Sehari Bersama Cynthia Lamusu

“Saya ingin membangun istana keluarga, punya momongan dan terus menjaga imej AB Three. Selain itu, saya ingin sekali memiliki album solo dan kini sibuk mempersiapkannya,” kata Cynthia Lamusu tentang rencana masa depannya.

Wanita yang akrab disapa Thia ini makin dikenal sejak bergabung dengan AB Three,Tujuh tahun lalu. Meski menggantikan posisi Lusy Rahmawati, Thia mampu menunjukkan kemampuan vokalnya. “Kebetulan kami memiliki banyak persamaan, jadi nggak butuh waktu lama untuk menyamakan ide, vokal dan hal-hal prinsip untuk tetap bersama hingga saat ini,” kata jebolan ajang penyaringan bakat Asia Bagus yang berhasil

meraih Grand Champions di Jepang.

Yang menarik, ditengah-tengah kesibukannya menyanyi, Thia masih sempat mengelola dua butik miliknya Phac Welba dan House of Lamusch. “Ya lumayanlah buat investasi masa depan, sekaligus saya ingin belajar mandiri dalam menata hidup ini,” ungkap dara kelahiran Jakarta, 12 April 1978 ini.

Berangkat dari kediaman Thia di kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur, View menemaninya hingga sore hari.

Pukul 11.30

Thia menyambut kami dengan ramah. Mengenakan gaun putih dibalut rompi hijau, kulitnya tampak lebih putih. “Macet ya…?. Yuk langsung jalan aja, saya udah siap dari tadi,” kata Thia sembari memeluk mesra ibunya yang mengantarnya sampai depan pintu rumah.

Pukul 12.30

Ditemani Gema, manajernya, mobil Honda City membawa Thia ke Wisma Obor 1di kawasan Prapanca Raya, Jakarta Selatan. “Mampir di salon langganan AB Three dulu, saya mau creambath,” kata Thia di salon Tommy. Di sini, Thia bercerita tentang kesibukannya yang cukup menyita waktu dan tenaga. “Karena Nola masih cuti, jadi bisa nyantai dikit nih.”

Pukul 13.50

Thia menyempatkan diri mampir di butik pertamanya Phac Welba. “Di sini lebih banyak busana casual,” kata Thia yang mengaku selalu menyempatkan diri memeriksa langsung penyediaan baju-bajunya. “Saya juga selalu terbuka dengan karyawan dan memberi kepercayaan penuh pada mereka dalam pengelolaannya,” kata Thia.

Pukul 14.20

Bertempat di sebuah apotik di kawasan perbelanjaan Dharmawangsa Square, Thia melakukan pengambilan gambar untuk iklan produk perawatan kulit. Thia pun tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan tugas ini, hanya sekitar 15 menit.

Pukul 14.55

Thia menuju butik barunya House of Lamusch di kawasan Bangka Raya. Di butik yang ‘berkelas’ ini, berbagai busana bermerk ditawarkan. “Ada juga tas yang dibuat oleh pengerajin yang ahli membuat tas tangan pesta. Bisa pesan kebaya-kebaya modern dan kami juga punya desainer yang sekaligus menjahitkannya,”jelas Thia. Menurut Thia saat memutuskan membuka butik ini, ia banyak mendapat dukungan dari kekasihnya Surya Saputra. “Tadinya saya maju mundur. Lama dipikir-pikir, takut nggak bisa ngurusin,” aku Thia yang akhirnya merasa plong setelah butiknya resmi dibuka sebulan lalu.

Pukul 16.40

Kebersamaan View dengan Thia harus berakhir. Maklum, di butik sudah menunggubeberapa klien yang ingin bertemu langsung dengan Thia. “Ya beberapa diantara mereka yang ingin minta saran sebelum memilih busana-busana ini. Nggak masalah sepanjang saya masih punya waktu,” kata Thia yang mengaku akhir-akhir ini sangat sering bertandang ke butiknya. [view]

Artikel ini ditulis pada juni 2007 dan dimuat di majalah VIEW edisi Juli 2007

Advertisements

Sehari Bersama Charles Bonar Sirait

Totalitas Charles Bonar Sirait (36) di dunia public speaking sudah tak diragukan lagi. Pria kelahiran Jakarta, 19 Maret 1971 ini tak hanya sibuk menjadi presenter dan master of ceremony (MC), tapi juga pengajar public speaking di sejumlah lembaga pendidikan. Kini, pria yang 13 tahun malang melintang di dunia presenter tengah menyusun buku public speaking yang bakal terbit dalam waktu dekat. “Saya ingin merampungkan buku ini dengan sempurna dan penuh tanggungjawab,”ujar presenter Gebyar BCA ini.

