Golput Haram?

Waduh…. Ada-ada saja pemikiran para elite politik negeri ini. Tentu saja, ini erat kaitannya dengan semakin dekatnya Pemilu 2009 yang bakal digelar April mendatang. Tak tanggung-tanggung usulan memfatwakan “HARAM” atas pilihan untuk GOLPUT alias tidak memilih. Padahal sejatinya Golput pun salah satu pilihan. Entah dengan bagaimana caranya si pelaku Golput itu menerapkannya.

Pengusul sendiri memang berangkat dari gerbong politik salah salah satu partai berbasis agama. Dan karena basisnya itu Islam, maka pengusul pun meminta MUI (Majelis Ulama Indonesia) –selaku pengambil keputusan fatwa untuk umat Islam tentunya– untuk segera memfatwakannya. Usulan ini pun konon tidak hanya ditujukan kepada MUI, tapi mengajak pula organisasi massa Islam semisal NU dan Muhammadiyah untuk ikut mengeluarkan fatwa haram tersebut.

Lantas apakah ini bentuk ketakutan para elite politik berbasis agama itu dalam peraihan suara di Pemilu 2009 mendatang? atau sekedar untuk mendongkrak citra jelang Pemilu. Banyak jawaban dan komentar pro dan kontra atas usulan ini. MUI sendiri hingga saat ini masih akan mengkajinya. Bahkan di sebuah portal menyebutkan bahwa MUI menilai, urusan Golput bukan masalah agama melainkan politik.

Fenomena dan bahkan fakta nyata seputar Golput ini sendiri menjadi rahasia umum dimana grafiknya terus meningkat dari pemilu ke pemilu. Tercatat pada 1971 terdapat golput sebesar 6,67%, tahun 1977 sebesar 8,40%. tahun 1982 sebesar 9,61%. Lalu pemilu tahun 1987 turun menjadi 8,39%. Tapi pemilu berikutnya tahun 1992 kembali naik menjadi 9,05%. Terus merangkak pada pemilu 1997 sebesar 10,07% dan pada tahun 1999 sebesar 10,40%. Dan pemilu terakhir kemarin 2004 naik drastis hingga 23,34%. Bahkan pada Pilpres putaran I sebesar 21,77% dan di putaran II naik hingga 23,37%. Mungkin dari data inilah para elite politik itu mengambil kebijakan untuk mengusulkan fatwa haram terhadap golput.

Dan tentunya, negeri dengan populasi penduduk yang memilik hak pilih sekira 170 juta pemilih ini dengan mayoritas umat Islam membuat para elite politik partai berbasis Islam merasa terancam. Diakui atau tidak. Setuju atau tidak memang itulah sebenarnya dasar pemikirannya. Bukan pada ranah kewajiban warga negara terhadap bangsa dan negaranya. Semisal si pelaku golput yang memang memiliki kartu pemilih tetap datang ke TPS namun di dalam bilik tidak memilih alias Golput, maka pada dasarnya hak dan kewajibannya sebagai warga negara telah ditunaikan.  Terlebih bagi mereka yang tidak memiliki kartu pemilih sama sekali. Jangankan kewajiban untuk datang ke TPS, wong hak untuk memilihnya saja tidak ada.

Lalu jika hanya karena suara umat Islam sendiri terpecah sehingga jalan ini ditempuh oleh para elite politik berbasis Islam, kenapa umat Islam sendiri terpecah belah di banyak partai politik? Jangankan negera dengan multi partai ini, lah wong di tubuh Islam dan memang ada juga di tubuh agama lainnya yang tampil dengan ragam partai.

Sejatinya, dan saya meyakini –karena saya sendiri bagian dari umat Islam– bahwa jika umat Islam dalam hal ini partai politik berbasis Islam dan mungkin juga partai politik berbasis agama lainnya bersatu padu atau paling tidak hanya ada ‘satu gerbong’ akan bisa dan lebih maksimal. Saya sendiri memang bukan bagian dari partai politik mana pun.

Ini hanya sekedar opini pribadi tanpa ada unsur propaganda atau sebagai bentuk kampanye. Sejatinya saya selalu memegang pesan dari Imam Abu Hanifah: Audzubillahi Minasiyasah. “aku berlindung kepada-Mu dari godaan politik.”

