Promosi Masjid?

Boleh dong promosi dikit tentang blog seputar keberadaan masjid yang saya hadirkan lewat wordpress ini. Dan sejatinya saya sekedar ingin berbagi informasi tentang masjid/musholah yang bertebaran di bumi Allah Subhanahu Wata’ala ini khususnya di negeri sejuta masjid, bernama Indonesia. http://masjid2masjid.wordpress.com yang hari ini sudah bisa dinikmati… selamat membaca.

masjid-ilustration1Wajar memang, jika negeri ini disebut-sebut sebagai negeri sejuta masjid. Pasalnya setiap sudut ruang kota hingga kampung dengan mudah fisik ‘masjid’ itu bisa ditemui. Termasuk musholah, sebutan lain dari masjid karena ukuran bangunan dan peruntukannya yang lebih sempit dibanding masjid tentunya.

Dan tak heran bila Indonesia dengan 240 juta jiwa penduduknya yang mayoritas beragama muslim membutuhkan keberadaan masjid/mushola itu. Dimana pun. Tak sebatas di pemukiman perumahan di kota maupun di kampung. Bentuk fisik masjid/musholah itu pun kini dapat ditemui di gedung perkantoran baik instansi pemerintah maupun swasta. Pun dengan di hotel biasa hingga berbintang lima. Terlebih di kawasan pusat perbelanjaan mulai dari pasar tradisional hingga yang modern, semisal mal, baik yang kelas bawah hingga kelas wahid. Meski keberadaanya terkadang banyak mengundang tanya. Termasuk saya, mungkin Anda juga? Ya, terkadang masjid/musholah itu dihadirkan dengan begitu ‘wah’ atau biasa-biasa saja. Bahkan ada yang ala kadarnya saja –yang penting ada.

Dari sinilah, sepanjang saya menyambangi baik dalam rangka menjalankan tugas atau sekedar jalan-jalan sebisa mungkin menyempatkan mengamati dan jika berkesempatan membidiknya sekedar untuk memperkuat gambaran yang ada. Jadi apa yang saya gambarkan dalam setiap kesempatan menyambangi masjid/mushola yang dimaksud adalah hanya sekedar pendapat pribadi saya. Mohon maaf jika tidak berkenan. Dan saya akan sangat berterima kasih bila ada pihak-pihak yang berkepentingan dalam hal ini sudi untuk mengkonfirmasikan bila ada sesuatu yang salah dalam beberapa tulisan seputar masjid/musholah yang di maksud.

Tulisan seputar masjid/musholah itu saya tulis sejak awal 2006, khususnya musholah yang ada di sekitar hotel, gedung dan mal. Dimana sebelumnya saya posting/publish di blog pribadi berjaringan Multiply.com dengan alamat http://hayat.multiply.com tentunya redaksi di blog ini sedikit ada perubahan sekedar untuk menyesuaikan situasi dan kondisi yang ada. Dan hal itu saya pertegas kembali dengan membubuhi catatan di akhir tulisan.

Advertisements

Perempuan Berkalung Sorban

Lagi, film drama bernuansa islam dengan setting sebuah pondok pesantren segera edar besok, Kamis (15/1) di seluruh bioskop nasional. Film bertajuk Perempuan Berkalung Sorban besutan Hanung Bramantyo ini diangkat dari novel karya Abidah El-Khalieqy.

Di film produksi Starvision ini, sepertinya Hanung hendak mengulang suksesnya ketika membidani Ayat-Ayat Cinta. Dengan setting kehidupan pondok pesantren di Jawa Timur –yang boleh dibilang masih memegang ajaran salaf– itu menggambarkan perjuangan sesosok ‘perempuan’ yang masih dianggap makhluk kedua. Sosok perempuan itu bernama Annisa yang dibawakan secara apik oleh Revalina S Temat, yang mencoba bangkit dari kekangan aturan keluarga yang menjadikan gengsi agama sebagai tameng. Meski pada kenyataannya segala aturan itu akhirnya mendapatkan perlawanan dari kaum perempuan yang ingin bebas dalam menentukan pilihan. Dan memang itu yang mereka cari, meski belum mengetahui secara benar hak dan kewajibannya yang sejatinya telah diatur dalam ajaran agama itu sendiri (baca: Islam).

Secara garis besar sinopsis film bersetting era 80-an hingga 90-an ini pada awal cerita berusia 10 tahun diperankan oleh Nasya Abigail hanya ingin belajar naik kuda seperti kedua saudara laki-lakinya. Tapi dia dilarang oleh kedua orang tuanya. Kenapa? Karena dia seorang perempuan.

Keluarga Anissa memang bukan keluarga biasa. Ayahnya adalah Kyai Hanan (Joshua Pandelaky), pemimpin pesantren salaf Al-Huda yang keras hati. Pesantren salaf adalah pesantren tradisional yang menjalankan ajaran agama Islam berdasarkan kepada bagaimana para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjalankan ajaran agama ini. Karena merekalah generasi yang langsung bertemu dengan Rasul, menyaksikan langsung peristiwa turunnya firman Allah Subhanahu Wata’ala dan mendapat didikan langsung dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sedangkan ibu Anissa, Nyai Muthmainnah (Widyawati), adalah seorang istri yang sangat patuh pada suaminya serta sangat mengabdi kepada keluarga.

