Lebih Dekat Dengan Abdul Wachid : Menyuarakan Suara Petani

Semangat dan perjuangannya menyuarakan nasib para petani di meja parlemen tak pernah pudar. Meski kadang harus menelan kekecewaan karena suara lantangnya nyaris tak terdengar dilibas keriuhan suara partai penguasa. Melalui program ekonomi kerakyatan yang terus digelorakan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), ia bertekad untuk bisa melahirkan kebijakan hukum dan penganggaran yang pro-rakyat, khususnya kaum petani.

CALEG DPR-RI DAPIL JATENG 2 NO. URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL JATENG 2 NO. URUT 1

Diakuinya selama menjabat sebagai anggota DPR-RI ada banyak hal yang selama ini diperjuangkan Partai Gerindra belum bisa direalisasikan. Karena itulah Abdul Wachid kembali maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) di daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah 2. “Masih banyak ide gagasan program dan perjuangan Partai Gerindra yang belum terealisasi. Apalagi saat ini perwakilan partai kita di parlemen masih kecil, karena itu saya maju kembali,” tegas caleg nomor urut 1 dari dapil Jawa Tengah 2 yang meliputi Demak, Kudus dan Jepara ini.

Keterlibatan pria kelahiran, Jepara 12 Mei 1961 di panggung politik boleh dibilang baru lima tahun. Namun begitu, sepak terjangnya sebagai pejuang politisi tak diragukan lagi. Bahkan sejak diamanahi sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Jawa Tengah, pamor pria yang biasa disapa Wachid ini kian disegani. Wajar memang, sebelum bergelut di dunia politik, nama Wachid sudah dikenal oleh para politisi baik yang ada di pusat maupun Jawa Tengah. Pasalnya, pelopor sekaligus pendiri Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) ini kerap turun sebagai pelaku parlemen jalanan kala memperjuangkan nasib petani.

”Saya ini sebelumnya, hanyalah petani tebu yang terus berjuang soal nasib tebu dan gula nasional hingga harus turun ke jalananan,” ujar anggota Komisi IV yang menangani bidang pertanian, pertanahan, kehutanan dan kelautan ini.

Selain giat memperjuangkan nasib petani tebu, Wachid juga aktif di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).  Ini pula yang menjadi alasan Prabowo Subianto, Ketua Umum HKTI yang memintanya untuk menahkodai Partai Gerindra di Jawa Tengah 2008 silam. Diakuinya, Wachid yang kala itu masih merasa belum menguasai dunia perpolitikan merasa gamang. Namun berbeda dengan Prabowo yang meyakini bahwa dirinya mampu memimpin partai bentukannya di Jawa Tengah. ”Tapi saat itu, Pak Prabowo meyakinkan saya, bahwa saya layak memimpin Gerindra di Jawa Tengah,” ceritanya.

Tampilnya Wachid di pentas politik sempat dipandang sebelah mata oleh lawan politiknya. Namun, berkat semangat dan hubungan sesama jaringan yang kuat, ia tak gentar menghadapi medan politik yang penuh persaingan. Kepiawainnya menggalang massa dari berbagai kalangan, khususnya kaum petani dan sarungan, Wachid berhasil mengguncangkan peta politik Jawa Tengah. Kala itu, bersama almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Wachid berhasil mengumpulkan massa dalam sebuah kegiatan istigosah yang digelar di Jepara dan dihadiri dihadiri tokoh Nahdlatul Ulama (NU) kharismatik, Gus Dur beserta keluarganya. Termasuk ketika masa Pemilu 2009 lalu, Wachid berani menggelar kampanye di Simpang Lima Semarang –yang acap menjadi tolok ukur kebesaran dan popularitas partai di mata warga Jawa Tengah.

Sebagai panglima Partai Gerindra di Jawa Tengah, pada 2009 lalu, Wachid berhasil meraih 65 kursi DPRD kabupaten/kota, 9 kursi DPRD Provinsi dan 4 kursi DPR-RI. Kini, menghadapi Pemilu 2014, partai berlambang kepala burung garuda yang dipimpinnya itu ditargetkan meraih 25 kursi parlemen dari 10 dapil yang ada di Jawa Tengah.

”Tentu ini pekerjaan yang berat. Karena itu dibutuhkan kerja keras dari semua elemen partai, sehingga bisa mengusung Pak Prabowo Subianto menjadi capres tanpa koalisi,” tegasnya.

