Lebih Dekat Dengan Nuroji : Memperjuangkan Kelompok Tradisional

Sejak tercatat sebagai wakil rakyat, ia masih tetap seperti yang dulu. Sederhana, bersahaja dan acap bicara apa adanya. Selain tetap memilih tinggal di kampung halamannya dibanding tinggal di rumah dinas, ia rela membelah kemacetan jalanan ibukota dari Depok ke Senayan. “Dari sana saya bisa lebih dekat dan merasakan apa yang dirasakan masyarakat,” kata Ir Nuroji, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) ini.

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 6 NO. URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 6 NO. URUT 1

Di tengah kesibukannya menjalankan tugas sebagai anggota Komisi X, Nuroji juga menyempatkan diri untuk blusukan keluar masuk perkampungan. Maklum, namanya kembali tercatat sebagai calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Gerindra nomor urut wahid untuk daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat 6. Usai menyelesaikan tugas di Senayan, biasanya Nuroji langsung meluncur ke dapil. Terlebih di akhir pekan, hampir sepanjang hari dihabiskan untuk sosialisasi di dapil yang meliputi Kota Depok dan Kota Bekasi.

“Bukan karena saya maju lagi, kemudian rajin turun ke dapil. Aktivitas semacam ini sudah saya lakukan dari dulu. Bukannya saya sombong, tapi hal itu bisa ditanyakan pada masyarakat, siapa yang kerap turun menyerap dan memperjuangkan aspirasi mereka,” ujar pria kelahiran Depok, 9 September 1962 ini.

Kembalinya Nuroji ke ajang perebutan kursi wakil rakyat di dapil Jawa Barat 6 yang hanya menyediakan enam kursi ini bukan tanpa sebab. Memang, awalnya Nuroji menyudahi tugasnya sebagai wakil rakyat. Namun tidak hanya masyarakat yang menjadi konsituennya, partai pun memintanya kembali untuk maju. Bukan itu saja, berdasar survei yang digelarnya, membuktikan bahwa ia masih layak dipilih kembali sebagai wakil rakyat dari dapil Jawa Barat 6. “Hasil survei itu setidaknya membuktikan bahwa tingkat keterpilihan saya masih tinggi,” beber lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang kerap menyuarakan persoalan pendidikan dan budaya ini.

Aktivitas politik Nuroji sendiri sudah berlangsung sejak era orde baru. Kala itu ia bergabung di Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Namun ia memilih mundur dari panggung politik kala kisruh melanda partai itu di tahun 1997. Nuroji lebih memilih kembali bergelut di dunia wartawan. Selang tiga tahun, disamping menjalani profesinya sebagai jurnalis, Nuroji mencoba peruntungan di dunia bisnis dengan membuka beberapa usaha. Sayang,  setelah berjalan lima tahun, dunia usaha itu harus ditinggalkannya. Lagi-lagi ia pun memilih kembali terjun di dunia pers dengan bergabung di Harian Jurnal Nasional pada tahun 2006.

Setahun kemudian, ia diminta untuk menangani Harian Warta Kota. Namun di tahun yang sama, Nuroji juga diajak koleganya, Fadli Zon untuk membidani majalah Tani Merdeka yang diterbitkan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Dari sanalah, Nuroji kerap diminta untuk membantu Komandan Jenderal Koppassus, Prabowo Subianto yang akan mendirikan partai baru. Nasib membawanya kembali ke panggung politik yang sudah ia tinggalkan sepuluh tahun sebelumnya.

“Niat awalnya hanya sekedar membantu, tapi karena ada kesamaan dalam perjuangan yang digariskan saya pun kembali melakoni politik praktis,” ujarnya mengenang.

Akhirnya Nuroji yang dinilai piawai dalam menggalang massa diminta untuk maju sebagai caleg dari Partai Gerindra pada Pemilu 2009 lalu. Meski harus menghadapi lawan politik yang lebih popular Nuroji mampu meraih 25.540 suara. Dengan perolehan suara sebanyak itu, ia melenggang ke Senayan. Nuroji yang awalnya ditugasi di Komisi VI itu kemudian diplot ke Komisi X hingga sekarang.

Seperti apa langkah-langkah dan perjuangannya menjalani tugas sebagai dewan yang sekaligus kembali maju sebagai caleg di dapil yang sama? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, putra asli betawi yang ditemui di ruang kerjanya ini memaparkan. Berikut wawancaranya:

Apa melatarbelakangi Anda maju kembali sebagai caleg?

Tadinya saya sebagai orang yang sudah duduk dan merasakan jadi anggota dewan di Senayan, jujur tidak mau maju lagi. Namun ketika saya berencana seperti itu, kader Partai Gerindra yang selama ini ada di belakang saya kembali mendesak saya untuk maju. Mereka bilang kalau saya tidak maju bagaimana dengan kader yang lagi pada semangat-semangatnya berjuang di bawah bendera Gerindra.

Akhirnya diam-diam saya mengadakan survei soal tingkat elektabilitas saya di dapil dengan menyandingkan beberapa orang baik internal maupun eksternal yang saya perkiraan akan maju sebagai caleg. Setidaknya dengan survei itu akan memberi gambaran seberapa besar tingkat elektabilitas saya di mata masyarakat Kota Bekasi dan Depok. Dari hasil survei itu, ternyata nama saya masih tertinggi, sehingga tidak memalukan kalau maju lagi.

Dan memang, beberapa nama yang saya prediksi itu empat orang caleg diantaranya kini masuk sebagai caleg selain saya ada Derri Derajat, Alwiyah Maulidiyah, dan Habiburahman meski dia diplot di dapil lain. Sebenarnya saya malas untuk nyaleg lagi, karena biayanya besar. Tapi karena DPP Partai Gerindra melalui Sekjen memerintahkan saya untuk maju lagi, ditambah lagi hasil survei itu, akhirnya saya maju lagi.

Bagaimana Anda membagi waktu kerja sebagai dewan dan caleg?

Karena saya Ketua Poksi mau tidak mau saya harus hadir terus sebagai wakil dari fraksi. Senin hingga Kamis saya fokus kerja sebagai anggota dewan di kantor, sorenya saya turun ke dapil. Pada Jumat–Minggu biasanya saya fokus turun ke dapil. Secara teori tidak akan cukup waktu mengingat tinggal enam bulan lagi.

Program apa yang Anda tawarkan?

Saya lebih suka melakukan aksi sosial yang sifatnya massif dan berkelanjutan. Salah satunya yang selama ini saya lakukan adalah pemberian beasiswa kepada siswa dari keluarga kurang mampu yang ada di Kota Depok dan Kota Bekasi. Memang, program ini merupakan bentuk perjuangan saya sebagai anggota Komisi X DPR-RI dalam memperjuangkan masyarakat yang menjadi konstituen. Saya menyalurkan beasiswa untuk sebanyak 20 ribu siswa.

Tentu saja, program ini memiliki mutiple effect yang lumayan. Dari 20 ribu siswa itu kalau kita kalikan 2 (orangtua) maka akan menghasilkan 40 ribu suara. Kalau kita ambil 70 persen saja sudah berapa suara yang kita raih. Beasiswa itu kita salurkan kepada masyarakat umum dan tidak mampu. Dan itu sangat efektif dalam meraih simpati masyarakat, karena kita sudah berjuang demi mereka. Terus terang, masyarakat khususnya Depok dan Bekasi pun pasti menyebut nama saya ketika bicara soal beasiswa.

Kendala apa yang selama ini Anda hadapi?

Selain menghadapi masyarakat yang pragmatis dan apatis juga persaingan yang sengit dalam memperebutkan tiket ke Senayan yang hanya 6 kursi. Bukan saja antar partai, tapi sesama caleg satu partai pun kadang saling sikut, saling jegal, saling kanibal. Jadi kadang kita yang satu partai pun saling kanibal. Padahal saya berkali-kali mengatakan kepada sesama caleg, baik tingkat pusat, daerah, kabupaten/kota untuk saling membagi wilayah sesuai segmentasinya. Misalnya, untuk kawasan perumahan elit saya tidak bakal masuk, saya lebih memilih kelompok tradisional, pasar, tukang sayur, tukang ayam. Meski begitu tidak semua yang masuk segmen itu saya garap. Caleg perempuan mungkin bisa garap kaum ibu-ibu.

Jadi kalau dapil Jabar 6 ini ditargetkan untuk bisa merebut dua kursi, maka sesama caleg Gerindra jangan sampai kanibal seperti yang terjadi selama ini. Bisa-bisa bukannya meraih dua kursi, yang terjadi malah suara Gerindra terbelah-belah dan ini akan merugikan kita semua. Kendala lain adanya aturan KPU yang melarang pemasangan baliho dan lebih mengutamakan tatap muka, padahal tatap muka itu mahal, banyak modal, karena kadang yang dihadapi itu lebih banyak pemilih pragmatis.

Seperti apa karakter pemilih dapil Jabar 6?

Kota Bekasi dan Depok itu lebih banyak kaum urban. Kalau kita datang ke suatu tempat, selalu ditanya bawa apaan. Kalau kita tidak membawa apa-apa, mereka bilang caleg apaan. Beberapa tempat yang saya datangi warganya seperti itu. Padahal saya paling malas datang ke komunitas yang seperti itu. Ongkos untuk setiap kegiatan yang mereka adakan itu tidak kecil dimana semua itu dilimpahkan kepada caleg.

Belum lagi ketika kita datang mereka selalu menyodorkan proposal, mereka bilangnya aspirasi tapi ujung-ujungnya uang. Kalau tidak kita penuhi, mereka nanti mengundang caleg lain. Bahkan meski sudah kita kasih, ada beberapa diantara mereka yang kembali mengundang caleg lain baik yang satu partai maupun partai lain. Nah ini yang saya bilang mahal, dimana KPU menganjurkan para caleg untuk mengadakan sosialisasi tatap muka dibanding dengan menyebar baliho.

Ini yang Anda sebut pemilih pragmatis?

Ya, pemilih semacam ini yang termasuk pragmatis. Biasanya ada di daerah-daerah yang banyak kontrakan. Biasanya setiap ada caleg yang datang, mereka mau kumpul, begitu pula besoknya kalau ada caleg lain mereka juga mau kumpul lagi. Model seperti ini yang kadang membuat caleg tekor. Dan biasanya hal itu tidak hanay terjadi pada caleg-caleg yang belum paham kondisi lapangan dan berpengalaman, caleg incumbent pun sering dimanfaatkan. Termasuk saya sendiri pernah mengalaminya, mereka hanya menginginkan uangnya. Meski kadang akhirnya saya kasih juga apa yang mereka inginkan.

Bagi masyarakat pragmatis seperti ini, prinsipnya tadi, kalau caleg satu bisa ngasih kenapa caleg lain tidak berani kasih. Bahkan saya sempat kesal karena mereka tidak mau menghargai bantuan yang kita berikan. Banyak anggapan seakan-akan kita memanfaatkan masyarakat, padahal merekalah yang memanfaatkan caleg. Menghadapi hal ini alangkah baiknya para caleg mengadakan survei terlebih dulu sebelum turun ke masyarakat yang bakal didatanginya. Pasalnya karakter masyarakat selain pragmatis juga belum tentu mereka memilih. Karena bisa jadi mereka bukan penduduk ber-KTP Depok atau Bekasi.

Bagaimana Anda mengantisipasinya?

Pengalaman demi pengalaman tentunya memberi pelajaran bagi saya sendiri. Bukannya trauma atau kapok, tapi biasanya saya lebih membatasi diri, selektif terhadap undangan masyarakat yang kita nilai pasti di belakang ada maunya. Atau kalaupun mereka hanya meminta sumbangan seperti pertandingan bola, saya dengan tegas tidak ikut dalam kegiatan tersebut. Disamping tidak efektif, biaya tinggi, tidak semua orang yang hadir dalam pertandingan itu akan simpati kepada politik. Memang resikonya bisa jadi kita tidak dikenal di komunitas itu. Nah, saya biasanya menggunakan cara konvensional seperti dengan menyebarkan stiker, mendekati kalangan media dan penguatan jaringan.

