Ketika Politik Menggoda Ulama

Tak bisa dipungkiri, peran ulama dalam kehidupan perpolitikan Indonesia begitu besar. Negeri ini merdeka terbebas dari kaum penjajah juga tak lepas dari upaya serta kegigihan perjuangan para kyai. Lantas bagaimana kondisi hari ini? Terlebih ketika jelang pemilu baik pemilihan anggota legislatif maupun pemilihan presiden atau kepala daerah? Tampak dengan kasat mata, para alim ulama berada di antara mereka yang tengah bertarung.

073Sejatinya, kehadiran ulama di ranah politik bukan kali ini saja. Bahkan sejak jaman revolusi ulama sudah ikut mengawal perjalanan bangsa ini. Ulama sebagai pewaris nabi, musti bertanggungjawab terhadap perbuatan para penyelenggara negara dan masyarakat (umat islam). Tugasnya membina masyarakat dalam menjalankan syariah baik lewat pendidikan maupun siraman atau ceramah agama. Sementara terhadap penyelenggara negara (pejabat) di pemerintahan, ulama berkewajiban mendampingi, membimbing pejabat untuk selalu amanah mengemban tugas.

Kalau bicara hari ini, di tengah hiruk pikuk pemilihan presiden (pilpres) 2014, banyak kaum alim ulama yang merapat ke kubu Prabowo Subianto – Hatta Rajasa (Prabowo Hatta). Tak sedikit pula, para kyai yang berada di kubu Joko Widodo – Jusuf Kalla (Jokowi-JK). Tentu saja, kita tidak mengetahui apa yang diniatkan para alim ulama itu terkait keberadaannya di tengah-tengah kedua kubu. Apakah itu sebagai sikap politik yang benar-benar untuk mendukung pencalonan sang capres-cawapres? Atau hanya untuk sekadar membantu? Atau faktor lainnya, wallahu a’laam bishshowab. Yang jelas, seorang ulama atau kyai pastinya tak sekadar memiliki pengikut, tapi punya pengaruh yang kuat juga bagi umat yang dibinanya.

Jika ditilik dari tugas dan tanggungjawab seorang ulama, mustinya peran mereka berada di ranah politik untuk membina umat dan mendampingi sang pejabat agar tidak menyimpang. Tapi, nyatanya? Tak sedikit dari mereka yang kerap menjual ‘agama’ untuk mengamankan atau meneguhkan dalil-dalil politiknya itu. Boleh jadi, karena pemahaman atau tafsir mereka yang dianggap benar menurut versinya sendiri. Sepertinya di sinilah kredibilitas sebagai ulama di pertaruhkan. Apakah cukup kuat dari berbagai godaan politik, atau malah begitu mudahnya tergoda rayuan politik.

Memang, di kubu Prabowo-Hatta misalnya, begitu banyak kaum ulama yang mendukung dalam pilpres 2014 ini. Pasalnya, dengan penuh keyakinan pilihan mereka untuk berada di belakang pasangan capres-cawapres ini merupakan upaya penyelamatan umat, negara dan bangsa. Bisa jadi memang, karena para ulama menilai pasangan nomor urut 1 ini mampu membawa bangsa dan negara lebih sejahtera, makmur, berdaulat adil dan makmur. Sebab, para kyai yang berdiri di kubu ini baik yang terang-terang atau di belakang layar berkeyakinan bahwa inilah yang musti dilakukan oleh ulama sebagai pembina umat.

Lalu bagaimana dengan ulama yang berada di sekitar pasangan Jokowi-JK? Bisa jadi alasananya hampir sama dengan ulama yang memilih duduk bersama pasangan Prabowo-Hatta. Tapi, sepertinya para ulama ini lupa atau entah kenapa sehingga mau mendukung, dan malah membantu pasangan nomor urut 2 ini. Padahal, ajaran Islam –yang mungkin mereka lebih fasih, lebih hafal dan memahami— mengatakan bahwa ciri pemimpin yang baik itu sidiq, amanah, tabligh dan fathonah. Dimana keempat sifat tersebut juga ada pada sosok Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam sebagai seorang pemimpin umat, dan negara. Dan keempat sifat itu menjadi satu kesatuan, tidak bisa dipisah antara satu dan yang lainnya.

Pun dengan hadist yang mungkin anak kecil pun paham bahwa ada tiga tanda/ciri-ciri orang Munafik, yaitu jika berbicara ia bohong, jika berjanji ia ingkar dan jika dipercaya ia khianat. Sekedar untuk mengingatkan, berikut bunyi hadist tersebut:

Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Shallalahu Alaihi Wasallam bersabda, “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat.”

Tanda Munafik - ilustrasiEntah kenapa, yang membuat hadist shahih yang begitu populer itu, seakan hilang dari ingatan para ulama itu? Entah ‘sesuatu’ apa yang membuat para ulama begitu tergoda sehingga mau duduk bareng bersama orang-orang yang diduga menjadi bagian dari apa yang diperingatkan oleh hadist tersebut. Bukan maksud hati untuk mempermalukan para ulama yang dengan penuh ghirah (semangat) berada di kubu pasangan nomor urut 2, khususnya di belakang sang capres.

Lalul kenapa? Mustinya, ulama –yang kini berada di kubu Jokowi-JK— ingat bagaimana ketika seorang Jokowi bertarung memperebutkan kursi nomor 1 Balaikota DKI berjanji akan menjalankan amanah sebaik-baiknya selama 5 tahun. Pun ketika sudah terpilih, dengan lantang menyeru bahwa dirinya akan menyelesaikan tugasnya sebagai gubernur sampai akhir jabatan. Tapi buktinya? Jelang pileg 2014, mungkin dengan harapan mendongkrak keterpilihan para caleg dari partainya, Jokowi di hari Jumat menyatakan diri siap maju sebagai bakal capres. Ada banyak media dan saksi hidup yang tahu akan hal ini.

Konon, majunya Jokowi karena diminta oleh partainya bernaung yang diperkuat lantaran desakan rakyat. Memang mengatasnamakan rakyat, lalu apakah warga Jakarta yang dulu memberi amanat kepadanya bukan rakyat? Atau alasan demi kemaslahatan bagi rakyat yang lebih banyak, sehingga dengan teganya meninggalkan dan menghianati warga Jakarta yang telah mempercayainya pada pilkada DKI 2012 lalu? Kalaulah warga Jakarta –yang paling tidak sekitar 7 juta– yang sudah menaruh besar harapan padanya lalu dicampakkan begitu saja, bagaimana kalau sekarang tengah mengumbar janji di mana-mana, di seluruh nusantara. Janji tetaplah janji yang harus ditepati. Amanah tetaplah amanah yang musti dijalani. Bukan dulu ngomong begitu begini, lantas dibohongi.

Okelah, apapun dalil-dalilnya yang membuat Jokowi maju sebagai bakal capres yang diajukan oleh partainya. Tapi, kalaulah memang orang-orang di sekitarnya dan termasuk dirinya memahami isi dan maksud hadist tersebut, mustinya malu, dan takut akan ‘label’ yang menempel pada dirinya. Bisa satu, dua atau bahkan ketiga-tiganya dari ciri-ciri tersebut.

Pun ketika Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan dua pasangan capres-cawapres, dukungan dari kalangan ulama terus menyemut di dua kubu. Sekali lagi, memang harus diakui, gemerlap politik begitu menggoda ulama. Tentunya, ketika alasan serta niat para ulama ini bergabung, mustinya apa yang mereka lakukan hanya karena niatan tulus, menjalankan tugas utamanya sebagai ulama yakni membina, membimbing umat ke jalan yang lurus dan benar sesuai tuntunan agama.

Bahkan beragam jenis black campaign yang dilakukan oleh para simpatisan, kader, termasuk orang-orang ‘terpandang’ yang masuk dalam tim sukses Jokowi-JK terhadap Prabowo, ulama yang berada di barisan kubu ini sama sekali tak meluruskan. Bahwa apa yang mereka lakukan adalah bentuk dari fitnah. Semisal seputaran masa lalu Prabowo sebagai seorang tentara yang selalu saja dikait-kaitkan dengan kasus pelanggaran HAM. Bukan hanya itu, kedudukannya saat itu sebagai Pangkostrad dituduh ikut berperan dalam tragedi Trisakti dan atau huru-hara Mei 1998. Padahal sudah jelas-jelas sudah ada ketetapan hukum bahwa Prabowo tidak terlibat. Termasuk ketika dalam Debat Capres-Cawapres jilid pertama, Prabowo menjawab sekaligus mengklarifikasi langsung atas tuduhan tersebut. Toh, dia sebagai prajurit, yang kala itu dipercaya sebagai komandan dengan kesatria mengambil alih tanggungjawab yang mustinya itu menjadi tanggungjawab Panglima ABRI kala itu.

Nah, mustinya ulama –yang sudah kepalang kadung berada di barisan Jokowi-JK— sadar bahwa apa yang dilakukan mereka itu salah, seharusnya meluruskan. Kalaulah memang, Prabowo menjadi bagian dari peristiwa kelabu itu, apakah lantas Prabowo tidak berhak dan tidak layak untuk tampil sebagai peminpin negeri ini? Masih belum cukupkah, sikap nasionalis, patriotis serta cinta tanah air yang ada pada dirinya?

Entah kenapa ulama bisa lupa atau memang melupakan sosok sahabat Sayyidina Umar bin Khattab atau sayyidina Khalid bin Walid, pejuang Islam yang selalu ada di sisi Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam. Dimana keduanya dulu begitu dikenal sebagai sosok yang berdarah-darah dalam memerangi Islam. Tapi setelah masuk dalam barisan Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam mereka terdepan dan dibanggakan umat Islam. Memang, jika membandingkan sosok Prabowo dengan kedua sahabat itu sangat jauh berbeda, baik masa maupun kondisinya. Tapi hakikatnya, kalau Rasulullah Shallalahu Alaihi Wasallam  saja begitu mengagumi perjuangan dan sikap tegas kedua sahabatnya, kenapa ulama tidak? Setidaknya meluruskan orang-orang yang ada di kubu nomor urut 2, bahwa tuduhan –yang meskipun tak berdasar— yang diarahkan Prabowo sebagai pelanggar HAM itu tidaklah benar.

Jadi, apakah para kyai, ulama, cendikiawan muslim, ustadz atau apapun sebutannya, lupa akan hal itu? Atau memang ada hal lain yang akhirnya mereka tergoda? Bukankah tugas pokok dan fungsi ulama untuk berada paling depan dan menyerukan amar makruf nahi munkar? Karena mereka adalah para pewaris nabi. Ini sekadar opini, kritik terhadap sepak terjang para ulama di pentas panggung politik. Semoga

Lebih Dekat Dengan Nuroji : Memperjuangkan Kelompok Tradisional

Sejak tercatat sebagai wakil rakyat, ia masih tetap seperti yang dulu. Sederhana, bersahaja dan acap bicara apa adanya. Selain tetap memilih tinggal di kampung halamannya dibanding tinggal di rumah dinas, ia rela membelah kemacetan jalanan ibukota dari Depok ke Senayan. “Dari sana saya bisa lebih dekat dan merasakan apa yang dirasakan masyarakat,” kata Ir Nuroji, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini.

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 6 NO. URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 6 NO. URUT 1

Di tengah kesibukannya menjalankan tugas sebagai anggota Komisi X, Nuroji juga menyempatkan diri untuk blusukan keluar masuk perkampungan. Maklum, namanya kembali tercatat sebagai calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Gerindra nomor urut wahid untuk daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat 6. Usai menyelesaikan tugas di Senayan, biasanya Nuroji langsung meluncur ke dapil. Terlebih di akhir pekan, hampir sepanjang hari dihabiskan untuk sosialisasi di dapil yang meliputi Kota Depok dan Kota Bekasi.

“Bukan karena saya maju lagi, kemudian rajin turun ke dapil. Aktivitas semacam ini sudah saya lakukan dari dulu. Bukannya saya sombong, tapi hal itu bisa ditanyakan pada masyarakat, siapa yang kerap turun menyerap dan memperjuangkan aspirasi mereka,” ujar pria kelahiran Depok, 9 September 1962 ini.

Kembalinya Nuroji ke ajang perebutan kursi wakil rakyat di dapil Jawa Barat 6 yang hanya menyediakan enam kursi ini bukan tanpa sebab. Memang, awalnya Nuroji menyudahi tugasnya sebagai wakil rakyat. Namun tidak hanya masyarakat yang menjadi konsituennya, partai pun memintanya kembali untuk maju. Bukan itu saja, berdasar survei yang digelarnya, membuktikan bahwa ia masih layak dipilih kembali sebagai wakil rakyat dari dapil Jawa Barat 6. “Hasil survei itu setidaknya membuktikan bahwa tingkat keterpilihan saya masih tinggi,” beber lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang kerap menyuarakan persoalan pendidikan dan budaya ini.

Aktivitas politik Nuroji sendiri sudah berlangsung sejak era orde baru. Kala itu ia bergabung di Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Namun ia memilih mundur dari panggung politik kala kisruh melanda partai itu di tahun 1997. Nuroji lebih memilih kembali bergelut di dunia wartawan. Selang tiga tahun, disamping menjalani profesinya sebagai jurnalis, Nuroji mencoba peruntungan di dunia bisnis dengan membuka beberapa usaha. Sayang,  setelah berjalan lima tahun, dunia usaha itu harus ditinggalkannya. Lagi-lagi ia pun memilih kembali terjun di dunia pers dengan bergabung di Harian Jurnal Nasional pada tahun 2006.

