Euphony Rhapsody, Melodi Kegembiraan dari Alleira Batik

foto by view

Kehadirannya memang begitu menyentak publik tanah air. Terlebih bagi para pecinta fashion. Keberaniannya tampil dengan warna gradasi membuat batik kreasi Allure –yang kini berubah menjadi Alleira— menjadi busana etnis yang modern, elegan dan berkelas.

Untuk mempertegas kabar gembira itu, Alleira menggelar panggung fashion bertajuk Euphony Rhapsody. Sebuah melodi kegembiraan dengan menyuguhkan sejumlah koleksi terbaru yang begitu memikat, indah dan mempesona. Dalam kesempatan itu, Alleira pun menggandeng empat desainer mancanegara untuk unjuk kemampuannya mengolah batik dalam sebuah rancangan yang berkelas. Diantaranya Ou Fen asal Singapura, Zhuang Weiping asal Cina, Monica Lim Kabo asal Australia dan Changsook Choi dari Korea.

Alleira pun menampilkan busana batik anak dengan motif bunga freel dan dakron timbul dalam bentuk pita sebagai aksen manis untuk si kecil. Koleksi yang tampil dengan warna turquoise, saffron dan ruby red ini seakan menyiratkan dunia anak-anak yang indah dan penuh kegembiraan. [view]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi September 2010

Advertisements

PESONA KAIN TRADISIONAL INDONESIA

Wastra alias kain-kain tradisional Indonesia memiliki keindahan dan keunikan tersendiri. Meski demikian, banyak diantara masyarakat yang kurang menyadari akan hal itu. Tak heran, jika kain-kain tradional itu hanya menumpuk di dalam lemari. Padahal kain-kain itu bisa bernilai lebih dan bisa dikenakan dalam aktifitas sehari-hari. Seperti yang ditawarkan Stephanus Hamy, perancang mode kenamaan ini bersama fashion stylist Debby Suryawan dalam tiga bukunya yang bertajuk Chic Mengolah Wastra Indonesia seri Tenun NTT, Wastra Bali dan Batik Jawa Barat.

Di buku ini memuat bagaimana cara memadankan kain tradisional dengan busana harian agar bisa dikenakan untuk beragam event, bahkan harian saat kerja. Misalnya untuk usia 40-an, desain lebih formal dengan pemilihan warna yang gelap dengan potongan simpel untuk memberi elegan. Sedangkan untuk usia 20-30an, sentuhan ceria dan muda sangat terasa pada pemilihan warna, dan potongan yang lebih rumit, seperti rok dengan akses lipit, obi, balero dan tube dress yang menggelembung di bagian bawah.

”Tiap kain memiliki motif dan karakter yang berbeda, sehingga diperlukan gaya yang berbeda pula, misalnya wastra batik Jawa Barat yang ringan, penuh warna dan atraktif, sangat cocok dipadupadankan untuk keseharian dan pesta koktil,” ujar Stephanus Hamy saat peluncuran buku Chic Mengolah Wastra Indonesia di Pasaraya Grande, Jakarta beberapa waktu lalu yang dimeriahkan dengan peragaan busana kain tradisional. [view]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi Agustus 2010

Pesona Tenun on Batik

foto by view

Inilah langkah berani yang dilakukan Alleira dalam memecahkan pakem batik. Tak hanya itu, inovasi ini pun sebagai langkah awal melejitkan brand Alleira sebagai merek internasional dari label induk sebelumnya Allure. Ya, Tenun on Batik, sebuah kreasi motif tenun yang dikolaborasikan dengan citra desain dan warna Alleira yang dibuat di atas kain batik khas Alleira itu diperagakan dalam gelaran Fashion Nation 2010 di Senayan City beberapa waktu lalu.

Koleksi Tenun on Batik hadir dalam desain tenun yang cukup variatif. Kekuatan rancangan ini terletak pada dominasi volume longgar dan perpaduan bahan songket sebagai kombinasi. Selain itu, secara keseluruhan menghadirkan detil unik dan cantik. Meski dari desain tampak simple, namun tetap fashionable dan elegan yang merupakan ciri khas Alleira batik. Rancangan Tenun on Batik tak hanya untuk kalangan dewasa, Alleira pun mengeksplorasi desain fashion untuk anak-anak. Dimana ekplorasi volume tumpuk dan perpaduan berbagai kombinasi bahan dalam satu outfit, seakan membuka jendela baru bagi dunia anak, sehingga tampil lebih nature dan bersahaja

