Lebih Dekat Dengan Abdul Wachid : Menyuarakan Suara Petani

Semangat dan perjuangannya menyuarakan nasib para petani di meja parlemen tak pernah pudar. Meski kadang harus menelan kekecewaan karena suara lantangnya nyaris tak terdengar dilibas keriuhan suara partai penguasa. Melalui program ekonomi kerakyatan yang terus digelorakan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), ia bertekad untuk bisa melahirkan kebijakan hukum dan penganggaran yang pro-rakyat, khususnya kaum petani.

CALEG DPR-RI DAPIL JATENG 2 NO. URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL JATENG 2 NO. URUT 1

Diakuinya selama menjabat sebagai anggota DPR-RI ada banyak hal yang selama ini diperjuangkan Partai Gerindra belum bisa direalisasikan. Karena itulah Abdul Wachid kembali maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) di daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah 2. “Masih banyak ide gagasan program dan perjuangan Partai Gerindra yang belum terealisasi. Apalagi saat ini perwakilan partai kita di parlemen masih kecil, karena itu saya maju kembali,” tegas caleg nomor urut 1 dari dapil Jawa Tengah 2 yang meliputi Demak, Kudus dan Jepara ini.

Keterlibatan pria kelahiran, Jepara 12 Mei 1961 di panggung politik boleh dibilang baru lima tahun. Namun begitu, sepak terjangnya sebagai pejuang politisi tak diragukan lagi. Bahkan sejak diamanahi sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Jawa Tengah, pamor pria yang biasa disapa Wachid ini kian disegani. Wajar memang, sebelum bergelut di dunia politik, nama Wachid sudah dikenal oleh para politisi baik yang ada di pusat maupun Jawa Tengah. Pasalnya, pelopor sekaligus pendiri Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) ini kerap turun sebagai pelaku parlemen jalanan kala memperjuangkan nasib petani.

”Saya ini sebelumnya, hanyalah petani tebu yang terus berjuang soal nasib tebu dan gula nasional hingga harus turun ke jalananan,” ujar anggota Komisi IV yang menangani bidang pertanian, pertanahan, kehutanan dan kelautan ini.

Selain giat memperjuangkan nasib petani tebu, Wachid juga aktif di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).  Ini pula yang menjadi alasan Prabowo Subianto, Ketua Umum HKTI yang memintanya untuk menahkodai Partai Gerindra di Jawa Tengah 2008 silam. Diakuinya, Wachid yang kala itu masih merasa belum menguasai dunia perpolitikan merasa gamang. Namun berbeda dengan Prabowo yang meyakini bahwa dirinya mampu memimpin partai bentukannya di Jawa Tengah. ”Tapi saat itu, Pak Prabowo meyakinkan saya, bahwa saya layak memimpin Gerindra di Jawa Tengah,” ceritanya.

Tampilnya Wachid di pentas politik sempat dipandang sebelah mata oleh lawan politiknya. Namun, berkat semangat dan hubungan sesama jaringan yang kuat, ia tak gentar menghadapi medan politik yang penuh persaingan. Kepiawainnya menggalang massa dari berbagai kalangan, khususnya kaum petani dan sarungan, Wachid berhasil mengguncangkan peta politik Jawa Tengah. Kala itu, bersama almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Wachid berhasil mengumpulkan massa dalam sebuah kegiatan istigosah yang digelar di Jepara dan dihadiri dihadiri tokoh Nahdlatul Ulama (NU) kharismatik, Gus Dur beserta keluarganya. Termasuk ketika masa Pemilu 2009 lalu, Wachid berani menggelar kampanye di Simpang Lima Semarang –yang acap menjadi tolok ukur kebesaran dan popularitas partai di mata warga Jawa Tengah.

Sebagai panglima Partai Gerindra di Jawa Tengah, pada 2009 lalu, Wachid berhasil meraih 65 kursi DPRD kabupaten/kota, 9 kursi DPRD Provinsi dan 4 kursi DPR-RI. Kini, menghadapi Pemilu 2014, partai berlambang kepala burung garuda yang dipimpinnya itu ditargetkan meraih 25 kursi parlemen dari 10 dapil yang ada di Jawa Tengah.

”Tentu ini pekerjaan yang berat. Karena itu dibutuhkan kerja keras dari semua elemen partai, sehingga bisa mengusung Pak Prabowo Subianto menjadi capres tanpa koalisi,” tegasnya.

Lalu seperti apa yang dilakukan Ketua APTRI dalam mewujudkan target pencapaian yang dibebankannya itu. Di tengah kesibukannya sebagai anggota DPR-RI dan Ketua DPD Partai Gerindra Jawa Tengah, Wachid memaparkan panjang lebar Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bisa Anda ceritakan perkembangan Partai Gerindra Jawa Tengah saat ini?

Di 2009 lalu,Partai Gerindra Jawa Tengah dengan waktu persiapan yang sangat sempit berhasil mendirikan 35 DPC dan 573 PAC. Kini Jawa Tengah sudah memiliki struktural partai tingkat ranting sebanyak 86 ribu. Dimana masing-masing ranting memiliki kepengurusan sebanyak 17 orang dan sudah berseragam semua pengurusnya. Begitua juga dengan organisasi sayap partai Jawa Tengah boleh dibilang lebih kondusif di banding daerah lain bahkan ada yang sudah merambah hingga ke tingkat desa.

Selama empat tahun di bawah kepemimpinan saya, Alhamdulillah kondusif dan tidak ada gejolak. Kalaupun ada itu hanya selintasan saya dan saya anggap sebagai dinamika politik seperti masalah yang dihadapi Ketua DPC Kota Surakarta yang tersandung hukum, alhamdulillah sudah ada gantinya. Saat ini Partai Gerindra di Jawa Tengah menduduki urutan ketiga, setelah PDIP dan Golkar. Ini bukan kita yang menilai, tapi ini berdasarkan survey yang dilakukan oleh partai lain. Karena itu, semoga dengan kekuatan ini, target 25 kursi yang dibebankan kepada Jawa Tengah bisa terlampaui. Tentu saja mau tidak mau kita harus kerja ektstra keras kalau Partai Gerindra mau menang dan mengusung Pak Prabowo sebagai capres tanpa koalisi.

Apa yang Anda lakukan menghadapi Pemilu 2014?

Untuk menghadapi Pemilu 2014, kami sudah siap dengan dua orang saksi per TPS. Kita juga sudah menyiapkan tenaga TOT saksi yang siap diterjunkan ke semua wilayah. Para caleg tingkat propinsi dan kabupaten/kota sudah kita kumpulkan termasuk caleg DPR-RI semuanya sudah mengikuti diklat yang diadakan beberapa waktu lalu. Meski di tengah kesibukan saya sebagai dewan, sengaja saya mengikuti sampai akhir agar bisa bercengkrama bersama para caleg dari 10 dapil yang ada di Jawa Tengah.

Lantas, apa yang melatarbelakangi Anda maju kembali sebagai caleg?

Sejak menjabat sebagai anggota dewan tahun 2009, sepertinya masih banyak perjuangan kami yang belum terealisasi. Apalagi saat ini perwakilan partai kita di parlemen masih kecil. Jadi banyak ide gagasan program Partai Gerindra yang belum tersalurkan.

Berapa target yang harus diraih?

Jawa Tengah yang memiliki 10 dapil itu ditargetkan oleh partai agar bisa meraih 25 kursi.  Sementara target untuk dapil saya sendiri setidaknya harus mendapatkan dua kursi.Tentunya, target ini diharapkan bisa terealisasi sehingga bisa mengantarkan Pak Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada pilpres 2014 tanpa koalisi dengan partai lain.