Setahun kemudian, ia diminta untuk menangani Harian Warta Kota. Namun di tahun yang sama, Nuroji juga diajak koleganya, Fadli Zon untuk membidani majalah Tani Merdeka yang diterbitkan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Dari sanalah, Nuroji kerap diminta untuk membantu Komandan Jenderal Koppassus, Prabowo Subianto yang akan mendirikan partai baru. Nasib membawanya kembali ke panggung politik yang sudah ia tinggalkan sepuluh tahun sebelumnya.

“Niat awalnya hanya sekedar membantu, tapi karena ada kesamaan dalam perjuangan yang digariskan saya pun kembali melakoni politik praktis,” ujarnya mengenang.

Akhirnya Nuroji yang dinilai piawai dalam menggalang massa diminta untuk maju sebagai caleg dari Partai Gerindra pada Pemilu 2009 lalu. Meski harus menghadapi lawan politik yang lebih popular Nuroji mampu meraih 25.540 suara. Dengan perolehan suara sebanyak itu, ia melenggang ke Senayan. Nuroji yang awalnya ditugasi di Komisi VI itu kemudian diplot ke Komisi X hingga sekarang.

Seperti apa langkah-langkah dan perjuangannya menjalani tugas sebagai dewan yang sekaligus kembali maju sebagai caleg di dapil yang sama? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, putra asli betawi yang ditemui di ruang kerjanya ini memaparkan. Berikut wawancaranya:

Apa melatarbelakangi Anda maju kembali sebagai caleg?

Tadinya saya sebagai orang yang sudah duduk dan merasakan jadi anggota dewan di Senayan, jujur tidak mau maju lagi. Namun ketika saya berencana seperti itu, kader Partai Gerindra yang selama ini ada di belakang saya kembali mendesak saya untuk maju. Mereka bilang kalau saya tidak maju bagaimana dengan kader yang lagi pada semangat-semangatnya berjuang di bawah bendera Gerindra.

Akhirnya diam-diam saya mengadakan survei soal tingkat elektabilitas saya di dapil dengan menyandingkan beberapa orang baik internal maupun eksternal yang saya perkiraan akan maju sebagai caleg. Setidaknya dengan survei itu akan memberi gambaran seberapa besar tingkat elektabilitas saya di mata masyarakat Kota Bekasi dan Depok. Dari hasil survei itu, ternyata nama saya masih tertinggi, sehingga tidak memalukan kalau maju lagi.

Dan memang, beberapa nama yang saya prediksi itu empat orang caleg diantaranya kini masuk sebagai caleg selain saya ada Derri Derajat, Alwiyah Maulidiyah, dan Habiburahman meski dia diplot di dapil lain. Sebenarnya saya malas untuk nyaleg lagi, karena biayanya besar. Tapi karena DPP Partai Gerindra melalui Sekjen memerintahkan saya untuk maju lagi, ditambah lagi hasil survei itu, akhirnya saya maju lagi.

Bagaimana Anda membagi waktu kerja sebagai dewan dan caleg?

Karena saya Ketua Poksi mau tidak mau saya harus hadir terus sebagai wakil dari fraksi. Senin hingga Kamis saya fokus kerja sebagai anggota dewan di kantor, sorenya saya turun ke dapil. Pada Jumat–Minggu biasanya saya fokus turun ke dapil. Secara teori tidak akan cukup waktu mengingat tinggal enam bulan lagi.

Program apa yang Anda tawarkan?

Saya lebih suka melakukan aksi sosial yang sifatnya massif dan berkelanjutan. Salah satunya yang selama ini saya lakukan adalah pemberian beasiswa kepada siswa dari keluarga kurang mampu yang ada di Kota Depok dan Kota Bekasi. Memang, program ini merupakan bentuk perjuangan saya sebagai anggota Komisi X DPR-RI dalam memperjuangkan masyarakat yang menjadi konstituen. Saya menyalurkan beasiswa untuk sebanyak 20 ribu siswa.

Tentu saja, program ini memiliki mutiple effect yang lumayan. Dari 20 ribu siswa itu kalau kita kalikan 2 (orangtua) maka akan menghasilkan 40 ribu suara. Kalau kita ambil 70 persen saja sudah berapa suara yang kita raih. Beasiswa itu kita salurkan kepada masyarakat umum dan tidak mampu. Dan itu sangat efektif dalam meraih simpati masyarakat, karena kita sudah berjuang demi mereka. Terus terang, masyarakat khususnya Depok dan Bekasi pun pasti menyebut nama saya ketika bicara soal beasiswa.

Kendala apa yang selama ini Anda hadapi?

Selain menghadapi masyarakat yang pragmatis dan apatis juga persaingan yang sengit dalam memperebutkan tiket ke Senayan yang hanya 6 kursi. Bukan saja antar partai, tapi sesama caleg satu partai pun kadang saling sikut, saling jegal, saling kanibal. Jadi kadang kita yang satu partai pun saling kanibal. Padahal saya berkali-kali mengatakan kepada sesama caleg, baik tingkat pusat, daerah, kabupaten/kota untuk saling membagi wilayah sesuai segmentasinya. Misalnya, untuk kawasan perumahan elit saya tidak bakal masuk, saya lebih memilih kelompok tradisional, pasar, tukang sayur, tukang ayam. Meski begitu tidak semua yang masuk segmen itu saya garap. Caleg perempuan mungkin bisa garap kaum ibu-ibu.

Jadi kalau dapil Jabar 6 ini ditargetkan untuk bisa merebut dua kursi, maka sesama caleg Gerindra jangan sampai kanibal seperti yang terjadi selama ini. Bisa-bisa bukannya meraih dua kursi, yang terjadi malah suara Gerindra terbelah-belah dan ini akan merugikan kita semua. Kendala lain adanya aturan KPU yang melarang pemasangan baliho dan lebih mengutamakan tatap muka, padahal tatap muka itu mahal, banyak modal, karena kadang yang dihadapi itu lebih banyak pemilih pragmatis.

Seperti apa karakter pemilih dapil Jabar 6?

Kota Bekasi dan Depok itu lebih banyak kaum urban. Kalau kita datang ke suatu tempat, selalu ditanya bawa apaan. Kalau kita tidak membawa apa-apa, mereka bilang caleg apaan. Beberapa tempat yang saya datangi warganya seperti itu. Padahal saya paling malas datang ke komunitas yang seperti itu. Ongkos untuk setiap kegiatan yang mereka adakan itu tidak kecil dimana semua itu dilimpahkan kepada caleg.

Belum lagi ketika kita datang mereka selalu menyodorkan proposal, mereka bilangnya aspirasi tapi ujung-ujungnya uang. Kalau tidak kita penuhi, mereka nanti mengundang caleg lain. Bahkan meski sudah kita kasih, ada beberapa diantara mereka yang kembali mengundang caleg lain baik yang satu partai maupun partai lain. Nah ini yang saya bilang mahal, dimana KPU menganjurkan para caleg untuk mengadakan sosialisasi tatap muka dibanding dengan menyebar baliho.

Ini yang Anda sebut pemilih pragmatis?

Ya, pemilih semacam ini yang termasuk pragmatis. Biasanya ada di daerah-daerah yang banyak kontrakan. Biasanya setiap ada caleg yang datang, mereka mau kumpul, begitu pula besoknya kalau ada caleg lain mereka juga mau kumpul lagi. Model seperti ini yang kadang membuat caleg tekor. Dan biasanya hal itu tidak hanay terjadi pada caleg-caleg yang belum paham kondisi lapangan dan berpengalaman, caleg incumbent pun sering dimanfaatkan. Termasuk saya sendiri pernah mengalaminya, mereka hanya menginginkan uangnya. Meski kadang akhirnya saya kasih juga apa yang mereka inginkan.

Bagi masyarakat pragmatis seperti ini, prinsipnya tadi, kalau caleg satu bisa ngasih kenapa caleg lain tidak berani kasih. Bahkan saya sempat kesal karena mereka tidak mau menghargai bantuan yang kita berikan. Banyak anggapan seakan-akan kita memanfaatkan masyarakat, padahal merekalah yang memanfaatkan caleg. Menghadapi hal ini alangkah baiknya para caleg mengadakan survei terlebih dulu sebelum turun ke masyarakat yang bakal didatanginya. Pasalnya karakter masyarakat selain pragmatis juga belum tentu mereka memilih. Karena bisa jadi mereka bukan penduduk ber-KTP Depok atau Bekasi.

Bagaimana Anda mengantisipasinya?

Pengalaman demi pengalaman tentunya memberi pelajaran bagi saya sendiri. Bukannya trauma atau kapok, tapi biasanya saya lebih membatasi diri, selektif terhadap undangan masyarakat yang kita nilai pasti di belakang ada maunya. Atau kalaupun mereka hanya meminta sumbangan seperti pertandingan bola, saya dengan tegas tidak ikut dalam kegiatan tersebut. Disamping tidak efektif, biaya tinggi, tidak semua orang yang hadir dalam pertandingan itu akan simpati kepada politik. Memang resikonya bisa jadi kita tidak dikenal di komunitas itu. Nah, saya biasanya menggunakan cara konvensional seperti dengan menyebarkan stiker, mendekati kalangan media dan penguatan jaringan.

Saya lebih senang ngobrol kumpul bareng komunitas-komunitas, seperti komunitas seniman, budayawan atau pensiunan. Setidaknya untuk sosialisasi bertatap muka dengan masyarakat, tokoh dan komunitas-komunitas yang ada di dapil Jabar 6, saya rasa sudah lebih dari 120 titik yang saya datangi. Apalagi pemilu 2014 ini selain diikuti hanya 12 partai, persaingan antar caleg dalam satu partai maupun luar partai begitu kuat. Kalau kita saling tubruk, gesekan, atau saling dendam malah itu tidak mengumpulkan suara.

Menurut Anda, siapa saja saingan terberat di dapil 6?

Di samping lawan dari partai lain, dari internal partai yang sekarang maju juga bagus-bagus dan tidak saya anggap enteng. Makanya saya harus lebih ekstra kerja keras dan terus blusukan. Jujur saja berat untuk bisa memperebutkan dua dari enam kursi yang tersedia. Gerindra harus menghadapi partai-partai besar seperti PDIP, Golkar, PKS, dan Demokrat yang selama ini sudah memiliki kursi di Senayan. Jadi, jika masing-masing bisa bertahan dengan satu kursi, maka setidaknya hanya ada satu kursi yang diperebutkan oleh mereka termasuk kita.

Memang seru, meski kadang merasa capek juga. Karena bukan saja menghadapi partai lawan, dari partai sendiri pun bagus-bagus. Berbeda dengan dulu, dimana masyarakat menilai Gerindra sebagai partai baru menjadi alternatif untuk dipilih. Sekarang, selain pamor Gerindra lagi naik, partainya sedikit, calegnya pun berkualitas. Dulu saya bekerja sendiri dan tidak ada tandem sekarang saya tandem dengan beberapa caleg provinsi dan kota sekitar 10-15 orang caleg.

Menghadapi kondisi seperti itu, apa yang Anda lakukan?

Saya memiliki beberapa lapisan strategi, jadi ketika lapisan ini tidak jalan, saya gunakan lapisan yang lain. Tim struktural tidak dapat saya pakai tim lain, ketika tim yang satu tidak jalan maka gunakan tim lain. Kalaupun tim yang ada tidak jalan kita pakai tim komunitas, seperti di Depok ada komunitas Betawi Ngumpul. Lalu di Bekasi ada tim paranormal yang merapat ke saya. Bukan karena saya yang minta tapi mereka yang minta bergabung.

Pesan dan harapan Anda kepada caleg yang terjun di dapil Jabar 6?

Untuk caleg internal, karena kita diberi tugas untuk mencapai target dua kursi, maka harus dicapai dengan tepat dan cerdas. Kita harus bagi tugas, tidak kaku, kita harus fokus ke komunitas sendiri-sendiri. Seperti saya misalnya yang fokus di pasar tradisional tapi tidak semua pedagangnya saya garap. Nah, kalau itu dilakukan secara kordinasi saya rasa Gerindra bisa bisa meraih dua kursi dari dapil Jabar 6. Pemilu 2014 menjadi sulit dan berat karena masing-masing partai yang berlaga setidaknya ada lima partai yang sudah punya modal kursi di parlemen. Sementara yang diperebutkan hanya enam kursi oleh lima partai besar. Apalagi Jawa Barat oleh DPP ditugasi untuk bisa meraih 27 kursi.[G]

Lebih Dekat Dengan Andi Rudiyanto Asapa : Berjuang Bersama Rakyat

Berani, sederhana, dan bersahaja adalah gambaran Andi Rudiyanto Asapa. Sepak terjangnya kerap memusingkan banyak kalangan, baik saat sebagai advokat maupun kala duduk di kursi birokrat. Ia selalu berada di garda depan memperjuangkan keadilan tanpa gentar dan tak kenal kompromi saat harus melayani, mengayomi, dan membela rakyat. Tak heran bila ia kian disegani banyak kalangan.

