Lebih Dekat Dengan Andi Rudiyanto Asapa : Berjuang Bersama Rakyat

Berani, sederhana, dan bersahaja adalah gambaran Andi Rudiyanto Asapa. Sepak terjangnya kerap memusingkan banyak kalangan, baik saat sebagai advokat maupun kala duduk di kursi birokrat. Ia selalu berada di garda depan memperjuangkan keadilan tanpa gentar dan tak kenal kompromi saat harus melayani, mengayomi, dan membela rakyat. Tak heran bila ia kian disegani banyak kalangan.

CALEG DPR RI DAPIL SULSEL 2 NO URUT 1

CALEG DPR RI DAPIL SULSEL 2 NO URUT 1

Sosok lelaki yang akrab disapa Rudi ini,memang sudah tak asing lagi bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Rekam jejak perjalanan hidupnya, begitumelekat dalam hati masyarakat. Rudi kerap tampil sederhana dan merakyat saat melakukan sosialisasi ke daerah pemilihannya (dapil). Kesederhanaan itu bukan untuk pencitraan, sebab itu sudah menjadi karakter pengacara yang pernah memimpin Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar ini. Sikapnya santai terhadap aturan formal protokoler, namun tetap menjunjung tinggi etika sesama.

Mantan Bupati Sinjai ini memang bukan berangkat dari latar belakang birokrat. Sebelum menjadi bupati pada Juli 2003, lulusan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar ini,acap berhubungan dengan masyarakat, tak terkecuali kaum marginal. Kebiasaan itu berlanjut ketika menjalankan tugasnya sebagai bupati selama dua periode. Rudi dikenal sebagai sosok yang tak segan-segan blusukan siang maupun malam. Saat menjabat bupati Sinjai, ia keluar masuk perkampungan hingga ke pelosok desa untuk mengetahui beragam persoalan yang dihadapi masyarakat atau sekadar menyapa penduduk di wilayahnya.

“Tidak ada perubahan. Tidak ada juga hal yang baru dan perlu diubah. Saya menjadi bupati dengan karakter seperti itu, setelah masa jabatan saya berakhir yah tetap begitu,” ungkap pria kelahiran Gorontalo, 26 Mei 1957 ini.

Selepas tugasnya sebagai Bupati Sinjai, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sulawesi Selatan ini maju sebagai calon anggota (caleg) DPR RI dapil Sulsel 2. Di dapil ini, Rudi akan bersaing ketat dengan  sejumlah anggota DPR-RI sepertiMalkan Amin, Akbar Faisal, Jafar Hafsah, Andi Rio Padjalangi, Halim Kalla, Syamsul Bahri, Andi Taufan Tiro dan Tamsil Linrung.

Rudi maju menjadi caleg bukan sekadar unjuk kekuatan. Ia merasa resah melihat kondisi bangsa yang kian memprihantinkan. Ia menilai masih banyak yang harus dilakukan untuk membenahi negeri ini.

“Apa yang telah saya lakukan saat menjadi bupati belum banyak memberi hasil maksimal. Nah, untuk bisa ikut membenahi itu, mau tidak mau kita harus masuk dalam parlemen,” ujarnya.

Sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Sulsel, beragam terobosan telah ia lakukan. Di samping penguatan program aksi serta manivesto perjuangan partai, lewat Pemilu 2014  ia mencanangkan target sembilan kursi DPR dari provinsi ini. Setidaknya, itulah yang ia sampaikan kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda saat ditemui beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya :

Setelah Anda menyelesaikan tugas sebagai bupati, apa saja aktivitasnya saat?

Selain menjalankan tugas sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Sulsel, saya tetap keliling Sulsel, khususnya dapil 2. Tidak ada perubahan. Sama seperti dulu dengan cara saya sendiri. Sama halnya saat pemilihan gubernur, saya menginap di rumah-rumah masyarakat. Saya bersyukur masih diminta mendatangi mereka dan tinggal beberapa waktu sehingga saya susah payah membagi waktu. Tidak ada perubahan, tidak ada hal yang baru dan perlu diubah. Saya menjadi bupati dengan karakter seperti itu, setelah selesai pun masih seperti dulu.

Bisa diceritakan awal mula Anda bergabung ke Partai Gerindra?

Tahun 2010 Pak Permadi dan Pak Prabowo meminta saya masuk Partai Gerindra. Saya butuh 6 bulan untuk berpikir. Akhirnya dengan bismillah saya masuk dan memimpin Partai Gerindra Sulsel. Nah, yang membuat saya gabung ke partai ini pertama saya melihat visi misi perjuangan Partai Gerindra dan juga komitmen Pak Prabowo untuk kepentingan masyarakat begitu besar. Itu saya pelajari selama enam bulan.

Kedua saya melihat prospek Indonesia, memang ke depan harus ada perubahan, tidak boleh tidak. Kenapa? Karena saya ini sudah merasakan sendiri berada di posisi pemerintahan. Saya tahu bagaimana kelemahan pemerintahan ini. Untuk itu harus ada pemimpin yang baru dan tegas untuk menjalankan roda pemerintahan sehingga NKRI bisa tetap bersatu, masyarakat dan petani kita sejahtera. Tidak seperti itu, hanya masyarakat kota yang sejahtera tapi masyarakat di pelosok desa tidak sejahtera.

Bisa Anda ceritakan bagaimana perkembangan Gerindra di Sulsel menghadapi Pemilu 2014?

Partai Gerindra di Sulsel sangat siap. Seluruh caleg, mulai dari DPRD kabupaten/kota, provinsi dan pusat sudah menjalankan tugasnya masing-masing. Apalagi setelah selesai pembekalan tingkat pusat, maka berikutnya akan dilakukan pembekalan ke tingkat propinsi hingga kabupaten/kota. Selama ini kita biarkan mereka mensosialisasikan diri sebagai caleg.

Semuanya tentu harus memahami dan mengerti, lalu mampu menjelaskan kepada masyarakat tentang 6 Program Aksi Transformasi Bangsa Partai Gerindra. Karena program itu adalah bentuk kontrak politik Partai Gerindra dan Pak Prabowo Subianto kepada masyarakat. Para valeg harus mempelajari dan menerjemahkan dengan baik, lalu menyampaikan ke masyarakat dengan bahasa mudah dipahami.

Apa yang melatarbelakangi Anda maju sebagai caleg?

Menurut sudut pandang saya, kondisi bangsa ini masih banyak yang harus dibenahi. Apa yang telah saya lakukan pada saat menjadi bupati sebagai upaya untuk membenahi bangsa ini belum banyak memberi hasil maksimal. Apalagi kondisi bangsa ini semakin hari semakin memprihatinkan, belum banyak berubah. Agar bisa ikut membenahi, mau tidak mau kita harus masuk dalam parlemen.

Apalagi kalau kita lihat banyak sistem ketatanegaraan yang sudah keluar dari rel. Mulai dari persoalan hukum, sistem pemerintahan, kebijakan pemerintah pusat kepada kepala daerah yang menurut saya memberikan otonomi, tapi tidak sepenuhnya. Bahkan ada menteri yang bilang, otonomi memberikan kepala daerah otoriter, penguasa daerah, tapi semua itu tidak benar dan sangat disayangkan. Karena otonomi daerah yang diberikan itu kerap dibelenggu oleh kebijakan pusat. Semua ini harus kita perbaiki dan benahi secara bersama-sama lewat parlemen.

Lantas apa visi dan misi Anda?

Yang pasti 6 Program Aksi Transformasi Bangsa yang dideklarasikan oleh Ketua Dewan Pembina, Pak Prabowo Subianto. Hal itu adalah bagian dari visi dan misi yang harus dikerjakan oleh seluruh kader secara bersama-sama. Karena keenam program itu dibutuhkan oleh masyarakat, seperti kedaulatan ekonomi. Selama ini ekonomi kita tetap terjajah dengan persoalan kebijakan, pemerintahan yang liberal. Padahal omong kosong bisa membangkitkan ekonomi rakyat kecil kalau ekonomi kita masih menganut sistem liberal. Tak heran bila akses masyarakat kecil untuk mendapat dana bantuan selalu terhalang.

Coba hitung, berapa banyak bank negara yang berpihak pada rakyat kecil. Bisa hitung jari karena saya praktisi di daerah. Jika masyarakat di pedesaan yang mengajukan kredit pasti dipersulit. Sebaliknya, kalau pengusaha yang mau bangun real estate pasti mudah sekali. Ini kan aneh. Inilah yang harus diubah. Kita butuh program transformasi bangsa. Contoh lain, kita ini negara agraris, lahan sawah terbentang luas, tapi petani kita tetap miskin. Pada saat harga pangan naik, seharusnya mereka merdeka, tapi apa yang terjadi, petani tetap miskin. Begitu juga ketika panen, harga anjlok, saat itu juga tidak ada keberpihakan pemerintah yang mau menalangi kerugian mereka. Banyak sekali regulasi yang tidak menguntungkan petani.