Anissa tak pernah merasa nyaman dengan lingkungan keluarga. Dia selalu merasa disisihkan karena dia adalah perempuan. Untungnya ada satu orang yang sangat mengerti kegelisahan Anissa yang keras kepala. Mau mendengarkan keluh kesah Anissa dan mau mengajari Anissa naik kuda. Namanya Khudori (Oka Antara yang pada awal ceritera berusia 18 tahun diperankan oleh Aditya). Dia adalah seorang lelaki cerdas, berpikiran terbuka dan kebetulan adalah keponakan dari Nyai Muthmainnah. Namun perlindungan Khudori tak berlangsung lama. Khudori pergi ke Al-Azhar Kairo untuk melanjutkan kuliahnya di sana. Meninggalkan Anissa sendirian.

Tujuh tahun kemudian, Anissa yang berusia 17 tahun tak tahan lagi dengan kehidupannya yang mengikat dan tak adil kepada perempuan. Dia memutuskan untuk melamar beasiswa di sebuah universitas Islam di Jogja. Anissa memutuskan untuk memperjuangkan kebebasannya. Tapi garis hidup membawa Anissa ke dunia yang lain. Dunia pernikahan. Dunia yang dia harap dapat membawa kebebasan tapi sebaliknya bersama Samsudin (Reza Rahadian) yang ada hanya kekerasan dan penekanan atas keberadaannya sebagai perempuan.

Sementara itu ternyata Khudori kembali datang untuk Anissa. Tapi kali ini bukan dia yang bisa menolong Anissa. Tapi Anissa sendiri. Perjuangan Anissa ternyata tak semudah yang dia kira. Untuk mendapatkan kebebasannya dia tak hanya harus melawan keadaan tapi juga melawan dirinya sendiri.

Nah… dari pada penasaran mending nonton sendiri aja deh… film ini baru edar Kamis (15/1) besok. Soale film ini saya tonton saat preview kemarin di PH Gatsu. Selamat menonton….
Selamat buat Abidah El-Khalieqy
Selamat dan Sukses buat Hanung dan Parwez…

Majelis Ta’lim Al-Ittihad, Merajut Hati dalam Persatuan

Kesadaran umat akan ajaran agama, dewasa ini memang mengalami pergeseran, baik secara pemikiran maupun penerapannya dalam kehidupan. Tentunya ini memberi warna tersendiri bagi kehidupan beragama, khususnya agama Islam. Bahkan jauh sebelum hal ini terjadi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun telah memprediksikan bahwa perbedaan adalah rahmat. Dan memang sejatinya dengan perbedaan itu memunculkan khazanah kehidupan masyarakat yang sebenarnya. Terlebih di wilayah Indonesia dengan beragam suku, agama, ras dan budaya.

Malah, berangkat dari perbedaan suku dan budaya itulah, di negeri ini banyak ditemui beragam pemikiran atas ajaran agama. Tak hanya di perkotaan, di perkampungan pun kini dengan mudah ditemui. Namun, terkadang perkembangan pemikiran ini pula yang menjadi kekhawatiran tersendiri akan adanya pergeseran dan atau bahkan penyelewengan ajaran. Dengan kata lain, lewat ayat-ayat Al-Quran, dan sunnah Rasul segala sesuatunya menjadi digampangkan tanpa merujuk sumber yang menjadi rujukan.

Di sisi lain, pergeseran gaya hidup masyarakat yang kian menjauhi rasa kebersamaan (baca: jamaah) dalam taraf yang memprihatinkan. Terlebih di kota-kota besar atau daerah-daerah penyanggahnya yang tak terlepas dari pengaruh tersebut. Apalagi kini, urbanisasi yang terus meningkat. Maka mau tidak mau, masyarakat pun harus berbaur menyatu dengan ragam suku dan budaya negeri ini. Dari sanalah muncul perbedaan atau persamaan diantara kaum urban dengan penduduk asli. Tak pelak perbedaan sering menimbulkan gesekan-gesekan sosial. Meski memang tak sedikit pula persamaan-persamaan yang akhirnya menyatukan segala keinginan dan tujuan.

Sebagai contoh, ketika seseorang meninggal dunia, ada kalangan yang menerapkan ‘tahlilan’ sebagai bentuk doa pengharapan orang-orang yang ditinggalkan. Mulai dari keluarga, sanak famili hingga tetangga. Bisa jadi kegiatan ini berlaku di suatu daerah atau hanya sebagian. Dan faktanya, di Kampung Buaran khususnya di RT 004/02 dan sekitarnya kebiasaan ini telah berlaku sejak dulu. Sehingga para pendatang pun tak sungkan-sungkan untuk ikut serta.

Tentu saja dari pertemuan itu memberikan nilai tersendiri bagi keluarga maupun tetangga yang hadir. Tidak saja ikut berbela sungkawa, tapi ikatan silaturahmi sebagai umat manusia pun kian erat. Pun dengan kegiatan itupula, seseorang yang ikut serta paling tidak akan mendapat ‘peringatan’ bahwa dirinya pun akan ‘segera menyusul’ menghadap sang Khalik.

