Lebih Dekat Dengan Andi Rudiyanto Asapa : Berjuang Bersama Rakyat

Berani, sederhana, dan bersahaja adalah gambaran Andi Rudiyanto Asapa. Sepak terjangnya kerap memusingkan banyak kalangan, baik saat sebagai advokat maupun kala duduk di kursi birokrat. Ia selalu berada di garda depan memperjuangkan keadilan tanpa gentar dan tak kenal kompromi saat harus melayani, mengayomi, dan membela rakyat. Tak heran bila ia kian disegani banyak kalangan.

CALEG DPR RI DAPIL SULSEL 2 NO URUT 1

CALEG DPR RI DAPIL SULSEL 2 NO URUT 1

Sosok lelaki yang akrab disapa Rudi ini,memang sudah tak asing lagi bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Rekam jejak perjalanan hidupnya, begitumelekat dalam hati masyarakat. Rudi kerap tampil sederhana dan merakyat saat melakukan sosialisasi ke daerah pemilihannya (dapil). Kesederhanaan itu bukan untuk pencitraan, sebab itu sudah menjadi karakter pengacara yang pernah memimpin Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar ini. Sikapnya santai terhadap aturan formal protokoler, namun tetap menjunjung tinggi etika sesama.

Mantan Bupati Sinjai ini memang bukan berangkat dari latar belakang birokrat. Sebelum menjadi bupati pada Juli 2003, lulusan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar ini,acap berhubungan dengan masyarakat, tak terkecuali kaum marginal. Kebiasaan itu berlanjut ketika menjalankan tugasnya sebagai bupati selama dua periode. Rudi dikenal sebagai sosok yang tak segan-segan blusukan siang maupun malam. Saat menjabat bupati Sinjai, ia keluar masuk perkampungan hingga ke pelosok desa untuk mengetahui beragam persoalan yang dihadapi masyarakat atau sekadar menyapa penduduk di wilayahnya.

“Tidak ada perubahan. Tidak ada juga hal yang baru dan perlu diubah. Saya menjadi bupati dengan karakter seperti itu, setelah masa jabatan saya berakhir yah tetap begitu,” ungkap pria kelahiran Gorontalo, 26 Mei 1957 ini.

Selepas tugasnya sebagai Bupati Sinjai, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sulawesi Selatan ini maju sebagai calon anggota (caleg) DPR RI dapil Sulsel 2. Di dapil ini, Rudi akan bersaing ketat dengan  sejumlah anggota DPR-RI sepertiMalkan Amin, Akbar Faisal, Jafar Hafsah, Andi Rio Padjalangi, Halim Kalla, Syamsul Bahri, Andi Taufan Tiro dan Tamsil Linrung.

Rudi maju menjadi caleg bukan sekadar unjuk kekuatan. Ia merasa resah melihat kondisi bangsa yang kian memprihantinkan. Ia menilai masih banyak yang harus dilakukan untuk membenahi negeri ini.

“Apa yang telah saya lakukan saat menjadi bupati belum banyak memberi hasil maksimal. Nah, untuk bisa ikut membenahi itu, mau tidak mau kita harus masuk dalam parlemen,” ujarnya.

Sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Sulsel, beragam terobosan telah ia lakukan. Di samping penguatan program aksi serta manivesto perjuangan partai, lewat Pemilu 2014  ia mencanangkan target sembilan kursi DPR dari provinsi ini. Setidaknya, itulah yang ia sampaikan kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda saat ditemui beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya :

Setelah Anda menyelesaikan tugas sebagai bupati, apa saja aktivitasnya saat?

Selain menjalankan tugas sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Sulsel, saya tetap keliling Sulsel, khususnya dapil 2. Tidak ada perubahan. Sama seperti dulu dengan cara saya sendiri. Sama halnya saat pemilihan gubernur, saya menginap di rumah-rumah masyarakat. Saya bersyukur masih diminta mendatangi mereka dan tinggal beberapa waktu sehingga saya susah payah membagi waktu. Tidak ada perubahan, tidak ada hal yang baru dan perlu diubah. Saya menjadi bupati dengan karakter seperti itu, setelah selesai pun masih seperti dulu.

Bisa diceritakan awal mula Anda bergabung ke Partai Gerindra?

Tahun 2010 Pak Permadi dan Pak Prabowo meminta saya masuk Partai Gerindra. Saya butuh 6 bulan untuk berpikir. Akhirnya dengan bismillah saya masuk dan memimpin Partai Gerindra Sulsel. Nah, yang membuat saya gabung ke partai ini pertama saya melihat visi misi perjuangan Partai Gerindra dan juga komitmen Pak Prabowo untuk kepentingan masyarakat begitu besar. Itu saya pelajari selama enam bulan.

Kedua saya melihat prospek Indonesia, memang ke depan harus ada perubahan, tidak boleh tidak. Kenapa? Karena saya ini sudah merasakan sendiri berada di posisi pemerintahan. Saya tahu bagaimana kelemahan pemerintahan ini. Untuk itu harus ada pemimpin yang baru dan tegas untuk menjalankan roda pemerintahan sehingga NKRI bisa tetap bersatu, masyarakat dan petani kita sejahtera. Tidak seperti itu, hanya masyarakat kota yang sejahtera tapi masyarakat di pelosok desa tidak sejahtera.

Bisa Anda ceritakan bagaimana perkembangan Gerindra di Sulsel menghadapi Pemilu 2014?

Partai Gerindra di Sulsel sangat siap. Seluruh caleg, mulai dari DPRD kabupaten/kota, provinsi dan pusat sudah menjalankan tugasnya masing-masing. Apalagi setelah selesai pembekalan tingkat pusat, maka berikutnya akan dilakukan pembekalan ke tingkat propinsi hingga kabupaten/kota. Selama ini kita biarkan mereka mensosialisasikan diri sebagai caleg.

Semuanya tentu harus memahami dan mengerti, lalu mampu menjelaskan kepada masyarakat tentang 6 Program Aksi Transformasi Bangsa Partai Gerindra. Karena program itu adalah bentuk kontrak politik Partai Gerindra dan Pak Prabowo Subianto kepada masyarakat. Para valeg harus mempelajari dan menerjemahkan dengan baik, lalu menyampaikan ke masyarakat dengan bahasa mudah dipahami.

Apa yang melatarbelakangi Anda maju sebagai caleg?

Menurut sudut pandang saya, kondisi bangsa ini masih banyak yang harus dibenahi. Apa yang telah saya lakukan pada saat menjadi bupati sebagai upaya untuk membenahi bangsa ini belum banyak memberi hasil maksimal. Apalagi kondisi bangsa ini semakin hari semakin memprihatinkan, belum banyak berubah. Agar bisa ikut membenahi, mau tidak mau kita harus masuk dalam parlemen.

Apalagi kalau kita lihat banyak sistem ketatanegaraan yang sudah keluar dari rel. Mulai dari persoalan hukum, sistem pemerintahan, kebijakan pemerintah pusat kepada kepala daerah yang menurut saya memberikan otonomi, tapi tidak sepenuhnya. Bahkan ada menteri yang bilang, otonomi memberikan kepala daerah otoriter, penguasa daerah, tapi semua itu tidak benar dan sangat disayangkan. Karena otonomi daerah yang diberikan itu kerap dibelenggu oleh kebijakan pusat. Semua ini harus kita perbaiki dan benahi secara bersama-sama lewat parlemen.

