Rahasia Kesuksesan Korea Selatan

Jatuh bangun mewarnai sejarah panjang negeri di semenanjung Korea ini. Sikap patriotik dan daya juang masyarakat Korea begitu heroik yang pada akhirnya mengantarkan negara ini tampil sejajar dengan negara-negara maju di dunia. Betapa tidak, dalam waktu empat dekade, sejak merdeka dari penjajahan, Korea Selatan menjelma sebagai negara paling kaya dan tercanggih di dunia dengan nilai ekonomi triliunan dolar.

Padahal tahun 1950, Korea Selatan masih tercatat sebagai salah satu negara termiskin di dunia. Boleh dibilang sama miskinnya dengan negara-negara di benua Afrika dan Asia. Hingga satu dekade berikutnya, negeri ini masih tertinggal dari tetangganya Korea Utara. Perekonomian pun masih hanya mengandalkan dari pertanian. Tak hanya itu, negeri gingseng ini pun miskin akan sumber daya alam. Belum lagi akibat pendudukan Jepang maupun Perang ‘saudara’ Korea, negeri ini nyaris hancur. Dengan pendapatan per kapita negara masih di bawah 100 dolar Amerika Serikat –sama dengan Indonesia— Korea Selatan terus berpacu dengan waktu.

Ya, di awal 1960-an, Korea Selatan masih baru mampu membukukan income (pendapatan) per kapita sekitar 80 dolar per kapita. Tahun 1963, merangkak ke 100 dolar . Di tahun 1995 melonjak menjadi 10.000 dolar. Dan 2007 kemarin, menyentuh angka 25.000 dolar per kapita. Dengan kata lain, pendapatan per kapita Korea naik 235 kali lipat. Sementara Indonesia di tahun yang sama hanya mampu melipatgandakan 31 kali saja, yakni 2.200 dolar per kapita.

Sebagai salah satu dari empat Macan Asia Timur, Korea Selatan telah mencapai rekor ekspor impor yang memukau, dengan nilai ekspornya merupakan terbesar kedelapan di dunia. Sementara nilai impornya terbesar kesebelas. Melihat gelagatnya yang terus meningkat, Goldman Sachs memprediksikan Korea di tahun 2050 nanti akan menjadi Negara terkaya nomor 2 di dunia. Korea pun bakal dicatat sebagai bangsa dengan kecepatan pertumbuhan ekonomi tercepat sepanjang sejarah manusia di muka bumi.

Memang, krisis ekonomi yang melanda Asia di tahun 1997 mau tidak mau merontokkan pertahanan perekonomian Korea Selatan, termasuk rasio utang yang besar, pinjaman luar yang besar, dan sektor finansial yang tidak disiplin. Lewat sektor industri dan konstruksi, ekonomi Korea Selatan mulai bangkit kembali pada 2002.

Tengok saja, kini produk-produk elektronik Korea Selatan, Samsung dan LG, telah menguasai dunia. Mulai dari telepon seluler (ponsel) canggih, televisi plasma, LCD, sampai semikonduktor. LG tampil sebagai perusahaan pembuat panel plasma terbesar di dunia. Begitu pula dengan Samsung, kini dikenal sebagai konglomerat terbesar di dunia –yang tak kalah besar dari General Electric. Pun dengan Hyundai dan Samsung Heavy Industries, adalah industri pembuatan kapal terbesar di dunia dan mengalahkan Jepang sejak tahun 2004. Sebagai industri otomotif, Hyundai juga menjadi perusahaan otomotif ke 5 terbesar di dunia.

Infrastruktur teknologi yang dikembangkan Korea Selatan telah mampu mengantarkannya sebagai Negara termaju. Sejak tahun 2000, seluruh masyarakat Korea Selatan telah menikmati jaringan internet 100 Mbit per detik, siaran televisi interaktif kelas high-definition, hingga teknologi komunikasi 4G.

Strategi Besar

Perekonomian Korea Selatan, awalnya dibangun dengan membangun industri-industri standar negara berkembang, seperti tekstil, sepatu –yang mudah dan ringan. Rupanya, penguasa negeri gingseng ini tak mau setengah-setangah. Segala kebutuhannya telah dipersiapkan sejak dini, mulai dari infrastruktur, sumber daya manusia dan pengetahuan untuk level industri selanjutnya. Sebut saja, industri berat dan strategis, baja, otomotif, perkapalan dibangun bukan untuk dimajukan tapi untuk menguasai dunia.

Memang, orientasi pada pasar ekspor sudah sejak awal dipersiapkan Korea Selatan sebagai ‘strategi besarnya’  untuk menguasai market (pasar) dunia. Karena mereka sadar, dengan kondisi sumber daya alam yang sangat terbatas dan market dalam negeri yang kecil. Satu-satunya jalan adalah export oriented seperti yang dilakukan juga oleh Jepang.

Untuk melancarkan strategi tersebut, pemerintah memberikan dukungan penuh pada dunia usaha.  Dengan menyediakan infrastruktur, modal yang murah, pengenaan pajak yang rendah untuk industri unggulan, dan menyiapkan sumber daya manusia berkualitas tinggi. Efisiensi dan manajemen mutu pada level birokrasi. Dimana para birokrat dididik dengan proses belajar dan disiplin kelas dunia serta berkualitas. Pemangkasan inefisiensi mampu menelorkan kebijakan bermutu tanpa harus melupakan aturan birokrasi.

Nasionalisme

Tak sekadar berorientasi pada ekspor, pemerintah pun mengajak kalangan konglomerat Korea Selatan, seperti Hyundai, Samsung, dan LG untuk tampil bersama sebagai pejuang yang sangat nasionalis. Mereka berjuang mati-matian menembus pasar dunia demi kemajuan bangsa. Ya, dengan atau tanpa bantuan dari pemerintah sekalipun.

Para pemimpin Korea Selatan juga punya visi ke depan dalam penyerapan dan pengembangan teknologi.  Setidaknya, inilah salah satu kunci dari semua bangsa-bangsa termaju. Di tahun 1959, pemerintah Korea Selatan sudah mendirikan Korean Atomic Energy Commision. Setahun kemudian, Kementerian Sains dan Teknologi dibentuk. Lalu menyusul Korea Institute of Science and Technology yang dibentuk untuk riset industrial.

Dari sinilah langkah berikutnya proses pembelajaran sains dan teknologi dilakukan secara besar-besaran. Tak tanggung-tanggung, para ilmuwan asing dan segala macam teknologi terbaru dari Barat diserap habis-habisan.  Sejak era 1970-an, meski berat, pemerintah telah memberikan lebih dari 20 persen anggarannya untuk mengakselerasikan proses belajar bangsa itu. Generasipenerus Korea Selatan juga didorong untuk belajar ke kampus-kampus paling terkemuka dunia. Riset dan penelitian digalakkan, orang-orang serta badan-badan riset yang unggul diberi dana yang sangat besar oleh pemerintah. Industri-industri dengan potensi pasar masa depan yang besar dianalisis dan dikejar habis-habisan, baik oleh pemerintahnya maupun swasta.

Hasilnya? Saat ini Korea Selatan memiliki industri otomotif, semikonduktor, elektronik, pembuatan kapal, dan baja yang bermutu. Pengembangan industri-industri strategis masa depan lainnya, seperti Nanoteknologi, Bioteknologi, Teknologi Informasi, Robotika, dan teknologi ruang angkasa sudah bisa dinikmati dan menguasai dunia. Manusia Korea Selatan memiliki rangking teratas dalam kemampuan matematika, sains, problem solving dan membaca dalam peringkat OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development).

Menurut ekonom Korea Institut for International Economic Policy, Chuk Kyo Kim, keberhasilan Korea Selatan dapat tidak lepas dari perhatian besar pemerintah Korea Selatan pada pendidikan, pembangunan sumber daya manusia, serta investasi agresif di kegiatan penelitian dan pengembangan.

Cinta Produk Lokal

Tak dipungkiri, kemajuan ekonomi dan perindustrian Korea Selatan tak lepas dari penguasaan bangsa Korea dalam industri manufaktur yang berkembang menjadi riset-pengembangan. Tak hanya itu, penguasaan industri ini didukung penguasaan pasar lokal oleh bangsanya sendiri. Dengan lakunya produk-produk yang diproduksi perusahaan lokal berarti perusahaan lokal akan terus maju dan berkembang menjadi besar bahkan raksasa. Hal ini berdampak langsung pada penciptaan lapangan pekerjaan. Hasil pertumbuhan industri dan ekonomi digunakan untuk kemakmuran bangsa Korea.

Setidaknya, selain ‘political will’ dari pemerintah yang tinggi terhadap pembangunan bangsanya, mentalitas rakyat Korea sudah terbentuk dengan bangga dan cinta menggunakan produk lokal. Konon, orang Korea paling benci menggunakan produk dari negara yang pernah menjajahnya yakni Jepang. Untuk menggunakan produk canggih, secara bertahap dan mandiri, mereka memproduksi sendiri. Karakter bangsa yang cinta akan produk dalam negeri ini membuat perusahaan-perusahaan raksasa Korea tampil sebagai leader market di dalam negeri sekaligus bertahap leading di luar negeri.

