Banjir Rejeki Di Bulan Ramadhan

Kian tenar dan terkenal itu sudah pasti. Pundi-pundi pun penuh terisi. Paling tidak, selama sebulan lalu, ’kerja ekstra’ itu membuahkan popularitas dan materi. Tak pelak, momen Ramadhan lalu dijadikan panen segalanya bagi sebagian selebriti. Tidak hanya kalangan selebritas sebagai pelakon, pelaku industri televisi pun menanggung untung berlipat.

Ya, sejumlah selebritas kebanjiran manggung di tengah persaingan industri televisi yang makin ramai. Betapa tidak, dalam sehari, sosoknya nongol di beberapa kanal layar kaca selama sebulan penuh. Meski mata acara yang disuguhkan stasiun penayang pun boleh dibilang seragam. Mulai dari sinetron yang dikemas religi hingga acara komedi yang tayang langsung dibumbui aneka kuis dengan hadiah jutaan rupiah tentunya.

Dunia lawakan memang menarik dan menjanjikan. Terbukti, hampir semua stasiun televisi negeri ini menyuguhkan genre ini. Tak terkecuali pada saat bulan Ramadhan lalu. Selama sebulan penuh itu, para komedian mengocok perut pemirsa di kala waktu sahur atau menjelang berbuka puasa. Tak pelak, dari program itu pula, mereka mendulang rupiah.

Dan memang, dari tahun ke tahun, program ’tawa dan canda’ masih menjadi amunisi tokcer di bulan ramadhan selain sinetron sudah terlebih dulu memimpin. Adalah grup lawak Patrio, Cagur dan Bajaj yang laris manis di ramadhan tahun ini. Pasalnya intensitas kehadirannya baik secara personal maupun kelompok, paling tidak mengisi minimal dua stasiun televisi yang berbeda dalam sehari.

Semisal Eko Patrio, komedian yang tercatat sebagai caleg dari PAN ini hadir menemani pemirsa menjelang sahur lewat program Saurprise di RCTI. Lalu sore menjelang berbuka, Eko pun kembali mengocok perut pemirsa dalam Sambil Buka Yuk di stasiun ANTV secara live –serta dapat pula disaksikan tayangan ulangnya di waktu sahur. Dan di waktu yang bersamaan, Eko berserta grupnya Patrio pun tampil di stasiun TRANS7 dalam program Kolak Ramadhan.

Tak tanggung-tanggung, Eko di program Saurprise selain sebagai host, ia pun menjadi sutradara yang men-setting cerita berdasarkan permintaan penonton studio. Tentunya, dengan tugas ganda ini, Eko pun meraup honor lebih dibanding pemain yang lain.

Personil Patrio lainnya yang ketiban rejeki adalah Parto. Pelawak dengan aksen banyumasannya yang kental itu tampil bareng Eko di Saurprise dan SBY, yang disuguhkan secara live. Pun di program Kolak Ramadhan, dimana ia dan grupnya tampil dalam formasi lengkap. Dengan tampil di tiga kanal dalam sehari semalam, ‘lumbung harta’ Parto pun kian membumbung.

Jika Eko dan Parto hadir di program melucu, lain halnya dengan Akri yang tampil di sinekuis Para Pencari Tuhan Jilid 2 menemani santap sahur di saluran SCTV. Meski melakoni seorang ustadz, sisi humornya tak begitu saja dilepaskan. Tak pelak, penampilannya sebagai sosok ustadz pun kerap mengundang tawa. Bahkan, seperti tahun sebelumnya Para Pencari Tuhan Jilid 2 ini pun diputar ulang selepas adzan Magrib.

Melengkapi dua personil sebelumnya, saban sore menjelang berbuka puasa wajah Akri pun nongol dalam Kolak Ramadhan. Paling tidak, dirinya dan grup lawak Patrio –yang meroket lewat program Ngelaba di TPI— masih eksis memasuki tahun ke-14. Tidak saja, secara personil yang mujur, bendera Patrio pun terus berkibar di panggung hiburan. Bisa dibayangkan, jika mereka punya tarif Rp 35 juta untuk sekali manggung, maka minimal angka Rp 1 miliar masuk kantong Patrio. Dan menurut Eko, biasanya sesuai aturan manajemen, dari honor itu, masing-masing mendapat seperempat bagian, sisanya masuk kas grup.

Rupanya Cagur dan Bajaj pun ketiban hoki. Selain main bareng dalam sitkom Cagur Naik Bajaj di ANTV, keduanya pun saban hari selama ramadhan lalu nongol di program lainnya. Cagur –yang digawangi Narji, Denny dan Wendy— pun hadir menemani permisa di saat sahur lewat Cagur Sahur di Global TV.

Sementara Isa, Aden dan Melky yang tergabung dalam Bajaj tak kalah kocaknya dalam sinekuis Para Pencari Tuhan Jilid 2 di SCTV –menyusul sukses pada tahun lalu bersama aktor gaek Deddy Mizwar. Bahkan oleh stasiun penayang, program Cagur Naik Bajaj dan Para Pencari Tuhan Jilid 2 diputar ulang.

Meski kiprahnya belum terbilang lama, Cagur dan Bajaj boleh dibilang meraup kesuksesan meningkat berlipat, baik popularitas maupun materi. Menurut Isa Wahyu Prastantyo, memang sepertinya sudah menjadi tradisi, semua stasiun televisi di bulan ramadhan selalu menampilkan acara komedi. “Alhamdulillah, setiap bulan puasa memang sibuk. Personil Bajaj bekerja sebulan penuh. Di luar itu, rata-rata Bajaj hanya menerima sekitar tiga tawaran kerja dalam sebulan. Itu pun acara off air,” katanya.