Sebagai mantan bupati, seberapa tinggi elektabilitas Anda?

Insya Allah dengan tidak mau mendahului kuasa Tuhan, saya bisa lolos. Karena selama ini saya turun dengan pola saya sendiri, penerimaan dan sikap masyarakat tetap bagus dan baik. Bahkan meski saya sudah dikenal, tapi saya masih tetap mau menginap di rumah-rumah penduduk. Hampir setiap minggu saya turun ke masyarakat yang ada di dapil Sulsel 2 guna menyerap apa yang mereka keluhkan. Apa saja yang mereka inginkan dan harapkan. Memang kebiasaan saya sewaktu menjadi bupati hingga detik ini masih saya lakukan.

Kadang masyarakat mengeluhkan minimnya fasilitas, infrastruktur yang rusak dan sebagainya. Tapi semua itu tidak bisa kita langsung ambil kesimpulan jika bupatinya keliru atau tidak bekerja. Saya paham betul apa yang dihadapi seorang bupati, termasuk kesulitan yang dihadapi. Ini yang akan kita ubah. Hal ini yang akan saya lakukan jika nanti dipercaya duduk di badan legislatif. Salah satunya pola kebijakan pusat terhadap kepala daerah. Saya akan berada di depan dalam perjuangan ini, khususnya dalam hal penganggaran.

Seperti apa karakter pemilih di dapil Sulsel 2?

Di beberapa daerah masih melihat caleg dari sisi kekerabatan, kekeluargaan, silsilah, garis keturunan, dan sebagainya. Tapi yang repot mereka yang pragmatis. Bukan salah mereka bersikap pragmatis, karena ini contoh yang diberikan para pemimpin kita. Tidak dipungkiri karena ini yang dilakukan elite politik, mereka yang mengajarkan masyarakat menjadi pragmatisme. Karena masyarakat dalam kondisi butuh, ya tidak salah kalau mereka terima pemberian itu. Di beberapa daerah memang banyak yang diimingi-imingi, tapi saat ini mereka sedikit terbuka pemikirannya, bahwa mereka terima apa yang diberikan para politisi, tapi masalah pilihan kembali lagi pada hati nuraninya.

Bagaimana upaya Anda untuk mengantisipasi hal itu?

Dalam setiap kesempatan, saya hanya menyampaikan apa yang pernah saya perbuat di Sinjai sebagai bupati. Mereka bisa lihat. Kalau saya dianggap gagal, mereka boleh tidak memilih saya, tapi kalau mereka anggap saya berhasil, Insya Allah apa yang pernah perbuat di Sinjai itu akan saya lakukan juga untuk daerah lainnya. Jadi mereka akan melihat kinerja dan sepak terjang saya selama ini.

Berapa kursi target Gerindra Sulsel?

Saya tidak sesumbar, saya melihat dari kondisi sekarang kita targetkan sembilan kursi. Setiap dapil masing-masing tiga kursi. Kalaupun ada dapil yang hanya meraih dua kursi, bisa ditutupi dari dapil lainnya.

Selama ini kendala apa yang dihadapi?

Yang pertama adalah kesadaran dari kader sendiri, khususnya caleg. Artinya masih banyak caleg krasak-krusuk yang tidak mempunyai basis lalu mengganggu basis caleg lain. Ini akan kita benahi. Kedua, kita tidak sama dengan partai lain yang memiliki amunisi besar, karena keterbatasan kemampuan finansial para caleg. Maka kita harus bermain dengan pola yang efisien dan efektif untuk meraih simpati masyarakat. Tidak hanya pasang baliho, spanduk, stiker lalu tanpa turun ke lapangan menyapa, menyentuh langsung masyarakat. Cara ini akan sejalan dengan target pencapaian, mulai dari DPR kabupaten/kota. Provinsi dan pusat suaranya akan sama.

Selama ini terobosan-terobosan terus kita lakukan, membuat  tren Gerindra pun terus meningkat. Tak heran jika Partai Gerindra Sulsel banyak diganggu, baik dari dalam maupun dari luar. Memang, intrik-intrik semacam itu sengaja digulirkan yang bisa saja mengganggu soliditas kader Partai Gerindra Sulsel. Celakanya, banyak teman-teman yang bermain dalam area-area itu. Saya ingatkan kepada mereka bahwa kemenangan kita adalah kemenangan rakyat Sulsel. Kemenangan rakyat Sulsel inilah yang akan mengantarkan target akhir Partai Gerindra di Pemilu 2014 untuk mengantarkan Pak Prabowo sebagai presiden. Setidaknya kita akan mencapai target 24-30 persen, makanya saya pasang target 9 kursi. Andai itu meleset, paling satu atau dua kursi. Saya selama ini melakukan pemetaan, setiap dapil akan merata kursinya. Kalaupun bergeser itu akan saling menutupi.

Jika terpilih nanti, apa yang akan Anda lakukan?

Yang pasti kita akan sukseskan 6 Program Aksi Transformasi Bangsa. Bagaimana caranya kita berjuang di parlemen mulai dari legislasi hingga penganggaran dan pengawasan. Apalagi kalau Ketua Dewan Pembina kita berhasil menduduki kursi kepresidenan, tentu saja ini akan lebih lancar lagi. Saya berharap ini akan terwujud. Karena inilah tujuan akhir dari perjuangan Partai Gerindra di momen Pemilu 2014. Sehingga kita di dewan tinggal mengawal, memperbaiki, apa-apa yang selama ini menjadi kelemahan harus kita ubah.

Yang pertama dilakukan adalah pasti tatib DPR harus kita ubah, karena banyak persoalan muncul. Termasuk pula beberapa undang-undang yang ada juga harus diperbaiki. Sebagai  praktisi hukum, saya menilai apa yang dilakukan DPR selama ini dalam membuat udang-undang bertahun-tahun, bahkan sampai studi banding ke luar negeri, seringkali sia-sia. Bayangkan saja, setelah disahkan DPR, hanya butuh waktu semalam undang-undang itu dibatalkan oleh Mahkamah Konstutusi (MK).

Pertanyaan saya, MK punya dasar tidak, padahal yang berhak membatalkan undang-undang itu adalah rakyat,  diwakili DPR. Inilah yang akan jadi fokus kita. Kita akan buat undang-undang dengan baik sesuai keinginan rakyat, sehingga tidak perlu lagi ada pembatalan. Kalau pun ada masalah DPR lah yang membatalkan bersama pemerintah, bukan lembaga lain. Karena jelas dalam pasal 2 ayat 1, pemerintah bersama DPR membuat undang-undang. Selama ini undang-undang selesai dibuat dengan dana bermilyar-miliyar, tapi hanya dalam hitungan minggu dibatalkan di MK. Jika kondisinya seperti ini, apa yang terjadi di negari ini?.

Selain itu soal anggaran ke daerah yang terlalu berbelit-belit. Ini yang harus diperbaiki, sehingga tidak ada lagi permainan-permainan, sehingga muncul kasus antara Bupati dan DPR, Menteri dan Bupati kongkalikong menyangkut masalah pembagian anggaran. Harusnya APBN sebagai sumber pendanaan pembangunan itu dibagi rata. Bagaimana mereka mengelolanya diserahkan ke daerah masing-masing. Soal kemudian ada penyimpangan, itu kan ada kewenangan kejaksaan dan kepolisan.

Apa pesan dan harapan Anda lewat Pemilu 2014 ini?

Bagi saya, inilah saatnya jika masyrakat Sulsel mau berubah dengan memilih caleg tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga pusat yang punya kapabilitas, kemampuan, yang mampu membawa perubahan bagi rakyat Sulsel sendiri. Jangan lagi tergiur dengan janji-janji yang pada saatnya caleg-caleg janjikan, tapi setelah terpilih tidak datang lagi. Itulah pelajaran yang harus mereka petik dari momen sebelumnya. Bisa jadi mereka dapat 100 ribu rupiah, tapi setelah dipilih tidak datang, lalu pada saat pemilihan berikutnya datang lagi. Rasanya ini bukan saja terjadi di Sulsel, tapi juga di banyak daerah lainnya.[G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Oktober 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Andi Rudiyanto Asapa maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) Sulawasi Selatan 2.
Advertisements

Lebih Dekat Dengan dr Felicitas Tallulembang : Rakyat Sekarang Lebih Banyak Apatis

Kerisauan melihat keadaan masih banyak masyarakat yang bergelut dalam kemiskinan membawa dr Felicitas Tallulembang Rudiyanto Asapa merasa perlu menceburkan diri dalam dunia politik. Sepuluh tahun menjadi kepala puskesmas di kampung nelayan di Sulawesi Selatan (Sulsel)( memberinya pengalaman batin yang amat berarti dalam melihat kondisi masyarakat. Pengalaman itu makin kaya dan beragam saat menjabat kepala Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Sinjai.

felicitasKenyataan itu membuat jalan hidup dokter lulusan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar ini berbelok arah. Dia memilih berhenti dari pegawai negeri sipil (PNS), meninggalkan jabatan kepala rumah sakit, untuk memasuki dunia baru; politik praktis. Kedudukan suaminya, Andi Rudiyanto Asapa sebagai bupati Sinjai, memperkuat keyakinannya. “Saya mundur karena suami jadi bupati. Saya rasa tidak etis dan tentu akan banyak kalangan yang menilai ada kepentingan politik,” ucap Sita, sapaan akrab perempuan kelahiran Rantepao, Tana Toraja, 6 November 1959 ini.

