Elevation: Identitas Baru Anggun

anggunelevationSiapa tak kenal Anggun Cipta Sasmi. Penyanyi Indonesia yang merambah ke panggung hiburan kelas dunia. Bak magnet, pelantun Tua Tua Keladi ini selalu memukau penontonnya.

Album terbarunya Elevation (2008), kian mempertegas eksistensi Anggun di panggung musik yang digelutinya sejak masih belia. Album yang dirilis di penghujung 2008 ini, lagi-lagi Anggun berupaya semaksimal mungkin menghasilkan karya terbaiknya. Tentu inilah bentuk nyata sebuah keberanian dalam melakukan eksplorasi tanpa harus kehilangan jati diri. Meski ia berstatus warga negara Perancis, Anggun tetap mencintai negerinya.

Anggun, mulai dikenal khalayak sebagai lady rocker ketika berusia 14 tahun lewat hits-nya Mimpi. Sejak itu, nama Anggun langsung melejit karena suaranya yang khas. Popularitas yang tengah digenggamnya berbuah manis dengan diraihnya penghargaan The Most Popular Artist Award (1990-1991).

Tak berhenti di situ, penyanyi kelahiran Jakarta, 29 April 1975 ini memantapkan diri untuk go international. Terlebih ketika menerima pinangan Erick Benzi, seorang komposer asal Perancis yang pernah menangani olah vokal Celione Dione, Jean Jacques dan Jhonny Hallyday.

Lewat gemblengan sang suami, vokal Anggun menjadi lebih bervariasi. Buktinya, di album terbarunya Elevation, ditemui sensasi yang tak hanya baru tapi juga mengagumkan. Sajian aneka sound upbeat, midtempo, dan slowmo yang terasa urban, melekat dalam warna warni musik, mulai pop, rap, dance, ballad, hiphop, bahkan rock. Seluruh komposisi tersebut terbingkai apik dalam vokal Anggun yang sangat berkarakter.

Sejak pindah dan menetap di Paris, Perancis, Anggun merilis beberapa album, diantaranya Au Nom De La Lune/Atas Nama Bulan (1997), dan setahun kemudian merilis Snow on Sahara (1998). Album tersebut mampu menghipnotis penikmat musik di Perancis dan Eropa, termasuk penyanyi dunia Sarah McLahan yang mengundangnya tampil dalam Festival Musik di Oregon, Amerika. Pun ketika ia meliris album Luminescence (2005) dengan single-nya Etre Une Feme yang dinobatkan sebagai lagu terpopuler di Perancis.

Di album Elevation ini, Anggun berkolaborasi dengan Tefa dan Masta, produser bertangan dingin dalam menggarap musik urban. Tak hanya itu, ia juga menggandeng Pras Michel, personil The Fugees. Juga DJ Laurent Wolf, DJ kondang asal Perancis yang baru-baru ini menyandang sebagai World Best DJ dari ajang 2008 World Music Award.

anggunKontribusi Laurent, dapat dinikmati pada lagu No Stress yang kental dengan beat-beat dance yang diramu dengan musik techno –yang saat ini tengah hip di lantai klub Eropa. Sebagai kompensasinya, tembang ini pun masuk dalam album terbaru Laurent Wolf bertajuk Wash My World.

Album yang memuat 13 lagu dan 4 bonus track ini memilih lagu Jadi Milikmu (Crazy) sebagai single unggulannya. Lalu sebagai single kedua, dipilih lagu berjudul Stronger (featuring Big Ali). Lagu yang dibawakan dalam bahasa Inggris ini terasa Amerika banget. Sebuah kombinasi dari musik rock yang powerful dan repetan rap/R&B dari Big Ali, musisi hip hop kawakan yang sering berkolaborasi dengan penyanyi tenar seperti Usher, Puff Diddy, dan Nelly Furtado. Kabarnya, lagu ini menjadi terobosan Anggun untuk menembus pasar musik Amerika.

Lagu My Man (featuring Pras Michel dari The Fugees) yang tampil sebagai female anthem, bercerita tentang ketegasan Anggun kepada pria yang mengejar dirinya. Bagi yang kangen akan gaya Anggun di era 90-an, ada pilihan lagu Give It To Love yang sangat seksi dan alluring. Beat-nya dikemas era kini, berpadu dengan bisikan vokal Anggun yang menggoda. Dan rupanya, ibu satu anak ini ingin memberi ruang tersendiri untuk sang buah hati lewat lagu Interlude atau pada tembang Eden in Her Eyes yang bertutur tentang Kirana, sang buah hatinya.

Album ini seakan menjadi penanda jati diri Anggun dalam dimensi yang baru, baik secara musikal maupun personal. Sinergi apik, perpaduan cita rasa romantisme Eropa dengan denyut Amerika yang dinamis, dan tentu saja elemen eksotis Asia.