Tentunya ada perbedaan antara Pemilu 2009 dengan 2014?

Kondisi politik di Pemilu 2009 dan 2014 tentu sangat berbeda sekali. Saya melihat dari seluruh anggota dewan yang ada di DPR RI saat ini paling banyakhanya 30 persen saja yang akan terpilih kembali di 2014. Sama halnya dengan yang terjadi pada 2009 lalu, dimana banyak anggota dewan yang begitu dilantik tidak terlihat hasil kerja nyatanya. Penyusutan jumlah partai politik pun memainkan peranan penting dalam pemilu mendatang. Pasalnya, masyarakat saat ini sudah bisa menilai caleg mana yang sudah memiliki hasil kerja nyata dan mana yang hanya mengandalkan popularitas saja.

Disamping itu, pada 2009 lalu, praktek jual beli suara masih bisa dilakukan karena minimnya pengawasan di tingkat TPS hingga PPS. Namun saya rasa untuk 2014 mendatang hal tersebut mustahil untuk dilakukan karena masing-masing partai memiliki 24 pasang mata saksi yang siap melotot di tiap TPS, berbeda dengan tahun 2009 yang hanya memiliki sedikit sekali saksi di TPS. Nah, dalam waktu yang sudah semakin sempit ini, saya selalu menyempatkan diri untuk turun bersosialiasi di dapil saya, sehingga mereka bisa mengenal saya lebih dekat.

Apa visi dan misi Anda sebagai caleg?

Tentu saja visi dan misi saya tak lepas dari apa yang selama ini menjadi perjuangan Partai Gerindra yang tertuang dalam 6 Program Aksi Transformasi Bangsa Partau Gerindra. Bahkan saya beranggapan para caleg Gerindra sebenarnya lebih dimudahkan dalam menyampaikan visi dan misinya ketika turun ke konstituen. Tanpa harus pusing-pusing memikirkan apa yang bakal dikerjakan, caleg tinggal  baca dan pahami lalu sampaikan saja apa yang ada di 6 Program Aksi tersebut dengan bahasanya masing-masing.

Karena latar belakang saya dari pertanian, saya ingin memperjuangkan apa yang selama ini digembar-gemborkan pemerintah soal swasembada pangan berkelanjutan. Dimana selama ini pemerintah hanya fokus pada beras, jagung, kedelai, gula, dan daging. Padahal ada sumber pangan yang tak kalah dengan yang saya sebut tadi yakni singkong. Untuk itu saya, akan memperjuangkan singkong, karena sebagai negara penghasil singkong terbesar ketiga didunia, hingga saat ini para petani singkong tidak pernah mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah. Singkong ini, disamping bisa dimakan juga bisa dijadikan bahan dasar untuk bioethanol. Bahan bakar alternatif yang harus kita kembangkan lagi.

Saya juga akan mengembangkan singkong untuk bahan pengganti gandum. Dimana hingga saat ini negara masih mengimpor gandum sebanyak 10 juta ton per tahun. Jika gandum bisa diganti dengan singkong, bisa dibayangkan berapa pemasukan yang bisa negara dapatkan. Dan tentunya akan menyejahterakan petani kita sendiri. Sehingga kita bisa berdiri di atas kaki sendiri, menjadi bangsa mandiri yang tidak tergantung pada bangsa lain.

Disamping itu, cita-cita saya di 2014 mendatang adalah menaikan anggaran pertanian di APBN yang kini hanya 1 persen.Dengan cara ini saya yakin bisa menyejahterakan dan memajukan sektor pertanian. Bagaimana mau swasebada pangan kalau anggarannya kecil sekali. Penambahan anggaran juga dapat digunakan untuk perluasan area pertanian yang setiap tahun selalu tergerus untuk lahan industri atau perumahan. Yang jelas tujuan saya di 2014 hanya dua yaitu memenangkan Gerindra di Pemilu dan Prabowo Subianto sebagai Presiden.

Kenapa Anda kembali memilih dapil Jateng 2?

Saya kembali memilih dapil lama karena disamping saya lahir, dibesarkan dan tinggal di daerah dapil Jateng 2,saat ini saya sebagai Ketua DPD Jawa Tengah sebenarnya bisa saja dan siap ditempatkan di dapil mana saja. Karena ada target yang harus diraih, maka saya yang dulu.  Dapil Jateng 2 itu terdiri dari wilayah yang memiliki lahan pertanian yang luas. Dan memang, saya terpanggil untuk memajukan pertanian di daerah tersebut.

Apa saja yang sudah Anda lakukan di dapil?

Sebenarnya, saya sudah melakukan sosialisasi di dapil saya sejak empat tahun lalu. Sejak saya menjabat anggota DPR, setiap hari Kamis sore atau Jumat pagi, saya selalu pulang ke dapil saya untuk mengunjungi dan bersentuhan langsung dengan para konstituen saya. Beragam kegiatan sosial dan pengembangan pertanian serta perikanan sudah saya lakukan di dapil saya. Di daerah Jawa Tengah itu terdapat daerah pertanian yang luas, disamping itu ada dua buah rawa tersebar di Kudus dan Pati yang sejak pasca reformasi kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal dulu keduanya menjadi sumber pengairan bagi para petani di kedua daerah itu. Nah, jika nanti Pak Prabowo menjadi presiden, saya akan ajak beliau untuk mengunjungi daerah tersebut agar bisa mengembalikan masa keemasan dulu yang kini terbengkalai dan belum tergarap dengan benar.

Seperti apa karakter pemilih di dapil Anda?

Konstituen di dapil saya mayoritas adalah masyarakat yang religius dan petani.Kalau karakteristik pemilih pada dasarnya sama saja dengan daerah lain. Disamping ada yang idealis juga pragmatis. Dengan besarnya jumlah pemilih di dapil saya, tentu praktek jual beli suara, politik traksaksional itu sangat memungkinkan terjadi. Semua itu berawal dari kebiasan masyarakat dalam pelaksanaan pilkades (pemilihan kepala desa) dan berlanjut ke pilkada bupati/walikota dan gubernur. Bahkan boleh jadi biaya ongkos politik pilkades di suatu daerah bisa mengalahkan biaya pileg. Walaupun tidak terang-terangan namun saya yakin masih ada beberapa daerah yang masih melakukan hal tersebut. Untuk itu saya selalu melakukan komunikasi intensif dengan dua kalangan itu untuk bisa mengetahui hal-hal apa saja yang perlu dilakukan.

Bagaimana Anda mengantisipasi praktek semacam itu?

Uang bukanlah segala, yang terpenting adalah kerja nyata. Kita turun ke bawah, menyapa rakyat, menyampaikan program aksi serta memberikan hasil nyata. Pada 2009 lalu saya telah membuktikan hal tersebut. Masyarakat yang sadar akan politik pasti akan memahami dan lebih mempercayai caleg yang baik sebelum maupun sudah terpilih tetap berada bersama rakyat.

Apa harapan dan pesan Anda kepada seluruh kader dalam menghadapi 2014?

Menurut saya kader-kader saat masih banyak yang merasa jika mereka terpilih sebagai dewan atas hasil usaha mereka sendiri, itu berlaku baik yang di DPR pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Sehingga banyak yang melupakan unsur kepartaian mereka. Mustinya, mereka harus ingat perjuangan partai selama ini. Banyak yang sudah mulai tidak peduli dengan perjuangan partai. Hal inilah yang harus kita hilangkan. Untuk itu kita terus menguatkan kembali unsur-unsur kepartaian dan mengembalikan nilai-nilai dasar perjuangan partai.