Pemilu 2009, ia menjadi caleg Partai Republikan. Meski mendulang cukup suara, tapi perolehan total suara partai ini tidak cukup mengantarkannya berkantor di Senayan sebagai anggota DPR. Perolehan suara RepublikaN tidak melampaui ambang batas parlement threshold untuk bisa mengirim perwakilan ke Senayan. Sita akhirnya memasuki dunia bisnis.

Untuk meneruskan perjuangannya, sejak 2010 ia pun bergabung dengan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Dia merasa visi dan misi Gerindra sejalan dengan cita-cita perjuangannya. “Kalau terpilih, saya akan berjuang dengan idealisme saya untuk rakyat Indonesia sesuai visi dan misi Partai Gerindra,” dia menuturkan.

Lantas seperti apa pandangan ibu dari dua anak dan tiga cucu ini terhadap kondisi bangsa dan negara Indonesia? Bagaimana pula ia menyikapinya tantangan yang tengah dihadapi bangsa ini? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, bertempat di kantornya di bilangan Bendungan Hilir, dokter umum yang pernah dinobatkan sebagai dokter teladan untuk tingkat Kabupaten Takalar tahun 1994 ini menuturkan pandangan dan perjuangannya melayani kesehatan masyarakat kecil. Berikut petikannya:

Menurut Anda, bagaimana kondisi kepemimpinan Indonesia saat ini?

Sepertinya bangsa ini masih mencari jati diri. Rakyat sekarang lebih banyak apatis, padahal tujuan dari reformasi untuk kesejahteraan rakyat. Yang jelas kita membutuhkan pemimpin yang berani berbuat dan bertanggungjawab. Berani bilang A walaupun belum tentu benaratau salah, bukan bilang A lalu ngomong B. Jadi harus tegas dan berani.

Bukankah dengan sumber daya alam yang melimpah dapat mensejahterakan masyarakat?

Negeri ini memiliki kekayaan sumber daya alam yang begitu besar, tapi sayangnya tidak bisa dinikmati oleh seluruh rakyat, hanya sekelompok orang. Bahkan banyak kekayaan kita yang terkuras keluar negeri. Tak heran bila, ketimpangan sosial terjadi di mana-mana. Di samping itu, dengan kekayaan yang melimpah itu, pemerintah juga tidak mampu menciptakan lapangan kerja bagi rakyatnya. Di tambah lagi dengan gelombang resesi ekonomi yang terus menerpa di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Sepertinya Indonesia masih berada di persimpangan jalan liberalisasi.

Mestinya dengan sumber daya alam yang sangat besar ditambah sumberdaya manusia yang banyak, Indonesia bisa bangkit. Karena itu, seharusnya pemimpin kita berani bersikap dan jangan ragu-ragu. Yang terjadi sekarang adalah, tidak adanya keberanian, ketegasan dalam menentukan sikap sebagai bangsa yang berdaulat dalam perekonomian. Tak dipungkiri, bangsa ini akhirnya tidak bisa membuat apa-apa di tengah desakan liberalisasi ekonomi. Bahkan yang ada Indonesia menjadi pasar dunia, semua produk masuk ke negeri ini. Kita kalah dengan Cina, Malaysia, Vietnam bahkan Filipina dan Birma yang mampu tampil sebagai bangsa dan negara lebih maju. Tentunya, jika pemerintah dan rakyat Indonesia mampu bersinergi untuk melakukan upaya-upaya strategis mengatasi hal tersebut, saya yakin Indonesia menjadi modern, maju, dengan ekonomi yang berkelanjutan.

Menurut Anda, apa yang harus diperbaiki?

Yang musti dilakukan di Indonesia ini adalah perbaikan sistim. Kita tahu, beberapa sistim selalu berganti-ganti di Republik ini. Sistim yang satu belum selesai dan bahkan belum dilakukan ada lagi sistim yang baru. Sudah itu tidak hanya sistim pemerintahan yang belum baku, tapi lebih sering dilakukan sepotong-sepotong yang terkadang lebih mementingkan kelompok yang kuat. Lihat saja, semua Undang-undang lebih sering dibuat atas kehendak kelompok yang kuat. Padahal tugas DPR itu untuk mensejahterakan rakyat melalui perundang-undangan yang mereka buat. Parahnya lagi, ketidakberdayaan para anggota legislatif, lebih sering dimanfaatkan oleh kekuatan luar untuk mengintervensi penyusunan undang-undang yang mereka buat. Tak heran bila sebuah undang-undang yang telah mereka sahkan akhirnya harus digugat sekelompok masyarakat di Mahkamah Konstitusi karena dituding tidak memihak kepentingan publik.

Untuk itulah saya berharap DPR ke depan, pada waktu membuat undang-undang yang akan menjadi panduan hidup rakyat itu benar-benar untuk kepentingan rakyat bukan karena tekanan kelompok. Begitu juga dengan peraturan pemerintah atau peraturan daerah harus disesuaikan dengan kebutuhan rakyat bukan karena keinginan kekuatan sekelompok orang. Jadi ketika mereka bersidang membahas undang-undang yang ada di kepala mereka adalah rakyat. Rakyat. Rakyat. Bukan sekadar mengatasnamakan rakyat, tapi rakyat yang mana.

Menurut Anda apa yang dibutuhkan negara ini agar bisa bersaing?

Perlu seorang pemimpin yang kuat, berani mengambil sikap dan berani mengatakan yang benar untuk kepentingan Indonesia. Jika pemimpinnya kuat, mampu mengatakan dengan tegas kepada pihak asing, saya yakin Indonesia tidak hanya sekadar kaya, tapi akan menjadi negara yang diperhitungkan dunia dan bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Pihak asing boleh saja masuk ke Indonesia, tapi kita yang menentukan bukan malah kita yang didikte atau malah ditekan. Sejarah bangsa-bangsa yang sukses dan besar mengajarkan kepada kita bahwa para pemimpin sejati adalah mereka yang memiliki keberanian untuk mencoba dan menawarkan solusi untuk mengatasi masalah-masalah besar.

Bagaimana dengan sumberdaya manusia yang dimiliki Indonesia?

Sejatinya sumberdaya manusia Indonesia tidak kalah kualitasnya, tapi ada yang harus diperbaiki yaitu sistim pendidikannya. Negeri ini terlalu banyak professor tapi apakah kapabel? Banyak perguruan tinggi tapi apakah keluarannya berkualitas. Yang terjadi di negeri ini banyak menciptakan doktor, professor tapi apakah mereka menghasilkan karya? Yang banyak adalah gelar, yang mengakibatkan malas. Ada yang bangga dengan gelar doktor, atau kesarjanaannya, tapi tidak mengerti dengan gelar yang disandangnya. Kalau begitu, lebih baik tukang jahit yang memang memiliki skil menjahit.

Diakui di Indonesia peneliti masih kurang, karena mereka tidak punya ruang dan kesempatan. Mereka lebih senang berada di negeri orang. Karena memang sistim yang mengatur itu masih tidak jelas. Tentunya, ini kembali lagi kepada pemimpinnya, mau dibawa kemana negara ini. Dia harus tahu prioritas apa yang harus dilakukan dan berani bertanggungjawab. Bukan berarti pemimpin itu membuat sesuatu hanya karena yang disuka masyarakat. Dengan kata lain, bukan pencitraan tapi sesuai kebutuhan rakyat.

Bagaimana dengan pendidikan politik di Indonesia?

Mustinya yang berani terjun ke dunia politik adalah seorang yang berani berjuang berani mati untuk negara ini layaknya seorang tentara/prajurit. Bukan untuk mencari makan, tapi bagaimana memperjuangkan kepentingan rakyat Indonesia. Pada dasarnya politik itu ideologi bukan profesi, bahkan kalau perlu barang kita jual untuk membiayai perjuangan politik kita. Itulah seharusnya dilakukan orang yang terjun ke politik. Sekarang bukan lagi seperti itu, tapi menjadi bidang pekerjaan. Akhirnya, ini yang menimbulkan sikap apatis masyarakat. Karena mereka tidak diperjuangkan. Wajar jika money politic merajalela karena ongkosnya sangat mahal. Akhirnya negara sendiri yang dirugikan.