“Elevation adalah album dengan pandangan terbaru saya dalam bermusik. Selalu penuh pertanyaan, keraguan dan keinginan untuk mewujudkan sesuatu yang innovatif, menarik dan kreatif untuk publik dan para penggemar saya,” tegas Anggun.

Kini, kehadirannya di jaringan entertainment global tak sekadar di panggung musik. Anggun pun tampil sebagai ikon untuk beberapa produk. Memang, dalam fashion style, Anggun adalah ikon yang selalu diasosiasikan dengan brand terkenal, semisal Dolce & Gabbana dan Roberto Cavalli.

Lewat nama besarnya, Anggun dipercaya sebagai ambassador jam tangan Audemars Piguet. Dan Anggun juga dikenal sebagai pribadi yang sangat peduli terhadap lingkungan hidup. Anggun pun ditunjuk badan dunia PBB sebagai duta Kredit Mikro.

Di kampung halamannya Indonesia, putri seniman komik tanah air bernama Darto Singo, ditunjuk sebagai Brand Ambassador Shampoo Pantene dan Susu Anlene. Dan lewat lagu Jadi Milikmu (Crazy) dan Shine yang ada di album Elevation menjadi musik latar untuk Shampoo Pantene. Dan lagu Stronger, menjadi latar musik Susu Anlene.

Diakui atau tidak, Anggun benar-benar fenomenal. Di tengah ketatnya persaingan dan sedikitnya orang pribumi di kancah global, wanita berkulit hitam manis yang dulu tampil di Ancol dengan bayaran Rp 40 ribu itu, terbukti sukses go internasional.

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk majalah VIEW edisi Januari 2009

Advertisements

Catatan 2008: Geliat Band Baru Di Panggung Musik

Kemunculannya bak jamur di musim hujan. Tembang yang dibawakan pun tak sekedar membius pecinta musik, tapi membuat sedikit ‘gelisah’ band-band yang lebih dulu eksis. Dan setelah bergerilnya di jalur indie, boleh jadi tahun ini menjadi tonggak kesuksesan. Fenomena ini dikuatkan dengan gencarnya perusahaan rekaman memperkenalkan band-band baru di waktu yang sama.

Ya, rasanya belum lama kuping pecinta musik Indonesia dimanjakan Letto, Naff, Kerispatih, Nidji hingga Samsons, kini telah hadir Vagetoz, D’Masiv, Kangen, The Changcuters, ST12, Juliette, Angkasa, Wali hingga Bonus. Di luar itu, masih ada pula sederet nama band yang dibidani personil band papan atas. Paling tidak, di bawah payung label besar, penampilan mereka di panggung musik tidak setengah-setengah.

Siapa yang tak kenal dengan Kangen Band. Meski terkesan ndeso, bahkan saat kehadirannya banyak menuai cercaan, band yang dikawal Dody (gitar), Andika (vokal), Tama (gitar), Lim (drum), Novry (bass), dan Izzy (keyboard) ini benar-benar ngangenin. Anehnya belum sempat merilis album, lagu-lagunya selalu diputar di lapak-lapak VCD dan CD bajakan. “Kami malah sering disebut band hantu, karena ada karya tapi bandnya sendiri belum ada albumnya,” sahut Dody.

Berawal dari menjadi pelangan juara festival musik di ‘kampungnya’ sebagai best vocal dan best song tahun 2005 silam, Kangen band akhirnya digandeng Warner Music Indonesia hijrah ke Jakarta. Lewat label ini akhirnya mereka merilis album utuh bertitel Tentang Aku, Kau dan Dia [2007] yang mengantarkan tembang Tentang Bintang dan Selingkuh menjadi hits yang populer di masyarakat. Pun ketika merilis album kedua bertajuk Bintang 14 Hari [2008] yang memuat lagu Doy, Bintang 14 Hari, Yolanda, Yakinlah Aku Menjemputmu, Cuma Kau, Sayang dan Tentang Jen masih mampu membius penikmat musik. Lewat album ini mereka kembali menampilkan unsur melayu dan mencoba mengeksplorasi unsur musik Jawa.

Kehadirannya memang begitu fenomenal. Album perdananya berhasil mencetak angka penjualan lebih dari 350 ribu kopi. Tidak hanya itu band yang dibentuk di Lampung pada tahun 2005 ini mengklaim telah mempunyai 472 stok lagu diciptakan mereka sendiri. Inilah pembuktian mereka tak sekedar fenomenal, tapi juga mencoba eksis di industri musik Tanah Air.