Advertisements

Energi Matahari: 1 KW/M2 Area Bumi

Energi matahari, energi  natural ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala yang tidak habis dan kita dapat memakainya dimana pun berada.

Apakah Anda dapat menghitung kapasitas energi matahari  apabila menyinari bumi. Di saat hari yang cerah, energi matahari yang menyinari bumi menghasilkan rata – rata satu kilowatt per meter persegi area bumi. Berarti dalam satu jam energi matahari yang menyinari bumi mampu mensuplai energy yang dibutuhkan  di seluruh dunia untuk 1 tahun. Jika energi matahari dapat diserap diatas 1 % dari luas permukaan bumi, maka akan menutupi konsumsi energi listirik listik yang dibutuhkan untuk seluruh dunia. Permukaan bumi  disinari matahari dengan jumlah volume yang sangat besar.

Tidak seperti minyak bumi, batu bara dan energi fosil lainnya, energi matahari ramah lingkungan, untuk pemakaiannya tidak menghasilkan emisi gas buang CO2 yang dapat merusak lingkungan. Ini sangat kontras, energi fosil dihasilkan dari sumber bawah tanah yang mana tidak semua bangsa mempunyai tanah yang mempunyai sumber energi tersebut, sedangkan energi matahari dapat  dihasilkan dari mana saja,  di penjuru dunia mana pun. Dan tidak ada pembakaran untuk proses energi matahari ini.  Jika energi matahari bersinar dengan terang, maka energi matahari dapat diperoleh dipenjuru dunia.

Sampai hari ini , kita dihadapkan oleh masalah pemanasan global dan perusakan lingkungan, untuk mencari cara penanganan masalah tersebut, energi matahari adalah solusi yang efektif dan signifikan utnuk dunia dimana kita harus berhemat dan nyaman dalam menggunakan energi sehari – hari.

Sekali lagi, kita sebagai manusia tidak akan bisa menandinginya dengan segala kecongkakan kita terhadap alam yang telah disediakan oleh yang Maha Kuasa ini.

Masihkah kita tidak bersyukur dengan hal ini. Setiap hari kita masih bisa bertemu dengan cerahnya sinar matahari. Namun terkadang kita tetap masih mengeluhnya?

Reuni Antara Nicholas dan Dian Sastro

Di tengah membanjirnya pendatang baru di jagat film, kedua bintang muda ini sepertinya masih mendapatkan tempat tersendiri di hati pecinta film nasional. Meski telah lama absen di dunia akting, ‘pamor’ keduanya tetap bersinar tak sekedar di panggung film. Maklum, sejak keduanya menangguk sukses di film, Ada Apa Dengan Cinta (2002), sosoknya sering berseliweran di layar kaca.

Dan di penghujung tahun ini, dunia perfilman nasional kembali diramaikan dengan hadirnya dua film baru yang mempertemukan kembali dua bintang muda itu. Ya, aktor ganteng Nicholas Saputra akan beradu akting dengan aktris cantik Dian Sastrowardoyo di dua film, Drupadi dan 3 Doa 3 Cinta. Kedua film itu pun bakal tayang berbarengan di bulan Desember nanti.

Dalam Drupadi, Dian tampil sebagai pemeran Drupadi, sosok wanita yang digambarkan paling jelita sejagat yang lahir dari api. Dalam Mahabharata, karakter Drupadi sangat menonjol selain karena kecantikannya, ia juga sangat cerdas, berani dan tak segan mengungkapkan pendapatnya. Drupadi melawan saat dirinya dijadikan barang taruhan. Sementara Nicholas, berperan sebagai Arjuna, ksatria paling tampan di seluruh jagad. Di film ini dikisahkan Arjunalah yang memenangkan Drupadi dalam pertandingan busur,  tapi kemudian Drupadi dipersembahkan kepada seluruh Pandawa.

Sederet pelakon ikut bermain dalam proyek ini, di antaranya Butet Kartarejasa yang berperan sebagai  Sengkuni; Dwi Sasono sebagai Yudhistira; Ario Bayu sebagai Bhima dan pendatang baru, si kembar Aditya Bagus Santosa dan Aditya Bagus Sambada berperan sebagai Nakula dan Sadewa. Sedangkan di pihak Kurawa –musuh bebuyutan Pandawa— dimainkan seniman padepokan seni Bagong Kussudiardjo, yakni Whani Darmawan sebagai Suyudana, dan Djarot B. Dharsana sebagai Dursasana.

