Lebih Dekat Dengan Nur Iswanto: Berjuang untuk Perubahan

Pamornya sebagai politisi asal Sumatera Selatan kian diperhitungkan. Kepiawaiannya dalam menahkodai partai politik menjadi sebuah parameter keberhasilannya. Meski demikian, ia tetap meyakini bahwa setiap aktivitas politik harus dilandasi kesungguhan hati dan kerja keras. Sepertinya tak ada kata lelah dalam menggeluti panggung politik. Termasuk ketika ia ditunjuk maju sebagai bakal calon Walikota Palembang, Sumatera Selatan.

DSC00053Memang, diakui oleh H Nur Iswanto, SH, MH, bukanlah perkara sulit dalam meraih simpati masyarakat. Bagi pria kelahiran Lahat, 7 November 1961 inilah buah dari perjuangannya yang berliku selama puluhan tahun silam.  ”Meski demikian, saya tidak pernah lelah untuk terus memperjuangkan aspirasi rakyat demi sebuah perubahan,” tegas politisi Senayan yang diamanahi sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Provinsi Sumatera Selatan ini.

Sejak terjun di dunia politik praktis di masa orde baru, Nuris, demikian panggilan akrabnya terus menunjukkan tajinya sebagai seorang politikus. Kepiawaiannya mengantarkan ia duduk sebagai anggota DPRD Sumatera Selatan dua periode. Kemudian ketika didaulat oleh Prabowo Subianto untuk memimpin Partai Gerindra pada 2008, Nuris kembali berhasil mengantarkan dua kader terbaiknya melenggang ke Senayan, ia dan Edhy Prabowo pada Pemilu 2009 lalu.

Baginya, politik itu perjuangan. Perjuangan yang diawali dengan mencari kekuasaan, setelah berkuasa baru bisa merubah keadaan. Tentunya perubahan yang positif. Tanpa berpolitik perjuangan akan percuma. Dan di Gerindra inilah Nuris berjuang demi sebuah perubahan. ”Dalam berpolitik, apapun masalahnya, seberapapun keterbatasannya, kapanpun masanya kalau kita yakin dan dilandasi dengan kesungguhan niat, pasti kita bisa mengatasinya. Karena politik itu perjuangan,” tegasnya.

Termasuk di saat tengah menjalankan tugas sebagai Ketua DPD Partai Gerindra, ayah empat anak ini diminta sebagain besar masyarakat Palembang untuk maju dalam pemilihan walikota (pilwako) Kota Palembang. Tak tanggung-tanggung, perintah pun turun dari Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto untuk merebut Palembang. Semua itu bukan sekadar gagah-gagahan atau unjuk kekuatan Partai Gerindra yang dipimpinnya di bumi sriwijaya, tapi untuk sebuah perubahan yang dimulai dari Kota Palembang sebagai jantung Sumatera Selatan.

Menurutnya, memang dengan kekuatan lima kursi anggota DPRD Kota Palembang, Gerindra masih memerlukan dua kursi lagi untuk memenuhi syarat pencalonannya. Anggota Komisi V DPR-RI ini optimis lewat jaringannya akan bisa mendapatkan dua kursi bahkan lebih. ”Saya rasa dengan melihat pergerakan dan aksi kita selama ini, ada beberapa partai yang siap berkoalisi dengan kita,” tandasnya.

Meski begitu, ia menegaskan kepada semua kadernya untuk terus berjuang bersama meraih simpati dan dukungan semua kalangan dalam gelaran pilwako yang akan berlangsung April 2013 mendatang. Pasalnya menghadapi calon incumbent dan muka-muka lama bukanlah perkara mudah. Untuk itu, ditengah kesibukannya sebagai anggota DPR, Nuris rela bolak balik Jakarta Palembang untuk mensosialisasikan pencalonannya ke pelosok wilayah Palembang. ”Jumat sore sampai Minggu malam saya habiskan waktu untuk sosialisasi di Palembang, Senin pagi saya sudah di Jakarta lagi,” terang anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR ini.

Saat ditemui di ruang kerjanya di komplek Gedung DPR/MPR beberapa waktu lalu, kepada Hayat Fakhrurrozi dari Garuda, lulusan Universitas Palembang ini memaparkan pandangan terhadap kondisi Kota Palembang, perjuangannya membesarkan Partai Gerindra Sumatera Selatan serta kesiapannya menghadapi pesta demokrasi pilwako Kota Palembang. Berikut petikannya:

Bisa diceritakan kondisi Partai Gerindra di Sumatera Selatan (Sumsel) sendiri seperti apa?

Secara umum Partai Gerindra Sumatera Selatan kondisinya baik. Struktur partai dari tingkat DPC, hingga PAC sudah terbentuk. Untuk kota Palembang, setelah saya ditetapkan oleh DPC untuk maju, sejak dua bulan lalu saya lebih fokus di Kota Palembang, namun bukan berarti DPC lain tidak diperhatikan. Khusus di Palembang, struktur partai sudah terbentuk hingga ranting dan anak ranting.

Bisa dijelaskan rencana Anda untuk maju dalam pemilihan walikota Palembang?

Memang benar, saya sebagai ketua DPD diminta oleh DPC Kota Palembang untuk maju dalam pemilihan walikota (pilwako) 2013 mendatang. Pencalonan saya ini sudah disosialisasikan ke DPC dan PAC yang ada di Sumsel. Gerakan kita sudah berjalan sejak dua bulan lalu baik lewat aksi revolusi putih atau kunjungan ke PAC dalam rangka melihat kesiapan mesin-mesin partai untuk menghadapi pilwako ini.

Bagaimana tanggapan masyarakat atas rencana pencalonan Anda?

Sejak ditetapkan untuk maju dan hasil kunjungan saya ke pelosok kampung di Palembang selama dua bulan ini antusias masyarakat begitu besar. Bahkan mereka sudah siap berjuang tidak untuk saya saja, tapi untuk kemenangan Gerindra dan Prabowo Subianto sebagai Presiden pada 2014 mendatang. Kita terus mengumandangkan yel-yel Gerindra Menang, Prabowo Presiden dalam setiap kesempatan.

Hingga saat ini, siapa lawan yang bakal dihadapi dalam pilwako nanti?

Setidaknya hingga saat ini, ada incumbent Wakil Walikota yang tentunya secara penokohan lebih terkenal. Tapi saya dan Partai Gerindra tidak gentar untuk menghadapinya. Lalu ada juga Kepala Dinas Perhubungan yang mencalonkan kembali, meski sudah dua kali ikut pertarungan pilwako tapi kalah, tentunya dia pun tak kalah terkenalnya. Mungkin dalam perkembangannya akan ada nama lain.

Kenapa pilih Walikota Palembang, tidak Gubernur Sumsel?

Sebenarnya ada juga yang menyarankan untuk posisi gubernur, tapi  saya juga harus tahu diri, dan tidak mau muluk-muluk, dengan kondisi dan realitas yang ada. Kalau pun maju di pilgub Sumsel, saya akan ambil posisi wakilnya. Nah, karena saya sudah ditentukan untuk maju di pilwako Palembang maka saya harus fokus. Kalau nanti kita dapatkan Palembang ini, maka ada keuntungan ketika mengusung Prabowo ke depan. Di Kota Palembang Gerindra memiliki ada lima kursi dan juga mata pilihnya 1,3 juta pemilih. Peringkat kedua Kabupaten Muara Enim, dengan lima kursi DPRD dengan jumlah pemilih sebanyak 700.  Untuk itu, kita harus rebut wilayah ini untuk menuju pemilihan Presiden mendatang.

Bisa dijelaskan, kekuatan Partai Gerindra di Palembang sendiri bagaimana?

Bayangkan, sebagai pendatang baru, dari 50 anggota DPRD, kita mampu mendudukkan lima kursi atau satu fraksi. Memang dengan jumlah kursi yang dimiliki itu belum cukup, untuk itu saya masih memerlukan dua kursi lagi agar memenuhi persyaratan. Tentu kita akan koalisi dengan partai lain. Mudah-mudahan dengan gerakan kita orang lain akan mendekat.

Dengan kekuatan itu, sebesar apa peluang yang dimiliki?

Kalau tidak punya potensi, saya tidak akan maju. Tapi karena melihat Gerindra punya posisi yang bagus dan sangat solid. Maka ketika ada kader yang siap maju, maka partai ini tidak boleh direntalkan. Pasalnya, kita berhitung kalau orang lain yang maju, kalau mereka kasih duit paling berapa sih? Setelah itu mereka tinggalkan kita, tapi kalau kita bertekad untuk maju, maka kalah memang itu kita yang tanggung. Jadi ngapain kita rentalkan, seperti yang dilakukan banyak partai di luar kita yang merentalkan partainya hanya untuk mendapatkan uang, sementara kaderisasi tidak jalan. Yang penting kita berjuang dulu, harus berani, kalah menang itu urusan nanti.

Program apa yang akan Anda tawarkan kepada masyarakat?

Sebenarnya secara umum, Palembang sudah bagus. Untuk walikota Edi Sentana, saya angkat topi, tapi ini periode terakhir buat dia, ada banyak hal yang harus dibenahi. Contohnya masih banyak rumah yang tidak layak huni, lingkungan yang kumuh, jalan-jalan yang belum bagus, tingkat kemiskinan yang masih tinggi, fasilitas pendidikan yang memprihatinkan, pasar tradisional yang kiat terjepit, pelayanan puskesmas gratis tapi tetap berbiaya mahal, karena akses yang jauh.

Untuk itu kita menawarkan perubahan di setiap bidang. Misalnya, puskesmas yang ada akan kita tingkatkan menjadi puskesmas modern dilengkapi fasilitas rawat inap yang dekat dengan penduduk kampung. Begitu pula dengan kesejahteraan para tenaga medisnya. Lalu bidang pendidikan tidak saja membenahi sekolah yang ambruk, tapi kualitas gurunya harus ditingkatkan, karena banyak sekolah bagus tapi gurunya tidak bagus. Kemudian, keberadaan pasar-pasar tradisional akan kita buat lebih modern sehingga bisa bersaing dengan supermarket yang kian membanjiri Palembang dan mematikan ekonomi rakyat kecil. Begitu juga dengan pembinaan generasi muda di bidang olahraga yang tidak diimbangi dengan fasilitas kapangan olahraga yang kian berkurang dan banyak yang disulap menjadi mal.

Apa yang Anda lakukan dalam sosialisasi ke tengah masyarakat?

Dalam setiap sosialisasi yang saya lakukan setiap Jumat sore hingga Minggu malam selalu tidak sekadar pertemuan saja, tapi sekaligus digabungkan dengan program delapan aksi seperti revolusi putih. Biasanya aksi revolusi putih yang digelar di kampung-kampung dengan sasaran anak-anak dan ibu-ibu hamil ini selalu dihadiri minimal 400-600 orang, bahkan pernah juga sampai 1000 orang yang hadir. Sebelumnya saya juga secara rutin menggelar turnamen bola voli yang sudah memasuki tahun kelima ini, bukan karena saya ingin maju di pilwako saja, tapi saya melihat minat olahraga di perkampungan di Palembang ternyata begitu tinggi. Dari sini kalau kita bina bakat-bakat atlet itu pasti menjadi baik dan tidak hanya terpusat di kota saja, tapi hingga ke pelosok kampung.

Nah dalam rangka sosialisasi menghadapi pilwako ini, saya dan tim memulainya dari pinggiran Palembang dulu, baru setelah itu kita garap wilayah perkotaan. Setidaknya, dalam seminggu ada lima kali revolusi putih. Untuk itu, saya membutuhkan dukungan dari teman-teman DPC, DPD dan DPP dalam menjalankan aksi ini.

Apa yang akan Anda berikan untuk Palembang?

Dengan jumlah penduduk 1,7 juta jiwa dan mata pilih 1,3 juta. Saya tidak mau banyak janji, karena biasanya banyak janji pasti banyak bohongnya. Saya hanya menawarkan perubahan dengan haluan baru, pemimpin baru, semangat baru dan rakyat tak butuh janji, tapi butuh bukti. Dan ini sudah saya lakukan sejak memulai terjun di panggung politik yang mengantarkan saya duduk di DPRD dua periode dan di Senayan ini. Mudah-mudahan ini tidak sekadar slogan yang saya cantumkan di atribuk sosialisasi yang saya buat tapi bisa saya buktikan secara nyata. Dan pada saat saya harus membangun Palembang, jargon ini harus saya buktikan.