Memang, Alleira dikenal dengan teknik gradasi yang menampilkan warna impulsive atau warna yang membangkitkan suasana hati menjadi bergairah dan penuh semangat. Sehingga meski tampil dengan motif tenun, teknik gradasi warna inilah yang membedakan desain tenun Alleira dengan desain tenun lainnya. “Meski berupa motif tenun, tapi khas Alleira batik tampil kuat disini, yakni teknik gradasi yang menjadi trademark warna Alleira,” tegas Anita Asmaya, Manajer Produksi Alleira Batik. [view]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk View edisi Juni 2010

Pesona Batik Banten

foto by fernandez

Unik, cantik, menarik dan selalu fashionable dalam setiap paduan tekstur, motif dan jenis bahan. Paling tidak itulah gambaran batik Banten yang hadir dengan corak dan motif tersendiri. Pun dengan tenun suku Baduy asli Banten, dengan kekhasan tersendiri tak kalah menariknya. Meski memang, pamornya belum setenar batik Pekalongan, Solo, Yogyakarta atau Cirebon.

Dari batik dan tenun Banten inilah tampil koleksi busana elegan yang tak sekadar diwujudkan lewat keahlian semata, tapi kecintaan akan budaya dan tradisi leluhur yang sarat makna. Keindahan batik dan tenun Banten itu dipamerkan dalam peragaan busana yang mengusung Kharisma Batik dan Tenun Banten, hasil rancangan desainer Riny Suwardy. Lewat peragaan busana yang terangkum dalam gelaran Parade Budaya Banten 2009 yang diadakan beberapa waktu lalu di bumi Jawara ini— sang desainer seakan menunjukkan kemampuannya dalam mendesain busana elegan, menarik dan penuh eksplorasi dalam setiap potongan dan desainnya.

Lewat tangan dinginnya, batik dan tenun Banten menjelma menjadi sebuah busana berkelas yang terbagi dalam empat sequen. Diantaranya busana kerja, busana pesta, busana kasual dan koleksi batik dalam tenun Banten yang dikolaborasikan dengan kebaya.  Dalam pengaplikasikan rancangannya, Riny memadukan frill dan kerutan-kerutan. Selain itu aksen bulu-bulu, sehingga memberi kesan girly dan menarik.

“Dalam koleksi ini, saya bermain cutting, serta konsep padupadan, agar koleksi tetap terlihat menarik. Saya tetap membawa ciri khas saya seperti frill, lipit-lipit, model bulu, kristal swarovski, dan payet,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 19 Januari 1971 ini.

Dari segi motif, batik dan tenun Banten memang lebih cukup berani dalam hal permainan warna. Sehingga kesan yang ditampilkan dalam desain-desain busana karya Riny kali ini memang berbeda, lebih girly dan fun. “Keunikan batik Banten tampak pada warnanya, sedangkan tenun Banten pada ornamennya yang sederhana,” tegasnya.

Permainan warna yang berani pada batik Banten seperti pada motif paku debus dan surosowan ini dipengaruhi keberadaan budaya Cina Benteng yang memang selalu menonjolkan warna-warna cerah. Sementara batik dan tenun Baduy yang memang agak susah mengubah warnanya, sebab hanya terdiri dari hitam dan biru saja dan tidak ada modifikasi. [view]

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk VIEW Edisi Oktober 2009

Bincang-Bincang Bersama Annisa Trihapsari

foto by Fernandez
foto by Fernandez

Semburat pesona artis cantik sekaligus model, Annisa Trihapsari (33) masih terpancar dari wajahnya yang ayu. Terlebih setelah ia memutuskan untuk selalu tampil mengenakan jilbab. Seakan inilah ‘sosok baru’ seorang yang sebelumnya muncul di panggung hiburan dengan nama Annisa Tribanowati.

Siang itu, istri dari Sultan Djorgi ini tak hanya tampak anggun saat melenggak-lenggok di atas catwalk. Pun ketika acara usai, Annisa yang masih mengenakan busana kebaya dengan bawahan batik khas Banten. Kerudung penutup kepala yang dikenakan pun tampil senada dengan busana kebaya yang membalut tubuhnya.

Memang, menurut perempuan kelahiran Jakarta, 24 Mei 1976 ini, sejak menikah dengan Sultan Djorgi ia berniat menutup tubuhnya. Keinginan itu semakin kuat setelah ia melahirkan anak pertamanya dengan Sultan yang diberi nama Aqueeni Aziz Djorghi, pada pertengahan April setahun silam. Tak heran bila, kini Annisa selalu tampil dengan busana lebih santun. Terlebih kecintaannya pada kain tradisional batik yang kini kerap ia kenakan di berbagai kesempatan.

