Venna Melinda: Saatnya Bangkit dari Keterpurukan

Siapa bilang, politisi perempuan tak berjiwa kritis. Terlebih bagi mereka yang melekat pada dirinya sebagai selebritis. Kiprahnya di dunia politik tak sekedar mengandalkan popularitas semata. Semua itu bisa dibuktikan lewat keseriusannya sebagai wakil rakyat yang terus bersikap kritis.

Dua tahun sudah Venna Melinda berkantor di gedung wakil rakyat Senayan. Integritas dan kredibilitasnya sebagai politisi perempuan patut diacungi jempol. Anggapan miring sebagian kalangan tentang politisi selebriti –khususnya kaum perempuan— hanya sekadar ’pemanis’ parlemen perlahan-lahan sirna. Sikap kritisnya acap kali membuat kawan maupun lawan politiknya berdecak kagum. Tak hanya itu, ia pun kini dipercaya masuk di komisi yang konon selalu didominasi politisi senior.

Semua itu ditunjuk perempuan berparas cantik berusia 39 tahun ini dengan kerja keras dan berkualitas. Betapa tidak, kini sehari-harinya Venna dipenuhi jadwal dari rapat ke rapat. Tak sekadar duduk, dengar lalu pergi berlalu begitu rapat usai. Venna kerap menyampaikan pemikiran kritisnya. Tentu saja, Venna pun tidak lantas asal ngomong. Ia mengaku hanya bicara pada permasalahan yang benar-benar sudah dikuasainya. Termasuk ketika berbincang-bincang dengan Quality Action saat ditemui di ruang kerjanya.

Tentunya, setelah menjalani aktifitasnya sebagai anggota DPR sejak dua tahun silam ini, menurut Venna di satu sisi ada kesamaan yakni keenakan yang sama tapi di sisi lain ada perbedaan yang mencolok seperti tak ada waktu untuk bersikap santai. Ia harus lebih sering berfikir keras karena dihadapkan berbagai persoalan baru yang tengah terjadi di negeri tercinta ini. ”Semua itu saya jalani dengan enjoy, dan selama ini saya merasa happy dengan tugas ini, meski banyak yang harus saya pelajari,” ujar perempuan kelahiran Surabaya, 29 Juli 1972 ini.

Memang, sejauh ini masih ada dikotomi bagi selebriti yang terjun ke politik. Ada sementara kalangan yang masih meragukan kemampuan selebriti, apalagi perempuan. Tentunya, ini diperlukan sosialisasi. “Perempuan juga punya potensi. Kita bisa sejajar dengan laki-laki. Paradigma bahwa politik itu menjurus keras, kasar, sudah saatnya ditinggalkan. Saatnya kita berpolitik dengan santun dan elegan,” tegasnya.

Menyikapi hal ini, Venna lebih memilih mengambil positive side dari para politisi baik di komisi maupun di partai. Baginya menjadi politisi itu bukan sekadar pintar saja, tapi harus dibekali dengan kejujuran dari dalam hati. Bukan sekadar lips service saja, tanpa ada bukti nyata. Mengingat selain beban kerjanya yang tak mudah, eksistensi Venna sebagai politisi pendatang baru di DPR harus berhadapan dengan politisi kawakan, termasuk yang memiliki latar belakang militer. Namun semua itu tak lantas membuatnya melempem untuk menyuarakan amanat rakyat.

Untuk itu, ketimbang membalikkan paradigma pengamat politik yang kerap menilai artis sebagai pemanis, menurut Venna mendingan konsentrasi terhadap bagaimana menjalankan program pendidikan politik kepada para penerus bangsa. “Jadi artis bukan hanya pemanis, kita juga punya kemampuan, semua itu bergantung pada bagaimana kita menyikapinya,” ujarnya diplomatis.

