Lebih Dekat Dengan Sufmi Dasco Ahmad : Berjuang Meraih Kursi

Keberadaannya di panggung politik kian dikenal. Bukan hanya karena kedekatannya dengan Ketua Dewan Pembina, Prabowo Subianto, melainkan kegigihannya mengenalkan Partai Gerindra pada masyarakat lulas begitu kuat. Tak heran bila ia harus mengesampingkan ambisi pribadinya demi kepentingan partai yang siap mengusung sebuah perubahan.

CALEG DPR-RI DAPIL BANTEN 3 NO URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL BANTEN 3 NO URUT 1

Kini, Ir Sufmi Dasco Ahmad, SH, MH, bertekad untuk terus memperjuangkan nasib rakyat lewat jalur politik. Namanya tercatat sebagai Calon Anggota Legislatif (caleg) dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dari daerah pemilihan (dapil) Banten 3. Padahal, sebelumnya Dasco, begitu sapaan akrabnya, sudah mempersiapkan diri maju sebagai calon senator Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD-RI) dari DKI Jakarta.

“Tujuan saya memang mau mewarnai gedung wakil rakyat itu dengan unsur-unsur Gerindra di DPD-RI. Hanya saja, menjelang penutupan masa pendaftaran, saya diperintah partai, untuk masuk di dapil Banten 3. Karena ini perintah partai, maka masalah ambisi pribadi saya harus kesampingkan lebih dulu, demi untuk meraih dua kursi. Terlebih anggota DPR dari dapil itu tidak maju lagi, sehingga dapil itu perlu diperkuat,” jelas pria kelahiran Bandung, 7 Oktober 1967 ini.

Menurut Ketua DPP Partai Gerindra, Bidang Organisasi dan Keanggotaan ini, Partai Gerindra menilai persaingan dalam rangka memperebutkan kursi di dapil Banten 3 sangatlah ketat. Apalagi, beberapa partai baru dinilai berpotensi bisa meraih kursi. “Sehingga, perlu diperkuat untuk bisa mencapai target,” terangnya.

Ia mengaku, keterlibatannya di dunia politik praktis tak lepas dari peran beberapa rekan bisnis dan para seniornya. Baginya, meski terbilang baru, Partai Gerindra yang menjadi payung aktivitas politiknya itu kini sudah menjadi bagian hidupnya. Kapasitasnya sebagai seorang pengusaha konsultan keamanan dan manajemen resiko, banyak membantu partai dan aktivitasnya di panggung politik.

Sebelum terjun ke partai politik, Dasco memang tercatat sebagai Sekretaris Komisi Disiplin Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI). Di sinilah, ia acap bercengkrama dengan Prabowo Subianto selaku Ketua Umum IPSI. Di samping itu, sebagai Dewan Penasehat Komando Nasional Resimen Mahasiswa, ayah dua anak ini pun dinilai piawai dalam pembinaan watak generasi muda.

Kini setelah lima tahun bergabung dan mengemban tugas yang berat dalam mengurus organiasi dan keanggotaan partai berlambang kepala burung Garuda, Dasco pun diperintahkan untuk terjun sebagai caleg di dapil Banten 3.

“Yang jelas, saat ini saya fokus untuk berjuang meraih kursi sesuai yang menjadi target partai. Dengan semakin banyak kursi yang kita miliki, maka kita akan lebih mewarnai DPR, termasuk berbagai kebijakan partai yang selama ini kita jalankan bagi kader kita yang duduk di DPR. Dengan demikian kita juga bisa mewujudkan 6 Program Aksi Partai Gerindra yang selama ini kita perjuangkan,” terang lulusan Fakultas Teknik Universitas Pancasila Jakarta ini.

Langkah-langkah apa yang dilakukannya setelah ditetapkan sebagai caleg di dapil Banten 3? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, Ketua Alumni Universitas Pancasila ini memaparkannya. Berikut petikan wawancaranya

Apa latar belakang Anda maju sebagai caleg?

Sebenarnya, sejak awal proses pencalegan saya tidak mendaftar sebagai caleg. Karena memang saya tadinya memberikan kesempatan kepada yang lain, karena ini sifatnya terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung sebagai caleg dari Gerindra. Awalnya, saya memang punya tujuan lain, yaitu mau mewarnai gedung wakil rakyat dengan unsur-unsur Gerindra di DPD-RI. Untuk itu saya pun mengajak beberapa kader dari berbagai propinsi untuk maju sebagai calon Senator.

