Apa Kabar Para Caleg?

Pemilihan Umum (Pemilu) anggota legislatif baru saja usai sepekan lalu. Tak dipungkiri, pemerintah menilai pelaksanaan pemungutan suara secara umum berjalan lancar, meski tak sedikit pula yang harus diulang. Setidaknya, pencoblosan ulang dilakukan di 23 provinsi. Ada banyak penyebab yang mengharuskan diulang. Kegaduhan politik pun kian santer terdengar. Panasnya suhu politik semakin meningkat. 

8shofsdfApalagi ketika hasil penghitungan cepat (quict count) sejumlah lembaga survei dirilis di berbagai media massa. Terlebih media elektronik yang langsung mewartakan sejam setelah pemungutan dinyatakan selesai. Harap-harap cemas menggelayuti para pemangku partai politik dan calon legislatif (caleg).

Lalu apa kabar para caleg? Berhasil melenggang ke kursi dewan? atau terpental tak ke pinggiran? Karena seperti pemilu sebelumnya, kali ini peraih suara terbanyaklah yang akan bisa duduk di parlemen. Ada ribuan caleg tengah berharap. Meski angka-angka perolehan yang dirilis sejumlah lembaga survei diklaim mewakili untuk bisa menghitung keterpilihan.

Setelah berjibaku sekuat tenaga untuk bisa mendapat nomor urut, dapil dan lolos masuk dalam daftar calon sementara (DCS). Tentunya mereka berharap cemas untuk bisa tercatat dalam daftar calon tetap (DCT). Tak berhenti di situ, setelah terpampang namanya berikut foto sebagai caleg, mereka harus menyiapkan tenaga dan biaya lebih ekstra lagi. Bersaing di medan perang dalam bingkai sosialisasi, kampanye sebelum dipilih oleh masyarakat di 9 April lalu.

Tak terbantahkan lagi, betapa repotnya para caleg menyiapkan segala sesuatunya. Siapapun dia. Hanya saja yang membedakan adalah tingkat ketebalan lembaran rupiah sebagai amunisi menghadapi pileg kemarin dan modal sosial yang pernah ditanam, serta tingkat popularitasnya di mata masyarakat. Semua itu bisa terlihat dengan kasat mata. Meski pada akhirnya, pilihan masyarakat itu akan dibuktikan pada saat pencoblosan.

Kerepotan dan kegelisahan kian menjadi ketika pemungutan suara dinyatakan usai. Boleh jadi, caleg tidak sekadar mengawal perolehan suara pribadinya, tapi ada kewajiban menjaga suara partai pula. Dan bisa jadi peperangan berikutnya baik antar caleg maupun partai yang sesungguhnya itu terjadi usai pemungutan suara selesai. Pasalnya, sabotase, penilepan angka-angka hasil penghitungan hingga jual beli suara bukan sekadar isu belaka, tapi memang terjadi. Inilah yang membuat ketar-ketir sekaligus ajang tawar-menawar para caleg. Wani piro?

Sebagai bumbu-bumbu dari hingar bingar politik tak lain adalah tersiarnya caleg-caleg yang stress, lantaran kurang siap menghadapi kenyataan. Peran media massa lewat pemberitaan seputar perilaku caleg, termasuk manuver partai politik dalam menyikapi hasil sementara pemilu kian sedap. Sepertinya, tak ada berita yang begitu nikmat dilahap, selain tingkah polah elite partai dan para calegnya dalam memperebutkan kursi. Meski diakui, aktivitas para caleg dalam mengawal suara tak seheboh waktu kampanye. Karena memang, biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Layaknya perang gerilnya, operasi senyap itu terus merangsek ke penyelenggara pemilu (KPU dan perangkatnya) mulai dari kelurahan, kecamatan, kabupaten hingga pusat.

Semoga apa yang dilakukan para caleg baik yang mungkin diprediksi lolos maupun tidak lolos masih tetap dalam koridornya. Mau bersikap jantan dalam menyikapi hasil dan keputusan yang bakal dikeluarkan lembaga penyelenggaran pemilu (KPU). Meski bisa jadi, keputusan itu dihasilkan dari deal-deal tertentu atai bahkan sebuah kecurangan yang mungkin secara kasat mata tak nampak. Rasanya, tenang bila apa yang diperoleh caleg memang benar-benar itu hasil dari perjuangan yang benar dan sesuai aturan. Dan sejatinya, mereka pun tak merasa tenang ketika apa yang diraihnya itu dilalui atau malah dipenuhi kecurangan. Hanya Allah SWT yang Maha Mengetahui. semoga…