Menurut Anda politik itu apa?

Politik itu idelogi. Ideologi yang harus diperjuangkan untuk merubah keadaan. Boleh jadi kata orang, politik itu jahat, kotor, menghalalkan segala cara. Padahal sebenarnya politik itu akan memberikan hal yang baik bila dipegang oleh orang yang benar, dan sebaliknya bisa menjadi malapetaka jika ada ditangan orang jahat.

Ke depan apa yang akan Anda dilakukan untuk memperjuangkan ideologi itu?

Selain mengurus majalah Garuda, saya juga sudah mendaftar sebagai bakal caleg dari dapil Sulsel 3, dan kalau terpilih saya akan berjuang dengan idealisme saya untuk rakyat Indonesia sesuai visi misi Partai Gerindra.

Sebagai kader Partai Gerindra, dengan kondisi itu apa yang harusnya dilakukan?

Karena bangsa ini membutuhkan pemimpin yang mampu mengatakan dan berbuat sesuatu, walaupun misalnya dinilai belum tentu benar. Tetapi yang jelas, ada keberanian dulu, tidak seperti sekarang. Untuk itu, sebagai kader Gerindra, kita harus terus bergerak memperjuangkan untuk memenangkan Gerindra dan Prabowo Subianto sebagai Presiden Republik ini. Ini adalah tantangan besar bagi segenap elemen partai yang memiliki tokoh sekelas Prabowo yang terus mendapatkan dukungan dari masyarakat. Karena, bisa jadi elektabilitas Prabowo terus naik, tapi kalau di Pemilu 2014 nanti perolehan suara Gerindra kurang atau tidak memenuhi batas president threshold. Itupun kalau tidak dijegal oleh kekuatan partai lain.

Untuk itu, marilah kita terus sosialisasikan Gerindra dan Prabowo ke tengah masyarakat baik dalam aktifitas politik maupun aksi sosial. Sehingga anggapan Prabowo itu Gerindra, dan Gerindra adalah Prabowo seiring sejalan. Jangan sampai rakyat mengenal Prabowo tapi tidak mengenal Gerindra, begitu juga sebaliknya. Ini juga menjadi tantangan bagi petinggi-petinggi Partai Gerindra untuk mensolidkan kader partai dari atas hingga ke bawah. Selain ini para pimpinan partai ini harus membumi, memiliki rasa kebersamaan, dan empati dengan apa yang dialami rakyat.

Yang jelas, perputaran politik tidak hanya butuh kapabilitas, tapi dana yang besar. Untuk itu kita harus bekerja bersama rakyat sehingga beban ini menjadi lebih ringan. Tapi kalau perjuangan partai ini digerakkan hanya oleh segelintir orang, maka akan terasa berat. Memang tak ada perjuangan yang ringan, semuanya berat dan penuh tantangan. Tapi kalau kita bersama-sama melakukannya, dan ada kemauan serta komitmen, saya rasa aka nada rasa memiliki pada masyarakat terhadap Gerindra.

Apa saja yang akan Anda perjuangkan bagi Sulsel?

Kalau bagi saya sih Sulawesi Selatan bagian dari Indonesia yang tidak jauh beda dengan daerah lain. Saya orang medis yang pernah jadi kepala puskesmas selama 10 tahun kemudian kepala RSUD selama hampir 10 tahun. Latar belakang saya sebagai tenaga medis, tentu saya akan memperjuangkan yang berkaitan dengan bagaiamana masyarakat miskin itu dilayani negara. Itulah yang akan menjadi fokus perjuangan saya.

Apakah terjunnya Anda di panggung politik ini sebagai bentuk kerisauan?

Ya, sangat risau. Dulu saya sebagai dokter umum yang bertugas di puskesmas yang tidak pernah membuka praktek umum di sebuah daerah yang miskin sekali. Pengalaman saya sebagai dokter, bahwa kebahagiaan yang tiada taranya itu bukan pada materi tapi bagaimana keikhlasan bisa melayani masyarakat dikala susah. Kalau kita ikhlas, itulah yang berharga di dunia ini, bahkan dibanding ketika saya jadi kepala Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) atau menjadi ibu Bupati, sangat jauh sekali. Karena dari itu, akhirnya saya berpikir harus masuk dunia politik, karena masyarakat kan harus diatur dengan peraturan daerah dan itu adanya di dunia politik.

Bisa diceritakan perjalanan perjuangan yang akhirnya membuat Anda risau itu?

Menjadi kepala puskesmas selama 9 tahun dan kemudian menjadi kepala RS Sinjai 10 tahun. Di sana saya membuat sistim semacam jamkesda yang akhirnya dimasukan dalam peratudan daerah (perda) pada tahun 2003. Sementara nasional baru ada 2005, meski belum sempurna, tapi seluruh masyarakat Kabupaten Sinjai itu tidak lagi memikirkan biaya ketika sakit.

Kenapa Anda berhenti menjadi kepala rumah sakit?

Saya mundur karena suami jadi bupati. Saya rasa tidak etis dan tentunya akan banyak kalangan yang menilai ada kepentingan politik. Jadi meski baru mencapai golongan pangkat IV b yang seharusnya bisa hingga IV d. Tapi bukan karena itu juga, saya keluar dari PNS, tapi setelah saya mempelajari, saya lebih ingin memperjuangkan kepentingan rakyat. Akhirnya saya masuk sebuah partai politik, meski waktu itu saya sudah menduga akan tidak lolos, namun saya jadikan sebagai tempat belajar berpolitik. Bahkan waktu Pemilu 2009 lalu, saya sengaja masuk di daerah yang bukan yang saya tidak kenal sebelumnya. Karena memang saya ingin memulai dari bawah dengan kerja keras.

Bagaimana dengan profesi Anda sebagai dokter?

Seumur hidup saya sebagai dokter saya tidak membuka praktek umum. Tahun 1990 saya di puskesmas di darah nelayan dan miskin, jadi dengan gaji 80 ribu, karena saya mau hidup saya punya anak, walaupun suami saya seorang pengacara, saya pun nyambi praktek di Telkom dari sore sampai malam, dan gaji dari situ untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kemudian saya dipercaya menjadi kepala Rumah Sakit.

Apa saja pengalaman Anda saat bertugas di puskesmas?

Di puskesmas itu masyarakatnya sangat miskin, di daerah Galesong yang 70 persen nelayan, kebetulan saya menjadi dokter perempuan yang pertama masuk. Ada satu kampung kalau siang lelakinya pada tidur, kalau malam entah kemana. Saya selalu bawa sendiri mobil menyusuri kampung-kampung, kalau tidak ujan dijemput, tapi kalau ada pasien-pasien di pesisir pantai, saya terpaksa pakai motor dibonceng perawat. Sampai sekarang masyarakat di situ masih mengenal saya. Bahkan sampai sekarang kalau lebaran mereka kirim ketupat, walau saya ada atau tidak ada di rumah.

Saya rasa yang paling berarti dalam hidup saya adalah pada saat menjadi dokter puskesmas. Gaji dari pemerintah yang kecil, tapi saya lebih sering mendapatkan kiriman dari masyarakat. Padahal saya kan alergi ikan, tapi mereka sering membawakan ikan, ayam dan sayuran sebagai ucapan terimakasih mereka terhadap saya. Akhirnya kalau sampai rumah saya bagi-bagikan itu ikan ke pada tetangga. Kebetulan puskesmas saya rawat inap sehingga pasien yang ditolak Rumah Sakit kerap ditampung di puskesmas.

Ada pengalaman lain?

Dulu waktu itu belum ada undang-undang kesehatan, apalagi tentang mal praktek dan yang lainnya, saya dokter umum, mustinya tidak boleh melakukan bedah. Tapi waktu itu karena emergensi saya lakukan operasi bedah tumor kecil pada pasien dengan silet, tapi Alhamdulillah berhasil dan sembuh. Kalau sekarang dibayar berapapun saya tidak mau. Bahkan waktu itu ada pasien yang divonis kanker payudara, saya ini dokter dan rasional, tapi saya percaya dengan keajaiban Tuhan. Jadi waktu itu ada pasien penderita kanker payudara dengan kondisi sudah lubang payudaranya, rupanya dia tolak Rumah Sakit karena tidak mampu membayar. Dia akhirnya datang ke puskesmas, mendatangi saya. Saya berpikir, kalau dokter Rumah Sakit saja sudah menolak apa lagi saya? Tapi suster saya bilang, dokter kasihan itu orang, pokoknya dokter pegang saja itu orang, biar dia merasa senang. Saya berpikir bagaimana caranya, akhirnya saya lihat dan pegang itu orang, lalu saya masuk ke gudang obat untuk siapkan obat sambil berpikir obat apa? Saya campur-campur itu salap dan beberapa obat, lalu kita racik sendiri, tentunya tak lupa memberikan antibiotic dan vitamin untuk meredakan rasa sakitnya.