Hal senada diungkapkan Narji, personel Cagur yang mengaku keiban banyak rejeki dan berlipat-lipat. “Pokoknya berlipat-lipat. Mungkin ini rejeki anak saya,” tegas Narji tanpa mau menyebutkan berapa lonjakan penghasilannya.

Selain para pelawak yang ‘panen rejeki’ tentunya para bintang sinetron pun demikian. Kerja ekstra mereka dalam sinetron kejar tayang menghasilkan pundi-pundi terisi penuh. Sebut saja misalnya, Marshanda, pesinetron muda ini tampil sejak pertengahan Agustus lalu dalam Aqso dan Madina di RCTI bersama Dude Herlino, Winky Wiryawan serta Carissa Putri.

Sebagai catatan, tahun lalu saja Marshanda menerima honor sekira Rp 25 hingga Rp 28 juta per episode-nya. Sementara, tersiar kabar bahwa Dude Herlino paling tidak menerima Rp 35 juta hingga Rp 40 juta per episode. Bisa ditebak, berapa rupiah yang diboyong mereka hanya untuk sinetron religi khas ramadhan yang tayang lebih dari 30 episode itu.

Tak ketinggalan, sosok yang kerap menyapa pemirsa di layar kaca selama sebulan penuh adalah Quraish Shihab. Selain tampil dalam program Tafsir Al-Misbah –yang sudah menjadi langganan saban tahun di Metro TV— mantan menteri Agama era Suharto itu pun mengisi program kultum penghantar berbuka puasa di RCTI. Sosok tokoh agama dengan gayanya yang khas itu pun hadir saban hari menyapa pemirsa setia TVRI.

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi Oktober 2008

Advertisements

Ketika ‘Laskar Pelangi’ Menyerbu Bioskop

poster ini diamabil dari situs resmi film laskar pelangi

Subhanallah. Dari film ini saya pribadi banyak mendapatkan pencerahan. Betapa tidak, setiap jengkal ceritanya sarat akan makna.

Dan akhirnya film ini tidak begitu jauh dengan semangat novelnya. Meski diakui oleh sang penulis, ada beberapa yang ditambahkan dalam ceritanya. Ya, inilah yang saya dapat ketika preview film yang dinanti-nanti para pecinta film dan khususnya yang telah membaca novel Laskar Pelangi.

Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadiyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah –yang dimainkan secara apik oleh Cut ini– dan Pak Harfan dilakoni oleh Ikranegara, serta 9 murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 orang murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup. Setelah lama menunggu hingga akhirnya lepas jam 11.00 siang, muncullah Harun (Jeffri Yanuar). Ya inilah murid istimewa yang menyelamatkan mereka.

Inilah adaptasi sinema dari novel fenomenal Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang mengambil setting di akhir tahun 70-an di kawasan Belitong. Adalah 12 anak asli Belitong dan 12 aktor senior inilah yang membuat film ini lebih hidup dan lebih artikulatif dari novelnya.

Ya betapa tidak, novel yang menggambarkan kalangan pinggiran dalam mendapatkan pendidikan –yang begitu mahal– itu sangat menggugah hati. Hal ini tampak jelas pada perjuangan Lintang (Ferdian) yang harus mengayuh sepedanya berkilo-kilo. Tidak hanya itu ia pun kerap harus ekstra hati-hati menunggu si buaya rawa melewati jalan setapak yang ia lalui saban harinya. Pun dengan kondisi keluarganya yang pada akhirnya, Lintang harus menyerah dengan keadaan setelah ayahnya meninggal dunia. Padahal ia anak yang jenius, bahkan di atas rata-rata.

Perjuangan berat pun tampak jelas pada Pak guru Arfan yang harus terus memompa semangat para anak didiknya, guru Muslimah dalam kelangsungan sekolahnya. Inilah yang membuat haru-biru film ini.

Sisi jenaka yang digambarkan anak-anak pun kerap menghiasi film yang sarat akan makna ini. Betapa tidak ketika, Mahar (Verrys Yamarno) yang sok seniman dengan radionya yang selalu ditentengnya. Pun dengan Ikal (Zulfanny) yang begitu lugu ketika terjerat pesona kuku yang lentik si A Ling (Levina). Atau ketika kekelucuan-kelucuan dari para pemain lainnya.

Pada akhirnya, film produksi Miles Films dan Mizan Productions dengan dukungan penuh dari Pertamina Foundation, Bank Mandiri, Telkom dan Timah ini sangat layak dan harus ditonton bagi mereka yang haus akan inspirasi, motivasi dalam menjalani hakikat hidup.

Dan film ini yang tayang serentak di bioskop, Kamis (25/9) kemarin mampu menyedot animo masyarakat untuk menontonnya. Selamat Menonton dan anda akan banya mendapatkan hikmah dari film besutan Riri Riza ini. Jangan lupa, bolehlah kiranya anda ajak seluruh anggota keluarga. Maaf ini bukan promosi, tapi lebih pada berbagi manfaat sekiranya film itu memang layak ditonton.

“Hidup itu harus memberi sebanyak-banyaknya, janganlah menerima sebanyak-banyaknya.” Pak guru Arfan.

Bincang-Bincang Bersama Ihsan Idol

Jawara Indonesian Idol 2006, Muhamad Ihsan Tarore, tengah mencoba peruntungan di dunia akting. Setelah membintangi beberapa sinetron, Ihsan mendapat tawaran tampil di film layar lebar. Dan Mengaku Rasul: Sesat adalah film pertamanya, yang dirilis beberapa waktu lalu.