Sukses pun direngkuh band Angkasa yang masih dalam naungan label yang sama. Band asal Cianjur ini, melejit namanya lewat album pertamanya Jangan Pernah Selingkuh [2008] dengan judul hits-nya yang sama. Band yang berdiri pada 2004 ini pun awalnya sempat menerlorkan album jalur indie. Bahkan bajakan albumnya tersebar hingga ke Sumatera, Kalimantan dan Bali. Kelima personelnya yakni Ato (vokal), Anggi (drum), Teguh (gitar), Opick (bass), dan Denny (keyboard) sepakat untuk berada di genre rock meski materi album lebih banyak bertutur tentang pengalaman cinta.

Lalu ada Vagetoz, band lokal asal Sukabumi yang selalu menyambangi ajang festival ini akhirnya diorbitkan oleh Jan N Djuhana, Artist and Repertoir Sony BMG dalam sebuah festival. Band yang diawaki Teguh (vokal), Sony (gitar), Irman (gitar), Budi (bass) dan Rudi (drum) terbentuk pada tahun 1999 silam, namun baru awal tahun ini namanya meroket. Lewat tembang hits-nya Betapa Aku Mencintaimu, Vagetoz meraih sukses di blantika musik. Bahkan lagu ini telah berhasil menembus angka 5 juta lebih dalam bentuk Ring Back Tone (RBT). Sebuah dagangan baru di industri musik hasil kerjasama label dengan operator seluler.

Konon, sejak kemunculannya hingga digandeng Sony BMG, Vagetoz lewat album Sesuatu Yang Beda [2008], memposisikan diri sebagai band beraliran pop emotion. Dimana musik yang diusung adalah pop dengan melodi yang tidak rumit, dan lirik lagu yang lugas, apa adanya. “Setiap lagu yang dibuat sedapat mungkin dihadirkan sebagai ungkapan perasaan yang sesungguhnya. Makanya kita menyebutnya sebagai pop emotion,” jelas Teguh sang vokalis.

Masih di bawah bendera Sony BMG, ada The Changcuters, grup musik asal Bandung –yang awalnya bergerilya secara indie lewat Mencoba Sukses [2006]. Lantas lewat aksi mereka dalam sebuah iklan operator seluler mampu mencuri perhatian label sebesar Sony BMG untuk mengorbitkan dengan mengemas ulang album mereka menjadi Mencoba Sukses Kembali [2008] sekaligus main dalam film komedi The Tarix Jabrix.

Grup musik yang dibentuk pada tahun 2005 beranggotakan Tria (vokal), Qibil (backing vocal dan gitar), Alda (gitar), Dipa (bass), dan Erick (drum) ini memiliki strategi dagang unik. Dengan penampilan kostum seragamnya, The Changcuters hadir layaknya Rolling Stone meski harus mengenakan seragam seperti The Beatles. Dengan gaya ‘jadul’ inilah The Changcuters mampu membius tua, muda hingga anak-anak. “Kita pasti seragam terus biar nggak ada kesenjangan. Kaya miskin, jelek cakep semua sama. Tadinya mau seragam wajah tapi nggak bisa jadi baju sajalah,” seloroh Dipa sang gitaris.

Band pendatang baru yang mencoba peruntungan di bawah manajemen Musica Studio –yang berhasil mengantarkan Peterpan, Letto dan Nidji ke puncak industri musik— adalah D’Masiv. Band yang dibentuk pada tahun 2007 ini kian tenar setelah menjuarai ajang festival bertajuk A Mild Live Wanted di tahun yang sama. D’Masiv yang digawangi Rian (vokal), Riki (gitar), Rama (gitar), Rai (bass), dan Wahyu (drum) merilis album perdananya Perubahan [2008] dengan hits-nya Cinta Ini Membunuhku begitu populer di telinga masyarakat Indonesia.

Setelah sukses mengorbitkan band Ungu dan Naff, label Trinity Optima Production menjajal kemampuan band pendatang baru asal Bandung, ST12. Mereka tampil ke panggung musik nasional dengan mengusung aliran Melayu. Dibawah label ini mereka merilis album bertajuk Puspa [2008] yang diambil dari lagu andalannya Puspa. Dan ternyata, band yang didirikan pada tahun 2005 oleh Pepep (drum), Pepeng (Gitar), Charly (vokalis), dan Iman Rush (gitaris) ini melesat bak roket mengikuti pendahulunya. Bahkan pada pertengahan tahun lalu, band ini dinominasikan sebagai Grup Band Ngetop versi SCTV bersama Kangen Band, Peterpen, Radja dan Ungu. Meski penghargaan itu jatuh ke band Ungu yang seatap dengannya.