Hasilnya bagaiman?

Setelah dua minggu berlalu, dia datang lagi kelihatan sehat, yang tadinya sudah busuk, kelihatan merah dan ia merasa tidak sakit lagi, jadi saya bingung sendiri. Sambil bersimpuh di kaki saya, ia bilang terimakasih telah menyembuhkan dirinya. Saya bilang bukan saya yang sembuhkan, tapi itu kehendak Tuhan. Saya pun bingung, karena itu memang bukan obatnya bahkan saya sendiri lupa racikannya. Dia bilang obatnya sudah habis, makanya dia datang untuk minta lagi. Tapi saya sendiri lupa obat apa saja yang ia racik waktu itu. Akhirnya saya masuk bikin racikan sembarang lagi. Alhamdulilah orang itu sembuh bahkan 5 tahun kemudian orangnya saya lihat masih sehat.

Ada juga soerang nenek kena kanker serviks yang parah. Sudah tua miskin lagi, saya tidak mungkin ini menangani kasus ini. Tapi orang sekitar, bilang sudah pegang saja, memang akhirnya saya pegang, lalu saya berikan obat dan vitamin. Tiga minggu kemudian, dia datang lagi sambil menangis terharu dia terus mengucapkan terimakasih, karena penyakitnya sudah mulai berkurang. Karena obatnya habis, dia pun minta lagi. Ini betul-betul keajaiban Tuhan, padahal saya pun lupa kasih obat apa itu nenek-nenek. Dan memang di puskesmas hanya ada obat-obatan dan vitamin golongan obat generic yang saya campur. Hingga pada akhirnya kalau ada orang datang, suster maupun keluarga pasiennya selalu bilang dan meminta untuk memegangnya. Saya pikir saya dokter, tapi rasanya seperti dukun saja. Jadi kalau ada yang sakit harus dipegang, kalau tidak dipegang mereka marah.

Ada pengalaman batin yang sulit dilupakan?

Pernah juga saya merasa sangat bersalah ketika menangani seorang anak yang memang terkena diare akut dan terlambat penanganan hingga akhirnya Tuhan berkehandak lain. Dengan kejadian itu untuk beberapa waktu saya tidak tega melihat anak-anak yang datang ke puskesmas. Saya hanya memberikan obat saja. Tapi memang dasar, masyarakat sana berkeyakinan dan memiliki sugesti bahwa kalau berobat dengan saya harus dipegang, kalau tidak dipegang mereka pun marah. Saya pun mau tidak mau memegangnya dan mereka pun merasa senang kalau sudah dipegang saya. Jadi saya pikir saya ini dokter atau dukun sebenarnya yang bertugas di puskesmas.

Daerah itu dikenal banyak penderita kusta, tubercolosis (TBC), saya pun harus bersama suster terjun langsung untuk memberikan obat, termasuk mengawasi mereka dalam meminum obanya. Selain itu saya juga ikut terjun penyuluhan pertanian kepada masyarakat sekitar bagaimana bercocok tanam sayur-sayuran, atau tanaman obat. Akhirnya hingga sekarang masih banyak yang ingat dengan saya, tidak sekadar sebagai dokter, tapi penyuluh kesehatan, penyuluh pertanian.

Bagaimana eran Anda sebagai penyuluh kesehatan?

Dulu ada juga yang namanya ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) masuk desa manunggal KB (Keluarga Berencana) dimana saya menjadi tenaga medis yang ditugasi untuk memasang alat kontrasepsi KB. Suatu ketika saya pun melakukan pemasangan susuk pada ibu-ibu kampung itu. Besoknya, orang-orang yang ternyata para suami-suaminya datang, ada yang bawa parang yang meminta saya untuk melepaskan kembali itu susuk. Akhirnya saya lepas saja dari pada berurusan dengan masyarakat. Tapi seiring berjalannya waktu, karena kedekatan saya dengan masyarakat, banyak suami-suami yang mengantarkan sendiri istrinya datang ke saya untuk dipasangi susuk KB. Dengan kejadian itu saya pun dinobatkan sebagai juara satu dalam hal penyuluhan KB.

Jadi menurut Anda pelayanan kesehatan di Indonesia sendiri seperti apa?

Setidaknya ada kemajuan, dengan adanya layanan kesehatan gratis yang kini diterapkan di mana-mana. Akan tetapi karena sistim di Indonesia dalam pengurusan Kartu Tanda Penduduk (KTP) masih membutuhkan biaya, masyarakat miskin tidak mengurusnya, sehingga mereka tidak memiliki KTP yang pada akhirnya mereka pun tidak mendapatkan layanan kesehatan, karena tidak ada datanya. Dilemanya, kalaupun petugas medis mau melayani orang yang benar-benar miskin tapi tidak memiliki KTP, bisa jadi menimbulkan kasus berikutnya, dituduh manipulasi data, sehingga menjadi temuan auditor dan itu sangat sering dimanfaatkan oleh oknum dari pihak tertentu.

Bagaimana dengan program kesehatan gratis yang saat ini diterapkan di banyak daerah?

Saya sangat setuju dengan pelayanan kesehatan gratis, tapi harus jelas aturannya. Jadi pada saat menentukan sistim layanan kesehatan tidak boleh ada kepentingan dari kelompok tertentu baik itu dari industri kesehatan maupun kekuatan-kekuatan lainnya. Saya yakin Indonesia memiliki banyak pakar kesehatan yang mumpuni untuk bisa menyusun sistim kesehatan nasional.

Menurut Anda sistim peraturan yang berlaku di Indonesia?

Sangat carut marut. Karena kembali lagi sistim dan ketegasan pemimpin. Penempatan orang-orang yang menjadi pengambil keputusan yang tidak tepat dan tidak sesuai kapasitas. Jadi memang, kuncinya ada di Senayan dan eksekutif dalam melayani kepentingan rakyat. Mestinya, ketika membuat undang-undang, maka yang ada di kepala anggota DPR itu, ya rakyat, bukan sekadar mengatasnamakan rakyat seperti sekarang ini. Rakyat yang mana?

Jadi sebenarnya rakyat itu bisa diatur ?

Rakyat sangat bisa diatur, rakyat itu nurut dengan apa yang dikatakan dan dilakukan pemimpinnya. Kenapa mereka ikut ambil uang (money politic) karena kepala kampungnya ambil uang, ya rakyat pun mengikutinya. Dulu tidak ada, mereka masih menghormati aturan adat, aturan agama dan patuh pada pemimpin tapi sekarang sudah luntur, sekarang malah rancu. Dan ini menjadi tanggungjawab seorang pemimpin. Kembali lagi karena sistim yang carut marut.

Sebagai perempuan yang terjun di dunia politik, peran politik perempuan menurut Anda?

Sebenarnya dengan adanya 30 persen kuota untuk perempuan karena kesalahan kita sendiri sebagai perempuan. Padahal secara ilmu dan kemampuan sama dalam hal untuk berkarya. Pada hakekatnya sebenarnya perempuan harusnya malu cuma diberikan 30 persen, karena hak dalam membela negara itu sama, kecuali dalam segi agama, perempuan jadi makmum, laki-lakilah yang harus jadi imam. Seharusnya sama porsinya, tapi memang negara ini masih menempatkan perempuan menjadi kelas nomer dua. Tapi dengan 30 persen mudah-mudahan bisa memperjuangkan kaumnya sendiri, meskipun memang sebenarnya selama ini laki-laki pun ikut memperjuangkan perempuan. Misalnya dengan menempatkan perempuan di posisi yang tepat. Jadi tidak ada masalah, perempuan dan laki-laki sama haknya dalam berkontribusi untuk bangsa dan negara.

Bisa diceritakan dari siapa Anda belajar dalam berpolitik?

Setidaknya kegigihan suami yang mewarnai saya dalam berpolitik. Memang, sebenarnya awalnya suami bukan orang partai, tapi dia pengacara dan aktivis, akhirnya dia pun direkrut salah satu partai. Sementara orangtua saya dulu menjadi politisi PNI pada jaman bung Karno kemudian masuk ke Golkar di masa Suharto. Jadi jauh sebelum itu saya banyak belajar tentang politik dari orangtua saya. Selain itu saya lebih suka mempelajari sejarah, ada banyak tokoh dunia bagaimana mereka berjuang merebut dan mempertahankan kekuasaan tentu saja itu bagian dari politik. Jadi marilah belajar dari apa yang ada di sekeliling kita. Kalau bangsa ini tidak mengerti bagaimana Indonesia ke depannya, bagaimana nasib anak cucu kita nanti. [G]

DR FELICITAS TALLULEMBANG

Tempat Tanggal Lahir:

Rantepao Tana Toraja, 6 Nopember 1959

Jabatan:

Dewan Pembina Majalah GARUDA

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Februari 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, dr Felicitas Tallulembang maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 untuk daerah pemilihan (dapil) Sulawesi Selatan III

Gelaran Perayaan Rambu Solo’

Salah satu acara adat masyarakat Toraja yang digelar di penghujung tahun 2011 adalah perayaan Rambu Solo’. Rambu Solo’ adalah upacara kematian yang turun temurun diwariskan oleh penganut Aluk To Dolo (kepercayaan masyarakat Toraja sebelum masuknya Islam dan Nasrani) di daerah tersebut.

