Pak Dokter gitar saya sudah rusak, apalagi biola, saya tidak punya.”

“Tak usah khawatir… sekarang kalian latihan yang rajin. Papa akan meminta izin kepada kepala sekolah kalian untuk bisa pentas pada acara itu,” ujar Dokter Dedi memberi semangat kepada keduanya.

Waktu perpisahan pun tiba. Di sebuah Mading (Majalah Dinding) yang ada di sudut ruang guru terpampang pengumuman susunan acara perpisahan. Di dalam pengumuman itu tercantum nama Dani dan Nina sebagai pengisi acara. Tentu saja membuat murid-murid sekolah itu penasaran. Gerangan apa yang akan ditampilkan oleh kedua murid kelas V itu.

“Bisa apa Dani. Apalagi Nina. Jangan-jangan mereka akan menampilkan pertunjukan topeng monyet,” ujar Beni dan teman-temannya sambil tertawa terbahak-bahak.

Detik-detik pentas seni pun tiba. Pagi itu Dani mengenakan jas hitam dan dasi kupu-kupu yang dibelikan orangtuanya Nina. Sedang Nina sendiri mengenakan kostum ala Barbie berwarna merah jambu.

“Tibalah saatnya kita saksikan penampilan teman kita, Dani dan Nina yang akan membawakan tarian balet diiringi dengan alunan biola,”

“Huuu…”

“Tenang, anak-anak. Murid ibu tidak boleh begitu. Mari kita saksikan bersama-sama,” ujar Ibu Wati sang kepala sekolah menenangkan anak didiknya.

Suasana hening sejenak. Panggung masih kosong. Dani yang dari tadi berada di belakang panggung mendadak gugup dengan ejekan tadi. Untunglah Nina terus memberi semangat.

“Ayo, Dani naik! Kapan lagi kita bisa tunjukan pada mereka, kalau tidak sekarang!”

“Huuu… mana berani dia,” celetuk seorang murid.

Tentu saja hal ini membuat nyali Dani makin ciut. Tak lama kemudian papa dan mamanya Nina datang. Melihat hal itu, mereka langsung menemui anaknya yang ada di belakang panggung dan memberi semangat pada Dani.

“Dani! ayo lakukan, jika kau tidak mau diejek terus oleh teman-temanmu!”

Dengan langkah yang berat, Dani menaiki tangga podium diikuti Nina.

“Huuu…” sambutan teman-temannya.

Plok… plok… plok… tiba-tiba suara tepukan berasal dari pojok ruangan membuyarkan murid-murid yang dari tadi riuh.

“Tenang anak-anak! Ayo kita belajar menghormati orang lain,” ujar Pak Gandi, ketua Komite Sekolah sambil berjalan menuju panggung.

Murid-murid beserta orangtua pun diam seketika. Maklum Pak Gandi, ketua Komite Sekolah itu seorang pejabat di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional.

Gesekan biola itu mengalunkan irama klasik karya Mozart atau Bethoven mulai terdengar. Begitu pula dengan gerakan licah Nina membuat para hadirin terpana dengan tontonan yang ada di depan mata mereka. Tanpa terasa irama dan gerakan itupun berakhir. Tapi hadirin masih terdiam terkesima.

“Yes… kamu bisa!” teriak Pak Dedi dari sudut panggung membuyarkan para hadirin yang masih terdiam. Tanpa dikomandoi, hadirin pun tepuk tangan dengan penuh kegembiraan.

Nina pun membungkukkan badan, tanda memberi hormat kepada hadirin. Sebelum meninggalkan panggung, Nina menyambar mikrophon dan mengucapkan rasa terima kasihnya kepada kepala sekolah dan guru serta teman-temannya yang telah memberikan kesempatan pada dirinya dan Dani.

“Terima kasih, guru-guru kami, orangtua di sekolah ini, tanpa bimbinganmu kami tidak bisa seperti ini. Dan saatnya kita saksikan kembali kepiawaian teman kita Dani dalam memetik gitar,”

“Teman-teman, izinkanlah saya membawakan lagu yang selama ini kita sukai bersama yaitu sebuah lagu Ada Apa Denganmu dari Peterpan.”

Mendengar hal itu, murid-murid pun berdiri bertepuk tangan memberikan dukungan pada Dani. Kegembiraan pun bertambah setelah Dani melantunkan beberapa lagu dari albumnya Peterpan. Tidak hanya itu dia membawakan lagu Jujur milik Radja yang sedang digandrungi anak-anak. Diakhir penampilannya, Dani mengajak para hadirin untuk menyanyikan lagu Padamu Negeri gubahan WR Supratman bersama-sama diiringi dengan gesekan biolanya.