Lantas apa visi dan misi Anda?

Yang pasti 6 Program Aksi Transformasi Bangsa yang dideklarasikan oleh Ketua Dewan Pembina, Pak Prabowo Subianto. Hal itu adalah bagian dari visi dan misi yang harus dikerjakan oleh seluruh kader secara bersama-sama. Karena keenam program itu dibutuhkan oleh masyarakat, seperti kedaulatan ekonomi. Selama ini ekonomi kita tetap terjajah dengan persoalan kebijakan, pemerintahan yang liberal. Padahal omong kosong bisa membangkitkan ekonomi rakyat kecil kalau ekonomi kita masih menganut sistem liberal. Tak heran bila akses masyarakat kecil untuk mendapat dana bantuan selalu terhalang.

Coba hitung, berapa banyak bank negara yang berpihak pada rakyat kecil. Bisa hitung jari karena saya praktisi di daerah. Jika masyarakat di pedesaan yang mengajukan kredit pasti dipersulit. Sebaliknya, kalau pengusaha yang mau bangun real estate pasti mudah sekali. Ini kan aneh. Inilah yang harus diubah. Kita butuh program transformasi bangsa. Contoh lain, kita ini negara agraris, lahan sawah terbentang luas, tapi petani kita tetap miskin. Pada saat harga pangan naik, seharusnya mereka merdeka, tapi apa yang terjadi, petani tetap miskin. Begitu juga ketika panen, harga anjlok, saat itu juga tidak ada keberpihakan pemerintah yang mau menalangi kerugian mereka. Banyak sekali regulasi yang tidak menguntungkan petani.

Sebagai mantan bupati, seberapa tinggi elektabilitas Anda?

Insya Allah dengan tidak mau mendahului kuasa Tuhan, saya bisa lolos. Karena selama ini saya turun dengan pola saya sendiri, penerimaan dan sikap masyarakat tetap bagus dan baik. Bahkan meski saya sudah dikenal, tapi saya masih tetap mau menginap di rumah-rumah penduduk. Hampir setiap minggu saya turun ke masyarakat yang ada di dapil Sulsel 2 guna menyerap apa yang mereka keluhkan. Apa saja yang mereka inginkan dan harapkan. Memang kebiasaan saya sewaktu menjadi bupati hingga detik ini masih saya lakukan.

Kadang masyarakat mengeluhkan minimnya fasilitas, infrastruktur yang rusak dan sebagainya. Tapi semua itu tidak bisa kita langsung ambil kesimpulan jika bupatinya keliru atau tidak bekerja. Saya paham betul apa yang dihadapi seorang bupati, termasuk kesulitan yang dihadapi. Ini yang akan kita ubah. Hal ini yang akan saya lakukan jika nanti dipercaya duduk di badan legislatif. Salah satunya pola kebijakan pusat terhadap kepala daerah. Saya akan berada di depan dalam perjuangan ini, khususnya dalam hal penganggaran.

Seperti apa karakter pemilih di dapil Sulsel 2?

Di beberapa daerah masih melihat caleg dari sisi kekerabatan, kekeluargaan, silsilah, garis keturunan, dan sebagainya. Tapi yang repot mereka yang pragmatis. Bukan salah mereka bersikap pragmatis, karena ini contoh yang diberikan para pemimpin kita. Tidak dipungkiri karena ini yang dilakukan elite politik, mereka yang mengajarkan masyarakat menjadi pragmatisme. Karena masyarakat dalam kondisi butuh, ya tidak salah kalau mereka terima pemberian itu. Di beberapa daerah memang banyak yang diimingi-imingi, tapi saat ini mereka sedikit terbuka pemikirannya, bahwa mereka terima apa yang diberikan para politisi, tapi masalah pilihan kembali lagi pada hati nuraninya.

Bagaimana upaya Anda untuk mengantisipasi hal itu?

Dalam setiap kesempatan, saya hanya menyampaikan apa yang pernah saya perbuat di Sinjai sebagai bupati. Mereka bisa lihat. Kalau saya dianggap gagal, mereka boleh tidak memilih saya, tapi kalau mereka anggap saya berhasil, Insya Allah apa yang pernah perbuat di Sinjai itu akan saya lakukan juga untuk daerah lainnya. Jadi mereka akan melihat kinerja dan sepak terjang saya selama ini.

Berapa kursi target Gerindra Sulsel?

Saya tidak sesumbar, saya melihat dari kondisi sekarang kita targetkan sembilan kursi. Setiap dapil masing-masing tiga kursi. Kalaupun ada dapil yang hanya meraih dua kursi, bisa ditutupi dari dapil lainnya.

Selama ini kendala apa yang dihadapi?

Yang pertama adalah kesadaran dari kader sendiri, khususnya caleg. Artinya masih banyak caleg krasak-krusuk yang tidak mempunyai basis lalu mengganggu basis caleg lain. Ini akan kita benahi. Kedua, kita tidak sama dengan partai lain yang memiliki amunisi besar, karena keterbatasan kemampuan finansial para caleg. Maka kita harus bermain dengan pola yang efisien dan efektif untuk meraih simpati masyarakat. Tidak hanya pasang baliho, spanduk, stiker lalu tanpa turun ke lapangan menyapa, menyentuh langsung masyarakat. Cara ini akan sejalan dengan target pencapaian, mulai dari DPR kabupaten/kota. Provinsi dan pusat suaranya akan sama.

Selama ini terobosan-terobosan terus kita lakukan, membuat  tren Gerindra pun terus meningkat. Tak heran jika Partai Gerindra Sulsel banyak diganggu, baik dari dalam maupun dari luar. Memang, intrik-intrik semacam itu sengaja digulirkan yang bisa saja mengganggu soliditas kader Partai Gerindra Sulsel. Celakanya, banyak teman-teman yang bermain dalam area-area itu. Saya ingatkan kepada mereka bahwa kemenangan kita adalah kemenangan rakyat Sulsel. Kemenangan rakyat Sulsel inilah yang akan mengantarkan target akhir Partai Gerindra di Pemilu 2014 untuk mengantarkan Pak Prabowo sebagai presiden. Setidaknya kita akan mencapai target 24-30 persen, makanya saya pasang target 9 kursi. Andai itu meleset, paling satu atau dua kursi. Saya selama ini melakukan pemetaan, setiap dapil akan merata kursinya. Kalaupun bergeser itu akan saling menutupi.

Jika terpilih nanti, apa yang akan Anda lakukan?

Yang pasti kita akan sukseskan 6 Program Aksi Transformasi Bangsa. Bagaimana caranya kita berjuang di parlemen mulai dari legislasi hingga penganggaran dan pengawasan. Apalagi kalau Ketua Dewan Pembina kita berhasil menduduki kursi kepresidenan, tentu saja ini akan lebih lancar lagi. Saya berharap ini akan terwujud. Karena inilah tujuan akhir dari perjuangan Partai Gerindra di momen Pemilu 2014. Sehingga kita di dewan tinggal mengawal, memperbaiki, apa-apa yang selama ini menjadi kelemahan harus kita ubah.

