Bincang-bincang bersama Luna Maya

foto by fernandez view
foto by fernandez view

Model cantik yang juga bintang sinetron dan bintang iklan beberapa brand ternama ini, kerap menghiasi layar kaca. Tak hanya itu, gambar dirinya pun bertebaran hampir di setiap sudut keramaian kota Jakarta.

Ketenaran Luna makin bersinar. Sejak sukses berakting di film 30 Hari Mencari Cinta (2004) dan Brownies (2005), namanya kian terkenal. Terlebih ketika ia terpilih sebagai Bintang Lux pada 2006. Nama perempuan kelahiran Denpasar, 28 Agustus 1983 ini, terus berkibar lewat film-film layar lebar berikutnya. Bahkan lewat aktingnya di film Ruang (2006), ia masuk nominasi pada Festival Film Indonesia 2006, untuk kategori Pemeran Wanita Terbaik.

Aktris yang dikabarkan menjalin cinta dengan Ariel Peterpan ini, hingga kini sudah membintangi 13 judul film layar lebar. Dan perannya sebagai Selasih si Janda Kembang (2009) adalah film terakhir yang dibintangi bersama Agus Rahman Ringgo. Kini, saban pagi hari, Luna menyapa pemirsa lewat program acara musik bertajuk Dahsyat di RCTI, bersama Olga Syahputra dan Raffi Ahmad.

Selain kesibukannya di dunia hiburan, perempuan yang pada bulan Agustus mendatang, genap berusia 26 tahun ini, sibuk menjadi ikon beberapa merek global. Selain itu, sejak tahun 2007 lalu, Luna pun terpilih sebagai duta Word Food Program (WFP). Bahkan di program Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurusi perbaikan gizi anak, ibu hamil, balita, pembangunan sanitasi dan air bersih ini, Luna rela tak dibayar.

Kini, Luna sibuk mengembangkan bisnis di bidang fashion dengan membuka butik berlabel LM Hardware dan salon New Hair Glory di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Lantas, bagaimana perempuan blasteran Jawa-Austria yang memiliki tinggi badan 173 sentimeter ini menjaga stamina dan kesehatan tubuhnya. Berikut pengakuan Luna kepada VIEW tentang aktifitasnya dalam menjalani hidup sehat.

VIEW: Sebagai selebriti yang memiliki jadwal yang padat, apakah Anda menjalani pola hidup sehat?

LUNA: Memang, hampir sebagian besar masyarakat tidak menjalankan pola hidup sehat, termasuk para selebriti sehingga mudah terkena stress, stroke dan sebagainya. Untungnya, sejak dulu saya terbiasa menjalani pola hidup sehat  dengan olahraga teratur dan mengkonsumsi makanan sehat.

VIEW: Motivasi yang paling mendasar, hingga Anda harus menjalani pola hidup sehat?
LUNA: Ya, sekarang di mana-mana ada polusi, belum lagi efek dari global warming yang mengancam kita. Coba bayangkan, 20 tahun mendatang, apa yang akan terjadi dengan kita, kalau kita tidak menjalani pola hidup sehat mulai dari sekarang.

VIEW: Selama ini pola hidup sehat seperti apa yang Anda terapkan?

LUNA: Sederhana saja kok. Saya biasa menerapkan hidup sehat dengan pola makan yang teratur, banyak minum air putih, vitamin dan selalu menyempatkan diri berolahraga usai beraktifitas.

VIEW: Di tengah kesibukan Anda, memang sempat berolahraga?

LUNA: Ya, sebisa mungkin saya lakukan. Dan nggak ada salahnya kan, kita berolahraga lima belas sampai setengah jam sebelum tidur. Apa lagi saya memiliki masalah dengan susah tidur.

VIEW: Kalau soal makanan?

LUNA: Yang penting makanan yang sehat dan menyehatkan. Dan karena saya tergolong paling malas, biasanya saya lengkapi dengan mengkonsumsi suplemen untuk menjaga kebugaran tubuh. Nah kalau soal makanan seperti gorengan, saya lebih suka buatan sendiri.

VIEW: Konon, meski badan Anda termasuk ringkih, tapi Anda pun seorang workaholic?

LUNA: Memang, meski ringkih saya pun workaholic. Maunya sih Sabtu dan Minggu bisa libur, tapi kalau ada kerjaan yang saya senangi, biasanya saya lupa segalanya.

VIEW: Lantas bagaimana Anda menyiasatinya, agar tidak drop, melihat badan Anda yang ringkih itu?

LUNA: Selain mengkonsumsi suplemen, saya juga sadar kok akan kondisiku sendiri, kalau sudah ada tanda-tanda drop ya saya harus istirahat.

