Merangkai Kepingan Jiwa yang Telah Patah

Membaca novel yang dibalut dengan kemasan religi, boleh jadi bagi sebagian pembaca berat novel religi akan mengembalikan imajinasinya pada beberapa novel sejenis yang pernah booming di panggung sastra Indonesia. Terlebih ketika beberapa novel diangkat ke layar lebar kian menguatkan cita rasa novel dimaksud, meski terkadang membuahkan komentar beragam dari para pembaca bukunya. Animo masyarakat untuk membaca novel Islami pun tak terelakkan, ratusan judul dan penerbit pun terpajang dietalase toko buku ternama bersanding sejajar dengan karya sastra lainnya.

Satu dari sekian judul novel yang menghadirkan nuansa islami adalah Dua Surga Dalam Cintaku, karya perdana dari Atho Al-Rahman. Memang karya sastra novel yang hadir ditengah-tengah kebangkitan sastra Islam Indonesia menjadi biasa bila tak memiliki kekuatan isi cerita yang menjadi pembedanya. Sosok Atho sendiri, bukanlah penulis biasa. Pasalnya selain berprofesi sebagai jurnalis, rupanya Atho pun jawara dalam mengulik kata-kata fiksi. Kepiawaiannya merangkai kata menjadi kalimat yang mampu mengaduk-aduk perasaan pembaca sudah dikuasainya sejak usia remaja. Namun karena kesibukan, baru dua tahun terakhir ini dunia sastra kembali ia jamah kembali, sambil mengisi waktu luangnya sebagai seorang pemimpin redaksi salah satu harian lokal di bawah bendera Jawa Pos Grup.

Dua Surga Dalam Cintaku, novel perdana yang akhirnya diterbitkan ini menjadi jawaban atas keinginannya untuk membuktikan bahwa ia mampu menunjukkan taji imajinasinya di dunia sastra. Kepiawaiannya mengulik bahasa itu sudah ia tunjukkan lewat judul yang membuat calon pembaca mengernyitkan dahinya saat melihat buku ini. Ditambah lagi dengan ada serangkai kalimat di bawah judul itu ‘Rangkailah Kembali Kepingan Jiwamu yang Telah Patah..!’ menambah penasaran atas novel yang banyak menggandeng public figure sebagai endorsement dari novel setebal 348 halaman ini.

Ada yang menarik dari sosok yang ikut di-endorse di novel karya Atho ini. Ya, novel yang memuat komentar Hj Airin Rachmy Diani, Walikota Tangerang Selatan bukan tanpa sebab atau sekadar gagah-gagahan bahwa penulis dekat dengan sang pejabat. Kiranya, kehadiran walikota berparas cantik sebagai endorser tak lain dan tak bukan untuk mempertegas bahwa setting area dalam novel ini sebagian besar ada di Tangerang Selatan. Disamping itu ada grup band papan atas Wali –yang tak lain personelnya jebolan kampus UIN Jakarta, mantan model top era 90-an Ratih Sang, motivator penutur kesadaran, Nanang Qosim Yusuf serta dosen sastra UIN Jakarta, Prof Dr Syukron Kamil, MA. Tentu saja, kehadiran mereka ada kaitannya dengan isi dari novel yang terdiri dari duapuluh tiga bagian ini, baik secara hubungan personal maupun kelembagaan. (Berita terkait bisa dilihat di Racana UIN Jakarta Bedah Novel)

Cerita dalam novel ini menggunakan alur maju. Inilah yang membuat pembaca tak mau bergeming untuk menyudahi jalannya kisah Arham Maulana –yang menjadi tokoh sentral— dalam novel ini. Selain sosok Arham, tokoh penting lainnya adalah Husna Ruhama dan Zilka. Lewat ketiga tokoh inilah penulis banyak mengumbar kata-kata yang mampu mengaduk-aduk emosi pembaca. Meski memang, kehadiran sosok Amrina Rosyada, mahasiswi yang mampu menawan hati sang tokoh utama, sayang jika tidak disimak. Belum lagi tingkah polah Ali dan Jamil yang sejak awal menghadirkan kekonyolan mampu mewarnai jalannya cerita cinta dua anak manusia yang ada di novel ini.

