Universitas Pelita Harapan, A Smart and Global Campus

Sudah menjadi keharusan pendidikan karakter menjadi fokus di seluruh jenjang pendidikan. Tak terkecuali pendidikan tinggi yang mendapatkan perhatian yang cukup besar. Dari sanalah lahir generasi anak bangsa berkarakter yang kini menempati posisi penting di dunia korporat dan bisnis.

Universitas Pelita Harapan (UPH) adalah satu dari sekian institusi pendidikan terkemuka yang sadar akan tugas dan kewajibannya untuk mencetak manusia Indonesia handal, berdaya saing dan bermutu. Kampus yang modern, inovatif, komprehensif, terbuka, multibudaya dan humanis adalah gambaran UPH yang mengusung Knowlegde, Faith and Character dalam setiap gerak langkahnya.

Berdiri sejak tahun 1994 silam, beragam inovasi teknologi secara simultan telah dikembangkan UPH. Bahkan julukan sebagai a smart and global campus telah disandangnya. Perguruan tinggi swasta ternama ini menerapkan secara langsung teknologi terkini ke dalam sistem belajar-mengajar. Tak tanggung-tanggung, sertifikasi standar internasional ISO 9001:2000 pun telah dikantonginya sejak 2008 lalu.

Memang, kampus yang didirikan oleh Ir Johannes Oentoro dan Dr (HC) James Riady ini sejak awal berkomitmen untuk memberikan pendidikan dan pengajaran secara holistik dengan dukungan fasilitas kelas dunia. Komitmen tersebut tercermin dalam manajemen yang profesional, kurikulum, kemitraan global serta fasilitas modern berteknologi tinggi bagi seluruh civitas kampus.

Sebagai global campus, UPH dilengkapi dengan smart card, smart class, micropayment, e-learning, digital library, notebook hingga penyediaan jaringan nirkabel untuk akses internet. ”UPH tetap komitmen menghadirkan pendidikan dan pengajaran secara holistik yang didukung fasilitas, teknologi dan infrastruktur kelas dunia,” ujar Rektor UPH, Dr (HC) Jonathan L Parapak, M.Eng.Sc.

Berlokasi di kawasan Lippo Village, sebuah kota satelit yang dirancang begitu imajinatif memberi kenyamanan layaknya di rumah sendiri. Suasana kampus yang hangat, dimana setiap orang seperti keluarga. Dosen dan mahasiswa membangun hubungan yang kuat dan professional baik di dalam maupun di luar kelas. Tak hanya itu, sejauh mata memandang, nuansa kemewahan pun menghiasi setiap sudut kampus ini.

Sebagai kampus kelas dunia, UPH dilengkapi sejumlah laboratorium –yang dikenal sebagai yang terbaik di Indonesia. Tersedia pula fasilitas penunjang aktifitas olahraga lengkap dan berstandar internasional. Selain itu UPH juga menyediakan fasilitas asrama yang diperuntukan bagi mahasiswi tahun pertama dari luar kota.

Yang tak kalah menariknya, UPH pun dikelilingi kawasan serta fasilitas penunjang gaya hidup mulai dari restoran, kafe, pusat perbelanjaan, perbankan, toko buku –dengan ribuan koleksi baik lokal maupun internasional— kawasan bisnis dan perkantoran hingga akses langsung ke jalan bebas hambatan. Tak terkecuali keberadaan kawasan rekreasi yang menawarkan pilihan aktifitas relaksasi.

Setidaknya ada 13 fakultas untuk program sarjana diantaranya Fakultas Ekonomi, Fakultas Desain dan Teknologi Perencanaan, Fakultas Teknologi Industri, Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Seni, Fakultas Kedokteran, Fakultas Ilmu Komputer, Fakultas Ilmu Kependidikan, Fakultas Matematika dan Ilmu Alam, Fakultas Psikologi, Fakultas Musik, Fakultas Ilmu Keperawatan dan satu Sekolah Tinggi Pariwisata. Disamping itu, UPH pun membuka delapan program magister dan satu program doktoral hukum yang berlokasi di kawasan Semanggi Jakarta. Tahun 2006, UPH juga membuka kelas internasional bagi mereka yang ingin mendapatkan gelar Bachelor di Indonesia.

Sebagai global campus, UPH pun menggandeng dengan perguruan tinggi dunia ternama seperti The National University of Singapura, Queensland University of Technology, Murdoch University, Biola University in US, Ilmenau University of Technology, Xiamen University in China dan masih banyak lagi. Dengan fasilitas dan jaringan kelas dunia yang dimiliki, tak heran bila kelas internasional UPH diminati para calon mahasiswa mancanegara. Setidaknya, di kampus multi-kultural ini tercatat ada lebih dari sepuluh negara, termasuk Amerika Serikat, Rusia, China, Korea dan Jerman.

