Lebih Dekat Dengan Nur Iswanto: Berjuang untuk Perubahan

Pamornya sebagai politisi asal Sumatera Selatan kian diperhitungkan. Kepiawaiannya dalam menahkodai partai politik menjadi sebuah parameter keberhasilannya. Meski demikian, ia tetap meyakini bahwa setiap aktivitas politik harus dilandasi kesungguhan hati dan kerja keras. Sepertinya tak ada kata lelah dalam menggeluti panggung politik. Termasuk ketika ia ditunjuk maju sebagai bakal calon Walikota Palembang, Sumatera Selatan.

DSC00053Memang, diakui oleh H Nur Iswanto, SH, MH, bukanlah perkara sulit dalam meraih simpati masyarakat. Bagi pria kelahiran Lahat, 7 November 1961 inilah buah dari perjuangannya yang berliku selama puluhan tahun silam.  ”Meski demikian, saya tidak pernah lelah untuk terus memperjuangkan aspirasi rakyat demi sebuah perubahan,” tegas politisi Senayan yang diamanahi sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Provinsi Sumatera Selatan ini.

Sejak terjun di dunia politik praktis di masa orde baru, Nuris, demikian panggilan akrabnya terus menunjukkan tajinya sebagai seorang politikus. Kepiawaiannya mengantarkan ia duduk sebagai anggota DPRD Sumatera Selatan dua periode. Kemudian ketika didaulat oleh Prabowo Subianto untuk memimpin Partai Gerindra pada 2008, Nuris kembali berhasil mengantarkan dua kader terbaiknya melenggang ke Senayan, ia dan Edhy Prabowo pada Pemilu 2009 lalu.

Baginya, politik itu perjuangan. Perjuangan yang diawali dengan mencari kekuasaan, setelah berkuasa baru bisa merubah keadaan. Tentunya perubahan yang positif. Tanpa berpolitik perjuangan akan percuma. Dan di Gerindra inilah Nuris berjuang demi sebuah perubahan. ”Dalam berpolitik, apapun masalahnya, seberapapun keterbatasannya, kapanpun masanya kalau kita yakin dan dilandasi dengan kesungguhan niat, pasti kita bisa mengatasinya. Karena politik itu perjuangan,” tegasnya.

Termasuk di saat tengah menjalankan tugas sebagai Ketua DPD Partai Gerindra, ayah empat anak ini diminta sebagain besar masyarakat Palembang untuk maju dalam pemilihan walikota (pilwako) Kota Palembang. Tak tanggung-tanggung, perintah pun turun dari Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto untuk merebut Palembang. Semua itu bukan sekadar gagah-gagahan atau unjuk kekuatan Partai Gerindra yang dipimpinnya di bumi sriwijaya, tapi untuk sebuah perubahan yang dimulai dari Kota Palembang sebagai jantung Sumatera Selatan.

Menurutnya, memang dengan kekuatan lima kursi anggota DPRD Kota Palembang, Gerindra masih memerlukan dua kursi lagi untuk memenuhi syarat pencalonannya. Anggota Komisi V DPR-RI ini optimis lewat jaringannya akan bisa mendapatkan dua kursi bahkan lebih. ”Saya rasa dengan melihat pergerakan dan aksi kita selama ini, ada beberapa partai yang siap berkoalisi dengan kita,” tandasnya.

Meski begitu, ia menegaskan kepada semua kadernya untuk terus berjuang bersama meraih simpati dan dukungan semua kalangan dalam gelaran pilwako yang akan berlangsung April 2013 mendatang. Pasalnya menghadapi calon incumbent dan muka-muka lama bukanlah perkara mudah. Untuk itu, ditengah kesibukannya sebagai anggota DPR, Nuris rela bolak balik Jakarta Palembang untuk mensosialisasikan pencalonannya ke pelosok wilayah Palembang. ”Jumat sore sampai Minggu malam saya habiskan waktu untuk sosialisasi di Palembang, Senin pagi saya sudah di Jakarta lagi,” terang anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR ini.

Saat ditemui di ruang kerjanya di komplek Gedung DPR/MPR beberapa waktu lalu, kepada Hayat Fakhrurrozi dari Garuda, lulusan Universitas Palembang ini memaparkan pandangan terhadap kondisi Kota Palembang, perjuangannya membesarkan Partai Gerindra Sumatera Selatan serta kesiapannya menghadapi pesta demokrasi pilwako Kota Palembang. Berikut petikannya:

Bisa diceritakan kondisi Partai Gerindra di Sumatera Selatan (Sumsel) sendiri seperti apa?

Secara umum Partai Gerindra Sumatera Selatan kondisinya baik. Struktur partai dari tingkat DPC, hingga PAC sudah terbentuk. Untuk kota Palembang, setelah saya ditetapkan oleh DPC untuk maju, sejak dua bulan lalu saya lebih fokus di Kota Palembang, namun bukan berarti DPC lain tidak diperhatikan. Khusus di Palembang, struktur partai sudah terbentuk hingga ranting dan anak ranting.

Bisa dijelaskan rencana Anda untuk maju dalam pemilihan walikota Palembang?

Memang benar, saya sebagai ketua DPD diminta oleh DPC Kota Palembang untuk maju dalam pemilihan walikota (pilwako) 2013 mendatang. Pencalonan saya ini sudah disosialisasikan ke DPC dan PAC yang ada di Sumsel. Gerakan kita sudah berjalan sejak dua bulan lalu baik lewat aksi revolusi putih atau kunjungan ke PAC dalam rangka melihat kesiapan mesin-mesin partai untuk menghadapi pilwako ini.

Bagaimana tanggapan masyarakat atas rencana pencalonan Anda?

Sejak ditetapkan untuk maju dan hasil kunjungan saya ke pelosok kampung di Palembang selama dua bulan ini antusias masyarakat begitu besar. Bahkan mereka sudah siap berjuang tidak untuk saya saja, tapi untuk kemenangan Gerindra dan Prabowo Subianto sebagai Presiden pada 2014 mendatang. Kita terus mengumandangkan yel-yel Gerindra Menang, Prabowo Presiden dalam setiap kesempatan.

Hingga saat ini, siapa lawan yang bakal dihadapi dalam pilwako nanti?

Setidaknya hingga saat ini, ada incumbent Wakil Walikota yang tentunya secara penokohan lebih terkenal. Tapi saya dan Partai Gerindra tidak gentar untuk menghadapinya. Lalu ada juga Kepala Dinas Perhubungan yang mencalonkan kembali, meski sudah dua kali ikut pertarungan pilwako tapi kalah, tentunya dia pun tak kalah terkenalnya. Mungkin dalam perkembangannya akan ada nama lain.

Kenapa pilih Walikota Palembang, tidak Gubernur Sumsel?

Sebenarnya ada juga yang menyarankan untuk posisi gubernur, tapi  saya juga harus tahu diri, dan tidak mau muluk-muluk, dengan kondisi dan realitas yang ada. Kalau pun maju di pilgub Sumsel, saya akan ambil posisi wakilnya. Nah, karena saya sudah ditentukan untuk maju di pilwako Palembang maka saya harus fokus. Kalau nanti kita dapatkan Palembang ini, maka ada keuntungan ketika mengusung Prabowo ke depan. Di Kota Palembang Gerindra memiliki ada lima kursi dan juga mata pilihnya 1,3 juta pemilih. Peringkat kedua Kabupaten Muara Enim, dengan lima kursi DPRD dengan jumlah pemilih sebanyak 700.  Untuk itu, kita harus rebut wilayah ini untuk menuju pemilihan Presiden mendatang.

Bisa dijelaskan, kekuatan Partai Gerindra di Palembang sendiri bagaimana?

Bayangkan, sebagai pendatang baru, dari 50 anggota DPRD, kita mampu mendudukkan lima kursi atau satu fraksi. Memang dengan jumlah kursi yang dimiliki itu belum cukup, untuk itu saya masih memerlukan dua kursi lagi agar memenuhi persyaratan. Tentu kita akan koalisi dengan partai lain. Mudah-mudahan dengan gerakan kita orang lain akan mendekat.

Dengan kekuatan itu, sebesar apa peluang yang dimiliki?

Kalau tidak punya potensi, saya tidak akan maju. Tapi karena melihat Gerindra punya posisi yang bagus dan sangat solid. Maka ketika ada kader yang siap maju, maka partai ini tidak boleh direntalkan. Pasalnya, kita berhitung kalau orang lain yang maju, kalau mereka kasih duit paling berapa sih? Setelah itu mereka tinggalkan kita, tapi kalau kita bertekad untuk maju, maka kalah memang itu kita yang tanggung. Jadi ngapain kita rentalkan, seperti yang dilakukan banyak partai di luar kita yang merentalkan partainya hanya untuk mendapatkan uang, sementara kaderisasi tidak jalan. Yang penting kita berjuang dulu, harus berani, kalah menang itu urusan nanti.

Program apa yang akan Anda tawarkan kepada masyarakat?

Sebenarnya secara umum, Palembang sudah bagus. Untuk walikota Edi Sentana, saya angkat topi, tapi ini periode terakhir buat dia, ada banyak hal yang harus dibenahi. Contohnya masih banyak rumah yang tidak layak huni, lingkungan yang kumuh, jalan-jalan yang belum bagus, tingkat kemiskinan yang masih tinggi, fasilitas pendidikan yang memprihatinkan, pasar tradisional yang kiat terjepit, pelayanan puskesmas gratis tapi tetap berbiaya mahal, karena akses yang jauh.

Untuk itu kita menawarkan perubahan di setiap bidang. Misalnya, puskesmas yang ada akan kita tingkatkan menjadi puskesmas modern dilengkapi fasilitas rawat inap yang dekat dengan penduduk kampung. Begitu pula dengan kesejahteraan para tenaga medisnya. Lalu bidang pendidikan tidak saja membenahi sekolah yang ambruk, tapi kualitas gurunya harus ditingkatkan, karena banyak sekolah bagus tapi gurunya tidak bagus. Kemudian, keberadaan pasar-pasar tradisional akan kita buat lebih modern sehingga bisa bersaing dengan supermarket yang kian membanjiri Palembang dan mematikan ekonomi rakyat kecil. Begitu juga dengan pembinaan generasi muda di bidang olahraga yang tidak diimbangi dengan fasilitas kapangan olahraga yang kian berkurang dan banyak yang disulap menjadi mal.

Apa yang Anda lakukan dalam sosialisasi ke tengah masyarakat?

Dalam setiap sosialisasi yang saya lakukan setiap Jumat sore hingga Minggu malam selalu tidak sekadar pertemuan saja, tapi sekaligus digabungkan dengan program delapan aksi seperti revolusi putih. Biasanya aksi revolusi putih yang digelar di kampung-kampung dengan sasaran anak-anak dan ibu-ibu hamil ini selalu dihadiri minimal 400-600 orang, bahkan pernah juga sampai 1000 orang yang hadir. Sebelumnya saya juga secara rutin menggelar turnamen bola voli yang sudah memasuki tahun kelima ini, bukan karena saya ingin maju di pilwako saja, tapi saya melihat minat olahraga di perkampungan di Palembang ternyata begitu tinggi. Dari sini kalau kita bina bakat-bakat atlet itu pasti menjadi baik dan tidak hanya terpusat di kota saja, tapi hingga ke pelosok kampung.

Nah dalam rangka sosialisasi menghadapi pilwako ini, saya dan tim memulainya dari pinggiran Palembang dulu, baru setelah itu kita garap wilayah perkotaan. Setidaknya, dalam seminggu ada lima kali revolusi putih. Untuk itu, saya membutuhkan dukungan dari teman-teman DPC, DPD dan DPP dalam menjalankan aksi ini.

Apa yang akan Anda berikan untuk Palembang?