CALEG DPR RI DAPIL SULSEL 2 NO URUT 1

CALEG DPR RI DAPIL SULSEL 2 NO URUT 1

Sosok lelaki yang akrab disapa Rudi ini,memang sudah tak asing lagi bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Rekam jejak perjalanan hidupnya, begitumelekat dalam hati masyarakat. Rudi kerap tampil sederhana dan merakyat saat melakukan sosialisasi ke daerah pemilihannya (dapil). Kesederhanaan itu bukan untuk pencitraan, sebab itu sudah menjadi karakter pengacara yang pernah memimpin Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar ini. Sikapnya santai terhadap aturan formal protokoler, namun tetap menjunjung tinggi etika sesama.

Mantan Bupati Sinjai ini memang bukan berangkat dari latar belakang birokrat. Sebelum menjadi bupati pada Juli 2003, lulusan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar ini,acap berhubungan dengan masyarakat, tak terkecuali kaum marginal. Kebiasaan itu berlanjut ketika menjalankan tugasnya sebagai bupati selama dua periode. Rudi dikenal sebagai sosok yang tak segan-segan blusukan siang maupun malam. Saat menjabat bupati Sinjai, ia keluar masuk perkampungan hingga ke pelosok desa untuk mengetahui beragam persoalan yang dihadapi masyarakat atau sekadar menyapa penduduk di wilayahnya.

“Tidak ada perubahan. Tidak ada juga hal yang baru dan perlu diubah. Saya menjadi bupati dengan karakter seperti itu, setelah masa jabatan saya berakhir yah tetap begitu,” ungkap pria kelahiran Gorontalo, 26 Mei 1957 ini.

Selepas tugasnya sebagai Bupati Sinjai, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sulawesi Selatan ini maju sebagai calon anggota (caleg) DPR RI dapil Sulsel 2. Di dapil ini, Rudi akan bersaing ketat dengan  sejumlah anggota DPR-RI sepertiMalkan Amin, Akbar Faisal, Jafar Hafsah, Andi Rio Padjalangi, Halim Kalla, Syamsul Bahri, Andi Taufan Tiro dan Tamsil Linrung.

Rudi maju menjadi caleg bukan sekadar unjuk kekuatan. Ia merasa resah melihat kondisi bangsa yang kian memprihantinkan. Ia menilai masih banyak yang harus dilakukan untuk membenahi negeri ini.

“Apa yang telah saya lakukan saat menjadi bupati belum banyak memberi hasil maksimal. Nah, untuk bisa ikut membenahi itu, mau tidak mau kita harus masuk dalam parlemen,” ujarnya.

Sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Sulsel, beragam terobosan telah ia lakukan. Di samping penguatan program aksi serta manivesto perjuangan partai, lewat Pemilu 2014  ia mencanangkan target sembilan kursi DPR dari provinsi ini. Setidaknya, itulah yang ia sampaikan kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda saat ditemui beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya :

Setelah Anda menyelesaikan tugas sebagai bupati, apa saja aktivitasnya saat?

Selain menjalankan tugas sebagai Ketua DPD Partai Gerindra Sulsel, saya tetap keliling Sulsel, khususnya dapil 2. Tidak ada perubahan. Sama seperti dulu dengan cara saya sendiri. Sama halnya saat pemilihan gubernur, saya menginap di rumah-rumah masyarakat. Saya bersyukur masih diminta mendatangi mereka dan tinggal beberapa waktu sehingga saya susah payah membagi waktu. Tidak ada perubahan, tidak ada hal yang baru dan perlu diubah. Saya menjadi bupati dengan karakter seperti itu, setelah selesai pun masih seperti dulu.

Bisa diceritakan awal mula Anda bergabung ke Partai Gerindra?

Tahun 2010 Pak Permadi dan Pak Prabowo meminta saya masuk Partai Gerindra. Saya butuh 6 bulan untuk berpikir. Akhirnya dengan bismillah saya masuk dan memimpin Partai Gerindra Sulsel. Nah, yang membuat saya gabung ke partai ini pertama saya melihat visi misi perjuangan Partai Gerindra dan juga komitmen Pak Prabowo untuk kepentingan masyarakat begitu besar. Itu saya pelajari selama enam bulan.

Kedua saya melihat prospek Indonesia, memang ke depan harus ada perubahan, tidak boleh tidak. Kenapa? Karena saya ini sudah merasakan sendiri berada di posisi pemerintahan. Saya tahu bagaimana kelemahan pemerintahan ini. Untuk itu harus ada pemimpin yang baru dan tegas untuk menjalankan roda pemerintahan sehingga NKRI bisa tetap bersatu, masyarakat dan petani kita sejahtera. Tidak seperti itu, hanya masyarakat kota yang sejahtera tapi masyarakat di pelosok desa tidak sejahtera.

Bisa Anda ceritakan bagaimana perkembangan Gerindra di Sulsel menghadapi Pemilu 2014?

Partai Gerindra di Sulsel sangat siap. Seluruh caleg, mulai dari DPRD kabupaten/kota, provinsi dan pusat sudah menjalankan tugasnya masing-masing. Apalagi setelah selesai pembekalan tingkat pusat, maka berikutnya akan dilakukan pembekalan ke tingkat propinsi hingga kabupaten/kota. Selama ini kita biarkan mereka mensosialisasikan diri sebagai caleg.

Semuanya tentu harus memahami dan mengerti, lalu mampu menjelaskan kepada masyarakat tentang 6 Program Aksi Transformasi Bangsa Partai Gerindra. Karena program itu adalah bentuk kontrak politik Partai Gerindra dan Pak Prabowo Subianto kepada masyarakat. Para valeg harus mempelajari dan menerjemahkan dengan baik, lalu menyampaikan ke masyarakat dengan bahasa mudah dipahami.

Apa yang melatarbelakangi Anda maju sebagai caleg?

Menurut sudut pandang saya, kondisi bangsa ini masih banyak yang harus dibenahi. Apa yang telah saya lakukan pada saat menjadi bupati sebagai upaya untuk membenahi bangsa ini belum banyak memberi hasil maksimal. Apalagi kondisi bangsa ini semakin hari semakin memprihatinkan, belum banyak berubah. Agar bisa ikut membenahi, mau tidak mau kita harus masuk dalam parlemen.

Apalagi kalau kita lihat banyak sistem ketatanegaraan yang sudah keluar dari rel. Mulai dari persoalan hukum, sistem pemerintahan, kebijakan pemerintah pusat kepada kepala daerah yang menurut saya memberikan otonomi, tapi tidak sepenuhnya. Bahkan ada menteri yang bilang, otonomi memberikan kepala daerah otoriter, penguasa daerah, tapi semua itu tidak benar dan sangat disayangkan. Karena otonomi daerah yang diberikan itu kerap dibelenggu oleh kebijakan pusat. Semua ini harus kita perbaiki dan benahi secara bersama-sama lewat parlemen.

Lantas apa visi dan misi Anda?

Yang pasti 6 Program Aksi Transformasi Bangsa yang dideklarasikan oleh Ketua Dewan Pembina, Pak Prabowo Subianto. Hal itu adalah bagian dari visi dan misi yang harus dikerjakan oleh seluruh kader secara bersama-sama. Karena keenam program itu dibutuhkan oleh masyarakat, seperti kedaulatan ekonomi. Selama ini ekonomi kita tetap terjajah dengan persoalan kebijakan, pemerintahan yang liberal. Padahal omong kosong bisa membangkitkan ekonomi rakyat kecil kalau ekonomi kita masih menganut sistem liberal. Tak heran bila akses masyarakat kecil untuk mendapat dana bantuan selalu terhalang.

Coba hitung, berapa banyak bank negara yang berpihak pada rakyat kecil. Bisa hitung jari karena saya praktisi di daerah. Jika masyarakat di pedesaan yang mengajukan kredit pasti dipersulit. Sebaliknya, kalau pengusaha yang mau bangun real estate pasti mudah sekali. Ini kan aneh. Inilah yang harus diubah. Kita butuh program transformasi bangsa. Contoh lain, kita ini negara agraris, lahan sawah terbentang luas, tapi petani kita tetap miskin. Pada saat harga pangan naik, seharusnya mereka merdeka, tapi apa yang terjadi, petani tetap miskin. Begitu juga ketika panen, harga anjlok, saat itu juga tidak ada keberpihakan pemerintah yang mau menalangi kerugian mereka. Banyak sekali regulasi yang tidak menguntungkan petani.

Sebagai mantan bupati, seberapa tinggi elektabilitas Anda?

Insya Allah dengan tidak mau mendahului kuasa Tuhan, saya bisa lolos. Karena selama ini saya turun dengan pola saya sendiri, penerimaan dan sikap masyarakat tetap bagus dan baik. Bahkan meski saya sudah dikenal, tapi saya masih tetap mau menginap di rumah-rumah penduduk. Hampir setiap minggu saya turun ke masyarakat yang ada di dapil Sulsel 2 guna menyerap apa yang mereka keluhkan. Apa saja yang mereka inginkan dan harapkan. Memang kebiasaan saya sewaktu menjadi bupati hingga detik ini masih saya lakukan.

Kadang masyarakat mengeluhkan minimnya fasilitas, infrastruktur yang rusak dan sebagainya. Tapi semua itu tidak bisa kita langsung ambil kesimpulan jika bupatinya keliru atau tidak bekerja. Saya paham betul apa yang dihadapi seorang bupati, termasuk kesulitan yang dihadapi. Ini yang akan kita ubah. Hal ini yang akan saya lakukan jika nanti dipercaya duduk di badan legislatif. Salah satunya pola kebijakan pusat terhadap kepala daerah. Saya akan berada di depan dalam perjuangan ini, khususnya dalam hal penganggaran.

Seperti apa karakter pemilih di dapil Sulsel 2?

Di beberapa daerah masih melihat caleg dari sisi kekerabatan, kekeluargaan, silsilah, garis keturunan, dan sebagainya. Tapi yang repot mereka yang pragmatis. Bukan salah mereka bersikap pragmatis, karena ini contoh yang diberikan para pemimpin kita. Tidak dipungkiri karena ini yang dilakukan elite politik, mereka yang mengajarkan masyarakat menjadi pragmatisme. Karena masyarakat dalam kondisi butuh, ya tidak salah kalau mereka terima pemberian itu. Di beberapa daerah memang banyak yang diimingi-imingi, tapi saat ini mereka sedikit terbuka pemikirannya, bahwa mereka terima apa yang diberikan para politisi, tapi masalah pilihan kembali lagi pada hati nuraninya.

Bagaimana upaya Anda untuk mengantisipasi hal itu?

Dalam setiap kesempatan, saya hanya menyampaikan apa yang pernah saya perbuat di Sinjai sebagai bupati. Mereka bisa lihat. Kalau saya dianggap gagal, mereka boleh tidak memilih saya, tapi kalau mereka anggap saya berhasil, Insya Allah apa yang pernah perbuat di Sinjai itu akan saya lakukan juga untuk daerah lainnya. Jadi mereka akan melihat kinerja dan sepak terjang saya selama ini.

Berapa kursi target Gerindra Sulsel?

Saya tidak sesumbar, saya melihat dari kondisi sekarang kita targetkan sembilan kursi. Setiap dapil masing-masing tiga kursi. Kalaupun ada dapil yang hanya meraih dua kursi, bisa ditutupi dari dapil lainnya.

Selama ini kendala apa yang dihadapi?

Yang pertama adalah kesadaran dari kader sendiri, khususnya caleg. Artinya masih banyak caleg krasak-krusuk yang tidak mempunyai basis lalu mengganggu basis caleg lain. Ini akan kita benahi. Kedua, kita tidak sama dengan partai lain yang memiliki amunisi besar, karena keterbatasan kemampuan finansial para caleg. Maka kita harus bermain dengan pola yang efisien dan efektif untuk meraih simpati masyarakat. Tidak hanya pasang baliho, spanduk, stiker lalu tanpa turun ke lapangan menyapa, menyentuh langsung masyarakat. Cara ini akan sejalan dengan target pencapaian, mulai dari DPR kabupaten/kota. Provinsi dan pusat suaranya akan sama.

Selama ini terobosan-terobosan terus kita lakukan, membuat  tren Gerindra pun terus meningkat. Tak heran jika Partai Gerindra Sulsel banyak diganggu, baik dari dalam maupun dari luar. Memang, intrik-intrik semacam itu sengaja digulirkan yang bisa saja mengganggu soliditas kader Partai Gerindra Sulsel. Celakanya, banyak teman-teman yang bermain dalam area-area itu. Saya ingatkan kepada mereka bahwa kemenangan kita adalah kemenangan rakyat Sulsel. Kemenangan rakyat Sulsel inilah yang akan mengantarkan target akhir Partai Gerindra di Pemilu 2014 untuk mengantarkan Pak Prabowo sebagai presiden. Setidaknya kita akan mencapai target 24-30 persen, makanya saya pasang target 9 kursi. Andai itu meleset, paling satu atau dua kursi. Saya selama ini melakukan pemetaan, setiap dapil akan merata kursinya. Kalaupun bergeser itu akan saling menutupi.

Jika terpilih nanti, apa yang akan Anda lakukan?