Saya lebih senang ngobrol kumpul bareng komunitas-komunitas, seperti komunitas seniman, budayawan atau pensiunan. Setidaknya untuk sosialisasi bertatap muka dengan masyarakat, tokoh dan komunitas-komunitas yang ada di dapil Jabar 6, saya rasa sudah lebih dari 120 titik yang saya datangi. Apalagi pemilu 2014 ini selain diikuti hanya 12 partai, persaingan antar caleg dalam satu partai maupun luar partai begitu kuat. Kalau kita saling tubruk, gesekan, atau saling dendam malah itu tidak mengumpulkan suara.

Menurut Anda, siapa saja saingan terberat di dapil 6?

Di samping lawan dari partai lain, dari internal partai yang sekarang maju juga bagus-bagus dan tidak saya anggap enteng. Makanya saya harus lebih ekstra kerja keras dan terus blusukan. Jujur saja berat untuk bisa memperebutkan dua dari enam kursi yang tersedia. Gerindra harus menghadapi partai-partai besar seperti PDIP, Golkar, PKS, dan Demokrat yang selama ini sudah memiliki kursi di Senayan. Jadi, jika masing-masing bisa bertahan dengan satu kursi, maka setidaknya hanya ada satu kursi yang diperebutkan oleh mereka termasuk kita.

Memang seru, meski kadang merasa capek juga. Karena bukan saja menghadapi partai lawan, dari partai sendiri pun bagus-bagus. Berbeda dengan dulu, dimana masyarakat menilai Gerindra sebagai partai baru menjadi alternatif untuk dipilih. Sekarang, selain pamor Gerindra lagi naik, partainya sedikit, calegnya pun berkualitas. Dulu saya bekerja sendiri dan tidak ada tandem sekarang saya tandem dengan beberapa caleg provinsi dan kota sekitar 10-15 orang caleg.

Menghadapi kondisi seperti itu, apa yang Anda lakukan?

Saya memiliki beberapa lapisan strategi, jadi ketika lapisan ini tidak jalan, saya gunakan lapisan yang lain. Tim struktural tidak dapat saya pakai tim lain, ketika tim yang satu tidak jalan maka gunakan tim lain. Kalaupun tim yang ada tidak jalan kita pakai tim komunitas, seperti di Depok ada komunitas Betawi Ngumpul. Lalu di Bekasi ada tim paranormal yang merapat ke saya. Bukan karena saya yang minta tapi mereka yang minta bergabung.

Pesan dan harapan Anda kepada caleg yang terjun di dapil Jabar 6?

Untuk caleg internal, karena kita diberi tugas untuk mencapai target dua kursi, maka harus dicapai dengan tepat dan cerdas. Kita harus bagi tugas, tidak kaku, kita harus fokus ke komunitas sendiri-sendiri. Seperti saya misalnya yang fokus di pasar tradisional tapi tidak semua pedagangnya saya garap. Nah, kalau itu dilakukan secara kordinasi saya rasa Gerindra bisa bisa meraih dua kursi dari dapil Jabar 6. Pemilu 2014 menjadi sulit dan berat karena masing-masing partai yang berlaga setidaknya ada lima partai yang sudah punya modal kursi di parlemen. Sementara yang diperebutkan hanya enam kursi oleh lima partai besar. Apalagi Jawa Barat oleh DPP ditugasi untuk bisa meraih 27 kursi.[G]

Advertisements

Lebih Dekat Dengan Edy Budiyarso : Perjuangan Amanat Rakyat

Wajah dan namanya, sudah tak asing lagi bagi para pedagang warteg di Jakarta. Maklum sebagai orang Tegal, Edy Budiyarso getol memperjuangkan nasib warung tegal yang tersebar di beberapa sudut ibu kota. Ia menolak tegas penerapan wajib pajak 10 persen bagi Warteg (Warung Tegal) oleh Pemda DKI Jakarta beberapa waktu lalu. Gerakan perlawanan yang dilakukannya itu memang bukan hal yang luar biasa, tapi sangat berarti bagai para pemilik warteg.

CALEG DPR-RI DAPIL JAWA TENGAH 9 NO URUT 5

CALEG DPR-RI DAPIL JAWA TENGAH 9 NO URUT 5

Putra asli Tegal ini mengaku merasa terpanggil memperjuangkan nasib para pemilik warteg, bukan karena ia putra asli daerah Tegal tapi karena panggilan jiwa. “Saya tak tega melihat nasib penjaja makanan murah yang makin terpinggirkan dengan aturan-aturan dari Pemda DKI,” kata mantan wartawan Majalah Tempo ini. Baginya, perjuangan yang sesungguhnya adalah memperjuangkan nasib masyarakat kecil. “Ikut berjuangan bersama mereka jauh lebih penting dari pada banyak bicara. Apalagi, sebagai rakyat kecil mereka acapkali merasa berjuang sendiri meski punya wakil-wakil di Senayan,” kata Edy.

Pria kelahiran Tegal ini menegaskan, masyarakat Tegal yang berada di perantauan dan di kampung halamannya,  menginginkan ikhtiar perjuangan seperti itu tak berhenti di sini, tapi dilanjutkan agar lebih maksimal.

“Mereka pun meminta saya untuk maju sebagai calon wakil rakyat mereka di Senayan,” ungkap Edy ihwal keinginannnya maju sebagai wakil rakyat.

Bahkan sebagai ungkapan rasa terimakasih para pemilik warteg atas keberhasilan perjuangannya, mereka mendukung sepenuhnya langkah Edy memilih partai Gerindra. “Mereka kecewa dan bosan pada politisi yang hanya pamer muka menjelang pemilu, tapi setelah terpilih menghilang entah kemana,” ungkap penulis buku Warteg Galau: Perjuangan Rakyat Kecil Menolak Pajak Warteg ini.

Wakil Sekretaris Ikatan Keluarga Besar Tegal (IKBT) ini pun mengakui, ia butuh waktu beberapa bulan untuk memutuskan menerima pinangan partai Gerindra. Maklum, ia ingin tahu betul visi dan misi suatu partai sebelum bergabung. Ia tak mau terjun ke politik hanya karena ikut-ikutan, tapi memang sudah panggilan jiwa. “Setelah merasa mantap dengan pilihan hati, memperlajari dan menimbang segala sesuatunya, saya merasa Gerindra yang paling tepat,” papar Sekretaris Jenderal FederasiOrgansasi Pedagang Pasar Indonesia (FOPPI) ini.

Suami dari dr Suprohaita, Sp.A ini mengakuiapa yang diperjuangkanbersama rekan-rekannyaselama ini di IKBT maupun di FOPPI, selaras dengan platform dan manivesto perjuangan Partai Gerindra. ApalagiKetua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto adalah sosok yang sudah teramat dikenalnya jauh-jauh hari sebelum partai ini lahir.

“Sudah beberakali  saya mewawancarai beliau untuk Majalah Tempo. Kebetulan, saya juga menjadi salah satu tim penulis buku tentang Pak Prabowo. Sayang buku itu belum bisa diterbitkan untuk public karena satu dan lain hal,” ucap Edy yang sudah menulis beberapa buku.

Lahir dan dibesarkan di lingkungan pendidik dan pedagang pasar, membuatnya lebih nyaman berada di pasar tradisional ketimbang pasar modern. Karena itu, lewat FOPPI, ayah tiga anak ini kerap memberikan advokasi bagi para pedagang pasar dalam menghadapi beragam masalah. Usai lulus dari bangku SMA, Edy melanjutkan ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Sembari kuliah, di tengah kesibukannya mengelola Lembaga Pers Mahasiswa,ia pun tak canggung menjadi pelayan di sebuah warteg. Sebab dengan begitu,  ia bisa merasakan dan betul, persoalan apa yang dihadapi para pedagang pasar dan pemilik warteg.

Di sela-sela kesibukannya sebagai Produser Eksekutif SINDOTV, Edy yang tengah menempuh magister hukum di Universitas Trisakti Jakarta ini memaparkan pandangan politiknya. Dan, apa yang melatarbelakangi ia maju sebagai caleg DPR-RI dari dapil Jawa Tengah 9 nomor urut 5, kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda. Berikut petikannya:

Bisa diceritakan aktivitas keseharian Anda?

Saya profesional di media. Saat ini saya produser eksekutif di SINDOTV di bawah bendera MNCGrup.Di luar aktifitas itu saya menjabat Sekretaris Jenderal Federasi Organisasi Pedagangan Pasar Indonesia (FOPPI), bersama KH Gus Solah sebagai Dewan Syuro. Kamikerap mengadvokasi persoalan-persoalan yang dihadapi para pedagang pasar tradisional yang tersebar di negeri ini. Saya juga aktif di Ikatan Keluarga Besar Tegal (IKBT) Bahari Ayu.

Apa saja yang telah Anda lakukan?

Lewat organisasi itulah, saya bersama teman-temanmengadvokasi dan memenangkan gugatan pedagang Blok B Tanah Abang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, setelah berjuang selama setahun.Tahun 2010 lalu, saya juga diminta pedagang warteg di Jakarta yang resah dengan rencana penerapan pajak 10 persen bagi warteg. Setelah berjuang bersama segenap elemen masyarakat asal Tegal yang tergabung dalam IKBT, termasuk Bambang Koesoemanto, putra asli Tegal, akhirnya kami berhasil. Kebetulan Bambang adalahdoktor ekonomi dan master perpajakan dari Universitas Illinois, Amerika Serikat,yang bekerja di lingkungan Kementerian Keuangan dengan membentuk tim advokasi bernama Tim Sosialisasi Jaring Pengaman Sosial-IKBT.Peraturan tersebut tidak hanya ditunda, tapi kini dibatalkan oleh Gubernur Jokowi.

Kami pun pernah membantu membebaskan 12 kapal nelayan asal Tegal yang ditahan oleh Polairud Sampit, Kalimantan Barat.Dengan jaringan yang saya miliki baik di lingkungan Kepolisian dan media, kami lebih mudahmelakukan pendekatan soal masalah yang dihadapi para nelayan itu.Berkat bantuan para petinggi yang ada di Polri, akhirnya saya dan temen-teman nelayan yang tadinya mau berdemo tidak jadi, tapi menjemput para nelayan itu di Muara Karang.

Lalu, bisa Anda ceritakan kapan bergabung ke Partai Gerindra?

Sewaktu mencuatnya kasus perseteruan antar warga pribumi Lampung dan Bali, kami mengundang Ahmad Muzani politisi yang mewakili dapil Lampung yang tak lain Sekretaris Jenderal Partai Gerindra sebagai narasumber di acara talkshow.Usai menjadi narasumber, saya berbicara empat mata dengan beliau tentang banyak hal.Salah satunya adalah upaya perlawanan saya soal pajak warteg.Waktu itu, beliau langsung mengajak “kamu bergabung saja di Gerindra biar lebih maksimal perjuangannya.”

Saat itu, saya biasa-biasa saja. Tapi setelah saya mengkaji dan berdiskusi panjang lebar termasuk dengan warga Tegal yang tergabung dalam IKBT, mereka malah medesak saya untuk mengambil kesempatan itu.Lagi-lagi saya butuh waktu dua bulan untuk memutuskan bergabung dengan Gerindra.Hingga pada waktu perekrutan caleg, saya pun mendaftarkan diri di Gerindra.Semua proses saya lalui dan akhirnya saya yang asli putra Tegal dinyatakan lolos sebagai caleg Partai Gerindra nomor urut 5, untuk dapil Jawa Tengah 9.

Kenapa Anda memilih bergabung dengan partai Gerindra?

Kita melihat dalam situasi dan kondisi negara ini ada yang aneh. Sistem presidensial hasil koalisi, tapi kok dikritisi habis-habisan oleh partai koalisinya sendiri. Kepemimpinan nasional jadi tidak efektif dan tampak keteteran.Sadar atau tidak, rakyat yang jadi korbannya. Belum lagi ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di depan mata. Ketiadaan keberpihakan penguasa kepada rakyatnya.Jadi jangan heran kalau banyak kalangan menilai,seakan-akan rakyat ini menjadi yatim piatu di negerinya sendiri.Sudah tidak punya orangtua, teman sebagai tempat mengadu pun tidak ada.Iniah yang dirasakan rakyat kecil, kaum pinggiran yang kadang menjadi komoditas politik belaka.