Tujuan target politik saya jelas bahwa pimpinan DPD-RI itu dipilih oleh anggota, jadi ada kesempatan buat kita untuk tampil menjadi wakil pimpinan. Biar bagaimana, selain di Gerindra, ada teman-teman yang sepaham dengan kita, meski dari lintas partai yang itu mungkin bisa mendongkrak kekuatan perjuangan kita di Senayan.

Pada saat saya mendaftar caleg, saya juga sudah terdaftar sebagai calon Senator dari DKI Jakarta. Tidak hanya itu, saya pun sudah bekerja lebih dari delapan bulan sebelumnya. Semua syarat-syarat sudah terpenuhi. Tentunya syarat untuk maju sebagai calon Senator berbeda prosedurnya dan lebih berat dibanding sebagai caleg. Saya memilih jadi Senator dari DKI Jakarta, bukan berarti saya tidak siap untuk daerah lain, hanya saja karena selain saya sebagai penduduk Jakarta, dengan keberadaan saya di Jakarta nanti, saya juga masih bisa membantu aktivitas partai.

Kenapa akhirnya Anda maju sebagai caleg di dapil Banten 3?

Nah, pada saat perbaikan dan akan ditutup pada Mei, saya diperintah partai, waktu itu melalui Pak Sekjen Ahmad Muzani, yang memerintahkan saya untuk masuk di dapil Banten 3. Tujuannya untuk mengejar pencapaian target kursi di dapil itu. Karena ini perintah partai, maka masalah ambisi pribadi saya harus kesampingkan lebih dulu, demi untuk meraih kursi, agar Gerindra bisa mengusung calon presiden. Atas dasar itu, meski sudah bekerja lama, sudah mengeluarkan biaya, waktu, tenaga dan lain-lain, saya harus mengikuti partai.

Selain pertimbangan target Partai harus meraih 2 kursi, kader yang sudah duduk di DPR dari dapil itu tidak maju lagi. Karena itu perlu diperkuat. Untuk itulah saya diterjunkan partai masuk dapil Banten 3. Kita bukannya pesimis, tidak bisa mendapat kursi, tapi selain caleg incumbent dari partai lain kuat-kuat, jagoan dari dapil itu kita tidak maju lagi.  Apalagi, beberapa partai baru dinilai berpotensi bisa meraih kursi, sehingga persaingan begitu sengit.

Lalu apa saja yang sudah Anda lakukan di dapil?

Karena saya ini pimpinan organisasi dan pernah ditugasi sebagai direktur Bappilu Parta Gerindra pada Pemilu 2009 lalu, tentu sedikit banyaknya tahu dan paham situasi dan kondisi dapil Banten 3 yang meliputi Kota Tangerang, Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang. Setelah saya ditetapkan menjadi caleg di dapil Banten 3, maka saya segera melakukan mapping. Kita mulai memetakan kekuatan partai dan mempelajari bagaimana karakter pemilih. Kita bukannya tidak pernah turun kesana, tapi setelah terbentuknya tim yang solid, kita juga menyusun rencana kerja pemenangan agar target yang dibebankan sebanyak 2 kursi bisa tercapai. Yang jelas saya tidak asing di dapil Banten 3, karena saya juga kerap bolak-balik ke sana dan saya juga punya rumah di sana.

Seperti apa karakter pemilih dapil Banten 3?

Karakter pemilih di dapil Banten 3 di beberapa tempat memang cenderung masih pragmatis dan paling utama di sana unsur-unsur ketokohan seseorang masih berpengaruh. Sementara untuk di daerah perkotaannya seperti Kota Tangerang dan Tangerang Selatan sama dengan daerah yang lain cenderung apatis. Melihat kondisi seperti itu, kita harus lebih banyak melakukan pendekatan kepada pemilih yang ada di komplek perumahan untuk ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum legislatif.