Di film ini pula, keterlibatan Dian tak sebatas sebagai pemain saja. Bersama Mira Lesmana dan Wisnu Darmawan, gadis kelahiran Jakarta, 16 Maret 1982 ini bertindak sebagai produser. Sementara Riri Riza –sutradara muda yang tengah naik daun— didapuk sebagai sutradara film yang diproduksi SinemArt ini. “Film Drupadi dibuat sebagai apresiasi kami, para pekerja seni, kepada dunia seni Indonesia, dan juga memberikan  warna baru dalam industri perfilman,” tegas Dian.
Sementara di film 3 Doa 3 Cinta –karya perdana film layar lebar dari sutradara muda, Nurman Hakim— yang bertutur tentang persahabatan tiga santri remaja di sebuah pesantren di kota kecil di Jawa Tengah. Di film ini, Nicholas yang bermain sebagai Huda, sedangkan Dian Sastro berlakon sebagai Dona, penyanyi dangdut keliling. Film produksi bersama antara TriXimages dan Investasi Film Indonesia (IFI) ini menggandeng seniman Butet Kartaredjasa dan Jajang C Noer untuk mendukung film ini.

Film yang Oktober lalu diputar di ajang Pusan International Film Festival 2008 di Korea Selatan ini, menurut rencana bakal tayang serentak di bioskop pada 18 Desember mendatang. “Pesan utama dari film ini adalah kedamaian dan cinta mengalahkan segala bentuk kekerasan dan kebencian,” tutur Nurman Hakim, sutradara sekaligus penulis film ini.

Akankah reuni dua bintang muda ini sukses di pasar film nasional seperti proyek film terdahulunya. Terlebih kedua film yang mempertemukan keduanya ini berada pada genre dan setting yang berbeda. Kita tunggu saja, aksi ‘Drupadi’ mencari cinta. Pun dengan tiga doa ‘Arjuna’ mencari cinta.

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi November 2008

Koleksi Jam Tangan ala Musuh Bond

Karakter jahat tak selamanya dibenci. Terlebih dalam sebuah film. Rasanya hambar bila sosok yang dijadikan lawan itu tampil tak sehebat jagoannya. Aksinya pun selalu dinanti. Tak heran bila ’penjahat’ ini disukai meski dibenci.

Adalah film seri James Bond, yang selalu menghadirkan karakter penjahat yang tak kalah tangguh dengan si agen rahasia Inggris nomor 007, bernama James Bond. Sejak film pertama, Dr No (1962) hingga Quantum of Solace (2008) –yang rilis bulan ini, Bond selalu direpotkan oleh aksi para penjahat yang tengah dicarinya.

Lewat karakter penjahat itu pula, sebuah pabrikan jam tangan asal Swiss, Swatch memperkenalkan Swatch 007 Villain Collection. Sebanyak 22 model jam tangan –yang mewakili karakter para musuh dari setiap serinya— dirilis bersamaan dengan diedarkannya film Bond yang ke-22, Quantum of Solace. Paling tidak, hadirnya koleksi penunjuk waktu ini, memberi kesan tersendiri bagi penggemar Bond.

Sekilas, koleksi jam tangan ini biasa-biasa saja. Tapi dengan hadirnya logo pistol ’007’ menegaskan bahwa arloji ini bagian dari jejak hidup Bond selama menjalankan tugas sebagai agen rahasia. Terlebih setiap modelnya memiliki karakter berbeda, sesuai karakter musuh pria flamboyan itu. Semisal pada model Dr No di Dr No (1962) yang mewakili sosok kejam Dr No yang diperankan Julius Wiseman itu tampil begitu elegan ala skin chrono, yang terbuat dari bahan sintetis bertektur warna putih dan pale beige.  Sisi jahat dari karakter ini ditegaskan dengan tulisan ”Danger Level” sebagai pengganti angka 12. Sementara angka 6 dilabeli dengan tulisan ”High Voltage”.

Meski terkesan sederhana, jam tangan model Wint & Kidd diambil dari film Diamonds Are Forefer (1971), cukup unik. Pasalnya, selain tampil dengan taburan 44 kristal yang mengitari bingkainya, jam tangan ini menonjolkan warna hitam dan putih. Pun pada Blofeld’s Cat yang terinspirasi film You Only Live Twice (1967), angka 1 diganti dengan gambar jejak telapak kucing warna hijau terang. Pada model ini pun lambang gurita dengan 8 tentakelnya menjadi pusat perhatian. Demikian pula dengan model Scaramanga yang identik dengan karakter The Man With The Golden Gun (1974) yang diperankan Christopher Lee. Unsur warna emas di antara warna hitam gelap menimbulkan kesan elegan.