Ya, sore itu, sejumlah warga tengah mengarak jenazah almarhumah Agnes Datu Sarungallo, ibu kandung istri Bupati Sinjai Andi Rudiyanto Asapa, pada rangkaian upacara adat Rambu Solo’ di Tongkonan Siguntu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Rabu (28/12). Inilah yang disebut ritual Ma’pasonglo, sebuah ritual arak-arakan jenazah dan keluarga dari Tongkonan ke Lakkian. Dimana jasad akan disemayamkan di lakkian sampai upacara Rambu Solo berakhir. Mendiang Agnes Datu Sarungallo sendiri meninggal pada 16 Agustus 2011 silam dalam usia 72 tahun.

Upacara pemakaman ibu mertua dari Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sulawesi Selatan, Andi Rudiyanto Asapa yang juga dihadiri kader Gerindra itu berlangsung sangat meriah dan baru akan berakhir pada Selasa 3 Januari 2012. Pasalnya, dalam upacara itu masyarakat adat Siguntu juga menganugerahkan gelar adat Taluk Langit pada Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto yang dipimpin oleh sesepuh Tongkonan Siguntu. Taluk Langit adalah gelar kebangsawanan di Toraja yang berarti Tunas Emas Manusia dari Langit. Dengan gelar itu, masyarakat Siguntu mengharapkan Prabowo menjadi ‘Tomanurung’ yang bisa membawa kemakmuran negeri ini.

“Semoga gelar yang diberikan tidak mengecewakan masyarakat. Kita berbuat baik untuk negeru ini,” kata Prabowo –yang mengenakan pakaian khas Toraja, passapu atau penutup kepala serta menggenggam parang khas Toraja—  dalam sambutannya di tengah ribuan warga yang memadati lokasi Tongkonan Siguntu, sore itu.

Selain penganugerahan gelar adat, yang menarik perhatian para pengunjung adalah acara silaga tedong (pertarungan kerbau) yang diselenggarakan usai acara Ma’pasonglo. Acara adu kerbau itu tak disia-siakan oleh rombongan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto yang didampingi Permadi dan Ketua Partai Gerindra Sulsel, Andi Rudiyanto Asapa –yang tak lain Bupati Sinjai, ikut mendampingi pula Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo, Panglima Kodam VII Wirabuana Mayjen TNI Nizar, mantan Ketua PSSI Nurdin Halid, dan anggota DPRD Sulsel Kadir Halid turut menyaksikan adu kerbau itu.

Sayang, kerbau milik Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto –yang dinamai Hambalang— yang turun pada ronde pertama kalah melawan kerbau milik Paulus dengan nama Loleng. Pada setiap pertarungan, kerbau tampil sebagai pemenang selalu memiliki penggemar tersendiri.

Tedong termahal

Bagi masyarakat Toraja, Sulawesi Selatan, keberadaan tedong (kerbau) menjadi salah satu simbol kesejahteraan dan kebangsawanan. Terlebih bila kerbau itu berjenis bonga’ (belang) dan Salego. Dalam acara ritual Rambu Solo yang digelar oleh keluarga besar Ketua DPD Partai Gerindra Sulawesi Selatan, Andi Rudiyanto Asapa, di Tongkonan Siguntu, Toraja Utara, tampak tampil kerbau seharga Rp 360 juta. Kerbau Salego berumur 14 tahun menjadi yang pertama kali tampil di sejak acara ritual Rambu Solo yang di gelar di Toraja.

Mendiang Agnes Datu Sarungallo yang meninggal pada 16 Agustus 2011 lalu merupakan ibu mertua dari Bupati Sinjai, Andi Rudiyanto Asapa. Mendiang istri dari Y Palauk Tallulembang ini meninggalkan 9 orang anak, 22 orang cucu dan 2 orang cicit –yang tak lain cucu dari pasangan dr Felicitas Torrodatu Tallulembang dan Andi Rudiyanto Asapa.

Acara Rambu Solo yang berlangsung sejak 22 Desember dan puncaknya pada ritual Meaa’ (pemakaman) yang dilaksanakan pada 3 Januari. Ritual Meaa’ merupakan prosesi pemakaman jenasah almarhumah dengan diarak melalui jalan, tempat yang selalu dikunjuungi almarhumah semasa hidupnya kemudian ke tempat pemakaman (patane). Pada saat inilah pemotongan kerbau tandirapasan (simbol) yang mengakhiri seluruh rangkaian upacara pemakaman.

Gelaran Rambu Solo yang diselenggarakan oleh keluarga besar Andi Rudiyanto Asapa ini menjadi satu dari sekian gelaran yang paling meriah sepanjang sejarah. Terlebih acara adat yang masuk dalam agenda wisata bertajuk Lovely December itu mendapat animo wisatawan baik lokal maupun mancanegara. []

Lebih Dekat Dengan Andi Rudiyanto Asapa: “Gerindra Harus Jadi Penentu”

Tegas dan konsisten merupakan gambaran dirinya. Keberpihakannya pada rakyat kecil tak diragukan lagi. Bahkan ia rela terjun langsung, keliling keluar masuk perkampungan hanya karena ingin memastikan, apakah masyarakat yang dipimpinnya sudah tidur enak atau belum. Tak heran bila sosoknya kian disegani semua kalangan.

Sosok itu tak lain adalah Andi Rudiyanto Asapa (44), mantan lawyeryang kini mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Sulawesi Selatan –yang juga masih menjabat Bupati Sinjai untuk periode kedua hingga 2013 mendatang. Sebagai kader Gerindra yang diamanahi tugas untuk membesarkan partai ia pun bertekad untuk mendudukkan kader Gerindra satu fraksi di tingkat propinsi dan enam legislator di pusat pada pemilu 2014 yang akan datang. “Tugas ini saya akui sangat berat. Bahkan ada yang menilai saya mimpi. Saya bukan mimpi, kalau saya pemimpi, Kabupaten Sinjai mungkin tidak seperti ini. Karena itu saya butuh dukungan semua kader Gerindra di Sulsel,” ujar pria kelahiran, Gorontalo, 26 Mei 1967 ini.

Beragam terobosan untuk mengantarkan Gerindra ke puncak telah direncanakan. Salah satu langkah yang menjadi prioritas dalam rangka mewujudkan target tersebut adalah memperkuat struktur Partai Gerindra. Dimana ia bertekad membentuk pengurus hingga tingkat ranting. Bukan hanya itu semua tingkatan pengurus, diupayakan memiliki kantor sendiri. Disamping itu, penguatan program aksi serta manivesto perjuangan partai terus ditanamkan kepada para kader hingga pelosok.

Bagi lulusan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar ini mengadakan kunjungan ke pelosok desa untuk mengetahui beragam persoalan yang dihadapi masyarakat atau sekadar menyapa mereka bukanlah sekadar meraih simpati, tapi lebih dari itu. Dari sanalah, ia bisa merancang program dan kebijakan yang terbaik dan tengah dibutuhkan masyarakat. Salah satunya adalah kebijakan pendidikan gratis dari tingkat SD hingga SLTA serta program kesehatan gratisnya. Berkat kerja kerasnya pula, ia kerap menerima penghargaan dari berbagai pihak atas prestasinya membangun wilayahnya. Inipula yang mendasari Partai Gerindra meminangnya untuk bergabung dua tahun silam.

Tentu saja, daya juang dan kemampuan Rudi –sapaan akrabnya— tersebut membuat Prabowo Subianto, sang pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra selalu memuji apa yang dilakukan Rudi. Salah satunya, gerakan minum susu yang diterapkan di daerah itu. “Di negara-negara maju, program itu dilakukan untuk membentuk generasi muda yang kuat dan cerdas,” ujar Prabowo suatu ketika.

Selain sosok yang tegas dan konsisten, Rudi sendiri dikenal sebagai sosok yang tak pernah mengenal lelah dalam mengenyam pendidikan. Meski telah menyandang seorang master di bidang hukum, ia pun tak jarang mengikuti berbagai kursus di bidang hukum serta pemerintahan. Pendidikan formalnya dimulai Sekolah Dasar (SD) di kota kelahirannya Sinjai, tamat tahun 1969. Lepas SD, Rudi pun hijrah ke kota Makassar untuk menempuh pendidikan SMP sampai ke Perguruan Tinggi, hingga akhirnya berhasil lulus sebagai Sarjana Hukum pada tahun 1981 dari Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Pada tahun 1998, Rudi pun berhasil menyelesaikan pendidikan magisternya di Law Faculty Oxford University, London.