Di kawasan pantura misalnya, selain ada pengaruh tokoh-tokoh di sana, karakter pemilih rata-rata pragmatis. Untuk itu kita harus merubah mindset mereka bahwa uang yang saat ini mereka harapkan jangan sampai mengorbankan masa depan bangsa, negara dan harapan anak cucu mereka, karena pragmatis itu sesaat. Itu yang terus kita lakukan di dapil Banten 3 bersama para caleg DPRD kabupaten/kota dan provinsi, disamping mensosialisasikan 6 Program Aksi Partai Gerindra agar lebih dikenal.

Menurut Anda, seperti apa perkembangan Partai Gerindra khususnya di dapil Banten 3?

Menurut saya, pergerakan Partai Gerindra di Banten cukup bagus. Khusus di dapil Banten 3, saya lihat pembinaan terhadap kader berjalan sesuai yang diharapkan, termasuk para calegnya yang terus aktif melakukan sosialisasi program dan perjuangan partai.

Kalau dilihat dari peta politik yang ada di dapil Banten 3, siapa lawan terberat?

Di dapil Banten 3, rata-rata partai besar yang selama ini sudah meraih kursi di Senayan kembali menurunkan caleg incumbent-nya. Selain calon incumbent yang dinilai masih kuat, ada beberapa partai baru yang belum mendapat kursi pada Pemilu 2009, juga bersemangat dan berpotensi untuk meraih kursi, sehingga persaingan begitu ketat. Inilah tantangan yang harus kita jawab, sehingga Gerindra pun bisa meraih suara banyak dan menang.

Dengan kondisi seperti itu, apakah target dua kursi bisa tercapai?

Memang untuk meraih dua kursi itu perjuangan berat. Karena untuk satu kursi saja, pesaing yang dihadapi berat. Paling tidak kita harus meraih suara keseluruhan sebanyak 300 ribu, sehingga target itu bisa terlampaui.

Kalau target Partai Gerindra sendiri di 2014?

Yang jelas minimal setara dengan ambang batas untuk bisa mengusung calon presiden sendiri yakni sebesar 20 persen. Tentunya, kita akan berusaha sekuatnya bagaimana caranya agar target itu tercapai.

Jika terpilih nanti apa yang akan Anda lakukan?

Ya tentunya saya akan mengkonsolidasikan kekuatan untuk menghadapi pilpres. Dan setelah duduk di Senayan tentu akan menginformasikan kepada teman-teman di dewan untuk bisa menangani masalah-masalah yang ada di dapil, seperti mengenai pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lainnya.

Yang jelas, saat ini kita fokus untuk berjuang meraih kursi sesuai yang menjadi target partai. Dengan semakin banyak kursi yang kita miliki, maka kita akan lebih mewarnai DPR, termasuk berbagai kebijakan partai yang selama ini kita jalankan bagi kader kita yang duduk di DPR. Dengan demikian kita juga bisa mewujudkan 6 Program Aksi Partai Gerindra yang selama ini kita perjuangkan.

Menurut Anda seperti apa kondisi dapil Banten 3?

Memang dapil Banten 3 lebih maju dibanding daerah Banten lainnya. Sebenarnya potensi di sana lebih pada industri dan pesatnya pertumbuhan kawasan pemukiman modern.

Menurut Anda, bagaimana dengan kader Gerindra yang duduk di DPR saat ini?

Saya bangga kawan-kawan yang ada di DPR. Saya bangga, karena sampai saat ini tidak ada satu pun kawan-kawan yang terlibat soal-soal yang melanggar etika sebagai anggota DPR. Belum ada anggota DPR dari Gerindra yang terkena kasus hukum korupsi, dimana selama ini beberapa lembaga survey menilai DPR sebagai lembaga yang paling korup di negeri ini. Inilah yang membuat kita bangga kepada mereka yang tetap komitmen menjalankan program partai dan program rakyat. Hingga detik ini mereka tetap satu komando, tidak seperti partai lain.

Tentu semua itu kaitannya dengan kepemimpinan Prabowo, komentar Anda?

Ya, memang begitu. Beliau orang yang konsisten, tegas dan tidak terlalu banyak pertimbangan. Dan yang tak kalah pentingnya, ketika beliau salah, maka beliau tak ragu-ragu dan malu mengakuinya bahwa dia keliru. Saya yakin, negara ini sangat membutuhkan sosok seperti beliau.

Apa pesan Anda untuk para kader yang tengah berjuang menghadapi Pemilu 2014 ini?