PENGAKUAN

“Married ga ya ?”

“Dah married aja, dari pada pacaran kelamaan. Tar yang ada juga bubaran,” celetuk Nisa.

“Tapi cewek gue itu kemarin ngaku kalo dirinya dah ga perawan lagi dan dah punya anak satu,”

“Haaahh… sumpe loo, yang bener aja Jal?”

“Gimana dong, please saran dan masukannya dong. Gue bingung nih,” pinta Rijal.

Sudah dua tahun pacaran, Rijal akhirnya memberanikan diri mengutarakan niatnya untuk menikahi Nadya teman sekantor. Gimana ga cinta tuh Rijal, saban hari Nadya selalu membawakan nasi uduk plus tempe goreng buatan ibunya. Sebagai balasannya, Rijal selalu mengantar Nadya pulang dengan si Tiger biru dongker-nya. Rupanya, hubungan mereka berdua serius, Rijal pun mengutarakan kata I LOVE YOU di teras rumah Nadya saat hujan rintik-rintik. Saat itulah, Nadya pun memberanikan diri menceritakan masa lalunya. Keperawanan Nadya pernah direnggut oleh seorang pemuda yang pernah menjadi pacarnya dan kini entah dimana keberadaan pemuda tersebut. Tidak hanya itu, Nadya pun sebenarnya sudah memiliki seorang putri yang kini dititipkan di rumah neneknya di Subang. Butuh waktu lama untuk mengembalikan kepercayaan Nadya yang kini usianya memasuki kepala empat. Namun begitu, Nadya memang beruntung dikaruniai bentuk tubuh ramping dan wajah yang awet muda layaknya gadis usia 20 tahunan. Wajar jika Rijal kepincut dengan kecantikan dia.

Suasan hening sejenak, sesaat Rijal menyudahi cerita tentang pacarnya itu. Sementara Nisa hanya menghela nafas panjang. Tiba-tiba pintu di ketuk. Saat pintu dibuka, tampak Nadya di bibir pintu dengan kepala menunduk. “Ada apa Nadya?”

Tak ada jawaban, hanya gelengan kepala. Merasa penasaran, buru-buru Rijal menarik tangan Nadya untuk segera masuk ke ruang tamu. Rijal salah tingkah, saat Nisa menghampiri Nadya yang masih diam. “Hai.. kamu pasti yang namanya Nadya?” tanya Nisa.

Nadya hanya mengangguk. Suasana masih hening, tiba-tiba terdengar suara lirih Nadya yang sedari tadi diam. “Mas, mungkin kalo mas ragu setelah mengetahui masa lalu saya, ga apa-apa kok mas. Kalo dibatalin juga Dya terima, memang nasib saya begini,”

“Lho, tahu dari mana kamu, kalo gue lagi ngomongin masalah itu,” sergah Rijal.

“Saya mohon maaf, sebenarnya dari tadi saya mendengarkan pembicaraan antara Mas dan mba,” jawab Nadya.

Kaget, merasa tidak enak mendengar jawaban itu, Rijal dan Nisa jadi salah tingkah.

“Sebenarnya, lo, Jal niat ga sih nikahin dia?” tanya Nisa

“Kalo gue sendiri sih… dah niat seratus persen mau nikahin dia, cuma…?”

“Cuma apa Jal?”

“Gue takut, kedua orangtua gue ga nerima dengan kondisi seperti ini,”

Kring…kring….kring… Sony Ericsson T610 Rijal berdering (memang ringtone yang dipilihnya menyerupai suara telepon rumah jaman dulu). Di layar hp muncul nama Emak. “Waduh ada apaa gerangan,” guman Rijal.

“Assalamualaikum, Cung iki emak pengen ngomong (baca: Nak ini ibu mau bicara)”

“Wa’alaikumussalam, ano apo mak (ada apa mak)?”

“He…jare siro pengen ngenalaken calon rabie siro, kapan arep balike, ema’e wis bli sabar Cung (Hai…katanya kamu mau mengenalkan calon istri kamu, kapan mau pulang, ibu dah tidak sabar, Nak)”

“Mak… sebenere kito pengen balik minggu ngarep, wis emak tenang bae, lha iki kito lagi ngobrol karo Nadya soal kuen, (Bu.. sebenarnya saya mau pulang minggu depan, sudah emak tenang aja, ini saya lagi ngobrol dengan Nadya soal itu)”

“Yo.. wis Cung tak enteni yo…ati-ati neng dalane. Wis yo engko tagian telpone mak gede, (Ya sudah Nak ditunggu ya, hati-hati di jalan. Sudah ya..ntar tagihan telepon emak besar)”

Rijal makin bingung dengan apa yang terjadi barusan. Yang pasti Emak sudah menunggu kedatangannya membawa calon istrinya yang tak lain Nadya. Nadya yang dari tadi terdiam tampak mulai bisa tersenyum mendengar pembicaraan Rijal dan ibunya barusan.