Boleh dibuktikan, produk-produk dari brand Samsung, Hyundai, KB Financial Group, Shinhan Financial Group, Samsung Life Insurance, Korea Electric Power, LG menjadi pilihan utama warga Korea. [QA]

***

Merdeka Di Tahun yang Sama

Sejatinya, Korea Selatan dan Indonesia sama-sama terbebas dari penjajahan Jepang pada tahun 1945. Ya, hanya selisih beberapa hari saja. Tepatnya, dua hari setelah Korea Selatan merdeka, Indonesia pun memproklamirkan diri sebagai republik. Kondisi perekonomian yang morat marit, manajemen pemerintahan yang rawan konflik, kualitas sumberdaya manusia yang rendah hingga munculnya konflik kepentingan mewarnai perjalanan kedua republic pasca kemerdekaan.

Namun negeri Korea yang minim sumberdaya alam mampu meninggalkan jauh Indonesia. Setidaknya, kemajuan yang ditunjukkan Korea Selatan pada dunia selama ini dapat diambil pelajaran. Diantaranya;

–          Bangsa Korea Selatan berjuang mati-matian untuk memajukan bangsanya agar dapat menyalip Negara yang pernah menjajahnya yakni Jepang atau Negara-negara yang pernah melecehkannya seperti Amerika.

–          Besarnya peran pemerintah dalam pendidikan, pengembangan sumber daya serta investasi yang besar dalam industri teknologi.

–          Rasa nasionalisme masyarakat Korea Selatan yang begitu tinggi ditunjukkan dengan mencintai dan menggunakan produk (lokal) bangsa sendiri.

–          Keberpihakan pemerintah pada dunia usaha/industri dalam mengembangkan industri baik untuk pasar dalam maupun luar negeri. Sehingga kedua pihak ini bersinergi menjadikan produk-produknya mampu menguasai pasar dunia. [QA]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah QUALITY ACTION, Edisi 02/Desember 2011

 

 

 

Prof Firmanzah, Ph.D: Manajemen Mutu Berarti Kompetisi

Sejatinya, manajemen mutu itu erat kaitannya dengan yang namanya kompetisi. Seberapa tinggi derajat kompetisi dalam sebuah industri atau market maka kebutuhan akan manajemen mutu semakin tinggi pula. Semakin rendah tingkat kompetisinya, maka tekanan akan manajemen mutu semakin rendah. Hal ini dikarenakan manajemen mutu merupakan sebuah proses yang berorientasi pada pencapaian nilai tambah.

Definisi diatas berlaku bagi organisasi apapun, baik yang profit maupun non-profit. Pasalnya, bicara soal manajemen mutu berarti menggabungkan dua pengertian antara manajemen dan  mutu itu sendiri. Proses pengorganisasian, pengendalian, pengawasan sebuah organisasi baik yang terstruktur maupun tidak merupakan sebuah proses manajemen. Sedangkan mutu merupakan kualitas.

Karena mutu memiliki dimensi di setiap proses itu perlu ada nilai tambah. Tentunya, nilai tambah itu baik berdasarkan biaya, manfaat maupun fitur-fiturnya. ”Jadi proses yang berorientasi pada pencapaian nilai tambah itulah yang disebut dengan manajemen mutu,” tegas Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini.

Tak heran bila yang terjadi di Indonesia pada era tahun 1960-1970an, kondisi ekonomi negeri ini akibat ekses demand bukan ekses supplay. Karena ekses deman inilah maka sebenarnya persaingan tidak terlalu kuat. Dan ketika total quality managemen diperkenalkan pada awal tahun 1990-an, banyak perusahaan yang sudah kepalang menggelontorkan investasi besar tidak mampu bersaing di pasaran karena sama sekali tak menghasilkan nilai tambah baik pada produk maupun layanan. Banyak diantaranya yang kelimpungan menghadapi pasar bahkan berujung pada kebangkrutan.

Lalu pasca reformasi, untuk bisa bersaing di pasar, banyak perusahaan yang melek akan manajemen mutu. Perusahaan di bidang telekomunikasi misalnya, mereka tampil lebih inovatif. Tak heran bila, beragam cara untuk meningkatkan produk maupun layanan pada konsumen pun terus diusung demi meraih hati pelanggan.

Begitu pula dengan sektor lainnya, perlahan namun pasti penerapan manajemen mutu seakan menjadi sebuah keharusan baik di kalangan masyarakat, korporasi maupun birokrasi. ”Dan kini, saya rasa masyarakat, sudah melek akan manajemen mutu,” ujar pengagum teori Tsun Zu ini.

Meski memang dalam penerapannya beragam. Artinya, jika dulu manajemen mutu dikaitkan dengan konsep total quality managemen, maka sekarang lebih beragam. Misalnya, kenapa Badan Pengawasan Obat dan Makanan-Minuman (BPOM) melakukan pengetatan standar kualitas, itu merupakan bagian dari manajemen mutu. Sehingga, manajemen mutu tidak hanya sistem yang formal dan dikemas dalam sebuah konsep multi manajemen.

”Kita bicara transparansi, keterbukaan informasi, publikasi di media itu manajemen mutu. Termasuk akreditasi, sertifikasi pengajar itu manajemen mutu,” terang pakar dalam bidang manajemen internasional dan strategis lulusan Universitas Pau and Pays De l’Adour, Perancis ini.

Dengan adanya keterbukaan sebuah kebijakan publik yang menjamin mutu dan kualitas masyarakat sebagai konsumen baik produk maupun layanan menjadi terbantu. Di dunia korporasi, proses pencatatan, pelaporan serta adanya peningkatan target pajak itu pun sebagai upaya penerapan manajemen mutu. Pun dengan berbagai pengawasan terhadap kasus-kasus korupsi yang ada di birokrasi itu bagian dari manajemen mutu. ”Kasus-kasus korupsi yang terjadi di birokrasi kita itu kan sangat tidak bermutu,” ujarnya.

Keterbukaan merupakan sebagai awal dari upaya untuk melakukan manajemen mutu. Berikutnya yang dilakukan adalah sistem prosedur, penataan terhadap tugas dan kewenangan, jalur koordinasi dan sebagainya yang berkaitan dengan prinsip-prinsip manajemen mutu.

Dan yang harus diperhatikan adalah bahwa mutu harus dilihat dari sustain quality, bukan quality yang sifatnya statis. Karena semua itu terkait dengan espektasi yang terus bergerak. Selain itu, mutu alias kualitas juga harus terus menerus beradaptasi dengan espektasi stakeholder. Pun dengan continues improvement harus terus dilakukan. [QA]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah QUALITY ACTION, Edisi 02/Desember 2011

 

 

 

Venna Melinda: Saatnya Bangkit dari Keterpurukan

Siapa bilang, politisi perempuan tak berjiwa kritis. Terlebih bagi mereka yang melekat pada dirinya sebagai selebritis. Kiprahnya di dunia politik tak sekedar mengandalkan popularitas semata. Semua itu bisa dibuktikan lewat keseriusannya sebagai wakil rakyat yang terus bersikap kritis.

Dua tahun sudah Venna Melinda berkantor di gedung wakil rakyat Senayan. Integritas dan kredibilitasnya sebagai politisi perempuan patut diacungi jempol. Anggapan miring sebagian kalangan tentang politisi selebriti –khususnya kaum perempuan— hanya sekadar ’pemanis’ parlemen perlahan-lahan sirna. Sikap kritisnya acap kali membuat kawan maupun lawan politiknya berdecak kagum. Tak hanya itu, ia pun kini dipercaya masuk di komisi yang konon selalu didominasi politisi senior.

Semua itu ditunjuk perempuan berparas cantik berusia 39 tahun ini dengan kerja keras dan berkualitas. Betapa tidak, kini sehari-harinya Venna dipenuhi jadwal dari rapat ke rapat. Tak sekadar duduk, dengar lalu pergi berlalu begitu rapat usai. Venna kerap menyampaikan pemikiran kritisnya. Tentu saja, Venna pun tidak lantas asal ngomong. Ia mengaku hanya bicara pada permasalahan yang benar-benar sudah dikuasainya. Termasuk ketika berbincang-bincang dengan Quality Action saat ditemui di ruang kerjanya.

Tentunya, setelah menjalani aktifitasnya sebagai anggota DPR sejak dua tahun silam ini, menurut Venna di satu sisi ada kesamaan yakni keenakan yang sama tapi di sisi lain ada perbedaan yang mencolok seperti tak ada waktu untuk bersikap santai. Ia harus lebih sering berfikir keras karena dihadapkan berbagai persoalan baru yang tengah terjadi di negeri tercinta ini. ”Semua itu saya jalani dengan enjoy, dan selama ini saya merasa happy dengan tugas ini, meski banyak yang harus saya pelajari,” ujar perempuan kelahiran Surabaya, 29 Juli 1972 ini.

Memang, sejauh ini masih ada dikotomi bagi selebriti yang terjun ke politik. Ada sementara kalangan yang masih meragukan kemampuan selebriti, apalagi perempuan. Tentunya, ini diperlukan sosialisasi. “Perempuan juga punya potensi. Kita bisa sejajar dengan laki-laki. Paradigma bahwa politik itu menjurus keras, kasar, sudah saatnya ditinggalkan. Saatnya kita berpolitik dengan santun dan elegan,” tegasnya.

Menyikapi hal ini, Venna lebih memilih mengambil positive side dari para politisi baik di komisi maupun di partai. Baginya menjadi politisi itu bukan sekadar pintar saja, tapi harus dibekali dengan kejujuran dari dalam hati. Bukan sekadar lips service saja, tanpa ada bukti nyata. Mengingat selain beban kerjanya yang tak mudah, eksistensi Venna sebagai politisi pendatang baru di DPR harus berhadapan dengan politisi kawakan, termasuk yang memiliki latar belakang militer. Namun semua itu tak lantas membuatnya melempem untuk menyuarakan amanat rakyat.

