Pastikan Pemilu yang Jujur dan Adil

Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto mendeklarasikan Gerakan 20 Agustus. Seruan itu disampaikan setelah Satuan Tugas Advokasi Pemilu 2014 Gerindra menemukan adanya potensi pemilih fiktif dan pemilih ganda sampai dengan 50 juta.

PRABOWO 1Di tengah meningkatnya suhu politik jelang Pemilihan Umum 2014, ditengarai masih ada sederet masalah besar yang mengancam kelangsungan perhelatan demokrasi yang akan digelar 9 April 2014 nanti. Padahal Pemilu adalah kesempatan kita untuk memilih masa depan Indonesia yang bersih, kuat, aman bermartabat dan berdikari.

Untuk menyikapi kondisi tersebut, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto  mendeklarasikan Gerakan 20 Agustus, sebagai upaya untuk mengantisipasi kecurangan sistematis besar-besaran dalam pelaksanaan Pemilu 2014 mendatang. Deklarasi yang disampaikan lewat surat terbuka yang diunggah di akun resmi jejaring sosial facebook miliknya pada medio Agustus lalu.

Itu bukan sekadar seruan. Lewat Gerakan 20 Agustus itu, Prabowo itu menginstruksikan kepada seluruh kader Partai Gerindra untuk melakukan pengecekan langsung ke kantor kelurahan setempat secara serentak pada tanggal 20 Agustus, paling lambat 23 Agustus 2013.

Seruan itu disampaikan Prabowo setelah Satuan Tugas Advokasi Pemilu 2014 Gerindra yang dipimpin oleh Habiburokhman menemukan adanya potensi pemilih fiktif dan pemilih ganda sampai dengan 50 juta orang. Angka 50 juta tersebut berasal dari hasil Daftar Pemilih Sementara (DPS) yang disusun oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) berdasarkan data KTP non-elektronik –yang berakhir masa berlakunya pada Desember 2013. Mustinya, DPS Pemilu 2014 disusun hanya berdasarkan data KTP elektronik yang lebih sulit dimanipulasi. Dimana pemerintah mengklaim sudah 100 persen rampung dan didistribusikan pada bulan Juni 2013 lalu. Jumlahnya sebanyak 172 juta orang, atau 172 juta KTP elektronik.

“Kita ketahui Presiden RI sudah memutuskan masa berlaku KTP non-elektronik hanya sampai bulan Desember 2013. Sebagai warga negara yang peduli kita patut pertanyakan mengapa KPU bersikeras menggunakan data KTP non-elektronik untuk menyusun DPS Pemilu 2014. Kita juga patut pertanyakan mengapa KPU hanya mengalokasikan dua minggu, dari tanggal 2 sampai dengan 15 Agustus untuk memperbaiki DPS. Padahal, DPS Pemilu 2014 masih sangat bermasalah,” tandasnya.

Masalah berikutnya lanjut Prabowo, sampai dengan hari ini DPS Pemilu 2014 untuk pemilih di luar negeri juga belum dapat diakses. Berdasarkan pengalaman Pemilu 2009, suara pemilih luar negeri sangat rawan diselewengkan oleh penyelenggara Pemilu.

“Oleh karena itu, dengan ini saya mengajak semua warga negara Indonesia, semua kader dan pendukung Partai Gerindra, semua sahabat saya yang menghendaki perubahan ke arah yang lebih baik untuk bersama-sama saya mengambil sikap,” ajaknya sembari menyerukan untuk serentak bergerak dan datang ke kantor kelurahan terdekat untuk mengecek langsung secara manual.

Secara teknis, Prabowo memerintahkan yang musti dipastikan dan diperhatikan adalah pertama apakah nama saudara dan nama keluarga saudara sudah ada di daftar pemilih. Kedua, adakah orang yang saudara ketahui sudah meninggal, sudah lama pindah, atau masih belum berumur 17 tahun yang terdaftar di daftar pemilih. Ketiga, apakah ada yang terdaftar sebagai pemilih lebih dari satu kali, baik dengan nama yang sama persis atau dengan nama yang mirip.

Keempat, apakah ada nama-nama yang jelas-jelas bukan warga di wilayah saudara, yang terdaftar di daftar pemilih. Kelima, perhatikan pula dengan seksama apakah ada ketidaksesuaian yang mencolok antara jumlah pemilih dalam daftar tersebut dengan jumlah penduduk di wilayah kelurahan saudara. “Tujuan kita adalah untuk mencermati informasi Daftar Pemilih Sementara Hasil Perbaikan (DPSHP) yang seharusnya sudah dipasang di kantor-kantor kelurahan,” terang Prabowo sembari menginstruksikan para kader untuk bersama-sama dirinya mengenakan seragam atau mengenakan atribut Gerindra saat melakukan pengecekan DPSHP tersebut.

Tidak sampai disitu, lewat Gerakan 20 Agustus tersebut Prabowo meminta kepada seluruh rakyat Indonesia serta seluruh kader dan pendukung Partai Gerindra untuk mendokumentasikan kegiatan itu dan melaporkan ke pihaknya jika menemukan kejanggalan dalam DPSHP. Termasuk membuat laporan tertulis ke Panitia Pemungutan Suara (PPS) di kantor kelurahan setempat, dan minta tanda-terima atas laporan tersebut. “Kita harus ingat, daftar pemilih tetap Pemilu 2014 akan ditetapkan pada tanggal 7 September 2013. Ini tidak lama lagi. Jika sudah dalam bentuk DPT, akan sulit bagi kita untuk mengurangi jumlah pemilih fiktif dan pemilih ganda di Pemilu 2014,” tegasnya mengingatkan.

Melalui Gerakan 20 Agustus ini, Partai Gerindra akan tunjukkan kepada seluruh bangsa Indonesia, kepada seluruh pihak yang ingin bermain curang di Pemilu 2014 bahwa Partai Gerindra ingin memastikan Pemilu 2014 berlangsung jujur dan adil. Karena, pemilihan yang dilaksanakan dengan kecurangan adalah pemilihan yang cacat. DPT Pemilu 2014 menentukan, siapa saja yang memiliki hak untuk memilih, hak untuk berpartisipasi dalam demokrasi.

“Saya mengajak saudara untuk mengambil sikap, saya mengajak saudara untuk bergerak karena sejarah mengajarkan kita bahwa apabila proses pemilihan umum dicurangi, penuh rekayasa, dengan daftar pemilih yang penuh nama-nama hantu, nama-nama palsu, maka masa depan demokrasi itu sendiri bisa terancam.  Bahkan, stabilitas, ketenangan, dan kedamaian suatu negara bisa terancam. Kalau proses pemilihan umum dilaksanakan dengan curang, berarti kekuasaan yang dilahirkan dari pemilihan itu, mandat yang dilahirkan adalah tidak sah, tidak memiliki legitimasi,” tegasnya.

Mantan Pangkostrad itu juga mengingatkan, jika pemerintah yang berkuasa akibat pemilihan umum yang cacat itu adalah pemerintah yang tidak sah, tidak memiliki legitimasi, dan tidak kredibel. Cepat atau lambat, rakyat bisa tidak patuh pada pemerintah tersebut, dan dengan demikian, negara mengarah ke negara gagal.

“Apabila proses pemilihan umum cacat, kalau hasilnya tidak diterima oleh semua pihak, dan bisa dibuktikan kalau terdapat kecurangan-kecurangan masal, maka negara kita bisa benar-benar berubah dari negara hukum menjadi negara hukum rimba,” ujarnya.

Imbasnya, lanjut Prabowo, kerusuhan sosial, kerusuhan massal, ambruknya pemerintahan, anarki, juga bisa terjadi perang saudara. Kalau pemerintah dianggap tidak sah oleh rakyatnya sendiri, yang akan terjadi adalah gonjang-ganjing dan huru-hara besar-besaran. Ketika ini terjadi, hanya ada dua pilihan: pemerintahan yang represif, yang berdiri di atas kekuatan senjata, atau instabilitas yang berkepanjangan seperti di beberapa negara Timur Tengah pada saat sekarang ini.

Untuk itu, Prabowo mengajak untuk bersama-sama bergerak menghadapi praktik-praktik kecurangan, munculnya suara hantu dan segala macam kecurangan lainnya. Pasalnya, kata Prabowo, potensi 50 juta pemilih fiktif dan pemilih ganda bukan angka yang sedikit. Masa depan bangsa Indonesia dapat kembali ditentukan oleh orang-orang yang korup dan bobrok. Orang-orang yang menyusun strategi kecurangan. “Jangan menyerah, jangan pernah menyerah. Mari kita berjuang dengan benar, dengan niat tulus, dengan niat bersih, niat bukan mencari jabatan untuk memperkaya diri, tetapi benar-benar mencari mandat dari rakyat untuk bersama memimpin bangsa,” pesannya.

Menurut Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, Ahmad Muzani, tidak kurang dari lima juta kader dan simpatisan Gerindra siap mensukseskan Gerakan 20 Agustus. “Respon yang kami dapatkan dari kader dan simpatisan Gerindra sangat positif. Insya Allah lebih dari lima juta simpatisan dan kader Gerindra melaksanakan Gerakan 20 Agustus,” kata Muzani di Jakarta, sehari jelang pelaksanaan Gerakan 20 Agustus dilaksanakan.

Setidaknya, berdasarkan temuan KPU, ada lebih dari 6000 nama pemilih ganda di Gorontalo. “Saya yakin angka yang sebenarnya jauh lebih besar lagi. Ini baru temuan di satu provinsi saja, belum di provinsi lainnya. Saya menyadari bahwa tugas KPU tidak mudah, oleh karena itu Gerakan 20 Agustus ini sangat penting untuk mendukung KPU dalam mewujudkan Pemilu yang jujur dan adil,” tegasnya.

Muzani berpesan kepada kader dan simpatisan Gerindra serta masyarakat, untuk bersikap arif dan bijaksana dalam pelaksanaan Gerakan 20 Agustus. “Saya berpesan kepada masyarakat, untuk bersikap tenang apabila menemukan kejanggalan dalam DPSHP. Segala temuan yang saudara dapatkan harus disikapi dengan kepala dingin,” tandasnya.

Dalam pelaksanaanya pada Selasa (20/8) lalu, Prabowo kembali mengunggah pernyataannya di halaman resmi facebook bahwa banyak kader dan simpatisan Partai Gerindra melaporkan kantor kelurahan yang dikunjungi belum memasang DPSHP. Padahal, seharusnya DPSHP sudah dipasang dari hari Jum’at (16/8).

“Mereka yang tidak ingin Indonesia kuat, bersih dan bermartabat akan melakukan banyak cara untuk menyulitkan gerakan kita. Saya mendeklarasikan Gerakan 20 Agustus karena kita telah dihalangi untuk menyisir DPS secara online atau otomatis. Kita diminta untuk menyisir secara manual, secara hard copy ke kantor-kantor kelurahan. Walaupun ini sulit, walaupun mungkin kita tidak bisa menemukan dan menghapus seluruh pemilih fiktif dan pemilih ganda di seluruh pelosok Indonesia, kita tidak boleh gentar,” ujarnya memberi semangat para kader dan simpatisan.

Lebih buruk

Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad, menegaskan kecurangan Pemilu 2014 bakal lebih buruk dibandingkan kecurangan sistematis yang terjadi pada Pemilu 2009. Pasalnya, data DPS yang diberikan Kementerian Dalam Negeri kepada KPU saat ini terbilang kacau sehingga jika tak diselesaikan dipastikan Pemilu akan kembali berlangsung curang. Pada Pemilu 2009 terdapat penggelembungan suara hingga mencapai 18 persen. Menjelang Pemilu 2014 angka penggelembungan dan kekacauan DPS mencapai 25 persen dari total pemilih yang mencapai 190 juta. “Potensi kecurangan pada Pemilu 2014 lebih parah dibandingkan Pemilu 2009,” katanya.

Menurutnya, DPS yang kacau ini memungkinkan banyaknya pemilih siluman dan pemilih ganda dalam Pemilu 2014. Ironisnya, KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilu tampak membiarkan dan tidak memiliki keinginan menyelesaikannya.

Ketua DPP Partai Gerinda Bidang Advokasi Habiburahman, menyesalkan sikap KPU yang tidak menanggapi setiap kritikan terkait semrawutnya DPS sejak diumumkan 11 Juli 2013 lalu. “Kami melihat para komisioner KPU lebih memilih beradu komentar di media massa dengan para pengkritik daripada segera melakukan upaya konkret memperbaiki DPS yang secara kasat mata sangat bermasalah,” ujar Habiburahman.