Dengan jumlah penduduk 1,7 juta jiwa dan mata pilih 1,3 juta. Saya tidak mau banyak janji, karena biasanya banyak janji pasti banyak bohongnya. Saya hanya menawarkan perubahan dengan haluan baru, pemimpin baru, semangat baru dan rakyat tak butuh janji, tapi butuh bukti. Dan ini sudah saya lakukan sejak memulai terjun di panggung politik yang mengantarkan saya duduk di DPRD dua periode dan di Senayan ini. Mudah-mudahan ini tidak sekadar slogan yang saya cantumkan di atribuk sosialisasi yang saya buat tapi bisa saya buktikan secara nyata. Dan pada saat saya harus membangun Palembang, jargon ini harus saya buktikan.

Kondisi birokrasi di Palembang sendiri bagaimana?

Secara umum sudah birokrasi pemerintah kota Palembang cukup bagus. Tapi kalau nanti saya memimpin, maka harus lebih bagus lagi. Kalau perilaku KKN di lingkaran birokrasi saya pastikan masih ada, hal ini dibuktikan dengan adanya laporan para pemborong kepada saya bahwa proyek-proyek mereka sudah diambil oleh orang-orang dekat para pejabat birokrasi atau lewat koleganya. Inilah tantangan kita ke depan untuk menciptakan birokrasi yang bersih.

Selain mengandalkan mesin partai, parpol mana yang sudah melirik Anda?

Sampai saat ini memang banyak pihak yang meminta kader Gerindra untuk maju di pilwako Palembang, untuk itu saya maju. Tim hingga saat ini masih mengkaji siapa dan partai mana yang bakal mendampingi saya nanti. Yang jelas saya tidak akan merentalkan partai ini.

Selama ini apakah sudah ada survey tentang tingkat elektabilitas Anda?

Saya dan tim belum melakukan survei. Bagi saya survey itu bukan menjadi patokan seseorang untuk menang, tapi sekadar sebagai rekomendasi saja untuk mencari tahu, sebagai arah dimana titik lemah dan titik kekuatan. Jangan terlalu percaya dengan survei, bisa jadi pada saat survei warga yang menjadi responden hanya kenal dengan orang atau calon dari partai lain.

Bagaimana membagi waktu persiapan pilwako dengan kesibukan Anda di Senayan?

Saya rasa tidak bermasalah, selain pembagian waktu rapat yang berbeda antara komisi, BURT dan keperluan untuk dapil. Selama ini saya selalu pulang setiap Jumat sore untuk keliling ke seluruh dapil di Sumsel. Saya mohon maaf kepada kader-kader di DPC lain, sementara ini kurang diperhatikan. Bukan berarti dilupakan, tapi karena saya lagi fokus di Palembang. Untungnya, tim di setiap DPC sudah solid dan mereka mengerti dengan tugasnya, tinggal mengkondisikan saja.

Menurut Anda kondisi kepemimpinan kita saat ini seperti apa?

Di Sumsel sendiri, kita lihat gubernurnya selain sibuk menyelesaikan tugas juga tengah sibuk maju di DKI. Namun demikian, Gerindra tetap mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang pro rakyat. Meski memang diakui, kepemimpinan saat ini saya anggap amburadul, plintat plintut, ragu-ragu dalam menentukan kebijakan. Untuk itu dengan kebulatan tekad, Gerindra mengusung Prabowo menjadi pemimpin Republik ini.

Sebagai politisi kawakan, menurut Anda, politik itu apa?

Politik itu perjuangan. Di sinilah kita menentukan perjuangan itu bisa atau tidak. Perjuangan diawali dengan mencari kekuasaan, setelah berkuasa baru bisa merubah keadaan. Tentunya yang positif, tanpa berpolitik perjuangan kita omong kosong.

Lalu kondisi politik di gedung parlemen saat ini seperti apa?

Boleh saja dalam persaingan politik Fraksi Gerindra belum diperhitungkan karena jumlahnya sedikit. Tapi, meski sedikit sangat menentukan dan diperhitungkan banyak pihak. Biasanya kalau sidang paripurna, kita menentukan. Sedikit tapi diperhitungkan.

Pesan Anda untuk kader Gerindra Sumsel?

Saya yakin seluruh pengurus partai dan kader yang di Sumsel mendukung kebijakan ini, tidak hanya dalam bentuk materi tapi dengan moril dan dukungan gerakan lainnya untuk mensosialisasikannya ke bawah. Khususnya kader yang ada di Palembang ataupun di luar itu pasti akan mendukung bahwa saya, Haji Nur Iswanto maju sebagai walikota, untuk itu mohon dibantu. Dan kalau memang menginginkan kesejahteraan pilihlah Gerindra. [G]

H NUR ISWANTO, SH, MH

Tempat tanggal lahir:

Lahat, 7 November 1961

Jabatan:

  • Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sumatera Selatan
  • Anggota Komisi V DPR-RI
  • Anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR-RI
  • Anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR-RI

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Juni 2012
  • Pada Rabu, 5 Maret 2014, Nur Iswanto meninggal dunia karena sakit jantung.

Rani Mauliani: Semua Mata Tertuju Pada Gerindra

Tak pernah terbayang sebelumnya jika keterlibatannya sebagai aktivis sosial membawanya ke dunia politik praktis. Termasuk ketika harus mengemban amanah sebagai wakil rakyat sekaligus menahkodai partai politik salah satu wilayah di ibukota. Semua itu dijalani Rani Mauliani dengan penuh rasa tanggungjawab.

raniKeterlibatannya di dunia politik berawal ketika ia gabung menjadi relawan di Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria) yang ada dibawah bendera Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Menjelang Pemilu 2009, Gerindra membutuhkan caleg perempuan, Rani pun diminta untuk ikut bertarung dalam pesta demokrasi itu. ”Waktu itu saya tidak bisa menolak, terlebih ini perintah langsung dari abang saya,” ujar perempuan kelahiran Jakarta, 10 Februari 1978 ini.

Perjuangan dan kerja cerdasnya dalam bertarung di daerah pemilihan (dapil) Jakarta Barat mengantarkannya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Jakarta. Dengan latar belakang dan pengalamannya sebagai aktivis sosial, oleh Partai Gerindra, Rani ditempatkan di Komisi E yang membidangi kesejahteraan rakyat meliputi pendidikan, kesehatan, layanan sosial dan olahraga. Meski menangani banyak hal, ada bidang yang mendapat prioritas tersendiri olehnya yakni layanan kesehatan. “Boleh jadi bidang itu menjadi makanan sehari-hari. Bahkan boleh dibilang saya ini menjadi ikonnya ambulan,” ujar perempuan yang dipercaya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Gerindra Jakarta Barat ini.

Berangkat dari pengalamannya sebagai aktivis sosial dalam bidang kesehatan, Rani menjadi salah satu pendiri lahirnya Badan Kesehatan Indonesia Raya (Kesira) yang bernaung di DPP Partai Gerindra. Pasalnya, aksi sosial yang dilakukan Ketua DPC Partai Gerindra Jakarta Barat bersama timnya dalam membantu masyarakat miskin kota untuk mendapatkan akses layanan kesehatan itu menjadi pendorong lahirnya Kesira. Maka selain sibuk sebagai anggota dewan, Rani pun harus membagi waktunya mensosialisasikan program kerja Kesira ke seluruh penjuru nusantara.

Sebagai anggota DPRD DKI, ia terus memperjuangkan masalah kesehatan ini, baik dalam hal anggaran maupun aturan main tentang jaminan kesehatan warga DKI Jakarta. Meski demikian, ia tak lantas mengesampingkan bidang yang menjadi tanggungjawabnya. Setidaknya, keberadaan dirinya dan fraksi Gerindra di DPRD DKI meski hanya enam orang anggota kerap menjadi acuan bagi partai lain dalam setiap pengambilan keputusan. Terlebih, diakuinya bahwa dengan caranya yang kerap menjalin kerjasama lintas partai membawa kemashalatan.

“Yang jelas ketika kita sudah mengatasnamakan DPRD, kita harus bekerjasama dalam memperjuangkan nasib rakyat. Karena warga DKI banyak menaruh harapan kepada kita yang mewakili mereka,” ujar lulusan Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung ini.

Meski selalu mengaku sebagai anak bawang, namun kinerjanya baik sebagai anggota dewan maupun Ketua DPC selalu mendapat acungan jempol. Pasalnya, lewat caranya yang unik dalam memimpin dan menjalankan tugas sebagai anggota dewan, Rani selalu bisa mengatasi segala persoalan internal maupun yang berkaitan dengan nasib warga Jakarta. Dalam memimpin pun, Rani tidak mempermasalahkan hirarki kepemimpinan baik yang ada di tubuh DPC, PAC maupun Ranting. “Yang jelas kerja nyata, sehingga semua mata akan tertuju pada Gerindra dengan sendirinya,” ujar politisi yang juga duduk sebagai Ketua III Badan Kesira DPP Partai Gerindra.

Selain memperjuangkan delapan program aksi dan pro rakyat, sebagai bagian dari fraksi Gerindra DPRD DKI, Rani terlibat langsung sebagai tim pemenangan Jokowi-Ahok calon guberbur dan wakil gubernur yang diusung PDI-P dan Gerindra yang akan berlaga pada 11 Juli mendatang. Menurutnya, melawan incumbent itu bukan perkara mudah, tapi Rani optimis, perpaduan Jokowi-Ahok mampu mengalahkan mereka. Pasalnya Jakarta tidak sekadar masalah macet, banjir seperti yang digadang-gadangkan pasangan lainnya, tapi lebih dari itu. “Warga Jakarta butuh kenyamanan, keamanan, pekerjaan, kesejahteraan dan itu yang akan kita perjuangkan,” ujar wakil Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan PD SATRIA DKI Jakarta.

Sebagai pimpinan cabang sebuah parpol yang tengah mengusung Jokowi-Ahok tentu berharap besar wilayahnya akan menyumbangkan banyak suara, khususnya dari etnis Tionghoa yang sebelumnya antipasti terhadap pemilu. Dan tentunya ini akan berimbas pada perolehan suara untuk pemilu 2014 mendatang. “Setidaknya, kantong-kantong suara Gerindra yang ada di Jakarta Barat akan mampu memenuhi target tiga sampai lima kursi sebagaimana yang ditargetkan partai pada pemilu 2014 nanti,” tegas seraya memaparkan setiap minggunya ada sekitar 70 orang masuk jadi anggota hanya dari satu orang kader yang menamakan dirinya maniak Gerindra.

Baginya, ketika kaum perempuan menginginkan perubahan, maka harus ada andil di dalamnya. Makanya, sebagai kaum perempuan yang masih dianggap kelas dua harus terjun di dunia politik, tampil ke depan dan berani bicara. “Tapi ingat dengan kodratnya sebagai perempuan,” ujar putri dari pasangan Hj Nany Suryantini – H Rachmad HS ini mengingatkan. [G]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA Edisi Juni 2012

Lebih Dekat Dengan Susi Marleny Bachsin: Gerindra Berjuang untuk Rakyat

Dunia politik acap kali masih dianggap sebagai dunia keras yang hanya dimiliki kaum laki-laki. Karena selama ini politik identik dengan perebutan kekuasaan. Terlebih dominasi laki-laki masih kental dalam struktur sosial dan budaya yang mempengaruhi kekurangaktifan perempuan dalam proses politik dan pengambilan keputusan.

susiAnggapan politik identik dengan laki-laki tidak berlaku bagi Susi Marleny Bachsin, SE, MM. Bagi perempuan cantik dan pemberani ini sejak semula perempuan memiliki kesetaraan dengan laki-laki. Pasalnya, perempuan memiliki kepentingan-kepentingan tertentu yang belum tentu dapat diwakili oleh kaum laki-laki. Baginya panggung politik adalah dunia yang setara milik kaum laki-laki dan perempuan. “Memisahkan perempuan dari politik sama saja memisahkan masyarakat dari lingkungannya. Terlebih undang-undang mengamanatkan keterwakilan perempuan sebesar 30 persen,” tegas perempuan kelahiran Jakarta, 19 November 1960 ini.