Yang pasti kita akan sukseskan 6 Program Aksi Transformasi Bangsa. Bagaimana caranya kita berjuang di parlemen mulai dari legislasi hingga penganggaran dan pengawasan. Apalagi kalau Ketua Dewan Pembina kita berhasil menduduki kursi kepresidenan, tentu saja ini akan lebih lancar lagi. Saya berharap ini akan terwujud. Karena inilah tujuan akhir dari perjuangan Partai Gerindra di momen Pemilu 2014. Sehingga kita di dewan tinggal mengawal, memperbaiki, apa-apa yang selama ini menjadi kelemahan harus kita ubah.

Yang pertama dilakukan adalah pasti tatib DPR harus kita ubah, karena banyak persoalan muncul. Termasuk pula beberapa undang-undang yang ada juga harus diperbaiki. Sebagai  praktisi hukum, saya menilai apa yang dilakukan DPR selama ini dalam membuat udang-undang bertahun-tahun, bahkan sampai studi banding ke luar negeri, seringkali sia-sia. Bayangkan saja, setelah disahkan DPR, hanya butuh waktu semalam undang-undang itu dibatalkan oleh Mahkamah Konstutusi (MK).

Pertanyaan saya, MK punya dasar tidak, padahal yang berhak membatalkan undang-undang itu adalah rakyat,  diwakili DPR. Inilah yang akan jadi fokus kita. Kita akan buat undang-undang dengan baik sesuai keinginan rakyat, sehingga tidak perlu lagi ada pembatalan. Kalau pun ada masalah DPR lah yang membatalkan bersama pemerintah, bukan lembaga lain. Karena jelas dalam pasal 2 ayat 1, pemerintah bersama DPR membuat undang-undang. Selama ini undang-undang selesai dibuat dengan dana bermilyar-miliyar, tapi hanya dalam hitungan minggu dibatalkan di MK. Jika kondisinya seperti ini, apa yang terjadi di negari ini?.

Selain itu soal anggaran ke daerah yang terlalu berbelit-belit. Ini yang harus diperbaiki, sehingga tidak ada lagi permainan-permainan, sehingga muncul kasus antara Bupati dan DPR, Menteri dan Bupati kongkalikong menyangkut masalah pembagian anggaran. Harusnya APBN sebagai sumber pendanaan pembangunan itu dibagi rata. Bagaimana mereka mengelolanya diserahkan ke daerah masing-masing. Soal kemudian ada penyimpangan, itu kan ada kewenangan kejaksaan dan kepolisan.

Apa pesan dan harapan Anda lewat Pemilu 2014 ini?

Bagi saya, inilah saatnya jika masyrakat Sulsel mau berubah dengan memilih caleg tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga pusat yang punya kapabilitas, kemampuan, yang mampu membawa perubahan bagi rakyat Sulsel sendiri. Jangan lagi tergiur dengan janji-janji yang pada saatnya caleg-caleg janjikan, tapi setelah terpilih tidak datang lagi. Itulah pelajaran yang harus mereka petik dari momen sebelumnya. Bisa jadi mereka dapat 100 ribu rupiah, tapi setelah dipilih tidak datang, lalu pada saat pemilihan berikutnya datang lagi. Rasanya ini bukan saja terjadi di Sulsel, tapi juga di banyak daerah lainnya.[G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Oktober 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Andi Rudiyanto Asapa maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) Sulawasi Selatan 2.

Lebih Dekat Dengan Prof Suhardi : Mengantarkan Capres Tanpa Koalisi

Kondisi Indonesia semakin memprihatinkan. Bukan saja karena masyarakatnya masih hidup di bawah garis kemiskinan, tapi negeri ini terus dilanda berbagai persoalan sosial.Bencana alam pun datang silih berganti. Kelangsungan dunia politik pun yang kian menambah beban sosial dalam masyarakat. “Semua itu tidak lepas dari perilaku para pemimpin negeri ini. Juga dari hasil pemilu dan termasuk mereka yang memilih golput,” kata Ketua Umum DPP Partai Gerakan Indonesia Raya, Prof Dr Ir Suhardi, M.Sc.

CALEG DPR-RI DAPIL DIY NO. URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL DIY NO. URUT 1

Keresahan itu pula yang membuat pria kelahiran Klaten, 13 Agustus 1952 ini bertekad maju sebagai salah satu calon anggota legislatif dari Partai Gerindra dari dapil Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). ”Masyarakat harus sadar akan pentingnya pendidikan politik dan proses berpikir, agar tidak salah menilai sosok seorang pemimpin yang dipilihnya. Jangan hanya karena dijanjikan sesuatu, lantas memilih seseorang yang nyatanya tak bisa berbuat apa-apa. Masyarakat harus betul-betul paham bahwa nasib bangsa ini berada di tangan mereka dengan cara-cara demokratis,” tegas pakar kehutanan terkenal dengan sebutan profesor telo dan sumpah gandumnya itu.

Meski dunia politik belum lama digelutinya, ia mengaku sedih melihat kondisi politik Indonesia yang tidak lagi menjunjung tinggi asas-asas demokrasi. Ia mengaku agak sulit memahami bagaimana bisa suara rakyat begitu mudahnya dibeli dengan uang.

”Saya terus mengajarkan kepada mereka bahwa pemimpin yang dipercaya, amanah, kopentensi harus diutamakan. Bukan uang yang nilainya sangat kecil. Tapi kondisi di lapangan, seperti masyarakat miskin bisa saja tertarik hanya dengan uang yang sedikit itu,” ujar alumnus College of Forestry, University of the Philippines Los Banos (UPLB), Philipina ini.

Keterlibatannya di panggung politik berawal dari keprihatian dan keresahannya saat menjadi bagian dari pemerintahan itu sendiri. Berbagai pengalaman baik saat di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) maupun di Dewan Ketahanan Pangan Nasional membuatnya frustasi. Akhirnya awal 2007, bersama beberapa rekannya, ia mencoba mendirikan partai politik baru bernama Partai Petani dan Nelayan. Kala itu, Ketua Umum HKTI, Prabowo Subianto masih tercatat anggota Partai Golkar pun diajaknya.

Beberapa waktu kemudian, ia dipanggil Prabowo Subianto untuk membahas rencana pembentukan partai baru. Setelah melewati diskusi panjang, akhirnya Prabowo ikut bergabung, meski masih tetap dibalik layar dan mengganti nama partai menjadi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). ”Saya pun ditunjuk sebagai Ketua Umumnya. Alhamdulillah, hanya dalam waktu dua minggu menjelang penutupan verifikasi partai, Gerindra akhirnya lolos sebagai peserta Pemilu 2009. Sekarang Gerindra pun menjadi peserta pemilu,” tutur mantan salah satu dirjen di Departemen Kehutanan yang rela pensiun dini sebagai pegawai negeri ini.

Kini selain sibuk menahkodai partai berlambang kepala burung garuda, ayah tiga anak ini maju sebagai caleg. Majunya sang Ketua Umum ini, bukan tanpa alasan. Ini didasari bentuk tanggungjawabnyasebagai seorang kader partai politik yang bercita-cita mengantarkan Indonesia menjadi negara yang bermatabat dan mandiri.

”Saya berharap Gerindra bisa maksimal dalam mewujudkan impiannya,” ujarnya.

Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda menemuinya di tengah padatnya jadwal pertemuan dengan beberapa petinggi partai. Lelaki yang selalu tampil sederhana dan bersahaja ini pun memaparkan seputar perkembangan Gerindra dan berbagai langkah yang dilakukannya menghadapi pemilu 2014 nanti. Berikut petikan wawancaranya:

Bisa Anda jelaskan seperti apa perkembangan Gerindra?

Sangat baik, ukurannya jumlah pengurus akan terus kita kembangkan yang tadinya hanya 17 orang. Disamping itu, banyak orang yang mau menjadi pengurus.Kalau dulu jangan kan cari caleg, cari pengurus saja susahnya luar biasa. Dulu cari caleg lima orang dapat dua itu sudah untung, walau masih belum dikatakan berkualitas. Sekarang pengurus sudah terbentuk hingga level paling bawah sekalipun. Bahkan untuk di DKI saja, kita butuh tujuh caleg, yang mendaftar 274 orang. Ini sangat berbeda dengan tahun 2009.Kini posisi kita berbeda, dulu kita tidak punya gubernur, walikota, bupati, sekarang sudah ada di beberapa daerah.

Secara menyeluruh, posisi Gerindra sangat baik, kalau tidak di peringkat dua mungkin satu, walaupun seringkali dikecilkan dalam setiap survey oleh partai-partai besar. Tapi biarlah, yang penting hasil dari kaderisasi kita maksimal dan betul-betul menciptakan kader militan.

Kenapa akhirnya Anda ikut maju sebagai caleg?

Mau tidak mau partai ini harus mendapat kursi sebanyak mungkin. Sehingga semua kader yang punya kepercayaan diri, keyakinan dan siap untuk mendapatkan kursi, harus berjuang untuk mendapatkan kursi yang memadai agar bisa mengantarkan capres tanpa koalisi.

Majunya Anda atas perintah partai atau kemauan sendiri?

Keinginan sendiri, sebagai bentuk tugas dan tanggungjawab. Meski memang, para kader mempertanyakan kenapa saya maju?Kalau kalah nanti bagaimana?. Katanya, nama besar partai akan malu. Itu kata mereka, tapi hitungan saya itu bisa dilakukan. Perhitungan lainnya adalah jaringan yang selama ini saya bangun di berbagai organisasi.Bisa saja mereka memilih karena jaringan itu, atau karena partai saya, atau karena keluarga saya.  Nah, kalau saya tidak maju, jangan-jangan mereka tidak memilih Gerindra. Ini berarti peluang Gerindra berkurang. Tentu saja, ini akan mengorbankan segala hal, mulai dari finansial, waktu dan tenaga baik untuk keluarga maupun partai harus dibagi-bagi. Jadi ini pun termasuk perjuangan untuk mendapatkan kursi sebanyak-sebanyaknya.

Kenapa Anda memilih dapil DIY?

Saya berada di Jogja sejak 1971.  Sebagai dosen, lalu dipercaya menduduki jabatan mulai dari sekretaris jurusan, dekan hingga sebagai biro perencanaan UGM. Begitu pula di luar kampus, saya sebagai Ketua HKTI dan sejumlah organisasi lainnya yang memiliki basis massa yang tidak kecil. Di samping itu, saya memiliki prestasi yang oleh banyak kalangan dinilai bagus seperti cemara udang yang bisa mengurai tsunami, abrasi. Kemudian konservasi pantai cemplon, hutan wanagama yang terkenal di seluruh dunia. Setidaknya, saya dianggap sebagian hidup saya untuk membangun hutan itu.

Belum lagi sumpah gandum saya sebagai professor telo yang sangat dikenal publik negeri ini. Sehingga saya optimis bisa meraih kursi, meski saingannya berat-berat. Setidaknya di dapil ini ada Hediati Prabowo atau yang dikenal Mba Titi dari Golkar, ada pula Roy Suryo, mantan Bupati Idham Samawi, dan sejumlah incumbent lainnya dari PKS, PAN, Demokrat dan PKB. Memang perjuangan saya luar biasa beratnya, tapi saya sudah melakukan sosialisasi sejak dua tahun lalu. Bahkan saya sudah pernah mengumpulkan para saksi di Gunung Kidul, pelatihan-pelatihan saksi, pelatihan kader jauh sebelumnya. Di samping itu pendekatan teman-teman yang ada di kampus, saya kira masih memiliki kekuatan tersendiri karena saya pernah menjadi bagian dari mereka.

Selama dua tahun sosialisasi, bagaimana respon mereka?

Cukup bagus, nyatanya mereka beramai-ramai mendaftarkan diri menjadi pemilih, menjadi saksi. Kita sudah memiliki daftar pemilih dan saksi dan ini merata tersebar di selruuh wilayah Jogja, sehingga peluang saya tidak terlalu kecil meski berat.

Daerah mana saja yang menjadi sasaran Anda dan targetnya berapa?

Kalau boleh diurut Gunung Kidul, Sleman, Kulonprogo, baru Kota Yogya. Dan untuk bisa meraih kursi, mau tak mau harus bisa meraih kurang dari200 ribu suara.

Program apa yang Anda tawarkan?

Sebetulnya tidak susah.Setiap sosialisasi, saya sampaikan 8 Program Aksi yang kemudian di-improve menjadi 6 Program Aksi.Ini menjadi materi kampanye yang paling utama. Menjelaskan kepada rakyat bahwa dengan 6 program itu,Indonesia bakal makmur dan bermartabat. Saya juga tunjukkan apa yang sudah saya lakukan, dan akan saya lakukan. Bagaimana membangun ekonomi dengan meningkatkan pendapatan masyarakat, sehingga bisa hidup lebih baik. Mulai dari pangan mandiri, ekonomi yang maju, ekonomi kerakyatan dari kekuatan-kekuatan pangan rakyat, energi, ternak, minyak kemiri, dan sebagainya.

Apa visi dan misi Anda?

Pasti akan melakukan sosialisasi 6 Program Aksi Partai Gerindra demi terwujudnya Indonesia yang makmur dan bermartabat. Sedangkan misi saya,membuktikan soal sumpah gandum. Bahwa saya baru akan makan gandum  jika bangsa ini sudah sejahtera, minimal sekaya kerajaan Majapahit waktu itu. Dimana bangsa ini pernah kaya raya seperti yang dialami Majapahit. Kalau hal itu terwujud maka saya baru akan buka puasa makan gandum.

Selama ini kendala yang dihadapi?