Pria bertubuh atletis yang menjadi idola para wanita dan ibu-ibu muda ini juga sangat memimpikan memandu acara talkshow yang konsepnya membahas dunia seputar wanita dengan penonton wanita. “Talkshow itu akan saya kenalkan ke mall lebih dulu karena lebih efektif untuk mengambil pasar para wanita,”jelas ayah dari Christopher Matthew Sirait (7) dan Gavriel Devlin Anggi Sirait (5) ini.

Sebagai presenter ia selalu tampil segar dan bugar. Charles mengaku rajin mengkonsumsi vitamin dan food supplement. Sabtu pagi, View bertandang ke rumah Charles di kawasan Gudang Peluru, Tebet, Jakarta Selatan.

Pukul 06.00

Dengan mengenakan kaos biru, Charles bersiap-siap jogging di sekitar rumahnya di kawasan Gudang Peluru, Tebet, Jakarta Selatan. “Sorry, saya bangun agak kesiangan, biasanya jam 05.30 udah selesai lari,” akunya.

Pukul 07.00

Sudah lebih satu jam Charles lari mengelilingi komplek perumahannya. Ia mulai tampak lelah, namun masih terus berlari. Katanya, ia seringkali menghabiskan waktu 1 sampai 2 jam.

Pukul 07.30

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Charles berpapasan dengan istrinya, Maria Herawati Lusiana yang akan berangkat kerja. Beberapa saat keduanya sempat asyik berbincang-bincang.

Pukul 08.00

Ditemani kedua putranya, Christopher dan Gavriel, Charles sarapan pagi. Charles tampak sangat akrab dengan kedua anaknya, ngobrol asyik seputar rencana liburan sekolah.

Pukul 10.30

Dengan penuh semangat, Charles menyampaikan materi seputar public speaking di lembaga pendidikan Tantowi Yahya Public Speaking School milik presenter kondang Tantowi Yahya di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan.

Pukul 13.00

Selesai mengajar, Charles menemui beberapa wartawan infotainment yang sudah menunggunya cukup lama. Dengan ramah, ia meladeni pertanyaan-pertanyaan yang diajukan seputar kegiatannya sebagai presenter.

Usai diwawancara para wartawan infotainment, Charles mohon izin untuk istirahat bersama keluarganya. “Ntar malam saya harus memandu acara Gebyar BCA yang di Indosiar.”

Pukul 21.00

Dengan mengenakan jas berwarna gold, Charles memandu acara Gebyar BCA ditemani Desy Ratnasari dan Miing Bagito. Dengan gayanya yang khas Charles pun tampil mengesankan di acara yang disiarkan secara live itu. “Saya sangat enjoy menjalani pekerjaan ini, sehingga sama sekali tidak merasa jenuh.”

Pukul 22.00

Charles pamit pulang. “Jam segini, mungkin si kecil udah pada tidur. Padahal saya kangen bercanda dengan mereka.” [view]

Artikel ini ditulis pada Mei 2007 dan dimuat pada majalah VIEW edisi Juni 2007

Sehari Bersama Dewi Sandra

Cantik dan selalu tampil energik. Begitulah sosok penyanyi R&B Dewi Sandra (27) yang baru saja merilis album terbarunya bertajuk Star. Kini isteri musisi sekaligus penyanyi Glenn Fredly sibuk mempromosikan albumnya bersama band dan dancer-nya yang baru saja dibentuk.

Lagu-lagu penyanyi kelahiran Brasil, 3 April 1980, ini tak jauh berbeda dengan karakternya yang energik. Seperti I Love You yang menjadi hit single, Buktikan dan Turn This Up tampil irama yang menghentak dan upbeat. Namun Dewi tetap menghadirkan irama balada dan slow. “Sesuai dengan judulnya, album ini menceritakan berbagai macam karakter. Saya sudah dewasa, dan ingin tampil beda aja,” kata penyanyi yang menjadi brand ambassador Loreal Professionel Indonesia untuk salah satu produknya.