Menurutnya, sikap KPU itu patut disesalkan karena sebagai penyelenggara negara paling bertanggungjawab atas kesuksesan pelaksanaan pemilu. Mustinya, KPU menjadikan kritikan dan masukan masyarakat sebagai bahan evaluasi utama untuk segera memperbaikinya. “Pemilu dapat dikatakan sukses jika pelaksanaannya minim kecurangan. Sedangkan akar kecurangan dalam setiap pemilu adalah daftar pemilih yang tidak akurat atau bahkan dimanipulasi untuk kepentingan partai tertentu,” tegasnya.

Ketua Satuan Tugas Advokasi Pemilu 2014 Partai Gerindra itu menegaskan ada empat masalah besar terkait DPS yang hingga kini belum mendapat tanggapan dari KPU. Pertama, soal fakta masih ada 50 juta DPS berbasis KTP non-elektronik. Kedua, format pengumuman yang tidak sesuai standar UU Nomor 8 Tahun 2012, sehingga sulit mendeteksi pemilih ganda dan pemilih fiktif. Ketiga, soal jadwal sub tahapan pemilu yang sangat mepet dan tidak sinkron. Keempat, soal DPS luar negeri yang hingga kini masih kacau balau.

“Tidak ada satupun dari keempat masalah besar tersebut yang sudah diselesaikan atau setidaknya ditindaklanjuti secara serius oleh KPU,” kata Habib.

Menurut Habib, secara sederhana dapat dibandingkan jika pemilih fiktif pada Pilpres 2009 diklaim sebanyak 7 juta. Jika empat masalah besar tersebut belum diselesaikan juga, maka jumlah pemilih fiktif Pemilu 2014 bisa jauh melampaui angka itu, bahkan bisa mencapai puluhan juta. Begitu juga permasalahan yang terjadi pada penyusunan daftar pemilih Pemilu 2014 juga jauh lebih rumit daripada Pilpres 2009. Jika pada Pilpres 2009 tidak ada masalah daftar pemilih luar negeri, kali ini daftar pemilih luar negeri juga ikut kacau balau. Ada sekitar 4,5 juta pemilih luar negeri yang tidak masuk di daftar pemilih. “Angka tersebut sangat signifikan jika dibandingkan dengan jumlah DPS luar negeri versi KPU yang hanya sekitar dua juta,” ungkapnya. [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Agustus 2013

Advertisements

Lebih Dekat Dengan dr Benyamin Paulus Octavianus : Mengobarkan Semangat Para Dokter

Sejatinya, semangat membantu dan jiwa sosialnya sudah tak diragukan lagi. Namun hatinya terusik ketika melihat kondisi bangsa dan ketimpangan hidup begitu jelas di depan mata. Terlebih ajaran hidup untuk Tuhan dan sesama yang ditanamkan orangtua terpatri di dalam dada kian mengobarkan semangat untuk memberi manfaat bagi sesama manusia. Apalagi ikrar janji sucinya sebagai dokter untuk terus mengabdi kepada negeri menjadi panduan hidupnya.

BO KESIRA 001 smallItulah dr Benyamin Paulus Octavianus, Sp. P yang tersentak ketika mendengar jawaban Prabowo Subianto seputar keterlibatannya di dunia politik. Kata-kata Prabowo Subianto –yang tak lain Ketua Dewan Pimpinan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra)— di tahun 2009 lalu itu meyakinkan dirinya untuk ikut terjun ke panggung politik. Sejak saat itu pula, Benny sapaan akrabnya menyatakan bersedia bergabung di Partai Gerindra. Oleh Prabowo, dokter ahli penyakit paru-paru itu dipercaya untuk duduk sebagai Ketua Bidang Kesehatan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra.

Pria kelahiran Malang, 13 September 1963 yang kesehariannya berpraktek di Rumah Sakit Cengkareng itu kian tersentak ketika melihat masih banyak rakyat di negeri ini yang tak mendapat akses pelayanan kesehatan. Padahal Negara telah mengalokasikan anggaran begitu besar untuk keperluan itu. Faktor keterbatasan pengetahuan, akses, serta kurangnya sosialisasi menjadi penyebab semua itu. Setidaknya ada sekitar 106 juta penduduk miskin yang mustinya mendapat jaminan kesehatan dari negara.

“Karena di tahun 2012 saja, negara telah mengalokasikan sebesar Rp 8,2 triliun untuk pelayanan kesehatan. Belum lagi anggaran yang ada pada APBD provinsi dan kabupaten/kota,” ujar dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia, Jakarta tahun 1990 itu.

Di saat yang sama, dokter Benny tak jarang mendengar sendiri tangisan dan keluhan masyarakat miskin saat berobat. Kebanyakan mereka mengadu soal rumitnya mengurus surat-surat, birokrasi yang berbelit-belit sampai ketika tiba di rumah sakit masih saja dipersulit.

“Mereka bilang mending mati saja, selesai urusan. Saya bilang kepada mereka jangan putus asa, karena orang miskin itu ditanggung negara, nanti dibantu kader-kader saya. Semua itu terjadi sebelum lahirnya Kesira,” terangnya sembari menegaskan inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Kesira.

Di RS Cengkareng, ia kerap menangani pasien dari kalangan masyarakat miskin di lingkungan Jakarta Barat yang didampingi para relawan yang dikomandoi Rani Mauliani seorang kader Partai Gerindra. “Tidak hanya sekali dua kali atau satu dua orang mereka mendampingi, tapi berkali-kali. Inilah yang membuat saya berpikir, kenapa hal ini tidak bisa dilakukan lebih besar oleh partai politik. Apalagi saya sebagai dokter yang menjadi ketua bidang kesehatan. Dari situlah saya bermimpi kalau hal ini dikolaborasi dengan DPP maka ini akan bisa dilakukan dari Aceh sampai Papua,” ujarnya.

Memang, dokter yang dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga pendidik ini sejak kecil sudah terbiasa terjun di kegiatan sosial. Sejak tahun 1970-an lewat yayasan yang didirikan ayahnya telah membina lebih dari 42 ribu anak asuh. Bahkan tak sedikit dari anak asuh itu sudah menjadi orang-orang yang sukses secara materi dan karir.

“Jadi kalau untuk urusan sosial sudah terbiasa, boleh jadi ngurus Kesira ini lebih gampang daripada ngurus yayasan sendiri. Tapi untuk bisa terjun di Kesira itu harus ada jiwa volunteer, suka dengan kegiatan sosial dan adanya panggilan jiwa,” katanya.

Lantas seperti apa perkembangan Badan Kesira yang dibentuknya bersama 150 dokter sejak dua tahun lalu? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda yang menemuinya di Jakarta beberapa waktu lalu, bersama rekan-rekan dokter Kesira lainnya, ayah satu orang anak ini memaparkan aksi-aksi sosial yang dilakukan Kesira. Berikut petikan wawancaranya.

Bisa ceritakan aktivitas keseharian Anda?

Saya ini dokter yang praktek di RS Cengkareng, RS Royal Taruna dan RS Graha Kedoya. Setiap hari Senin sampai Jumat dari jam 7 pagi sampai jam 1 siang saya bertugas sebagai dokter ahli paru-paru di RS Cengkareng. Setelah itu dari jam 2 siang hingga jam 5 sore mengurusi Badan Kesira. Dan baru pada jam 6 sore hingga jam 10 malam saya kembali praktek sebagai dokter. Di akhir pekan Sabtu dan Minggu biasanya saya keliling mengikuti kegiatan Kesira, paling tidak dua kali setiap bulannya.

Kenapa Anda terjun ke dunia politik?

Jadi sebenarnya saya ini kenal Pak Prabowo telebih dulu, baru dikenalkan ke Pak Hashim oleh beliau. Pada 2009 saya bertemu dengan Pak Prabowo. Waktu itu bersama kakak saya dalam sebuah pertemuan saya tanya kenapa beliau ingin jadi presiden. Pak Prabowo jawab panjang lebar, tapi yang membuat saya tersentak dalam pertemuan itu dia bilang, kalau kamu orang-orang baik tidak mau masuk dalam politik, kamu tidak usah berteriak-teriak kenapa bangsa ini seperti ini, seperti itu. Karena kamu tidak mau masuk ke politik yang ada orang-orang jahat yang masuk ke politik. Sejak saat itu, saya bertekad untuk masuk ke politik. Dan kata-kata itu saya tularkan kepada rekan sejawat dan mereka pun berbondong-bondong masuk ke Gerindra.

Bisa jadi, kalau saja saya tidak mengenal lebih jauh Prabowo dan membaca manivesto perjuangan Partai Gerindra, mungkin saya tidak ada di partai ini. Jujur sebelumnya saya tidak pernah terjun ke partai politik. Baru pada tahun 2009, saya memutuskan masuk ke dunia politik. Memang, sosial itu penting, tapi politik juga lebih penting untuk bisa mengubah bangsa ini. Saya ingat betul, waktu itu Pak Prabowo bilang, kalau mau mengubah bangsa ini maka harus rebut kekuasaan lewat politik. Tanpa berpolitik kita tidak bisa mengubah apa-apa hanya bisa berteriak.

Kenapa Anda membentuk badan Kesira?

Saya sebagai Ketua Bidang Kesehatan DPP Partai Gerindra merasa perlu adanya sebuah badan khusus yang menangani bidang kesehatan, maka dibentuklah Badan Kesehatan Indonesia Raya atau lebih dikenal Kesira. Badan ini menjalankan program-program DPP bidang kesehatan. Badan ini bersifat adhoc. Meski memang secara struktural, bisa dibentuk juga oleh pengurus tingkat DPC dan DPD yang ada. Jadi, suatu saat nanti Badan Kesira bisa dibubarkan dan melebur ke dalam kepengurusan DPC/DPD setelah dinyatakan semua mandiri. Setidaknya selama 5 tahun ini kita butuh untuk pematangan dulu.

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) sendiri baru ditandatangani oleh Pak Prabowo selaku Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, pada 2 November 2011. Biasanya sebuah lembaga ketika lahir baru mau menyiapkan segala program, tapi kalau Kesira sejak bulan Juni 2011 sudah melakukan aksi dengan ambulance yang ada, sementara waktu itu struktur organisasinya belum terbentuk, termasuk AD/ART pun belum ada.

Apa yang dilakukan Kesira?

Kesira mempunyai visi yang jelas yakni menjadikan Indonesia sehat dan sejahtera menuju Indonesia raya yang berperikemanusiaan dan bermartabat. Jadi selain bangsa ini sehat dan sejahtera, Indonesia juga harus mampu berperikemanusiaan dan bermartabat. Apa yang Kesira lakukan bukan sekadar membantu atau menolong saja, tapi harus memanusiakan dan tidak menurunkan harga diri, martabat masyarakat yang ditolong. Karena, tujuan dari program sosial ini mewujudkan kepedulian dan keberpihakan kepada masyarakat dalam memperoleh hak kesehatannya sebagai warga negara Indonesia, khususnya masyarakat marginal dan kurang mampu.

Program apa saja yang dijalankan Kesira?

Program yang dijalankan oleh Badan Kesira ada 6 program, diantaranya pendampingan bagi masyarakat miskin dan kurang mampu dalam akses dan mendapatkan hak pelayanan kesehatan. Karenanya, Kesira dilengkapi armada ambulance dan volunteer yang siap mendampingi mulai dari pengurusan surat-surat hingga mendapatkan fasilitas kesehatan. Program berikutnya, tanggap bencana, peningkatan kualitas hidup ibu dan anak, program mental health, menggerakkan revolusi putih dan mendirikan klinik Kesira. Setidaknya, program Kesira tentunya tak lepas dari program aksi Partai Gerindra bidang kesehatan. Termasuk pada momen-momen tertentu seperti lebaran yang baru saja berlalu.

Seperti apa program yang dimaksud momen tertentu?

Salah satunya di momen lebaran kemarin misalnya, DPP Partai Gerindra membentuk Posko Kesehatan sebanyak 200 posko yang dilengkapi ambulance berikut tim medis dan tempat beristirahat di setiap posko di sepanjang jalur mudik untuk melayani dan menemani perjalanan pemudik. Program baksos yang dimulai sejak tanggal 1–15 Agustus itu serentak dilaksanakan di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bagaimana ide pembentukan posko sebanyak itu?