Yang pertama dilakukan adalah pasti tatib DPR harus kita ubah, karena banyak persoalan muncul. Termasuk pula beberapa undang-undang yang ada juga harus diperbaiki. Sebagai  praktisi hukum, saya menilai apa yang dilakukan DPR selama ini dalam membuat udang-undang bertahun-tahun, bahkan sampai studi banding ke luar negeri, seringkali sia-sia. Bayangkan saja, setelah disahkan DPR, hanya butuh waktu semalam undang-undang itu dibatalkan oleh Mahkamah Konstutusi (MK).

Pertanyaan saya, MK punya dasar tidak, padahal yang berhak membatalkan undang-undang itu adalah rakyat,  diwakili DPR. Inilah yang akan jadi fokus kita. Kita akan buat undang-undang dengan baik sesuai keinginan rakyat, sehingga tidak perlu lagi ada pembatalan. Kalau pun ada masalah DPR lah yang membatalkan bersama pemerintah, bukan lembaga lain. Karena jelas dalam pasal 2 ayat 1, pemerintah bersama DPR membuat undang-undang. Selama ini undang-undang selesai dibuat dengan dana bermilyar-miliyar, tapi hanya dalam hitungan minggu dibatalkan di MK. Jika kondisinya seperti ini, apa yang terjadi di negari ini?.

Selain itu soal anggaran ke daerah yang terlalu berbelit-belit. Ini yang harus diperbaiki, sehingga tidak ada lagi permainan-permainan, sehingga muncul kasus antara Bupati dan DPR, Menteri dan Bupati kongkalikong menyangkut masalah pembagian anggaran. Harusnya APBN sebagai sumber pendanaan pembangunan itu dibagi rata. Bagaimana mereka mengelolanya diserahkan ke daerah masing-masing. Soal kemudian ada penyimpangan, itu kan ada kewenangan kejaksaan dan kepolisan.

Apa pesan dan harapan Anda lewat Pemilu 2014 ini?

Bagi saya, inilah saatnya jika masyrakat Sulsel mau berubah dengan memilih caleg tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga pusat yang punya kapabilitas, kemampuan, yang mampu membawa perubahan bagi rakyat Sulsel sendiri. Jangan lagi tergiur dengan janji-janji yang pada saatnya caleg-caleg janjikan, tapi setelah terpilih tidak datang lagi. Itulah pelajaran yang harus mereka petik dari momen sebelumnya. Bisa jadi mereka dapat 100 ribu rupiah, tapi setelah dipilih tidak datang, lalu pada saat pemilihan berikutnya datang lagi. Rasanya ini bukan saja terjadi di Sulsel, tapi juga di banyak daerah lainnya.[G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Oktober 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Andi Rudiyanto Asapa maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) Sulawasi Selatan 2.
Advertisements

Lebih Dekat Dengan Yasir Mahmud : Prihatin Nasib Petani

Nasib petani miskin Indonesia, membuat hatinya miris. Keberpihakan penguasa terhadap kaum petani yang sepertinya masih setengah hati, menyisakan banyak tanya dibenaknya. Mengapa negeri agraris yang subur ini, petaninya belum bisa hidup layak? Mengapa petani masih juga sulit mendapatkan pupuk bersubsidi? Berbagai pertanyaan inilah, yang membuat Yasir Mahmud, SE, merasa terpanggil untuk terjun ke dunia politik.   

CALEG DPR-RI DAPIL SULSEL 2 NO URUT 6

CALEG DPR-RI DAPIL SULSEL 2 NO URUT 6

Kegetiran yang dialami para petani itu pun dirasakan pengusaha muda sukses kelahiran Watampone, 1 Februari 1983. Iapaham betul dengan penderitaan para petani, terlebih di daerah pedesaan. Pasalnya, usaha yang dtekuninyabersentuhan langsung dengan kebutuhan para petani.

“Saya merasakan betul jika selama ini banyak kebijakan-kebijakan pemerintah mengenai tata niaga pupuk,kurang berpihak pada petani. Seringkali satu daerah mengalami kelebihan pupuk, sementara di daerah lain mengalamikelangkaan,” papar lelaki yang meraih penghargaan Direktur Berprestasi dalam Pembangunan Bidang Pertanian dari Menteri Pertanian,2011 lalu.

Karena itu, meski sukses mengembangkan bisnis distribusi pupuk, tak lantas membuat dirinya berpangku tangan dan tak peduli dengan kondisi negeri. Bahkan di tengah kesibukannya mengembangkan usaha, ia memberanikan diri untuk terjun ke dunia politik. Tujuannya tak lain untuk melakukan yang lebih dari apa yang selama ini dikerjakannya bersama para petani. “Dengan terjun ke politik, saya berupaya mengubah, memperbaiki apa-apa yang selama ini dihadapi petani, salah satunya soal kelangkaan pupuk di pasaran,” jelas lulusan Universitas Muslim Indonesia Makassar ini.

Yasir mengakui, kiprahnya di dunia politik yang digeluti sejak tahun lalu, berawal dari kekagumannya pada sosok Prabowo Subianto selalu pendiri Partai Gerindra. Keriuhan pemilihan kepala daerah (pilkada) Kabupaten Bone, menjadi titik awal bagi suami dari Tenri Engka ini terjun ke politik. Di saat bersamaan, seorang teman mengajaknya bergabung untuk membesarkan Partai Gerindra di wilayah Bone. Tak butuh waktu lama, Yasir mengiyakan ajakan sang teman. Ia pun diminta menjadi Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Bone.

Saat itu, Yasir memilih bergabung dengan Partai Gerindra ketimbang menerima pinangan salah satu dari sekian banyak calon bupati untuk berpaket di ajang pilkada.

“Saya lebih yakin memilih tawaran Pak Ishak untuk bergabung dengan Gerindra,” kata Yasir yang juga dipercaya sebagai Wakil Bendahara DPD Partai Gerindra Sulsel ini.

Dengan jaringan yang dimilikinya di seluruh wilayah Sulawesi Selatan bahkan merambah ke Sulawesi Barat, Yasir akhirnya maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) untuk DPR-RI di Daerah Pemilihan Sulsel 2. “ Dengan jaringan yang saya miliki selama ini, saya yakin bisa lolos ke Senayan,” ujar pengusaha muda peraih Peniti Emas dan Piagam Penghargaan dari Gubernur Sulsel dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani dan nelayan melalui kemitraan usaha pada 2006 ini.

Di tengah kesibukannya mengikuti berbagai kegiatan di Jakarta, kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, ayah dari Yasika Aulia Ramadhany, Yasika Dwi Ardina dan Yasika Raja Aditya ini memaparkan pemikiran dan langkah-langkahnya menghadapi Pemilu 2014. Berikut petikan wawancaranya :

Bisa ceritakan aktivitas keseharian Anda?

Selain sebagai pengusaha distributor pupuk dan semen serta beberapa usaha lainnya, saya juga aktif di beberapa organisasi dan partai politik. Berkaitan dengan saya sebagai caleg, kini saya sibuk mensosialisasikan program partai. Caranya dengan melakukan pendekatan dan turun langsung menyentuh lapisan masyarakat hingga ke pelosok desa.