Suatu ketika, di awal tahun 2004, di sela-sela tahlilan –yang memang kerap dijalani oleh warga Kampung Buaran ini— di rumah salah satu warga yakni keluarga Bapak Midjo (almarhum), tampak tetangga yang hadir kala itu berbincang-bincang seputar ‘keberagaam’ mereka selama ini. Sadar akan kekuaran dan merasa haus dengan spiritualitas, warga pun akhirnya larut dalam perbincangan ini. Pada akhirnya, pembicaraan pun bermuara pada keinginan bersama untuk kumpul duduk bersama ‘mengaji’ meski usia telah lanjut. Terlebih, di pemukiman yang diapit oleh dua komplek perumahan itu boleh dibilang baru beberapa orang yang menggelar aktivitas keagamaan selain ‘tahlilan’ dan peringatan hari besar.

Gayung pun bersambut, para pemuka masyarakat bersatu untuk mewujudkan keinginan mereka untuk sekedar mengingat kembali atau bahkan belajar dari awal tentang agama meski hanya seminggu sekali. Diantara yang hadir saat itu adalah H Akhmad Mualif, Amat Kamjani, Syahrul, Syahroni, Subagyo, Fendri Maksuli Asir, Tumadzir Alhamzah dan Ustadz H Basyron –salah satu guru ngaji yang senantiasa memimpin kegiatan tahlilan yang dimaksud— serta almarhum Midjo selaku tuan rumah. Dari sanalah akhirnya lahir kesepakatan untuk mengaji bersama dengan system bergilir dari rumah ke rumah. Meski memang akhirnya untuk beberapa pertemuan disepakati menempati Mushollah Al-Amanah yang berada tepat di depan rumah keluarga Amat Kamjani.

Di itu pula akhirnya disepakati pengajian yang mereka gelar itu dengan nama Al-Ittihad. Menilik dari arti kata Ittihad dalam kamus bahasa Arab berarti persatuan. Maka lahirlah Majelis Ta’lim Al-Ittihad. Nama tersebut dianggap cocok dan mewakili kondisi sosial budaya Kampung Buaran RT 004/02 yang notabene banyak dihuni para pendatang. Dalam kesempatan itu pula, jamaah pun secara aklamasi memilih H Akhmad Muallif untuk memimpin majelis yang baru saja dibentuk itu. Tidak lama kemudian, kaum ibu pun membentuk majelis bernama Majelis Ta’lim Al-Mubarakah.

Seiring berjalannya waktu, pengajian yang digelar Majelis Ta’lim Al-Ittihad pun tak ubahnya dengan pengajian-pengajian di tempat lainnya. Pasang surut aktivitas mewarnai dalam perjalanannya hingga sekarang.  Dari rumah ke rumah, dari musholah ke musholah yang berpindah tempat hingga kini masih dijalani. Meski kini telah berdiri sebuah mushollah wakaf dari seorang dermawan.

Awalnya memang, Majelis Ta’lim Al-Ittihad kerap mendatangkan ustadz ‘pengajar’ dari luar. Namun setelah urun rembug, maka ada baiknya memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan. Di mana ada beberapa pendatang yang boleh dibilang memiliki kemampuan agama. Maka tampilah beberapa sosok warga untuk mengisi acara pengajian ini, diantaranya H Akhmad Mualif, Tumadzir Alhamzah, dan ustadz Ali Imran. Seiring dengan itu pula, kaum ibu-ibu pun tidak mau kalah ketinggalan dengan kaum bapak dalam hal agama.

Pengajian Majelis Ta’lim Al-Ittihad pun pernah membangun sebuah ‘musholah panggung’ dengan menempati tanah milik seorang warga bernama Arifin. Ya, disebut musholah panggung karena bangunannya mirip rumah panggung. Bangunan fisik mushola panggung berbahan kayu pun berdiri dengan nama Baitul Arifin. Karena satu dan lain hal, mushollah panggung ini sempat berpindah tempat. Hingga suatu ketika kendala ini terdengar oleh seorang muslim yang dermawan dan peduli akan permasalahan umat.

Awal 2008, adalah tahun yang memberikan kebahagiaan tersendiri bagi warga sepanjang jalan pembangunan. Pasalnya, penantian mereka untuk memiliki musholah yang ‘refresentatif’ sebagai tempat ibadah dan silaturahim antar warga akhirnya terwujud. Mushollah Baitul Arifin yang sebelumnya menempati lahan kosong milik keluarga Arifin kemudian pindah tempat di lahan milik pengusaha gas Elpiji akhirnya sesuai kesepakatan diratakan dengan tanah. Sebagai gantinya, berdirilah mushollah yang dengan fasilitas lengkap. Tidak hanya itu mushollah bernama As-Salamah –nama ini diambil dari nama pewakaf— dilengkapi dengan bangunan yang diperuntukan sebagai lembaga pendidikan yang dikelola oleh Yayasan Khadijah Aisyah. Lembaga pendidikan ini memang didirikan untuk membantu kaum dhuafa di sekitar Kampung Buaran.

Kini, kegiatan Majelis Ta’lim Al-Ittihad, selain menyambangi rumah warga –yang memang mengundang secara khusus— setiap pekannya menggelar pengajian di Mushollah As-Salamah. Pun dengan pengajian ibu-ibu yang tergabung dalam Majelis Ta’lim Al-Mubarokah. Bahkan kaum remaja pun ikut meramaikan syiar Islam dengan membentuk pengajian kaum remaja dengan nama Ikatan Remaja Mushollah As-Salamah (IRMAS).