Pun dengan Nagaswara, label ini berhasil mengorbitkan band pendatang baru asal Jakarta, Wali. Grup band yang diawaki Faank (vokal), Apoy (gitar), Tomi (drum), Ovie ((keyboard dan synt), serta Nunu (bass), sempat mencuri perhatian lewat tembang hitsnya Dik dalam album debutannya bertajuk Orang Bilang [2008]. Tak sekedar lagu Dik, yang diandalkan Wali, beberapa single dalam album ini seperti Emang Dasar, Orang Bilang, Tetap Bertahan atau Egokah Aku, tak membuat pendengarnya mengernyitkan dahi.

Seiring dengan namanya yang begitu familiar, band ini pun langsung meroket. “Mengapa dinamakan Wali, karena mudah diucapkan. Sisi lainnya adalah kami, Wali dengan segala keterbatasan yang ada berharap bisa mewakili segenap perasaan dan curahan hati manusia,” jelas Apoy.

Rupanya, meningkatnya animo masyarakat terhadap musik lokal, membuat sebuah jaringan restoran cepat saji Kentucky Fried Chicken (KFC) menggelar festival band dengan menggandeng Music Factory Indonesia (MFI). Hasil dari ajang ini, munculah band pendatang baru yang tak bisa dianggap enteng. Sebut saja, Julliette yang melejit lewat tembang Bukannya Aku Takut –yang dipopulerkan pula oleh Mulan Jameela. Band dengan personil Zoe (vokal), Alex (gitar), Andi (gitar), dan Jerry (bass) lewat album Lagi Terluka [2007] akhirnya mampu tembus di angka penjualan di atas 75 ribu keping.

Sukses serupa diraih pula oleh jawara berikutnya dari ajang sejenis adalah Bonus. Boleh jadi, para awak band ini bukanlah muka baru di blantika musik Indonesia. Sebut saja, Bimo (drum), Willy (gitar), Epoy (bass), dan Anda (vokal) adalah nama-nama yang pernah mewarnai band sekelas Netral, Romeo, Julliette, dan Gamma. Tahun 2008 dijadikan tongkak bagi Bonus memanjakan penggemarnya lewat album Live Bonus [2008] dengan tembang andalannya Kurebut Hatinya Kembali. “Bonus itu bagi saya adalah band orang nekat untuk sukses,” tandas Anda.

Selain grup musik yang awalnya menempuh jalur indie seperti di atas, beberapa band yang dibidani para punggawa beberapa band kenamaan pun mencoba meretas karir di bawah bendera EMI Music Indonesia (EMI). Seakan ingin membuktikan diri sebagai musisi hebat, band Andra & The Backbone yang digawangi langsung Andra, personil Dewa 19 ini tampil sukses dengan sempurna lewat hitnya Sempurna dan Musnah dalam album Andra & The Backbone [2007]. Dua lagu itu dipopulerkan pula oleh Gita Gutawa dan Mulan Jameela. Band yang beranggotakan Dedi, Stevi dan Andra ini mengulang sukse kembali lewat tembang Lagi dan Lagi, Dan Tidurlah, Terdalam, Perih, dan Dengarkan Aku dalam Season 2 [2008].

Pun dengan The Titans, band yang dibentuk Andika (keyboard) dan Indra (bass) setelah didepak dari Peterpan, band yang melambungkan namanya. Dengan menggandeng Rizki (vokal), Onny (gitar), Tomtom (drum), dan Imot (synth & program), mereka menggebrak panggung musik lewat lagu Rasa Ini dan Bila dalam album The Titans [2007]. Dengan bernaung pada label EMI, band ini berhasil mencatatkan angka penjualan 150 ribu keeping hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan.

Masih dalam label yang sama, band baru bentukan pentolan Dewa 19, Ahmad Dhani bernama The Rock pun ikut mencicipi peluang ‘gurih’ di industri musik dalam negeri. Lewat album Master Mister Ahmad Dhani I [2007] dengan lagu Munajat Cinta, Aku Bukan Siapa-siapa, dan Aku Cinta Kau dan Dia, The Rock membuktikan diri sebagai band yang diminati pecinta musik hingga kini, meski sering bongkar pasang personilnya.

Pada akhirnya, memang pasarlah yang akan menentukan seberapa kuat band-band pendatang baru itu bisa bertahan di tengah ketatnya persaingan industri musik. Pasalnya, berdasarkan data, dalam sebulan Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) merilis lebih dari 40 album.

Artikel ini ditulis dan dimuat di majalah VIEW edisi Desember 2008.

Bincang-Bincang Bersama Maylaffayza

Bagi penikmat musik di tanah air, nama Maylaffayza (32), pasti sudah tak asing lagi. Violinis yang sangat mengidolakan maestro Indris Sardi ini, sangat piawai memainkan alat musik biola. Menariknya, Maylaf tak hanya tampil sebagai instrumentalis tapi juga entertainer yang selalu memukau penontonnya.