Dengan karakter dan pembawaannya yang kalem, Ihsan memerankan tokoh Raihan dalam film besutan sutradara Helfi Kardit ini. Apa yang membuat pemuda kelahiran Medan, 20 Agustus 1989 ini terjun ke dunia akting?. Lantas bagaimana dengan karirnya sebagai penyanyi jebolan Indonesian Idol. Kepada VIEW, penyanyi yang dengan album solo bertajuk The Winner ini bertutur seputar karirnya di dunia hiburan.

VIEW: Apa yang mendasari Anda terjun ke dunia akting?

IHSAN: Semua orang tahu, jika film juga bagian dari dunia hiburan. Karena saya berkarir di dunia ini, maka wajar jika saya mencoba menjajal kemampuan saya di seni peran. Dan film ini adalah film layar lebar pertama saya.

VIEW: Apakah Anda menawarkan diri atau direkrut?

IHSAN: Jujur, dalam film ini sutradara yang meminta saya untuk bermain. Katanya, sebelum meminta saya ikut main, mereka hanya tertarik karena melihat tampang saya di salah satu poster.

VIEW: Lantas, apa reaksi Anda mendapat tawaran ini?

IHSAN: Ketika mendengar judul film Mengaku Rasul: Sesat, entah kenapa saya merasa tertantang. Akhirnya saya pun ikut casting untuk tokoh Raihan. Dan senangnya karena saya diterima.

VIEW: Kenapa tokoh ini yang Anda ambil? Apakah karena pembawaan Anda yang kalem?

IHSAN: Awalnya memang saya ditawari tokoh ini. Bisa jadi, sutradara sudah mengetahui karakter saya yang kalem. Pernah suatu ketika saya memerankan tokoh komedian di sebuah FTV, tapi rupanya peran itu diprotes penggemar saya, khususnya ibu-ibu. Katanya nggak lucu he he he.

VIEW: Bagaimana dengan karir Anda sebagai penyanyi?

IHSAN: Saya akan tetap sebagai penyanyi.

VIEW: Banyak kalangan yang menilai karir Anda tengah tenggelam. Komentar Anda?

IHSAN: Boleh saja orang menilai demikian. Tapi yang jelas, memang saya jarang tampil di layar kaca. Karena saya lebih sering tampil off air. Dan sekarang pun saya lagi sibuk menyiapkan album kedua yang rencananya akan dirilis tahun ini.

VIEW: Apakah film ini untuk mendongkrak kembali pamor Anda?

IHSAN: Saya tidak berfikiran ke sana, rejeki orang kan berbeda-beda. Kebetulan saat ini saya dapat kesempatan main film layar lebar.

VIEW: Kalau boleh memilih, mana yang akan Anda tekuni secara serius?

IHSAN: Tentu saja menyanyi. Tapi karena dunia hiburan itu menuntut multitalenta maka saya tidak akan menyia-nyiakan setiap kesempatan apapun yang datang kepada saya. Intinya saya ingin tekuni secara serius karir saya di dunia hiburan.

VIEW: Kalau begitu, apa obsesi Anda di dunia hiburan ini?

IHSAN: Saya sih mau terus mencoba sesuatu yang baru, tidak hanya menyanyi. Misalnya, di film saya mau memerankan tokoh yang berlawanan dengan karakter saya. Kenapa nggak? Yang penting saya berusaha melakukannya secara professional. [view]

Artikel ini dimuat di majalah VIEW edisi Juli 2008

Nicholas Saputra

Siapa tak kenal Nicholas Saputra. Cowok ganteng ini tak hanya dikenal di dunia perfilman Indonesia, tapi juga dunia modeling. Maklum, awal karirnya memang bermula dari model, namun akhirnya lebih dikenal sebagai actor film. Tak hanya itu, pria yang akrab disapa Nico ini acap kali menjadi ‘jaminan mutu’ atau laku tidaknya sebuah film yang dibintanginya. Yang menarik, kini ia mencoba menekuni dunia presenter.

Sosok pria muda, ganteng dengan sorot mata yang tajam ini sukses berperan sebagai Rangga dalam Ada Apa Dengan Cinta? (2002). Wajahnya yang ganteng, itu seakan menghipnotis kaum hawa untuk tak mengedipkan mata. Nico langsung merebut hati masyarakat lewat film pertamanya itu. Pun ketika ia berakting sebagai Bhisma dalam Biola Tak Berdawai (2003). Namanya masuk dalam jajaran nominasi Aktor Terbaik pada Festival Film Indonesia 2004 untuk kedua perannya di film itu.

Setahun kemudian, dalam ajang Festival Film Indonesia 2005, Nico kembali diunggulkan di kategori yang sama lewat aktingnya dalam dua film masing-masing sebagai Joni dalam Janji Joni (2005) dan Soe Hok Gie dalam Gie (2005). Dan Nico berhasil merebut gelar Aktor Terbaik lewat perannya sebagai Gie. Setelah sukses di film Gie, sutradara muda ternama Riri Riza kembali mendapuk Nico untuk memerankan Yusuf dalam film 3 Hari untuk Selamanya (2007) yang beredar di bioskop Juni silam.

Tak aneh, bila ada anggapan bahwa sekali main film, Nico selalu menarik perhatian semua mata. Tak hanya itu, pasar film pun seperti terus menanti aktingnya. Mau tahu rahasianya? “Setiap lakon, saya usahakan memberikan yang terbaik. Berbagai cara saya lakukan seperti survey dalam rangka mempelajari karakter yang diperankan,” ungkapnya.