Memang, awal pembentukan posko kesehatan bagi pemudik itu berangkat dari pengalaman tahun sebelumnya. Di para kader di beberapa daerah pada lebaran tahun lalu mendirikan posko di jalur mudik. Kala itu masih menggunakan fasilitas dan tenda seadanya serta beraneka warna tentunya. Akhirnya, kami rancang bentuk tenda dan fasilitas yang harus dilengkapi untuk sebuah posko. Jadi bentuk tenda yang kemarin digunakan itu sudah dirancang setahun lalu. Sebulan menjalang arus mudik berlangsung baru kita koordinasi dengan daerah yang menjadi jalur mudik. Dan percaya atau tidak, pembentukan posko itu telah siap bisa didirikan dalam waktu sebulan saja hanya lewat BBM dan SMS ke setiap Ketua DPD. Kami katakan kepada mereka kita akan membuat posko Gerindra, mereka bilang siap. Padahal waktu itu tenda dan dana belum ada. Inilah hebatnya para kader Gerindra yang rela berkorban tanpa pamrih.

Bisa dibayangkan selain menanggung 50 persen biaya pembuatan tenda, mereka juga siap menanggung biaya operasional selama 14 hari secara mandiri. Setidaknya biaya operasional yang diperlukan setiap poskonya sekitar Rp 10 juta. Buktinya ini berjalan lancar dan sukses. Intinya, Partai Gerindra memiliki kader-kader yang mempunyai nilai kekompakan yang sama, rela berkorban. Padahal DPP hanya membantu biaya pembuatan tenda 50 persennya saja, tapi mereka tidak ada yang ngomel hingga kini, termasuk ketika kami memantau langsung ke lapangan yang dilakukan oleh tim pengawas nasional Badan Kesira.

Kenapa hanya 200 posko?

Pertanyaan ini malah ada wartawan surat kabar nasional yang bertanya bagaimana bisa Gerindra membentuk 200 posko? Saya bilang kepada mereka, inilah spirit yang dimiliki Partai Gerindra dan kader-kadernya yang begitu menggelora. Jangankan 200 posko, 500 posko pun kami siap mendirikan secara serentak dari Aceh hingga Papua. Hanya saja, apakah semuanya akan bermanfaat. Boleh jadi, pada momen natal dan tahun baru nanti kita akan buat 500 posko dari Aceh hingga Papua. Bahkan ada sebagian masyarakat yang meminta posko ini tidak hanya sampai disini. Kami katakan tidak bisa, kita harus tutup tanggal 15 Agustus. Inikan seharusnya kewenangan dinas kesehatan setempat. Ada batasan kewenangan kita sebagai partai politik.

Lalu bagaimana perkembangan penyebaran ambulance Kesira?

Badan yang dibentuk oleh DPP Partai Gerindra ini tidak lain untuk menjalankan 6 program aksi Partai Gerindra salah satunya memberikan pelayanan kesehatan yang merata dari Aceh hingga Papua. Terbukti, program penyediaan ambulance sudah berjalan dua tahun. Setidaknya, hingga saat ini ambulance Kesira sebanyak 276 unit yang tersebar di Sumatera 80 unit, di Jawa 120 unit, NTB 8 unit, Sulawesi Selatan 24 unit, begitu juga Provinsi Bali sudah lengkap. Untuk di Kalimantan, Sulawesi dan Maluku, Papua baru beberapa saja. Khusus daerah yang mempunyai mobilitas tinggi dan cakupan yang besar akan kita tambah. DPC Jakarta Barat misalnya, awalnya hanya satu uni, sekarang sudah ada 4 armada terdiri dari satu mobil jenazah dan 3 unit ambulance. Itupun katanya masih kurang.  Dan mulai Agustus akhir hingga Oktober nanti, kami akan menyalurkan kembali sebanyak 150 unit. Jadi sampai akhir tahun nanti setidaknya kita sudah memiliki 427 armada ambulance. Partai mana coba yang punya armada ambulance sebanyak itu?

Bagaimana operasionalnya?

Terus terang, sebenarnya yang berat adalah biaya operasional dan pemeliharaannya. Setidaknya setiap bulan tidak kurang dari Rp 5 juta yang mereka keluarkan untuk operasional, kebutuhan bensin, perawatan mobil dan lainnya. Tapi, apakah mereka mengeluh? Selama ini saya belum pernah mendengar hal itu. Inilah yang membuat kami terharu, bersyukur bahwa jiwa berkorban kader Gerindra untuk rakyat dan bangsa ini tak ternilai.

Bagaimana pula dengan tenaga medis yang sudah bergabung?

Waktu Badan Kesira lahir saja, sudah ada 150 orang dokter, lengkap semua dokter ahli ada. Nah, saat ini Kesira sudah dikawal lebih dari 2600 dokter yang siap bekerja yang memiliki cita-cita dan harapan yang sama untuk mengantarkan Pak Prabowo Subianto menjadi Presiden RI. Bahkan beberapa dokter sering menghubungi saya dan menanyakan kapan Gerindra mengadakan baksos lagi. Seperti di Sumatera Utara, ada dr John Simanjuntak, dokter ahli kandungan yang bisa menghimpun sekitar 100 dokter, bahkan 10 dokter diantaranya tercatat sebagai pemilik rumah sakit yang ada di Sumatera Utara.

Semangat yang sama juga ada di Banten, dr Bambang yang bisa merangkul puluhan dokter bergabung di Kesira. Begitu juga di Jakarta setidaknya ada 400 dokter yang sudah menyatakan diri menjadi relawan. Ini semua bukan karena Badan Kesira itu hebat, tapi ada magnetnya, ada cita-cita, ada mimpi dari para dokter untuk mengubah bangsa ini. Waktu itu, saya ingat betul, ketika saya ajak para dokter dengan menyebutkan nama Partai ini di bawah pimpinan Prabowo, mereka langsung ramai-ramai masuk.

Dan saya yakin, mereka tidak punya kepentingan politik apa-apa, selain harapan itu karena sejatinya dokter itu lebih pada pengabdian. Mereka berharap, kalau negara ini dipimpin oleh Prabowo, maka harapan menjadi negara adidaya dan jaya bisa terwujud. Kenapa mereka, para dokter tidak punya kepentingan politik. Terbukti dari sekian dokter yang jadi pengurus inti Badan Kesira hanya ada tiga dokter yang maju sebagai caleg, itupun dipaksa supaya mau maju. Karena dokter yang lain tidak mau dicalonkan, termasuk saya.

Bisa dijelaskan embrio dari Badan Kesira?

Begini, saya kan bekerja di RS Cengkareng. Waktu itu setiap hari saya lihat ada teman-teman relawan yang dikomandani seorang kader yang juga Ketua DPC Partai Gerindra Jakarta Barat, Rani Mauliani yang mengantarkan pasien ke Rumah Sakit dengan ambulance bututnya. Pasien itu berobat ke saya, dokter yang notabene menjadi salah satu Ketua DPP Partai Gerindra bidang kesehatan. Paling tidak, setiap hari ada 10 orang yang mereka tolong dengan bantuan Jamkesda, waktu itu belum ada JKS. Saya sebagai salah satu Ketua DPP, berpikir kenapa hal tersebut tidak bisa dilakukan partai? Akhirnya saya susun program, salah satunya adalah program pendampingan yang saya jadikan sebagai urutan pertama.

Program itu saya sampaikan kepada Pak Hashim Djojohadikusumo dalam sebuah pertemuan makan siang di kawasan Perkantoran Mid Plaza selama enam jam. Boleh jadi itu makan siang terlama buat Pak Hashim dengan tamunya. Dalam pertemuan itu saya paparkan apa yang dikerjakan oleh kader Gerindra Jakarta Barat itu perlu dikembangkan oleh DPP dengan membuat program serupa di Jabodetabek sebagai percontohannya selama tiga bulan. Pada waktu itu, Pak Hashim langsung telepon ke Pak Prabowo. Termask menelepon Rani untuk mengecek kebenarannya dan mendengar langsung dari dia. Lalu saya diminta menemui Pak Prabowo dan Ketua Umum DPP untuk membicarakan langkah selanjutnya. Dalam pertemuan di kawasan Bidakara, Prabowo setuju dengan program itu dan akan menyiapkan 100 ambulance, tapi  kami minta 20 unit dulu, karena khawatir gagal. Ternyata, belum sampai tiga bulan, Pak Prabowo bilang kepada saya, kalau dia sudah pesankan 200 unit ambulance lagi.

Sekarang, apa lagi yang dilakukan Kesira?

Saya sekarang tengah membentuk badan pengawas, kali ini baru ada di Jakarta, untuk tingkat nasional diketuai oleh dr Petri. Kita akan bentuk di seluruh provinsi. Saya sudah mendapatkan beberapa orang untuk di Jawa Tengah, Jatim dan beberapa daerah. Pada dasarnya, mereka memang punya cita-cita yang sama untuk merubah bangsa ini menjadi jaya. Kami juga tengah membicarakan untuk menjadikan para volunteer Kesira ini untuk menjadi tenaga saksi di pileg nanti. Bahkan kami juga tengah merancang kerjasama dengan berbagai elemen sayap Partai Gerindra, dalam menjalankan program aksi. Salah satunya dengan Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria) untuk bisa sinergi dalam hal aksi tanggap bencana, dimana ada Satria disitu ada Kesira.

Menurut Anda, politik itu apa?

Politik itu bisa mengubah bangsa yang tidak karuan menjadi baik, juga sebaliknya politik itu mengubah negara yang maju dan baik menjadi hancur, contohnya negara Yugoslavia. Di Indonesia ini, semangat memecahkan provinsi itu saya rasa lebih pada upaya segelintir orang untuk menjadi penguasa daerah yang pada akhirnya akan membebani anggaran negara. Jadi menurut saya, politik itu alat untuk mengubah segala sesuatu ke arah lebih positif.

Apa pesan Anda untuk kader dan para volenteer?

Gerindra Menang, Prabowo Presiden, Indonesia Jaya bagi kami bukanlah sekedar slogan. Sudah semestinya semua orang yang punya tujuan sama dengan Gerindra berjuang total dan bukan untuk kepentingan personal. Partai Gerindra dengan 6 program aksi itu sudah lengkap, kalau dijalankan dengan benar ini akan mengubah wajah Indonesia. Kita semua punya mimpi menjadikan Indonesia sejahtera dan jaya. [G]

dr BENYAMIN PAULUS OCTAVIANUS, Sp.P

Tempat Tanggal Lahir:

Malang, 13 September 1963

Jabatan:

  • Ketua Bidang Kesehatan DPP Partai Gerindra
  • Ketua Umum Badan Kesehatan Indonesia Raya (Kesira)

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Agustus 2013

Hardiyanto Kenneth : Tampil Apa Adanya, Tanpa Basa Basi

Sikap berani dan gaya bicaranya yang blak-blakan apa adanya tanpa basa-basi menjadi gambaran pengacara muda yang terjun ke dunia politik ini. Ia kerap bersuara keras dan lugas. Bahkan bahasanya sering meledak-ledak dan kadang sedikit nyelekit bagi yang tak suka mendengar substansi pembicaraannya.

proYa, Hardiyanto Kenneth, SH, MH, MM, M.Si, memang dikenal sebagai sosok yang disiplin, pekerja keras, fanatik, loyal, tegas dan memiliki prinsip yang kuat. Namun dibalik itu, Ken, sapaan akrab pemuda peranakan Tionghoa Medan ini adalah pribadi yang sederhana dan pandai bergaul. Beragam kalangan, lintas komunitas suku, ras dan agama dekat dengannya. Tak heran bila pria kelahiran Medan, 13 April 1981 ini diterima dan dipercaya sebagai Bendahara Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Jakarta Barat.

Memang, kiprah politik Ken boleh dibilang baru saat bergabung di Partai Gerindra 2010 lalu. Awalnya seorang teman di Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) terlibat dalam obrolan soal partai politik. Sang teman memperkenalkan Ken kepada Rani Mauliani, kader Gerindra yang duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta. Tanpa pikir panjang, peraih gelar Sarjana dan Magister Hukum dari Universitas Esa Unggul Jakarta ini langsung gabung.