Tujuh tahun sudah, Maylaf berkarir sebagai solo-violinis di panggung hiburan. Sebagai bukti kepiawaiannya, ia pun mempersembahkan album solo perdananya bertitel Maylaffayza. Sepertinya, lewat album ini, Maylaf ingin menyuguhkan sesuatu yang segar dalam permainan instrumen biola.

Lantas seperti dambaan wanita kelahiran Jakarta 10 Juli 1976 ini lewat biolanya? Berikut petikan perbincangan VIEW bersama violinis berparas cantik ini beberapa waktu lalu.

VIEW: Bisa ceritakan keseharian Anda sebagai seorang Maylaffayza?

MAYLAF: Peran saya yang sesungguhnya dalam sehari-hari lebih dari violinis. Selain sebagai pimpinan, saya terjun langsung bersama tim Maylaffayza Management. Mulai dari media exposure, media strategy, sosialisasi branding Maylaffayza, pengawasan distribusi, generating blog-blog saya. Termasuk juga semua yang berkaitan dengan marketing, sponsorship dan digital distribution. Jadi sebagai violinis, saya juga memimpin management sendiri. Dalam Maylaffayza Records, saya bertanggung jawab sebagai music director dan produser di album yang baru dirilis Januari lalu.

VIEW: Lantas posisi Anda sebagai violinis bagaimana?

MAYLAF: Sebagai violinis, tentu tanggung jawab kerja saya adalah melatih semua lagu yang akan di tampilkan. Re-arrange lagu saya bersama band yang akan mengiring, dimana konteksnya saya bertanggung jawab sebagai music director bagi band yang saya bentuk khusus. Dan bekerja sebagai violinis dan penyanyi, hanyalah salah satu dari sekian banyak hal yang harus saya kerjakan.

VIEW: Kini Anda tampil sebagai public figure, bagaimana menjalaninya?

MAYLAF: Sebagai public figure yang berprofesi sebagai violinis, sehari-hari saya juga harus bisa memenuhi semua tugas promosi album saya mulai dari menjawab pertanyaan baik langsung, by phone ataupun e-mail. Juga menghadiri berbagai acara, shooting, pemotretan, hingga siaran radio.

VIEW: Seberapa besar daya tarik biola bagi Anda?

MAYLAF: Sejak kecil saya dididik secara disiplin untuk mempelajari biola. Mengenai ketertarikan saya terhadap biola, tak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Yang pasti, waktu kecil saya diberi biola oleh paman saya (alm) Iswan Sutopo, I fell in love with violin. Karena ada minat dan bakat, saya pun terus dimotivasi untuk belajar memainkannya. Jika ditanya kenapa suka, saya tidak tahu. I just do. I followed my heart, I committed to what I do and take all the consequences of all the disciplines that was required.

VIEW: Lantas untuk mempelajari alat musik biola dan vocal, Anda berguru pada siapa?

MAYLAF: Di usia 9 tahun, saya digembleng oleh (alm) Joko. Setahun kemudian saya berguru kepada Idris Sardi hingga sekarang. Malah hubungan kami bukan lagi seperti guru dan murid, tapi seperti bapak dan anak. Sejak 1998, saya pun berguru vokal Elfa Secioria, Bertha, Catharina Leimena, dan Ivone Atmojo. Setelah merasa cukup, saya memberanikan diri tampil sebagai solo violinist dan penyanyi. Tahun 2000 lalu, saya sudah go public tampil di corporate event dan berbagai media.

VIEW: Sebenarnya, sejauh mana minat masyarakat sendiri terhadap jenis musik ini?

MAYLAF: Minat masyarakat pada musik, pasti terus berkembang. Buktinya, banyak remaja dan anak-anak kecil yang mempelajari biola. Juga tak sedikit orang tua yang datang ke saya dan bertanya tentang bagaimana caranya, agar anak mereka bisa belajar biola. Tentunya, biola tak bisa dibandingkan dengan minat masyarakat atas menyanyi, karena vokal adalah sesuatu yang sudah manusia bawa dari lahir dan mempunyai lirik. Secara positif, saya memandang masyarakat lebih open minded, terhadap perkembangan berbagai hal.

VIEW: Anda merilis album perdana dengan judul Maylaffayza. Apa yang Anda tawarkan dalam album itu?

MAYLAF: Saya menawarkan semangat liberating. Semangat untuk keluar dari kotak kenyamanan yang ada. Musik saya bergenre pop cross over. Pop dalam arti non classical, jadi sama sekali tidak klasik. Cross over dalam arti silang menyilang antar kultur dan genre. Biola saya padukan dengan vokal saya. Jadi ada lagu biola dan ada lagu vokal. Jika lagu biola, vokal hanya menjadi lyric hook. Jika lagu vokal, maka biola akan mengisi fill in.