Karena itu, kepada seluruh caleg dari Jawa Tengah, Anda jangan hanya berjuang semata-mata agar terpilih menjadi wakil rakyat. Anda harus melakukan kerja nyata dan lakukan aksi sosial pada masyarakat. Sambil mensosialisasikan visi dan misi partai serta menjabarkan program kerja Anda pada masyarakat. Boleh jadi, hampir sebagian besar masyarakat kita masih belum mengerti mengenai hal-hal tadi. Selain itu jangan hanya mengandalkan tim sukses, namun kita juga harus bisa mengajak para struktural, dari DPD, DPC, PAC hingga Ranting. Dan tentu saja silaturahmi dengan para tokoh masyarakat dan agama harus terus kita lakukan. [G]

Lebih Dekat Dengan Prof Suhardi : Mengantarkan Capres Tanpa Koalisi

Kondisi Indonesia semakin memprihatinkan. Bukan saja karena masyarakatnya masih hidup di bawah garis kemiskinan, tapi negeri ini terus dilanda berbagai persoalan sosial.Bencana alam pun datang silih berganti. Kelangsungan dunia politik pun yang kian menambah beban sosial dalam masyarakat. “Semua itu tidak lepas dari perilaku para pemimpin negeri ini. Juga dari hasil pemilu dan termasuk mereka yang memilih golput,” kata Ketua Umum DPP Partai Gerakan Indonesia Raya, Prof Dr Ir Suhardi, M.Sc.

CALEG DPR-RI DAPIL DIY NO. URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL DIY NO. URUT 1

Keresahan itu pula yang membuat pria kelahiran Klaten, 13 Agustus 1952 ini bertekad maju sebagai salah satu calon anggota legislatif dari Partai Gerindra dari dapil Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). ”Masyarakat harus sadar akan pentingnya pendidikan politik dan proses berpikir, agar tidak salah menilai sosok seorang pemimpin yang dipilihnya. Jangan hanya karena dijanjikan sesuatu, lantas memilih seseorang yang nyatanya tak bisa berbuat apa-apa. Masyarakat harus betul-betul paham bahwa nasib bangsa ini berada di tangan mereka dengan cara-cara demokratis,” tegas pakar kehutanan terkenal dengan sebutan profesor telo dan sumpah gandumnya itu.

Meski dunia politik belum lama digelutinya, ia mengaku sedih melihat kondisi politik Indonesia yang tidak lagi menjunjung tinggi asas-asas demokrasi. Ia mengaku agak sulit memahami bagaimana bisa suara rakyat begitu mudahnya dibeli dengan uang.

”Saya terus mengajarkan kepada mereka bahwa pemimpin yang dipercaya, amanah, kopentensi harus diutamakan. Bukan uang yang nilainya sangat kecil. Tapi kondisi di lapangan, seperti masyarakat miskin bisa saja tertarik hanya dengan uang yang sedikit itu,” ujar alumnus College of Forestry, University of the Philippines Los Banos (UPLB), Philipina ini.

Keterlibatannya di panggung politik berawal dari keprihatian dan keresahannya saat menjadi bagian dari pemerintahan itu sendiri. Berbagai pengalaman baik saat di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) maupun di Dewan Ketahanan Pangan Nasional membuatnya frustasi. Akhirnya awal 2007, bersama beberapa rekannya, ia mencoba mendirikan partai politik baru bernama Partai Petani dan Nelayan. Kala itu, Ketua Umum HKTI, Prabowo Subianto masih tercatat anggota Partai Golkar pun diajaknya.

Beberapa waktu kemudian, ia dipanggil Prabowo Subianto untuk membahas rencana pembentukan partai baru. Setelah melewati diskusi panjang, akhirnya Prabowo ikut bergabung, meski masih tetap dibalik layar dan mengganti nama partai menjadi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). ”Saya pun ditunjuk sebagai Ketua Umumnya. Alhamdulillah, hanya dalam waktu dua minggu menjelang penutupan verifikasi partai, Gerindra akhirnya lolos sebagai peserta Pemilu 2009. Sekarang Gerindra pun menjadi peserta pemilu,” tutur mantan salah satu dirjen di Departemen Kehutanan yang rela pensiun dini sebagai pegawai negeri ini.

Kini selain sibuk menahkodai partai berlambang kepala burung garuda, ayah tiga anak ini maju sebagai caleg. Majunya sang Ketua Umum ini, bukan tanpa alasan. Ini didasari bentuk tanggungjawabnyasebagai seorang kader partai politik yang bercita-cita mengantarkan Indonesia menjadi negara yang bermatabat dan mandiri.

”Saya berharap Gerindra bisa maksimal dalam mewujudkan impiannya,” ujarnya.

Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda menemuinya di tengah padatnya jadwal pertemuan dengan beberapa petinggi partai. Lelaki yang selalu tampil sederhana dan bersahaja ini pun memaparkan seputar perkembangan Gerindra dan berbagai langkah yang dilakukannya menghadapi pemilu 2014 nanti. Berikut petikan wawancaranya:

Bisa Anda jelaskan seperti apa perkembangan Gerindra?

Sangat baik, ukurannya jumlah pengurus akan terus kita kembangkan yang tadinya hanya 17 orang. Disamping itu, banyak orang yang mau menjadi pengurus.Kalau dulu jangan kan cari caleg, cari pengurus saja susahnya luar biasa. Dulu cari caleg lima orang dapat dua itu sudah untung, walau masih belum dikatakan berkualitas. Sekarang pengurus sudah terbentuk hingga level paling bawah sekalipun. Bahkan untuk di DKI saja, kita butuh tujuh caleg, yang mendaftar 274 orang. Ini sangat berbeda dengan tahun 2009.Kini posisi kita berbeda, dulu kita tidak punya gubernur, walikota, bupati, sekarang sudah ada di beberapa daerah.

Secara menyeluruh, posisi Gerindra sangat baik, kalau tidak di peringkat dua mungkin satu, walaupun seringkali dikecilkan dalam setiap survey oleh partai-partai besar. Tapi biarlah, yang penting hasil dari kaderisasi kita maksimal dan betul-betul menciptakan kader militan.

Kenapa akhirnya Anda ikut maju sebagai caleg?

Mau tidak mau partai ini harus mendapat kursi sebanyak mungkin. Sehingga semua kader yang punya kepercayaan diri, keyakinan dan siap untuk mendapatkan kursi, harus berjuang untuk mendapatkan kursi yang memadai agar bisa mengantarkan capres tanpa koalisi.

Majunya Anda atas perintah partai atau kemauan sendiri?

Keinginan sendiri, sebagai bentuk tugas dan tanggungjawab. Meski memang, para kader mempertanyakan kenapa saya maju?Kalau kalah nanti bagaimana?. Katanya, nama besar partai akan malu. Itu kata mereka, tapi hitungan saya itu bisa dilakukan. Perhitungan lainnya adalah jaringan yang selama ini saya bangun di berbagai organisasi.Bisa saja mereka memilih karena jaringan itu, atau karena partai saya, atau karena keluarga saya.  Nah, kalau saya tidak maju, jangan-jangan mereka tidak memilih Gerindra. Ini berarti peluang Gerindra berkurang. Tentu saja, ini akan mengorbankan segala hal, mulai dari finansial, waktu dan tenaga baik untuk keluarga maupun partai harus dibagi-bagi. Jadi ini pun termasuk perjuangan untuk mendapatkan kursi sebanyak-sebanyaknya.

Kenapa Anda memilih dapil DIY?