Gaya kepemimpinan, keberpihakan kepada petani, nelayan dan rakyat kecil lainnya serta semangat anti korupsi yang terus dikobarkan Pak Prabowo menjadi magnet buat saya untuk bergabung. Belum lagi konsep ekonomi kerakyatan dan integritasnya terhadap bangsa dan negara ini, begitu tinggi.Semua itu saya ketahui dan pelajari jauh sebelum saya bergabung di Gerindra.Beberapa kali saya berkesempatan mewawancarai beliau ketika masih di Tempo termasuk waktu menjadi tim penulis buku beliau.

Sejak kapan Anda bersentuhan dengan dunia politik?

Saya memang masih hijau di politik praktis, meskisudah lama sebagai wartawan politik di Tempo. Dari sana pula saya banyak belajar tentang politik. Bagaimana menjalankan sebuah kebijakan politik dan segala intrik-intriknya.Namun, saya sebagai wartawan investigasi jugamemberitakan banyak skandal-skandalyang ada di negeri ini. Kalau dilihat dari hasilnya,tentu tidak jauh beda dengan apa yang dikerjakan DPR, karena sebagai wartawan saya juga bisa melakukan kontrol sosial. Jadiwartawan itu ibarat politisi tanpa parpol.

Soal politik praktis saya banyak mempelajarinya dari para politisi, parpol maupun pengamat politik. Bahkan saya jadi wartawan politik pada saat kondisi perpolitikan nasional sedang genting-gentingnya. Karena kerap bergaul, bersentuhan dengan para politisi, tak jarang tawaran berdatangan dari para politisi untuk bergabung di partainya.Tapi kebanyakan dari mereka hanya sekadar menawarkan saja, tidak serius, jadi saya pun menanggapinya dengan santai.

Apa motivasi Anda maju sebagai caleg?

Yang jelas, ingin melihat Indonesia lebih maju, lebih baik dan sejahtera.Semua itu bisa terwujud karena kita memiliki potensi untuk maju dan berkembang.Tapi rupanya impian kita selalu diabaikan oleh pemimpin. Contoh kecil, dulu rakyat kecil begitu susah mendapat pelayanan kesehatan, sekarang dengan adanya Kartu Jakarta Sehat  (KJS) semua bisa menikmati layanan itu. Seperti yang dialami seorang balita yang divonis mengalami gagal jantung sejak berusia 1 tahun, tapi baru bisa di operasi di RSCM setelah menunggu 5 tahun saat diberlakukannya KJS. Padahal rumahnya hanya selemparan batu dari RSCM. Hal-hal seperti ini kan membiuat kita sangat miris.

Meski sejak dulu istri saya itu antipati pada politik, tapi ketika saya memutuskan terjun di politik praktis, dia malah mendukung. Sejauh apa yang saya lakukan untuk masyarakat, dia selalu mendukung. Saya maju bukan untuk diri sendiri, tapi buat masyarakat. Kalau untuk diri sendiri, saya rasa sudah cukup, ngapain ke Senayan. Tapi karena ini ada permintaan warga Tegal, kampung halaman sendiri, jadi saya ikhlas. Paling tidak mereka menilai selama ini saya sudah melakukan hal-hal yang kecil, tapi berniali besar untuk menuju perubahan.

Para sesepuh Tegal juga mendesak saya untuk maju,karena selama ini wakil rakyatnya banyak dari daerah lain.Tak heran bila ada budayawan Tegal yang bilang wakil rakyat yang ada selama ini hanya pamer rai, hanya pada saat Pemilu saja, tapi setelah itu mereka jangankan turun melihat saja tidak.Akhirnya pada saat seleksi bacaleg, saya pun meminta di dapil Jateng 9. Saya kan maju atas tapi permintaan warga dan kebetulan  memiliki jaringan di akar rumput di dapil tersebut.

Target Anda?

Menang. Tentu saja agar  bisa mewakili tanah kelahiran demi sebuah perubahan sebagaimana yang dicanangkan Partai Gerindra. Saya lebih fokus menggarap Kabupaten/Kota Tegal saja, karena di Brebes sudah banyak tokoh-tokoh lain yang maju. Setidaknya untuk bisa meraih kursi itu minimal harus meraup suara 75ribu. Mudah-mudahan saya bisa maju. Memang, targetdi dapil Jateng 9 hanya satu kursi, tapi saya melihat Gerindra memiliki potensi untuk mendapat dua kursi.

Bagaimana tanggapan masyarakat yang ada di dapil Anda?

Alhamdulillah, kesadaran mereka untuk memilih wakil rakyat dari kampung sendiri sudah terbangun. Karena mereka mengenal saya, lebih mudah mencari tahu apa-apayang saya lakukan nanti. Mereka bisa menyampaikan apa yang menjadi keinginan mereka kepada orangtua saya, para kyai, guru dan tokoh masyarakat. Yang terjadi selama ini, mereka tidak tahu untuk mengontrol wakilnya kemana? Kalau nanti saya terpilih, mereka tinggal mendatangi rumah saya.

Menurut Anda, politik itu apa?

Politik itu jalan yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kondisi agar menjadi lebih baik.Sejauh ini Partai Gerindra adalah partai politik yang lahir dan berjuang bersama dengan ideologi yang selama ini saya lakukan dan yakini.

Apa harapan Anda?

Mudah-mudahan kami yang sedang berikhtiar ini bisa melaluinya dan menjalankan amanah rakyat. Amanah ini akan saya perjuangkan, meski selama ini saya sudah melakukan apa-apa yang mestinya dilakukan oleh wakil rakyat. Kalau seorang wartawan saja bisa melakukan pendekatan, advokasi,masa sebagai anggota DPR tidak bisa. Malah seharusnya bisa lebih dari apa yang saya lakukan selama ini.

Apa yang akan Anda lakukan jika terpilih nanti?

Bagi saya amanat rakyat inilah yang  harus saya perjuangkan. Selama ini dari delapan kursi yang tersedia, hasil pemilu kemarin hanya dua orang asli putra daerah, tapi tak terdengar apa saja yang telah dilakukan. Bahkan entah kemana, turun ke dapil pun tidak.Tak heran bila masyarakat merasa selalu berjuang sendiri meski punya wakil di Senayan.Kami sadar bahwa saat ini eranya otonomi daerah, yang berujung pada persaingan antar daerah menjadi keniscayaan. Jadi, bagaimana daerah itu bisa bersaing kalau tidak ada wakilnya di Senayan.Tahun 2014 nanti, saya yakin dan percaya, Gerindra pasti menang.[g]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Edy Budiyarso maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 5 dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah 9.

Lebih Dekat Dengan Martin Hutabarat : Konsisten Memberantas Korupsi

Di mata publik sosok Martin Hutabarat sudah tak asing lagi. Komentarnya kerap mengisi media massa pada setiap pemberitaan seputar masalah isu-isupolitik nasional. Terlebih yang terkait dengan berbagai soal garis perjuangan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), ia seringkali tampil terdepan. Hingga detik ini pun ia tetap bersuara lantang. Dan dengan pengalaman politiknya, ia pun makin disegani kawan maupun lawan politiknya.

CALEG DPR-RI DAPIL SUMUT 3 NO. URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL SUMUT 3 NO. URUT 1

Dengan gaya bicara dan pembawaannya yang tenang, Martin kerap menyampaikan kritikan pedas terhadap berbagai kejadian yang menimpa negeri ini. Tak heran bila sosok politisi kawakan ini kerap dijadikan nara sumber oleh media massa. ”Saat ini DPR sebagai lembaga, mengalami banyak perubahan. Setiap anggota bebas bicara karena memang tugasnya untuk mewakili rakyat. Meski kadang kala ada saja yang kebablasan keluar dari jalurnya,” tandas politisi gaek kelahiran Pematang Siantar, 26 November 1951 ini.

Sebagai wakil rakyat, sejak dulu sikap politik Martin tak pernah berubah. Bahkan belum hilang dibenaknya, ketika ia diperingatkan oleh partai karena dianggap terlalu vokal. Kini, kesulitan bebas berbicara sudah tak lagi dialaminya. Pasalnya, dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat, seorang wakil rakyat tidak boleh gentar selagi masih dalam koridor yang berlaku. Apalagi setelah dirinya menjadi bagian dari perjuangan Partai Gerindra.

”Semua itu saya niatkan untuk membela dan memperjuangkan rakyat kecil,” ujarnya.

Dunia politik ditekuninya sejakkuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Keterlibatannya di berbagai aktivitas di dalam maupun di luar kampus, membawanya ke politik praktis. Tahun 1987, Martin tercatat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI periode 1987-1992 dari Golongan Karya. Pada 2008, pria yang pernah duduk sebagai staf BP7 Pusat ini diminta ikut membidani kelahiran Partai Gerindra. Sejak saat itu, Martin memantapkan diri menjadi bagian barisan pejuang politik yang mengusung ekonomi kerakyatan di bawah bendera Partai Gerindra.

Kepiawaianya sebagai politisi ulung terbukti pada Pemilu 2009, ia berhasil melenggang kembali ke Senayan dengan raihan suara sebanyak 16.122 suara dari Daerah Pemilihan (dapil) Sumatera Utara 3. Kini, di tengah kesibukannya menuntaskan tugas sebagai wakil rakyat, Martin kembali dipercaya untuk bertarung di dapil yang sama. Kembalinya politisi kawasan ke dapil yang sama bukan tanpa sebab. Selain untuk menjaga aspirasi dan suara konstituen yang dibangun, Martin dinilai mampu  mendongkrak dan memaksimalkan perolehan suara bagi Gerindra.

”Gerindra memiliki cita-cita membangun kedaulatan ekonomi nasional yang mandiri, pemberantasan korupsi, penegakan hukum, tapi hingga saat ini belum terpenuhi. Untuk itu kita berharap Gerindra bisa lebih besar dan kuat sehingga bisa mewujudkan cita-cita itu. Di samping misi kita untuk bisa meraih minimal 20 persen suara nasional agar bisa mengusung presiden tanpa harus berkoalisi. Karena itulah saya bertekad maju kembali sebagai caleg di dapil yang sama,” tegasnya.

Kesehariannya sebagai anggota DPR, iadipercaya untuk duduk di Komisi III. Juga  menjabat Ketua Fraksi Gerindra MPR-RI dan anggota Badan Legislasi DPR-RI. Walau duduk di Komisi III yang meliputi bidang hukum, tak lantas membuatnya hanya mau mengomentari seputar persoalan yang ada di komisi itu saja. ”Sudah menjadi tugas dan kewajiban kita sebagai anggota DPR untuk menjelaskan apa yang ditanyakan masyarakat kepada kita, karena kita adalah wakil mereka,” tegasnya.

Apa yang disampaikan atas berbagai kejadian di negeri ini bukan sekadar untuk basa-basi belaka. Pandangan dan komentarnya meski terdengar pedas, menurutnya itulah sebagai bentuk kepedulian dan kecintaannya kepada bangsa dan negara ini. Seperti yang disampaikan Martin –yang tengah sibuk blusukan di dapil Sumut 3— kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, tentang apa saja perjuangan yang telah dan akan dilakukannya dalam menghadapi pemilu nanti. Berikut petikan wawancaranya:

Sebagai kader yang sudah duduk di parlemen, bisa diceritakan bagaimana perjuangan Gerindra baik di partai maupun di fraksi?

Disamping terus memperjuangkan ekonomi untuk rakyat, sebagai pencerminan dari ekonomi kerakyatan, Gerindra serius mengawal pemberantasan korupsi. Gerindra konsisten di bidang pemberantasan korupsi dan penegakan hukum. Karena hal itu sudah merusak pembangunan dan kepentingan ekonomi nasional. Kita semua konsisten memperjuangkan nilai-nilai ekonomi rakyat. Kita yang ada di parlemen selalu kompak untuk memperjuangkan ekonomi kerakyatan. Kita pun paham dan mengerti bahwa ekonomi kerakyatan itu adalah perjuangan panjang yang tidak bisa dihitung dengan berapa tahun bisa dijalankan.