Kondisi birokrasi di Palembang sendiri bagaimana?

Secara umum sudah birokrasi pemerintah kota Palembang cukup bagus. Tapi kalau nanti saya memimpin, maka harus lebih bagus lagi. Kalau perilaku KKN di lingkaran birokrasi saya pastikan masih ada, hal ini dibuktikan dengan adanya laporan para pemborong kepada saya bahwa proyek-proyek mereka sudah diambil oleh orang-orang dekat para pejabat birokrasi atau lewat koleganya. Inilah tantangan kita ke depan untuk menciptakan birokrasi yang bersih.

Selain mengandalkan mesin partai, parpol mana yang sudah melirik Anda?

Sampai saat ini memang banyak pihak yang meminta kader Gerindra untuk maju di pilwako Palembang, untuk itu saya maju. Tim hingga saat ini masih mengkaji siapa dan partai mana yang bakal mendampingi saya nanti. Yang jelas saya tidak akan merentalkan partai ini.

Selama ini apakah sudah ada survey tentang tingkat elektabilitas Anda?

Saya dan tim belum melakukan survei. Bagi saya survey itu bukan menjadi patokan seseorang untuk menang, tapi sekadar sebagai rekomendasi saja untuk mencari tahu, sebagai arah dimana titik lemah dan titik kekuatan. Jangan terlalu percaya dengan survei, bisa jadi pada saat survei warga yang menjadi responden hanya kenal dengan orang atau calon dari partai lain.

Bagaimana membagi waktu persiapan pilwako dengan kesibukan Anda di Senayan?

Saya rasa tidak bermasalah, selain pembagian waktu rapat yang berbeda antara komisi, BURT dan keperluan untuk dapil. Selama ini saya selalu pulang setiap Jumat sore untuk keliling ke seluruh dapil di Sumsel. Saya mohon maaf kepada kader-kader di DPC lain, sementara ini kurang diperhatikan. Bukan berarti dilupakan, tapi karena saya lagi fokus di Palembang. Untungnya, tim di setiap DPC sudah solid dan mereka mengerti dengan tugasnya, tinggal mengkondisikan saja.

Menurut Anda kondisi kepemimpinan kita saat ini seperti apa?

Di Sumsel sendiri, kita lihat gubernurnya selain sibuk menyelesaikan tugas juga tengah sibuk maju di DKI. Namun demikian, Gerindra tetap mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang pro rakyat. Meski memang diakui, kepemimpinan saat ini saya anggap amburadul, plintat plintut, ragu-ragu dalam menentukan kebijakan. Untuk itu dengan kebulatan tekad, Gerindra mengusung Prabowo menjadi pemimpin Republik ini.

Sebagai politisi kawakan, menurut Anda, politik itu apa?

Politik itu perjuangan. Di sinilah kita menentukan perjuangan itu bisa atau tidak. Perjuangan diawali dengan mencari kekuasaan, setelah berkuasa baru bisa merubah keadaan. Tentunya yang positif, tanpa berpolitik perjuangan kita omong kosong.

Lalu kondisi politik di gedung parlemen saat ini seperti apa?

Boleh saja dalam persaingan politik Fraksi Gerindra belum diperhitungkan karena jumlahnya sedikit. Tapi, meski sedikit sangat menentukan dan diperhitungkan banyak pihak. Biasanya kalau sidang paripurna, kita menentukan. Sedikit tapi diperhitungkan.

Pesan Anda untuk kader Gerindra Sumsel?

Saya yakin seluruh pengurus partai dan kader yang di Sumsel mendukung kebijakan ini, tidak hanya dalam bentuk materi tapi dengan moril dan dukungan gerakan lainnya untuk mensosialisasikannya ke bawah. Khususnya kader yang ada di Palembang ataupun di luar itu pasti akan mendukung bahwa saya, Haji Nur Iswanto maju sebagai walikota, untuk itu mohon dibantu. Dan kalau memang menginginkan kesejahteraan pilihlah Gerindra. [G]

H NUR ISWANTO, SH, MH

Tempat tanggal lahir:

Lahat, 7 November 1961

Jabatan:

  • Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sumatera Selatan
  • Anggota Komisi V DPR-RI
  • Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR-RI
  • Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR-RI

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Juni 2012
  • Pada Rabu, 5 Maret 2014, Nur Iswanto meninggal dunia karena sakit jantung.
Advertisements

Membangun dengan Kedaulatan Energi

“Biarkan kekayaan alam kita tetap tersimpan di perut bumi, hingga unsur-unsur Indonesia mampu mengolahnya sendiri.” Ir Soekarno, presiden pertama dan pendiri negeri ini sudah mengingatkan pentingnya mengelola sumber daya alam dari tangan-tangan anak negeri.

https://i2.wp.com/www.wespeaknews.com/wp-content/uploads/2012/09/subianto.jpegBoleh jadi, pesan ini tidak benar-benar diterapkan. Faktanya, Indonesia kini tengah terancam krisis energi. Indonesia pun sudah menjadi negara pengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak. Tentu saja ini akan membawa konsekuensi yang sangat luas. Bahkan sangat mengkhawatirkan dari sisi ekonomi, sosial, politik bahkan pertahanan dan keamanan nasional. Indonesia pun sangat bergantung dan dipengaruhi oleh dinamika fluktuasi harga minyak dunia, seperti yang tengah dihadapi saat ini. Dampak kenaikan harga minyak dunia terutama minyak tanah dan premium bisa berpotensi menimbulkan keresahan konflik sosial. Terlebih bila kondisi pendapatan serta daya beli masyarakat kian menurun.

Ironis memang, Indonesia yang dianugerahi kekayaan alam yang berlimpah namun berada diambang krisis energi. Sepertinya, bangsa ini hanya memperhatikan pemberantasan korupsi, pemilukada yang jujur, dan berbagai isu lainnya, tapi lupa dengan apa yang terjadi di perut bumi pertiwi.  Secara kasar mata, kekayaan negara ini setiap hari terus dikuras dibawa ke luar negeri. Padahal jelas-jelas UUD 1945 Pasal 33 mengamanatkan bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Mestinya, krisis energi nasional ini tidak akan terus berulang jika ada kesungguhan untuk mengatasinya secara mendasar dari penyebab krisis itu sendiri. Krisis energi yang terjadi ini, karena Indonesia hanya mengandalkan BBM yang bersumber dari minyak bumi. Padahal potensi minyak bumi yang berasal dari perut bumi itu ada batasnya dan akan semakin habis, tapi dieksploitasi terus menerus dan habis-habisan. Kini cadangan minyak bumi itu semakin tipis saja, karena Indonesia bukanlah negara yang kaya akan hasil energi fosil. Setidaknya potensi minyak Indonesia tinggal 12 tahun lagi, gas 32 tahun lagi dan batu bara 77 tahun lagi.

Untuk itulah, sebagaimana diamanatkan Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto dalam setiap kesempatan bahwa Gerindra terus dan fokus berjuang mengawal pemerintah dalam menjalankan amanat UUD 1945 pasal 33 ini. “Keinginan kita adalah melihat bangsa Indonesia kuat dan sejahtera,” tegasnya.

Menurut Prabowo, dalam bukunya, Membangun Kembali Indonesia Raya, Haluan Baru menuju Kemakmuran (2009), menegaskan, kelimpahan dan kekayaan sumber daya alam mineral nasional juga belum mampu secara berdaulat dikuasai, dikelola secara mandiri untuk kemakmuran rakyat, atau untuk kemajuan bangsa dan negara. “Pengelolaan sumber daya alam mineral saat ini juga terbatas bahkan terjebak hanya pada ekstrasi atau produksi alamiah dengan pengelolaan sederhana untuk lalu diekspor ke luar negeri,” tulisnya.

Parahnya lagi nilai tambah terbesar dari pengelolaan sumber daya alam mineral ini justru lari dan dinikmati oleh negara-negara atau pelaku usaha asing di luar negeri. Pemerintah bersama pengusaha domestik belum mampu menguasai pengelolaan sumber daya alam mineral nasional untuk kemudian diolah serta dikembangkan industri sekunder yang unggul sehingga menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Ditengarai kondisi ini disebabkan oleh pemerintah yang kurang berpihak pada industri sekunder di dalam negeri disertai dengan komitmen yang kuat untuk mengembangkan pengusaha atau pelaku usaha domestik yang unggul, mampu bersaing dengan para pengusaha serta pelaku usaha asing.

Walau telah diperkirakan dan menjadi kenyataan pada kondisi fluktuasi yang menyulitkan, tampaknya pemerintah masih tetap mengandalkan kecukupan bahan bakar minyak dan ketahanan energy nasional pada bahan bakar minyak yang berasal dari fosil. Untuk keperluan energi bagi pembangkit listrik, didiversivikasi kepada batubara, gas dan panas bumi dan air. Pemerintah belum secara sistematis, konsisten juga strategis menyiapkan, merencanakan mengembangkan ketahanan kedaulatan energi nasional dari bahan bakar alternatif baik terbarukan maupun yang berasal dari nabati atau biofuel.

Energi terbarukan

Jauh sebelum pemerintah mencanangkan penghematan energi, Gerindra menawarkan program diversivikasi energi yang termuat dalam 8 program aksi untuk kemakmuran rakyat bidang pangan dan energi. Dalam buku itu, Prabowo menegaskan bahwa negara Indonesia memiliki tanah pertanian yang luas dan cocok untuk budidaya tanaman singkong secara besar-besaran. Luas lahan yang ditanami Ubi Kayu di Indonesia saat ini masih relatif rendah.

Menurut BPS, pada tahun 2008 saja, luas panen Ubi Kayu baru hanya 1,22 juta hektar dengan produksi sekitar 20,8 juta ton. Dan jika setiap satu hektar kebun Singkong mampu menghasilkan Ubi Kayu sebanyak 40 ton per tahun. Sementara setiap satu ton Ubi Kayu akan mengasilkan 0,16 kiloliter bioethanol, maka setiap satu hektar akan menghasilkan 6,4 kiloliter per tahun.

Selain singkong, Aren merupakan salah satu alternatif untuk sumber bahan bakar nabati atau biofuel untuk menghasilkan bioethanol yang sapat menggantikan bahan bakar premium. Aren dapat ditanam di lahanm yang kurang subur atau bahkan lahan kritis, karena tanaman ini relatif tidak membutuhkan air yang banyak, justru sebaliknya aren mampu menyimpan, mempertahankan kondisi air dan tanah tempat tumbuhnya. Sehingga Aren berfungsi sebagai tanaman konservasi tanah dan air serta dapat sebagai tanaman reboisasi. Sifat ini tidak dimiliki oleh tanaman lain sumber bioethanol. Tanaman ini bisa dikembangkan di lahan-lahan yang tersebar di Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Di sisi lain, untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri, Indonesia masih harus mengimpor BBM sebesar kurang lebih 30 persen dari total kebutuhan dalam negeri. Menurut data ESDM nilai impor nasional pada tahun 2007 lebih dari 8,26 miliar dolar atau sekitar Rp 80 triliun. Pemerintah melalui Pertamina pada tahun 2009 saja mengimpor premium sebanyak 55,5 juta barel, solar skitar 73 juta barel serta minyak tanah sebanyak 36 juta barel. Pabrik bioethanol bisa dijalankan untuk jangka waktu lebih dari 20 tahun. ”Dengan begitu, sebanyak 544.527 orang dapat dihidupi setiap tahun untuk selama lebih dari 20 tahun,” tegas Prabowo dalam bukunya.

Apabila target pengurangan dan substitusi impor BBM premium nasional sama dengan target ubi kayu saja, yaitu sebesar 10 persen dari impor, maka diperlukan produksi bioethanol setara dengan 882 juta liter per tahun. Dengan produktivitas 20 ton/hektar/tahun maka diperlukan luas panen perkebunan Aren sebesar 440 ribu hektar setiap tahun. Dengan kata lain untuk menggantikan seluruh impor BBM premium nasional –yang diperkirakan 55,5 juta barel setiap tahun atau setara 8.925 juta liter per tahun— maka diperlukan produksi aren dari perkebunan seluas 4,4 juta hektar setiap tahun.