Lalu seperti apa yang dilakukan Ketua APTRI dalam mewujudkan target pencapaian yang dibebankannya itu. Di tengah kesibukannya sebagai anggota DPR-RI dan Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah, Wachid memaparkan panjang lebar Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bisa Anda ceritakan perkembangan Partai Gerindra Jawa Tengah saat ini?

Di 2009 lalu,Partai Gerindra Jawa Tengah dengan waktu persiapan yang sangat sempit berhasil mendirikan 35 DPC dan 573 PAC. Kini Jawa Tengah sudah memiliki struktural partai tingkat ranting sebanyak 86 ribu. Dimana masing-masing ranting memiliki kepengurusan sebanyak 17 orang dan sudah berseragam semua pengurusnya. Begitua juga dengan organisasi sayap partai Jawa Tengah boleh dibilang lebih kondusif di banding daerah lain bahkan ada yang sudah merambah hingga ke tingkat desa.

Selama empat tahun di bawah kepemimpinan saya, Alhamdulillah kondusif dan tidak ada gejolak. Kalaupun ada itu hanya selintasan saya dan saya anggap sebagai dinamika politik seperti masalah yang dihadapi Ketua DPC Kota Surakarta yang tersandung hukum, alhamdulillah sudah ada gantinya. Saat ini Partai Gerindra di Jawa Tengah menduduki urutan ketiga, setelah PDIP dan Golkar. Ini bukan kita yang menilai, tapi ini berdasarkan survey yang dilakukan oleh partai lain. Karena itu, semoga dengan kekuatan ini, target 25 kursi yang dibebankan kepada Jawa Tengah bisa terlampaui. Tentu saja mau tidak mau kita harus kerja ektstra keras kalau Partai Gerindra mau menang dan mengusung Pak Prabowo sebagai capres tanpa koalisi.

Apa yang Anda lakukan menghadapi Pemilu 2014?

Untuk menghadapi Pemilu 2014, kami sudah siap dengan dua orang saksi per TPS. Kita juga sudah menyiapkan tenaga TOT saksi yang siap diterjunkan ke semua wilayah. Para caleg tingkat propinsi dan kabupaten/kota sudah kita kumpulkan termasuk caleg DPR-RI semuanya sudah mengikuti diklat yang diadakan beberapa waktu lalu. Meski di tengah kesibukan saya sebagai dewan, sengaja saya mengikuti sampai akhir agar bisa bercengkrama bersama para caleg dari 10 dapil yang ada di Jawa Tengah.

Lantas, apa yang melatarbelakangi Anda maju kembali sebagai caleg?

Sejak menjabat sebagai anggota dewan tahun 2009, sepertinya masih banyak perjuangan kami yang belum terealisasi. Apalagi saat ini perwakilan partai kita di parlemen masih kecil. Jadi banyak ide gagasan program Partai Gerindra yang belum tersalurkan.

Berapa target yang harus diraih?

Jawa Tengah yang memiliki 10 dapil itu ditargetkan oleh partai agar bisa meraih 25 kursi.  Sementara target untuk dapil saya sendiri setidaknya harus mendapatkan dua kursi.Tentunya, target ini diharapkan bisa terealisasi sehingga bisa mengantarkan Pak Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada pilpres 2014 tanpa koalisi dengan partai lain.

Tentunya ada perbedaan antara Pemilu 2009 dengan 2014?

Kondisi politik di Pemilu 2009 dan 2014 tentu sangat berbeda sekali. Saya melihat dari seluruh anggota dewan yang ada di DPR RI saat ini paling banyakhanya 30 persen saja yang akan terpilih kembali di 2014. Sama halnya dengan yang terjadi pada 2009 lalu, dimana banyak anggota dewan yang begitu dilantik tidak terlihat hasil kerja nyatanya. Penyusutan jumlah partai politik pun memainkan peranan penting dalam pemilu mendatang. Pasalnya, masyarakat saat ini sudah bisa menilai caleg mana yang sudah memiliki hasil kerja nyata dan mana yang hanya mengandalkan popularitas saja.

Disamping itu, pada 2009 lalu, praktek jual beli suara masih bisa dilakukan karena minimnya pengawasan di tingkat TPS hingga PPS. Namun saya rasa untuk 2014 mendatang hal tersebut mustahil untuk dilakukan karena masing-masing partai memiliki 24 pasang mata saksi yang siap melotot di tiap TPS, berbeda dengan tahun 2009 yang hanya memiliki sedikit sekali saksi di TPS. Nah, dalam waktu yang sudah semakin sempit ini, saya selalu menyempatkan diri untuk turun bersosialiasi di dapil saya, sehingga mereka bisa mengenal saya lebih dekat.

Apa visi dan misi Anda sebagai caleg?