Untuk itu, ketimbang membalikkan paradigma pengamat politik yang kerap menilai artis sebagai pemanis, menurut Venna mendingan konsentrasi terhadap bagaimana menjalankan program pendidikan politik kepada para penerus bangsa. “Jadi artis bukan hanya pemanis, kita juga punya kemampuan, semua itu bergantung pada bagaimana kita menyikapinya,” ujarnya diplomatis.

TUGAS BERAT

Sejak lima bulan lalu, Venna harus menerima mandat untuk masuk ke komisi I yang membidangi pertahanan keamanan, alutsista, informasi dan komunikasi. Boleh jadi, tugas ini lumayan berat dibanding dengan posisi sebelumnya di komisi X yang telah dijalani selama satu setengah tahun. Memang, mandat yang diberikan padanya merupakan tugas berat. Namun sejauh ini, Venna merasa tertantang dan ada banyak pelajaran diperoleh selama ini. ”Saya anggap, inilah kuliah saya berikutnya sebagai wakil rakyat ini,” ujarnya.

Salah satu yang tengah menjadi fokusnya adalah kasus pencurian pulsa. Menurut Venna dengan kejadian ini tentu saja, tidak saja masyarakat yang dirugikan sebagai pelanggan, tapi kredibilitas perusahaan operator telekomunikasi di tengah kompetisi global. Begitu juga dengan industri kreatif semacam Ring Back Tone (RBT), yang merupakan bagian dari hasil karya inovasi produk yang diciptakan anak bangsa dalam menghadapi persaingan industri musik di pentas dunia.

Menurutnya, apa yang dilakukan pemerintah dalam menyikapi kasus pencurian pulsa ini patut diacungi jempol, meski masyarakat harus bersabar. Pasalnya, penyelesaian kasus ini tak semudah membalikkan tangan. Butuh keseriusan dan kehati-hatian dalam menyikapinya dalam rangka memenuhi kepuasan pelanggan dalam hal ini masyarakat. Venna mengingatkan pemerintah selaku regulator dan perusahaan operator, untuk memikirkan bagaimana mekanisme pengembalian pulsa masyarakat yang tersedot. Sehingga ke depannya tidak ada ketimpangan, diskriminasi kepada pelanggan.

”Jangan karena saya misalnya yang anggota DPR, lalu cepat diurusnya, sementara masyarakat biasa malah berlarut-larut dalam penangannya. Inikan bagian dari kualitas pelayanan prima terhadap konsumen,” ujar Venna yang mengaku harus mengurus berjam-jam ketika ia mengetahui pulsanya tersedot.

Permasalahan lain yang tengah ia soroti adalah TVRI yang konon dinilainya masih jauh dari mutu yang diharapkan masyarakat selama ini. Memang kata Venna, TVRI tidak bisa disamakan dengan televisi swasta nasional yang lebih kreatif, inovatif dan kompetitif. Dalam pandangannya, TVRI dengan coverage yang luas ke seluruh pelososk negeri, harus benar-benar menjadi alat pemersatu bangsa bukan sekadar corong pemerintah.

Selain itu, perlu adanya restrukturisasi dan upaya peningkatan mutu sumber daya manusia pada lembaga penyiaran publik ini. ”Wajar memang, lembaga ini masih didominasi pegawai-pegawai lama. Untuk itu diperlukan penyegaran, peningkatan mutu pegawainya, sehingga TVRI bisa bersaing,” ujar mantan None Jakarta 1993 ini.

Ketika ditanya soal mutu manusia Indonesia, Venna merasa prihatin dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dimana  posisi Indonesia merosot jauh ke 124 dari 187 negara. Padahal laporan Badan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation Development/UNDP-PBB) tentang indeks pembangunan manusia pada 2010, masih menempatkan Indonesia di peringkat 108 dari 169 negara. “Memprihatinkan ya, IPM kita rendah sekali. Perlu kerja keras dan cerdas untuk bisa bangkit dari keterpurukan ini,” ujarnya.

Menurut Venna, maju mundurnya sebuah bangsa sangat bergantung pada kualitas sumber manusianya. Semakin bermutu manusianya, semakin maju bangsa itu. Celakanya, mutu manusia di negeri ini masih tergolong buruk. “Kita harus bangkit dari keterpurukan ini,” tegasnya.

Pasalnya, IPM merupakan ukuran keberhasilan pembangunan nasional suatu bangsa dengan melihat tiga indikator utama, yakni pembangunan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Artinya, pembangunan yang dilakukan membuka peluang bagi penduduk untuk hidup lebih sehat, lebih berpendidikan, dan dapat hidup lebih layak. Dan indek itulah yang menjadi dasar klasifikasi sebuah negara menjadi negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang.

Lebih Happy

Parasnya yang cantik serta bentuk tubuhnya yang tinggi semampai, kerap menjadi pusat perhatian di lingkungan parlemen. Terlebih, sebelum terjun ke panggung politik, Venna telah dikenal sebagai selebriti. Tak sekadar piawai melenggak lenggok di panggung catwalk dan di depan kamera, mantan Puteri Indonesia 1994 ini populer sebagai instruktur salsa. Kini semua itu sudah ditinggalkannya dan fokus menjalankan amanah sebagai wakil rakyat.

Diakuinya, secara materi sebagai wakil rakyat, jauh berbeda dengan profesi sebelumnya itu. Namun ada ’sesuatu’ yang lebih berarti yang diraihnya dibanding ketika ia terjun di pentas panggung hiburan. Venna merasa lebih happy, terlebih ketika usai menemui konstituennya di daerah ada kebahagiaan tersendiri. Padahal dulu, kata Venna, dirinya selalu dikejar-kejar rasa takut, tidak tenang dan kemrungsung kalau ada sepatu baru tapi tidak beli. ”Finally happy saja,” ujar istri Ivan Fadilla ini.

Ya, sebelumnya Venna yang mengawali panggung akting lewat film Catatan Si Boy II akhirnya harus fokus ke studinya. Tak lama kemudian ia mengikuti ajang pemilihan Abang None Jakarta 1993 dan terpilih sebagai pemenangnya. Disusul kemudian keluar sebagai Puteri Indonesia di tahun 1994. Sejak saat itulah karirnya di pentas hiburan kian menanjak, wajahnya kerap muncul di beberapa sinetron produksi Multivision Plus seperti Bella Vista 1 dan Bella Vista 2. Ia pun pernah membintangi sinetron Bulan Bukan Perawan, Opera Jakarta, Tersanjung 5 dan Maha Pengasih.

Di luar itu, Venna pun pernah merambah bisnis kebugaran dengan membuka studio senam khususnya Salsa. Dari hobi Salsa itu, Venna pun dikenal sebagai istruktur salsa dan telah mengeluarkan album bertajuk ’Exotic Dance’. Pada tahun 2004, ibu dua anak ini meliris album perdana bertitel The Other Side of Me. Tak hanya itu, bintang iklan produk pelangsing tubuh ini juga meluncurkan buku berjudul Venna Melinda’s Guide to Good Living. Buku yang mengupas kehidupan yang seperti dijalaninya saat ini, disertai tip lengkap guna menjaga kebugaran tubuh.

Kini di tengah  kesibukannya sebagai wakil rakyat, Venna tetap menyempatkan diri untuk bercengkrama dengan keluarga. Biasanya agar tidak kehilangan waktu bersama keluarga khususnya anak-anak, Venna kerap mengajak anaknya turut serta ikut menyambangi konstituennya saat masa reses. Tujuannya tak lain adalah untuk mengenalkan dan sekaligus merasakan secara langsung pada anak-anak apa yang dirasakan dan dialami masyarakat. “Supaya mereka juga tahu perjuangan dan tugas ibunya,” ujarnya. [QA]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah QUALITY ACTION, Edisi 02/Desember 2011

 

 

 

PT Pos Indonesia Menjelajahi Hingga Pelosok Negeri

Dalam jejaring sosialnya, Pos Indonesia suatu ketika menuliskan, “Pos Indonesia menyediakan solusi handal dalam mail, logistic dan jasa keuangan dengan menggunakan jejaring bisnis dan infrastruktur terluas dan terpadu serta mengembangkan hubungan kolaboratif.”

Memang, Pos Indonesia boleh saja berbangga dengan kemampuannya bertahan selama 265 tahun. Namun sepertinya perusahaan ini tak boleh lama-lama tenggelam dengan romantisme masa lalu. Pasalnya, sejarah panjang Pos Indonesia tidak terlepas dari kepentingan pemerintah selaku pemilik dan posisi strategis sebagai agen pembangunan yang wajib dipertahankan.

Diakui secara bisnis, pasar Pos Indonesia sebagai perusahaan perposan sudah tergerus cukup dalam oleh hadirnya teknologi komunikasi mutakhir. Tak pelak, revolusi komunikasi yang terjadi sejak era 1990-an membuat peta bisnis komunikasi berubah total. Sejak maraknya penggunaan surat elektronik (email) di awal 1990-an, industri pos pun mulai tersisih. Disusul munculnya handphone yang dilengkapi fitur short message service (SMS) satu dekade terakhir, membuat perusahaan ini ketar ketir. Ditambah lagi dengan hadirnya media jejaring sosial dan ditopang perangkat komunikasi super canggih saat ini memaksa Pos Indonesia untuk mengambil peran yang cocok agar bisa bertahan di pasar yang kian sempit pula.