Untuk itu, kita tetap komitmen untuk membuat kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat kecil.Misalnya membatasi impor yang bertahap,tidak lantas langsung disetop. Harus ada tahapan, jangan malah meningkat seperti sekarang ini. Contoh kecil, sejak awal baik partai maupun fraksi Gerindra tetap ngotot menolak keras soal pembangunan gedung baru DPR, mengkritik pembangunan renovasi rumah dinas anggota DPR dan kebijakan-kebijakan pemerintah lainnya yang dianggap tak sejalan dengan perjuangan. Di fraksi semua kader berada dalam perjuangan itu.

Lantas apa yang melatarbelakangi Anda maju kembali sebagai caleg?

Karena Gerindra itu memiliki cita-cita mau membangun kedaulatan ekonomi nasional yang mandiri, pemberantasan korupsi, penegakan hukum, tapi hingga saat ini cita-cita itu belum terpenuhi.  Untuk itu kita berharap Gerindra bisa lebih besar dan kuat sehingga bisa mewujudkan cita-cita itu. Itulah yang membuat saya bertekad maju kembali sebagai caleg.

Tentu ada perbedaan pemilu 2009 lalu dengan pemilu 2014 nanti?

Tentu berbeda situasi dan kondisinya. Di 2009, mayoritas mengharapkan SBY jadi presiden kembali untuk memimpin di periode berikutnya. Sekarang, semua orang menginginkan SBY berhenti dari kursi kepresidenan agar diganti oleh capres lain yang lebih tegas dan berani. Di sisi lain, infrastrutur partai kini sudah berjalan baik dibanding waktu itu. Kader pun lebih siap dalam menghadapi pesta demokrasi ini.

Lalu seperti apa karaker pemilih yang sekarang?

Sebenarnya sama tidak banyak berubah, masih pragmatis.

Apa yang telah dilakukan Anda?

Sebagai wakil rakyat harus memiliki kepekaan yang tinggi. Sebagai anggota DPR Komisi III, yang menjadi fokus perhatian saya di dapil adalah masalah hukum. Sewaktu ada kasus penembakan Kapolsek di Simalungun, tak berapa lama terjadi, saya datang berdialog dengan masyarakat. Kasus Lapas di Labuhan yang dibakar  mengakibatkan para napi kabur, saya lebih dulu terjun langsung dibanding yang lain. Begitu pula dengan kasus yang terjadi di Lapas Tanjunggusta. Kasus huru-hara di Siantar, saya pun sudah berada di Siantar.

Soal hakim cantik, saya pun datang untuk menggali informasi mengenai karakter dan permasalahan yang bikin heboh itu. Begitu juga ketika bencana meletusnya gunung Sinabung.Meletus jam 4 pagi, sorenya saya sudah berada di sana memberikan hati kita untuk memulihkan dan memberi semangat hidup kepada para pengungsi. Namun sayangnya, yang menjadi kelemahan saya adalah semua kegiatan di dapil itu tidak diekspos, karena saya tidak membawa media.

Apakah tingkat elektabilitas Anda tinggi dan berapa target suara?

Saya sudah dikenal tak hanya di Sumatara Utara saja, tapi di seluruh Indonesia. Masyarakat mengenal saya, karena sepak terjang, kepedulian dan perhatian terhadap masalah-masalah yang terjadi di negeri ini. Mengenai target suara, setidaknya untuk bisa duduk kembali di kursi DPR saya harus mendapat di atas 100 ribu suara. Ini bukan perkara mudah, karena dapil Sumut 3 itu terdiri dari 10 kabupaten/kota.Sangat ketat persaiangannya.

Kenapa Anda kembali memilih di dapil Sumut 3?

Bukan karena sudah merasa dikenal dan nyaman saja di dapil ini. Tapi, untuk memaksimalkan perolehan kursi Gerindra dari wilayah Sumatera Utara. Disamping itu, dapil Sumut 3 adalah tanah kelahiran saya.Di sinilah keluarga saya banyak dikenal orang. Kebetulan orangtua saya pernah bertugas sebagai anggota DPR.Mertua saya mantan bupati tiga periode dan saya mengenal betul karakter para pemilih di kampung halaman.

Program apa saja yang Anda tawarkan kepada masyarakat di dapil Sumut 3?

Saya duduk di Komisi III yang membidangi masalah keamanan, hukum dan HAM. Komisi ini dinilai sebagai komisi yang kering.Saya merasa selalu tertinggal dengan yang lainnya. Tak usah jauh-jauh, untuk dapil yang sama saja, banyak wakil rakyat yang memberi dana kepada ratusan desa-desa, bantuan pada koperasi-koperasi, bantuan hand tractor kepada para petani dan masih banyak lagi. Sedangkan saya hanya bisa membanggakan diri dengan apa yang saya lakukan agar dapil saya aman, polisi penegak hukum dicintai masyarakat, pengadilan tidak minta suap atau hukum berjalan sebagaimana mestinya. Karena cita-cita saya ingin memperbaiki polisi, penegakan hukum, dan kondisi Lapas lebih baik. Yang perlu dicatat bahwa sebenarnya apa yang mereka sumbang,  pada dasarnya juga menggunakan uang pemerintah.

Apa yang membuat Anda masih mau berada partai politik?

Berpolitik untuk membela kepentingan rakyat tidak harus melalui parpol, bisa melalui pers, LSM, ormas, profesi kita atau kegiatan lainnya. Hanya saja karena sistem sekarang mengatur bahwa kekuasan politik di negara ini didominasi oleh parpol, maka kalau kita mau berpolitik, agar kegiatannya efektif dan berhasil, cara yang paling efektif adalah melalui parpol. Tapi tidak boleh hanyut hanya untuk kepentingan parpol itu saja, harus tetap di dalam koridor membela kepentingan rakyat. Berpolitik melalui parpol harus tetap dalam kerangka membela dan memperjuangkan kepentingan rakyat luas.

Lalu apa harapan Anda di Pemilu 2014?

Saya berharap pemilu 2014 ini berjalan secara fair, tidak ada permainan money politic.Rakyat sebagai pemilih pun memilih dengan cerdas.Memilih berdasarkan rekam jejaknya dalam membangun bangsa ini.Bukan atas dasar materi yang ditawarkan banyak caleg. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Martin Hutabarat maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) Sumatera Utara 3.

Lebih Dekat Dengan Prof Suhardi : Mengantarkan Capres Tanpa Koalisi

Kondisi Indonesia semakin memprihatinkan. Bukan saja karena masyarakatnya masih hidup di bawah garis kemiskinan, tapi negeri ini terus dilanda berbagai persoalan sosial.Bencana alam pun datang silih berganti. Kelangsungan dunia politik pun yang kian menambah beban sosial dalam masyarakat. “Semua itu tidak lepas dari perilaku para pemimpin negeri ini. Juga dari hasil pemilu dan termasuk mereka yang memilih golput,” kata Ketua Umum DPP Partai Gerakan Indonesia Raya, Prof Dr Ir Suhardi, M.Sc.

CALEG DPR-RI DAPIL DIY NO. URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL DIY NO. URUT 1

Keresahan itu pula yang membuat pria kelahiran Klaten, 13 Agustus 1952 ini bertekad maju sebagai salah satu calon anggota legislatif dari Partai Gerindra dari dapil Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). ”Masyarakat harus sadar akan pentingnya pendidikan politik dan proses berpikir, agar tidak salah menilai sosok seorang pemimpin yang dipilihnya. Jangan hanya karena dijanjikan sesuatu, lantas memilih seseorang yang nyatanya tak bisa berbuat apa-apa. Masyarakat harus betul-betul paham bahwa nasib bangsa ini berada di tangan mereka dengan cara-cara demokratis,” tegas pakar kehutanan terkenal dengan sebutan profesor telo dan sumpah gandumnya itu.

Meski dunia politik belum lama digelutinya, ia mengaku sedih melihat kondisi politik Indonesia yang tidak lagi menjunjung tinggi asas-asas demokrasi. Ia mengaku agak sulit memahami bagaimana bisa suara rakyat begitu mudahnya dibeli dengan uang.

”Saya terus mengajarkan kepada mereka bahwa pemimpin yang dipercaya, amanah, kopentensi harus diutamakan. Bukan uang yang nilainya sangat kecil. Tapi kondisi di lapangan, seperti masyarakat miskin bisa saja tertarik hanya dengan uang yang sedikit itu,” ujar alumnus College of Forestry, University of the Philippines Los Banos (UPLB), Philipina ini.

Keterlibatannya di panggung politik berawal dari keprihatian dan keresahannya saat menjadi bagian dari pemerintahan itu sendiri. Berbagai pengalaman baik saat di Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) maupun di Dewan Ketahanan Pangan Nasional membuatnya frustasi. Akhirnya awal 2007, bersama beberapa rekannya, ia mencoba mendirikan partai politik baru bernama Partai Petani dan Nelayan. Kala itu, Ketua Umum HKTI, Prabowo Subianto masih tercatat anggota Partai Golkar pun diajaknya.

Beberapa waktu kemudian, ia dipanggil Prabowo Subianto untuk membahas rencana pembentukan partai baru. Setelah melewati diskusi panjang, akhirnya Prabowo ikut bergabung, meski masih tetap dibalik layar dan mengganti nama partai menjadi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). ”Saya pun ditunjuk sebagai Ketua Umumnya. Alhamdulillah, hanya dalam waktu dua minggu menjelang penutupan verifikasi partai, Gerindra akhirnya lolos sebagai peserta Pemilu 2009. Sekarang Gerindra pun menjadi peserta pemilu,” tutur mantan salah satu dirjen di Departemen Kehutanan yang rela pensiun dini sebagai pegawai negeri ini.

Kini selain sibuk menahkodai partai berlambang kepala burung garuda, ayah tiga anak ini maju sebagai caleg. Majunya sang Ketua Umum ini, bukan tanpa alasan. Ini didasari bentuk tanggungjawabnyasebagai seorang kader partai politik yang bercita-cita mengantarkan Indonesia menjadi negara yang bermatabat dan mandiri.

”Saya berharap Gerindra bisa maksimal dalam mewujudkan impiannya,” ujarnya.

Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda menemuinya di tengah padatnya jadwal pertemuan dengan beberapa petinggi partai. Lelaki yang selalu tampil sederhana dan bersahaja ini pun memaparkan seputar perkembangan Gerindra dan berbagai langkah yang dilakukannya menghadapi pemilu 2014 nanti. Berikut petikan wawancaranya:

Bisa Anda jelaskan seperti apa perkembangan Gerindra?

Sangat baik, ukurannya jumlah pengurus akan terus kita kembangkan yang tadinya hanya 17 orang. Disamping itu, banyak orang yang mau menjadi pengurus.Kalau dulu jangan kan cari caleg, cari pengurus saja susahnya luar biasa. Dulu cari caleg lima orang dapat dua itu sudah untung, walau masih belum dikatakan berkualitas. Sekarang pengurus sudah terbentuk hingga level paling bawah sekalipun. Bahkan untuk di DKI saja, kita butuh tujuh caleg, yang mendaftar 274 orang. Ini sangat berbeda dengan tahun 2009.Kini posisi kita berbeda, dulu kita tidak punya gubernur, walikota, bupati, sekarang sudah ada di beberapa daerah.

Secara menyeluruh, posisi Gerindra sangat baik, kalau tidak di peringkat dua mungkin satu, walaupun seringkali dikecilkan dalam setiap survey oleh partai-partai besar. Tapi biarlah, yang penting hasil dari kaderisasi kita maksimal dan betul-betul menciptakan kader militan.

Kenapa akhirnya Anda ikut maju sebagai caleg?

Mau tidak mau partai ini harus mendapat kursi sebanyak mungkin. Sehingga semua kader yang punya kepercayaan diri, keyakinan dan siap untuk mendapatkan kursi, harus berjuang untuk mendapatkan kursi yang memadai agar bisa mengantarkan capres tanpa koalisi.

Majunya Anda atas perintah partai atau kemauan sendiri?