Keterlibatannya di panggung politik tak sekadar sebagai pelengkap, atau bahkan pemanis belaka. Lebih dari itu, berkat kepiawaiannya memadukan antara urusan keluarga, bisnis dan politik sungguh patut menjadi motivasi para aktifis perempuan untuk lebih serius terlibat dalam dunia politik. Sejak 2010, ia pun dipercaya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Provinsi Bengkulu. “Saya merupakan satu-satunya perempuan yang diamanahi sebagai ketua DPD. Bukan karena apa-apa tapi atas dasar kinerja saya dalam membesarkan partai ini,” ujar ibu tiga anak ini.

Memang, diakui pada awalnya ia secara tidak sengaja bersinggungan dengan partai politik saat ia mengantarkan seorang teman yang hendak mendaftarkan diri sebagai caleg. Keberadaannya di Partai Gerindra dianggapnya sebagai sebuah takdir. Pasalnya, jauh sebelum itu ia kerap mendapat tawaran dari parpol lain untuk menjadi caleg, tapi dengan tegas ia tolak. “Tapi entah kenapa, ketika saya mengantar seorang teman untuk ikut mencalonkan diri di Partai Gerindra, malah saya tertarik. Bahkan hanya dalam waktu tiga hari saya bisa menyelesaikan semua persyaratan administrasinya yang diperlukan,” kenangnya.

Waktu itu ia pun memilih Bengkulu sebagai daerah pemilihannya. Meski tidak lolos ke Senayan, tak lantas membuatnya menyerah atau mundur. Malah ia bersyukur bahwa ini adalah takdir Allah yang menginginkannya untuk belajar dulu. “Kalau saya duduk di kursi Senayan saat itu mungkin saya tidak bakal ngerti apa-apa, tapi sekarang saya lebih siap dan merasakan langsung beratnya perjuangan,” ujar Donna yang hanya menempati posisi kelima dari empat kursi yang diperebutan dengan meraih sebanyak 30 ribuan suara pada pemilu 2009 lalu.

Kini, kecintaannya pada Gerindra telah mendarahdaging. Betapa tidak, ditengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, dengan penuh rasa tanggungjawab ia menjalankan tugas untuk kemajuan dan kebesaran partai. Bahkan tak jarang ia harus memboyong keluarganya ke Bengkulu ketika ada tugas yang menyita waktu lama. “Saya lebih sering berada di Bengkulu, sementara keluarga di Jakarta. Tapi semua itu saya jalani dengan amanah, dan keluarga pun memahami akan tugas ini,” tandas ibu dari Kara, Dasya dan Zeta ini.

Meski menjabat sebagai orang yang memegang kendali komando partai politik, Donna begitu biasa perempuan cantik ini disapa, tetap tampil ramah dan sederhana. Tak heran bila sosok kepemimpinannya yang lebih menonjolkan sisi keibuan, ia lebih cepat dikenal masyarakat, termasuk di kalangan para pimpinan daerah maupun pusat. Kesederhanaannya bukan sekadar omong kosong belaka. Bukan pula sebatas jargon, pemanis tampilan, atau pencitraan politik, tapi semua konstituennya memberi apresiasi atas kepiawaian dan kinerjanya. Terbukti setiap kunjungan ke pelosok Bengkulu, ia tak segan untuk menginap di kendaraan atau pun di rumah konstituen dengan segala keterbatasan fasilitas.

Sempat dipandang sebelah mata akan kemampuannya dalam berpolitik karena dianggap orang baru berpolitik, tapi ia tak mau ambil pusing, dengan bekal keyakinan akan kemampuan dan dukungan orang-orang terdekatnya ia pun mampu menepis anggapan miring itu dengan kerja nyata, kerja keras dan komitmen dengan perjuangan. Dan semua itu terbukti dengan kemajuan yang diraihnya secara signifikan.

Terlahir dan dibesarkan di keluarga pengusaha sukses tak lantas dirinya menjelma sebagai anak manja. Anak ketujuh dari delapan bersaudara dari pasangan Moekminin Bachsin dan Noeraini Kuris ini sudah mandiri sejak usia remaja. Usai menyelesaikan bangku sekolah ia tak langsung kuliah tapi menyibukkan diri dengan bekerja. Tapi siapa sangka, di tengah kesibukannya, kini ia pun berhasil menyelesaikan kuliah program magister (S2) di bidang manajemen.

Lantas seperti apa pandangan dan perjuangannya sebagai satu-satunya perempuan yang diamanahi tugas memimpin parpol di tingkat propinsi ini. Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Garuda, perempuan cantik yang tengah digadang-gadangkan banyak kalangan di Bengkulu untuk maju dalam pemilihan walikota Bengkulu September mendatang ini memaparkannya saat ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bisa Anda ceritakan aktifitas keseharian Anda saat ini?

Saya ini, hanya seorang ibu rumah tangga. Tapi saya mendapat amanah untuk menjalankan tugas sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Provinsi Bengkulu. Keseharian saya, selain mengurus keluarga, saya tumpahkan untuk Gerindra. Tentunya saya lebih sering berada di Bengkulu, meski keluarga di Jakarta. Di samping menjalankan bisnis yang ada di Jakarta.

Bagaimana Anda mengatur waktunya?

Saya domisili di Bengkulu. Ketika keluarga saya membutuhkan saya, baru saya pulang ke Jakarta. Malah, kadang-kadang keluarga dan anak-anak sering saya ajak ke Bengkulu. Karena ini tanggungjawab saya di partai dan demi jalannya organisasi partai. Mungkin lebih sering berada di Bengkulu.

Kondisi Partai Gerindra di Bengkulu saat ini seperti apa?

Alhamdiulilllah kondisi sekarang semua berjalan sesuai arahan dari pusat. Struktural kepengurusan mulai dari DPD, DPC, hingga DPAC sudah terbentuk. Selain tidak ada gejolak, mesin-mesin partai juga berjalan. Insya allah, tahun ini untuk tingkat ranting sebanyak 1.243 ranting pun bisa terbentuk. Disamping itu soliditas dan loyalitas kader menjelang pemilu 2014 makin kuat. Semua itu bukan sekadar omong kosong, tapi kita buktikan ketika melakukan kunjungan-kunjungan ke daerah.

Bagaimana kekuatan Partai Gerindra di Bengkulu?

Memang saat ini kekuatan kita hanya satu kursi di DPRD Propinsi, dan tujuh kursi yang tersebar di DPRD kabupaten/kota. Namun setidaknya sejak dua tahun terakhir ini, ada peningkatan yang signifikan. Terlebih setelah adanya pengiriman kader-kader ke Hambalang, mampu membawa perubahan yang luar biasa. Di samping itu, posisi kader yang ada di kursi parlemen pun dipercaya menduduki posisi penting baik itu di komisi, fraksi gabungan maupun di badan kelengkapan dewan lainnya.

Menjelang 2014, strategi apa yang dilakukan Partai Gerindra Bengkulu?

Menjelang pemilu 2014, menggalakkan program KTA-nisasi, sosialisasi partai, dan melaksanakan delapan program aksi ke tengah-tengah masyarakat. Di lapangan sering ditemukan ada orang yang tidak memilih partai tapi mau pilih Prabowo. Tentu saja ini kesempatan bagi Gerindra. Saya tidak melihat Gerindranya tapi Prabowo, tapi yang jelas Prabowo itu rumahnya di Gerindra, jadi sekuat tenaga kita akan terus sosialisaikan Partai Gerindra dan Prabowo. Target ke depan setidaknya bisa meraih satu kursi DPR-RI, dan satu fraksi di DPRD kabupaten/kota.

Komentar Anda sebagai perempuan yang terjun di politik?

Jujur sebelumnya saya tidak mengerti apapun tentang politik. Lalu saya learning by doing, ternyata saya punya kemampuan untuk melakukan sesuatu. Buktinya saya sudah dua tahun bisa menahkodai dan masih dipercaya oleh pusat untuk memimpin satu propinsi. Ini sebuah kebanggaan bagi saya. Keterlibatan perempuan itu harus ada, dan saya sebagai satu satunya pimpinan perempuan di Gerindra daerah, tentu caranya berbeda dengan apa yang dilakukan kaum laki-laki. Meski kadang dilihatnya oleh mereka, saya ini banyak pertimbangan dalam memutuskan sesuatu. Itulah sisi keibuan seorang perempuan. Tapi yang jelas saya tidak ada pikiran untuk korupsi.

Sebagai seorang perempuan, bagaimana Partai Gerindra memperlakukan Anda?

Selama ini Partai Gerindra memperlakukan saya sama dengan yang lain. Tidak ada anak emas, atau dininabobokan, atau bahkan dianaktirikan. Memang kita sama dengan yang lainnya harus disiplin dalam menjalankan tugas organisasi kepartaian. Mungkin bisa jadi, antar DPD tentu berbeda perlakuannya, sesuai dengan kemampuan hingga kondisi geografisnya. Pasalnya ada ketua DPD yang juga menempati posisi strategis di daerahnya, seperti merangkap sebagai gubernur, bupati atau tokoh masyarakat. Sementara Bengkulu itu hanya dipimpin oleh seorang perempuan. Tapi jangan salah, Bengkulu itu ditopang oleh orang-orang hebat.

Bisa diceritakan awal mula Anda bergabung ke Partai Gerindra?

Awalnya memang tidak sengaja. Tapi saya anggap sudah takdir saya, harus berada di Gerindra. Sebenarnya, jelang pemilu legislatif 2009, saya sudah ditawari menjadi caleg di partai lain, tapi saya menolaknya. Anehnya entah kenapa, ketika saya mengantar seorang teman untuk ikut mencalonkan diri di Partai Gerindra, malah saya tertarik. Dan bahkan hanya dalam waktu tiga hari saya bisa menyelesaikan semua persyaratan administrasinya.

Jadi, waktu itu saya sedang berada di kawasan Pondok Indah untuk keperluan jual beli rumah, ternyata yang punya rumah bilang hanya punya waktu sebentar karena harus ke jalan Brawijaya untuk daftar jadi caleg. Akhirnya saya pun ikut sekalian mengantar dia ke Brawijaya. Sesampainya disana, saya dibujuk, kenapa tidak sekalian ikut daftar saja. Entah kenapa saat itu juga saya merasa ada panggilan hati untuk ikut nyaleg. Lalu saya pun ditempatkan di dapil Bengkulu. Meski memang pada akhirnya tidak lolos ke Senayan, saya hanya bisa mengumpulkan sekitar 30 ribuan suara. Bukan karena saya kurang maksimal tapi memang berdasarkan perhitungan KPU saya menempati posisi ke lima dari empat kursi yang diperebutkan waktu itu.

Apa yang membuat Anda mau terjun ke dunia politik?

Sejak saya memutuskan untuk ikut jadi caleg dari Gerindra, sejak saat itulah Gerindra mendarahdaging dalam diri saya. Harus diakui, setelah saya pelajari lebih dalam sebelum terjun langsung, perjuangan Gerindra benar-benar untuk rakyat. Dan itu terbukti, tidak hanya saya yang terpikat dengan Gerindra, malah sekarang masyarakat sepertinya berbondong-bondong ke Gerindra. Meski bukan karena program yang dicanangkan Gerindranya tapi sosok Prabowo yang membuat masyarakat. Termasuk keluarga besar saya yang memang sama sekali tidak ada yang terjun ke politik. Tapi ketika saya terjun ke partai politik, keluarga semuanya malah mendukung. Bukan karena saya partai yang dipilihnya Gerindra, tapi lebih melihat pada sosok Prabowo Subianto. Anehnya, sekarang ini baik saya maupun keluarga kalau ada orang yang bilang sesuatu tentang Gerindra itu apa gitu, rasanya sensitif banget kita.

Lantas bagaimana awal mula Anda ditunjuk sebagai ketua DPD Bengkulu?