VIEW: Mungkin Anda bisa berbagi tips untuk bisa hidup sehat dan menyehatkan sesuai, sebagaimana pengalaman Anda?

LUNA: Intinya, harus sadar dengan kondisi badan kita. Lalu istirahat dan tidur yang cukup, mengkonsumsi makanan yang sehat secara teratur serta selalu menyempatkan diri untuk olahraga, meskipun hanya beberapa menit. [view]

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi Juli 2009

Advertisements

Bincang-Bincang Bersama Rudy Hadisuwarno

foto by Fernandez

foto by Fernandez

Siapa yang tak kenal Rudy Hadisuwarno yang salonnya tersebar di 148 lokasi di Indonesia. Pria yang kerap berpenampilan necis ini, begitu dikagumi kalangan hairdresser atau industri fashion. Tak heran jika ia mendapat gelar ‘sang maestro’ penata rambut Indonesia.

Tak hanya dikenal di Indonesia. Sebagai penata rambut ternama, sudah  mendapat pengakuan internasional. Ia diangkat menjadi anggota Intercoiffure –sebuah perhimpunan ahli-ahli tata rambut professional sedunia yang berpusat di Paris— pada tahun 1977. Tak hanya itu, di tahun 1979. Rudy direkrut menjadi anggota C.A.C.F. (Comite Artistique de la Coiffure Francaise) suatu wadah organisasi di Paris, bagi para penata rambut dengan reputasi tinggi.

Rudy dikenal sebagai penata rambut sejak 1968. Pria kelahiran Jakarta 21 Oktober 1949 ini, memulai usahanya sebagai ‘tukang salon’ rumahan setelah lulus sekolah tata tata rambut di Jakarta. Tiga tahun kemudian, seakan tidak puas dengan ilmu yang diraihnya, Rudy kembali melanjutkan sekolah tata rambut di Inggris, Paris, dan Perancis.

Tahun 1978, menjadi tonggak bagi Rudy untuk mengembangkan usaha yang kian diminatinya dengan membuka salon di Duta Merlin, kawasan pusat perbelanjaan bergengsi di Jakarta kala itu. Dari kawasan ini pula, peraih Medaille de Chevalier de la Chevalerie Intercoiffure Mondial, sebuah penghargaan atas prestasinya pada Intercoiffure World Congress dari ICD Mondial, di New York, Amerika Serikat pada 1980 ini, membuka beberapa cabang dengan brand Rudy Hadisuwarno.

Dan sepuluh tahun kemudian, Rudy mengembangkan salonnya dengan sistem waralaba. Kini, lewat brand Rudy Hadisuwarno Exclusive Salon, Salon Rudy by Rudy Hadisuwarno, Brown Salon, salon anak-anak Fun Cuts dan Kiddy Cut di bawah naungan manajemen Rudy Hadisuwarno Organization (RHO) terus mengepakkan sayapnya. Apa rahasia keberhasilan penata rambut kelas dunia yang sempat kuliah pada jurusan Arsitektur Universitas Trisakti, Jakarta ini dalam menapaki karirnya?. Berikut perbincangan Rudy kepada VIEW.

VIEW: Kenapa Anda memilih profesi ini?
RUDY: Sebetulnya yang menjalani profesi rambut waktu itu adalah ibu saya. Maklum, selepas SMA saya harus mencari duit sendiri kalau mau kuliah. Akhirnya saya ikut pendidikan tata rambut dan baru bisa buka salon di rumah sekitar tahun 1968. Dari hasil nyalon itulah saya bisa kuliah di Trisakti.

VIEW: Apakah saat itu Anda benar-benar menikmati profesi tersebut?
RUDY: Ya, bahkan tiga tahun kemudian saya sekolah tata rambut lagi ke luar negeri. Dan akhirnya saya harus rela meninggalkan bangku kuliah. Mungkin saking keenakan kali yaa… Dan ternyata ini memang dunia saya.

VIEW: Hingga kini, sudah ada berapa tempat?
RUDY: Dari semua yang kami kelola, sekarang ada sebanyak 148 cabang, 25 lokasi diantaranya milik sendiri, sisanya kerjasama dengan sistem waralaba.

VIEW: Sebenarnya, apa sih yang membedakan Salon Anda dengan salon yang lain?
RUDY: Adanya standarisasi baku yang saya terapkan di semua lini. Mulai dari gunting rambut, produk, hingga pendidikannya.

VIEW: Selama ini Anda mendapat inspirasi dalam menciptakan gaya rambut dari mana?
RUDY: Kalau inspirasi lebih sering dari kondisi yang terjadi di dunia. Bahkan tak jarang, apa yang saya kreasikan sebelumnya dipakai juga oleh para haidraisser di Paris, Perancis yang konon jadi pusat mode.