Keinginan sendiri, sebagai bentuk tugas dan tanggungjawab. Meski memang, para kader mempertanyakan kenapa saya maju?Kalau kalah nanti bagaimana?. Katanya, nama besar partai akan malu. Itu kata mereka, tapi hitungan saya itu bisa dilakukan. Perhitungan lainnya adalah jaringan yang selama ini saya bangun di berbagai organisasi.Bisa saja mereka memilih karena jaringan itu, atau karena partai saya, atau karena keluarga saya.  Nah, kalau saya tidak maju, jangan-jangan mereka tidak memilih Gerindra. Ini berarti peluang Gerindra berkurang. Tentu saja, ini akan mengorbankan segala hal, mulai dari finansial, waktu dan tenaga baik untuk keluarga maupun partai harus dibagi-bagi. Jadi ini pun termasuk perjuangan untuk mendapatkan kursi sebanyak-sebanyaknya.

Kenapa Anda memilih dapil DIY?

Saya berada di Jogja sejak 1971.  Sebagai dosen, lalu dipercaya menduduki jabatan mulai dari sekretaris jurusan, dekan hingga sebagai biro perencanaan UGM. Begitu pula di luar kampus, saya sebagai Ketua HKTI dan sejumlah organisasi lainnya yang memiliki basis massa yang tidak kecil. Di samping itu, saya memiliki prestasi yang oleh banyak kalangan dinilai bagus seperti cemara udang yang bisa mengurai tsunami, abrasi. Kemudian konservasi pantai cemplon, hutan wanagama yang terkenal di seluruh dunia. Setidaknya, saya dianggap sebagian hidup saya untuk membangun hutan itu.

Belum lagi sumpah gandum saya sebagai professor telo yang sangat dikenal publik negeri ini. Sehingga saya optimis bisa meraih kursi, meski saingannya berat-berat. Setidaknya di dapil ini ada Hediati Prabowo atau yang dikenal Mba Titi dari Golkar, ada pula Roy Suryo, mantan Bupati Idham Samawi, dan sejumlah incumbent lainnya dari PKS, PAN, Demokrat dan PKB. Memang perjuangan saya luar biasa beratnya, tapi saya sudah melakukan sosialisasi sejak dua tahun lalu. Bahkan saya sudah pernah mengumpulkan para saksi di Gunung Kidul, pelatihan-pelatihan saksi, pelatihan kader jauh sebelumnya. Di samping itu pendekatan teman-teman yang ada di kampus, saya kira masih memiliki kekuatan tersendiri karena saya pernah menjadi bagian dari mereka.

Selama dua tahun sosialisasi, bagaimana respon mereka?

Cukup bagus, nyatanya mereka beramai-ramai mendaftarkan diri menjadi pemilih, menjadi saksi. Kita sudah memiliki daftar pemilih dan saksi dan ini merata tersebar di selruuh wilayah Jogja, sehingga peluang saya tidak terlalu kecil meski berat.

Daerah mana saja yang menjadi sasaran Anda dan targetnya berapa?

Kalau boleh diurut Gunung Kidul, Sleman, Kulonprogo, baru Kota Yogya. Dan untuk bisa meraih kursi, mau tak mau harus bisa meraih kurang dari200 ribu suara.

Program apa yang Anda tawarkan?

Sebetulnya tidak susah.Setiap sosialisasi, saya sampaikan 8 Program Aksi yang kemudian di-improve menjadi 6 Program Aksi.Ini menjadi materi kampanye yang paling utama. Menjelaskan kepada rakyat bahwa dengan 6 program itu,Indonesia bakal makmur dan bermartabat. Saya juga tunjukkan apa yang sudah saya lakukan, dan akan saya lakukan. Bagaimana membangun ekonomi dengan meningkatkan pendapatan masyarakat, sehingga bisa hidup lebih baik. Mulai dari pangan mandiri, ekonomi yang maju, ekonomi kerakyatan dari kekuatan-kekuatan pangan rakyat, energi, ternak, minyak kemiri, dan sebagainya.

Apa visi dan misi Anda?

Pasti akan melakukan sosialisasi 6 Program Aksi Partai Gerindra demi terwujudnya Indonesia yang makmur dan bermartabat. Sedangkan misi saya,membuktikan soal sumpah gandum. Bahwa saya baru akan makan gandum  jika bangsa ini sudah sejahtera, minimal sekaya kerajaan Majapahit waktu itu. Dimana bangsa ini pernah kaya raya seperti yang dialami Majapahit. Kalau hal itu terwujud maka saya baru akan buka puasa makan gandum.

Selama ini kendala yang dihadapi?

Kendala yang paling berarti tentu saja finansial. Saya bukan orang kaya raya, walaupun bukan orang miskin. Tapi kenyataan yang kita hadapi adalah orang-orang pragmatis. Sementara saya sendiri dan Gerindra tengah melawan orang-orang berwatak pragmatisme. Selain kendala finansial yang terbatas, jarak yang sangat luas, dari titik satu ke titik berikutnya bisa memerlukan waktu 6 jam. Tapi ini harus kita lakukan.

Lalu apa langkah antisipasi Anda?

Saya terus mengajarkan kepada bahwa pemimpin yan amanah, kopentensi inilahyang diutamakan.Bukan uang yang mungkin nilainya sangat kecil. Tapi kondisi di lapangan seperti masyarakat miskin saat ini, bisa saja tertarik hanya dengan yang sedikit itu. Tapi saya yakin dengan pendidikan politik yang benar, akan terjadi pembelajaran politik bagi para pemilih.Dan bangsa Indonesia akan lebih dewasa.Itulah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas. Yang terpenting adalah supaya mereka lebih terdidik secara politik dan ekonomi. Selama ini yang sampai ke pada mereka hanya mengharap lebih sedikit, tapi lupa dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Mendapat sesuatu yang sedikit lalu mereka memilih, ini yang berbahaya.

Selain masih ada yang pragmatis, ada dari kalangan terdidik tapi mereka memilih golput. Ini juga berbahaya,  karena golput di Jogja mencapai 50 persen. Golput ditimbulkan akibat ketidakpercayaan mereka kepada pemerintah dan pemimpin hasil pemilu. Sejatinya,ini tugas pemerintah dan partai politik untuk melakukan pendidikan politik hingga ke bawah.  Makanya Gerindra lahir untuk itu, kalau tak diatasi maka negeri ini tidak akan maju. Jika mereka golput, dan pemimpin yang  terpilih tidak bagus maka mereka ikut bertangungjawab. Bahkan saya ultimatum kepada mereka, negara ini bisa hancur jika mereka golput. Orang-orang yang golput itu juga pantas disebut pengecut.

Apa perbedaan antara pemilu lalu dengan yang akan Anda hadapi nanti?

Dulu,murni suarapribadi 24 ribu, ditambah suara partai menjadi 68 ribu.Tapi kenapa malah menjadi 60 ribu saja, inilah yang namanya permainan. Memang itu pengalaman pertama dengan persiapannya serba dadakan.Lagi pula yang tandem saya satu orang untuk tingkat provinsi dan dua orang untuk tingkat kabupaten kota. Saat ini yang tandem dengan saya di provinsi sekitar 15 orang caleg dan DPRD kabupaten/kota sekitar 30 orang bahkan bisa nambah lagi. Sekarang sudah ada pengalaman, jaringan lebih kuat, waktu lebih lama, sehingga peluangnya juga besar meski persaingan luar biasa. Saya tetap semangat dan optimis.

Apa harapan dan pesan Anda untuk para kader?

Minimal bisa meraih 20 persen suara agar pada saat mencalonkan Pak Prabowo menjadi presiden tidak perlu berkoalisi. Bahkan saya sendiri berharap di atas itu, sehingga Gerindra bisa maksimal mewujudkan impiannya. Dengan begituprogram kita bisa berjalan tanpa gangguan. Karena kebijakan harus didukung parlemen yang kuat, kalau lemah percuma, akan diganggu oleh kekuatan lain. Jika ini berhasil, saya akan buka puasa atas sumpah gandum. Pesan saya, mari kita berjuang, tulus dan ikhlas. Karena waktu sudah sempit untuk meraih kemenangan ini, kita tidak usah berpikir lain-lain, selain untuk menang.Bangsa ini harus tampil  bermartabat, sejahtera dan mandiri. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Suhardi maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) DI Yogyakarta.

Lebih Dekat Dengan Ajib Hamdani : Wajib Membesarkan Partai

Benar dan salah, bagai dua sisi mata uang. Sehingga memuliakan kebenaran bukan berarti harus menepikan kesalahan. Seiringanya berjalannya waktu, kebenaran pasti akan teruangkap jua. Inilah yang diyakini Ajib Hamdani, saat memutuskan berhenti menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di usainya yang sangat muda. Meninggalkan pekerjaan yang menjanjikan di Direktorat Jenderal Pajak  itu pun mengundang banyak tanya. Apalagi tak berselang lama, namanya  terdaftar sebagai calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Gerindra.

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 11 NO URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 11 NO URUT 1

Namanya memang pernah terkait seputar rekening gendut yang merebak di instansi itu setahun lalu, seiring bergulirnya kasus-kasus yang melilit para punggawa pajak. Kasus itu mencuat ke permukaan setahun setengah setelah ia mundur sebagai pegawai pajak. Namun, setelah ditangani pihak berwajib, isu tak sedap yang menimpanya dinyatakan tidak terbukti. Sejak saat itu pula, wajahnya kerap wara-wiri di layar kaca dan beberapa media cetak nasional lainnya sebagai pengamat perpajakan. Termasuk menjadi saksi ahli di beberapa kasus perpajakan.

Ajib putar haluan. Meski seringkali dimintai tanggapannya tentang persoalan-persoalan pajak, ia lebih tertarik menekuni bisnis properti. Sembari menjalankan bisnisnya, pria kelahiran Magelang, 8 Desember 1980 ini merasa tertantang untuk berbuat untuk negara. Ia merasa yakin, jika terjun ke dunia politik adalah bagian dari pengabdiannya sebagai warga negara.

“Politik adalah pengadian, bukan kepentingan,” tegasnya. Menurutnya, dengan berpolitik ia bisa berbuat lebih bermanfaat bagi masyarakat luas.

Karena itu, ayah empat anak ini tak pernah menyesali jalan hidup yang dipilihnya. pun  bisa memberi manfaat dan berbuat lebih banyak lagi bagi bangsa dan negara ini. “Ketika seseorang menjadi anggota dewan, saya yakin ia akan lebih bermanfaat bagi masyarakat. Sebab,  di sana ada kewenangan legislasi, anggaran, pengawasan,” ujar lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) ini.

Selepas menyeselesaikan kuliahnya di STAN, ia ditempatkan di Kantor Pelayanan PBB (KPPBB) Jakarta Barat Dua. Tahun 2005, ia memilih tugas belajar di Universitas Diponegoro (UNDIP) mengambil Jurusan Ekonomi, Spesialisasi Penilai Properti. Setelah lulus dengan predikat cum laude, ia kembali ke Jakarta dan ditempatkan di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Jakarta Kelapa Gading sebagai Pelaksana. Namun, dua tahun kemudian ia mengundurkan diri dari PNS.

Meski mengaku sangat prihatin dengan sistem perpajakan Indonesia yang masih kurang ideal, ia lebih memilih menjadi pengusaha ketimbang meneruskan karirnya. Berangkat dari keprihatinan itu pula yang membuatnya bertekad maju sebagai caleg di bawah bendera Gerindra. “Mungkin karena itu saya dipercaya Partai Gerindra untuk ditempatkan di Jabar 11. Paling tidak saya punya bekal pengetahuan dan pengalaman tentang menata keuangan negara serta bagaimana mendesain pajak yang lebih baik,” kata suami dari Ratna Sari ini.

Lantas seperti apa pemikiran dan langkah-langkah yang dilakukannya dalam menghadapi perhelatan pesta demokrasi di 2014 nanti? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, ia memaparkan dengan penuh semangat. Berikut petikannya:

Apa yang membuat Anda terjun ke dunia politik?

Berangkat dari sudut pandang yang sederhana. Seperti halnya saat keluar dari PNS dan menjadi wirausaha. Dulu, istri saya juga merasa nyaman sebagai PNS untuk keluarga kecil kami. Tapi saya ingin lebih bermanfaat bagi masyarakat luas,  dan memutuskan menjadi pengusaha. Lewat usaha ini bisa memberi manfaat bagi banyak orang. Setelah berjalan sekian tahun, saya merasa impact-nya kurang massif. Saya pun berpikir kenapa saya tidak terjun di dunia politik. Bagi saya, ketika seseorang menjadi anggota dewan, maka akan lebih besar lagi manfaat yang akan diberikan, karena di sana ada kewenangan legislasi, anggaran, pengawasan.