Saya berada di Jogja sejak 1971.  Sebagai dosen, lalu dipercaya menduduki jabatan mulai dari sekretaris jurusan, dekan hingga sebagai biro perencanaan UGM. Begitu pula di luar kampus, saya sebagai Ketua HKTI dan sejumlah organisasi lainnya yang memiliki basis massa yang tidak kecil. Di samping itu, saya memiliki prestasi yang oleh banyak kalangan dinilai bagus seperti cemara udang yang bisa mengurai tsunami, abrasi. Kemudian konservasi pantai cemplon, hutan wanagama yang terkenal di seluruh dunia. Setidaknya, saya dianggap sebagian hidup saya untuk membangun hutan itu.

Belum lagi sumpah gandum saya sebagai professor telo yang sangat dikenal publik negeri ini. Sehingga saya optimis bisa meraih kursi, meski saingannya berat-berat. Setidaknya di dapil ini ada Hediati Prabowo atau yang dikenal Mba Titi dari Golkar, ada pula Roy Suryo, mantan Bupati Idham Samawi, dan sejumlah incumbent lainnya dari PKS, PAN, Demokrat dan PKB. Memang perjuangan saya luar biasa beratnya, tapi saya sudah melakukan sosialisasi sejak dua tahun lalu. Bahkan saya sudah pernah mengumpulkan para saksi di Gunung Kidul, pelatihan-pelatihan saksi, pelatihan kader jauh sebelumnya. Di samping itu pendekatan teman-teman yang ada di kampus, saya kira masih memiliki kekuatan tersendiri karena saya pernah menjadi bagian dari mereka.

Selama dua tahun sosialisasi, bagaimana respon mereka?

Cukup bagus, nyatanya mereka beramai-ramai mendaftarkan diri menjadi pemilih, menjadi saksi. Kita sudah memiliki daftar pemilih dan saksi dan ini merata tersebar di selruuh wilayah Jogja, sehingga peluang saya tidak terlalu kecil meski berat.

Daerah mana saja yang menjadi sasaran Anda dan targetnya berapa?

Kalau boleh diurut Gunung Kidul, Sleman, Kulonprogo, baru Kota Yogya. Dan untuk bisa meraih kursi, mau tak mau harus bisa meraih kurang dari200 ribu suara.

Program apa yang Anda tawarkan?

Sebetulnya tidak susah.Setiap sosialisasi, saya sampaikan 8 Program Aksi yang kemudian di-improve menjadi 6 Program Aksi.Ini menjadi materi kampanye yang paling utama. Menjelaskan kepada rakyat bahwa dengan 6 program itu,Indonesia bakal makmur dan bermartabat. Saya juga tunjukkan apa yang sudah saya lakukan, dan akan saya lakukan. Bagaimana membangun ekonomi dengan meningkatkan pendapatan masyarakat, sehingga bisa hidup lebih baik. Mulai dari pangan mandiri, ekonomi yang maju, ekonomi kerakyatan dari kekuatan-kekuatan pangan rakyat, energi, ternak, minyak kemiri, dan sebagainya.

Apa visi dan misi Anda?

Pasti akan melakukan sosialisasi 6 Program Aksi Partai Gerindra demi terwujudnya Indonesia yang makmur dan bermartabat. Sedangkan misi saya,membuktikan soal sumpah gandum. Bahwa saya baru akan makan gandum  jika bangsa ini sudah sejahtera, minimal sekaya kerajaan Majapahit waktu itu. Dimana bangsa ini pernah kaya raya seperti yang dialami Majapahit. Kalau hal itu terwujud maka saya baru akan buka puasa makan gandum.

Selama ini kendala yang dihadapi?

Kendala yang paling berarti tentu saja finansial. Saya bukan orang kaya raya, walaupun bukan orang miskin. Tapi kenyataan yang kita hadapi adalah orang-orang pragmatis. Sementara saya sendiri dan Gerindra tengah melawan orang-orang berwatak pragmatisme. Selain kendala finansial yang terbatas, jarak yang sangat luas, dari titik satu ke titik berikutnya bisa memerlukan waktu 6 jam. Tapi ini harus kita lakukan.

Lalu apa langkah antisipasi Anda?

Saya terus mengajarkan kepada bahwa pemimpin yan amanah, kopentensi inilahyang diutamakan.Bukan uang yang mungkin nilainya sangat kecil. Tapi kondisi di lapangan seperti masyarakat miskin saat ini, bisa saja tertarik hanya dengan yang sedikit itu. Tapi saya yakin dengan pendidikan politik yang benar, akan terjadi pembelajaran politik bagi para pemilih.Dan bangsa Indonesia akan lebih dewasa.Itulah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas. Yang terpenting adalah supaya mereka lebih terdidik secara politik dan ekonomi. Selama ini yang sampai ke pada mereka hanya mengharap lebih sedikit, tapi lupa dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Mendapat sesuatu yang sedikit lalu mereka memilih, ini yang berbahaya.

Selain masih ada yang pragmatis, ada dari kalangan terdidik tapi mereka memilih golput. Ini juga berbahaya,  karena golput di Jogja mencapai 50 persen. Golput ditimbulkan akibat ketidakpercayaan mereka kepada pemerintah dan pemimpin hasil pemilu. Sejatinya,ini tugas pemerintah dan partai politik untuk melakukan pendidikan politik hingga ke bawah.  Makanya Gerindra lahir untuk itu, kalau tak diatasi maka negeri ini tidak akan maju. Jika mereka golput, dan pemimpin yang  terpilih tidak bagus maka mereka ikut bertangungjawab. Bahkan saya ultimatum kepada mereka, negara ini bisa hancur jika mereka golput. Orang-orang yang golput itu juga pantas disebut pengecut.

Apa perbedaan antara pemilu lalu dengan yang akan Anda hadapi nanti?

Dulu,murni suarapribadi 24 ribu, ditambah suara partai menjadi 68 ribu.Tapi kenapa malah menjadi 60 ribu saja, inilah yang namanya permainan. Memang itu pengalaman pertama dengan persiapannya serba dadakan.Lagi pula yang tandem saya satu orang untuk tingkat provinsi dan dua orang untuk tingkat kabupaten kota. Saat ini yang tandem dengan saya di provinsi sekitar 15 orang caleg dan DPRD kabupaten/kota sekitar 30 orang bahkan bisa nambah lagi. Sekarang sudah ada pengalaman, jaringan lebih kuat, waktu lebih lama, sehingga peluangnya juga besar meski persaingan luar biasa. Saya tetap semangat dan optimis.

Apa harapan dan pesan Anda untuk para kader?

Minimal bisa meraih 20 persen suara agar pada saat mencalonkan Pak Prabowo menjadi presiden tidak perlu berkoalisi. Bahkan saya sendiri berharap di atas itu, sehingga Gerindra bisa maksimal mewujudkan impiannya. Dengan begituprogram kita bisa berjalan tanpa gangguan. Karena kebijakan harus didukung parlemen yang kuat, kalau lemah percuma, akan diganggu oleh kekuatan lain. Jika ini berhasil, saya akan buka puasa atas sumpah gandum. Pesan saya, mari kita berjuang, tulus dan ikhlas. Karena waktu sudah sempit untuk meraih kemenangan ini, kita tidak usah berpikir lain-lain, selain untuk menang.Bangsa ini harus tampil  bermartabat, sejahtera dan mandiri. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Suhardi maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) DI Yogyakarta.