Konon menurut pihak DPP, penunjukan itu lebih pada karena kinerja saya sewaktu pencalegan pada pemilu 2009 lalu. Awalnya, sebagai Pjs (pejabat sementara) menggantikan posisi ketua. Lalu sejak 2010 kemarin, saya pun dikukuhkan sebagai ketua. Mungkin ini takdir Allah, kalau saya duduk di kursi Senayan itu saya tidak bakal ngerti apa-apa, tapi harus belajar dulu. Dengan demikian Allah menunjukkan pada saya untuk belajar dulu baru terjun ke politik praktis. Dan sekarang saya tengah menikmati bagaimana perjuangan di partai politik dengan cara terjun langsung ke masyarakat, mengerti apa yang diinginkan masyarakat, konstituen khususnya dan pada akhirnya saya pun lebih paham serta memahami apa kemauan masyarakat.

Bagaimana Anda dalam menjalankan tugas sebagai ketua DPD?

Awalnya memang masih meraba-raba, tapi lama-lama saya menikmatinya. Bukan karena melihat background-nya, tapi malah saya ikut hanyut sejak kampanye dulu hingga sekarang ketika turun ke bawah. Saya ini easy going. Hampir seluruh pelosok Bengkulu sudah saya kunjungi. Bahkan ke daerah yang harus ditempuh perjalanan darat berjam-jam pun saya lakukan. Termasuk ketika harus bermalam di jalan atau di rumah penduduk yang tidak saya kenal sebelumnya. Saya tidak pernah takut.

Jadi, menurut Anda politik itu apa?

Politik itu melakukan sesuatu untuk rakyat. Siapapun harus berpolitik kalau mau merubah nasib sebuah bangsa. Tapi bukan sekadar menjadi politisi, tapi kita juga harus bisa berpolitik. Sebagaimana arahan dari Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, bahwa kita bukan politisi, tapi kita pejuang untuk mempertahankan NKRI sampai darah penghabisan. Oleh karena itu kita harus tampil kepada rakyat sebagai pembela kebenaran, kejujuran, membela yang lemah, membela semua golongan, karena itu ruh dari partai Gerindra. Itulah yang saya maksud politik itu melakukan sesuatu untuk rakyat.

Apa pandangan Anda dan keluarga terhadap sosok Prabowo?

Yang jelas, pertama beliau terlahir dan dibesarkan di keluarga yang terpelajar. Siapa yang tak mengenal orangtua beliau. Kedua, beliau merupakan sosok pemimpin yang berani, tegas, disiplin tapi bukan diktator dan bukan demokrasi seenaknya saja seperti yang berjalan saat ini. Beliau adalah perpaduan sosok Soekarno dan Soeharto.

Memang seperti apa kondisi kepemimpinan di Indonesia saat ini?

Ya boleh dibilang butut. Saya tidak mengatakan butut ini bukan lima tahun yang lalu, tapi dua tahun terakhir ini. Buktinya banyak kecurangan-kecurangan, ketidakadilan di mana-mana baik tingkat pusat maupun daerah. Perlu diingat, masyarakat kita itu tidak bodoh. Memang mereka kecewa, dan merasa tertindas, tapi tidak punya kekuatan untuk melawan. Untuk itu solusinya kepemimpinan kita harus diganti dengan pemimpin yang tegas, tahu dan mau bekerja untuk melaksanakan tugasnya, dan mendengar kemauan rakyat.

Seperti apa Suka duka dalam memimpin partai?

Yang jelas, saya bisa merangkul semua kalangan. Alhamdulillah selama ini tidak ada gontok-gontokan. Selama ini mereka (pengurus) merasa senang ada ibunya, ada yang menganggap kakak. Kalau yang dukanya, paling gossip, isu-isu sebagai seorang perempuan yang terjun ke dunia politik yang mungkin itu banyak juga dialami oleh teman-teman perempuan lainnya.

Apa pesan untuk para kader Gerindra di Bengkulu?

Tentunya baik saya maupun kader Bengkulu harus terus bekerja keras untuk memenangkan partai, mensosialisasikan partai dan Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Tetap dalam satu barisan, jaga loyalitas dan kekompakan untuk menang di 2014 baik pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. [G]

Nama Lengkap:

Susi Marleny Bachsin, SE, MM

Tempat dan Tanggal Lahir:

Jakarta, 19 November 1960

Jabatan:

Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Bengkulu, 2010 – sekarang

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Mei 2012

Lebih Dekat Dengan Abang Tambul Husin : “Gerindra Tahu yang Rakyat Mau”

Politik itu perbuatan mulia. Mulia dalam arti membangun kekuasaan untuk memperbaiki kehidupan masyarakat. Karena itu, mau tak mau harus berani berpolitik untuk bisa berkuasa. Dan menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk memperjuangkan nasib rakyat harus menjadi karakter seorang pejuang politik.

Pandangan diatas dilontarkan dari seorang politisi senior, Drs H Abang Tambul Husin –yang hampir lebih dari separuh usianya dihabiskan untuk mengabdi pada rakyat lewat jalur politik. Pun di usianya yang memasuki 64 tahun, ia masih ajeg di dunia politik dengan menjabat sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Propinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Dan kini mantan Bupati Kapuas Hulu dua periode (2000-2010) ini siap bertarung dalam ajang pemilihan gubernur (pilgub) Provinsi Kalimantan Barat periode 2012-2017 yang bakal digelar September mendatang.

Berbekal kemampuan dan pengalaman memegang berbagai jabatan penting di pemerintahan daerah serta dukungan dari rakyat, Tambul Husin pun bertekad menjadikan Kalimantan Barat sebagai propinsi kelas macan, bukan lagi propinsi kelas kambing.

Kalbar harus menunjukkan kelasnya sebagai provinsi yang disegani, yang memiliki berbagai potensi dan sumber daya yang harus terus digali demi kemakmuran masyarakatnya. “Kalau sekarang, Kalbar baru berjalan selangkah dua langkah. Saya ingin membawa Kalbar melompat, maju melesat, tidak setapak dua tapak, karena potensi yang luar biasa,” tegas pria kelahiran Kapuas Hulu, 3 Maret 1948 ini.

Keinginannya maju untuk memimpin Kalbar bukan sekadar unjuk kekuatan atau gagah-gagahan. Semua itu atas dasar panggilan hati untuk berbuat sesuatu di tanah kelahirannya. Sebagai putra daerah asli Kalbar, ia tahu persis apa yang harus dilakukan untuk kemajuan Kalbar. Tentu tidak sendirian, lulusan Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Pontianak 1973 ini mengajak seluruh elemen masyarakat Kalbar, tanpa membeda-bedakan latar belakang, baik suku, agama, dan kedudukan. “Saya tahu persis Kalbar memerlukan sesuatu untuk dibuat, dan saya tahu apa yang harus diperbuat untuk kemajuan Kalbar,” ujar cagub yang mengusung slogan ‘Berkibar’ yakni Bersatu Kita Bangkit untuk Kalbar.

Panggung politik telah digelutinya sejak masih duduk sebagai mahasiswa. Ia tercatat sebagai juru kampanye (jurkam) tingkat provinsi Kalbar pada pemilu 1971. Usai menyelesaikan pendidikan praja di Pontianak, ia pun mengabdikan diri di birokrasi di kampung halamannya. Sejumlah jabatan diembannya, antara lain Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Kapuas Hulu, Kepala Bagian Hukum Kabupaten Kapuas Hulu, Kepala Seksi Bansos Kesra Provinsi Kalbar. Lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi-Lembaga Administrasi Negara (STIA-LAN) Jakarta tahun 1975 ini pun sempat menduduki jabatan Sekretaris BP7 Kabupaten Kapuas Hulu lalu Kepala Bagian Kemahasiswaan sekaligus sebagai dosen tetap di APDN Pontianak.

Sejak 1997, ayah lima orang anak ini menetapkan diri untuk mundur dari ranah birokrasi karena diberi mandat untuk memimpin parpol. Berkat kepiawaiannya di percaturan politik, Tambul pun berhasil duduk  sebagai anggota DPRD Kabupaten Kapuas Hulu pada pemilu 1999. Di gedung wakil rakyat itu ia pun didapuk sebagai Ketua DPRD. Hanya berselang tujuh bulan, Tambul pun terpilih sebagai Bupati Kapuas Hulu periode 2000-2005. Rupanya kepercayaan masyarakat atas kepemimpinannya mengantarkan ia terpilih kembali untuk kali kedua pada pilkada bupati tahun 2005.

Rupanya garis perjuangan Partai Gerindra yang selama ini ia pelajari mampu menggerakkan hatinya untuk bergabung. Baginya apa yang diperjuangkan Partai Gerindra selama ini merupakan jawaban atas apa yang dimau oleh rakyat. Maka sejak setahun silam, ia dipercaya untuk menahkodai partai berlambang kepala burung garuda di tanah kelahirannya.

Selain mengemban amanah partai, politisi senior yang hobi main catur ini mendapat mandat untuk maju memperebutkan kursi gubernur Kalbar dengan menggandeng Barbanas Simin sebagai pasangannya.

“Kekayaan alam Kalbar dan keberagaman yang ada di Kalbar sebagai inspirasi dan kekuatan besar untuk kemajuan Kalbar, bukan malah dikotak-kotakkan,” tegas suami Mega Hartini ini.

Lantas seperti apa pandangan dan perjuangan politiknya dalam rangka menuju orang nomer satu di Kalbar. Bagaimana pula usaha dia dalam membesarkan dan menjaga marwah partai? Di bawah ini wawancara Hayat Fakhrurrozi dari Garuda di sela-sela kesibukannya mengikuti Rapat Koordinasi menjelang digelarnya Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Gerindra, beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Apa aktifitas keseharian Anda saat ini?

Waktu, tenaga dan pikiran saya saat ini tercurahkan untuk membesarkan Partai Gerindra. Dan Alhamdulillah keluarga semuanya mendukung perjuangan ini. Disamping tentunya untuk menghidupi keluarga saya menjalani bisnis kecil-kecilan bersama keluarga.  Jadi antara ngurus partai dan bisnis saya jalani dengan enjoy. Kapan sempat ke DPD ngurus partai, ya saya ke sana, begitu pula kapan sempat ngurus bisnis ya jalan. Jadi mana yang butuh prioritas saja, saya tidak harus kaku mengatur manajemen organisasi ini, kan sistem sudah ada dan berjalan dengan baik.

Bisa ceritakan awal mula Anda terjun ke dunia politik?

Boleh jadi sebagian umur saya lebih banyak diberikan untuk politik. Saya mulai terjun ke dunia politik sejak tahun 1971, waktu itu saya berusia 22 tahun masih berstatus sebagai mahasiswa dan sudah menjadi juru kampanye tingkat propinsi. Usai lulus saya pun menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Dinas Pendapatan Daerah. Tahun 1997 saya mundur dari PNS karena mengurus partai.

Lalu saya ikut pemilu 1999 di bawah bendera Partai Golkar dan jadi anggota DPRD Kabupaten Kapuas Hulu, saya pun menduduki posisi ketua DPRD yang saya jalani hanya 7 bulan, karena pada tahun 2000, saya ikut pemilihan Bupati periode 2000 – 2005 dan terpilih. Lalu saya ikut lagi dan terpilih untuk kedua kalinya hingga 2010 lalu. Malah sekarang posisi itu kini diduduki oleh adik saya sendiri yang terpilih dalam pilkada lalu. Dan saat ini saya dipercaya untuk memimpin Partai Gerindra Propinsi Kalimantan Barat.

Lantas apa yang membuat Anda bergabung ke Gerindra?

Yang jelas begini, terus terang bagaimanapun juga kita melihat perjalanan perpolitikan, riak dan gelombangnya. Sebagai orang yang sudah memahami percaturan politik, ketika Gerindra hadir, saya melihat di Gerindra ini ada sebuah harapan dan semangat baru yang lain. Bagi saya inilah partai yang bisa menjawab kondisi perpolitikan di tanah air.

Bisa jelaskan kondisi Partai Gerindra di Kalimantan Barat (Kalbar) saat ini?

Alhamdulillah secara struktural Gerindra di Kalimantan Barat sudah terbentuk hingga ke tingkat ranting setingkat desa. Saya kira ada harapan baru dan semangat baru yang kami rasakan di partai Gerindra ini. Setidaknya ada kebangkitan dan kenaikan yang signifikan pada partai Gerindra di Kalbar. Hal ini dibuktikan dengan animo masyarakat yang begitu tinggi, dimana mereka menaruh harapan yang besar terhadap Gerindra.