Sejak kapan Anda terjun di politik?

Belum lama. Sebelumnya saya sama sekali tidak pernah berkecimpung di dunia politik. Meski saat kuliah saya aktif di organisasi, tapi hanya sekadar ikut berbagai kegiatan kampus. Saat dibirokrasi, di lingkungan Direktorak Jenderal Pajak, saya hanya sebagai pelaksana tugas, yang tidak dituntut berpikir kreatif. Karena itu, ketika tahu tentang manivesto perjuangan, dan program aksi Partai Gerindram saya sangat tertarik.  Saya pun mencoba mendaftarkan diri sebagai bakal calon legislatif di Partai Gerindra. Saya tertarik untuk mengawal dari sisi perpajakan sehingga ke depan Indonesia ini menjadi yang kuat. Mengawal kebijakan melalui sisi anggaran negara.

Apa motivasinya Anda akhirnya ikut mencalonkan diri?

Saya punya latar belakang selama tujuh tahun sebagai PNS Pajak. Karena itu,  saya merasa sangat prihatin mengapa sekian tahun sistem perpajakam kita belum ideal. Bayangkan Tax Ratio kita saat ini sangat memprihatinkan, hanya 12 persen saja. Sangat tidak ideal. Saya berpikir untuk meningkatkan tax ratio tersebut, tapi sulit  terlaksana karena saya hanya pelaksana bukan pengambil keputusan. Kalau mau berbuat lebih, kita harus ada di legislatif.

Apa yang sudah Anda lakukan?

Sebagai caleg, kita harus tahu bagaimana mengenalkan dan mendekatkan masyarakat pada partai. Sebab pemilihan umum legislatif (pileg), konstelasinya berbeda dengan pemilukada. Kalau dalam pileg,  orang akan melihat partai terlebih dahulu  baru siapa calonnya. Berbeda dengan pemilukada yang lebih pada figur. Tugas kita bersama, bagaimana membesarkan nama partai karena tujuannya adalah peraihan kursi partai. Memang tak mudah, karena sistem peraihan suara terbanyak. Karena itu, kanibalisme internal ini harus kita reduksi, mesk menjadi sebuah keniscayaan. Mengenali kultur masyarakat dapil Jabar 11. Kultur mayarakat setiap dapil memiliki local wisdom tersendiri, karena itu kita harus bertemu calon konstituen. Setiap Sabtu dan Minggu, saya pasti menemui mereka.

Bagaimana karakter pemilih masyarakat dapil Jabar 11?

Dari tiga wilayah, satu kota dan dua kabupate, saya melihat ada perbedaan antara masyarakat kota dengan kabupaten. Misalnya, masyarakat Kota Tasikmalaya sudah well educated dan terkontaminasi dengan euphoria demokrasi jadi mereka agak pragmatis. Sementara yang di kabupaten masih lebih mengedepankan ikatan emosional kekerabatan. Namun begitu, kota Tasikmalaya hanya memiliki lebih dari 500 ribu DPT sementara Kabupaten Tasikmalaya sekitar 1,3 juta DPT dan Kabupaten Garut, 1,6 juta DPT.

Program apa yang Anda jalankan  untuk bisa meraih suara nanti?

Sejatinya para caleg jangan sampai terjebak. Program partai haruslah menjadi prioritas utama. Tugas kita adalah membesarkan nama partai. Kita harus fokus ke sana, jangan banyak menebar janji-janji program kerja yang pada saatnya nanti itu menjadi domain eksekutif. Yang jelas kita besarkan partai dan puncaknya pada saat pemilihan Presiden. Kita juga jangan membodoh-bodohi masyarakat dengan membagi-bagi uang.

Saya percaya konstituen sudah cerdas. Kalaupun politik transaksional itu terjadi, memang sudah keniscayaan. Tetapi kita harus reduksi dengan berbagai terobosan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Saya tengah menggaet new voter karena saya yakin mereka bukan golongan yang transaksional. Saya juga berhitung dengan keunggulan yang saya miliki. Karena saya berjiwa muda, maka saya menyasar ke pemilih pemula dengan program yang sesuai. Lalu ada pemilih ibu-ibu atau kalangan tua lainnya, maka saya akan mengkombain dengan para caleg yang di Propinsi maupun caleg kabupaten/kota.

Target Anda di Jabar 11?

Melihat perkembangan yang ada, dengan 10 kursi, targetnya tiga kursi. Setidaknya ada dua kursi bisa diraih. Kalau target pribadi, harus bisa meraih suara minimal 100 ribu suara. Yang menarik bagi saya, kenapa DPP memepercayakan saya di dapil Jabar 11 dan nomor urut 1. Padahal kata banya orang, nomo urut pertama itu sulit. Awalnya memang tidak punya grassroot, tapi setelah melakukan kordinasi dan komunikasi dengan semua elemen di Gerindra, saya tinggal menjalankan program. Saya yakin semuanya bisa tercapai. Meski medannya sama sekali belum kita ketahui sebelumnya. Tapi inilah tantangan saya, target saya memang Gerindra akan leading di Jabar 11. Bukan sekadar jadi, tapi suara Gerindra bisa memimpin.

Daerah mana yang akan menjadi sasaran Anda dalam mendulang suara?

Saya akan berjuang di semua lini. Target utama di Kabupaten Tasikmalaya. Secara pribadi sebagai caleg pada prinsipnya visi saya bukan untuk jadi atau tidak jadi anggota dewan, tapi membesarkan Partai Gerindra. Apakah nanti saya masuk ke Senayan, itu soal lain. Yang penting, saya berusaha kerja dan terus berjuang yang pada akhirnya adalah soal garis tangan saja. Kalau pun tidak jadi, saya akan tetap berjuang di partai ini. Apakah kelak akan ditempatkan atau dipercayakan dimana saja, saya akan sangat senang ketika membicarakan tentang karya untuk masyarakat Indonesia. Termasuk kalau memang berhasil ke Senayan, saya siap untuk ditempatkan di komisi berapa saja, meski begitu saya berharap di komisi XI.

Jika terpilih nanti, apa yang akan Anda lakukan di DPR?

Saya punya obsesi untuk menata pajak lebih baik. Kalau kita punya Dirjen Pajak yang mumpuni, dan punya tim yang lebih konsen menata keuangan negara lebih baik, maka saya yakin Indonesia akan lebih baik. Tidak sampai tiga tahun penerimaan negara bisa mencapai 1500 triliun per tahun. Dan Tax Ratio sebesar 15 persen itu, bukan sesuatu yang tidak mungkin bisa dicapai.

Bagaimana dukungan keluarga?

Pesan orangtua dan keluarga sederhana saja, bahwa istiqomah dalam berjuang dan tawakkal. Itu yang saya  pegang dalam berpolitik. Tujuan saya satu, besarkan Partai Gerindra, dan mengawal 6 Program Aksi Transformasi Bangsa Partai Gerindra.

Apa pesan yang ingin Anda sampaikan?

Besar harapan saya sesama caleg bisa kerjasama dengan baik untuk membesarkan nama Partai Gerindra. Masalah jadi atau tidak, itu nomor dua. Kita akan menjadi bintang iklannya partai, kalau bisa mengusung partai dengan baik. Untuk kader yang ada di struktural, maupun sayap dan ormas, saya sebagai caleg sangat berterimakasih sekali jika kita bersama-sama berkolaborasi dengan baik untuk meraih suara terbanyak.  Mari belajar untuk mengedukasi politik yang lebih sehat dengan baik. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Ajib Hamdani maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) Jabar 11.

Lebih Dekat Dengan Dairul : Tinggalkan PNS, Total di Gerindra

Dibesarkan dalam keluarga birokrat, tak membuatnya berpuas diri. Terbukti, sepanjang karirnya di birokrasi yang ditekuni sejak 1988, sudah dua kali ia mengundurkan diri. Terakhir, 1 Mei lalu, ia melepaskan jabatannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementerian Pertanian dan memilih terjun ke dunia politik. “Saya ingin mengabdi pada masyarakat secara luas melalui jalur politik,” tegas Dairul yang saat menekuni karirnya sebagai pegawai negeri sipil, ia tidak merasakan sesuatau yang berarti dalam hidupnya.

CALEG DPR-RI DAPIL BANTEN 1 NO. URUT 2

CALEG DPR-RI DAPIL BANTEN 1 NO. URUT 2

“Selama menjadi PNS, perjalanan hidup saya seakan kurang berarti,” ungkap pria kelahiran Ujung Pandang, 1 Januari 1971 ini yang maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) DPR-RI Partai Gerindra. Baginya, banyak hal menarik dari aktivitas berpolitik. Selain tantangannya lebih besar, siapapun bisa ikut mengubah bangsa ini lewat jalur politik.

“Bangsa ini sangat bergantung pada siapa yang menunggangi partai politik. Jika diisi orang-orang baik, maka bangsa dan negara ini akan menjadi lebih baik. Tapi sebaliknya, jika diisi orang-orang jahat, jangan salah kalau negara menjadi seperti sekarang ini,” papar kandidat doktor dari Universitas Brawijaya Malang ini.

Sejatinya, keterlibatannya di dunia politik bukan saat ia masuk masa pencalegan saja, tapi sejak remaja. Ia muali terlibat di partai berlambang burung garuda ini, sejak partai ini didirikan. Hanya saat itu ia hanya di belakang layar, karena terikat sebagai PNS. Namun kini, ia menjadi caleg DPR-RI nomor urut 2 dari Daerah Pemilihan (dapil) Banten 1, meliputi Kabupaten Lebak dan Pandeglang.

Tampilnya ayah empat anak ini di bumi para jawara bukan tanpa sebab. Pasalnya, ia dianggap mampu dan lebih mengenal kondisi serta potensi dapil Banten 1 yang terletak di wilayah selatan provinsi ke-28 itu. “ Daerah Banten bagian selatan memang termasuk daerah tertinggal. Inilah yang menjadi tantangan saya untuk berbuat sesuatu agar predikat itu bisa lepas,” ujar politisi yang dipercaya sebagai anggota Dewan Penasehat  DPD Partai Gerindra Provinsi Banten.

Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda yang menemuinya di Jakarta beberapa waktu lalu, Direktur Eksekutif LSAKD (Lembaga Studi Akuntansi Keuangan Daerah) memaparkan aktivitas politiknya menjelang Pemilu 2014. Berikut petikannya:

Bisa ceritakan sejak kapan Anda terjun ke politik?

Saya terlibat di dunia politik sejak remaja. Sejak SMA saya sudah aktif di Golkar, tapi itu karena orangtua saya seorang pamong pemerintahan, mau tidak mau harus mengikuti semua kegiatan waktu itu.

Bisa diceritakan keterlibatan Anda dengan Gerindra?

Beberapa kader militan Partai Gerindra adalah sahabat saya, seperti Budi Heriadi, Gunadi dan Ahmad Muzani. Ketika Gerindra didirikan, saya masih PNS, jadi tidak bisa berbuat banyak, paling hanya membantu di belakang layar. Baru 1 Mei lalu, saya mundur dari PNS agar bisa  total berpartai di Gerindra.

Apa yang memotivasi Anda untuk maju sebagai caleg?

Intinya ingin mengabdi. Agar semuanya berjalan baik, saya harus menyiapkan segala sesuatunya. Utamanya, kebutuhan keluarga jangan sampai terbengkalai. Jika banyak orang maju dengan motivasi mencari uang, saya tidak ingin seperti itu. Karena itu,  saya menyiapkan beberapa usaha yang akan menopang kebutuhan keluarga dengan berbisnis properti di beberapa kota. Jadi ketika nanti terpilih menjadi anggota dewan, sumber kebutuhan keluarga bisa berasal dari sana.

Tahun 2009 kenapa tidak ikut caleg?

Karena waktu itu belum siap. Selain itu, bekal rumah tangga juga belum disiapkan. Dan, saya masih tercatat sebagai pegawai negeri sipil. Kini saya merasa lebih siap. Kalau kita jadi caleg jual ini itu, juga kurang baik. Seperti arahan Pak Prabowo, kalau jadi caleg harus siap mental dan materi.