Tentu saja visi dan misi saya tak lepas dari apa yang selama ini menjadi perjuangan Partai Gerindra yang tertuang dalam 6 Program Aksi Transformasi Bangsa Partau Gerindra. Bahkan saya beranggapan para caleg Gerindra sebenarnya lebih dimudahkan dalam menyampaikan visi dan misinya ketika turun ke konstituen. Tanpa harus pusing-pusing memikirkan apa yang bakal dikerjakan, caleg tinggal  baca dan pahami lalu sampaikan saja apa yang ada di 6 Program Aksi tersebut dengan bahasanya masing-masing.

Karena latar belakang saya dari pertanian, saya ingin memperjuangkan apa yang selama ini digembar-gemborkan pemerintah soal swasembada pangan berkelanjutan. Dimana selama ini pemerintah hanya fokus pada beras, jagung, kedelai, gula, dan daging. Padahal ada sumber pangan yang tak kalah dengan yang saya sebut tadi yakni singkong. Untuk itu saya, akan memperjuangkan singkong, karena sebagai negara penghasil singkong terbesar ketiga didunia, hingga saat ini para petani singkong tidak pernah mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Singkong ini, disamping bisa dimakan juga bisa dijadikan bahan dasar untuk bioethanol. Bahan bakar alternatif yang harus kita kembangkan lagi.

Saya juga akan mengembangkan singkong untuk bahan pengganti gandum. Dimana hingga saat ini negara masih mengimpor gandum sebanyak 10 juta ton per tahun. Jika gandum bisa diganti dengan singkong, bisa dibayangkan berapa pemasukan yang bisa negara dapatkan. Dan tentunya akan menyejahterakan petani kita sendiri. Sehingga kita bisa berdiri di atas kaki sendiri, menjadi bangsa mandiri yang tidak tergantung pada bangsa lain.

Disamping itu, cita-cita saya di 2014 mendatang adalah menaikan anggaran pertanian di APBN yang kini hanya 1 persen.Dengan cara ini saya yakin bisa menyejahterakan dan memajukan sektor pertanian. Bagaimana mau swasebada pangan kalau anggarannya kecil sekali. Penambahan anggaran juga dapat digunakan untuk perluasan area pertanian yang setiap tahun selalu tergerus untuk lahan industri atau perumahan. Yang jelas tujuan saya di 2014 hanya dua yaitu memenangkan Gerindra di Pemilu dan Prabowo Subianto sebagai Presiden.

Kenapa Anda kembali memilih dapil Jateng 2?

Saya kembali memilih dapil lama karena disamping saya lahir, dibesarkan dan tinggal di daerah dapil Jateng 2,saat ini saya sebagai Ketua DPD Jawa Tengah sebenarnya bisa saja dan siap ditempatkan di dapil mana saja. Karena ada target yang harus diraih, maka saya yang dulu.  Dapil Jateng 2 itu terdiri dari wilayah yang memiliki lahan pertanian yang luas. Dan memang, saya terpanggil untuk memajukan pertanian di daerah tersebut.

Apa saja yang sudah Anda lakukan di dapil?

Sebenarnya, saya sudah melakukan sosialisasi di dapil saya sejak empat tahun lalu. Sejak saya menjabat anggota DPR, setiap hari Kamis sore atau Jumat pagi, saya selalu pulang ke dapil saya untuk mengunjungi dan bersentuhan langsung dengan para konstituen saya. Beragam kegiatan sosial dan pengembangan pertanian serta perikanan sudah saya lakukan di dapil saya. Di daerah Jawa Tengah itu terdapat daerah pertanian yang luas, disamping itu ada dua buah rawa tersebar di Kudus dan Pati yang sejak pasca reformasi kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal dulu keduanya menjadi sumber pengairan bagi para petani di kedua daerah itu. Nah, jika nanti Pak Prabowo menjadi presiden, saya akan ajak beliau untuk mengunjungi daerah tersebut agar bisa mengembalikan masa keemasan dulu yang kini terbengkalai dan belum tergarap dengan benar.

Seperti apa karakter pemilih di dapil Anda?