“Ya udah, gini aja mba Nadya, saya juga perempuan, saya mengerti banget perasaan mba, kalo saya jadi mba… saya juga ga tahu harus berbuat apa. Sekarang sih, terserah Rijal, serius ato ngga nerima kondisi Nadya,”

“Mas… dari pada mas bingung, sekarang hari mulai gelap, mending saya pulang dulu, biar mas bisa mikir lagi, saya tidak memaksakan mas harus memenuhi janji itu pada saya. Tar malem mas sholat tahajud dan istikhoroh ya… mudah-mudahan diberi petunjuk ama Allah,”

Rijal hanya terdiam, sesekali dipandanginya wajah Nadya yang hari itu mengenakan baju kurung pembelian Rijal saat lebaran kemarin. “Subhanallah, betapa cantiknya Nadya dengan baju pemberian gue itu,”

“Mas… kenapa memandangiku seperti itu, dosa lo… katanya ghodul bashor (menahan pandangan mata),”

“Ya..udah saya pulang dulu ya Mas. Saya terima apapun jawaban yang akan diberikan Mas nanti, sampai ketemu besok di kantor, Assalamualaikum,”

“Eh… mba Nadya…tunggu, gue juga sekalian ah mau pulang Jal, dah sore hampir magrib nih,” kata Nisa.

Rijal hanya bisa mengangguk. Sambil menjawab salam. Setelah mengantar hingga pintu gerbang rumah yang baru sebulan ditempatinya di kawasan Bintaro. Rumah mungin tipe 36 memang begitu asri setelah direnovasi oleh Rijal, arsitektur yang baru meniti karier di sebuah perusahaan properti ternama di selatan Jakarta. “Ya… gue harus tahajud dan istikhoroh kalo gini,”

Jumat pagi, Rijal sengaja berangkat ke kantor pagi buta. Dengan harapan bisa tiba di kantor lebih dulu sebelum Nadya sang asistennya itu. Dengan haqqul yakin, Rijal menaruh amplop di meja kerja Nadya. “Mudah-mudah Allah meridloi niat gue ini,” harapnya dalam hati.

Tak sabar menanti kedatangan Nadya, Rijal pun menghubungi keluarganya di kampung mengabari rencana kepulangannya sore nanti. Lagi asyik ngobrol ngalor ngidul dengan Emak dan beberapa adiknya yang memang sedang mengharapkan kehadirannya dan calon istrinya, tiba-tiba dia dikagetkan ucapan salam wanita berkerudung putih yang pagi itu nampak cantik dan mempesona.

“Halo..halo… Ang Rijal….” suara diseberang sana yang tak disahut Rijal saking terpananya melihat Nadya. “Ah makin jatuh cinta aja neh gue ama kamu sayang,” guman Rijal tanpa menghiraukan teriakan dari balik Sony Ericsson-nya itu.

“Eeee… wis…yo engko kito balik numpak sepur sing jam limo sore, ajo klalen jemput neng stasiun jam sango-an, (Eee… sudah ya.. tar saya pulang naik kereta yang jam lima sore. Jangan lupa jemput di stasiun jam sembilan-an)” jawab Rijal sekenanya dan langsung memencet tombol “NO”.

“Amplop apa ini mas?” tanya Nadya sambil menimang-nimang amplop itu.

“Mending kamu buka aja deh, distu jawaban gue tentang kelanjutan hubungan kita.”

Tanpa ba-bi-bu, Nadya pun langsung membuka amplop yang sudah dipegangnya itu. Pelan-pelan dia membuka lipatan lembar kertas warna pink (warna kesukaannya). Antara percaya dan tidak. Nadya pun berulang kali membuka dan menutup kertas yang bertuliskan “ALHAMDULILLAH DENGAN MENGUCAP BISMILLAH… KUPINANG KAU MENJADI ISTRIKU” dibawahnya tertulis NB: Sore ini kita ditunggu oleh keluarga besarku di Cirebon. Jadi mohon kesediaanya untuk kuperkenalkan dengan keluarga besarku. Kita nanti sore langsung ke Gambir menumpangi Kereta Cirebon Express jam 5.30. Kamu Siap??