Dalam perkembangannya, sebagai a smart campus, baru-baru ini UPH meluncurkan penerapan aplikasi Mobile Campus BlackBerry. Sebuah aplikasi mobile hasil sinergi Telkomsel dan Research In Motion (RIM) khusus untuk mahasiswa UPH Karawaci dan merupakan yang pertama di Indonesia. Lewat aplikasi ini, mahasiswa bisa mendapatkan informasi mulai dari jawdal kuliah, materi akademik, data akademik pribadi seperti IPK dan grafik prestasi hingga melakukan pembayaran uang kuliah.

Kehadiran Telkomsel yang menggangdeng RIM ini didasarkan pada pertimbangan bahwa BlackBerry merupakan smarphone yang umum digunakan masyarakat Indonesia, terutama di kalangan anak muda. Bahkan Direktur Senior IT UPH, Reyner Wayong pun mengklaim bahwa 90 persen dari total 10 ribu mahasiswa UPH merupakan pengguna BlackBerry. Layanan ini menujukkan reputasi UPH sebagai kampus yang memiliki fasilitas insfrastruktur IT yang terintegrasi. “Jika sebelumnya, diakses lewat komputer atau notebook, lewat ATM (Academic Teller Machine) dan kini lewat BlackBerry,” ujarnya.

Tentu saja, penyediaan fasilitas ini melengkapi ragam fasilitas yang sudah ada sebelumnya guna membantu seluruh civitas akademika UPH mulai dari dosen hingga mahasiswa. [QA]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah QUALITY ACTION, Edisi 01/Oktober 2011

Advertisements

Ketika ‘Laskar Pelangi’ Menyerbu Bioskop

poster ini diamabil dari situs resmi film laskar pelangi

Subhanallah. Dari film ini saya pribadi banyak mendapatkan pencerahan. Betapa tidak, setiap jengkal ceritanya sarat akan makna.

Dan akhirnya film ini tidak begitu jauh dengan semangat novelnya. Meski diakui oleh sang penulis, ada beberapa yang ditambahkan dalam ceritanya. Ya, inilah yang saya dapat ketika preview film yang dinanti-nanti para pecinta film dan khususnya yang telah membaca novel Laskar Pelangi.

Hari pertama pembukaan kelas baru di sekolah SD Muhammadiyah menjadi sangat menegangkan bagi dua guru luar biasa, Muslimah –yang dimainkan secara apik oleh Cut ini– dan Pak Harfan dilakoni oleh Ikranegara, serta 9 murid yang menunggu di sekolah yang terletak di desa Gantong, Belitong. Sebab kalau tidak mencapai 10 orang murid yang mendaftar, sekolah akan ditutup. Setelah lama menunggu hingga akhirnya lepas jam 11.00 siang, muncullah Harun (Jeffri Yanuar). Ya inilah murid istimewa yang menyelamatkan mereka.

Inilah adaptasi sinema dari novel fenomenal Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang mengambil setting di akhir tahun 70-an di kawasan Belitong. Adalah 12 anak asli Belitong dan 12 aktor senior inilah yang membuat film ini lebih hidup dan lebih artikulatif dari novelnya.

Ya betapa tidak, novel yang menggambarkan kalangan pinggiran dalam mendapatkan pendidikan –yang begitu mahal– itu sangat menggugah hati. Hal ini tampak jelas pada perjuangan Lintang (Ferdian) yang harus mengayuh sepedanya berkilo-kilo. Tidak hanya itu ia pun kerap harus ekstra hati-hati menunggu si buaya rawa melewati jalan setapak yang ia lalui saban harinya. Pun dengan kondisi keluarganya yang pada akhirnya, Lintang harus menyerah dengan keadaan setelah ayahnya meninggal dunia. Padahal ia anak yang jenius, bahkan di atas rata-rata.

Perjuangan berat pun tampak jelas pada Pak guru Arfan yang harus terus memompa semangat para anak didiknya, guru Muslimah dalam kelangsungan sekolahnya. Inilah yang membuat haru-biru film ini.

Sisi jenaka yang digambarkan anak-anak pun kerap menghiasi film yang sarat akan makna ini. Betapa tidak ketika, Mahar (Verrys Yamarno) yang sok seniman dengan radionya yang selalu ditentengnya. Pun dengan Ikal (Zulfanny) yang begitu lugu ketika terjerat pesona kuku yang lentik si A Ling (Levina). Atau ketika kekelucuan-kelucuan dari para pemain lainnya.

Pada akhirnya, film produksi Miles Films dan Mizan Productions dengan dukungan penuh dari Pertamina Foundation, Bank Mandiri, Telkom dan Timah ini sangat layak dan harus ditonton bagi mereka yang haus akan inspirasi, motivasi dalam menjalani hakikat hidup.