Diawali dengan keinginan Arham untuk ngekos dekat kampus, membuat keluarga hubungan Arham dan ayahnya –yang dalam novel ini memakai nama tokoh Abi— sempat tegang. Namun sepertinya, penulis tidak mau berlarut-larut mengisahkan perseteruan antara anak dan orangtua ini. Di bagian awal ini pula, penulis sedikit menceritakan aktivitas keluarga Arham yang tinggal di kampung Bojong yang konon di setting di daerah Bogor. Sejak awal cerita, penulis dengan jelas menghadirkan dialog antar anak dan orangtua yang menandakan sebuah keluarga yang harmonis dan religious. Figur Abi yang bijak, Umi yang penuh kasih ditambah sosok Fauziyah, gadis remaja adik kandung Arham yang periang.

Acara Launching sekaligus Bedah Novel Dua Surga Dalam Cintaku karya Atho Elrahman bersama Ratihsang, Ray Sahetapi, Prof Syukron Kamil, Dika Resti di Kampus UIN Jakarta, Rabu (16/5).

Kehidupan kampus yang berada di kawasan Ciputat tentu tak jauh berbeda dengan kampus-kampus lainnya di ibukota menjadi setting cerita. Di Ciputat inilah, Arham mengawali hidupnya jauh dari orangtua dan keluarga. Sebulan hidup ngekos di Ciputat,  Arham pun dikejutkan dengan pesan pendek alias SMS dari Husna. Dari sinilah, kisah pergulatan dua hati anak manusia dimulai. Sejak mendapat SMS itu pula, dalam episode berikutnya Arham pun mengalami kegalauan yang amat sangat. Betapa tidak Husna yang tak lain teman kecil itu kini tumbuh dewasa dan mampu menawan hati Arham. Bahkan dalam waktu yang singkat, Arham ditantang untuk menikahi gadis itu.  Di sinilah penulis menujukkan kepiawaiannya dalam meluluhkan hati siapapun. Ya, untaian kata dalam surat Husna untuk calon suaminya, boleh dibilang mewakili perasaan wanita yang tengah mendambakan seorang calon pendamping hidupnya.

Dalam novel ini diceritakan bagaimana sebuah proses bersatunya dua anak manusia yang tak lepas dari campur tangan Tuhan Yang Maha Kuasa. Betapa tidak, hanya dalam waktu singkat pasangan itu akhirnya menikah. Lagi-lagi penulis pun mengisahkan bagaimana pasangan ini menjalani hari-harinya sebagai pengantin baru. Kehidupan suami istri berlandaskan syariah islam begitu detil dijelaskan oleh penulis. Termasuk amalan-amalan sunnah seorang suami dalam menggauli istrinya tak luput dari perhatian penulis (hal.  63).

Pada bagian empat dan lima, kepergian Husna yang mendadak untuk selamanya membuat Arham depresi. Tapi bukan Arham yang digambarkan penulis sebagai muslim taat dan tegar jika terus larut dalam kesedihan. Ia pun bangkit dari kesedihan dan mencoba mencari tahu penyebab kematian istrinya. Kisah sedih yang dialami Arham mampu menguras air mata. Suasana pun berbalik seratus delapan puluh derajat. Selain memuat goresan Husna dalam buku hariannya, penulis mencoba memaparkan istilah-istilah medis seputar penyakit yang diderita Husna.