Tentunya, segala aktivitas dari majelis ini akhirnya sering berjalan bersama, seiring dengan adanya keinginan bersama untuk memakmurkan dan mensyiarkan Islam di Kampung Buaran. Tidak hanya itu, berbagai upaya –tidak melulu yang berbau agama— dilakukan bersama. Salah satunya adalah kini tengah dirintis usaha bersama dalam rangka pemberdayaan ekonomi umat. Usaha yang tengah dijalankan adalah penyediaan sembako semisal Beras,  Air dalam kemasan (galon dan gelas/botol) dan Gas Elpiji. []

Sususan Pengurus Majelis Ta’lim Al-Ittihad
Pendiri:
–    H Ahmad Muallif               – Suparmin
–    Fendri Maksuli Asir         – Roni
–    Tumadzir Alhamzah        – Syahrul
–    Amat Kamjani                   – Subagyo
–    H Basyron                           – Midjo (Almarhum)

Pembina:
–    Djainudin Nasib
–    Ali Imran, SQ, S.HI
–    Ketua RT 004/02

Pengurus Harian:
Ketua             : H Ahmad Muallif
Sekretaris    : Fendri Maksuli Asir
Bendahara   : Tumadzir Alhamzah
Bidang Kesejahteraan dan Sosial          : Agung
Bidang Pendidikan dan Pembinaan     : Suratman
Bidang Humas dan Syiar                          : Hayat FR

Artikel ini ditulis untuk keperluan profil Al-Ittihad atas permintaan pengurusnya.

Catatan Akhir Tahun: Panggung Fashion Sepanjang 2008

Gaya busana selalu mewarnai perjalanan hidup manusia. Mau tidak mau, suka tidak suka gaya hidup kaum metropolis negeri ini kian gaya bahkan terus mewabah dan diminati. Bahkan tren yang terjadi di dunia Barat sana yang menjadi kiblat mode, bisa dinikmati pula di sini. Beragam koleksi ’dunia’ pun banyak terpajang di depan mata. Seakan tak mau kalah, desainer lokal pun terus berkreasi membius para fashionista.

Lantas apa saja sepak terjang para desainer dan brand-brand dunia yang menjadi tren sepanjang tahun 2008 –yang segera akan kita tinggalkan. Paling tidak, inilah catatan kami seputar tren fashion yang terjadi di Tanah Air, dari panggung ke panggung.

Di awal tahun, industri mode diramaikan oleh desainer Tina Andrean, lewat tema Tale of Love, yang menawarkan romantisme jaket pengantin nan anggun bagi pasangan yang hendak melangsungkan pernikahan di tahun 2008. Ya, tentunya jaket yang dimaksud bukan sembarang jaket. Jaket cantik yang begitu romantis bak puteri raja di abad ke-18. “Saya ingin mengusung sesuatu yang baru untuk busana pengantin internasional. Selama ini kita tahu bahwa jaket lebih sering dipakai untuk acara santai. Namun saat dipadukan dengan gaun pengantin, ternyata jaket pun mampu menghadirkan kesan sakral,” tutur Tina.

Sebanyak 24 rancangan yang terbagi 4 sekuen yakni Glamourous Evening, Elegant Simplicity, Romance of Princess dan Tale of Love. Terdapat permainan penataan bordir, lace dan kristal yang ditata secara apik dan smart mampu menghilangkan kesan heavy dan full. Dan Tina pun tetap menghadirkan gaya super feminin, romatic dan light sebagai ciri khas rancangannya. Hasilnya, rupanya sepanjang tahun 2008 tak sedikit yang kepincut dengan inovasinya itu. Dan di penghujung tahun ini pun, lagi-lagi Tina menawarkan koleksinya terbarunya bertajuk The Royal Heritage untuk tahun 2009.

Lalu ada Ari Seputra, desainer muda lulusan Ecole de Superieure des Arts et Techniques de la Mode (ESMOD), Paris yang menerapkan seni mosaik –yang terangkum dalam Enchanting Mosaic— hadir sebagai koleksi 2008. koleksi ini mampu memadukan berbagai unsur busana dan kerajinan Asia yang menghasilkan koleksi busana yang cantik, ringan, kaya akan motif, nyaman dan berdaya pakai.

Motif tambal-tambalan (patchwork) batik Indonesia, corak awan-awanan Korea sampai bunga chrysant pada kimono Jepang diterjemahkan kembali lewat teknik sulaman, jumputan serta batik cap dan batik air brush ke dalam karya. Pun pada gaya hanbok, busana tradisonal Korea, kimono Jepang dan kebaya Indonesia diolah dalam gaya busana trendi masa kini. Ari pun menyebut koleksi ini sebagai koleksi prêt a porter deluxe, karya busana siap pakai eksklusif, dengan tetap mengutamakan kenyamanan, ringkas, berdaya pakai dan berkualitas.

Tahun 2008 pun berhasil menampilkan batik sebagai produk fashion yang paling diminati. Terlebih setelah adanya klaim dari negeri tetangga atas kain tradisional warisan leluhur ini. Seiring dengan itu, anggapan bahwa batik itu eksklusif dengan harga fantastis dan hanya pantas dikenakan orang tua, mulai sirna. Ragam motif dan inovasi dalam dunia seni lukis kain terus bermunculan.

Brand lokal sekelas Allure –yang terus berkreasi di dunia batik— memperkenalkan busana batik khusus anak-anak lewat label Allure Kids dengan desain yang simpel namun penuh gaya dan warna. Lewat rancangan yang segar, khas anak-anak dan jauh dari kesan miniatur gaun sang ibu. Kehadiran koleksi sebanyak 20 rancangan ini tentu sebagai bentuk jawaban akan keinginan para pecinta batik untuk mendapatkan baju batik bagi si buah hatinya.