VIEW: Lho, bukannya selama ini Paris itu jadi kiblat?
RUDY: Memang, tapi tidak semua yang tren di sana cocok untuk di sini. Indonesia itu boleh dibilang setengah barat setengah oriental yang kadang jadi inspirasi juga bagi mereka. Jadi bukannya sombong, kalau Indonesia ini penuh dengan talenta di bidang tata rambut. Dan itu mereka akui kok.

VIEW: Selain mengkreasi gaya rambut, apakah Anda masih turun langsung menangani pelanggan?
RUDY: Ya, bahkan ada beberapa pelanggan lama saya yang hanya mau dilayani sama saya. Atau ada permintaan khusus dari para selebriti, public figure hingga pejabat negeri ini.

VIEW: Biasanya permintaan khusus seperti apa?
RUDY: Kebanyakan untuk membentuk imej tentunya. Misalnya kemarin saya harus mengkreasikan gaya rambut Darius Sinatria yang menjadi brand ambassador dari Gillette. Saya juga merias rambut Siti Nurhaliza untuk keperluannya sebagai ikon shampoo Pantene.

VIEW: Kalau boleh tahu, tahun depan model rambut seperti apa yang bakal diperkenalkan Anda?
RUDY: Sepertinya gaya minimalis akan cocok dengan kondisi ekonomi yang serba sulit ini. Hehehe…

VIEW: Untuk kedepannya, dunia salon apa yang bakal Anda kembangkan lagi?
RUDY: Saya akan membuka salon khusus muslimah. Karena banyak pelanggan yang meminta saya untuk membuka layanan yang khusus muslimah. Pokoknya serba muslimah. Mudah-mudahan dalam satu hingga dua tahun ini bisa terwujud. [view]

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk VIEW Edisi Juni 2009

Bincang-bincang Bersama Wanda Hamidah

caleg-wandaSiapa yang tak kenal Wanda Hamidah. Wajahnya kerap hadir di layar kaca, ketika masih berprofesi sebagai presenter berita pada salah satu stasiun televisi nasional. Jauh sebelum itu pun, paras cantiknya selalu menghiasai halaman majalah remaja dan wanita, ketika masih berkecimpung di dunia modeling –yang digelutinya sejak usia remaja. Kini, perempuan yang berprofesi sebagai notaris itu menjajal kemampuannya di panggung politik. Lewat Partai Amanat Nasional (PAN), Wanda maju sebagai calon anggota lesgislatif (caleg) untuk provinsi DKI Jakarta pada Pemilu 2009 yang digelar 9 April 2009.

Memang, banyak kalangan menilai, tampilnya perempuan kelahiran Jakarta, 21 September 1977 di panggung politik ini bukan sekadar latah atau ‘ujug-ujug’ seperti kalangan selebriti lainnya. Aktivitas politiknya dibangun sejak menjadi mahasiswa. Tak itu saja, Wanda pun mengakui, menjadi saksi tewasnya empat rekan mahasiswa Trisakti dalam peristiwa Reformasi 1998. Usai menyelesaikan studinya di Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Wanda bergabung dengan PAN.

Meski pada awalnya ia hanya menjadi simpatisan dan juru kampanye saja, tapi pada akhirnya ia pun membulatkan tekad, terjun di dunia politik praktis secara all out. Tak sekadar menjadi petinggi partai, perempuan yang menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak ini, menjadi caleg DPRD DKI Jakarta ‘nomor urut satu’ untuk daerah pemilihan Jakarta Selatan.

caleg-wandahLantas, seberapa jauh kepiawaian ibu dari tiga anak ini untuk bisa melenggang ke gedung dewan nanti. Pun program yang bakal digelontorkan bila dirinya terpilih menjadi anggota dewan kelak. Berikut, perbincangan VIEW dengan penerima penghargaan Artis Peduli Hukum dan HAM dari Menteri Hukum dan HAM, April 2008 silam disela-sela peluncuran buku Pidato-Pidato yang Mengubah Dunia di Jakarta beberapa waktu lalu.

VIEW: Kenapa Anda tertarik dengan dunia politik?

WANDA: Karena dari dunia politik inilah, segala aspirasi rakyat bisa disampaikan. Dan dunia politik juga menjadi alat untuk menyelamatkan Indonesia.

VIEW: Sejak kapan ketertarikan Anda pada politik?

WANDA: Ketertarikan saya untuk terjun ke politik praktis diawali sejak menjadi aktivis mahasiswa. Sementara pilihan terhadap parpol yang kini saya geluti karena dilandasi pada platformnya, diantaranya penghargaan pada pluralisme. Jauh sebelum itu, saya sudah terbiasa melahap buku karya tokoh politik dunia sejak di bangku SMP. Bahkan ketika mahasiswa saya punya mimpi bahwa Indonesia memiliki parpol selain yang tiga dulu itu (PPP, Golkar dan PDI).