Lebih Dekat Dengan Oo Sutisna : Berjuang Demi Petani

Sebagai seorang petani, ia turut merasakan seperti apa nasib kaum petani selama ini. Saban hari, ia bersentuhan dengan petani gurem yang kondisinya memprihatinkan. Bahwa negeri agraris yang subur seperti Indonesia ini petaninya kian terpinggir adalah sebuah keniscayaan. Dari sanalah, ia paham betul liku-liku perjuangan para petani dalam memenuhi kebutuhan hidup di tengah kebijakan yang sama sekali belum memihak petani.

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 9 NO URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 9 NO URUT 1

Memang, sebagai petani, Oo Sutisna, SH, bukan tergolong petani kelas gurem. Namun sebagai orang yang hampir setiap hari menghabiskan waktu di pematang sawah, ia resah melihat nasib petani yang tak kunjung berubah. Apalagi selama ini belum ada wakil rakyat di Senayan yang benar-benar berangkat dari petani atau nelayan. Tak heran bila kebijakan dunia pertanian tak pernah menyentuh kepentingan kaum petani. Karenanya itu, sejak 2008, pria kelahiran Sumedang, 12 Maret 1952 ini bertekad terjun ke jalur politik praktis sebagai upaya merubah nasib petani yang masih tertindas.

“Sebagai rakyat, sampai hari ini petani masih saja terjerat kemiskinan. Tidak saja dirundung persoalan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tapi kebijakan-kebijakan penguasa yang tak memihak bahkan kerap menindas. Tak hanya itu, Indonesia pun sudah menjadi pasar impor beras,” ungkap petani yang dipercaya  Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, untuk memimpin DPD Partai Gerindra, Provinsi Jawa Barat.

Ia mengakui, tampil di pentas politik bukan sekadar latah atau terbawa arus eforia politik sesaat. Diakui, keterlibatannya di Partai Gerindra, karena ia aktif di Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Ia  sudah lama mengenal sosok Prabowo Subianto jauh sebelum partai berlambang kepala burung garuda lahir. Tak heran bila,saat Prabowo Subiantomemintanya memimpin DPD Partai Gerindra di Jawa Barat, ia langsung menyanggupinya. “Meski saya belum pernah menjadi ketua parpol di tingkat kecamatan sekalipun, tapi karena itu amanat dari Pak Prabowo, maka saya siap mengemban,” ujar Ketua KTNA Jawa Barat ini.

Memang, Oo Sutisna mengenal Prabowo sejak masih aktif di Forum Komunikasi Tani Nelayan Karya, sebuah organisasi bentukan Partai Golkar. Ia tercatat sebagai orang yang mengusung Prabowo pada saat Konvensi Partai Golkar pada 2004. Di tahun yang sama, ia pun berada di barisan petani yang memperjuangkan Prabowo untuk memimpin HKTI. Kini, bersama petani dan segenap kader Partai Gerindra Jawa Barat, ia tengah berjuang untuk meraih suara sebanyak-banyaknya di Pemilu Legislatif 2014 untuk bisa mengusung mantan Danjen Kopassus sebagai calon presiden tanpa koalisi.

“Beliau tahu apa yang rakyat mau. Beliau pemimpin yang mau memikirkan dan menangis dengan apa yang dirasakan petani,” papar calon anggota legislatif (caleg) DPR-RI nomor urut satu dari Daerah Pemilihan (dapil) Jawa Barat 9 ini.

Menurutnya, secara politis keberadaan Jawa Barat dalam percaturan politik nasional sangatlah penting. Terlebih propinsi Jawa Barat penduduknya terbesar. Makanya, tak heran bila di Pemilu 2014, 9 April nanti, ia ditugasi untuk meraih 27 kursi di parlemen. Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah, meski pada Pemilu 2009 lalu ia berhasil mengantarkan empat kadernya duduk di Senayan. Lalu seperti apa langkah-langkah yang dilakukan ayah enam orang anak ini dalam mengemban tugas itu? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, yang menemuinya di tempat tinggalnya yang asri di kawasan Cibiru, Kota Bandung beberapa waktu lalu, ia memaparkan. Berikut petikan wawancaranya:

Bisa Anda ceritakan bagaimana perkembangan Gerindra di Jawa Barat?

Partai Gerindra di Jawa Barat relatif stabil. Jujur saja walaupun ada satu dua DPC yang kurang pergerakannya kita sedang perbaiki. Saya berharap kepada pusat untuk berikan kepercayaan kepada kami yang ada di DPD untuk membina dan mengembangkan Gerindra di wilayah ini. Kita tidak mungkin bunuh diri, kita ingin menang. Pada Pemilu 2009 kemarin mengantar delapan dewan di provinsi dan empat di pusat. Dengan hasil itu Partai Gerindra Jawa Barat berada di posisi kelima. Kita berharap dengan momen terbaik 2014, kita bisa meningkat dan Gerindra menang, Prabowo Presiden.

Kaitannya kegagalan dapil Jabar 9 waktu itu kita akui itu semua tak terlepas dari keteledoran partai kita. Kejadian itu menjadi tamparan buat partai dan Pak Prabowo selaku Pembina. Tapi syukur Alhamdulillah kita bisa melewati rintangan itu meski hanya bisa mengirimkan enam dari delapan yang tersedia. Saya mengapresiasi dan hormat atas kinerja tim advokasi yang sudah menyelamatkan dapil Jabar  9. Untuk itu kita harus kerja ekstra keras untuk merebut kursi di dapil ini. Walaupun hanya enam caleg, toh di DPRD provinsi ada sepuluh orang dan kabupaten penuh. Inilah modal dasar kita untuk memperjuangkan sekuat tenaga.

Sebagai Ketua DPD sekaligus caleg, apa saja yang sudah Anda lakukan menghadapi Pemilu 2014?

Kita baru saja pulang dari diklat di Bogor yang diadakan oleh DPP. Tapi sebetulnya, apa yang telah kita lakukan dalam rangka pembekalan untuk caleg kabupaten dan kota se Jawa Barat tidak jauh berbeda. Jika dulu kita menargetkan setiap TPS ada 10 orang kader yang masing-masing kader harus mampu membawa 10 pemilih sehingga diperoleh 100 suara. Namun ketika di Jakarta ada perubahan menjadi 13 pemilih per TPS, sehingga diharapkan akan ada 130 suara.

Sebelumnya, kami pun mengadakan pertemuan sesama caleg tingkat DPR, DPRD provinsi dan kabupaten/kota Jawa Barat dengan para struktur partai mulai dari daerah hingga ranting. Dimana dalam pertemuan itu kita menekankan bahwa Pemilu 2014 adalah momen untuk merebut kekuasaan sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena itu, para caleg harus sampai ke akar rumput hingga ke tiap TPS, sehingga caleg mengetahui peta kekuatan yang ada. Untuk itu, dibutuhkan etos kerja dari para caleg itu sendiri bersama dengan pengurus dari tingkat ranting, cabang hingga daerah turun langsung. Yang penting jangan sombong jadi caleg. Yang sombong itu harusnya pemilih, bagaimana biar mereka mau memilih kita, simpati ke kita.

Yang tak kalah penting adalah saat ini kita terus melakukan tugas kepartaian, yakni memberi pemahaman politik bagi masyarakat. Sejauhmana pemahaman dan kepedulian masyarakat tentang kondisi negara dan bangsa. Kalau kita mendengar pidato Pak Prabowo dalam upayanya mengubah Indonesia ke arah yang lebih baik. Boleh jadi apa yang dikatakan oleh Pak Prabowo sangat irasional di tengah kondisi negara yang seperti ini. Nah, tugas kita sebagai caleg adalah menterjemahkan dengan bahasa masyarakat awam seperti petani, nelayan dan penduduk desa. Seperti misalnya buah apa yang tidak impor, padahal buah apa sih yang tidak bisa ditanam di negeri ini. Mungkin ini yang harus disampaikan oleh caleg kepada masyarakat. Karena tidak semua dari mereka tidak baca Koran, tidak lihat televisi. Jadi sebisa mungkin ini yang harus disampaikan caleg kepada masyarakat.