Untunglah, Pos Indonesia memiliki daya saing yang kuat dan mampu mengantisipasi kondisi pasar yang terjadi. Perubahan diawali dengan mengubah status dari Perusahaan Umum (Perum) menjadi Perseroan Terbatas (PT) pada tahun 1995 merupakan titik awal Pos Indonesia menghadapi kompetisi di binis jasa perposan. Berbagai pembenahan manajemen dan strategi dalam menentukan positioning bisnis hingga memetakan kekuatan pelanggan yang sudah dimiliki sejak puluhan tahun. Keuntungan lain yang dimiliki Pos Indonesia adalah tingkat kepercayaan pelanggan terhadap layanan. Semua itu kembali bermuara pada satu titik yakni kualitas layanan.

Perkembangan teknologi yang sebelumnya dianggap pesaing, oleh Pos Indonesia dijadikan sebagai partner. Berbagai inovasi yang ada pada lini bisnis utama jasa perposan, Pos Indonesia dalam memenangkan persaingan dengan mengandalkan kekuatan yang dimiliki yang tersebar seantero nusantara. Di lini ini, ada banyak lahan basah yang telah dimanfaatkan Pos Indonesia. Salah satunya adalah layanan billing statement dari kalangan perbankan, provider telekomunikasi dan lembaga keuangan. Ada juga Admail Pos yang mampu memproduksi surat pos secara missal dengan hanya menyerahkan data base untuk dikirim ke berbagai alamat. Ada pula Pos Ekspress yang dikenal tepat waktu dan bergaransi. Business Improvement jenis layanan ini dinilai mampu memberi kontribusi yang cukup besar bagi perusahaan plat merah ini.

Layanan Pos Indonesia dalam industri perposan tak melulu surat menyurat. Bisnis layanan pengiriman uang sekelas ‘wesel’ –yang begitu melekat dengan Kantor Pos—  kini tampil lebih instan dan canggih. Pos Indonesia memanfaatkan teknologi untuk menopang pengiriman uang dengan menggangdeng perusahaan remittans kelas dunia, Western Union sejak sepuluh tahun lalu. Upaya ini, selain memberi efisiensi karena tidak melibatkan ‘tukang pos’ juga mampu meningkatkan value Pos Indonesia sebagai agen Western Union terbesar dan terluas jaringannya di Indonesia.

Menurut Direktur Utama Pos Indonesia, I Ketut Mardjana, dari produk remitansi ini, Pos Indonesia membukukan pendapatan sebesar Rp 336,2 miliar pada akhir September 2011. Padahal target tahun ini pihaknya hanya mematok Rp 326 miliar. “Pengiriman uang domestik sebesar Rp 1,25 triliun perbulan dan luar negeri sebesar Rp1 triliun, ini merupakan peluang besar,” ujar di Jakarta beberapa waktu lalu.

Selain remitansi, Pos Indonesia berhasil menembus target pendapatan dari PosPay –produk transaksi pembayaran berbagai tagihan maupun angsuran seperti  rekening telepon, seluler, listrik, dan kredit— sebesar Rp 364,89 miliar dari target 2011 sebesar Rp 348,76 miliar. Melihat peningkatan pendapatan serta peluang yang ada, Ketut mengatakan, Pos Indonesia berencana akan menerbitkan kartu pembayaran atau electronic money pada 2012 mendatang.

Sementara secara keseluruhan, tahun ini Pos Indonesia memproyeksikan laba sekitar Rp 127 miliar, yang ditopang oleh kenaikan pendapatan sekitar Rp 2,977 triliun, naik 11,68 persen dibandingkan tahun sebelumnya sekitar Rp 2,678 triliun. Seiring dengan naiknya pendapatan, beban usaha pun diperkirakan naik sekitar 10 persen menjadi Rp 2,850 triliun. Sedangkan untuk tahun 2012 mendatang, Pos Indonesia mengincar laba sekitar Rp 1,82 miliar dengan pendapatan sekitar Rp 3,42 triliun.

Demi memberikan kepuasan layanan pada pelanggan, Pos Indonesia tetap menjaga Layanan Pos Universal (LPU) di daerah-daerah yang secara ekonomis tidak layak bisnis. Untuk itu, perseroan mengelontorkan subsidi sekitar Rp 808 miliar yang akan digunakan untuk menyediakan dan mempertahankan kapasitas layanan pos di 2.278 unit Kantor Cabang Pembantu LPU di 11 divisi regional yang tersebar di seluruh Indonesia.

Business Improvement

Dalam menghadapi persaingan pasar global, Pos Indonesia kembali meluncurkan inovasi terbarunya dengan membuka kotak pos di bawah laut. Kotak pos bawah laut yang diresmikan pada hari jadi Pos Indonesia ke 265 di Pantai Amed, Karangasem, Bali itu merupakan kotak pos yang pertama di Indonesia dan kedua di dunia setelah di perairan laut Australia.

Konon, dipilihnya pantai Amed sebagai lokasi kotak pos bawah laut senilai Rp 25 juta itu karena pantai tersebut sudah sangat dikenal dengan keindahan pemandangan bawah lautnya. Kotak pos tersebut berbentuk gapura khas Bali dan berwarna putih. Kotak tersebut rencananya akan dipasang di kedalaman sekitar 10 meter. Untuk bisa mengirimkan surat ke kota pos itu, pengrimnya harus yang bisa menyelam. Sementara ‘tukang pos’ yang bertugas mengambil surat-surat tersebut adalah para penyelam di Pantai Amed.

“Untuk ongkos kirimnya Rp 10 ribu saja, lengkap dengan cap khusus dan amplop khusus tahan air, serta bisa dikirim ke alamat mana saja bahkan sampai ke luar negeri,” kata Direktur Utama PT Pos Indonesia, I Ketut Mardjana usai meresmikan Kotak Pos bawah laut Oktober silam.

Bisnis yang paling menjanjikan dari Pos Indonesia adalah logistik. Meski gempuran dari perusahaan sejenis begitu kuat. Namun dengan jaringan yang luas hingga ke pelosok negeri, Pos Indonesia berpeluang besar memperebutkan market yang besar. Geliat bisnis logistik yang sepintas dikuasai pemain luar, rupanya menjadi tantangan tersendiri bagi Pos Indonesia untuk merebut pasar, khususnya di dalam negeri.

Untuk itu, dalam mengantisipasi persaingan dan mendapatkan tarif yang kompetitif Pos Indonesia pun tengah mempersiapkan sebuah perusahaan regulated agent (RA). Upaya memasuki bisnis RA, tak lain sebagai bagian dari strategi pengembangan bisnis. Pasalnya, menurut I Ketut Mardhana, dari pada menggunakan jasa perusahaan RA, mendingan Pos Indonesia menjadi perusahaan RA sekalian.

Pos Indonesia sendiri, sudah memiliki sejumlah mesin x-ray (pemindai) di beberapa daerah. Begitu juga dengan kantor di Bandara Soekarno-Hatta juga ada. “Pertimbangan kami, ada baiknya kami menjadi perusahaan RA sendiri ketimbang kami menggunakan jasa perusahaan RA yang ada saat ini. Dengan demikian kami bisa menghemat biaya,” katanya.

Di samping itu, Pos Indonesia juga berencana mendirikan perusahaan kargo bersama PT Garuda Indonesia Tbk. Perusahaan tersebut akan berbentuk patungan untuk mengoperasikan pesawat kargo khusus –yang ditargetkan terbentuk pada pertengahan 2012. Pasalnya, selama ini pengiriman kargo Pos Indonesia melalui pesawat udara setiap harinya sebanyak 50 ton. Angka ini hanya 0,01 persen dari total kargo di Indonesia.

Menurut I Ketut Mardjana, pembentukan perusahaan khusus kargo dengan Garuda Indonesia akan memperkuat lini logistik. Di sisi lain, selama ini pengiriman kargo Pos Indonesia sebanyak 90 persen telah dibawa dengan pesawat milik Garuda, sehingga untuk merealisasikan perusahaan patungan khusus kargo adalah hal mudah. Rencananya, Kantor Pos Besar Pasar Baru –yang menempati lahan 4 hektar— akan digunakan sebagai kantor operasionalnya.

Perusahaan ini nanti akan melayani pengiriman barang ke wilayah barat dan timur, seperti Jakarta-Aceh atau Jakarta-Papua. “Potensi kargo di Jayapura itu sangat besar, ini harus dimanfaatkan. Paling cepat pertengahan 2012 sudah bisa direalisasikan,” tandasnya.

Kepuasan Konsumen

Dalam industri jasa pengiriman, kepuasan konsumen menjadi penting. Perusahaan mana pun betul-betul menjaga layanannya. Termasuk Pos Indonesia yang terus melakukan ekspansi di jalur yang menjadi core business-nya maupun peluang bisnis baru. Semua itu bermuara pada satu titik yakni kepuasan konsumen.