Sebagian perbandingan, Brasil telah mengembangkan ethanol selama puluhan tahun, menurut laporan FAO (2009), produksi ethanolnya pada tahun 2007 adalah sebesar 19.000 juta liter. Tantangan dan target ini seharusnya tidak terlalu sulit untuk dicapai dengan kelimpahan sumber daya alam lahan dan tenaga kerja Indonesia.

Bioethanol adalah bahan bakar sejenis dengan premium yang sudah terbukti baik untuk dijadikan bahan bakar kendaraan bermotor setelah dicampur dengan premium yang dihasilkan dari kilang BBM. Dengan target menggantikan impor premium sebagai pencampur premium sebesar 10 persen saja, maka diperlukan tambahan produksi bioethanol sebesar 55,5  juta barel x 10% x 159 liter/barel = 882 juta liter ethanol setiap tahun. Dengan pabrik bioethanol kapasitas 60 ribu kilo liter/tahun, kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan pembangunan 15 unit pabrik bioethanol baru. Dan pembangunan prabrik ini dapat ditingkatkan terus seiring dengan peniungkatan subtitusi premium dengan bioethanol. Dengan asumsi impor premium nasional relatif tetapi, diperlukan 150 unit pabrik bioethanol untuk menggantikan impor premium secara total.

Untuk bisa membangun pabrik bioethanol dengan kapasitas 60 ribu kiloliter per tahun ini dibutuhkan investasi sekitar 44 juta dolar. Jika dengan asumsi Debt/Equity ratio sebasar 70/30 maka modal equity yang diperlukan sebesar 13,2 juta dolar atau Rp 132 miliar (asumsi kurs Rp 10.000). Sehingga untuk membangun pabrik bioethanol sebanyak 15 unit pada tahap awal, diperlukan dana equity dari pemerintah sebesar 198 juta dolar atau Rp 1,98 triliun saja.

Jumlah ini tidak ada artinya bila dibandingkan dengan jumlah devisa yang dihamburkan dan uang subsidi BBM yang dibagikan oleh pemerintah. Dana lain yang diperlukan untuk modal kerja dapat dengan mudah disiapkan oleh pemerintah apabila ada kemauan dan keberpihakan yang kuat. Dengan kemauan politik dan dukungan kebijakan serta penempatan modal pemerintah maka tiap tahun dapat dibangiun 15-20 unit pabrik bioethanol. Alhasil dalam waktu kurang 10 tahun kebutuhan impor premium dapat disubstitusi oleh bioethanol.

http://fansprabowokappi1.files.wordpress.com/2012/12/prabowo-subianto-mimbar.jpg?w=300&h=220Jumlah impor BBM sekitar kurang lebih 350.000 barel per hari tentu akan menguras anggaran dan devisi negara. Terlebih jika dilihat dari data rasio kapasitas kilang/orang/tahun dari beberapa negara menunjukkan bahwa Indonesia termasuk salah satu yang paling rendah dibandingkan dengan negara Asia lainnya, seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan Jepang. Untuk mengurangi pemborosan, Prabowo dalam buku itu menyarankan alangkah baiknya apabila anggaran dan dana subsidi –baik langsung maupun bantuan tidak langsung— disisihkan sebagian untuk dipakai membangun kilang minyak (refinery plant). Sebagian kecil dana subsidi tersebut hanya sekitar Rp 18 triliun diperkirakan sudah cukup untuk membangun satu kilang minyak.

Setidaknya setelah kilang beroperasi ada dua keuntungan yang dapat diperoleh, yaitu Indonesia dapat mencukupi kebutuhan BBM nasional sehingga ketahanan dan kedaulatan energi nasional dapat meningkat, selain itu dana dari penghematan impor BBM sebesar 1.469.125.000 dolar per tahun dapat dipakai untuk program lain yang lebih bermanfaat untuk bangsa dan negara secara berkesinambungan.

Tidak hanya itu, program pembangunan kilang juga dapat menambah jumlah lapangan kerja baru, menambah pendapatan negara dari pajak, dan menghasilkan produk sampingan naphtha yang merupakan bahan baku industri petrokimia. Dengan ketersediaan bahan baku ini dapat juga dikembangkan lagi industri sekunder dan tersier petrokimia untuk mendukung pengembangan industri premier, sekunder seperti tekstil dan bahan plastik.

Energi listrik alternatif

Disamping itu, untuk keperluan energi listrik, salah satu sumber energi alternatif terbarukan –yang dimiliki negeri ini— yang berpotensi untuk dikembangkan adalah panas bumi (geothermal). Apalagi keberadaan Indonesia di atas sabuk vulkanik yang membentang dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara hingga ke Sulawesi Utara dengan total potensi sumber daya energi panas bumi sebesar 27.000 MW.

Berkait dengan adanya ratifikasi Kyoto Protocol dan komitmen pemerintah RI untuk mengurangi dampak global warming, potensi carbon credit terhadap pengembangan panas bumi di Indonesia menjadikan pengembangan energi panas bumi sangat memungkinkan untuk diwujudkan. Faktanya, jika program pengembangan panas bumi ini diimplementasikan bisa memberi banyak manfaat. Diantaranya kemandirian daerah dalam penyediaan energi yang bersumber dari energi panas bumi di daerah masing-masing. Potensi CER (carbon credit) terkait pemberdayaan energi panas bumi yang ramah lingkungan dapat memberikan pemasukan signifikan bagi negara tiap tahun. Disamping itu terbangunnya infrastruktur daerah untuk lebih meningkatkan perekonomian, terbukanya kesempatan lapangan kerja baru, dan pengembangan teknologi terapan plus inovasi teknologi baru.

Begitu pula dengan budidaya pangan terutama padi menghasilkan produk sisa bermacam-macam, termasuk sekam. Sekam sampai sekarang masih belum dimandaatkan sama sekali kecuali dibakar dan dipakai sedikit sekaliu untuk budidaya jamur.

Padahal potensi produk sekam ini sangat besar. dengan tingkat produksi padi sebsar 63,5 juta ton (2009) maka sekitar 30 persennya adalah berupa sekam atau setara dengan 19 juta ton sekam per tahun.

Berdasarkan informasi dari pabrik pembangkit listrik dari sekam yang telah beroperasi, untuk bisa menghasilkan listrik sebesar 1 MW per tahun hanya dibutuhkan 9.500 ton sekam. Dengan produksi sekam sebesar 19 juta ton, maka potensi produksi listrik bila menggunakan sekam adalah sekitar 2.005 MW. Potensi ini sangat menjanjikan karena dapat dikembangkan dalam ukuran kecil dan sedang di daerah-daerah produsen utama padi nasional.

Sejatinya penghematan energi seharusnya bukan sekadar pemanis di kala kesulitan atau hanya pencitraan. Penghematan energi adalah unsur yang penting dari sebuah kebijakan energi. Penghematan energi menurunkan konsumsi energi dan permintaan energi per kapita, sehingga dapat menutup meningkatnya kebutuhan energi akibat pertumbuhan populasi. Hal ini mengurangi naiknya biaya energi, dan dapat mengurangi kebutuhan pembangkit energi atau impor energi. Berkurangnya permintaan energi dapat memberikan fleksibilitas dalam memilih metode produksi energi.

Jadi jika krisis energi ini terus dibiarkan berlarut-larut, tanpa adanya kemauan politik yang kuat dari pemerintah untuk mengembangkan energy alternatif terbarukan maka hal ini berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi karena dapat menyebabkan tingginya dorongan inflasi dari keperluan bahan bakar minyak. Tingginya biaya produksi sehingga mengurangi daya saing ekonomi nasional, rentannya perekonomian terhadap fluktuasi harga dunia minyak, dan yang paling penting tidak dapat dimanfaatkan kelimpahan sumber daya lahan dan ketersediaan tenaga kerja (banyak penduduk yang menganggur) serta peluang permintaan bahan bakar nabati yang tinggi di dalam negeri, bahkan permintaan cukup tinggi untuk ekspor di pasar dunia. [G]

catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk majalah GARUDA, Edisi Juni 2012

Rani Mauliani: Semua Mata Tertuju Pada Gerindra

Tak pernah terbayang sebelumnya jika keterlibatannya sebagai aktivis sosial membawanya ke dunia politik praktis. Termasuk ketika harus mengemban amanah sebagai wakil rakyat sekaligus menahkodai partai politik salah satu wilayah di ibukota. Semua itu dijalani Rani Mauliani dengan penuh rasa tanggungjawab.

raniKeterlibatannya di dunia politik berawal ketika ia gabung menjadi relawan di Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria) yang ada dibawah bendera Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Menjelang Pemilu 2009, Gerindra membutuhkan caleg perempuan, Rani pun diminta untuk ikut bertarung dalam pesta demokrasi itu. ”Waktu itu saya tidak bisa menolak, terlebih ini perintah langsung dari abang saya,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 10 Februari 1978 ini.

Perjuangan dan kerja cerdasnya dalam bertarung di daerah pemilihan (dapil) Jakarta Barat mengantarkannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta. Dengan latar belakang dan pengalamannya sebagai aktivis sosial, oleh Partai Gerindra, Rani ditempatkan di Komisi E yang membidangi kesejahteraan rakyat meliputi pendidikan, kesehatan, layanan sosial dan olahraga. Meski menangani banyak hal, ada bidang yang mendapat prioritas tersendiri olehnya yakni layanan kesehatan. “Boleh jadi bidang itu menjadi makanan sehari-hari. Bahkan boleh dibilang saya ini menjadi ikonnya ambulan,” ujar perempuan yang dipercaya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Jakarta Barat ini.

Berangkat dari pengalamannya sebagai aktivis sosial dalam bidang kesehatan, Rani menjadi salah satu pendiri lahirnya Badan Kesehatan Indonesia Raya (Kesira) yang bernaung di DPP Partai Gerindra. Pasalnya, aksi sosial yang dilakukan Ketua DPC Partai Gerindra Jakarta Barat bersama timnya dalam membantu masyarakat miskin kota untuk mendapatkan akses layanan kesehatan itu menjadi pendorong lahirnya Kesira. Maka selain sibuk sebagai anggota dewan, Rani pun harus membagi waktunya mensosialisasikan program kerja Kesira ke seluruh penjuru nusantara.

Sebagai anggota DPRD DKI, ia terus memperjuangkan masalah kesehatan ini, baik dalam hal anggaran maupun aturan main tentang jaminan kesehatan warga DKI Jakarta. Meski demikian, ia tak lantas mengesampingkan bidang yang menjadi tanggungjawabnya. Setidaknya, keberadaan dirinya dan fraksi Gerindra di DPRD DKI meski hanya enam orang anggota kerap menjadi acuan bagi partai lain dalam setiap pengambilan keputusan. Terlebih, diakuinya bahwa dengan caranya yang kerap menjalin kerjasama lintas partai membawa kemashalatan.

“Yang jelas ketika kita sudah mengatasnamakan DPRD, kita harus bekerjasama dalam memperjuangkan nasib rakyat. Karena warga DKI banyak menaruh harapan kepada kita yang mewakili mereka,” ujar lulusan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung ini.

Meski selalu mengaku sebagai anak bawang, namun kinerjanya baik sebagai anggota dewan maupun Ketua DPC selalu mendapat acungan jempol. Pasalnya, lewat caranya yang unik dalam memimpin dan menjalankan tugas sebagai anggota dewan, Rani selalu bisa mengatasi segala persoalan internal maupun yang berkaitan dengan nasib warga Jakarta. Dalam memimpin pun, Rani tidak mempermasalahkan hirarki kepemimpinan baik yang ada di tubuh DPC, PAC maupun Ranting. “Yang jelas kerja nyata, sehingga semua mata akan tertuju pada Gerindra dengan sendirinya,” ujar politisi yang juga duduk sebagai Ketua III Badan Kesira DPP Partai Gerindra.

Selain memperjuangkan delapan program aksi dan pro rakyat, sebagai bagian dari fraksi Gerindra DPRD DKI, Rani terlibat langsung sebagai tim pemenangan Jokowi-Ahok calon guberbur dan wakil gubernur yang diusung PDI-P dan Gerindra yang akan berlaga pada 11 Juli mendatang. Menurutnya, melawan incumbent itu bukan perkara mudah, tapi Rani optimis, perpaduan Jokowi-Ahok mampu mengalahkan mereka. Pasalnya Jakarta tidak sekadar masalah macet, banjir seperti yang digadang-gadangkan pasangan lainnya, tapi lebih dari itu. “Warga Jakarta butuh kenyamanan, keamanan, pekerjaan, kesejahteraan dan itu yang akan kita perjuangkan,” ujar wakil Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan PD SATRIA DKI Jakarta.