Seiring dengan itu, namanya pun kerap diperbincangkan semua kalangan, tak terkecuali para produser film. Bahkan para produser sinetron tak henti-hentinya terus menawarkan peran. Namun semua tawaran itu, hingga saat ini masih ditolaknya. Jangankan sinetron, dalam kurun setahun, Nico hanya mau bermain dalam satu film. Inilah upaya dirinya untuk bisa berperan dengan maksimal dalam setiap filmnya. Tak heran, sejak kehadirannya di panggung hiburan, Nico baru tampil sebagai pemeran utama di lima film. “Sejak awal, saya hanya mau bermain satu film dalam setahun,” aku aktor kelahiran Jakarta, 24 Februari 1984 ini.

Tentunya, lima film yang dibintanginya memberi kepuasan tersendiri baginya. Namun, dari tokoh yang diperankan, mana yang paling berkesan? Sayang, untuk pertanyaan ini Nico enggan memberi jawaban pasti. “Masing-masing film berbeda. Namun yang pasti, semua itu saya jalani dengan baik secara profesional sesuai tuntutan skrenarionya,” ujarnya diplomatis.

Tantangan Baru

Lima tahun sudah Nico menekuni dunia film. Bahkan dalam kurun waktu itu, ia pun meraih popularitas. Rupanya, Nico mulai jenuh dengan dunianya, walau hal itu ditampiknya. Namun yang jelas, ia mengaku tengah mencari tantangan baru.

Jadi, selama setahun mendatang, jangan harap Anda akan menyaksikan aktingnya di film layar lebar. Pasalnya ia tengah sibuk menggeluti dunia presenter sebagai Video Jockey (VJ). Sebagai gantinya, wajah Nico akan kerap menyapa di layar kaca selama setahun ke depan dalam The Ticket di Channel [V]. Sebuah program berdurasi 60 menit yang mengulas seputar dunia film itu ditayangkan setiap hari Rabu pukul 6 sore.

Nico pun telah memulai debutnya pada 5 September lalu dalam Screentime. Program ini pun akan ditayang ulang pada jam-jam yang telah ditentukan. Jadi, bagi penggemar berat aktor ganteng –yang kini tampil dengan rambut gondrongnya— siap-siap alihkan mata untuk bisa menyaksikan aksi pujaanya bercuap-cuap di layar kaca.

Lantas, apa gerangan yang membuat Nico menerima tawaran ini?. Semua itu bermula saat dirinya diwawancara Channel [V] seputar film terbarunya 3 Hari untuk Selamanya di Jakarta beberapa waktu lalu. Ternyata usai wawancara, Nico ditawari Channel [V] untuk menjadi host di salah satu programnya yakni The Ticket. Beberapa hari kemudian, Nico mengikuti proses seleksi berupa screentest dan prosedur lainnya. “Akhirnya saya diterima dan dikontrak selama setahun sebagai salah satu host di saluran teve musik ini,” ujarnya.

Nico menambahkan bahwa dengan menjadi host, yang merupakan profesi barunya itu dapat dipastikan akan semakin menambah wawasannya di dunia film yang selama ini digelutinya. “Terlebih program ini masih berkaitan dengan dunia film dan cakupannya lebih luas, minimal Asia Tenggara,” tandasnya.

Benar saja, sejak diterima menjadi host, hari-hari aktor ganteng itu hampir tak pernah lepas dari buku atau majalah film yang akan dijadikan referensi saat tampil membawakan acara yang mengudara sejak sebulan lalu. “Khususnya tentang bahasa-bahasa film, profil para aktor, aktris dan sutradara,” ungkapnya.

Pasalnya, dalam tayangan The Ticket yang dibawakannya itu bakal memberikan catatan-catatan penting dari behind the scenes sebuah film. Selain itu mewawancarai para aktor, aktris dan film makers hingga film-film baru yang bakal dirilis. Masuknya nama Nico, menambah jajaran ‘veejay’ sebelumnya di Channel [V] diantaranya Sarah Tan, Maya Karin, Marion Rose Caunter, Alvin Pulga dan Joey G.

Saat ditanya rencana masa depan, apakah akan terus menjadi bintang film atau menekuni karir yang lain?. Arsitek lulusan Universitas Indonesia itu menegaskan bahwa hingga detik ini, yang ada dalam pikirannya adalah menjalani apa yang ada. Bahkan selama ini pula Nico tak pernah menargetkan sesuatu dalam karirnya. Pun dengan rencana mengembangkan karirnya sebagai arsitek belum ada bayangan. “Waduh, kalau soal target biasanya per proyek saja,” seloroh sarjana arsitektur ini.

Sejatinya, diakui atau tidak, Nico memang dibesarkan di dunia akting. Namun, Nico pun berharap banyak akan mendapatkan pengalaman-pengalaman menarik dengan menjadi VJ di Channel [V]. VJ kondang seperti Nadya Hutagalung, Sarah Sechan dan Jamie Aditya adalah nama-nama yang selama ini menjadi favoritnya. Dan rupanya lewat aksi mereka inilah Nico menerima tawaran job ini yang tentunya sarat pengalaman baru pula.

Dan, menjadi aktor yang banyak dipuja kaum hawa, sudah menjadi resiko yang ditanggungnya. Walau diawal karirnya, Nico tak siap menghadapinya. Namun kini dengan tampilnya di saluran televisi sekelas Channel [V] membuat Nico harus lebih siap menghadapinya. Termasuk dengan sedikitnya waktu yang diluangkan berama keluarga dan orang-orang tercinta. “Ya, itulah resikonya bekerja di dunia hiburan,” pungkasnya. [view]

Artikel ini ditulis pada Oktober 2007 dan dimuat pada majalah VIEW edisi Oktober 2007

Deddy Mizwar Versus Tora Sudiro

Naga Bonar turun gunung. Naga Bonar yang tua renta diajak anaknya, Bonaga, bertandang ke Jakarta. Itulah awal kisah Naga Bonar (Jadi) 2, film garapan aktor sekaligus sutradara kawakan Deddy Mizwar, yang pernah berperan sebagai Naga Bonar dalam Naga Bonar (1987) 20 tahun silam.