Untuk menuju muara tersebut, tentunya tantangan yang dihadapi Pos Indonesia tidaklah mudah. Selain perkembangan teknologi yang terus melesat, persaingan global terus memaksa perusahaan jasa perposan tertua di negeri ini untuk berbenah dan melakukan gebrakan-gebrakan jika tidak mau ditinggalkan pelanggannya.  Bermunculannya perusahaan jasa pengiriman sejenis, baik lokal maupun asing –yang menggandeng perusahaan lokal—  bagi Pos Indonesia harus dihadapi dengan melakuan improvement di segala lini. Termasuk melakukan ekspansi wilayah pelayanan Pos Indonesia yang tidak hanya meliputu wilayah nusantara saja, tapi telah mampu menjangkau internasional. Tentunya hal itu memungkinkan Pos Indonesia untuk bisa go international. [QA]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah QUALITY ACTION, Edisi 02/Desember 2011

 

 

 

Anahata Villas & Spa Resort, Perpaduan Antara Modern dan Tradisional

Alam yang hening, semerbak aroma rempah, gemercik air sungai serta kicau burung yang bersautan menyatu menghadirkan sensasi ketenangan dan kenyamanan tersendiri.

Inilah yang ditawarkan Anahata Villas & Spa Resort. Tempat peristirahatan yang berlokasi di ’jantung’ pulau Dewata, Ubud, Bali siap memanjakan para tamunya. Tak sekadar tampak indah mempesona, tapi di kawasan mampu menghadirkan kualitas ketenangan bagi tubuh, pikiran dan jiwa.

Ya, menempati salah satu sudut tepian sungai Petanu, Anahata Villas & Spa Resort merupakan hotel spa kelas dunia. Dikelilingi hutan tropikal alami, ditambah aliran air sungai dan hawa sejuk membuat tamu betah berada di lingkungan yang alami ini.
Boleh jadi, saat ini Anahata tengah menjadi tempat favorit di Ubud. Pasalnya, selain menyediakan penginapan di keheningan alam, Anahata juga menawarkan beragam aktifitas penunjang kesehatan seperti yoga, spa, taichi hingga healthy food. Tak hanya itu, fasilitas serta layanan holistik yang mengutamakan kepuasan tamu ini, memadukan antara unsur modern  dan tradisi kearifan lokal. Anahata menawarkan ragam paket seperti, Ubud Breeze, Family Holiday, Family Holiday Special, Romantic Package (honeymoon), Yoga Package, dan Spa Package.

Dengan berbagai paket yang ditawarkan, mulai dari paket hemat (yoga) Rp 1,9 juta per orang untuk tiga hari dua malam, paket honeymoon (bulan madu) seharga Rp 4,8 juta untuk tiga hari dua malam, dan paket untuk liburan keluarga spesial seharga Rp 6,5 juta untuk tiga hari dua malam. Dengan tarif itu, para tamu akan mendapatkan welcome massage, makan pagi, tea time, airport transfer, dan beberapa kegiatan yang ada di resort seperti yoga yang menjadi program unggulan dari Anahata. “Kita memang ambil di middle price, namun fasilitas yang didapat para tamu, rasanya sebanding bahkan lebih dari uang yang mereka keluarkan,” ujar Onnie Djatmiko, owner Anahata Villas & Spa Resort.

Menurutnya, mungkin karena saking banyaknya layanan serta fasilitas yang didapat para tamu, setiap akhir pekan, pihaknya harus menolak tamu. Sementara para hari kerja, tingkat huniannya mencapai 40 persen. Onnie menegaskan, pada bulan biasa, sebulan tingkat hunian Anahata dapat mencapai high season hingga 80 persen. Adapaun low season-nya sekitar 45 persen. Lain lagi bila masa liburan sekolah atau libur nasional, Anahata selalu full book.

Lost Paradise

Sebuah keniscayaan, ketika ketenangan dan kenyamanan yang menjadi impian bagi sebagian besar masyarakat perkotaan susah didapatkan, mereka lantas berlomba mencarinya. Alam pedesaan yang natural kerap menjadi pelarian bagi sebagian kalangan yang mendambakan ketenangan. Meski harus merogoh kocek dalam-dalam, tak menyurutkan para pencari ketenangan untuk menyambanginya. Tak heran bila setiap weekend, lokasi-lokasi peristirahatan penuh terisi. Dan tentunya ini menjadi peluang bisnis yang menjanjikan. Anggapan Ubud sebagai kawasan ‘lost paradise’ kian menambah rasa penasaran para pesohor baik domestik maupun mancanegara.

Keberadaan Anahata di salah satu kawasan ‘lost paradise’ yang ada di Indonesia menjadi nilai tersendiri. Tak tanggung-tanggung, Onnie selaku pemilikpun menyulap kawasan lembah sungai Petanu Anahata tempat peristirahatan yang mengusung ketenangan bagi tubuh, pikiran dan jiwa. “Kita sama-sama tahu, Bali menjadi ikon dunia, sementara kawasan Ubud Bali sendiri banyak yang menyebutnya sebagai lost paradise,” ujar perempuan kelahiran Surabaya, 5 Mei 1970 ini.
Anahata mulai beroperasi pada November 2004 silam. Onnie Djatmiko, sang pemilik, mengaku ide membangun Anahata berangkat dari hobi menata ruangan, membuat resep masakan dan melakukan yoga. Lahan seluas 3,5 hektar yang menjadi lokasi Anahata itu dibelinya dari rekan suaminya yang berkebangsaan Australia. Bersama sang suami, Peter Djatmiko, ia pun membangun vila dengan konsep keseimbangan antara tubuh, pikiran dan jiwa dengan nama Anahata. “Nama Anahata berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti cinta, kasih sayang dan keharmonisan dalam yoga,” ujar ibu dua anak ini.

Terdiri dari dua belas vila dan dua rumah spa bergaya modern yang menyatu dengan alam pegunungan Ubud, Bali. Masing-masing vila terdiri dari bangunan 200 meter yang terbagi dalam tiga lantai yang memiliki karakteristik masing-masing. Kamar tidur utama berada di lantai tiga, ruang keluarga dan ruang makan serta dapur terletak di lantai dua, dan dua kamar tidur terletak di lantai satu. Pada setiap kamarnya dilengkapi dengan kamar mandi pribadi.

Tidak hanya itu, masing-masing bungalow dilengkapi dengan kolam renang pribadi dan taman seluas 120 meter persegi. Untuk menambah kesan homy, setiap vila dilengkapi dengan penyejuk udara, minibar, fasilitas TV satelit dengan saluran premium, DVD player, X-Box player, hingga save deposite box dan masih banyak fasilitas lainnya lagi baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Dengan demikian, menurut Onnie, orang akan mendapatkan lebih banyak privasi dan layanan yang lebih personal, jika mereka tinggal di vila dibandingkan kalau menginap di hotel normal.

Sementara untuk aktivitas yoga, Anahata memiliki dua studio, masing-maing berkapasitas 15 dan 50 orang. Dalam perjalanannya, kedua studio itu kurang mampu memenuhi permintaan pelanggan. Tak heran bila di setiap event-nya, Anahata selalu membatasi peserta. Bukan saja karena kapasitas yang kurang, tapi lebih pada upaya untuk memenuhi kepuasan konsumen. Studio yoga yang berkapasitas 50 orang juga sebenarnya merupakan ruang multifungsi. Di ruang ini kerap pula dialihfungsikan sebagai meeting room atau acara seminar yang digelar Anahata.

Selain menyediakan kolam renang pribadi di setiap unitnya, tersedia pula kolam renang utama ukuran internasional. Anahata juga menerima pembuatan wedding chappel bagi pelanggan yang hendak melangsungkan pernikahan di tengah keheningan alam lembah sungai Petanu. Untuk ukurannya tentunya berdasarkan permintaan. “Dalam rangka memberikan yang terbaik untuk pelanggan, Anahata juga menyediakan wedding chapel bagi mereka yang ingin menikah di lokasi kami, tentunya by request,” ujarnya.

Strategi Pemasaran

Bagi Onnie, dua tahun pertama membuka Anahata, strategi pemasaran yang dilakukannya adalah aktif menawarkan jasa penginapan, yoga dan spa hingga ke luar negari. Rupanya, diam-diam demand dalam negeri tak bisa dianggap sebelah mata. Ternyata market ini memberi peluang yang sama besarnya bagi Anahata. Selain menjalin kerjasama dengan asosiasi biro perjalanan, Onnie pun terus menggenjot market dengan cara jemput bola. Dan memang, selama ini komposisi tamu Anahata antara domestik dan mancanegara 50:50. “Saya lebih menerapkan soft sales dan strategi jemput bola dalam hal pemasaran,” ujarnya.

Menurutnya, dengan strategi seperti itu, karyawan tak harus digenjot terus-terusan untuk mendapatkan calon pelanggan. Selain itu, sistem jemput bola  kerap dilakukannya baik secara pribadi melalui jalinan pertemanan maupun kepada korporat. Disamping menjalin kerjasama dengan biro perjalanan untuk menarik pelanggan, Onnie juga melakukan kerjasama dengan beberapa fashion desainer dan media. Onnie pun memanfaatkan hubungannya dengan guru-guru yoga dari seluruh dunia untuk ikut mempromosikan Anahata.

Diakuinya, strategi menjemput bola itu meski di masa yang boleh jadi dikatakan septi pengunjung, Anahata tetap ramai dikunjungi tamu. Memang, tamu yang datang lebih banyak dari komunitas yoga. “Terus terang memang, yoga menjadi tema sentral dari Anahata,” tandasnya.