Selain sibuk menjabat sebagai Bupati sekaligus politisi Gerindra nomer satu di Sulsel serta beberapa organisasi, ayah dari dua orang anak ini masih rajin menelurkan karya ilmiah di bidang hukum dan pemerintahan. Ia pun kerap menjadi nara sumber di berbagai kesempatan baik tingkat lokal maupun nasional. Lantas seperti apa ia memainkan peran di tengah kesibukannya itu? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Garuda ia paparkan di sela-sela acara upacara Rambu Solo’ di Tana Toraja pada penghujung tahun lalu. Berikut wawancaranya.

Bisa diceritakan sejak kapan Anda terjun di panggung politik?

Saya mulai terjun ke dunia politik praktis sejak tahun 1996, saya diminta masyarakat Sulsel untuk maju menjadi calon anggota legislatif dari PDI pro Mega, meski waktu itu tidak diakui. Pun pada 1998, saya menjadi calon anggota MPR/DPR-RI dari PDI Perjuangan. Dimana sebelumnya saya juga ikut terlibat aktif dalam Kongres Bali, PDI Pro Mega, Kongres Semarang dan Kongres Bali PDI Perjuangan. Dalam perjalanannya, karena ada sesuatu yang tidak cocok, saya pun keluar dari PDIP. Beberapa waktu kemudian, Sultan Hamengkubuwono, meminta saya untuk menjadi Ketua Partai RepublikaN Sulsel, saya terima tawaran itu dan saya susun strategi sehingga partai yang saya usung ini bisa mengalahkan PDIP di Sulsel, meski memang akhirnya tak lolos electoral threshold. Setelah itu Pak Permadi, Pak Prabowo, Pak Hashim meminta saya untuk masuk Gerindra, saya butuh 6 bulan untuk berpikir. Akhirnya dengan bismillah saya masuk dan memimpin Gerindra Sulsel.

Bisa jelaskan apa yang membuat Anda gabung ke Gerindra?

Yang membuat akhirnya saya gabung ke partai ini adalah, pertama; Saya melihat bahwa visi misi perjuangan Partai Gerindra dan juga komitmen Ketua Dewan Pembina untuk kepentingan masyarakat begitu besar. Dan hal ini saya pelajari itu selama 6 bulan. Kedua; Saya melihat bahwa prospek Indonesia, memang ke depan harus ada perubahan, tidak boleh tidak. Kenapa? Karena saya ini sudah merasakan sendiri berada di posisi pemerintahan, saya tahu bagaimana kelemahan pemerintahan ini, untuk itu harus ada pemimpin yang baru dan tegas untuk menjalankan roda pemerintahan ini. Sehingga NKRI ini bisa tetap satu, masyarakat petani kita sejahtera, tidak hanya masyrakat kota yang sejahtera tapi masyarakat di pelosok juga sejahtera.

Apa yang dilakukan Anda di awal kepengurusan?

Mungkin ini yang pertama kali di Indonesia. Saya lakukan pelantikan ketua DPC di daerah masing-masing, tidak saya pusatkan di Makassar sebagai kota propinsi. Dan pada saatnya nanti akan saya lantik PAC di seluruh kecamatan masing-masing, begitu pula dengan pengurus Ranting akan dilakukan di setiap daerah masing-masing.

Seperti apa kondisi Partai Gerindra di Sulsel saat ini?

Saya boleh bilang, Partai Gerindra di Sulawesi Selatan itu sangat kental dan sudah banyak perubahan. Bahkan beberapa waktu lalu, saya lihat hasil survey sebuah lembaga yang menempatkan Partai Gerindra berada pada posisi kedua, hanya beda sedikit dengan Partai Demokrat. Proses pengkaderan melalui pengiriman kader ke Hambalang terus dijalankan dan hasilnya memuaskan, terlihat dari pemahaman, soliditas dan komitmen para kader terhadap perjuangan partai begitu kuat. Saya yakin, kalau proses ini jalan terus, bukan tidak mungkin Gerindra menjadi nomer satu di Sulawesi Selatan.

Sejauhmana kekuatan Partai Gerindra Sulsel dari sisi anggota?

Sekarang anggota yang baru saja bergabung mencapai angka 2 juta orang, belum lagi ditambah anggota sebelumnya sebanyak 1 juta yang sudah kami cetak KTA-nya. Sehingga diharapkan pada pertengahan tahun ini, kami bisa mencetak 2 juta KTA lagi. Angka 3 juta itu sudah fix, hal ini dibuktikan dengan formulir yang sudah kami terima kami. Bahkan hingga sekarang masyarakat terus berduyun-duyun mendaftarkan diri untuk bergabung. Boleh dibilang, diantara partai-partai yang ada di Sulsel, Gerindra cukup seksilah di mata masyarakat.

Lantas, perjuangan apa yang tengah dilakukan Partai Gerindra Sulsel?

Banyak sekali, salah satunya adalah pendidikan, dimana hampir semua guru sukarela di Kabupaten/Kota di Sulsel yang punya data lengkap menjadi perjuangan saya dan Alhamdulillah banyak diantara mereka sudah terangkat. Kemudian masalah distribusi pupuk dan benih, yang selama ini dijalankan pemerintah lewat programnya baru sampai ke tingkat petani dan nelayan tidak tepat waktu, pupuk dan benih itu baru tiba pada saat waktu panen sudah lewat. Untuk itu, Saya ancam kalau ini terus terjadi, saya orang pertama yang maju untuk membereskannya. Untuk itu harus tepat waktu. Kemudian masalah pembinaan kepada masyarakat dalam hal pendidikan politik khususnya pemuda terus kita lakukan, memang Gerindra tidak akan memaksa, tapi bagi siapa saja yang menginginkan perubahan dan setuju dengan program-program Gerindra mari bersama berjuang.

Menjelang pilkada, apa yang dilakukan Gerindra?

Menjelang pilkada, di Pilgub kita harus ambil peran. Itu sudah saya sampaikan kepada seluruh DPC, apakah kita pada posisi cagub atau cawagub itu tergantung dari realita politik ke depan. Ketua Dewan Pembina juga memang mengintruksikan kita harus ambil ‘01’, tapi saya masih akan lihat dinamika realitas politik. Begitu pula dalam pilkada di Kabupaten/Kota, saya perintahkan Partai Gerindra harus ambil peran, meski di daerah itu kita tidak punya wakil di DPRD tapi kita harus jadi penentu. Jika memang ada kader atau tokoh yang memiliki keberpihakan kepada rakyat, maka akan kita dukung. Dan yang terpenting lagi, para kader di cabang bukan sekadar menjadi penggembira tapi menjadi penentu. Itu yang saya tanamkan kepada mereka, bagi saya, mereka harus tampil jadi penentu kemenangan.

Menurut Anda politik itu apa?

Politik itu seni, dan itu adalah hobi, kita tidak perlu muluk-muluk dengan hal-hal yang terlalu jauh, tapi apa yang ada di depan kita dan sepanjang bisa kita selesaikan dan menyentuh kebutuhan masyarakat kita kerjakan. Meski pun saya direpotkan dalam urusan pemerintahan sebagai Bupati, tapi saya juga dalam keberpihakan kepada rakyat cukup besar. Harus diakui, saya pelopor pendidikan gratis di Indonesia dari SD sampai SLTA, sejak 2003 di Kabupaten Sinjai, waktu itu undang-undang pendidikan belum lahir. Saya juga pelopor kesehatan gratis di Indonesia. Nah ini akan saya kumandangkan terus, sehingga Gerindra baik di DPP, DPD, DPC siapapun yang memimpin daerah itu bisa menerapkan hal serupa. Biayanya tidak besar yang terpenting ada kemauan.

Bisa Anda jelaskan bagaimana caranya menerapkan kebijakan tersebut?

Awal-awal saya menjadi bupati di Sinjai saya selalu terjun ke desa-desa, hingga sekarang pun hal itu masih saya lakukan. Suatu ketika, dalam perjalanan itu saya ketemu anak-anak usia sekolah yang sedang menggembala, membajak sawah, mereka bukannya sekolah. Setelah saya tanya, orangtuanya bilang tidak punya biaya. Disamping itu, saya tidur jam 4 pagi, jam 3 dini hari saya keliling Sinjai untuk melihat apakah masyarakat saya sudah tidur enak atau belum.