Kendala yang paling berarti tentu saja finansial. Saya bukan orang kaya raya, walaupun bukan orang miskin. Tapi kenyataan yang kita hadapi adalah orang-orang pragmatis. Sementara saya sendiri dan Gerindra tengah melawan orang-orang berwatak pragmatisme. Selain kendala finansial yang terbatas, jarak yang sangat luas, dari titik satu ke titik berikutnya bisa memerlukan waktu 6 jam. Tapi ini harus kita lakukan.

Lalu apa langkah antisipasi Anda?

Saya terus mengajarkan kepada bahwa pemimpin yan amanah, kopentensi inilahyang diutamakan.Bukan uang yang mungkin nilainya sangat kecil. Tapi kondisi di lapangan seperti masyarakat miskin saat ini, bisa saja tertarik hanya dengan yang sedikit itu. Tapi saya yakin dengan pendidikan politik yang benar, akan terjadi pembelajaran politik bagi para pemilih.Dan bangsa Indonesia akan lebih dewasa.Itulah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas. Yang terpenting adalah supaya mereka lebih terdidik secara politik dan ekonomi. Selama ini yang sampai ke pada mereka hanya mengharap lebih sedikit, tapi lupa dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Mendapat sesuatu yang sedikit lalu mereka memilih, ini yang berbahaya.

Selain masih ada yang pragmatis, ada dari kalangan terdidik tapi mereka memilih golput. Ini juga berbahaya,  karena golput di Jogja mencapai 50 persen. Golput ditimbulkan akibat ketidakpercayaan mereka kepada pemerintah dan pemimpin hasil pemilu. Sejatinya,ini tugas pemerintah dan partai politik untuk melakukan pendidikan politik hingga ke bawah.  Makanya Gerindra lahir untuk itu, kalau tak diatasi maka negeri ini tidak akan maju. Jika mereka golput, dan pemimpin yang  terpilih tidak bagus maka mereka ikut bertangungjawab. Bahkan saya ultimatum kepada mereka, negara ini bisa hancur jika mereka golput. Orang-orang yang golput itu juga pantas disebut pengecut.

Apa perbedaan antara pemilu lalu dengan yang akan Anda hadapi nanti?

Dulu,murni suarapribadi 24 ribu, ditambah suara partai menjadi 68 ribu.Tapi kenapa malah menjadi 60 ribu saja, inilah yang namanya permainan. Memang itu pengalaman pertama dengan persiapannya serba dadakan.Lagi pula yang tandem saya satu orang untuk tingkat provinsi dan dua orang untuk tingkat kabupaten kota. Saat ini yang tandem dengan saya di provinsi sekitar 15 orang caleg dan DPRD kabupaten/kota sekitar 30 orang bahkan bisa nambah lagi. Sekarang sudah ada pengalaman, jaringan lebih kuat, waktu lebih lama, sehingga peluangnya juga besar meski persaingan luar biasa. Saya tetap semangat dan optimis.

Apa harapan dan pesan Anda untuk para kader?

Minimal bisa meraih 20 persen suara agar pada saat mencalonkan Pak Prabowo menjadi presiden tidak perlu berkoalisi. Bahkan saya sendiri berharap di atas itu, sehingga Gerindra bisa maksimal mewujudkan impiannya. Dengan begituprogram kita bisa berjalan tanpa gangguan. Karena kebijakan harus didukung parlemen yang kuat, kalau lemah percuma, akan diganggu oleh kekuatan lain. Jika ini berhasil, saya akan buka puasa atas sumpah gandum. Pesan saya, mari kita berjuang, tulus dan ikhlas. Karena waktu sudah sempit untuk meraih kemenangan ini, kita tidak usah berpikir lain-lain, selain untuk menang.Bangsa ini harus tampil  bermartabat, sejahtera dan mandiri. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Suhardi maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) DI Yogyakarta.

Lebih Dekat Dengan Ajib Hamdani : Wajib Membesarkan Partai

Benar dan salah, bagai dua sisi mata uang. Sehingga memuliakan kebenaran bukan berarti harus menepikan kesalahan. Seiringanya berjalannya waktu, kebenaran pasti akan teruangkap jua. Inilah yang diyakini Ajib Hamdani, saat memutuskan berhenti menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di usainya yang sangat muda. Meninggalkan pekerjaan yang menjanjikan di Direktorat Jenderal Pajak  itu pun mengundang banyak tanya. Apalagi tak berselang lama, namanya  terdaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Gerindra.

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 11 NO URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 11 NO URUT 1

Namanya memang pernah terkait seputar rekening gendut yang merebak di instansi itu setahun lalu, seiring bergulirnya kasus-kasus yang melilit para punggawa pajak. Kasus itu mencuat ke permukaan setahun setengah setelah ia mundur sebagai pegawai pajak. Namun, setelah ditangani pihak berwajib, isu tak sedap yang menimpanya dinyatakan tidak terbukti. Sejak saat itu pula, wajahnya kerap wara-wiri di layar kaca dan beberapa media cetak nasional lainnya sebagai pengamat perpajakan. Termasuk menjadi saksi ahli di beberapa kasus perpajakan.

Ajib putar haluan. Meski seringkali dimintai tanggapannya tentang persoalan-persoalan pajak, ia lebih tertarik menekuni bisnis properti. Sembari menjalankan bisnisnya, pria kelahiran Magelang, 8 Desember 1980 ini merasa tertantang untuk berbuat untuk negara. Ia merasa yakin, jika terjun ke dunia politik adalah bagian dari pengabdiannya sebagai warga negara.

“Politik adalah pengadian, bukan kepentingan,” tegasnya. Menurutnya, dengan berpolitik ia bisa berbuat lebih bermanfaat bagi masyarakat luas.

Karena itu, ayah empat anak ini tak pernah menyesali jalan hidup yang dipilihnya. pun  bisa memberi manfaat dan berbuat lebih banyak lagi bagi bangsa dan negara ini. “Ketika seseorang menjadi anggota dewan, saya yakin ia akan lebih bermanfaat bagi masyarakat. Sebab,  di sana ada kewenangan legislasi, anggaran, pengawasan,” ujar lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) ini.

Selepas menyeselesaikan kuliahnya di STAN, ia ditempatkan di Kantor Pelayanan PBB (KPPBB) Jakarta Barat Dua. Tahun 2005, ia memilih tugas belajar di Universitas Diponegoro (UNDIP) mengambil Jurusan Ekonomi, Spesialisasi Penilai Properti. Setelah lulus dengan predikat cum laude, ia kembali ke Jakarta dan ditempatkan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jakarta Kelapa Gading sebagai Pelaksana. Namun, dua tahun kemudian ia mengundurkan diri dari PNS.

Meski mengaku sangat prihatin dengan sistem perpajakan Indonesia yang masih kurang ideal, ia lebih memilih menjadi pengusaha ketimbang meneruskan karirnya. Berangkat dari keprihatinan itu pula yang membuatnya bertekad maju sebagai caleg di bawah bendera Gerindra. “Mungkin karena itu saya dipercaya Partai Gerindra untuk ditempatkan di Jabar 11. Paling tidak saya punya bekal pengetahuan dan pengalaman tentang menata keuangan negara serta bagaimana mendesain pajak yang lebih baik,” kata suami dari Ratna Sari ini.

Lantas seperti apa pemikiran dan langkah-langkah yang dilakukannya dalam menghadapi perhelatan pesta demokrasi di 2014 nanti? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, ia memaparkan dengan penuh semangat. Berikut petikannya:

Apa yang membuat Anda terjun ke dunia politik?

Berangkat dari sudut pandang yang sederhana. Seperti halnya saat keluar dari PNS dan menjadi wirausaha. Dulu, istri saya juga merasa nyaman sebagai PNS untuk keluarga kecil kami. Tapi saya ingin lebih bermanfaat bagi masyarakat luas,  dan memutuskan menjadi pengusaha. Lewat usaha ini bisa memberi manfaat bagi banyak orang. Setelah berjalan sekian tahun, saya merasa impact-nya kurang massif. Saya pun berpikir kenapa saya tidak terjun di dunia politik. Bagi saya, ketika seseorang menjadi anggota dewan, maka akan lebih besar lagi manfaat yang akan diberikan, karena di sana ada kewenangan legislasi, anggaran, pengawasan.

Sejak kapan Anda terjun di politik?

Belum lama. Sebelumnya saya sama sekali tidak pernah berkecimpung di dunia politik. Meski saat kuliah saya aktif di organisasi, tapi hanya sekadar ikut berbagai kegiatan kampus. Saat dibirokrasi, di lingkungan Direktorak Jenderal Pajak, saya hanya sebagai pelaksana tugas, yang tidak dituntut berpikir kreatif. Karena itu, ketika tahu tentang manivesto perjuangan, dan program aksi Partai Gerindram saya sangat tertarik.  Saya pun mencoba mendaftarkan diri sebagai bakal calon legislatif di Partai Gerindra. Saya tertarik untuk mengawal dari sisi perpajakan sehingga ke depan Indonesia ini menjadi yang kuat. Mengawal kebijakan melalui sisi anggaran negara.

Apa motivasinya Anda akhirnya ikut mencalonkan diri?

Saya punya latar belakang selama tujuh tahun sebagai PNS Pajak. Karena itu,  saya merasa sangat prihatin mengapa sekian tahun sistem perpajakam kita belum ideal. Bayangkan Tax Ratio kita saat ini sangat memprihatinkan, hanya 12 persen saja. Sangat tidak ideal. Saya berpikir untuk meningkatkan tax ratio tersebut, tapi sulit  terlaksana karena saya hanya pelaksana bukan pengambil keputusan. Kalau mau berbuat lebih, kita harus ada di legislatif.

Apa yang sudah Anda lakukan?

Sebagai caleg, kita harus tahu bagaimana mengenalkan dan mendekatkan masyarakat pada partai. Sebab pemilihan umum legislatif (pileg), konstelasinya berbeda dengan pemilukada. Kalau dalam pileg,  orang akan melihat partai terlebih dahulu  baru siapa calonnya. Berbeda dengan pemilukada yang lebih pada figur. Tugas kita bersama, bagaimana membesarkan nama partai karena tujuannya adalah peraihan kursi partai. Memang tak mudah, karena sistem peraihan suara terbanyak. Karena itu, kanibalisme internal ini harus kita reduksi, mesk menjadi sebuah keniscayaan. Mengenali kultur masyarakat dapil Jabar 11. Kultur mayarakat setiap dapil memiliki local wisdom tersendiri, karena itu kita harus bertemu calon konstituen. Setiap Sabtu dan Minggu, saya pasti menemui mereka.

Bagaimana karakter pemilih masyarakat dapil Jabar 11?

Dari tiga wilayah, satu kota dan dua kabupate, saya melihat ada perbedaan antara masyarakat kota dengan kabupaten. Misalnya, masyarakat Kota Tasikmalaya sudah well educated dan terkontaminasi dengan euphoria demokrasi jadi mereka agak pragmatis. Sementara yang di kabupaten masih lebih mengedepankan ikatan emosional kekerabatan. Namun begitu, kota Tasikmalaya hanya memiliki lebih dari 500 ribu DPT sementara Kabupaten Tasikmalaya sekitar 1,3 juta DPT dan Kabupaten Garut, 1,6 juta DPT.

Program apa yang Anda jalankan  untuk bisa meraih suara nanti?

Sejatinya para caleg jangan sampai terjebak. Program partai haruslah menjadi prioritas utama. Tugas kita adalah membesarkan nama partai. Kita harus fokus ke sana, jangan banyak menebar janji-janji program kerja yang pada saatnya nanti itu menjadi domain eksekutif. Yang jelas kita besarkan partai dan puncaknya pada saat pemilihan Presiden. Kita juga jangan membodoh-bodohi masyarakat dengan membagi-bagi uang.

Saya percaya konstituen sudah cerdas. Kalaupun politik transaksional itu terjadi, memang sudah keniscayaan. Tetapi kita harus reduksi dengan berbagai terobosan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Saya tengah menggaet new voter karena saya yakin mereka bukan golongan yang transaksional. Saya juga berhitung dengan keunggulan yang saya miliki. Karena saya berjiwa muda, maka saya menyasar ke pemilih pemula dengan program yang sesuai. Lalu ada pemilih ibu-ibu atau kalangan tua lainnya, maka saya akan mengkombain dengan para caleg yang di Propinsi maupun caleg kabupaten/kota.

Target Anda di Jabar 11?

Melihat perkembangan yang ada, dengan 10 kursi, targetnya tiga kursi. Setidaknya ada dua kursi bisa diraih. Kalau target pribadi, harus bisa meraih suara minimal 100 ribu suara. Yang menarik bagi saya, kenapa DPP memepercayakan saya di dapil Jabar 11 dan nomor urut 1. Padahal kata banya orang, nomo urut pertama itu sulit. Awalnya memang tidak punya grassroot, tapi setelah melakukan kordinasi dan komunikasi dengan semua elemen di Gerindra, saya tinggal menjalankan program. Saya yakin semuanya bisa tercapai. Meski medannya sama sekali belum kita ketahui sebelumnya. Tapi inilah tantangan saya, target saya memang Gerindra akan leading di Jabar 11. Bukan sekadar jadi, tapi suara Gerindra bisa memimpin.

Daerah mana yang akan menjadi sasaran Anda dalam mendulang suara?