Pada model Hugo Drax dari Moonraker (1979) warna hitam dan putih dihadirkan secara proporsional. Uniknya, di atas angka 12 tertulis Drax Enterprise Corporation yang menggambarkan sosok Hugo Drax, sang konglomerat pembuat pesawat ulang alik. Kesan unik juga ditampilkan pada koleksi General Orlov dalam Octopussy (1983), meski layaknya jam biasa, namun memuat sebuah pesan dari sang jenderal, “Yes But Tomorrow I Shall Be A Hero of The Soviet Union”.

Motif kulit binatang mewakili koleksi Franz Sanchez yang diambil dari Licence To Kill (1989) dengan dominasi warna hijau, merefleksikan kesan ‘bunglon’ sang penyelundup obat-obatan Franz Sanchez yang selalu menenteng iguana. Begitu pula dengan motif pada selendang Elektra King –yang dimainkan oleh Sophie Marceau dalam The World Is Not Enough (1999)— membalut strap dari bahan tekstil warna putih. Sementara pada seri Elliot Carver dalam Tommorow Never Dies (1997), logo dan headline pemberitaan dari ‘koran’ Tommorow milik Elliot membungkus strap berbahan plastik.

Dan dari film Die Another Day (2002) oleh Swatch, sosok Zao diterjemahkan dalam model jam tangan dengan motif dua taring warna silver tampak menarik perhatian. Sedangkan lewat film Casino Royale (2006), sang gambler sekaligus teroris, Le Chiffre menjadi inspirasi lahirnya jam tangan dengan aneka simbol kasino. Terakhir, lewat film Bond teranyarnya Quantum of Solace (2008), Swatch menghadirkan seri Dominic Greene yang terbuat dari bahan plastik silikon warna hitam. Plus tulisan “Greene Planet” mempertegas ‘misi’ penjahat yang tengah diburu Tuan Bond.

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi November 2008

Laskar Pelangi, Harapan Baru Film Nasional

Panggung film nasional kian ramai saja. Paling tidak sepanjang tahun ini, dunia perfilman mendapat ‘udara segar’ baik dari pelaku maupun penonton. Tak jarang, sederet judul film nasional –komedi, romansa hingga horor— mendulang sukses dari segi bisnis maupun pesan yang dibawanya. Meski tak sedikit pula yang kesandung pro dan kontra.

Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, sejak digelarnya kembali Festival Film Indonesia (FFI) 2004, produksi film terus meningkat saban tahunnya. ”Tahun 2007 ada sekira 57 film yang diedarkan. Sementara hingga akhir tahun ini diperkirakan ada sekira 90 film yang siap edar,” katanya.

Paling tidak, perkembangan tersebut kian tampak, ketika sejumlah film mampu menarik minat public figure dan para pejabat hingga presiden beserta kabinetnya –yang tak sungkan— untuk duduk di bangku bioskop menyaksikan karya anak bangsa. Tentunya, kehadiran mereka di gedung bioskop bukan sekedar latah atau tebar pesona, tapi bisa jadi lebih pada ’penasaran’ akan fenomena yang ada. Meski, tak dipungkir pula ada pesan-pesan tertentu dengan kerelaan mereka menyisihkan waktunya untuk menonton.

Dan satu dari sekian film yang sukses dan mampu menghipnotis segenap kalangan untuk rela berduyun-duyun dan mengantri di bioskop adalah film Laskar Pelangi arahan sutradara muda Riri Riza. Pasalnya, film ini –yang diangkat dari novel setebal 529 halaman karya Andrea Hirata dengan judul yang sama— dipenuhi kisah masyarakat pinggiran, perjuangan hidup menggapai mimpi yang mengharukan, serta persahabatan yang menyelamatkan hidup manusia dengan latar belakang sebuah pulau indah yang pernah menjadi salah satu pulau terkaya di Indonesia, Belitung di akhir tahun 1970-an.