Sebagai pimpinan cabang sebuah parpol yang tengah mengusung Jokowi-Ahok tentu berharap besar wilayahnya akan menyumbangkan banyak suara, khususnya dari etnis Tionghoa yang sebelumnya antipasti terhadap pemilu. Dan tentunya ini akan berimbas pada perolehan suara untuk pemilu 2014 mendatang. “Setidaknya, kantong-kantong suara Gerindra yang ada di Jakarta Barat akan mampu memenuhi target tiga sampai lima kursi sebagaimana yang ditargetkan partai pada pemilu 2014 nanti,” tegas seraya memaparkan setiap minggunya ada sekitar 70 orang masuk jadi anggota hanya dari satu orang kader yang menamakan dirinya maniak Gerindra.

Baginya, ketika kaum perempuan menginginkan perubahan, maka harus ada andil di dalamnya. Makanya, sebagai kaum perempuan yang masih dianggap kelas dua harus terjun di dunia politik, tampil ke depan dan berani bicara. “Tapi ingat dengan kodratnya sebagai perempuan,” ujar putri dari pasangan Hj Nany Suryantini – H Rachmad HS ini mengingatkan. [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA Edisi Juni 2012

Lebih Dekat Dengan Susi Marleny Bachsin: Gerindra Berjuang untuk Rakyat

Dunia politik acap kali masih dianggap sebagai dunia keras yang hanya dimiliki kaum laki-laki. Karena selama ini politik identik dengan perebutan kekuasaan. Terlebih dominasi laki-laki masih kental dalam struktur sosial dan budaya yang mempengaruhi kekurangaktifan perempuan dalam proses politik dan pengambilan keputusan.

susiAnggapan politik identik dengan laki-laki tidak berlaku bagi Susi Marleny Bachsin, SE, MM. Bagi perempuan cantik dan pemberani ini sejak semula perempuan memiliki kesetaraan dengan laki-laki. Pasalnya, perempuan memiliki kepentingan-kepentingan tertentu yang belum tentu dapat diwakili oleh kaum laki-laki. Baginya panggung politik adalah dunia yang setara milik kaum laki-laki dan perempuan. “Memisahkan perempuan dari politik sama saja memisahkan masyarakat dari lingkungannya. Terlebih undang-undang mengamanatkan keterwakilan perempuan sebesar 30 persen,” tegas perempuan kelahiran Jakarta, 19 November 1960 ini.

Keterlibatannya di panggung politik tak sekadar sebagai pelengkap, atau bahkan pemanis belaka. Lebih dari itu, berkat kepiawaiannya memadukan antara urusan keluarga, bisnis dan politik sungguh patut menjadi motivasi para aktifis perempuan untuk lebih serius terlibat dalam dunia politik. Sejak 2010, ia pun dipercaya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Provinsi Bengkulu. “Saya merupakan satu-satunya perempuan yang diamanahi sebagai ketua DPD. Bukan karena apa-apa tapi atas dasar kinerja saya dalam membesarkan partai ini,” ujar ibu tiga anak ini.

Memang, diakui pada awalnya ia secara tidak sengaja bersinggungan dengan partai politik saat ia mengantarkan seorang teman yang hendak mendaftarkan diri sebagai caleg. Keberadaannya di Partai Gerindra dianggapnya sebagai sebuah takdir. Pasalnya, jauh sebelum itu ia kerap mendapat tawaran dari parpol lain untuk menjadi caleg, tapi dengan tegas ia tolak. “Tapi entah kenapa, ketika saya mengantar seorang teman untuk ikut mencalonkan diri di Partai Gerindra, malah saya tertarik. Bahkan hanya dalam waktu tiga hari saya bisa menyelesaikan semua persyaratan administrasinya yang diperlukan,” kenangnya.

Waktu itu ia pun memilih Bengkulu sebagai daerah pemilihannya. Meski tidak lolos ke Senayan, tak lantas membuatnya menyerah atau mundur. Malah ia bersyukur bahwa ini adalah takdir Allah yang menginginkannya untuk belajar dulu. “Kalau saya duduk di kursi Senayan saat itu mungkin saya tidak bakal ngerti apa-apa, tapi sekarang saya lebih siap dan merasakan langsung beratnya perjuangan,” ujar Donna yang hanya menempati posisi kelima dari empat kursi yang diperebutan dengan meraih sebanyak 30 ribuan suara pada pemilu 2009 lalu.

Kini, kecintaannya pada Gerindra telah mendarahdaging. Betapa tidak, ditengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, dengan penuh rasa tanggungjawab ia menjalankan tugas untuk kemajuan dan kebesaran partai. Bahkan tak jarang ia harus memboyong keluarganya ke Bengkulu ketika ada tugas yang menyita waktu lama. “Saya lebih sering berada di Bengkulu, sementara keluarga di Jakarta. Tapi semua itu saya jalani dengan amanah, dan keluarga pun memahami akan tugas ini,” tandas ibu dari Kara, Dasya dan Zeta ini.

Meski menjabat sebagai orang yang memegang kendali komando partai politik, Donna begitu biasa perempuan cantik ini disapa, tetap tampil ramah dan sederhana. Tak heran bila sosok kepemimpinannya yang lebih menonjolkan sisi keibuan, ia lebih cepat dikenal masyarakat, termasuk di kalangan para pimpinan daerah maupun pusat. Kesederhanaannya bukan sekadar omong kosong belaka. Bukan pula sebatas jargon, pemanis tampilan, atau pencitraan politik, tapi semua konstituennya memberi apresiasi atas kepiawaian dan kinerjanya. Terbukti setiap kunjungan ke pelosok Bengkulu, ia tak segan untuk menginap di kendaraan atau pun di rumah konstituen dengan segala keterbatasan fasilitas.

Sempat dipandang sebelah mata akan kemampuannya dalam berpolitik karena dianggap orang baru berpolitik, tapi ia tak mau ambil pusing, dengan bekal keyakinan akan kemampuan dan dukungan orang-orang terdekatnya ia pun mampu menepis anggapan miring itu dengan kerja nyata, kerja keras dan komitmen dengan perjuangan. Dan semua itu terbukti dengan kemajuan yang diraihnya secara signifikan.

Terlahir dan dibesarkan di keluarga pengusaha sukses tak lantas dirinya menjelma sebagai anak manja. Anak ketujuh dari delapan bersaudara dari pasangan Moekminin Bachsin dan Noeraini Kuris ini sudah mandiri sejak usia remaja. Usai menyelesaikan bangku sekolah ia tak langsung kuliah tapi menyibukkan diri dengan bekerja. Tapi siapa sangka, di tengah kesibukannya, kini ia pun berhasil menyelesaikan kuliah program magister (S2) di bidang manajemen.

Lantas seperti apa pandangan dan perjuangannya sebagai satu-satunya perempuan yang diamanahi tugas memimpin parpol di tingkat propinsi ini. Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Garuda, perempuan cantik yang tengah digadang-gadangkan banyak kalangan di Bengkulu untuk maju dalam pemilihan walikota Bengkulu September mendatang ini memaparkannya saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bisa Anda ceritakan aktifitas keseharian Anda saat ini?

Saya ini, hanya seorang ibu rumah tangga. Tapi saya mendapat amanah untuk menjalankan tugas sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Bengkulu. Keseharian saya, selain mengurus keluarga, saya tumpahkan untuk Gerindra. Tentunya saya lebih sering berada di Bengkulu, meski keluarga di Jakarta. Di samping menjalankan bisnis yang ada di Jakarta.

Bagaimana Anda mengatur waktunya?

Saya domisili di Bengkulu. Ketika keluarga saya membutuhkan saya, baru saya pulang ke Jakarta. Malah, kadang-kadang keluarga dan anak-anak sering saya ajak ke Bengkulu. Karena ini tanggungjawab saya di partai dan demi jalannya organisasi partai. Mungkin lebih sering berada di Bengkulu.

Kondisi Partai Gerindra di Bengkulu saat ini seperti apa?

Alhamdiulilllah kondisi sekarang semua berjalan sesuai arahan dari pusat. Struktural kepengurusan mulai dari DPD, DPC, hingga DPAC sudah terbentuk. Selain tidak ada gejolak, mesin-mesin partai juga berjalan. Insya allah, tahun ini untuk tingkat ranting sebanyak 1.243 ranting pun bisa terbentuk. Disamping itu soliditas dan loyalitas kader menjelang pemilu 2014 makin kuat. Semua itu bukan sekadar omong kosong, tapi kita buktikan ketika melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah.

Bagaimana kekuatan Partai Gerindra di Bengkulu?

Memang saat ini kekuatan kita hanya satu kursi di DPRD Propinsi, dan tujuh kursi yang tersebar di DPRD kabupaten/kota. Namun setidaknya sejak dua tahun terakhir ini, ada peningkatan yang signifikan. Terlebih setelah adanya pengiriman kader-kader ke Hambalang, mampu membawa perubahan yang luar biasa. Di samping itu, posisi kader yang ada di kursi parlemen pun dipercaya menduduki posisi penting baik itu di komisi, fraksi gabungan maupun di badan kelengkapan dewan lainnya.

Menjelang 2014, strategi apa yang dilakukan Partai Gerindra Bengkulu?

Menjelang pemilu 2014, menggalakkan program KTA-nisasi, sosialisasi partai, dan melaksanakan delapan program aksi ke tengah-tengah masyarakat. Di lapangan sering ditemukan ada orang yang tidak memilih partai tapi mau pilih Prabowo. Tentu saja ini kesempatan bagi Gerindra. Saya tidak melihat Gerindranya tapi Prabowo, tapi yang jelas Prabowo itu rumahnya di Gerindra, jadi sekuat tenaga kita akan terus sosialisaikan Partai Gerindra dan Prabowo. Target ke depan setidaknya bisa meraih satu kursi DPR-RI, dan satu fraksi di DPRD kabupaten/kota.

Komentar Anda sebagai perempuan yang terjun di politik?

Jujur sebelumnya saya tidak mengerti apapun tentang politik. Lalu saya learning by doing, ternyata saya punya kemampuan untuk melakukan sesuatu. Buktinya saya sudah dua tahun bisa menahkodai dan masih dipercaya oleh pusat untuk memimpin satu propinsi. Ini sebuah kebanggaan bagi saya. Keterlibatan perempuan itu harus ada, dan saya sebagai satu satunya pimpinan perempuan di Gerindra daerah, tentu caranya berbeda dengan apa yang dilakukan kaum laki-laki. Meski kadang dilihatnya oleh mereka, saya ini banyak pertimbangan dalam memutuskan sesuatu. Itulah sisi keibuan seorang perempuan. Tapi yang jelas saya tidak ada pikiran untuk korupsi.

Sebagai seorang perempuan, bagaimana Partai Gerindra memperlakukan Anda?

Selama ini Partai Gerindra memperlakukan saya sama dengan yang lain. Tidak ada anak emas, atau dininabobokan, atau bahkan dianaktirikan. Memang kita sama dengan yang lainnya harus disiplin dalam menjalankan tugas organisasi kepartaian. Mungkin bisa jadi, antar DPD tentu berbeda perlakuannya, sesuai dengan kemampuan hingga kondisi geografisnya. Pasalnya ada ketua DPD yang juga menempati posisi strategis di daerahnya, seperti merangkap sebagai gubernur, bupati atau tokoh masyarakat. Sementara Bengkulu itu hanya dipimpin oleh seorang perempuan. Tapi jangan salah, Bengkulu itu ditopang oleh orang-orang hebat.

Bisa diceritakan awal mula Anda bergabung ke Partai Gerindra?

Awalnya memang tidak sengaja. Tapi saya anggap sudah takdir saya, harus berada di Gerindra. Sebenarnya, jelang pemilu legislatif 2009, saya sudah ditawari menjadi caleg di partai lain, tapi saya menolaknya. Anehnya entah kenapa, ketika saya mengantar seorang teman untuk ikut mencalonkan diri di Partai Gerindra, malah saya tertarik. Dan bahkan hanya dalam waktu tiga hari saya bisa menyelesaikan semua persyaratan administrasinya.