Menyergap Jakarta

Sukses mengembangkan hotel spa di Ubud, naluri bisnisnya bicara untuk melakukan business improvement yang smart. Dan sejak Agustus 2008, akhirnya Onnie pun menghadirkan Anahata Wellness Center di FX Lifestyle X’Nter, di bilangan Sudirman Jakarta. Dengan mengusung tagline My way to a healthy lifestyle, Anahata Wellness Center –yang terletak di lantai f2— menawarkan sebuah konsep baru untuk meraih keseimbangan tubuh, pikiran dan jiwa di satu tempat.

Upaya Onnie sebagai pemilik ‘memboyong’ suasana alami, nyaman dan eksotis –seperti induknya di Bali— ke tempat ini tak lain sebagai penyegar di tengah kesibukan kaum urban. Tempat  ini  menyediakan berbagai fasilitas yang dapat menenangkan pikiran memberikan kebugaran tubuh seperti yoga, spa, ruangan konsultasi gizi, ruangan seminar, ruangan refleksi dan restoran. Tiap ruangan perawatan didesain indah dan mempunyai privasi tersendiri misalnya berupa akses terpisah untuk tamu.

Menurutnya, dengan hadirnya Anahata di lokasi premium sekelas FX Plaza, menjadikan Anahata lebih dekat dengan masyarakat. Tentunya ini tantangan tersendiri bagi Anahata dalam memperkenalkan healthy lifestyle kepada masyarakat. “Meskipun berada di pusat perbelanjaan modern, Anahata tetap tampil dengan konsep back to nature yang menawarkan spa dan yoga seperti Anahata yang di Ubud,” ujarnya.

Quality Service

Dalam menjalankan bisnis ini, Anahata memiliki standarisasi sendiri. Semua itu bermuara pada demi terpenuhinya kepuasan pelanggan. Standarisasi kita selalu berupaya untuk melakukan yang terbaik kepada pelanggan. Meski memang, untuk menerapkan sistem manajemen mutu memerlukan biaya tinggi. Sementara animo masyarakat untuk mendapatkan layanan total wellness hingga saat ini masih minim. Untuk itu, Anahata memberlakukan medium price, sehingga terjangkau oleh konsumen dan masyarakat pun menjadi aware terhadap gaya hidup sehat. Selain itu kita juga menerapkan sistem subsidi silang dari paket-paket yang ada. “Kita ini bukan sekadar mencari uang, tapi lebih pada layanan pada manusia. Jadi memang, bisnis yang dikembangkan Anahata ini unik,” tegasnya.

Meski demikian, tak lantas standar mutu yang diterapkan asal-asalan, apa adanya. Tapi secara paripurna dalam meraih kepuasan pelanggan. Anahata telah menetapkan quality control terhadap bahan baku treatment, standar quality management dalam hal layanan konsumen hingga penetakan pricing. Seperti penggunaan bahan baku produk perawatan, Anahata menerapkan bukan bahan siap saji, tapi fresh product yang benar-benar baru diracik secara last minute. “Mungkin sepintas, standar mutu yang kita terapkan terlihat absurd, tapi kita sudah menentukan prosedur ini, dan hasilnya akan seperti ini,” terang Onnie sambil mencontohkan prosedur pembuatan beberapa racikan ramuan spa yang menggunakan bagan-bahan segar seperti buah-buahan segar dan berkualitas.

Hasilnya, pelanggan pun merasa puas dan tak segan untuk kembali sembari membawa rekan sejawat atau calon konsumen yang penasaran dengan pelayanan Anahata. Pasalnya selain menerapkan mutu pelayanan, Anahata pun memperlakukan sama pelanggannya. Memang, oase yang dibawa Anahata tampak mewah dan berkelas, tapi sejatinya Anahata tak mengelompokan golongan konsumen alias tamu. “Tamu yang datang ke Anahata mendapatkan pelayanan sama, kita tidak ada penggolongan konsumen. Siapapun yang datang, apakah dia tamu lokal, bule, ibu rumah tangga, wanita karir, pengusaha, socialite ataupun pejabat, berarti orang itu memiliki aware terhadap wellness,” paparnya.

Baik Anahata Ubud maupun Anahata Jakarta, menerapkan manajemen mutu yang sama. Tentu saja, untuk menjaga mutu tersebut, tak segan-segan Onnie harus turun langsung, mulai dari menyambut para tamu hingga meracik bahan-bahan untuk treatment sekalipun. Semua itu dilakukannya sebagai bentuk totalitas pelayanan sekaligus men-training karyawannya.

Selain terjun langsung, sharing keahlian dan pengetahuan, Anahata pun kerap mengadakan pelatihan-pelatihan dengan mendatangkan para master yoga, taichi, salsa, massage, spa dan lain sebagainya.  Di samping sebagai ajang promosi dengan mendatangkan ‘pakar’ ke Anahata, seluruh karyawan pun dilibatkan. Sehingga dengan sendirinya peningkatan mutu SDM dapat terukur sesuai standar yang diinginkan.

Dan memasuki tahun keempat ini, menurut Onnie, khusus Anahata Wellness Center masih fokus dulu dalam meraih positioning di pasar wellness industry. Sementara untuk induknya, Anahata Villas and Resort Spa Ubud, Bali –yang genap 7 tahun beroperasi— tengah mempersiapkan pengembangan lahan dan major renovation yang akan dilakukan pada tahun depan. “Saya tidak ingin bisnis yang saya kelola justru menjadi tak terurus dengan baik jika terlalu cepat diperbesar dalam waktu singkat. Karena perlu diingat, bisnis ini tak melulu untuk meraih untung tapi lebih layanan pada manusia,” pungkasnya. [QA]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah QUALITY ACTION, Edisi 02/Desember 2011

 

 

 

Mahkotadewa Indonesia, Menduniakan Herbal

Dunia mengakui, Indonesia memang kaya dengan kaya akan sumberdaya alam, termasuk herbal. Bahkan sejak jaman dulu kala, tanaman-tanaman ini menjadi komoditi. Bahan-bahan alam itu banyak digunakan sebagai anti oksidan atau lebih dikenal dengan obat alternatif yang biasa disebut pengobatan herbal. Tak heran bila Indonesia menjadi salah satu negara produsen ‘jamu’ terbesar.

Memang, istilah atau sebutan jamu lebih membumi di negeri ini dibanding dengan istilah herbal. Sehingga wajar, ketika kata herbal mulai digunakan, seakan ada kebangkitan di industri jamu secara keseluruhan. Dan selama ini, herbal lebih dikenal berasal dari negeri China. Apalagi ketika produk-produk herbal China itu bebas diperdagangkan di pasaran obat. Padahal, sejatinya negeri ini kaya akan herbal. Salah satunya tanaman Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa)

Tanaman obat ini memiliki khasiat luar biasa. Setidaknya, banyak penderita penyakit ringan seperti gatal-gatal, pegal lini atau demam hingga penyakit kelas berat semisal kanker, diabetes merasa terbantu. Tak hanya itu, tanaman ini pun berkhasiat untuk penyembuhan organ hati atau jantung, hipertensi, rematik serta asam urat. Tak heran bila, berdasarkan pengalaman yang tadinya tidak ada harapan untuk sembuh, tanaman ini bagai ‘dewa penyelamat’.

Setidaknya itulah mahkota dewa, tanaman perdu berbuah warna merah menyala yang mengandung zat alkaloid, saponin, flavonoid dan polifenol banyak digunakan dunia pengobatan. Tanaman –yang konon berasal dari daratan Papua— oleh orang Jawa Tengah dan Yogyakarta dikenal dengan makuto dewo, makuto rojo, atau makuto ratu. Di daratan China –yang dikenal dunia herbalnya, tanaman ini dinamai Pau yang artinya obat pusaka.

Melihat besarnya potensi yang ada di bumi pertiwi ini, upaya back to nature pun kian marak digadang-gadangkan banyak pihak. Mulai dari yang lingkupnya hanya home industry hingga berskala pabrikan. Termasuk yang dilakukan oleh Ning Harmanto yang mengembangkan puluhan aneka produk herbal di bawah bendera PT Mahkotadewa Indonesia. “Tentu saja kita juga menggunakan tanaman herbal atau rempah lainnya, tidak hanya mahkota dewa. Hingga kini sudah ada enampuluh produk dengan merek sendiri dan kita juga membuat produk untuk pihak lain,” kata Ning Harmanto, President Director PT Mahkotadewa Indonesia.

Menurut Ning, obat herbal yang diproduksinya dalam bentuk kapsul, teh, madu, dan racikan. Sebut saja Kapsul Made dan Kapsul Madeca, produk berbahan dasar mahkota dewa ini merupakan produk awal dan menjadi andalan hingga kini. Khasiat dari obat herbal ini mampu mengatasi darah tinggi, tumor, dan kanker. “Kini seiring dengan berkembangnya teknologi dan riset dan pengembangan yang terus kita lakukan, produk andalan kita tidak sekadar mahkota dewa,” terangnya.

Karena memang produknya belum bersifat massif, maka setidakya pabrik ‘rumahan’ miliknya mampu memproduksi jenis Kapsul Madeca ini sebanyak 3000-5000 setiap bulannya. Belum lagi kapsul lainnya serta jenis obat herbal berbahan yang lainnya. Sebut saja lima produk jenis teh semisal Ostea+, the berbahan dasar daun sukun –yang kini menjadi andalan barunya— sudah mampu diproduksi sebanyak 10.000 pak per bulannya.