”Anak kecil pun pasti suka. Karena disamping sebagian besar tokohnya usia anak-anak, pemandangan alam pulau Belitung yang indah akan memanjakan siapa pun yang menontonnya,” ujar Andrea yang mengaku pada awalnya tidak yakin dan sempat tidak percaya diri untuk menonton film yang diangkat dari novelnya itu.

Memang, mengadaptasi cerita dari novel ke layar lebar bukanlah hal gampang. Karena keduanya merupakan media yang berbeda. Meski demikian, Laskar Pelangi, ditangan Salman Aristo sang penulis skrenario yang memusatkan cerita pada tiga dari sepuluh tokoh Laskar Pelangi yaitu Ikal (Zulfanny), Lintang (Ferdian) dan Mahar (Veris Yamarno) menjadi lebih fokus dan padat. Pun dengan penguatan pada sosok Bu Muslimah (Cut Mini) dan Pak Harfan (Ikranegara) serta Pak Zulkarnaen (Slamet Rahardjo) menjadikan film ini lebih hidup, meski akting mereka biasa-biasa saja.

Tak heran bila film ini sama dengan novelnya yang memuat semangat dan kegigihan untuk keluar dari himpitan penderitaan. Hal ini terlihat dari penggambaran perjuangan mereka untuk mengatasi segala keterbatasan terkadang mengundang tawa, di lain waktu menguras air mata. ”Mudah-mudahan model film seperti ini bisa menawarkan sesuatu yang baru bagi dunia perfilman nasional,” ujar Riri Riza.

Bahkan, banyak pihak yang menilai Laskar Pelangi –yang tayang serentak sejak 25 September lalu— boleh dibilang merupakan karya masterpiece dari kerja bareng Mira Lesmana dan Riri Riza yang telah sejumlah film selama satu dekade berkutat di panggung film. Dan secara keseluruhan, film ini mewarnai dunia perfilman Indonesia setahun terakhir yang dipenuhi cerita-cerita cinta dan hantu. ”Untuk saat ini, film Laskar Pelangi menjadi film terbaik di Indonesia,” tandas penguasa Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, mengomentari film yang ditontonnya hingga dua kali ini.

Seperti versi novelnya –yang dirilis pada September 2005— Laskar Pelangi tak ubahnya ayam petelur nan subur. Novel fenomenal ini berhasil dicetak ulang hanya dalam waktu sepekan setelah dipasarkan. Bahkan di negeri jiran Malaysia, novelnya diterbitkan Litera Sdn Bhd, berhasil menembus angka lebih dari 250 ribu eksemplar. “Kemarin ada penerbit dari Spanyol yang mau menerbitkan dalam bahasa Inggris,” ujar Andrea, yang konon tetap konsisten tidak akan mengambil sepeser pun dari royalti dari novelnya itu yang menembus angka Rp 1 miliar.

Bisa jadi senyum dan warna-warni pelangi di wajah ‘Laskar Pelangi’ itu memberi secercah harapan akan datangnya masa depan film nasional lebih cerah. Paling tidak, menurut data yang dimiliki jaringan bioskop 21 Cineplex, dari lima judul film yang mengambil masa tayangnya di musim lebaran atau biasa yang disebut-sebut sebagai summer-nya Indonesia, Laskar Pelangi menjadi yang terbaik tahun ini.

Sejatinya, harapan itu ada tentunya sepanjang masih tertanamnya semangat pantang menyerah pada mereka para sineas untuk terus berkreasi menyuguhkan film-film bermutu. Sebagaimana Laskar Pelangi yang sarat akan pesan moral. Semisal, hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya. Atau, pesimistis adalah sikap takabur, mendahului nasib. “Sebuah film itu memang tujuannya untuk menghibur, tapi jangan lupa bahwa film juga merupakan produk budaya sehingga dalam sebuah film juga penting mengangkat nilai-nilai lokal dan isu-isu penting bangsa ini,” tutur sang produser Mira Lesmana.

Bila film Ayat-Ayat Cinta (2008) arahan sutradara muda Hanung Brahmantyo mampu nyaris menembus angka 4 juta orang penonton. Begitu juga dengan Naga Bonar jadi 2 (2007) besutan sutradara sekaligus aktor kawakan Deddy Mizwar yang berhasil meraih jumlah penonton sebanyak 2,3 juta orang hanya dalam waktu 40 hari. Lantas, apakah Laskar Pelangi –yang menghabiskan anggaran Rp 8 miliar itu mampu menyalip atau paling tidak menyamai jumlah penonton dari kedua film nasional itu?