Sepeninggal Husna, pada babak berikutnya Arham harus kembali bangkit menyelesaikan kuliahnya. Sesampainya di Ciputat, Arham terpesona dengan penampilan sosok wanita cantik yang ditemuinya di depan masjid Fathullah –nama sebuah masjid yang berlokasi di seberang kampus UIN Jakarta. Di episode inilah cerita hubungan antara Arham dan Zilka dimulai. Saling kagum antara kedua anak manusia ini mengisi cerita-cerita selanjutnya. Konflik cerita pun banyak terjadi di babak ini. Mulai dari lika-liku asmara antara Arham dan Zilka yang digambarkan seromantis mungkin tanpa melanggar aturan syar’i hingga hadirnya sosok Erwin yang menjadi masa lalu Zilka. Begitu pula dengan perilaku dan gaya hidup Zilka yang mengundang tanya Arham begitu apik dikemas oleh penulis. Termasuk sosok ‘Harun Palsu’ kembali menyulut ketegangan antara Arham dengan Abi atas kehadiran Zilka di kehidupan Arham.

Sebagaimana yang diutarakan Prof Dr Syukron Kamil, MA dalam komentarnya, bahwa novel yang mengisahkan tokoh yang tidak putus asa dalam mencari karunia cinta ini, penulis dengan tegas memplot Arham sebagai tokoh yang tak kenal menyerah. Usai bersitegang dengan orangtuanya, Arham akhirnya bisa membuktikan keputusannya untuk menikahi Zilka. Episode kehidupan baru pun kembali dijalani Arham.

Tak hanya indahnya bunga-bunga kehidupan yang menghiasi pasangan ini, tapi konflik hubungan suami istri pun kembali dipaparkan penulis. Belum hadirnya momongan serta hadirnya wanita lain dalam kehidupan Arham menjadi pemantik konflik. Termasuk wacana poligami yang menjadi momok bagi kaum hawa, muncul di novel ini. Meski dalam pengakuannya –yang diwakili oleh Arham sang tokoh utama dalam novel ini— pada sebuah obrolan, penulis sejatinya menolak dengan tegas poligami.

Memang hampir bisa ditebak akhir dari cerita novel ini, ketika penulis dengan jelas memaparkan kabar gembira tentang Zilka di dua bagian terakhir. Ya, penulis langsung melesat ke depan dengan rentang waktu yang cukup lama. Agak sulit dituliskan dalam kata-kata memang, bagaimana bahagianya perasaan pasangan yang sudah lama menanti datangnya buah hati. Meski demikian, penulis mampu menuangkannya dalam rangkaian kata-kata serta dialog pasangan suami istri yang tengah dinaungi kebahagiaan.

Sekali lagi membaca novel yang tak jauh dari suasana Ciputat, bagi sebagian orang yang pernah singgah di kawasan padat ini serasa akan mengembalikan kenangan tersendiri. Mulai dari setiap sudut di sekitar lingkungan kampus hingga pusat perbelanjaan di Bintaro –yang berada sekitar lima kilo dari kampus— yang kerap menjadi tempat hang out kawula muda kala itu. Dan memang, penulis sepertinya begitu mengenal jauh setiap kelokan dan persimpangan yang digambarkan di novel ini, meski ceritanya fiktif.

Penasaran dengan kisah lengkapnya? Cerita beralur maju ini patut untuk dibaca bagi mereka yang tengah dilanda kegalauan dalam meneguhkan keyakinan dengan segala keputusan yang dibuat. Terlebih bagi mereka yang tengah mencari jalan keluar dalam merangkai kembali kepingan jiwa yang telah patah. Percayalah bahwa gusti Allah mboten sare (Allah tidak tidur) dan selalu berada bagi orang-orang yang berserah diri kepada-Nya. Membaca prosa ini rasanya tak butuh waktu lama, selain alur cerita maju, penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna setiap orang menjadi kelebihan dari novel karya seorang jurnalis ini.