Lalu apa yang tengah diperjuangkan Partai Gerindra di Kalbar?

Yang jelas karena posisi Kalbar berada di daerah perbatasan, maka perjuangan yang terus kami lakukan adalah sekuat tenaga menjaga dan mengobarkan semangat kebangsaan dan nasionalisme masyarakat Kalbar yang multi etnis untuk tetap setiap dengan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Jangan sampai nasionalisme masyarakat Kalbar yang ada di daerah perbatasan ini luntur oleh riah-riak yang ada selama ini. Disamping itu menjalankan delapan program aksi Partai Gerindra salah satunya ekonomi kerakyatan dengan memberdayakan ekonomi masyarakat lokal. Untuk kader partai kita terus menggemblengnya menjadi kader yang militan dan loyal terhadap perjuangan partai.

Menjelang pemilihan gubernur (pilgub) hingga saat ini bagaimana perkembangannya?

Insya allah disamping kita, di pilgub nanti ada calon-calon kuat lainnya, terutama calon incumbent. Tapi Gerindra juga mempunyai peluang besar untuk menang. Setidaknya yang memenuhi syarat ada sekitar empat pasangan termasuk kita. Yang jelas dengan menggandeng Pendeta Barnabas Simin, saya sudah siap lahir batin sebagai pasangan nasionalis-religius. Selain sudah mengantongi dukungan dari pusat, setidaknya dari 16 parpol yang berkoalisi saja sudah melebihi dari syarat yang ditentukan 15 persen, apalagi jika Partai Demokrat jadi bergabung bisa mencapai 40 persen.

Dalam pilgub nanti apa yang Anda tawarkan?

Saya berprinsip Kalbar bukan sekadar maju, tapi sudah harus lebih bangkit lagi untuk maju. Kalbar harus menunjukkan kelasnya sebagai provinsi yang disegani, yang memiliki berbagai potensi dan sumber daya yang harus terus digali demi kemakmuran masyarakat. Memang, kalau sekarang, Kalbar baru berjalan selangkah dua langkah. Saya ingin membawa Kalbar melompat, maju melesat, tidak setapak dua tapak, karena potensi yang luar biasa.

Yang jelas motivasi saya maju dalam ajang ini karena saya tahu persis Kalbar memerlukan sesuatu untuk dibuat, dan saya tahu apa yang harus diperbuat untuk kemajuan Kalbar. Tentunya saya tidak sendirian, tapi mengajak seluruh komponen masyarakat Kalbar, tanpa membeda-bedakan berbagai latar belakang, baik suku, agama, dan kedudukan. Dari rakyat, pejabat, dan pemuka masyarakat harus maju dan bangkit bersama demi Kalbar. Karena itu, dalam pilgub ini saya mengusung semboyan ‘Berkibar’, yaitu Bersatu Kita Bangkit untuk Kalbar.

Jika terpilih nanti, apa yang akan Anda lakukan?

Yang akan saya lakukan adalah pembangunan yang merata mulai dari Kota Pontianak hingga Kapuas Hulu, salah satunya dengan mewujudkan jalan poros selatan. Perlu diingat bahwa beberapa potensi yang dimiliki Kalbar, seperti karet, tambang, crude palm oil (CPO), dan bidang wisata bisa dijadikan sebagai modal memajukan Kalbar untuk bangkit melesat.

Kekuatan Gerindra di Kalbar seperti apa?

Memang, tak dipungkiri lagi, dimana-mana pun partai ini baru tampil agak belakangan dan dalam tempo yang singkat namum bisa tampil ke muka di Pemilu 2009. Tapi dengan persiapan yang sangat singkat itu, setidaknya kader kita yang duduk di DPRD Propinsi ada dua orang. Sementara di DPRD Kabupaten/kota ada yang 1-2 kader ada juga yang sama sekali tidak mendapat kursi. Ke depan menjelang 2014 saya rasa Gerindra jauh lebih siap. Setidaknya, indikasi Gerindra akan bisa menembus jajaran partai papan atas sekaligus menggeser 3-4 partai sudah di depan mata.

Apa yang akan dilakukan menghadapi 2014 nanti?

Pertama membenahi organisasi ini sampai ke level bawah. Kedua jangan biarkan organisasi ini hanya sekadar kerangka yang tidak punya roh, sehingga tidak bergerak. Hal ini bukan karena tidak ada upaya tapi tantangan yang semakin kompleks sehingga setiap kader harus siap merubah diri sesuai dengan tujuan yang akan kita capai. Tentu saja kalau dulu target hanya 4 persen, maka yang kita capai harus lebih besar lagi.

Menurut Anda, kondisi kepemimpinan saat ini seperti apa?

Yang jelas Indonesia memerlukan style kepemimpinan yang baru. Negeri ini harus dipimpin orang yang berani berdiri di atas kaki sendiri, tegas, tahu apa yang rakyat mau dan merasakan apa yang rakyat rasakan. Dan semua itu ada pada sosok Prabowo Subianto. Saya atasnama masyarakat Kalbar dukung tanpa kecuali, karena bagi kami itu yang bisa menjawab kebutuhan kepemimpinman nasional saat ini. Beliau tegas, idealis dan peduli terhadap rakyat kecil.  Tentu saja untuk mengantarkan Prabowo ke tampuk kepemimpinan itu tetap harus melalui jalur konstitusi, ikuti sistem dan prosedur berdasar undang-undang dan tentunya mendapat dukungan rakyat secara full. Pasalnya dukungan rakyat merupakan syarat mutlak untuk kita bekerja.

Jadi menurut Anda politik itu apa?

Banyak orang bilang, politik itu suatu yang negatif, tapi bagi saya politik itu mulia. Mulia dalam arti membangun kekuasaan, karena kekuasaan itu penting untuk mengatur dan membangun, mengantarkan, mensejahterakan rakyat. Karena perlu diingat bahwa kekuasaan juga dipilih oleh rakyat. Tapi yang mesti digarisbawahi adalah setelah terpilih, kita juga bukan sekadar mengambil kekuasaan saja, tapi menjadikan kekuasan itu sebagai alat untuk memperjuangkan nasib rakyatnya dan itu harus menjadi karakter seorang politikus.

Sebagaimana arahan Ketua Dewan Pembina kita Prabowo Subianto, bahwa kalau kita ingin masa depan baik harus berani terjun ke dunia politik, berani menerima mandat dan mengemban amanah serta kepercayaan rakyat. Itulah seharusnya sikap-sikap kader politik. Jadilah pemimpin yang didukung bukan karena kekuasaan, sesuai dengan ikrar dan sumpah, yang berhati Pancasila, menjaga semua suku, ras, adat, kelompok etnis yang semua bagian dari bangsa Indonesia.

Pesan apa yang akan disampaikan kepada kader Gerindra?

Saya harap semua kader dari setiap tingkatan harus siap untuk bekerja keras dan tampil dengan elegan tanpa harus mencerca pihak lain. Sehingga kita bisa memberikan sesuatu yang lebih bermakna buat rakyat. Orang boleh berpendapat lain tentang politik, tapi kader Gerindra harus yakin bahwa politik itu mulia. Pasalnya kalau kita punya kesempatan untuk memegang kekuasaan dan kalau dimanfaatkan untuk hal yang jelek maka akan hancur, tapi kalau kekuasaan itu digunakan untuk hal yang baik, bukankah itu perbuatan mulia. [G]

****

Nama Lengkap:

Drs H Abang Tambul Husin

Tempat tanggal lahir:

Kapuas Hulu, 3 Maret 1948

Jabatan:

  • Ketua DPRD Kabupaten Kapuas Hulu
  • Bupati Kapuas Hulu tahun 2000-2010 (dua periode)
  • Ketua DPD Partai Golkar Kapuas Hulu (dua periode)
  • Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Kalbar (sekarang)

* Catatan : Artikel ini ditulis dan dimuat di Majalah GARUDA, edisi 16/April/2012

Anita Aryani : Perempuan Gerindra Harus Berkualitas

Aktivitas politiknya sudah tak diragukan lagi. Pun dengan kapasitasnya sebagai pejuang politik perempuan. Hingga kini bersama kaukus perempuan baik lintas partai maupun organisasi kemasyarakatan ia terus berjuang mengantarkan perempuan untuk bisa tampil di ranah politik. Di sisi lain, di ranah domestik, kodratnya sebagai perempuan tetap ia jalankan dengan penuh tanggungjawab.

Ya, itulah sosok Anita Ariyani, yang mendedikasikan waktu dan tenaga serta pemikirannya untuk kemajuan kaumnya lewat jalur partai politik. Atas kepiawaiannya dalam menggalang dan memberdayakan suara perempuan, ibu empat orang anak ini didapuk sebagai Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). “Karena siapa lagi yang mau menyuarakan kepentingan perempuan, kalau bukan perempuan itu sendiri,” tegas perempuan kelahiran Semarang, 3 Agustus 1965 ini.

Keterlibatan Anita di partai yang didirikan mantan Danjen Kopassus, Prabowo Subianto empat tahun silam itu bukan datang dengan begitu saja. Istri dari Balkan Amdan ini tahu betul, bahkan ikut berjibaku mendirikan partai berlambang burung kepala garuda itu. Baginya, bukan hal yang gampang menjalankan amanah sebagai ketua bidang. Meski tugas yang diemban itu tak lain urusan kaumnya sendiri, perempuan.

Anita berharap perempuan Gerindra sama dengan apa yang diharapkan Prabowo, sebagaimana dituangkan dalam manivesto partai, bahwa perempuan Gerindra itu harus berkualitas. Dengan majunya perempuan ke ranah politik dan menduduki tempat-tempat strategis adalah salah satu cara agar kepentingan perempuan itu sendiri terwakili.

Menurutnya, politik terlepas dari segala kontroversi yang ada di dalamnya, merupakan alat sosial yang paling memungkinkan untuk terciptanya ruang kesempatan dan wewenang. Bahkan sangat dimungkinkan bagi rakyat mengelola dirinya melalui berbagai aksi bersama, diskusi, sharing dalam prinsip kesetaraan dan keadilan. Karena peran politik sangat jelas sebagai salah satu sarana yang dapat mendorong perempuan untuk mencurahkan kecemasannya, walau begitu lagi-lagi budaya, sistim sosial, sistim politik hingga masalah kemiskinan masih kerap jadi pembatas bagi perempuan.

“Untuk itu diperlukan revitalisasi nilai budaya untuk mendorong peran strategis perempuan untuk memasuki wilayah pengambilan kebijakan bagi perempuan,” ujarnya sambil menambahkan bahwa pihaknya telah menyiapkan konsep pengkaderan bagi kader perempuan Gerindra untuk bisa tampil ke publik sebagaimana yang diharapkan para pendiri partai.

Sebelum bergabung di Partai Gerindra, Anita sudah melibatkan diri dalam arena politik sejak 1999, bersama para seniornya di Partai Bulan Bintang (PBB). Namun karena ada hal-hal yang tidak cocok dengan pendiriannya, usai muktamar yang pertama, Anita pun memilih mundur. Tak lama kemudian Anita pun kembali terlibat dalam pendirian Partai Islam Indonesia (PII). Sayang, partai yang didirikan politisi senior, Hartono Mardjono (almarhum) tidak lolos verifikasi faktual. Sejak saat itu, Anita pun merasa cukup sudah waktunya yang diberikan pada dunia politik.

Seiring berjalannya waktu, kala itu ia menjenguk sahabatnya, Fadli Zon yang tengah terbaring sakit. Dalam pertemuan itu, sang sahabat memintanya untuk membantu proses pendirian Partai Gerindra. Anita pun diminta mencari aktivis-aktivis perempuan untuk gabung hingga akhirnya terbentuk. Pada waktu yang sama, ia pun menolak ketika diminta untuk masuk dalam jajaran pengurus, tapi karena ada prasyarat harus 30 persen perempuan, akhirnya Anita pun masuk dalam jajaran kepengurusan sekaligus pendiri partai.