“Mas… terima kasih atas kepercayaan ini, insya Allah saya bersedia berkenalan dengan keluarga mas apa-pun tanggapannya nanti.”

Kereta melaju kencang. Belantara beton-beton yang menjulang ke langit jakarta mulai tak nampak disapu kegelapan malam. Setelah tiga jam lamanya berada di kereta kelas bisnis, akhirnya sampai juga di stasiun Kejaksan Cirebon. Basir yang menjemput kakaknya itu pun takjub dengan sosok wanita yang duduk disamping Rijal. “Wah, hebat euy.. Ang Rijal (kak Rijal) bisa dapet cewek secantik ini, kalo menurut saya sih… mirip Wulan Guritno,” godanya.

Suzuki Carry butut milik almarhum ayahnya itu akhirnya sampai juga di pelataran rumah besar plus kebon mangga di samping rumah. “Nad.. kita udah sampe, pokoknya saya minta apapun yang dikatakan keluargaku nanti tolong jangan dimasukin ke dalam hati ya, keluargaku suka becanda,” pinta Rijal sebelum turun dari mobil.

“Insya Allah, Mas.”

Di ruang tengah, telah berkumpul keluarga besar Rijal mulai dari adik-adik, uwa, mamang, bibi dan sanak saudara serta beberapa tetangga yang memang sengaja diundang Emak. Nadya hampir dibuat salah tingkah. Jika tidak ditemani Rijal. Bukan karena tidak mengerti dengan obrolan mereka yang menggunakan bahasa daerah tapi bisik-bisik orang-orang yang hadir malam itu membicarakan dirinya.

“Mak, Uwa, Mamang dan Bibi… pada malam ini saya perkenalkan calon istri Rijal bernama Nadya. Tapi satu hal yang harus diterima sampean (kalian) semua bahwa Nadya ini seorang ibu dari seorang putri.”

Anggota keluarga serta orang-orang yang hadir di ruang tengah itu mendadak terdiam. Terlebih Emak yang serius mendengarkan penjelasan Rijal akan kondisi calon menantunya itu. Tak ada yang berani bicara. Semua mata menatap tajam sosok wanita manis berbusana terusan dengan kerudung putih itu. Sekitar sepuluh menit, Rijal menceritakan semua asal-usul hubungannya dengan wanita yang disampingnya itu. Tiba-tiba Uwa Ujang yang nampak tua dari usia yang sebenarnya mendehem memecah keheningan.

“Emak, Uwa, Mamang, Bibi dan semua keluarga besar Mas Rijal, memang benar apa yang diceritakan barusan, jadi saya pun akan menerima apapun tanggapan terhadap diri saya, karena memang begini adanya,” suara itu meluncur pelan dari bibir tanpa sapuan gincu itu namun tetap merah merekah.

Suasana menjadi lebih hening, hanya terdengar suara kodok sawah yang memang selalu terdengar jika selepas hujan turun. Emak yang sedari tadi diam kini mulai bersuara walau sekedar dehem. “Mak… kok semuanya diam, tolong jangan bikin Rijal bingung,”

“Rijal… kalao memang kamu niat karena Allah untuk menikahi dia, maka jalanilah… karena itulah jalan hidup kamu, takdir yang diberikan Allah padamu. Emak cuma mengkhawatirkan apakah kamu bener-bener mau menerima Nadya sepenuhnya?”

Jawaban Emak itu seakan-akan petir membelah bumi, semua hadirin terkaget, namun bagi Rijal ini merupakan memantapkan keyakinan setelah bermunajat pada Allah beberapa malam lalu. “Insya Allah, Mak haqqul yakin, Rijal akan menerima apa adanya dia,”

“Baiklah kalau begitu, sekarang giliran Emak untuk cerita,” pinta Emak.

“Emak mau cerita apaan?” jawaban serentak adik-adik yang sedari tadi menyimak serius.

“Apa yang terjadi pada Nadya, calon mantu Emak, juga itu terjadi pada 30 tahun yang lalu pada diri Emak, dan anak yang kandung Emak pada saat sebelum menikah dengan bapak kalian adalah kamu Rijal!” cerita emak dengan nada lirih.

Kontan saja suasana pun semakin hening mendengar penuturan Emak. Hening dan hening yang ada hanya buliran airmata serta rasa haru biru betapa mulianya ayah mereka menerima emak saat itu. Dan kini, hal itu terulang kembali. Apa yang dialami Rijal saat ini merupakan sesuatu hal yang sama dengan yang dialami almarhum ayahnya 30 tahun silam