Dan film ini yang tayang serentak di bioskop, Kamis (25/9) kemarin mampu menyedot animo masyarakat untuk menontonnya. Selamat Menonton dan anda akan banya mendapatkan hikmah dari film besutan Riri Riza ini. Jangan lupa, bolehlah kiranya anda ajak seluruh anggota keluarga. Maaf ini bukan promosi, tapi lebih pada berbagi manfaat sekiranya film itu memang layak ditonton.

“Hidup itu harus memberi sebanyak-banyaknya, janganlah menerima sebanyak-banyaknya.” Pak guru Arfan.

Menyoal Paradigma Mutu Pendidikan Indonesia

Diakui atau tidak, krisis multidimensional yang melanda negeri ini membuka mata kita terhadap mutu pendidikan manusia Indonesia. Pun dengan sumber daya manusia hasil pendidikan yang ada di negeri ini. Memang, penyebab krisis itu sendiri begitu kompleks. Namun tak dipungkiri bahwa penyebab utamanya adalah sumber daya manusia itu sendiri yang kurang bermutu. Jangan harap bicara soal profesionalisme, terkadang sikap manusia Indonesia yang paling merisaukan adalah seringnya bertindak tanpa moralitas.

Dalam sebuah penelitian, diuangkapkan bahwa produktivitas manusia Indonesia begitu rendah. Hal ini dikarenakan kurang percaya diri, kurang kompetitif, kurang kreatif dan sulit berprakarsa sendiri (=selfstarter, N Idrus CITD 1999). Tentunya, hal itu disebabkan oleh sistem pendidikan yang top down, dan yang tidak mengembangkan inovasi dan kreativitas.

Dalam sebuah seminar yang bertajuk “Seminar Nasional Kualitas Pendidikan dalam Membangung Kualitas Bangsa” salah satu pembicaranya yakni Drs Engkoswara, M.Pd., dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, menegaskan bahwa, memang dewasa ini, sepertinya pendidikan seakan mengalami kemajuan dengan pertumbuhan sarjana, pascasarjana hingga doktor di berbagai bidang dan munculnya gedung-gedung sekolah hingga perguruan tinggi yang cukup mewah. Sayangnya, hingga kini pendidikan tidak bisa diakses secara merata oleh penduduk Indonesia.

Seiring dengan itu, tokoh cendikiawan muslim, Nurcholis Madjid mengakui bahwa, di Amerika, Jepang dan negara-negara lain baik di Asia dan Eropa, perkembangan pendidikan hampir merata. Sebab, anggaran yang dialokasikan ke pendidikan besar dan berjalan lancar. Tentu saja, pendapat ini tidak begitu saja dilontarkan. Menurutnya, paling tidak 65% penduduk Indonesia berpendidikan SD, bahkan tidak tamat. Selain itu kualitas pendidikan di negara ini juga dinilai masih rendah bila dibandingkan dengan negara lain. Tak heran jika Indonesia hanya menempati urutan 102 dari 107 negara di dunia dan urutan 41 dari 47 negara di Asia.

Cak Nur –panggilan akrab sang profesor— menegaskan dalam laporan statistik, penyandang gelar doktor (S3) di Indonesia sangat rendah. Dari satu juta penduduknya, yang bergelar S3 (diraih secara prosedur) hanya 65 orang. Amerika dari satu juta penduduknya, 6.500 orang bergelar S3, Israel 16.500, Perancis 5000, German 4.000, India 1.300 orang. Semua itu hasil dari pendidikan yang bermutu. Bolehlah kita berkaca pada Korea Selatan. Negara ini memberikan prioritas untuk majukan pendidikan. Pengadaan sandang, pangan dan papan perlu tapi pembangunan pendidikan jangan sampai dianaktirikan. Kemajuan sebuah negara sangat ditentukan tingkat pendidikan sumber daya manusianya. Contoh lainnya, Malaysia yang pada tahun 1970-an, masih mengimpor tenaga pengajar dari Indonesia. Kini, pendidikan di Malaysia jauh di atas Indonesia. Mengapa? Pemerintahnya memberikan perhatian yang sangat serius. Tidak seperti di Indonesia, pendidikan kurang diperhatikan

Memang, tak dipungkiri kalau lulusan dari lembaga pendidikan di Indonesia kurang relevan dengan kebutuhan tenaga yang diperlukan, sehingga hasilnya kurang efektif dan mendorong terjadinya pengangguran intelektual. Permasalahan masih ditambah lagi dengan minimnya fasilitas pendidikan yang memadai.