VIEW: Bagaimana dengan musikalisasinya?

MAYLAF: Untuk musikalisasinya saya mencampurkan African American Rhytm yang biasa dipakai dalam hip hop, rap dan r ‘n b. Lalu, saya padukan dengan unsur melodi atau chords barat di campur esensi tunes dari eastern dan tradisional Indonesia. Lagu vokal mulai dari slow, mid tempo sampai ke dinamis, di imbangi dengan lagu-lagu biola yang highly dynamic. Vokal lebih ke melodius, saya padukan dengan biola yang harmonis ritmis dengan attack dan grove. Ini adalah kerja team antara saya, Idris Sardi dan Bobby Surjadi.

VIEW: Kabarnya, album ini diproduksi secara independen, kenapa? Apakah major label kurang berminat?

MAYLAF: Major label mempunyai karakteristik yang berbeda dengan karakteristik saya. Kita berdiri di posisi yang berbeda. Biola sudah mempunyai sifat dasar eksklusif, meski saya tidak pernah meng-eksklusifkan diri, tapi itu sudah menjadi nilai dasar dari biola. Dalam kata lain, biola bisa dikategorikan ‘barang butik’. Sementara major label lebih seperti ‘department store’ bukan ‘butik’. Kenapa? Karena tentu saja penanganannya, packaging, management, branding, strategy business-nya jauh berbeda. Akhirnya, saya ambil manuver untuk menjadi produser dan music director serta membangun Maylaffayza Records.

VIEW: Lantas apakah ini yang menjadi ambisi Anda?

MAYLAF: Setiap manusia mempunyai ambisi untuk menjadi merdeka. Independen dari segala hal. Jadi layak bahwa seorang manusia ingin menjadi besar dan berkembang dengan dirinya sendiri. We are the creator of our own life. So I create my own life, I create my own blue ocean.

VIEW: Hingga kini, sejauh mana animo pecinta musik terhadap album Anda?

MAYLAF: Alhamdulilah, saya melihat respon yang positif. Saya sering berkomunikasi langsung dengan banyak orang bahkan yang saya tidak kenal. Mereka yang sudah membeli album saya, maupun belum beli tapi mendengarkannya di radio, mereka terus support saya. Terpenting, album saya bukan barang dagangan, tapi sebagai media menyampaikan ide saya untuk memerdekakan pemikiran.

VIEW: Dalam tiga tahun ke depan, apa rencana Anda?

MAYLAF: Belum tahu. Yang jelas, tahun ini saya ingin sukses dalam pemasaran dan penjualan album. Lebih penting di atas semua itu, saya ingin berhasil memberikan ide inspirasi kepada masyarakat melalui sikap dari musik saya. Semoga bisa membawa sebuah perubahan yang positif. [view]

Artikel ini ditulis April lalu dan dimuat di majalah VIEW edisi Mei 2008

Bincang-bincang Bersama David Koz

Perjalanan karir saksofonis asal Amerika Serikat, Dave Koz (44) selama dua dekade ini boleh dibilang luar biasa. Berbagai jenis lagu diciptakan, berkolaborasi dengan penyanyi-penyanyi berbakat. Penjualan album yang mendapatkan penghargaan Platinum dan empat kali masuk ke dalam nominasi Grammy. Pria kelahiran Los Angeles 27 Maret 1963 ini tak hanya mencuri hati sejumlah penggemar jazz Indonesia, tapi juga mendapat tanggapan yang positif di mata pencinta musik.

David Kozlowski yang melambung lewat lagu You Make Me Smile, tampil memukau di Jakarta dalam tur promo album terbarunya At The Movies. Kedatangannya ke Jakarta lagi-lagi disponsori Volkwagen (VW), yang pernah mengundang Koz tampil di ajang Java Jazz Festival tahun lalu dan berkolaborasi dengan Ruth Sahanaya. Lewat album terbarunya, Koz menyertakan lagu Manusia Bodoh milik Ada Band. Tak heran jika Koz menjadwalkan promo albumnya di Jakarta untuk unjuk kebolehan di depan para penggemarnya.

Lalu apa yang membuat Koz kepincut dengan Indonesia? Berikut bincang-bincang View bersama Dave Koz saat manggung di Jakarta mempromosikan albumnya At The Movies beberapa waktu lalu.

VIEW: Apa yang mendasari Anda membawakan lagu Manusia Bodoh?