Apa yang Anda cari di dunia politik?

Saya tidak mencari apa-apa. Saya hanya inginmengabdikan diri bagi masyarakat luas, khususnya petani. Saya ingin berbuat yang terbaik kepada bangsa dan negara ini. Saya yakin dengan terjun ke partai politik, saya bisa berusaha dan berupaya mengubah, memperbaiki masalah-masalah  yang selama ini dihadapi petani. Dan yang terpenting, menyelesaikan masalah soal kelangkaan pupuk di pasaran.

Menurut Anda, politik dan kondisinya di negeri ini seperti apa?

Politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Juga sangat berkaitan erat dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara. Soal kondisi politik, kini berada di persimpangan jalan. Sebab, Indonesia memilih demokrasi utuh setelah bergulirnya era reformasi di tengah kondisi kualitas masyarakat yang masih rendah, terutama dengan melihat berbagai aspek di dunia pendidikan. Sementara pemerintah yang menjalankan roda eksekutif tak leluasa menjalankan kebijakannya, karena ditandingi dengan kekuasaan lembaga legislatif. Apalagi sebagian berisi pihak-pihak oposisi yang selalu dengan berbagai cara berusaha menjatuhkan dan melemahkan pemerintah.

Sejak kapan Anda mulai bersinggungan dengan dunia politik?

Jujur saya murni sebagai pelaku bisnis. Baru sekali ini saya bersinggungan dengan partai politik, tepatnya sejak 2012 lalu. Saat itu jelang pilkada Kabupaten Bone, ada lima calon bupati mengajak saya untuk menjadi wakilnya. Menanggapi hal itu saya berdiskusi dengan teman-teman yang sebelumnya sudah aktif di partai. Di saat yang sama, kepengurusan DPC Partai Gerindra Kabupaten Bone tengah bergejolak. Lalu teman saya, Pak Ishak waktu itu ditunjuk sebagai ketuanya meminta saya untuk duduk sebagai Ketua DPC Partai Gerindra Bone. Selain itu saya juga ditugasi sebagai wakil Bendahara DPD Partai Gerindra Sulawesi Selatan.

Akhirnya setelah melalui diskusi dengan keluarga, dari pada menerima pinangan satu dari sekian banyak calon bupati untuk mendampingi mereka di ajang pilkada saya lebih memilih tawaran Pak Ishak bergabung di Gerindra. Terlebih berdasarkan survei yang dilakukan oleh tim juga kurang signifikan. Saya memilih masuk ke Gerindra dan alhamdulillah sekarang saya pun dipercaya untuk maju sebagai caleg DPR-RI nomor urut 6 dari dapil Sulsel 2.

Mengapa memilihPartai Gerindra?

Sebenarnya, selain Partai Gerindra, ada sekitar empat partai besar yang mengajak saya untuk bergabung. Hanya saja, setelah saya melakukan pengkajian, Partai Gerindra lebih pas sebagai tempat saya berkiprah demi perbaikan nasib para petani negeri ini. Di samping itu, tentunya keberadaan sosok Pak Prabowo yang begitu kuat dan kharismatik. Program-program aksi nyata Partai Gerindra yang juga sangat membumi, menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Saya yakin dengan Pak Prabowo, Partai Gerindra akan besar. Saya ngefans banget sama Pak Prabowo dan sejak 2009 sudah menyatakan diri sebagai simpatisan partai ini.

Apa yang melatarbelakangi Anda maju jadi caleg?

Selama ini saya kan lebih dikenal sebagai pengusaha yang bergerak dalam pendistribusian pupuk peptisida dan semen. Selama ini, saya menilai banyak kebijakan-kebijakan tata niaga pupuk yang kurang berpihak terhadap petani. Menurut saya, harus ada banyak perubahan dan perbaikan sistem tata kelolanya dalam rangka memenuhi kebutuhan petani. Untuk keperluan itu mau tidak mau harus lewat jalur politik dan terjun sebagai wakil rakyat.

Selain itu, sejak dulu usaha saya bersentuhan langsung dengan petani, jadi saya tahu betul permasalahan yang dihadapi petani soal kelangkaan pupuk, pendistribusian yang tidak merata dan yang lainnya. Apalagi, Partai Gerindra konsen terhadap permasalah petani, dan pupuk. Jadi selain didorong keinginan untuk membantu para petani, saya juga sepakat dengan apa yang menjadi perjuangan Partai Gerindra. Maka dengan tekad yang bulat saya maju sebagai caleg Gerindra mewakili suara petani.

Lantas, apa visi dan misi Anda?

Visi saya sebagai caleg memberikan kontribusi kepada Partai Gerindra untuk pencapaian target 20 persen pada pileg 2014. Dan, terpilih sebagai anggota DPR-RI dengan meraih perolehan suara pribadi sebanyak  200 ribu suara. Dengan begitu, kekuatan Gerindra dengan program aksinya akan bisa menciptakan kesejahteraan rakyat Indonesia. Misi saya mendorong pembangunan nasional yang menitikberatkan pada pembangunan ekonomi kerakyatan, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Yang paling penting harus dapat memaksimalkan hasil-hasil pertanian, perkebunan, perikanan dan kelautan serta pemanfaatan BUMN secara maksimal dan tepat sasaran.

Atas dasar apa Anda maju sebagai caleg di DPR-RI dan memilih dapil Sulsel 2?

Rasanya dengan jaringan yang saya miliki selama ini, Insya Allah saya yakin bisa lolos ke Senayan. Jika terpilih nanti, saya akan bisa berkontribusi pemikiran berdasarkan pengalaman dan kenyataan di lapangan seputar kebijakan-kebijakan tata niaga pupuk dan berbagai kebutuhan petani yang selama ini terabaikan. Sebagai putra daerah Sulsel, maka saya memilih sebagai caleg dari dapil ini, khususnya dapil Sulsel 2.

Seperti apa karakter pemilih di dapil Sulsel 2?

Karakter pemilih di sana sama saja dengan di daerah lain. Artinya mereka yang ada di dapil Sulsel 2 ini menginginkan seorang pemimpin yang betul-betul membela rakyat kepentingan rakyat. Namun demikian, pemilih di daerah ini juga masih banyak yang pragmatis.

Sejauh mana tingkat keterpilihan Anda?

Disamping sebagai putera asli Bone, saya juga memiliki jaringan bisnis yang tersebar di semua kabupaten yang termasuk dalam dapil Sulsel 2. Bahkan jaringan itu sampai ke desa-desa terpencil. Atas dasar itu saya, optimis dan yakin bisa terpilih. Dan untuk keperluan itu saya pun membentuk tim pemenangan untuk mengawal suara saya nanti.

Apa saja yang sudah Anda lakukan?

Salah satunya adalah melakukan kunjungan dan pendekatan ke tokoh masayarakat, kelompok-kelompok tani dan sosialisai 6 Program Aksi Partai Gerindra. Saya juga memberikan asuransi jiwa gratis yang diberikan per kepala keluarga yang menjadi konstituen saya.

Selama ini kendala apa yang dihadapi?