Jadi, waktu itu saya sedang berada di kawasan Pondok Indah untuk keperluan jual beli rumah, ternyata yang punya rumah bilang hanya punya waktu sebentar karena harus ke jalan Brawijaya untuk daftar jadi caleg. Akhirnya saya pun ikut sekalian mengantar dia ke Brawijaya. Sesampainya disana, saya dibujuk, kenapa tidak sekalian ikut daftar saja. Entah kenapa saat itu juga saya merasa ada panggilan hati untuk ikut nyaleg. Lalu saya pun ditempatkan di dapil Bengkulu. Meski memang pada akhirnya tidak lolos ke Senayan, saya hanya bisa mengumpulkan sekitar 30 ribuan suara. Bukan karena saya kurang maksimal tapi memang berdasarkan perhitungan KPU saya menempati posisi ke lima dari empat kursi yang diperebutkan waktu itu.

Apa yang membuat Anda mau terjun ke dunia politik?

Sejak saya memutuskan untuk ikut jadi caleg dari Gerindra, sejak saat itulah Gerindra mendarahdaging dalam diri saya. Harus diakui, setelah saya pelajari lebih dalam sebelum terjun langsung, perjuangan Gerindra benar-benar untuk rakyat. Dan itu terbukti, tidak hanya saya yang terpikat dengan Gerindra, malah sekarang masyarakat sepertinya berbondong-bondong ke Gerindra. Meski bukan karena program yang dicanangkan Gerindranya tapi sosok Prabowo yang membuat masyarakat. Termasuk keluarga besar saya yang memang sama sekali tidak ada yang terjun ke politik. Tapi ketika saya terjun ke partai politik, keluarga semuanya malah mendukung. Bukan karena saya partai yang dipilihnya Gerindra, tapi lebih melihat pada sosok Prabowo Subianto. Anehnya, sekarang ini baik saya maupun keluarga kalau ada orang yang bilang sesuatu tentang Gerindra itu apa gitu, rasanya sensitif banget kita.

Lantas bagaimana awal mula Anda ditunjuk sebagai ketua DPD Bengkulu?

Konon menurut pihak DPP, penunjukan itu lebih pada karena kinerja saya sewaktu pencalegan pada pemilu 2009 lalu. Awalnya, sebagai Pjs (pejabat sementara) menggantikan posisi ketua. Lalu sejak 2010 kemarin, saya pun dikukuhkan sebagai ketua. Mungkin ini takdir Allah, kalau saya duduk di kursi Senayan itu saya tidak bakal ngerti apa-apa, tapi harus belajar dulu. Dengan demikian Allah menunjukkan pada saya untuk belajar dulu baru terjun ke politik praktis. Dan sekarang saya tengah menikmati bagaimana perjuangan di partai politik dengan cara terjun langsung ke masyarakat, mengerti apa yang diinginkan masyarakat, konstituen khususnya dan pada akhirnya saya pun lebih paham serta memahami apa kemauan masyarakat.

Bagaimana Anda dalam menjalankan tugas sebagai ketua DPD?

Awalnya memang masih meraba-raba, tapi lama-lama saya menikmatinya. Bukan karena melihat background-nya, tapi malah saya ikut hanyut sejak kampanye dulu hingga sekarang ketika turun ke bawah. Saya ini easy going. Hampir seluruh pelosok Bengkulu sudah saya kunjungi. Bahkan ke daerah yang harus ditempuh perjalanan darat berjam-jam pun saya lakukan. Termasuk ketika harus bermalam di jalan atau di rumah penduduk yang tidak saya kenal sebelumnya. Saya tidak pernah takut.

Jadi, menurut Anda politik itu apa?

Politik itu melakukan sesuatu untuk rakyat. Siapapun harus berpolitik kalau mau merubah nasib sebuah bangsa. Tapi bukan sekadar menjadi politisi, tapi kita juga harus bisa berpolitik. Sebagaimana arahan dari Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, bahwa kita bukan politisi, tapi kita pejuang untuk mempertahankan NKRI sampai darah penghabisan. Oleh karena itu kita harus tampil kepada rakyat sebagai pembela kebenaran, kejujuran, membela yang lemah, membela semua golongan, karena itu ruh dari partai Gerindra. Itulah yang saya maksud politik itu melakukan sesuatu untuk rakyat.

Apa pandangan Anda dan keluarga terhadap sosok Prabowo?

Yang jelas, pertama beliau terlahir dan dibesarkan di keluarga yang terpelajar. Siapa yang tak mengenal orangtua beliau. Kedua, beliau merupakan sosok pemimpin yang berani, tegas, disiplin tapi bukan diktator dan bukan demokrasi seenaknya saja seperti yang berjalan saat ini. Beliau adalah perpaduan sosok Soekarno dan Soeharto.

Memang seperti apa kondisi kepemimpinan di Indonesia saat ini?

Ya boleh dibilang butut. Saya tidak mengatakan butut ini bukan lima tahun yang lalu, tapi dua tahun terakhir ini. Buktinya banyak kecurangan-kecurangan, ketidakadilan di mana-mana baik tingkat pusat maupun daerah. Perlu diingat, masyarakat kita itu tidak bodoh. Memang mereka kecewa, dan merasa tertindas, tapi tidak punya kekuatan untuk melawan. Untuk itu solusinya kepemimpinan kita harus diganti dengan pemimpin yang tegas, tahu dan mau bekerja untuk melaksanakan tugasnya, dan mendengar kemauan rakyat.

Seperti apa Suka duka dalam memimpin partai?

Yang jelas, saya bisa merangkul semua kalangan. Alhamdulillah selama ini tidak ada gontok-gontokan. Selama ini mereka (pengurus) merasa senang ada ibunya, ada yang menganggap kakak. Kalau yang dukanya, paling gossip, isu-isu sebagai seorang perempuan yang terjun ke dunia politik yang mungkin itu banyak juga dialami oleh teman-teman perempuan lainnya.

Apa pesan untuk para kader Gerindra di Bengkulu?

Tentunya baik saya maupun kader Bengkulu harus terus bekerja keras untuk memenangkan partai, mensosialisasikan partai dan Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Tetap dalam satu barisan, jaga loyalitas dan kekompakan untuk menang di 2014 baik pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. [G]

Nama Lengkap:

Susi Marleny Bachsin, SE, MM

Tempat dan Tanggal Lahir:

Jakarta, 19 November 1960

Jabatan:

Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Bengkulu, 2010 – sekarang

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Mei 2012

Lebih Dekat Dengan Abang Tambul Husin : “Gerindra Tahu yang Rakyat Mau”

Politik itu perbuatan mulia. Mulia dalam arti membangun kekuasaan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Karena itu, mau tak mau harus berani berpolitik untuk bisa berkuasa. Dan menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk memperjuangkan nasib rakyat harus menjadi karakter seorang pejuang politik.

Pandangan diatas dilontarkan dari seorang politisi senior, Drs H Abang Tambul Husin –yang hampir lebih dari separuh usianya dihabiskan untuk mengabdi pada rakyat lewat jalur politik. Pun di usianya yang memasuki 64 tahun, ia masih ajeg di dunia politik dengan menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Propinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Dan kini mantan Bupati Kapuas Hulu dua periode (2000-2010) ini siap bertarung dalam ajang pemilihan gubernur (pilgub) Provinsi Kalimantan Barat periode 2012-2017 yang bakal digelar September mendatang.

Berbekal kemampuan dan pengalaman memegang berbagai jabatan penting di pemerintahan daerah serta dukungan dari rakyat, Tambul Husin pun bertekad menjadikan Kalimantan Barat sebagai propinsi kelas macan, bukan lagi propinsi kelas kambing.

Kalbar harus menunjukkan kelasnya sebagai provinsi yang disegani, yang memiliki berbagai potensi dan sumber daya yang harus terus digali demi kemakmuran masyarakatnya. “Kalau sekarang, Kalbar baru berjalan selangkah dua langkah. Saya ingin membawa Kalbar melompat, maju melesat, tidak setapak dua tapak, karena potensi yang luar biasa,” tegas pria kelahiran Kapuas Hulu, 3 Maret 1948 ini.

Keinginannya maju untuk memimpin Kalbar bukan sekadar unjuk kekuatan atau gagah-gagahan. Semua itu atas dasar panggilan hati untuk berbuat sesuatu di tanah kelahirannya. Sebagai putra daerah asli Kalbar, ia tahu persis apa yang harus dilakukan untuk kemajuan Kalbar. Tentu tidak sendirian, lulusan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Pontianak 1973 ini mengajak seluruh elemen masyarakat Kalbar, tanpa membeda-bedakan latar belakang, baik suku, agama, dan kedudukan. “Saya tahu persis Kalbar memerlukan sesuatu untuk dibuat, dan saya tahu apa yang harus diperbuat untuk kemajuan Kalbar,” ujar cagub yang mengusung slogan ‘Berkibar’ yakni Bersatu Kita Bangkit untuk Kalbar.

Panggung politik telah digelutinya sejak masih duduk sebagai mahasiswa. Ia tercatat sebagai juru kampanye (jurkam) tingkat provinsi Kalbar pada pemilu 1971. Usai menyelesaikan pendidikan praja di Pontianak, ia pun mengabdikan diri di birokrasi di kampung halamannya. Sejumlah jabatan diembannya, antara lain Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kapuas Hulu, Kepala Bagian Hukum Kabupaten Kapuas Hulu, Kepala Seksi Bansos Kesra Provinsi Kalbar. Lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi-Lembaga Administrasi Negara (STIA-LAN) Jakarta tahun 1975 ini pun sempat menduduki jabatan Sekretaris BP7 Kabupaten Kapuas Hulu lalu Kepala Bagian Kemahasiswaan sekaligus sebagai dosen tetap di APDN Pontianak.

Sejak 1997, ayah lima orang anak ini menetapkan diri untuk mundur dari ranah birokrasi karena diberi mandat untuk memimpin parpol. Berkat kepiawaiannya di percaturan politik, Tambul pun berhasil duduk  sebagai anggota DPRD Kabupaten Kapuas Hulu pada pemilu 1999. Di gedung wakil rakyat itu ia pun didapuk sebagai Ketua DPRD. Hanya berselang tujuh bulan, Tambul pun terpilih sebagai Bupati Kapuas Hulu periode 2000-2005. Rupanya kepercayaan masyarakat atas kepemimpinannya mengantarkan ia terpilih kembali untuk kali kedua pada pilkada bupati tahun 2005.

Rupanya garis perjuangan Partai Gerindra yang selama ini ia pelajari mampu menggerakkan hatinya untuk bergabung. Baginya apa yang diperjuangkan Partai Gerindra selama ini merupakan jawaban atas apa yang dimau oleh rakyat. Maka sejak setahun silam, ia dipercaya untuk menahkodai partai berlambang kepala burung garuda di tanah kelahirannya.

Selain mengemban amanah partai, politisi senior yang hobi main catur ini mendapat mandat untuk maju memperebutkan kursi gubernur Kalbar dengan menggandeng Barbanas Simin sebagai pasangannya.

“Kekayaan alam Kalbar dan keberagaman yang ada di Kalbar sebagai inspirasi dan kekuatan besar untuk kemajuan Kalbar, bukan malah dikotak-kotakkan,” tegas suami Mega Hartini ini.

Lantas seperti apa pandangan dan perjuangan politiknya dalam rangka menuju orang nomer satu di Kalbar. Bagaimana pula usaha dia dalam membesarkan dan menjaga marwah partai? Di bawah ini wawancara Hayat Fakhrurrozi dari Garuda di sela-sela kesibukannya mengikuti Rapat Koordinasi menjelang digelarnya Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Gerindra, beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Apa aktifitas keseharian Anda saat ini?

Waktu, tenaga dan pikiran saya saat ini tercurahkan untuk membesarkan Partai Gerindra. Dan Alhamdulillah keluarga semuanya mendukung perjuangan ini. Disamping tentunya untuk menghidupi keluarga saya menjalani bisnis kecil-kecilan bersama keluarga.  Jadi antara ngurus partai dan bisnis saya jalani dengan enjoy. Kapan sempat ke DPD ngurus partai, ya saya ke sana, begitu pula kapan sempat ngurus bisnis ya jalan. Jadi mana yang butuh prioritas saja, saya tidak harus kaku mengatur manajemen organisasi ini, kan sistem sudah ada dan berjalan dengan baik.