Dalam Pemilu 2009, Anita pun ikut berlaga memperebutkan kursi di daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah 10 yang meliputi Pekalongan, Pemalang, dan Batang. Sayang, suara sebanyak 64 ribu tak cukup untuk membawanya ke Senayan. Bagi Anita, selain karena dapil itu padat dan bilangan pembaginya besar, ada juga hal yang diluar batas kesadarannya sebagai manusia biasa.

“Berpolitik, itu harus sabar, lapang dada, andap ashor, bisa menyesuaikan ritme, siap sakit hati, dan menerima kritik dari orang lain,” ujar lulusan IAIN Walisongo Semarang ini.

Memang, mental dan jiwa besarnya sudah terasah sejak ia bergelut di organisasi kemahasiswaan. Semua tahapan pendidikan dan latihan yang ada di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) diikutinya tanpa terlewat satu pun. Bahkan jauh sebelum itu, Anita remaja menggembleng dirinya dengan aktif di berbagai kegiatan dan organisasi sekolah. “Saya selalu ingin runtut dalam mengikuti pelatihan sehingga bisa mengetahui semua,” tegasnya.

Kesibukannya di dunia politik tak lantas membuatnya lupa akan tugas dan kewajibannya sebagai istri dan ibu dari empat anaknya. Untungnya, baik sang suami maupun putra putrinya sudah mengerti dengan ritme kerja di parpol yang digelutinya. Kaitannya dengan itu, Anita mengingatkan kepada sesame kaumnya bahwa apa yang dilakukan oleh tokoh perempuan Kartini tidak sekadar dikenang belaka. Tapi lebih dari itu, tokoh perempuan yang menjadi inspirasi, pendobrak emansipasi wanita itu menekankan bahwa perempuan harus bertanggungjawab terhadap keluarga, bangsa dan negara. “Jadi apa yang saya lakukan, tak lebih pada apa yang disampaikan dan dilakukan Kartini. Tapi ingat semangat Kartini tidak bisa dengan sendirinya tanpa dukungan kaum laki-laki,” pesannya. [G]

* Catatan : Artikel ini ditulis dan dimuat di Majalah GARUDA, edisi 16/April/2012

Lebih Dekat Dengan Oo Sutisna: “Satu Suara untuk Prabowo”

Keresahannya melihat nasib petani yang tak kunjung berubah mengantarkannya untuk maju ke barisan depan. Dilahirkan dan dibesarkan di keluarga petani tentu paham betul akan hal itu. Ia pun bertekad untuk merubah nasib petani yang masih tertindas oleh kebijakan yang lebih banyak ditentukan bukan seorang petani. Mau tidak mau ia pun harus terjun ke pentas politik praktis

Setidaknya itulah yang menjadi tekad Oo Sutisna (60), yang sejak 2008 silam dipercaya oleh Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto untuk memimpin Partai Gerindra di Propinsi Jawa Barat. Memang, keterlibatan di partai besutan mantan Komandan Jenderal Kopassus itu tak datang begitu saja. Jauh sebelum Partai Gerindra lahir, sebagai seorang petani, suami dari Ai Mulyani itu sudah berada di belakang barisan sang pendiri partai, melalui organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dan Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA).

“Sejak awal petani tidak setengah-setengah mendukung Prabowo. Karena kami yakin, Prabowo mampu membawa perubahan bagi para rakyat kecil khususnya petani dan nelayan. Beliau tahu apa yang rakyat mau. Beliau pemimpin yang mau memikirkan dan menangis dengan apa yang dirasakan petani,” tegasnya.

Ya, pria kelahiran 12 Maret 1952 itu sudah mengenal sosok Prabowo sejak ia masih bergelut di Forum Komunikasi Tani Nelayan Karya –sebuah organisasi bentukan Partai Golkar— dan KTNA. Ia pun tercatat sebagai orang yang mengusung Prabowo pada saat Konvensi Partai Golkar pada 2004, meski akhirnya harus kalah dengan calon lain. Namun tak berhenti disitu, di tahun yang sama ia pun lantas memperjuangkan Prabowo untuk memimpin HKTI.

Suatu ketika di tahun 2008 ia tengah sibuk mengumpulkan petani di daerah Sumedang, namun tiba-tiba mendapat telepon dari Jakarta untuk segera menghadap ke Prabowo Subianto. Akhirnya ia ditemani seorang teman langsung menuju Jakarta pada hari itu juga. Sesampainya di Jakarta, tepatnya di Jalan Brawijaya IX, ia disodori secarik kertas dan tertulis namanya sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah Jawa Barat. Tentu saja, sang empunya nama kaget dan hampir tak percaya atas amanat itu. “Saya ini belum pernah menjadi ketua parpol di tingkat kecamatan sekalipun. Tapi karena itu amanat dari Pak Prabowo, maka saya siap mengembannya,” ujarnya mengenang masa itu.

Sejak saat itu, ia pun harus bahu membahu mendirikan partai di bumi parahiyangan yang 60 persen penduduknya adalah petani. Sebagai anak seorang petani, tentu ini merupakan amanat yang berat sekaligus kesempatan untuk merubah nasib petani. Memang diakuinya, sebagai orang yang bergelut di bidang pertanian, ia bukanlah termasuk dalam kategori petani gurem, tapi setiap harinya ia bercengkrama dengan petani gurem. Untuk itu ia pahal betul liku-liku perjuangan para petani dalam memenuhi kebutuhan hidup di tengah kebijakan yang sama-sekali belum memihak petani.

“Selama ini petani terbelenggu oleh aturan orang yang yang tidak peduli dan bukan dari komunitas kita sebagai petani. Inilah kesempatan untuk merebut simbol-simbol kekuasaan itu dengan apa yang diperjuangkan Gerindra,” tegas pencetus ide pengadaan lahan sawah abadi di Jawa Barat.

Secara politis, keberadaan Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan ibukota republik ini sangatlah penting. Terlebih propinsi Jawa Barat penduduknya terbesar. Untuk itu, baginya, mengakomodir berbagai golongan, kelompok yang ada di propinsi ini sudah menjadi keharusan. Meski memang, rasa kesukuan di Jawa Barat masih kental. Yang jelas, perpaduan antara kota dan desa dalam kepengurusan akan menunjang penerapan 8 program aksi Gerindra di Jawa Barat. Perjuangannya pada Pemilu 2009, tak boleh dianggap enteng, ia pun berhasil mengantarkan empat orang kadernya ke Senayan dan delapan orang kadernya ke DPRD Propinsi Jawa Barat.

Lantas seperti apa perjalanan dan perjuangan Partai Gerindra di bawah komandonya dalam percaturan politik baik lokal maupun nasional. Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Garuda, ditemani beberapa jajaran DPD Partai Gerindra Jawa Barat, ia memaparkan perjuangannya dalam sebuah wawancara sekretariat yang berlokasi di jalan Cimanuk nomer 42, Bandung, beberapa waktu lalu. Berikut petikannya:

Bisa diceritakan aktifitas apa yang akhirnya menggiring Anda terjun ke dunia politik praktis?

Katanya republik  ini sudah merdeka, tapi apa yang terjadi? Nyatanya yang merdeka itu penguasa saja. Petani sebagai rakyat sampai hari ini belum merdeka. Petani masih terjerat kemiskinan. Tidak saja dirundung persoalan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tapi kebijakan-kebijakan penguasa yang tak memihak bahkan kerap menindas. Tidak hanya itu, pasar Indonesia pun sudah menjadi keranjang sampahnya internasional. Lihat saja kapal rusak dibeli lalu dikasih buat nelayan dengan dalih bantuan, kereta api bekas dibeli bahkan kentang, beras, hingga garam pun didatangkan dari luar. Kursi dewan pun sampai harus diimpor yang harganya Rp 24 juta. Tentunya berbagai kebijakan yang aneh itukan semua ada di parlemen. Sementara kita (petani dan nelayan) tidak punya wakil di parlemen. Inilah yang akhirnya membawa saya terjun ke dunia politik. Karena parlemen hanya bisa dimasuki lewat partai politik.

Lantas kenapa memilih gabung di Partai Gerindra?

Awalnya dulu saya ikut di Partai Golkar yang waktu itu memang membentuk Forum Komunikasi Tani Nelayan Karya, saya sebagai sekjennya dengan ketuanya, Awal Kusumah (almarhum). Tapi karena dalam perjalanannya ternyata sama sekali tidak memihak pada petani dan nelayan, maka dalam sebuah forum saya menyatakan mundur. Begitu juga pada saat konvensi, kita mati-matian mendukung Pak Prabowo, meski akhirnya kalah. Jadi bukan karena ikut-ikutan arus mengusung Prabowo, sejak awal petani tidak setengah-setengah mendukungnya  Pak Prabowo. Hal ini dibuktikan sejak 2004 kita pun mengusung beliau untuk memimpin HKTI. Kemudian pada 2005, dalam sebuah kesempatan beliau juga dikukuhkan menjadi anggota kehormatan KTNA Nasional. Semua histeris, menangis ingin merubah nasib petani dan nelayan.

Jadi saya sebagai petani memilih Prabowo bukan karena saya ada di Gerindra, tapi saya lakukan sejak dia kita usung untuk memimpin HKTI. Karena pada waktu itu kita butuh figur yang mau menangis melihat nasib petani, mau memikirkan dan peduli dengan rakyat kecil khususnya petani. Dan Prabowo orangnya.

Bisa ceritakan proses awal bergabungnya Anda ke Gerindra?

Suatu ketika saya dipanggil ke Jakarta, pada 8 Februari 2008, padahal waktu itu saya sedang mengumpulkan petani di Sumedang, waktu itu belum ada Gerindra. Sesampainya di Jakarta, tepatnya di jalan Brawijaya ternyata ada parpol baru bernama Gerakan Indonesia Raya. Saya pun disodori secarik kertas kecil dan tertulis disana nama saya sebagai ketua DPD Jawa Barat. Saya ini belum pernah menjadi ketua parpol di tingkat kecamatan sekalipun. Memang saya pernah menjadi Sekjen KTNA Nasional, sewaktu di Golkar pun saya menjadi sekjen Forum Komunikasi Tani Nelayan Karya. Karena ini amanat dari Pak Prabowo, saya pun menyatakan siap memimpin Jawa Barat. Yang jelas, dengan adanya pertemuan lebih awal dengan Pak Prabowo di KTNA dan HKTI kita lebih tahu karakternya. Dan beliau tahu apa yang rakyat mau. Rakyat maunya pemimpin yang tegas, lugas, jujur.

Bisa diceritakan seperti apa animo masyarakat Jawa Barat (Jabar) terhadap Gerindra?

Meski ketika dulu kita mendirikan partai hanya ada lima orang, tapi alhamdulillah kita bisa mengirimkan delapan orang di DPRD Jabar dan empat orang kader ke DPR-RI jabar. Sama dengan partai PPP yang umurnya sudah 40 tahun. Jadi dulu bisa jadi peribasa dalam Siliwangi memang benar adanya, ‘saeutik ge mahi’ hanya dengan sedikit orang juga kita bisa dapat 8 kursi yang lumayan. Waktu itu saya berpikir saya tidak harus menang, tapi gerindra harus menang. Sekareang pun seperti itu, saya tidak berambisi untuk menjadi dewan, tapi berpikir bagaimana gerindra harus  menang dan mengusung Prabowo jadi presiden. Dulu cari orang untuk jadi pengurus saja susahnya minta ampun, apalagi unsure perempuan. Memang dulu di awal2 kita dibantu pusat. Tapi selepas pileg kita berjalan sendiri. Meski itu persoalannya, kita tetap berjuang.

Apa yang diperjuangkan Gerindra Jabar?