VIEW: Sebagai aktivis politik, dari sekian banyak tokoh politik, siapa saja yang Anda kagumi?

WANDA: Jujur, saya mengagumi tokoh politik seperti Martin Luther King, Imam Khomeini, Mahatir Muhammad, hingga Soekarno. Termasuk sosok Ali Sadikin pun saya kagumi.

VIEW: Anda pun kini mencalonkan diri sebagai calon anggota dewan terhormat di DPR/MPR,  apakah ini aji mumpung?

WANDA: Bukan. Karena harus dicatat, saya terjun di dunia politik praktis sudah lama, sejak saya lulus kuliah tahun 2000 silam. Jadi ini, jelas-jelas bukan aji mumpung.

VIEW: Sebagai selebriti, banyak kalangan menilai modal Anda hanyalah popularitas, komentar Anda?

WANDA: Sah-sah saja orang berpendapat seperti itu. Dan saya akui, popularitas juga bagian dari modal saya, selain kemampuan yang saya miliki.

VIEW: Dan kenapa sepopuler Anda, hanya maju ke tingkat provinsi?

WANDA: Karena saya tidak mau sesuatu yang instan, saya ingin berkarir di politik itu bukan karena aji mumpung saya sebagai public figure. Memang, tak dipungkiri banyak orang yang mengenal saya sebagai seorang artis, tapi bukan berarti tak banyak orang mengenal saya di panggung politik.

VIEW: Lalu apa yang sudah Anda lakukan?

WANDA: Selain terus belajar seputar seluk beluk dunia politik praktis, sebagai politisi tentunya saya harus mendekati dan mendengar suara konstituennya. Dan yang saya lakukan sekarang ini adalah menghadiri pertemuan-pertemuan kaum ibu-ibu atau door to door, karena memang saya ingin memperjuangkan mereka.

VIEW: Kenapa Anda menerapkan sistem door to door?

WANDA: Ya, supaya masyarakat lebih kenal siapa calon yang akan mewakili mereka, sehingga mereka juga bisa bertanya langsung pada saya. Saya sangat sedih melihat kenyataan dalam masyarakat banyak, yang enggak tahu siapa calegnya.

VIEW: Anggapan bahwa pentas selebriti di panggung politik hanya sebagai pemanis, komentar Anda?

WANDA: Bisa jadi begitu. Memang banyak artis kan manis-manis… hehehe… Tapi janganlah meremehkan kemampuan artis. Meski saya sendiri tidak mengaku sebagai artis, kan banyak masyarakat yang menganggap saya sebagai artis. Jadi lihat saja nanti, bahwa artis pun bukan sekadar pemanis. [view]

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk majalah VIEW edisi April 2009

Bincang-bincang Bersama Indra Bekti

Wajahnya kali pertama muncul di layar kaca sebagai pemandu acara Tralala Trilili bareng Agnes Monica. Lewat penampilannya yang kocak dan segar akhirnya mendatangkan berbagai tawaran memandu acara hingga penyiar radio.

Kini, wajahnya makin sering tampil sebagai bintang iklan. Belum lagi beberapa mata acara yang dipandunya, saban hari menyapa pemirsa. Bahkan, paling tidak ada lima film layar lebar pernah dibintanginya. Wajar, bila saat ini dia berlimpahan materi.

Meski begitu, ia menyimpan banyak mimpi, salah satunya membuat album. Dan mimpi itu akhirnya tercapai, meski hanya album kompilasi. Indra Bekti merasa bangga. Pria kelahiran Jakarta, 28 Desember 1977 yang pernah bergabung dalam grup vokal FBI ini, bisa tampil sebagai penyanyi solo.

Lewat album bertajuk Goal! 2008 ini –yang dirilis bersamaan dengan perhelatan akbar Euro 2008 yang lalu— Indra membawakan lagu berjudul Goal ciptaan Ramadhan. Berikut perbincangan Indra bersama VIEW, di sela-sela peluncuran albumnya beberapa waktu lalu di Jakarta.

VIEW: Apa komentar Anda tentang album ini?

INDRA: Inilah cita-cita saya dari dulu yang ingin jadi penyanyi solo. Bahkan untuk mewujudkannya itu, saya ikut belajar olah vokal di bina vokalia. Lalu pernah pula membentuk grup vokal bernama FBI, meski akhirnya bubar. Dan akhirnya tahun ini, akhirnya mimpi itu dikabulkan oleh Tuhan.