Secara keseluruhan tampilan cover tak kalah apiknya dengan novel lainnya. Meski memang, agak sedikit mengundang tanya dengan penampilan sosok-sosok –yang ada dalam cover berbalut warna soft— itu siapa mewakili siapa. Ketebalan halaman serta pemilihan huruf yang familiar serta hadirnya quotation dengan desain yang menjadi khas dari Diva Press kian mempercantik tampilan lay out novel ini. Meski diakui, ada halaman yang hilang alias kosong (hal 210), tentunya mengganggu pembaca. Bisa jadi ini ada kesalahan teknis saat proses cetak. Mudah-mudahan kesalahan ini tidak berlaku secara menyeluruh pada buku telah beredar. Semoga. []

Judul :

Dua Surga Dalam Cintaku

Karya:

Atho al-Rahman

Jumlah halaman:

348 hal

Penerbit:

DIVA PRESS, Yogjakarta

Cetakan:

Cetakan pertama, April 2012

* Catatan : Artikel Resensi ini telah dimuat di Harian TANGSEL POS edisi akhir pekan (12-13 Mei 2012) lalu.

Advertisements

Menghadirkan Bioskop di Rumah

Tak dipungkiri, dewasa ini para pabrikan elektronik kian getol memanjakan keluarga konsumen Indonesia. Pabrikan pun saling berlomba meluncurkan inovasi produk mulai dari entri level hingga kelas premium. Serangkaian perangkat hiburan berteknologi 3D yang mampu membangkitkan imajinasi serta memberikan pengalaman menonton yang luar biasa membanjiri pasar elektronik. Menghadirkan bioskop di rumah sendiri pun bukanlah hal yang sulit.

Sharp kembali menunjukkan tajinya sebagai pemimpin teknologi TV LCD. Setelah sukses menghadirkan TV LCD berteknologi LED yang inovatif yakni Aquos Quattron LED TV –yang menambahkan warna kuning pada ketiga warna dasar sebelumnya RGB sehingga mampu menghasilkan kualitas gambar yang luar biasa— kali ini Sharp meluncurkan perangkat hiburan berteknologi 3D berlabel Aquos Quattron 3D TV.

Perangkat ini mampu menjawab kekurangan teknologi 3D yakni kendala Incufficient Brigthness yang selama ini dikeluhkan konsumen. Keunggulan Sharp dalam menghadirkan 3D bisa dinikmati pada seri Aquos Quattron 3D TV seri LC-LE830M yang hadir dalam pilihan ukuran 40, 46, 52 dan 60 inci. Terlebih jika ditunjang dengan perangkat multimedia besutan Sharp lainnya, Aquos Quattron 3D TV tak sekedar menyuguhkan hiburan di ruang keluarga belaka. Boleh jadi, kehadirannya menjadi titik perhatian setiap pasang mata.

Performa Canggih
Tampil dengan desain flat yang elegan dan lebih tipis dengan sudut melingkar, seri terbaru ini dibekali fitur program komunikasi yaitu Skype berteknologi P2P (peer to peer). Sebuah program –yang gratis diunduh— berkualitas tinggi dan murah berbasis internet untuk semua kalangan. Selain Skype, konsumen juga dapat memanfaatkan jaringan DLNA (Digital Living Network Alliance) Wireless, yakni teknologi berbasis standar untuk mempermudah berbagi dan menikmati foto digital, musik dan video satu sama lain.

Kelebihan Sharp Aquos Quattron 3D TV kian sempurna dengan adanya dukungan teknologi 4 warna dasar (RGBY) serta penggabungan 4 teknologi unggulan. Diantaranya teknologi UV2A (Ultra Violet Vertical Alignment) pada panelnya, sebuah teknologi photo alignment yang menghasilkan mega contrast, high optical efficiency, dan high speed response. Teknologi ini menghasilkan kualitas warna yang jauh lebih hidup, bahkan bisa menghasilkan triliunan warna. Pun pada teknologi 4 warna yang menambahkan kuning (Yellow) kepada tiga warna utama merah (Red), hijau (Green) dan biru (Blue) atau biasa disebut RGB, menghasilkan warna yang lebih solid, natural dan lebih kaya akan warna. Tak heran bila Aquos Quattron memberikan warna yang benar-benar alami, seperti kuning emas, biru laut, biru langit, dan sebagainya.