Film ini berkisah tentang semangat nasionalisme dua generasi yang berbeda. Aktor beken Tora Sudiro berperan sebagai Bonaga dan Deddy Mizwar sebagai Naga Bonar. Berikut, bincang-bincang VIEW dengan Deddy dan Tora untuk pertanyaan yang sama seusai pengambilan gambar behind the scene film ini.

VIEW: Mengapa Anda ingin membuat sekuel film ini?

DEDDY MIZWAR [DEDDY]: Semua ini berawal dari rasa rindu saya akan tokoh Naga Bonar yang jujur dan polos.

TORA SUDIRO [TORA]: Ini anugerah terbesar buat saya bisa beradu akting dengan aktor kawakan sekelas bang Deddy. Saya merasa mendapatkan ilmu yang lebih banyak seputar akting dari beliau.

VIEW : Mengapa judunyal Naga Bonar (Jadi) 2?

DEDDY: Ya, karena ini merupakan sekuel dengan alur cerita yang sama tapi setting berbeda. Kebetulan juga, karakter Naga Bonar (Jadi) 2 digambarkan oleh Naga Bonar sendiri dan Bonaga sebagai anaknya.

TORA: Itulah hebatnya sutradara sekelas Deddy Mizwar. Beliau penuh dengan ide brilian dalam membuat dan mengemas sebuah cerita film lama menjadi baru kembali.

VIEW: Apa komentar Anda tentang film ini?

DEDDY: Film ini menunjukkan rasa nasionalisme dan tidak kebarat-baratan walau zaman sudah berubah. Dalam diri Bonaga masih mengakar kuat akan kecintaannya pada bangsa, orang tua, dan sesama. Nilai-nilai yang kuat inilah yang diharapkan dapat menggugah nurani generasi penerus untuk lebih cinta pada lingkungan sekitarnya. Konflik perbedaan nilai dan generasi yang diangkat dalam film ini, diharapkan mampu memberi teladan kepada masyarakat bahwa perbedaan tidak selamanya jelek.

TORA: Wow…film ini keren. Sebuah film yang sangat Indonesia. Peran Naga Bonar 20 tahun silam itu ditonjolkan lagi oleh anaknya, Bonaga, yang hidup di zaman metropolis.

VIEW: Adegan apa yang paling berkesan di film ini?

DEDDY: Ketika Bonaga berniat menjual perkebunan kelapa sawit milik ayahnya, Naga Bonar. Padahal di dalam areal perkebunan itu terdapat kuburan orang-orang yang dicintainya. Juga ketika terjadi dialog antara bapak dan anak, saling diskusi tanpa ada penghakiman, siapa yang benar dan salah.

TORA: Betapa pun zaman sudah berubah, Naga Bonar tetap Naga Bonar yang dulu. Dan itu menurun pada Bonaga yang sedih saat kehilangan orang yang dicintainya.

VIEW: Apa komentar Anda tentang Tora dan sebaliknya?

DEDDY: Tora memang bocor alus. Konyol tapi tetap dalam batas-batas tertentu. Selain itu, ia sangat disiplin dan memiliki kemauan yang besar untuk belajar banyak tentang akting. Itu alasan utama saya memilihnya menjadi Bonaga, ibaratnya like father, like son.

TORA: Bang Deddy adalah sosok aktor yang selama ini saya kagumi. Dia tahu betul apa yang harus dilakukan dan aktingnya tak memang luar biasa. Sebagai sutradara ternama, idealismenya tak diragukan lagi karena selalu menciptakan film yang mengusung tema nasionalisme. [view]

Artikel ini ditulis pada Maret 2007 dan dimuat di Majalah VIEW edisi April 2007

Sehari Bersama Agus ‘Ringgo’ Rahman

Ringgo adalah nama lain dari Agus Rahman. Aktor pendatang baru yang namanya tenar lewat film Jomblo –yang kini diangkat dalam serial TV, makin ngetop saja. Apalagi, ia berhasil meraih piala Vidya lewat Ujang Pantry 2 sebagai Aktor terbaik. Ringgo lagi-lagi membuktikan kepaiawannya berakting.

Namun, meski sudah beken, lelaki kelahiran Bandung, 12 Agustus 1982 ini, mengaku dirinya tetaplah sosok lelaki sederhana dan tak mau neko-neko. “Hati kecilku tak ingin apa-apa. Hidup apa adanya ajalah…. Nggak ada obsesi yang muluk-muluk,’’ kata Ringgo di sela-sela obrolannya di lokasi syuting Jomblo versi serial televisi produksi Sinemart di kawasan Depok. Manhattan beruntung bisa ngobrol asyik dengan Ringgo selama hampir enam jam, dimulai dari tempat tinggalnya di Apartemen Taman Rasuna, Jakarta.

Pukul 10.00

Pihak keamanan apartemen mengizinkan kami masuk, menuju ke lantai 17, kamar Ringgo. Hanya sekali ketuk, Ringgo membuka pintunya lebar-lebar. “Yuk…masuk, santai aja ya..,” katanya ramah. Terdengar, alunan musik yang diputar lewat Hi-Fi. Seperti biasa, Ringgo tak kikuk ngobrol dengan kami dengan bertelanjang dada. “Ini khas gue, nggak apa ya. Kan udah pada tau, gue suka gerah.”

Obrolan basa-basi pun tak berlangsung lama. Soalnya, Ringgo juga siap-siap menuju lokasi syuting. Ia mulai sibuk berkemas. Masih bertelanjang dada, Ringgo menyempatkan menyulut sebatang rokok sambil bercerita tentang kesibukannya semalaman. “Sorry, gue baru bangun. Semalam baru nyampe jam 3 pagi, dan belum sempat beres-beres, gue langsung tidur. Untung tadi ditelepon, kalau tidak bisa sampe siang tidurnya,” ucapnya panjang lebar.