Perjalanan karir seorang desainer memang memberi makna tersendiri. Salah satunya, Biyan yang telah malang-melintang selama 25 tahun di dunia mode merangkumnya dengan merilis koleksi refleksi bertema Paradise yang diklaim begitu Indonesia. Menggunakan pola adaptasi dari teknik baju kurung, baju Bodo dan dipadu baju Kimono. Pun dengan permainan volume, draping (teknik melilitkan kain pada tubuh), atau teknik pelintir menjadi istimewa karena prosesnya dipetakan langsung pada tubuh wanita asli.

Dan di tahun ke-25 itu, sepertinya Biyan melakukan perubahan ‘haluan’ yang tak lagi focus pada sesuatu yang gemerlap, tetap berpegang pada prinsip yang subtle dan naif. “Pengaruh unsur tribe, alam tropis dan kultur justru banyak menghasilkan aplikasi detail warna terang, seperti orange, langoustine atau merah. Hasilnya, selain chunky, playful dan naif, juga terkesan rich dan glamor,” aku desainer kondang ini.

Tampil beda pun ditunjukkan oleh Arantxa Adi yang dikenal sebagai desainernya para selebritas. Dalam rangka merayakan satu dekade, Arantxa menampilkan koleksi Contrast-nya yang tidak lagi ringkas dan sederhana. Desainer yang dikenal dengan garis rancangan yang simple dan sophisticated itu, rupanya mulai bergeser dengan cutting yang lebih bermain. “Sesuai temanya Contrast, koleksi kali ini benar-benar berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Garis rancangan saya yang dulu feminin, simpel, dan elegan. Sekarang saya bermain-main dengan cutting dan pola,” kata Acong sapaan desainer muda yang meluncurkan 80 busana wanita dan 12 busana pria pada tahun ini.

Hari bahagia pun menjadi inspirasi para desainer untuk meluncurkan rancangannya. Adalah desainer Didi Budiardjo merasa terusik ketika momen bahagia itu menjadi biasa-biasa saja. Ya, di mata desainer ini sepertinya para orang tua kurang memperhatikan buah hatinya untuk bisa tampil menarik. Lewat tema Paramour, Didi pun menawarkan koleksi dengan kesan elegan, feminin dan klasik untuk seluruh anggota keluarga.

Koleksi yang terinspirasi dari elegansi busana ala couture Paris ini, tak sekadar memperlihatkan 46 gaun wanita dewasa, tetapi juga ada 20 gaun anak-anak dan remaja. Dan inilah yang disebutnya sebagai koleksi lengkap untuk keluarga di hari bahagia. “Bagaimanapun anak-anak juga mempunyai kesempatan yang sama untuk tampil menarik di hari bahagia,” katanya.

Beberapa desainer pun mencoba tampil beda meski sejatinya kesan yang sebelumnya menempel itu tak bisa hilang begitu saja. Sebut saja, Sebastian Gunawan yang mencoba menampilkan kesan Innocence dalam salah satu peragaannya Essence of Innocence bersama Cristina Panarese. Kesan mewah dan glamour tetap menguat pada rancangannya, karena desainer ini menggunakan bahan seperti lace, organdi, sifon, taffeta satin, organsa, sutera Thailand, Shantung sutera, Sutera duchess dan damas.

Sementara di tengah gencarnya tawaran aneka busana dari barat, pamor kain songket tetap memikat. Dan Zaenal Songket, rumah mode khusus songket berhasil memberi sentuhan yang lebih modern, chic dan tetap trendi. Songket pun tampil begitu dinamis dipadukan dengan kebaya-kebaya modifikasi yang cantik. Bahkan songket pun direka dalam siluet ramping dan sentuhan etnik menjadi gaun-gaun malam yang dipadukan dengan kain tile, chifon dan lacee serta brokat yang dipercantik dengan taburan dan susunan payet dan mote.

Brand Dunia di Pasar Dalam Negeri

Anggapan kuat jeans forever in style di dunia fashion pun tak sekedar trik dagang saja. Buktinya, pakaian yang sempat menjadi simbol pemberontakan itu tetap digemari. Tak heran bila, para desainer dari rumah mode kelas dunia tetap mengambil manfaat dari pamor jeans. Memasuki tahun 2008, brand fashion khusus jeans, Guess kembali mengangkat jeans lewat kampanye Denim is Back. Dengan menggandeng Claudia Schiffer dan Laetitia Casta sebagai icon-nya, Guess mempopulerkan high waist denim, tube dress, jump-suit hingga aksesoris, mulai dari footwear, handbags hingga fedora hat.

Pemain lokal pun seakan tak mau kalah pamor. Brand Lea menghadirkan label Lea, Amco dan BabyLea pada akhir Mei lalu. Ragam koleksi seperti Comfort, Straight Leg, Regular, Bell Bottom, Boot Cut, Skinny, Short, Low Rise, Bumster, Basic Five Pockets, Weist Less, Overall, Cargo Pocket dan Casual hadir dengan kesan ringan, modern, eksklusif serta nyaman dikenakan.