Bisa ceritakan awal mula Anda terjun ke dunia politik?

Boleh jadi sebagian umur saya lebih banyak diberikan untuk politik. Saya mulai terjun ke dunia politik sejak tahun 1971, waktu itu saya berusia 22 tahun masih berstatus sebagai mahasiswa dan sudah menjadi juru kampanye tingkat propinsi. Usai lulus saya pun menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Pendapatan Daerah. Tahun 1997 saya mundur dari PNS karena mengurus partai.

Lalu saya ikut pemilu 1999 di bawah bendera Partai Golkar dan jadi anggota DPRD Kabupaten Kapuas Hulu, saya pun menduduki posisi ketua DPRD yang saya jalani hanya 7 bulan, karena pada tahun 2000, saya ikut pemilihan Bupati periode 2000 – 2005 dan terpilih. Lalu saya ikut lagi dan terpilih untuk kedua kalinya hingga 2010 lalu. Malah sekarang posisi itu kini diduduki oleh adik saya sendiri yang terpilih dalam pilkada lalu. Dan saat ini saya dipercaya untuk memimpin Partai Gerindra Propinsi Kalimantan Barat.

Lantas apa yang membuat Anda bergabung ke Gerindra?

Yang jelas begini, terus terang bagaimanapun juga kita melihat perjalanan perpolitikan, riak dan gelombangnya. Sebagai orang yang sudah memahami percaturan politik, ketika Gerindra hadir, saya melihat di Gerindra ini ada sebuah harapan dan semangat baru yang lain. Bagi saya inilah partai yang bisa menjawab kondisi perpolitikan di tanah air.

Bisa jelaskan kondisi Partai Gerindra di Kalimantan Barat (Kalbar) saat ini?

Alhamdulillah secara struktural Gerindra di Kalimantan Barat sudah terbentuk hingga ke tingkat ranting setingkat desa. Saya kira ada harapan baru dan semangat baru yang kami rasakan di partai Gerindra ini. Setidaknya ada kebangkitan dan kenaikan yang signifikan pada partai Gerindra di Kalbar. Hal ini dibuktikan dengan animo masyarakat yang begitu tinggi, dimana mereka menaruh harapan yang besar terhadap Gerindra.

Lalu apa yang tengah diperjuangkan Partai Gerindra di Kalbar?

Yang jelas karena posisi Kalbar berada di daerah perbatasan, maka perjuangan yang terus kami lakukan adalah sekuat tenaga menjaga dan mengobarkan semangat kebangsaan dan nasionalisme masyarakat Kalbar yang multi etnis untuk tetap setiap dengan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Jangan sampai nasionalisme masyarakat Kalbar yang ada di daerah perbatasan ini luntur oleh riah-riak yang ada selama ini. Disamping itu menjalankan delapan program aksi Partai Gerindra salah satunya ekonomi kerakyatan dengan memberdayakan ekonomi masyarakat lokal. Untuk kader partai kita terus menggemblengnya menjadi kader yang militan dan loyal terhadap perjuangan partai.

Menjelang pemilihan gubernur (pilgub) hingga saat ini bagaimana perkembangannya?

Insya allah disamping kita, di pilgub nanti ada calon-calon kuat lainnya, terutama calon incumbent. Tapi Gerindra juga mempunyai peluang besar untuk menang. Setidaknya yang memenuhi syarat ada sekitar empat pasangan termasuk kita. Yang jelas dengan menggandeng Pendeta Barnabas Simin, saya sudah siap lahir batin sebagai pasangan nasionalis-religius. Selain sudah mengantongi dukungan dari pusat, setidaknya dari 16 parpol yang berkoalisi saja sudah melebihi dari syarat yang ditentukan 15 persen, apalagi jika Partai Demokrat jadi bergabung bisa mencapai 40 persen.

Dalam pilgub nanti apa yang Anda tawarkan?

Saya berprinsip Kalbar bukan sekadar maju, tapi sudah harus lebih bangkit lagi untuk maju. Kalbar harus menunjukkan kelasnya sebagai provinsi yang disegani, yang memiliki berbagai potensi dan sumber daya yang harus terus digali demi kemakmuran masyarakat. Memang, kalau sekarang, Kalbar baru berjalan selangkah dua langkah. Saya ingin membawa Kalbar melompat, maju melesat, tidak setapak dua tapak, karena potensi yang luar biasa.

Yang jelas motivasi saya maju dalam ajang ini karena saya tahu persis Kalbar memerlukan sesuatu untuk dibuat, dan saya tahu apa yang harus diperbuat untuk kemajuan Kalbar. Tentunya saya tidak sendirian, tapi mengajak seluruh komponen masyarakat Kalbar, tanpa membeda-bedakan berbagai latar belakang, baik suku, agama, dan kedudukan. Dari rakyat, pejabat, dan pemuka masyarakat harus maju dan bangkit bersama demi Kalbar. Karena itu, dalam pilgub ini saya mengusung semboyan ‘Berkibar’, yaitu Bersatu Kita Bangkit untuk Kalbar.

Jika terpilih nanti, apa yang akan Anda lakukan?

Yang akan saya lakukan adalah pembangunan yang merata mulai dari Kota Pontianak hingga Kapuas Hulu, salah satunya dengan mewujudkan jalan poros selatan. Perlu diingat bahwa beberapa potensi yang dimiliki Kalbar, seperti karet, tambang, crude palm oil (CPO), dan bidang wisata bisa dijadikan sebagai modal memajukan Kalbar untuk bangkit melesat.

Kekuatan Gerindra di Kalbar seperti apa?

Memang, tak dipungkiri lagi, dimana-mana pun partai ini baru tampil agak belakangan dan dalam tempo yang singkat namum bisa tampil ke muka di Pemilu 2009. Tapi dengan persiapan yang sangat singkat itu, setidaknya kader kita yang duduk di DPRD Propinsi ada dua orang. Sementara di DPRD Kabupaten/kota ada yang 1-2 kader ada juga yang sama sekali tidak mendapat kursi. Ke depan menjelang 2014 saya rasa Gerindra jauh lebih siap. Setidaknya, indikasi Gerindra akan bisa menembus jajaran partai papan atas sekaligus menggeser 3-4 partai sudah di depan mata.

Apa yang akan dilakukan menghadapi 2014 nanti?

Pertama membenahi organisasi ini sampai ke level bawah. Kedua jangan biarkan organisasi ini hanya sekadar kerangka yang tidak punya roh, sehingga tidak bergerak. Hal ini bukan karena tidak ada upaya tapi tantangan yang semakin kompleks sehingga setiap kader harus siap merubah diri sesuai dengan tujuan yang akan kita capai. Tentu saja kalau dulu target hanya 4 persen, maka yang kita capai harus lebih besar lagi.

Menurut Anda, kondisi kepemimpinan saat ini seperti apa?

Yang jelas Indonesia memerlukan style kepemimpinan yang baru. Negeri ini harus dipimpin orang yang berani berdiri di atas kaki sendiri, tegas, tahu apa yang rakyat mau dan merasakan apa yang rakyat rasakan. Dan semua itu ada pada sosok Prabowo Subianto. Saya atasnama masyarakat Kalbar dukung tanpa kecuali, karena bagi kami itu yang bisa menjawab kebutuhan kepemimpinman nasional saat ini. Beliau tegas, idealis dan peduli terhadap rakyat kecil.  Tentu saja untuk mengantarkan Prabowo ke tampuk kepemimpinan itu tetap harus melalui jalur konstitusi, ikuti sistem dan prosedur berdasar undang-undang dan tentunya mendapat dukungan rakyat secara full. Pasalnya dukungan rakyat merupakan syarat mutlak untuk kita bekerja.

Jadi menurut Anda politik itu apa?

Banyak orang bilang, politik itu suatu yang negatif, tapi bagi saya politik itu mulia. Mulia dalam arti membangun kekuasaan, karena kekuasaan itu penting untuk mengatur dan membangun, mengantarkan, mensejahterakan rakyat. Karena perlu diingat bahwa kekuasaan juga dipilih oleh rakyat. Tapi yang mesti digarisbawahi adalah setelah terpilih, kita juga bukan sekadar mengambil kekuasaan saja, tapi menjadikan kekuasan itu sebagai alat untuk memperjuangkan nasib rakyatnya dan itu harus menjadi karakter seorang politikus.

Sebagaimana arahan Ketua Dewan Pembina kita Prabowo Subianto, bahwa kalau kita ingin masa depan baik harus berani terjun ke dunia politik, berani menerima mandat dan mengemban amanah serta kepercayaan rakyat. Itulah seharusnya sikap-sikap kader politik. Jadilah pemimpin yang didukung bukan karena kekuasaan, sesuai dengan ikrar dan sumpah, yang berhati Pancasila, menjaga semua suku, ras, adat, kelompok etnis yang semua bagian dari bangsa Indonesia.

Pesan apa yang akan disampaikan kepada kader Gerindra?

Saya harap semua kader dari setiap tingkatan harus siap untuk bekerja keras dan tampil dengan elegan tanpa harus mencerca pihak lain. Sehingga kita bisa memberikan sesuatu yang lebih bermakna buat rakyat. Orang boleh berpendapat lain tentang politik, tapi kader Gerindra harus yakin bahwa politik itu mulia. Pasalnya kalau kita punya kesempatan untuk memegang kekuasaan dan kalau dimanfaatkan untuk hal yang jelek maka akan hancur, tapi kalau kekuasaan itu digunakan untuk hal yang baik, bukankah itu perbuatan mulia. [G]

****

Nama Lengkap:

Drs H Abang Tambul Husin

Tempat tanggal lahir:

Kapuas Hulu, 3 Maret 1948

Jabatan:

  • Ketua DPRD Kabupaten Kapuas Hulu
  • Bupati Kapuas Hulu tahun 2000-2010 (dua periode)
  • Ketua DPD Partai Golkar Kapuas Hulu (dua periode)
  • Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Kalbar (sekarang)

* Catatan : Artikel ini ditulis dan dimuat di Majalah GARUDA, edisi 16/April/2012

Prabowo Subianto : “Gerindra Didirikan untuk Masa Depan Bangsa”

“Kita merasa masa depan bangsa ini di persimpangan jalan. Kalau kita tidak pintar, tidak bijak, tidak piawai, tidak teguh, tidak tegar, tidak berani dalam menjalankan kehidupan bernegara, berbangsa, berpoilitik, bisa-bisa Indonesia pecah tidak lama lagi. Untuk itu, tujuan didirikannya partai ini adalah untuk menyelamatkan masa depan bangsa,” tegas Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Prabowo Subianto dihadapan para kadernya dalam Kongres Luar Biasa Partai Gerindra di Lembah Hambalang, Bogor, Maret lalu.

Menurut Prabowo, Partai Gerindra telah menjadi partai yang besar. Diakui atau tidak Partai Gerindra ikut mempengaruhi kehidupan politik bangsa, menentukan arah kehidupan politik bangsa ini. Tidak hanya itu, kondisi ini ditopang dengan perjuangan para kader di daerah yang tetap kuat, militan, dan disiplin.

Ini ditunjukkan para kader yang tetap membesarkan partai dan berada di tengah-tengah perjuangan rakyat. Dengan demikian Gerindra telah menjadi parpol yang sebenarnya berjuang untuk rakyat Indonesia. “Alhamdulillah partai kita kerja bukan karena ada uang, partai kita bila perlu berkorban uang untuk bekerja demi rakyat Indonesia,” tegas mantan Pangkostrad ini.

Prabowo prihatin dengan kondisi bangsa yang lemah di tengah kekayaan alamnya yang melimpah. Negeri ini kaya dengan sumber tambang yang berharga bagi kehidupan dunia, tetapi hampir semuanya dikuasai oleh segelintir orang saja. Bahkan dengan mudah diambil oleh bangsa lain.

“Di tengah kekayaan alam yang melimpah, rakyat kita tetap miskin, di tengah kekayaan yang berlimpah masih ada rakyat yang telanjang, rakyat kita tidak menikmati apa yang seharusnya kita nikmati,” ujarnya heran.