Boleh jadi, kebanggaan bintang sinetron Love in Bombay terhadap batik kian bertambah. Pasalnya, kini koleksi kain tradisional jenis batik yang dimilikinya kian banyak dengan diperkenalkannya batik Banten. Hal ini diungkapkan Annisa dalam perbicangannya dengan VIEW, usai menjadi bintang tamu dalam peragaan busana bertajuk Kharisma Batik dan Tenun Banten hasil rancangan Riny Suwardy dalam pagelaran Parade Budaya Banten 2009 beberapa waktu lalu. Berikut perbincangan dengan Annisa seputar kecintaannya pada kain batik.

VIEW: Batik di mata Anda itu seperti apa sih?
ANNISA: Batik itu unik, tradisional dan tak kalah elegannya dengan jenis kain lainnya. Apalagi jika kain batik itu dimodifikasi sedemikian rupa, kesan unik dan tradisionalnya itu tak pernah lekang dimakan waktu. Dan inilah yang bikin saya bangga dan makin cinta sama kain tradisional ini.

VIEW: Sejak kapan Anda menyukai batik?
ANNISA: Wah, sejak kecil saya sudah suka dengan batik. Terlebih saya kan dibesarkan di keluarga dengan kultur Jawa yang tentunya sudah identik dengan batik.

VIEW: Biasanya dalam momen apa Anda mengenakan busana batik?
ANNISA: Dalam segala momen kadang saya mengenakan batik. Bahkan akhir-akhir ini kalau jalan-jalan ke mal pun saya pun tak sungkan-sungkan untuk mengenakan batik kok, apalagi kalau acara keluarga. Terlebih kini batik lagi ngetren, dimana-mana orang pakai batik.

VIEW: Lantas, selama ini sudah berapa banyak koleksi batik yang dimiliki?
ANNISA: Sudah tak terhitung lagi deh, karena biasanya saya lebih sering mengenakan busana batik di setiap kesempatan. Dan hari ini tentunya koleksi saya bertambah lagi yakni batik Banten.

VIEW: Dari sekian banyak koleksi batik Anda, yang paling disukai koleksi batik apa?
ANNISA: Batik Cirebon. Selain motif dan warnanya yang cerah, kebetulan ada saudara yang memproduksi jenis batik Cirebon. Sehingga keluarga pun sering disuplai dari sana.

VIEW: Selain batik, jenis kain apa lagi yang Anda sukai?
ANNISA: Memang saya juga suka dengan kain-kain tradisional negeri ini yang kaya akan budaya, seperti songket atau kain tenunan lainnya. Tapi dari sekian koleksi yang saya miliki, paling banyak ya batik.

VIEW: Koleksi batik terakhir yang Anda miliki?
ANNISA: Hmm lagi-lagi batik Cirebon. Dan tentunya batik Banten yang baru saja saya kenal dalam kesempatan ini. [view]

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi September 2009

Batik ala Spongebob SquarePants

bobatikBatik memang unik. Aneka ragam sentuhan pada batik kian menarik. Tak hanya orang dewasa, kalangan anak-anak pun kini mulai tertarik batik. Terlebih dengan apa yang dilakukan oleh Allure –label batik kontemporer dan ternama dalam fashion batik— yang memperkenalkan koleksi batik spesial bernama Bobatik.

Koleksi batik anak-anak berlabel Allure Kids ini, merupakan hasil kolaborasi desain unik SpongeBob SquarePants dengan warna, tekstur dan gaya klasik modern dari Allure batik. Lahirnya, Bobatik sendiri tak lain terinspirasi dari properti Nickelodeon yang kian tengah popular di negeri ini. Betapa tidak, SpongeBob SquarePants muncul sebagai ikon pop yang dapat dinikmati oleh semua umur dan telah melampaui trend. Desainer dunia ternama, seperti Marc Jacob dan Kimora Lee Simons pun adalah beberapa dari sekian banyak selebriti yang memanfaatkan daya tarik SpongeBob SquarePants.

“Tak heran bila, bertepatan dengan ulang tahun SpongeBob SquarePants ke sepeluh, Allure Batik berkolaborasi menghadirkan Bobatik, yakni batik bermotif SpongeBob SquarePants,” ujar Suherman Mihardja, Komisaris Allure Batik saat memperkenalkan lini koleksi barunya ini di Senayan City, beberapa waktu lalu.