VIEW: Lantas apa arti dari album ini?

INDRA: Inilah awal kembalinya seorang Indra Bekti di industri musik. Dan lewat album inilah saya buktikan bahwa saya bisa, meski dengan nada dan koreografi yang tidak mudah.

VIEW: Sudah lama tidak bernyanyi, apa tidak menjadi beban?

INDRA: Pada awalnya memang sedikit kaget. Karena ini sebuah kepercayaan, maka bagi saya ngapain harus jadi beban. Sebelumnya, saya menawarkan diri kepada beberapa label termasuk Sony-BMG. Entah kenapa akhirnya Sony menghubungi saya dan menawarkan proyek ini.

VIEW: Sebelumnya apa yang Anda lakukan untuk mewujudkan mimpi itu?

INDRA: Saya membuat demo lagu. Hasilnya, label menilai lagu-lagu saya terlalu berat. Uang pun habis, ya sudah… saya pasrah. Tapi ternyata saya dihubungi Sony-BMG untuk ikut proyek ini, tapi bukan lagu-lagu yang saya tawarkan sebelumnya.

VIEW: Karakter suara Anda dengan lagu yang Anda bawakan jauh berbeda, bagaimana Anda menyiasatinya?

INDRA: Jujur, saya pribadi sebagai penyanyi harus bisa menyesuaikan diri dengan pasar. Saya yang pop, tapi ternyata harus membawakan lagu rock yang energik. Disinilah saya merasa tertantang. Dan ternyata rock itu asyik lho.

VIEW: Ada yang bilang Anda aji mumpung, komentar Anda?

INDRA: Apapun resikonya, saya terima. Orang mau ngomong apa, terserah. Tentu saja, masyarakat awam yang belum tahu FBI, akan menilai seperti itu. Siapa tuh Indra? Presenter kok mau nyanyi.

VIEW: Kalau boleh tahu, berapa honor untuk nyanyi?

INDRA: Untuk tampil nyanyi, jujur dari managemen belum ada honor yang pasti.

VIEW: Ada rencana membuat album solo?

INDRA: Untuk sementara ini album solo belum, tapi saat ini lebih banyak mengumpulkan lagu-lagu dulu.

VIEW: Ke depan apa rencana apa lagi yang akan Anda lakukan?

INDRA: Saya terus mencoba untuk jadi aktor, penyanyi dan tetap ngemsi. [view]

Artikel ini dimuat di majalah VIEW edisi Agustus 2008

Bincang-Bincang Bersama Ihsan Idol

Jawara Indonesian Idol 2006, Muhamad Ihsan Tarore, tengah mencoba peruntungan di dunia akting. Setelah membintangi beberapa sinetron, Ihsan mendapat tawaran tampil di film layar lebar. Dan Mengaku Rasul: Sesat adalah film pertamanya, yang dirilis beberapa waktu lalu.

Dengan karakter dan pembawaannya yang kalem, Ihsan memerankan tokoh Raihan dalam film besutan sutradara Helfi Kardit ini. Apa yang membuat pemuda kelahiran Medan, 20 Agustus 1989 ini terjun ke dunia akting?. Lantas bagaimana dengan karirnya sebagai penyanyi jebolan Indonesian Idol. Kepada VIEW, penyanyi yang dengan album solo bertajuk The Winner ini bertutur seputar karirnya di dunia hiburan.

VIEW: Apa yang mendasari Anda terjun ke dunia akting?

IHSAN: Semua orang tahu, jika film juga bagian dari dunia hiburan. Karena saya berkarir di dunia ini, maka wajar jika saya mencoba menjajal kemampuan saya di seni peran. Dan film ini adalah film layar lebar pertama saya.

VIEW: Apakah Anda menawarkan diri atau direkrut?

IHSAN: Jujur, dalam film ini sutradara yang meminta saya untuk bermain. Katanya, sebelum meminta saya ikut main, mereka hanya tertarik karena melihat tampang saya di salah satu poster.

VIEW: Lantas, apa reaksi Anda mendapat tawaran ini?

IHSAN: Ketika mendengar judul film Mengaku Rasul: Sesat, entah kenapa saya merasa tertantang. Akhirnya saya pun ikut casting untuk tokoh Raihan. Dan senangnya karena saya diterima.

VIEW: Kenapa tokoh ini yang Anda ambil? Apakah karena pembawaan Anda yang kalem?

IHSAN: Awalnya memang saya ditawari tokoh ini. Bisa jadi, sutradara sudah mengetahui karakter saya yang kalem. Pernah suatu ketika saya memerankan tokoh komedian di sebuah FTV, tapi rupanya peran itu diprotes penggemar saya, khususnya ibu-ibu. Katanya nggak lucu he he he.