TUGAS BERAT

Sejak lima bulan lalu, Venna harus menerima mandat untuk masuk ke komisi I yang membidangi pertahanan keamanan, alutsista, informasi dan komunikasi. Boleh jadi, tugas ini lumayan berat dibanding dengan posisi sebelumnya di komisi X yang telah dijalani selama satu setengah tahun. Memang, mandat yang diberikan padanya merupakan tugas berat. Namun sejauh ini, Venna merasa tertantang dan ada banyak pelajaran diperoleh selama ini. ”Saya anggap, inilah kuliah saya berikutnya sebagai wakil rakyat ini,” ujarnya.

Salah satu yang tengah menjadi fokusnya adalah kasus pencurian pulsa. Menurut Venna dengan kejadian ini tentu saja, tidak saja masyarakat yang dirugikan sebagai pelanggan, tapi kredibilitas perusahaan operator telekomunikasi di tengah kompetisi global. Begitu juga dengan industri kreatif semacam Ring Back Tone (RBT), yang merupakan bagian dari hasil karya inovasi produk yang diciptakan anak bangsa dalam menghadapi persaingan industri musik di pentas dunia.

Menurutnya, apa yang dilakukan pemerintah dalam menyikapi kasus pencurian pulsa ini patut diacungi jempol, meski masyarakat harus bersabar. Pasalnya, penyelesaian kasus ini tak semudah membalikkan tangan. Butuh keseriusan dan kehati-hatian dalam menyikapinya dalam rangka memenuhi kepuasan pelanggan dalam hal ini masyarakat. Venna mengingatkan pemerintah selaku regulator dan perusahaan operator, untuk memikirkan bagaimana mekanisme pengembalian pulsa masyarakat yang tersedot. Sehingga ke depannya tidak ada ketimpangan, diskriminasi kepada pelanggan.

”Jangan karena saya misalnya yang anggota DPR, lalu cepat diurusnya, sementara masyarakat biasa malah berlarut-larut dalam penangannya. Inikan bagian dari kualitas pelayanan prima terhadap konsumen,” ujar Venna yang mengaku harus mengurus berjam-jam ketika ia mengetahui pulsanya tersedot.

Permasalahan lain yang tengah ia soroti adalah TVRI yang konon dinilainya masih jauh dari mutu yang diharapkan masyarakat selama ini. Memang kata Venna, TVRI tidak bisa disamakan dengan televisi swasta nasional yang lebih kreatif, inovatif dan kompetitif. Dalam pandangannya, TVRI dengan coverage yang luas ke seluruh pelososk negeri, harus benar-benar menjadi alat pemersatu bangsa bukan sekadar corong pemerintah.

Selain itu, perlu adanya restrukturisasi dan upaya peningkatan mutu sumber daya manusia pada lembaga penyiaran publik ini. ”Wajar memang, lembaga ini masih didominasi pegawai-pegawai lama. Untuk itu diperlukan penyegaran, peningkatan mutu pegawainya, sehingga TVRI bisa bersaing,” ujar mantan None Jakarta 1993 ini.

Ketika ditanya soal mutu manusia Indonesia, Venna merasa prihatin dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dimana  posisi Indonesia merosot jauh ke 124 dari 187 negara. Padahal laporan Badan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation Development/UNDP-PBB) tentang indeks pembangunan manusia pada 2010, masih menempatkan Indonesia di peringkat 108 dari 169 negara. “Memprihatinkan ya, IPM kita rendah sekali. Perlu kerja keras dan cerdas untuk bisa bangkit dari keterpurukan ini,” ujarnya.

Menurut Venna, maju mundurnya sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas sumber manusianya. Semakin bermutu manusianya, semakin maju bangsa itu. Celakanya, mutu manusia di negeri ini masih tergolong buruk. “Kita harus bangkit dari keterpurukan ini,” tegasnya.

Pasalnya, IPM merupakan ukuran keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa dengan melihat tiga indikator utama, yakni pembangunan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Artinya, pembangunan yang dilakukan membuka peluang bagi penduduk untuk hidup lebih sehat, lebih berpendidikan, dan dapat hidup lebih layak. Dan indek itulah yang menjadi dasar klasifikasi sebuah negara menjadi negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang.