Suatu ketika saya mendapatkan rumah pegawai saya, seorang pegawai negeri Kabupaten Sinjai sedang bertengkar antara bapak dan ibu, saya pun duduk di bawah rumah itu, saya dengarkan apa yang tengah dipertengkarkan. Ternyata mereka mengalami dilema, bagi mereka apakah harus membayar uang sekolah anaknya yang satu atau membayar rumah sakit untuk anaknya yang lain. Saya pun pernah dikejar oleh masyarakat disangka saya mau maling, terpaksa saya harus jelaskan bahwa saya Bupati Sinjai, akhirnya setelah mereka mengenali saya, mereka pun kaget. Dari temuan itu, saya berpikir kenapa hal itu terjadi pada warganya.

Akhirnya saya panggil kepala dinas, semua guru-guru di Sinjai. Saya tanya mereka berapa sih kebutuhan dana pendidikan Sinjai selama satu tahun. Ternyata tidak terlalu besar, setelah dikalkulasi jumlah sekolah, guru dan siswa kebutuhannya hanya 5-6 miliar. PAD (pendapat asli daerah) Sinjai memang rendah, tapi dengan kemauan yang kuat APBD kita pakai untuk keperluan itu dan berjalan hingga sekarang. Begitu pula dengan biaya kesehatan masyarakat kita terapkan subsidi, ternyata berjalan dan tidak mempengharuhi program-program lain.

Kemudian, pada infrastruktur jalan berdasarkan data UNDP, infrasruktur jalan yang terbaik dan terlengkap di Indonesia itu ada di Sinjai. Karena, tidak ada lagi jalan desa, jalan kecamatan yang tidak nyambung dan tidak tuntas. Kalau pun ada jalan di Sinjai yang lubang-lubang itu bukan jalan kabupaten tapi jalan provinsi atau jalan nasional. Jadi dengan demikian, tidak menghabiskan dana pendidikan, dana kesehatan hanya untuk membangun infrastruktur itu, meski saya bangun juga. Kemudian, semua imam masjid kita kasih insentif, guru-guru ngaji yang selama ini tidak diperdulikan, padahal disitu kuncinya, bagaimana mereka berjuang melakukan pembinaan akhlak anak bangsa yang ada di Sinjai, makanya kita kasih insentif.

Selain itu saya juga sering jalan-jalan ke desa. Sering saya lihat ibu-ibu yang sedang duduk-duduk di tangga, lalu saya singgah, saya tanya, ibu sedang apa? Mereka jawab sedang cari kutu sambil gosip. Kemudian saya bilang, ibu bisa berhenti tidak? Saya minta mereka cerita apa masalahnya kenapa hanya bisa nunggu duduk-duduk di tangga dan gosip. Saya pun tanya, mau tidak tingkatkan pendapatannya, mereka jawab mau, tapi mereka tidak tahu caranya. Saya kasih caranya, tadi saya lewat kuburan di sana ada pohon jambu batu, tolong ambilkan 20-30 biji dan bawa kesini.

Awalnya mereka kaget untuk apa? Saya bilang ambil saja, lalu mereka ambil dan saya suruh rendam di air panas, lalu dipotong-potong, jadilah kripik. Mereka pun saya minta untuk cicipi dan ternyata enak rasanya, meskipun belum ditambah apa-apa (bumbu). Dan saya tahu desa ini penghasil madu, saya pun tanya ada tidak madunya, mereka bilang ada 2 botol. Saya minta ambil 1 botol, lalu saya campur dengan kripik itu dan dicoba ternyata enak. Akhirnya saya bilang kenapa hal ini tidak bisa dikerjakan mereka? Sejak saat itu saya bentuk kelompok usaha home industry. Setidaknya sekarang ada 200 kelompok home industry yang sudah berjalan.

Apa yang menginspirasi gaya kepeminpinan Anda seperti itu?

Saya ini mantan lawyer, mantan direktur LBH memang sering bersentuhan dengan masyarakat. Jadi pemenuhan hak-hak dasar masyarakat itu menjadi konsen saya sejak saya di LBH. Saya bilang ke mereka hingga nanti saya menjadi bupati kalau hal itu tidak saya diterapkan, maka saya berdosa. Saya selalu diingatkan senior-senior, bahwa saya ini pejuang hak asasi, maka yang pertama harus diperjuangkan adalah pemenuhan hak dasar masyarakat.

Ada tujuh hak dasar masyarakat, yakni hak untuk hidup, hak untuk hilang dari rasa takut, hak untuk tinggal, hak untuk dapatkan makan, hak untuk sekolah, hak memperoleh layanan kesehatan dan hak untuk menganut agama dan kepercayaan.  Itulah yang saya terapkan. Kebetulan ketujuh hak-hak itu masuk ke dalam program yang sekarang digembar-gemborkankan oleh bank dunia, lewat program millennium development goals (MDGs), hal ini menurut saya sudah terlambat, karena saya sudah melaksanakan sejak 2003. Proses ini masih berjalan terus dan tinggal pembenahan saja. Kalau MDGs gongnya 2015 harus selesai, maka Sinjai sudah siap menyelesaikan MDGs.

Sebagai seorang kepala daerah dan pimpinan partai, bagaimana Anda mengatur waktunya?

Memang, saya sekarang seorang Bupati, saya harus bagi tugas. Saya berikan waktu untuk partai Sabtu-Minggu mengantor di DPD, kalaupun saya tidak ada, masih ada yang lainnya. Partai ini jangan sampai hanya bergantung pada ketua, karena partai ini bukan milik saya, tapi milik semua pengurus, anggota, jadi kalau tidak ada saya, masih ada Ketua I, atau Ketua II. Saya pun mempersilahkan kepada kader untuk berbuat apa saja demi partai sepanjang baik dan masih di dalam aturan. Dan ketika ada konflik jangan dibawa keluar, panggil saya kita selesaikan bersama, bisa diperbaik atau tidak, kalau tidak bisa perbaiki kita keluar. Selesai. Simple kan.

Apa pesan yang Anda sampaikan kepada kader Gerindra Sulsel?

Saya berharap bahwa apa yang menjadi harapan Ketua Dewan Pembina bisa kita realisasikan tentunya harus dengan kerja keras. Pertama mengenai agenda politik sepertu untuk pilgub nanti, bisa kita mainkan. Apakah posisi saya sebagai 01-02, itu harus kita pikirkan. Kedua, menjelang pemilu 2014 nanti, setidaknya kita harus menggolkan minimal 6 kursi di DPR RI dari DPD Sulsel. Kalau itung-itungan saya, itu angka minimal. Mungkin orang bilang berlebihan, tapi saya meyakini, 8 sampai 10 kursi bisa diraih. Sekarang saja saya tidak pernah diberi amunisi-amunisi dari DPP, saya mampu membuat Gerindra seperti ini, kita bisa maju seperti ini. Jadi saya yakin 8 sampai 10 anggota DPR RI itu bisa. Kemudian semua DPC harus bisa mendudukan satu fraksi.

Mungkin angka-angka itu dibilang banyak orang, saya tengah bermimpi. Saya bilang, saya bukan mimpi, kalau saya pemimpi, Kabupaten Sinjai mungkin tidak seperti ini. Semua orang kan berhak mimpi, tapi tentunya tidak sekadar mimpi, karena saya sudah punya kuncinya. Jangan harap kita mengusung Prabowo menjadi Presiden RI berkoalisi dengan pertain lain. Tapi Gerindra sendiri yang harus mengusung, boleh koalisi tapi tidak ada ikatan. Kalau kita mencukupi angka itu dan daerah-daerah lain bergerak bersama seperti Sulsel, maka hal itu menjadi sesuatu yang gampang, tinggal ada kemauan bahwa ini keinginan Gerindra tanpa partai lain. Jangan sampai kita sudah berlari kencang, daerah lain tidak bisa. Makanya saya menantang DPD-DPD lain, sanggup tidak? Kalau Sulsel sudah harga mati, menjadikan Gerindra sebagai satu-satunya partai yang mengusung, tidak ada koalisi. Sehingga bila hal itu terwujud maka ada kekuatan pemerintah dan kelak Pak Prabowo sebagai presidennya bisa menjalankan program-program yang menjadi cita-citanya dan yang selama ini diidam-idamkan masyarakat. [G]

Biodata :

Andi Rudiyanto Asapa, SH, LLM

Gorontalo, 26 Mei 1967

 Jabatan:

  • Bupati Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan (2003-2007) dan (2008-2013)
  • Pimpinan Dewan Pembina/Dewan Penyantun Yayasan LBH Indonesia (YLBHI) 2005-2010
  • Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Sulawesi Selatan 2011 – sekarang
  • Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra, Sulawesi Selatan 2010 – 2015
  • Anggota Badan Kerjasama Kabupaten Seluruh Indonesia, Sulawesi Selatan

* Catatan : Artikel ini ditulis dan dimuat di Majalah GARUDA, edisi 13/Januari/2012