Walau sudah terkenal di blantika musik dalam negeri, pelantun lagu Ku Akui ini tak pernah bermimpi menjadi seorang diva dalam dunia tarik suara. Baginya bernyanyi dan bermusik sudah menjadi bagian hidupnya. “Saya tak bercita-cita menjadi apa pun. Saya hanya ingin berkarya melalui musik dan ingin ikut meramaikan dunia musik Indonesia,” papar wanita blasteran Inggris ini.

VIEW berhasil merekam Dewi mempersiapkan aksi panggungnya di kawasan pusat perbelanjaan mewah Senayan City dalam rangka peluncuran mobil seri terbaru dari Nissan. Mulai dari latihan, sound check hingga unjuk kebolehan di panggung pada malam berikutnya.

Pukul 21.33

Di sela-sela latihan, Dewi yang enggan melepas gitarnya tampak asyik membalas beberapa pesan singkat dari ponselnya. Katanya sih sms sayang dari suami tercinta.

Pukul 22.00

Usai latihan selama kurang lebih setengah jam, ditemani Production Manager-nya Wisnu, Dewi nongkrong di salah satu café di Senayan City. Walau mengaku lumayan letih setelah latihan, Dewi tampak segar dan tetap ceria.

Pukul 22.30

Setengah jam kemudian, Dewi kembali berlatih. Kali ini dia bersama para dancer pengiringnya. Dewi tak segan-segan memberikan arahan pada para penarinya itu untuk serius dalam berlatih.

Di malam kedua, kawasan Senayan City tampak ramai dari biasanya. Pasalnya malam itu, parkiran depan pusat perbelanjaan itu dijadikan lokasi peluncuran sebuah merek otomotif di mana Dewi bersama Glenn Fredly dan Ruth Sahanaya tampil bersama.

Pukul 19.23

Sebelum manggung, Dewi asyik ngobrol dengan desainer muda Barly dan penyanyi solo Shanty di café Chatterbox.

Pukul 20.00

Acara pun dimulai, Dewi menuju panggung ditemani para model dengan menumpangi mobil seri terbaru dari Nissan. Sambil memperkenalkan produk otomotif berwarna maroon, Dewi menyanyikan dua buah lagu.

Pukul 20.45

Dewi mengakhiri unjuk kebolehannya di atas panggung dengan menyanyikan enam tembang hitsnya. [view]

Artikel ini ditulis pada April 2007 dan dimuat pada majalah VIEW edisi Mei 2007

Sehari Bersama Wulan Guritno

Di sela-sela kesibukannya main film dan sinetron, aktris cantik Wulan Guritno(26) tak lupa dengan jadwal latihan Thai boxing. Olahraga yang digemari banyak kaum adam ini tak membuat Wulan merasa risih menjalaninya. “ Nggak tahu kenapa aku mulai suka Thai boxing. Awalnya sih ikut-ikutan sama pacar, lama-lama jadi kesemsem juga,”kata wanita blasteran Jawa-Inggris yang mengaku belum genap sebulan latihan Thai boxing.

Mungkinkah olahraga ini dipilih Wulan terkait dengan perannya dalam film action Borobudur dan Misteri Gunung Berapi? “Nggak juga. Tapi aku lebih suka memerankan adegan yang cukup menantang dari pada memanfaatkan stuntman. Mudah-mudahan aja dengan latihan ini, bisa banyak membantu di lapangan,”jelas Wulan yang berperan sebagai pendekar dalam kedua film tersebut.

Yuk…ikut Wulan ke lokasi Muay Thai Boxing Camp di Jalan Panglima Polim II/2, Jakarta Selatan dan simak gaya pemeran Sinta dalam Gie ini saat berlatih.

Pukul 10.10 WIB

Ditemani sang pacar, Adilla Dimitri, Wulan mulai berlatih boxing. Meski hanya mengenakan t’shirt putih dan celana training hitam, ia tampak cantik.

Pukul 11.00 WIB

Wulan minta waktu istrahat sejenak. Sambil duduk di pinggir ring, ia asyik ngobrol dengan pacarnya dan sibuk mengirim sms. “Kebetulan aku kan males ke gym. Dulu sih aku pernah ikut art of combat dengan Sonny Lawalni, tapi akhirnya vakum dan bubar. Nah, pas lihat pacar belajar tinju, ternyata enak juga. Ya sudah, aku ikutan aja,”kata Wulan.