Kala memasuki musim semi, koleksi busana yang dengan warna-warna segar dan natural keluaran brand dunia Bebe, pun sepertinya diserbu fashionista. Koleksi yang hadir dengan aksen gelembung, lipatan serta kerutan konon dianggap mampu mengekpresikan jati diri penuh dengan gairah sepanjang musim. Selain itu, Bebe pun mengedepankan motif floral baik dalam gaun formal hingga pakaian santai. Meski sebagian besar dari koleksi ini bergaya retro –yang mengingatkan gaya dandanan klasik era 1970-an— dengan hadirnya ikat pinggang namun tetap tampak chic dengan sentuhan warna-warna cerah.

Nuansa baru ditampilkan brand asal London, Dorothy Perkins dengan koleksinya yang mencerminkan kepribadian wanita di segala usia. Variasi busana rancangannya cocok untuk setiap gaya hidup dan karakter individu yang berbeda-beda, namun tetap menjadi diri sendiri. Semua rancangan itu terangkum dalam koleksi dalam ragam tema seperti Gothic Glamour, Gothic Rock, Isn’t She Lovely, Edge of Love, Boho Rock, Romantic Rock, Military Rock dan Addicted to Love.

Koleksi yang ditawarkan label-label dunia memang begitu menggiurkan. Sebut saja tas tangan keluaran Loewe yang terinspirasi dari dunia pesta ala Spanyol yang penuh gaya. Koleksi berbahan dasar kulit yang lembut, halus dengan pilihan warna-warna cerah dan menyala seperti putih, taupe, stroberi dan kuning memang cocok di tenteng saat jamuan cocktail. Selain meluncurkan koleksi tas tangan, Loewe pun menawarkan koleksi aksesoris lainnya melengkapi keceriaan pesta. Salah satunya dompet yang terbuat dari kulit dengan warna-warna tegas seperti beige, kuning, oranye atau pink. Aksesoris tambahan ini dapat ditemui pada model Sangria, Tequila dan Mojito.

Dan sepertinya, anggapan Jakarta sebagai surga belanja, ada benarnya. Beragam brand internasional terus membanjir di kota ini. Jean Paul Gaultier, merek fashion asal Perancis itu hadir menawarkan busana-busana cantik dan berkelas tentunya. Dengan menempati area seluas 131,57 meter persegi di Plaza Indonesia kehadirannya, kian mengokohkan Plaza Indonesia sebagai mal yang ekslusif.

Pun dengan pusat fashion yang hadir di awal tahun 2008, Parisian Department Store yang terletak di Mall Taman Anggrek, Jakarta memberikan nuansa baru dalam dunia fashion. Publik Jakarta pun kian dimanjakan dengan hadirnya ragam koleksi pilihan dari brand-brand kelas dunia. Sebut saja, merek Van Laack, Joseph Abboud, Philosophy Men, Tony Jeans dan Levi’s hadir dengan gaya dan kesan yang begitu kuat. Selain itu beberapa koleksi rumah mode asal Korea, seperti It Michaa, Kenneth Lady dan Line, secara eksklusif hadir di Parisian. Masing-masing brand hadir menjawab kebutuhan fashion kaum wanita yang ingin tampil modern, anggun dan elegan.

Seiring dengan hadirnya pusat perbelanjaan kelas dunia, sejumlah pusat perbelanjaan yang ada, mulai bersolek. Adalah Pasaraya Grande yang sedikit tergeser pamornya mencoba bangkit kembali. Tak tanggung-tanggung, Pasaraya Grande menghadirkan butik d’Designers yang menyandingkan desainer dalam negeri dengan desainer mancanegara. Di butik itu sederet nama desainer kondang nusantara bersanding bersama dengan desainer mancanegara seperti Rococo, Populo, Sue Wong, Ave Verum, Giorgio Carelli dan masih banyak lagi.

Menjelang akhir tahun, merek fashion ternama asal Inggris, Next kembali membuka outlet baru di Skybridge level 1 Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta. Gerai Next –yang kesebelas di Indonesia ini— hadir dengan wajah baru lebih terang dan kontemporer. Pembuakaa gerai baru itu pun ditandai dengan menyuguhkan koleksi terbaru yang simpel namun elegan dengan dominasi warna-warna yang lebih gelap yang dipadu dengan warna-warna cerah, sehingga tetap lembut dan cantik.

Artikel ini ditulis dan dimuat di majalah VIEW edisi Desember 2008

Catatan 2008: Geliat Band Baru Di Panggung Musik

Kemunculannya bak jamur di musim hujan. Tembang yang dibawakan pun tak sekedar membius pecinta musik, tapi membuat sedikit ‘gelisah’ band-band yang lebih dulu eksis. Dan setelah bergerilnya di jalur indie, boleh jadi tahun ini menjadi tonggak kesuksesan. Fenomena ini dikuatkan dengan gencarnya perusahaan rekaman memperkenalkan band-band baru di waktu yang sama.

Ya, rasanya belum lama kuping pecinta musik Indonesia dimanjakan Letto, Naff, Kerispatih, Nidji hingga Samsons, kini telah hadir Vagetoz, D’Masiv, Kangen, The Changcuters, ST12, Juliette, Angkasa, Wali hingga Bonus. Di luar itu, masih ada pula sederet nama band yang dibidani personil band papan atas. Paling tidak, di bawah payung label besar, penampilan mereka di panggung musik tidak setengah-setengah.

