Bincang-Bincang Bersama Rudy Hadisuwarno

foto by Fernandez

foto by Fernandez

Siapa yang tak kenal Rudy Hadisuwarno yang salonnya tersebar di 148 lokasi di Indonesia. Pria yang kerap berpenampilan necis ini, begitu dikagumi kalangan hairdresser atau industri fashion. Tak heran jika ia mendapat gelar ‘sang maestro’ penata rambut Indonesia.

Tak hanya dikenal di Indonesia. Sebagai penata rambut ternama, sudah  mendapat pengakuan internasional. Ia diangkat menjadi anggota Intercoiffure –sebuah perhimpunan ahli-ahli tata rambut professional sedunia yang berpusat di Paris— pada tahun 1977. Tak hanya itu, di tahun 1979. Rudy direkrut menjadi anggota C.A.C.F. (Comite Artistique de la Coiffure Francaise) suatu wadah organisasi di Paris, bagi para penata rambut dengan reputasi tinggi.

Rudy dikenal sebagai penata rambut sejak 1968. Pria kelahiran Jakarta 21 Oktober 1949 ini, memulai usahanya sebagai ‘tukang salon’ rumahan setelah lulus sekolah tata tata rambut di Jakarta. Tiga tahun kemudian, seakan tidak puas dengan ilmu yang diraihnya, Rudy kembali melanjutkan sekolah tata rambut di Inggris, Paris, dan Perancis.

Tahun 1978, menjadi tonggak bagi Rudy untuk mengembangkan usaha yang kian diminatinya dengan membuka salon di Duta Merlin, kawasan pusat perbelanjaan bergengsi di Jakarta kala itu. Dari kawasan ini pula, peraih Medaille de Chevalier de la Chevalerie Intercoiffure Mondial, sebuah penghargaan atas prestasinya pada Intercoiffure World Congress dari ICD Mondial, di New York, Amerika Serikat pada 1980 ini, membuka beberapa cabang dengan brand Rudy Hadisuwarno.

Dan sepuluh tahun kemudian, Rudy mengembangkan salonnya dengan sistem waralaba. Kini, lewat brand Rudy Hadisuwarno Exclusive Salon, Salon Rudy by Rudy Hadisuwarno, Brown Salon, salon anak-anak Fun Cuts dan Kiddy Cut di bawah naungan manajemen Rudy Hadisuwarno Organization (RHO) terus mengepakkan sayapnya. Apa rahasia keberhasilan penata rambut kelas dunia yang sempat kuliah pada jurusan Arsitektur Universitas Trisakti, Jakarta ini dalam menapaki karirnya?. Berikut perbincangan Rudy kepada VIEW.

VIEW: Kenapa Anda memilih profesi ini?
RUDY: Sebetulnya yang menjalani profesi rambut waktu itu adalah ibu saya. Maklum, selepas SMA saya harus mencari duit sendiri kalau mau kuliah. Akhirnya saya ikut pendidikan tata rambut dan baru bisa buka salon di rumah sekitar tahun 1968. Dari hasil nyalon itulah saya bisa kuliah di Trisakti.

VIEW: Apakah saat itu Anda benar-benar menikmati profesi tersebut?
RUDY: Ya, bahkan tiga tahun kemudian saya sekolah tata rambut lagi ke luar negeri. Dan akhirnya saya harus rela meninggalkan bangku kuliah. Mungkin saking keenakan kali yaa… Dan ternyata ini memang dunia saya.

VIEW: Hingga kini, sudah ada berapa tempat?
RUDY: Dari semua yang kami kelola, sekarang ada sebanyak 148 cabang, 25 lokasi diantaranya milik sendiri, sisanya kerjasama dengan sistem waralaba.

VIEW: Sebenarnya, apa sih yang membedakan Salon Anda dengan salon yang lain?
RUDY: Adanya standarisasi baku yang saya terapkan di semua lini. Mulai dari gunting rambut, produk, hingga pendidikannya.

VIEW: Selama ini Anda mendapat inspirasi dalam menciptakan gaya rambut dari mana?
RUDY: Kalau inspirasi lebih sering dari kondisi yang terjadi di dunia. Bahkan tak jarang, apa yang saya kreasikan sebelumnya dipakai juga oleh para haidraisser di Paris, Perancis yang konon jadi pusat mode.

VIEW: Lho, bukannya selama ini Paris itu jadi kiblat?
RUDY: Memang, tapi tidak semua yang tren di sana cocok untuk di sini. Indonesia itu boleh dibilang setengah barat setengah oriental yang kadang jadi inspirasi juga bagi mereka. Jadi bukannya sombong, kalau Indonesia ini penuh dengan talenta di bidang tata rambut. Dan itu mereka akui kok.

VIEW: Selain mengkreasi gaya rambut, apakah Anda masih turun langsung menangani pelanggan?
RUDY: Ya, bahkan ada beberapa pelanggan lama saya yang hanya mau dilayani sama saya. Atau ada permintaan khusus dari para selebriti, public figure hingga pejabat negeri ini.