Tak ada kendala yang berarti. Namun sampai saat ini masih banyak juga orang-orang yang memanfaatkan proses pemilu ini dengan cara tidak benar. Ada yang ke saya lalu mengaku  memiliki suara sekian ribu, tapiujung-ujungnya minta duit. Meski begitu, saya tetap menerima mereka dan cukup tahu saja. Karena itu, saya juga membentuk tim sendiri sebagai upaya peraihan suara. Dan saya lebih percaya hasil kerja tim itu.

Daerah mana saja yang bakal mendongkrak suara Anda?

Kabupaten Bone, Soppeng dan Wajo adalah daerah yang diharapkan akan bisa memenuhi target suara saya. Setidaknya, saya yang asli orang Bone, cukup popular dan dikenal di ketiga wilayah tersebut. Disamping itu, jaringan bisnis saya di kedua daerah itu sudah bergerak sejak puluhan tahun lalu.

Apa pesan dan harapan Anda di momen Pemilu 2014?

Mari kita sama-sama bekerja. Berjuang, merapatkan barisan untuk meraih suara sebanyak-banyaknya. Kita tunjukkan bahwa Gerindra di Sulawesi Selatan adalah yang terbaik. Dengan begitu saya berharap tentunya bisa terpilih menjadi anggota DPR-RI. Lebih penting lagi, Partai Gerindra bisa meraih suara lebih dari 20 persen, dan mengusung Pak Prabowo sebagai calon Presiden pada pilpres nanti. Kita pastikan Gerindra Menang, Prabowo Presiden. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Yasir Mahmud maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 6 dari daerah pemilihan (dapil) Sulawesi Selatan 2

Yervis M Pakan : Saatnya Memanaskan Mesin Politik

Empat belas tahun silam era reformasi bergulir di negeri ini. Massa bergerak menyuarakan perubahan. Ada yang akhirnya harus mendekam di dalam rumah tahanan. Yervis M Pakan merasakan kondisi itu. Ia sempat mendekam di Rumah Tahanan Salemba sebagai tahanan politik. Tapi ia tak menyesal. Baginya apa yang dilakukan demi sebuah perubahan, demi reformasi.

uervisKala itu Yervis tercatat sebagai aktivis Jaringan Kota (Jarkot) yang bersama sejumlah elemen mahasiswa terus ‘menggugat’ hegemoni orde baru. Sepuluh tahun kemudian, ia pun masih tetap aktif mengadvokasi kaum marginal di kampung halamannya.  Bedanya, kala itu 2009 tengah berlangsung Pemilihan Presiden (Pilpres), Yervis bersama beberapa politisi, termasuk Andi Rudiyanto Asapa membentuk tim Pasopati untuk mengawal pasangan Megawati-Prabowo di bumi Sulawesi Selatan (Sulsel).

Selesai menjalankan tugas, rupanya ada keinginan dari sejumlah kalangan untuk bergabung ke Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Memang ketika pelantikan tim Pasopati, turut hadir Ketua Umum Partai Gerindra, Suhardi dan Anggota Dewan Pembina, Permadi. Dalam kesempatan itu, Andi Rudiyanto Asapa diminta untuk menahkodai Partai Gerindra di Sulsel. Seiring berjalannya waktu, jelang pelantikan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sulsel, namanya masuk dalam susunan pengurus sebagai Wakil Sekretaris. “Saya membantu Pak Rudi, karena sayalah yang mendorong dia ke Gerindra waktu itu,” ujar pria kelahiran Toraja, 29 Desember 1974 ini.

Sejak saat itu segenap waktu, tenaga dan fikirannya ia curahkan untuk membangun kembali Indonesia Raya khususnya di tanah kelahirannya di bawah panji Gerindra. Di DPD Gerindra Sulsel, ia mendapat tugas untuk mengembangkan dan membina kegiatan kepemudaan. Seakan tak mau kehilangan momen, sebagai aktivis jalanan, Yervis pun mengajak rekan-rekan yang konsen melakukan advokasi kaum marginal di Makassar untuk bergabung ke Gerindra.

Termasuk ketika Gerindra mengawal pasangan Rudi-Nawir (Garudana) dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada)  Sulsel, Yervis pun berada di garda terdepan dalam penggalangan massa. Meski kalah, namun setidaknya menurut Yervis, Garudana telah memberikan pendidikan politik yang luar biasa bagi masyarakat Sulsel. Betapa tidak, menurut Yervis, Gerindra yang hanya memiliki satu kursi di DPRD Sulsel, tapi berani tampil. Berbeda dengan PDIP yang punya 5 kursi, PDK dan PAN yang memiliki 6 kursi, dan PKS 7 kursi harus berkoalisi. “Disamping itu kampanye Garudana juga tidak mengandalkan kekuatan uang dan fasilitas,” tandasnya.

Tentu saja, menurutnya kegagalan itu menjadi cambuk tersendiri bagi dirinya sebagai kader Gerindra Sulsel. Untuk itu, dengan momen ini, ia pun bertekad untuk memaksimalkan mesin-mesin partai pada Pemilu 2014 mendatang. “Kita harus akui mesin politik kita belum bekerja dengan maksimal. Untuk itu, bagi semua kalangan, semua motor politik yang belum panas ini harus full gas pada pileg dan pilpres nanti,” tandas calon legislatif DPRD Provinsi Sulawesi Selatan ini .

Usai menamatkan SMA, Yervis berangkat ke Makassar untuk mengikuti tes UMPTN. Meski lolos, ia tak mengambilnya karena pilihan tersebut tidak bergitu tertarik. Akhirnya ia memutuskan untuk hijrah ke Jakarta dan kuliah di STIK Jakarta. Di kampus itulah dia mengenal dunia parlemen jalanan. Selain tercatat sebagai pengurus senat, Yervis pun bergabung dalam organisasi kemahasiswaan yang kerap turun ke jalanan. Di sana pula ia akhirnya berkenalan dengan para aktivis jalanan lainnya seperti Pius Lustrilanang, Desmond Mahesa –yang kini duduk di DPR-RI di bawah bendera Partai Gerindra.

Di samping itu, Yervis yang aktif di perguruan silat Merpati Putih, pernah dipercaya sebagai instruktur beladiri di beberapa divisi di Kopassus. Di saat itulah ia mengenal sosok Prabowo Subianto yang kala itu memang menjabat sebagai Danjen Kopassus. Baginya, Prabowo itu seorang jenderal yang visioner, berani dan tegas. “Saya sering melihat dia tengah berlari mengelilingi kawasan Cijantung sambil melihat keadaan sekelilingnya,” kenang Yervis yang mengidolakan sosok Prabowo itu.