DAVID KOZ [KOZ]: Awalnya saya ditawari oleh label, kemudian materinya dikirimkan. Jujur saja, saya tidak mengerti bahasanya, tapi melodinya sangat indah, jadi saya pikir kenapa tidak. Akhirnya, bermodal ketertarikan pada melodi lagu itu, saya masukkan melodi saksofon dalam lagu tersebut. Dan Manusia Bodoh versi baru itu menjadi bonus track dalam album At The Movies yang tengah saya promosikan ini.

VIEW: Tapi sebenarnya apakah Anda mengerti apa itu Manusia Bodoh?

KOZ: Sungguh, lagu itu sangat indah. Lagu yang sangat romantis, melodinya begitu menyentuh perasaan. Tak hanya saya, orang Amerika juga sangat mengenal lagu itu dan menyukainya. Namun saya tak mau seperti judul lagu ini, ya walau sesekali bersikap begitu.

VIEW: Lalu kenapa Anda memilih lagu-lagu asal Indonesia?

KOZ: Di Indonesia banyak sekali musisi berbakat, salah satunya Donny Sibarani, vokalis Ada Band yang begitu fantastik. Itulah mengapa saya cinta Indonesia dan rasanya ingin selalu kembali ke sini.

Dalam At The Movies, Koz membawakan 12 lagu lawas yang merupakan soundtrack film. Sebut saja, Over The Rainbow (Wizard of Oz peraih Oscar 1940), As Time Goes By (Casablanca, nominasi Oscar 1944), Somewhere (West Side Story, pemenang Oscar 1962), Moonriver (Breakfast At Tiffany’s, pemenang Oscar 1962), The Shadow of Your Smile, (The Sandpiper, pemenang Oscar 1966), The Pink Panther (The Pink Panther, nominasi Oscar 1965), The Way We Were (The Way We Were, pemenang Oscar 1974), The Summer Knows (Summer of’42, pemenang Oscar 1972), It Might Be You (Tootsy, nominasi Oscar 1983), A Whole New World (Aladin, pemenang Oscar 1993) dan Schindlers’s List (Schindlers’s List, pemenang Oscar 1994). Dari keseluruhan lagu disajikan dengan dukungan orkestra penuh, dengan dukungan bintang tamu seperti, Barry Manilow, Anita Baker, Donna Summer, India Arie, Vanessa Williams, Johnny Mathis, dan Chris Botti, termasuk di dalamnya lagu Manusia Bodoh persembahan Ada Band.

VIEW: Apa yang mendasari album ini diberi judul At The Movies?

KOZ: Saya senang sekali ketika berada di gedung bioskop dengan sekotak popcorn, soda di tangan dan seorang teman saat menyaksikan sebuah film hebat. Saya suka suasana seperti ini dan akhirnya memberi judul album ini At The Movies. Karena selain suka film dan diambil dari film-film yang hebat, ide awalnya pun datang saat di bioskop.

VIEW: Kenapa lagu-lagu tersebut yang pernah jadi soundtrack film dipilih untuk album ini?

KOZ Karena paling tidak dari sebagian besar lagu-lagu di album ini menjadi bagian dari kehidupan seseorang dan saya juga merasakannya.

V Lalu bagaimana Anda memilih lagu yang akan diaransemen ulang?

KOZ Mengaransemen ulang sebuah lagu bukanlah hal yang mudah, maka saya pilih lagu yang benar-benar tidak dapat dipisahkan dari filmnya. Dan ketika orang mendengar lagunya ia akan langsung mengenal filmnya. [view]

Box:

Discography:

Dave Koz (1990)

Lucky Man (1993)

Off the Beaten Path (1996)

December Makes Me Feel This Way (1997)

The Dance (1999)

A Smooth Jazz Christmas (2001)

Golden Slumbers: A Father’s Lullaby (2002)

Saxophonic (2003)

Golden Slumbers: A Father’s Love (2005)

At The Movies (2007)

Artikel ini ditulis pada April 2007 dan dimuat pada majalah VIEW edisi Mei 2007

Bincang-bincang Bersama Indra Lesmana

Darah seni musik mengalir lewat ayahnya, musisi ternama almarhum Jack Lesmana. Tak heran jika Indra Lesmana, yang mulai belajar keyboard sejak di usia 10 tahun itu, akhirnya tampil sebagai musisi handal. Kini, musisi yang pernah meraih beasiswa dan belajar di Conservatorium of Music Australia ini, kembali terpilih menjadi juri Indonesian Idol untuk keempat kalinya.

Acara yang ditayangkan RCTI, itu tentunya menambah sederet kesibukannya mulai dari audisi di daerah-daerah hingga final nanti. Lalu seperti apa komentar lelaki kelahiran Jakarta, 28 Maret 1968 seputar Indonesian Idol? Di bawah ini hasil percakapan dengannya .