Lebih Happy

Parasnya yang cantik serta bentuk tubuhnya yang tinggi semampai, kerap menjadi pusat perhatian di lingkungan parlemen. Terlebih, sebelum terjun ke panggung politik, Venna telah dikenal sebagai selebriti. Tak sekadar piawai melenggak lenggok di panggung catwalk dan di depan kamera, mantan Puteri Indonesia 1994 ini populer sebagai instruktur salsa. Kini semua itu sudah ditinggalkannya dan fokus menjalankan amanah sebagai wakil rakyat.

Diakuinya, secara materi sebagai wakil rakyat, jauh berbeda dengan profesi sebelumnya itu. Namun ada ’sesuatu’ yang lebih berarti yang diraihnya dibanding ketika ia terjun di pentas panggung hiburan. Venna merasa lebih happy, terlebih ketika usai menemui konstituennya di daerah ada kebahagiaan tersendiri. Padahal dulu, kata Venna, dirinya selalu dikejar-kejar rasa takut, tidak tenang dan kemrungsung kalau ada sepatu baru tapi tidak beli. ”Finally happy saja,” ujar istri Ivan Fadilla ini.

Ya, sebelumnya Venna yang mengawali panggung akting lewat film Catatan Si Boy II akhirnya harus fokus ke studinya. Tak lama kemudian ia mengikuti ajang pemilihan Abang None Jakarta 1993 dan terpilih sebagai pemenangnya. Disusul kemudian keluar sebagai Puteri Indonesia di tahun 1994. Sejak saat itulah karirnya di pentas hiburan kian menanjak, wajahnya kerap muncul di beberapa sinetron produksi Multivision Plus seperti Bella Vista 1 dan Bella Vista 2. Ia pun pernah membintangi sinetron Bulan Bukan Perawan, Opera Jakarta, Tersanjung 5 dan Maha Pengasih.

Di luar itu, Venna pun pernah merambah bisnis kebugaran dengan membuka studio senam khususnya Salsa. Dari hobi Salsa itu, Venna pun dikenal sebagai istruktur salsa dan telah mengeluarkan album bertajuk ’Exotic Dance’. Pada tahun 2004, ibu dua anak ini meliris album perdana bertitel The Other Side of Me. Tak hanya itu, bintang iklan produk pelangsing tubuh ini juga meluncurkan buku berjudul Venna Melinda’s Guide to Good Living. Buku yang mengupas kehidupan yang seperti dijalaninya saat ini, disertai tip lengkap guna menjaga kebugaran tubuh.

Kini di tengah  kesibukannya sebagai wakil rakyat, Venna tetap menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan keluarga. Biasanya agar tidak kehilangan waktu bersama keluarga khususnya anak-anak, Venna kerap mengajak anaknya turut serta ikut menyambangi konstituennya saat masa reses. Tujuannya tak lain adalah untuk mengenalkan dan sekaligus merasakan secara langsung pada anak-anak apa yang dirasakan dan dialami masyarakat. “Supaya mereka juga tahu perjuangan dan tugas ibunya,” ujarnya. [QA]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah QUALITY ACTION, Edisi 02/Desember 2011

 

 

 

Advertisements

SATU DEKADE OLAY PENUH INOVASI

Menjadi tua adalah keniscayaan. Namun, hal itu kerap dirisaukan manusia, khususnya kaum hawa. Terlebih, ketika tanda-tanda penuaan itu perlahan mulai menghampiri di raut wajah. Ya, memiliki kulit wajah yang cantik dan bersinar adalah impian semua wanita. Ragam ritual dan produk kecantikan, mulai dari tradisional hingga yang ditopang dengan teknologi canggih pun kerap jadi buruan kaum hawa. Salah satunya adalah Olay Total Effects, yang diklaim mampu mengatasi tujuh tanda penuaan kulit.