Siapa yang tak kenal dengan Kangen Band. Meski terkesan ndeso, bahkan saat kehadirannya banyak menuai cercaan, band yang dikawal Dody (gitar), Andika (vokal), Tama (gitar), Lim (drum), Novry (bass), dan Izzy (keyboard) ini benar-benar ngangenin. Anehnya belum sempat merilis album, lagu-lagunya selalu diputar di lapak-lapak VCD dan CD bajakan. “Kami malah sering disebut band hantu, karena ada karya tapi bandnya sendiri belum ada albumnya,” sahut Dody.

Berawal dari menjadi pelangan juara festival musik di ‘kampungnya’ sebagai best vocal dan best song tahun 2005 silam, Kangen band akhirnya digandeng Warner Music Indonesia hijrah ke Jakarta. Lewat label ini akhirnya mereka merilis album utuh bertitel Tentang Aku, Kau dan Dia [2007] yang mengantarkan tembang Tentang Bintang dan Selingkuh menjadi hits yang populer di masyarakat. Pun ketika merilis album kedua bertajuk Bintang 14 Hari [2008] yang memuat lagu Doy, Bintang 14 Hari, Yolanda, Yakinlah Aku Menjemputmu, Cuma Kau, Sayang dan Tentang Jen masih mampu membius penikmat musik. Lewat album ini mereka kembali menampilkan unsur melayu dan mencoba mengeksplorasi unsur musik Jawa.

Kehadirannya memang begitu fenomenal. Album perdananya berhasil mencetak angka penjualan lebih dari 350 ribu kopi. Tidak hanya itu band yang dibentuk di Lampung pada tahun 2005 ini mengklaim telah mempunyai 472 stok lagu diciptakan mereka sendiri. Inilah pembuktian mereka tak sekedar fenomenal, tapi juga mencoba eksis di industri musik Tanah Air.

Sukses pun direngkuh band Angkasa yang masih dalam naungan label yang sama. Band asal Cianjur ini, melejit namanya lewat album pertamanya Jangan Pernah Selingkuh [2008] dengan judul hits-nya yang sama. Band yang berdiri pada 2004 ini pun awalnya sempat menerlorkan album jalur indie. Bahkan bajakan albumnya tersebar hingga ke Sumatera, Kalimantan dan Bali. Kelima personelnya yakni Ato (vokal), Anggi (drum), Teguh (gitar), Opick (bass), dan Denny (keyboard) sepakat untuk berada di genre rock meski materi album lebih banyak bertutur tentang pengalaman cinta.

Lalu ada Vagetoz, band lokal asal Sukabumi yang selalu menyambangi ajang festival ini akhirnya diorbitkan oleh Jan N Djuhana, Artist and Repertoir Sony BMG dalam sebuah festival. Band yang diawaki Teguh (vokal), Sony (gitar), Irman (gitar), Budi (bass) dan Rudi (drum) terbentuk pada tahun 1999 silam, namun baru awal tahun ini namanya meroket. Lewat tembang hits-nya Betapa Aku Mencintaimu, Vagetoz meraih sukses di blantika musik. Bahkan lagu ini telah berhasil menembus angka 5 juta lebih dalam bentuk Ring Back Tone (RBT). Sebuah dagangan baru di industri musik hasil kerjasama label dengan operator seluler.

Konon, sejak kemunculannya hingga digandeng Sony BMG, Vagetoz lewat album Sesuatu Yang Beda [2008], memposisikan diri sebagai band beraliran pop emotion. Dimana musik yang diusung adalah pop dengan melodi yang tidak rumit, dan lirik lagu yang lugas, apa adanya. “Setiap lagu yang dibuat sedapat mungkin dihadirkan sebagai ungkapan perasaan yang sesungguhnya. Makanya kita menyebutnya sebagai pop emotion,” jelas Teguh sang vokalis.

Masih di bawah bendera Sony BMG, ada The Changcuters, grup musik asal Bandung –yang awalnya bergerilya secara indie lewat Mencoba Sukses [2006]. Lantas lewat aksi mereka dalam sebuah iklan operator seluler mampu mencuri perhatian label sebesar Sony BMG untuk mengorbitkan dengan mengemas ulang album mereka menjadi Mencoba Sukses Kembali [2008] sekaligus main dalam film komedi The Tarix Jabrix.

Grup musik yang dibentuk pada tahun 2005 beranggotakan Tria (vokal), Qibil (backing vocal dan gitar), Alda (gitar), Dipa (bass), dan Erick (drum) ini memiliki strategi dagang unik. Dengan penampilan kostum seragamnya, The Changcuters hadir layaknya Rolling Stone meski harus mengenakan seragam seperti The Beatles. Dengan gaya ‘jadul’ inilah The Changcuters mampu membius tua, muda hingga anak-anak. “Kita pasti seragam terus biar nggak ada kesenjangan. Kaya miskin, jelek cakep semua sama. Tadinya mau seragam wajah tapi nggak bisa jadi baju sajalah,” seloroh Dipa sang gitaris.

Band pendatang baru yang mencoba peruntungan di bawah manajemen Musica Studio –yang berhasil mengantarkan Peterpan, Letto dan Nidji ke puncak industri musik— adalah D’Masiv. Band yang dibentuk pada tahun 2007 ini kian tenar setelah menjuarai ajang festival bertajuk A Mild Live Wanted di tahun yang sama. D’Masiv yang digawangi Rian (vokal), Riki (gitar), Rama (gitar), Rai (bass), dan Wahyu (drum) merilis album perdananya Perubahan [2008] dengan hits-nya Cinta Ini Membunuhku begitu populer di telinga masyarakat Indonesia.