Sehari sebelumnya, putra Begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo ini menerima tamu sejumlah kepala suku dari sejumlah wilayah adat di pulau Kalimantan yang mengadukan nasib atas tanah leluhurnya. Betapa tidak dari wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur yang kaya sumber daya alam itu puluhan ton tambang keluar, tapi tak bisa menikmati sepeserpun. Padahal keuntungan setiap tahunnya bisa mencapai Rp 6 triliun.

“Bahkan rakyat kita digusur, tidak menikmati dari kekayaan yang ada di tanah leluhur mereka. Kita lihat aparat yang dibiayai rakyat menggusur dan menindas rakyat kita sendiri, saya sebagai mantan tentara, saya menangis melihat kenyataan ini,” ujarnya.

Wajar jika rakyat marah, ketika meraka melihat kekayaan negeri ini tidak dikelola dengan baik dan hanya dinikmati segelintir orang. Rakyat melihat penyelewengan, aksi korupsi yang kian berani, kelakuan para pemimpin yang dengan gampang tanpa dosa melakukan kebohongan-kebohongan. Tak heran bila situasi negara sudah mulai panas, parah, banyak yang minta perubahan, bahkan melakukan tindakan di luar konstitusi.

Perang Suci

Mantan Danjen Kopassus itu berkali-kali menegaskan bahwa Partai Gerindra didirikan untuk menyelematkan masa depan bangsa, memperbaiki kerusakan moral, kerusakan politik, dan kerusakan yang telah terjadi dalam proses kepemimpinan di tiap tingkatan dari desa, kecamatan, hingga nasional. “Kita ingin memimpin pembaharuan, kita ingin Indonesia ini menjadi negara yang sejahtera,” tegasnya.

Tapi Prabowo mengingatkan, negara sejahtera tidak bisa dicapai, kalau pemerintahnya tetap korup, pemerintahnya tidak mempunyai kemampuan untuk menjalankan pelayanan kepada rakyatnya. Sejarah manusia mengajarkan, manakala pemerintah suatu negara itu korup maka itu menuju distintergrasi, dan kegagalan.

“Rakyat kita semakin pandai, pinter, tidak bisa dibohongi terus. Rakyat pun menyadari bahwa pemerintahan harus memberi pelayanan publik yang lebih baik, keamanan, pendidikan, kesehatan, dan ini tidak mungkin kalau korupsi terus merajalela,” tandasnya.

Dengan kondisi seperti ini, Partai Gerindra memberanikan diri tampil berjuang memperbaiki negeri. Karenanya, norma-norma biasa yang berlaku di parpol lain tidaklah berlaku di partai ini. Partai Gerindra harus selalu tampil di tengah-tengah rakyat sebagai pembela kebenaran, kejujuran dan semua golongan.

“Saya tidak ragu-ragu bahwa apa yang kita lakukan ini sebagai jihad, perang suci dalam menjalankan mandat saudara-saudara,” tegasnya.

“Saya memimpin dengan sikap berjuang, bukan sebagai politisi. Kita adalah pejuang untuk mempertahankan NKRI sampai darah penghabisan. Karena itu kita harus selalu tampil kepada rakyat sebagai pembela kebenaran, kejujuran, yang lemah dan semua golongan. Itulah ruh Partai Gerindra,” ujarnya mengingatkan.

Prabowo pun meminta kepada para kadernya untuk terus menjaga marwah partai sebagai partai yang bersih, kompak, tidak terlalu banyak pertikaian, tidak terlalu banyak sikut menyikut, kubu-kubu, intrik-intrik, curiga mencurigai, karena tuntunan keadaan partai ini membutuhkan kader yang kompak dan militan. “Karena kita sudah ada di ajang perang. Tidak ada waktu untuk membicarakan kejelekan orang lain, tidak ada waktu untuk bersitegang,” ajaknya.

Semua itu dalam rangka menghadapi pemilu 2014 mendatang yang boleh jadi tidak lebih dari 1000 hari lagi. “Kita tidak mau terulang di masa waktu 2009, dicurangi dan kita malah menjadi anak manis. Sudah saatnya kita harus bergerak, berjuang untuk menang. Menjalankan revolusi damai, konstitusional. Kita ingin pemilu yang bersih, kita harus tekankan bahwa kunci kita di pemilu nanti adalah damai,” ujarnya.

Partai Gerindra harus menjadi partai yang bersih. Partai yang membela kepentingan rakyat. Partai yang melakukan perombakan, pembaharuan, karena kalau tidak negara ini akan sirna dan bubar. Sejatinya, lanjut Prabowo, rakyat Indonesia yang ada di Papua, Kalimantan, akan bertanya kenapa kita diam melihat kekayaan negeri ini terus diambil dari daerahnya. Mereka juga bertanya, apa benar kita masih mau ada di negara ini? “Jangankan dari Papua atau Kalimantan, rakyat Banten pun saya yakin, tidak mau dipimpin oleh penguasa yang terus korup. Kita pun merasakan rakyat yang sudah kecewa, karena itu Partai Gerindra tampil berani untuk maju ke hadapan rakyat,” tegasnya.

Untuk itu, selama empat tahun berjalan, Partai secara alamiah telah melakukan penyaringan terhadap kader-kadernya. Bagi mereka yang mengira bisa berpetualang di partai ini, mencari kekayaan dari partai ini, satu persatu mulai meninggalkan partai.  Pun apabila mereka tidak mau meninggalkan partai ini, maka partailah yang mendorong mereka untuk keluar.

Dalam kesempatan itu Prabowo pun berkali-kali mengatakan bahwa Partai Gerindra tidak boleh asal jadi partai, Gerindra harus menjadi partai bersih, yang membela rakyat, membela kedaulatan dan kehormatan bangsa yang memimpin pembaharuan bagi rakyat Indonesia. Partai Gerindra ingin membangun bangsa yang bermartabat, menghilangkan kemiskinan dari bumi Indonesia baik di desa maupun di kota. Cita-cita Partai Gerindra adalah cita-cita yang besar, impian yang besar, perjuangan Partai Gerindra perjuangan besar, karena itu dibutuhkan jiwa yang besar, pengorbanan yang besar, semangat yang besar, bukan semangat yang kerdil.

“Karena itu saya bersyukur bahwa kita bisa selenggarakan satu kongres pada hari ini dengan penuh kekeluargaan, jiwa besar, pengorbanan, kesadaran dan kearifan sesuai dengan watak bangsa Indonesia, musyawarah untuk mufakat. Kita di rumah besar Gerindra ini, tidak mempermasalah suku, agama, ras, asal usul, dan golongan,” tandasnya.

Sekali lagi, Prabowo mengingatkan para kadernya Gerindra dalam berpolitik untuk memperbaiki kehidupan bangsa. Karena tanpa politik, tanpa kekuasaan maka tidak bisa memperbaiki kehidupan rakyat. “Tapi kita bukan politisi. Gerindra menggembleng, mendidik dan menyiapkan pejuang politik. Kita harus menjadi pejuang-pejuang politik yang rela berkorban,” ujarnya.

Sadar atau tidak, bangsa Indonesia dalam kondisi bahaya. Betapa tidak, setiap saat selalu ada kekuatan-kekuatan yang ingin bangsa ini pecah belah dengan mengadu domba antar suku, ras, agama dan golongan. Padahal sejatinya, sifat dari bangsa ini dikenal rukun, moderat, cinta damai, ramah tamah, gotong royong sebagaimana yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini –yang digambarkan dalam Pancasila. Tapi sekarang banyak pihak yang hendak menghilangkan Pancasila dari kehidupan bangsa. Bahkan UUD 1945 yang merupakan pengalaman para pendiri bangsa ini pelan-pelan hendak dirubah, dihapus, diganti dengan sistim yang tidak cocok dengan bangsa ini.

Untuk itu, Gerindra ingin merebut kekuasaan untuk memperbaiki dan mengamankan Pancasila, mengembalikan UUD 1945 menjadi pegangan dan landasan kehidupan bangsa Indonesia. “Dan ternyata dalam usia kita yang masih muda, telah berhasil bahwa sikap-sikap Gerindra selalu berada di pihak yang benar di hadapan sejarah. Partai Gerindra didirikan untuk menawarkan suatu pemerintah yang bersih, kuat, bisa mengelola dan menjaga kekayaan negara Republik Indonesia,” ujarnya.

Menurutnya, jauh sebelum berdirinya Gerindra, partai ini sudah mengkritik sistem neolib. Partai Gerindra merupakan partai pertama yang mengatakan sistem itu menyesatkan dan menyengsarakan bangsa Indonesia. Dan Gerindra telah mengingatkan bangsa Indonesia bahwa neolib itu keliru, tapi malah diejek, dicemooh. Tapi buktinya, sejarah mencatat bahwa pada tanggal 18 Oktober 2008, terjadi crash di Amerika Serikat, disusul kawasan Eropa akibat sistim perekonomian neolib yang dibangga-banggakan ternyata penyebab hilangnya trilunan dolar.

Sekarang apa yang terjadi, mereka pelan-pelan merubah, mereka bilang bukan neolib, tapi ekonomi Pancasila. Padahal mereka dulu mau merobek-robek tuh pasal 33 UUD 1945. “Enak saja, mereka kini bilang saya juga Pancasila, kemana saja kemarin-kemarin? Sudah salah tidak mau ngaku, tidak mau minta maaf lagi,” ujarnya gusar.

Prabowo pun mengajak seluruh kadernya untuk terus turun ke rakyat dengan tegas dan lantang mengajarkan, mendidik rakyat bahwa Gerindra mengeti tentang bangsa ini. Gerindra juga pahan dan bertekad untuk membawa bangsa ini dari kemiskinan, berdiri di atas kakinya sendiri, menjadikan bangsa yang dihormati, disegani bangsa lain, terhormat dan sejahtera. “Itulah perjuangan suci kita semua,” tekadnya.

Mandat

Prabowo menegaskan memang, sistim yang dibangun di Partai Gerindra seolah-olah hanya memberi mandat pada satu orang. Sejatinya sistim ini tak lain belajar dari para pemimpin negeri ini, seperti Bung Karno yang pernah dituduh diktator, Pak Harto yang selama 32 tahun memimpin negara ini, membela Pancasila, membawa kesejahteraan yang juga dituduh diktator. Tapi rakyat lebih tahu bagaimana dan apa yang dihasilkan kedua putra bangsa terbaik itu.

“Percayalah, saya sebagai orang yang dipercaya saudara, saya sadar bahwa saya hanya manusia biasa dengan penuh kelemahan, kekurangan, tetapi saya sadar adakalanya dalam sejarah ada orang-orang yang harus bersedia memikul tanggungjawab untuk orang banyak. Dan apabila itu memang takdir saya, kehendak dari rakyat banyak, saya terima mandat yang telah kalian berikan pada saya di siang hari ini,” ujar Prabowo saat menyampaikan kesanggupannya mengemban mandat untuk menyempurnakan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Gerindra.

“Mandat yang saudara berikan akan saya jalankan dengan sebaik-baiknya dan diselesaikan dengan penuh rasa tanggungjawab, seksama serta dalam tempo waktu yang sesingkat-singkatnya,” lanjutnya.

Memang dalam kongres tersebut, tak sekadar memberikan mandat kepada Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra untuk menyempurnakan AD/ART saja, tapi sekaligus memberi mandat kepadanya untuk maju sebagai calon Presiden RI pada pemilu 2014 nanti. “Saya merasa ini kehormatan yang sangat besar yang diberikan kepada diri saya. Tentunya saya harus menjaga kepercayaan saudara dengan segala kekuatan yang saya miliki,” tegasnya.

Tak cukup sekali Prabowo menyatakan dirinya hanyalah manusia biasa, tidak memiliki kelebihan, tapi ia paham bahwa ada kalanya rakyat banyak, orang banyak, akan meminta satu diantaranya untuk menjadi nahkoda, pemimpin, pembawa bendera bangsa ini. “Saya sadar kekurangan saya, tapi saya merasakan ada getaran di hati saya, rasa cinta tanah air yang sulit saya bendung, kalau saya liat merah putih, saya dengar Indonesia Raya dikumandangkan, saya terpanggil, saya ingin melihat Indonesia yang makmur, kuat, dan  dihormati. Itulah yang menggerakkan saya untuk menerima kepercayaan saudara-saudara kepada saya,” ujarnya merendah yang disambut dengan gemuruh tepuk tangan para hadirin.