Koleksi Bobatik yang diluncurkan awal musim panas ini terdiri dari koleksi pakaian sehari-hari dan aksesori untuk anak dan remaja. Dan tentunya, koleksi Bobatik ini masih kental dengan warna dan motif yang dimiliki Allure Kids. Hanya saja, patchwork motif dan corak abstrak khas SpongeBob SquarePants menjadi aksen tersendiri. [view]

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi Agustus 2009

Kecintaan Annisa Pohan pada Batik

Tak hanya cantik dan pintar, Annisa Pohan tampak begitu anggun dengan balutan batik berwarna biru. Presenter cantik yang juga menantu Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono ini, dikenal sebagai selebriti yang sangat peduli akan kelestarian warisan budaya leluhur, khususnya batik.

Kecintaan Annisa pada batik tak perlu diragukan lagi. Hampir disetiap kesempatan, wanita yang tengah hamil muda ini, selalu mengenakan busana batik. Tak heran pula jika istri dari Agus Harimurti Yudhoyono ini ditunjuk sebagai brand ambassador Allure, sebuah merek batik.

Meski ada anggapan di kalangan anak muda, jika pakaian batik identik dengan busana orang tua, tapi Annisa optimis batik pasti akan dicintai masyarakat Indonesia. Karena itu, wanita kelahiran Boston, Amerika Serikat, 20 November 1981, tak merasa lelah sedikitpun untuk terus mempopulerkan batik.

Terlebih lagi dengan adanya ‘klaim’ dari negeri tetangga yang ingin mempatenkan batik, membuat resah pemilik nama lengkap Annisa Larasati Pohan. Maklum, sedari kecil ia mengaku suka mengenakan batik. Berikut petikan wawancara VIEW bersama disela-sela kegiatan promosi batik untuk anak-anak beberapa waktu lalu.

VIEW: Sejak kapan Anda menyukai batik?

ANNISA: Wah, sudah dari sejak kecil. Karena sejak dulu, bunda kerap memakai busana batik di berbagai kesempatan.

VIEW: Kalau begitu sudah berapa banyak koleksi batik Anda?

ANNISA: Wah berapa banyak ya. Banyak banget deh. Bahkan beberapa barik dari masing-masing daerah, juga ada.

VIEW: Batik di mata Anda?

ANNISA: Bagi saya, batik itu bisa dipakai untuk acara formal maupun informal. Terlebih, batik sekarang lebih modern, bisa dipadukan dengan busana apa pun. Juga bisa dibuat gaun yang cantik. Saya berharap kaum muda dapat lebih mencintai batik dan tidak ragu-ragu lagi untuk memakai batik. Dan, sepertinya saya juga akan terus mencintai batik.

VIEW: Lantas bagaimana komentar orang-orang di sekitar Anda ketika mengenakan batik?

ANNISA: Ibu mertua saya selalu tanya, baju kamu bagus sekali, jahit di mana. Beliau kerap memuji baju-baju batik yang dikenakan saya. Katanya baju-baju batik saya modern dan lucu-lucu.

VIEW: Sebagai ikon Allure, bagaimana komentar Anda tentang Allure yang kini mengeluarkan Allure Kids?

ANNISA: Wah, saya senang sekali, akhirnya Allure Kids yang selama ini ditunggu-tunggu bisa hadir di tengah-tengah masyarakat. Apalagi saat ini perhatian masyarakat terhadap batik semakin besar. Kehadiran Allure Kids memberi peluang bagi anak-anak Indonesia untuk tampil gaya dengan batik.

VIEW: Apakah ada kaitannya antara peluncuran Allure Kids dengan kehamilan anda?

ANNISA: Tahun ini memang berkah buat saya. Ketika suami pulang dan tak lama kemudian, saya hamil. Tentunya berkah juga buat Allure, semoga makin sukses di kemudian hari. Namun, peluncuran Allure Kids ini, bukan karena disesuaikan dengan kehamilan saya.

VIEW: Lantas apa impian Anda untuk sang buah hati dengan adanya produk Allure Kids ini?

ANNISA: Saya sering menghayal jika anakku lahir nanti, saya ingin sekali memakaikan baju batik. Walaupun, sampai saat ini, saya juga belum tahu apakah laki-laki atau perempuan. Tapi yang pasti, saat lahir nanti, saya ingin dandani dengan batik. Saya akan memesan secara khusus kepada desainer Allure. Paling tidak, usia satu tahun anakku sudah pakai batik. Model baju batiknya pun harus serasi dengan busana ibu dan bapaknya. Modelnya nggak harus sama, tapi minimal warnanya saja. Karena itu, saya pun berharap seluruh keluarga muda di Indonesia, semakin suka mengenakan batik.[view]

Artikel ini dimuat di majalah VIEW edisi Juni 2008