Selain sibuk di DPD, Yervis juga melakukan pembinaan pada kelompok tani yang ada di tanah kelahirannya Toraja. Lewat kelompok tani itu, ia mengajak petani untuk membudidayakan pembibitan jati putih. Tidak hanya itu, ia juga merangkul para peternak, khususnya ternak Tedong Bonga (Kerbau Belang). Dimana Toraja yang terkenal dengan ritual adat yang memang menggunakan kerbau sebagai ikonnya. Dalam perjalanannya, kegiatan ternak kerbau itu disinergikan dengan pemanfaatan susu kerbau guna mendukung program gerakan revolusi putih yang dicanangkan Gerindra. “Tentunya kegiatan tersebut tak lepas dari perjuangan Gerindra yaitu ekonomi kerakyatan dan program aksi revolusi putih,” ujarnya. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi April 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Yervis M Pakan maju sebagai calon legislatif (caleg) DPRD Provinsi Sulawesi Selatan dari Partai Gerindra 

Mestariyani Habie : Suara Perempuan Penentu Kemenangan

Menjadi politisi memang tidak mudah, apalagi perempuan. Itu disadari Mestariyani Habie. Namun, kiprahnya di parlemen menunjukkan kepada publik bahwa perempuan juga mampu menjalankan amanah politik dengan baik, meski ujiannya luar biasa hebat. Kehadirannya di ranah politik bukan serta merta begitu saja, namun penuh dengan kerja keras dan perjuangan yang melelahkan.

habieSejatinya, tampilnya perempuan di pentas politik bukanlah sebagai kompetitor bagi kaum laki-laki, melainkan sesuatu yang memang seharusnya begitu. Mestariyani, satu dari empat politisi perempuan dari Fraksi Gerindra di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) merasakan itu.

Anggota di Komisi II DPR-RI ini  berpandangan, perempuan adalah sosok istimewa dalam banyak bidang yang berbeda, termasuk keterlibatannya di dalam dunia politik. Sehingga memisahkan perempuan dari politik berarti sama halnya dengan memisahkan masyarakat dari lingkungannya. “Perempuan harus ada keterwakilan, membawa kepentingan, misi, aspirasi, terlebih yang menjadi persoalan kaum perempuan,” ujar perempuan kelahiran Makassar, 23 Januari 1969 ini.

Setidaknya, lanjut Mestariyani –yang biasa disapa Nani ini, partisipasi politik perempuan di dalam parlemen, maupun di struktur organisasi partai politik di Indonesia tak sekadar untuk memenuhi kuota 30 persen. Lebih dari itu, keikutsertaannya di dalam politik diharapkan sebagai upaya mendobrak ketidakadilan gender yang masih melekat dalam kultur bangsa Indonesia. “Karena politik itu proses, strategi dimana tujuannya adalah untuk menyejahterakan bukan menyengsarakan. Dan perlu diingat, suara perempuan penentu kemenangan,” tegas perempuan yang menjabat Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perempuan Indonesia Raya (PP PIRA) sebuah sayap organisasi perempuan di bawah naungan Partai Gerindra.

Keterlibatannya di panggung politik memang tanpa sengaja. Tapi bukan berarti sekadar ikut-ikutan belaka di tengah hingar bingar pesta demokrasi 2009 silam. Setidaknya tawaran untuk gabung di partai politik kala itu datang dari Jusuf Kalla, namun ia tolak. Profesinya sebagai seorang notaris di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) kala itu memang dikenal semua kalangan. Selain sebagai Ketua Ikatan Notaris Indonesia wilayah kawasan Indonesia timur, Nani juga dikenal sebagai notaris yang kerap menggratiskan biaya bagi masyarakat Sulsel yang hendak mendirikan lembaga non profit semisal yayasan.

Suatu ketika, adiknya Irmawatie Habie –yang tinggal di Bogor ikut dalam upaya pendirian Partai Gerindra— meminta bantuannya untuk mencarikan figur calon pengurus di Sulsel. Dengan niat membantu sang adik, ia pun mulai berburu orang-orang yang bakal memimpin Gerindra di Sulsel. Pilihan jatuh pada sahabatnya, Dewi Yasin Limpo, sayang yang bersangkutan sudah dipinang oleh Wiranto untuk memimpin Partai Hanura. Akhirnya, pilihan berikutnya tertuju pada Yuliardi, seorang aktivis HMI Makassar. Karena diburu waktu yang begitu singkat, mau tidak mau Nani pun bersedia didapuk sebagai sekretaris. “Dalam waktu singkat akhirnya kita bisa membentuk kepengurusan DPD dan DPC se Sulsel dan dinyatakan lolos sebagai peserta Pemilu 2009,” tutur ibu dari dua anak ini bersemangat.

Sewaktu pencalegan, sang adik kembali memintanya untuk menggantikan dirinya yang memang mendapatkan posisi pertama untuk daerah pemilihan (dapil) Sulsel 1 yang meliputi Kabupaten Selayar, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa dan Kota Makassar. Setelah menimbang segala sesuatunya, ia pun menyanggupi dan berlaga di Pemilu 2009 di bawah bendera Partai Gerindra. Sejak saat itulah, Nani memberanikan diri untuk terlibat lebih jauh di dunia politik praktis.

Rupanya, seiring berlalunya pemilu, perjuangan berikutnya adalah perebutan sisa satu kursi dari dapil Sulsel 1. Berdasarkan hasil rekap suara, waktu itu ada tiga nama dari tiga partai, salah satunya adalah dia yang berpeluang lolos ke Senayan. Menyikapi polemik yang terjadi, Nani pun memilih bersabar dan menyerahkan urusan itu ke partai. Belakangan juga muncul kisruh SK KPU yang diduga palsu yang dilakukan oleh oknum anggota KPU dan rival politiknya.

Kesabarannya berbuah manis, ia pun dinyatakan berhak melenggang ke Senayan. Pasalnya, berdasarkan sidang Mahkamah Konstitusi, dua rival politiknya terbukti melakukan penggelembungan suara dan yang satu lagi terkait surat keputusan palsu. “Ini semua tidak terlepas dari adanya campur tangan Tuhan,” ujar anggota Badan Legislasi DPR-RI ini.

Sebelum terjun langsung di jalur politik, perempuan anak pertama dari sembilan bersaudara ini mengaku banyak belajar perihal dunia politik dari ibunya. Kala itu dia menjadi ‘tukang ketik’ hasil rapat ibunya sebagai anggota DPRD Kota Makassar. “Sebagai tukang ketik, saya jadi tahu keputusan-keputusan politik yang ada di parlemen. Tak jarang saya juga mengoreksi dan member masukan kepada ibu atas pendapat-pendapat yang ada di draf tersebut,” cerita lulusan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar ini.

Setelah berkantor di Senayan, Nani –yang mempunyai latar belakang profesi sebagai notaris— memilih untuk berada di Komisi II DPR-RI yang membidangi urusan Pemerintahan Dalam Negeri, Aparatur Negara, Otonomi Daerah, dan Agraria. Dan sebagai anggota Baleg DPR-RI, tengah mengawal revisi UU Jabatan Notaris. “Saya milih hal ini karena sesuai kapasitas dan kemampuan saya sebagai notaris. Apalagi saya juga punya konstituen para notaris dan turunannya,” ujar politisi perempuan asal Sulsel yang turut terjun langsung memenangkan pasangan Garuda-Na dalam ajang pemilukada Sulsel 2013 mendatang.

Lantas seperti apa perjuangan dan pemikirannya dalam menjalankan aktivitas politiknya baik di kursi parlemen maupun di tengah masyarakat? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Garuda, politisi asal Sulawesi Selatan ini memaparkannya dengan gamblang saat ditemui di ruang kerjanya di gedung wakil rakyat Senayan, Jakarta beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya:

Sejak kapan Anda mengenal politik?