“Gerindra adalah partai pertama saya dan tidak ada niat untuk berpaling. Karena visi Gerindra sama dengan visi saya yang ingin membantu dan memberi manfaat buat orang banyak. Padahal waktu itu teman lain mengajak saya untuk gabung ke PKS, PAN dan Demokrat,” ujar lulusan Magister Managemen Univesitas Gajah Mada, Yogyakarta ini.

Diakuinya, loyalitasnya kian kental saat banyak mempelajari manivesto perjuangan Gerindra dan pemikiran Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto. Baginya, sikap tegas, konsistensi dan apa adanya yang ada pada Prabowo telah mempengaruhi jalan pikirannya dalam berpolitik. “Dari dulu sampai sekarang dia tetap konsisten, meski banyak orang yang tidak suka dengannya,” kata ponakan dari tokoh Tionghoa, Anton Medan ini.

Di Pemilu 2014 ini, Ken menjajal kemampuannya maju sebagai calon legislatif (caleg) DPRD DKI Jakarta dari Daerah Pemilihan (Dapil) X Jakarta Barat. Memang pada awalnya, sempat ia diplot satu dapil dengan seniornya, Rani Mauliani.

“Saya tidak mau, karena saya bukan tipe orang penghianat yang lain di mulut lain di hati. Saya lebih senang mengalah dari pada harus dibenturkan dengan senior sendiri, karena saya bukan orang yang kacang lupa kulitnya. Memang saya punya ambisi tapi sifat loyal saya lebih besar, maka saya lebih baik minta mundur kalau satu dapil dengan Ibu Rani,” paparnya yang menilai politik sebagai pembelajaran untuk bisa berbuat baik kepada masyarakat, bangsa dan negara.

Menghadapi Pemilu 2014, suami dari dr Caroline Mulyadi ini, sebagai caleg pemula ia sadar harus rajin menyambangi dapil. Untuk memuluskan ruang geraknya, Ken membentuk simpul-simpul dengan nama Sahabat Kenneth yang tersebar di Kedoya, Kebon Jeruk, dan Taman Sari. Dalam blusukannya, Ken –yang tak sungkan-sungkan memperkenalkan diri sebagai caleg muda Tionghoa itu— mengaku tak mau mengumbar janji kepada calon konstituen. Ken lebih memilih menggarap aksi sosial pendukung program Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan Kartu Jakarta Pintar (KJP).

“Saya tidak maksa orang yang saya bantu untuk memilih saya kelak. Karena bagi saya itu bentuk dari amal saya kepada masyarakat dan bisa dipertanggungjawabkan. Terpilih atau tidak itu urusan Tuhan. Memang usaha-usaha untuk meraih suara tetap saya lakukan,” ujarnya.

Baginya, sebagai kader partai yang berlaga dalam perebutan kursi parlemen bukan sekadar maju saja, tapi harus siap mental dan finansial. Ken masih ingat betul pesan Prabowo bahwa kalau mau jadi kaya jangan masuk Gerindra. Untuk itu, sebelum maju sebagai caleg, ia sudah menyiapkan segala sesuatunya, termasuk harus cuti praktek sebagai pengacara. “Saya tidak nyari penghidupan di partai. Saya juga sudah berjanji kepada Tuhan jika kelak terpilih, kalau saya jadi maling, maka terkutuklah,” janji pengacara muda yang menjalani bisnis jual beli otomotif sembari menunggu proses pencalegan.

Ken lahir dan besar di keluarga sederhana. Saking sederhananya, keluarganya kerap mengalami kesulitan, termasuk soal pendidikan. Kala remaja, ia dikenal sebagai anak nakal. Namun Ken sadar dengan kenakalannya itu makin menyusahkan keluarga dan jalan hidupnya. Dari kondisi itulah, Ken ditempa untuk kuat dan berani. Hingga akhirnya berhasil menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Esa Unggul bahkan meraih magister di bidang hukum dan membuka kantor pengacara sendiri.

Ke depan bila impiannya terwujud, lewat kewenangannya, Ken bertekad ingin menjadikan Jakarta lebih humanis, bermartabat dan lebih mempunyai nilai jual. Sehingga manusia yang ada di Jakarta punya rasa aman, nyaman dan berjalan sesuai sistem. Untuk itu, Ken berpesan kepada masyarakat untuk memilih caleg yang sesuai dengan visi misinya, dan bisa membelanya kelak.

“Jangan memilih caleg yang hanya mulutnya manis, tapi pilihlah yang jujur, terbuka dan apa adanya, karena caleg inilah yang akan membantu dan membela Anda saat dia duduk di parlemen kelak,” pesan peraih magister ilmu Sosial dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) ini. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Juli 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Yeni Meliani maju sebagai calon legislatif (caleg) DPRD Provinsi DKI Jakarta dari Partai Gerindra dari  pemilihan (dapil) Jakarta Barat X

Strategi Energi dan Anggaran Gerindra

Mau tidak mau, suka tidak suka naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) adalah sebuah keniscayaan yang tak terelakkan lagi. Meski sebagian anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang memiliki politik anggaran menyoalnya hingga berujung voting. Hasilnya, suara mayoritas partai koalisi yang menerima Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (RAPBN-P) 20013 lebih unggul.

08suhardiMenyikapi hal itu, Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto, menekankan bahwa pada tahun anggaran 2013 ini, naik atau turun harga BBM adalah kuasa Pemerintah yang saat ini sedang berkuasa. Apa yang dilakukan Partai Gerindra lewat kadernya yang duduk di DPR yang secara tegas menolak RAPBN-P 2013 adalah memperjuangkan menjadi apa anggaran lebih yang dihemat pemerintah dari keputusannya untuk mengurangi subsidi BBM.

“Kita membesarkan Partai Gerindra agar dapat tegas membela kepentingan kita, kepentingan nasional. Kita tidak sekedar mengejar popularitas murahan,” tegas Prabowo dalam tulisannya sebagaimana yang diunggah di akun jejaring sosial Facebook beberapa waktu lalu.

Dalam surat terbukanya itu, Prabowo menegaskan, bahwa dengan disahkannya pasal 8 ayat (10) UU APBN 2013 pada tahun 2012 lalu, pemerintah mendapatkan kewenangan yang tidak dapat kita halangi untuk menaikkan BBM setiap saat sepanjang tahun 2013. “Keputusan untuk meningkatkan atau menurunkan harga BBM berada di wilayah eksekutif. Bukan legislatif,” tegasnya.

Menurut Prabowo, meski sikap tegas Fraksi Partai Gerindra yang menolak RAPBN-P 2013 itu seakan hilang begitu saja ditelan suara mayoritas bukanlah keputusan yang sia-sia. Tapi, itulah perjuangan Partai Gerindra untuk tetap berada di atas kepentingan rakyat. “Kita semua sadar bahwa naik atau turun harga BBM, adalah kuasa pemerintah yang saat ini sedang berkuasa. Mau tidak mau, kita harus menghadapi kenyataan pahit ini. Saya tidak mau, Partai Gerindra ikut-ikutan membodohi rakyat dan berpura-pura bisa melawan hal-hal yang berada di luar kuasa kita. Saat ini kita belum berkuasa. Saat ini kita belum mendapat mandat untuk menjalankan Pemerintahan nasional dan mengatur harga jual dari BBM,” tandasnya.

Sementara itu Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra, Fadli Zon mempertanyakan kebijakan pemerintah mengenai kenaikan harga BBM bersubsidi. Hal ini karena kenaikan harga BBM justru dibarengi dengan kenaikan alokasi subsidi BBM. “Kebijakan kenaikan harga BBM subsidi ini masih dipandang tak masuk akal,” tegasnya.

Menurutnya, beberapa keanehan dalam RAPBN-P 2013 terlihat dari meskipun pendapatan negara turun, alokasi belanja justru naik. Akibatnya terjadi defisit keseimbangan primer dan defisit total yang melebar sehingga memaksa kami harus menambah utang lagi. Hal ini dilihat dari pendapatan pajak turun Rp 53.6 triliun, sedangkan belanja naik Rp 39 triliun, dan belanja lain-lain naik Rp. 53.6 triliun. Akibatnya defisit melebar dari Rp 153.3 triliun menjadi Rp 233.5 triliun. Inilah yang membuat Partai Gerindra mendorong rencana kenaikan harga BBM menjadi patut dikaji lagi.

“Sebab, jika dilihat lebih detail, postur RAPBN-P saat ini masih ditemukan banyak anomali logika yang keliru. Harga premium naik Rp 2.000 dan solar Rp. 1.000, tetapi subsidi BBM juga naik dari Rp. 194 triliun menjadi Rp. 210 triliun. Harusnya, ketika harga BBM naik alokasi subsidi BBM turun,” ungkapnya.

Fadli menegaskan, Fraksi Partai Gerindra menolak pengesahan RAPBN-P 2013 yang di dalamnya mengatur harga BBM bersubsidi, karena kenaikan BBM tak menurunkan alokasi subsidi BBM dalam RAPBN-P seperti yang seharusnya. Partai Gerindra memahami bahwa subsidi seharusnya jangan salah arah. Subsidi harus diterima rakyat yang membutuhkan. Dana subsidi bisa dialihkan untuk infrastruktur, pertanian, kesehatan atau pendidikan.

Hal senada diungkapkan Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, Ahmad Muzani yang menilai pemerintah telah mengabaikan rakyat. Di mana pemerintah mengabaikan transportasi massal yang murah dan bahkan gratis bagi masyarakat. Dana kompensasi kenaikan BBM seharusnya dipakai untuk menyediakan transportasi massal, pembangunan infrastruktur yang bagus, termasuk ketersediaan pupuk dan benih bagi petani.

Memang, pada awalnya Partai Gerindra sempat memberikan dukungan kenaikan harga BBM dan pengesahan RAPBN-P 2013. Namun di detik-detik penentuan, Partai Gerindra mengubah sikap. Hal ini dikarenakan ternyata meski subsidi BBM membebani APBN, namun skema RAPBN-P 2013 tak mengubah beban itu. Subsidi BBM malah bertambah.  “Tak ada jaminan kompensasi kembali ke rakyat dalam wujud transportasi murah dan infrastruktur,” papar Fadli.

Berkenaan dengan itu pula Partai Gerindra lantas menampik perubahan sikap karena pencitraan di depan rakyat. “Ini jelas bukan pencitraan, walau citra dalam politik sangat penting. Kami ingin ikut memberi solusi agar rakyat tak jadi korban kebijakan,” tegasnya.

Strategi Energi Nasional

Memang, publik tentu mengetahui, alasan dibalik keputusan yang diambil oleh pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Namun begitu, jauh sebelum masalah ini menimbulkan pro kontra, dalam setiap kesempatan, Prabowo kerap mengingatkan penguasa negeri ini. “Sudah bertahun-tahun bahkan mungkin lebih dari belasan tahun, saya ingatkan bahwa sistim ekonomi kita rapuh. Saya katakan bahwa tanpa strategi yang tepat, dikarenakan sumber energi BBM kita menipis, dan tren harga BBM dunia yang terus naik, beban subsidi BBM pada ekonomi kita dapat menjadi sangat berat,” tegas putra begawan ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo ini.

Betapa tidak, menurut pendiri partai berlambang kepala burung Garuda ini mengatakan bahwa sistim yang dianut bangsa Indonesia sekarang ini mengakibatkan kekayaan nasional mengalir keluar negeri. “Hal ini telah saya jelaskan di ratusan ceramah saya, di puluhan tulisan saya dimana-mana sejak tahun 2004,” tandasnya.

Untuk itu, bersama tim pakar nasionalis yang dibentuknya, Prabowo menganjurkan suatu strategi yang dinamakan strategi dorongan besar. Strategi untuk membuka lahan-lahan produksi untuk tanaman-tanaman yang bisa menghasilkan bioethanol atau bahan bakar nabati (BBN) yakni singkong, aren, tebu, jagung, kemiri dan lain sebagainya. Strategi ini telah berhasil dilaksanakan dengan sukses oleh negara-negara lain.

Brazil adalah contoh negara yang paling berhasil. Sudah hampir, atau mungkin sekarang sudah lebih dari setengah dari kebutuhan BBM Brazil dipenuhi dari bioethanol. Tak heran bila saat ini ekonomi Brazil dapat kuat dan rakyatnya hidup dengan baik. “Dalam berbagai ceramah dan tulisan saya selama hampir sepuluh tahun terakhir, tidak berhenti saya menganjurkan hal ini. Tetapi hal ini tidak didengar oleh elit pemerintahan kita yang lebih memilih untuk selalu impor BBM,” ujar calon presiden dari Partai Gerindra ini.