Standar Internasional

Meski berawal dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Bunga Lili yang dibentuk 1999, lalu kini menjelma menjadi badan usaha sejak 2003 silam. Bukan lantas hanya menjadi pabrikan herbal ecek-ecek, tapi perusahaan ini tercatat sebagai perusahaan herbal pertama di Indonesia yang meraih sertifikasi Standar Keamanan Pangan Dunia atau yang dikenal dengan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) yang diraihnya pada tahun 2005 lalu.

Sistem kendali mutu HACCP sendiri awalnya dikembangkan oleh Badan antariksa Amerika Serikat/NASA (1960) untuk mengontrol makanan Astronot. Dimana system ini akhirnya berkembang dan digunakan pada awalnya untuk makanan kaleng, yang memang sangat kritikal masalah keamanan pangannya. Dan baru pada awal tahun 1990-an, sistem ini di kenal umum untuk industri makanan di seluruh dunia.

Menurut Ning, setidaknya, dengan diraihnya sertifikat HACCP ini, produk Mahkotadewa Indonesia pun layak disejajarkan apa yang diterapkan dalam sistem kendali mutu produk bersertifikat ISO 9000. Pasalnya, sistem yang ada di HACCP pada akhirnya diadopsi oleh ISO 9000:2000. Sebut saja pada tataran proses melakukan analisa bahaya, menentukan titik kendali kritis, menetapkan batas-batas titik kendali kritis, prosedur monitoring, tindakan koreksi, prosedur verifikasi, dan dokumentasi.

Selain itu, guna meyakinkan konsumen akan produk herbal, sertifikat irradiasi dari BATAN telah diraih produsen herbal ini pada tahun 2004. Sertifikasi ini menjamin semua produk telah melalui proses irradiasi untuk pangan serta menjamin produk tidak mengandung jamur, bakteri dan kapang serta aman di konsumsi. Sertifikasi Irradiasi pangan ini diterapkan di lebih kurang 50 negara di dunia dan telah ditetapkan secara komersial selama puluhan tahun di Amerika Serikat, Jepang dan beberapa Negara Eropa.

Dan untuk menghasilkan produk yang berkualitas sesuai, Mahkotadewa Indonesia didukung sumberdaya manusia handal yang terbagi dalam tim manajemen, ahli medis, apoteker dan Research & Development (R&D). Pasalnya, menurut Ning, sejak awal membangun usaha ini, pihaknya sudah peduli dengan kualitas produk. Misalnya, mulai dari pemilihan bahan baku, perlakuan terhadap bahan, pengolahan, kontrol kadar air hingga ke tahap packaging. “Dengan diraihnya sertifikat HACCP ini mempermudah untuk mendapatkan sertifikat SNI untuk produk kita, dan saat ini semua jenis produk kita sudah ber-SNI,” terangnya.

Tentu saja, untuk mendapatkan bahan baku yang berkualitas, pihaknya pun harus berburu ke daerah penghasil herbal berkualitas pula. Dengan merangkul para petani untuk menyiapkan bahan yang dicari secara langsung. Sinergi ini dinilai saling menguntungkan, disatu sisi petani mendapatkan lapangan pekerjaan, disisi lain suplai akan bahan baku pun aman terkendali sesuai standar yang telah ditetapkan.

Semua itu menurut Ning, berangkat dari visinya untuk menjadi perusahaan penyedia produk herbal berkualitas. Yang pada akhirnya bermuara pada tujuannya memberikan layanan dengan kualitas terbaik bagi konsumen service for excellence (memberikan layanan yang terbaik).

Pengembangan produk

Mahkotadewa Indonesia sepertinya tak pernah puas dengan produk herbal yang ada. Kini, perusahaan herbal ini mengembangkan produk teh berbahan daun sirsak dan daun sukun. Boleh jadi, untuk daun sirsak, kata Ning sudah banyak yang mengembangkannya dalam berbagai produk. Berbeda dengan daun sukun yang belum banyak diketahui kalangan awam. Inovasi produk teh daun sukun ini merupakan terobosan luar biasa. Produk dengan nama Ostea+ ini terbuat dari daun Sukun, daun Angelica dan aneka herbal pilihan lainnya berkhasiat untuk menjaga kesehatan tulang, jantung, ginjal, dan hati serta menurunkan kolesterol dan menyembuhkan asam urat. “Selain sudah terdaftar sebagai produk SNI, kedua teh ini sudah kita patenkan,” tandasnya.

Kehadiran Ostea+ dan Sirsakti ini seakan memberi energi baru buat Mahkotadewa Indonesia untuk menggebrak pasar. Pasalnya selain selama ini produk Made dan Madeca hanya menyasar pada orang yang terkena sakit kanker saja, produk ini mendapat respon yang tinggi dan membangkitkan pasar herbal kembali yang sempat terpuruk.

Guna meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk, Ning mengungkapkan rencananya untuk bekerjasama dengan pabrikan teh ternama, Sariwangi dalam hal produksi. “Kita ingin produk ini menjadi mass product, makanya kita akan bekerjasama dengan Sariwangi, hingga kini masih taraf pembicaraan seperti apa mekanismenya, semoga saja terwujud,” harapnya.

Selain itu, menurut Ning, Mahkotadewa Indonesia juga tengah mengembangkan resep masakan berbumbu herbal. Sebelumnya, pihaknya telah memenangkan UKM Pangan Award 2011 untuk inovasi kategori produk Bumbu Masak yaitu Seasoning dan Soupning –yang merupakan perpaduan aneka herbal dan bumbu dapur. Ning juga tengah menjajal resep masakan bersantan dan berbahan daging alias mengandung kolesterol. Diantaranya baso herbal, rendang herbal, dan sop daging yang sangat aman dari kolesterol.

“Setidaknya, kedepan masakan-masakan unggulan Indonesia seperti rendang, kita buat dengan bumbu herbal, salah satunya dengan menambahkan Oste+. Mudah-mudahan ini mendorong inovasi dunia kuliner dimana selama ini orang masih kuatir dengan makan-makanan bersantan,” katanya.

Di pentas global, menurut Ning, ternyata herbal Indonesia mendapat acungan jempol. Bila selama ini hanya Negara China, Malaysia dan Singapura yang menjadi kiblatnya, perlahan dunia mulai mengarah ke Indonesia. Hal ini dibuktikan kala dirinya menjadi pembicara di depan peserta dari 33 negara dalam sebuah ajang internasional di Kuala Lumpur Malaysia yang mengangkat soal herbal. “Nah, sekaranglah saatnya kita menduniakan herbal Indonesia,” pungkasnya. [QA]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah QUALITY ACTION, Edisi 02/Desember 2011

 

 

 

Tribudi S Widodo: Dibutuhkan Komitmen dan Konsistensi

Implementasi standar sistem manajemen mutu (Quality Management System) ISO 9001 merupakan solusi yang tidak bisa ditawar lagi bagi suatu organisasi baik pemerintah maupun swasta untuk bisa berdaya saing di era global. Standar ini merupakan sarana atau sebagai alat untuk dapat mencapai tujuan mutu dalam menerapkan Total Quality Control. Sehingga efektifitas dan efisiensi pekerjaan dapat tercapai.

Sertifikasi sistem manajemen mutu ISO 9001 –dalam hal ini 9001:2008— bukanlah suatu yang didapat dalam sekejap, namun hasil usaha perbaikan oleh semua pihak yang ada dalam suatu organisasi. Pasalnya sertifikasi itu merupakan bentuk pengakuan dari pihak independen terhadap suatu organisasi yang sudah menerapkan sistem manajemen mutu yang menjadi acuannya. Setidaknya, di Indonesia ini sudah lebih dari 5000 perusahaan yang telah meraih dan mempertahankan ISO 9001 sebagai best practice sistem manajemen mutu.

Menurut Ir Tribudi S Widodo, Business Center Manager Llyod’s Register Indonesia, adanya sertifikasi ini memberikan bukti bahwa standar tersebut benar-benar sudah diterapkan. Tapi satu hal yang harus diperhatikan bahwa sertifikasi bukan menjadi tujuan akhir, sebab banyak organisasi yang mengejar sertifikasi karena diminta oleh mitra kerjanya tanpa disertai upaya untuk melakukan peningkatan atas kinerja sistemnya. “Dibutuhkan komitmen dan konsistensi dalam menerapkan sistem manajemen mutu,” tegasnya.

Nah, menurut Budi, di era globalisasi ini tantangan terbesar bagi suatu negara yang tidak concern terhadap standar mutu, akan dilihat sebelah mata oleh pihak lain. Pasalnya, hampir organisasi baik itu pemerintah atau swasta di negara-negara maju juga di negara-negara berkembang sudah menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001.

Setidaknya, dengan menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001 –yang menjadi frame work bagi ISO lainnya— organisasi akan memperoleh beberapa manfaat. Diantaranya, mampu membuat sistem kerja dalam organisasi menjadi standar kerja yang terdokumentasi. Kemudian bisa meningkatkan semangat kerja personel karena adanya kejelasan kerja sehingga tercapai efisiensi. Disamping itu dipahaminya berbagai kebijakan dan prosedur operasi yang berlaku di seluruh organisasi serta meningkatnya pengawasan terhadap pengelolaan pekerjaan. Dan yang terpenting yakni termonitornya kualitas pelayanan organisasi terhadap mitra kerja maupun konsumen.