Hal ini dipertegas lagi dengan pernyataan Rektor UPI, Prof Dr M Fakry Gaffar yang mengatakan bahwa universitas atau perguruan tinggi di Indonesia belum memiliki kemampuan untuk ”bertarung” dalam persaingan global. Karena itu, produk pendidikan negara ini masih kesulitan untuk bersaing dengan produk pendidikan negara lain. Namun, rendahnya kualitas itu tidak semata-mata karena sistem pendidikannya. Siswa atau mahasiswa Indonesia pun kurang memiliki upaya dan daya juang. Begitu pula dengan kurangnya akses masyarakat pada pendidikan itu sendiri. Bisa dibayangkan di negeri ini terdapat, 80 juta usia 6-24 tahun yang menuntut kesempatan untuk mendapatkan pendidikan. Namun sayang jumlah sebanyak itu belum tertampung.

Paling tidak, untuk mengatasi masalah ini, menurut Engkoswara ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama adalah revitalisasi budaya bangsa. Artinya bangsa ini harus kembali berpedoman kepada Pembukaan UUD 1945, bahwa pendidikan adalah upaya utama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa yang berbudaya, yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki semangat juang yang tinggi dan memiliki kreativitas pribadi yang terpuji. Kedua, mengenai manajemen pendidikan. Sistem pendidikan nasional yang disempurnakan dan disahkan pada 2003, implementasinya harus dilakukan dengan manajemen atau pengelolaan yang proporsional dan profesional, baik di tingkat makro maupun di tingkat mikro.

Lebih pada pelaksanaanya, Fakry mengajukan delapan poin paradigma pendidikan yang baru yakni openess and flexibility in learning, integrasi pendidikan ke dalam setiap aspek kehidupan manusia, responsif terhadap perubahan, total learning, learning strategies, teacher-student roles in leraning, ICT (information and communication technology) in learning process serta learning content and learning outcome.

Dengan delapan poin itu, paling tidak akan menjadi dasar agenda pendidikan ke depan yakni, pembahasan kurikulum, pembaruan dalam proses pembelajaran, pembenahan manajemen pendidikan nasional, pembenahan pengelolaan guru dan mencari serta mengembangkan berbagai sumber alternatif pembiayaan pendidikan.

Tentu saja semua itu tak lepas dari anggaran biaya. Dalam hal ini, anggaran pendidikan kudu memadai dan harus diupayakan secara sungguh-sungguh agar anggaran pendidikan negeri ini sekurang-kurangnya mencapai 20% dari APBN ataupun APBD. Dan yang paling penting adalah, lembaga pendidikan sebaiknya bebas pajak. Bahkan bila perlu ada pajak untuk pendidikan.

Menyikapi hal ini, Menteri Pendidikan Nasional, Bambang Sudibyo dalam sebuah pidatonya di acara peringatan Hari Pendidikan Nasional menegaskan sesuai Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa Pemerintah berkewajiban memenuhi hak setiap warganegara untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu, pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan yang dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan, memberdayakan dan memberadabkan kehidupan bangsa sesuai amanat konstitusi dan Undang-undang Sisdiknas, dalam rangka mentransformasikan Indonesia menuju peradaban modern yang canggih, madani dan unggul.

Sebagai wujud nyatanya, pemerintah telah mengupayakan secara terus menerus perluasan dan pemerataan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi pendidikan agar memenuhi kebutuhan pengembangan masyarakat, dan pembangunan kepemerintahan yang baik atau good governance. Hal ini dituangkan dalam Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional, untuk kurun waktu 2004 – 2009. Renstra ini merupakan acuan bagi seluruh jajaran penyelenggara pendidikan, baik pemerintah pusat maupun daerah, serta masyarakat dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan pendidikan sampai dengan 2009.

Konon, rencana strategis ini disusun dengan mempertimbangkan aspek legalitas, aspek prioritas, aspek perimbangan kewenangan pusat dan daerah dan melalui proses identifikasi masalah terhadap kondisi nyata pendidikan dewasa ini, baik pusat maupun daerah, yang selanjutnya dirumuskan dalam prioritas kebijakan pembangunan untuk kurun waktu lima tahun ke depan.

Dan sudah 61 tahun merdeka, mampukah kualitas pendidikan dapat diandalkan? Jawabanya, kembali lagi, bahwa mutu pendidikan, Indonesia ketinggalan jauh, di banding dengan negara-negara tetangga. Tentu saja, merosotnya mutu pendidikan, tidak terlepas dari kebijakan pemerintah. Selama ini dan cenderung masih berlangsung hingga sekarang, perhatian pemerintah untuk memajukan pendidikan kurang. Dan selagi pembangunan pendidikan ditempatkan diurutan ke sekian. Maka jangan berharap Indonesia mampu tampil di era globalisasi yang terus menggerus dunia ini.

tulisan ini emang diminta oleh seseorang teman.