Konstituen di dapil saya mayoritas adalah masyarakat yang religius dan petani.Kalau karakteristik pemilih pada dasarnya sama saja dengan daerah lain. Disamping ada yang idealis juga pragmatis. Dengan besarnya jumlah pemilih di dapil saya, tentu praktek jual beli suara, politik traksaksional itu sangat memungkinkan terjadi. Semua itu berawal dari kebiasan masyarakat dalam pelaksanaan pilkades (pemilihan kepala desa) dan berlanjut ke pilkada bupati/walikota dan gubernur. Bahkan boleh jadi biaya ongkos politik pilkades di suatu daerah bisa mengalahkan biaya pileg. Walaupun tidak terang-terangan namun saya yakin masih ada beberapa daerah yang masih melakukan hal tersebut. Untuk itu saya selalu melakukan komunikasi intensif dengan dua kalangan itu untuk bisa mengetahui hal-hal apa saja yang perlu dilakukan.

Bagaimana Anda mengantisipasi praktek semacam itu?

Uang bukanlah segala, yang terpenting adalah kerja nyata. Kita turun ke bawah, menyapa rakyat, menyampaikan program aksi serta memberikan hasil nyata. Pada 2009 lalu saya telah membuktikan hal tersebut. Masyarakat yang sadar akan politik pasti akan memahami dan lebih mempercayai caleg yang baik sebelum maupun sudah terpilih tetap berada bersama rakyat.

Apa harapan dan pesan Anda kepada seluruh kader dalam menghadapi 2014?

Menurut saya kader-kader saat masih banyak yang merasa jika mereka terpilih sebagai dewan atas hasil usaha mereka sendiri, itu berlaku baik yang di DPR pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Sehingga banyak yang melupakan unsur kepartaian mereka. Mustinya, mereka harus ingat perjuangan partai selama ini. Banyak yang sudah mulai tidak peduli dengan perjuangan partai. Hal inilah yang harus kita hilangkan. Untuk itu kita terus menguatkan kembali unsur-unsur kepartaian dan mengembalikan nilai-nilai dasar perjuangan partai.

Karena itu, kepada seluruh caleg dari Jawa Tengah, Anda jangan hanya berjuang semata-mata agar terpilih menjadi wakil rakyat. Anda harus melakukan kerja nyata dan lakukan aksi sosial pada masyarakat. Sambil mensosialisasikan visi dan misi partai serta menjabarkan program kerja Anda pada masyarakat. Boleh jadi, hampir sebagian besar masyarakat kita masih belum mengerti mengenai hal-hal tadi. Selain itu jangan hanya mengandalkan tim sukses, namun kita juga harus bisa mengajak para struktural, dari DPD, DPC, PAC hingga Ranting. Dan tentu saja silaturahmi dengan para tokoh masyarakat dan agama harus terus kita lakukan. [G]

Advertisements

Abdul Wachid : Hijrah ke Panggung Politik

Kata politik sama sekali tak ada dalam kamus hidupnya. Boleh jadi untuk mengenal pun hampir tak terpikir olehnya. Tapi itu dulu. Kini takdir merubah dirinya menjadi seorang pelaku politik. Bahkan ia pun bertekad untuk menjadi politisi sejati yang mumpuni. Untuk mewujudkannya itu, ia dan istri rela hijrah dari dunia usaha ke dunia politik.

Tekadnya bukanlah isapan jempol belaka. Sejak mengenal sekaligus memahami, bahkan mendapat kepercayaan untuk menahkodai partai politik di daerahnya, hatinya kian mantap untuk mendedikasikan diri di jalur politik. Lagi pula dulu di luar aktifitasnya sebagai pelaku usaha di bidang perkebunan dan pertanian bersama rekan-rekannya, ia pun getol memperjuangkan nasib para petani Tebu.

Memang, sebelumnya sosok Abdul Wachid (50), lebih dikenal sebagai pelaku bisnis sekaligus pelopor dan pendiri Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI). Sebuah perkumpulan para petani Tebu yang dibentuknya mulai dari tingkat desa hingga akhirnya terbentuk secara nasional. ”Saya ini sebelumnya, hanyalah petani Tebu yang terus berjuang soal nasib tebu dan gula nasional,” ujar Ketua APTRI ini.

Mulanya, di awal bulan Februari tahun 2008, usai memimpin rapat bersama para petani, dirinya dihubungi salah satu sekretaris Prabowo untuk menemuinya di Jakarta. Maka hari itu juga, Wachid pun langsung terbang ke Jakarta. Setibanya di Jakarta pagi hari, ia langsung menemui sang pengundang di kantornya di kawasan Bidakara, Jakarta Selatan. Sampai detik itu, pria kelahiran Jepara, 12 Mei 1961 ini belum mengetahui maksud dan tujuan sang tokoh –yang selama ini dikenalnya kerap menggulirkan ekonomi kerakyatan—  yang ditemuinya itu.