Setelah sukses mengorbitkan band Ungu dan Naff, label Trinity Optima Production menjajal kemampuan band pendatang baru asal Bandung, ST12. Mereka tampil ke panggung musik nasional dengan mengusung aliran Melayu. Dibawah label ini mereka merilis album bertajuk Puspa [2008] yang diambil dari lagu andalannya Puspa. Dan ternyata, band yang didirikan pada tahun 2005 oleh Pepep (drum), Pepeng (Gitar), Charly (vokalis), dan Iman Rush (gitaris) ini melesat bak roket mengikuti pendahulunya. Bahkan pada pertengahan tahun lalu, band ini dinominasikan sebagai Grup Band Ngetop versi SCTV bersama Kangen Band, Peterpen, Radja dan Ungu. Meski penghargaan itu jatuh ke band Ungu yang seatap dengannya.

Pun dengan Nagaswara, label ini berhasil mengorbitkan band pendatang baru asal Jakarta, Wali. Grup band yang diawaki Faank (vokal), Apoy (gitar), Tomi (drum), Ovie ((keyboard dan synt), serta Nunu (bass), sempat mencuri perhatian lewat tembang hitsnya Dik dalam album debutannya bertajuk Orang Bilang [2008]. Tak sekedar lagu Dik, yang diandalkan Wali, beberapa single dalam album ini seperti Emang Dasar, Orang Bilang, Tetap Bertahan atau Egokah Aku, tak membuat pendengarnya mengernyitkan dahi.

Seiring dengan namanya yang begitu familiar, band ini pun langsung meroket. “Mengapa dinamakan Wali, karena mudah diucapkan. Sisi lainnya adalah kami, Wali dengan segala keterbatasan yang ada berharap bisa mewakili segenap perasaan dan curahan hati manusia,” jelas Apoy.

Rupanya, meningkatnya animo masyarakat terhadap musik lokal, membuat sebuah jaringan restoran cepat saji Kentucky Fried Chicken (KFC) menggelar festival band dengan menggandeng Music Factory Indonesia (MFI). Hasil dari ajang ini, munculah band pendatang baru yang tak bisa dianggap enteng. Sebut saja, Julliette yang melejit lewat tembang Bukannya Aku Takut –yang dipopulerkan pula oleh Mulan Jameela. Band dengan personil Zoe (vokal), Alex (gitar), Andi (gitar), dan Jerry (bass) lewat album Lagi Terluka [2007] akhirnya mampu tembus di angka penjualan di atas 75 ribu keping.

Sukses serupa diraih pula oleh jawara berikutnya dari ajang sejenis adalah Bonus. Boleh jadi, para awak band ini bukanlah muka baru di blantika musik Indonesia. Sebut saja, Bimo (drum), Willy (gitar), Epoy (bass), dan Anda (vokal) adalah nama-nama yang pernah mewarnai band sekelas Netral, Romeo, Julliette, dan Gamma. Tahun 2008 dijadikan tongkak bagi Bonus memanjakan penggemarnya lewat album Live Bonus [2008] dengan tembang andalannya Kurebut Hatinya Kembali. “Bonus itu bagi saya adalah band orang nekat untuk sukses,” tandas Anda.

Selain grup musik yang awalnya menempuh jalur indie seperti di atas, beberapa band yang dibidani para punggawa beberapa band kenamaan pun mencoba meretas karir di bawah bendera EMI Music Indonesia (EMI). Seakan ingin membuktikan diri sebagai musisi hebat, band Andra & The Backbone yang digawangi langsung Andra, personil Dewa 19 ini tampil sukses dengan sempurna lewat hitnya Sempurna dan Musnah dalam album Andra & The Backbone [2007]. Dua lagu itu dipopulerkan pula oleh Gita Gutawa dan Mulan Jameela. Band yang beranggotakan Dedi, Stevi dan Andra ini mengulang sukse kembali lewat tembang Lagi dan Lagi, Dan Tidurlah, Terdalam, Perih, dan Dengarkan Aku dalam Season 2 [2008].

Pun dengan The Titans, band yang dibentuk Andika (keyboard) dan Indra (bass) setelah didepak dari Peterpan, band yang melambungkan namanya. Dengan menggandeng Rizki (vokal), Onny (gitar), Tomtom (drum), dan Imot (synth & program), mereka menggebrak panggung musik lewat lagu Rasa Ini dan Bila dalam album The Titans [2007]. Dengan bernaung pada label EMI, band ini berhasil mencatatkan angka penjualan 150 ribu keeping hanya dalam waktu kurang dari 3 bulan.

Masih dalam label yang sama, band baru bentukan pentolan Dewa 19, Ahmad Dhani bernama The Rock pun ikut mencicipi peluang ‘gurih’ di industri musik dalam negeri. Lewat album Master Mister Ahmad Dhani I [2007] dengan lagu Munajat Cinta, Aku Bukan Siapa-siapa, dan Aku Cinta Kau dan Dia, The Rock membuktikan diri sebagai band yang diminati pecinta musik hingga kini, meski sering bongkar pasang personilnya.

Pada akhirnya, memang pasarlah yang akan menentukan seberapa kuat band-band pendatang baru itu bisa bertahan di tengah ketatnya persaingan industri musik. Pasalnya, berdasarkan data, dalam sebulan Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) merilis lebih dari 40 album.

Artikel ini ditulis dan dimuat di majalah VIEW edisi Desember 2008.