Menurut Budi, dalam upaya penerapan sistem manajemen mutu secara efektif, maka dituntut adanya suatu kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengelola seluruh proses kerja yang saling berhubungan dan berinteraksi baik secara intern maupun ekstern. Selain itu, perlunya kemampuan dalam meningkatkan secara terus menerus efektifitas dari proses sistem manajemen mutu, sehingga dapat memberikan hasil yang maksimal sesuai dengan tujuan dan sasaran mutu yang telah ditetapkan. Perlu adanya suatu program berkesinambungan yang perlu didukung oleh semua personel yang terlibat dalam penerapan sistem ini. “Harus ada continue improvement,” tandas assessor senior ini.

Namun masalahnya, hingga detik ini masih saja ada organisasi baik itu pemerintah maupun swasta yang menerapkan sistem manajemen mutu hanya sebatas usaha untuk memuaskan badan sertifikasi serta meraih dan mempertahankan ‘citra’ ISO 9001. Tak heran bila, sebagian besar penerapan quality management system di beberapa perusahaan tampak ‘berjalan ditempat’ dan tidak ada upaya guna mencapai sasaran lanjutan dalam meningkatkan daya saing serta daya jual perusahaan.

Buktinya, dalam pengamatan Budi, dari ribuan sertifikasi ISO 9001 yang diterbitkan oleh lembaga yang berwenang hanya 30 persen saja yang benar-benar menerapkan. Sisanya yang 70 persen hanya karena tuntutan pelanggan, sekedar untuk keperluan marketing tools, atau jaga gengsi karena pesaing bisnisnya telah bersertifikat.

Padahal, dengan diraihnya pengakuan ISO 9001 diharapkan menjadi suatu sasaran awal perusahaan dalam penerapan sistem manajemen mutu. Sedangkan sasaran pokok perusahaan adalah continual business improvement  (peningkatan bisnis berkelanjutan) guna memenuhi target bisnis di masa datang. Sehingga penting tidaknya, pengakuan ISO 9001 dapat dilihat niat awal dari perusahaan dalam meraihnya. Di samping itu konsistensi dari perusahaan tersebut terhadap sertifikat yang diperolehnya. “Terlepas dari apakah, sertifikasi ISO 9001 itu hanya digunakan sebagai marketing tools misalnya, harus tetap konsisten untuk diterapkan,” imbuhnya.

Karena ISO 9001 yang berorientasi pada proses, maka setiap masalah akan bisa terdeteksi di awal dan tidak hanya tindakan perbaikan yang akan dilakukan, namun standar ISO 9001 juga mengatur mengenai tindakan pencegahannya. Dengan demikian, kata Budi, implementasi standar ISO 9001 akan memberikan manfaat yang besar dalam meningkatkan kinerja suatu organisasi dalam upaya mewujudkan pelayanan prima kepada mitra kerjanya. “ISO 9001 sarana untuk mengembangkan fondasi yang kuat bagi suatu organisasi,” terangnya.

Intergritas Badan Sertifikasi

Sebenarnya, menurut lulusan Mapua Institute of Technology ini, lembaga standarisasi di Indonesia itu banyak, baik yang lokal maupun asing. Dalam hal ini, secara pribadi sebagai assessor, ia tidak melihat apakah badan standarisasi itu lokal atau asing. Tapi yang terpenting adalah lembaga itu jangan hanya Cuma melihat sisi bisnisnya, melainkan harus dapat mempertanggungjawabkan sertifikat yang sudah diberikan kepada perusahaan. “Banyak badan sertifikasi yang cuma ngejar setoran saja,” ujarnya.

Disamping itu, ada juga badan sertifikasi yang ‘nakal’ dalam memberikan dan menerapkan sertifikasi pada perusahaan-perusahaan yang membutuhkan pengakuan ISO 9001. Diantaranya yang sering dilakukan adalah price war (perang harga). Tentu saja ini sesuatu yang tidak sehat, tidak pula menguntungkan baik untuk klien maupun bagi lembaga itu sendiri. “Tidaklah mungkin ada auditor yang mau dibayar di bawah satu juta dengan kerjaan yang nilainya sepuluh juta,” tandasnya.

Menurutnya, ada pula badan sertifikasi yang memiliki auditor banyak, lalu bisa mengeluarkan sertifikasi banyak, tapi tarifnya berubah-ubah, customize sesuai keinginan klien. Tidak heran bila auditornya asal-asalan dalam mengaudit. Bahkan ada juga yang hanya copy and paste. Tentu saja ini tidak baik dan yang dirugikan tetap klien. “Saya sebagai assessor yang cukup lama melihat hal ini, hanya bisa geleng kepala,” ujar anggota Masyarakat Standarisasi (Mastan) ini.

Kondisi ini pun diperparah dengan masih adanya anggapan banyak pihak bahwa implementasi standar manajemen mutu hanya menghabiskan dana. Begitu juga dengan sikap badan sertifikasi yang kerap melakukan kesalahan-kesalahan bahan sering ngeles dalam penerapan sertifikasi pada perusahaan. Padahal salah satu klausul yang ada di ISO 9001 misalnya itu adalah adanya continue improvement.  “Jadi percuma saja, kalau sudah mendapatkan ISO tapi tidak ada upanya continue improvement,” tegasnya.

Yang lebih memprihatinkan lagi, untuk kawasan regional saja, pemerintah Negara-negara ASEAN sudah mengharuskan semua produk-produknya distandarisasi, sementara pemerintah Indonesia hanya baru taraf ‘menganjurkan’. Padahal dengan menerapkan sistem manajemen mutu, setidaknya akan meningkatkan mutu hidup yang ujung-ujungnya Indonesia tidak dipandang sebelah mata oleh bangsa lain.

Belum lagi perkembangan dari ISO 9001 –yang menjadi dasar ISO lainnya— yang sudah mengalami beberapa kali perubahan sejak diterapkan tahun 1974. Bahkan sebentar lagi akan diluncurkan ISO 9001 versi terbaru pada 2012 nanti. “Bagaimana Indonesia tidak tertinggal dari negara tetangga yang terus berpacu untuk meningkatkan mutunya,” tandasnya. 

Sejarah Panjang Lloyd’s Register

Kehadiran Lloyd’s Register sebagai lembaga standarisasi di Indonesia tak lepas dari sejarah panjang perjalanan dari Lloyd’s Register sejak didirikan di Inggris 251 tahun lalu hingga kini. Lloyd’s Register sendiri didirikan berdasarkan kebutuhan mendesak para awak kapal, pemilik kapal dan pialang asuransi saat itu.

Nama Lloyd’s sendiri diambil dari nama pemilik warung kopi –tempat para kapten kapal, pialang asuransi, society, dan pemilik kapal— yang bernama Edward Lloyd. Di warung kopi kalangan atas ini terjadi perbincangan serius tentang kebingungan para broker asuransi dalam menentukan premi bagi kapal, karena fluktuasi. Akhirnya karena merasa ada kepentingan bersama antara kapten kapal, pemilik kapal dan pialang asuransi, maka muncullah ship register. Tiga tahun kemudian, terbitlah buku yang memuat aturan main standarisasi hingga kini. Llyod’s Register sendiri terdiri dari divisi marine, transportasi, energi dan sistem manajemen.

Di Indonesia Lloyd’s Register Indonesia (LRI) hadir tiga divisi dari empat divisi yang ada, diantaranya marine, energi dan sistem manajemen. Awal mula di Indonesia itu divisi marine yang beroperasi sejak jaman penjajahan Belanda. Dimana kala itu, Lloyd’s Register belum memiliki perwakilan di Indonesia. Namun kapal-kapal Belanda setelah berlayar ke perairan Indonesia dan tengah melakukan docking, biasanya orang-orang Lloyd’s Register yang datang. Kemudian baru pada tahun 1970 resmi ada entitas sampai dengan sekarang. Tahun 1994 LRI membuka divisi sistem manajemen/LRQA (Lloyd’s Register Quality Assurance). Kemudian di tahun 1999, Lloyd’s pun membuka divisi energi.

Menurut Tribudi S Widodo, Business Center Manager Lloyd’s Register Indonesia, sejak kehadirannya di Indonesia, Lloyd’s mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Selain di Jakarta, LRI juga membuka perwakilan di Surabaya dan Batam. Umumnya, klien LRI adalah perusahaan galangan kapal. Dimana perusahaannya untuk sertifikasi ISO 9001/ISO 14000 ditangani oleh divisi LRQA, sementara sertifikasi kapalnya oleh divisi marine.

Hingga saat ini, klien LRI tercatat sebanyak 1000 perusahaan. Sementara market share hanya 5 persen. Meski demikian, bukan berarti tidak menguasai pasar. Menurut Budi, market share LRI bukan nomor satu atau nomor dua, karena LRI adalah perusahaan badan sertifikasi yang menganut cut and clean. “Di luar itu kita tolak, bukannya tidak butuh bisnis, tapi kalau banyak permintaan yang melenceng dari aturan, kita tidak mau,” tegas orang yang diamanahi untuk menahkodai Lloyd’s Register Indonesia sejak 2010 lalu.

Uniknya lagi, Lloyd’s Register tidak dimiliki oleh perseorangan, tapi punya society atau komite. Termasuk LRI itu 100 persen dimiliki Lloyd Register Group. Karena berada di Indonesia, maka harus compliance (kesesuaian) dengan Indonesia. Sehingga semua kelebihan dan keuntungan yang diperoleh Llyod’s akan dikembalikan lagi untuk kepentingan masyarakat umum. Di tahun 2010 saja, Llyod’s memberikan dana 10 juta Poundsterling untuk keperluan pendidikan di seluruh dunia. [QA]

Catatan: Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah QUALITY ACTION, Edisi 02/Desember 2011