Sebagai hamba biasa, Prabowo pun mengaku tidak mungkin kepercayaan itu bisa diwujudkan kalau berjuang sendiri. “Saya akan mengajak, merekrut, membujuk putra putri bangsa terbaik untuk membantu saya berjuang bersama mewujudkan cita-cita kita yaitu Indonesia Raya yang sejahtera, adil makmur, gemah ripah loh jinawi,” ucapnya.

Prabowo pun mengingatkan bahwa untuk bisa berhasil, semua kader Partai Gerindra harus siap jadi pendekar yang membela kebenaran. Partai Gerindra harus berhasil membangun kekuatan yang besar, untuk menghadapi kekuatan-kekuatan kurawa, angkara murka yang menginginkan bangsa ini pecah belah. “Kalau mereka mengajak curang, kita harus hadapi dengan kekuatan dan kebenaran. Kalau mereka ingin intimidasi, kita harus berani membela diri kita dengan kegagahan. Kita tidak gentar dalam bertarung. Yang tidak berani bertarung, berdiri tinggalkan partai ini,” pintanya.

Program

Prabowo menegaskan, selain menyusun kekuatan di setiap lini, pendidikan dan pengkaderan, Gerindra pun tengah menyiapkan tim untuk memperbaharui manivesto perjuangan, delapan program aksi. Pasalnya, lanjut Prabowo, dari sekian program aksi yang dicanangkan Partai Gerindra sudah banyak ditiru dan bahkan diakui oleh kelompok lain.

Salah satu program baru yang akan dimasukkan dalam program aksi adalah membangun bank tabungan haji. Di Indonesia ada sekitar 200 ribu calon haji per tahunnya yang harus menunggu lima tahun, bahkan ada yang tujuh sampai delapan tahun. Bisa dibayangkan berapa triliun uang yang nongkrong di situ? “Aneh memang, sebagai bangsa yang memiliki umat Islam terbesar di dunia, tapi tidak memiliki bank tabung haji,” ujarnya heran.

Padahal menurut Prabowo, negeri jiran Malaysia yang memiliki penduduk 25 juta orang saja sudah memiliki bank tabung haji. Bahkan lanjut Prabowo, Mahatir Muhammad pernah bilang, jika saja waktu krisis 1998, Malaysia tidak punya tabung haji, maka ekonominya bangkrut. Pasalnya, uang yang ada di Malaysia dibawa lari ke luar negeri kecuali bank negeri Malaysia, bank tentara dan bank tabung haji yang tidak dikuras.

Selain itu, menjadi tantangan bagi bangsa ini lanjut Prabowo, negara ini harus bisa mewujudkan program mobil dan motor nasional buatan putra Indonesia. Dan Partai Gerindra harus mendukung apa yang diproduksi oleh putra Indonesia, seperti yang dilakukan pelajar SMK yang telah berhasil membuat mobil esemka. “Baik atau jelek kalau itu buatan asli Indonesia harus kita dukung,” tegasnya yang berniat untuk terbang ke Solo dalam waktu dekat ini.

Suara rakyat

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra, Suhardi  mengungkapkan dengan berlangsungnya kongres ini menandakan bahwa Partai Gerindra mampu tampil ke tengah-tengah rakyat meski suhu politik kian memanas menuju 2014. Untuk itu, Suhardi berharap kepada seluruh kader untuk bisa membawa diri terus menerus, menunjukkan diri kepada rakyat bahwa Gerindra bisa menjadi pemimpin di republik ini.

Menurutnya, yang harus dilakukan oleh para kader adalah terus berjuang mengawal suara rakyat yang terus mengarah ke Gerindra dari waktu ke waktu. Suhardi pun sepakat dengan Prabowo bahwa untuk saat ini sudah tidak ada waktu lagi bagi para kader Partai Gerindra untuk saling sikut, saling bertikai baik di pusat hingga daerah. Menurutnya, harapan itu terjawab sudah pada pelaksanaan kongres hari itu bahwa kader Gerindra tetap disiplin, militan dan memiliki semangat juang yang tinggi menjalankan tugasnya.

“Hari ini kita rasakan tidak ada gejolak-gejolak, semua bersinar mukanya bahwa hari ini adalah hari besar partai Gerindra. Yang harus kita waspadai adalah bagaimana kita harus mengawal suara rakyat, apakah kita akan menghianati suara mereka, apa artinya kita mendirikan partai Gerindra. Tugas kita adalah terus berjuang untuk mengawal suara rakyat,” tegas Suhardi.

Hal senada diungkapkan Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra, Ahmad Muzani, yang menegaskan bahwa ketetapan yang dihasilkan dalam kongres itu bukan sekadar menjadi cita-cita saja, tapi janji kepada bangsa dan hutang kepada rakyat yang harus dibayar. “Inilah janji kita kepada bangsa dan hutang kita kepada rakyat Indonesia yang akan kita bayar pada pemilu 2014 nanti,” tegasnya.

Menanggapi pidato politik Prabowo dalam kongres itu, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Banten, Budi Heryadi, mengungkapkan bahwa apa yang dilakukan Partai Gerindra selama ini memang kian terasa oleh rakyat. Untuk itu, kader diminta tetap solid dalam membesarkan partai, melakukan sosialisasi dan pencapaian target di 2014 bahwa Gerindra menjadi pemenang dan menjadikan Prabowo sebagai presiden.

Menurut Budi, sebaiknya dan sudah saatnya pidato politik seperti itu tidak hanya dilakukan di depan kader yang hadir pada kongres itu saja, tapi seharusnya disampaikan di setiap kesempatan. Sehingga masyarakat mengetahui dan memahami serta mengenal lebih jauh tentang visi misi dan program Partai Gerindra dan Prabowo. “Angin ini tengah mengarah kepada kita dan Pak Prabowo, tentu saja masyarakat sudah melotot dan pintar dalam memilih pilihannya,” ujarnya. [G]

* Catatan : Artikel ini ditulis dan dimuat di Majalah GARUDA, edisi 16/April/2012

Anita Aryani : Perempuan Gerindra Harus Berkualitas

Aktivitas politiknya sudah tak diragukan lagi. Pun dengan kapasitasnya sebagai pejuang politik perempuan. Hingga kini bersama kaukus perempuan baik lintas partai maupun organisasi kemasyarakatan ia terus berjuang mengantarkan perempuan untuk bisa tampil di ranah politik. Di sisi lain, di ranah domestik, kodratnya sebagai perempuan tetap ia jalankan dengan penuh tanggungjawab.

Ya, itulah sosok Anita Ariyani, yang mendedikasikan waktu dan tenaga serta pemikirannya untuk kemajuan kaumnya lewat jalur partai politik. Atas kepiawaiannya dalam menggalang dan memberdayakan suara perempuan, ibu empat orang anak ini didapuk sebagai Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). “Karena siapa lagi yang mau menyuarakan kepentingan perempuan, kalau bukan perempuan itu sendiri,” tegas perempuan kelahiran Semarang, 3 Agustus 1965 ini.

Keterlibatan Anita di partai yang didirikan mantan Danjen Kopassus, Prabowo Subianto empat tahun silam itu bukan datang dengan begitu saja. Istri dari Balkan Amdan ini tahu betul, bahkan ikut berjibaku mendirikan partai berlambang burung kepala garuda itu. Baginya, bukan hal yang gampang menjalankan amanah sebagai ketua bidang. Meski tugas yang diemban itu tak lain urusan kaumnya sendiri, perempuan.

Anita berharap perempuan Gerindra sama dengan apa yang diharapkan Prabowo, sebagaimana dituangkan dalam manivesto partai, bahwa perempuan Gerindra itu harus berkualitas. Dengan majunya perempuan ke ranah politik dan menduduki tempat-tempat strategis adalah salah satu cara agar kepentingan perempuan itu sendiri terwakili.

Menurutnya, politik terlepas dari segala kontroversi yang ada di dalamnya, merupakan alat sosial yang paling memungkinkan untuk terciptanya ruang kesempatan dan wewenang. Bahkan sangat dimungkinkan bagi rakyat mengelola dirinya melalui berbagai aksi bersama, diskusi, sharing dalam prinsip kesetaraan dan keadilan. Karena peran politik sangat jelas sebagai salah satu sarana yang dapat mendorong perempuan untuk mencurahkan kecemasannya, walau begitu lagi-lagi budaya, sistim sosial, sistim politik hingga masalah kemiskinan masih kerap jadi pembatas bagi perempuan.

“Untuk itu diperlukan revitalisasi nilai budaya untuk mendorong peran strategis perempuan untuk memasuki wilayah pengambilan kebijakan bagi perempuan,” ujarnya sambil menambahkan bahwa pihaknya telah menyiapkan konsep pengkaderan bagi kader perempuan Gerindra untuk bisa tampil ke publik sebagaimana yang diharapkan para pendiri partai.

Sebelum bergabung di Partai Gerindra, Anita sudah melibatkan diri dalam arena politik sejak 1999, bersama para seniornya di Partai Bulan Bintang (PBB). Namun karena ada hal-hal yang tidak cocok dengan pendiriannya, usai muktamar yang pertama, Anita pun memilih mundur. Tak lama kemudian Anita pun kembali terlibat dalam pendirian Partai Islam Indonesia (PII). Sayang, partai yang didirikan politisi senior, Hartono Mardjono (almarhum) tidak lolos verifikasi faktual. Sejak saat itu, Anita pun merasa cukup sudah waktunya yang diberikan pada dunia politik.

Seiring berjalannya waktu, kala itu ia menjenguk sahabatnya, Fadli Zon yang tengah terbaring sakit. Dalam pertemuan itu, sang sahabat memintanya untuk membantu proses pendirian Partai Gerindra. Anita pun diminta mencari aktivis-aktivis perempuan untuk gabung hingga akhirnya terbentuk. Pada waktu yang sama, ia pun menolak ketika diminta untuk masuk dalam jajaran pengurus, tapi karena ada prasyarat harus 30 persen perempuan, akhirnya Anita pun masuk dalam jajaran kepengurusan sekaligus pendiri partai.

Dalam Pemilu 2009, Anita pun ikut berlaga memperebutkan kursi di daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah 10 yang meliputi Pekalongan, Pemalang, dan Batang. Sayang, suara sebanyak 64 ribu tak cukup untuk membawanya ke Senayan. Bagi Anita, selain karena dapil itu padat dan bilangan pembaginya besar, ada juga hal yang diluar batas kesadarannya sebagai manusia biasa.

“Berpolitik, itu harus sabar, lapang dada, andap ashor, bisa menyesuaikan ritme, siap sakit hati, dan menerima kritik dari orang lain,” ujar lulusan IAIN Walisongo Semarang ini.

Memang, mental dan jiwa besarnya sudah terasah sejak ia bergelut di organisasi kemahasiswaan. Semua tahapan pendidikan dan latihan yang ada di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diikutinya tanpa terlewat satu pun. Bahkan jauh sebelum itu, Anita remaja menggembleng dirinya dengan aktif di berbagai kegiatan dan organisasi sekolah. “Saya selalu ingin runtut dalam mengikuti pelatihan sehingga bisa mengetahui semua,” tegasnya.

Kesibukannya di dunia politik tak lantas membuatnya lupa akan tugas dan kewajibannya sebagai istri dan ibu dari empat anaknya. Untungnya, baik sang suami maupun putra putrinya sudah mengerti dengan ritme kerja di parpol yang digelutinya. Kaitannya dengan itu, Anita mengingatkan kepada sesame kaumnya bahwa apa yang dilakukan oleh tokoh perempuan Kartini tidak sekadar dikenang belaka. Tapi lebih dari itu, tokoh perempuan yang menjadi inspirasi, pendobrak emansipasi wanita itu menekankan bahwa perempuan harus bertanggungjawab terhadap keluarga, bangsa dan negara. “Jadi apa yang saya lakukan, tak lebih pada apa yang disampaikan dan dilakukan Kartini. Tapi ingat semangat Kartini tidak bisa dengan sendirinya tanpa dukungan kaum laki-laki,” pesannya. [G]

* Catatan : Artikel ini ditulis dan dimuat di Majalah GARUDA, edisi 16/April/2012