Kenapa memilih dapil Banten 1, itu kan daerah tertinggal?

Saya memiliki keterikatan historis dengan Banten. Kebetulan keluarga istri dari Banten, dan saya punya banyak jaringan di wilayah Banten selatan. Saya kan termasuk tim perumus lahirnya Provinsi Banten, 17 Oktober 1999 lalu. Selain itu, jaraknya juga cukup dekat dengan Jakarta. Juga ada tantangan tersendiri karena daerah ini dianggap daerah tertinggal, khususnya Banten bagian selatan. Niat saya membangun daerah ini, agar tidak lagi tertinggal. Insya Allah bila ada kesempatan saya berniat mengabdikan diri, paling tidak selama tiga periode untuk kemajuan Banten. Untuk itu, saya pun menyiapkan lahan untuk membangun kantor sekretariat DPC baik di Lebak maupun Pandeglang.

Apa yang Anda dilakukan untuk bisa meraih suara?

Setiap hari saya turun ke dapil, meski keluarga tinggal di Jakarta. Saya terjun langsung ke dapil saya, dan tak sungkan menginap di rumah penduduk.  Rupanya mereka tak perlu banyak bicara soal teori. Mereka lebih konsen dengan urusan perut. Itulah kenyataan yang dihadapi para caleg. Karena dapil Banten 1 meliputi dua kabupaten, maka untuk memudahkan kordinasi saya bentuk dua posko pemenangan di masing-masing kabupaten. Jika terpilih nanti, di kedua kabupaten inilah saya akan membesarkan Partai Gerindra. Saya akan mendirikan kantor sekretariat PAC-nya. Dan kalaupun saya tidak terpilih, rencana itu tetap akan terlaksana.

Program apa saja yang Anda tawarkan ke masyarakat?

Tentunya semua program yang dicanangkan Pak Prabowo. Intinya, program yang berpihak kepada masyarakat luas. Program yang mengedepankan kepentingan rakyat, bukan golongan atau individu.

Seperti apa karakter pemilih di dapil Banten 1?

Saya berkunjung hingga ke pelosok desa, yang mungkin saja masih banyak orang Pandeglang atau Lebak belum pernah ke sana. Misalnya ke Luwidamar, Sobang, Cibaliung dan yang lainnya. Perjalanan saya makin asyik, karena hanya dengan berjalan kaki. Kebetulan saya hobby jalan kaki, jadi tak masalah. Apalagi daerah-daerahnya masih sangat asri. Masyarakat merindukan figur caleg yang mau turun langsung meski harus berjalan kaki. Kata mereka, selama ini belum ada caleg yang mau bertandang, semuanya hanya menyebar baliho. Ada gambar tapi tidak ada orangnya.

Kantong kekuatan Anda di mana saja?

Semua wilayah, hampir merata. Jika semua kader partai bekerja keras, Gerindra bisa meraih dua kursi, meski targetnya hanya satu kursi dari Banten 1. Dan untuk provinsi, setidaknya bisa meraih 4 kursi dari Lebak dan Pandeglang, begitu pula di DPRD kabupaten masing-masing delapan kursi. Karena itu, saya tandem dengan caleg-caleg yang mau bekerja keras.

Kalangan apa yang menjadi sasaran Anda?

Semua lapisan masyarakat yang ada di dapil Banten 1. Mulai dari rakyat biasa sampai tokoh masyarakat, termasuk para jawara. Bahkan saya ajak para jawara ini untuk maju menjadi caleg. Karena disamping disegani, mereka juga bisa menjadi penyalur suara. Tidak heran bila untuk terjun ini ongkosnya besar. Setiap sosialisasi ke dapil, saya selalu dibarengi dengan program aksi sosial berupa pembagian sembako. Karena masalahnya, memang soal perut. Itu yang utama disamping membantu pembenahan infrastruktur pemukiman yang kurang memadai. Meski banyak mengeluarkan dana, saya senang dan ikhlas, karena memang sudah saya siapkan.

Seberapa besar keyakianan Anda untuk terpilih?

Kita harus yakin, kalau kita bisa. Karena kalau bukan kita siapa lagi? Insya Allah terpilih, tinggal garis tangan yang akan berbicara nanti. Disamping sudah mempersiapkan segala sesuatunya, saya pun melakukan sosialisasi jauh-jauh hari sebelum proses pencalegan.

Seperti apa kondisi dapil Banten 1?

Kalau kita lihat memang memprihatinkan. Padahal tidak jauh dari ibukota.  Wilayah Banten selatan ini juga sarat potensi. Dengan kondisi seperti, bagi saya adalah tantangan yang harus dijawab. Saya katakan bahwa kalau saya jadi anggota dewan, saya hanya ambil gaji dan tunjangan. Sementara yang lain seperti dana asprasi itu adalah haknya masyarakat.

Apa pesan Anda untuk kader dan sesama caleg Gerindra?

Yang paling utama kita harus kerja keras dan kerja cerdas. Sekalipun kita kerja keras kalau tidak cerdas, hasilnya tidak maksimal. Kita juga harus waspada dengan menganggap semua lawan politik kita berat sehingga memotivasi untuk terus berjuang. Nah, kalau misalnya ada caleg dari partai lain hebat dan banyak modalnya, tidak lantas membuat kita menyerah tapi harus  dihadapi. Kita harus memenangkan Gerindra. Menjadikan Pak Prabowo sebagai Presiden RI. Kita juga harus mengubah niat jika ingin menjadi anggota dewan. Jangan cari penghasilan tapi pengabdian. Kalau mau cari uang, jangan menjadi politisi. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi September 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Dairul maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 2 dari daerah pemilihan (dapil) Banten 1.

Lebih Dekat Dengan Oo Sutisna : Berjuang Demi Petani

Sebagai seorang petani, ia turut merasakan seperti apa nasib kaum petani selama ini. Saban hari, ia bersentuhan dengan petani gurem yang kondisinya memprihatinkan. Bahwa negeri agraris yang subur seperti Indonesia ini petaninya kian terpinggir adalah sebuah keniscayaan. Dari sanalah, ia paham betul liku-liku perjuangan para petani dalam memenuhi kebutuhan hidup di tengah kebijakan yang sama sekali belum memihak petani.

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 9 NO URUT 1

CALEG DPR-RI DAPIL JABAR 9 NO URUT 1

Memang, sebagai petani, Oo Sutisna, SH, bukan tergolong petani kelas gurem. Namun sebagai orang yang hampir setiap hari menghabiskan waktu di pematang sawah, ia resah melihat nasib petani yang tak kunjung berubah. Apalagi selama ini belum ada wakil rakyat di Senayan yang benar-benar berangkat dari petani atau nelayan. Tak heran bila kebijakan dunia pertanian tak pernah menyentuh kepentingan kaum petani. Karenanya itu, sejak 2008, pria kelahiran Sumedang, 12 Maret 1952 ini bertekad terjun ke jalur politik praktis sebagai upaya merubah nasib petani yang masih tertindas.

“Sebagai rakyat, sampai hari ini petani masih saja terjerat kemiskinan. Tidak saja dirundung persoalan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tapi kebijakan-kebijakan penguasa yang tak memihak bahkan kerap menindas. Tak hanya itu, Indonesia pun sudah menjadi pasar impor beras,” ungkap petani yang dipercaya  Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, untuk memimpin DPD Partai Gerindra, Provinsi Jawa Barat.

Ia mengakui, tampil di pentas politik bukan sekadar latah atau terbawa arus eforia politik sesaat. Diakui, keterlibatannya di Partai Gerindra, karena ia aktif di Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) dan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Ia  sudah lama mengenal sosok Prabowo Subianto jauh sebelum partai berlambang kepala burung garuda lahir. Tak heran bila,saat Prabowo Subiantomemintanya memimpin DPD Partai Gerindra di Jawa Barat, ia langsung menyanggupinya. “Meski saya belum pernah menjadi ketua parpol di tingkat kecamatan sekalipun, tapi karena itu amanat dari Pak Prabowo, maka saya siap mengemban,” ujar Ketua KTNA Jawa Barat ini.

Memang, Oo Sutisna mengenal Prabowo sejak masih aktif di Forum Komunikasi Tani Nelayan Karya, sebuah organisasi bentukan Partai Golkar. Ia tercatat sebagai orang yang mengusung Prabowo pada saat Konvensi Partai Golkar pada 2004. Di tahun yang sama, ia pun berada di barisan petani yang memperjuangkan Prabowo untuk memimpin HKTI. Kini, bersama petani dan segenap kader Partai Gerindra Jawa Barat, ia tengah berjuang untuk meraih suara sebanyak-banyaknya di Pemilu Legislatif 2014 untuk bisa mengusung mantan Danjen Kopassus sebagai calon presiden tanpa koalisi.

“Beliau tahu apa yang rakyat mau. Beliau pemimpin yang mau memikirkan dan menangis dengan apa yang dirasakan petani,” papar calon anggota legislatif (caleg) DPR-RI nomor urut satu dari Daerah Pemilihan (dapil) Jawa Barat 9 ini.

Menurutnya, secara politis keberadaan Jawa Barat dalam percaturan politik nasional sangatlah penting. Terlebih propinsi Jawa Barat penduduknya terbesar. Makanya, tak heran bila di Pemilu 2014, 9 April nanti, ia ditugasi untuk meraih 27 kursi di parlemen. Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah, meski pada Pemilu 2009 lalu ia berhasil mengantarkan empat kadernya duduk di Senayan. Lalu seperti apa langkah-langkah yang dilakukan ayah enam orang anak ini dalam mengemban tugas itu? Kepada Hayat Fakhrurrozi dari Majalah Garuda, yang menemuinya di tempat tinggalnya yang asri di kawasan Cibiru, Kota Bandung beberapa waktu lalu, ia memaparkan. Berikut petikan wawancaranya:

Bisa Anda ceritakan bagaimana perkembangan Gerindra di Jawa Barat?

Partai Gerindra di Jawa Barat relatif stabil. Jujur saja walaupun ada satu dua DPC yang kurang pergerakannya kita sedang perbaiki. Saya berharap kepada pusat untuk berikan kepercayaan kepada kami yang ada di DPD untuk membina dan mengembangkan Gerindra di wilayah ini. Kita tidak mungkin bunuh diri, kita ingin menang. Pada Pemilu 2009 kemarin mengantar delapan dewan di provinsi dan empat di pusat. Dengan hasil itu Partai Gerindra Jawa Barat berada di posisi kelima. Kita berharap dengan momen terbaik 2014, kita bisa meningkat dan Gerindra menang, Prabowo Presiden.

Kaitannya kegagalan dapil Jabar 9 waktu itu kita akui itu semua tak terlepas dari keteledoran partai kita. Kejadian itu menjadi tamparan buat partai dan Pak Prabowo selaku Pembina. Tapi syukur Alhamdulillah kita bisa melewati rintangan itu meski hanya bisa mengirimkan enam dari delapan yang tersedia. Saya mengapresiasi dan hormat atas kinerja tim advokasi yang sudah menyelamatkan dapil Jabar  9. Untuk itu kita harus kerja ekstra keras untuk merebut kursi di dapil ini. Walaupun hanya enam caleg, toh di DPRD provinsi ada sepuluh orang dan kabupaten penuh. Inilah modal dasar kita untuk memperjuangkan sekuat tenaga.

Sebagai Ketua DPD sekaligus caleg, apa saja yang sudah Anda lakukan menghadapi Pemilu 2014?

Kita baru saja pulang dari diklat di Bogor yang diadakan oleh DPP. Tapi sebetulnya, apa yang telah kita lakukan dalam rangka pembekalan untuk caleg kabupaten dan kota se Jawa Barat tidak jauh berbeda. Jika dulu kita menargetkan setiap TPS ada 10 orang kader yang masing-masing kader harus mampu membawa 10 pemilih sehingga diperoleh 100 suara. Namun ketika di Jakarta ada perubahan menjadi 13 pemilih per TPS, sehingga diharapkan akan ada 130 suara.