Menurut Junita Kartikasari, PR Manager P&G Home Product Indonesia, kesuksesan produk ini membuat banyak kaum hawa menyadari akan mimpi mereka terhadap kulit yang cantik. Terlebih, merek perawatan wajah –yang mengandung Niacinamide, antioksidan dan panthenol yang membantu untuk mendapatkan kembali kulit yang bersinar— ini banyak digunakan oleh selebriti dunia. Sejak diperkenalkan sepuluh tahun silam, Olay mampu mewujudkan harapan dan impian jutaan wanita untuk mendapatkan kulit yang cantik. Hal ini telah dibuktikan para selebriti sekaligus brand ambassador Olay dari seluruh penjuru Asia dalam perayaan 10 tahun iconic boutique-nya di Jakarta beberapa waktu lalu.

Dalam perayaan itu, para ikon dari Asia, termasuk Ira Wibowo, Soraya Haque, Cynthia Lamusu, Nola dan Widi dari Indonesia. Lalu ada Miriam Quiambao dari Filipina, Tisca Chopra dari India, Truong Ngoc Anh dari Vietnam, dan Bernie Chan dari Malaysia. Dengan balutan busana rancangan Widhi Budi Mulia, para ikon kecantikan dari kawasan Asia itu tampak lebih muda dari usianya. “Teman-teman saya mengatakan, saya terlebih lebih muda dan segar. Bahkan mereka tidak percaya kalau saya sudah berumur 42 tahun,” ujar Ira Wibowo yang mengaku sudah menggunakan produk tersebut selama empat tahun. [view]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi Juli 2010

Bincang-bincang Bersama Wanda Hamidah

caleg-wandaSiapa yang tak kenal Wanda Hamidah. Wajahnya kerap hadir di layar kaca, ketika masih berprofesi sebagai presenter berita pada salah satu stasiun televisi nasional. Jauh sebelum itu pun, paras cantiknya selalu menghiasai halaman majalah remaja dan wanita, ketika masih berkecimpung di dunia modeling –yang digelutinya sejak usia remaja. Kini, perempuan yang berprofesi sebagai notaris itu menjajal kemampuannya di panggung politik. Lewat Partai Amanat Nasional (PAN), Wanda maju sebagai calon anggota lesgislatif (caleg) untuk provinsi DKI Jakarta pada Pemilu 2009 yang digelar 9 April 2009.

Memang, banyak kalangan menilai, tampilnya perempuan kelahiran Jakarta, 21 September 1977 di panggung politik ini bukan sekadar latah atau ‘ujug-ujug’ seperti kalangan selebriti lainnya. Aktivitas politiknya dibangun sejak menjadi mahasiswa. Tak itu saja, Wanda pun mengakui, menjadi saksi tewasnya empat rekan mahasiswa Trisakti dalam peristiwa Reformasi 1998. Usai menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Wanda bergabung dengan PAN.

Meski pada awalnya ia hanya menjadi simpatisan dan juru kampanye saja, tapi pada akhirnya ia pun membulatkan tekad, terjun di dunia politik praktis secara all out. Tak sekadar menjadi petinggi partai, perempuan yang menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak ini, menjadi caleg DPRD DKI Jakarta ‘nomor urut satu’ untuk daerah pemilihan Jakarta Selatan.

caleg-wandahLantas, seberapa jauh kepiawaian ibu dari tiga anak ini untuk bisa melenggang ke gedung dewan nanti. Pun program yang bakal digelontorkan bila dirinya terpilih menjadi anggota dewan kelak. Berikut, perbincangan VIEW dengan penerima penghargaan Artis Peduli Hukum dan HAM dari Menteri Hukum dan HAM, April 2008 silam disela-sela peluncuran buku Pidato-Pidato yang Mengubah Dunia di Jakarta beberapa waktu lalu.

VIEW: Kenapa Anda tertarik dengan dunia politik?

WANDA: Karena dari dunia politik inilah, segala aspirasi rakyat bisa disampaikan. Dan dunia politik juga menjadi alat untuk menyelamatkan Indonesia.

VIEW: Sejak kapan ketertarikan Anda pada politik?