Yang sedang kita perjuangkan adalah bagaimana kita membangun bangsa. Jadi tidak saja memperjuangkan kader-kader Gerindra agar  kelak jadi dewan, tapi merebut tampuk kekuasaan melalui cara-cara yang legal yakni melalui pilpres. Karena Pilpres tidak akan terpenuhi jika posisi kursi di parlemen tidak mencukupi ambang batas minimal. Kita sepakat untuk mendukung Pak Prabowo, maka kita sepakat mengawalinya dengan memenangkan partai di parlemen. setidaknya Jabar memiliki 26 kabupaten/kota, 625 kecamatan, dan 5874 kelurahan/desa merupakan medan yang berat karena bisa jadi dua tahun kedepan bisa bertambah lagi.

Lalu apa yang diperjuangkan kader partai yang ada di parlemen?

Tentunya tidak boleh lepas dari 8 program aksi partai Gerindra baik melalui partai murni maupun parlemen. Untuk di parlemen tingkat provinsi kader kita sedang memperjuangkan soal pertanahan, lingkungan dan ketahanan pangan. Salah satunya kita mengusulkan pengadaan lahan wasah abadi seluas 100 hektar di Jawa Barat. Begitu juga halnya dengan kader-kader kita yang duduk di Senayan, karena terus terang yang kita perjuangkan adalah nasib para petani yang hingga kini masih tertindas. Apalagi Jawa Barat 60 persen penduduknya adalah petani. Untuk itu harus ada keterkaitan antara yang diperjuangkan partai dan anggota dewan baik di kabupaten/ kota, propinsi maupun di pusat.

Kekuatan Gerindra di Jabar sendiri seperti apa, dan ada dimana saja kantong-kantongnya?

Bicara masalah anggota, hingga saat ini kita sedang melaksanakan KTAnisasi baru. Tentunya masih belum bisa dikalkulasi. Jika menengok empat tahun silam menjelang Pemilu 2009, kita pernah membukukan 980 ribu KTA, tidak termasuk yang dicetak oleh pusat. Dari 980 ribu itu, pada Pemilu 2009 kita meraih suara 950 ribu. Nah, target hingga akhir tahun ini, setiap DPC mampu mencetak 5000 KTA baru. Dan jika mengok pengalaman Pemilu 2009 lalu, kantong-kantong Gerindra dulu ada di wilayah Jawa Barat bagian barat. Sementara wilayah Priangan Timur masih kurang. Tapi insya allah, dalam Pemilu 2014 mendatang, kita optimis semua cabang bisa mengimbangai dan bisa lari cepat. Saya meyakini itu. Buktinya, meski waktu itu kekuatan Gerindra belum merata, kita bisa mengirimkan empat orang kader di DPR-RI dan delapan di DPRD propinsi.

Lalu target perolehan kursi parlemen pada Pemilu 2014 nanti berapa?

Sesuai arahan DPP, dengan kekuatan yang ada, kita menargetkan setiap dapil kecil (kabupaten/kota) minimal satu kursi. Jika di setiap kabupaten/kota ada 6 dapil, maka setidaknya ada 6 orang kader yang harus lolos ke DPRD kabupaten/kota. Dengan perhitungan itu, kita bisa menargetkan meraih 18 kursi di DPRD Jabar dan 14 kursi di DPR-RI. Itu kalau dengan perhitungan satu dapil kecil satu kader.

Stategi apa yang bakal dilakukan guna mewujudkan target itu?

Pertama kita membentuk struktur partai hingga ranting sampai anak ranting. Paling tidak kita harus perkuat terlebih dulu di tingkat ranting. Kita juga perkuat sayap-sayap, komunitas-komunitas pendukung partai dan Pak Prabowo, badan-badan non struktural. Setidaknya, di Jawa Barat ini ada banyak komunitas atau kelompok seperti komunitas guru, kelompok petani, nelayan, pedagang pasar yang siap mendukung perjuangan Gerindra. Kita juga melihat ada hal yang luar biasa, seperti sayap Tunas Indonesia Raya (Tidar) yang teridiri dari anak-anak muda sebagai pemilih pemula. Begitu pula dengan militansi yang ditunjukkan kader golongan dewasa muda yang tergabung dalam Satuan Relawan Indonesia Raya (Satria). Ini yang membuat saya merinding ketika antusiasme mereka begitu tinggi untuk bergabung di Gerindra.

Di samping itu, agenda pemilukada yang digelar di Jawa Barat merupakan ajang pemanasan bagi kita menjelang 2014 nanti. Meskipun kita baru bisa mengantarkan satu kader Gerindra yang berhasil menjadi bupati dari 7 putaran. Dan di tahun 2012 ini ada lima putaran pemilukada, dan termasuk di 2013 akan ada pilgub juga pilkada kabupaten/kota. Tentu saja ini menguras tenaga, waktu dan finansial yang tak sedikit. Tentu saja, Gerindra Jawa Barat tidak mau tinggal diam.

Menjelang pilgub apa yang dilakukan?

Selama ini kita masih dalam taraf silaturahmi dengan parpol-parpol yang ada tentunya itu hal yang wajar. Nah, kalaupun ada pemberitaan seputar pertemuan-pertemuan jelang pilgub itu ditafsirkan sebagai bentuk koalisi, ya monggo. Tapi menurut saya, jangan dulu, karena kita jujur saja masih menunggu arahan dari pimpinan pusat. Sikap kita selama ini masih wait and see. Karena kita harus menang. Memang kita punya calon, bisa saja diambil dari pengurus, orang pusat atau tokoh masyarakat mumpuni yang mendapat restu dan disetujui DPP. Sebagai kader partai kita tidak bisa menolak ketika mendapat tugas dari partai. Siapapun dia.

Jika melihat situasi dan kondisinya, ke mana arah anginnya?

Sampai saat ini belum terlihat. Masih remang-remang. Makanya saya katakana sikap kita masih wait and see. Bisa jadi orang beranggapan Gerindra sebagai partai baru bisa dikerjain. Untuk itu kita tetap waspadai. Selama ini kita menggunakan pepatah si kabayan. Dimana kabayan itu bukan orang yang hebat tapi dia hebat. Dia bisa ngibing (menari) dalam semua lini, dia juga tidak bisa dibodohi orang-orang yang guminter (merasa pinter). Tanda-tanda ke arah sana itu sudah ada dan kita rasakan, makanya kita tidak mau terjebak ke arah itu. Yang terpenting, ajang pilgub ini harus menguntungkan Gerindra yang berunjung pada upaya untuk mengusung Prabowo jadi presiden. Karena capresnya itu dari Jawa Barat, kan Pak Prabowo dari Bogor,  Jawa Barat.

Dimata Anda, kondisi kepemimpinan saat ini seperti apa?

Bagi saya, sementara ini Indonesia belum punya pemimpin menunggu 2014, nanti pemimpinnya Prabowo Subianto. Nanti saya akan tunjukkan sebuah gambar yang diambil dari sejarah Islam. Dimana  sejarah membuktikan hanya burung garuda (hud-hud) itulah yang bisa menghancurkan penguasa lalim. Gambar itu hanya ada di DPD Jabar. Gambar itu akan saya persembahkan untuk Pak Prabowo. Tapi pengambilalihan kekuasaan itu tetap melalui proses legal dan konstitusional. Saya yakin berhasil jika kita harus padukan dengan sejarah dan karakter kita yang memang kuat.

Sebagai pimpinan partai sekaligus petani bagaimana mengatur waktunya?

Partai itu alat penyaluran, perjuangan, sementara rakyat itu bukan butuh omong, tapi butuh apa yang bisa kita berikan. Saya membagi waktu sesuai dengan keahlian. Kita tiap tahun mengirimkan petani ke Jepang, meski tidak mengatasnamakan Gerindra tapi dia akan tahu bahwa yang memperjuangkan itu orang Gerindra. Kita memberlakukan piket bagi jajaran pengurus. Tidak sekadar menunggu kantor saja, tapi harus bisa mencurahkan ide, pemikirannya dan solusinya yang tengah dibutuhkan partai. Selain itu kita terjunkan kader-kader ke daerah untuk membina jajaran yang ada di bawah. Itupun sesuai dengan kesanggupan dan kemauan para kader, mau di daerah mana?

Apa harapan dan pesan Anda pada Partai Gerindra dan para kadernya?

Sebagai kader kita harus mampu menopang manajemen partai dalam rangka merebut kekuasaan ini melalui pemenangan suara demi lolos parliament threshold dengan cara memberikan pemahaman partai yang benar dan sesuai dengan arahan untuk mengganti simbol-simbol kekuasaan ini oleh Gerindra. Jakarta pun harusnya menurunkan orang-orangnya terlebih dulu, ketika mau ada yang diturunkan ke daerah-daerah untuk lebih mengenal medan yang ada. Sehingga tidak salah jalan dan sesuai apa yang diinginkan.

Untuk para kader agar terus memperbaiki dan meningkatkan soliditas partai. Selain itu kader juga harus menumbuhkan solidaritas antar sesama kader partai. Kader partai juga harus tahu moral dan etika. Rusaknya partai itu bukan dari ekternal tapi dari internal, baik anggota atau pura-pura anggota.

Banyak sudah contohnya politisi yang tak punya moral dan etika. Ini yang harus kita waspadai, kalau hal ini ada di antara kita, mending istirahat dulu saja. Dan yang terpenting, jika di lapisan bawah masih ada yang ngomong A, ngomong B, tidak manut kepada putusan pimpinan, saya sarankan silahkan mundur saja dari partai ini. Kita ingin menciptakan kader-kader yang militan bukan kader-kader yang sekadar ikutan. [G]

* Catatan : Artikel ini ditulis dan dimuat di Majalah GARUDA, edisi 14/Februari/2012

Empat Tahun Gerindra Terus Mengabdi untuk Negeri

Akhir-akhir ini, masyarakat kerap menyaksikan tampilnya Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto di layar kaca. Hampir di setiap momen, mulai dari peringatan hari besar nasional maupun hari besar agama, ia kerap menyampaikan pesan kepada rakyat Indonesia.

Boleh jadi, lewat iklan layanan masyarakat itu, ingatan kita tertuju kembali pada iklan Partai Gerindra yang kerap ditayangkan di berbagai stasiun televisi menjelang Pemilu 2009 silam. Kala itu usia Partai Gerindra seumur jagung jika dihitung sejak didirikan pada 6 Februari 2008. Namun, partai ini telah memikat rakyat lewat visi dan misi yang disampaikan dalam iklan tersebut seperti ekonomi kerakyatan, membuka lapangan pekerjaan, dan lain-lain. Iklan yang digambarkan dengan bayang-bayang kepak sayap burung garuda yang tampak jelas di daratan. Melintasi daratan, ketika orang-orang sedang menjalankan aktivitasnya bersembahyang di tempat ibadah, bekerja di sawah, belajar, dan lain-lain diiringi narasi suara Prabowo Subianto yang mengajak untuk bergabung dengan Partai Gerindra.

Tak dimungkiri, berkat iklan yang merakyat dan spesifik itu, popularitas partai berlambang kepala burung garuda itu terus meningkat. Setidaknya lewat kampanye itu sebenarnya Partai Gerindra telah membuat sebuah gebrakan baru. Betapa tidak, partai yang mencoba mengembalikan dan menyadarkan kembali akar ke-Indonesiaan yang berawal dari masyarakat pedesaan sebagai petani dan nelayan itu mampu meraih 4.646.406 suara atau 4,46 persen. Padahal sebagai pemain baru –yang mengikuti pemilu untuk kali pertamanya— dengan persiapan hanya dua sampai tiga bulan, Partai Gerindra melesat ke posisi partai papan atas berada di urutan delapan.

Lantas kini setelah menginjak usia empat tahun. Seperti apa keberadaan Partai Gerindra di pentas politik Indonesia? Waktu empat tahun memang masih terlalu singkat. Sejatinya, komitmen perjuangan Partai Gerindra diyakini tetap berada di rel yang telah digariskan para pendirinya. Partai Gerindra terus mengedepankan delapan program aksi sebagai program kongkrit untuk mensejahterakan rakyat. Tak hanya itu, seluruh delapan program aksi itu memiliki parameter, ukuran dan target yang jelas.