Tampaknya, kondisi tubuh Ringgo kurang fresh. Walau mengaku sudah mandi pagi, wajahnya masih kusam. Tapi ia santai saja menjawab beberapa pertanyaan kami seputar kesibukannya. Sambil memasukan beberapa barang ke travel bag hitamnya, Ringgo ngobrol tentang kondisi kamarnya yang baru dihuni beberapa bulan silam. Ketika disindir tentang Piala Vidya yang diraihnya – kebetulan piala itu teronggok begitu saja diatas meja bersama foto kecilnya, Ringgo hanya cecengesan. “Wah, gue nggak mau komentar deh soal FFI. Wong piala ini kan beda dengan piala Citra, bener kan?” selorohnya.

Setengah jam kemudian, Ringgo dan kami pun keluar dari kamar menuju tempat parkir. Saat menyusuri basement tempat mobil Hyundai-nya diparkir, Ringgo bilang, semua yang dijalaninya ini, semata-mata untuk tetap bisa bertahan hidup. “Nggak ada niat jadi orang kaya deh, kalo terjun di dunia entertainment seperti ini. Kuliah aja belum selesai. Gue hanya nggak mau nyusahin orangtua yang cuma pensiunan. Tapi gue tetap bertekad harus lulus kuliah,” papar mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Parahiyangan Bandung, angkatan tahun 2000 ini.

Pukul 10.38

Setelah bicara sebentar dengan manajernya, Rommy, Ringgo meluncur ke lokasi syuting di kawasan Depok. Ia nyetir sendiri. “Nggak lucu kalo pake sopir.” Dengan kecepatan 80 km per jam, kami menyusuri jalan Rasuna Said. Sambil nyetir, Ringgo cerita tentang pengalamannya saat syuting iklan rokok yang baru saja dijalaninya. Katanya, ada seorang talent yang sebelumnya sangat dihormati dan disegani, ternyata menyimpan dusta. “Gila, emang jaman udah edan ya,” umpatnya.

Tak lebih 20 menit, mobil melaju masuk pintu tol dalam kota. Obrolan kami terhenti sejenak, karena ponsel Ringgo berdering. Hingga menjelang pintu tol Tanjung Barat, Ringgo baru menyudahi obrolannya dengan si penelepon. Katanya sih, dari mantan kekasih. Mobil pun menyusuri jalan Lenteng Agung, Ringgo cerita soal kariernya yang berawal dari penyiar radio di Radio OZ, tahun 2003 di kota Bandung. “Baru 2005, gue ikut main di film Jomblo dan sampai sekarang gue ngejomblo lagi,” ucapnya terbahak.

Masih ngobrol, ponsel Ringgo berdering lagi. Sang penelpon mengabarkan jika Ringgo diminta untuk ikut main film layar lebar lagi. Wajah nya tampak sumringah. Spontan, ia menjabat erat tangan kami. “Wah makasih banget, majalah Manhattan bawa rejeki buat gue,” katanya senang.

Rupanya Ringgo diminta untuk ikut bermain dalam film komedi. Sayang dia belum tahu judul filmnya. Dia teringat, saat memakai kaos warna hitam, sempat terbalik. “ Katanya kalo kebalik, mau dapat rezeki nomplok. Boleh juga.” Memasuki jalan Margonda Depok, tiba-tiba Ringgo bertanya soal billboard yang terpampang dipinggir jalan, menampilkan sosok pria tak dikenalnya namun bertulis ajakan untuk membayar pajak. “ Nggak nyambung gitu, antara gambar dengan tulisan ya.”

Pukul 11.38

Ringgo mengajak kami mampir di sebuah rumah makan padang Simpang Raya, di sisi kiri jalan. Ringgo memesan daging rendang untuk dibawa ke lokasi syuting. Disela-sela menunggu pesanan, Ringgo kembali berburu sebuah tabloid yang sejak tadi pagi dicarinya. Katanya, dia mejeng di sana, jadi kaver tabloid yang menampilkan personel pendukung film Jomblo. Akhirnya yang dicari-cari pun berhasil ditentengnya. Tak berapa lama, pesanan daging rendang berikut sayur daun singkong sudah siap dibawa.

Ringgo melanjutkan perjalanannya ke arah jalan Kamboja, di kawasan Depok Lama. Sepanjang jalan ini, tanpa sungkan, ia cerita tentang kisah asmaranya dengan sang pacar yang masih tinggal di Bandung. Katanya, dia merasa dikhianati oleh sang pacar. “Itu yang membuat kami putus. Tapi nggak usah bicara soalnya sebabnya ya,” pintanya

Kami pun mengalihkan pembicaraan, biar Ringgo nggak bete ingat ceweknya. Kali ini soal serial TV Jomblo yang masih dibintangi oleh pendukung di versi layar lebar sebelumnya. Menurut Ringgo, diantara pendukung serial TV ini, memang dialah yang menerima honor paling tinggi per episodenya. Wajar saja, namanya makin melejit setelah menerima Piala Vidya lewat Ujang Pantry 2 sebagai Aktor Terbaik. “Ya, walaupun gede, tapi baru cukup untuk beli satu motor aja,” ucapnya tertawa lebar.

Pukul 12.00

Mobil pun memasuki jalan Kamboja, tampak sebuah rumah tua peninggalan jaman dulu. Tampak ramai kru film Jomblo, mempersiapkan peralatan syuting. Ringgo memarkir mobilnya di sebuah lapangan, di belakang rumah tua itu. Tak lama kemudian, beberapa kru menyambutnya dengan ramah. Ringgo menebar senyumnya yang khas.