Pukul 12.00 WIB

Wulan pamit ke salon Lu Tu ye, di kawasan Senopati, Jakarta Selatan. “Nggak usah di foto ya, ini urusan perempuan,”pinta Wulan yang ingin tampil cantik sebelum makan siang bareng teman-temannya.

Pukul 15.00 WIB

Dari salon, Wulan meluncur ke pusat perbelanjaan Senayan City di kawasan Senayan, Jakarta Selatan. Bersama teman-temannya, ia memilih Little Takigawa, restor ala Jepang miliknya.

Pukul 17.00 WIB

Wulan pamit pulang ganti baju. “Kita ketemuan lagi ya nanti di Bellagio, Kuningan. Aku ada janji dengan Om Deddy di sana,”kata Wulan.

Pukul 19.30 WIB

Wulan berada di Gingerepublic, resto bernuansa China modern yang berada di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Di sini, Wulan ditemani Deddy Mizwar menyantap hidangan, sebelum pengambilan Naga Bonar (Jadi) 2. Tak lama berselang, para pendukung film yang baru saja dirilis akhir bulan lalu itu berdatangan, seperti Tora Sudiro, Michael Mulyadro dan Lukman Sardi serta Kafie Kurnia. Malam itu, Wulan tampil anggun dengan gaun malam.

Pukul 20.30 WIB

Usai bersantap makan malam, Wulan ditemani Adilla ngobrol dengan para kru film sambil menyaksikan trailer dari Naga Bonar (Jadi) 2. Satu persatu para pemain utama film ini bercuap-cuap di depan kamera, menceritakan pengalaman mereka selama syuting berlangsung.

Pukul 21.00 WIB

Wulan dijemput putrinya Shaloom. “Dia memang aku minta nyusul ke sini. Biar ada yang temani ke ultah mbak Gea Sukasah,”jelas Wulan. [view]

Artikel ini ditulis pada maret 2007 dan dimuat di majalah VIEW edisi April 2007

Sehari Bersama Agus ‘Ringgo’ Rahman

Ringgo adalah nama lain dari Agus Rahman. Aktor pendatang baru yang namanya tenar lewat film Jomblo –yang kini diangkat dalam serial TV, makin ngetop saja. Apalagi, ia berhasil meraih piala Vidya lewat Ujang Pantry 2 sebagai Aktor terbaik. Ringgo lagi-lagi membuktikan kepaiawannya berakting.

Namun, meski sudah beken, lelaki kelahiran Bandung, 12 Agustus 1982 ini, mengaku dirinya tetaplah sosok lelaki sederhana dan tak mau neko-neko. “Hati kecilku tak ingin apa-apa. Hidup apa adanya ajalah…. Nggak ada obsesi yang muluk-muluk,’’ kata Ringgo di sela-sela obrolannya di lokasi syuting Jomblo versi serial televisi produksi Sinemart di kawasan Depok. Manhattan beruntung bisa ngobrol asyik dengan Ringgo selama hampir enam jam, dimulai dari tempat tinggalnya di Apartemen Taman Rasuna, Jakarta.

Pukul 10.00

Pihak keamanan apartemen mengizinkan kami masuk, menuju ke lantai 17, kamar Ringgo. Hanya sekali ketuk, Ringgo membuka pintunya lebar-lebar. “Yuk…masuk, santai aja ya..,” katanya ramah. Terdengar, alunan musik yang diputar lewat Hi-Fi. Seperti biasa, Ringgo tak kikuk ngobrol dengan kami dengan bertelanjang dada. “Ini khas gue, nggak apa ya. Kan udah pada tau, gue suka gerah.”

Obrolan basa-basi pun tak berlangsung lama. Soalnya, Ringgo juga siap-siap menuju lokasi syuting. Ia mulai sibuk berkemas. Masih bertelanjang dada, Ringgo menyempatkan menyulut sebatang rokok sambil bercerita tentang kesibukannya semalaman. “Sorry, gue baru bangun. Semalam baru nyampe jam 3 pagi, dan belum sempat beres-beres, gue langsung tidur. Untung tadi ditelepon, kalau tidak bisa sampe siang tidurnya,” ucapnya panjang lebar.