Bicara soal bioethanol, selama ini Partai Gerindra kata Prabowo, memang hanya memiliki 26 kursi. Tapi pihaknya harus memperjuangkan anggaran untuk membuka lahan produktif untuk memproduksi pangan dan bioethanol. Setidaknya, untuk keperluan ini membutuhkan investasi kurang lebih 5000 dolar Amerika untuk satu hektar.

Prabowo menegaskan, berdasarkan perhitungannya, jika pemerintah berani menghapus subsidi BBM, akan membuka kemampuan untuk memberikan subsidi langsung hampir Rp 300 triliun. Jika dari angka Rp 300 triliun ini digunakan Rp 100 triliun, atau 10 milyar dolar saja untuk mencetak lahan produktif, maka bangsa ini bisa mencetak dua juta hektar lahan produktif. Setidaknya, jika keseluruhan dari dua juta hektar lahan produktif ini ditanami singkong, maka akan bisa menghasilkan 125 juta barel bioethanol setiap tahun. Tentunya, jumlah ini sudah bisa memasok 25 persen dari kebutuhan BBM nasional.

“Dengan teknologi yang tepat, saya yakin kita bisa tingkatkan produksi sampai memenuhi 50 persen kebutuhan nasional. Dengan mencetak lagi lahan produktif, kita bisa memenuhi seluruh kebutuhan BBM nasional dari singkong. Disamping itu juga, dengan dua juta hektar lahan produktif baru, dari hulu sampai hilir kita bisa membuka lapangan kerja untuk delapan sampai 12 juta orang bekerja,” paparnya.

Setidaknya, kata Prabowo ini hanya sekadar bayangan bahwa kalau bangsa ini memiliki strategi yang tepat, kalau pemerintah benar-benar melaksanakan ekonomi kerakyatan, maka negara tidak saja bisa mengurangi beban impor BBM. Karena negara ini dapat menghasilkan sendiri semua BBM yang dibutuhkannya. Sekaligus bisa menciptakan lapangan kerja yang cukup masif bagi rakyat Indonesia. “Uang yang sangat banyak dapat berputar di rakyat kita yang paling miskin. Namun karena ini belum terjadi, yang bisa kita lakukan sekarang adalah memperjuangkan agar rakyat tidak terbebani dengan keputusan pemerintah menaikkan harga BBM, apalagi sebentar lagi kita menghadapi bulan suci Ramadhan,” tandasnya.

Sejak berdiri dan menjadi bagian kehidupan politik bangsa ini, secara tegas, Partai Gerindra mengingatkan dana yang dihemat oleh pemerintah harus segera dimanfaatkan dengan secerdas dan setepat mungkin. Diantaranya dana itu bisa dialokasikan untuk menciptakan lahan-lahan produktif, membangun insfrastruktur, membantu rakyat yang paling miskin dengan subsidi langsung terarah seperti mambangun dan membebaskan biaya transportasi. Dimana pada ujungnya bangsa ini harus menciptakan lapangan pekerjaan yang produktif dan bisa memberi penghidupan yang layak. “Karena prinsip kita, prinsip Partai Gerindra adalah tidak sekedar membantu tetapi untuk menghilangkan kemiskinan dengan cara menciptakan lapangan pekerjaan,” tegas mantan Danjen Kopassus ini.

Menurutnya, Partai Gerindra akan terus memperjuangkan agar dana yang dihemat oleh pemerintah harusnya gunakan untuk melindungi rakyat yang paling miskin dari beban yang terlalu berat. Selin itu untuk meningkatkan produktifitas bangsa di bidang pangan dan energi sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama kita kita dapat swasembada pangan dan swasembada energi. Prabowo menegaskan kalau negara alokasikan satu milyar dolar saja dari anggaran negara yang dihemat untuk membeli bis, negara bisa membeli sedikitnya 25000 bis baru. Armada itu bisa dialokasikan 5000 untuk Jakarta, 1000 untuk Bandung, 1000 untuk Semarang, 2000 untuk Surabaya, dan ota-kota serta desa-desa di seluruh Indonesia.

“Saya yakin kebijakan ini bisa mengurangi beban bagi rakyat miskin. Hal ini sudah dilaksanakan di beberapa negara, diantaranya yang pernah saya lihat sendiri adalah di Thailand dan di negara-negara Eropa Barat. Ini yang saya maksud dengan subsidi langsung,” sarannya.

Dalam pertemuannya dengan Presiden SBY bulan Maret lalu, Prabowo juga menyarankan agar Bulog diperkuat, PT Pertani diperkuat, serta diciptakan gerai-gerai untuk menyalurkan subsidi langsung kepada rakyat miskin berupa sembako. Begitu pula saat berada di beberapa forum, Prabowo menegaskan, bahwa koperasi unit desa harus diberdayakan. Distribusi pupuk bersubsidi harus melalui KUD-KUD di seluruh kecamatan di Indonesia harus efektif. “Kita juga harus pastikan barang-barang bersubsidi tidak boleh diperdagangkan,” tegasnya.

Tudingan
Diakui atau tidak, bahwasannya sudah biasa kalau ada pihak-pihak yang ingin mendiskreditkan dirinya dan Partai Gerindra. Karena selalu ada saja orang yang tidak suka dengan pandangan-pandangan yang ingin Indonesia kuat. Ingin Indonesia berdiri di atas kaki sendiri. Ingin Indonesia bebas dari jeratan impor pangan dan impor energi.

“Jangan heran, bila golongan komprador ini akan selalu menjelek-jelekkan saya dan Partai Gerindra. Mereka takut Indonesia kuat, takut Indonesia mandiri. Mereka ingin selalu bisa menjual bangsa kita ke bangsa lain. Mereka memiliki banyak kaki tangan yang bertugas untuk menjelek-jelekkan perjuangan kita,” ungkapnya.

Tidak hanya itu saja, ada banyak rumor yang beredar ditengah pro kontra keputusan pemerintah soal kenaikan harga BBM yang mengarah pada Partai Gerindra dan dirinya. Menurutnya, kalau ada yang menuduh dirinya sekarang mendukung kebijakan pemerintah untuk mengurangi subsidi karena pemerintah menjanjikan uang kepadanya dan atau Partai Gerindra adalah fitnah yang kejam. Begitu pula dengan tudingan adanya deal-deal politik antara penguasa yang akan memberikan memberikan jabatan kabinet adalah tidak benar. “Gerindra sedang sibuk mempersiapkan diri untuk maju di Pemilu legislatif tahun 2014 yang tinggal delapan bulan lagi. Tidak mungkin saya melepas kader-kader terbaik Gerindra untuk bekerja di kabinet yang tinggal beberapa bulan saja,” katanya.

Bagi Prabowo, Gerindra harus tegas menetapkan kepentingan nasional. Peringatan, kritikan serta masukan yang kerap disampaikannya soal haluan ekonomi Indonesia tetap berpegang teguh Pasal 33, UUD 1945. “Kita tidak mau ikut-ikutan membodohi rakyat. Kita tidak mau ikut-ikutan mengejar popularitas murahan. Kita ingin memberikan pencerahan, pembelajaran politik kepada rakyat,” tandasnya.

Prabowo pun mengajak rakyat Indonesia untuk selalu bersikap arif, berpikir positif, mengutamakan kepentingan bangsa, kepentingan nasional diatas kepentingan kelompok, tidak mencari popularitas murahan tetapi menyengsarakan rakyat dengan mengambil posisi-posisi yang sepertinya membela rakyat kecil tetapi tujuan utamanya adalah hanya untuk mendongkrak popularitas. “Marilah kita mencari solusi dan bukan menyebarkan sindiran-sindiran negatif. Saya percaya pada akhirnya saudara-saudara dapat menjadi penyambung diri saya dengan masyarakat, menjelaskan kepada masyarakat apa yang saat ini kita sedang perjuangkan bersama,” ajaknya. [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Juni 2013

Prabowo : Rapatkan Barisan untuk Indonesia Raya

“Tugas Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) bukan hanya sekedar cari kursi di parlemen, bukan sekedar cari suara. Sekali lagi saya tegaskan, kita ingin memimpin transformasi bangsa. Kita ingin membawa Indonesia ke tempat yang sepantasnya ditempati oleh bangsa Indonesia. Negara ke-empat terbesar di dunia, ekonomi ke-tujuh di dunia.”

ps08Demikian surat terbuka yang disampaikan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto kepada seluruh kader Gerindra, terutama yang maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) yang akan berlaga di Pemilu 2014 mendatang. Pesan itu disampaikan Prabowo lewat akun pribadi jejaring sosial facebook beberapa waktu lalu.

Prabowo menegaskan, rakyat Indonesia harus sejahtera, makmur, aman, adil, terhormat, berdaulat, berdiri diatas kaki sendiri. Tidak minta-minta ke bangsa lain. Tidak memohon belas kasihan bangsa lain. Tidak berharap bantuan bangsa lain. Tidak diejek bangsa lain. Tidak mengganggu bangsa lain, tetapi tidak mau didikte oleh bangsa lain. Tidak mau disuruh-suruh oleh bangsa lain. Tidak mau diinjak-injak oleh bangsa lain.

Untuk itu, Prabowo mengingatkan bahwa tantangan yang akan dihadapi untuk membela kepentingan bangsa dan kepentingan rakyat Indonesia tidak ringan. Setiap ada usaha dari pihak yang ingin menjaga dan mengamankan kekayaan nasional bangsa serta yang ingin menggunakan kekayaan nasional sebesar-besarnya untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia akan selalu menghadapi perlawanan dan pertentangan oleh kaum komprador dan kaum koruptor. Komprador artinya adalah anak bangsa sendiri yang rela dan tega menjual kepentingan bangsa dan rakyatnya sendiri demi keuntungan dan kepentingan pribadi serta keluarganya saja.

“Negara sebesar kita, bangsa sekaya kita, begitu banyak pihak yang ingin menghambat dan mengkerdilkan,” tegas Prabowo sembari meyakinkan para kader bahwa kaum komprador dan kaum koruptor untuk mengakal-akali rakyat Indonesia, bisa dikalahkan dengan kekuatan rakyat.

Inilah yang menurut Prabowo sebagai fenomena sejarah ratusan tahun. Dan ini tidak terjadi hanya di negara Indonesia saja. Semua negara dan semua bangsa selalu mengalaminya. Sejarah kolonialisme dan imperialisme ribuan tahun mengajarkan hal ini. Biasanya, lanjut Prabowo, bangsa yang lemah sering diinjak, dijajah dan kekayaannya dirampas oleh bangsa yang kuat.

“Bangsa menjadi lemah ketika elit bangsa tersebut tidak teguh, tidak tangguh, tidak berani, tidak percaya diri, tidak rela berkorban, tidak jujur, tidak setia kepada rakyatnya sendiri,” kata mantan Danjen Kopassus ini.

Menurutnya, ini adalah pelajaran yang dapat dipetik dari sejarah. Karena itu, Prabowo pun menganjurkan kepada seluruh kader untuk selalu belajar sejarah. Mereka yang tidak mau belajar dari sejarah akan dihukum oleh sejarah. Mereka yang tidak mau belajar dari sejarah akan mengulangi kesalahan-kesalahan yang sama yang pernah dilakukan oleh pendahulu-pendahulunya. “Kalau dahulu nenek moyang kita dijajah oleh bangsa lain, masa kita terus dijajah sekarang?” ujar putra Begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo ini.

Disadari atau tidak, kata Prabowo penjajahan yang terjadi sekarang memang dengan bungkus dan baju yang baru. Memang negara ini punya punya bendera sendiri. Punya lagu kebangsaan sendiri. Tetapi coba bertanya kepada diri sendiri, belajar dari lingkungan sendiri, lihat dengan gunakan mata sendiri, gunakan telinga, gunakan akal dan hati.

“Lihatlah, apakah kita benar-benar tuan di negeri sendiri? Apakah kita benar-benar tuan di rumah kita sendiri? Ataukah kita sebenarnya sudah menjadi tamu di tanah tumpah darah kita sendiri? Apakah kita akan terus menonton bangsa lain menjadi kaya karena kekayaan kita, dan kita tetap hidup miskin?” kata Prabowo.