Adanya teknologi FRED (Frame Rate Enhanced Driving), yang hanya menggunakan satu baris sinyal dengan drive berkecepatan tinggi akan mengurangi kabel dan komponen di panel serta meningkatkan efisiensi penggunaan cahaya, dengan konsumsi daya yang rendah. Sementara teknologi Side-mount Scanning LED Backlight akan mampu mengurangi crosstalk pada televisi 3D, selain drive ganda bingkai dan teknologi pemindaian kecepatan ganda. Teknologi ini membatasi crosstalk yang mengurangi optical perception images dengan menggunakan kontrol cahaya on / off kecepatan tinggi dan drive yang terpisah.

Disamping itu, fitur unggulan lain yang dibenamkan pada Aquos Quattron 3D TV adalah, Fine Motion Advanced 100/120Hz  untuk mengurangi gerakan gambar yang kabur (blur). USB Port yang dapat memainkan hampir semua format media, baik dalam bentuk MP3, WMA atau gambar JPEG, Photo and Music Viewer. ECO button pada remote control memungkinkan untuk mengurangi konsumsi energi secara otomatis. Adapun Fitur SRS Trusurround HD akan mampu menghasilkan kualitas audio yang mengesankan.

Untuk kesempurnaan menonton melalui Aquos Quattron 3D TV, Sharp melengkapinya dengan kacamata khusus 3 dimensi yang dirancang sedemikian rupa agar pemirsa dapat menikmati gambar 3D yang mengesankan dan sangat realistis. Kacamata 3D ini, dilengkapi fitur-fitur seperti Liquid crystal shutter system, Auto Power Off Function, dan 3D/2D Mode Conversion Button.

Menurut Sharp Product Marketing General Manager PT Sharp Electronics Indonesia, Herdiana Anita Pisceria, Aquos Quattron 3D TV mampu menjawab kebutuhan konsumen kelas atas yang haus akan produk berteknologi tinggi. Sharp Aquos Quattron 3D ukuran terkecil 40 inci (LC-40LE830M) seharga Rp 16 juta. Sementara untuk ukuran terbesar 60 inci (LC-60LE830M) dengan kisaran harga Rp 55 juta. “Aquos Quattron 3D TV merupakan produk dengan performa outstanding yang diperuntukkan bagi konsumen high-end yang haus akan produk berteknologi tinggi dan sekaligus akan meningkatkan image Sharp sebagai produsen LCD. Inilah keseriusan kami memasuki pasar 3D dengan menawarkan fitur-fitur andalan yang tentunya mampu bersaing di pasarnya,” tegasnya.

Standarisasi
Untuk menjaga kualitas Aquos Quattron 3D buatan pabrikan elektronik asal Jepang ini menerapkan standarisasi manajemen mutu dalam segala aktifitasnya. Hal ini dibuktikan dengan diraihkan sertifikat Quality ISO 9001:2008 dan ISO 14001:2004 dari Bureau Veritas Indonesia. Dan untuk meningkatkan manajemen mutu produk dan pelayanan pada pelanggan, Sharp terus memperluas jaringan di seluruh Indonesia.

Selain telah memiliki lebih dari 300 service point di seluruh Indonesia, menurut Lise Tiasanty, Customer Care Center Manager, PT Sharp Electronics Indonesia, baru-baru ini Sharp meluncurkan layanan SMSS (Sharp Mobile Service Station), yang melayani perbaikan dan informasi produk di setiap kegiatan promosi Sharp. “Inilah inovasi dengan layanan baru dari Sharp untuk pelanggan, selain lewat multi contact channel,” ujarnya.

Selain itu, secara berkala Sharp memberikan training dalam rangka meningkatkan skill dan product knowledge seluruh frontliner dalam melayani konsumen. “Semua itu dalam rangka tercapainya kepuasan pelanggan,” pungkasnya.