VIEW: Biasanya permintaan khusus seperti apa?
RUDY: Kebanyakan untuk membentuk imej tentunya. Misalnya kemarin saya harus mengkreasikan gaya rambut Darius Sinatria yang menjadi brand ambassador dari Gillette. Saya juga merias rambut Siti Nurhaliza untuk keperluannya sebagai ikon shampoo Pantene.

VIEW: Kalau boleh tahu, tahun depan model rambut seperti apa yang bakal diperkenalkan Anda?
RUDY: Sepertinya gaya minimalis akan cocok dengan kondisi ekonomi yang serba sulit ini. Hehehe…

VIEW: Untuk kedepannya, dunia salon apa yang bakal Anda kembangkan lagi?
RUDY: Saya akan membuka salon khusus muslimah. Karena banyak pelanggan yang meminta saya untuk membuka layanan yang khusus muslimah. Pokoknya serba muslimah. Mudah-mudahan dalam satu hingga dua tahun ini bisa terwujud. [view]

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk VIEW Edisi Juni 2009

Advertisements

One Stop Beauty Destination, Dagangan ala Rudy Hadisuwarno

Tak dipungkiri lagi, tuntutan gaya hidup di kota besar seperti Jakarta mutlak ada. Memang, gaya hidup yang terus berubah dari masa ke masa, diyakini telah mewarnai dunia kecantikan. Nyatanya, makin banyak para wanita yang tak pernah luput dari ritual merawat tubunya. Pun dengan kaum pria yang selalu ingin tampil dandy.

Ritual merawat diri itu konon dilakukan rutin dari kepala hingga ke ujung kaki. Bahkan tidak sedikit diantara mereka harus pergi dari satu salon ke salon lainnya untuk mendapatkannya semua. Alasan utamanya tak lain untuk mendapatkan kualitas yang terbaik. Maka tak heran bila mereka harus lebih selektif dalam memilih salon yang menggunakan produk-produk yang berkualitas. Tapi produk berkualitas saja tidaklah cukup bila tidak ditunjang dengan kenyamanan, pelayanan prima serta eksklusifitas.

Rupanya fenomena itu dibaca oleh pelaku bisnis kecantikan negeri ini. Salah satunya adalah Rudy Hadisuwarno yang baru-baru ini menghadirkan Salon Rudy Hadisuwarno Beauty Farm. Konon salon ini berangkat dari konsep untuk mengajak calon pelanggan untuk kembali ke alam. Beauty Farm sendiri menyediakan layanan perawatan kecantikan terlengkap dan di bagi dalam zona-zona tertentu.

Rudy Hadisuwarno Beauty Farm yang hadir di fX Lifestyle Center, lantai 4 itu, tak melulu identik dengan layanan perawatan kecantikan, tapi dilengkapi sebuah cafe. “Di tempat ini, sejenak para pelanggan akan diajak berpetualang secara rileks, serasa dekat dengan alam dan bermimpi sesaat,” tegas Rudy Hadisuwarno, sang pemilik salon ini.

Di bagian tengah terdapat salon tata rambut yang menyuguhkan layanan personal dengan mengadopsi konsep Haute Coiffure. Salon ini, didukung penuh oleh pabrikan perawatan rambut asal Paris, L’Oreal Professionel. Zona ini hadir dengan sentuhan khas Timur Tengah, memadukan warna emas dari pasir dan warna ungu yang merefleksikan keindahan rona matahari tenggelam di padang gurun.

Masih seputar urusan rambut, Rudy pun menggandeng Kerastase yang menyuguhakn pelayanan perawatan rambut berteknologi tinggi. Zona Kerastase Sanctuary, hadir dengan nuasan hijau yang menyejukan layaknya hutan hujan tropis. Lalu, ada pula zona Nail Gallery, sebuah ritual perawatan kuku ternama asal Korea yang menggunakan produk dari Amerika. Kehadiran Skin Health by dr Zein Obagi yang kental dengan warna biru memberikan pilihan bagi mereka yang memerlukan perawatan kulit wajah dan tubuh tentunya. Layanan make-over baik untuk sekedar tampil beda atau memang sudah bosan dengan riasan sebelumnya, zona studio Professional Artist Cosmetic (PAC) hadir di sudut ruangan dari salon ini.

Tidak hanya itu, untuk menambah suasana rileks, sebuah cafe dengan sajian unik bernuansa Italia, Crema hadir lewat sentuhan warna coklat espresso. “Dijamin acara nyalon anda akan terasa lebih seru,” tutur Rudy yang kini menjabat sebagai Vice Asian President ICD, Asia Region.

Bisa jadi, apa yang menjadi impian masyarakat Jakarta untuk melakukan perawatan kecantikan yang sempurna menjadi nyata. Tak berlebihan pula, jika kehadiran Rudy Hadisuwarno Beauty Farm dianggap sebagai One Stop Beauty Destination. Dan sejatinya kini, gaya hidup telah menjadi kebutuhan siapa pun yang hidup di kota besar.

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk VIEW Edisi November 2008