Pesan saya kepada temen-teman kader Gerindra, khususnya di Banten 3 mari kita berjuang bersama, memperkuat barisan menyongsong pemilihan legislatif yang sudah dekat. Dimana kita tahu target Partai Gerindra itu berat, kalau tidak dilampaui bersama. Jika kita berhasil mencapai target suara, maka kita bisa mengusung Pak Prabowo Subianto menjadi presiden. Yakinlah dengan kepemimpinan beliau, kita akan mengusung perubahan bagi bangsa dan negara tercinta ini. [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA Edisi September 2013

Advertisements

Adam Muhammad : Gerindra itu Pergerakan yang Terus Bergerak

Loyal dan total dalam sebuah pergerakan adalah kepribadian seorang Adam Muhammad. Kader sekaligus pejuang politik di bawah naungan bendera Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini bertekad tidak akan berhenti bergerak dan berjuang. Karena baginya, Partai Gerindra bukan sekadar partai politik, tapi sebuah pergerakan yang terus bergerak.

adamBaginya, banyak orang yang terjun ke parpol A, B atau C, namun pada akhirnya merasa kagok dalam aktivitas politiknya. Sedangkan di Gerindra tidak demikian, semua elemen bergerak. “Itulah Gerindra, dari namanya saja sudah angker, ini pergerakan bukan sekadar untuk menuju parlemen saja, tapi bergerak di semua lini kehidupan rakyat Indonesia,” tegas pria kelahiran Makassar, 2 Februari 1986 ini.

Loyalitasnya di partai berlambang kepala burung Garuda tak diragukan lagi. Selain duduk sebagai Ketua Bidang Perumahan Rakyat, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra, insinyur teknik sipil ini dipercaya untuk menjalankan tugas khusus. Diantaranya adalah di kantor DPP selain mengurusi administrasi kesekretariatan juga ditugasi untuk mendampingi dan menerima tamu, dari mulai yang hanya ingin mengenal Gerindra maupun pihak-pihak yang mau menyampaikan keluhan-keluhan seputar partai di daerah-daerah. Informasi yang ia diperoleh lalu disampaikan ke pimpinan untuk ditindaklanjuti.

Keterlibatannya di Partai Gerindra sendiri berawal 2009 dari keingintahuan akan sosok Prabowo Subianto. Kala itu ia masih duduk di bangku kuliah Fakultas Teknik Universitas Sultan Hasanuddin (Unhas) Makassar, yang teringat tentang Prabowo dengan stigma-stigma negatifnya. Puncaknya, Adam pun diajak menyaksikan video pidato Prabowo sebelum maju di Pilpres 2009 lalu. Ternyata, setelah menyimak orasinya,  ia baru sadar bahwa sebenarnya inilah sosok yang ia cari selama ini. “Pidato pertama benar-benar menghapus stigma saya terhadap beliau yang melekat selama itu,” kenang ayah satu anak ini.

Pun ketika di kampus tengah bergejolak perlawanan terhadap kebijakan Badan Hukum Pendidikan (BHP), menurutnya, satu-satunya pasangan calon presiden yang berani menandatangani pakta politik untuk mencabut undang-undang itu adalah Prabowo. Meski pun gagal dalam pilpres 2009 karena dicurangi, ternyata Gerindra terus mengawal hingga ke Mahkamah Konstitusi (MK) dan berhasil. “Dari situlah saya semakin jatuh hati. Apa yang dilakukannya sesuai perkataan dan perbuatan. Karena itu, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak bekerja dan berjuang semaksimal mungkin mengawal beliau. Apa lagi yang kita tunggu untuk membantu beliau,” ujarnya.

Sampai hari ini, yang ada di benak Adam adalah berjuang untuk menjadikan Gerindra sebagai sebuah gerakan yang massif baik di lapangan maupun perolehan kursi di parlemen. Kemudian mengantarkan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto menjadi presiden di 2014 mendatang. “Di otak saya itu baru ada bagaimana menjadikan Gerindra menang, Prabowo Presiden. Saya rasa ini yang kita butuhkan untuk Indonesia. Dan akan menjadi kebanggaan bagi saya kalau berada di dalam sini, meski saya tidak dihitung sama sekali keberadaannya tak jadi masalah,” tegas suami dari Mintarsih ini.