VIEW: Bagaimana dengan karir Anda sebagai penyanyi?

IHSAN: Saya akan tetap sebagai penyanyi.

VIEW: Banyak kalangan yang menilai karir Anda tengah tenggelam. Komentar Anda?

IHSAN: Boleh saja orang menilai demikian. Tapi yang jelas, memang saya jarang tampil di layar kaca. Karena saya lebih sering tampil off air. Dan sekarang pun saya lagi sibuk menyiapkan album kedua yang rencananya akan dirilis tahun ini.

VIEW: Apakah film ini untuk mendongkrak kembali pamor Anda?

IHSAN: Saya tidak berfikiran ke sana, rejeki orang kan berbeda-beda. Kebetulan saat ini saya dapat kesempatan main film layar lebar.

VIEW: Kalau boleh memilih, mana yang akan Anda tekuni secara serius?

IHSAN: Tentu saja menyanyi. Tapi karena dunia hiburan itu menuntut multitalenta maka saya tidak akan menyia-nyiakan setiap kesempatan apapun yang datang kepada saya. Intinya saya ingin tekuni secara serius karir saya di dunia hiburan.

VIEW: Kalau begitu, apa obsesi Anda di dunia hiburan ini?

IHSAN: Saya sih mau terus mencoba sesuatu yang baru, tidak hanya menyanyi. Misalnya, di film saya mau memerankan tokoh yang berlawanan dengan karakter saya. Kenapa nggak? Yang penting saya berusaha melakukannya secara professional. [view]

Artikel ini dimuat di majalah VIEW edisi Juli 2008

Kecintaan Annisa Pohan pada Batik

Tak hanya cantik dan pintar, Annisa Pohan tampak begitu anggun dengan balutan batik berwarna biru. Presenter cantik yang juga menantu Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono ini, dikenal sebagai selebriti yang sangat peduli akan kelestarian warisan budaya leluhur, khususnya batik.

Kecintaan Annisa pada batik tak perlu diragukan lagi. Hampir disetiap kesempatan, wanita yang tengah hamil muda ini, selalu mengenakan busana batik. Tak heran pula jika istri dari Agus Harimurti Yudhoyono ini ditunjuk sebagai brand ambassador Allure, sebuah merek batik.

Meski ada anggapan di kalangan anak muda, jika pakaian batik identik dengan busana orang tua, tapi Annisa optimis batik pasti akan dicintai masyarakat Indonesia. Karena itu, wanita kelahiran Boston, Amerika Serikat, 20 November 1981, tak merasa lelah sedikitpun untuk terus mempopulerkan batik.

Terlebih lagi dengan adanya ‘klaim’ dari negeri tetangga yang ingin mempatenkan batik, membuat resah pemilik nama lengkap Annisa Larasati Pohan. Maklum, sedari kecil ia mengaku suka mengenakan batik. Berikut petikan wawancara VIEW bersama disela-sela kegiatan promosi batik untuk anak-anak beberapa waktu lalu.

VIEW: Sejak kapan Anda menyukai batik?

ANNISA: Wah, sudah dari sejak kecil. Karena sejak dulu, bunda kerap memakai busana batik di berbagai kesempatan.

VIEW: Kalau begitu sudah berapa banyak koleksi batik Anda?

ANNISA: Wah berapa banyak ya. Banyak banget deh. Bahkan beberapa barik dari masing-masing daerah, juga ada.

VIEW: Batik di mata Anda?

ANNISA: Bagi saya, batik itu bisa dipakai untuk acara formal maupun informal. Terlebih, batik sekarang lebih modern, bisa dipadukan dengan busana apa pun. Juga bisa dibuat gaun yang cantik. Saya berharap kaum muda dapat lebih mencintai batik dan tidak ragu-ragu lagi untuk memakai batik. Dan, sepertinya saya juga akan terus mencintai batik.

VIEW: Lantas bagaimana komentar orang-orang di sekitar Anda ketika mengenakan batik?

ANNISA: Ibu mertua saya selalu tanya, baju kamu bagus sekali, jahit di mana. Beliau kerap memuji baju-baju batik yang dikenakan saya. Katanya baju-baju batik saya modern dan lucu-lucu.

VIEW: Sebagai ikon Allure, bagaimana komentar Anda tentang Allure yang kini mengeluarkan Allure Kids?

ANNISA: Wah, saya senang sekali, akhirnya Allure Kids yang selama ini ditunggu-tunggu bisa hadir di tengah-tengah masyarakat. Apalagi saat ini perhatian masyarakat terhadap batik semakin besar. Kehadiran Allure Kids memberi peluang bagi anak-anak Indonesia untuk tampil gaya dengan batik.