Dalam hal ini, Prabowo menegaskan bahwa bukan dirinya menganjurkan bangsa ini untuk benci atau curiga dengan bangsa lain. Justru bangsa ini harus belajar dari bangsa lain. Bangsa ini harus bersahabat dengan mereka. “Yang saya ingin gugah adalah elite bangsa kita sendiri. Yang ingin saya gugah adalah pemimpin-pemimpin bangsa kita sendiri. Yang ingin saya gugah adalah anak-anak pintar bangsa Indonesia sendiri. Saya hanya mengungkapkan ini fenomena sejarah,” tandasnya.

Menurutnya, keadilan dan kemakmuran tidak pernah jatuh dari langit. Setiap ajaran agama mengajarkan bahwa setiap umat menentukan nasibnya sendiri. Sebagaimana dalam ajaran Islam yang tercantum dalam kitab Al-Quran surat Arra’du ayat 11, yang mengatakan bahwa Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum manakala kaum tersebut tidak mau mengubah nasibnya sendiri.

“Kalau kita terpuruk. Kalau negara kita dilanda pemerintahan yang lemah dan korup. Kalau kita mengalami kemerosotan karena tidak ada pembangunan yang berarti di negara kita. Kondisi ini adalah salah kita sendiri,” ujarnya.

Inilah tugas berat yang harus dihadapi Gerindra dan para kadernya. Gerindra ingin memimpin transformasi bangsa. Karena itu Gerindra perlu putra-putri terbaik memperkuat barisan, terutama dalam pemilihan umum yang akan datang. Sebagai partai, Gerindra hadir sebagai partai yang memiliki jati diri yang jelas yakni kebangsaan, kerakyatan, religious dan keadilan sosial. Dalam perjuangan, Partai Gerindra berpijak dan berpegangan teguh pada landasan kedaulatan dan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Untuk itu, Prabowo pun mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk aktif mengambil bagian dalam pesta demokrasi yang digelar April 2014 mendatang. Meski memang tak dipungkiri, gerakan penggalangan massa untuk tidak berpartisipasi dalam pemilu alias golput terus menggurita. Namun Prabowo yakin, masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat yang bodoh. “Golput adalah orang yang tidak mau bersikap dan tidak mau ambil risiko, dan itu yang membuat negara ini tambah rusak dan tambah miskin!” tegasnya mengingatkan.

***

Untuk menghadapi Pemilu 2014, Gerindra telah menjaring hampir 3.000 orang bakal caleg yang akan berlaga nanti. Prabowo menyampaikan rasa terimakasihnya kepada kader dan masyarakat umum yang mendaftar menjadi bakal calon anggota legislatif dari Partai Gerindra, dan kepada kader yang mempunyai saudara, kerabat, atau kawan yang mendaftar menjadi caleg Gerindra untuk tingkat DPR RI, tingkat DPRD Provinsi atau tingkat DPRD Kabupaten/Kota.

“Antusiasme dan semangat saudara menunjukkan, kalau saudara-saudara percaya, bahwa Gerindra mempunyai niat yang baik dan tulus untuk memperbaiki kehidupan negara dan bangsa Indonesia yang kita cintai bersama. Ini juga berarti bahwa saudara tertarik dengan gagasan-gagasan, nilai-nilai dan pendirian Partai Gerindra,” ujarnya.

Prabowo mengingatkan bagi para kader atau kerabat kader yang belum berhasil terpilih dan terseleksi untuk bergabung dalam daftar caleg Gerindra untuk pemilihan umum 2014, pihaknya memohon dengan sangat, janganlah terlalu kecewa. Janganlah terlalu sedih. “Gerindra hanya punya tempat untuk 560 nama putera dan puteri terbaik bangsa untuk maju di tingkat nasional. Di tingkat provinsi, jumlah tempat yang kita miliki pun terbatas. Demikian pula di tingkat kabupaten dan kota. Hasrat saudara yang begitu besar, saya dan seluruh unsur pimpinan Gerindra sangat hormati dan kami berterimakasih,” ujarnya.

Keputusan yang telah Gerindra ambil pasti tidak akan memuaskan semua pihak. Pasti diantara kader ada yang kecewa. “Kecewa kepada saya. Kecewa kepada Gerindra. Itulah resiko yang harus saya hadapi sebagai pimpinan,” kata Prabowo.

Prabowo mengingatkan bahwa niatan Partai Gerindra hanya setulus-tulusnya untuk kepentingan bangsa dan negara. Memang, Partai Gerindra butuh putra putri yang terseleksi, yang terkuat, untuk bersama-sama bersama kita melakukan transformasi bangsa. “Saya lakukan ini bukan untuk mencari jabatan. Saya bersumpah kepada Allah SWT. Tidak ada sedikit pun saya mengejar jabatan demi kepentingan pribadi. Saya semata-mata melakukan ini untuk membela kepentingan bangsa dan negara, dengan nafas, dengan tenaga, dengan kemampuan yang saya miliki,” janjinya.

Gerindra sebagai partai politik peserta pemilu dalam waktu dekat ini akan menyusun suatu institusi partai yang disebut sebagai BAPPILU (Badan Pemenangan Pemilihan Umum) dengan segala unit-unit dibawahnya. Gerindra membutuhkan putra-putra dan putri-putri terbaik bangsa untuk memperkuat perjuangan ini. “Kami butuh relawan-relawan yang mau berjuang memperbaiki bangsa kita. Karena kita sangat membutuhkan kekuatan besar, saya membutuhkan keikutsertaan saudara-saudara dalam perjuangan kita bersama. Jangan tinggalkan saya dan Gerindra,” pintanya.

Bagi mereka yang mungkin kecewa karena tidak terpilih dalam daftar caleg Gerindra di Pemilu 2014, Prabowo memohon untuk menerimanya dengan lapang dada dan berjiwa besar. “Perjuangan kita besar. Semua unsur harus bersatu. Sekali lagi saya mohon jiwa besar. Teruslah bergabung bersama saya dan bersama Gerindra,” imbaunya.

Menurut Prabowo, dunia mengakui bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah, bangsa yang rendah hati, bangsa yang selalu suka bergaul dengan orang lain. Akan tetapi juga tidak boleh menutup diri dari kenyataan bahwa memang kadang-kadang bangsa ini punya rasa rendah diri yang teramat besar. Tidak percaya dengan kekuatan bangsa sendiri. Tidak percaya dengan kemampuan sendiri. Tidak percaya dengan kepintaran orang-orang Indonesia sendiri. Tidak percaya dengan kearifan pemimpin-pemimpin sendiri.

Sekali lagi, Prabowo menggarisbawahi, inilah yang berobah. Bagi yang belum terpilih menjadi caleg, jangan terlalu kecewa. “Perjuangan masih panjang. Tantangan, gangguan, hambatan dan ancaman di hadapan kita sangat besar. Tidak mungkin tantangan-tantangan ini dapat kita atasi tanpa semangat dan kekuatan besar pula dari seluruh unsur rakyat Indonesia,” ujarnya.

“Rapatkan barisan, bulatkan tekad, kobarkan semangat kebangsaan. Jadilah pandu ibumu yang gagah berani, setia sejati, tangguh jiwanya, tangguh badannya untuk Indonesia Raya. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?” ajaknya.

Pasalnya, menurut Prabowo, kalau bukan bangsa ini yang mencintai negara ini, siapa lagi? Prabowo mengingatkan, apakah berharap orang lain cinta akan bangsa Indonesia. Janganlah mengira untuk sedetikpun orang lain akan kasihan kepada bangsa ini. Janganlah menjadi bangsa yang selalu tergantung dengan bangsa lain, bangsa yang bergantung kepada belas kasihan bangsa lain.

Sementara Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra DKI Jakarta, Muhammad Taufik mengatakan, ada sesuatu yang harus dilakukan untuk Jakarta oleh para kader dan politisi partainya, terutama yang lolos sebagai caleg untuk DPRD Provinsi DKI Jakarta. Setiap politisi harus memiliki prinsip yang harus dipegang teguh, begitu juga harus memegang teguh komitmen yang telah dijanjikan kepada warga Jakarta. Salah satu prinsip dan komitmen para caleg Partai Gerindra yang akan bertarung dengan caleg dari partai lainnya dalam pemilu adalah harus dikenal oleh rakyat dan mudah dihubungi oleh konstituen daerah pemilihan.

Saat ini, Gerindra Jakarta menyiapkan 106 orang caleg yang siap menjadi fighter of people atau pejuang rakyat. Terpilih atau tidak terpilih pada pemilu nanti, para caleg ini harus mampu terus berjuang untuk rakyat Jakarta. “Mereka harus jadi fighter untuk rakyat, tidak peduli dapat atau tidak dapat menjadi anggota DPRD. Yang penting bagaimana mendidik rakyat lebih cerdas untuk memilih. Mereka harus mendukung kebutuhan rakyat, tetapi bukan merusak,” tegasnya.

Sementara anggota Dewan Penasehat DPP Partai Gerindra yang juga anggota DPR-RI, Martin Hutabarat, mengatakan pada Pemilu 2014 nanti Gerindra ingin mendulang sebanyak mungkin suara. Hal ini diperlukan untuk memudahkan partai mengusung Prabowo menjadi calon presiden pada pemilihan presiden nanti. Untuk itu diperlukan kerja keras seluruh caleg Gerindra yang ada di semua tingkatan. “Kami ingin semua caleg bekerja keras untuk meraih hasil maksimal,” ujarnya.

Martin optimis partainya bakal mendulang sukses pada Pemilu 2014 nanti. Pasalnya, masyarakat saat ini sudah bosan dengan pola kepemimpinan yang sedang berjalan. Masyarakat, kata dia, butuh ketegasan kepemimpinan yang diyakini ada pada karakter Prabowo Subianto dan Gerindra. “Saya yakin antusiasme masyarakat pada kami terus meningkat,” tandasnya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Fadli Zon yang mengimbau kepada seluruh mesin politik Gerindra untuk turun ke tengah masyarakat dan melakukan sosiasilisasi dengan maksimal. Menurutnya, nama besar politikus dan senioritas dalam dunia politik bukan jaminan mulus meraih kursi empuk parlemen. Karena itu, seluruh kader Gerindra harus bekerja keras dan optimis untuk meraih simpati rakyat. Jika semua elemen bekerja maka 20 persen suara dalam Pemilu 2014 bisa diraih. “Kami optimis bisa meraih suara minimal 20 persen,” katanya. [g]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Mei 2013

Gerindra Menjawab Tantangan

“Kita belum utuh menjadi seorang manusia, sebelum menjadi bagian dari perjuangan yang lebih besar dari diri kita sendiri.” Pesan itu disampaikan Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto dalam surat terbuka sebagaimana yang dipublikasikan lewat akun pribadi jejaring sosial, facebook beberapa waktu lalu.

prabowo-130712cMenurut Prabowo, politik adalah upaya memperbaiki kehidupan suatu masyarakat. Kehidupan suatu rakyat. Jadi, kalau ingin memperbaiki kehidupan rakyat. Kalau ingin memperbaiki kehidupan sekitar kita sendiri, anak kita, cucu kita, mau tidak mau harus berpolitik. “Berpolitik itu berarti harus berpihak, harus memilih, harus berjuang,” tulisnya dalam surat terbuka sebagaimana yang dipublikasikan lewat akun pribadi jejaring sosial, facebook beberapa waktu lalu.

Kehadiran Gerindra di kancah perpolitikan Indonesia harus menjadi kekuatan politik yang memimpin transformasi. Gerindra hadir untuk memimpin pembaharuan bangsa. Gerindra didirikan untuk mengamankan dan menyelamatkan sumber-sumber ekonomi dan kekayaan bangsa Indonesia, sehingga kekayaan ini bisa dimanfaatkan oleh seluruh rakyat Indonesia –tidak hanya segelintir orang saja.

“Jangan harap Indonesia bisa sejahtera, jika bukan kita sendiri yang menyelamatkan kekayaan kita sendiri dan mewujudkan Indonesia yang kita cita-citakan. Bersatulah bersama saya. Berjuanglah bersama saya. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita yang memimpin perubahan dan transformasi bangsa, siapa lagi?” tegas putera Begawan ekonomi Indonesia, Soemitro Djojohadikusumo itu.