WANDA: Ketertarikan saya untuk terjun ke politik praktis diawali sejak menjadi aktivis mahasiswa. Sementara pilihan terhadap parpol yang kini saya geluti karena dilandasi pada platformnya, diantaranya penghargaan pada pluralisme. Jauh sebelum itu, saya sudah terbiasa melahap buku karya tokoh politik dunia sejak di bangku SMP. Bahkan ketika mahasiswa saya punya mimpi bahwa Indonesia memiliki parpol selain yang tiga dulu itu (PPP, Golkar dan PDI).

VIEW: Sebagai aktivis politik, dari sekian banyak tokoh politik, siapa saja yang Anda kagumi?

WANDA: Jujur, saya mengagumi tokoh politik seperti Martin Luther King, Imam Khomeini, Mahatir Muhammad, hingga Soekarno. Termasuk sosok Ali Sadikin pun saya kagumi.

VIEW: Anda pun kini mencalonkan diri sebagai calon anggota dewan terhormat di DPR/MPR,  apakah ini aji mumpung?

WANDA: Bukan. Karena harus dicatat, saya terjun di dunia politik praktis sudah lama, sejak saya lulus kuliah tahun 2000 silam. Jadi ini, jelas-jelas bukan aji mumpung.

VIEW: Sebagai selebriti, banyak kalangan menilai modal Anda hanyalah popularitas, komentar Anda?

WANDA: Sah-sah saja orang berpendapat seperti itu. Dan saya akui, popularitas juga bagian dari modal saya, selain kemampuan yang saya miliki.

VIEW: Dan kenapa sepopuler Anda, hanya maju ke tingkat provinsi?

WANDA: Karena saya tidak mau sesuatu yang instan, saya ingin berkarir di politik itu bukan karena aji mumpung saya sebagai public figure. Memang, tak dipungkiri banyak orang yang mengenal saya sebagai seorang artis, tapi bukan berarti tak banyak orang mengenal saya di panggung politik.

VIEW: Lalu apa yang sudah Anda lakukan?

WANDA: Selain terus belajar seputar seluk beluk dunia politik praktis, sebagai politisi tentunya saya harus mendekati dan mendengar suara konstituennya. Dan yang saya lakukan sekarang ini adalah menghadiri pertemuan-pertemuan kaum ibu-ibu atau door to door, karena memang saya ingin memperjuangkan mereka.

VIEW: Kenapa Anda menerapkan sistem door to door?

WANDA: Ya, supaya masyarakat lebih kenal siapa calon yang akan mewakili mereka, sehingga mereka juga bisa bertanya langsung pada saya. Saya sangat sedih melihat kenyataan dalam masyarakat banyak, yang enggak tahu siapa calegnya.

VIEW: Anggapan bahwa pentas selebriti di panggung politik hanya sebagai pemanis, komentar Anda?

WANDA: Bisa jadi begitu. Memang banyak artis kan manis-manis… hehehe… Tapi janganlah meremehkan kemampuan artis. Meski saya sendiri tidak mengaku sebagai artis, kan banyak masyarakat yang menganggap saya sebagai artis. Jadi lihat saja nanti, bahwa artis pun bukan sekadar pemanis. [view]

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk majalah VIEW edisi April 2009

Selebriti di Panggung Politik

caleg1Lain dulu, lain sekarang. Dulu, kehadiran artis hanya sekedar sebagai penggembira dan penghibur saat kampanye di gelar. Kini, mereka ikut terjun langsung di panggung politik. Fenomena ini bukan barang baru, mengingat pada Pemilu 2004 lalu, ada sekitar 25 artis yang maju sebagai calon anggota legislatif (caleg). Dan, sejumlah artis, terbukti sukses di kancah pemilihan kepala daerah beberapa bulan lalu, seperti Dede Yusuf, Rano Karno dan Dicky Chandra.

Diakui atau tidak, tampilnya para artis di pentas politik dalam pesta demokrasi yang bakal di gelar 9 April nanti, cukup menyita perhatian. Paling tidak, sosok yang biasanya ‘wara-wiri’ di layar kaca itu, lebih dikenal masyarakat. Entah mengatasnamakan popularitas atau kualitas, sejumlah partai politik (parpol) pun seakan-akan ‘latah’ berlomba mengusungnya. Bermodal popularitas yang disandangnya, diharapkan akan mendongkrak suara parpolnya. Sederer artis pun digadang-gadang sejumlah parpol, sejak beberapa bulan lalu.