Sharp Electronics Indonesia terus tumbuh dengan pertumbuhan pasar yang signifikan sebesar 125 persen pada semester pertama tahun ini. Berdasarkan data EMC, market share Sharp di pasaran Indonesia sebesar 25 persen. Dan inilah yang mengantarkan Sharp Indonesia mampu bertahan di posisi lima besar Sharp di seluruh dunia. “Sharp terus berinovasi merebut hati masyarakat Indonesia dengan menghadirkan produk ke semua segmen yang ada, termasuk kalangan elite,” tandas Andri Adi Utomo, National Sales General Manager, PT Sharp Electronics Indonesia. []

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah QUALITY ACTION, Edisi 1/Oktober 2011

Mimpi Sang Pemimpi

foto by dok. MILES

“Tanpa mimpi dan harapan, orang-orang macam kita akan mati…” [Arai dalam “Sang Pemimpi”]

Inilah adaptasi sinema dari novel fenomenal Sang Pemimpi karya Andrea Hirata sebagai lanjutan dari film sebelumnya Laskar Pelangi. Sebagai lanjutan, Sang Pemimpi mengambil setting di era tahun 80-an ini mengisahkan masa remaja Ikal, anak keluarga pekerja rendahan di Perusahaan Negara Timah di Pulang Belitung, bersama Arai sepupunya dan Jimbron sahabatnya. Karena tak ada sekolah menengah di kampungnya, Ikal dan dua sahabanya itu harus merantau ke kota pelabuhan Manggar.

Di Manggar inilah petualangan masa remaja, Ikal (Vikri Septiawan) dan dua sahabatnya Arai (Rendy Ahmad) Jimbron (Azwir Fitrianto) banyak mewarnai jalan cerita dari Sang Pemimpi yang tak lain menggambarkan sosok Arai yang mampu membangun mimpi-mimpi Ikal dan Jimbron. Petualangan remaja yang dipenuhi dengan mimpi-mimpi inilah yang membuat mereka bisa bertahan hidup mandiri di kota Manggar. Meski harus membanting tulang dengan bekerja paruh waktu sepulang sekolah. Dan adegan-adegan yang kerap mengundang tawa pun banyak ditemui di episode ini. Tiga sekawan yang kerap dijuluki ‘brandalan’ oleh Pak Mustar, sang Kepala Sekolah tak membuat mereka jera dan menyerah untuk meraih mimpi-mimpinya. Meski, lagi-lagi sosok Ikal, kerap digambarkan sebagai sosok yang mudah menyerah dibanding dengan kedua sahabatnya Arai dan Jimbron.

Memang di awal cerita pertemuan Ikal kecil (Zulfani) dan sepupunya Arai kecil (Sandy Pranatha), membawa penonton seakan bertanya kemana teman-teman kecil Ikal? seperti Mahar dan Lintang. Tentu saja, cerita episode masa kecil Ikal dalam Sang Pemimpi ini, paling tidak cukup menarik sekedar untuk mengenang kembali di film sebelumnya Laskar Pelangi, meski ada perubahan tokoh masih tetap kocak dan kerap mengundang tawa. Bagaimana tidak, ketika Arai sholat berjamaah di mushola melafadzkan ‘Amin’ begitu panjang dibanding yang lain. Atau ketika Jimbron yang bermimpi ingin menjadi kuda yang kuat.

Dan memang, di film ini, frame kehidupan dewasa Ikal (tentunya masih diperankan Lukman Sardi) dan Arai (Nazril Irham/Ariel Peterpan) hanya ditayangkan di menit-menit akhir. Meski episode kehidupan Ikal di Bogor dijadikan sebagai pembuka film besutan Riri Riza ini.

Penasaran? mungkin bagi yang sudah membaca novelnya alur cerita yang disuguhkan mungkin akan tak asing lagi, meski bisa jadi daya visualisasi kita dengan pembuat film akhirnya berbeda. Dan bagi yang belum sama sekali membaca novelnya, inilah lanjutan film Laskar Pelangi yang masuk dalam jajaran box office nasional yang telah membukukan angka 4,6 juta penonton dan pernah diputar di 20 event festival film internasional dan memboyong banyak perhargaan. Akankah Sang Pemimpi mampu sukses seperti sekuel sebelumnya? untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu tentunya kembali pada seberapa kuat apresiasi kita (penonton) untuk membantu mewujudkannya.