Tampaknya, kondisi tubuh Ringgo kurang fresh. Walau mengaku sudah mandi pagi, wajahnya masih kusam. Tapi ia santai saja menjawab beberapa pertanyaan kami seputar kesibukannya. Sambil memasukan beberapa barang ke travel bag hitamnya, Ringgo ngobrol tentang kondisi kamarnya yang baru dihuni beberapa bulan silam. Ketika disindir tentang Piala Vidya yang diraihnya – kebetulan piala itu teronggok begitu saja diatas meja bersama foto kecilnya, Ringgo hanya cecengesan. “Wah, gue nggak mau komentar deh soal FFI. Wong piala ini kan beda dengan piala Citra, bener kan?” selorohnya.

Setengah jam kemudian, Ringgo dan kami pun keluar dari kamar menuju tempat parkir. Saat menyusuri basement tempat mobil Hyundai-nya diparkir, Ringgo bilang, semua yang dijalaninya ini, semata-mata untuk tetap bisa bertahan hidup. “Nggak ada niat jadi orang kaya deh, kalo terjun di dunia entertainment seperti ini. Kuliah aja belum selesai. Gue hanya nggak mau nyusahin orangtua yang cuma pensiunan. Tapi gue tetap bertekad harus lulus kuliah,” papar mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Parahiyangan Bandung, angkatan tahun 2000 ini.

Pukul 10.38

Setelah bicara sebentar dengan manajernya, Rommy, Ringgo meluncur ke lokasi syuting di kawasan Depok. Ia nyetir sendiri. “Nggak lucu kalo pake sopir.” Dengan kecepatan 80 km per jam, kami menyusuri jalan Rasuna Said. Sambil nyetir, Ringgo cerita tentang pengalamannya saat syuting iklan rokok yang baru saja dijalaninya. Katanya, ada seorang talent yang sebelumnya sangat dihormati dan disegani, ternyata menyimpan dusta. “Gila, emang jaman udah edan ya,” umpatnya.

Tak lebih 20 menit, mobil melaju masuk pintu tol dalam kota. Obrolan kami terhenti sejenak, karena ponsel Ringgo berdering. Hingga menjelang pintu tol Tanjung Barat, Ringgo baru menyudahi obrolannya dengan si penelepon. Katanya sih, dari mantan kekasih. Mobil pun menyusuri jalan Lenteng Agung, Ringgo cerita soal kariernya yang berawal dari penyiar radio di Radio OZ, tahun 2003 di kota Bandung. “Baru 2005, gue ikut main di film Jomblo dan sampai sekarang gue ngejomblo lagi,” ucapnya terbahak.

Masih ngobrol, ponsel Ringgo berdering lagi. Sang penelpon mengabarkan jika Ringgo diminta untuk ikut main film layar lebar lagi. Wajah nya tampak sumringah. Spontan, ia menjabat erat tangan kami. “Wah makasih banget, majalah Manhattan bawa rejeki buat gue,” katanya senang.

Rupanya Ringgo diminta untuk ikut bermain dalam film komedi. Sayang dia belum tahu judul filmnya. Dia teringat, saat memakai kaos warna hitam, sempat terbalik. “ Katanya kalo kebalik, mau dapat rezeki nomplok. Boleh juga.” Memasuki jalan Margonda Depok, tiba-tiba Ringgo bertanya soal billboard yang terpampang dipinggir jalan, menampilkan sosok pria tak dikenalnya namun bertulis ajakan untuk membayar pajak. “ Nggak nyambung gitu, antara gambar dengan tulisan ya.”

Pukul 11.38

Ringgo mengajak kami mampir di sebuah rumah makan padang Simpang Raya, di sisi kiri jalan. Ringgo memesan daging rendang untuk dibawa ke lokasi syuting. Disela-sela menunggu pesanan, Ringgo kembali berburu sebuah tabloid yang sejak tadi pagi dicarinya. Katanya, dia mejeng di sana, jadi kaver tabloid yang menampilkan personel pendukung film Jomblo. Akhirnya yang dicari-cari pun berhasil ditentengnya. Tak berapa lama, pesanan daging rendang berikut sayur daun singkong sudah siap dibawa.