Usai menunggu akhirnya giliran Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Tengah ini menghadap. Dalam pertemuan itu Prabowo mengutarakan niatnya untuk mendirikan partai bernama Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Bahkan ia pun kaget, ketika Prabowo memintanya untuk bergabung dan memimpin partai di tanah kelahirannya Jawa Tengah. Antara percaya dan tidak, saat mendengar keinginan dan permintaan Prabowo saat itu. Pasalnya, pengetahuan dunia perpolitikan sama sekali tak dimiliki. ”Tapi saat itu, Pak Prabowo meyakinkan saya, bahwa saya layak memimpin Gerindra di Jawa Tengah,” katanya mengenang pertemuan itu.

Pada hari itu juga Wachid pun menandatangani kesanggupannya bergabung dan tercatat sebagai salah satu tokoh pendiri Partai Gerindra. Rupanya, kegamangan mulai menghinggapi dirinya, ketika tiba di kampung halamannya, Jepara. Betapa tidak, saat menceritakan hal itu kepada keluarga, khususnya sang istri, malah ditertawakan. Istrinya menganggap dirinya tengah bermimpi. Wajar, selama ini ia dan keluarga nyaris tak pernah bersinggungan dengan dunia politik. Namun Wachid kembali meyakinkan istrinya, bahwa jika Prabowo saja meyakinkan dirinya, kenapa ia sendiri tidak, termasuk sang istri. ”Ya, sudahlah pak, kalau memang sampeyan yakin, jalani saja,” ujarnya menirukan omongan istri kala itu.

Seakan mendapat kekuatan baru, mendengar dukungan sang istri, meski nadanya agak meragukan saat itu. Akhirnya, setelah mendapat dukungan keluarga, ayah empat anak ini memutar otak, apa yang harus dilakukan selanjutnya. Dalam benaknya terbersit untuk menghubungi beberapa rekan seperjuangannya di organisasi-organisasi sebelumnya. Maka saat itu juga ia menemui dan mengutarakan keinginannya untuk mengajak membangun Gerindra di Jawa Tengah. Beberapa rekannya ada yang tak menyanggupi karena sudah atau masih bergabung di partai lain. ”Meski mereka menolak, atau masih loyal dengan partai lamanya, mereka mendukung niat saya, terlebih saat mendengar nama Prabowo. Salah satunya Pak Wasiman, yang hingga kini masih bersama sebagai pengurus DPD,” katanya.

Hingga batas waktu yang telah ditentukan yakni 26 Februari, setelah kerja maraton selama dua minggu, ia berhasil membentuk kepengurusan tingkat kabupaten/kota sebanyak 29 DPC dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Sementara sisanya menyusul, sekaligus sosialisasi ke seluruh wilayah Jawa Tengah. Dalam perjalanannya, ia sempat dilecehkan lawan politiknya. Merasa kepiawaianya dalam menggalang massa disepelekan, ia pun membuat gebrakan dengan menggandeng almarhum KH Abdurrahman Wahid  dalam sebuah kegiatan istigosah yang digelar di Jepara. Rupanya cara ini menarik perhatian masyarakat untuk hadir, terlebih dihadiri tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Gus Dur beserta keluarganya. Pun ketika dipenghujung masa kampanye, ia memberanikan diri menggelar kampanye di Simpang Lima Semarang yang kerap menjadi momok partai peserta pemilu jika tak mampu menghadirkan massa.

Hasil kerasnya berbuah manis. Ia berhasil mengantarkan 65 orang kadernya duduk di DPRD Kabupaten/Kota, 9 orang DPRD Provinsi dan 4 orang DPR-RI. Salah satunya, ia –yang duduk sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah— yang maju dalam Pemilu Legislatif 2009 dari Daerah Pemilihan (Dapil) II berhasil lolos sebagai anggota DPR dengan raihan suara sebanyak 43.919 suara. Kini ia duduk di Komisi VI yang membidangi perdagangan, perindustrian, investasi, BUMN dan UKM. ”Di komisi ini saya masih terus memperjuangkan nasib petani tebu, perdagangan dan industri gula,” tegas pengusaha yang mengakui sudah melimpahkan aktifitas bisnisnya pada putranya.

Ke depan, tekadnya mampu mengantarkan kader Partai Gerindra dari setiap dapilnya sebanyak 181 dapil yang ada di Jawa Tengah duduk di DPRD Kabupaten/Kota pada 2014 mendatang. ”Terus terang, dalam seminggu, saya ngantor di Senayan dari Senin sampai Jumat, sorenya saya harus ada di Semarang, ngantor di DPD dari Sabtu dan Minggu,” pungkasnya. [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA, Edisi Juni 2011