Sebelumnya, kami pun mengadakan pertemuan sesama caleg tingkat DPR, DPRD provinsi dan kabupaten/kota Jawa Barat dengan para struktur partai mulai dari daerah hingga ranting. Dimana dalam pertemuan itu kita menekankan bahwa Pemilu 2014 adalah momen untuk merebut kekuasaan sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena itu, para caleg harus sampai ke akar rumput hingga ke tiap TPS, sehingga caleg mengetahui peta kekuatan yang ada. Untuk itu, dibutuhkan etos kerja dari para caleg itu sendiri bersama dengan pengurus dari tingkat ranting, cabang hingga daerah turun langsung. Yang penting jangan sombong jadi caleg. Yang sombong itu harusnya pemilih, bagaimana biar mereka mau memilih kita, simpati ke kita.

Yang tak kalah penting adalah saat ini kita terus melakukan tugas kepartaian, yakni memberi pemahaman politik bagi masyarakat. Sejauhmana pemahaman dan kepedulian masyarakat tentang kondisi negara dan bangsa. Kalau kita mendengar pidato Pak Prabowo dalam upayanya mengubah Indonesia ke arah yang lebih baik. Boleh jadi apa yang dikatakan oleh Pak Prabowo sangat irasional di tengah kondisi negara yang seperti ini. Nah, tugas kita sebagai caleg adalah menterjemahkan dengan bahasa masyarakat awam seperti petani, nelayan dan penduduk desa. Seperti misalnya buah apa yang tidak impor, padahal buah apa sih yang tidak bisa ditanam di negeri ini. Mungkin ini yang harus disampaikan oleh caleg kepada masyarakat. Karena tidak semua dari mereka tidak baca Koran, tidak lihat televisi. Jadi sebisa mungkin ini yang harus disampaikan caleg kepada masyarakat.

Lalu bagaimana dengan wakil Jawa Barat yang ada di parlemen?

Kalau saya harus ngomong, meski dekat dengan masyarakat, tapi kurang dekat dengan struktur partai. Mustinya, sekali-kali mereka menginjakkan kakinya ke sekretariat DPD, DPC atau PAC, sehingga mereka tahu perkembangan yang ada dan kita pun mengetahui apa saja yang sudah dilakukan mereka. Jujur saja selama ini belum maksimal, memang itu hak mereka, tapi perjuangan partai itu bukan sekadar perjuangan mereka saja, tapi menjadi perjuangan segenap kader partai secara bersama. Jangan sampai yang tahu hanya mereka sendiri. Karena mereka berangkat dari Partai Gerindra bukan sekonyong-konyong begitu saja.

Kendala-kendala apa saja yang dihadapi di lapangan?

Harus disadari bahwa negeri ini terdiri dari beberapa suku bangsa, agama, latar belakang pendidikan, tingkat ekonomi yang berbeda-beda. Karena itu, kita harus menggunakan berbagai cara sendiri dalam menghadapi masing-masing kelompok tadi. Di samping itu, popularitas partai ini belum sebanding dengan popularitas Pak Prabowo. Ini yang perlu kita dongkrak. Saya punya ambisi bahwa kalau untuk mendukung Pak Prabowo, di Jawa Barat ini pasti sangat kuat. Beliau pemimpin yang tegas, di kalangan militer Jawa Barat masih disegani, sosok orangtuanya masih kental.

Yang mungkin harus dipikirkan adalah bagaimana menyeimbangkan Pak Prabowo dengan Gerindra. Bagaimana orang-orang yang sebelumnya tidak mau ambil bagian dalam pemilu mau memilih Pak Prabowo. Dan ketika mereka tertarik dengan Prabowo, maka kita katakan kepada mereka, bahwa mau tidak mau untuk bisa mengusung Prabowo,  harus memilih Partai Gerindra. Dan kita butuh 20 persen suara untuk bisa mengusungnya. Bahkan kalau bisa bukan sekadar 20 persen tapi harus lebih,karena dengan demikian kelak parlemen lebih kuat.

Apa latar belakang Anda maju sebagai caleg?

Perlu dimengerti bahwa faktor ketokohan di Jawa Barat ini masih kuat. Jujur saja sebelum memutuskan untuk maju, saya tanyakan ke pada teman-teman DPD apakah saya harus maju ke Jakarta, Provinsi atau diam saja mengurus partai. Akhirnya mereka menginginkan saya maju ke Jakarta. Saya berada di partai ini bukan semata-mata untuk bisa menjadi anggota dewan, tapi saya melihat bahwa bangsa ini akan jauh lebih baik di bawah kepemimpinan Pak Prabowo. Dalam setiap pidatonya, Pak Prabowo selalu mengatakan bahwa ia tidak mau kader-kader yang duduk di dewan nanti yang berperilaku licik, maling, dan korup. Betapa terhormatnya pernyataan itu, dan akhirnya saya bersedia untuk maju sebagai caleg DPR dari Jabar 9. Memang sebagai caleg harus banyak duit untuk operasional di lapangan. Saya tidak suka menghambur-hamburkan hal itu, tapi saya mengajak kepada mereka bahwa apa yang kita lakukan harus bisa memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara ini. Semua orang tahu saya berangkat dari petani.

Dan luar biasa, Pak Prabowo masih mempertahankan orang-orang seperti saya yang berangkat dari komunitas petani. Inilah perjuangan kita bersama para petani dalam mewujudkan kedaulatan pangan sesuai dengan 6 Program Aksi Partai Gerindra. Dan kalaupun Gerindra masih sulit dipasarkan ke masyarakat, insya Allah nama besar Pak Prabowo lebih mudah diterima di masyarakat. Nah, kalau mereka menginginkan Pak Prabowo menjadi pemimpin negara, maka mau tidak mau Gerindra harus menang terlebih dahulu minimal 20 persen. Untuk itu, kita mendorong masyarakat bahwa satu-satunya jalan, ya Partai Gerindra yang harus dicoblos.

 Apa visi dan misi Anda sebagai caleg?

Visi dan misi saya sesuai dengan visi dan misi partai. Misi kita ingin berbuat, mengabdi ke masyarakat dengan sisa umur yang ada. Sepanjang hidup ini apa yang bisa kita baktikan kepada masyarakat bangsa dan negara. Adanya kedaulatan pangan sehingga masyarakat tidak susah makan. Kepastian hukum, terutama terhadap perlakuan hukum terhadap petinggi negara.  Insya Allah, Pak Prabowo akan mampu melaksanakan janjinya yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat. Pak Prabowo kan sudah jenderal, sudah kaya, ngapain coba memimpin partai? Tapi dari situlah kita mengetahui bahwa rasa nasionalisme dan keberpihakannya kepada rakyat kecil melebihi semuanya.

Kenapa Anda memilih dapil Jabar 9?

Saya memilih dapil Jabar 9, karena saya dilahirkan, dibesarkan dan punya usaha di Kabupaten Sumedang yang masuk ke dapil Jabar 9 selain Kabupaten Majalengka dan Subang. Selain itu masyarakat Sumedang, Majalengka dan Subang memiliki kesamaan jalan hidup, sebagai petani dan nelayan. Di Jawa Barat, saya masih dianggap tokoh tani. Saya pun orang yang dipercaya sebagai Ketua KTNA Jabar. Tahun 2009 dulu saya belum berhasil, karena saya memiliki basis besar di sana, maka saya dikembalikan ke dapil ini. Dengan anggapan bahwa tingkat kesulitan yang dihadapi tidak terlalu berat.

Dari tiga kabupaten itu, daerah mana yang jadi fokus Anda garap?

Kita memiliki daerah unggulan sebagai basis suara yakni Kabupaten Subang dan Sumedang. Yang pasti, di dapil Jabar 9 itu ada 82 kecamatan yang terdiri dari 30 kecamatan di Subang, sedangkan Majalengka dan Sumedang masing-masing 26 kecamatan. Artinya tidak mungkin saya datang ke semua kecamatan setiap desa. Untuk itu saya lebih menguatkan perhatian pada dua daerah itu. Namun demikian, kapasitas saya berbeda dengan caleg lain. Kalau caleg lain tidak datang itu keterlaluan, tapi kalau kita sebagai pengurus di DPD/DPC itu selain mengurus diri sebagai caleg, tapi kita juga mengurus urusan partai yang tidak hanya fokus pada dapil sendiri saja. Beruntunglah para caleg yang tidak duduk di struktur partai karena tidak memikirkan kesibukan itu.

Berapa target Anda?

Saya selalu memohon kepada Allah agar saya diberikan kesempatan untuk mewakili masyarakat Sumedang, Majalengka dan Subang di gedung dewan. Sehingga selain ada wakilnya terlebih dari komunitas petani. Karena selama ini saya belum melihat sosok anggota dewan yang berangkat dari petani sesungguhnya. Itulah ambisi saya untuk memperjuangkan masyarakat petani, nelayan sehingga tidak terus menerus menjadi masyarakat marginal dan menjadi mainan politik saja. Saya tidak ambisi dengan masalah gaji, tapi kita melihat jauh mana keberpihakan saya kelak di dewan kepada petani.

Partai Gerindra menargetkan dapil Jabar 9 untuk bisa meraih dua kursi dari 27 kursi yang ditargetkan untuk Jawa Barat. Melihat kondisi ini maka kita harus bekerja keras, bersama-sama merealisasikan target. Urusan siapa yang jadi itu tergantung pada pergerakannya masing-masing caleg. Setidaknya untuk bisa meraih kursi di dapil Jabar 9,mau tidak mau harus melampaui atau setidaknya mendekati BPP sebesar 289 ribu. Itulah yang harus dipahami oleh caleg dengan memetakan kekuatan tiap TPS dan dapil kecil. Dengan kekuatan yang kita miliki baik yang ada di pusat, provinsi dan kabupaten/kota mudah-mudahan bisa. Artinya yang sudah jadi itu harus jadi kembali, kalau mereka tidak jadi, saya balik tanya apa saja yang telah Anda perbuat selama ini?

Seperti apa karakter pemilih dapil Jabar 9?

Bicara soal kataristik pemilih khususnya dapil Jabar 9 kita tahu sekarang ini bisa disebut jaman edan. Ada yang punya idealisme, ada juga yang pragmatis. Sebut saja, dapil Jabar 9 yang ada di utara tergolong masyarakat pantura memang cukup berat dengan masalah pragmatisme. Jangankan pemilihan legislatif, pemilihan Presiden pun seperti itu. Memang semua ini diawali dari pemilihan-pemilihan kepala desa yang sarat dengan pragmatis. Dan ini bukan hanya menjadi permasalahan bagi kami, tapi partai lain pun sama. Tapi selama ini kita bisa mengantisipasi untuk meminimalisir permasalah ini.

Apa antisipasi Anda menghadapi kondisi seperti itu?

Hubungan emosional dengan masyarakat terus kita jalin. Bagaimana caranya agar kita menjadi bagian dari hidup mereka. Sehingga pada akhirnya, mereka menganggap kita bagian dari hidup mereka. Ini yang wajib dilakukan para caleg. Kita selalu sampaikan kepada masyarakat bahwa Pantura itu lumbung beras nasional, tapi apa tidak terpukul ketika negara kita impor beras. Saya yakin mereka sakit dengan kondisi ini. Karena itu, ketika menghadapi masyarakat yang bergerak di bidang agribisnis, seperti petani, nelayan dan pekebun kita tawarkan 6 Program Aksi Partai Gerindra. Dimana salah satunya adalah program membangun kedaulatan pangan dan energi. Itu bukan semata-mata janji caleg tapi itu janji pemerintah jika nanti Gerindra dipercaya memimpin negeri ini.

Apa harapan dan pesan Anda buat para kader dan caleg?

Harapan kita terhadap caleg, kader partai, mereka harus memahami tentang petunjuk partai mulai dari AD-ART, manivesto perjuangan partai hingga program aksi. Jangan segan-segan untuk turun ke lapangan, jangan sombong, dekati masyarakat sehingga mereka sayang kepada kita. Saya sampaikan terima kasih kepada para simpatisan, kader yang terus mendukung pengurus DPD, DPC dan PAC serta para caleg dalam menjalankan aktivitasnya menjaring suara. [G]

Catatan:

  • Artikel ini ditulis dan dimuat untuk Majalah GARUDA edisi Oktober 2013
  • Pada Pemilu 2014 ini, Oo Sutisna maju sebagai calon legislatif (caleg) DPR-RI dari Partai Gerindra nomor urut 1 dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Barat 9.