Dunia politik praktis yang saya geluti, ya sejak masuk Gerindra. Tapi mengenal dunia politik, waktu ibu saya menjadi anggota DPRD Kota Makassar. Waktu itu saya selalu menjadi tukang ketiknya ibu. Setiap hasil sidang atau rapat ibu sebagai wakil rakyat setiap hasil sidang rapat. Sebagai tukang ketik, saya jadi tahu keputusan-keputusan politik yang ada di parlemen. Tak jarang saya juga mengoreksi dan memberi masukan kepada ibu atas pendapat-pendapat yang ada di draf tersebut.

Menurut Anda politik itu apa?

Politik itu strategi dalam mencapai tuhuan yang akan dicapainya. Jadi tergantung tujuannya apa? Karena menurut saya politik itu proses, strategi dimana tujuannya adalah untuk menyejahterakan bukan menyengsarakan.

Bisa ceritakan bagaimana awal perjuangan politik praktis Anda?

Perjuangan politik saya boleh dibilang tanpa disengaja, tapi bukan sekadar kebetulan, karena semua itu sudah menjadi takdir Tuhan. Dulu, saya beranggapan bahwa politik itu adalah satu kegiatan untuk kepentingan golongan saja, tentu ini menggiring pemikiran saya bahwa politik itu tidak baik. Seiring berjalannya waktu, saya diajak Pak JK (Jusuf Kalla) untuk bergabung ke Partai Golkar, namun saya menolak. Begitu juga ketika seorang teman mengajaknya untuk masuk ke PAN, saya pun menolaknya. Padahal saya sebagai Ketua INI (Ikatan Notaris Indonesia) wilayah Indonesia Timur bisa saja memanfaatkan peluang itu.

Tak lama kemudian, adik saya, Irmawati Habie yang ikut mendirikan Partai Gerindra waktu itu tengah mencari figur untuk menjadi pemimpin daerah di Sulsel. Lalu dia menghubungi saya untuk minta tawarkan hal itu kepada Dewi Yasin Limpo. Tapi terlambat, ternyata dia sudah gabung dengan Partai Hanura. Bahkan saya juga sempat konsultasi dengan gubernur Syahrul Yasin Limpo untuk keperluan tersebut, ia pun berjanji akan menyodorkan kandidat kalau memang Prabowo Subianto benar-benar ada di belakang Partai Gerindra. Akhirnya hingga menjelang batas akhir, kita belum dapat figur yang bakal memimpin Gerindra Sulsel. Lalu adik saya mengusulkan nama Yuliardi, seorang aktivis HMI. Setelah diskusi akhirnya disepakati Yuliardi sebagai ketua dan saya sekretarisnya, karena memang waktunya sangat mendesak.

Ada benarnya juga pesan orangtua bahwa dimana pun kita berada maka kita harus bisa bermanfaat bagi lingkungan, maka ketika saya menjabat sebagai notaris, maka saya pun menggratiskan masyarakat yang berniat membuat akta yayasan. Dan memang, di Sulsel itu sudah tahu, kalau mau buat akta yayasan, ya datang saja ke Notaris Mestriyani Habie, pasti gratis. Rupanya, mereka yang tersebar di Sulsel yang pernah kita bantu itu membentuk sebuah forum. Mengingat batas waktu verifikasi makin dekat, akhirnya saya menghubungi orang-orang yang tergabung dalam forum yayasan yang saya keluarkan aktanya. Rupanya tanpa saya minta mereka sangat antusias untuk membantu membentuk kepengurusan di tingkat kabupaten/kota. Alhamdulillah Partai Gerindra terbentuk di seluruh kabupaten/kota di Sulsel.

Setelah semua terbentuk, kami pun membawa berkas ke Jakarta. Dalam sebuah pertemuan, Pak Prabowo memberikan arahan bahwa jika Gerindra lolos maka ia akan tinggalkan Golkar. Sejak saat itu, semangat saya kian berkobar untuk membesarkan Gerindra di Sulsel.

Lantas bagaimana pula akhirnya Anda duduk di kursi parlemen Senayan?

Waktu proses pencalegan, saya diminta untuk mengisi posisi nomor urut pertama menggantikan adik saya. Awalnya saya menolak dan berniat hanya untuk membesarkan Gerindra di Sulsel, tapi karena desakan dan adik saya yang memang memberi kesempatan kepada saya untuk lebih terlibat di partai, saya pun memberanikan diri maju. Waktu itu adik saya bilang, kenapa perjuangannya cuma sampai disini, potensi dan kedudukan saya sebagai notaris untuk kawasan Indonesia Timur sudah berada di puncak, sudah saatnya menunjukkan kemampuan ke tahap yang lebih tinggi lagi dengan menjadi wakil rakyat.

Akhirnya nama saya pun terpampang sebagai caleg untuk daerah pemilihan Sulsel 1 yang meliputi Kabupaten Selayar, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa dan Kota Makassar. Seperti halnya para caleg lain, saya pun kembali berjuang turun langsung ke pelosok wilayah dapil 1 dengan tidak lupa memanfaatkan jaringan yang sudah terbentuk sebelumnya. Waktu itu yang ada dalam pikiran saya yang penting berjuang sekuat tenaga, adapun hasilnya saya serahkan kepada Allah. Alhamdulillah akhirnya saya dinyatakan lolos ke Senayan.

Melenggangnya Anda ke Senayan sempat terganjal masalah, bisa diceritakan kenapa?

Memang benar. Proses sebenarnya, berdasarkan peraturan, rekap suara itu ada yang namanya putaran ketiga. Nah rupanya masih ada sisa satu kursi dari dapil sulsel 1 yang kosong dan berdasarkan perhitungan maka kursi itu milik Gerindra. Memang waktu itu menjadi rebutan Golkar, Hanura dan Gerindra. Ternyata, waktu itu caleg dari Golkar menggelembungkan suara, Hanura juga sama. Pada waktu itu juga muncul SK KPU yang mengangkat Dewi sebagai anggota yang lolos, namun surat SK tersebut disinyalir palsu

Di pihak lain, di Makassar adik saya didatangi seorang professor hukum yang menjadi dosen di UMI Makassar yang sekarang jadi hakim Tipikor. Dia bersedia membantu mengurus permasalahan tersebut ke Mahkamah Konstitusi (MK). Padahal adik saya sudah mengajukan ke KPU, termasuk ke MK, tapi semua pintu sudah ditutup. Lalu lewat profesor itulah bisa terbuka aksesnya hingga ke MK dan akhirnya Ketua MK, Mahfud MD memutuskan bahwa SK itu palsu dan suara itu memang benar semestinya milik saya. Lagi-lagi disini ada campur tangan Tuhan.

Setelah duduk di parlemen, apa tugas Anda?

Sekarang saya duduk di Komisi II dan Badan Legislasi (Baleg) DPR. Memang saya yang minta, sebagai notaris dan PPAT, saya melihat di Komisi II meliputi Pemerintahan Dalam Negeri, Aparatur Negara, Otonomi Daerah, dan Agraria. Kita tahu betapa bobroknya penanganan agraria yang ditangani Badan Pertanahan Nasional, makanya saya ingin memperbaiki dan memberi sesuatu yang memang sesuai kapasitas saya sebagai notaris. Sementara saya masuk ke Baleg, memang itu permintaan saya atas permohonan teman komisi yang ada di Baleg DPR, yang memintanya untuk mengawal revisi Undang-undang Jabatan Notaris. Akhirnya saya direstui fraksi untuk menjadi anggota Baleg, terlebih fraksi pun percaya bahwa saya menguasai dunia kenotariatan dan segala turunannya.