Sambil menentang tas dan bungkusan daging rendang kesukaannya, Ringgo menuju ke kamar ganti sambil basa-basi menyalami kru yang masih sibuk. Rupanya, Ringgo datang paling paling cepat dari pemain lainnya. Menurut salah seorang kru SinemaArt, pengambilan gambar baru akan mulai pukul 14.00 WIB. “Wah, baru jam 12 udah datang, rajin banget. Memangnya nggak dikabari, kalau syutingnya diundur dua jam lagi,” kata Yuda, asisten sutradara yang menemui Ringgo di ruang istirahat.

Tapi Ringgo cuek saja. Dia masih tampak lelah. Seperti biasa, Ringgo kembali melepaskan kaosnya. “Wuih, gerah banget. Sorry gue buka kaos lagi nih,” ujarnya sambil membongkar-bongkar isi tasnya. Ringgo kembali menuturkan kebiasaanya saat makan daging rendang, yaitu dengan dipotong-potong kecil lebih dulu. Kebiasaannya ini sudah berlangsung lama.

“Dulu, ibu gue kalau mau nyuapin adikku yang kembar, daging rendangnya dipotong-potong seperti ini. Lalu diaduk dengan nasi, baru dimakan. Hmm pasti enak banget deh,” kata Ringgo sambil memotong-motong kecil, daging rendangnya. Usai santap siang, Ringgo kembali menyulut sebatang rokok sambil menuturkan perjalanan karirnya di dunia hiburan, yang tak terpikir sebelumnya.

Pukul 13.00

Salah satu kru film menemui Ringgo dan menyerahkan skrip. Ringgo pun mulai membolak-balik skrip yang baru diterimanya, sambil menuju ruang make up. Setelah itu, dia berganti baju yang diberikan kru film. Tampak profesionalitas Ringgo dalam menjalani kariernya sebagai salah satu aktor dalam serial TV Jomblo ini.

Setengah jam kemudian, masih menenteng skrip, Ringgo terlibat diskusi serius dengan sutradara dan kru-kru film lainnya. Ditengah kesibukan kru film mempersiapkan pengambilan gambar, tak sungkan-sungkan Ringgo memberikan arahan-arahan pada pemain figuran yang bakal bermain bersamanya.

Pukul 14.00

Dengan mengambil setting sebuah warung nasi take pertama pun dimulai. Dalam scene itu, Ringgo digambarkan tengah mengamati rumah kost Lani yang diperankan Nadia Saphira. Sayang, saat pengambilan gambar itu, Nadia belum datang. Kendati Ringgo sudah berakting semaksimal mungkin, namun take itu, mau tak mau harus diulang lagi. Pasalnya, akting para figuran kurang mendukung. Sang sutradara pun meminta Ringgo untuk mengulangnya hingga lima kali shoot. Tak pelak lagi, pengambilan gambar dua scene ini memakan waktu hingga satu jam lamanya.

Kebersamaan kami akhirnya harus berakhir hingga pukul 15.30 WIB, karena pengambilan gambar selanjutkan, baru akan dimulai tengah malam, harus menunggu semua pemain hadir. Sekali lagi, kami berjabat tangan. “ Jangan lupa doian gue ya biar sukses..trims banget,” kata Ringgo. Kali ini dia tampak sungguh-sungguh dan tidak sedang bercanda. [view]

Artikel ini ditulis awal tahun 2007 lalu dan dimuat di majalah VIEW Edisi Februari 2007

Deddy Mizwar: “Untuk insaf pun perlu latihan”

Makin tua makin moncer. Itulah kiranya gambaran yang pas untuk sosok aktor kawakan yang satu ini. Aktingnya selalu menyatu dengan karakter yang dimainkannya baik dalam film, sinetron maupun iklan. Ia pun hadir sebagai penghibur lara para pecinta film kala industri perfilman negeri ini mati suri. Tak heran jika sederet penghargaan telah diraihnya.

Kiamat Sudah Dekat adalah salah satu garapannya yang membuat keluarga Presiden Susilo Bambang Yudoyono tergugah untuk menontonnya. Tak hanya itu, Presiden SBY pun mengundangnya secara khusus ke istana negara. Pun saat film Nagabonar (Jadi) 2 (2007) dirilis, dijadikan tontonan wajib anggota Kabinet Indonesia Bersatu atas rekomendasi Presiden SBY.

Nama Deddy Mizwar (52), pun kian populer ditengah membanjirnya aktor-aktor muda. Bahkan tampak jelas kualitas keaktorannya makin matang. Film Nagabonar (Jadi) 2, adalah bukti kemampuannya ‘melibas’ bintang-bintang muda yang tengah naik daun.

Kini lewat film dan sinetron hasil karyanya tak menggambarkan perilaku manusia secara hitam-putih. Semua karakter-karakter ‘rekaannya’ ditonjolkan begitu manusiawi dan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Cerita yang disampaikan begitu  sarat pesan moral, ringan dan menghibur tanpa terkesan menggurui.

Tengok saja, sinetron Lorong Waktu produksi perdana dari Demi Gisela Citra Sinema –rumah produksi miliknya— mampu menembus angka 6 di belakang judul sinetron yang bertutur kisah-kisah sarat hikmah itu. Pun film garapannya Kiamat Sudah Dekat yang akhirnya disinetronkan yang kini telah menembus sekuel ketiga itu tayang di SCTV selama Ramadhan ini. Bahkan masih di stasiun televisi swasta yang sama, Deddy pun menghadirkan sinetron Para Pencari Tuhan bersama tiga personel grup lawak muda Bajaj. Lewat sinetron komedi terbarunya ini, Deddy sang sutradara berpesan, “Ketika manusia dan dunianya tak lagi menerima kita, maka hanya Allah Subhanahu Wata’ala yang masih sudi membuka tangan lebar-lebar.”