Saya akan berjuang di semua lini. Target utama di Kabupaten Tasikmalaya. Secara pribadi sebagai caleg pada prinsipnya visi saya bukan untuk jadi atau tidak jadi anggota dewan, tapi membesarkan Partai Gerindra. Apakah nanti saya masuk ke Senayan, itu soal lain. Yang penting, saya berusaha kerja dan terus berjuang yang pada akhirnya adalah soal garis tangan saja. Kalau pun tidak jadi, saya akan tetap berjuang di partai ini. Apakah kelak akan ditempatkan atau dipercayakan dimana saja, saya akan sangat senang ketika membicarakan tentang karya untuk masyarakat Indonesia. Termasuk kalau memang berhasil ke Senayan, saya siap untuk ditempatkan di komisi berapa saja, meski begitu saya berharap di komisi XI.

Jika terpilih nanti, apa yang akan Anda lakukan di DPR?

Saya punya obsesi untuk menata pajak lebih baik. Kalau kita punya Dirjen Pajak yang mumpuni, dan punya tim yang lebih konsen menata keuangan negara lebih baik, maka saya yakin Indonesia akan lebih baik. Tidak sampai tiga tahun penerimaan negara bisa mencapai 1500 triliun per tahun. Dan Tax Ratio sebesar 15 persen itu, bukan sesuatu yang tidak mungkin bisa dicapai.

Bagaimana dukungan keluarga?

Pesan orangtua dan keluarga sederhana saja, bahwa istiqomah dalam berjuang dan tawakkal. Itu yang saya  pegang dalam berpolitik. Tujuan saya satu, besarkan Partai Gerindra, dan mengawal 6 Program Aksi Transformasi Bangsa Partai Gerindra.

Apa pesan yang ingin Anda sampaikan?

Besar harapan saya sesama caleg bisa kerjasama dengan baik untuk membesarkan nama Partai Gerindra. Masalah jadi atau tidak, itu nomor dua. Kita akan menjadi bintang iklannya partai, kalau bisa mengusung partai dengan baik. Untuk kader yang ada di struktural, maupun sayap dan ormas, saya sebagai caleg sangat berterimakasih sekali jika kita bersama-sama berkolaborasi dengan baik untuk meraih suara terbanyak.  Mari belajar untuk mengedukasi politik yang lebih sehat dengan baik. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Ajib Hamdani maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) Jabar 11.

Lebih Dekat Dengan Mulyadi : Revolusi Energi Nasional

Kiprahnya di Senayan memang masih terbilang baru, namun sikap kritisnya kerap membuat keteteran para pemangku kebijakan. Sejak dilantik menggantikan sebagai anggota pengganti antar waktu, ia langsung menyuarakan apa yang seharusnya dilakukan seorang wakil rakyat. Tak ayal, keberadaannya sebagai wakil rakyat kian diperhitungkan banyak pihak. Terlebih ketika ia dengan lantang menyuarakan soal revolusi energi nasional.

CALEG DPR RI DAPIL JABAR 5 NO. URUT 6

CALEG DPR RI DAPIL JABAR 5 NO. URUT 6

Dialah Drs Mulyadi MMA, wakil rakyat yang tercatat dalam Komisi VII dari Fraksi Partai Gerindra dikenal sebagai orang pertama yang menggulirkan revolusi energi di gedung Senayan. “Pasalnya kedaulatan energi nasional betul-betul dirongrong oleh sikap-sikap kebijakan dan anggaran yang terlalu kompromis dan sarat retorika. Jadi bagi saya bukan lagi revitalisasi, tapi kita perlu lakukan revolusi energi nasional,” ujar pria kelahiran Bogor, 2 November 1970 yang mengaku kadang teriakannya itu hilang begitu saja ditelan keriuhan pemilih kursi mayoritas parlemen.

Meski demikian, Mulyadi tak patah arang. Malah ia semakin getol memperjuangkan suara rakyat di komisi yang membidangi urusan energi sumber daya mineral, riset dan teknologi serta lingkungan hidup ini. Pasalnya, negara ini terlalu euphoria terhadap sumber energi yang ada di dalam perut bumi. Padahal kekayaan alam di atas bumi jauh lebih besar dibanding yang ada di dalam perut bumi. “Negara ini begitu euphoria mengeksplorasi yang ada di dalam perut bumi secara besar-besaran,” kritik lulusan Univeritas Katholik Parahiyangan Bandung ini.

Menurutnya, apa yang diperjuangkannya selama ini belum maksimal. Di samping keberadaannya di parlemen baru berjalan kurang dari setahun, Mulyadi pun kerap mendapat perlawanan sengit dari rekan-rekan di satu komisi yang beda fraksi. Ia pun sadar untuk mengawal sebuah perubahan memang dibutuhkan keberanian dan niat yang tulus. Apalagi mitra kerja yang ditanganinya itu kerap tersandera banyak kepentingan. Karena itu, Mulyadi memutuskan untuk kembali maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) di daerah pemilihan (dapil) yang sama yakni Jawa Barat 5.

“Saya ingin menjadi bagian dari upaya transformasi bangsa ke arah yang lebih baik yang diperjuangkan Partai Gerindra. Saya ingin menjadi bagian dari gerbong perubahan itu,” ujar caleg nomor urut 6 ini.

Keterlibatan Mulyadi di partai politik bukan sekadar latah atau ikut terbawa euphoria belaka. Awalnya Mulyadi yang kala itu tengah bekerjasama dengan pendiri Partai Gerindra, Prabowo Subianto untuk mendirikan perusahaan penerbangan mengajaknya untuk ikut maju sebagai caleg pada Pemilu 2009. Gayung pun bersambut, sebagai putera daerah Mulyadi mengiyakan ajakan Prabowo untuk ikut bertarung sebagai caleg di dapil Jawa Barat 5 yang meliputi Kabupaten dan Kota Bogor. Sayang, hasil perhitungan KPU, hanya meloloskan satu kursi. Sementara Mulyadi sendiri berada di posisi kedua.

Tidak lolos sebagai anggota dewan, Mulyadi kembali menekuni profesi sebelumnya sebagai pengusaha sekaligus pakar dalam bidang pasar modal. Bahkan sebagai pemegang lisensi pasar modal, keberadaanya kerap diincar perusahaan yang berencana go public. Jelang tutup tahun 2012, tiba-tiba Mulyadi dipanggil untuk mengemban tugas sebagai anggota DPR. “Karena ini tugas, maka saya harus mengembannya dengan penuh tanggungjawab,” ujar ayah empat orang anak yang menggantikan posisi Widjono Hardjanto sebagai anggota dewan.

Disamping sibuk menjalankan tugas sebagai wakil rakyat, Mulyadi yang sudah lama membina sebuah pondok pesantren penghafal Al-Quran di daerah Jonggol, Kabupaten Bogor itu kembali bertarung sebagai caleg di dapil yang sama. Seakan tak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada, setiap akhir pekan ia gunakan untuk blusukan dari kampung ke kampung.

“Semoga saya diberi kekuatan untuk menjaga niat dan aktifitas ini, karena bagi saya maju kembali sebagai caleg bukanlah untuk mengejar jabatan, tapi sebagai upaya ikut menjadi bagian dari gerbong perubahan itu,” katanya.

Seperti apa perjuangan dan aktivitasnya sebagai anggota dewan yang kembali maju sebagai caleg. Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda –yang menemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu— mantan Direktur Operasional Cipaganti Grup itu memaparkan. Berikut petikannya:

Bisa ceritakan apa saja yang Anda perjuangkan di gedung parlemen saat ini?

Pada tiga bulan pertama menjalani tugas sebagai anggota dewan, oleh partai saya ditugasi masuk ke Komisi 7. Setelah mempelajari aturan main, tata tertib dewan dan mengikuti rapat-rapat komisi dan fraksi terutama terkait dengan komisi 7, saya bisa menarik kesimpulan bahwa kondisinya begitu memprihatinkan terutama pada tata kelola energi. Kemudian saya juga dipercaya masuk dalam pokja RUU Nagoya Protokol yang membahas pengelolaan sumber daya hayati yang dimiliki Indonesia. Ternyata sumber daya hayati kita bisa dimanfaatkan untuk mendatangkan devisa negara.

Saya makin terbelalak ketika mengetahui selama ini kekayaan alam yang ada di atas bumi ini tidak dikelola secara maksimal. Mustinya kita harus belajar banyak dari China yang lebih memilih memanfaatkan kekayaan alam yang ada di atas bumi dibanding yang ada di dalam perut bumi. Anehnya di Indonesia ternyata banyak pihak asing yang masuk untuk memanfaatkan sumber daya hayati yang ada di atas bumi. Karena itu, saya sampaikan kepada pihak pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup (LH) bahwa dalam hal perijinan ke depannya, bukan hanya soal amdal saja tapi kementerian LH juga harus memastikan daerah tambang baru itu sumber daya hayatinya benar-benar bisa diproteksi terlebih dulu. Makanya saya gulirkan permasalahan tata kelola energi ini bukan sekedar revitalisasi saja tapi menggunakan bahasa revolusi.

Di samping itu saya juga menyampaikan bahwa Kementrian Riset dan Teknologi jangan sampai hanya menjadi kementrian seremonial dan menghabiskan APBN karena selama ini hanya bisa menjadi departemen cost center, belum terlihat apa kontribusinya selama ini? Mustinya menristek harus bisa menciptakan produk atau temuan yang bisa memberi pemasukan negara. Misalnya produk-produk sistem perpajakan yang berbasis IT sehingga mensupport negara dalam meningkatkan pendapatan dari sektor pajak. Jadi selama menjadi anggota DPR, saya sebagai praktisi manajemen yang sudah bertahun-tahun saya melihat adanya tata kelola kebijakan yang tidak maksimal bahkan cenderung tersandera oleh kepentingan-kepentingan sehingga merugikan masyarakat.

Lalu apakah ini yang melatari Anda maju kembali sebagai caleg?

Ya. Selain saya baru satu tahun, saya juga ingin ikut menjadi bagian dari upaya transformasi bangsa ke arah yang lebih baik yang diperjuangkan Partai Gerindra. Saya ingin menjadi bagian dari gerbong perubahan itu.  Masyarakat pun harus tahu bahwa untuk bisa menjadi bagian dari perubahan itu tidak hanya dengan berkoar-koar, tapi ikut terjun langsung. Apabila Partai Gerindra diberi kesempatan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk berkuasa di negeri ini, saya harap dari program aksi yang diusung Partai Gerindra bisa mengakomodir kepentingan bangsa. Saya ingin ikut melihat perubahan dan menjadi bagian dari itu. Hakikat dasarnyanya, saya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang banyak di negeri ini.

Lalu apa visi dan misi Anda?

Kalau visi sebagai seorang yang beragama, karena saya seorang muslim, saya ingat sekali pesan Rasulullah, bahwa orang yang paling baik adalah orang yang bermanfaat untuk banyak orang. Selain itu saya juga betul-betul bisa mempertanggungjawabkan sisa umur saya di hadapan Tuhan. Sementara misi saya adalah pada prinsipnya saya ingin ikut memberikan masukan-masukan dan menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan untuk setiap program dan anggaran negara dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Intinya membawa mengawal transformasi negara yang selama ini tersandera menjadi bebas tanpa kendala.

Kenapa Anda pilih dapil Jawa Barat 5?

Jawa Barat 5 adalah dapil tanah kelahiran saya. Leluhur saya di sana semua. Selama menjadi anggota dewan membuat saya terbelalak bahwa selama ini ada dana di program DPR untuk masyarakat seperti bantuan-bantuan sosial, bantuan infrastruktur, dana aspirasi dan sosialisasi empat pilar bangsa. Dimana selama hidup di lingkungan saya yang menjalankan kegiatan itu membuat masyarakat kaget, bahwa kegiatan seperti itu ada dananya. Lalu selama ini kemana anggarannya? Nah kalau hal itu bisa memberikan kontribusi kepada daerah pemilihan, maka saya pun memanfaatkan hal itu untuk kesejahteraan masyarakat. Jangankan ada anggarannya, sebagai putera daerah, saya bertanggungjawab untuk berbuat sesuatu memajukan dan membangun masyarakat. Atas dasar itu pula saya akhirnya memilih kembali ke dapil yang sama seperti 2009 lalu.

Apa saja yang sudah Anda dilakukan di dapil?

Sebagai anggota DPR PAW (Pengganti Antar Waktu) setelah melakukan kordinasi dengan struktural saya juga melakukan komunikasi dengan anggota dewan yang ada di kabupaten dan provinsi untuk bersinergi dalam menjalankan tugas dan fungsi sebagai anggota. Saya sampaikan bahwa sebagai refresentasi dari partai tentu harus bisa memberikan kontribusi tidak saja kepada masyarakat, tapi juga harus bisa menangani masalah-masalah yang timbul dalam struktur partai. Kemudian karena ekspektasi masyarakat begitu besar terhadap duduknya saya sebagai anggota dewan, saya membuat HMS Center (Haji Mulyadi Syurdi) tapi di lapangan lebih dikenal dengan HMS Strategic. Kita buat organisasinya, programnya dan anggarannya.