VIEW: Kenapa Anda kembali bersedia menjadi juri Indonesian Idol?

INDRA: Ini suatu kebanggaan bagi saya secara pribadi. Dengan menjadi juri di ajang bergengsi sekelas Indonesian Idol, ini kita menemukan bakat-bakat terpendam yang tersebar di seluruh Indonesia.

VIEW: Bagaimana kesiapan Anda memasuki Indonesian Idol musim tahun ini?

INDRA: Wah sudah pasti siap banget. Bahkan saya sangat berharap, bisa benar-benar tampil sebagai juri yang lebih selektif dibanding tahun-tahun sebelumnya.

VIEW: Apa yang Anda harapkan dari kontestan Indonesian Idol nanti?

INDRA: Saya sangat berharap para kontestan Indonesian Idol nanti bisa bernyanyi dengan hati, tidak sekadar bisa menyanyi saja. Sebab menurut saya, segala sesuatunya harus dilakukan dengan sepenuh hati, sama dengan kalau saya bermusik, tak pernah setengah-tengah.

VIEW: Oh ya. Seperti apakah itu?

INDRA: Ya, karena lagu yang dinyanyikan dengan penuh perasaan dari dalam hati, pendengarnya juga akan merasakan sampai ke hati. Menurut saya, inilah adalah modal dasar yang harus dimiliki seorang penyanyi atau pemusik dalam berkarya.

VIEW: Seperti apa sih independensi juri dalam menilai kontestan?

INDRA Sekali lagi, semua itu kembali ke hati. Ketika kita mendengar sebuah lagu dengan hati maka akan sangat terasa maknanya. Makanya ketika kontestan menyanyikan lagu sepenuh hati, dari situlah timbul independensi kita dalam menilai para kontestan.

Sebagai musisi, Indra tak hanya dikenal di Indonesia, tapi juga namanya sangat familiar bagi musisi jazz dunia. Terbukti, ia pernah rekaman bareng Vinnie Colaiuta, Michael Landau, Jimmy Haslip, Airto Moreira, Charlie Hadden, Bobby Shew, Tooty Heath di album For Earth and Heaven dan dirilis di Amerika Serikat. Di tahun 2000, Indra kembali berkarya lewat album Reborn. Disusul kemudian membesut big-band 17-piece yang menjadi soundtrack film Rumah Ketujuh.

Indra Lesmana pun pernah duet bareng living legend pianis Bubby Chen. Sehingga pengakuan sebagai icon jazz menempel pada sosok yang pernah menghasilkan 200 komposisi asli, 47 album dan lebih dari 70 produksi album rekaman yang mengeksplorasi musik pop, jazz, mainstream, swing, hingga nu-jazz. Bahkan mantan suami dari Sophia Latjuba ini sering tampil dalam konser jazz internasional. Salah satunya, acara JakJazz tahun lalu yang mampu mensejajarkan dirinya dengan pemusik internasional seperit Salena Jones dan Phil Perry.

VIEW: Menurut Anda, kriteria apa saja yang wajib dimiliki para kontestan untuk bisa tampil hingga lima besar?

INDRA: Belajar dari musim pertama hingga ketiga sebelumnya, tentunya kita tetap menginginkan kualitas musikalitas para kontestan yang jadi kriteria dasar.

VIEW: Dalam kenyataanya, sekarang ini para finalis Indonesian Idol lebih sering tampil dalam sinetron atau program lainnya yang memang bukan tujuan awalnya?

INDRA: Penjaringan bakat penyanyi lewat Indonesian Idol memang untuk melahirkan penyanyi yang handal. Tapi memang tidak sekadar menjadi penyanyi, karena mereka pun dengan sendirinya tampil sebagai entertainer. Jadi tidak menutup kemungkinan jika mereka menerima tawaran main sinetron atau ikut program lainnya karena kebetulan memang sudah populer.

VIEW: Lantas dengan ditunjuk sebagai juri Indonesian Idol ini, apa yang diperoleh?

INDRA: Paling tidak saya bisa membantu banyak anak muda yang memiliki bakat terpendam sebagai penyanyi berkualitas untuk menembus industri musik Indonesia.

VIEW: Bagaimana dengan musim tahun ini?

INDRA: Saya harap Indonesian Idol musim tahun ini lebih colorful, telebih kini tempat audisi merambah ke 12 kota besar dimana sebelumnya hanya ada enam kota. Bisa dibayangkan kan betapa banyak orang-orang yang berbakat untuk ikut berkompetisi dalam ajang ini. [view]

Artikel ini ditulis awal tahun 2007 lalu dan dimuat di majalah VIEW Edisi Februari 2007