Tugas berat lain yang tengah diembannya sekaligus sebagai barometer keberhasilan Gerindra di tanah kelahirannya, Sulawesi Selatan (Sulsel) adalah memenangkan pasangan Andi Rudiyanto Asapa-Andi Nawir Pasinringi yang akan berlaga dalam Pemilukada Sulsel pada 22 Januari nanti. Baginya, keberhasilan pasangan nomor urut 3 yang diusung Partai Gerindra dan partai non parlemen ini akan menjadi bukti seberapa kekuatan dan keberhasilan Gerindra khususnya di Sulsel menyongsong 2014 mendatang.

“Andi Rudiyanto Asapa adalah representasi dari Prabowo di Sulsel yang mampu berpikir taktis, dan hanya butuh sepersekian detik untuk memutuskan sesuatu, dan itu bukan masalah sepele. Sosok Andi Rudiyanto itu bukan sekadar seorang bupati dua periode, tapi sosok yang sederhana apa adanya, begitu juga dengan Andi Nawir,” tandasnya yang akhir-akhir ini sibuk bolak-balik Jakarta Makassar untuk keperluan sosialisasi ke daerah-daerah di Sulsel.

Sulung dari lima bersaudara ini memang dikenal disiplin dan penuh tanggungjawab. Maklum, sang ayah yang berprofesi sebagai seorang polisi kerap menggemblengnya dengan nilai-nilai kedisiplinan dan komitmen. Bahkan kepercayaan orang tua padanya sudah diberikan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Sehingga ketika ia menginjak remaja ia aktif di organisasi sekolah semisal OSIS dan Pramuka. Dan ketika masuk dunia kampus, Adam pun lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kampus ketimbang di rumah. “Saya diajarkan untuk mandiri, boleh minta tolong jika memang sudah kepepet,” kenangnya.

Gemblengan orang tua itu membekas hingga kini ketika ia menggeluti dunia politik praktis. Dalam hal ini, ia selalu ingat pesan Prabowo pada para kader termasuk dirinya agar tampil sebagai pejuang politik bukan jadi politikus. “Saya ini orang yang taat kepada pemimpin, jadi apa yang dikatakan pemimpin akan saya jalankan,” pungkasnya. [G]

Catatan:

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Januari 2013

Pada Pemilu 2014 ini, Adam Muhammad maju sebagai calon legislatif (caleg) DPRD Provinsi Sulawesi Selaatan dari Partai Gerindra 

Fary Djemy Francis, Konsisten atas Perjuangan

Kepeduliannya kepada masyarakat kecil dan terpencil selalu melandasi pemikirannya untuk Indonesia yang lebih baik. Komitmen dan konsistensi perjuangan sang aktivis ini dalam membangun Indonesia lewat kampung tak pernah pudar. Termasuk di tengah-tengah kesibukannya sebagai wakil rakyat.

https://i2.wp.com/www.mpr.go.id/files/images/2012/06/28/R-250_188-fary-djemi-francis-1340850910.jpgBahkan semangat dan daya juang Ir Fary Djemy Francis, MMA, anggota DPR-RI dari Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini kian berkobar. Komitmen itu ditunjukkan politisi pendatang baru asal daerah pemilihan Nusa Tenggara Timur II –yang meliputi Kabupaten Timor, Sumba, Rote, Subu dan Semau— ini dengan memilih duduk di komisi yang bersinggungan dengan ‘kampung’ yang terpencil dan tertinggal. “Apa yang saya perjuangkan dari dulu hingga nanti akan tetap sama, memberdayakan potensi-potensi yang ada di kampung. Karena dari sanalah Indonesia akan bisa bangkit dan mampu berdiri di atas kaki sendiri,” tegas pria kelahiran Watampone, 7 Februari 1968 ini.

Di gedung wakil rakyat Senayan, Fary kerap bersuara lantang dalam setiap permasalahan bangsa, terlebih yang menyangkut hajat hidup masyarakat kecil. Meski terkadang mau tidak mau harus menelan pil pahit atas segala tindakan dan keputusan para wakil rakyat dalam memutuskan kehidupan bangsa ini. Tindakan Walk Out pada rapat pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2012 oleh Badan Anggaran (Banggar) DPR-RI, dimana Fary menjadi salah satu wakil dari Fraksi Gerindra. Pasalnya, ketika itu anggota Banggar lainnya hanya mau membahas masalah subsidi BBM saja. Sementara Fraksi Gerindra berdasarkan analisa dan perhitungan terhadap RAPBN itu agar dibahas secara menyeluruh. “Setelah melalui lobi-lobi ternyata mereka tetap bersikukuh dengan keputusannya dan tidak menganggap keberadaan kami, maka kami melakukan Walk Out,” tegas lulusan Master Management Agribisnis, Institut Pertanian Bogor ini.