Diantara para pesohor yang maju sebagai caleg dalam pemilu kali ini, tercatat nama Tantowi Yahya, Nurul Arifin, Jeremi Thomas, Bangkit Sanjaya dan Dharma Oratmangun sebagai kader di Partai Golkar. Sementara artis yang menjadikan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) sebagai gerbong politiknya, Marissa Haque, Evie Tamala, Lyra Virna, Ferry Irawan, Okky Asokawati, Ratih Sanggarwati, Emilia Contessa, Denada, Mieke Wijaya, Kristina, Rahman Yacob, dan Soultan Saladin.

Partai Amanat Nasional (PAN) –partai yang dianggap banyak mengawal kalangan selebriti untuk maju ke gedung dewan, sejumlah nama seperti Eko Patrio, Mandra, Derry Drajat, Tito Sumarsono, Mara Karma, Adrian Maulana, Ita Mustafa, Popy Maretha, Ikang Fauzi, Maylaffaiza, Henidar Amroe, Raslina Rasidin, Marini Zumarnis, Primus Yustisio, Cahyono, Lucky Emuardi, Intan Savila, Ferry Soraya dan Wanda Hamidah.

Sedangkan, di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), terdapat Sonny Tulung, Rieke Dyah Pitaloka, Edo Kondolongit, dan Miing Bagito. Di partai Demokrat, ada Komar, Venna Melinda, Inggrid Kansil, Tere, Angelina Sondakh, dan Adji Massaid. Dan, di Partai Damai Sejahtera (PDS) tercatat nama Thessa Kaunang, Ricky Jo, Tamara Geraldine dan Ronny Pangemanan. Sementara di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menggandeng Teuku Firmansyah dan Gita KDI.

Selain partai besar, sejumlah partai baru, pun mengusung kalangan selebriti, diantaranya Muchsin Alatas, Gusti Randa dan Anwar Fuady yang bergabung di Partai Hanura. Begitu pula dengan Partai Gerindra yang memilih Rachel Maryam dan Tessa Mariska. Nama aktor kawakan, El Manik diusung oleh Partai Matahari Bangsa (PMB). Sementara artis –yang telah lama vakum— Yuyun Sukowati muncul sebagai caleg di bawah bendera Partai Indonesia Sejahtera (PIS).

Dari sejumlah selebriti tersebut, paling tidak terdapat 20 orang artis yang bertarung di daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat yang terbagi dalam 11 dapil. Sementara yang lainnya tersebar di dapil yang memiliki suara signifikan seperti DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Riau.

Meski pada kenyataannya, tak sekadar cibiran yang didapat, ‘nama beken’ para artis pun menjadi kendala. Namun hal itu, tak menyurutkan artis untuk tetap maju menjadi caleg dan bersaing dengan tokoh-tokoh popular lainnya. Akankah para selebriti itu mampu membuktikan bisa mendulang suara dalam pemilu nanti? Ataukah hanya sekadar menjadi ‘politisi pajangan’ untuk memeriahkan pesta demokrasi berbiaya besar ini.

Soal itu, sejumlah petinggi parpol yang menampung selebriti, menepisnya. Mereka berani menjamin bahwa para artis yang terpilih, kelak akan mampu melaksanakan tiga fungsi anggota legislatif, seperti legislasi, anggaran dan pengawasan. “Diakui, popularitas artis menjadi salah satu aspek yang dipertimbangkan, disamping aspek pendidikan dan intelektualitas. Dan caleg artis diyakini mampu menjalankan tiga fungsi itu,” jelas Ketua DPP Partai Demokrat, Syarif Hasan.

Hal senada diungkap Sekjen Partai Hanura, Yus Usman, bahwa partainya tak semata mengandalkan popularitas artis, tapi juga memperhatikan pendidikan, kompetensi, dan kemampuan mereka dalam bersosialisasi. “Walaupun dia artis populer, tapi kalau tak punya pendidikan memadai, kemampuan bermasyarakat kurang, kami tak rekrut,” katanya.