Lalu bagaimana dengan wakil Jawa Barat yang ada di parlemen?

Kalau saya harus ngomong, meski dekat dengan masyarakat, tapi kurang dekat dengan struktur partai. Mustinya, sekali-kali mereka menginjakkan kakinya ke sekretariat DPD, DPC atau PAC, sehingga mereka tahu perkembangan yang ada dan kita pun mengetahui apa saja yang sudah dilakukan mereka. Jujur saja selama ini belum maksimal, memang itu hak mereka, tapi perjuangan partai itu bukan sekadar perjuangan mereka saja, tapi menjadi perjuangan segenap kader partai secara bersama. Jangan sampai yang tahu hanya mereka sendiri. Karena mereka berangkat dari Partai Gerindra bukan sekonyong-konyong begitu saja.

Kendala-kendala apa saja yang dihadapi di lapangan?

Harus disadari bahwa negeri ini terdiri dari beberapa suku bangsa, agama, latar belakang pendidikan, tingkat ekonomi yang berbeda-beda. Karena itu, kita harus menggunakan berbagai cara sendiri dalam menghadapi masing-masing kelompok tadi. Di samping itu, popularitas partai ini belum sebanding dengan popularitas Pak Prabowo. Ini yang perlu kita dongkrak. Saya punya ambisi bahwa kalau untuk mendukung Pak Prabowo, di Jawa Barat ini pasti sangat kuat. Beliau pemimpin yang tegas, di kalangan militer Jawa Barat masih disegani, sosok orangtuanya masih kental.

Yang mungkin harus dipikirkan adalah bagaimana menyeimbangkan Pak Prabowo dengan Gerindra. Bagaimana orang-orang yang sebelumnya tidak mau ambil bagian dalam pemilu mau memilih Pak Prabowo. Dan ketika mereka tertarik dengan Prabowo, maka kita katakan kepada mereka, bahwa mau tidak mau untuk bisa mengusung Prabowo,  harus memilih Partai Gerindra. Dan kita butuh 20 persen suara untuk bisa mengusungnya. Bahkan kalau bisa bukan sekadar 20 persen tapi harus lebih,karena dengan demikian kelak parlemen lebih kuat.

Apa latar belakang Anda maju sebagai caleg?

Perlu dimengerti bahwa faktor ketokohan di Jawa Barat ini masih kuat. Jujur saja sebelum memutuskan untuk maju, saya tanyakan ke pada teman-teman DPD apakah saya harus maju ke Jakarta, Provinsi atau diam saja mengurus partai. Akhirnya mereka menginginkan saya maju ke Jakarta. Saya berada di partai ini bukan semata-mata untuk bisa menjadi anggota dewan, tapi saya melihat bahwa bangsa ini akan jauh lebih baik di bawah kepemimpinan Pak Prabowo. Dalam setiap pidatonya, Pak Prabowo selalu mengatakan bahwa ia tidak mau kader-kader yang duduk di dewan nanti yang berperilaku licik, maling, dan korup. Betapa terhormatnya pernyataan itu, dan akhirnya saya bersedia untuk maju sebagai caleg DPR dari Jabar 9. Memang sebagai caleg harus banyak duit untuk operasional di lapangan. Saya tidak suka menghambur-hamburkan hal itu, tapi saya mengajak kepada mereka bahwa apa yang kita lakukan harus bisa memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara ini. Semua orang tahu saya berangkat dari petani.

Dan luar biasa, Pak Prabowo masih mempertahankan orang-orang seperti saya yang berangkat dari komunitas petani. Inilah perjuangan kita bersama para petani dalam mewujudkan kedaulatan pangan sesuai dengan 6 Program Aksi Partai Gerindra. Dan kalaupun Gerindra masih sulit dipasarkan ke masyarakat, insya Allah nama besar Pak Prabowo lebih mudah diterima di masyarakat. Nah, kalau mereka menginginkan Pak Prabowo menjadi pemimpin negara, maka mau tidak mau Gerindra harus menang terlebih dahulu minimal 20 persen. Untuk itu, kita mendorong masyarakat bahwa satu-satunya jalan, ya Partai Gerindra yang harus dicoblos.

 Apa visi dan misi Anda sebagai caleg?

Visi dan misi saya sesuai dengan visi dan misi partai. Misi kita ingin berbuat, mengabdi ke masyarakat dengan sisa umur yang ada. Sepanjang hidup ini apa yang bisa kita baktikan kepada masyarakat bangsa dan negara. Adanya kedaulatan pangan sehingga masyarakat tidak susah makan. Kepastian hukum, terutama terhadap perlakuan hukum terhadap petinggi negara.  Insya Allah, Pak Prabowo akan mampu melaksanakan janjinya yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat. Pak Prabowo kan sudah jenderal, sudah kaya, ngapain coba memimpin partai? Tapi dari situlah kita mengetahui bahwa rasa nasionalisme dan keberpihakannya kepada rakyat kecil melebihi semuanya.

Kenapa Anda memilih dapil Jabar 9?

Saya memilih dapil Jabar 9, karena saya dilahirkan, dibesarkan dan punya usaha di Kabupaten Sumedang yang masuk ke dapil Jabar 9 selain Kabupaten Majalengka dan Subang. Selain itu masyarakat Sumedang, Majalengka dan Subang memiliki kesamaan jalan hidup, sebagai petani dan nelayan. Di Jawa Barat, saya masih dianggap tokoh tani. Saya pun orang yang dipercaya sebagai Ketua KTNA Jabar. Tahun 2009 dulu saya belum berhasil, karena saya memiliki basis besar di sana, maka saya dikembalikan ke dapil ini. Dengan anggapan bahwa tingkat kesulitan yang dihadapi tidak terlalu berat.

Dari tiga kabupaten itu, daerah mana yang jadi fokus Anda garap?

Kita memiliki daerah unggulan sebagai basis suara yakni Kabupaten Subang dan Sumedang. Yang pasti, di dapil Jabar 9 itu ada 82 kecamatan yang terdiri dari 30 kecamatan di Subang, sedangkan Majalengka dan Sumedang masing-masing 26 kecamatan. Artinya tidak mungkin saya datang ke semua kecamatan setiap desa. Untuk itu saya lebih menguatkan perhatian pada dua daerah itu. Namun demikian, kapasitas saya berbeda dengan caleg lain. Kalau caleg lain tidak datang itu keterlaluan, tapi kalau kita sebagai pengurus di DPD/DPC itu selain mengurus diri sebagai caleg, tapi kita juga mengurus urusan partai yang tidak hanya fokus pada dapil sendiri saja. Beruntunglah para caleg yang tidak duduk di struktur partai karena tidak memikirkan kesibukan itu.

Berapa target Anda?

Saya selalu memohon kepada Allah agar saya diberikan kesempatan untuk mewakili masyarakat Sumedang, Majalengka dan Subang di gedung dewan. Sehingga selain ada wakilnya terlebih dari komunitas petani. Karena selama ini saya belum melihat sosok anggota dewan yang berangkat dari petani sesungguhnya. Itulah ambisi saya untuk memperjuangkan masyarakat petani, nelayan sehingga tidak terus menerus menjadi masyarakat marginal dan menjadi mainan politik saja. Saya tidak ambisi dengan masalah gaji, tapi kita melihat jauh mana keberpihakan saya kelak di dewan kepada petani.