Sebagai catatannya, hanya dalam waktu 4 hari saja, Laskar Pelangi telah berhasil menjaring 370 ribu penonton. Dan memasuki pekan kedua sudah mencapai angka 1,3 juta orang penonton. Ini pun baru di kota-kota yang tersedia jaringan bioskop nasional 21 Cineplex dan Blitz.

Pengamat film nasional, Yan Widjaya, menegaskan sukses yang diraih Laskar Pelangi dalam merebut hati penonton Indonesia tidak lepas libur lebaran dan tema yang berbeda. Padahal Yan menambahkan, setidaknya ada empat film nasional yang tayang secara bersamaan yakni Chika produksi Soraya Film, Cinlok (MD Pictures), Barbi3 (Starvision Plus) dan Suami Suami Takut Istri The Movie (MVP Pictures) –film adaptasi dari sitkom terlaris di layar kaca.

Bahkan, Yan pun memprediksi Laskar Pelangi bakal mampu menyaingi jumlah penonton film Ayat Ayat Cinta. ”Kalau melihat yang didapat dalam pekan pertama oleh Laskar Pelangi, saya cukup yakin film ini akan bisa menandingi Ayat Ayat Cinta,” pungkasnya.

Mengomentari prediksi Yan Widjaya tersebut, Mira Lesmana pemilik Miles Production tak mau sesumbar, ”Kita tidak boleh mendahului nasib. Saya lebih baik menghindari saja spekulasi-spekulasi semacam itu, pokoknya kita lihat saja.”

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk VIEW edisi November 2008

Mau Tampil Secantik Peri Negeri Dongeng?

Faktanya, impian menjadi secantik peri akan selalu ada pada benak seorang wanita tak peduli berapapun usia mereka. Tak dipungkiri memang, peri yang hidup di negeri dongeng itu selalu dipuja akan kecantikan, keindahan dan kelembutannya sejak dahulu kala. Seakan mengetahui keinginan para kaum hawa, baru-baru ini L’Oréal Professionnel pun memperkenalkan gaya terkini tekstur rambut, Fairy Fantasy sebuah fantasi peri yang hadir dalam wujud yang lebih kontemporer.

Memang, sejak dahulu, teksur rambut jarang mendapat prioritas utama dalam melakukan perubahan gaya rambut. Padahal kenyataannya, perubahan tekstur mampu memperbaiki bentuk wajah, menyeimbangkan bentuk kepala khas Asia yang kurang sempurna, serta menambah sisi fashion setiap pribadi. Oleh karenanya, L’Oreal pun menyuguhkan Peri Texture Collection 2008 yakni Love, Sexy, Cute dan Seductive. Keempat koleksi itu memiliki khas masing-masing, selaras dengan kepribadian yakni cinta, jenaka, sensual dan menggoda.

Gaya Love Fairy, dicipta untuk pribadi hangat penuh cinta, dengan menghadirkan sentuhan tekstur lurus berpadu cutting ber-layer unik yang telah menjadi tren tekstur di negara-negara Asia. Tampilan tekstur lurus pun tak sekedar klasik biasa, tapi lebih fashion. Gaya Sexy Fairy akan membuat kaum hawa tampil lebih feminin dan sensual serta lebih indah dengan tekstur ikal bergelombang nan menawan. Gaya ini diadaptasi dari ikal yang marak di Jepang dan Korea.

Pada gaya Cute Fairy, dengan Ikal bergaya acak konon mampu memberikan pesona innocent dalam penampilan. Gaya ini cocok bagi pribadi berpenampilan eklektik dan tak padam oleh usia. Sementara gaya Seductive Fairy, dengan gaya ikal asimetris mampu menampilkan wanita lebih tampak cantik menggoda –yang tak lain adalah salah satu pribadi impian setiap wanita.

Untuk menghasilkan tekstur rambut ala peri cantik tersebut, L’Oreal Prefessionnel merekomendasikan beberapa produk unggulannya. Seperti untuk menghasilkan rambut sangat lurus, disarankan menggunakan X-Tenso Cera thermic yang mampu menghasilkan tekstur sangat lurus tanpa berkesan mati dan kaku. Sementara untuk tekstur lurus halus, tersedia, X-Tenso.