Mulai hari Kamis (17/12) film produksi Miles dan Mizan Production ini tayang di bioskop di seluruh nusantara… meski –mengutip percakapan Ikal dan kedua sahabatnya dalam film ini– ada larangan dari pak Mustar bahwa “menonton bioskop itu haram hukumnya.”

Perlu diingat, film ini tidak seperti film sebelumnya, pasalnya Sang Pemimpi dilabeli 15+, jadi maaf, film ini ditujukan untuk kalangan remaja bukan segala umur seperti film sebelumnya. [hay]

Ketika ‘Laskar Pelangi’ Menyerbu Bioskop

poster ini diamabil dari situs resmi film laskar pelangi

Subhanallah. Dari film ini saya pribadi banyak mendapatkan pencerahan. Betapa tidak, setiap jengkal ceritanya sarat akan makna.

Dan akhirnya film ini tidak begitu jauh dengan semangat novelnya. Meski diakui oleh sang penulis, ada beberapa yang ditambahkan dalam ceritanya. Ya, inilah yang saya dapat ketika preview film yang dinanti-nanti para pecinta film dan khususnya yang telah membaca novel Laskar Pelangi.

Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadiyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah –yang dimainkan secara apik oleh Cut ini– dan Pak Harfan dilakoni oleh Ikranegara, serta 9 murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 orang murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup. Setelah lama menunggu hingga akhirnya lepas jam 11.00 siang, muncullah Harun (Jeffri Yanuar). Ya inilah murid istimewa yang menyelamatkan mereka.

Inilah adaptasi sinema dari novel fenomenal Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang mengambil setting di akhir tahun 70-an di kawasan Belitong. Adalah 12 anak asli Belitong dan 12 aktor senior inilah yang membuat film ini lebih hidup dan lebih artikulatif dari novelnya.

Ya betapa tidak, novel yang menggambarkan kalangan pinggiran dalam mendapatkan pendidikan –yang begitu mahal– itu sangat menggugah hati. Hal ini tampak jelas pada perjuangan Lintang (Ferdian) yang harus mengayuh sepedanya berkilo-kilo. Tidak hanya itu ia pun kerap harus ekstra hati-hati menunggu si buaya rawa melewati jalan setapak yang ia lalui saban harinya. Pun dengan kondisi keluarganya yang pada akhirnya, Lintang harus menyerah dengan keadaan setelah ayahnya meninggal dunia. Padahal ia anak yang jenius, bahkan di atas rata-rata.

Perjuangan berat pun tampak jelas pada Pak guru Arfan yang harus terus memompa semangat para anak didiknya, guru Muslimah dalam kelangsungan sekolahnya. Inilah yang membuat haru-biru film ini.

Sisi jenaka yang digambarkan anak-anak pun kerap menghiasi film yang sarat akan makna ini. Betapa tidak ketika, Mahar (Verrys Yamarno) yang sok seniman dengan radionya yang selalu ditentengnya. Pun dengan Ikal (Zulfanny) yang begitu lugu ketika terjerat pesona kuku yang lentik si A Ling (Levina). Atau ketika kekelucuan-kelucuan dari para pemain lainnya.

Pada akhirnya, film produksi Miles Films dan Mizan Productions dengan dukungan penuh dari Pertamina Foundation, Bank Mandiri, Telkom dan Timah ini sangat layak dan harus ditonton bagi mereka yang haus akan inspirasi, motivasi dalam menjalani hakikat hidup.

Dan film ini yang tayang serentak di bioskop, Kamis (25/9) kemarin mampu menyedot animo masyarakat untuk menontonnya. Selamat Menonton dan anda akan banya mendapatkan hikmah dari film besutan Riri Riza ini. Jangan lupa, bolehlah kiranya anda ajak seluruh anggota keluarga. Maaf ini bukan promosi, tapi lebih pada berbagi manfaat sekiranya film itu memang layak ditonton.

“Hidup itu harus memberi sebanyak-banyaknya, janganlah menerima sebanyak-banyaknya.” Pak guru Arfan.