Dalam berbagai survei dan jajak pendapat terkini, membuktikan Gerindra sudah konsisten berada di posisi tiga besar partai politik di Indonesia. Bahkan tingkat keterpilihan Gerindra sudah berada di posisi dua dan bahkan teratas, bersamaan dengan partai-partai lama dan partai besar lainnya. Tidak hanya itu dalam survei terakhir yang dirilis Transparency International Indonesia (TII) bekerjasama dengan Komisi Informasi Pusat (KIP), Partai Gerindra dinilai sebagai partai yang paling transparan dan kooperatif untuk proses assessment dan audiensi serta bersedia mengikuti proses penilaian dalam survei dengan score 3,74.

Menurut Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra, Fadli Zon mengatakan penilaian ini membuktikan bahwa Gerindra konsisten menjaga prinsip transparansi dalam menjalankan amanah rakyat. Pasalnya, lanjut Fadli, transparansi adalah salah satu cara mencegah korupsi. Transparansi merupakan faktor penting untuk membentuk parpol modern yang sehat dan kuat.

“Di tengah sikap skeptis publik terhadap parpol, semoga hasil survei ini bisa menunjukkan pada publik bahwa masih ada sejumlah parpol yang transparan dalam hal keuangan. Partai Gerindra mencoba terus konsisten walaupun tak selalu mudah. Meskipun belum sempurna, kami mencoba tetap transparan dan akuntabel,” ujarnya.

Selain itu, Fadli juga menegaskan bahwa Gerindra tetap konsisten melarang perwakilannya di Senayan ikut melakukan studi banding ke luar negeri. Selain merupakan pemborosan, apa yang dilakukan DPR itu telah menghina intelektualitas orang Indonesia. Setidaknya, tahun ini Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mengucurkan lebih dari Rp 21 triliun untuk perjalanan dinas anggota DPR. “Partai Gerindra sejak awal telah melarang seluruh kadernya di DPR untuk melakukan studi banding ke luar negeri. Kami lakukan moratorium studi banding hingga 2014. Bukan karena anti belajar ke negara lain, namun caranya yang menghamburkan uang rakyat,” ujarnya.

Dalam surat terbuka yang dipublis jejaring sosial facebook, Prabowo menegaskan untuk bisa menjadi gerbong pembaharuan, Gerindra tetap harus berada di dalam rel yang benar yakni demokrasi. Menurutnya, demokrasi adalah suatu sistim politik dimana mereka yang bersedia untuk berkuasa, harus meminta mandat dari rakyat. Mandat ini diberikan oleh rakyat melalui proses pemilihan umum. Proses ini sudah menjadi kesepakatan bersama sebagai bangsa. Meski, disadari bahwa demokrasi di negeri ini masih penuh dengan kekurangan.

“Sebuah demokrasi yang matang, demokrasi yang sebenar-benarnya demokrasi, menuntut bahwa proses pemilihan harus benar-benar bersih, transparan, dilaksanakan dengan jujur, dengan adil, tanpa kecurangan,” tulis mantan Danjen Kopassus itu.

Menurutnya, disinilah letak ujian yang paling menentukan dari proses demokrasi itu. Kalau proses pemilihannya penuh kecurangan, tidak transparan, maka demokrasi itu berarti demokrasi yang cacat. Apapun alasannya, pemilihan yang dilaksanakan dengan kecurangan adalah pemilihan yang cacat. Oleh karena itu Prabowo mengingatkan, sudah menjadi sebuah keharusan untuk memastikan seluruh proses pemilihan dari tahap persiapan sampai tahap akhir harus benar-benar bersih, jujur, transparan, adil, tanpa kecurangan.

Sebagai contoh mendasar, salah satu proses yang paling menentukan adalah penyusunan daftar pemilih. Daftar pemilih menentukan, siapa saja yang memiliki hak untuk memilih, hak untuk berpartisipasi dalam demokrasi. Sejatinya segenap elemen bangsa ini menyadari, bahwa di negara ini terdapat tanda tanya besar akan proses penyusunan daftar pemilih tetap yang penuh dengan rekayasa dan kecurangan. Jika hal itu terus terjadi maka masa depan demokrasi itu sendiri bisa terancam. Bahkan, stabilitas, ketenangan, dan kedamaian suatu negara bisa terancam.

“Kalau proses pemilu dilaksanakan dengan curang, berarti kekuasaan yang dilahirkan dari pemilihan itu, mandat yang dilahirkan adalah tidak sah, tidak memiliki legitimasi. Cepat atau lambat, rakyat bisa tidak patuh pada pemerintah tersebut, dan dengan demikian, negara mengarah ke negara gagal,” ujarnya.

Oleh karena itu, Prabowo mengingatkan, bangsa Indonesia di ambang menjadi republik dagelan. Republik pseudo-demokrasi. Republik yang dikuasai oleh mafia, maling-maling yang hanya memikirkan bagaimana merampok kekayaan negara terus menerus tanpa memikirkan akibatnya kepada masa depan rakyat kebanyakan. Apa yang diperbuat hari ini, saat ini, akan dapat mempengaruhi masa depan bangsa, anak-anak dan cucu-cucu kita. “Marilah kita mencontoh founding fathers kita, para pendiri bangsa kita, yang selalu mengutamakan kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan pribadi. Kepentingan rakyat dari kepentingan kelompok atau golongan,” imbaunya.

Untuk mewujudkan demokrasi yang sebenarnya, harus ada pendidikan politik ke rakyat yang besar dan banyak. Dengan pendidikan politik, sebagai partai politik, maka harus bisa menyentuh semua yang pemahaman politiknya masih sangat sederhana dan sangat terbatas. Partai politik sebagai salah satu instrumen politik harus berani terjun ke rakyat. Terjun ke rakyat di akar rumput yang paling dasar, mendidik rakyat, membuka kesadaran rakyat, mengajarkan hak-hak rakyat, menghimpun rakyat dan meyakinkan rakyat untuk memilih satu kekuatan yang harus memimpin perubahan dan transformasi.

Menurut Prabowo, Gerindra harus menjadi kekuatan tersebut. Gerindra harus menjadi kekuatan yang memimpin transformasi bangsa Indonesia. Gerindra harus massif, harus kuat, harus memimpin gelombang kekuatan rakyat. Gelombang people’s power. “Gerindra-lah yang harus memimpin gelombang tersebut sehingga tidak bisa dibendung oleh kecurangan. Tidak bisa dibendung oleh kekuatan korup, pancilok-pancilok yang selalu menipu rakyat. Tanpa kekuatan yang besar, tidak mungkin kebenaran menang di bangsa Indonesia,” tegasnya.

***

Tak dipungkiri memang, dalam kurun waktu yang relatif singkat, Gerindra mampu tampil terdepan. Tidak hanya itu, sekarang rakyat Indonesia tahu Gerindra sebagai kekuatan politik baru. Kekuatan politik yang tidak ragu-ragu, yang pertama dan bahkan mungkin satu-satunya yang berani mengatakan sistim ekonomi neoliberal itu keliru.

Prabowo Subianto, menegaskan jauh sebelum terjadi resesi ekonomi di Amerika Serikat bulan Oktober 2008, Gerindra sudah berkali-kali mengingatkan, bahwa sistim ekonomi neoliberal dan kapitalisme tidak terkendali (unregulated, laissez-faire capitalism) tidak mungkin membawa kesejahteraan kepada rakyat banyak. “Ternyata sekarang rakyat di Amerika Serikat dan di Eropa Barat sadar akan hal tersebut,” tegas calon presiden ini.

Saat ini demokrasi bangsa Indonesia sedang dibajak dan sedang dirusak oleh iklim kleptokrasi, oleh berkuasanya maling-maling sebagai pejabat negara. Ini adalah kondisi nyata yang dapat rasakan bersama. Indonesia sebagai negara terbesar keempat dalam jumlah penduduk, ke 16 dalam besaran ekonomi, dan pertumbuhan ekonomi 6,5 persen. Memang, semua itu angka-angka yang mengagumkan, tetapi nyatanya negara ini besar karena konsumsi bukan karena produksi. “Kita tumbuh karena ekstraksi sumber alam kita. Bangsa lain melirik Indonesia hanya untuk mengambil sumber alam kita dan pangsa pasar kita yang besar,” tandasnya.

Setidaknya, saat ini setengah dari rakyat Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan. Itu menurut Bank Dunia, jika seseorang berpenghasilan kurang lebih Rp 20.000 sehari. Saat ini pula, setengah dari balita di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kurang gizi. Bahkan sepertiga dari anak-anak balita di Ibukota Republik Indonesia mengalami hal serupa.

Di sisi lain, setiap sepuluh menit, hutan negeri ini sebesar enam lapangan sepak bola habis ditebang secara liar. Lebih miris lagi, bahwa bangsa yang tiga perempat terdiri dari laut harus impor ikan asin, ikan teri dan ikan patin. Bahkan negeri dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia ini harus mengimpor garam. Tak hanya itu, Indonesia sebagai bangsa agraris yang sudah ratusan tahun punya jutaan hektar sawah juga harus mengimpor beras, gula, bawang, cabai, singkong, daging, dan susu.

Prabowo menegaskan, kenyataan ironis yang dihadapi bangsa bukan lantas menjadikan rakyat ultra-nasionalis, sok jago sendiri. “Saya selalu mengatakan kita harus belajar dari bangsa lain. Cita-cita kita tidak muluk-muluk. Kita tidak pernah bermimpi mau jadi super power. Kita tidak pernah mau mendominasi siapapun. Tantangan yang ada di hadapan kita sangat besar. Memberikan makan saja kepada seluruh rakyat Indonesia adalah tantangan yang luar biasa,” ujarnya.

“Selain itu, kita tidak boleh timbul kebencian kepada orang asing. Kita harus berkaca kepada diri kita sendiri. Justru kita harus mawas diri, instrokspeksi, instropeksi dan instrokspeksi. Kita harus berani melihat kelemahan kita, penyakit-penyakit yang ada di badan kita, baru kita bisa kuat, baru kita bisa bangkit,” imbuhnya.

Prabowo mengingatkan kepada seluruh kader dan simpatisan bahwa jika memang benar ingin perubahan, hanya satu alat yang dapat mewujudkan perubahan itu yakni Partai Gerindra. Tidak terkotak-kotak dalam beragam organisasi kemasyarakatan (ormas) dengan menggunakan nama Prabowo. Gerindra harus menang pemilu 2014. Gerindra harus menjadi single majority di DPR-RI.

“Sekali lagi, saya mohon sahabat revisi nama ormas sahabat, dan bergabunglah dengan Partai Gerindra. Bergabunglah dengan gerakan kejujuran, gerakan anti korupsi, gerakan membela wong cilik, gerakan agar wong cilik iso gumuyu, gerakan agar Indonesia berdiri diatas kaki sendiri, gerakan agar Indonesia terhormat, gerakan agar Indonesia dihormati bangsa bangsa lain, gerakan menjadikan Indonesia tidak mengemis, gerakan menjadikan Indonesia swasembada pangan dan energi, gerakan menjadikan Indonesia negara produsen tidak hanya konsumen produk impor,” pintanya.

Prabowo pun sadar, perjuangan ini memang berat, tetapi Gerindra tidak boleh gentar, Gerindra harus tabah. “Jangan menyerah, jangan menyerah, jangan pernah menyerah,” tegasnya. [g]

Catatan:

Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi April 2013

Menjaring Kader yang Berkarakter

Lima tahun lalu Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) masih dipandang sebelah mata. Kata antikorupsi yang kala itu lantang diteriakkan seakan tak bergema, tenggelam oleh hingar-bingar pencitraan. Penolakan neoliberal mendapat tanggapan dingin. Ini berimbas pada sulitnya mencari orang yang bersedia menjadi pengurus.

68393_kampanye_gerindra_663_382Lain dulu lain sekarang. Saat ini kepercayaan  rakyat kepada Gerindra mulai terbangun. “Setelah saya berkeliling Indonesia, membantu kampanye bupati, gubernur, saya merasakan ada harapan dan angin dukungan kepada kita,” Ketua Dewan Pembina Gerindra, Prabowo Subianto mengungkapkan pengalamannya saat peringatan Hari Ulang Tahun ke-5 partai berlambang kepala burung Garuda ini, awal Februari lalu.

Prabowo ternyata tidak sesumbar. Pengalaman mantan Danjen Kopassus itu saat berkeliling Indonesua menjadi terbukti saat partai ini membuka pendaftaran calon anggota legislatif. Peluang menjadi anggota legislatif tak hanya diberikan kepada pengurus partai, tapi juga untuk umum. Peminatnya membludak. Antrian mengular.