Menurutnya, langkah Walk Out itu bukan sekadar gagah-gagahan atau pencitraan belaka, tapi sebagai bentuk komitmen dan konsistensinya dalam memperjuangkan nasib rakyat. Hal itu dilakukan berharap nanti pada saat dibawa ke sidang paripurna peta kekuatan politik akan berubah. “Bagi kami rapat Banggar itu tidak lebih rapat Setgab,” tandas politisi yang kenyang pengalaman dalam memberdayakan masyarakat desa kecil ini.

Setidaknya politisi yang kerap membukukan aktivitasnya sebagai wakil rakyat ini lebih suka menyambangi konstituennya di Nusa Tenggara Timur di saat waktu reses. Karena dalam kesempatan itulah, Fary bisa mengetahui sekaligus menyelami persoalaan riil rakyat kecil. Bahkan meski kedudukannya sebagai seorang pejabat negara, Fary kerap lebih sering memilih bermalam di rumah warga yang tentunya minim akan fasilitas. “Jauh sebelum menjadi anggota DPR, hal serupa sudah lakukan hampir 20 tahun yang lalu,” ujar suami dari Yoca Yohanes ini.

Apa yang dilakukannya itu merupakan bentuk pendidikan politik pada masyarakat. Apalagi yang menjadi konstituennya merupakan daerah ujung timur negeri ini yang jauh dari jangkauan pemerintah pusat. Terlebih pemberdayaan desa, merupakan salah satu dari delapan program aksi Partai Gerindra. “Atas dasar ini pula, saya mau bergabung dan ikut berjuang di Gerindra melalui parlemen,” terang aktivis LSM yang mampu meraih sebanyak 18.332 suara pada pemilu 2009 lalu.

Keterlibatannya di Partai Gerindra bukan sekadar ikut-ikutan atau terbawa euphoria  politik kala itu. Meski memang, diakui dirinya tak terlalu suka dunia politik. Namun ketika mempelajari visi misi dan garis perjuangan serta program aksi yang dicanangkan partai dibawah pembinaan mantan Danjen Kopassus Prabowo Subianto, rasanya ia mendapat tambahan energi dalam perjuangannya selama ini. Maka jadilah, aktivis yang kerap dipercaya sebagai konsultan di beberapa lembaga dunia seperti JICA, GTZ, Plan Unicef, iinet Japan dan Care ini menyatakan kesiapannya maju sebagai calon legislatif di bawah bendera Partai Gerindra.

Rupanya, nyaris tak ada hambatan yang berarti bagi ayah tiga anak ini untuk menuju Senayan. Bekal pengalaman melibatkan diri diberbagai aktivitas pemberdayaan masyarakat dengan masuk kampung keluar kampung menjadi tiket dalam meraih dukungan warga NTT. Dan sejak 1 Oktober 2009, putra daerah NTT itu pun dilantik menjadi anggota DPR-RI dan masuk di Komisi V yang membidangi masalah infrastruktur diantaranya meliputi pekerjaan umum, perhubungan, perumahan rakyat, pembangunan daerah tertinggal, telekomunikasi, BMG dan SAR.

Menurutnya, di komisi ini, ia terus memperjuangkan pembangunan infrastruktur desa yang berbasis tani dan nelayan. Dimana intinya bahwa delapan program aksi Partai Gerindra harus kita amankan dalam rangka membangun Indonesia mulai dari desa. “Jangan sampai daerah tertinggal merasa ditinggal, yang terpencil merasa dikucilkan. Inilah yang terus saya perjuangkan bersama teman-teman di komisi lima, bahwa hak mendapatkan penghidupan yang layak itu menjadi hak setiap warga negara bukan hanya di perkotaan saja,” tegas Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Pemuda Tani HKTI ini.

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA Edisi Mei 2012