Dari proposal yang masuk alhamdulillah selama ini kita bisa mengakomodir berbagai keinginan masyarakat di bidang sosial, keagamaan, dam pemuda. Selama ini kita membina para penghapal Alquran, menggelar tablig akbar rutin bersama KH Arifin Ilham. Festival musik untuk memberikan saluran-saluran bakat anak muda supaya kegiatan mereka positif. Memberikan bantuan bagi korban bencana, bantuan renovasi rumah tidak layak huni. Alhamdulillah proposal yang sudah masuk hampir 90 persen kita akomodir.

Selain itu kita juga lagi berjuang mengakomodasi keinginan masyarakat yang selama ini belum tersaluri listrik. Bayangkan di tahun 2013 ini ada daerah yang hanya berjarak 20 KM dari Cikeas belum mendapat aliran listrik, namanya daerah Kelapanunggal. Begitu juga permohonan masyarakat puncak, yang mengadukan selama ini terganggu dengan keberadaan vila-vila di sana. Saya sampaikan kepada Menteri LH, bahwa kalau Jakarta banjir selalu dibilang kiriman dari Bogor, padahal itu sebenarnya air pulang, dimana setiap akhir pekan, warga Jakarta pemilik vila berduyun-duyun ke puncak lalu buang air disana sehingga suatu saat air itu pulang lagi ke Jakarta.

Program apa saja yang Anda tawarkan?

Tentunya program yang saya tawarkan adalah terkait isu-isu daerah yang selama ini belum maksimal dirasakan oleh masyarakat, seperti layanan kesehatan, pendidikan dan infrastruktur. Saya berharap bisa mengawal kebijakan anggaran negara dan akan saya arahkan ke dapil saya. Disamping itu, saya juga sudah membangun komunikasi dengan kepala daerah, untuk lebih memberikan prioritas lebih dengan apa yang dibutuhkan masyarakat. Karena dapil ini tidak jauh dari ibukota tentu menjadi barometer nasional dalam hal pelayanan dan pembangunan, mustinya pendidikan, kesehatan dan infrastruktur pun tidak boleh timpang.

Menurut Anda seperti apa karakter pemilih dapil Jabar 5?

Karena saya awalnya bukan orang politik, jadi ketika terjun langsung terasa kaget juga menghadapi kenyataan di lapangan apalagi dengan adanya pasukan tak gentar membela yang bayar. Disamping ada yang idealis tentunya ada juga yang pragmatis, setiap daerah berbeda-beda. Ada yang sudah militan, ada yang masih harus diyakinkan dan ada pula yang tidak bisa diarahkan.

Lalu bagaimana Anda mengantisipasi kelompok pemilih pragmatis?

Saya pikir tinggal edukasi memberikan pemahaman yang baik, bahwa apa yang mereka putuskan bukan saja akan berpengaruh pada kehidupan mereka ke depan tapi bagi anak cucu mereka. Kalau pragmatis masih tetap dipertahankan, maka bukan saja mereka yang rugi tapi anak cucu mereka. Mereka mestinya tidak boleh lagi menyia-nyiakan hak pilih mereka hanya untuk sejumlah uang tapi harus dipertanggungjawabkan. Alhamdulillah di dapil ini sudah mulai bergeser.

Berapa target suara Anda?

Belajar dari 2009 bahwa gambarannya ongkos ke Senayan dalam arti kursi itu memang besar dengan jumlah tertentu. Dari pengalaman itu, kita petakan kekuatan, dari sana kita bagi empat zona untuk target suara. Dimana zona 1, targetnya 30 persen suara. Zona 2, 15 persen suara. Zona 3, menargetkan 5 persen dan zona 4, targetnya hanya 1 persen suara. Tahun 2009 saja, Di zona 1 kita mendapat suara signifikan saya bisa meraup 10 ribu suara dari 90 ribu suara. Sementara zona paling kecil presentasinya itu memang ada caleg dengan pemilih yang militan, tentunya kita tidak akan jor-joran di zona itu karena akan mubasir. DPP sendiri menargetkan dapil Jabar 5 dengan tiga kursi, tentunya selain harus mempertahankan kursi incumbent, harus ada dua kursi yang kita rebut. Bisa jadi itu didapat dari muntahan Demokrat.

Apa yang Anda lakukan untuk mencapai target itu?

Saya mengadakan pembekalan kepada tim pemenangan saya, dengan menghadirkan tim ahli dan struktur partai dan fraksi. Selain menyebarkan atribut seperti oneway stiker, kita juga membuat sistem perekrutan seperti MLM dengan cara membekali kader dengan buku silaturahmi. Kemudian di tingkat TPS kita menerapkan bukan dengan konsep saksi tapi pendamping pemilih. Kita juga menjalankan program tiga tahap, yakni tahu, kenal dan suka. Konsep itu kita terjemahkan dalam aktvitas kegiatan yang disukai masyarakat baik agama, sosial dan silaturahmi. Setidaknya, sudah ada 700 angkot sudah terpasang oneway stiker.

Dari sekian daerah yang ada di Jabar 5, daerah mana yang menjadi prioritas?

Daerah yang menjadi prioritas untuk bisa mendulang suara adalah daerah Jonggol. Daerah yang menjadi tanah kelahiran saya itu pada saat 2009 saja, yang tidak saya sentuh sama sekali bisa mendulang 10 ribu suara, makanya sekarang saya lebih fokus di daerah itu.

Ada cerita apa dibalik penempatan Anda di nomor urut 6?

Inilah saatnya saya harus klarifikasi. Karena selama ini banyak yang menanyakan termasuk Bupati Bogor. Saya incumbent putera daerah kok malah ditaroh di nomor urut 6. Saya berbaik sangka saja kepada DPP. Awalnya saya sebagai anggota DPR memang baru berjalan setahun dan belum ada apa-apa atau kurang maksimal. Kemudian pada saat pendaftaran saya konsultasi kepada Sekjen dan fraksi, kalau nanti di DPP akan menimbulkan dinamika yang tinggi saya tidak masuk lagi sebagai caleg pun saya tidak apa-apa. Saya akan tetap berjuang di Partai Gerindra, tentunya diluar struktur.

Tapi saya mendapat informasi bahwa incumben akan masuk kembali, lalu saya mendapat informasi juga bahwa Wakil Ketua Umum Fadli Zon akan maju di dapil yang sama di nomer urut 1. Mendengar hal itu, saya apresiasi sekali, karena beliaukan pendiri. Sehari sebelum penyerahan ke KPU nama saya digeser ke nomer urut 6. Karena hal ini sudah saya antisipasi, maka saya anggap ini sebagai kepercayaan yang besar dari partai kepada saya untuk duduk di nomor urut 6 sesuai dengan nomor urut partai. Semoga hal ini menjadi pertanda istikomah saya dalam berjuang. Saya berpikir positif bahwa partai percaya kepada saya.

Menurut Anda seperti apa Partai Gerindra di dapil Jabar 5?

Karena kapasitas saya sebagai kader non struktural, saya hanya bisa menyarankan bahwa harus diperkuat tentang tujuan dari keberadaan Partai Gerindra sebagai sarana perjuangan masyarakat untuk menjadi sejahtera. Untuk itu harus ada roadmap yang jelas. Saya juga tidak dalam kapasitas yang menilai keberadaan partai, tapi saya hanya bisa memberikan rekomendasi, bahwa partai ini bisa menjadi besar, selama orang-orang yang terlibat dalam partai ini berjiwa besar dan profesional.

Apa pesan dan harapan Anda ?

Tidak hanya ke pemilih tapi kepada para caleg yang satu partai, bahwa luruskan niat, kalau sudah lurus untuk berjuang di partai ini dengan baik. Jangan jadikan jabatan di dewan itu sebagai tujuan. Kalau jadi tujuan saya yakin pasti akan stres. Mau jadi sudah stres, pada saat jadi tambah stres dan mau lepasnya juga stres. Kalau mau jadi harus mengeluarkan banyak biaya, pada saat jadi mereka stres untuk mengembalikan apa yang dikeluarkan, dan pada saat mau lepas juga pasti stres karena seakan merasa kehilangan. Kepada masyarakat dan pemilih lainnya, jangan sia-siakan hak suara, pastikan yang dipilih itu bisa mewakili suara, tinggal melihat rekam jejaknya saja. Jangan sampai menjadikan masyrakat sebagai supir taksi bahwa ketika sudah dibayar untuk mengantar ke tujuan sudah ditinggalkan begitu saja.[G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Oktober 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Mulyadi maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 6 dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat 5.

Lebih Dekat Dengan Oo Sutisna : Berjuang Demi Petani

Sebagai seorang petani, ia turut merasakan seperti apa nasib kaum petani selama ini. Saban hari, ia bersentuhan dengan petani gurem yang kondisinya memprihatinkan. Bahwa negeri agraris yang subur seperti Indonesia ini petaninya kian terpinggir adalah sebuah keniscayaan. Dari sanalah, ia paham betul liku-liku perjuangan para petani dalam memenuhi kebutuhan hidup di tengah kebijakan yang sama sekali belum memihak petani.

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 9 NO URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 9 NO URUT 1

Memang, sebagai petani, Oo Sutisna, SH, bukan tergolong petani kelas gurem. Namun sebagai orang yang hampir setiap hari menghabiskan waktu di pematang sawah, ia resah melihat nasib petani yang tak kunjung berubah. Apalagi selama ini belum ada wakil rakyat di Senayan yang benar-benar berangkat dari petani atau nelayan. Tak heran bila kebijakan dunia pertanian tak pernah menyentuh kepentingan kaum petani. Karenanya itu, sejak 2008, pria kelahiran Sumedang, 12 Maret 1952 ini bertekad terjun ke jalur politik praktis sebagai upaya merubah nasib petani yang masih tertindas.

“Sebagai rakyat, sampai hari ini petani masih saja terjerat kemiskinan. Tidak saja dirundung persoalan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tapi kebijakan-kebijakan penguasa yang tak memihak bahkan kerap menindas. Tak hanya itu, Indonesia pun sudah menjadi pasar impor beras,” ungkap petani yang dipercaya  Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, untuk memimpin DPD Partai Gerindra, Provinsi Jawa Barat.

Ia mengakui, tampil di pentas politik bukan sekadar latah atau terbawa arus eforia politik sesaat. Diakui, keterlibatannya di Partai Gerindra, karena ia aktif di Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Ia  sudah lama mengenal sosok Prabowo Subianto jauh sebelum partai berlambang kepala burung garuda lahir. Tak heran bila,saat Prabowo Subiantomemintanya memimpin DPD Partai Gerindra di Jawa Barat, ia langsung menyanggupinya. “Meski saya belum pernah menjadi ketua parpol di tingkat kecamatan sekalipun, tapi karena itu amanat dari Pak Prabowo, maka saya siap mengemban,” ujar Ketua KTNA Jawa Barat ini.

Memang, Oo Sutisna mengenal Prabowo sejak masih aktif di Forum Komunikasi Tani Nelayan Karya, sebuah organisasi bentukan Partai Golkar. Ia tercatat sebagai orang yang mengusung Prabowo pada saat Konvensi Partai Golkar pada 2004. Di tahun yang sama, ia pun berada di barisan petani yang memperjuangkan Prabowo untuk memimpin HKTI. Kini, bersama petani dan segenap kader Partai Gerindra Jawa Barat, ia tengah berjuang untuk meraih suara sebanyak-banyaknya di Pemilu Legislatif 2014 untuk bisa mengusung mantan Danjen Kopassus sebagai calon presiden tanpa koalisi.

“Beliau tahu apa yang rakyat mau. Beliau pemimpin yang mau memikirkan dan menangis dengan apa yang dirasakan petani,” papar calon anggota legislatif (caleg) DPR-RI nomor urut satu dari Daerah Pemilihan (dapil) Jawa Barat 9 ini.

Menurutnya, secara politis keberadaan Jawa Barat dalam percaturan politik nasional sangatlah penting. Terlebih propinsi Jawa Barat penduduknya terbesar. Makanya, tak heran bila di Pemilu 2014, 9 April nanti, ia ditugasi untuk meraih 27 kursi di parlemen. Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah, meski pada Pemilu 2009 lalu ia berhasil mengantarkan empat kadernya duduk di Senayan. Lalu seperti apa langkah-langkah yang dilakukan ayah enam orang anak ini dalam mengemban tugas itu? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, yang menemuinya di tempat tinggalnya yang asri di kawasan Cibiru, Kota Bandung beberapa waktu lalu, ia memaparkan. Berikut petikan wawancaranya:

Bisa Anda ceritakan bagaimana perkembangan Gerindra di Jawa Barat?

Partai Gerindra di Jawa Barat relatif stabil. Jujur saja walaupun ada satu dua DPC yang kurang pergerakannya kita sedang perbaiki. Saya berharap kepada pusat untuk berikan kepercayaan kepada kami yang ada di DPD untuk membina dan mengembangkan Gerindra di wilayah ini. Kita tidak mungkin bunuh diri, kita ingin menang. Pada Pemilu 2009 kemarin mengantar delapan dewan di provinsi dan empat di pusat. Dengan hasil itu Partai Gerindra Jawa Barat berada di posisi kelima. Kita berharap dengan momen terbaik 2014, kita bisa meningkat dan Gerindra menang, Prabowo Presiden.