Tekstur bergelombang bisa dicipta dengan menggunakan Synchrone dan Digital Wave by X-Tenso atau X-Tenso Cera thermic. Sedangkan untuk tekstur wavy bervolume lebih halus dan sanggup dipadukan dengan pewarnaan tingkat tinggi, Synchrone mampu memberikannya dengan sempurna.

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk VIEW Edisi November 2008

One Stop Beauty Destination, Dagangan ala Rudy Hadisuwarno

Tak dipungkiri lagi, tuntutan gaya hidup di kota besar seperti Jakarta mutlak ada. Memang, gaya hidup yang terus berubah dari masa ke masa, diyakini telah mewarnai dunia kecantikan. Nyatanya, makin banyak para wanita yang tak pernah luput dari ritual merawat tubunya. Pun dengan kaum pria yang selalu ingin tampil dandy.

Ritual merawat diri itu konon dilakukan rutin dari kepala hingga ke ujung kaki. Bahkan tidak sedikit diantara mereka harus pergi dari satu salon ke salon lainnya untuk mendapatkannya semua. Alasan utamanya tak lain untuk mendapatkan kualitas yang terbaik. Maka tak heran bila mereka harus lebih selektif dalam memilih salon yang menggunakan produk-produk yang berkualitas. Tapi produk berkualitas saja tidaklah cukup bila tidak ditunjang dengan kenyamanan, pelayanan prima serta eksklusifitas.

Rupanya fenomena itu dibaca oleh pelaku bisnis kecantikan negeri ini. Salah satunya adalah Rudy Hadisuwarno yang baru-baru ini menghadirkan Salon Rudy Hadisuwarno Beauty Farm. Konon salon ini berangkat dari konsep untuk mengajak calon pelanggan untuk kembali ke alam. Beauty Farm sendiri menyediakan layanan perawatan kecantikan terlengkap dan di bagi dalam zona-zona tertentu.

Rudy Hadisuwarno Beauty Farm yang hadir di fX Lifestyle Center, lantai 4 itu, tak melulu identik dengan layanan perawatan kecantikan, tapi dilengkapi sebuah cafe. “Di tempat ini, sejenak para pelanggan akan diajak berpetualang secara rileks, serasa dekat dengan alam dan bermimpi sesaat,” tegas Rudy Hadisuwarno, sang pemilik salon ini.

Di bagian tengah terdapat salon tata rambut yang menyuguhkan layanan personal dengan mengadopsi konsep Haute Coiffure. Salon ini, didukung penuh oleh pabrikan perawatan rambut asal Paris, L’Oreal Professionel. Zona ini hadir dengan sentuhan khas Timur Tengah, memadukan warna emas dari pasir dan warna ungu yang merefleksikan keindahan rona matahari tenggelam di padang gurun.

Masih seputar urusan rambut, Rudy pun menggandeng Kerastase yang menyuguhakn pelayanan perawatan rambut berteknologi tinggi. Zona Kerastase Sanctuary, hadir dengan nuasan hijau yang menyejukan layaknya hutan hujan tropis. Lalu, ada pula zona Nail Gallery, sebuah ritual perawatan kuku ternama asal Korea yang menggunakan produk dari Amerika. Kehadiran Skin Health by dr Zein Obagi yang kental dengan warna biru memberikan pilihan bagi mereka yang memerlukan perawatan kulit wajah dan tubuh tentunya. Layanan make-over baik untuk sekedar tampil beda atau memang sudah bosan dengan riasan sebelumnya, zona studio Professional Artist Cosmetic (PAC) hadir di sudut ruangan dari salon ini.

Tidak hanya itu, untuk menambah suasana rileks, sebuah cafe dengan sajian unik bernuansa Italia, Crema hadir lewat sentuhan warna coklat espresso. “Dijamin acara nyalon anda akan terasa lebih seru,” tutur Rudy yang kini menjabat sebagai Vice Asian President ICD, Asia Region.

Bisa jadi, apa yang menjadi impian masyarakat Jakarta untuk melakukan perawatan kecantikan yang sempurna menjadi nyata. Tak berlebihan pula, jika kehadiran Rudy Hadisuwarno Beauty Farm dianggap sebagai One Stop Beauty Destination. Dan sejatinya kini, gaya hidup telah menjadi kebutuhan siapa pun yang hidup di kota besar.

Tulisan ini ditulis dan dimuat untuk VIEW Edisi November 2008