VIEW: Apakah ada kaitannya antara peluncuran Allure Kids dengan kehamilan anda?

ANNISA: Tahun ini memang berkah buat saya. Ketika suami pulang dan tak lama kemudian, saya hamil. Tentunya berkah juga buat Allure, semoga makin sukses di kemudian hari. Namun, peluncuran Allure Kids ini, bukan karena disesuaikan dengan kehamilan saya.

VIEW: Lantas apa impian Anda untuk sang buah hati dengan adanya produk Allure Kids ini?

ANNISA: Saya sering menghayal jika anakku lahir nanti, saya ingin sekali memakaikan baju batik. Walaupun, sampai saat ini, saya juga belum tahu apakah laki-laki atau perempuan. Tapi yang pasti, saat lahir nanti, saya ingin dandani dengan batik. Saya akan memesan secara khusus kepada desainer Allure. Paling tidak, usia satu tahun anakku sudah pakai batik. Model baju batiknya pun harus serasi dengan busana ibu dan bapaknya. Modelnya nggak harus sama, tapi minimal warnanya saja. Karena itu, saya pun berharap seluruh keluarga muda di Indonesia, semakin suka mengenakan batik.[view]

Artikel ini dimuat di majalah VIEW edisi Juni 2008

Bincang-Bincang Bersama Maylaffayza

Bagi penikmat musik di tanah air, nama Maylaffayza (32), pasti sudah tak asing lagi. Violinis yang sangat mengidolakan maestro Indris Sardi ini, sangat piawai memainkan alat musik biola. Menariknya, Maylaf tak hanya tampil sebagai instrumentalis tapi juga entertainer yang selalu memukau penontonnya.

Tujuh tahun sudah, Maylaf berkarir sebagai solo-violinis di panggung hiburan. Sebagai bukti kepiawaiannya, ia pun mempersembahkan album solo perdananya bertitel Maylaffayza. Sepertinya, lewat album ini, Maylaf ingin menyuguhkan sesuatu yang segar dalam permainan instrumen biola.

Lantas seperti dambaan wanita kelahiran Jakarta 10 Juli 1976 ini lewat biolanya? Berikut petikan perbincangan VIEW bersama violinis berparas cantik ini beberapa waktu lalu.

VIEW: Bisa ceritakan keseharian Anda sebagai seorang Maylaffayza?

MAYLAF: Peran saya yang sesungguhnya dalam sehari-hari lebih dari violinis. Selain sebagai pimpinan, saya terjun langsung bersama tim Maylaffayza Management. Mulai dari media exposure, media strategy, sosialisasi branding Maylaffayza, pengawasan distribusi, generating blog-blog saya. Termasuk juga semua yang berkaitan dengan marketing, sponsorship dan digital distribution. Jadi sebagai violinis, saya juga memimpin management sendiri. Dalam Maylaffayza Records, saya bertanggung jawab sebagai music director dan produser di album yang baru dirilis Januari lalu.

VIEW: Lantas posisi Anda sebagai violinis bagaimana?

MAYLAF: Sebagai violinis, tentu tanggung jawab kerja saya adalah melatih semua lagu yang akan di tampilkan. Re-arrange lagu saya bersama band yang akan mengiring, dimana konteksnya saya bertanggung jawab sebagai music director bagi band yang saya bentuk khusus. Dan bekerja sebagai violinis dan penyanyi, hanyalah salah satu dari sekian banyak hal yang harus saya kerjakan.

VIEW: Kini Anda tampil sebagai public figure, bagaimana menjalaninya?

MAYLAF: Sebagai public figure yang berprofesi sebagai violinis, sehari-hari saya juga harus bisa memenuhi semua tugas promosi album saya mulai dari menjawab pertanyaan baik langsung, by phone ataupun e-mail. Juga menghadiri berbagai acara, shooting, pemotretan, hingga siaran radio.

VIEW: Seberapa besar daya tarik biola bagi Anda?

MAYLAF: Sejak kecil saya dididik secara disiplin untuk mempelajari biola. Mengenai ketertarikan saya terhadap biola, tak bisa saya jelaskan dengan kata-kata. Yang pasti, waktu kecil saya diberi biola oleh paman saya (alm) Iswan Sutopo, I fell in love with violin. Karena ada minat dan bakat, saya pun terus dimotivasi untuk belajar memainkannya. Jika ditanya kenapa suka, saya tidak tahu. I just do. I followed my heart, I committed to what I do and take all the consequences of all the disciplines that was required.

VIEW: Lantas untuk mempelajari alat musik biola dan vocal, Anda berguru pada siapa?