“Kami mendirikan Partai tiga tahun lalu rasanya seperti baru kemarin. Waktu habis untuk verifikasi Partai, kampanye, dan melakukan program. Sebagian besar waktu yang ada justru habis untuk proses administrasi,” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Gerindra, Prof Dr Ir Suhardi, Msc.

Hal senada ditegaskan Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon, bahwa peningkatan jumlah suara Partai Gerindra itu terkait dengan manifesto perjuangan Partai yang sangat jelas. “Kami tetap pada ekonomi kerakyatan dan politik yang berpihak pada rakyat,” tegasnya.

Lebih Siap

Menurut Suhardi, dengan tetap mengedepankan delapan program aksi, Partai Gerindra tengah berancang-ancang untuk menghadapi pelaksanaan Pemilu 2014. Tentu saja, pengalaman Pemilu 2009 menjadi landasan bagi pihaknya untuk mendongkrak suara pada Pemilu 2014 nanti. Untuk itu, konsolidasi dan kordinasi di semua lini terus ditingkatkan untuk menguatkan misi partai. Meski waktu yang tersedia terbilang singkat, Suhardi menegaskan Partai Gerindra kini lebih siap.

Tak berlebihan jika guru besar kehutanan dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta itu meyakini bahwa partainya lebih siap. Pasalnya, selain telah dinyatakan lolos verifikasi, partai ini digerakkan oleh kader-kader militan dan teruji akan mampu mendongkrak perolehan suara partai pada pemilu 2014 mendatang.  Berbeda ketika masa-masa awal berdiri, selain waktu yang mepet, Partai Gerindra pun belum punya banyak kader dan saksi. Tapi, pada pemilu 2014 mendatang, dengan dukungan lebih dari 5 juta saksi, Partai Gerindra lebih siap. Hingga saat ini saja, telah tercatat 13 juta pemegang kartu tanda anggota Partai Gerindra. Karena itu, Partai Gerindra optimistis perolehan suara pada pemilu 2014 akan meningkat.

Terus Berjuang

Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto menegaskan Partai Gerindra akan berjuang untuk mengubah nasib bangsa menuju masa depan Indonesia yang sejahtera, aman, adil, dan memberi kepastian masa depan kepada generasi penerusnya.

“Kita berjuang menyelamatkan masa depan bangsa. Itulah tujuan Partai Gerindra,” tegasnya saat berpidato usai melantik Pengurus Pusat (PP) Perempuan Indonesia Raya (PIRA), di Jakarta (21/1) lalu.

Sejak awal Partai Gerindra sudah memberikan penilaian terhadap kondisi bangsa. Menurutnya, satu-satunya partai yang mengkritik sistem ekonomi Indonesia adalah Partai Gerindra. “Sistem ekonomi Indonesia berada di jalan yang keliru. Kita sudah mengoreksi arah ekonomi Indonesia,” tegasnya.

Prabowo mengingatkan, Partai Gerindra ketika berdiri sudah membuat manifesto perjuangan. Dimana manifesto yang digodok oleh kelompok kerja dipimpin Fadli Zon itu diresmikan dan dicetak pada September 2008. Dan 19 Oktober 2008, terjadilah yang namanya “Black Monday” yakni runtuhnya bursa Wall Street, bursa Amerika Serikat di New York. Peristiwa itu menelan kerugian hingga 2 triliun dolar. “Kita sudah mengkritik sistem ekonomi liberalism sebelum kejadian itu. Ternyata sejarah membenarkan apa yang disinyalir Partai Gerindra,” terangnya.

Imbasnya, kini Amerika dan Eropa terjerembab dalam resesi ekonomi yang luar biasa. Jutaan orang kehilangan pekerjaan, ribuan perusahaan bangkrut, mata uang terancam, dan utang hampir mampu tak terbayar. “Partai Gerindra sudah mengingatkan bangsa Indonesia. Manakala sistem ekonomi liberal terus dilaksanakan di Indonesia, ujungnya adalah rakyat Indonesia akan mengalami penderitaan,” ujarnya mengingatkan.

Menurutnya, bukti-bukti yang mengarah ke arah itu sudah tampak. Mantan Danjen Kopassus itu menyebutkan sekitar 35 persen anak balita Indonesia mengalami kurang gizi. Dengan demikian dari tiga anak balita, satu anak mengalami gizi buruk. Bahkan di Nusa Tenggara Barat, mencapai 58 persen. Kenyataan pahit pun ada di Jakarta sebagai ibu kota negara, setidaknya ada 26 persen anak balita kurang gizi.

“Percuma kita berteriak pertumbuhan ekonomi tinggi. Percuma kita berteriak ada kemajuan di sana-sini. Tapi anak-anak balita kita mengalami kurang gizi. Berarti ekonomi Indonesia tidak memberikan kesejahteraan untuk rakyatnya,” tegasnya.

Dalam pidato politiknya di perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Partai Gerindra ke-4, pada Senin (6/2), Prabowo mengingatkan kembali bahwa selama ini kebijakan masih saja menguntungkan kekuatan asing dan tidak membela rakyat. Untuk itu, kepada kadernya yang duduk di Senayan, Prabowo mengingatkan untuk membela sekuat hati tentang kepentingan rakyat.

“Saudara-saudara, kalau 26 anggota DPR RI dari Gerindra tidak mampu menahan neo liberalisme dan menahan arus cengkraman ekonomi asing, kalau perlu kita tarik semuanya,” tegasnya.

“Sampai sekarang kita satu-satunya partai di DPR yang mengatakan kembali ke pasal 33 UUD 1945,” lanjutya. Bahkan Prabowo pun menyindir, penganut neo liberalisme  sekarang sudah mulai cepat-cepat cuci tangan. “Mereka sudah melihat  tanda sejarah, oh kami juga punya UUD 45. Enak aja. Kemana aje lo empat tahun? Kemana aja 13 tahun, sekarang UUD 45, kemarin-kemarin kerjanya amandemen terus,” tandasnya.

Untuk itu, Prabowo menegaskan lebih baik pihaknya tidak ikut memutuskan kebijakan yang tidak pro rakyat, tidak mementingkan kebijakan dan membela rakyat. “Dari pada ikut tercemar dan tercoreng di hadapan rakyat Indonesia,” tandasnya.

Salah satu kebijakan yang hanya akan membahayakan Indononesia dan rakyatnya adalah kebijakan impor bahan pangan. Baginya, kebiasaan pemimpin Indonesia yang memutuskan untuk terus melakukan impor itu sangatlah berbahaya. “Kebiasaanya pemimpin kita memilih impor, impor, impor terus sangat membahayakan Indonesia dan rakyat Indonesia,” tegasnya.

Padahal sejak awal berdiri Partai Gerindra sudah mencanangkan pembangunan ekonomi harus melalui pertanian. Dalam 8 program aksinya, Indonesia harus mencetak sawah baru dan lahan-lahan baru. Nyatanya, program itu kini dijalankan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan yang ingin mencetak satu juta hektar lahan sawah baru. “Kita sambut positif langkah Menteri BUMN yang baru, yang ingin mencetak ladang sawah baru. Terima kasih, mudah-mudahan segera terwujud,” kata Prabowo sembari mengingatkan bahwa program sawah satu juta hektare itu, merupakan gagasan Partai Gerindra.

“Dalam hati, ke mana saja pemerintah, kok baru dilaksanakan sekarang. Tapi kita legowo, wakafkan gagasan itu. Boleh dicontek asalkan untuk rakyat Indonesia. Kita senang dicontek, tetapi kasih catatan kaki dong, saran dari Gerindra,” imbuhnya.

Perjuangan yang tak kalah beratnya menginjak usia empat tahun, adalah mensosialisasikan Pancasila kepada generasi muda, agar persatuan bangsa semakin kokoh. Pasalnya, saat ini disinyalir ada sejumlah pihak yang menginginkan Indonesia lemah. Bahkan berusaha memecah belah Negara Kesatuan Indonesia Raya (NKRI). Untuk itu Partai Gerindra gencar menanamkan revitalisasi ideologi Pancasila dan kembali ke konstitusi UUD 1945.

Calon Presiden 2014

Jika parpol lain masih menimbang-nimbang dan mencari sosok calon presiden (capres), maka Partai Gerindra menjadi satu-satunya parpol yang berani mengusung capres jauh-jauh hari. Memang, ketika Pemilu 2009 Partai Gerinda paling belakangan menentukan capres, tapi sekarang menjadi yang paling dahulu mencalonkan Prabowo Subianto sebagai capres dalam Pemilu 2014 nanti. “Kami tidak mungkin ditawar soal itu. Apa pun yang terjadi, kami harus mencalonkan Pak Prabowo,” kata Suhardi.

Sebelumnya, Prabowo sendiri sudah mengisyaratkan maju di Pemilu 2014 sebagai capres dari Partai Gerindra saat berkunjung ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu (8/1) lalu. Keputusan tersebut diambil Prabowo karena permintaan para Dewan Pimpinan Daerah Partai Gerindra.  Sementara soal calon wakilnya, Prabowo menegaskan Partai Gerindra baru akan menentukan siapa yang menjadi calon wakil menjelang pemilihan. “Kami sekarang masih berjuang dulu,” kata Prabowo.

Prabowo Subianto mengatakan dirinya sangat yakin akan memenangkan pemilihan presiden pada 2014 mendatang. “Target 2014 menang, menerima mandat dari rakyat. Menerima kepercayaan dari rakyat, bersama-bersama kita rubah haluan bangsa ini. Insya Allah menang,” ujarnya. “Partai yang membela rakyat, melawan korupsi, dan bersama rakyat meraih kesejahteraan,” imbuhnya.

 ***

Kilas Balik Berdirinya Partai Gerindra

Hanya dalam waktu singkat, kurang dari tiga bulan sejak deklarasi, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) lolos verifikasi partai di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia 4 April 2008. Tiga bulan setelah itu, Partai Gerindra pun lolos verifikasi faktual Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Sejatinya, sebelum partai berlambang kepala burung garuda ini berdiri, jejaring embrio partai sudah muncul meski tidak formal. “Sehingga ketika pluit ini ditiup, dibunyikan, semua komponen sudah siap,” kata Ahmad Muzani, Sekretaris Jenderal Partai Gerindra.

Meski, waktu itu tak banyak orang mengenal partai ini. Namun hasil kerja cerdas dengan gencar beriklan membuahkan hasil yang sepadan. Disamping itu, Gerindra juga mengembangkan taktik menambah anggota melalui kartu anggota yang sekaligus menjadi kartu asuransi. Premi tersebut ditanggung partai selama dua tahun pertama. Alhasil, pada peringatan setahun Partai Gerindra pada 6 Februari 2009 malam di Balai Sarbini, Jakarta, ada penyerahan kartu anggota ke-10 juta.

Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto mengaku kekuatan partainya semakin terasa. Saat ini, menurutnya Partai Gerindra telah hadir di semua provinsi hingga ke tingkat kecamatan. Pada akhir tahun ini, Prabowo berharap Gerindra dapat hadir di seluruh desa. Partai “Gerindra kemudian diharapkan bisa hadir di seluruh RT pada akhir 2013,” ujarnya berharap.

Sembari membesarkan partai, Partai Gerindra juga mengembangkan sejumlah organisasi sayap. Setidaknya kini untuk memanaskan mesin partai, ada sayap SATRIA (Satuan Relawan Indonesia Raya), TIDAR (Tunas Indonesia Raya), GEMIRA (Gerakan Muslimin Indonesia Raya), KIRA (Kristen Indonesia Raya), GEMA SADHANA (Gerakan Masyarakat Sanathana Dharma Nusantara), dan PIRA (Perempuan Indonesia Raya). Disamping itu ada beberapa gerakan pendukung partai yang siap ikut memanaskan mesin partai menghadapi 2014 seperti GARDU Prabowo, GERBANG, GIBAS, Prabowo Fans Club, dan masih banyak lagi.

* Catatan : Artikel ini ditulis dan dimuat di Majalah GARUDA, edisi 14/Februari/2012