Kaitannya kegagalan dapil Jabar 9 waktu itu kita akui itu semua tak terlepas dari keteledoran partai kita. Kejadian itu menjadi tamparan buat partai dan Pak Prabowo selaku Pembina. Tapi syukur Alhamdulillah kita bisa melewati rintangan itu meski hanya bisa mengirimkan enam dari delapan yang tersedia. Saya mengapresiasi dan hormat atas kinerja tim advokasi yang sudah menyelamatkan dapil Jabar  9. Untuk itu kita harus kerja ekstra keras untuk merebut kursi di dapil ini. Walaupun hanya enam caleg, toh di DPRD provinsi ada sepuluh orang dan kabupaten penuh. Inilah modal dasar kita untuk memperjuangkan sekuat tenaga.

Sebagai Ketua DPD sekaligus caleg, apa saja yang sudah Anda lakukan menghadapi Pemilu 2014?

Kita baru saja pulang dari diklat di Bogor yang diadakan oleh DPP. Tapi sebetulnya, apa yang telah kita lakukan dalam rangka pembekalan untuk caleg kabupaten dan kota se Jawa Barat tidak jauh berbeda. Jika dulu kita menargetkan setiap TPS ada 10 orang kader yang masing-masing kader harus mampu membawa 10 pemilih sehingga diperoleh 100 suara. Namun ketika di Jakarta ada perubahan menjadi 13 pemilih per TPS, sehingga diharapkan akan ada 130 suara.

Sebelumnya, kami pun mengadakan pertemuan sesama caleg tingkat DPR, DPRD provinsi dan kabupaten/kota Jawa Barat dengan para struktur partai mulai dari daerah hingga ranting. Dimana dalam pertemuan itu kita menekankan bahwa Pemilu 2014 adalah momen untuk merebut kekuasaan sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena itu, para caleg harus sampai ke akar rumput hingga ke tiap TPS, sehingga caleg mengetahui peta kekuatan yang ada. Untuk itu, dibutuhkan etos kerja dari para caleg itu sendiri bersama dengan pengurus dari tingkat ranting, cabang hingga daerah turun langsung. Yang penting jangan sombong jadi caleg. Yang sombong itu harusnya pemilih, bagaimana biar mereka mau memilih kita, simpati ke kita.

Yang tak kalah penting adalah saat ini kita terus melakukan tugas kepartaian, yakni memberi pemahaman politik bagi masyarakat. Sejauhmana pemahaman dan kepedulian masyarakat tentang kondisi negara dan bangsa. Kalau kita mendengar pidato Pak Prabowo dalam upayanya mengubah Indonesia ke arah yang lebih baik. Boleh jadi apa yang dikatakan oleh Pak Prabowo sangat irasional di tengah kondisi negara yang seperti ini. Nah, tugas kita sebagai caleg adalah menterjemahkan dengan bahasa masyarakat awam seperti petani, nelayan dan penduduk desa. Seperti misalnya buah apa yang tidak impor, padahal buah apa sih yang tidak bisa ditanam di negeri ini. Mungkin ini yang harus disampaikan oleh caleg kepada masyarakat. Karena tidak semua dari mereka tidak baca Koran, tidak lihat televisi. Jadi sebisa mungkin ini yang harus disampaikan caleg kepada masyarakat.

Lalu bagaimana dengan wakil Jawa Barat yang ada di parlemen?

Kalau saya harus ngomong, meski dekat dengan masyarakat, tapi kurang dekat dengan struktur partai. Mustinya, sekali-kali mereka menginjakkan kakinya ke sekretariat DPD, DPC atau PAC, sehingga mereka tahu perkembangan yang ada dan kita pun mengetahui apa saja yang sudah dilakukan mereka. Jujur saja selama ini belum maksimal, memang itu hak mereka, tapi perjuangan partai itu bukan sekadar perjuangan mereka saja, tapi menjadi perjuangan segenap kader partai secara bersama. Jangan sampai yang tahu hanya mereka sendiri. Karena mereka berangkat dari Partai Gerindra bukan sekonyong-konyong begitu saja.

Kendala-kendala apa saja yang dihadapi di lapangan?

Harus disadari bahwa negeri ini terdiri dari beberapa suku bangsa, agama, latar belakang pendidikan, tingkat ekonomi yang berbeda-beda. Karena itu, kita harus menggunakan berbagai cara sendiri dalam menghadapi masing-masing kelompok tadi. Di samping itu, popularitas partai ini belum sebanding dengan popularitas Pak Prabowo. Ini yang perlu kita dongkrak. Saya punya ambisi bahwa kalau untuk mendukung Pak Prabowo, di Jawa Barat ini pasti sangat kuat. Beliau pemimpin yang tegas, di kalangan militer Jawa Barat masih disegani, sosok orangtuanya masih kental.

Yang mungkin harus dipikirkan adalah bagaimana menyeimbangkan Pak Prabowo dengan Gerindra. Bagaimana orang-orang yang sebelumnya tidak mau ambil bagian dalam pemilu mau memilih Pak Prabowo. Dan ketika mereka tertarik dengan Prabowo, maka kita katakan kepada mereka, bahwa mau tidak mau untuk bisa mengusung Prabowo,  harus memilih Partai Gerindra. Dan kita butuh 20 persen suara untuk bisa mengusungnya. Bahkan kalau bisa bukan sekadar 20 persen tapi harus lebih,karena dengan demikian kelak parlemen lebih kuat.

Apa latar belakang Anda maju sebagai caleg?

Perlu dimengerti bahwa faktor ketokohan di Jawa Barat ini masih kuat. Jujur saja sebelum memutuskan untuk maju, saya tanyakan ke pada teman-teman DPD apakah saya harus maju ke Jakarta, Provinsi atau diam saja mengurus partai. Akhirnya mereka menginginkan saya maju ke Jakarta. Saya berada di partai ini bukan semata-mata untuk bisa menjadi anggota dewan, tapi saya melihat bahwa bangsa ini akan jauh lebih baik di bawah kepemimpinan Pak Prabowo. Dalam setiap pidatonya, Pak Prabowo selalu mengatakan bahwa ia tidak mau kader-kader yang duduk di dewan nanti yang berperilaku licik, maling, dan korup. Betapa terhormatnya pernyataan itu, dan akhirnya saya bersedia untuk maju sebagai caleg DPR dari Jabar 9. Memang sebagai caleg harus banyak duit untuk operasional di lapangan. Saya tidak suka menghambur-hamburkan hal itu, tapi saya mengajak kepada mereka bahwa apa yang kita lakukan harus bisa memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara ini. Semua orang tahu saya berangkat dari petani.

Dan luar biasa, Pak Prabowo masih mempertahankan orang-orang seperti saya yang berangkat dari komunitas petani. Inilah perjuangan kita bersama para petani dalam mewujudkan kedaulatan pangan sesuai dengan 6 Program Aksi Partai Gerindra. Dan kalaupun Gerindra masih sulit dipasarkan ke masyarakat, insya Allah nama besar Pak Prabowo lebih mudah diterima di masyarakat. Nah, kalau mereka menginginkan Pak Prabowo menjadi pemimpin negara, maka mau tidak mau Gerindra harus menang terlebih dahulu minimal 20 persen. Untuk itu, kita mendorong masyarakat bahwa satu-satunya jalan, ya Partai Gerindra yang harus dicoblos.

 Apa visi dan misi Anda sebagai caleg?

Visi dan misi saya sesuai dengan visi dan misi partai. Misi kita ingin berbuat, mengabdi ke masyarakat dengan sisa umur yang ada. Sepanjang hidup ini apa yang bisa kita baktikan kepada masyarakat bangsa dan negara. Adanya kedaulatan pangan sehingga masyarakat tidak susah makan. Kepastian hukum, terutama terhadap perlakuan hukum terhadap petinggi negara.  Insya Allah, Pak Prabowo akan mampu melaksanakan janjinya yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat. Pak Prabowo kan sudah jenderal, sudah kaya, ngapain coba memimpin partai? Tapi dari situlah kita mengetahui bahwa rasa nasionalisme dan keberpihakannya kepada rakyat kecil melebihi semuanya.

Kenapa Anda memilih dapil Jabar 9?

Saya memilih dapil Jabar 9, karena saya dilahirkan, dibesarkan dan punya usaha di Kabupaten Sumedang yang masuk ke dapil Jabar 9 selain Kabupaten Majalengka dan Subang. Selain itu masyarakat Sumedang, Majalengka dan Subang memiliki kesamaan jalan hidup, sebagai petani dan nelayan. Di Jawa Barat, saya masih dianggap tokoh tani. Saya pun orang yang dipercaya sebagai Ketua KTNA Jabar. Tahun 2009 dulu saya belum berhasil, karena saya memiliki basis besar di sana, maka saya dikembalikan ke dapil ini. Dengan anggapan bahwa tingkat kesulitan yang dihadapi tidak terlalu berat.

Dari tiga kabupaten itu, daerah mana yang jadi fokus Anda garap?

Kita memiliki daerah unggulan sebagai basis suara yakni Kabupaten Subang dan Sumedang. Yang pasti, di dapil Jabar 9 itu ada 82 kecamatan yang terdiri dari 30 kecamatan di Subang, sedangkan Majalengka dan Sumedang masing-masing 26 kecamatan. Artinya tidak mungkin saya datang ke semua kecamatan setiap desa. Untuk itu saya lebih menguatkan perhatian pada dua daerah itu. Namun demikian, kapasitas saya berbeda dengan caleg lain. Kalau caleg lain tidak datang itu keterlaluan, tapi kalau kita sebagai pengurus di DPD/DPC itu selain mengurus diri sebagai caleg, tapi kita juga mengurus urusan partai yang tidak hanya fokus pada dapil sendiri saja. Beruntunglah para caleg yang tidak duduk di struktur partai karena tidak memikirkan kesibukan itu.

Berapa target Anda?

Saya selalu memohon kepada Allah agar saya diberikan kesempatan untuk mewakili masyarakat Sumedang, Majalengka dan Subang di gedung dewan. Sehingga selain ada wakilnya terlebih dari komunitas petani. Karena selama ini saya belum melihat sosok anggota dewan yang berangkat dari petani sesungguhnya. Itulah ambisi saya untuk memperjuangkan masyarakat petani, nelayan sehingga tidak terus menerus menjadi masyarakat marginal dan menjadi mainan politik saja. Saya tidak ambisi dengan masalah gaji, tapi kita melihat jauh mana keberpihakan saya kelak di dewan kepada petani.

Partai Gerindra menargetkan dapil Jabar 9 untuk bisa meraih dua kursi dari 27 kursi yang ditargetkan untuk Jawa Barat. Melihat kondisi ini maka kita harus bekerja keras, bersama-sama merealisasikan target. Urusan siapa yang jadi itu tergantung pada pergerakannya masing-masing caleg. Setidaknya untuk bisa meraih kursi di dapil Jabar 9,mau tidak mau harus melampaui atau setidaknya mendekati BPP sebesar 289 ribu. Itulah yang harus dipahami oleh caleg dengan memetakan kekuatan tiap TPS dan dapil kecil. Dengan kekuatan yang kita miliki baik yang ada di pusat, provinsi dan kabupaten/kota mudah-mudahan bisa. Artinya yang sudah jadi itu harus jadi kembali, kalau mereka tidak jadi, saya balik tanya apa saja yang telah Anda perbuat selama ini?

Seperti apa karakter pemilih dapil Jabar 9?

Bicara soal kataristik pemilih khususnya dapil Jabar 9 kita tahu sekarang ini bisa disebut jaman edan. Ada yang punya idealisme, ada juga yang pragmatis. Sebut saja, dapil Jabar 9 yang ada di utara tergolong masyarakat pantura memang cukup berat dengan masalah pragmatisme. Jangankan pemilihan legislatif, pemilihan Presiden pun seperti itu. Memang semua ini diawali dari pemilihan-pemilihan kepala desa yang sarat dengan pragmatis. Dan ini bukan hanya menjadi permasalahan bagi kami, tapi partai lain pun sama. Tapi selama ini kita bisa mengantisipasi untuk meminimalisir permasalah ini.

Apa antisipasi Anda menghadapi kondisi seperti itu?

Hubungan emosional dengan masyarakat terus kita jalin. Bagaimana caranya agar kita menjadi bagian dari hidup mereka. Sehingga pada akhirnya, mereka menganggap kita bagian dari hidup mereka. Ini yang wajib dilakukan para caleg. Kita selalu sampaikan kepada masyarakat bahwa Pantura itu lumbung beras nasional, tapi apa tidak terpukul ketika negara kita impor beras. Saya yakin mereka sakit dengan kondisi ini. Karena itu, ketika menghadapi masyarakat yang bergerak di bidang agribisnis, seperti petani, nelayan dan pekebun kita tawarkan 6 Program Aksi Partai Gerindra. Dimana salah satunya adalah program membangun kedaulatan pangan dan energi. Itu bukan semata-mata janji caleg tapi itu janji pemerintah jika nanti Gerindra dipercaya memimpin negeri ini.

Apa harapan dan pesan Anda buat para kader dan caleg?

Harapan kita terhadap caleg, kader partai, mereka harus memahami tentang petunjuk partai mulai dari AD-ART, manivesto perjuangan partai hingga program aksi. Jangan segan-segan untuk turun ke lapangan, jangan sombong, dekati masyarakat sehingga mereka sayang kepada kita. Saya sampaikan terima kasih kepada para simpatisan, kader yang terus mendukung pengurus DPD, DPC dan PAC serta para caleg dalam menjalankan aktivitasnya menjaring suara. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Oktober 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Oo Sutisna maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat 9.