Partai Gerindra menargetkan dapil Jabar 9 untuk bisa meraih dua kursi dari 27 kursi yang ditargetkan untuk Jawa Barat. Melihat kondisi ini maka kita harus bekerja keras, bersama-sama merealisasikan target. Urusan siapa yang jadi itu tergantung pada pergerakannya masing-masing caleg. Setidaknya untuk bisa meraih kursi di dapil Jabar 9,mau tidak mau harus melampaui atau setidaknya mendekati BPP sebesar 289 ribu. Itulah yang harus dipahami oleh caleg dengan memetakan kekuatan tiap TPS dan dapil kecil. Dengan kekuatan yang kita miliki baik yang ada di pusat, provinsi dan kabupaten/kota mudah-mudahan bisa. Artinya yang sudah jadi itu harus jadi kembali, kalau mereka tidak jadi, saya balik tanya apa saja yang telah Anda perbuat selama ini?

Seperti apa karakter pemilih dapil Jabar 9?

Bicara soal kataristik pemilih khususnya dapil Jabar 9 kita tahu sekarang ini bisa disebut jaman edan. Ada yang punya idealisme, ada juga yang pragmatis. Sebut saja, dapil Jabar 9 yang ada di utara tergolong masyarakat pantura memang cukup berat dengan masalah pragmatisme. Jangankan pemilihan legislatif, pemilihan Presiden pun seperti itu. Memang semua ini diawali dari pemilihan-pemilihan kepala desa yang sarat dengan pragmatis. Dan ini bukan hanya menjadi permasalahan bagi kami, tapi partai lain pun sama. Tapi selama ini kita bisa mengantisipasi untuk meminimalisir permasalah ini.

Apa antisipasi Anda menghadapi kondisi seperti itu?

Hubungan emosional dengan masyarakat terus kita jalin. Bagaimana caranya agar kita menjadi bagian dari hidup mereka. Sehingga pada akhirnya, mereka menganggap kita bagian dari hidup mereka. Ini yang wajib dilakukan para caleg. Kita selalu sampaikan kepada masyarakat bahwa Pantura itu lumbung beras nasional, tapi apa tidak terpukul ketika negara kita impor beras. Saya yakin mereka sakit dengan kondisi ini. Karena itu, ketika menghadapi masyarakat yang bergerak di bidang agribisnis, seperti petani, nelayan dan pekebun kita tawarkan 6 Program Aksi Partai Gerindra. Dimana salah satunya adalah program membangun kedaulatan pangan dan energi. Itu bukan semata-mata janji caleg tapi itu janji pemerintah jika nanti Gerindra dipercaya memimpin negeri ini.

Apa harapan dan pesan Anda buat para kader dan caleg?

Harapan kita terhadap caleg, kader partai, mereka harus memahami tentang petunjuk partai mulai dari AD-ART, manivesto perjuangan partai hingga program aksi. Jangan segan-segan untuk turun ke lapangan, jangan sombong, dekati masyarakat sehingga mereka sayang kepada kita. Saya sampaikan terima kasih kepada para simpatisan, kader yang terus mendukung pengurus DPD, DPC dan PAC serta para caleg dalam menjalankan aktivitasnya menjaring suara. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Oktober 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Oo Sutisna maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat 9.

Suria Ati Kusumah: Memberdayakan Perempuan Indonesia

Rupanya, ada sejarah tersendiri antara keluarga besarnya dengan Prof Sumitro Djojohadikusumo. Termasuk ketika akhirnya ia bertemu dengan Prabowo Subianto dalam wadah perjuangan yang sama. Konon ayahnya merupakan teman baik sekaligus mitra kerja sang Begawan ekonomi Indonesia itu pada masa revolusi dulu.

Memang, ayahnya lebih banyak di belakang layar ketika berjuang bersama Prof Sumitro Djojohadikusumo. Mulai dari perjuangan mendirikan partai sosialis, ketika mendirikan yayasan Unkris hingga sampai difitnah berideologi kiri. Semua itu ia ketahuinya dari buku agenda harian sang ayahnya dan beberapa cerita dari kakak-kakaknya. Bahkan masih ingat dalam benaknya, semasa kecilnya ia kerap menerima telepon dari sang Profesor sebelum disambungkan ke ayahnya. “Sering banget saya terima telepon darinya, nanyain bapak waktu itu. Jadi memang Tuhan telah mengaturnya, bahwa akhirnya bisa ketemu dengan anaknya juga,” ujarnya mengenang masa kecilnya.

Kini, Suria Ati Kusumah (45) berjuang bersama cita-cita Prabowo dalam memajukan kaum perempuan Indonesia lewat Perempuan Indonesia Raya (PIRA), salah satu sayap yang ada di Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Keterlibatannya di Partai Gerindra dan beberapa sayapnya yang ada tak lepas dari aktivitas Ati sebelumnya di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) khususnya di Komite Wanita HKTI. “Saya dulu aktif di HKTI sebelum masa kepemimpinan Pak Prabowo, dan ternyata setelah beliau memimpin, namaku masih tercantum di jajaran pengurus,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 7 Oktober 1966 ini.

Dari wadah HKTI inilah akhirnya ia bisa bertemu langsung dengan orang yang kerap diceritakan keluarganya, khususnya sang ayah. Perempuan yang sebelumnya meretas karir di industri musik dan broadcast ini kerap tampil sebagai pemandu acara atau memandu lagu kebangsaan Indonesia Raya di setiap acara HKTI. Termasuk di kegiatan Partai Gerindra di awal-awal kelahiran partai berlambang kepala burung garuda ini. Pernah suatu ketika, dalam sebuah acara, mantan Danjen Kopassus itu memanggilnya untuk sekadar memastikan bahwa dirinya adalah putri dari Pieter Suriadirja, teman ayahnya.

“Waktu itu saya tengah ngemsi acara partai,” ujar aktivis program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) wilayah Tangerang Selatan yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PIRA Provinsi Banten ini.

Sebagai kader partai, khususnya dari kalangan perempuan sudah tak diragukan lagi. Tak sekadar karena mengenal dengan baik keluarga besar sang Ketua Dewan Pembina, Prabowo Subianto, tapi karena kebulatan tekad dan niat untuk mengabdikan diri pada bangsa dan Negara lewat jalur partai. Keterlibatannya tak sekadar ikut-ikutan, Ati pun kerap hadir dalam berbagai kegiatan partai maupun sayap-sayap yang ada jauh sebelum sejak partai itu resmi berdiri.

“Kalau bicara loyalitas kader, apa yang diutarakan Pak Prabowo dalam setiap kesempatan bahwa seleksi alam itu benar adanya. Ada yang baik, ya akan terus tambah solid, ada juga yang merasa ada maunya namun tak terpenuhi, ya akan melipir sendiri,” tegas mantan atlit Kempo ini.

Hal itu ia buktikan sendiri, meski ia gagal dalam ajang pemilu legislatif  2009 silam, namun ia tetap berada dalam barisan Gerindra. Kala itu, ia mendapat tiga tawaran formulir calon legislatif (caleg) tingkat pusat, provinsi dan atau kabupaten. Ati pun memilih mencalonkan diri untuk DPRD Provinsi Banten dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kabupaten Tangerang. Sayang, meski sudah bekerja keras, rupanya keberuntungan belum berpihak padanya. Tapi semua itu tak lantas membuatnya pupus harapan atau bahkan mundur teratur. “Sekarang malah tambah gregetan ingin terus mengabdi dan membesarkan partai bersama kader yang lain,” tekadnya.