Bahkan beberapa waktu lalu, Soetrisno Bachir, orang nomer satu di tubuh PAN pun sempat berseloroh mengenai keberadaan artis di panggung politik, “Artis juga untuk menjadi hiburan, supaya politik yang kotor itu dapat cerah.” Dan memang, munculnya kalangan selebriti di ranah politik pemilu kali ini, harus diakui memberi warna tersendiri pada kelangsungan kehidupan demokrasi di tanah air. [view]

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi April 2009

Banjir Rejeki Di Bulan Ramadhan

Kian tenar dan terkenal itu sudah pasti. Pundi-pundi pun penuh terisi. Paling tidak, selama sebulan lalu, ’kerja ekstra’ itu membuahkan popularitas dan materi. Tak pelak, momen Ramadhan lalu dijadikan panen segalanya bagi sebagian selebriti. Tidak hanya kalangan selebritas sebagai pelakon, pelaku industri televisi pun menanggung untung berlipat.

Ya, sejumlah selebritas kebanjiran manggung di tengah persaingan industri televisi yang makin ramai. Betapa tidak, dalam sehari, sosoknya nongol di beberapa kanal layar kaca selama sebulan penuh. Meski mata acara yang disuguhkan stasiun penayang pun boleh dibilang seragam. Mulai dari sinetron yang dikemas religi hingga acara komedi yang tayang langsung dibumbui aneka kuis dengan hadiah jutaan rupiah tentunya.

Dunia lawakan memang menarik dan menjanjikan. Terbukti, hampir semua stasiun televisi negeri ini menyuguhkan genre ini. Tak terkecuali pada saat bulan Ramadhan lalu. Selama sebulan penuh itu, para komedian mengocok perut pemirsa di kala waktu sahur atau menjelang berbuka puasa. Tak pelak, dari program itu pula, mereka mendulang rupiah.

Dan memang, dari tahun ke tahun, program ’tawa dan canda’ masih menjadi amunisi tokcer di bulan ramadhan selain sinetron sudah terlebih dulu memimpin. Adalah grup lawak Patrio, Cagur dan Bajaj yang laris manis di ramadhan tahun ini. Pasalnya intensitas kehadirannya baik secara personal maupun kelompok, paling tidak mengisi minimal dua stasiun televisi yang berbeda dalam sehari.

Semisal Eko Patrio, komedian yang tercatat sebagai caleg dari PAN ini hadir menemani pemirsa menjelang sahur lewat program Saurprise di RCTI. Lalu sore menjelang berbuka, Eko pun kembali mengocok perut pemirsa dalam Sambil Buka Yuk di stasiun ANTV secara live –serta dapat pula disaksikan tayangan ulangnya di waktu sahur. Dan di waktu yang bersamaan, Eko berserta grupnya Patrio pun tampil di stasiun TRANS7 dalam program Kolak Ramadhan.

Tak tanggung-tanggung, Eko di program Saurprise selain sebagai host, ia pun menjadi sutradara yang men-setting cerita berdasarkan permintaan penonton studio. Tentunya, dengan tugas ganda ini, Eko pun meraup honor lebih dibanding pemain yang lain.

Personil Patrio lainnya yang ketiban rejeki adalah Parto. Pelawak dengan aksen banyumasannya yang kental itu tampil bareng Eko di Saurprise dan SBY, yang disuguhkan secara live. Pun di program Kolak Ramadhan, dimana ia dan grupnya tampil dalam formasi lengkap. Dengan tampil di tiga kanal dalam sehari semalam, ‘lumbung harta’ Parto pun kian membumbung.

Jika Eko dan Parto hadir di program melucu, lain halnya dengan Akri yang tampil di sinekuis Para Pencari Tuhan Jilid 2 menemani santap sahur di saluran SCTV. Meski melakoni seorang ustadz, sisi humornya tak begitu saja dilepaskan. Tak pelak, penampilannya sebagai sosok ustadz pun kerap mengundang tawa. Bahkan, seperti tahun sebelumnya Para Pencari Tuhan Jilid 2 ini pun diputar ulang selepas adzan Magrib.