Ringgo melanjutkan perjalanannya ke arah jalan Kamboja, di kawasan Depok Lama. Sepanjang jalan ini, tanpa sungkan, ia cerita tentang kisah asmaranya dengan sang pacar yang masih tinggal di Bandung. Katanya, dia merasa dikhianati oleh sang pacar. “Itu yang membuat kami putus. Tapi nggak usah bicara soalnya sebabnya ya,” pintanya

Kami pun mengalihkan pembicaraan, biar Ringgo nggak bete ingat ceweknya. Kali ini soal serial TV Jomblo yang masih dibintangi oleh pendukung di versi layar lebar sebelumnya. Menurut Ringgo, diantara pendukung serial TV ini, memang dialah yang menerima honor paling tinggi per episodenya. Wajar saja, namanya makin melejit setelah menerima Piala Vidya lewat Ujang Pantry 2 sebagai Aktor Terbaik. “Ya, walaupun gede, tapi baru cukup untuk beli satu motor aja,” ucapnya tertawa lebar.

Pukul 12.00

Mobil pun memasuki jalan Kamboja, tampak sebuah rumah tua peninggalan jaman dulu. Tampak ramai kru film Jomblo, mempersiapkan peralatan syuting. Ringgo memarkir mobilnya di sebuah lapangan, di belakang rumah tua itu. Tak lama kemudian, beberapa kru menyambutnya dengan ramah. Ringgo menebar senyumnya yang khas.

Sambil menentang tas dan bungkusan daging rendang kesukaannya, Ringgo menuju ke kamar ganti sambil basa-basi menyalami kru yang masih sibuk. Rupanya, Ringgo datang paling paling cepat dari pemain lainnya. Menurut salah seorang kru SinemaArt, pengambilan gambar baru akan mulai pukul 14.00 WIB. “Wah, baru jam 12 udah datang, rajin banget. Memangnya nggak dikabari, kalau syutingnya diundur dua jam lagi,” kata Yuda, asisten sutradara yang menemui Ringgo di ruang istirahat.

Tapi Ringgo cuek saja. Dia masih tampak lelah. Seperti biasa, Ringgo kembali melepaskan kaosnya. “Wuih, gerah banget. Sorry gue buka kaos lagi nih,” ujarnya sambil membongkar-bongkar isi tasnya. Ringgo kembali menuturkan kebiasaanya saat makan daging rendang, yaitu dengan dipotong-potong kecil lebih dulu. Kebiasaannya ini sudah berlangsung lama.

“Dulu, ibu gue kalau mau nyuapin adikku yang kembar, daging rendangnya dipotong-potong seperti ini. Lalu diaduk dengan nasi, baru dimakan. Hmm pasti enak banget deh,” kata Ringgo sambil memotong-motong kecil, daging rendangnya. Usai santap siang, Ringgo kembali menyulut sebatang rokok sambil menuturkan perjalanan karirnya di dunia hiburan, yang tak terpikir sebelumnya.

Pukul 13.00

Salah satu kru film menemui Ringgo dan menyerahkan skrip. Ringgo pun mulai membolak-balik skrip yang baru diterimanya, sambil menuju ruang make up. Setelah itu, dia berganti baju yang diberikan kru film. Tampak profesionalitas Ringgo dalam menjalani kariernya sebagai salah satu aktor dalam serial TV Jomblo ini.

Setengah jam kemudian, masih menenteng skrip, Ringgo terlibat diskusi serius dengan sutradara dan kru-kru film lainnya. Ditengah kesibukan kru film mempersiapkan pengambilan gambar, tak sungkan-sungkan Ringgo memberikan arahan-arahan pada pemain figuran yang bakal bermain bersamanya.

Pukul 14.00

Dengan mengambil setting sebuah warung nasi take pertama pun dimulai. Dalam scene itu, Ringgo digambarkan tengah mengamati rumah kost Lani yang diperankan Nadia Saphira. Sayang, saat pengambilan gambar itu, Nadia belum datang. Kendati Ringgo sudah berakting semaksimal mungkin, namun take itu, mau tak mau harus diulang lagi. Pasalnya, akting para figuran kurang mendukung. Sang sutradara pun meminta Ringgo untuk mengulangnya hingga lima kali shoot. Tak pelak lagi, pengambilan gambar dua scene ini memakan waktu hingga satu jam lamanya.

Kebersamaan kami akhirnya harus berakhir hingga pukul 15.30 WIB, karena pengambilan gambar selanjutkan, baru akan dimulai tengah malam, harus menunggu semua pemain hadir. Sekali lagi, kami berjabat tangan. “ Jangan lupa doian gue ya biar sukses..trims banget,” kata Ringgo. Kali ini dia tampak sungguh-sungguh dan tidak sedang bercanda. [view]

Artikel ini ditulis awal tahun 2007 lalu dan dimuat di majalah VIEW Edisi Februari 2007