Tak heran bila, perempuan yang juga masuk dalam jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Wanita Tani HKTI bidang Informasi dan Komunikasi ini terus membuat strategi komunikasi dalam meraih massa. Beberapa program tengah ia godok bersama rekan-rekannya baik di Wanita Tani HKTI maupun di PIRA untuk memberdayakan perempuan Indonesia. Pun dengan kondisi internalnya yang dinilainya masih agak rapuh dan kurang menyatu. Padahal menurutnya, potensi perempuan di tubuh Gerindra begitu besar. “Karena memang belum sinergi dengan baik, sehingga kelihatannya masih didominasi kaum laki-laki, padahal perempuan di Gerindra potensi banget,” ujarnya.

Untuk itu, ibu dua anak ini kerap mengingatkan pada seluruh kader, khususnya kaum perempuan untuk tampil layaknya seperti besi berisi bukan hanya menjadi besi kosong. Menurutnya, jangan hanya tampilan fisiknya saja tapi tidak ada isinya.  Pasalnya, selama ini ‘besi-besi’ itu belum kuat dan rapuh karena tidak ada isinya. Bukan karena umurnya baru tiga tahun, tapi ia melihatnya masih tingginya ego masing-masing kader. “Mustinya, ketika sudah satu komando, maka jangan sampai masih terlihat pada berceceran,” harapnya. [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA, Edisi Desember 2011

 

 

 

Soepriyatno: Kebijakan Pro Rakyat

Baginya politik adalah alat perjuangan untuk berbuat sesuatu bagi rakyat. Tentu saja menciptakan kondisi yang lebih baik dengan kebijakan-kebijakan yang pro rakyat. Inilah yang tengah diperjuangkan Soepriyatno di gedung wakil rakyat, di bawah bendera Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Termasuk ketika diamanahi untuk memulihkan kondisi internal partai di wilayah Jawa Timur.

Sebelum terjun ke panggung politik, pria berusia 45 tahun ini lebih dikenal sebagai pengusaha. Tak hanya itu, ia pun aktif di beberapa organisasi kepemudaan. Luasnya jaringan yang dimiliki mau tidak mau akhirnya bersinggungan pula dengan dunia politik. Terlebih ketika ia bergabung di sejumlah usaha yang dijalankan Prabowo Subianto.

Awalnya, Soepri demikian sapaan akrabnya hanya sekadar membantu mantan Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus, Prabowo Subianto sewaktu masih bergabung dengan Partai Golkar. Di sanalah ia mendapat tempaan politik praktis langsung dari Prabowo. “Awalnya saya hanya bantu-bantu beliau saja,” ujarnya mengenang.

Seiring berjalannya waktu, Soepri pun diminta untuk membantu dalam persiapan pendirian partai baru besutan Prabowo bernama Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Adalah Fadli Zon, rekan bisnisnya yang memintanya untuk ikut bergabung ke Gerindra. Tanpa pikir panjang, Soepri pun menyanggupinya. Tak heran bila ia termasuk dalam jajaran pendiri partai berlambang kepala burung garuda ini.

Lantas pada pemilu 2009 lalu, ia pun dicalonkan sebagai calon legislatif untuk DPR pusat di daerah pemilihan (dapil) Jawa Timur XI, meliputi Kabupaten Bangkalan, Pamekasan, Sampang, dan Sumenep (Madura). Tak tanggung-tanggung, pria kelahiran Surabaya, 19 Oktober 1966 ini mampu meraih suara sebanyak 118.443 suara –yang merupakan perolehan suara terbanyak di Partai Gerindra. Ia pun berhasil melenggang ke Senayan sebagai wakil rakyat dan kini duduk di Komisi IX yang membidangi masalah kesehatan, tenaga kerja dan transmigrasi, serta kependudukan.

Sebagai anggota sekaligus menjabat Wakil Ketua Komisi IX, ia terus memperjuangkan yang selama ini menjadi aspirasi rakyat. Salah satunya adalah soal Rancangan Undang Undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (RUU BPJS) –yang setelah melewati 50 kali rapat— yang akhirnya disahkan dalam sidang paripurna DPR menjadi undang-undang (UU) pada akhir bulan lalu. Meski memang, implementasi dari UU tersebut baru bisa dirasakan rakyat paling cepat pada 2014 nanti. “Kita lihat kemampuan pemerintah pada tahun itu, maka tidak ada masalah,” tandas lulusan Instutut Pertanian Bogor (IPB) ini.

Permasalahan yang tak kalah pentingnya yang tengah diperjuangkannya di Komisi IX adalah persoalan keberadaan puskesmas dan fasilitasnya yang selam ini kurang memadai. Sejauh pengamatannya, di beberapa daerah selama ini keterjangkauan terhadap puskesmas sangat sulit. Kalau pun ada, menurutnya tak ditunjang dengan fasilitas yang semestinya. Begitu pula dengan keberadaan Posyandu dan Keluarga Berencana (KB) yang kini sudah tak diminati lagi. “Ini yang tengah menjadi prioritas Partai Gerindra yang diperjuangkan kadernya di Komisi IX,” tegas suami dari dr Karlina, MARS –pemilik salah satu rumah sakit di bilangan Depok, Jawa Barat ini.

Kenapa menjadi prioritas, menurutnya, KB merupakan program yang menentukan perencanaan perjalanan negara ke depan. Pasalnya, dengan sumber daya manusia yang berkualitas, jumlah anak yang terukur sehingga kontribusi kepada lingkungan menjadi lebih baik. Program revitalisasi KB harus didukung, sehingga perencanaan bangsa dan Negara ini lebih baik. “Jadi anak orang kaya banyak itu bermasalah, anak orang miskin banyak lebih bermasalah lagi,” ujarnya.

Selain sibuk di gedung wakil rakyat, Soepri pun mendapat kepercayaan untuk membenahi Partai Gerindra di Provinsi Jawa Timur yang tengah dirundung masalah kepengurusan. Berkat kepiawaian serta keberaniannya akhirnya ia pun ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Jawa Timur. Kini di bawah kepemimpinannya, kondisi Gerindra Jawa Timur mulai kian kondusif. Meski memang, diakuinya masih ada satu dua orang yang merasa sakit hati. “Wajar, dalam setiap perjuangan pasti ada saja pihak yang merasa tidak senang dengan hasil yang ada. Namun itu akan terus saya minimalisir sehingga menjadi kondusif dan nyaman bagi semua kader partai,” tegasnya.

Saat ini, sebagai pimpinan partai di daerah Jawa Timur –yang notebene memiliki lima orang wakil di Senayan— terus melakukan konsolidasi dengan seluruh jajaran kepengurusan hingga ke tingkat bawah demi menjaga perjuangan partai. “Kita berikan mereka ketenangan dalam bekerja dan tidak membebaninya dalam menjalankan roda organisasi, jadi sesuai kemampuannya saja,” ujar politisi muda yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pemuda Tani Indonesia, sebuah organisasi sayap dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ini.

Ke depan, Soepri berharap Gerindra sebagai partai mampu menyiapkan dan menciptakan kader-kader yang mumpuni di bidangnya. Dan yang terpenting adalah menjaga keberpihakannya kepada rakyat. “Karena disadari atau tidak, arah angin perhatian rakyat tengah menuju ke partai Gerindra,” ungkap politisi yang juga menjadi penasehat Gerakan Pemuda Anshor Jawa Timur ini.  [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA, Edisi November 2011