Melengkapi dua personil sebelumnya, saban sore menjelang berbuka puasa wajah Akri pun nongol dalam Kolak Ramadhan. Paling tidak, dirinya dan grup lawak Patrio –yang meroket lewat program Ngelaba di TPI— masih eksis memasuki tahun ke-14. Tidak saja, secara personil yang mujur, bendera Patrio pun terus berkibar di panggung hiburan. Bisa dibayangkan, jika mereka punya tarif Rp 35 juta untuk sekali manggung, maka minimal angka Rp 1 miliar masuk kantong Patrio. Dan menurut Eko, biasanya sesuai aturan manajemen, dari honor itu, masing-masing mendapat seperempat bagian, sisanya masuk kas grup.

Rupanya Cagur dan Bajaj pun ketiban hoki. Selain main bareng dalam sitkom Cagur Naik Bajaj di ANTV, keduanya pun saban hari selama ramadhan lalu nongol di program lainnya. Cagur –yang digawangi Narji, Denny dan Wendy— pun hadir menemani permisa di saat sahur lewat Cagur Sahur di Global TV.

Sementara Isa, Aden dan Melky yang tergabung dalam Bajaj tak kalah kocaknya dalam sinekuis Para Pencari Tuhan Jilid 2 di SCTV –menyusul sukses pada tahun lalu bersama aktor gaek Deddy Mizwar. Bahkan oleh stasiun penayang, program Cagur Naik Bajaj dan Para Pencari Tuhan Jilid 2 diputar ulang.

Meski kiprahnya belum terbilang lama, Cagur dan Bajaj boleh dibilang meraup kesuksesan meningkat berlipat, baik popularitas maupun materi. Menurut Isa Wahyu Prastantyo, memang sepertinya sudah menjadi tradisi, semua stasiun televisi di bulan ramadhan selalu menampilkan acara komedi. “Alhamdulillah, setiap bulan puasa memang sibuk. Personil Bajaj bekerja sebulan penuh. Di luar itu, rata-rata Bajaj hanya menerima sekitar tiga tawaran kerja dalam sebulan. Itu pun acara off air,” katanya.

Hal senada diungkapkan Narji, personel Cagur yang mengaku keiban banyak rejeki dan berlipat-lipat. “Pokoknya berlipat-lipat. Mungkin ini rejeki anak saya,” tegas Narji tanpa mau menyebutkan berapa lonjakan penghasilannya.

Selain para pelawak yang ‘panen rejeki’ tentunya para bintang sinetron pun demikian. Kerja ekstra mereka dalam sinetron kejar tayang menghasilkan pundi-pundi terisi penuh. Sebut saja misalnya, Marshanda, pesinetron muda ini tampil sejak pertengahan Agustus lalu dalam Aqso dan Madina di RCTI bersama Dude Herlino, Winky Wiryawan serta Carissa Putri.

Sebagai catatan, tahun lalu saja Marshanda menerima honor sekira Rp 25 hingga Rp 28 juta per episode-nya. Sementara, tersiar kabar bahwa Dude Herlino paling tidak menerima Rp 35 juta hingga Rp 40 juta per episode. Bisa ditebak, berapa rupiah yang diboyong mereka hanya untuk sinetron religi khas ramadhan yang tayang lebih dari 30 episode itu.

Tak ketinggalan, sosok yang kerap menyapa pemirsa di layar kaca selama sebulan penuh adalah Quraish Shihab. Selain tampil dalam program Tafsir Al-Misbah –yang sudah menjadi langganan saban tahun di Metro TV— mantan menteri Agama era Suharto itu pun mengisi program kultum penghantar berbuka puasa di RCTI. Sosok tokoh agama dengan gayanya yang khas itu pun hadir saban hari menyapa pemirsa setia TVRI.

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi Oktober 2008