Jauh sebelum sinetron religi booming di layar kaca di hampir semua stasiun televisi swasta, di tahun 1990-an aktor kawakan kelahiran, Jakarta 5 Maret 1955 itu sudah memproduksinya lebih dulu. Sebut saja sinetron Mat Angin, Abu Nawas dan Hikayat Pengembara yang dibuat rumah produksi Wibawa Satria Perkasa. Tak dinyana, sinetron garapannya itu mampu bertahan hingga puluhan episode. Sinetron Abu Nawas tayang hingga 52 episode, sementara Hikayat Pengembara berhasil menembus lebih dari 100 episode. Dan lewat sinetron Mat Angin, ia menyabet penghargaan Aktor Terbaik dan sekaligus Sutradara Terbaik dalam ajang FSI 1999.

Lantas apa yang membuat dirinya tergugah untuk memproduksi sinetron atau film yang selalu mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia? “Biasanya setiap ramadhan tiba, banyak bermunculan hiburan yang religius tapi terkadang masih banyak hanya sebatas hiburan tanpa memiliki pesan yang baik,” jawab aktor yang kini menjabat sebagai Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional periode 2006-2009.

Lebih dari itu, menurutnya banyak sinetron berbau agama yang terkesan sangat menggurui, sangat hitam-putih, dan membodohi. Malah, tak sedikit sinetron religi yang sempat menduduki rating teratas dua tahun silam menggambarkan seolah Tuhan begitu kejam pada umatnya yang bersalah. Jiwanya pun berontak, saat melihat perkembangan tayangan televisi swasta yang makin memprihatinkan. “Maraknya pornografi, pornoaksi, kekerasan, dan klenik di teve, membuat hidup kita seperti binatang. Maka saya mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda sebagai alternatifnya,” tandasnya.

Di masa remajanya, ia kerap tampil dari panggung ke panggung teater. Bahkan sekolahnya pun nyaris keteteran. Saking cintanya pada dunia seni peran, putra pasangan Andries Velberg dan Sun’ah lebih memilih keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai negeri pada tahun 1976 untuk bermain film. Dan film Cinta Abadi (1976) arahan sutradara Wahyu Sihombing adalah debutan Deddy di dunia layar lebar.

Tampil apik dalam Cinta Abadi, membuat para produser dan sutradara melirik kepincut untuk mengajaknya bermain film, antara lain Menanti Kelahiran, Hamil Muda, dan Kekasih. “Tapi, setelah periode itu, selama tiga tahun saya tidak mendapat satu tawaran pun. Untunglah, pentas teater masih jalan terus,” kenang aktor yang telah membintangi 73 judul film.

Setelah tahun 1982, Deddy mulai mendapatkan tawaran main film lagi. Ia tampil membintangi Bukan Impian Semusim (1982) arahan sutradara Ami Priyono. Hasil kerja kerasnya, hampir setiap tahun namanya muncul dalam daftar nominasi di ajang Festival Film Indonesia (FFI), meski belum berhasil jadi pemenang. Diantaranya lewat film Bukan Impian Semusim, Sunan Kalijaga (1984), Saat-saat Kau Berbaring di Dadaku (1985) dan Kerikil-Kerikil Tajam (1985) namanya dijagokan sebagai Aktor terbaik.

Dan akhirnya pada ajang FFI 1986, suami dari Giselawati Wiranegara ini berhasil memboyong dua piala citra sekaligus untuk kategori Pemeran Utama Terbaik lewat film Arie Hanggara dan Pemeran Pembantu Terbaik dalam film Opera Jakarta. Selain itu, namanya pun masuk dalam nominasi aktor terbaik dalam film Kejarlah Daku Kau Kutangkap. Konon, hingga saat ini, belum ada aktor dan aktris Indonesia yang mampu menyamai prestasinya itu. Tahun berikutnya di ajang FFI 1987, ia pun berhasil menyabet Aktor Terbaik lewat aktingnya di film Nagabonar.

Meski telah menjadi bagian dari dunia artis yang terkesan glamor, tak membuatnya tenggelam ikut arus sebagaimana kebanyakan artis lainnya. Malah kini kesan alim bak ‘kiai’ lebih melekat pada dirinya. Tak jarang orang menilainya tak sekedar aktor yang mampu berperan sebagai orang alim seperti Haji Husin, Haji Romli hingga Sunan Kalijaga yang diperankannya. Tak ayal, hal ini membuatnya jengah, pasalnya ia mengaku masih dalam proses belajar agama.

Ayah dari Senandung Nacita (20) dan Zulfikar Rakita Dewa (19) terus berkomitmen untuk menghadirkan tontonan yang sarat pesan moral. Selain sebagai bentuk pertanggungjawabannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas profesinya sebagai seorang sineas. Lewat dua sinetronnya Kiamat Sudah Dekat 3 dan Para Pencari Tuhan, Deddy berharap kedua tontonan itu bisa dijadikan pesan untuk umat dalam memperlakukan orang-orang yang tengah dalam kegelapan. Seakan-akan Bang Jack mantan jagal sapi dalam sinetron Para Pencari Tuhan yang tayang di waktu sahur itu ingin menyampaikan bahwa, “Untuk insyaf pun perlu latihan.”

Tulisan ini dimuat di majalah Selatan Edisi Oktober 200

[maaf bila tulisan ini baru diposting setelah setahun diterbitkan… dan kini majalah itupun sudah tidak terbit lagi]