Sejak dibuka pertengahan Januari, hingga akhir Februari tercatat sedikitnya 2780 orang mendaftar sebagai bakal calon anggota legislatif tingkat pusat untuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI). Mereka berasal dari berbagai latar belakang dan profesi. Hirup pikuk proses pencalegan tak cuma begitu tampak di Kantor DPP Partai Gerindra di jalan RM Harsono nomor 54 Ragunan, Jakarta Selatan, tapi di semua tingkatan.

Ketua Umum DPP Partai Gerindra Suhardi menegaskan, besarnya animo masyarakat pada Gerindra, menandakan adanya kepercayaan dan dukungan terhadap perjuangan Gerindra untuk melakukan perubahan di negeri ini. Para bakal calon yang datang ke Gerindra pun beraneka beragam, selain kader sendiri ada juga yang datang dari politisi parpol lain, baik yang senior maupun yang junior. Ada pula pengusaha, penggiat ormas, LSM hingga ibu rumah tangga.

Apa boleh buat, proses seleksi mesti diterapkan untuk memenuhi ketentuan penyelenggaraan pemilihan umum yang mematok maksimal 560 calon. Prabowo Subianto, ikut terlibat langsung dalam proses wawancara dengan beberapa bakal calon di tengah kesibukannya yang padat.

“Saya mohon sahabat untuk bantu doa, agar Gerindra dapat sukses mendapatkan anggota-anggota DPR yang benar-benar bisa mewakili aspirasi rakyat. Anggota-anggota DPR yang tidak suka membuang uang rakyat dengan menyetujui proyek-proyek tidak jelas, apalagi jalan-jalan dengan kedok studi banding ke luar negeri,” pinta Prabowo seperti yang ditulis dalam akun pribadi facebooknya sesaat setelah mendengarkan visi dan misi salah seorang bakal calon.

Prabowo mengingatkan bahwa para bakal calon yang pernah atau ingin korupsi, narkoba, tidak setia kepada cita-cita para pendiri bangsa, dapat dipastikan tidak akan bisa masuk daftar 560 calon anggota DPR RI Gerindra yang nanti dapat dicoblos pada bulan April 2014. “Target saya dan Gerindra adalah mendapatkan dan mengusung 560 putera puteri terbaik, untuk maju dan memenangkan Pemilihan Legislatif 2014. Putera puteri terbaik yang dapat duduk sebagai wakil rakyat yang setia membela, bukan merampok hak-hak rakyat,” tegasnya.

Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, Ahmad Muzani mengatakan, selain Prabowo Subianto, sejumlah tokoh senior Gerindra seperti Hashim Djojohadikusumo, Ketua Umum Suhardi dan para Wakil Ketua Umum, anggota Dewan Pembina serta termasuk dia sendiri. “Serangkaian tes ini dilakukan untuk mendalami pemahaman dan komitmen para bakal calon anggota DPR Gerindra terhadap ideologi negara Pancasila dan UUD 45. Juga motivasi dan niat menjadi anggota DPR, pemahanan terhadap Gerindra, apa dan bagaimana strategi pemenangannya di dapil terpilih,” tandasnya.

Suhardi menuturkan, proses seleksi terhadap 2780 bakal calon menjadi 560 bukanlah hal mudah bagi Gerindra. Namun yang jelas, Partai Gerindra  sangat mempertimbang idealisme, rekam jejak dan kualitas orang per orang. Pasalnya, faktor itu dianggap sangat penting bagi Gerindra dalam menyaring para bakal calon yang akan bersaing memperebutkan kursi di Senayan. “Siapapun dia, apapun latar belakang sosial dan profesinya kelak ketika terpilih harus bisa berbuat banyak dan menjadi contoh di DPR dan DPRD. Karena, rakyat sekarang semakin merindukan wakil-wakilnya yang berkualitas dan idealismenya terjamin,” ujarnya.

Gerindra, kata Suhardi, sangat terbuka untuk menerima putra putri terbaik di negeri ini. Momentum perubahan yang ada di tahun politik harus dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mengajak orang yang berniat baik menjadi calon anggota legislatif agar bisa membuat perubahan. Karena lewat politik bisa memperbaiki keadaan, jika diisi oleh orang baik. “Kalau orang baik tidak mau ikut terjun ke politik, maka yang ada dunia politik akan dikuasai orang-orang berniat jahat,” katanya.

Senada dengan itu, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon mengatakan Partai Gerindra sangat terbuka bagi siapa saja yang berniat baik untuk berjuang mewujudkan perubahan di Indonesia. Namun demikian, ada beberapa kriteria yang harus dipunyai para bakal calon anggota dewan sebagaimana diatur dalam UU Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu. “Nantinya bakal calon yang lolos selain harus memahami AD/ART Partai Gerindra, patuh kepada semua aturan dan ketetapan Gerindra serta akan menjalani pendidikan dan latihan yang disiapkan Gerindra,” ujarnya.

Memang, menurut Fadli, untuk bisa mendapatkan tiket ke Senayan tentu situasi dan kondisinya berbeda dengan Pemilu 2009 lalu. Karena, jumlah partai politik peserta Pemilu 2014 berkurang. Bila pada Pemilu 2009 jumlah peserta pemilu sebanyak 38 parpol, kali ini hanya 12 saja. Otomatis ribuan politisi dari pusat hingga daerah berebut agar bisa masuk ke 12 parpol tersebut. Tak hanya berasal dari kader-kader parpol yang tidak lolos menjadi peserta pemilu masuk ke parpol lain, tapi para pendatang baru di panggung politik pun akan menjajal kemampuannya.

Penggabungan parpol yang tidak lolos tentunya akan menambah jumlah kader, di semua tingkatan. “Memang, mesin partai bertambah besar, tapi persaingan internal juga bisa sengit,” ujarnya saat menjadi pembicara pada pelatihan komunikasi yang digelar Pengurus Pusat (PP) Tunas Indonesia Raya (Tidar) beberapa waktu lalu.

Persaingan itu kian seru, sebab masih ada ratusan politisi kawakan yang masih ingin duduk kembali di gedung wakil rakyat. Padahal jumlah politisi muda dan para pendatang baru di dunia politik juga semakin banyak. Meski demikian, Fadli menegaskan nama besar politisi dan senioritas dalam dunia politik bukan jaminan mulus meraih kursi parlemen. Untuk itu, Fadli meminta seluruh kader Gerindra bekerja keras dan optimis untuk meraih simpati rakyat.

Ajakan yang sama juga datang dari politisi muda, Aryo Djojohadikusumo, Ketua Umum PP Tidar yang meminta kepada seluruh kader yang ingin maju untuk meningkatkan sosialisasi kegiatan positif  kepada masyarakat. Selama ini, sudah banyak aksi nyata yang dikerjakan, tapi kurang dipublikasikan. “Banyak organisasi sayap di partai lain kegiatannya tidak jelas, tapi sosialisasinya luar biasa. Sementara Tidar dan Gerindra kegiatannya jelas tapi kurang publikasi. Ini harus kita balik selama 13 bulan mendatang,” ajaknya.

“Saya pilih Gerindra

Satu dari sekian bakal calon anggota legislatif dari kalangan public figure yang bernaung di bawah bendera Gerindra adalah dua pembalap nasional Ananda Mikola dan Moreno Soeprapto. Keduanya, jatuh hati pada Gerindra karena kagum akan sosok Prabowo Subianto. “Kenapa saya pilih Gerindra, saya kagum pada Bapak Prabowo,” ujar Ananda usai mendaftarkan diri sebagai bakal calon anggota legislatif, pada medio Februari lalu.

Selain kagum, Ananda Mikola juga mengaku ingin meneruskan pengabdiannya pada bangsa dan negara. Setelah, karir balapnya sudah mulai berkurang. Dia juga menyatakan jika masuknya ke Partai Gerindra bukan tujuan utama untuk masuk ke Senayan.

Pun dengan sang adik, Moreno yang mengaku terjun ke partai politik, selain karena latar belakang pendidikan Hubungan Intenasional yang berkenaan dengan politik, juga untuk mewakili kaum muda.

“Saya mewakili kader muda untuk maju dalam legislatif, mudah-mudahan bisa mewakili kaum muda Indonesia agar bisa lebih berkarya dan memberikan inspirasi,” ujarnya.

Keduanya pun resmi menjadi kader dan mendaftar sebagai bakal calon anggota DPR di Partai Gerindra. Usai mendaftar dan diterima khusus oleh Prabowo, kakak beradik ini langsung mengganti pakaian kemeja yang dikenakannya berganti menjadi kaos merah bertuliskan “Saya Pilih Gerindra” di bagian belakang. Dan jika dinyatakan lolos seleksi, konon kakak beradik ini rencananya Ananda akan ditempatkan di daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat, sementara Moreno akan diplot di dapil Jawa Timur.

Bagi Prabowo Subianto, bergabungnya dua pembalap nasional itu, memiliki alasan tersendiri. Menurutnya, kedua anak muda ini merupakan pemuda yang telah mengabdi untuk bangsa dan negara tak kurang dari 15 tahun sebagai pembalap. Dalam arena balap itu, tentunya mereka harus berani mempertaruhkan jiwa raganya karena olahraga tersebut cukup berisiko. “Kami sangat senang, mereka berdua anak muda yang dinamis, kreatif, patriotik dan telah lama mengabdi pada bangsa dan negara,” ujar Prabowo saat menerima kedua pembalap ini di Kantor DPP, Jakarta.

Prabowo menegaskan bahwa partai yang didirikannya ini mewadahi pemuda dan pemudi bangsa untuk memberikan perubahan melalui jalur politik.

“Gerindra adalah partai penerus, dan kita buka jalan untuk anak-anak muda,” paparnya.

Pesohor lainnya dari kalangan artis, yang lebih dulu mendaftar sebagai bakal calon anggota legislatif, salah satunya adalah Irwansyah. Ia mendaftarkan diri sebagai bakal calon anggota DPR dari Partai Gerindra untuk dapil Banten III –yang meliputi Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan. Boleh jadi, aktivitas politik bintang sinetron dan film ini bukan kali pertamanya. Suami dari Zaskia Sungkar ini pernah mencalonkan diri sebagai calon Bupati Tangerang pada 2012 lalu, meski gagal dalam pencalonan.

 Irwansyah, mengaku punya beberapa alasan untuk memilih Partai Gerindra sebagai kendaraan politiknya. “Gerindra merupakan salah satu partai besar. Saya yakin Pak Prabowo bisa jadi presiden. Gerindra juga merupakan partai yang pantas memimpin Indonesia,” tutur Irwan.

Apabila lolos seleksi nanti, Irwansyah mengaku punya banyak pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan. Terlebih karena dirinya seorang artis, Irwansyah pun ingin terlebih dahulu memperbaiki seni dan kebudayaan. “Yang pasti, karena saya artis, seni dan budaya dulu yang saya beresin. Kalau pemilih sih targetnya pemula, kalau SMA kelas 3 kan juga pemilih pemula,” ujarnya.

Di wilayah DKI Jakarta sebagai pusara panggung politik nasional tak kalah ramainya. Setelah berhasil mengantarkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai Wakil Gubernur DKI, Partai Gerindra DKI Jakarta kian diserbu para bakal calon legislatif DPRD DKI. “Sekarang ini Gerindra lagi jadi magnet, apalagi di Jakarta. Ada imbas dari proses pencalonan gubernur DKI kemarin. Di mana Gerindra tidak membeda-bedakan dari mana asal orangnya, sehingga ini yang menjadi ketertarikan orang. Antusiasme masyarakat untuk jadi bakal caleg lewat Gerindra besar sekali,” ujar Muhammad Taufik, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra DKI Jakarta.

Menurutnya, setidaknya lebih dari 280 orang bakal calon yang mendaftar untuk bisa mendapat tiket ke DPRD di bawah bendera Gerindra. Sementara kursi yang diperebutkan di DPRD DKI sebanyak 106 kursi dari 6 wilayah. Sehingga ia dan timnya harus bekerja ekstra untuk menyeleksi bakal calon yang berasal dari tokoh masyarakat, agama, mantan pejabat hingga artis. Setidaknya, untuk bisa lolos sebagai calon legislatif, para bakal calon harus memiliki elektabilitas tinggi, kemampuan tinggi, dan pengetahuan tinggi. [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Maret 2013