MAYLAF: Di usia 9 tahun, saya digembleng oleh (alm) Joko. Setahun kemudian saya berguru kepada Idris Sardi hingga sekarang. Malah hubungan kami bukan lagi seperti guru dan murid, tapi seperti bapak dan anak. Sejak 1998, saya pun berguru vokal Elfa Secioria, Bertha, Catharina Leimena, dan Ivone Atmojo. Setelah merasa cukup, saya memberanikan diri tampil sebagai solo violinist dan penyanyi. Tahun 2000 lalu, saya sudah go public tampil di corporate event dan berbagai media.

VIEW: Sebenarnya, sejauh mana minat masyarakat sendiri terhadap jenis musik ini?

MAYLAF: Minat masyarakat pada musik, pasti terus berkembang. Buktinya, banyak remaja dan anak-anak kecil yang mempelajari biola. Juga tak sedikit orang tua yang datang ke saya dan bertanya tentang bagaimana caranya, agar anak mereka bisa belajar biola. Tentunya, biola tak bisa dibandingkan dengan minat masyarakat atas menyanyi, karena vokal adalah sesuatu yang sudah manusia bawa dari lahir dan mempunyai lirik. Secara positif, saya memandang masyarakat lebih open minded, terhadap perkembangan berbagai hal.

VIEW: Anda merilis album perdana dengan judul Maylaffayza. Apa yang Anda tawarkan dalam album itu?

MAYLAF: Saya menawarkan semangat liberating. Semangat untuk keluar dari kotak kenyamanan yang ada. Musik saya bergenre pop cross over. Pop dalam arti non classical, jadi sama sekali tidak klasik. Cross over dalam arti silang menyilang antar kultur dan genre. Biola saya padukan dengan vokal saya. Jadi ada lagu biola dan ada lagu vokal. Jika lagu biola, vokal hanya menjadi lyric hook. Jika lagu vokal, maka biola akan mengisi fill in.

VIEW: Bagaimana dengan musikalisasinya?

MAYLAF: Untuk musikalisasinya saya mencampurkan African American Rhytm yang biasa dipakai dalam hip hop, rap dan r ‘n b. Lalu, saya padukan dengan unsur melodi atau chords barat di campur esensi tunes dari eastern dan tradisional Indonesia. Lagu vokal mulai dari slow, mid tempo sampai ke dinamis, di imbangi dengan lagu-lagu biola yang highly dynamic. Vokal lebih ke melodius, saya padukan dengan biola yang harmonis ritmis dengan attack dan grove. Ini adalah kerja team antara saya, Idris Sardi dan Bobby Surjadi.

VIEW: Kabarnya, album ini diproduksi secara independen, kenapa? Apakah major label kurang berminat?

MAYLAF: Major label mempunyai karakteristik yang berbeda dengan karakteristik saya. Kita berdiri di posisi yang berbeda. Biola sudah mempunyai sifat dasar eksklusif, meski saya tidak pernah meng-eksklusifkan diri, tapi itu sudah menjadi nilai dasar dari biola. Dalam kata lain, biola bisa dikategorikan ‘barang butik’. Sementara major label lebih seperti ‘department store’ bukan ‘butik’. Kenapa? Karena tentu saja penanganannya, packaging, management, branding, strategy business-nya jauh berbeda. Akhirnya, saya ambil manuver untuk menjadi produser dan music director serta membangun Maylaffayza Records.

VIEW: Lantas apakah ini yang menjadi ambisi Anda?

MAYLAF: Setiap manusia mempunyai ambisi untuk menjadi merdeka. Independen dari segala hal. Jadi layak bahwa seorang manusia ingin menjadi besar dan berkembang dengan dirinya sendiri. We are the creator of our own life. So I create my own life, I create my own blue ocean.

VIEW: Hingga kini, sejauh mana animo pecinta musik terhadap album Anda?

MAYLAF: Alhamdulilah, saya melihat respon yang positif. Saya sering berkomunikasi langsung dengan banyak orang bahkan yang saya tidak kenal. Mereka yang sudah membeli album saya, maupun belum beli tapi mendengarkannya di radio, mereka terus support saya. Terpenting, album saya bukan barang dagangan, tapi sebagai media menyampaikan ide saya untuk memerdekakan pemikiran.

VIEW: Dalam tiga tahun ke depan, apa rencana Anda?

MAYLAF: Belum tahu. Yang jelas, tahun ini saya ingin sukses dalam pemasaran dan penjualan album. Lebih penting di atas semua itu, saya ingin berhasil memberikan ide inspirasi kepada masyarakat melalui sikap dari musik saya. Semoga bisa membawa sebuah perubahan yang positif. [view]

Artikel ini ditulis April lalu dan dimuat di majalah VIEW edisi Mei 2008