PESONA KAIN TRADISIONAL INDONESIA

Wastra alias kain-kain tradisional Indonesia memiliki keindahan dan keunikan tersendiri. Meski demikian, banyak diantara masyarakat yang kurang menyadari akan hal itu. Tak heran, jika kain-kain tradional itu hanya menumpuk di dalam lemari. Padahal kain-kain itu bisa bernilai lebih dan bisa dikenakan dalam aktifitas sehari-hari. Seperti yang ditawarkan Stephanus Hamy, perancang mode kenamaan ini bersama fashion stylist Debby Suryawan dalam tiga bukunya yang bertajuk Chic Mengolah Wastra Indonesia seri Tenun NTT, Wastra Bali dan Batik Jawa Barat.

Di buku ini memuat bagaimana cara memadankan kain tradisional dengan busana harian agar bisa dikenakan untuk beragam event, bahkan harian saat kerja. Misalnya untuk usia 40-an, desain lebih formal dengan pemilihan warna yang gelap dengan potongan simpel untuk memberi elegan. Sedangkan untuk usia 20-30an, sentuhan ceria dan muda sangat terasa pada pemilihan warna, dan potongan yang lebih rumit, seperti rok dengan akses lipit, obi, balero dan tube dress yang menggelembung di bagian bawah.

”Tiap kain memiliki motif dan karakter yang berbeda, sehingga diperlukan gaya yang berbeda pula, misalnya wastra batik Jawa Barat yang ringan, penuh warna dan atraktif, sangat cocok dipadupadankan untuk keseharian dan pesta koktil,” ujar Stephanus Hamy saat peluncuran buku Chic Mengolah Wastra Indonesia di Pasaraya Grande, Jakarta beberapa waktu lalu yang dimeriahkan dengan peragaan busana kain tradisional. [view]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi Agustus 2010

Advertisements