Bagaimana Anda membagi waktu antara urusan keluarga, partai dan parlemen?

Ya sebisa mungkin kita harus bisa mengatur waktu. Segala sesuatunya harus di manage, tapi saya tidak harus kaku. Biasanya saya lihat urgensi dari kegiatan-kegiatan yang akan dijalani mana yang baik untuk diprioritaskan sehingga semua kebagian perhatian. Tapi tidak sekadar datang lalu pergi begitu saja, tetap saya harus mempersiapkan segala sesuatunya ketika mengikuti kegiatan tersebut.

Sebagai pejuang politik perempuan, menurut Anda sudah sejauh mana pergerakan politik perempuan Indonesia?

Pergerakan politik perempuan sekarang sudah lebih baik dibanding periode sebelumnya. Terlebih dengan adanya afirmasi 30 persen kuota perempuan baik di struktural partai politik maupun di parlemen. Sebenarnya inilah peluang dari perempuan untuk berbuat sesuatu atas nama kaumnya. Memang, kita akui masih ada hal-hal yang masih belum dimanfaatkan secara maksimal. Untuk itu kita harus berperan aktif untuk bisa memberi warna kepada kaum kita sendiri. Perlu diingat, bahwa kemajuan sebuah negara itu bergantung pada generasinya. Nah generasi yang berkualitas itu lahir dari perempuan yang berkualitas pula.

Lantas bagaimana dengan peran Perempuan Indonesia Raya sebagai sayap Partai Gerindra?

Perempuan Indonesia Raya (PIRA) sebagai sayap Partai Gerindra bertekad untuk menjadikan suara perempuan sebagai penentu kemenangan. Peran perempuan akan bisa terlihat dari program-program yang berpihak kepada perempuan dan bisa diberdayakan secara maksimal oleh perempuan itu sendiri. Kita sadar bahwa perempuan itu umumnya punya potensi, cuma belum dioptimalkan secara maksimal. Hal ini bisa dilihat dari perenan perempuan, bisanya kegiatan partai, kemasyarakatan, itu lebih banyak perempuan. Tak heran bila suara perempuan, penentu kemenangan. Termasuk pada kegiatan verifikasi faktual kemarin, kita lebih dari 30 persen perempuan hadir. Secara struktural, PIRA sudah ada di 33 provinsi, dan lebih dari 60 persen sudah hadir di tingkat cabang.

Menurut Anda, sebagai politisi asal Sulawesi Selatan, sosok Andi Rudiyanto Asapa yang kini maju sebagai calon Gubernur Sulsel itu seperti apa?

Dia itu senior saya sewaktu di kuliah. Saya tahu betul bagaimana dia memimpin. Dan sosok seperti dia, pemimpin yang dicari masyarakat Sulsel. Sudah semakin kelihatan banyak kesadaran, ketertarikan masyarakat untuk mendukung. Karena pasangan Rudi-Nawir itu maju sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur diniatkan sebagai amanah yang harus diperjuangkan. Sementara, dua calon lainnya, saya rasa hanya memperebutkan kekuasaan.

Kalau bicara peluang, secara di atas kertas boleh jadi semua menganggap yang punya peluang besar, ya calon gubernur petahana. Calon IA juga mengklaim kuat dan dapat dukungan di mana-mana, tapi itu belum bisa dibuktikan. Meski kekuatan pasangan Garuda-Na kerap tidak dianggap oleh pasangan lainnya, tapi saya yakin ada campur tangan Tuhan Yang Maha Esa yang gerakannya kian terlihat.

Bagaimana dari segi programnya?

Dari segi program, saya rasa tidak muluk-muluk dan memang itu yang dibutuhkan masyarakat Sulsel. Sebenarnya secara sumber daya manusia, sumber daya alam dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang dimiliki Sulsel sekarang ini sudah sangat mendukung. Insya Allah Pak Rudi bisa menjalankannya. Selama ini yang belum ada dan dipunyai adalah political will seorang pemimpin yang belum 100 persen. Rakyat sulsel itu sudah tahu dari ciri khas kepemimpinan dari Rudiyanto Asapa saat memimpin Kabupaten Sinjai.

Apa rencana berikutnya?

Saya akan menjalankan program-program yang bisa bersinergi dengan gubernur Sulsel, Andi Rudiyanto Asapa tentunya. Insya Allah, di 2014 saya juga diminta lagi untuk maju kembali, selain mendapat perintah untuk berbagi tugas memenangkan Gerindra di Sulsel, saya juga sekaligus memberi penguatan kepada caleg-caleg yang ada di dapil yang sama. Karena selama inikan basis saya ada di dapil sana yang tetap saya jaga.

Menurut Anda seperti apa karakter pemilih Sulsel?

Karakter pemilih Sulsel, sebenarnya tidak terlepas dari karakter orang Sulsel yang memang sebenarnya komitmen dan konsekuen. Tapi tergantung kondisi dan keadaan yang terjadi. Kalau sudah memilih ini, dan senang dengan apa yang dipilihnya maka akan tetap komitmen. Tapi kalau sudah tahu kebobrokannya, maka dengan cepat dia akan tinggalkan dan berpindah ke lain hati.

Saya sendiri hingga sampe sekarang masih mengadakan arisan ibu-ibu yang memang menjadi konstituen saya, kegiatan ini juga diisi dengan menghadirkan guru ngaji, atau saya sendiri hadir untuk memberikan pendidikan politik. Dalam setiap kesempatan saya selalu bilang kepada mereka bahwa kalau mau bagus lingkungannya di sini, maka peran ibu itu yang akan menentukan sendiri. Saya hanya buat di daerah-daerah rawan dengan lawan politik, karena bukan basis kita yang rawan money politic. Sulsel itu basisnya Golkar, tapi sekarang sudah berubah, masyarakat Sulsel tidak lagi lihat partainya tapi lihat figurnya.

Apa pesan untuk konstituen Anda?

Rapatkan barisan suapaya bisa sama satu tujuan untuk mengantarkan Pak Rudiyanto Asapa menjadi gubernur Sulsel. Rapatkan barisan bukan berarti dari luar tidak bisa masuk, tapi kita harus menyatukan langkah menuju tujuan. Dengan begitu saya rasa, Gerindra akan semakin solid dan kuat dalam memenangkan pilgub Sulsel dan Pemilu 2014 mendatang. [G]

MESTARIYANI HABIE, SH

Tempat Tanggal Lahir:

Makassar, 23 Januari 1969

Jabatan:

  • Sekretaris Jenderal PP Perempuan Indonesia Raya (PIRA)
  • Anggota Komisi II DPR-RI Fraksi Gerindra
  • Anggota Badan Legislasi DPR-RI

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Januari 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Mestariyani Habie maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 2 untuk daerah pemilihan (dapil) Sulawesi Selatan I